Koleksi Goldy Senior
seperti itu hendak mengganggu mereka. Tampang dan
pembawaannya bukan seperti orang kang-ouw yang yang suka
merampok atau memeras.
Cu Lok piauwsu yang berusia empat puluh tahun dan
bertubuh tinggi besar, berkata kepada rekannya, "Biar aku yang
menghadapinya."
Thio sin, yang berusia tiga puluh lima tahun dan bertubuh
sedang, juga merasa tenang melihat pemuda yang menghadang
itu, maka dia pun mengangguk dan membiarkan rekannya yang
lebih tua itu melompat turun dari kudanya dan menghadapi
pemuda yang menghadang di tengah jalan itu. Cu Lok adalah
seorang piauwsu yang berpengalaman. Dia tahu bahwa penjahat
yang paling berbahaya adalah kalau dia berupa seorang yang
lemah dan sama sekali tidak kelihatan sebagai seorang penjahat.
Maka dia bersikap hati-hati dan mengangkat kedua tangan
memberi hormat kepada pemuda berpakaian mewah itu.
"Kami para piauwsu dari Kim-liong-pang sedang mengawal
dua kereta barang menuju ke Thian-ting. Agaknya Kongcu
memcunyai urusan penting dengan kami maka menghadang sini.
Apakah kiranya yang dapat kami bantu untuk Kongcu?" sikap Cu
Lok ini hormat sekali.
"Bagus, orang-orang Kim-liong-pang ternyata mengerti
aturan," kata pemuda itu sambil tersenyum. "Bolehkah aku
bertanya, apa isi kedua kereta itu?" Dia menuding ke arah dua
buah kereta yang berhenti di situ.
"Kami sedang mengawal barang kiriman berupa kain-kain
sutera dan bahan pakaian lain menuju ke Thian-ting. Harap
Kongcu membiarkan kami lewat," kata Cu Lok. masih dengan
sikap merendah dan hormat.
Dewi Ular 151
Koleksi Goldy Senior
"Aha, kebetulan sekali. Kami sedang membutuhkan kain
untuk membuat pakaian anak buah kami yang belasan orang
banyaknya. Karena itu, bersikaplah baik dan murah hati kepada
kami, piauwsu, dan tinggalkan sebuah di antara dua kereta itu
untuk kami."
Cu Lok mengerutkan alisnya. Tidak salah dugaannya.
Pemuda yang berpakaian mewah dan berbicara halus ini adalah
seorang perampok. Maka dia berkata dengan menahan kesabaran.
"Mana dapat begitu, Kongcu? Barang kiriman ini bukan
milik kami dan kami dari Kim-liong-pang tidak pernah
bermusuhan dengan Kongcu. Harap biarkan kami lewat dan kelak
kami akan berkunjung untuk menghaturkan terima kasih."
Pemuda itu tertawa, "Ha- ha- ha, mana bisa begitu? Yang
kami butuhkan sekarang adalah kain-kain untuk dibuat pakaian,
bukan ucapan terima kasih."
"Kalau hanya itu yang Kongcu butuhkan, tentu dengan
senang hati kami akan memberi untuk Kongcu," kata Cu Lok
yang mengira bahwa pemuda itu membutuhkan pakaian untuk
diri sendiri sehingga hanya membutuhkan beberapa potong kain
saja. "Kalau Kongcu hendak membuat pakaian, silakan memilih
beberapa potong kain, nanti kami yang akan menggantinya
kepada pemiliknya di Thian-ting."
"Ha- ha- ha, kau ini lucu Untuk apa beberapa potong kain?
Aku hendak mengambil satu kereta. Kami membutuhkan pakaian
untuk dua puluh lima orang"
Tahulah Cu Lok bahwa pemuda itu tidak main-main dan
memang benar dia seorang perampok yang hendak memaksanya
menyerahkan sekereta kain.
"Hemm, sobat" suaranya kini berbeda, terdengar tegas,
"Apakah engkau hendak merampok kami?"
Dewi Ular 152
Koleksi Goldy Senior
"Masa bodoh apa yang kalian katakan, merampok atau
meminta. Pendeknya, kalian harus meninggalkan sekereta kain
ini kepadaku."
"Jelasnya, engkau hendak merampok. kami? Hei, orang
muda, siapa kah engkau yang berani mengganggu barang kiriman
yang dikawal oleh para piauwsu Kim-liong-pang?"
"Aku Siangkoan Tek tidak mengenal Kim-liong-pang, dan
apa yang aku kehendaki harus kalian taati, atau kalian semua
akan kuhajar" kata pemuda yang lemah lembut itu. Pemuda itu
memang Siangkoan Tek adanya. seperti kita ketahu, Siangkoan
Tek dimarahi ayah ibunya karena ulahnya membikin ribut Pulau
Naga yang diserbu pasukan dari daratan. Ayah ibunya lalu
menyuruh dia merantau selama setahun untuk mencari
pengalaman dan juga mencari jodoh. dalam perantauannya itu
Siangkoan Tek tiba di daerah itu.
Ketika Siangkoan Tek tiba di bukit itu, dua puluh lima orang
perampok menghadangnya. Melihat pakaiannya yang mewah,
para perampok itu menduga bahwa dia tentu seorang pemuda
kaya, maka mereka menghentikannya dan minta semua barang
yang dibawanya. Siangkoan Tek tertawa dan menghajar dua
puluh lima orang perampok itu tanpa membunuh mereka. Para
perampok itu taluk dan mengaku kalah kepada pemuda yang
amat lihai itu. saat itulah Siangkoan Tek mendapat gagasan yang
dianggapnya baik. Dipulaunya, sebagai putera majikan Pulau
Naga, dia selalu dihormati dan dilayani. Kini, melihat dua puluh
lima orang itu, dia mengambil keputusan untuk menjadikan
mereka itu anak buahnya.
Dengan demikian, dia akan dilayani dan juga kedudukannya
menjadi kuat. Maka dia lalu mengangkat diri sendiri menjadi
pimpinan mereka. Para anak buahnya inilah yang memberitahu
kepadanya bahwa ada kiriman barang berharga sebanyak dua
Dewi Ular 153
Koleksi Goldy Senior
kereta akan lewat dijalan raya, di luar hutan yang menjadi sarang
mereka. Ketika Siangkoan Tek bertanya mengapa mereka tidak
merampas kereta berisi barang berharga itu, mereka menyatakan
takut karena kereta barang-barang itu dikawal oleh para piauwsu
Kim-liong-pang. Demikianlah, Siangkoan Tek lalu menghadang
kereta itu dan menyuruh anak buahnya bersembunyi saja dan
baru keluar kalau dia memberi tanda.
Sementara itu, Cu Lok dan Thio sin menjadi marah
mendengar ucapan terakhir Siangkoan Tek yang hendak
menghajar mereka kalau kehendaknya tidak ditaati.
Thio sin sudah marah sekali dan dia pun meloncat turun dari
atas punggung kudanya, diikuti oleh papa anak buahnya yang
berjumlah tujuh orang itu "Pemuda sombong, engkaulah yang
akan kuhajar" bentak Thio sin dan dia sudah menyerang pemuda
itu dengan pedangnya. Akan tetapi dengan gerakan indah dan
cepat, Siangkoan Tek mengelak ke kiri dan kakinya mencuat
dalam tendangan kilat mengenai dada Thio sin sehingga piauwsu
itu terjengkang roboh.
Melihat ini, cu Lok lalu menyerangnya, diikuti oleh tujuh
orang anak buahnya dan dikeroyoklah Siangkoan Tek oleh
delapan orang itu Thio sin yang roboh itu sudah merangkak
kembali dan ikut pula mengeroyok.
Namun, sembilan orang piauwsu itu sama sekali bukan
merupakan lawan tangguh bagi Siangkoan Tek. dalam waktu
singkat saja mereka itu sudah terpelanting oleh tamparan dan
tendangan pemuda itu. Melihat ini, dua orang kusir meloncat
turun dan ikut pula mengeroyok. akan tetapi mereka pun
terpelanting roboh. Akhirnya, sembilan orang itu sudah dihajar
oleh Siangkoan Tek. membuat mereka babak belur, dan tidak
mampu melawan lagi. Siangkoan Tek bertepuk tangan dan
Dewi Ular 154
Koleksi Goldy Senior
keluarlah anak buahnya dari balik pohon-pohon dan semak-
semak.
"Bawa kuda- kuda itu dan dua buah kereta" perintah
Siangkoan Tek. Para anak buah perampok itu girang sekali. Baru
sekali ini mereka dapat merampas barang- barang kawalan para
piauwsu Kim-liong-pang. Dan semua itu terjadi tanpa mereka
turun tangan sama sekali. Anak buah perampok itu menjadi
girang sekali bukan hanya mendapatkan hasil rampokan yang
amat berharga, tiga belas ekor kuda dan dua buah kereta penuh
sutera dan kain, akan tetapi terutama sekali karena mereka
mendapatkan seorang pemimpin yang dapat dibanggakan, yang
telah berani merampok dan mengalahkan sembilan orang
piauwsu Kim-liong-pang yang lihai.
Sembilan orang piauwsu dan dua orang kusir itu terpaksa
melarikan diri meninggalkan kuda mereka ketika mereka melihat
demikian banyaknya anak buah perampok bermunculan dari
dalam hutan. Pemuda itu merobohkan mereka akan tetapi tidak
membunuh, belum tentu kalau anak buahnya pun akan
membiarkan mereka hidup, Maka mereka lalu melarikan diri dan
kembali kw poa ting.
Souw Can merasa heran dan juga marah sekali mendengar
laporan anak buahnya bahwa dua kereta barang itu dilarikan
perampok berikut sembilan ekor kuda tunggangan anak buahnya.
Akan tetapi yang lebih marah lagi adalah Souw Hwe Li dan Lai
Siong Ek. Dua orang muda ini marah sekali karena merasa betapa
Kim-liong-pang dipandang ringan dan dihina oleh seorang
perampok muda. Mereka berdua menanyakan kepada para
piauwsu itu di mana tempat mereka dirampok dan setelah
mendengar keterangan jelas, tanpa pamit lagi mereka berdua
segera membalapkan kuda mereka menuju ke hutan itu.
Dewi Ular 155
Koleksi Goldy Senior
Baru setelah dua orang muda itu dua tiga jam pergi, Souw
Can diberitahu tentang kepergian mereka. Souw Can
mengerutkan alisnya dan menganggap murid dan puterinya
lancang. Menurut certta sembilan orang piauwsu, perampok
tunggal itu tentu lihai sekali. Bagaimana Hwe Li dan Siong Ek
pergi begitu saja tanpa memberitahu dia lebih dulu? Karena
mengkhawatirkan keselamatan puterinya, Souw Can lalu
memimpin tujuh belas anggauta Kim-liong-pang dan melakukan
pengejaran dengan naik kuda.
Akan tetapi Hwe Li dan Siong Ek membalapkan kuda
mereka dan baru berhenti setelah malam tiba. Mereka bermalam
disebuah kuil di lereng bukit danpada keesokan harinya, pagi-
pagi benar mereka sudah melanjutkan perjalanan dengan
membalapkan kuda mereka.
Siang hari itu, mereka tiba di tempat terjadinya perampokan.
Mereka lalu membelok dan memasuki hutan seperti yang
diceritakan para piauwsu yang melihat bahwa kereta mereka
dilartkan ke dalam hutan. Kini kedua orang muda itu
menjalankan kuda mereka dengan hati- hati karena maklum
bahwa mereka telah memasuki daerah yang dikuasai perampok.
Tak lama kemudian mereka melihat dua orang laki-laki
berusia empat puluh tahun berjalan di tengah hutan- Mereka
berjalan dengan santai, akan tetapi ketika mendengar derap kaki
kuda, mereka lalu membalikkan tubuh menghadang di jalan dan
sikap mereka bengis.
Hwe Li melihat sikap kedua orang ini segera berkata kepada
Siong Ek, "suheng, tentu mereka itu anggauta perampok Kita
tangkap mereka hidup, hidup,"
Ia lalu melompat turun dari atas kudanya, diikuti oleh Siong
Ek. Tanpa memberi kesempatan kepada dua orang itu untuk
bergerak atau bicara, Hwe Li sudah menerjangnya dengan hebat.
Dewi Ular 156
Koleksi Goldy Senior
Song Ek juga menyerang perampok ke dua. Dua orang itu
mencabut golok dan hendak melawan, akan tetapi dengan mudah
Hwe Li dan Siong Ek meroboh kan mereka. Hwe Li sudah
mencabut pedangnya dan menempelkan pedang itu di leher
seorang di antara mereka, sedangkan Siong Ek juga mengancam
orang ke dua dengan pedangnya.
"Hayo, katakan di mana dua buah kereta dan sembilan ekor
kuda kami di sembunyikan. Dan katakan siapa kepala rampok itu
dan di mana dia berada. Cepat atau aku akan penggal lehermu"
Dua orang anggauta perampok itu menjadi pucat. Akan tetapi
pada saat itu terdengar suara tawa halus dan di situ sudah muncul
Siangkoan Tek yang berdiri sambil bertolak pinggang.
Mendengar suara tawa ini, Hwe Li menoleh dan ia melihat
seorang pemuda tampan dan gagah dengan pakaian mewah sudah
berdiri memandang kepadanya sambil tersenyum. Melihat ini, ia
lalu melepaskan orang yang ditodongnya dan membalik,
menghadapi Siangkoan Tek. Ia teringat akan cerita para piauwsu
yang dirampok. maka dengan pedang di tangan kanan, ia
menudingkan telunjuk kirinya ke arah muka pemuda itu.
"Engkaukah yang bernama Siangkoan Tek dan yang telah
merampok dua buah kereta barang dan sembilan ekor kuda dari
para piauwsu kami?" bentak Hwe Li dengan marah.
Melihat gadis yang cantik jelita itu marah- marah, Siangkoan
Tek tersenyum. Hatinya kagum sekali. Gadis itu selain cantik
jelita, juga gagah perkasa dan pemberani, begitu gagah
kelihatannya ketika menudingkan telunjuknya dengan pedang di
tangan kanan-
"Benar, aku adalah Siangkoan Tek. dan engkau siapakah,
Nona? Apa hubunganmu dengan kejadian itu?" tanya Siangkoan
Tek sambil tersenyum memikat, matanya bersinar-sinar. Biarpun
Dewi Ular 157
Koleksi Goldy Senior
sedan marah, Hwe Li terpaksa harus mengakui di dalam hatinya
bahwa perampok ini sungguh merupakan seorang pemuda yang
tampan dan gagah, dan melihat sikap dan pakaiannya, sungguh
tidak patut menjadi perampok. Dia lebih mirip seorang siucai
(sastrawan) atau seorang kongcu (tuan muda) bangsawan atau
hartawan. Akan tetapi karena ia sedang marah, ia melupakan
semua kenyataan ini dan membentak dengan suara lantang,
"Perampok busuk Aku adalah Souw Hwe Li, puteri Ketua
Kim-liong-pang, pemimpin pengawalan barang. Hayo cepat kau
kembalikan sembilan ekor kuda dan dua buah kereta bertsi bahan
pakaian itu lalu berlutut minta maaf, baru aku dapat
mengampunimu. Kalau tidak. pedang nonamu akan memenggal
batang lehermu"
Sementara itu, Lai Siong Ek memperlihatkan muka garang
dan dia pun membentak,
"Perampok jahanam... Butakah matamu, tulikah telingamu
sehingga engkau tidak melihat bahwa dua buah kereta itu dikawal
oleh orang-orang Kim-liong-pang? Berani mati engkau
mengganggunya sumoi,jangan memberi ampun penjahat ini. Mart
kita basmi mereka dan rampas kembali dua buah kereta itu"
setelah berkata demikian, Lai Siong Ekyang sudah mencabut
pedangnya mendahului sumoinya menyerang pemuda itu
Melihat gerakan pedang yang tangkas, cepat dan cukup
bertenaga itu, Siangkoan Tek mengeluarkan suara mengejek dan
dia sudah mengelak dengan mudah. Ketika tusukan pedangnya
dielakkan dengan mudah, Siong Ek menjadi semakin marah dan
pedangnya sudah berkelebat ke bawah, menyerampang ke arah
kedua kaki lawan. Akan tetapi dengan gerakan ringan seperti
seekor burung, Siangkoan Tek kembali mengelak dengan
lompatan ke atas dan dari atas tangannya menyambar untuk
mencengkeram pundak Siong Ek.
Dewi Ular 158
Koleksi Goldy Senior
Pemuda ini terkejut sekali karena tahu-tahu tangan itu sudah
sangat dekat dengan pundaknya sehingga terpaksa untuk
menghindarkan pundaknya dari cengkeraman tangan lawan, dia
melempar diri ke belakang, terjengkang dan berjungkir balik agar
tidak terbanting jatuh. Melihat ini, Hwe Li meloncat ke depan dan
pedangnya bergerak bagaikan kilat menyambar ke arah leher
Siangkoan Tek.
Akan tetapi kembali pemuda dari pulau Naga itu mengelak
dengan gerakan indah, lalu melangkah maju untuk menangkap
lengan tangan Hwe Li yang memegang pedang. Namun Hwe Li
sudah melompat mundur untuk menghindarkan diri. Dua orang
kakak beradik seperguruan itu lalu mengeroyok Siangkoan Tek
dengan ilmu pedang mereka.
Sambil berloncatan mengelak ke sana sini Siangkoan Tek
memperhatikan ilmu pedang mereka. Dia mengenal ilmu pedang
Kun-lun-pai yang indah gerakannya, dan segera dapat mengira
bahwa ilmu kepandaian gadis cantik itu lebih lihai dibanding
suhengnya. Dia menjadi semakin kagum kepada gadis itu.
seorang gadis yang cukup pantas untuk menjadi kekasihnya,
bukan menjadi isterinya karena yang pantas menjadi istertnya
hanyalah gadis-gadis seperti Lee Cin dan Cin Lan.
Dalam perantauannya dia sudah mencari keterangan tentang
dua orang gadis itu dan mendengar bahwa Tang Cin Lan, puteri
pangeran itu, telah menikah dengan Song Thian Lee, pemuda
yang amat dibenCinya. Maka tinggal Lee Cin seorang yang dia
harapkan untuk menjadi isterinya. Akan tetapi gadis yang
mengeroyoknya ini pun cukup lumayan ilmu silatnya, dan
wajahnya juga cukup manis.
Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang sudah sesat
sejak masih muda remaja. Dia hidup dekat dengan selir-selir
ayahnya yang banyak jumlahnya, dan karena dia seorang pemuda
Dewi Ular 159
Koleksi Goldy Senior
yang tampan, maka selir-selir itu banyak yang memanjakannya,
bahkan mengajarinya untuk bermesraan dengan mereka. Dengan
lingkungan dan pendidikan seperti itu, Siangkoan Tek menjadi
dewasa sebagai seorang pemuda yang mata keranjang.
Lebih-lebih ayahnya tidak pernah menegur atau melarangnya
dalam sepak terjangnya yang gila perempuan ini. Hanya ibunya
yang suka menegurnya dengan keras. Akan tetapi karena ibunya
berada di rumah saja, maka apa yang dilakukan oleh puteranya di
luar rumah tidak diketahui oleh ibunya, hanya diketahui oleh
ayahnya yang membiarkan saja.
Menghadapi pengeroyokan Hwe Li dan Siong Ek. Siangkoan
Tek tidak menjadi terdesak karena memang tingkat
kepandaiannya jauh lebih tinggi. Akan tetapi dia pun tidak berani
main-main karena ilmu pedang Kun-lun-pai adalah ilmu pedang
yang cukup hebat. Kalau saja yang memainkan itu seorang gadis.
setingkat dengan Lee Cin kepandaiannya, tentu dia akan
terancam bahaya. Namun, menghadapi dua orang itu, Siangkoan
Tek menang dalam hal kecepatan maupun tenaga sin-kang.
Bahkan dia tidak membalas dengan serangan maut. Kalau dia
menghendaki kematian dua orang pengeroyok itu, tidak sampai
lima puluh jurus lamanya tentu kedua orang lawan itu sudah
dapat dia robohkan- Akan tetapi dia tidak menghendaki hal ini
terjadi. Hatinya tertarik kepada Hwe Li dan dia tidak ingin
membuat gadis itu membencinya kalau dia melukai atau bahkan
membunuh mereka. setelah cukup lama mempermainkan mereka,
Siangkoan Tek menggunakan ilmu silat Hui-liong-kun. Tubuhnya
bergerak cepat dan serangannya nnendatangkan angin pukulan
yang dahsyat.
Ketika dia mendapat kesempatan, dia dapat menendang
pergelangan tangan kanan Siong Ek sehingga pemuda ini terkejut
dan terpaksa pedangnya terlepas dari tangan, dan sebelum dia
Dewi Ular 160
Koleksi Goldy Senior
sempat menghindar, sebuah pukulan tangan koSong mengenai
pundaknya dan dia pun terpental roboh. Tulang pundaknya tidak
patah, akan tetapi pukulan telapak tangan terbuka itu
mendatangkan rasa panas dan pundaknya terasa nyeri.
Melihat suhengnya sudah kalah dan agaknya menderita
kesakitan sehingga tidak dapat segera maju lagi, Hwe Li menjadi
marah. Ia memutar pedangnya dan mendesak
lawannya, namun siang-koan Tek sudah mendahuluinya,
menangkap pergelangan tangan kanannya, memutar sehingga
terpaksa Hwe Li juga melepaskan pedangnya dan di lain saat dia
telah menotok pundak Hwe Li, membuat gadis itu terkulai lemas
dan berada dalam rangkulannya.
Melihat sumoinya dipeluk Siangkoan Tek. Siong Ek menjadi
marah dan nekat. Diambilnya pedangnya yang tadi tertepas dan
dia membentak. "Lepaskan sumoi" Dia siap untuk menerjang
dengan pedangnya.
Akan tetapi Siangkoan Tek menodongkan kedua jarinya ke
ubun-ubun kepala Hwe Li. "Majulah selangkah dan sumoimu ini
akan tewas seketika"
Melihat ini, wajah Siong Ek menjadi pucat dan dia tidak
berani bergerak. Dia hanya memandang ke arah sumoinya dengan
bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan atau dikatakan-
sementara itu, ketika Hwe Li merasa betapa ia tidak lagi mampu
bergerak atau mengeluarkan suara, ia hanya dapat memandang
wajah Siangkoan Tek dengan ketakutan. Tahulah ia bahwa ia
berada dalam bahaya. Siangkoan Tek yang melihat betapa gadis
dalam rangkulannya itu ketakutan, tersenyum manis kepada Hwe
Li.
"Adik manis, jangan takut. Aku tidak akan menyakitimu.
Engkau sementara ini akan menjadi tamuku yang terhormat.
Dewi Ular 161
Koleksi Goldy Senior
Lihat, bahkan suhengmu tidak kusakiti dan tidak kubunuh. Kalau
engkau menurut dan tidak memberontak. aku akan bersikap baik
sekali kepadamu. sebaliknya kalau engkau melawan, suhengmu
ini akan mati di depan matamu, kemudian engkau juga akan mati
di tanganku."
Mendengar ancaman yang diucapkan sambil tersenyum dan
dengan kata- kata lembut itu Hwe Li menjadi semakin ketakutan,
dan ketika pada saat itu Siangkoan Tek membebaskan
totokannya, ia tidak berani meronta dan hanya tinggal diam saja.
"sobat, bebaskan sumoiku agar kami dapat pergi dari sini."
Siong Ek mencoba untuk membujuknya.
"Tidak perlu banyak cakap lagi. sumoimu menjadi tamu
agungku, dan engkau cepat pergilah dari sini sebelum pikiranku
berubah dan engkau kubunuh. Pergilah"
Siong Ek maklum bahwa dia tidak berdaya menolong
sumoinya. Dia memandang kepada sumoinya dan berkata,
"sumoi, tenanglah. Aku akan mencari bala bantuan untuk
membebaskanmu. "
Saking takutnya, Hwe Li tidak mampu bicara lagi dan ia
hanya mengangguk kepada suhengnya. Siong Ek segera
melompat ke atas kudanya dan membalapkan kudanya untuk
kembali ke Pao-ting dan mencari bala bantuan-
Setelah Siong Ek pergi, Siangkoan Tek berkata kepada Hwe
Li, "Adik Souw Hwe Li, mari silakan menunggang kudamu, kita
pulang ke tempat tinggalku."
Hwe Li melihat ada kesempatan- Ia melompat ke atas
kudanya dan hendak melarikan diri, akan tetapi Siangkoan Tek
sudah menyambar kendali kudanya dan menuntun kuda itu
memasuki hutan lebih dalam lagi.
Dewi Ular 162
Koleksi Goldy Senior
Tidak jauh dari situ terdapat sebuah kuil kuno yang sudah
tidak dipergunakan dan inilah yang dijadikan tempat tinggal atau
sarang oleh Siangkoan Tek dan para berandal yang menjadi anak
buahnya. Hwe Li yang sudah tidak dapat berdaya itu menurut
saja ketika disuruh turun dari kuda dan diajak masuk ke dalam
kuil kuno. Di dalamnya lebar dan sederhana, akan tetapi sebuah
ruangan yang cukup luas dilengkapi perabot seperti meja kursi,
lemari dan tempat tidur besar yang cukup indah buatannya dan
ruangan ini dijadikan sebagai tempat atau kamar tidur oleh
Siangkoan Tek.
"Nah, engkau tinggal untuk sementara di sini, Nona. Engkau
menjadi tamuku juga sahabat baikku. Dan untuk menyambut
kedatanganmu, kita adakan sebuah pesta kecil di antara kita
berdua saja." Siangkoan Tek berkata dengan lembut dan tidak
ketinggalan senyumnya yang menarik. Melihat dirinya
diperlakukan dengan baik, rasa takut menipis di hati Hwe Li.
"Memang sebaiknya kalau engkau melakukan aku dengan
sepantasnya, karena kalau engkau berani menggangguku, ayahku
tentu tidak akan terima begitu saja," katanya dengan ancaman,
akan tetapi tidak terdengar galak lagi.
Mereka kini duduk berhadapan terhalang meja besar dalam
kamar itu. Siang-koan Tek bersikap lembut dan ramah sehingga
Hwe Li mulai merasa lega dan tenang.
"Nah, setelah kini kita berkenalan sebagai sahabat, aku akan
menyebutmu moi-moi dan engkau menyebutku koko, tentu
engkau tidak menolak bukan?"
Hwe Li sedikit tersenyum. Memang sebaiknya kalau
bersahabat dengan pemuda yang amat lihai ini. Bayangkan saja,
ia dan suhengnya dengan berpedang mengeroyoknya yang
bertangan kosong, akan tetapi mereka kalah. Pemuda ini sungguh
lihai bukan main- Kalau ia bersikap baik dan bersahabat
Dewi Ular 163
Koleksi Goldy Senior
kepadanya, besar kemungkinan ia akan dibebaskan dan tidak
diganggu. Sebaliknya kalau ia bersikap bermusuhan, apa dayanya
karena ia telah terjatuh ke tangannya. Maka ia lalu mengangguk
menyatakan setuju.
"Nah, dengan begitu hatiku merasa senang, Li-moi.
Sekarang, ceritakanlah keadaan keluargamu kepadaku. Aku ingin
mengenalmu lebih baik."
"Kami tinggal di Pao-ting dan Ayah menjadi pangcu (ketua)
dari Kim-liong-pang yang mendirikan perusahaan pengawalan
barang kiriman- Pembantu Ayah kini tidak kurang dari dua puluh
lima orang. Ayah adalah seorang tokoh Kun-lun-pai dan namanya
banyak dikenal di dunia kang-ouw. Karena itu, ha rap engkau
tidak memusuhinya, Tek-ko." Ucapan Hwe Li ini membujuk dan
juga sengaja membanggakan ayahnya untuk mengecilkan hati
Siangkoan Tek.
Pemuda itu tersenyum. "Aku memang sudah menduga bahwa
engkau murid seorang tokoh Kun-lun-pai, melihat ilmu
pedangmu. Dan bagaimana dengan suhengmu itu? Aku melihat
dia itu amat sayang kepadamu. Li-moi."
Wajah Hwe Li berubah sedikit merah. Ia sendiri sudah lama
mengetahui bahwa Siong Ek mencintanya, akan tetapi ia belum
dapat menerima perasaannya itu dan menganggap Siong Ek
sebagai suheng biasa.
"Ah, dia hanya suhengku bernama Lai Siong Ek. Karena dia
murid tunggal dari Ayah, maka kami bersahabat, biasa saja."
"Tidak saling mencinta?"
Hwe Li menggeleng kepalanya dan mereka bertemu
pandang. Melihat sinar mata gadis itu dengan berani menentang
pandang matanya, Siangkoan Tek maklum bahwa gadis itu tidak
berbohong.
Dewi Ular 164
Koleksi Goldy Senior
"Hem, setidaknya dia yang mencinta mu, Li-moi. Akan tetapi
aku tidak menyalahkan dia. Hati pria mana yang tidak akan
terpikat kalau bertemu denganmu? Apalagi engkau bergaul lama
dengannya."
Ucapan ini membuat Hwe Li tersipu, akan tetapi pada saat
itu, hidangan telah ditaruh di atas meja besar itu dan Siangkoan
Tek lalu mengajak Hwe Li makan minum sambil bercakap-cakap.
berdua saja. Dan Hwe Li tidak menolak ketika ia disuguhi arak
oleh pemuda itu sehingga ia minum sampai kedua pipinya
kemerahan dan sikapnya lebih berani lagi.
"Sudah kukatakan tadi bahwa semua pria akan terpikat kalau
bertemu denganmu, Li-moi. Engkau bukan saja cantik jelita, akan
tetapi juga berilmu silat tinggi dan sikapmu menyenangkan, tidak
seperti kebanyakan gadis yang malu-malu. Engkau bagaikan
setangkai bunga yang sedang mekar mengharum, menarik
datangnya banyak kupu-kupu."
Hwe Li tersipu pula mendengar pujian yang terang-terangan
itu. "Aih, Tek-ko, cukuplah segala pujian itu sekarang aku minta
engkau suka menceritakan tentang dirimu sendiri. Aku heran
sekali melihat keadaanmu."
Siangkoan Tek memandang wajah gadis itu. sinar matanya
penuh selidik. "Kenapa engkau merasa heran, Li-moi? Apakah
ada yang aneh tentang diriku?"
"Engkau adalah seorang yang aneh sekali, Tek-ko
Bayangkan saja. Engkau seorang pemuda yang melihat
penampilanmu tentu engkau sepatutnya menjadi seorang siucai
atau kongcu. Kata-katamu halus dan sopan teratur, sikapmu
lemah-lembut, pakaianmu juga menunjukkan bahwa engkau
seorang pemuda kaya. Akan tetapi engkau muncul sebagai
seorang perampok. Tidak cocok sama sekali ini. engkau seorang
pemuda yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, mengapa
Dewi Ular 165
Koleksi Goldy Senior
merendahkan diri menjadi perampok? Engkau berbeda sekali
dengan anak buahmu yang kasar-kasar. Mereka memang patut
menjadi perampok akan tetapi engkau sama sekali tidak pantas.
Maka aku ingin sekali mendengar riwayatmu, Tek-ko"
Siangkoan Tek memandang gadis itu sambil tersenyum. Dia
merasa semakin suka kepada gadis ini. Lumayan untuk menjadi
kekasih sementara, sebelum dia melanjutkan perjalanannya.
Walaupun tidak untuk menjadi isteri, setidaknya untuk menjadi
kekasih.
"Ha, ha, ha, kini engkau yang memuji-mujiku, Li-moi.
Terima kasih atas pujianmu. Memang aku bukan perampok biasa,
Li-moi. Baru beberapa hari ini aku menjadi perampok, atau
memimpin gerombolan perampok. Justeru aku yang kebetulan
lewat di sini yang dirampok oleh mereka. Aku kalahkan dan
tundukkan mereka, lalu mereka menyerah dan aku menjadi
pemimpin mereka. Karena aku tidak ingin melihat anak buahku
berpakaian sekotor dan sekasar itu, maka ketika dua buah kereta
itu lewat, aku bermaksud minta sebuah untuk dijadikan pakaian
anak buahku. Akan tetapi para piauwsu itu menolak sehingga
terjadilah perkelahian, dan aku merampas dua buah kereta itu.
Akan tetapi kereta- kereta itu beserta isinya dan sembilan ekor
kuda tunggangan dan kuda penarik kereta masih berada di
belakang kuil ini."
"Kalau begitu, Tek-ko setelah kita bersahabat, bolehkah aku
minta dua buah kereta dan kuda- kudanya itu untuk kubawa
kembali? Kalau engkau membutuhkan pakaian untuk anak
buahmu, tentu akan kuberi secukupnya."
"Hemm, hal itu boleh kita bicarakan nanti, Li-moi. sekarang
kita makan minum sambil bercakap-cakap tentang diri kita."
Melihat pemuda itu tampak agak tidak senang, Hwe Li cepat
mengubah arah percakapan- "Engkau belum menceritakan dari
Dewi Ular 166
Koleksi Goldy Senior
mana asalmu, siapa orang tuamu dan mengapa engkau berada di
sini memimpin gerombolan perampok itu."
"Ayahku adalah orang nomor satu di dunia kang-ouw bagian
timur. Ayahku bernama Siangkoan Bhok berjuluk Tung-hai-ong
(Raja Lautan Timur) yang terkenal sebagai datuk besar timur,
tinggal di Pulau Naga. Aku sedang melakukan perantauan untuk
memperluas pengalamanku dan seperti kuceritakan tadi, baru
beberapa hari aku berada di sini dan mengalahkan para perampok
sehingga aku mereka angkat menjadi pemimpin mereka."
Hwe Li tidak pernah mendengar nama besar Siangkoan
Bhok. akan tetapi ia dapat menduga bahwa ayah pemuda ini tentu
seorang yang sakti dan disegani di dunia kang-ouw.
"Ah, kalau begitu engkau adalah putera seorang yang
terkenal di dunia kang-ouw, mengapa merendahkan dirimu
menjadi pemimpin perampok, Tek-ko? Bagaimana kalau engkau
kuhadapkan kepada ayahku yang tentu akan menerimamu dengan
baik dan kalau orang yang memiliki kepandaian seperti engkau
ini memimpin piauw-kiok (perusahaan pengawal barang) tentu
kita akan memperoleh kemajuan besar."
"Aku tidak ingin bekerja, dan aku menjadi pemimpin
gerombolan ini pun hanya sementara saja, sekedar untuk
mempunyai anak buah untuk kuperintah melayani segala
keperluanku. Jangan khawatir, Li-moi, engkau di sini menjadi
tamu dan juga sahabat baikku, tidak ada yang akan berani
mengganggumu. Li-moi, apakah engkau sudah bertunangan atau
mempunyai pilihan hati? Barang kali suhengmu itu?"
Wajah gadis itu menjadi merah sekali. sungguh pertanyaan
yang amat terbuka mengenai perasaan hati pribadinya., Ia
menggeleng kepala tanpa menjawab.
Dewi Ular 167
Koleksi Goldy Senior
"Engkau mau artikan bahwa engkau masih bebas, belum
bertunangan, belum ada yang menjadi pilihan hatimu?"
Hwe Li yang masih berdebar jantungnya karena tegang itu
mengangguk dan menundukkan mukanya. Tiba-tiba ia merasa
betapa tangannya yang berada di atas meja dipegang oleh pemuda
itu. Ia terkejut dan jantungnya berdebar semakin kencang.
"Li-moi, kalau begitu kebetulan sekali. Aku sendiripun masih
bebas dan sejak pertama kali melihatmu, aku sudah jatuh Cinta
kepadamu. Maukah engkau menjadi kekasih ku, Li-moi?"
Tangan yang memegang tangan Hwe Li itu meremas-remas
lembut dan mesra. Hwe Li menjadi malu sekali, mukanya merah
sampai ke lehernya dan ketika ia mengangkat muka, ia
memandang wajah Siangkoan Tek dengan malu-malu dan
tersenyum salah tingkah.
"Bagaimana, Li-moi? Aku berterus terang saja dan jawablah
dengan terus terang. Maukah engkau menjadi kekasih ku?"
"Tek-ko, ini. ini. begini mendadak.... Bagaimana aku harus
menjawabnya? Berilah aku waktu untuk memikirkan hal ini...."
"Baik, aku memberi waktu sampai besok pagi. Kuharap
besok di waktu kita makan pagi, engkau sudah dapat menjawab
pertanyaanku itu, dan mudah-mudahan jawabannya akan
membahagiakan hatiku. Nah, sekarang engkau boleh mengaso,
Li-moi. Engkau tidurlah di kamar ini, aku akan tidur di kamar
lain-" Siangkoan Tek bertepuk tangan tiga kali dan beberapa
orang anak buahnya masuk kamar.
Pemuda itu memerintahkan anak buahnya untuk
membersihkan meja. setelah itu, dia lalu keluar dari kamar itu dan
menutupkan daun pintunya dari luar. sebelum pintu tertutup, dia
menatap wajah Hwe Li. Kebetulan gadis itu pun memandangnya
Dewi Ular 168
Koleksi Goldy Senior
dan pandang mata mereka bertemu, Hwe Li menundukkan
mukanya dan Siangkoan Tek meninggalkan kamar.
Hwe Li cepat mengunci pintu dari dalam dan ia berjalan hilir
mudik di kamar itu. Pertanyaan pemuda itu masih terngiang di
telinganya. Maukah ia menjadi kekasih Siangkoan Tek?
Pertanyaan yang sukar sekali dijawabnya seketika. Harus
diakuinya bahwa ia kagum sekali kepada pemuda tampan dan
gagah itu. Akan tetapi mereka baru saja berkenalan dan
Siangkoan Tek menjadi pemimpin perampok ia menjadi
bimbang. Ketika ia merebahkan diri di atas pembaringan, ia
gelisah tidak dapat pulas. Ia bingung bagaimana harus menjawab
pertanyaan itu besok pagi. Menolak? ini bertawanan dengan
bisikan hatinya. siapa yang tidak ingin menjadi kekasih seorang
pemuda seperti Siangkoan Tek? Pemuda yang tampan dan gagah,
memiliki ilmu silat tinggi dan putera seorang datuk besar pula.
Akan tetapi, dapatkah ia menerima begitu saja menjadi kekasih
seorang pemuda yang baru saja dikenalnya, yang belum diketahui
benar bagaimana keadaan hatinya? sampai jauh malam barulah
Hwe Li dapat pulas, akan tetapi tidurnya penuh mimpi buruk.
Pada keesokan harinya pagi-pagi Hwe Li sudah terbangun
dari tidurnya. semalam ada ingatan untuk melarikan diri, akan
tetapi ketika ia membuka sedikit daun pintu, ternyata di depan
kamarnya terdapat beberapa orang anak buah perampok menjaga.
Dan ketika ia mengintai dari jendela, sama saja. Di sana juga ada
beberapa orang menjaga. Ia tidak akan dapat melarikan diri tanpa
diketahui dan kalau hal ini ia lakukan kemudian ia tertangkap
lagi, belum tentu sikap Siangkoan Tek akan sebaik ini. Maka ia
pun membuang pikirannya untuk melarikan diri Ketika pagi itu ia
membuka daun pintu, beberapa orang anak buah perampok
menghampiri dan seorang di antara mereka bertanya, "Adakah
sesuatu yang dapat kami bantu, Nona?"
Dewi Ular 169
Koleksi Goldy Senior
"Aku. aku ingin mandi."
"Biar aku yang melayani" terdengar suara orang dan
Siangkoan Tek muncul di situ. Hwe Li merasa sungkan dan malu
karena ia kelihatan oleh pemuda itu sehabis bangun tidur, belum
mandi dan rambutnya pun tentu kusut.
"Engkau hendak mandi, Li-moi? Mari, di belakang kuil ini
terdapat pancuran air yang jernih sekali."
Terpaksa Hwe Li mengikuti pemuda itu ke belakang dan
benar saja, di belakang kuil terdapat pancuran air yang jernih dan
tempat itu sudah tertutup pagar kayu sehingga ia dapat mandi di
dalam ruangan itu dengan aman dan tidak tampak dari luar.
Setelah mandi dan merasa dirinya bersih dan segar, Hwe Li
keluar dari tempat mandi itu. Siangkoan Tek sudah menyodorkan
sisir dan cermin bundar.
"Bawalah ini ke kamarmu, Li-moi. Dan setelah selesai
menyisir rambut, kita makan pagi."
Biarpun pemuda itu tidak mengatakan bahwa dia menagih
janji jawaban Hwe Li, namun Hwe Li sudah merasakannya dan
hal ini membuat ia menjadi semakin gelisah. sampai saat itu ia
masih belum dapat mengambil keputusan jawaban bagaimana
yang harus ia katakan kepada pemuda itu. Ia tidak menjawab,
melainkan kembali ke kamar besar dan menyisir rambutnya yang
panjang, lalu menyanggulnya. Karena di situ tidak terdapat
bedak. maka ia hanya menggosok gosok kulit mukanya sehingga
menjadi kemerahan.
Setelah selesai, ia tinggal saja di dalam kamarnya, tidak
berani keluar dari kamar itu karena ia masih belum dapat
mengambil keputusan. Akhirnya, sebuah ketukan dipintu
membuat ia terkejut dan menengok ke arah pintu tanpa bergerak.
Dewi Ular 170
Koleksi Goldy Senior
"Li-moi, keluarlah kalau engkau sudah selesai. Kita makan
pagi" terdengar suara Siangkoan Tek lembut. Terpaksa Hwe Li
bangkit berdiri, masih bingung bagaimana nanti harus menjawab
pertanyaan pemuda itu. Ia melangkah keluar dan melihat betapa
Siangkoan Tek sudah berganti pakaian baru dan nampak tampan
sekali pagi itu. Ketika bertemu pandang, Hwe Li menundukkan
mukanya dan ia membiarkan saja ketika tangannya dipegang dan
digandeng oleh Siangkoan Tek.
"Kita makan di ruangan belakang," kata pemuda itu dan Hwe
Li hanya menurut saja digandeng menuju ke ruangan belakang.
Hidangan untuk makan pagi ternyata telah disiapkan.
Siangkoan Tek lalu membimbingnya duduk menghadapi meja
dan mereka lalu makan pagi. Kalau Siangkoan Tek makan pagi
dengan penuh semangat dan tampak gembira sekali, sebaliknya
Hwe Li makan dengan lambat. sampai saat itu ia masih merasa
bingung sekali. sebagian dari perasaannya mendorongnya untuk
menyambut uluran hati pemuda itu, akan tetapi sebagian lagi
masih sangsi.
Baru saja mereka selesai makan, terdengar ribut-ribut dan
derap kaki banyak kuda di luar kuil. Dua orang anak buah
bergegas masuk dan melaporkan dengan suara gemetar,
"Kongcu, tempat kita diserbu banyak sekali perajurit. Kita
telah dikepung dari semua penjuru"
Tentu saja Siangkoan Tek merasa terkejut. "Siapkan semua
anak buah. Lawan mati-matian" perintahnya. Dua orang itu cepat
pergi dan Siangkoan Tek lalu bertanya kepada Hwe Li,
"Hwe Li, bagaimana Kim-liong-pang dapat mendatangkan
pasukan pemerintah?"
"Ini tentu perbuatan suheng Lai Siong Ek. Dia adalah putera
jaksa di Pao-ting dan tentu ayahnya yang mengerahkan pasukan
Dewi Ular 171
Koleksi Goldy Senior
dengan maksud untuk menolong aku, Tek-ko. Karena itu,
sebaiknya engkau menyerah. Akulah yang akan menanggung
agar engkau tidak dihukum. Akan kuceritakan bahwa engkau
memperlakukan aku dengan baik sekali."
Akan tetapi Siangkoan Tek cepat memegang tangan Hwe Li
dan dia pun berkata, suaranya tegas, "Mari kita melihat keluar"
Setelah mereka tiba di luar kuil, Siangkoan Tek melihat anak
buahnya telah terlibat dalam pertempuran yang tidak seimbang
melawan puluhan orang perajurit, bahkan mungkin ada seratus
orang perajurit yang sudah mengepung kuil itu. sekali pandang
saja maklumlah Siangkoan Tek bahwa tidak mungkin anak
buahnya menang, dan kalau terlambat akan sukar pulalah dia
untuk dapat melarikan diri dari kepungan sekian banyak prajurit.
Maka, secepat kilat dia menotok pundak Hwe Li yang menjadi
lemas dan dia lalu memanggul tubuh gadis itu ke atas pundak
kirinya dan setelah mencari bagian yang agak lemah
penjagaannya atau kepungan para perajurit itu, yaitu di sebelah
kiri, dia lalu melompat ke situ dan dengan pedangnya dia
merobohkan setiap perajurit yang berani menghadangnya.
––––––––––
Jilid 6
"LEPASKAN Sumoi" terdengar bentakan dan ternyata Lai
Siong Ek sudah berada di situ dan menyerang Siangkoan Tek
dengan pedangnya.
"Trang-tranggg......" Dua kali pedang siong Ek bertemu
dengan pedang Siangkoan Tek dan pedang di tangan Siong Ek
terpental. Dua orang perwira pasukan datang membantunya.
Akan tetapi mereka tidak berani menyerang dengan serampangan
karena Siangkoan Tek memanggul tubuh Hwe Li, khawatir kalau
serangannya mengenai tubuh gadis itu. Kesempatan ini
Dewi Ular 172
Koleksi Goldy Senior
dipergunakan oleh Siangkoan Tek untuk melompat jauh dan dia
melarikan diri dengan cepat. Siong Ek dan dua orang perwira,
diikuti oleh belasan orang perajurit mengejar, akan tetapi mereka
ini kalah jauh dalam hal lari cepat oleh Siangkoan Tek sehingga
sebentar saja pemuda itu sudah lenyap ke dalam hutan lebat.
Siangkoan Tek masuk ke dalam semak belukar dan agar dia
tidak terganggu oleh berat badan Hwe Li, dia membebaskan
totokannya pada gadis itu.
"Sstt, jangan mengeluarkan suara, Li-moi. Kalau kita
ketahuan, terpaksa aku akan membunuh suhengmu itu"
Hwe Li menjadi serba salah, kalau ia menjerit, tentu mereka
akan dikepung dan la tidak ingin melihat Siangkoan Tek
dikeroyok sampai tewas. Akan tetapi kalau ia diam saja, ia akan
dibawa pergi oleh pemuda itu Ia merasa serba salah dan ia pun
diam saja, akan tetapi kedua matanya menjadi basah, apalagi
ketika ia mendengar teriakan ayahnya,
"Kejar dan cari sampai berhasil ditemukan" Demikian
terdengar suara souw Can yang juga ikut datang bersama semua
anak buah Kim-liong-pang.
Setelah para pencari itu lewat, Siangkoan Tek lalu menarik
tangan Hwe Li dan diajaknya gadis itu lari ke lain jurusan.
Akhirnya mereka meninggalkan bukit itu. Siangkoan Tek tidak
mempedulikan lagi keadaan anak buahnya yang terbasmi oleh
pasukan yang menyerbu kuil itu. Mereka sudah jauh
meninggalkan para pengejarnya dan tiba di sebuah padang
rumput.
"Kenapa engkau berhenti Li-moi? Kita lanjutkan perjalanan
menjauhi bukit agar tidak dapat dikejar lagi."
Dewi Ular 173
Koleksi Goldy Senior
Tempat itu sunyi, jauh dari pedusunan dan Hwe Li
memandang ke sekelilingnya. "Tek-ko, aku akan kembali ke
rumah orang tuaku."
"Kenapa, Li-moi? Bukankah engkau sudah ikut denganku
melarikan diri?"
"Akan tetapi ke mana engkau hendak membawaku pergi,
Tek-ko? Aku takut, orang tuaku tentu akan mencariku. Aku harus
pulang" Hwe Li membalikkan tubuhnya dan hendak berlari
kembali ke bukit itu agar dapat pulang ke Pao-ting.
Akan tetapi Siangkoan Tek dengan sekali lompatan sudah
menghadang di depannya. "Li-moi, dalam keadaan seperti ini
engkau hendak meninggalkan aku? Bukankah kita sudah menjadi
sahabat baik? Dan engkau belum menjawab pertanyaanku
kemarin. Maukah engkau mempererat lagi hubungan
persahabatan klta dan menjadi kekasihku?"
Wajah Hwe Li berubah merah dan ia menjadi serba salah.
Jelas bahwa pemuda ini bukan perampok. dan buktinya juga tidak
membela para perampok ketika diserbu pasukan. Akan tetapi, ia
masih tetap sangsi walaupun ia tertarik sekali kepadanya. Akan
mudah sekali untuk jatuh cinta kepada pemuda seperti Siangkoan
Tek. akan tetapi hatinya masih diliputi keraguan. Apakah
ayahnya akan dapat menerima pemuda ini sebagai calon
suaminya kalau mengetahui bahwa pemuda ini yangpernah
memimpin gerombolan perampok merampas dua buah kereta?
Tentu Lai siong Ek akan mengenalnya.
"Aku.. aku tidak tahu, Tek-ko...." jawabnya lirih.
"Li-moi, aku cinta padamu.." Siangkoan Tek merangkul lalu
mencium wajah yang cantik itu. semula Hwe Li mandah saja dan
tenggelam ke dalam kemesraan, akan tetapi ia lalu teringat bahwa
ia bukan tunangan pemuda itu, maka ia meronta. Apalagi ketika
Dewi Ular 174
Koleksi Goldy Senior
tangan Siangkoan Tek meraba-raba dengan berani. ia meronta
sehingga terlepas dari rangkulan pemuda itu.
"Jangan, Tek-ko....jangan......"
"Li-moi, aku tahu bahwa engkau juga mencintaiku" kata
Siangkoan Tek yang meraih kembali dan merangkul gadis itu.
Hwe Li meronta dan pada saat itu terdengar bentakan halus dan
nyaring, "Lepaskan gadis itu"
Mendengar bentakan suara wanita ini, Siangkoan Tek
melepaskan rangkulannya dari tubuh Hwe Li dan cepat
membalikkan tubuhnya. Dia melihat bahwa yang membentak tadi
adalah seorang gadis yang cantik jelita dan yang berdiri tegak
dengan sepasang mata mencorong marah. Pakaian gadis itu
berkembang cerah dan wajahnya cantik sekali. Wajah itu
berbentuk bulat telur, mulutnya kecil dengan bibir mungil merah
membasah. Hidungnya mancung dengan ujungnya agak
menjungat ke atas, nampak lucu menantang. Di kedua ujung
mulutnya tampak lesung pipit yang manis. sebatang pedang
tergantung dipunggung dan di pinggangnya terselip sebatang
suling membuat ia selain nampak cantik jelita juga gagah
perkasa. Terutama sekali matanya yang mencorong itu, sungguh
berwibawa. Dan seketika Siangkoan Tek teringat akan gadis ini
dan wajahnya berseri. Dia segera mengenal wajah ini.
"Kau. kau. Nona Lee Cin murid Ang-tok Mo-li.... Ah, sudah
lama aku mencarimu, adik manis"
"Hemm, Siangkoan Tek. engkau manusia jahanam. Di mana-
mana engkau mengejar gadis-gadis cantik. Aku tidak mempunyai
urusan denganmu, kecuali untuk menghajarmu. Ada urusan apa
engkau mencariku?"
"Sejak pertemuan kita dahulu, aku selalu teringat kepadamu,
Cin-moi. Siang malam aku teringat kepadamu. Marilah ikut aku
Dewi Ular 175
Koleksi Goldy Senior
pulang ke Pulau Naga. Ayahku juga setuju kalau engkau
menjadi.."
"Tutup mulutmu yang kotor" Bentak Lee Cin dan secepat
kilat ia sudah menyerang pemuda itu. Tangan kanannya meluncur
seperti seekor ular yang mematuk ke arah leher pemuda itu.
Siangkoan Tek maklum benar betapa lihainya gadis ini,
maka dia pun tidak berani main-main dan sudah mencelat ke
belakang untuk menghindarkan serangan itu. Akan tetapi Lee Cin
tidak memberi kesempatan lagi kepadanya untuk banyak cakap
karena gadis itu sudah menyerang lagi, lebih hebat kini karena ia
mainkan jurus ampuh dari Ang-coa-kun (silat Ular Merah) yang
ia warisi dari gurunya atau juga ibunya. serangan ini ampuh
sekali. Bukan saja kuat dan cepat, akan tetapi ilmu pukulan ini
juga mengandung hawa beracun yang amat berbahaya.
Menghadapi serangan yang datangnya bertubi ini, Siangkoan Tek
segera terdesak. Dia maklum akan bahaya yang mengancamnya,
maka dia meraba punggungnya dan di lain saat dia telah
mencabut sebatang pedang yang berkilauan saking tajamnya.
Dengan pedang ini dia membalas serangan Lee Cin sampai tiga
kali berturut-turut. Lee Cin juga sudah tahu bahwa lawannya
adalah putera Datuk Besar dari timur, maka ia cepat mengelak
tiga kali sambil berlompatan mundur. Ketika ia maju kembali, ia
sudah memegang Ang-coa-kiam.
"Trang-cring-trang....." berkali-kali kedua pedang itu
bertemu di udara dan bunga api berpijar ketika dua pedang yang
sama kuatnya ini berbenturan.
Keduanya segera terlibat dalam perkelahian pedang yang
amat seru. sementara itu, sejak tadi Hwe Li memandang dengan
mata terbelalak. Bermacam perasaan teraduk dalam hatinya.
Jantungnya masih berdebar kalau ia teringat akan ciuman-ciuman
yang diterimanya dari Siangkoan Tek tadi. Masih terasa
Dewi Ular 176
Koleksi Goldy Senior
hangatnya ciuman itu. Dan hatinya terasa panas sekali ketika
mendengar betapa pemuda itu seolah-olah tergila-gila kepada
gadis cantik yang kini bertanding dengan Siangkoan Tek. la
merasa cemburu.
Akan tetapi kenyataan bahwa gadis itu datang untuk
menolongnya, membuatnya menjadi ragu. kemudian ia melihat
betapa gadis itu lihai sekali dan seolah mendesak Siangkoan Tek
dengan pedangnya yang menjadi gulungan sinar merah. Timbul
rasa khawatir dalam hati Hwe Li, Jangan-jangan Siangkoan Tek
akan kalah dan terluka, atau terbunuh. Mendadak ada dorongan
dari dalam hatinya, dan ia lalu mencabut pedangnya dan
melompat maju menyerang Lee Cin, membantu Siangkoan Tek.
"Eh.....??" Lee Cin terkejut dan merasa heran sekali ketika
melihat betapa gadis yang ditolongnya itu tiba-tiba membantu
Siangkoan Tek mengeroyoknya. Biarpun ilmu pedang gadis itu
tidak sehebat ilmu pedang Siangkoan Tek. akan tetapi kepandaian
gadis itu sudah cukup tinggi sehingga Lee cin segera terdesak
ketika dikeroyok dua. juga ia ragu-ragu untuk melukai gadis yang
tidak dikenalnya itu.
Maka ia lalu memutar pedangnya dengan cepat untuk
melindungi dirinya. Ingin ia membunuh Siangkoan Tek yang ia
tahu merupakan seorang pemuda mata keranjang, cabul dan jahat.
Akan tetapi dengan majunya Hwe Li, Lee Cin tidak melihat
kesempatan untuk merobohkan Siangkoan Tek, bahkan
sebaliknya ia menjadi terdesak sekali. Ia merasa jengah sendiri
kalau mengingat betapa ia tadi hendak menolong gadis itu,
padahal kenyataannya gadis itu sama sekali tidak membutuhkan
pertolongan. Gadis itu tidak dipaksa atau terancam oleh
Siangkoan Tek. sebaliknya malah, gadis itu kini membantu
pemuda itu yang menunjukkan bahwa gadis itu bersahabat erat
dengan Siangkoan Tek. Dan kini malah ia yang terancam bahaya.
Dewi Ular 177
Koleksi Goldy Senior
Kalau tidak disudahi perkelahian itu, akhirnya ia tentu akan
terkena senjata lawan.
Berpikir demikian, Lee Cin lalu menyerang dengan hebat ke
arah Hwe Li yang membuat gadis ini terpaksa meloncat mundur
ke belakang dan kesempatan itu dipergunakan oleh Lee cin untuk
melompat jauh dan melarikan diri secepatnya. Ia pikir bahwa
yang akan mampu mengejarnya hanya Siangkoan Tek dan belum
tentu gadis itu mempunyai ilmu meringankan tubuh yang dapat
menandinginya sehingga dapat mengejarnya. Kalau hanya
Siangkoan Tek yang mengejar sendiri, setelah jauh ia akan
menghadapi pemuda jahat itu.
Akan tetapi Siangkoan Tek adalah seorang pemuda yang
cerdik. Dia tidak terpancing dan tidak melakukan pengejaran.
Untuk apa mengejar Lee Cin kalau hal itu bahkan akan
membahayakan? Dia mendapat kenyataan betapa Lee Cin bahkan
lebih lihai daripada dahulu. Biarlah, sekali ini dia terpaksa
membiarkan Lee Cin kabur, akan tetapi lain kali dia harus
berusaha untuk dapat menangkap
Lie Cin. Hanya gadis itu yang dia anggap pantas untuk
menjadi isterinya.
"Tek-ko."
Siangkoan Tek memutar tubuhnya, memandang Hwe Li
sambil tersenyum dan menyimpan pedangnya. Gadis itu sudah
menyimpan pedangnya dan kini memandang kepadanya dengan
marah
"Li-moi, terima kasih. Engkau telah membantuku"
"Tek-ko, siapakah gadis itu?" tanya Hwe Li sambil cemberut
karena hatinya dicekam cemburu.
Dewi Ular 178
Koleksi Goldy Senior
"Ah, ia? la bernama Lee Cin, dan ia murid seorang tokoh
besar dunia persilatan yang berjuluk Ang-tok Mo-li. Ilmu
kepandaiannya hebat, akan tetapi dengan bantuanmu, kita dapat
mendesaknya dan kalau ia tidak melarikan diri, kita tentu akan
dapat merobohkannya. "
"Hemm, kalau dapat merobohkannya selanjutnya akan kau
apakah?"
"Ia? Ah.. akan kubunuh tentu saja"
"Benarkah itu? Aku tadi mendengar betapa engkau selalu
teringat kepadanya Tek-ko, engkau.. engkau cinta kepadanya"
"Hushh...., engkau ngawur, Li-moi. Kalau aku mencintanya,
mengapa kami bertanding mati-matian? Aku memang selalu
teringat kepadanya karena diantara kami pernah terjadi
permusuhan"
"Akan tetapi engkau bilang tadi bahwa kalau ia mau ikut
denganmu ke Pulau Naga, ayahmu akan....."
"Akan memaafkan kesalahannya dan menyudahi permusuhan
antara kami. Ia lihai sekali, tidak enak bermusuhan dengan lawan
selihai itu, maka aku membujuknya untuk menghabisi
permusuhan. Jangan menyangka yang tidak-tidak, Li-moi. Aku
hanya mencinta engkau seorang"
Setelah berkata demikian, Siangkoan Tek lalu merangkul dan
menciumi gadis itu Hwe Li seperti mabok dan membiarkan
dirinya dibelai dan ia hanya memejamkan matanya dan
tenggelam ke dalam rangkulan Siangkoan Tek.
Kita tinggalkan dahulu Hwe Li yang tenggelam ke dalam
lautan nafsu berahi, terbakar oleh berahi Siangkoan Tek dan gadis
yang kurang pengalaman hidup dan yang memiliki pandangan
sempit itu terbuai dan pasrah saja ke tangan pemuda yang
Dewi Ular 179
Koleksi Goldy Senior
menarik hatinya dan yang dianggapnya sebagai manusia terbaik
di dunia ini.
Lee Cin melarikan diri dan ia mengerutkan alisnya, hatinya
merasa penasaran sekali melihat sikap gadis yang ditolongnya itu.
Kalau tidak ada gadis itu yang membantunya, ia hampir yakin
akan dapat membunuh pemuda jahat itu Ia teringat betapa dahulu,
dua tahun yang lalu, ia bertemu dengan Siangkoan Tek dan
ayahnya, Siangkoan Bhok. Ia bertanding dengan mereka Can
akhirnya tertotok roboh oleh dayung Siangkoan Bhok yang lihai.
Ketika itu, Siangkoan Tek membawanya ke balik semak-semak
dan hendak memperkosanya, dibiarkan saja oleh ayah pemuda
itu. Untung baginya, pada saat yang amat gawat itu Ia tertolong
oleh Thio Huisan murid In Kong Thaisu. (baca Kisah Gelang
Kemala).
Karena amat membenci Siangkoan Tek. setelah peristiwa itu,
ia mengambil keputusan untuk membunuh pemuda itu apabila
bertemu kembali. Ketika melihat Hwe Li meronta- ronta dalam
pelukan Siangkoan Tek. Lee Cin mengira bahwa pemuda itu
hendak memperkosanya maka ia lalu membentak dan turun
tangan menyerang Siangkoan Tek.
Akan tetapi siapa kira, setelah ia mulai mendesak Siangkoan
Tek. gadis itu terjun dalam perkelahiun dan malah membantu
Siangkoan Tek mengeroyoknya. Padahal ia beranggapan bahwa
ia telah menyelamatkan gadis itu dari tangan Siangkoan Tek yang
hendak memperkosanya. Benar-benar membuat ia penasaran
sekali.
Kalau dulu, di waktu ia masih berada di bawah bimbingan
gurunya atau ibu kandungnya, Ang-tok Mo-li, ia tidak akan lari
menghadapi perkelahian. Biarpun ia terdesak oleh keroyokan dua
orang, dahulu seperti gurunya ia tidak pernah mengenal takut,
tidak pernah mau mundur apalagi melarikan diri. Ia tentu akan
Dewi Ular 180
Koleksi Goldy Senior
kembali lagi dan menggunakan segala daya, kalau perlu
memanggil ular-ularnya, untuk membalas dan berhasil
membunuh Siangkoan Tek.
Akan tetapi semenjak ia tinggal bersama ayah kandungnya
dan menerima bimbingan ayahnya, ia mendapat banyak nasihat
dan di antaranya, agar ia tidak sembarangan membunuh orang
dan tidak menjadi nekat walaupun keadaannya kalah kuat. Tidak
suka melarikan diri walaupun sudah terhimpit dan kewalahan,
bukan sikap seorang yang gagah perkasa, melainkan perbuatan
orang bodoh yang sama seperti ingin mati konyol atau
membunuh diri. Sewaktu ada kesempatan, orang harus
menyelamatkan diri lebih dulu, membebaskan diri dari ancaman
maut agar dapat bertindak lebih jauh.
Bagaimana Lee Cin tiba-tiba dapat muncul di situ bertemu
dengan Siangkoan Tek dan Hwe Li? Gadis ini melakukan
perjalanan bersama Thio Hui san, menuju ke Kwi-su di mana
terdapat kuil siauw-lim-si. Kebetulan sekali ketika mereka tiba di
kuil itu, Hui sian Hwesio sedang berada di situ sehingga Lee cin
dapat menghadap wakil ketua siauw-lim-pai ini dan
menyampaikan pesan ayahnya kepada Huisan Hwesio.
Ketika itu, Hui sian Hwesio sedang duduk dengan in Kong
Thaisu, ketua siauw-lim-pai. Mendengar pesan Souw Tek Bun
yang disampaikan Lee Cin bahwa bengcu ini mengundurkan diri,
kedua orang hwesio itu mengerutkan alisnya.
"Omitohud....." kata Hui sian Hwesio. "Akan tetapi mengapa
ayahmu Souw Tek Bun hendak mengundurkan diri sebagai
bengcu? Padahal menurut pinceng (saya), pada waktu ini tidak
ada orang lain yang lebih pantas untuk menjadi bengcu. Kenapa
ada keputusan yang tiba-tiba ini?"
Dewi Ular 181
Koleksi Goldy Senior
"Ayah mengambil keputusan ini setelah dia terluka oleh
pukulan seseorang yang menggunakan pukulan telapak tangan
hitam dan pukulan merontokkan jalan darah."
"Omitohud.. siapa yang melakukan pukulan keji itu?" In
Kong Thaisu berkata sambil merangkap sepuluh jari tangannya
ke depan dada.
"Teecu (murid) tidak tahu, juga Ayah tidak tahu karena
penyerang itu berkedok hitam. Teecu berhasil menyelamatkannya
dengan totokan-totokan it-yang-ci dan Ayah sudah minum obat
pembersih darah. Akan tetapi Ayah masih harus menggunakan
waktu sedikitnya sebulan untuk memulihkan tenaganya."
Hui sian Hwesio mengerutkan alisnya. "Apakah hanya
karena serangan itu souw Bengcu hendak mengundurkan diri?
setiap orang pendekar selalu tentu menghadapi bahaya serangan
musuh-musuh dari golongan sesat, bukan hanya kalau menjadi
bengcu saja. Alasan souw Bengcu hendak mengundurkan diri
sungguh tidak kuat dan tidak masuk akal."
"Susiok, Ayah sama sekali bukan hendak mengundurkan diri
karena takut menghadapi musuh. Akan tetapi ada suatu hal yang
meresahkan hati Ayah, yaitu kalau dia dianggap sebagai bengcu
antek Kerajaan Mancu. Karena dia diangkat bengcu dengan restu
dari Kerajaan Mancu, maka para patriot dan pendekar yang anti
penjajah tentu akan memusuhinya dan Ayah tidak senang kalau
dia harus bermusuhan dengan para patriot karena dalam sudut
hati Ayah sendiri, dia tidak suka kepada penjajah Mancu."
"Omitohud..., kiranya itukah sebabnya?" kata Hui sian
Hwesio. "Kalau itu alasannya, sungguh masuk akal. Akan tetapi
karena souw- bengcu menjadi bengcu setelah dipilih semua
pihak. maka tidak bisa dia meletakkan kedudukan begitu saja.
Dia harus mengundurkan diri di depan semua pihak dan
mengingat bahwa pada bulan lima semua orang gagah kami
Dewi Ular 182
Koleksi Goldy Senior
undang ke Hong-san untuk mengadakan rapat membicarakan
gerakan orang-orang gagah dipantai timur yang terbujuk orang-
orang Jepang untuk mengadakan pemberontakan, maka sekalian
ayahmu mengajukan pernyataan berhenti menjadi bengcu dalam
rapat besar itu."
"Kalau begitu halnya, sebaiknya kalau susiok mengutus
suheng Thio Hui san memberi kabar kepada Ayah, karena saya
hendak melanjutkan perjalanan saya untuk mencarisi Kedok
Hitam yang telah melukai ayah. Mohon petunjuk kepada suhu
dan susiok, siapakah kira-kira si Kedok Hitam yang masih muda
dan yang menggunakan pukulan penghancur jalan darah yang
bertapak tangan hitam itu?"
Dua orang hwesio itu saling pandang, kemudian in Kong
Thaisu menoleh kepada Thio Hui san. "Hui san, engkau yang
banyak berkelana di dunia kang-ouw, apakah engkau tidak dapat
menduga siapa orang yang memiliki ilmu tapak tangan hitam
penghancur jalan darah seperti itu?" tanyanya sambil menatap
wajah muridnya.
"Teecu teringat bahwa memang ada sebuah keluarga yang
namanya terkenal di dunia kang-ouw dengan ilmu silat tangan
kosong mereka. Keluarga itu adalah keluarga Cia yang tinggal di
Hui-cu, di kaki Bukit Lo-sian (Dewa Tua). Keluarga itu terkenal
sekali dengan ilmu tapak tangan hitam mereka. Akan tetapi
tokoh-tokohnya telah meninggal dunia dan yang tinggal hanya
seorang nenek. Kabarnya Nenek Cia ini yang mewarisi semua
ilmu keluarga cia. selanjutnya teecu tidak tahu, suhu."
"Hemm, keluarga Cia di Hui-cu kaki Bukit Lo-sian?" Lee
Cin menyambung sambil mengerutkan alisnya. "Biarpun
petunjuk itu samar dan mungkin keluarga Cia sama sekali tidak
ada hubungannya dengan si Kedok Hitam, akan tetapi baik juga
kalau aku menyelidiki ke sana, suheng."
Dewi Ular 183
Koleksi Goldy Senior
"Memang sebaiknya begitu, Lee Cin. Akan tetapi ingat,
engkau hanya menyelidiki saja, jangan sampai terjadi kesalah-
pahaman sehingga engkau menjadi bermusuhan dengan keluarga
itu. Jangan sekali- kali mudah menuduh orang sebelum engkau
melihat buktinya. Eh, Hui san- keluarga Cia itu termasuk
golongan apakah? Mudah-mudahan mereka bukan golongan
sesat," kata In Kong Thaisu.
"Sama sekali bukan, suhu. Menurut yang teecu dengar,
keluarga itu malah terkenal sebagai keluarga yang menentang
kejahatan, keluarga yang gagah perkasa akan tetapi tidak suka
menonjolkan diri di dunia kang-ouw sehingga tentang mereka,
tidak banyak orang mengetahuinya," jawab pemuda itu.
Setelah menerima banyak nasihat dari in Kong Thaisu, Lee
Cin lalu meninggalkan kuil siauw-lim-si untuk melanjutkan
perjalanannya. Kini tugasnya ada dua. Pertama, menyelidiki
keluarga Cia dan kedua, mencari ibunya dan membujuk ibunya
agar suka berbaik kembali dengan ayahnya.
Sementara itu, Hui san juga meninggalkan kuil siauw-lim-si
untuk memberi kabar kepada souw- bengcu tentang rapat
pertemuan yang akan diadakan di Hong-san, tempat tinggal
souw- bengcu. dalam hatinya, pemuda ini merasa kecewa bahwa
dia harus melakukan perjalanan seorang diri. Alangkah beda
rasanya melakukan perjalanan seorang diri dengan berjalan
bersama Lee Cin. Dia tahu bahwa dia sudah jatuh cinta untuk
kedua kalinya kepada Lee cin.
Demikianlah, ketika melakukan perjalanan menuju ke kota
Hui-cu di kaki Bukit Lo-sian, di tengah perjalanan Lee Cin
bertemU dengan Siangkoan Tek dan souw Hwe Li. sama sekali ia
tidak pernah mimpi bahwa antara ia dan Hwe Li terdapat tali
persaudaraan yang tidak begitu jauh. Mereka berdua sama-sama
bermarga souw dan souw Tek Bun masih terhitung saudara
Dewi Ular 184
Koleksi Goldy Senior
sepupu dari souw can, sungguhpun keduanya sejak muda sekali
tidak pernah lagi saling berhubungan. Kalau saja ia mengetahui,
tentu tidak begitu mudah ia membiarkan Hwe Li berdua saja
dengan pemuda yang ia ketahui amat keji itu.
Kota Bi-ciu merupakan kota yang cukup besar dan ramai
karena kota itu menjadi pusat perdagangan. Daerah itu
merupakan gudang rempah-rempah dan juga penduduknya hidup
makmur sehingga banyak barang dagangan dibawa para
pedagang memasuki kota itu. Karena banyaknya tamu yang
setiap hari mendatangi kota Bi-ciu, di situ tumbuh rumah makan
dan rumah penginapan seperti jamur di musim hujan. Banyak
restoran dan hotel, dari yang kecil sederhana sampai yang besar
mewah.
Pada suatu siang, disebuah restoran yang cukup besar penuh
dengan tamu yang hendak makan siang. Karena restoran besar ini
juga merangkap sebagai hotel yang memiliki puluhan kamar,
maka restoran itu selalu penuh tamu dari luar ataupun tamu yang
bermalam di situ. Siang itu hawanya panas sekali. Apalagi dalam
restoran yang penuh orang itu, hawanya lebih panas lagi.
Ketika para pelayan sedang sibuk melayani para tamu,
masuklah seorang pemuda yang menarik perhatian orang.
Pemuda ini berwajah tampan dan pakaiannya serba putih dari
sutera halus, potongannya seperti yang biasa dipakai para siucai
(pelajar). Akan tetapi walaupun pakaiannya seperti sastrawan,
namun dipunggungnya tergantung sepasang pedang dan
dipinggangnya terselip pisau pisau belati kecil sehingga tahulah
orang bahwa pemuda itu tidak selembut tampaknya, melainkan
seorang pemuda yang biasa berkelana di dunia kang-ouw.
Memang sebenarnya demikianlah, karena pemuda itu bukan lain
adalah ouw Kwan Lok, murid Thian-te Mo-ong dan mendiang
Pak-thian-ong itu.
Dewi Ular 185
Koleksi Goldy Senior
Pengalamannya yang pertama amat pahit. Ketika dia sudah
berhasil melarikan Liu Ceng atau Ceng Ceng dan hendak
memaksa gadis cantik itu menjadi kekasihnya, muncul Thian-tok
Gu Kiat Seng dan terpaksa dia lari meninggalkan Ceng Ceng
karena Thian-tok merupakan lawan yang amat tangguh, apalagi
dibantu Ceng Ceng. Pengalaman ini membuat Kwan Lok berhati-
hati dan membuka matanya bahwa betapapun banyak ilmu yang
telah diperolehnya dari kedua orang gurunya, di dunia kang-ouw
banyak terdapat tokoh yang dapat menandinginya.
Siang itu tibalah dia di kota Bi-ciu dan karena sejak pagi dia
belum makan, dia memasuki rumah makan yang ramai dan
disambut seorang pelayan dengan hormat.
"Kongcu hendak makan? Kebetulan sekali masih ada meja
yang kosong, hanya tinggal satu meja itulah. Mari silakan,
Kongcu."
Kwan Lok mengikuti pelayan itu dan duduk menghadapi
meja kosong yang letaknya di sudut. Meja itu barusaja
ditinggalkan tamu yang makan. Pelayan segera menggunakan
kain lapnya untuk membersihkan meja itu sambil bertanya,
"Kongcu hendak memesan masakan apa?"
Kongcu itu menatap ke sebelah kirinya. Terpisah tiga meja
dari mejanya agak ke tengah, dia melihat seorang gadis makan
seorang diri dan dilihat dari situ, gadis itu cantik sekali dan
makan dengan gerakan halus dan sopan, namun kelihatan nikmat
sekali.
"Aku hendak memesan nasi dan masakan seperti yang
dimakan nona di sana itu." Dia menunjuk ke arah gadis itu dan si
pelayan mengangguk-angguk mengerti.
"Dan minumnya?"
"Arak seguci kecil dan air teh."
Dewi Ular 186
Koleksi Goldy Senior
Pelayan pergi untuk mempersiapkan pesanan Kwan Lok dan
pemuda ini sengaja duduk menghadap ke arah gadis itu sehingga
dia dapat melihat gadis itu dari samping. Dia kagum dan tertarik,.
Di atas meja depan gadis itu terdapat sebatang pedang Hal ini
menunjukkan bahwa gadis itucun bukan orang lemah. Kalau
seorang gadis sudah berani metakukan perjalanan seorang diri
membawa-bawa pedang, setidaknya ia tentu pernah belajar silat
pedang dan melihat sikapnya yang demikian lembut namun tidak
malu-malu dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, Kwan Lok
dapat menduga bahwa gadis itu tentu memiliki ilmu kepandaian
silat yang berarti.
Gadis itu dilihat dari samping amat cantik menarik. Ketika
gadis itu kebetulan menoleh ke arahnya, Kwan Lok dapat melihat
wajah itu dari depan dan dia terpesona. Bukan main cantik
jelitanya gadis itu. Aku harus dapat mendekatinya dan berkenalan
dengannya, pikirnya. Akan tetapi gadis itu berada di tempat
umum dan menegur gadis itu begitu saja merupakan perbuatan
yang kasar dan tidak sopan. Kwan Lok tidak mau mendatangkan
kesan buruk di hati gadis itu.
Kwan Lok sama sekali tidak pernah menduga bahwa gadis
itu justru merupakan seorang di antara tiga orang musuh besar
gurunya, yang harus dibunuhnya. Thian-te Mo-ong, gurunya,
berpesan kepadanya agar dia mencaritiga orang di dunia kang-
ouw, yaitu pertama song Thian Lee, ke dua, seorang gadis
bernama Tang cin Lan puteri Pangeran Tang Gi su dan ke tiga
seorang gadis pula bernama Lee Cin murid Ang-tok Mo-li. Dia
tidak pernah menduga bahwa gadis itu adalah souw Lee cin.
Lee Cin melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Hui-cu
untuk menyelidiki keluarga Cia yang kabarnya memiliki ilmu
pukulan tapak tangan hitam dan pada hari itu ia tiba di kota Bi-
ciu. Melihat kola yang ramai itu, Lee Cin ingin tinggal beberapa
Dewi Ular 187
Koleksi Goldy Senior
hari lamanya untuk bertanya-tanya barang kali ibunya berada di
kota itu. Biarpun ibunya tinggal di Bukit Ular di lembah sungai
Huang- ho, akan tetapi ibunya suka merantau dan sebelum
mencari ibunya di Bukit Ular, ia harus mendengar-dengar dan
mencari keterangan disetiap tempat yang ramai kalau- kalau
ibunya berada di situ. Maka Lee Cin lalu mencari rumah
penginapan yang juga membuka rumah makan besar di depan
rumah penginapan- siang hari itu ia makan di rumah makan, tidak
tahu bahwa ada orang yang sejak tadi memperhatikannya.
Setelah pesanan makannya dihidangkan, Kwan Lok segera
makan sambil kadang-kadang melirik ke arah gadis itu yang
makan dengan perlahan. Tiba-tiba tiga orang pria memasuki
rumah makan itu. Melihat pakaian mereka mudah diketahui
bahwa mereka adalah tiga orang pria yang kaya dan melihat lagak
mereka dapat diduga pula bahwa mereka tentulah orang-orang
yang merasa berkuasa. Dua orang pelayan segera menyambut
mereka dan dua orang pelayan itu membungkuk-bungkuk penuh
hormat. Tiga orang yang usianya sekitar tiga puluh sampai empat
puluh tahun itu bertolak pinggang dan memandang kesana-sini,
melihat meja meja yang penuh tamu.
"Mohon maaf sebesarnya, sam-wi Kongcu (Tiga orang Tuan
muda), akan tetapi rumah makan kami penuh tamu dan tidak ada
sebuah pun meja yang kosong. silakan menunggu sebentar
sampai ada tamu yang selesai makan dan meninggalkan
mejanya."
Tiga orang itu memandang ke sekeliling dan tiba-tiba
seorang di antara mereka menunjuk ke arah meja yang dihadapi
Lee cin, lalu berkata kepada pelayan itu, "Kami lihat di sana itu,
satu meja hanya dipakai makan seorang saja. Kami dapat
mengajak nona itu makan bersama" Dua orang temannya juga
memandang dan mereka mengangguk sambil tersenyum simpul.
Dewi Ular 188
Koleksi Goldy Senior
kemudian bergegas mereka menghampiri meja Lee cin, diikuti
oleh seorang pelayan yang kelihatan gelisah.
Setelah tiba di situ, mereka lalu menarik tiga buah bangku
yang masih kosong lalu duduk menghadapi meja Lee Cin yang
masih makan. Tentu saja gadis itu merasa heran dan memandang
dengan alis berkerut kepada tiga orang itu
"Nona, bangku- bangku ini masih kosong bukan?" tanya
seorang.
"Semua tempat penuh, kami dapat duduk disini, bukan?" kata
orang kedua.
"Daripada Nona makan seorang diri tiada teman, biarlah
kami bertiga menemani Nona makan minum. Hei, pelayan, cepat
sediakan arak terbaik dan keluarkan masakan yang termahal dan
paling lezat untuk kami. Nona ini makan bersama kami dan
semua kami yang akan bayar" kata orang he tiga dengan gembira.
Lee cin minum air tehnya lalu berkata lembut, "Harap kalian
bertiga mencari meja lain dan jangan mengganggu aku. Aku tidak
ingin ditemani."
"Aih, kenapa, Nona? Kami tidak akan mengganggu, bahkan
hendak menjamu dengan hidangan termahal."
"Kami akan menjadi teman makan yang menyenangkan,
Nona."
"Kami adalah tiga orang muda paling terkenal di kota ini,
undangan kami merupakan kehormatan besar bagi Nona."
Lee Cin menjadi jengkel. Lenyap selera makannya oleh
gangguan itu Kalau ia menjadi marah dan menghajar tiga orang
laki-laki tidak sopan ini, tentu ia akan menggemparkan rumah
makan yang penuh tamu itu, juga tentu akan ada prabot yang
rusak dan para tamu tentu akan meninggalkan tempat itu. Ia tidak
Dewi Ular 189
Koleksi Goldy Senior
menghendaki terjadi keributan. Akan tetapi kalau didiamkan saja,
tiga orang laki-laki ini tentu menjadi semakin kurang ajar. Ia
mengukur dengan pandang matanya jarak di antara mereka dan
ia. Jari tangannya tidak akan sampai ke tubuh mereka, akan tetapi
kalau disambung sumpit, tentu sampai.
"Sekali lagi, kuminta kalian bertiga cepat meninggalkan aku
seorang diri, atau aku akan menghajar kalian" katanya perlahan
akan tetapi penuh wibawa.
Tiga orang laki-laki itu tersenyum lebar. "Akan enak sekali
kalau dihajar oleh Nona yang cantik ini," kata seorang di antara
mereka dan yang dua orang menyeringai kurang ajar.
Dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti dengan mata,
tangan kanan Lee Cin yang masih memegang summit itu
bergerak tiga kali dan tiga orang pria itu seolah berubah menjadi
patung, duduk tidak bergerak dan tidak dapat bersuara lagi, hanya
matanya saja yang memandang dengan kaget dan ketakutan.
Lee Cin sudah tidak berselera lagi. Ia menaruh sumpitnya
dan menggapai seorang pelayan. Pelayan itu bergegas
menghampiri dan Lee Cin membayar harga makanan. Tadinya
pelayan itu tidak tahu bahwa tiga orang muda yang tidak sopan
itu berubah menjadi patung. Akan tetapi setelah Lee Cin bangkit
dan pergi membawa pedangnya, tiga orang itu masih duduk
seperti patung, dan pelayan itu memandang keheranan. Akan
tetapi dia pun tidak berani mengganggu dan meninggalkan tiga
orang itu yang telah memesan arak terbaik dan makanan paling
mahal. semua pelayan mengenal siapa tiga orang pria itu. Mereka
adalah putera seorang bangsawan dan dua orang hartawan, dan
terkenal amat royal, akan tetapi juga selalu menghendaki agar
perintah mereka ditaati.
Tentu saja Kwan Lok yang sejak tadi memperhatikan Lee
Cin, dapat melihat apa yang dilakukan gadis itu kepada tiga orang
Dewi Ular 190
Koleksi Goldy Senior
pria kurang ajar itu. Diam- diam dia terkejut sekali. Cara Lee Cin
menotok ketiga orang pengganggunya menunjukkan bahwa gadis
itu seorang ahli totok yang lihai sekali. Maka cepat dia pun
membayar harga makanan dan mengikuti gadis itu keluar rumah
makan. Kwan Lok membayangi dari kejauhan sehingga Lee Cin
tidak menaruh curiga.
Setelah pelayan datang membawa arak dan hidangan ke meja
tiga orang pria tadi, barulah pelayan merasa heran dan curiga.
Tiga orang itu tetap duduk diam saja.
"Sam-wi Kongcu, makanan telah saya hidangkan," katanya.
Tidak ada yang menjawab.
"Silakan sam-wi makan," katanya lagi sambil memandang
wajah mereka. Dan melihat mata mereka yang bergerak-gerak
ketakutan itu barulah pelayan itu menjadi sadar bahwa tiga orang
laki-laki itu tidak mampu bergerak. Yang bergerak hanya biji
mata mereka. Tentu saja dia menjadi panik dan segera memberi
tahu para pelayan lain. Keadaan menjadi ribut ketika para tamu
mengetahui bahwa ada hal yang tidak beres dengan tiga orang itu
Pemilik rumah makan yang juga mengenal baik para pemuda
itu, menjadi khawatir. Pemuda-pemuda yang menjadi kaku itu
diurut-urut, digosoki minyak. namun tetap saja tidak bergerak.
Akhirnya seorang yang terkenal sebagai tukang pukul datang
mendekati. Dia adalah seorang yang pandai ilmu silat dan melihat
keadaan tiga kongcu itu, dia pun menotok dan menekan sana sini,
mencari jalan-jalan darah terpenting dan akhirnya dia berhasil
secara kebetulan memunahkan totokan dan tiga orang itu pulih
dan dapat bergerak kembali. setelah dapat bergerak kembali, tiga
orang itu mencak-mencak.
"Keparat!! Di mana adanya gadis siluman tadi?" mereka
membentak-bentak. akan tetapi tidak ada pelayan yang
Dewi Ular 191
Koleksi Goldy Senior
mengetahui. Tukang pukul itu pun mengenal Lu- kongcu, seorang
di antara tiga pemuda itu, karena dia adalah putera Kepala Daerah
kota Bi-ciu. Melihat kesempatan baik ini untuk menonjolkan
jasanya, dia lalu bertanya kepada Lu- kongcu,
"Gadis siluman mana yang telah mengganggu Kongcu? saya
yang akan menangkap dan menyeretnya ke depan kaki Kongcu"
Mendengar ini, Lu-kongcu lalu mengajak dua orang
kawannya dan tukang pukul itu untuk berlari keluar dari rumah
makan. setibanya di luar, dia berkata kepada tukang pukul yang
bernama Coa Gu itu, "Cepat kumpulkan kawan-kawanmu dan
sebar mereka untuk mencari seorang gadis berpakaian cerah
berkembang, ada lesung pipit di kedua pipinya dan ia membawa
sebatang pedang. Kalau bertemu cepat memberitahu padaku,
akan kukerahkan perajurit menangkapnya"
"Baik, Lu- kongcu" si Tukang Pukul lalu cepat pergi untuk
melaksanakan perintah itu dan tiga orang pemuda itu lalu pulang
ke rumah Lu- kongcu. setibanya di rumah, pemuda putera Kepala
Daerah itu lalu minta kepada kepala jaga agar mempersiapkan
dua losin perajurit untuk menangkap "penjahat".
Tak lama kemudian, tukang pukul itu sudah berlari
menghadap dan mengatakan bahwa anak buahnya telah
menemukan gadis itu yang sedang berjalan-jalan di taman umum
di tengah kota Bi-ciu. Mendengar ini, Lu-kongcu dan dua orang
kawannya, diiringkan dua losin perajurit, mengikuti tukang pukul
Coa Gu dan berlari-lari menuju ke taman bunga umum yang
dimaksudkan itu.
Lee Cin memang memasuki taman bunga yang cukup indah
dari kota Bi-ciu. Di tengah taman itu terdapat sebuah kolam ikan
yang cukup luas dan terdapat banyak ikan emas berenang di
antara bunga teratai yang sedang berkembang. Banyak orang
yang menonton keasyikan ikan-ikan itu berkejaran. Lee Cin tidak
Dewi Ular 192
Koleksi Goldy Senior
tahu bahwa di antara mereka terdapat Kwan Lok yang terus
membayanginya sejak dari rumah makan tadi juga ia tidak tahu
bahwa ia dicari banyak orang yang kemudian seorang dari
mereka mcnemukan ia di taman itu
Disekeliling kolam ikan itu terdapat bangku-bangku panjang,
memang disediakan kepada mereka yang suka menonton ikan.
Lee Cin duduk di atas sebuah bangku, pedangnya sudah ia
ikatkan dipunggung. ia membeli roti kering yang dijual tak jauh
dari situ dan memberi makan ikan dengan roti kering. sungguh
asyik dan menggembirakan melihat betapa ikan-ikan itu
berduyun-duyun berenang dan memperebutkan makan itu.
Lee cin tidak merasa bahwa waktu cepat berlalu dan sudah
cukup lama ia duduk di bangku itu Roti kering sudah habis
diberikan kepada ikan-ikan, akan tetapi ia masih duduk
termenung. Melihat ikan yang berkelompok dan hilir mudik
berenang berbarengan itu, ia merasa bahwa ia bagaikan seekor
ikan tunggal yang tiada kawan. satu-satunya kawan dalarn hidup
ini baginya hanyalah ayah kandungnya. Ia merasa rindu kepada
ibunya, dan rindu kepada kawan- kawan yang dahulu sempat
dikenalnya. Ia rindu kepada Tang cin Lan, rindu kepada song
Thian Lee. Alisnya berkerut dan ia merasa bersedih. Pernah ia
jatuh cinta mati-matian kepada Thian Lee, akan tetapi ia melihat
kenyataan yang menyedihkan bahwa pemuda pujaannya itu tidak
membalas cintanya, bahwa Thian Lee telah mencinta gadis lain,
yaitu Cin Lan. Mereka kini telah menikah dan tinggal di kota
raja. Thian Lee menjadi seorang panglima besar dan hidup
berbahagia dengan cin Lan. Diam-diam ia merasa iri kepada Cin
Lan dan makin iba kepada diri sendiri la tenggelam ke dalam
lamunan yang menyedihkan sehingga lupa bahwa ia telah lama
sekali duduk termenung di tempat itu, kini tidak lagi memandang
kepada ikan-ikan. Pandang matanya kosong dan menerawang
Dewi Ular 193
Koleksi Goldy Senior
jauh. Tiba-tiba ia mendengar bentakan- bentakan di
sekelilingnya.
"Itu dia orangnya"
"Tangkap siluman betina itu"
"Kepung, jangan sampai lolos"
Lee Cin tadinya tidak menyadari apa artinya seruan-seruan
itu, akan tetapi ketika ia melihat banyak orang berpakaian
perajurit mengepungnya, baru ia menyadari bahwa ia yang akan
ditangkap. Tentu saja ia merasa heran dan bangkit memandangi
para perajurit itu dengan alis berkerut, akan tetapi ketika ia
melihat tiga orang muda yang berteriak-teriak mengomando para
perajurit itu, tahulah ia mengapa ia akan ditangkap. Kiranya tiga
orang pemuda yang mengganggu di rumah makan dan yang
ditinggalkannya dalam keadaan tertotok yang memimpin pasukan
itu untuk menangkapnya sekitar dua puluh orang lebih perajurit
mengepungnya dengan golok di tangan dan sebagian besar dari
mereka bersikap ragu-ragu.
Tentu saja para perajurit itu merasa ragu. Haruskah mereka
yang berjumlah dua losin perajurit itu mengeroyok seorang gadis
muda yang cantik jelita?
Api kemarahan menyala di hati Lee Cin. Akan tetapi segera
terngiang di telinganya akan nasihat-nasihat ayah kandungnya
bahwa ia tidak boleh sembarangan membunuh orang. Dan ia
teringat pula kepada Thian Lee, pendekar yang juga pantang
membunuh orang begitu saja. Para perajurit ini tidak bersalah.
Memang pekerjaan mereka untuk mematuhi perintah atasan.
Yang bersalah adalah tiga orang muda itu. sudah bersikap kurang
ajar kepadanya masih tidak menyadari kesalahan bahkan
mengerahkan perajurit untuk menangkapnya. Tiga orang itulah
yang patut dihajar.
Dewi Ular 194
Koleksi Goldy Senior
Ketika para perajurit mengepung semakin dekat, ia tidak
mencabut pedangnya, melainkan mencabut sulingnya. suling itu
pun merupakan sebuah senjata yang ampuh, akan tetapi hanya
untuk menotok lawan, bukan untuk melukai atau membunuh
walaupun ada beberapa macam totokan yang merupakan totokan
maut.
"Kalian mau apa?" teriaknya di antara gemuruh suara para
pengepung.
Tiga orang pemuda itu kini menjadi berani karena mereka
mengandalkan dua losin perajurit. Mereka melangkah maju
menghadapi Lee Cin dan putera Kepala Daerah itu menudingkan
telunjuknya kepada Lee cin.
"Gadis sombong.. Engkau telah berani menghinaku,
menghina kami bertiga. Kami akan menyeretmu untuk diberi
hukuman" setelah berkata demikian, pemuda itu memberi isyarat
dengan tangannya kepada para perajurit untuk menyerbu.
Akan tetapi Lee cin sudah bergerak cepat sekali. Tubuhnya
berkelebat ke depan dan hampir tidak dapat dilihat gerakannya,
akan tetapi tiba-tiba terdengar teriakan beruntun tiga kali, disusul
suara air tertimpa benda berat dan tiga orang pemuda itu sudah
gelagapan di dalam kolam ikan sialnya mereka tidak dapat
berenang sehingga megap-megap dan berteriak minta tolong. para
perajurit segera menolong mereka dan sebagian lagi sudah
mengeroyok Lee cin.
Gadis itu menggerakkan sulingnya menangkis golok-golok
yang menyambarnya dari segala penjuru. Ia harus memutar
sulingnya menjadi segulung sinar hitam yang menyelimuti
dirinya sehingga tidak dapat dilukai golok. tangan kirinya
menampar-nampar dan kakinya menendang-nendang
merobohkan para pengeroyok.
Dewi Ular 195
Koleksi Goldy Senior
Pada saat itu terdengar suara lembut, "Jangan khawatir,
Nona. Aku membantumu menghajar orang-orang tidak tahu malu
ini"
Dan muncullah Kwan Lok yang segera terjun ke dalam
pertempuran. Melihat bayangan putih berkelebat dan seorang
pemuda berpakaian serba putih yang tampan mengamuk
membantunya, Lee cin mengerutkan alisnya. Apalagi melihat
betapa pemuda itu walaupun tidak menggunakan pedang yang
berada dipunggungnya, namun melakukan pukulan keras yang
membuat beberapa orang perajurit roboh pingsan, ia khawatir
kalau pemuda itu membunuh orang.
"Aku tidak butuh bantuanmu" katanya dan Lie cin segera
melompat jauh dan melarikan diri dari pengeroyokan para
perajurit.
Melihat gadis itu melarikan diri, Kwan Lok khawatir
kehilangan gadis itu, maka dia pun menendang roboh dua orang
perajurit, lalu dia meloncat melakukan pengejaran. Para perajurit
berteriak-teriak melakukan pengejaran, akan tetapi gadis dan
pemuda baju putih itu sudah menghilang di antara keramaian
banyak orang. Mereka terpaksa kembali ke taman dan mengawal
tiga orang yang basah kuyup dan terengah-engah itu kembali ke
rumah kediaman Kepala Daerah. Akan tetapi putera Kepala
Daerah tentu saja menjadi semakin sakit hati dan dia
memerintahkan para perajurit untuk mencari gadis dan pemuda
berpakaian putih itu. Bahkan dia juga menggerakkan para tukang
pukul dan para berandalan yang berada di kota Bi-ciu untuk bantu
mencari.
Sementara itu, Lee cin berhasil menyelinap di antara banyak
orang dan setelah melihat bahwa tidak ada yang mengejarnya, ia
langsung pergi ke rumah penginapan. Ia tidak tahu bahwa dari
jauh ia dibayangi Kwan Lok.
Dewi Ular 196
Koleksi Goldy Senior
Karena peristiwa pengeroyokan di taman itu membuat
tubuhnya berkeringat, Lee Cin lalu minta disediakan air lalu
mandi. Baru saja ia berganti pakaian, daun pintu kamarnya
diketuk orang. ia terkejut dan mengira bahwa yang mengetuk
pintu itu adalah perajurit-perajurit yang mengejar dan
mencarinya.
"Siapa?" tanyanya dengan suara tegas.
"Saya Nona. saya pelayan."
Lee Cin membuka daun pintu dan benar saja. seorang
pelayan berdiri di luar pintu dan membungkuk dengan
hormatnya.
"Ada apa?"
"Nona, di luar terdapat seorang yang minta bertemu dan
bicara dengan Nona."
"Suruh tunggu di luar, akan kutemui dia," kata Lee Cin
sambil menduga-duga siapa gerangan orang yang hendak
bertemu dan bicara dengannya itu. setelah membereskan
rambutnya, Lee Cin keluar dan di ruangan tengah yang
dipergunakan sebagai ruang tamu, duduk seorang pemuda yang
dikenalnya sebagai pemuda berpakaian serba putih yang tadi
membantunya menghadapi pengeroyokan para perajurit. Ia
mengerutkan alisnya akan tetapi terus melangkah menghampiri.
Pemuda itu adalah Kwan Lok. Melihat Lee cin, dia cepat
berdiri dan memberi hormat. "selamat siang, Nona. Maafkan
kalau aku mengganggumu."
Pemuda yang bicara lembut dan bersikap hormat, pikir Lee
Cin dan ia pun membalas penghormatan orang.
"Siapakah engkau dan ada keperluan apa ingin bertemu dan
bicara denganku." suara Lee Cin datar saja dan pemuda itu lalu
Dewi Ular 197
Koleksi Goldy Senior
menoleh ke kanan kiri. Kebetulan pada siang hari itu di ruangan
itu tidak terdapat orang lain, juga pintu-pintu kamar yang berderet
itu semua tertutup,
"Aku ingin menyampaikan berita penting sekali, Nona.
Namaku ouw Kwan Lok dan aku tidak berniat buruk terhadap
Nona. sebaliknya aku malah hendak menyampaikan suatu bahaya
yang besar bagi keselamatanmu."
Lee Cin tidak mengenal nama itu dan sepanjang ingatannya,
belum pernah ia bertemu dengan pemuda yang bernama ouw
Kwan Lok itu, kecuali tadi dalam taman umum.
"Bahaya apakah itu?" Lee Cin bertanya, suaranya tenang saja
sehingga diam-diam Kwan Lok menjadi semakin kagum.
sungguh seorang gadis yang amat cantik jelita dan juga amat
gagah perkasa, pikirnya.
"Aku melihat dijalan raya banyak terdapat perajurit, Nona,
juga gerombolan orang berandalan yang sengaja mencarimu.
Tentu ada hubungannya dengan perkelahian di taman umum tadi.
Agaknya mereka masih penasaran- Ketahuilah bahwa seorang di
antara tiga orang pemuda, itu adalah putera Kepala Daerah."
"Hemm, kalau mereka mencari karena urusan perkelahian
tadi, mereka tentu juga akan mencarimu karena engkau
mencampurinya pula dan merobohkan beberapa orang perajurit."
"Kalau aku sudah siap untuk itu, Nona."
"Hemm, apa kau kira yang siap itu hanya engkau? Aku pun
sudah siap menghadapi mereka dan aku tidak takut. Pula, aku
tidak minta bantuanmu, karena itu, sobat tinggalkan aku sendiri"
Pemuda itu tersenyum. Keangkuhan yang menunjukkan
kegagahan, pikirnya. "Aku mengerti bahwa engkau mampu
melindungi diri sendiri, Nona. Akan tetapi maksudku, aku siap
Dewi Ular 198
Koleksi Goldy Senior
bukan untuk melawan mereka. Kita tidak mungkin melawan
pasukan pemerintah Nona. Yang kumaksudkan dengan siap
adalah ini."
Kwan Lok mengambil sesuatu dari sakunya dan begitu
tangannya menempel di mukanya, ketika tangannya turun Lee
Cin melihat pemuda itu sudah berubah wajahnya. Kini dia
memakai kumis yang tebal dan janggot yang panjang. Tentu saja
wajahnya menjadi berubah sama sekali. Ia sendiri tentu tidak
akan mengenalnya kalau bertemu dijalan. Hampir saja Lee cin
tertawa melihat wajah yang berubah itu. Lucu nampaknya.
"Apa kau maksudkan bahwa aku harus pula menyamar?"
"Begitulah, Nona. Demi menjaga keselamatan dan
menjauhkan pertempuran melawan pasukan, sebaiknya kalau
Nona menyamar sebagai pria. Dengan begitu kita akan mudah
saja keluar dari kota ini tanpa dicurigai dan diketahui."
Sebuah gagasan yang bagus, pikir Lee Gin. "Akan tetapi.."
"Nona maksudkan pakaian? jangan khawatir aku sudah
mempersiapkan untukmu." Kwan Lok menyerahkan sebuah
bungkusan- "sekarang berdandanlah dan aku menanti Nona di
luar restoran di depan itu."
Lee Cin menerima bungkusan itu karena pada saat itu ia
tidak melihat jalan yang lebih baik daripada apa yang diusulkan
pemuda bernama ouw Kwan Lok itu. Ia membawa bungkusan
masuk ke dalam kamar dan tak lama kemudian dia sudah
berdandan sebagai seorang pemuda yang tampan sekali. Lee Cin
tersenyum sendiri melihat bayangannya di cermin dan setelah
membawa buntalan pakaiannya, memasang pedang Ang-coa-
kiam sebagai sabuknya, menyelipkan suling dipinggang, dia lalu
melangkah keluar dengan langkah gaya seorang pemuda
Dewi Ular 199
Koleksi Goldy Senior
Di luar sudah menunggu Kwan Lok yang memakai kumis
dan jenggot. Tanpa bicara Kwan Lok lalu berjalan berdampingan
dengan Lee Cin. sikap kedua orang ini biasa dan wajar saja
sehingga tidak menarik perhatian orang. siapa yang akan
memperhatikan seorang setengah tua dan seorang pemuda
berpakaian aneka warna kalau yang dicari itu seorang gadis dan
seorang pemuda berpakaian serba putih? Lee Cin melihat betapa
jalan-jalan raya penuh dengan perajurit kerajaan dan diam- diam
ia bersukur dan memuji akal Kwan Lok untuk dapat keluar dari
kota itu tanpa gangguan. Kalau ia harus melawan pasukan
sebanyak itu, sungguh repot sekali.
Mereka berlenggang keluar dari kota Bi-ciu dan setelah
mereka meninggalkan kota itu sejauh belasan mil, barulah hati
mereka merasa lega. Kwan Lok menanggalkan jenggot dan kumis
palsunya, akan tetapi Lee Cin tetap memakai pakaian pria itu.
Untuk berganti pakaian ia harus mencari tempat yang sunyi dan
tidak tampak oleh siapapun juga.
"Nah, sekarang kita telah selamat dari pencarian pasukan-
Karena itu kita berpisah di sini, saudara Kwan Lok, dan kita
mengambil jalan masing-masing. Terima kasih atas bantuanmu
sehingga aku dapat menghindari perkelahian dengan pasukan."
Kwan Lok memandang dengan mata terkejut. sama sekali
tidak disangkanya bahwa dia harus berpisah sedemikian cepatnya
dari gadis yang dikaguminya ini.
"Kenapa.. kita harus berpisah?" tanyanya gagap.
Lee Cin memandang tajam. "Kenapa tidak? Kita mempunyai
urusan masing-masing dan harus berpisah:"
"Eh, maksudku, mengapa kita berpisah begitu saja, tanpa aku
mengetahui namamu, Nona? Bukankah dengan pengalaman ini
Dewi Ular 200