The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Maka melalui terbitnya majalah DIANNS edisi ke-53 ini, besar harapan kami kepada pembaca untuk mampu bergerak bersama dalam mengawal secara kritis dan memperbaiki tata kelola penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Dianns_Media, 2023-04-05 22:21:53

MAJALAH DIANNS Edisi 53

Maka melalui terbitnya majalah DIANNS edisi ke-53 ini, besar harapan kami kepada pembaca untuk mampu bergerak bersama dalam mengawal secara kritis dan memperbaiki tata kelola penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Keywords: Pendidikan,LPM Dianns,FIA UB

DIANNS 53 - 50 kelaminnya. Sementara golongan conforming gender tingkat bullying-nya lebih rendah karena kebanyakan dari mereka dapat menyembunyikan orientasi seksualnya dan berpenampilan wajar layaknya lelaki maupun perempuan. Pilihan Mereka Menuai Berbagai Reaksi Eksistensi LGBT cenderung tak diakui di kalangan masyarakat Indonesia. Peraturan perundangundangan dibuat untuk melarang adanya perkawinan sesama jenis dan mengkategorikan gay dan lesbian sebagai penyimpangan. Seperti halnya UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan yang mengatur bahwa perkawinan hanya boleh dilakukan antara seorang pria dan wanita dan UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi yang mana memasukkan homoseksual dan lesbian ke dalam kategori persenggamaan yang menyimpang. ‘Individu yang bermasalah secara sosial' menjadi salah satu kalimat tanggapan yang umum dilontarkan masyarakat untuk para LGBT. Kota Malang melalui Dinas Sosial juga menyatakan mereka sebagai individu yang bermasalah dan memasukkan mereka dalam golongan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). “PMKS sendiri terbagi menjadi 26 kategori, LGBT masuk dalam kategori kelompok minoritas. Hal tersebut dikarenakan para LGBT rentan mendapat diskriminasi dari masyarakat disebabkan perilaku seks mereka yang menyimpang,” ujar Linda Desriwati selaku Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Malang. Diskriminasi dari lingkungan yang misalnya sudah berbuat baik namun tetap mendapat pandangan buruk dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat,” jelas Naomi. Naomi menambahkan bahwa tidak ada masalah dalam preferensi seksual para LGB jika dilihat dari disiplin ilmu ps ikologi. Dimana dalam ilmu psikologi, lesbian, gay dan biseksual sudah tidak masuk dalam kategori penyimpangan seksual dan penyakit mental. Hal tersebut murni hanya pemilihan preferensi seksual semata. Berbeda halnya dengan transgender, “transgender masih masuk dalam kategori penyakit mental, karena dalam diri transgender terdapat perasaan yang tidak nyaman dan tekanan secara emosional akan bentuk fisik mereka. Sehingga mereka seperti terjebak dalam tubuh yang salah,” tuturnya. Sementara terkait dengan permasalahan perlakuan masyarakat terhadap keberadaan LGBT, Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Malang, Linda, memiliki pandangan yang berbeda dengan Naomi. Menurutnya, Tak seharusnya para LGBT menyalahkan serta merta perlakuan negatif masyarakat Indonesia terhadap mereka, karena masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi nilai dan norma agama. Sementara pilihan untuk menjadi LGBT bertentangan dengan nilai dan norma agama yang ada di masyarakat. “Sebagai LGBT seharusnya mereka dapat berpikir tentang mengapa masyarakat tidak bisa menerima mereka. Masyarakat masih sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini diyakini. Sementara perlakukan masyarakat yang negatif sering dijadikan dalih oleh para komunitas LGBT sebagai pembenaran atas sekitar memang kerap kali menimpa para LGBT yang tak bisa menyembunyikan orientasi mereka. Seperti seorang biseksual yang tak dapat disebutkan identitasnya, mengungkapkan kepada reporter DIANNS perihal perlakuan diskriminatif yang sempat menimpanya (27/8/15). Laki-laki yang tinggal di bilangan Jakarta Selatan ini mengalami bullying pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun kini, ia menyembunyikan permasalahan orientasi seksualnya dan menyesuaikan dengan identitas gendernya agar tak lagi mengalami hal serupa. “Gue memilih orang-orang tertentu untuk gue kasih tahu tentang orientasi seksual gue ini, karena gue sadar tidak semua orang cukup open minded untuk menerima orang seperti gue,” terangnya. Ia juga menyayangkan tindakan masyarakat Indonesia yang diskriminatif dan berujung pada tindak kekerasan terhadap LGBT. “Seharusnya masyarakat Indonesia tidak perlu memperlakukan LGBT secara diskriminatif dan menggunakan kekerasan hanya karena mereka anti dengan LGBT atau Homophobic,” lanjutnya. Menurut Naomi Ernawati Lestari M.Psi, Psikolog dari klinik Lighthouse Jakarta Selatan, tindakan diskriminatif yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia pada para LGBT sungguh disesalkan. Dilihat dari perspektif Hak Asasi Manusia (HAM), Naomi me ngungkapkan bahwa masyarakat Indonesia seharusnya dapat memperlakukan para LGBT setara dengan masyarakat pada umumnya. Tak harus dipandang miring, karena tak sedikit pula LGBT yang berbuat baik dan memiliki prestasi yang baik. “Jangan selalu melihat mereka dengan pandangan miring, kasihan mereka “Sebagai LGBT seharusnya mereka dapat berpikir tentang mengapa masyarakat tidak bisa menerima mereka. Masyarakat masih sulit menerima sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang selama ini diyakini. Sementara perlakukan masyarakat yang negatif sering dijadikan dalih oleh para komunitas LGBT sebagai pembenaran atas tindakannya,” tegas Linda. Sosial


DIANNS 53 - 4 tindakannya,” tegasnya. Kontroversi LGBT ini juga turut dirasakan oleh Fahri Hadi Septian (20) mahasiswa asal Jakarta Selatan. Ia mengungkapkan bahwa dirinya merasa tidak nyaman dengan keberadaan para LGBT ini. LGBT dipandangnya sebagai pilihan individu yang sudah melawan tak hanya ketentuan agama tetapi juga melawan nilai dan norma yang dianut masyarakat. “Saya merasa tidak nyaman dengan kehadiran para LGBT ini di Indonesia yang menurut saya tidak sesuai dengan nilai dan norma. Tidak ada di agama manapun yang mengizinkan adanya LGBT ini,” ujarnya. Pengaruh Lingkungan, Diskriminasi Bukan Solusi Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan peferensi seks para LGBT. Naomi menyatakan bahwa pembentukan preferensi seks pada LGBT erat kaitannya dengan pola asuh, lingkungan dan genetik. “Penelitian terbaru menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki gen lesbian dan gay, tetapi belum tentu dia akan menjadi gay dan lesbian, tergantung lingkungannya,” ungkap Naomi terkait faktor genetik. Lebih lanjutia menambahkan bahwa ketiga faktor tersebut tidak dapat berdiri sendiri menjadi sebuah faktor utama dalam hal pembentukan orientasi sesksual seseorang. Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi satu sama lain. Lingkungan sekitar menjadi salah satu faktor yang berpeluang besar dalam penentuan arah orientasi seksual mereka. Lingkungan mempengaruhi pembentukan , tindakan diskriminatif yang masih dilakukan masyarakat bukanlah sebuah solusi. Pilihan menjadi LGBT dianggap masalah, semua lini harus bekerjasama mencari solusi dari masyarakat hingga pejabat tinggi. Mereka yang dianggap bermasalah tetaplah menjadi bagian negeri ini, maka selayaknya penanganan para LGBT dilakukan dengan manusiawi tanpa diskriminasi. “Untuk menangani masalah LGBT harus ada komitmen serius dari semua perangkat yang terkait, karena pada dasarnya para LGBT adalah orang-orang yang bermasalah secara sosial dan wajib dibantu,” tegas Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial Kota Malang ini. Lebih lanjut ia menambahkan bahwa para LGBT tidak dapat menolong dirinya sendiri, maka semua harus bergerak membantu dari dinas sosial, dewan perwakilan rakyat, organisasi masyarakat (ormas) khususnya ormas keagamaan, dan tentunya seluruh masyarakat Indonesia. “Harus ada sinergi antara lintas sektor, LGBT adalah individu yang sedang dalam sebuah permasalahan diri. Manusia diciptakan Tuhan tidak ada yang salah, hanya mungkin mereka mengambil jalan hidup yang di negeri ini dianggap kurang tepat,” tuturnya. orientasi sesksual seseorang Liputan: Roihatul Musyafi dan M. Rizky Setiawan Sosial


DIANNS 53 - 53 ung…Tung…Tung, sekilas terdengar Tsuara katak menggema ke seluruh gedung Taman Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang. Se-isi gedung terpukau dalam alunan menghanyutkan beritme pelan kemudian rancak kemudian pelan dan rancak kembali. Sensasi alam perlahan merebak. Penonton dibikin mabuk, diajak kembali merasakan alam. Tapi bukan katak, suara tersebut datang dari petikan belentung, jenis alat musik dawai berbahan bambu yang dibawakan oleh salah satu peserta Festival Dawai Nusantara dari Tanah Sunda, Belentung Bamboo. “Kami dari Belentung Bamboo memperkenalkan alat musik kami yang baru. Alat musik ini terbuat dari bambu,” ujar seorang anggota Belentung Bamboo sebelum membuka penampilan. Pada gelaran malam itu, Belentung Bamboo tak tampil sendiri. Tak tanggungtanggung, peserta datang dari Indonesia hingga Malaysia, India, dan Afrika. Festival Dawai Nusantara (FDN) adalah festival dawai pertama di Indonesia dan belangsung selama tiga hari berturutturut, 5, 6, dan 7 Juni 2015. Acara yang didesain sejak tahun lalu ini mengambil tema “Artention of Soundnesia”, bermaksud melestarikan dan mengangkat alat musik dawai Nusantara dalam arus global. “Alat musik dawai merupakan instrumentasi yang umum. Alat musik dawai mempunyai potensi untuk diangkat dan diperkenalkan terutama kepada ruang yang muda dengan pola pemahaman jika dawai kita (Indonesia) oke, serta layak bersanding dengan instrumen dunia lainnya,” ujar penggagas FDN, Redy Eko Prasetyo. Redy mengungkapkan tidak mudah mempresentasikan sesuatu di luar kelaziman. Baginya, tidak terpikir bahwa alat musik dawai, yang selama ini hanya menjadi slogan, dapat ditata dan diwujudkan dalam pagelaran seni yang menakjubkan. Alat musik dawai adalah alat musik yang menghasilkan suara dengan cara menggetarkan dawai atau senar. Ada tiga cara utama menggetarkan dawai agar menghasilkan suara, yaitu dipetik, digesek, dan dipukul. Cara memainkan yang bervariasi ini menjadi salah satu kelebihan yang dimiliki oleh alat musik dawai. Redy menambahkan, kelebihan yang dimiliki alat musik dawai adalah membangun semangat bagi yang memainkannya,sebab alat musik dawai merupakan instrumentasi personal. “Alat Dari Malang Hingga Benua Afrika Foto: Resti Budaya


DIANNS 53 - 54 musik dawai ini sifatnya instrumentatif personal, untuk menghibur diri sendiri bukan instrumentasi kolektif,” ungkapnya. Para pegiat dawai yang terdiri dari kelompok maupun individu memainkan alat musik mulai dari yang tradisional hingga modern. Alat musik tradisional yang dibawakan seperti sasando (Nusa Tenggara Timur), rebab (Arab), kecapi (Sunda), dan sapek (Dayak, Kalimantan). Bahkan ada alat musik inovasi yang dibuat sendiri oleh peserta, seperti yang dilakukan Belentung Bamboo dari Bandung. “Inovasi dari peserta itu tidak terduga. Contohnya bambu bisa dijadikan alat musik,” ujar ketua panitia FDN 2015, Khoirul. Peserta FDN berjumlah enam puluh tiga orang terdiri dari enam belas kelompok. Mereka telah mengikuti seleksi yang diadakan oleh panitia melalui undangan terbuka lewat situs resmi FDN yaitu www.festival dawainusantara.com. “Ya para peserta sudah mengikuti seleksi dengan mengirimkan video. Peserta meng-unggah video yang berisi penampilannya,” ujar Khoir u l . I a m e n a m - bahkan bahwa terdapat kriteria penilaian untuk peserta seperti komposisi musik. Pegiat dawai yang tampil di antaranya adalah Unen Unen Tuban dari Tuban, Kevin Prawiro Widjojo dari Jakarta, Muzak Minang dari Padang, Dwipantara Ensembel Featuring Ki Supatman yang merupakan perpaduan orkestra dan macapat Malangan, Belentung Bambo dari Sunda-Jawa Barat, Andiva Ethnic Project dari Pekanbaru-Sumatera, Keluarga Pelajar Mahasiswa Kalimantan Barat yang merupakan perkumpulan mahasiswa daerah di Malang, Thambunesia dari Jogja, Langkau Balian dari Malang, Saung Swara dari Salatiga-Jawa Tengah, Tingang Tatu dari Yogyakarta, Joko porong dari Surabaya, Situbondo Ethno Society dari Situbondo, Nocturnal Guitar Quarted, Rayhan Sudrajat, Nusa Tuak dari Nusa Tenggara Timur. Pihak panitia juga mengundang seniman mancanegara untuk ikut tampil dalam acara, di antaranya seniman dari Benua Afrika serta Malaysia. Musisi sekaligus komposer asal Senegal yang memainkan alat musik Kora, Vieux Aliou Cissokho, mengaku senang ketika mendapat undangan dari panitia FDN. “On the stage all the musicians, we're always connected although we come from the different place of the world. So for me I was like I've known them like many years ago. Because when they're playing the music, I felt myself inside. And then bring my ins-piration, I was really happy (Di atas panggung para musisi, kami seperti terhubung meski kami datang dari tempat berbeda di seluruh dunia. Jadi, bagi saya, rasanya seperti saya sudah mengenal mereka sejak beberapa tahun lalu. Karena ketika mereka memainkan musik, saya terhanyut. Kemudian membawa inspirasi bagi saya. Saya sangat senang)” ungkap Vieux. Vieux mengaku mendapat kehormatan mewakili Afrika dalam panggung FDN. Redy berharap, FDN bisa menjadi kanal aset nasional. “Semoga FDN bisa menjadi agenda rutin dan menjadi kanal aset nasional,” ucapnya. Karena, tambahnya, FDN membuat semua lapisan masyarakat mengenal alat musik dawai yang ada di Nusantara. “Kota Malang memang tidak mempunyai identitas dawai. Tetapi Kota Malang yang konon menjadi pusat barometer apresiator musik di Indonesia, seharusnya kanal itu ada di Kota Malang,” imbuh Redy. Hal senada juga diungkapkan oleh Khoirul, “Seperti pada tahun 70-an, pernah ada suatu uji kualitas musik, jika musik dapat diterima oleh masyarakat Kota Malang, maka musik tersebut dianggap hebat.” “Alat musik dawai merupakan instrumentasi yang umum. Alat musik dawai mempunyai potensi untuk diangkat dan diperkenalkan terutama kepada ruang yang muda dengan pola pemahaman jika dawai kita (Indonesia) oke, serta layak bersanding dengan instrumen dunia lainnya” Liputan: Nurbaiti Permatasari Foto: Resti Budaya


HIKAYAT CANDI TANAH MALANG


lLiputan: Asti Faizati dan Fadhila Isniana


DIANNS 53 - 57 Tak ketinggalan, masyarakat di wilayah Malang, Jawa Timur kini turut gencar melakukan kegiatan promosi pariwisata melalui media sosial. “Media sosial sangat berpengaruh, sekarang media sosial lebih memiliki pengaruh dalam promosi (pariwisata) selain media lain yang biasa kita gunakan seperti baliho dan lainnya,” ungkap Budi Susilo (25/6/2015), Kepala Seksi Informasi dan Promosi di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (DISBUDPAR) Kabupaten Malang. Kanal Mendongkrak Pendapatan Sektor Wisata Ampuh, Media Sosial Sebagai Sebagai Negara berkembang dengan penduduk sekitar 270 juta berhasil membawa Indonesia menduduki posisi ketiga sebagai Negara padat penghuni. Besarnya jumlah penduduk Indonesia, juga berdampak terhadap aktivitas berjejaring virtual. Khususnya pengguna media sosial. Data dari WeAreSocial, pada bulan Januari 2015 tercatat sebesar 72 juta penduduk Indonesia memiliki akun aktif sosial media. Sedangkan, rata-rata penggunaan hampir tiga jam dalam sehari untuk aktivitas media sosial. Hal ini tentu dapat menjadi kanal yang ampuh bagi Indonesia dalam meningkatkan pendapatan melalui kegiatan promosi pada sektor pariwisata. foto: Ipad Media


DIANNS 53 - 58 Efektivitas dari kegiatan promosi pariwisata melalui media sosial di Malang ini mulai dirasakan beberapa tahun belakangan. Kenaikan jumlah kunjungan pariwisata yang signifikan mulai tampak khususnya pada kabupaten Malang. Pada tahun 2012-2013 tercatat jumlah pengunjung sebanyak 2.177.570 terdiri dari wisatawan domestik sebesar 2.144.334 dan mancanegara sebesar 33.236. Sedangkan, untuk tahun 2013-2014 wisatawan yang berkunjung sebanyak 2.384.479 yang terdiri dari 2.362.584 wisatawan domestik dan 21.895 wisatawan mancanegara. Kenaikan jumlah wisatawan pada dua tahun belakangan ini, setidaknya dapat diproyeksikan, pada tahun 2014-2015 akan ada kenaikan sebesar 9,75% menjadi sekitar 2.600.000 pengunjung. Pemanfaatan media sosial sebagai sarana promosi wisata yang telah dilakukan oleh banyak pihak disambut positif oleh Budi. Media sosial sangat membantu DISBUDPAR Kabupaten Malang untuk melakukan promosi, ihwal destinasi wisata yang terdapat di Kabupaten Malang. Sayangnya dalam kegiatan promosi pariwisata ini pemerintah belum dapat terlibat langsung dan lebih mengandalkan peran dari stakeholderlain. Yusri Abdillah, dosen Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menjelaskan, bahwa kegiatan promosi pariwisata melalui media sosial tersebut belum perlu dilakukan oleh pemerintah. Sebab, setiap aktivitas yang berkaitan dengan pembiayaan diperlukan pertanggungjawabannya. “Kegiatan pemerintah merupakan kegiatan yang dibiayai dan ada dananya, sedangkan pembuatan media sosial tidak memerlukan biaya,” terang Yusri (30/7/2015). Ia menganggap energi dan dana untuk promosi melalui media internet ini. Sebaiknya, pemerintah memfokuskan pada pengelolaan website, sebab tata kelola website yang baik dapat memberikan nilai tambah di mata investor. Sedangkan untuk media sosial bisa dimanfaatkan oleh konsu-men atau wisatawan, yaitu sebagai media Word Of Mouth. Ketika ditanya apakah akan ikut terlibat dalam upaya promosi pariwisata di Kabupaten Malang, Budi Susilo memiliki jawabannya sendiri. “Untuk ikut promosi wisata melalui media sosial kami belum melakukannya, tapi kami memiliki rencana untuk membuat sebuah aplikasi yang akan dipasang padai platformAndroid yang terintegrasi dengan website Propinsi Jawa Timur,” jelasnya. “Kegiatan promosi melalui media sosial bisa diserahkan kepada komunitas tertentu, misal Mbok Darwis (Kelompok Sadar Wisata), kemudian nanti kita hanya tinggal sebar linknya saja,” tambah Yusri. Yusri juga menambahkan, dalam hal promosi pariwisata di kawasan Malang, pemerintah kota maupun kabupaten seharusnya melakukan kerjasama dengan stakeholder yang terlibat di dalamnya, seperti; PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia), asosiasi yang bergerak di pariwisata di Malang, dan masyarakat lokal. Sedangkan, untuk perguruan tinggi sebagai penyedia Sumber Daya Manusia (SDM), agar tercipta suatu sinergitas yang dapat meningkatkan kualitas pengelolaan pariwisata di Kota Malang. Hingga saat ini, pemerintah belum memberikan prioritas lebih, ihwal pengelolaan sektor pariwisata. Namun, untuk saat ini pemerintah mempunyai prioritas utama pada sektor yang lain, seperti; pertanian, dan pertambangan. “Padahal kalau kita melihat multiplier effect dari pariwisata itu luar biasa, pendapatan dari pariwisata merupakan terbesar kedua ketiga di Indonesia, dan di dunia bahkan melebihi otomotif.” terangnya. Multiplier effects (menurut Glasson:1990) adalah suatu kegiatan yang dapat memacu timbulnya kegiatan lain. Melalui teori ini, dapat dijelaskan bahwa industri pariwisata akan menggerakkan industri-industri lain sebagai penyokongnya. Komponen utama industri pariwisata adalah daya tarik wisata berupa destinasi dan atraksi wisata, perhotelan, restoran serta transportasi lokal. Sementara komponen penyokongnya, mencakup industri-industri dalam bidang transportasi, makanan dan minuman, perbankan, atau bahkan manufaktur. Seluruh komponen tersebut, hanya akan dapat dipacu melalui industri pariwisata. Meninjau Undang-Undang No. 9 Tahun 2010 tentang Kepariwisataan. Geliat promosi pariwisata melalui media sosial di kawasan Malang Raya, Jawa Timur seharusnya dapat di-maksimalkan, melihat potensi pariwisata Malang Raya begitu besar. Wilayah Malang yang memiliki kontur geografis yang di kelilingi oleh pegunungan dan juga memiliki kawasan pesisir di pinggir Samudera Hindia dengan deretan pantai yang menawan. Sehingga, menjadi modal yang cukup menjanjikan untuk Pembangunan pariwisata bertujuan untuk Meningkatkan pertumbuhan ekonomi; meningkatkan kesejahteraan rakyat, menghapus kemiskinan, mengatasi pengangguran, melestarikan alam, lingkungan, sumber daya, memajukan kebudayaan, mengangkat citra bangsa, memupuk rasa cinta tanah air, memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa, serta mempererat persahabatan antara bangsa. Media


memaksimalkan peran pariwisata demi meningkatkan perekonomian daerah. “Sekarang yang sedang kita kembangkan adalah kawasan wisata di Kabupaten Malang bagian selatan. Malang bagian selatan ibarat ‘perawan yang baru muncul’, jadi publik sudah mulai menyoroti kawasan Malang Selatan ini,” tukas Budi. Bergerak di bidang usaha travel-wisata dengan berbagai macam destinasi wilayah Kota Malang dan sekitarnya. TravelerMalang mampu memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Ketika ditemui LPM DIANNS, Hilla, s a l a h s a tu pe ndiri TravelerMalang, menjelaskan bahwa pemanfaatan promosi melalui media sosial, selain murah juga karena keterjangkauannya yang sangat luas. Menurut alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB) ini, dalam hal promosi media sosial sangat efektif dalam menjaring konsumen yang berminat untuk memakai jasa agen travelnya untuk berwisata di kawasan malang dan sekitarnya. “Promosi lewat media sosial ini sangat mudah dan murah, cuma modal pulsa tetapi sangat efektif dalam menggaet konsumen,” terangnya. TravelerMalang lebih memilih menggunakan media sosial, seperti twitter dan instagram untuk melancarkan kegiatan promosi mereka. Dengan akun media sosial tersebut, Travelermalang mampu melakukan promosi seputar tempat wisata yang ada di Malang. Tentunya, juga dengan paket wisata yang dapat diperoleh oleh konsumen, jika menggunakan jasa wisata yang ditawarkan oleh Travelermalang. Tak monoton, pria berkacamata ini memiliki trik tersendiri untuk membuat akun instagramnya terlihat berbeda dan menarik dibandingkan dengan yang lain. “Untuk tetap bertahan dan menghadapi para pesaing yang tidak sehat, kami punya cara sendiri, seperti inovasi di Instagram ada playlist pagi, story of the week dan lainnya, itu membuat Instagram kita lebih menarik dari pada mereka,” jelasnya. Peminat agen wisata milik Hilla dan Arif ini rata-rata berasal dari kalangan mahasiswa, karena promosi yang dilakukan oleh TravelerMalang melalui media sosial ini sangat mudah menjangkau, terlebih pangsa pasar yang didominasi oleh generasi muda. Maka tidak heran, bila peminatnya memang sebagian besar berasal dari kalangan mahasiswa. Tak hanya itu, sejak setahun belakangan, TravelerMalang juga telah menjadi mitra perjalanan bagi 5 (lima) program di salah satu stasiun televisi swasta “Ya, sudah setahun belakangan ini kami menjadi mitra perjalanan bagi lima program televisi dari Net TV, programnya adalah weekendlist, breakout, indonesia morning Show, 86 , dan entertainment news” ujarnya. DIANNS 53 - 59 Liputan: Amalia Puspita dan Rizky SetiawanFoto: Ipad Media


DIANNS 53 - 60 ekeringan yang melanda Kota Yogyakarta tahun lalu (2014) Kakibat maraknya pembangunan gedung tinggi yang bermasalah pada Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL), menjadi cerminan bagi masyarakat Kabupaten Sleman untuk menyelamatkan lingkungannya dari eksploitasi serupa. Salah satu pembangunan yang disinyalir menjadi eksploitasi lingkungan di Sleman adalah pembangunan apartemen M-Icon di jalan Kaliurang. Tak urung, pem-bangunan tersebut mendapat penolakan dari warga Gadingan. “Semua warga telah sepakat menolak pembangunan apartemen dan kami telah melakukan aksi pemasangan spanduk penolakan," kata Priwantoro Ketua Paguyuban warga Gadingan Desa Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman. aktivitas warga, dan gesekan sosial budaya yang berbeda akan sangat dirasakan masyarakat. Kekukuhan warga untuk mempertahankan lingkungannya sangat beralasan, salah satunya ialah karena Sleman merupakan daerah resapan air dan daerah dataran tinggi yang fungsi lahannnya bukan untuk pembangunan gedung tinggi. Hingga saat ini, warga Gadingan terus memperjuangkan aksi penolakannya. Mereka ingin langsung mengajukan aspirasi kepada Bupati Warga Gadingan resah terhadap dampak yang ditimbulkan oleh apartemen tersebut. Keresahan tersebut dipicu oleh multiplier effect yang akan timbul lebih banyak merugikan warga daripada manfaatnya. Pandu seorang aktivis yang mengadvokasi warga Gadingan mengatakan, setelah mengkaji draf apartemen M-Icon, ditemukan pelbagai masalah: desain penguraian limbahnya masih cacat, adanya sistem pengambilan sumber air di aktiver bebas (air tanah dangkal), dampak pengerjaan pembangunan dapat mengganggu Sleman, Sri Purnomo, karena tidak mendapatkan hasil dari audiensi yang telah dilakukan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DPRD DIY) dan DPRD Kabupaten Sleman. Pelaporan keluhan ke Badan Lingkungan Hidup (BLH) serta ke Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMP2T) Kabupaten Sleman pun tak menemui jawaban. Pemicu dari aksi penolakan warga Gadingan ini salah satunya disebabkan oleh kasus Hotel Fave yang telah mengeringkan sumur warga Kota Yogyakarta di Desa Miliran. Kejadian tersebut lalu direspon masyarakat dengan munculnya aksi “Yogya Asat” atau dalam bahasa Indonesia artinya Yogya Kering. "Yogya Asat itu adalah sebuah hastag advokasi berkenaan dengan maraknya hotel yang dibangun, dan disinyalir perizinan yang diberikan tidak dilakukan dengan melakukan pencermatan yang memadai," jelas Eko Teguh selaku Dosen Geologi Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta. AMDAL yang Tak Beres Advokasi warga kota Yogyakarta dengan hastag Yogya Asat disebabkan karena maraknya hotel yang memiliki AMDAL bermasalah. Kekeringan sumur warga di beberapa tempat di kota Yogyakarta seperti di Desa Miliran, Kelurahan Mujamuju, Kecamatan Umbulharjo, kawasan Gowongan, Malioboro, Penumping, Kotagede, dan Desa Kaliurang pada Juni 2014 lalu menjadi contoh nyata perusakan lingkungan karena pembangunan hotel. Permasalahannya terletak pada pengambilan air oleh pihak hotel dalam jumlah besar dilakukan di lapisan air tanah dangkal yang merupakan tempat pengambilan air sumur warga. Dosen Program Studi Pembangunan Wilayah, Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sut a r yono , mengatakan pengambilan air yang dilakukan oleh warga berada di sekitar lapisan air tanah dangkal atau disebut aktiver bebas, sedangkan hotel dan apartemen seharusnya mengambil air tanah dalam atau tesis yang berada di lapisan kedua setelah aktiver bebas. Hal ini diperparah dengan kebutuhan air hotel yang jauh lebih banyak dibanding foto: Ipad Lingkungan


DIANNS 53 - 61 uncontrol karena belum ada RDTR. Sedangkan Rancangan Tata Ruang Wilayah (RTRW) belum bersifat operasional, skala petanya kecil, satu provinsi hanya memiliki satu peta karena hal itu harus diperlukan RDTR. Ketika ada perizinan masuk, maka bisa melihat zonasi tata ruang di RDTR,” ujar Sutaryono. Pemerintah Yogyakarta baru meresmikan RDTRK (Rencana Daerah Tata Ruang Kota) pada awal 2015 lalu. Peraturan Daerah (Perda) RDTRK Nomor 1 Tahun 2015 yang merupakan rincian dari Perda RTRW Nomor 2 Tahun 2010 yaitu berisi mengenai tata ruang, pengaturan zonasi kewilayahan sesuai struktur ruang antara lain zona perkantoran, perdagangan dan jasa, pendidikan, pelayanan umum serta permukiman termasuk pembangunan gedung vertikal. Begitulah fenomena yang terjadi di Kota Yogyakarta, sebagaimana dengan Kabupaten Sleman.Setiap wilayah memiliki daya tampung tanah atas bangunan yang berbeda. Ketidakcocokan antara daya tampung tanah dengan pembangunan tata ruang dapat dijadikan indikator adanya penyalahgunaan tata ruang. Kondisi di daerah Kabupaten Sleman sendiri sebagian besar fungsinya sebagai tempat resapan air dan merupakan daerah dataran tinggi. Jika air masuk ke tanah tersebut, maka otomatis akan mengalir ke dataran yang lebih rendah, salah satunya adalah Kota Yogyakarta. Dengan kata lain, daerah Sleman merupakan penyuplai air untuk Kota Yogyakarta. Karena itu, jika resapan air di Sleman terjaga maka kota Yogyakarta tidak akan kekeringan. Namun, saat ini realitas yang terjadi di Sleman tidak jauh berbeda dengan Kota Yogyakarta. Pembangunan mall dan apartemen kian marak terjadi di Sleman. Inilah yang menyebabkan suplai air ke Kota Yogyakarta berkurang. “Saat musim hujan tahun lalu, Yogya kebanjiran padahal hujannya tidak lebih dari setangah hari. Ini jelas kiriman (dari) dataran tinggi. Di Sleman pun debit air di sungai Gadingan cukup tinggi,” tutur Dodo. Eko mengatakan bahwa kekeringan yang terjadi di beberapa tempat juga diperparah dengan tidak adanya kebutuhan warga. Faktanya, satu kamar hotel membutuhkan sekitar 380 liter air per hari, sedangkan satu rumah tangga membutuhkan sekitar 300 liter air per hari. Jumlah kamar hotel di Yogyakarta pada tahun 2003 tercatat sekitar 7.237 kamar hotel, dan pada tahun 2013 meningkat drastis menjadi 10.303 kamar. Seorang warga Miliran, Dodo Putra Bangsa, yang telah melakukan aksi teaterikal berupa mandi dengan pasir di depan Hotel Fave di jalan Kusumanegara, Yogyakarta pada Rabu (6/8/2014) silam menyatakan bahwa dari tanggal 1 September 2014, saat Hotel Fave disegel atas pemanfaatan air tanah oleh Dinas Perizinan Kota Yogyakarta, dalam rentang waktu seminggu, air sumur warga telah kembali. Satu hal yang mengejutkan lagi ternyata Hotel Fave belum mengantongi surat izin pengusahaan air selama dua tahun. Ada banyak hotel yang masih tak sesuai dengan Peraturan Walikota Nomor 3 Tahun 2014. Hal ini terbukti ketika pada Kamis (13/11/2014), Dinas Ketertiban dan BLH Kota Yogyakarta meninjau kembali izin pengusahaan air hotel. “Pihak hotel harus mematuhi segala peraturan. Jika ada penolakan dari warga berarti ada kesalahan, setelah ada respon penolakan pembangunan dari warga seharusnya pemerintah tidak memberikan izin,” terang Halik Sandera selaku Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Yogyakarta. Dalam Peraturan Walikota Nomor 3 tahun 2014 pun isinya masih tidak tegas. Tidak ada aturan pemberian sanksi pidana yang bisa menimbulkan efek jera kepada perusahaan yang telah menyalahi aturan pengusahaan air, hanya ada sanksi administrasi berupa teguran tiga kali dan pencabutan izin. Hal itulah yang semakin meresahkan warga Kota Yogyakarta. Pengeksploitasian air tanah oleh hotel dan apartemen dapat merusak keseimbangan alam dan berdampak pada kesejahteraan warga. Harus ada instrumen pengendalian pemanfaatan tata ruang. Pengendalian pemanfataan tata ruang terbagi menjadi empat, yaitu peraturan zonasi yang termasuk ke dalam Rencana Daerah Tata Ruang (RDTR), perizinan, insentif dan disentif, serta sanksi. “Pembangunan sudah kesadaran untuk memperbesar laju resapan: melalui cara menangkap dan menanam air melalui sumur resapan, biopori, embung, serta perangkap lainnya, memperbaiki sistem sungai agar air bisa lebih lama tertinggal di darat, memetakan pola aktiver, mengawasi pengambilan air tanah oleh hotel, serta menolak usulan pendirian hotel bila berisiko bagi masyarakat. Saat ini, pengambilan air tanah jauh lebih besar dibanding laju peresapan. Salah satu pelaku pengguna air berskala besar ialah Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Badann usaha milik daerah tersebut belum memberi contoh baik untuk meningkatkan resapan, padahal 80 persen air yang dijual oleh PDAM merupakan air tanah. “Budaya menanam air di warga sudah mulai luntur, hampir di setiap rumah yang berdiri sejak dekade 80-an sudah tidak memakai sumur resapan. Itulah yang membuat tanah resapan berkurang dan mengakibatkan banjir. Kami pernah menyarankan kepada pemerintah untuk menciptakan teknologi tanam air atau buat resapan di tiap Rukun Tetangga (RT) dengan menggunakan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) karena daerah sudah mendapatkan pemasukan yang besar melalui pajak hotel. Serta supaya adaa balasannya hotel itu berdiri,” tanggap Dodo. Dikotomi Tak Berujung Keinginan pemerintah daerah untuk meningkatkan perekonomian daerah melalui sektor pembangunan fisik yang ditunjang oleh investor dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, timbal balik untuk pelestarian lingkungan masih terbilang kecil. Pandu mengatakan, jika mengacu pada data dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DIY, seharusnya pembagian Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 40 persen untuk Kabupaten Sleman dan 30 persen di Kota Yogyakarta. Apartemen M-Icon di Kabupaten Sleman rencananya akan dibangun hingga enam belas lantai. Realisasi dari pembangunan ini akan berpotensi merusak resapan air di daaerah tersebut. Apartemen M-Icon merupakan salah satu dari banyak proyek yang dilakukan Lingkungan


hotel dan apartemen. Di sisi lain, pembangunan yang digadang untuk meningkatkan perekonomian daerah justru mendapat penolakan dari masyarakat. Pembangunan tersebut dinilai bersifat kontradiktif dengan aspirasi masyarakat karena mereka justru ingin menjaga lingkungan. Selama ini kehidupan masyarakat bergantung pada alam sekitarnya sehingga mereka sepakat untuk menolak pembangunan tersebut demi menjaga keseimbangan alam dan kearifan lokal yang mencakup kultur budaya, gotong royong, dan etika dalam diri masyarakat Gadingan. oleh pemerintah daerah untuk memajukan perekonomian. Namun pembangunan tersebut tidak diiringi dengan pemahaman terhadap kondisi alam sekitarnya dalam rangka menjaga kelestariannya. Halik mengatakan, pemerintah daerah cenderung lebih berpihak terhadap investor yang masuk di wilayahnya. Pemerintah juga tidak membatasi pembangunan di sana. Seharusnya pemerintah bisa melihat apakah Gadingan memang diperuntukan bagi pembangunan gedung tinggi atau tidak. Selama ini Gadingan telah menjadi permukiman warga, secara sosial dan budaya berbeda dengan pembangunan Liputan: Danar Yuditya Pratama, Fadhila Isniana, dan M. Fakhrul Izzati iklan “Semua warga telah sepakat menolak pembangunan apartemen dan kami telah melakukan aksi pemasangan spanduk penolakan," kata Priwantoro Lingkungan


DIANNS 53 - 63 membangun daerahnya. “Masyarakat di lingkungan RW 3 ini sangat peduli dengan lingkungan sekitar tempat tinggal. Masyarakat juga selalu mendukung program pemberdayaan lingkungan,” tutur Djainul Arifin (28/06/2015) selaku ketua RW 3 Kelurahan Sukun. Warga dengan sadar dan rutin selalu membersihakan lingkungan dan mengadakan penghijauan di sekitar rumah mereka. Pada tahun 2012 RW 3 mengikuti lomba clean and green tingkat Kota Malang yang berhasil meraih juara Ihingga menjadi juara II (runner up) dalam lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Tingkat Nasional di tahun yang sama. Prestasi dan penghargaan yang telah diraih oleh RW 3 Kelurahan Sukun ahun 2009 merupakan langkah awal Rukun Warga (RW) 3 Keluruhan Sukun dalam mengembangkan wilayahnya di bidang penghijauan T 2 lingkungan. Dengan luas wilayah kurang lebih 1000 meter persegi (m ) dan terbagi atas delapan Rukun Tetangga (RT), wilayah kampung yang sebelumnya kumuh dan rawan banjir berubah menjadi sebuah Kampung Percontohan. Meskipun saat ini warga RW 3 hanya mengantongi hak sewa atas tanah yang mereka tempati, namun mereka tetap bersemangat membangun lingkungan yang bersih dan nyaman. Dalam kurun waktu tiga tahun, wilayah ini berhasil meraih prestasi–prestasi yang membanggakan di bidang pelestarian lingkungan baik di kancah nasional maupun internasional. Berawal dari kepedulian seorang warga, Djainul Arifin, yang kala itu menjabat sebagai ketua RT 5 bersama dengan istrinya mengembangkan budaya hidup sehat di wilayah sekitar. Hal awal yang dilakukan adalah perilaku memilah sampah berdasarkan jenis dan mendaur ulang menjadi barang–barang yang bernilai ekonomi. Karena mampu menghasilkan keuntungan, lambat laun perilaku tersebut diikuti oleh warga sekitar. Seiring berjalannya waktu, warga mulai menyadari pentingnya kepedulian terhadap lingkungan disamping keuntungan finansial yang mereka dapatkan.Melalui program awal sebagai kampung wisata yang dimulai sejak tahun 2009, warga RW 3 Kelurahan Sukun terus bersinergi untuk bergotong-royong Prestasi Warga Sukun di Tengah “Krisis Status” Kepemilikan Tanah Foto: Kiki Lingkungan


DIANNS 53 - 64 Budi Utomo, dan sekarang Universitas Ma Chung,” papar Djainul. Selain itu, juga terdapat taman bermain anak-anak dan taman belajar yang dikelola oleh kader lingkungan RW 3 Kelurahan Sukun. Di taman belajar ini telah disediakan berbagai macam bahan bacaan, mulai dari; buku cerita, komik hingga buku pelajaran. Selain itu, di taman belajar ini juga disediakan mainan anak yang dapat dipinjam oleh anak–anak RW 3. Tujuan dibentuknya taman belajar adalah menumbuhkan minat baca dan kreativitas anak agar menghasilkan generasi yang berwawasan luas. Dalam mensosialisasikan program-program kepada seluruh warga, terdapat mekanisme tersendiri yang dijalankan yaitu berupa penyampaian informasi dari ketua RW ke masyarakat melalui kader lingkungan. Terdapat delapan RT yang masing-masing berhak mengirimkan tiga orang perwakilan untuk menjadi kader lingkungan. Seorang kader lingkungan bertugas untuk menyuntikan provokasi positif kepada warga di lingkungannya untuk turut serta membantu terwujudnya program-program yang telah direncanakan. “Kita sosialisasi ke temanteman kader. Dari RW hanya sebatas mengkoordinir kemudian perwakilan kader lingkungan dari RT yang melaksanakan di lapangan. Jadi misalnya ada program kita sosialisasikan ke kader, lalu yang melaksanakan kader lingkungan dari masing masing RT,” ungkap Dwi Swandayani selaku ketua kader lingkungan RT 5. Dengan demikian sosialisasi program-program lingkungan akan lebih mudah sampai ke masyarakat sehingga realisasinya akan lebih cepat. “Tidak ada pelatihan secara khusus, kita mengerjakannya secara bersama. Karena mereka yang dipilih menjadi kader lingkungan dipercayai memiliki wawasan tentang lingkungan. Jadi, kita sekedar sharing saja,” sambung Dwi saat ditemui pada 29 Juni lalu. Sebagai Kampung Percontohan, RW 3 sangat memperhatikan kualitas lingkungannya. Saat ini Kampung Percontohan ini memiliki 100 lubang biopori dengan kedalaman 1 meter yang tersebut tidak membuat warga berpuas diri dan berhenti melestarikan lingkungan. Warga RW 3 mendorong masyarakat untuk terus mempertahankan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Tak heran jika wilayah RW 3 Kelurahan Sukun menjadi Kampung Percontohan. Predikat Kampung Percontohan telah banyak menarik orang untuk berkunjung mulai dari sekedar melihatlihat, mengadakan studi, atau melakukan penelitian, baik perseorangan maupun instansi. Kampung Percontohan RW 3 Kelurahan Sukun ini telah menjadi kawasan yang banyak dijadikan percontohan oleh beberapa daerah di Indonesia, salah satunya Kota Samarinda. “Setelah lebaran kami mendapat kunjungan dari Samarinda. Mereka ingin belajar bagaimana cara mempertahankan kondisi lingkungan. Mengingat mereka menjuarai lomba PHBS tahun 2012,” tutur pria kelahiran Surabaya 47 tahun yang lalu Selain kunjungan dari dalam negeri, tidak tanggung–tanggung RW 3 juga pernah menerima kunjungan dari Bank Dunia. Dengan banyaknya orang yang sudah berkunjung ke Kampung Percontohan ini, terdapat beberapa perusahaan yang menggelontorkan dana Corporate Social Responbility (CSR). “Banyak CSR yang sudah masuk setelah kita meraih prestasi. CSR–CSR yang masuk antara lain dari Perusahaan Listrik Nasional (PLN) sebesar 60 juta dan Decofresh be rbentuk penge catan s e luruh kampong,” ujar Ketua RW 3. Keberlanjutan Program Lingkungan Berbagai program rutin juga diselenggarakan warga Kampung Percontohan guna mendukung terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat. Program-program tersebut diantaranya; penghijauan di sekitar rumah, pemeriksaan jentik nyamuk setiap bulan, posyandu, dan bimbingan belajar gratis yang diadakan setiap hari Sabtu untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). “Bimbingan belajar gratis ini merupakan bantuan sukarela dari teman-teman Malang Corruption Watch (MCW), IKIP . dibuat pada tahun 2011. Biopori ini berfungsi sebagai media penyerap air ketika musim hujan. Sehingga air yang turun tidak meluap dan dan menimbulkan banjir. Air hujan yang terserap ke dalam tanah melalui lubang-lubang biopori ini dapat menjadi cadangan air bersih ketika musim kemarau datang. Berdasarkan keterangan Djainul, biopori ini juga menjadi salah satu indikator lingkungan sehat yang mengantarkan RW 3 menjadi juara dalam lomba kebersihan lingkungan. Selain biopori, warga Kampung Percontohan memiliki komposter sebagai alat untuk menguraikan sampah organik menjadi pupuk kompos. Menurut penuturan Djainul, pada mulanya mereka hanya memiliki sebuah komposter namun saat ini terdapat 70 buah komposter yang sudah berfungsi. Masing-masing komposter memiliki kapasitas 200 liter dan dapat menghasilkan kompos siap pakai setelah proses composting selesai. Warga Kampung Percontohanjuga melakukan inovasi berupa penyaringan air sungai. Setelah melalui proses penyaringan, air sungai yang mulanya berwarna keruh dan tidak layak minum dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Selain dikenal sebagai Kampung Foto: Kiki Lingkungan


DIANNS 53 - 65 masih terdapat permasalahan pelik dan belum terselesaikan hingga saat ini. Krisis status kepemilikan tanah masih menjadi bahan perdebatan sejak tahun 1950-an. Selama kurang lebih 60 tahun warga RW3 menempati tanah yang dipersengketakan. Mulanya tanah tersebut digunakan untuk tempat tinggal sementara oleh para tentara karena dekat dengan tempat tugas, seiring berjalannya waktu semakin banyak tentara yang bertempat tinggal di wilayah tersebut. “Pada tahun 60-an muncul keributan perebutan hak milik tanah dan sempat terjadi gencatan senjata. Para tentara yang tinggal di wilayah menentang penertiban dan mengancam akan angkat senjata apabila wilayah yang mereka tempati diusik,” tutur Djainul. Dia menambahkan, masyarakat kala itu tetap bersikukuh mempertahankan tempat tinggal mereka. Pada tahun 2001, pemerintah memberikan hak sewa terhadap tanah di Kampung Percontohan. Sejak saat itu masyarakat diharuskan membayar uang sewa setiap tahun sesuai dengan luas lahan yang ditempati. Sampai sekarang warga belum memiliki sertifikat hak milik tanah. “Pengennya semua warga,(kepemilikan) tanahnya resmi, karena bagaimanapun kampung ini sudah jadi,” tegas Gatot Adi Basuki seorang warga RW 3 yang sekaligus menjabat sebagai seksi pembangunan. Warga Kampung Percontohan hanya mengantongi surat hijau, sebagai bukti bahwa mereka telah membayar retribusi.Surat hijau merupakan izin yang diterbitkan pemerintah atas pemakaian tanah aset pemerintah. Jadi, status tanah tersebut masih milik pemerintah kota. Padahal mereka sudah menempati wilayah tersebut selama berpuluh–puluh tahun. Untuk mendapatkan hak milik yang sah, warga mempunyai cara tersendiri dan berbeda dengan para pendahulunya. Sekarang warga mempertahankan wilayahnya dengan cara mendukung program–program pemerintah. “Saya berharap dengan prestasi yang diraih RW 3 pemerintah menjadi luluh dan memberikan tanah ini kepada warga RW 3 yang telah menempatinya selama berpuluh-puluh tahun,” ucap ketua RW 3 yang sudah menjabat selama dua periode itu. Di era globalisasi ini, cara yang dilakukan dengan pendekatan–pendekatan kepada pemerintah kota Malang. Melaluiarahan ketua RW, warga diimbau untuk bersama-sama mendukung program–program pemerintah. Dalam hal ini Djainul bersama warga bahu-membahu memperbaiki dan menjaga lingkungan tempat tinggal mereka. Gatot mengatakan bahwa tindakannya selama ini sebagai upaya cari muka kepada pemerintah,“Istilahe nggolek rai nang pemerintah. Ikiloh kampungku, masio ga resmi iso koyo ngene. Mbok yo ndang langsung diresmikno.” Lelaki yang telah tinggal di RW 3 sejak tahun 80-an ini melanjutkan, Percontohan, RW 3 juga dikenal dengan sebutan Kampung Terapi. Dijuluki demikian karena pada wilayah RW 3, terdapat batu–batu terapi yang berfungsi sebagai pijakan sekaligus berkhasiat untuk kesehatan. Tanpa harus mengeluarkan biaya, warga dapat melakukan refleksi dengan berjalan di atas batu terapi di sekitar rumah dan melakukan olahraga secara sehat dan murah. Julukan ini terbukti mampu menarik para wisatawan untuk mengetahui secara langsung dan membuktikan sendiri keunikan Kampung Terapi. Keunikan lain, di RT 07 RW 3 Kelurahan Sukun juga terdapat kampung ramah anak. Kampung ramah anak ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan lahan bermain yang ada di RW 3. Sehingga muncul gagasan untuk membangun kampung ramah anak sebagai tempat bermain. Kampung ramah anak ini hasil kerjasama dengan mahas i swa Jurusan Ar s itektur, Universitas Brawijaya. Desain kampung ini disesuaikan dengan karakter anakanak yang menyukai warna–warna cerah dan gambar yang menarik. Dengan desain seperti ini, anak–anak akan merasa nyaman dan betah bermain di area tersebut. Di kampung ini juga terdapat berbagai macam permainan yang mengasah kreativitas, saraf sensorik, dan saraf motorik anak. Dengan adanya kampung ramah anak ini, mereka dapat bermain dan berinteraksi dengan teman sebaya. Meski dapat bermain secara bebas, terdapat beberapa ketentuan yang diberlakukan agar anak tidak lupa waktu saat bermain. “Namanya juga anak, lupa waktu kalau bermain. Jadi kita membuat ketentuan di kampung ramah anak, pada saat tertentu anak–anak tidak diperbolehkan bermain misalnya saat jam tidur siang. Kami juga menunjuk beberapa orang sebagai pengawas, agar anak–anak tidak melanggar aturan tersebut dan berhak menegur ketika mereka bermain dan dirasa terlalu ramai mengganggu warga sekitar,” papar Dwi Swandayani. Memperjuangkan Hak Milik Tanah Di balik semua penghargaan yang telah diperoleh RW 3 Kelurahan Sukun, Foto: Kiki Lingkungan


berhasil mengubah kampung yang semula kumuh menjadi kampung yang hijau, asri, dan menjadi Kampung Percontohan.“Saat ini warga RW 3 berusaha untuk memperjuangkan status kepemilikan tanah kami. Kami khawatir status kepemilikan yang belum jelas ini akan disalahgunakan, mengingat wilayah ini strategis dan rawan diprivatisasi,” sambung Djainul. Dengan demikian setiap program- “Inginnya warga seperti itu, sekarang warga sudah mempunyai inisiatif sendiri dalam mengelola wilayahnya agar tetap menjadi percontohan.” Meskipun demikian Gatot mengaku bahwa selama ini tidak ada tekanan dari pihak pemerintah terkait dengan status tanah tersebut. Dengan dana yang berasal dari swadaya masyarakat dan hasil dari pendapatan kampung wisata, mereka programnya akan berhasil,” tukas Djainul.Ketua RW 3 Sukun berharap pemerintah lebih peduli terhadap masyarakatnya dengan terjun langsung dan ikut serta memantau gerakan masyarakat untuk lingkungan. “Seorang pemimpin yang baik ialah yang mampu menerima amanah masyarakat dengan baik. Liputan: Shochihatuz Zainia Fauzi dan Ria Fitriani Biopori menjadi salah satu indikator lingkungan sehat yang mengantarkan RW 3 menjadi juara dalam lomba kebersihan lingkungan. Lingkungan


DIANNS 53 - 68 Foto: Clara Musik yang selama ini menjadi alternatif hiburan sehari-hari bagi masyarakat seringkali dikaitkan dengan kelas sosial seseorang, entah berupa latar belakang ekonomi, sosial, ataupun status sosial yang disandang secara turun temurun. Status kelas sosial tersebut nantinya akan berdampak pada besar atau kecilnya akses yang dimiliki untuk mengapresiasi genre musik tertentu. “Beberapa jenis musik memerlukan apresiasi dan pembelajaran supaya seseorang bisa memahami dan menikmatinya,” ujar Inggit Sitowati, Dosen di Jurusan Etnomusikologi, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, dalam jawaban wawancara dengan DIANNS via surat elektronik (14/08/ 2015). Berkaitan dengan lingkungan sosial yang mempengaruhi selera seseorang, Pierre Bourdieu seorang antropolog, sosiolog dan ahli filsafat dari Perancis, dalam bukunya Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste, mengatakan bahwa selera itu dikonstruksi atau dibentuk dalam lingkungan sosial, sehingga kelas sosial merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi selera. menentukan apa yang disukai dan tidak disukai oleh manusia. Penelitian lain di Amerika yang dilaporkan oleh Di Maggio dan Useem (1978) menyatakan bahwa kehadiran penonton dalam konser selama 12 bulan menunjukkan bahwa konsumen musik symphony orchestra terdiri dari 4% buruh, 14% karyawan manajerial, dan 18% profesional. Sedangkan konsumen dalam musik popular (folk, jazz, rock), ditunjukkan dengan angka 20% buruh, 26% manajer, dan 30% professional. Berdasarkan penelitian tersebut, tingkat penghasilan dan pendidikan juga terkait dengan konsumsi musik klasik. Orang yang berpenghasilan $15.000 per tahun, atau yang tingkat pendidikannya Pengelompokan selera music berdasarkan kelas sosial juga turut dilansir oleh hasil riset pada Jurnal Canadian Review Of Sociology, yang mengatakan bahwa orang miskin dan kurang terpelajar lebih menyukai jenis musik country, disco, easy listening, lagu lawas, heavy metal, dan rap sedangkan orang kaya dan berpendidikan tinggi cenderung menyukai musik jazz, klasik, opera, reggae, rock, dan music teater. Dalam hasil riset yang melibatkan hampir 1600 responden ini, Gerry Veenstra, ilmuwan dari University of British Columbia, Kanada selaku pemimpin penelitian mengungkapkan jika selera musik tidak berhubungan dengan kelas sosial. Tetapi kelas sosial sampai perguruan tinggi, jauh lebih memungkinkan untuk menghadiri konser musik klasik daripada orang yang berpenghasilan kurang dari $5.000 pe r tahun, atau yang tingkat pendidikannya hanya sampai SMA. Pada awalnya, musik klasik, jazz, dan teater memiliki keterjangkauan yang lebih susah dibanding dengan genre musik lainnya yang relative mudah. Selain harga tiket yang mahal, ruang pementasan musik klasik juga sangat terbatas. Hal inilah yang menyebabkan stigma bahwa musik klasik, jazz, dan teater merupakan konsumsi kaum elite. Tak membenarkan, pakar musik nasional Bens Leo justru berpandangan lain. “Selera orang berbeda-beda maka dari itu saya tidak mempercayai adanya konflik mengenai perbedaan selera dalam memahami musik, karena masalah selera adalah ber s ifat personal,” ujarnya. Kondisi dimana adanya penggolongan antara musik dan kelas sosial memang benar pernah terjadi, namun kini telah melebur. “Sekarang berbeda dengan sekitar 10 tahun yang lalu, sekarang sudah berbaur sekali,” tambahnya. Pesatnya arus globalisasi dewasa ini telah membuat sekat-sekat kelas sosial pada selera musik menjadi kabur. Akses dalam menikmati musik pun menjadi relatif mudah. Apa yang dulu hanya dapat menjadi konsumsi kaum elite kini juga turut dapat diperoleh dengan mudah oleh orang awam melalui akses internet. Namun, menurut Inggit, jenis musik klasik dan jazz tidak Musik


diadakan konser musik klasik harga tiket yang relatif murah bahkan gratis. Namun publikasinya tidak seluas jenis musik pop atau dangdut bahkan jazz. Para audien atau penonton pada konser-konser musik klasik tersebut mayoritas adalah orang-orang dari kalangan pendidikan tinggi, yang dapat dikatakan sebagai kelas menengah ke atas. “Fenomena-fenomena ini yang saya lihat di Yogyakarta dan saya alami selama ini. Maka menurut saya bahwa keterkaitan antara selera musik dengan kelas sosial masih ada,” terangnya. Seakan tak setuju dengan adanya penggolongan antara musik dan kelas sosial ini, musisi-musisi yang berpendidikan tinggi justru berupaya meleburkan adanya sekat atau batas antara tiap genre musik, sehingga semua musik menjadi sama rata dimata masyarakat. Contohnya pada musik klasik dan jazz. Banyak musisi-musisi musik klasik dan jazz yang kemudian menggunakan media teknologi kemudian mengaransemen ulang atau menciptakan komposisi baru yang lebih mudah dicerna semua orang dari semua lapisan sosial, seperti Vanessa Mae, B o n d , M a x i m , a t a u R i c h a r d Clayderman. Mereka tetap menggunakan komposisi musik klasik namun dikemas dengan aransemen yang menggunakan band dan techno music, sehingga bercita-rasa pop. Mereka juga menggabungkan beberapa genre musik sehingga menjadi kemasan dengan baru. “Menurut saya ini mungkin salah satu cara musisi mengkaburkan sekat atau batas tiap genre. Sehingga orangorang dari berbagai kelas sosial bisa menikmatinya karena kemasan musik baru ini lebih easy listening dan lebih menarik dari bentuk musik orisinalnya,” ujar Inggit. Fenomena serupa juga pernah terjadi di Indonesia, beberapa musisi jazz ternama tanah air dalam karirnya ternyata juga pernah m e m a i n k a n g e n r e musik dangdut. Contohnya seperti Indra Lesmana & Gilang Ramadhan yang dikenal sebagai musisi jazz dan memiliki latar pendidikan musik yang bagus dan lulusan luar negeri. Mereka pernah berduet dengan Camelia Malik dalam sebuah grup dangdut kontemporer yang bernama Trakebah. Rekaman ini terjadi sekitar 15 tahun yang lalu namun tidak pernah beredar, “Padahal itu album yang ditunggu masyarakat luas karena dimainkan oleh musisi dengan kapabilitas dan kualifikasi dan segmentasi yang disebut dengan musik yang bermutu,” ujar Bens Leo. Mereka memainkan dangdut dengan cara mereka. Trakebah ini direkam atas dasar keinginan para musisi jazz agar musik dangdut dibawa ke selera pasar yang lebih tinggi. Kini apresiasi musik terhadap genre musik bawah menjadi sangat bagus tatkala televisi membuka ruang untuk perkembangan musik jauh lebih lebar. Beberapa stasiun televisi di Indonesia sekarang ini memiliki program dangdut. “Itu merupakan contoh betapa ruang publik media massa juga memberi dorongan agar semua jenis musik sama kesempatannya untuk bisa berkembang disini,” ujar Bens Leo. serta merta mudah dinikmati dan dipahami oleh semua orang dengan tingkat pendidikan yang beraneka ragam. Contoh mudahnya adalah seorang yang tingkat pendidikannya hanya sampai SD, SMP atau SMA, akan sangat jarang memiliki selera musik klasik atau jazz. Kedua jenis musik ini membutuhkan apresiasi dan pembelajaran untuk memahaminya. Orang yang berada pada kelas sosial atas, secara otomatis memiliki tingkat wawasan dan pengetahuan yang tinggi dibanding dengan kelas sosial bawah. Wawasan dan pengetahuan seseorang terhadap jeni s mus ik sangat mempengaruhi penilaian dan apresiasi terhadap musik tersebut. Orang yang banyak mengetahui dan mempunyai wawasan luas terhadap suatu jenis musik, akan lebih mudah untuk memahami seluk-beluk musik tersebut. Misal-nya pengetahuan tentang sejarah, latar-belakang, teknik, pengetahuan tentang musisi dan komposisi atau komposer/pencipta lagu, dan pengetahuan lainnya, akan membuat tingkat apresiasi dan penilaian seseorang menjadi lebih baik. Orang dengan pengetahuan dan wawasan yang luas dan tinggi akan dapat menilai dengan baik musik dan teknik-teknik dalam musik tersebut. Selain itu, publikasi pada konser musik klasik dan jazz tidak dilakukan segencar konser musik pop atau dangdut. Publikasi biasanya hanya dilakukan ke kampus-kampus, tempat kursus musik, atau lembaga-lembaga kebudayaan atau kedutaan. Hal ini lah yang menyebabkan tidak semua orang dari semua kelas sosial dapat mengakses musik klasik. Menurut Inggit, di Yogyakarta sendiri, saat ini sering DIANNS 53 - 69 foto: Ipad Liputan: Amalia Puspita dan Muhammad Bahmudah WAWASAN DAN PENGETAHUAN SESEORANG TERHADAP JENIS MUSIK Musik


Foto: Clara


ataran Tinggi Dieng, tempat Dper semayaman dewa-dewi. Begitulah kiranya masyarakat menjuluki tempat ini. Namanya yang tersohor hingga ke mancanegara bak magnet yang menarik petualang untuk menelusuri jejak dewa-dewi yang bersemayam di sana. Dataran Tinggi Dieng bak sebuah peti harta karun yang menyimpan berbagai pesona di dalamnya. Bagi petualang yang terpanggil untuk datang kesana, bersiaplah untuk menyaksikan panorama alam yang tak ada putusnya. Mulai dari puncakpuncak bukit, gunung dengan semua kegagahannya, telaga yang berhias warna-warna indah, hingga ratusan budaya masyarakat setempat yang tak ternilai. Beruntungnya, kekayaan budaya Dieng itu ternyata tidak disimpan sendiri oleh masyarakatnya. Masyarakat Dieng membuka keindahan tersebut agar dapat dinikmati oleh orang banyak. Hal inilah yang disadari oleh Kelompok Sadar Wisata Dieng Pandawa. Pada tahun 2009, bersama dengan Dinas Kepariwisataan, berbagai elemen masyarakat, serta organisasi sekitar, kelompok ini menggagas sebuah pesta budaya tahunan terbesar di Dataran Tinggi Dieng. Pesta budaya tersebut adalah Dieng Culture Festival, atau yang lebih sering dikenal sebagai DCF. DCF diadakan sekali setahun. Dalam kesempatan sekali setahun itulah, mereka mengenalkan budaya Dieng kepada masyrakat luas dengan harapan para petualang maupun pengunjung bisa mengenal dan mempelajari budaya yang ada di Dieng. Ada yang berbeda untuk penyelenggaraan DCF tahun ini. Biasanya, DFC berlangsung selama dua hari. Untuk DCF tahun ke-6 ini, acara diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut mulai dari 31 Juli – 2 Agustus 2015. Tema yang diusung pada pagelaran budaya ini adalah “Culture for Harmony”. Dengan mengusung tema tersebut, panitia berharap dapat mendorong budaya berkehidupan yang harmonis, serta sebagai wujud untuk saling menghormati dan menghargai dalam keberagaman budaya yang ada. Konteks harmony di sini juga termasuk dalam upaya menjaga keseimbangan alam. Hari pertama Dieng Culture Festival diawali dengan acara pentas rebana dan pemukulan gong oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Tak hanya para pengunjung DCF saja yang merasa antusias dengan acara ini, masyarakat Dieng sendiri pun turut merasakan kegembiraan pada perhelatan DCF. mati jagung bakar di tengah suhu yang mencapai 4˚ (empat derajat Salah satu acara yang paling ditunggu dari rangkaian pagelaran budaya ini adalah pentas ‘Jazz Atas Awan’ yang digelar pada malam hari pertama. Pengunjung dapat menikmati alunan musik jazz sambil menikDIANNS 53 - 71 Jalan-jalan Dieng Culture Festival


DIANNS 53 - 72 Celsius). Bagi pengunjung yang datang sendirian, tak usah ragu untuk ikut bergabung dengan kelompok lainnya. Semua orang dari budaya yang berbeda berkumpul menjadi satu malam itu. Baik pengunjung maupun masyarakat setempat terlarut dalam alunan musik jazz malam itu. Meski dingin malam itu bak jarum yang menusuk tulang, mereka tetap duduk bersama menikmati Jazz Atas Awan sembari mencari sedikit kehangatan dari bara api yang ada disana. Inilah yang membuat pertunjukan jazz tersebut dikenal sebagai JazzKemul Sarung. Acara Jazz Atas Awan sendiri sudah ketiga kalinya diselenggarakan di DCF. Tahun ini, selain musisi-musisi jazz lokal, Sudjiwo Tedjo, sastrawan yang telah banyak dikenal masyarakat, juga ikut serta menyanyikan lagulagunya di atas panggung. Keesokan harinya, saat jarum jam menunjuk pukul tiga dini hari, pengunjung DCF mendaki Bukit Pangonan sambil melawan udara dingin yang mencapai -2˚. Di hari kedua ini, acara dimulai lebih awal agar pengunjung dapat melihat detik-detiknya matahari terbit dari Bukit Pangonan. Dengan cahaya yang terbatas karena gelap yang masih pekat, medan yang cukup menguras tenaga, dan dingin yang menyesakkan dada, tak heran jika banyak yang memilih untuk beristirahat di tengah perjalanan. Pendakian Bukit Pangonan ini dibagi dalam empat pos untuk berjaga-jaga jikalau para peserta memilih mengundurkan diri atau terjadi sesuatu yang tak terduga. Selain itu, keempat pos tersebut menjadi tolak ukur pendaki untuk mencapai puncak Bukit Pangonan. Sampailah rombongan di puncak bukit. Seperti sudah diskenario, fajar akhirnya muncul dari ufuk. Namun pagi ternyata tak melenyapkan kelebatan halimun yang menyelimuti rumah-rumah warga. Gradasi langit pagi itu begitu indah, menyublimkan rasa lelah awal hari itu. Betapa menakjubkannya negeri atas awan ini. Sepulang dari pendakian, pengunjung disuguhi purwaceng, semacam minuman jahe khas Dataran Tinggi Dieng. Pada siang hingga sore hari, pengunjung dapat menikmati berbagai macam pertunjukan seni, terutama pagelaran wayang kulit dan pentas Lengger di sekitar kompleks Candi Arjuna. Betapa beruntungnya saya menjadi bagian dari DCF. Ketika di sini, para pengunjung tidak dibiarkan sedikit pun berdiam diri di penginapannya. DCF selalu punya cara agar para pengunjung terhibur, belajar, dan menikmati alam Dataran Tinggi Dieng. Karena itu, untuk memotong rambut anak gembel tersebut haruslah melalui sebuah acara ritual yang Malam harinya, di bawah suhu 3˚, masing-masing pengunjung diberi sebuah lampion untuk diterbangkan sesudah acara pembukaan. Acara pembukaan diisi dengan pembuatan api unggun dan penampilan tarian api. Saat tiba waktunya, tiga lampion besar berwarna merah terlihat terbang diudara, saat itulah acara menerbangkan lampion dimulai. Lampion pun dibuka dan dikembangkan dengan sempurna, lilin-lilin terpasang, orang-orang bersiap untuk melepas harapannya di masa yang akan datang ke langit. Lampion yang terbang adalah simbol dibawanya harapan para pengunjung agar sampai di langit dan menerangi pekatnya malam dengan cahaya. Hari ketiga pun tiba, tak terasa waktu begitu cepatnya berlalu. Hari ketiga akan diisi dengan acara puncak dari DCF, yaitu pemotongan rambut anak gembel atau biasa disebut dengan anak bajang. Anak gembel ini dianggap sebagai titisan Eyang Agung Kaladete dan Nini Ronce yang merupakan leluhur masyarakat Dieng. Foto: Mechelin Jalan-jalan


paling sederhana yaitu, gethuk 2 biji. Pemotongan rambut diawali dengan pembacaan tembang Jawa dan diakhiri dengan doa-doa keselamatan untuk si anak. Potongan rambut gembel tersebut dihanyutkan ke Telaga Warna yang berjarak sekitar 4 kilometer (km) dari kompleks Candi Arjuna yang menandasakral. Rambut yang tumbuh menggimbal tidak bisa dipotong sembarangan. Pemotongan rambut baru bisa dilakukan jika memang si anak yang meminta. Sebelum pemotongan rambut, tiap anak akan mengajukan satu permintaan yang harus dipenuhi. Konon katanya, jika permintaan tersebut tidak terpenuhi dan orang tua memaksa untuk memotong rambut sang anak gembel, maka kesialan akan menimpa si anak dan keluarganya. Malam hari sebelum prosesi pemotongan rambut,akan dilakukan upacara bernama Jamasan Pusaka. Upacara ini berisi pencucian pusaka yang dibawa saat kirab budaya anak-anak rambut gembel. Keesokan harinya baru dilakukan kirab budaya menuju tempat pencukuran. Anak-anak yang memeliki rambut gembel tersebut diarak dari rumah Pemangku Adat dan berhenti di Sendang Sedayu, tempat pencucian rambut. Setelah itu, barulah ritual pemotongan rambut dilaksanakan di kawasan Candi Arjuna. Tahun ini ada sepuluh anak yang melakukan pencukuran rambut gembel. Anak-anak tersebut berumur kisaran lima sampai dengan tujuh tahun. Begono-nya (permintaan) mereka beragam. Ada yang meminta kalung dan gelang emas, kambing tiga ekor, apel merah satu keranjang yang baru keluar dari kulkas, berfoto bersama teletubbies, hingga permintaan yang kan bahwa rambut tersebut sudah dikembalikan ke pemilik-Nya. Selesainya upacara pemotongan rambut juga menandai berahirnya DCF tahun ini. Rasanya berat sekali menerima bahwa festival ini harus berahir. Masih banyak pesona alam dan budaya di Dieng yang belum saya ketahui dan pelajari. Masih banyak masyarakat yang ingin dikenal. Masih banyak makanan yang ingin saya coba. Petualangan ini tidak akan pernah terlupakan, kehangatan saat menikmati Jazz Atas Awan, keindahan Dieng, dan ritual cukur rambut gembel yang unik dengan segala kesakralannya. Begitu kuatnya pikat persemayaman dewadewi ini membuat pengunjung akan rindu dan ingin kembali kesana. Untuk Anda yang mungkin ingin menikmati pengalaman yang sama dengan saya, Anda bisa ke Dieng lewat Jogjakarta. Apabila menggunakan jasa travel, akan ada dua tawarkan. Pertama, dengan harga murah, tetapi hanya sampai Wonosobo. Estimasi waktu perjalanan dengan menggunakan travel dari Jogjakarta pilihan yang diDIANNS 53 - 73 Jalan-jalan Akomodasi Budget Mobil (Dari Jogja – Dieng) Penginapan Homestay (3 hari untuk 3 orang atau lebih) Mikro Bus (Dari Dieng-Wonosobo) Bus (Dari Wonosobo-Magelang) Taksi (Dari Magelang-Jogja) Rp. 115.000 Rp. 500.000 Rp. 20.000 Rp. 25.000 Rp. 50.000/orang Foto: Mechelin


dengan menggunakan mikro bus. Dengan rute yang lebih rumit ini, total waktu perjalanan menggunakan bus dari Jogjakarta menuju Dieng dapat memakan waktu hingga 7 jam. Lamanya total waktu perjalanan ini membuat pengunjung lain memilih menggunakan sepeda motor sebagai alat transportasinya. Hal ini mungkin dapat memakan waktu yang lebih singkat, namun dapat menguras energi jauh lebih banyak. Apapun pilihan transportasinya, yang jelas jangan lupa untuk menikmati perjalanan Anda. Selamat berburu harta karun di Dieng! menuju Wonosobo adalah 3 sampai 4 jam. Perjalanan travel dari Wonosobo dilanjutkan dengan menggunakan mikro bus menuju Dieng dengan estimasi waktu satu jam. Alternatif kedua, jika Anda bersedia merogoh kocek lebih dalam, Anda bisa menggunakan travel yang langsung mengantar hingga Dieng. Estimasi waktu yang diperlukan sekitar 6 jam. Sebagian pengunjung DCF biasanya memilih menggunakan transportasi bus langsung dari Jogjakarta kemudian transit di Magelang, lalu menggunakan bus menuju Wonosobo, baru kemudian melanjutkan perjalanan menuju Dieng Tips Perjalan ke Dieng Culture Festival Ÿ Dataran Tinggi Dieng sangat luas dan kaya akan berbagai macam panorama. Apabila tidak sempat mengikuti DCF atau sekedar ingin mengunjungi Dieng, masyarakat Wonosobo atau Dieng sendiri akan dengan ramah membantu Anda untuk memberikan informasi seputar tempat wisata hingga alat tarnsportasi. Ÿ Penjualan tiket DCF biasanya dimulai empat bulan sebelum hari pelaksanaan. Bagi Anda yang ingin pergi ke DCF, segeralah mengatur pemesanan tiket perjalanan dan tempat penginapan. Semakin jauh hari pemesanan dari tanggal pelaksanaan, semakin murah tiket yang Anda dapat. Panitia acara DCF juga dengan senang hati membantu para pengunjung yang ingin memesan penginapan selama di Dieng. Disarankan juga untuk menanyakan alamat lengkap dan berapa jarak yang perlu ditempuh dari penginapan menuju lokasi acara DCF. Ÿ Selama di DCF cobalah makanan khas di sana. Karena Dataran Tinggi Dieng terkenal dengan hasil kentangnya yang melimpah. Jangan lupa juga untuk mencicipi olahan terong belanda dan carica. DIANNS 53 - 74 Liputan: Athiyyah Rahma dan Mechelin Dirgahayu Sky Jalan-jalan Dalam kesempatan sekali setahun itulah, Dieng Culture Festival, bertujuan mengenalkan budaya Dieng kepada masyarakat luas dengan harapan para petualang maupun pengunjung bisa mengenal dan mempelajari budaya yang ada di Dieng.


DIANNS 53 - 76 Mendaki gunung bagi sebagian orang seperti pulang ke rumah. Ada perasaan rindu tersendiri yang timbul dalam diri saat lama tak bersua mengunjungi gunung. Ungkapan “Going to the Mountain is going Home” ternyata memang benar adanya. Hal itulah yang saya dan teman-teman saya rasakan setelah mendaki gunung. Ada semacam efek 'ketagihan' dan rasa rindu untuk terus kembali ke sana. Saya pribadi sebenarnya belum terlalu banyak mendaki gunung, terhitung baru 3 gunung yang pernah saya daki. Namun perasaan rindu untuk kembali mendaki gunung sudah mulai muncul setelah pendakian pertama saya. Berawal dari rasa 'ketagihan' dan rindu itu, saya dan beberapa teman pada Bulan Mei lalu melakukan pendakian ke Gunung Rinjani yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung Rinjani merupakan gunung impian kami. Gunung yang memiliki ketinggian 3726 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini merupakan gunung berapi tertinggi ke dua di Indonesia. Keindahannya yang telah terkenal hingga ke mancanegara, membuat kami ingin melihatnya secara langsung. Setelah beberapa bulan menabung dan cukup lama merencanakan pendakian ini, ahirnya pada 9 Mei 2015 lalu kami berangkat dari Malang menuju Lombok untuk menyambangi 'Istana Dewi Anjani' tersebut. Ya, Gunung Rinjani memang sering disebut sebagai Istana Dewi Anjani. Orang Sasak (suku asli Lombok) punya legenda tentang Dewi Anjani. Menurut legenda, Dewi Anjani adalah seorang putri raja yang kabur ke Gunung Rinjani karena menolak kehendak ayahandanya. Ruh Dewi Anjani kemudian menjelma menjadi penjaga Gunung Rinjani dan bersemayam di puncaknya. Pendakian ini diikuti oleh 10 orang (termasuk saya). Tujuh diantaranya merupakan teman sejurusan di perkuliahan, sedangkan dua lainnya adalah teman yang berasal dari Lombok. Sabtu petang, pukul 18.30 Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), dengan menggunakan bus umum kami berangkat dari Terminal Arjosari menuju Mataram –Ibu Kota Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kami harus menempuh 536 kilometer (km) dalam kurun waktu 22 jam hingga ahirnya tiba di Mataram pada Minggu (10/05). Jarum jam kala itu menunjukkan pukul 16.30 Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA). Dari Terminal Mandalika, Mataram, kami langsung naik angkutan umum menuju rumah Imam, salah satu teman kami yang berasal Lombok. Rencananya kami akan bermalam di sana. Selepas adzan subuh keesokan harinya, kami berangkat dari rumah Imam menuju Desa Sembalun. Perjalanan ini selama kurang lebih tiga jam perjalanan menggunakan mobil. Desa Sembalun merupakan salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Gunung Rinjani. Ada tiga jalur resmi untuk menuju puncak Rinjani, yaitu; Sembalun, Torean, dan Senaru. Kami memilih jalur Sembalun sebagai jalur kami berangkat dan jalur Senaru untuk pulang (turun gunung) nanti. Suhu udara di Desa Sembalun cukup dingin di pagi hari. Pendakian ini kami mulai pukul 08.00 WITA. Dari pos registrasi Desa Sembalun, rencananya kami langsung menuju camp site Pelawangan Sembalun untuk mendirikan tenda di sana sebelum menuju puncak keesokan harinya. Untuk menuju Pelawangan Sembalun ada tiga pos yang harus kami lalui, yaitu Pos 1 (Pemantauan), Pos 2 (Tengengean), Pos 3 (Pada Balong). foto: Candra Jalan-jalan


DIANNS 53 - 77 Di awal perjalanan, kami langsung berjumpa dengan hamparan padang sabana yang menjadi salah satu daya pikat Rinjani. Setelah 3 jam lamanya, kami akhirnya tiba di Pos 1. Selanjutnya, jalur dari pos 1 ke pos 2 sedikit menanjak dan masih didominasi padang rumput yang terbuka. Kami butuh 2 jam untuk sampai di Pos 2 Tangengean. Tengengean sendiri dalam bahasa sasak artinya kotoran hidung. Dinamai demikian lantaran para pendaki yang sampai di pos ini selalu membersihkan hidungnya dari debu yang menempel sepanjang perjalanan. Entah siapa yang memberikan nama itu, yang jelas alasannya cukup lucu menurut saya. Di Pos 2 ini saya dan empat teman lain sampai terlebih dahulu. Saat itu tengah hari dan kami didera lapar yang melilit karena memang waktu makan siang sudah lewat. Saat akan memasak, kami baru ingat jika kompor dan nesting untuk memasak nasi terdapat pada tas carier teman kami yang masih tertinggal di belakang. Menunggu hingga satu jam lebih, teman kami tak juga kunjung sampai di Pos 2. Alhasil kami hanya memakan roti dan beberapa biskuit sebagai menu makan siang. Meski sebenarnya cukup, suasana di Pos 2 membuat kami lebih lapar dari biasanya. Para pendaki yang membawa porter sedang menikmati makanan dengan lahapnya. Tak perlu repot memasak, mereka tinggal duduk manis menunggu makanan yang dimasak oleh porter Melihat pelayanan yang diberikan porter, kami memperkirakan biaya untuk menyewa porter ini cukup besar. Namun, ketika kami tanyai salah satu porter secara langsung, ia mengatakan bahwa harga perhari untuk jasa mereka adalah Rp 150.000. Jika dihitung-hitung, biaya tersebut tidak terlalu mahal seperti yang kami bayangkan. Hitung saja jika kami bersepuluh ini menggunakan 2 porter, biaya yang dikeluarkan untuk 3 hari perjalanan sekitar Rp 900.000 (2 x Rp 150.000 x 3 hari), maka tiap orangnya tidak sampai merogoh kocek sebanyak Rp. 100.000. Setelah mengetahui besaran h a r g a - nya, rasa-rasanya pada pendakian Rinjani berikutnya lebih baik kami menggunakan porter saja lah, hehehe. Tak ingin terbawa kecemburuan lebih lama di Pos 2, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Jarak antara Pos 2 ke Pos 3 sekitar 1 jam perjalanan. Menuju Pada Balong ini, dataran sabana mulai menanjak. Walaupun tanjakan menuju Pos 3 ini lebih terjal, menurut kami jalur ini tidak terlalu berat karena matahari tak terlalu menyengat dan suhu mulai turun. Waktu menunjukan pukul 15.00 WITA saat kami tiba di Pos Pada Balong. Kami memutuskan untuk membangun tenda di sana dengan beberapa pertimbangan, diantaranya waktu yang sudah terlalu sore dan masih adanya empat teman tertinggal di belakang. Apabila tetap nekat melanjutkan perjalanan hingga P e l a w a n g a n Sembalun, kemungkinan kami sampai di sana malam hari. Apalagi setelah Pos 3 kami masih harus melewati 'Bukit Penyesalan'. Mendengar namanya saja kami sudah malas. Jalan-jalan foto: Candra foto: Candra foto: Aji foto: Candra


Sembari menunggu teman yang masih tertinggal di belakang, kami membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, ada yang mengambil air di sumber terdekat, dan ada yang mengolah logistik untuk dimasak. Selang waktu sekitar satu jam, beberapa teman kami yang tertinggal di belakang telah sampai di Pos 3. Seperti melupakan segala rasa lelahnya mereka lansung membantu melanjutkan memasak dan mengerjakan pekerjaan lainnya. Menjelang malam masakan kami baru selesai. Kami menghabiskan makan malam hari itu dengan lahap. W a k t u berlalu bagaikan peluru. Pagi pun datang, menandakan kami harus segera menyiapkan keperluan untuk melanjutkan pendakian. Perjalanan menuju Pelawangan Sembalun bukan hal yang mudah. Setelah Pos 3 inilah, kami harus melewati jalur terberat bagi para pendaki. Kami harus menapaki beberapa jalur terjal yang disebut dengan nama yang cukup menggetarkan hati, Bukit Penyesalan. Bukit Penyesalan terdiri dari tujuh bukit yang menanjak hebat. Nama ini memang tak salah diberikan, karena pendaki bisa saja menyesal mendaki Rinjani lantaran beratnya medan yang harus dilalui. Setelah melalui Bukit Penyesalan, sekitar pukul 3 sore, kami semua baru sampai di Pelawangan Sembalun. Pelawangan sembalun merupakan pos terakhir menuju puncak. Pemandangan sore itu di Pelawangan Sembalun sungguh indah. Dengan disinari cahaya mahari sore yang keemasan, Danau Segara Anakan dan Gunung Baru Jari terlihat bagitu indah dari tempat saya berdiri. Tengah malam sekitar pukul 00.30 kami semua bangun untuk persiapan summit. Untuk menuju puncak, jalur yang kami lalui dibagi menjadi tiga bagian. Bagian yang pertama yaitu tanjakan curam berpasir yang menyulitkan pendaki untuk berpijak. Bagian ke dua tidak terlalu berat, dataran yang lumayan landai ini menjadi bonus bagi para pendaki. Bagian terakhir merupakan bagian terberat. Medannya berupa pasir, batu, dan tanah. Bagi saya, medan ini hampir mirip dengan jalur menuju Puncak Mahameru, walaupun tidak seterjal Mahameru. Setelah melalui perjuangan berat yang menguras stamina dan kesabaran, saya dan dua teman saya tiba di Puncak Rinjani pada pukul 05.15. Dua teman saya yang lain telah tiba terlebih dahulu dan menunggu di puncak. Rasa lelah, kantuk, dan suhu dingin yang menyelimuti sepanjang perjalanan seketika terbayar lunas dengan rasa puas atas pencapaian kami setelah sampai di puncak Rinjani. Cahaya matahari terbit seakan membius kami hingga tidak bisa berkata apa-apa. Hanya perasaan haru, kagum, dan takjub akan ciptaan Tuhan yang megah ini. Lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan para pendaki di puncak Rinjani membuat m o m e n ini menjadi sangat sakral. Perasaan bangga akan keindahan alam Indonesia dan rasa cinta terhadap tanah air seketika muncul saat bibir ikut menyanyikan lagu kebangsaan ini. Bergetar rasanya hati, air mata meluncur DIANNS 53 - 78 Jalan-jalan foto: Candra foto: Imam


dari sudut mata s a y a d e n g a n sendirinya. Sungguh perasaan yang tidak akan pernah berubah saat lagu Indonesia Raya dilantunkan di puncak gunung manapun. S e t e l a h puas mengabadikan momen di puncak Rinjani, kami turun kembali ke Pelawangan Sembalun sekitar pukul 8 pagi dan s a m p a i p u k u l 12.30. Setibanya di Pelawangan, kami langsung membuat makan siang. Rombongan mulai menuju Segara Anakan saat jarum jam menunjukkan pukul 3 sore. Sekitar 3,5 jam berjalan dari Pelawangan Sembalun, akhirnya sampailah kami di Segara Anakan saat malam sudah menggumpal pekat. Kami segera mendirikan tenda dan mengisi perut kami yang kosong dengan makanan seadanya. Sesaat setelah itu kami langsung istirahat karena kondisi fisik yang kelelahan amat sangat. Kesokan harinya kami semua sepakat untuk menginap satu malam lagi di Segara Anakan. Pada hari ke empat pendakian, seharian penuh kami menghabiskan waktu untuk menikmati indahnya kaldera berdanau ini. Memang benar jika ada orang yang menyebut Gunung Rinjani sebagai gunung yang 'komplit'. Bagaimana tidak, gunung ini memiliki padang sabana, hutan tropis, danau, air terjun, pemandian air hangat alami, hingga gua dengan stalagmit dan stalaktit. Banyak hal yang kami lakukan di hari itu, mulai dari memancing ikan di Danau Segara Anakan hingga mandi air hangat di bawah air terjun. Sungguh hari yang sempurna bagi kami. Rasanya ingin berhari-hari b e r a d a d i s i n i , walaupun hal itu tidak mungkin juga kami lakukan karena jumlah logistik kami sudah sangat menipis. Namun sebenarnya tidak perlu k h a w a t i r a k a n kelaparan di Segara Anakan, jumlah ikan di sini cukup melimpah. Untuk memancing ikannya pun c u k u p m u d a h . Alhasil kami makan malam berlaukan ikan mujair dan ikan carper hasil pancingan sendiri. Setelah seharian penuh di Segara Anakan, esok harinya ucapan pisah harus terjadi antara kami, si danau indah ini, dan Gunung Rinjani. Total 5 hari kami berada di Rinjani, lebih lama dibanding pendaki kebanyakan yang hanya menghabiskan waktu 3 hari. Kami turun gunung melalui jalur Senaru. Danau Segara Anakan yang bentuknya seperti cawan atau mangkok mengharuskan kita naik terlebih dahulu menuju pelawangan Senaru sebelum turun ke perkampungan Desa Senaru. Total Sembilan jam kami lalui dari Segara Anakan untuk sampai di Desa Senaru, Pintu Gerbang Gunung Rinjani. Perasaan haru, puas, dan bahagia bercampur jadi satu saat kami sampai di Desa Senaru. Tak banyak mengucap kata-kata, hanya rasa syukur yang terus muncul di dalam hati. Pintu Senaru ini menandai selesainya pendakian kami di Gunung Rinjani. Sungguh sebuah pengalaman dan petualangan yang tidak akan mudah kami lupakan begitu saja. Sampai jumpa lagi Rinjani, semoga di lain kesempatan aku bisa kembali menyambangimu keindahanmu lagi. DIANNS 53 - 79 Jalan-jalan foto: Candra


DIANNS 53 - 80 Senandung Langit Jingga (Mencari Damai Bersama Bayangmu) But it' s not so bad…. You're only the best I ever had You don't need me back…. You're just the best I ever had (Best I Ever Had – Vertical Horizon) Oleh: Ria Fitriani Sastra


DIANNS 53 - 81 Tak nyaman dengan pertanyaannya, dahiku mengerut lalu akhirnya ku putuskan untuk memberinya sebuah hadiah. “Aww . . . Apaan sih, sakit tau!!” Seringai bocah ganteng itu setelah sebuah jitakan tanganku mendarat di dahinya. Aku hanya tertawa geli melihatnya, merasa kegirangan. “Makanya jangan sok ganteng deh!! Hahaha . . .” Kataku dengan mimik wajah penuh kemenangan. Keheningan yang tercipta kemdian menyadarkan kami atas tujuan awal pertemuan itu. Kami membuat janji untuk merayakan wisuda dengan makan malam di sebuah restoran terkenal di kota kami. Restoran tempat para orang kaya mengeluarkan uang untuk bisa menikmati hidangan mewah yang disajikan oleh para koki profesional. Restoran yang selalu membuat kami hanya bisa ngiler ketika menatap setiap hidangan yang tengah dinikmati para pengunjung. Kami hanya mampu menatapnya dari luar jendela sepulang kuliah. Restoran yang akhirnya membuat kami membuat janji konyol untuk merayakan kelulusan dengan memesan hidangan termahal yang disediakan di restoran tersebut. Di sinilah kami sekarang, berjalan bergandengan tangan dengan wajah yang ceria menuju tempat yang kami idamidamkan sejak 4 tahun yang lalu. Namun apa yang terjadi nyatanya tak seindah yang ku bayangkan, duduk berhadapan di sebuah meja makan dengan seseorang yang istimewa di tempat yang sangat spesial sambil bersenda gurau mengiringi malam berlalu. Semua impian itu tergilas hancur manakala ponsel Arya berdering, sebuah panggilan masuk. “Halo, iya Put ada apa?” Sapa Arya kepada sang pemilik suara di seberang sana. “Put, kamu kenapa? Kok seperti nangis gitu sih suaranya?” Arya mulai tampak khawatir, tingkahnya seperti orang gelisah. Kemudian ia terdiam, mendengarkan suara dari ponselnya. “Ya ampun Put! Kok bisa sih? Yaudah, kamu jangan nangis ya, aku kesana sekarang. Kamu diam di situ aja ya.” “Ada apa Ar?” Tanyaku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. ahabatku, meski aku tak Spernah memilikimu, ketahuilah bahwa kau adalah yang terbaik dalam hidupku. Jika suatu hari nanti kita bertemu kembali, berjanjilah jangan pernah tanyakan mengapa dan kemana aku pergi. Kelak kau akan tahu alasan apa yang membuatku memilih kembali. Awal tahun 2015 . . . D u d u k d i b a n g k u t ama n , menunggunya dengan setia. Kulirik arloji yang menempel di pergelangan tangan kiriku. Sedikit kesal, angkanya menunjukkan pukul 20.35. Sial. Itu artinya aku telah duduk di bangku tua ini setidaknya selama satu jam. Jaket katun yang kupakai ternyata tak mampu melindungi tubuhku dari dinginnya terpaan angin malam, hingga sesekali aku mendengar suara gemertak gigiku sendiri akibat kedinginan. Aku terus menggosok kedua telapak tanganku untuk mendapatkan kehangatan yang dihasilkan dari gesekan antar keduanya. “Jingga, maaf ya. Lama,” kata seseorang dengan nafas terengahengah sambil merangkul bahuku dari belakang. “Astaga! Arya, aku kaget nih. Iya gapapa kok,” jawabku dengan ekspresi kaget lalu memberikan sebuah senyuman hangat untuk pria yang sudah kukenal hampir separuh umurku itu. Arya melepaskan rangkulannya, melangkah memutari bangku lalu duduk di sebelahku. Aku merasa ada yang aneh saat memperhatikannya. Bukan aneh sebenarnya, hanya saja ia membuatku merasa lain malam itu. Percayalah, ia sama sekali berbeda dari biasanya. Lebih rapi, dengan kemeja dan celana jeans yang terlihat bersih dan tatanan rambutnya yang menurutku cukup keren dan kekinian. Bukan hanya itu, aroma parfumnya membuatku seperti entahlah! Aromanya sangat menenangkan. Seolah terbius aroma parfumnya itu, aku tak sadar telah menatap wajahnya begitu lama hingga angin pun berhembus dan berhasil membuat mata ku berkedip. “Kenapa? Ganteng ya?” Tanyanya sambil menampakan wajah yang genit. “Si Putri, dia di jambret di jalan pas pulang dari latihan nari.” Aku bisa melihat ekspresi wajah Arya yang penuh kekhawatiran ketika mengatakan kabar yang baru saja diterimanya kepadaku. “Lah terus gimana? Kok dia malah ngehubungin kamu, bukan keluarganya?” Aku bertanya seolah tak ingin Arya terlibat dalam musibah yang dihadapi Putri. “Masalahnya, keluarganya lagi di luar kota semua. Aku harus nolongin dia sekarang, Jingga. Aku nggak mau dia kenapa-kenapa ntar di jalan sendirian. Kamu tahu kan gimana perasaanku sama dia selama ini. Sekarang bisa jadi kesempatanku buat nunjukin rasa sayangku sama dia,” Arya, dia berbicara seakan tanpa henti ketika membahas tentang Putri. Apalagi sekarang gadis pujaannya itu sedang membutuhkannya. Arya seperti terbakar. Aku hanya menatapnya tanpa mampu meng-ucapkan sepatah kata pun. “Jingga, aku harus pergi sekarang juga. Kamu gak apa-apa kan makan sendiri? Atau kita bisa makan lain kali aja biar kamu ada temennya,” kata Arya sambil mengguncang-guncang bahuku. Seakan dia tahu betapa lemahnya aku saat itu. Lalu ia pun beranjak meninggalkanku tanpa sempat mendengar komentarku tentang pernyataannya barusan. Arya, ia terus berlari, menjemput bidadari impiannya. Sedangkan aku, tak ubahnya seonggok batu yang tak bernyawa. Berjalan terhuyung-huyung mencoba menjernihkan pikiran untuk sekedar mengingat arah jalan pulang. Tak ku sadari pipiku sudah basah berlinang air mata. Nafasku sesak, seperti ada sesuatu yang menyumbat tenggorok-anku. Kurasa jiwaku hilang, terbang pergi bersama laki-laki pujaanku yang berusaha melindungi perempuan lain. Iya, memang benar. Kami, memang bukan sepasang kekasih seperti yang orang-orang kira selama ini. Aku dan Arya, kami sudah ber-teman sejak SMP dan ketika kami masuk SMA, Arya memintaku untuk menjadi sahabatnya. Dia adalah sosok yang periang, jail, dan mengesalkan. Namun entah mengapa ia selalu mampu membuatku merindukan Sastra


DIANNS 53 - 82 berpura-pura menanggapi curahan hatinya, meski aku tahu ada sesuatu yang hancur di dalam diriku setiap kali ia memuja gadis impiannya itu. Sampai akhirnya hal yang aku takutkan terjadi. Putri mulai merespon sikap Arya terhadapnya. Aku masih ingat betapa bahagia Arya ketika di suatu pagi ia mendatangiku dengan begitu bersemangat hanya untuk menceritakan betapa senangnya ia telah menelepon Putri semalam. Namun aku tak pernah menampakkan rasa sedih ku itu di depan Arya. Yang dia tau, Jingga akan selalu ada untuk mendengarnya berkisah tentang Putri, pujaan hatinya. Malam itu, bukan yang pertama Arya mengorbankan waktunya demi Putri. Bahkan ketika ia sedang bersamaku, ia tak akan ragu untuk meninggalkanku jika itu untuk Putri. Tak jarang Arya membatalkan janjinya denganku karena Putri. Lama-kelamaan aku terbiasa dengan sikap tak menyenangkannya itu, kembali harus ku sembunyikan rasa kecewaku terhadapnya. Namun malam itu angin yang berhembus pun tahu betapa Arya telah mengecewakanku. “Putri, kenapa kamu harus muncul di hari bahagia yang sudah kutunggu sejak 3 tahun yang lalu? Kenapa harus sekarang? Tak bisakah kau membiarkanku bersama Arya hanya untuk semalam saja, ha?” Tangisku pada diri setiap tingkah konyolnya ketika ia sedang tak di sampingku. Aku tak tahu kapan tepatnya perasaan ini muncul. Bahkan aku baru sadar, Arya Panca Prasetya, nama itu tak pernah absen dari setiap halaman tumpukan diary ku sejak 3 tahun terakhir. Aku tak tahu apa yang se-benarnya ku rasakan, aku bahkan tak yakin. Aku tak pernah mendapatkan kenyamanan dari orang lain melebihi saat aku sedang berada di dekat Arya. Tiba-tiba ia menjadi pemeran utama dalam setiap cerita yang ku ciptakan dalam khayalanku. Arya Panca Prasetya, laki-laki itu telah mengambil duniaku. Senandung langit jingga, rupanya aku harus patah hati kepada sahabatku sendiri. Sang Putri tiba-tiba saja muncul dan membuat pangeranku jatuh cinta. Arya memang tak tahu aku menyimpan perasaan yang lebih kepadanya sejak sekian lama. Lalu kami pun dipertemukan dengan Putri Meida Larasati dalam sebuah seminar. Aku masih ingat saat itu kami masih di semester 4. Ku akui Putri memang gadis yang cantik. Tak heran ia telah mampu membius Arya dengan pesonanya yang indah. Dia memang seorang Putri di kampus kami. Sejak saat itu, aku adalah tempat di mana Arya mencurahkan segala isi hatinya tentang Putri. Aku selalu tersenyum, bahkan tertawa dan sendiri. Rasanya sendi-sendi tubuhku seketika menjadi lemas ketika Arya melangkah pergi meninggalkanku. Bahkan untuk sekedar berdiri pun aku hampir tak sanggup. Untungnya nalarku masih waras untuk tidak meneriaki si bodoh itu. Aku benar-benar ingin menimpuknya dengan sebongkah batu. Arya, kali ini kau berhasil membuatku menyerah. Bukan salahmu jika mencintainya. Tapi akulah yang salah karena mencintaimu, sahabatku sendiri. Namun apa yang terjadi padaku sungguh di luar kehendakku. Jika saja aku bisa memilih, aku akan memilih untuk tidak pernah memilki rasa ini kepada-mu. Pada akhirnya akulah yang kalah di medan pertempuran, berperang melawan kuatnya perasaanku sendiri. Jadi biarkanlah aku pergi. Biarkan aku mencari damai bersama bayangmu di negeri nan jauh. Kejarlah cita-citamu, hidupmu ada di sini. Tak usah kau mencariku karena jika saatnya telah tiba maka aku akan kembali. Meski demikian Jingga masih tetaplah sama, si bodoh yang mencintai sahabatnya sendiri. Hanya jika kau merindukanku, Arya sahabatku, temukan bayangku dalam senandung langit jingga yang anggun di ufuk barat untuk mengobati kepedihan hatimu. “ J i k a i a m a s ih m enc a ri J in g g a , bi a rk a n s enj a y a n g m e m beri t a huny a . J i k a i a m en a n g i s i k e p er g i a n J in g g a , bi a rk a n a ir huj a n y a n g m en g h a p us a ir m a t a ny a . “ Sastra


DIANNS 53 - 83 Masihkah? oleh: Athiyyah Rahma Hai kawan coba perhatikan Di zaman yang katanya globalisasi Masih adakah muda-mudi? Yang dulu gagah bernyanyi dan bersaksi sekarang tak berbunyi Masih adakah muda-mudi? Sang anak Ibu pertiwi? Yang dulu mencari ilmu kesana kemari Sekarang tak peduli Jalan terang itu kini telah sepi Menara pemuas hati telah sesak terpenuhi Katakan! Katakan! Sekali lagi, katakan! Muda-mudi tak lagi peduli! Anak pertiwi sudah mati! Mereka sibuk mencari kopi di malam hari Tak peduli dengan berjuta orang yang ingin berganti posisi Ibu pertiwi menangis tak henti Di satu per tiga malam ia merapal doa nan suci "Semoga anakku kembali, Menyapa kelas-kelas pagi, Tiap Tuhan memanggil surau terpenuhi, Semoga Tuhan mendengar ini." Semoga. Sastra


DIANNS 53 - 84 “Ayah”, Kerinduan Pembaca Sastra Indonesia Kepada Andrea Hirata etelah empat tahun berkontemplasi, kini Sang Maestro asal Skelahiran, Belitung, Andrea Hirata, kembali dengan karya novel teranyar yang berjudul “Ayah”. Novel dengan ketebalan sebanyak 412 halaman ini, merupakan karya Hirata yang kesembilan. Sebelumnya, beberapa karya monumental telah diterbitkan, seperti; Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpin (2006), Edensor (2007), Maryamah Karpov (2008), Padang Bulan (2010), Cinta di dalam Gelas (2010), dan Sebelas Patriot (2011), serta Laskar Pelangi Song Book (2012). Terbitnya novel Ayah tentu bak obat rindu bagi para penggemar karya novelis Andrea Hirata. Bagaimana tidak, sepanjang periode 2005 hingga 2012 karya pria kelahiran 24 Oktober 1967 ini selalu eksis menemani pembaca. Maka tak heran, jika kehadiran novel Ayah kini disambut meriah oleh berbagai kalangan. Terutama, bagi mereka pembaca setia yang menanti karya-karya novelis pria yang terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman ini. Melihat buku Ayah yang terpampang di rak-rak toko buku, dalam benak saya muncul banyak pertanyaan. Terutama mengenai Apakah kisah kali ini mempunyai kaitan peristiwa dengan kisah dalam novel sebelumnya? Apakah akan muncul tokoh yang sama dengan novel sebelumnya? Saya yakin pertanyaan semacam ini tidak hanya berputar-putar di benak saya, melainkan menjadi pertanyaan banyak orang lainnya. Sebab, dalam novel-novel Andrea Hirata selama ini selalu ada kesinambungan dalam alur cerita. Kisah yang muncul biasanya berhubungan langsung dengan Ikal, si tokoh utama dalam Laskar Pelangi. Karya Andrea Hirata selalu mempunyai karakteristik di benak pembaca. Salah satunya, terlihat dari pemilihan latar kampung Belitung dalam setiap karya penulisan novel yang diterbitkan. Judul : Ayah Penulis : Andrea Hirata Tebal : xx + 412 halaman Panjang : 20,5 cm Penerbit : Penerbit Bentang Tahun terbit : Cetakan pertama, Resensi Hal itu adalah keniscayaan Sang Penulis untuk membangun impresi bangga sebagai anak kelahiran kampung Belitung kepada masyarakat luas. Hingga pada akhirnya usaha itu ber-buah hasil, pasca karya tetralogi berjudul Laskar Pelangi diangkat dalam layar lebar oleh sutradara Mira Lesmana, semakin membuat nama Andrea Hirata tersohor dalam jagat Sastra Indonesia, baik skala nasional maupun Internasional. Kembali pada novel Ayah, muncul dengan tokoh utama anyar, yakni Sabari, seorang lelaki Belantik, kampung paling ujung, di pinggir laut Belitung sebelah timur. Mulanya Sabari hanyalah seorang anak lelaki biasa yang lahir dari lingkungan keluarga sederhana. Ayahnya bernama Insyafi yang merupakan seorang pensiunan guru Bahasa Indonesia. Maka tak heran jika Sabari mencintai mata pelajaran itu. Biarkan yang lain bicara masalah matematika, Bahasa Inggris, ataupun geografi. Bagi Sabari, ia sudah cukup bangga menjadi Isaac Newton-nya Bahasa Indonesia. Alkisah, Sabari dan ketiga temannya, Ukun, Tamat, dan Toharun baru saja lulus SMP. Impian mereka adalah meneruskan pendidikan ke SMA. Ada banyak lulusan SMP dari puluhan kecamatan dengan jumlah bangku SMA yang terbatas. Maka diadakanlah seleksi masuk SMA selama tiga hari. Pada hari terakhir, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia. Dalam waktu singkat Sabari telah menjawab semua soal yang diberikan. Saat waktu ujian hampir habis, Sabari berdiri untuk mengumpulkan lembar jawabannya. Sontak seorang gadis merampas lembar jawabannya dan tanpa rasa sungkan menyalin isi jawaban miliknya. Setelah pengawas ujian pergi, gadis itu tersenyum seraya menyerahkan sebuah pensil. Mungkin isyarat itu bermaksud untuk memberikan ucapan terimakasih kepada Sabari. Pensil tergenggam, Sabari hanya tertegun melihat betapa indahnya mata anak gadis itu. Bagi Sabari, sorot mata itu berkilau bak purnama kedua belas. Mei 2015


DIANNS 53 - 85 Malam harinya Sabari tak bisa tidur, Ia terus terbayang rona mata gadis itu. Sembari, tangannya terus menggenggam pensil pemberian si gadis hingga malam menjaga lelap. Sabari jatuh cinta. Ia terjerat cinta seorang gadis yang namanya saja tak Ia ketahui. Tidak sampai pengumuman ujian terpampang. Hari itu, tahulah Sabari bahwa si purnama kedua belas bernama Marlena. Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu, sampai Senin lagi. Full time, pagi, siang, dan malam. Apakah Sabari D u n i a S a b a r i jungkir balik gara-gara Marlena. Ia yang awalnya ‘primitif’ soal cinta, lambat laun jadi mahir merangkai puisi-puisi cinta untuk Lena. Ia yang mul anya t ak seberapa pandai, menjadi makin bodoh jika sudah bicara soal Lena. Sabari rela melakukan apa saja, ketika Ia dengar Lena suka main kasti, dalam sekejap Sabari masuk dalam tim inti kasti di SMAnya. Ketika Ia dengar Lena suka lompat jauh, entah bagaimana caranya, Sabari lantas menggondol gelar juara dalam lomba lompat jauh tingkat SMA. Ketika Ia dengar Lena suka menggambar, m i n g g u d e p a n n ya Sabari menjadi ahli kaligrafi. Ketika ada kabar bahwa Lena menyukai gitaris band di SMA mereka, tanpa dikomando, Sabari langsung bergabung dengan band SMA. Berhubung Ia tak bisa bermain gitar, jadilah Sabari tukang gulung kabel yang beretos kerja tinggi. Lena adalah purnama, Lena adalah Sang Rembulan. Sabari, pada sisi lain adalah Si Punguk. Kepopuleran kisah cinta bertepuk sebelah tangan Sabari sungguh bukan main. Tak terhitung berapa kali Ia ditolak oleh Lena. Senin, Si Punguk akhirnya duduk berdampingan dengan Sang Rembulan di pelaminan. Bagi sahabat-sahabat Sabari, melihat Ia dan Lena menikah, adalah pemandangan paling mustahil di dunia ini. Begitu pula bagi tamu undangan yang hadir pada waktu itu. Saking tersohornya kisah cinta sebelah tangan Sabari, banyak orang mengira bahwa undangan pernikahan yang disebar dari mulut ke mulut itu hanya lelucon. Sabari adalah lelaki Melayu lugu yang tak meminta banyak dalam hidupnya. Menikahi Lena adalah salah satu keajaiban yang pernah terjadi dalam hidup Sabari. Tetapi, rupanya keajaiban itu tak berhenti sampai disana. Berselang beberapa bulan, keajaiban lain datang kepada Sabari. Keajaiban itu berupa tangis seorang bayi lakilaki anyar yang pecah saat keluar dari rahim Lena. Keajaiban itu bernama Zorro. Orang bilang, bahwa “hari terpenting dalam hidupmu adalah hari dimana kau sadar untuk apa kau lahir ke dunia ini”. Pada saat Zorro lahir, Sabari langsung mengerti. Ia lahir untuk menjadi seorang ayah. Kebahagiaan adalah sisi lain dari hari-hari yang dilalui Sabari dan Zorro. Saban malam Sabari mendongengkan Kisah Keluarga Langit dan Nyanyi Puisi Merayu Awan sebagai pengantar tidur. Jiwa ayah dalam dirinya melonjak-lonjak, tak sabar ingin memperkenalkan dunia pada Sang Buah Hati. Jika pada malam hari Ia sulit memejamkan mata, justru pada saat itu, Sabari mulai merancang rencana yang akan Ia lakukan bersama Zorro ketika Ia dewasa nanti. Tetapi bumi tak selamanya basah oleh hujan, suatu saat kemarau akan membawa kekeringan. Hingga datangpatah hati? Ya, tapi tidak patah semangat. Baginya,mencintai seseorang adalah hal yang fantastis, biarpun orang yang dicintai muak setengah mati. Ukun, Tamat, dan Toharun bukannya tak pernah menasihati Sabari. Berulang kali mereka mengingatkan untuk melupakan Gadis Kelumbi itu dan beralih ke perempuan lain. Buat mereka, menunggu Lena untuk melirik Sabari sama halnya dengan menunggu ayam tidak berkokok. Mustahil. Namun bagi Sabari,perkataan mereka hanyalah suara gemericik di radio, tak usah dihiraukan. Ia sudah mantap dengan Lena dan tak mau pindah ke frekuensi lain. Akan tetapi, setiap kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan memiliki jalannya sendiri. Siapa sangka, setelah bertahun-tahun, nasib benar-benar mengantarkan Sabari kepada Marlena. Orang bilang, bahwa,“Hari terpenting dalam hidupmu adalah hari dimana kau sadar untuk apa kau lahir ke dunia ini.” Pada saat Zorro lahir, Sabari langsung mengerti. Ia lahir untuk menjadi seorang ayah. Resensi


DIANNS 53 - 86 lah kemarau itu bagi Sabari. Suatu hari Ia dan Zorro dipisahkan oleh takdir. Sabari yang baru saja mengantongi kebahagiaan luar biasa, kala Zorro untuk pertama kali berucap “Ayah”, kini harus menghadapi kemarau panjang dalam hidupnya. Kemarau yang dengan cepat memanggang rasa kebahagiaan Sabari. Momen perpisahan antara Sabari dan Zorro menjadi salah satu bagian yang paling menyentuh dalam novel ini. As always, Andrea Hirata piawai sekali menyihir pembacanya. Disamping momen-momen yang mengharu biru, saya begitu menikmati humor-humor khas Andrea Hirata yang banyak mewarnai karyanya kali ini. Humornya yang segar dipadu apik dengan kalimat-kalimat yang simple but touching. Mungkin karena itulah Andrea Hirata membuat 412 halaman terasa sangat tipis. Andrea Hirata juga berhasil mengenalkan kehidupan orang-orang Melayu lewat tulisannya. Mereka digambarkan sebagai masyarakat yang gemar berkumpul, terutama di warung-warung kopi. Bahkan, Andrea sampai menamai novel ke-enamnya Cinta di Dalam Gelas, yang merujuk pada gelas-gelas di warung kopi. Untuk Ayah, Andrea banyak menampilkan keluguan orang Melayu lewat tokohtokohnya. Misalnya dalam Bab Saat Langit Menjadi Biru, dimana diceritakan orang-orang Melayu percaya bahwa siapa saja yang bisa menahan napas pada momen langit yang menjadi biru itu, maka akan enteng jodohnya. Sabari, Ukun, dan Tamat adalah salah satu yang percaya akan hal tersebut. Hal lain yang menarik soal orang Melayu yang disampaikan Andrea lewat novelnya adalah bahwa mereka gemar berbicara. Itulah mengapa warung kopi menjadi tempat istimewa orang-orang untuk berkumpul. Karena disana adalah tempat bermacam informasi saling bertumpah ruah. Selain itu, seperti kebanyakan cerita yang ditulis oleh Andrea Hirata, novel Ayah menyuguhkan sisi kesetiakawanan orang Melayu. Jika di Laskar Pelangi ada kisah persahabatan Ikal dan Lintang, di Sang Pemimpi ada Ikal dan Arai, maka di Ayah ada Sabari, Ukun, Tamat, dan Toharun. Akan tetapi, sebelum membaca 412 halaman yang berisi kisah dari novel ini, jangan terkejut ketika Anda menemukan berlembar-lembar pujian yang ditampilkan pada halaman depan novel Ayah. Endorsement tersebut berasal dari berbagai negara dan ditujukan untuk novel Laskar Pelangi. Hal itu memang tidak mengganggu, malah bisa dikatakan membanggakan. Namun, kesan lain yang saya tangkap, Andrea Hirata seolah menggunakan kepopuleran Laskar Pelangi untuk mengangkat branding novel terbaru ini. Disamping itu, ada beberapa bagian dalam novel ini yang menurut saya agak tidak masuk akal. Misalnya cerita tentang seekor penyu yang membawa plat alumunium dan berenang dari laut Belitung hingga perairan di Australia. Diceritakan bahwa penyu tersebut membawa surat dari Sabari yang berharap seseorang yang berada nun jauh diseberang lautan sana dapat membantunya menemukan Zorro. Penyu tersebut akhirnya ditemukan seorang nelayan Aborigin, dan bagi saya kisah setelahnya seperti mengadaada. Meskipun berjudul “Ayah”, novel kali ini sebenarnya tidak sepenuhnya bercerita tentang kehidupan Sabari sebagai seorang ayah. Seperti saya ceritakan di atas, kisah cinta Sabari-Lena mengambil bagian yang cukup banyak dalam novel ini. Namun terlepas dari hal tersebut, novel Ayah bisa menjadi rekomendasi untuk daftar bacaan Anda. Khususnya, bagi Anda yang ingin tertawa dan terharu diwaktu bersamaan. Nantinya selain kisah Sabari, akan ada pula kisah tentang Amiru. Seorang bocah kelas lima SD yang rela bekerja keras demi memperbaiki radio tua milik ayahnya. Sama halnya dengan Sabari yang begitu menyayangi Zorro, Amiru juga sangat sayang pada sang ayah, bernama Amirza. Keberadaan tokoh Amiru sendiri adalah sebuah teka-teki untuk pembaca. Tak sampai disitu, mengapa pula Ia bisa tinggal di kampung yang seluruh warganya mengidolakan Lady Diana? Nah, penasaran? Cari tahu jawabannya di novel Ayah. Selamat membaca! Oleh : Aliefiana Fernanda Veronica Resensi


eperti kita ketahui, kereta api adalah alat transportasi da- Srat. Namun pernahkah kalian bayangkan kereta api ala sekolah apung yang ditarik menggunakan perahu? Nah, saya yakin banyak di antara kalian tidak dapat membayangkan hal semacam itu. Aneh memang, tapi memang begitulah cuplikan film Teacher's Diary yang diperankan oleh Sukrit Wisetkaew. Sukrit Wisetkaew berperan sebagai Song, seorang guru honorer yang dipindah tugaskan dari Sekolah Baan Gaeng Wittayake ke Sekolah Rumah Kapal. Song awalnya adalah seorang guru olah raga, namun karena posisi guru olahraga di Baan Gaeng Wittaya sudah terisi, maka ia diberi pilihan untuk pindah kesekolah apung atau berhenti bekerja. Song akhirnya memilih untuk pindah ke Sekolah Rumah Kapal. Sekolah yang berada di sungai daerah bendungan ini hanya memiliki satu kelas yang terdiri dari lima siswa Oleh Nurbaiti Permatasari dengan jenjang kelas berbeda. Pada awalnya sulit bagi Song untuk menyesuaikan diri dengan sekolah ini. Tempat yang terpencil, tidak ada listrik ataupun sinyal handphone, hingga sulitnya mendapat air bersih untuk sikat gigi. Alat transportasi yang dapat digunakan untuk berpindah dari tempat satu ketempat lainnya hanyalah perahu. Bahkan murid-murid Sekolah Rumah Kapal pun awalnya enggan untuk bersekolah, meskipun pada akhirnya Song berhasil membujuk mereka untuk kembali belajar. Segala keterbatasan itu pada akhirnya tidak menjadi penghalang bagi Song untuk mengajar di sana. Perlahan ia mulai menemukan ritme mengajar yang pas untuk anak-anak nelayan ini. Lambat laun terbentuklah kedekatan antara Song dan murid-muridnya. Selain karena mereka hampir setiap hari belajar bersama di kelas, juga karena anak-anak ini selalu berada di dekat Song bahkan ketika kelas sudah usai. Bagaimana tidak? Selama 5 hari anakanak ini belajar di sekolah, barulah pada akhir pekan mereka kembali kerumah masing-masing. Sebenarnya Song tidak dapat dikatakan sebagai guru yang pandai. Ia adalah mantan pegulat yang akhirnya 'banting setir' menjadi guru olah raga. Saat mengajar di Sekolah Rumah Kapal, ia bahkan bingung saat harus menyelesaikan soal aljabar. Padahal ia harus menjelaskan materi itu kepada muridnya. Alhasil, sebelum berhadapan dengan murid di dalam kelas, Song berlatih menyelesaikan soal aljabar di dalam WC. Song memang bukan guru yang pandai menjelaskan materi dengan kata-kata sebagaimana guru pada Produser : - Jira Maligool Chenchonnanee Soonthonsaratul Suwimol Techasupinan Wanruedee Pongsittisak Sutradara : Nithiwat Tharathorn Tanggal rilis : 20 Maret 2014 Distributor : GTH Durasi : 110 menit Aktor : Sukrit Wisetkaew (Song) Chermarn Boonyasak ( Ann ) Resensi Intip Kisah Guru Sekolah Apung Lewat The Teacher's Diary DIANNS 53 - 87 Sumber:imdb.com


DIANNS 53 - 88 Rumah Kapal, Song secara tak sengaja menemukan diary milik Ann yang tertinggal di atas papan tulis. Diary tersebut berisi curahan hati Ann tentang hari-harinya sebagai guru dan beberapa kisah percintaannya. Diary inilah yang selama ini dijadikan panduan mengajar selama di dalam kelas oleh Song. Semakin banyak Song membuka lembar demi lembar diary itu, ia merasakan perasaan senasib dengan Ann. Bagaimana awalnya ketika ia pindah kesekolah apung ini, bagaimana menghadapi murid-murid dari keluarga nelayan, sampai bagaimana sulitnya menjadi guru di sekolah yang penuh keterbatasan. Perasaan senasib itu lama-kelamaan menjadi rasa penasaran. Song penasaran dengan sosok Ann yang sesungguhnya. Ia bahkan sempat bertanya kepada muridmuridnya yang dulu diajar oleh Ann. Rasa penasaran tersebut lantas berubah menjadi benih-benih cinta. Aneh memang, mengingat Song tak pernah bertemu dengan Ann sebelumnya. Sosok Ann yang ia tahu hanya sebatas lewat diary. Mungkinkah dua orang yang tidak pernah bertemu sebelumnya bisa saling jatuh cinta? Penasaran? Cari tahu jawabannya dengan menonton film ini. Teacher's Diary, seperti namanya, kisah film ini memang berpusat pada diary yang menjadi penghubung dua umumnya. Namun, di Sekolah Rumah Kapal itu ia belajar untuk menjadi seorang pendidik yang lebih baik. Mendidik bukanlah sekedar mencekoki murid dengan teori. Mendidik adalah memberi ilmu, memberi pengetahuan, memberi pengalaman. Contohnya, ketika Chon –salah satu murid Song– tidak dapat mengerjakan soal untuk menghitung kecepatan kereta api karena ia sendiri tak pernah naik kereta. Ia mengatakan bahwa ia tahu kereta api, namun ia tidak pernah menaikinya. Song akhirnya punya ide untuk membuat Chon merasakan pengalaman naik kereta api. Guru Song berperan sebagai pengendali mesin dan Chon sebagai penumpangnya. Ia mengikatkan sekolah apung pada perahu mesin kemudian menjalankanya. Untuk memperjelas bahwa mereka naik kereta api, Guru Song meminta siswanya untuk berteriak “Choo Choo Chugga Chugga.” Berkat ide ini, selain dapat memahami maksud soal matematika tadi, Chon juga akhirnya mampu merasakan sensasi naik kereta. Selain Song, akan ada pula tokoh bernama Ann. Ann adalah salah satu guru yang mengajar di sekolah apung tersebut, sebelum Song mengajar di sana. Karakter Ann diperankan oleh Chermarn Boonyasak. Dikisahkan, pada hari pertamanya pindah ke Sekolah orang guru sekolah apung dari waktu yang berbeda. Film garapan Nithiwat Tharathorn ini memang bergenre komedi romantis, namun kisah perjuangan Song menjadi guru di Sekolah Rumah Kapal justru menjadi daya tarik terbesar untuk menyaksikan film ini. Film Teacher's Diary memaparkan sosok guru di luar sebagaimana yang kita ketahui sehari-hari. Bisa saya jamin, Anda pasti terenyuh melihat besarnya dedikasi seorang guru yang ditampilkan di sini. Film ini bisa dijadikan contoh bagi pengajar atau pendidik bagaimana seharusnya sosok guru ketika berada di dalam kelas, bagaimana seharusnya guru mengenal muridnya dengan baik, bagaimana sosok guru yang dapat dijadikan panutan, dan bagaimana seharusnya membuat murid bisa dengan mudah memahami pelajaran. Guru tidak hanya sebagai pengajar, melainkan sebagai pendidik. Guru bukan seorang yang hanya berdiri di depan kelas dan mentransfer ilmunya kepada siswa, namun guru adalah teman, guru adalah seseorang yang belajar bersama dengan muridnya. Teacher's Diary mengajak kita untuk membuka mata akan keadaan sekitar, bahwa masih ada orang-orang yang ingin merasakan bangku sekolah namun terkendala beragam faktor, seperti kondisi ekonomi atau lingkungan. Film ini recommended untuk masuk dalam daftar tontonan Anda, terutama untuk para pengajar, para pelajar, akademisi, dan orang yang tertarik di bidang pendidikan. Semoga film ini mampu membuat para penontonnya lebih peka terhadap kondisi pendidikan yang ada. Selamat menonton! Resensi Sumber: artebia.com Sumber: allfilmmagz.com


Click to View FlipBook Version