Keping 40
cepat dilengserkan malam. Aku semakin resah. Pukul tujuh
malam dan Ayah belum kelihatan.
Di dekat meja makan, sayup kudengar Abah berbicara
dengan Bidan Ida dengan nada rendah.
“Apa pun yang terjadi, besok kita kuburkan saja.”
“Dia masih bernapas, Bah. Walaupun sudah makin susah.
Susunya juga nggak bisa masuk lagi.”
Abah geleng-geleng kepala. “Kasihan Aisyah. Lebih cepat
bayi itu mati, lebih baik.”
Hatiku mengkeret seketika. Mereka menginginkan Adek
mati. Apa yang bisa kulakukan? Sambil memeluk Hara yang
tengah bermain boneka di pangkuanku, aku berpikir keras
sampai seluruh badanku kencang dan rasanya linu-linu.
Mataku basah lagi.
Pukul sembilan malam, pintu depan terbuka. Ayah pu-
lang. Tanpa bisa menahan diri, aku berlari memeluknya.
Dengan cepat, Ayah melepaskan tanganku. Barulah aku
tersadar betapa kotornya Ayah. Pipinya kusam oleh jejak ta-
nah, bajunya lusuh dan kusut, di tangannya terdapat baret-
baret luka. Wajahnya yang panik bersimbah peluh.
Ayah segera menghambur masuk ke kamar.
Aku menempelkan kupingku di pintu. Kudengar Ibu me-
nangis lagi. Bu Yati dan Bidan Ida berdoa lagi. Tak kude-
ngar suara Ayah. Sedikit pun.
Hampir setengah jam Ayah di dalam sana sampai akhir-
nya ia keluar, disusul Bidan Ida.
44
partiKel
Kulihat Bidan Ida menatap Abah, lalu perlahan mengge-
lengkan kepala.
Abah pun berucap, “Innalillahi wainnailaihi rajiun.”
Satu ruangan seketika berucap sama. Ibu-ibu menangis.
Termasuk Umi. Namun jelas kutangkap, Umi dan Abah
tampak lega meski wajah mereka berhiaskan air mata. Hanya
ekspresi Ayah yang tak bisa kubaca.
Atas instruksi Abah, Adek dimakamkan malam itu juga.
Orang-orang kampung tambah kasak-kusuk. Pemakaman
malam hari itu makruh hukumnya. Kenapa Abah Hamid ber-
sikeras? Ada apa sebenarnya? Tapi keseganan mereka kepada
Abah membungkam semua tanya.
Itulah kali terakhir aku melihat Adek, saat jenazahnya
digotong keluar seperti guling putih kecil. Tak ada celah
yang menunjukkan wajahnya.
Di belakang rumah Abah di Batu Luhur, sebuah lubang
kecil digali. Kuburan yang digali malam-malam seperti kor-
ban pembunuhan. Di sana adikku ditutup hamparan tanah
tanpa nisan.
Abah tak pernah mengantisipasi, seberapa dalam pun ia
berusaha menguburnya, bayangan Adek tetap menghantui
kami semua. Mengubah hidup kami dan kampung Batu Lu-
hur dengan dua puluh empat jam kehadirannya.
45
Keping 40
6.
Bagai fungi yang mengunyah pelan-pelan bebatuan menjadi
tanah, peristiwa lahirnya Adek pelan-pelan mencerna ke-
luarga kami. Menyulap semua yang tadinya solid menjadi
rapuh dan remah.
Dari liang kuburnya, Adek tak tinggal diam. Kendati ia
mati terbungkus kain yang dibebat rapat, isu tentang dirinya,
bentuknya, dan penyebab di baliknya telah berkembang dan
membesar di luar kendali kami.
Aisyah melahirkan anak setengah ular. Anak itulah tumbal
Bukit Jambul yang tertunda. Seharusnya tumbal itu Firas, tapi
akhirnya berpindah ke generasi berikutnya. Abah Hamid dikutuk
tidak bisa lagi punya garis keturunan laki-laki. Versi lain me-
ngatakan, Firas sudah punya istri jin di Bukit Jambul. Maka-
nya ia jadi jarang pulang. Kandungan Aisyah “dikerjai” oleh istri
jin-nya Firas yang cemburu.
Itu hanya sebagian yang sampai ke kuping kami, yang
kemungkinan besar hanya puncak dari gunung es yang se-
sungguhnya.
Meski orang Batu Luhur masih menaruh segan kepada
Ayah dan tetap menyambut kehadirannya dengan sopan
santun, jelas terasa hadirnya jurang pemisah yang kian me-
renggang antara mereka. Hubungan Ayah dengan para pe-
mimpin desa dan para petani berubah menjadi seperlunya.
Ayah dan Ibu makin jarang bicara. Mereka masih ber-
46
partiKel
basa-basi “selamat pagi-sore-malam” dan bertanya yang pen-
ting-penting, tapi tak pernah lagi mengobrol lama berduaan.
Ayah melarikan diri dengan sibuk di kebun fungi dan jadi
mentorku. Ibu menenggelamkan diri dalam rutinitas sosial-
nya dan mengurus satu-satunya anak yang masih bisa ia
pegang, Hara. Kami berempat terpecah menjadi dua unit
dan hidup dalam dua kutub yang berbeda.
Karier Ayah juga tidak selamat. Ibu menemukan tiga
surat peringatan yang dilayangkan ke rumah. Ternyata Ayah
sudah lama menghilang dari kegiatan belajar-mengajar di
kampus. Dari teman-temannya yang istri dosen, Ibu menge-
tahui Ayah beberapa kali bentrok dengan pihak IPB. Ber-
edar isu bahwa Ayah akan disingkirkan karena perbedaan
paham tersebut. Mereka hanya menunggu Ayah berbuat ke-
salahan. Melihat parahnya absen Ayah dari ruang kelas,
sepertinya keinginan pihak kampus akan terwujud dengan
mudah.
“Ayah sekarang cuma mau mengajar kamu saja, Zarah.
Nggak mau lagi Ayah mengajar di kampus,” jawabnya ketika
aku bertanya mengapa ia tidak pernah ke IPB lagi. “Di sana
nggak ada orang yang bisa mengerti Ayah,” sambungnya.
Dari dalam tas terpalnya yang seperti barang eks militer
dipakai gerilya bertahun-tahun, ia menunjukkan tumpukan
surat yang akan diposkannya. “Ini surat-surat untuk dikirim
ke luar negeri. Ayah mau minta dana supaya laboratorium
fungi kita bisa berdiri.” Ayah lalu meletakkan tumpukan
47
Keping 40
surat itu di pangkuanku, “Ayo, Zarah, ciumi satu-satu.
Kamu pembawa keberuntungan Ayah.”
Dengan semangat aku mengecupi semua surat itu. Tak
ada yang terlewat.
Beberapa bulan kemudian, mobil tua kami lenyap. Ayah
lantas berjanji akan mengantarkanku ke mana saja dengan
sepedanya. Setelah itu, televisi kami menyusul pergi. Ayah
bilang, itu demi kebaikan aku dan Hara. Jauh lebih baik ka-
lau kami dibacakan dongeng, atau dibawa tamasya ke Kebun
Raya. Ibu cuma diam. Rumah kecil kami semakin senyap.
Meja makan kami melengang. Tidak ada lagi paha ayam
goreng tepung kesukaanku. Lagi-lagi, hanya oseng-oseng
tempe, oseng-oseng tahu, oseng-oseng jamur. Semuanya
oseng-oseng. Aku kehilangan jatah dua gelas susuku. Hanya
Hara yang masih kebagian.
“Ayah bilang, nanti Ibu membuatkan susu dari kedelai,
ya? Spesial untukku. Lebih sehat,” kataku kepada Ibu. Mata-
ku tak berkedip menatap Hara yang menenggak susunya
dengan nikmat.
“Susu kedelai itu enak ya, Bu? Ada yang rasa stroberi?
Atau cuma putih doang?” Aku bertanya membabi-buta. Liur-
ku membubung melihat jejak susu berbentuk kumis di atas
bibir Hara.
Ibu cuma diam, mencerling ke arah Ayah dengan pan-
dangan yang membuatku tidak nyaman.
Entah berapa lama hingga aku akhirnya menyadari me-
48
partiKel
reka tidak tidur sekamar lagi. Kalau aku kebelet pipis di
tengah malam, selalu kutemukan Ayah meringkuk tidur di
sofa. Kata Ayah, Ibu sering pusing dan baru sembuh kalau
ditinggalkan sendirian. Mereka lupa, umurku sudah sebelas
tahun. Sesuatu telah terjadi, dan aku tahu itu.
Hari demi hari, segitiga eksistensi Ayah tergerogoti de-
ngan pasti. Rumah kami, kampus, Batu Luhur, meluruh
perlahan-lahan dari genggamannya.
Setahun lewat. Surat-surat Ayah masih belum dapat ba-
lasan. Setiap malam sepanjang tahun, aku berdoa dengan
gelisah, kadang-kadang sampai berkeringat. Aku sangat ta-
kut aku bukan pembawa keberuntungannya. Semua surat itu
sudah kuberi kecupan. Bagaimana kalau ternyata aku ini
justru pembawa sial? Bagaimana kalau ternyata akulah titik
lemah dari kedewaannya? Seorang dewa tidak seharusnya
menikahi manusia biasa karena akan menghasilkan anak-
anak seperti aku. Doa anak blasteran pasti susah menembus
Kerajaan Dewa.
Sebagai satu-satunya pemuja yang tersisa, yang masih meng-
anggap segala titahnya adalah titah dewa, Ayah memper-
lakukanku dengan istimewa. Habis-habisan ia menghiburku
seharian penuh. Kebun pribadinya di Batu Luhur, Kebun
Raya Bogor, tepi Sungai Ciliwung, adalah ruang-ruang kelas
49
Keping 40
tempat kami belajar, menggambar, membaca, dan berhitung.
Sampai aku lupa bahwa aku berbeda dengan anak lain yang
punya televisi, punya mainan, dan bersekolah.
Gesekan kutub antara Ayah dan Ibu menjadi makanan
kami sehari-hari. Sering kudengar Ayah beradu argumen
dengan Ibu, terutama tentang sekolah. Ayah berusaha me-
yakinkan Ibu kalau sistem pendidikan swalayan dari rumah
yang ia lakukan kepadaku sudah berkecukupan, bahkan jauh
lebih baik ketimbang sistem sekolah biasa. Ibu menudingnya
gila karena menjadikan anak sendiri sebagai kelinci per-
cobaan. Ayah membalas, lebih gila lagi orang yang menjadi-
kan anak orang sebagai kelinci percobaan dari sistem yang
sudah ketahuan tidak menghasilkan apa-apa selain robot
penghafal. Mereka bisa bertengkar tentang itu hampir setiap
hari.
Saat kami berdua, Ayah berkata setengah berbisik, “Ibu-
mu bukan orang bodoh, Zarah. Ia hanya belum terjaga.”
Tidak kupahami benar apa maksudnya.
Dengan uangnya yang terbatas, Ayah membeli Polaroid
bekas supaya aku punya kerjaan, menginstruksikan untukku
apa saja yang harus difoto, dan memanggilku si Mata Ketiga.
Kupikir, sepasang mata Ayah adalah mata yang pertama dan
kedua, dan karena aku masih anak kecil, kedua mataku di-
anggap jadi satu. Kira-kira seperti tiket anak, begitu. Dan,
jadilah aku mata ketiganya.
Berbekal kantong belacu yang kukalungkan di leher, aku
50
partiKel
membuntutinya ke mana-mana seperti anak bebek, memotret
setiap pesanannya dengan sungguh-sungguh, menggosok dan
mengipas-ngipas foto sampai kering untuk kemudian ku-
kumpulkan di dalam tas.
Sesampainya di rumah, sebelum kembali sibuk dengan
urusannya, Ayah menyempatkan diri untuk mengamati se-
tiap fotoku, dan ia kerap berkata, “Kamu punya mata yang
baik, Zarah. Mata yang tidak sombong. Ayah janji, suatu
hari nanti akan membelikanmu kamera sungguhan.”
“Kapan, Yah? Kapan?” desakku semangat.
“Nanti kalau kamu sudah tujuh belas tahun,” cetusnya
enteng.
Ayah tidak banyak berjanji dalam hidupnya. Aku tahu, ia
pasti akan menepati kata-katanya.
Pertengkaran Ayah dan Ibu tentang sekolah memuncak pada
suatu malam di meja makan. Waktu itu, Ibu sepertinya be-
nar-benar marah. Ia tak lagi mampu menekan volume suara-
nya, seperti yang biasa ia lakukan jika anak-anaknya me-
nontoni mereka ribut.
“Kalau memang alasanmu adalah uang, Abah dan Umi
mau membiayai sekolah anak-anak kita. Jangan sampai gara-
gara kamu yang hancur, anak-anak kita jadi korban,” ucap
Ibu.
51
Keping 40
“Justru aku sedang berusaha menyelamatkan mereka,
Aisyah!”
“Setiap sekolah itu punya sistem. Punyamu mana?” Ibu
menyerang sambil berkacak pinggang. Suaranya yang serak
basah semakin sember jika sedang naik darah, padahal Ibu
bukan perokok. Suara serak alaminya itu terwariskan pada-
ku.
“Aku selalu menguji dan mengevaluasi Zarah. Ini ada
rapornya.” Ke atas meja makan, Ayah menghantamkan se-
buah buku tulis lecek, menunjukkan isi halaman-halaman
yang penuh tulisan tangan, diagram, tabel, dan sketsa.
Ibu melirik isi buku itu dan tentunya meragu. “Tidak ada
rapor sekolah di dunia dengan bentuk dan isi kayak gitu.
Nggak ngerti aku!” bentaknya lagi.
“Makanya, kalau nggak ngerti jangan protes,” balas Ayah
sengit. “Zarah siap diuji di sekolah mana saja dan saya yakin
dia lebih pintar daripada guru-gurunya,” tandasnya dengan
percaya diri.
Bola mataku beralih dari kiri-kanan seperti menonton
pertandingan pingpong. Sungguh aku tak mengerti kenapa
perihal sekolah dan tak sekolah ini begitu dipermasalahkan.
Aku bahkan tidak tahu Ayah menyimpan rapor, atau mung-
kin itu hanya akal-akalannya saja untuk mengelabui Ibu.
Setiap hari aku dan Ayah selalu belajar sesuatu. Sekolah
atau bukan namanya, aku tak peduli. Secara berkala Ayah
menguji atau menantangku, tapi apakah aku lebih baik atau
52
partiKel
tidak daripada anak lain, aku juga tak peduli. Duniaku ha-
nya aku dan dia.
“Zarah, kamu sudah diuji apa saja sama ayahmu?” Tiba-
tiba Ibu bertanya langsung kepadaku yang sejak tadi cuma
menonton.
Aku tak siap. Ayah tak siap.
Mulutku membuka. Tapi hanya bebunyian gagap yang
keluar.
“Ayo. Buktikan sama Ibu kalau kamu betulan lebih pintar
daripada anak-anak lain,” tantang Ibu. Ia menarik kursi, du-
duk bersandar memandangi kami berdua. Kegugupanku dan
Ayah tampak membuatnya semakin yakin bahwa ocehan
Ayah tadi hanyalah kompensasi dosen pengangguran yang
ditolak oleh satu dunia.
Masih kuingat jelas ekspresi Ibu di meja makan malam
itu, menantikan jawaban. Masih kuingat jelas raut tegang
Ayah yang menebak-nebak apa sekiranya yang bakal kukata-
kan.
Kuambil kantong belacuku. Setumpuk kertas penuh co-
retan kutebarkan di meja. “Ibu mau pilih yang mana?”
Ragu, Ibu melihat kertas-kertas lecek itu, berisi gambar-
gambar yang mungkin tidak ia kenali. Tapi akhirnya Ibu
memilih satu. Gambar anatomi otak manusia yang kete-
rangannya sudah ditiadakan oleh Ayah, hanya tinggal panah
penunjuk dan angka.
Lalu, aku mengeluarkan setumpuk kertas berikut, yang
53
Keping 40
dijepit di ujungnya. Kutunjukkan selembar halaman kepada
Ibu, “Ini kunci jawaban dari gambar yang tadi Ibu pilih.
Sekarang, Ibu bisa uji aku. Tunjuk saja angka-angka di gam-
bar itu, terserah yang mana.”
Di hadapan Ibu, kini ada dua helai kertas yang berpa-
sangan. Pertanyaan dan jawaban. Ia menarik lembar jawaban
ke pangkuannya agar tak lagi terbaca olehku. Mulailah ia
menunjuk bagian demi bagian.
“Nomor 1. Apa namanya?”
Tanpa tersendat aku menjawab, “Carpus callosum.”
“Nomor 5?”
“Substantia nigra.”
“Nomor 8?”
“Locus coeruleus.”
Tak kurang dua puluh bagian yang diuji Ibu, tapi ia
belum puas. Dicarinya lagi lembar lain. Ibu memilih anatomi
kulit.
“3a?”
“Stratum spinosum.”
“3b?”
“Stratum basale.”
“7?”
“Dermal papila.”
Ibu mengambil lagi lembar lain. Anatomi mata.
“16?”
“Reticulum trabeculare.”
54
partiKel
“5?”
“Sclera.”
Ibu menatapku dan Ayah. Meradang. “Kamu cuma bela-
jar yang beginian, apa? Mana Matematikanya? Mana Bahasa
Indonesia? PMP? Agama?”
Aku dan Ayah berpandang-pandangan.
“Bu, yang Zarah bawa ini memang cuma gambar-gambar
anatomi. Belum diagram untuk fungsi-fungsinya. Dan ini
baru yang manusia. Masih ada binatang, masih ada tum-
buhan. Nah, itu baru Biologi. Matematika, karena bukan
hafalan, Zarah nggak simpan catatan. Zarah sama Ayah
langsung latihan di kertas atau di papan. Untuk Bahasa
Indonesia, kami baca buku. Bahasa Inggris juga sama. Kalau
PMP...” aku melirik Ayah, “PMP itu apa, Yah?”
Ayah gelagapan.
“PMP saja nggak tahu, apalagi Agama,” potong Ibu se-
ngit. “Salat saja kamu nggak becus, Zarah. Ibu malu sama
Abah, sama Umi. Cucu-cucunya nggak ada yang beres,”
tukasnya lagi. “Mulai besok, Ibu panggil Bu Hasanah untuk
mengajari kamu ngaji. Kalau perlu, Ibu daftarkan kamu ke
pesantren.”
“Nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Zarah cuma mau diajar sama Ayah.”
“Tahu apa ayahmu soal agama? Dia itu musyrik! Ateis!”
Ibu membentak.
55
Keping 40
“Aisyah!” Ayah balas menyentak.
“Sejak kesurupan setahun yang lalu, kamu berubah jauh,
Firas. Aku tahu kamu dari dulu cinta sama ilmu, tapi seka-
rang kamu itu sudah syirik. Makanya kamu pengangguran,
kita jadi miskin, semua gara-gara kamu lupa sama Allah.”
“Siapa yang ngomong begitu? Abah? Umi? Tahu apa me-
reka tentang aku? Bisanya dari dulu hanya kritik saja, pada-
hal cuma lihat dari jauh, diajak ngobrol saja nggak mau.
Bagaimana aku bisa menjelaskan diriku?”
“Apa lagi yang perlu dijelaskan? Memang kamu aneh!
Aku istrimu saja nggak pernah bisa ngerti!”
Ayah terdiam. Wajahnya tampak putus asa. Aku rasa ia
hampir menangis. “Kamu belum pernah mendengarkan aku
sungguh-sungguh, Aisyah. Sekali saja. Kamu tidak pernah
mau.”
Ibu tak lagi membalas. Ia pun tiba pada titik putus asa.
Dirapikannya kertas-kertas di meja, lalu Ibu masuk ke kamar
tidur dan tak keluar lagi.
Ayah hanya menggenggam tanganku sejenak, lalu pergi.
Tak lama, sayup kudengar suaranya membacakan buku bagi
Hara.
Dalam benakku, ada satu kantong belacu. Berisi kum-
pulan pertanyaan yang belum menemukan pasangannya.
Dari hari ke hari, kantong itu semakin penuh. Terutama
malam ini. Otakku merunut: “musyrik”, “ateis”, “syirik”, “ke-
surupan setahun yang lalu”. Pertanyaan-pertanyaan baru.
56
partiKel
Di meja makan itu, aku pun tersadar. Dunia dewa dan
dunia manusia memang tak mungkin bersatu. Salah seorang
harus rela menyeberang. Dan, tak kulihat niat itu baik pada
Ayah maupun Ibu. Sementara aku dan Hara terbelah di te-
ngah perpecahan mereka.
Karena perpecahan itulah, aku tidak bisa sepenuhnya ju-
jur kepada Ibu, bahwa selama aku menjadi murid Ayah,
hanya satu kali ia sungguhan mengujiku. Semua catatan
yang tadi dipegang Ibu cuma mainan bagi kami. Materi
yang Ayah ujikan tidak tercatat di kertas.
Ujian itu terjadi semalam.
7.
Semalam, Ibu tidak di rumah. Ia pergi menginap di rumah
Abah dan Umi. Hara ikut dibawa. Hanya tinggal aku dan
Ayah.
Pukul delapan, ketika kupikir sudah waktunya untuk ber-
siap tidur, tahu-tahu Ayah mengajakku keluar. Ia bilang, ada
pelajaran penting untuk kupelajari. Dan pelajaran tersebut
hanya bisa dilakukan malam-malam.
Memboncengkanku di jok belakang sepedanya, seperti
biasa Ayah berangkat dengan tas terpal hijaunya yang di-
selempangkan di bahu. Hanya saja, tas itu tampak ekstra
57
Keping 40
padat dari biasa. Ia bersepeda keluar menjauhi kompleks.
Menuju Batu Luhur.
Sampai di mulut kampung, aku belum menaruh curiga.
Batu Luhur sudah tertidur lelap, sunyi senyap dengan pene-
rangan minim. Ini pasti pelajaran khusus tentang serangga ma-
lam, pikirku. Aku tahu aku berusaha menghibur diri.
Curigaku muncul ketika mulai menyadari ke arah mana
Ayah membawa sepedanya. Rumah Abah sudah jauh terle-
wati, dan sepeda kami masih terus menuju pinggir luar kam-
pung. Dengan cepat, curigaku berubah menjadi takut.
Bulan bersinar, memberi kami sedikit tambahan pene-
rangan selain lampu sepeda Ayah yang temaram. Ia berhenti
mengayuh. Sepedanya lalu diparkir di bawah pohon, di
pinggir terluar dari area “normal” sebelum tanah mulai
membukit dan rimba itu dimulai. Dalam kegelapan malam,
Bukit Jambul terlihat seperti lubang hitam.
“K–kita masuk ke sana, Yah?” tanyaku gemetar. Tubuhku
menggigil kedinginan padahal sudah dilapisi jaket. Pasti ka-
rena rasa takut. Sejak peristiwa lahirnya Adek, aku jadi tak
suka malam hari. Di atas segalanya, aku tak suka tempat ini.
“Tenang, Zarah. Nggak ada yang perlu kamu takutkan di
sini. Ada Ayah.” Ia berkata seolah dirinya kuncen resmi yang
ditunjuk pohon-pohon raksasa itu.
“Nggak ada lagi yang tahu jalan masuk ini selain Ayah.
Hanya lewat titik ini kamu bisa masuk ke dalam bukit. Ha-
falkan baik-baik. “
58
partiKel
Aku celingukan. Tak mengerti apa yang bisa dihafal. Se-
muanya gelap. Tapi aku berusaha keras. Demi menjaga in-
tegritasku di depannya.
“I–itu pohon salam, kan, Yah?” tanyaku sambil menunjuk
batang pohon tempat sepeda Ayah terparkir. Sempat tadi
kubaui semilir wangi daunnya yang khas.
“Betul. Apa lagi?”
Aku menaksir, kira-kira kami berdiri di arah jam dua
dari tempat sepedanya terparkir. Cuma itu. Semua yang
menghadap ke arah Bukit Jambul gelap gulita. Tak bisa lagi
kuhafal apa-apa. Atau mungkin mataku sudah tersaput ke-
takutanku sendiri.
Akhirnya Ayah yang memberi tahu, “Yang kupegang ini
namanya pohon puntodewo. Kalau siang hari, kamu bisa
lihat puntodewo punya buah keras bergelantungan, bentuk-
nya seperti kantong air. Tidak ada lagi puntodewo di seluruh
pinggiran Bukit Jambul. Hanya satu ini. Kalau kamu lihat
pohon ini, ingat, tepat arah jam dua belas di sepanjang garis
lurusan puntodewo, akan ada jalan setapak kecil. Cuma muat
satu orang. Tapi kita harus menembus semak dulu, kira-kira
lima puluh meter. Pertahankan arahmu selurus mungkin.
Karena kalau meleset sedikit saja, setapak itu nggak bakalan
ketemu.”
Dari dalam tasnya, tahu-tahu Ayah mengeluarkan dua
pasang sarung tangan berbahan kaus kaki yang panjangnya
sampai lewat siku. Sepasang diserahkan kepadaku.
59
Keping 40
“Pakai ini. Semak di sana cukup tajam. Ayah nggak bisa
tebas karena nanti orang kampung bisa curiga.”
Tak hanya sarung tangan, ternyata Ayah juga membawa
sepasang kain sarung untuk melindungi tubuh kami. Sekilas
kulihat kilau pisau belati.
“Untuk jaga-jaga,” katanya menjelaskan tanpa kuminta.
Bayangan hantu, jin, dedemit, pasukan gaib, serabutan
melewati benakku. Semua kisah dan mitos yang selama ini
kudengar menyerangku serentak. Inilah kontak terdekatku
dengan Bukit Jambul. Tak pernah kubayangkan akan me-
masuki perutnya.
Ayah berjuang keras menyibak belukar yang menghalangi
jalan kami. Lima puluh meter yang rasanya mustahil. Kami
berdua bagaikan ikan yang berusaha menembus jala nelayan.
Sulit, nyaris tak mungkin.
Akhirnya, aku lupa semua cerita horor tadi. Sibuk oleh
ranting yang tersangkut-sangkut di sekujur tubuh. Napasku
mulai memburu. Belukar sejenis rotan ini seperti menyedot
pasokan oksigen dari udara dan mencakar-cakar tubuh dari
segala penjuru. Aku tak bisa membayangkan hampir setiap
hari Ayah melewati neraka belukar itu.
Tak perlu juga mengira-ngira di titik mana lima puluh
meter itu berakhir karena tiba-tiba sekeliling kami menjadi
lengang. Masih bisa kutangkap siluet pohon yang melingkupi
kami dari segala penjuru, tapi terasa ada ruang kosong di
60
partiKel
hadapan. Tapak kakiku pun tak lagi berisik bunyinya. Inilah
ternyata setapak yang dimaksud Ayah. Kami berhasil.
Kelegaanku tak berlangsung lama. Kudengar Ayah ber-
kata, “Duluan. Ayah di belakang pakai senter, biar jalanmu
kelihatan.”
Ragu, aku melangkah. Dari nadanya, aku merasa Ayah
sedang mengujiku. Entah apa yang ia uji. Yang jelas, me-
langkah duluan ini adalah bagian dari ujiannya. Kumohon,
Ayah. Aku tak suka malam. Aku takut tempat ini. Mulutku ter-
kunci.
Terang senter tak lepas dari pijakanku, tapi bolak-balik
aku curi-curi mengerling ke belakang. Memastikan Ayah
ada.
“Lihat ke depan saja, Zarah. Kamu harus mempelajari
tempat ini.” Ayah mengingatkan.
Aku menelan ludah. Tak berani lagi melihat ke belakang
sembari bingung apa yang bisa kupelajari dari kegelapan ini.
Suara Ayah terpaksa menjadi satu-satunya barometerku. Un-
tuk itu, sengaja terus-terusan kuajak dia bicara.
“Kata orang, di sini pohon-pohonnya hidup. Betul, Yah?”
“Betul. Kalau mati, ya, mana bisa tumbuh besar begini?”
“Bukan hidup yang begitu maksudnya, Yah. Tapi hidup,
kayak kita. Bisa gerak, bisa punya kehendak....”
“Semua itu memang ciri-ciri makhluk hidup, kan?”
“Tapi, katanya pohon di sini bisa bicara, kayak kita.”
61
Keping 40
“Seluruh alam ini senantiasa bicara kepada kita, Zarah.
Masalahnya, kita mau dengar atau tidak.”
“Katanya, orang yang nebang pohon di sini langsung ke-
surupan, Yah.”
“Hutan ini memang tidak sembarangan.” Nada suaranya
berubah berat. Dan ia terdengar seperti menjauh.
“Ayah?”
“Ya?” Suara itu mendekat lagi.
“Kalau kita diserang pohon, gimana?”
“Pohon ini nggak akan menyerangmu. Kamu juga nggak
punya niat menyerangnya, kan?”
“Nggak, Yah.”
“Alam dan kita adalah satu, Zarah. Ketika kita percaya
kepada alam, maka alam akan melindungi kita. Alam akan
berbicara kepada kita dengan bahasa tertentu.”
“Bahasa apa itu, Yah?” Aku bertanya.
“Bahasa rasa dan bahasa tanda,” jawab Ayah lugas. Dari
suaranya, aku bisa menaksir jaraknya hanya tiga langkah di
belakang.
“Kalau kepingin belajar bahasa alam, caranya gimana,
Yah?”
“Kamu harus belajar kepada binatang.”
Aku tercenung. Mungkin itulah yang membuat Ayah su-
sah dimengerti orang lain. Baginya, tolok ukur kemajuan
manusia adalah makin miripnya kita dengan binatang, makin
62
partiKel
dekatnya kita dengan alam. Sementara kehidupan di luar
sana bergulir ke arah sebaliknya.
Tiba-tiba, ada suara gemeresik dari sebelah kanan kami.
Aku terlonjak kaget. Untungnya, kendali refleksku masih
cukup kuat untuk menahan mulut tak ikut memekik. Kaki-
kakiku langsung terpantek kuat di tanah, tak bergerak.
Sepertinya Ayah melakukan hal yang sama. Sejenak kami
membisu. Keheningan yang rasanya abadi.
“Bukan apa-apa, Zarah. Tenang saja.” Suara Ayah men-
cairkan persendianku.
Aku kembali berjalan. Ayah berjalan agak jauh di bela-
kangku.
“Kalau kita diserang binatang buas, gimana, Yah?”
“Di sini nggak ada binatang buas.”
“Tahu dari mana?”
“Ini rumah kedua Ayah. Ayah tahu.”
Bulu kudukku meremang. Ucapannya membuatku bergi-
dik. Bersamaan dengan itu aku tahu suaranya telah menjauh
lebih dari sepuluh langkah. Bersamaan dengan itu pula lam-
pu senter padam.
Aku tersentak oleh gulita yang hadir mendadak, oleh ke-
sendirian yang tahu-tahu menyergap. Spontan, aku berhenti.
“Ayah!”
Segera aku sadar, sungguh tak bijak berteriak di tempat
ini. Dan kesadaranku selanjutnya adalah, Ayah tak akan
menjawab. Aku cukup kenal ayahku untuk tahu bahwa dia
63
Keping 40
mampu meninggalkanku sendirian, di hutan paling angker
sekalipun.
Jantungku berdebur. Tubuhku menggeligis. Napasku
memburu. Air mataku mulai melelehi pipi. Aku teringat
Hara, teringat Ibu, teringat rumah kami yang hangat dan
aman. Ingin kuamuk dan kumaki Ayah yang tega menelan-
tarkan anak kecil, darah dagingnya sendiri. Namun, aku
tahu ia mampu melakukannya demi apa pun itu yang ingin
ia buktikan.
“Ayah, Ayah...,” aku merintih. Bagaikan mangsa dalam
rongga anakonda yang dilumat dan diremukkan inci demi
inci, begitu pulalah gulita ini menelanku pelan-pelan. Waktu
terasa berhenti. Yang bergerak hanya gelap. Membungkusku
kian erat.
Aku berjongkok dan meringkuk sambil terisak pelan.
Niatku cuma terus mematung seperti itu hingga matahari
terbit.
Tiba-tiba, terdengar suara kersik, dekat sekali dengan
kakiku yang terlipat. Sesuatu bergesekan dengan kulitku.
Aku menjerit kaget tanpa bisa ditahan. Sama kagetnya,
makhluk itu tampak bergerak kalang kabut. Dan mataku
yang mulai beradaptasi dengan gelap dapat mengenali peng-
usik tadi. Seekor musang.
Napasku mengembus lega. Kekagetan tadi seperti me-
lepaskan beban yang mengunci tubuhku. Dan entah menga-
pa, kalimat Ayah menjadi masuk akal. Seekor musang kecil
64
partiKel
mengarungi hutan ini tanpa keraguan, pikirku. Dan satu-satu-
nya cara agar selamat keluar dari sini adalah meniru keper-
cayaan sang musang kepada hutan, membuat tempat gulita
dan asing ini menjadi rumah hangat dan aman.
Perlahan, aku berdiri. Membalikkan badan. Kutatap rim-
ba bayang di sekelilingku, kutatap langit yang tak lagi hitam
membutakan melainkan abu. Bulan tak lagi ditutupi awan.
Sedikit cahaya putihnya mulai tampak menembusi rapatnya
pepohonan.
Kulepaskan tanganku yang sedari tadi menelingkung tu-
buh erat-erat. Kedua lenganku kembali menggantung santai.
Dengan langkah kecil dan pelan, kucoba untuk maju. Aku
ini musang, pikirku. Ini rumahku, pikirku lagi. Aku sedang
jalan-jalan mencari makan atau sekadar menghirup udara
segar atau janjian main dengan musang lain.
Mataku yang tadinya terpusat ke jalan mulai mampu me-
lihat ke kiri-kanan, menjalin perkawanan dengan rimba ba-
yang. Suara-suara aneh yang tadi mencekam mulai terdengar
lebih bersahabat. Aku ini musang yang tahu jalan, pikirku lagi.
Dan sekalipun kakiku kadang terseok dan tersuruk di se-
tapak kecil ini, rasa takut itu tidak kembali lagi. Sesekali ada
yang seperti mengintaiku dalam kegelapan itu, entah apa.
Meski dalam hati, aku mencoba menyapanya, kita adalah
satu.
Aku berjalan terus mendaki bukit. Langkah-langkahku
sudah berubah ringan dan gesit. Hingga di satu titik, seta-
65
Keping 40
pak menanjak itu berubah menjadi rata dan lebar. Ternyata
aku sudah sampai di puncak.
Mendadak, dadaku terasa mengerut. Keningku mengen-
cang. Lututku roboh begitu saja seperti tangkai lunglai. Apa
ini? Kenapa begini? Aku berteriak-teriak dalam hati. Pasti
karena aku kurang minum, dugaku cepat. Badanku kecapaian
karena jalanan menanjak tadi, pikirku lagi. Namun, aku ter-
sadar, kerongkonganku tidak terasa kering. Tubuhku yang
terlatih naik-turun bukit juga tidak sebegitu lelahnya. Ini
sesuatu di luar tubuhku. Entah apa.
Tak lagi terhalangi pepohonan, sinar bulan membanjur,
menerangi selapang tanah di hadapanku. Bentuknya meling-
kar, besarnya kira-kira setengah lapangan bola. Bukan hanya
tak berpohon, lapangan itu bahkan tak berumput. Dan yang
paling mengagetkanku adalah ada Ayah di sana. Berdiri di
tengah-tengah. Bagaimana ia bisa sampai di sana? Sementara
setapak tadi hanya muat untuk satu orang? Apakah ada se-
tapak lain?
Tertatih, aku mencoba berdiri. Kepalaku masih terasa ke-
semutan. Napasku masih satu-satu. Atmosfer tempat ini
begitu menyesakkan.
“Ayah....” Sempoyongan, aku berusaha menghampirinya.
Ayah sudah menghambur lebih dulu. Ia memelukku, dan
aku balas mendekapnya erat. Amarahku tak lagi bersisa, mu-
sang tadi sudah membawa rasa itu kabur dan mungkin nanti
diproses menjadi kopi luwak.
66
partiKel
“Ayo, kita pulang,” bisiknya. Nada itu gembira.
“Langsung? T–tapi, aku baru sampai di sini, bukannya
masih ada ujian lagi?”
Ayah berhenti. Ia membungkuk, menyejajarkan wajahnya
dengan wajahku. “Kamu tahu tadi kamu diuji?”
Pelan, aku mengangguk. Aku sudah tahu sedang diuji dari
waktu duduk di jok belakang sepedamu di teras rumah, Ayah.
Ayah mendekapku lagi. “Kamu memang anak luar biasa,
Zarah,” bisiknya. Tubuhku terasa membengkak karena rasa
bangga.
“Pelajaran sekaligus ujianmu hari ini sudah selesai, Nak.
Kamu berhasil sampai di puncak bukit. Itu sudah cukup.
Bukit ini sudah menerimamu,” katanya lagi sambil melihat
ke sekeliling, seakan meminta persetujuan kepada pihak lain
yang tak kelihatan.
Kami menuruni Bukit Jambul sambil berpegangan ta-
ngan. Ayah tak lagi berjalan di belakangku. Dalam kege-
lapan, wajahku berseri-seri. Aku bahagia karena lulus ujian
Ayah. Dan, tampaknya ia berbagi kebahagiaan yang sama.
Perjudiannya menang telak. Tak hanya anak kesayangannya
berhasil mendaki ke puncak bukit paling angker dengan se-
lamat, tapi ia juga dapat menantu. Pada usiaku yang genap
dua belas tahun, Ayah melepasku kawin dengan alam. De-
ngan Bukit Jambul.
67
Keping 40
Baru saat kami kembali bersepeda menuju rumah, aku berani
bertanya-tanya.
“Ayah, di puncak tadi, itu lapangan apa?”
“Semacam portal, Zarah.”
“Apa itu ‘portal’?”
“Gerbang.”
“Tapi, mana gerbangnya?”
Ayah diam. Setelah sekian kayuh, baru dia menjawab
pendek, “Belum kelihatan.”
“Gimana caranya supaya kelihatan, Yah?”
“Kita nggak bisa menentukan itu, Zarah. Mereka yang di
seberang sanalah yang menentukan karena itu portal mereka.
Bukan kita.”
“Mereka? Siapa?”
Kembali hanya suara cericit kayuhan sepeda yang ter-
dengar. Lama sekali.
“Dimensi lain.” Nada itu ketus, memberiku pertanda agar
berhenti mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaanku.
Aku tidak kapok. “Apa itu ‘dimensi lain’?”
Ayah tak langsung menjawab. Kepalanya berputar melihat
sekeliling lalu berkata, “Dunia lain. Kehidupan lain. Mirip
begini, tapi nggak sama.”
“Mirip bagaimana?”
“Mirip, artinya ada makhluk hidup, ada keluarga, ada
pekerjaan, ada kehidupan. Tapi nggak sama.”
68
partiKel
“Apanya yang nggak sama?” Tak surut kuteror Ayah de-
ngan rentetan pertanyaan.
“Sulit kuceritakan, Zarah. Kamu harus melihatnya sen-
diri.”
“Kenapa di atas sana sesak banget udaranya, Yah?”
Terdengar Ayah menghela napas. “Banyak yang belum
Ayah ceritakan kepadamu. Tapi sekarang bukan saatnya. Sa-
bar, Zarah. Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan
jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma
waktu.”
Dari semua titah dewa yang keluar dari mulut Ayah, itu-
lah satu kalimat yang paling kuingat. Sepanjang hidupnya,
Ayah meninggalkan begitu banyak pertanyaan. Kepadakulah,
ia mewariskan pencarian jawaban yang tak henti-henti. Aku
tak tahu apakah harus bersyukur atau mengutuk warisannya
itu.
Perjalanan ke puncak Bukit Jambul adalah ujian terbesar
dari Ayah di sepanjang dua belas tahun hidupku. Dan pe-
rasaanku mengatakan, itu hanyalah awal dari rangkaian ujian
yang lebih besar.
8.
Aku semakin yakin Ayah memang sengaja menungguku siap
dan teruji terlebih dulu untuk layak menerima informasi yang
69
Keping 40
akan disampaikannya. Sejak ujian di Bukit Jambul, ia mulai
tergerak membuka petualangan rahasianya kepadaku.
Pagi itu, ia mengajakku masuk ke ruang kerjanya. Satu-
satunya ruang yang tidak pernah tersentuh oleh Ibu dan
keapikannya yang super. Ruang kerja Ayah seperti tempat
sampah kertas dalam skala besar. Untuk bisa mencapai meja
kerjanya, aku harus berjingkat-jingkat melewati kertas dan
buku yang berserakan di lantai.
Di kursi kerjanya, ia mendudukkanku.
“Tidak ada setan di Bukit Jambul,” katanya tiba-tiba.
Aku tersentak. Ini kejutan besar.
“Ayah sudah masuk ke Bukit Jambul sejak Ayah masih
delapan belas tahun. Di sana Ayah menemukan harta ter-
besar yang barangkali tidak akan ditemukan di tempat lain
di negeri ini. Tidak cuma Batu Luhur yang bisa menikmati-
nya, Zarah. Tapi juga Indonesia. Bahkan dunia.”
“Harta apa, Yah?” Di otakku melintas cepat gambar peti
harta karun berisi koin emas dan tiara bertatahkan batu mu-
lia.
“Portal, Zarah.”
Gambar di kepalaku seketika pupus.
“Dan tidak cuma itu, satu pohon Bukit Jambul adalah
rumah bagi puluhan bahkan ratusan spesies, termasuk fungi-
fungi langka yang punya potensi besar menyelamatkan Bumi.
Satu saja pohon di Bukit Jambul ditebang, semua spesies tadi
70
partiKel
ikut hilang. Tugas kita, Zarah, adalah melindungi hutan di
Bukit Jambul dari manusia.”
Ayah menangkupkan tangannya di pipiku, berkata sung-
guh-sungguh, “Kita, manusia, adalah virus terjahat yang
pernah ada di muka Bumi. Suatu saat nanti, orang-orang
akan berusaha meyakinkanmu bahwa manusia adalah bukti
kesuksesan evolusi. Ingat baik-baik, Zarah. Mereka salah
besar. Kita adalah kutukan bagi Bumi ini. Bukan karena
manusia pada dasarnya jahat, melainkan karena hampir se-
mua manusia hidup dalam mimpi. Mereka pikir mereka
terjaga, padahal tidak. Manusia adalah spesies yang paling
berbahaya karena ketidaksadaran mereka.
“Manusia yang tidak sadar akan melihat Bukit Jambul
sebagai lahan untuk tanam sayur, sebagai bahan furnitur
kayu, sebagai tempat berburu burung-burung cantik yang
bisa dijual ke orang kaya. Atau seperti abahmu dan orang-
orang di kampung, Bukit Jambul dianggap sebagai sarang
setan. Mereka yang melek sedikit mungkin bisa melihatnya
sebagai kekayaan botani. Tapi sebetulnya, Bukit Jambul lebih
dari itu semua.”
“Waktu Adek lahir, Ayah ke mana?” Pertanyaan itu me-
luncur dari mulutku begitu saja.
“Ayah di Bukit Jambul. Tapi Ayah tidak kesurupan. Ada
sesuatu yang terjadi. Portal itu membuka....”
“D–dimensi lain?” tanyaku. Tanpa kutahu apa artinya.
“Portal itu lama menutup karena mereka akhirnya sudah
71
Keping 40
menemukan jalan lain. Mereka juga ber-evolusi seperti kita.
Setahun yang lalu, portal itu tiba-tiba membuka. Mereka
ingin menunjukkan sesuatu kepada Ayah. Dan Ayah diajak
ikut masuk.”
“Ayah ke mana? Mereka itu siapa?”
“Ayah tidak pernah kesurupan, Zarah,” ulangnya lagi.
Matanya berketap-ketip. Ia mendongak, menggoyang-go-
yangkan kepalanya seperti ingin mengusir pening.
“Ayah sehat? Ayah makan jamur lagi, ya? Jamur yang
mana?” desakku. Kantong belacu dalam kepalaku seperti
mau meledak. Begitu banyak pertanyaan yang kebelet men-
cari pasangan jawabannya.
“Jamur Guru. Itu yang harus kamu lindungi. Sampai ka-
pan pun, Zarah, jangan biarkan mereka membabat Bukit
Jambul. Mereka yang tidak sadar tidak boleh masuk.”
Ini sungguh ganjil. Kepadaku, Ayah selalu menyebutkan
nama Latin untuk setiap fungi. Tidak pernah ia mengganti-
gantinya dengan panggilan non-ilmiah. Apa pula itu Jamur
Guru?
“Ayah cuma bisa percaya kamu, Zarah. Orang lain tidak
ada yang mengerti.”
Tentu saja. Cuma aku yang akan menelan semua cerita-
nya tanpa ragu. Tapi, justru saat itulah, ragu yang sebelum-
nya tak pernah ada mendadak membersit. Ayah bersikap
tidak seperti biasanya. Ada yang aneh dan asing padanya,
meski tak bisa jelas kudefinisikan.
72
partiKel
“Semua ini kuwariskan untukmu. Kamulah penerus Ayah
untuk melindungi Bukit Jambul, melindungi Jamur Guru.”
Aku memandang berkeliling. Semua ini? Maksudnya,
kertas-kertas berantakan ini?
“Lapangan di puncak Bukit Jambul sudah ada sejak kali
pertama Ayah ke sana. Dari dulu sudah banyak anomali di
sana, Zarah. Setahun yang lalu, waktu portal itu membuka,
aktivitas di sana meningkat luar biasa. Ayah ingin meneliti-
nya. Tapi, semua itu bukan keahlian Ayah. Kemampuan
Ayah terbatas. Ayah perlu dibantu banyak orang. Banyak
ahli. Tapi siapa yang mau percaya?” ratapnya.
Setahun yang lalu? batinku. Tak tahan lagi aku bertanya,
“Apa itu yang dimaksud Ibu waktu bilang Ayah pernah ke-
surupan—?”
“Zarah,” sela Ayah keras, tangannya ikut menggenggam
bahuku kencang, “dengar baik-baik. Ayah TIDAK PER-
NAH kesurupan.”
Terkesiaplah aku melihat Ayah mengejakan kata-kata itu
dengan garang, seolah akumulasi kekesalannya akibat di-
salahpahami terus-terusan oleh lingkungannya selama ini
siap diledakkan. Cepat, ia tersadar. Cengkeraman di bahuku
mengendur. Matanya yang tadi sempat menyiratkan murka
kini kembali dibayangi kesedihan, keputusasaan.
“Apa yang bisa Zarah bantu, Yah?” Aku bertanya sambil
menggenggam tangannya.
Ayah menatapku lurus-lurus. “Kamu punya kemampuan
73
Keping 40
itu. Ayah sudah tahu sejak kamu kecil. Jamur Guru juga su-
dah mengonfirmasi. Kamu sanggup jadi mediator.”
“A–apa itu?”
“Ketika manusia yang tidak sadar berubah jadi makhluk
sadar, saat itu juga dia terhubung dengan jaringan informasi
yang selama ini tersembunyi. Informasi penting tentang se-
mesta ini akan mengalir tanpa ada yang bisa menyetop. Saat
itulah manusia bisa berubah jadi pemelihara. Sekarang ini,
sedikit sekali manusia yang terhubung. Hampir semuanya
terputus dari jaringan. Mereka jadi penghancur karena akses
mereka tertutup. Mereka yang sudah terhubunglah yang pu-
nya kesempatan jadi mediator, menjadi jembatan untuk
informasi itu.”
“Informasi itu ada di mana, Yah?”
“Fungi,” jawabnya tegas.
“Jamur Guru?” aku menebak.
Ayah mengangguk. “Juga beberapa tanaman lain. Enteo-
gen, Zarah. Itu kuncinya. Itulah akses termudah bagi kita,
manusia. Beberapa mamalia laut juga menyimpan informasi
sama, tapi kita tidak bisa mengaksesnya semudah kita meng-
akses enteogen. Dengan sesama mamalia kita harus ber-
telepati. Sedikit sekali yang punya kemampuan itu. Padahal,
begitu kita terhubung ke jaringan...,” Ayah kembali men-
dongak, menggelengkan-gelengkan kepalanya, “semua infor-
masi itu, koneksi ke semua makhluk, tersedia tanpa batas.”
“Zarah pasti akan bantu Ayah,” tegasku sambil meng-
74
partiKel
genggam tangannya lagi. Berusaha menariknya kembali ke
realitas ini. Kupikir kantong belacuku akan mengempis. Sa-
lah besar. Kantong itu malah makin menggembung. Media-
tor. Enteogen. Jamur Guru. Pertanyaan-pertanyaan baru.
“Banyak orang akan berusaha menjatuhkan kepercayaan
dirimu, meragukan ucapanmu, menganggapmu gila. Tidak
akan mudah, Zarah. Yang paling sulit dari semua itu adalah
percaya kepada dirimu sendiri, percaya bahwa kamu tidak
gila,” Ayah mengerjapkan matanya, mengusir genangan air
mata. Baru itulah kulihat ayahku menangis. “A–adikmu...,”
dia terbata, “dia bukan anak jin. Dia tidak dikutuk Bukit
Jambul. Dia mengalami kelainan gen bernama Harlequin
Ichtyosis. Butuh berbulan-bulan untukku mencari tahu karena
ibumu dan Abah nggak kasih izin jenazah adikmu di-
autopsi.”
“Jadi, Adek meninggal karena sakit, Yah?”
“Karena kelainan itu, kulit adikmu sangat kaku sampai
sulit bernapas. Itu yang membuatnya tidak bisa bertahan.
Dia juga kena infeksi dari luka-luka peregangan kulitnya.
Jarang ada bayi Harlequin yang selamat. Dilihat dari bentuk-
nya, adikmu termasuk yang parah.”
“Ibu sudah dikasih tahu?”
Ayah mengangguk. “Ibumu bilang, sudah nggak ada
gunanya. Penyakit atau bukan, Ayah tetap bertanggung ja-
wab karena sudah menelantarkan keluarga ini.”
“Itu nggak adil!” protesku seketika. “Orang Batu Luhur
75
Keping 40
harus tahu tentang penyakit Adek! Mereka juga harus tahu
di Bukit Jambul nggak ada setan!”
“Belum, Zarah. Belum saatnya,” balas Ayah cepat. “Bukit
Jambul harus tetap dijaga. Lebih baik biarkan begini. Selama
orang kampung nggak berani masuk, pohon-pohon itu akan
dibiarkan hidup. Jamur Guru akan tetap aman. Dan kamu,”
Ayah mengusap wajahku, “mata ketigamu harus terus dijaga,
Zarah. Cuma itu yang bisa mengantarmu selamat bolak-balik
antardimensi. Ngerti?”
“Gimana cara jaganya, Yah?” tanyaku. Aku bahkan tak
tahu di mana dan bagaimana wujudnya mata ketiga itu.
“Jangan sombong jadi manusia. Itu saja.”
Air mukanya berubah relaks. Ia lalu menggandeng ta-
nganku. “Ayo, kita ke kebun. Kita ajak Hara.”
“Ayah baik-baik saja, kan? Sehat?” tanyaku lagi.
“Sehat. Jamur Guru tidak akan menyakiti Ayah,” jawab-
nya santai. Secepat itu ia bertransformasi.
“Kapan Zarah bisa membantu Ayah jadi—mediator?”
tanyaku sambil berharap semoga tak salah mengucap.
Ayah tersenyum. “Kapan pun kamu mau, Zarah. Kapan
pun kamu siap. Sudah Ayah wariskan ruangan ini dan isinya
untukmu. Apa pun yang ingin kamu tahu bisa dicari di sini.”
Aku ikut tersenyum. Laba-laba pun bisa tersesat di tem-
pat ini. Ayahku terkadang sangat lucu.
Kami pergi bertiga ke kebun permakultur Ayah. Bermain
di sana seharian. Hara sampai tidur siang di saung. Aku
76
partiKel
sibuk memanen jamur tiram yang sudah gemuk-gemuk.
Ayah mengamati koleksi funginya sambil sesekali menulis
khusyuk di jurnalnya. Tak ada yang luar biasa dari kegiatan
kami hari itu, tapi itulah salah satu kenangan masa kecilku
yang paling indah.
Tepatnya, kenangan terakhirku tentang Ayah.
9.
Esok paginya, aku terbangun karena udara yang terasa lebih
dingin dari biasa. Ternyata pintu kamarku terbuka. Langit
di luar masih biru keabuan, matahari baru akan terbit.
Hal kedua yang kusadari adalah kantong belacuku yang
tahu-tahu ada di lantai sebelah tempat tidur. Dilihat dari
bentuknya yang membesar, aku yakin ada sesuatu yang di-
masukkan ke dalam tas itu. Benar saja. Saat kuperiksa, jur-
nal Ayah ada di sana. Buku tebal berisi gabungan carikan
kertas yang ia bolong-bolongi dan jahit sendiri memakai be-
nang kasur.
Ada yang tidak beres, batinku. Aku pun menghambur ke
luar kamar. Sofa kami tampak resik, tidak ada bekas ditiduri.
Ruang kerja Ayah yang biasanya terkunci terbuka lebar. Ti-
dak ada siapa-siapa di sana.
Aku berlari ke luar. Sepeda Ayah, yang biasanya tersandar
di tembok teras, tidak ada.
77
Keping 40
Berusaha kutenangkan diriku sendiri, mengatakan dalam
hati berulang-ulang bahwa Ayah sudah biasa begini. Ia bisa
hilang satu-dua malam tanpa kabar. Namun, rasa resah itu
begitu bergemuruh sampai perutku ikut terkocok-kocok.
Seharian itu aku mulas-mulas. Bolak-balik ke kamar
mandi. Ibu mengira aku masuk angin gara-gara tidur dengan
pintu kamar terbuka. Aku tahu ini bukan angin. Aku stres.
Ada yang tidak beres dengan Ayah.
Dua puluh empat jam berlalu. Kemudian empat puluh
delapan jam. Ibu mulai ikut resah, tapi ia terus berusaha po-
sitif dengan mengingat-ingat kebiasaan-kebiasaan negatif
Ayah. Ah, palingan dia kabur ke tempat terkutuk itu. Mungkin
dia pingsan di sana. Tenang saja, nanti juga pulang. Mana kuat
dia lama-lama nggak ketemu kamu, Zarah. Aku menahan diri
tak berkomentar. Pada hari keempat, Ibu mulai panik.
Abah mulai dilibatkan. Setelah itu, kepolisian. Beberapa
petugas berseragam datang ke rumah, menanya-nanyai Ibu.
Aku tak luput diinterogasi. Kuceritakanlah kegiatanku dan
Ayah sehari-hari. Petugas itu sibuk mencatat.
“Jadi, kamu nggak sekolah, Dik?” tanyanya.
“Nggak, Pak.”
“Belum pernah sama sekali?”
“Belum, Pak.”
Dia berdecak. Kepalanya menoleh ke ruang kerja Ayah.
Dengan bahasa tubuh, ia memberi kode kepada rekannya
untuk memeriksa ke sana.
78
partiKel
“Bapak mau cari apa?” tanyaku langsung.
“Kita harus periksa semua, Dik. Siapa tahu ada petunjuk,”
kata petugas di depanku.
Rekannya membuka kamar kerja Ayah. Air mukanya
langsung segan. Berjalan saja susah di sana.
“Saya rapikan dulu boleh, Pak? Ruangannya berantakan
sekali. Besok Bapak bisa datang lagi,” aku menawarkan de-
ngan senyum, semanis mungkin.
Mereka berpandang-pandangan. Akhirnya petugas itu
mengangguk. Mereka pun pamit pergi. Dari rumahku, me-
reka berencana memeriksa kebun dan rumah Abah di Batu
Luhur. Saat itu sudah pukul tiga sore. Aku sangsi mereka
betulan akan pergi ke kampung.
Semalaman aku mengurung diri di ruang kerja Ayah.
Membereskan berkas-berkasnya. Bermodalkan intuisi dan
pengetahuanku yang terbatas, aku memilah mana sampah
dan mana yang kelihatannya penting. Semua yang penting
aku masukkan ke dus dan kusembunyikan di kolong tempat
tidurku. Semua yang sampah aku susun rapi di rak dan meja,
menyulap mereka seolah-olah kelihatan penting.
Buku-buku Ayah hanya kurapikan tanpa kusortir. Pe-
rasaanku mengatakan, bukan di sana ia menyimpan petua-
langan rahasianya, melainkan di carikan-carikan kertas yang
ia jahit dan ia sebut jurnal. Ayah punya beberapa. Yang pa-
ling penting barangkali sudah ia selamatkan dengan me-
masukkannya ke kantong belacuku. Namun, aku merasa
79
Keping 40
perlu menyelamatkan jurnal-jurnal lamanya. Aku tak ingat
persis ada berapa jumlahnya, dugaanku sekitar empat. Jurnal
dalam kantong belacuku adalah jurnal Ayah yang kelima
sekaligus yang terakhir.
Tak kutemukan jurnalnya yang lain. Satu pun.
Entah mengapa, aku merasa berburu dengan waktu. In-
tuisiku berkata untuk pergi ke rumah Abah di kampung
sesegera mungkin.
Pagi-pagi buta, aku pergi ke Batu Luhur. Berharap petugas-
petugas itu belum mendahuluiku. Aku terlambat. Rumah
Abah sudah digeledah kemarin sore, dan kata orang-orang
yang melihat, petugas-petugas polisi itu membawa pergi be-
berapa dus barang Ayah.
Aku membongkari tiap kamar, mencari ke segala tempat
yang mungkin diselipi buku. Tak kutemukan apa-apa lagi.
Mereka sudah mengambil semuanya. Mengapa pekerjaan
Ayah ikut dilirik oleh pihak kepolisian, aku pun tak me-
ngerti. Bukankah seharusnya mereka cuma ditugasi untuk
mencari tahu keberadaannya? Bukan menyita barang-barang-
nya?
Lunglai, terduduklah aku di saung di tengah kebun per-
makultur Ayah yang rimbun. Ayah sudah mewariskan semua
ini kepadaku, dan aku gagal menjaganya.
80
partiKel
Kepalaku yang menunduk lemas tahu-tahu menegang.
Sesuatu mencuri perhatianku. Beberapa batang jamur men-
cuat dari tanah sekitar kaki saung. Psilocybe subaeruginascens.
Aku menyapa mereka, “Hai, ngapain di situ?”
Berbicara dengan fungi adalah hal normal di sini. Ayah
mengajari kami, termasuk para petani, untuk tidak segan
berbicara kepada tanaman. Apalagi kepada fungi. Dia bilang,
itu akan membuat mereka tambah subur. Terlepas benar atau
tidak efeknya demikian, yang jelas makhluk-makhluk ini
adalah pendengar yang luar biasa, yang tidak akan memo-
tong kita bicara atau memberikan solusi tak perlu. Sering
kali aku lebih senang bicara kepada tanaman ketimbang ke-
pada sesama manusia.
Aku pun berjongkok mendekati jamur-jamur berpayung
cokelat itu, pandanganku tergiring untuk melongok ke ko-
long saung. Tepat di atas kawanan Psilocybe subaeruginascens
itu berkumpul, kulihat bungkusan plastik direkatkan ke balik
lantai saung dengan selofan. Kuraba bungkusan itu. Buku!
Segera kuambil cutter dari kantong belacuku, kulepaskan
bungkusan itu dari balutan selofan. Tak salah lagi. Jurnal
Ayah. Dan perasaanku berkata, masih ada yang lainnya.
Aku berjalan jongkok mengitari saung. Kudapati lagi se-
kelompok Psilocybe subaeruginascens. Benar saja. Tepat di
atasnya, lagi-lagi kutemukan bungkusan plastik serupa. Aku
terus berkeliling.
Kudekap kantong belacuku yang kini bengkak karena ke-
81
Keping 40
penuhan. Ada kelegaan luar biasa yang sejenak menyapu
kumulasi kecemasanku atas hilangnya Ayah.
Total ada empat jurnal yang kutemukan. Empat kelom-
pok Psilocybe subaeruginascens berjaga di bawahnya layaknya
pasukan pengawal.
Aku membungkuk di depan saung. “Terima kasih,” bisik-
ku. Dan aku yakin mereka mendengar.
Kutinggalkan kebun sambil kuulang-ulang pesan Ayah
dalam hati: Semua yang ingin kamu cari ada di sini. Aku ber-
harap, termasuk di dalamnya adalah cara menemukan dia.
10.
Hari demi hari berjalan. Dengan cara masing-masing, kami
berupaya mencari jejaknya.
Selain mengandalkan jasa polisi, Ibu dan Abah juga pergi
ke beberapa tempat di Jawa Barat, Tengah, Timur, demi me-
minta bantuan kepada “orang pintar” yang memang ke-
ahliannya mencari orang hilang. Warga Batu Luhur tak
ketinggalan menurunkan semua paranormal terbaiknya. Pe-
ngajian khusus juga beberapa kali digelar untuk membantu
kepulangan Ayah.
Bukit Jambul kembali menjadi sasaran. Lagi-lagi, berbagai
cerita serupa tapi tak sama sampai ke kupingku. Firas sudah
diultimatum oleh istri jinnya untuk memilih salah satu, dia atau
82
partiKel
Aisyah, dan Firas memilih tinggal di alam jin. Bayi setengah
ular yang dulu dilahirkan Aisyah adalah peringatan keras dari
para jin. Firas akhirnya berkorban demi keselamatan Aisyah dan
anak-anak.
“Orang pintar” dari berbagai pelosok Jawa yang ditemui
Ibu dan Abah pun mengeluarkan analisis yang mirip-mirip,
semuanya menyinggung alam lain dan jin. Ada yang bilang
Ayah menyeberang karena memang ingin pindah alam, ada
yang bilang Ayah diculik, ada yang bilang Ayah berkorban
sebagai tumbal.
Polisi mengaku tidak menemukan apa-apa. Dalam pen-
carian mereka yang berbulan-bulan dan tanpa hasil itu, polisi
menyita lebih dari setengah koleksi buku, berkas, dan doku-
men Ayah dengan dalih penyelidikan. Membuatku berang
dan curiga setengah mati. Aku tidak rela ruang kerja Ayah
diubrak-abrik, dan aku juga tidak percaya kalau satu-satunya
kepentingan mereka hanyalah mencari Ayah. Ada hal lain
yang menjadi motif di balik penyitaan itu. Entah apa.
Pada satu titik, mereka semua menyerah. Polisi, Ibu,
Abah, dan Batu Luhur. Dalam bilik pribadi orang-orang
yang dekat dengan Ayah, mereka mungkin masih berharap
dan berdoa. Tapi segala upaya investigasi praktis berhenti.
Ayah hilang ditelan Bumi. Jika memang suratan takdirnya
Firas kembali, maka ia akan kembali. Kalau bukan, ke ujung
dunia dicari pun tak akan ketemu, demikian konsensus final
83
Keping 40
orang-orang di lingkunganku. Mereka pun kembali ke jalur
masing-masing, meneruskan kehidupan mereka.
Sejak hilangnya Ayah, hubungan Ibu dan kakek-nenekku
berubah. Abah dan Umi, yang tadinya tak pernah berinisiatif
mampir ke rumah kami, kini rutin berkunjung. Dua atau
tiga kali seminggu.
Perubahan yang sama terlihat pada hubungan Abah dan
Batu Luhur. Abah kembali mengunjungi kampung, mulai
terlibat lagi di kegiatan keagamaan, kembali memimpin pe-
ngajian di sana. Semua itu diawali oleh tujuan bersama men-
cari Ayah yang kemudian bergeser menjadi adaptasi kolektif
atas ketiadaannya.
Tinggal aku yang bertahan mencari. Dengan caraku sen-
diri. Dan jadilah aku pihak yang terakhir beradaptasi.
Setiap malam selama berbulan-bulan, aku masih terisak-
isak pelan di kamar, memandangi satu per satu orderan foto
dari Ayah dalam tas belacuku. Mencoba menghidupkan lagi
kenangan saat aku berjalan-jalan dengannya di tepian sungai,
di kebun, dibonceng di jok belakang sepedanya.
Demikianlah rutinitasku. Sepanjang hari mempelajari jur-
nalnya sampai frustrasiku mentok. Sepanjang malam me-
nangisi kenangannya sampai tertidur. Siang, frustrasi. Ma-
lam, berduka.
Aku tahu, sebagaimana orang-orang di sini tahu, Bukit
Jambul adalah kunci. Kami hanya mencari lewat lubang
kunci yang berbeda. Aku tak kenal satu pun “orang pintar”
84
partiKel
dan aku rasa “orang pintar” paling pintar pun tak akan bisa
menemukan Ayah. Satu-satunya jalur yang bisa, dan sudah
ada di tanganku, adalah tulisan-tulisan Ayah sendiri. Jurnal-
jurnalnya. Namun, kendala terbesar adalah memahami isi-
nya.
Dari umur dua hingga dua belas, aku ditempa lewat se-
kolah informal ala Firas sang Ilmuwan. Jika jurnalnya masih
berhubungan dengan anatomi tumbuhan, analisis teknis me-
ngenai fungi, aku bisa mengikuti meski terbatas. Sementara,
dalam carikan-carikan kertas itu, Ayah menyimpan banyak
kisah dan pengalaman yang serba asing dan tak terduga-
duga, bahkan bagiku yang mengikutinya hampir setiap hari.
Jurnal pertama ditulis Ayah sejak petualangan pertama-
nya menembus Bukit Jambul. Inilah jurnal yang paling bisa
kumengerti karena isinya kebanyakan hanya catatan tentang
nama tanaman dan fungi. Yang paling menarik dari jurnal
pertama ini adalah daftar anomali yang ia temukan di pun-
cak bukit. Ia menuliskan antara lain:
Alat rakitanku selesai. Terlalu sederhana. Tapi alat itu sudah
bisa mendeteksi gelombang listrik. Aku membuat uji coba di se-
kitar kabel listrik dan alat elektronik. Berhasil.
Catatan itu bersambung lagi: Sirkuit akhirnya kuganti. Le-
bih sensitif. Sudah kuuji coba di tanaman dan manusia. Berhasil.
Alat itu sekarang cukup sensitif menangkap gelombang listrik
makhluk hidup.
Bagian berikutnya: Aku mengetes daerah puncak. Mengeri-
85
Keping 40
kan. Tidak ada gelombang listrik tertangkap. Zero point. Ada
efek earthing yang kuat tiap aku masuk ke lingkaran. Padahal,
di daerah sekitarnya normal. Hasil uji coba setiap hari sama
100%. Konstan.
Di bagian penutup, Ayah menulis: Aku curiga, fenomena
crop circle terjadi karena prinsip yang sama. Prosesnya meng-
ingatkanku pada gelombang mikro yang dihasilkan magnetron
pada oven microwave. Tanaman di bibir lingkaran batangnya
memuai, dehidrasi. Sebagian menunjukkan gangguan pertum-
buhan. Detektor infrared juga menunjukkan perbedaan panas
antara tanaman di bibir lingkaran dengan tanaman sekeliling-
nya. Kandungan air di puncak bukit ekstrem lebih rendah di-
bandingkan tanah sekitar. Ini menjelaskan mengapa tidak ada
tanaman yang berhasil tumbuh di puncak. Aktivitas portal te-
rang-terangan mengisap kandungan air tanah sebagai kompensasi
panas yang tinggi.
Pada jurnal kedualah terjadi perubahan besar. Ayah me-
nulis topik-topik di luar bidang ilmunya. Jurnal kedua ini
rangkuman dari riset pustakanya tentang legenda manusia
pertama. Dia bicara bukan soal evolusi Darwin, melainkan
legenda manusia bernama Adam dan Hawa dari berbagai
versi. Ia menulis tentang Eden, tentang Malaikat Shemyaza
yang dikenal dengan banyak nama, salah satunya Azazel,
sosok yang dikenal sebagai penggoda Hawa dengan buah
pengetahuan dalam samaran seekor ular. Ia menulis tentang
ras raksasa bernama Nefilim, tentang ras misterius yang di-
86
partiKel
kenal dengan sebutan Para Pengawas. Semua itu topik asing
bagiku. Aku hanya bisa memastikan, dari cara Ayah me-
nulis, jelas terbaca ketertarikannya yang mendalam.
Jurnal ketiga, Ayah bicara hal lain lagi. Ia menuliskan
perhitungan kalender Maya, menggambar pola-pola geo-
metris, simbol-simbol aneh. Ia bahkan menggambar denah
interior Piramida Giza, seolah ia pernah ke sana. Aku tahu
pasti Ayah tidak pernah ke Mesir. Aku menduga ini hasil
rangkuman risetnya yang ditulis dengan kesungguhan se-
hingga seakan-akan ia mengalami itu semua. Dengan keka-
guman, panjang lebar Ayah menulis tentang Mesir kuno dan
teknologi canggihnya.
Jurnal keempat, Ayah menulis topik yang berbeda. Satu
kata di halaman pertamanya langsung menyergapku: enteo-
gen. Setelah kubaca lebih lanjut, barulah aku mengerti bah-
wa enteogen yang dimaksud Ayah adalah tanaman dengan
zat psikoaktif yang bisa mengubah level kesadaran seseorang.
Dalam jurnal keempat ini, Ayah menggambar banyak ta-
naman, struktur kimia, dosis, cara penggunaan, dan tak
ketinggalan pula sejarah tanaman enteogen yang ternyata
sudah dimulai ribuan tahun sebelum Masehi. Jurnal itu di-
tutup dengan kalimat kesimpulan yang dituliskan Ayah de-
ngan guratan tegas: Pengetahuan manusia akan dirinya sendiri
dimulai dengan enteogen.
Aku menutup halaman terakhir jurnal keempatnya itu
dengan mulut ternganga. Satu demi satu sisi Firas yang tidak
87
Keping 40
diketahui orang banyak, termasuk aku, mulai terungkap. Se-
dikit demi sedikit, mulai kupahami mengapa ia menarik diri
dari kampus. Jelas terlihat minat Ayah bergeser jauh. Ke-
empat jurnalnya menggambarkan perjalanan Ayah yang kian
jauh tenggelam dalam dunia yang asing bagi kami semua.
Puncaknya adalah jurnal dia yang terakhir.
Jurnalnya kelima, yang sengaja ia masukkan ke tasku,
seluruh isinya bagaikan log seorang kapten yang berlayar ke
alam antah berantah. Dicekam kengerian, aku menemukan
bahwa Ayah ternyata memang hidup dalam dua dunia. Se-
belah kakinya ada di tempat yang entah di mana.
Dalam salah satu entri, Ayah menulis:
Aku bertemu mereka lagi. Kali ini bentuk mereka lebih jelas
terlihat. Tingginya kira-kira satu meter, kulitnya abu-abu, licin
tanpa bulu. Proporsi kepala mereka sangat besar dibandingkan
tubuhnya. Mata mereka menonjol, besar, iris mata mereka cokelat
gelap atau hitam, bagian sklera hampir tidak kelihatan, atau
mungkin tidak ada. Hidung mereka tidak berbatang, hanya
sepasang lubang tipis. Mulut mereka tampak seperti celah. Tidak
berbibir. Mereka berinteligensi tinggi, aku bisa merasakannya.
Aku curiga pada niat mereka. Ada hal yang mereka inginkan.
Aku tidak merasakan kehangatan. Mereka belum tentu jahat.
Tapi mereka sangat dingin. Seperti robot.
Ayah kemudian membuat sketsa di bawahnya:
88
partiKel
89
Keping 40
Di catatan lain ia menulis: Aku bertemu jenis yang berbeda.
Tubuhnya terlihat lebih ringan, tidak sesolid manusia. Kalau dia
bergerak, terasa ada kualitas transparan. Sebagian tubuhnya
cahaya. Mungkin seperti itulah penampakan sistem meridian jika
tidak kasatmata.
90
partiKel
Di halaman sebelahnya, Ayah menulis tentang makhluk
yang lain lagi: Yang ini menakutkanku. Jelas terlihat mereka
sebangsa reptil. Bipedal, amfibi, beberapa ada yang bersayap.
Mereka punya kemampuan koordinasi tinggi. Tapi mereka hanya
bisa memangsa. Predator murni. Semoga ini kali terakhir aku
bertemu mereka.
91
Keping 40
Lalu, di halaman berikutnya, terlukis sketsa makhluk se-
jenis. Tetapi, jenis ini tampaknya agak berbeda dengan se-
belumnya:
92
partiKel
Ayah pun menambahkan: Ternyata aku salah. Ada reptoid
(reptilian-humanoid) yang berinteligensi super dan tidak ber-
bahaya. Mereka justru sangat ramah. Mereka berkomunikasi
secara telepatis denganku. Transfer informasi sepertinya jadi prio-
ritas mereka.
Pada halaman-halaman terakhir jurnalnya, Ayah mening-
galkan semakin banyak teka-teki. Isi jurnalnya bukan lagi
serupa log, melainkan curahan hati:
Perjanjian ini terlalu berat. Rasanya tidak mungkin aku
sanggup.
Permintaan mereka mustahil. Tapi aku tak bisa mundur lagi.
Dan masih ada beberapa halaman lagi sesudahnya yang
bernada serupa. Di halaman terakhir ia menulis:
Tidak ada pilihan lain. Semoga suatu saat nanti mereka
ingat. Aku ingat.
Ingat apa? Siapa yang dimaksud dengan “mereka”? Per-
janjian apa? Pikiranku berputar-putar mengitari kalimat-ka-
limat itu dan tak ketemu-ketemu.
Sedikit demi sedikit, aku mulai bisa berempati kepada
Ibu, Abah, dan Umi. Kepada rasa frustrasi mereka. Sungguh
tak mudah hidup bersama manusia seperti Ayah. Kehidupan-
nya bagai labirin rahasia. Jalan pikirannya tidak terbaca. Aku
tak bisa membayangkan apa yang ia lalui hingga bisa me-
nuliskan itu semua.
Aku mulai memahami mengapa kedua kutub itu, Ayah
dan Ibu, nyaris mustahil untuk bersatu. Ayah seolah melihat
93