Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
SaAnyggaamsKi Pamenpguunsgaha
Anisah Sholichah
Bacaan untuk Anak
Tingkat SD Kelas 4, 5, dan 6
MILIK NEGARA
TIDAK DIPERDAGANGKAN
Sangga si Pengusaha
Ayam Kampung
Anisah Sholichah
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
SANGGA SI PENGUSAHA AYAM KAMPUNG
Penulis : Anisah Sholichah
Penyunting : Setyo Untoro
Ilustrator : Suryo Pct
Penata Letak : Parwanto Prihatin
Diterbitkan pada tahun 2018 oleh
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa
Jalan Daksinapati Barat IV
Rawamangun
Jakarta Timur
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya,
dilarang diperbanyak dalam bentuk apa pun tanpa izin
tertulis dari penerbit, kecuali dalam hal pengutipan
untuk keperluan penulisan artikel atau karangan ilmiah.
PB Katalog Dalam Terbitan (KDT)
899.295 12
SHO Sholichah, Anisah
s Sangga Si Pengusaha Ayam Kampung/Anisa
Sholichah; Penyunting: Setyo Untoro; Jakarta:
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018
viii; 55 hlm.; 21 cm.
ISBN 978-602-437-468-6
1. CERITA RAKYAT-INDONESIA
2. KESUSASTRAAN-INDONESIA
Sambutan
Sikap hidup pragmatis pada sebagian besar masyarakat Indonesia
dewasa ini mengakibatkan terkikisnya nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Demikian halnya dengan budaya kekerasan dan anarkisme sosial turut
memperparah kondisi sosial budaya bangsa Indonesia. Nilai kearifan
lokal yang santun, ramah, saling menghormati, arif, bijaksana, dan religius
seakan terkikis dan tereduksi gaya hidup instan dan modern. Masyarakat
sangat mudah tersulut emosinya, pemarah, brutal, dan kasar tanpa
mampu mengendalikan diri. Fenomena itu dapat menjadi representasi
melemahnya karakter bangsa yang terkenal ramah, santun, toleran, serta
berbudi pekerti luhur dan mulia.
Sebagai bangsa yang beradab dan bermartabat, situasi yang demikian
itu jelas tidak menguntungkan bagi masa depan bangsa, khususnya dalam
melahirkan generasi masa depan bangsa yang cerdas cendekia, bijak
bestari, terampil, berbudi pekerti luhur, berderajat mulia, berperadaban
tinggi, dan senantiasa berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa. Oleh
karena itu, dibutuhkan paradigma pendidikan karakter bangsa yang tidak
sekadar memburu kepentingan kognitif (pikir, nalar, dan logika), tetapi
juga memperhatikan dan mengintegrasi persoalan moral dan keluhuran
budi pekerti. Hal itu sejalan dengan Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yaitu fungsi
pendidikan adalah mengembangkan kemampuan dan membangun watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa dan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha
Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Penguatan pendidikan karakter bangsa dapat diwujudkan
melalui pengoptimalan peran Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang
memumpunkan ketersediaan bahan bacaan berkualitas bagi masyarakat
Indonesia. Bahan bacaan berkualitas itu dapat digali dari lanskap dan
iii
perubahan sosial masyarakat perdesaan dan perkotaan, kekayaan
bahasa daerah, pelajaran penting dari tokoh-tokoh Indonesia, kuliner
Indonesia, dan arsitektur tradisional Indonesia. Bahan bacaan yang
digali dari sumber-sumber tersebut mengandung nilai-nilai karakter
bangsa, seperti nilai religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif,
mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah
air, menghargai prestasi, bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli
lingkungan, peduli sosial, dan tanggung jawab. Nilai-nilai karakter bangsa
itu berkaitan erat dengan hajat hidup dan kehidupan manusia Indonesia
yang tidak hanya mengejar kepentingan diri sendiri, tetapi juga berkaitan
dengan keseimbangan alam semesta, kesejahteraan sosial masyarakat,
dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apabila jalinan ketiga hal
itu terwujud secara harmonis, terlahirlah bangsa Indonesia yang beradab
dan bermartabat mulia.
Salah satu rangkaian dalam pembuatan buku ini adalah proses
penilaian yang dilakukan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuaan. Buku
nonteks pelajaran ini telah melalui tahapan tersebut dan ditetapkan
berdasarkan surat keterangan dengan nomor 13986/H3.3/PB/2018 yang
dikeluarkan pada tanggal 23 Oktober 2018 mengenai Hasil Pemeriksaan
Buku Terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa.
Akhirnya, kami menyampaikan penghargaan dan ucapan terima
kasih yang setulus-tulusnya kepada Kepala Pusat Pembinaan, Kepala
Bidang Pembelajaran, Kepala Subbidang Modul dan Bahan Ajar beserta
staf, penulis buku, juri sayembara penulisan bahan bacaan Gerakan
Literasi Nasional 2018, ilustrator, penyunting, dan penyelaras akhir atas
segala upaya dan kerja keras yang dilakukan sampai dengan terwujudnya
buku ini. Semoga buku ini dapat bermanfaat bagi khalayak untuk
menumbuhkan budaya literasi melalui program Gerakan Literasi Nasional
dalam menghadapi era globalisasi, pasar bebas, dan keberagaman hidup
manusia.
Jakarta, November 2018
Salam kami,
ttd
Dadang Sunendar
Kepala Badan Pengembangan dan
Pembinaan Bahasa
iv
SEKAPUR SIRIH
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas limpahan
nikmat, karunia, dan segala kemudahan yang tiada
terhitung. Selawat dan salam atas junjungan terbaik,
Rasulullah saw. yang telah menunjukkan indahnya Islam.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamiin buku Sangga si
Pengusaha Ayam Kampung dapat selesai dan dapat ha-
dir di tengah-tengah pembaca yang budiman. Penulis
ingin mewarnai khazanah literasi Indonesia, khususnya
bahan bacaan anak, dengan cerita sehari-hari yang
sederhana, tetapi penuh dengan nilai-nilai kehidupan.
Buku ini merupakan bahan bacaan literasi yang
mengambil tema “Cerita tentang Anak Indonesia”.
Sangga, si tokoh utama, hadir sebagai wakil anak
Indonesia zaman now. Penulis berharap cerita Sangga
si Pengusaha Ayam Kampung dapat bermanfaat
sebagai bahan bacaan anak yang penuh keteladanan.
v
Buku yang sederhana ini penulis tujukan untuk
semua kalangan, khususnya anak-anak di sekolah dasar.
Akhirnya, semoga buku ini dapat menjadi teman anak-
anak Indonesia, menemani mereka dalam bertumbuh
kembang menjadi generasi terbaik. Selamat membaca!
Semarang, Oktober 2018
Penulis,
Anisah Sholichah
vi
Daftar Isi
Sambutan..........................................................................iii
Sekapur Sirih..................................................................... v
Daftar Isi..........................................................................vii
Nilai yang Memburuk........................................................ 1
Tantangan Bunda.............................................................. 7
Rumah Bulik Hanna........................................................ 11
Sangga dan Ayam Kampung........................................... 19
Lima Sekawan.................................................................. 27
Kemenangan Sangga....................................................... 34
Pengusaha Cilik............................................................... 39
Biodata Penulis................................................................ 49
Biodata Penyunting......................................................... 52
Biodata Ilustrator............................................................ 53
vii
Nilai yang Memburuk
“Baguus…,” gumam Sangga sambil memelototi
layar ponsel cerdas miliknya. Layar 5,5 inci itu sudah
dipelototinya sejak dua jam yang lalu. Sangga terus asyik
dengan game (gim) mobile legends yang dimainkannya.
Kedua jempol tangan Sangga menari lincah
memainkan gim. Matanya hampir tak berkedip. Mulut
Sangga sesekali berteriak saat ia berhasil mengalahkan
musuh dalam gimnya atau marah-marah saat hero-nya
kalah.
Sangga masih belum mengganti seragam
sekolahnya. Terlihat tas dan sepatunya berserakan di
lantai. Makan siang yang sudah disiapkan Bunda di meja
makan pun terlanjur mendingin.
**
1
“Asyik..., akhirnya Sangga punya smartphone juga.
Makasih, Om Iqbal,” ucap Sangga sambil memeluk erat
Om Iqbal, adik Ayah, enam bulan yang lalu.
“Om Iqbal sudah menginstalkan gim mobile legends
khusus buat Sangga. Smartphone itu hadiah karena
Sangga sudah berani disunat.”
Sejak saat itu, bahkan mainan lego yang menjadi
kegemaran utama Sangga sebelumnya menjadi tak
menarik.
Sejak mengenal mobile legends, kata favorit
Sangga adalah “sebentar”. Saat Bunda menyuruh Sangga
belajar, Sangga akan menjawab “sebentar”. Saat Bunda
menyuruh Sangga ke warung, Sangga akan menjawab
“sebentar”. Saat Bunda menyuruh Sangga makan, Sangga
akan menjawab “sebentar”. Saat Bunda menyuruh Sangga
mandi sore, Sangga akan menjawab “sebentar”.
**
2
((ILUSTRASI 1)) >> 1 halaman full
3
“Tulit… tulit… tulit,” bunyi si ponsel cerdas
memberikan kabar bahwa ia perlu segera diisi baterainya.
“Bundaa…. Lihat charger Sangga tidak?” teriak
Sangga dari kamarnya.
Di ruang tengah terlihat Bunda sedang mengelus
dada. Bunda sedang memelototi selembar kertas yang tak
lain rapor Sangga. Satu per satu nilai rapor itu dilihat
Bunda.
“Bunda, ada apa?” Sangga sudah berdiri di depan
Bunda.
“Kata Bu Heni, Sangga hampir tidak naik kelas,”
ucap Bunda lemas.
Sangga lalu melihat nilai rapornya. Ada dua angka
merah di sana. Bu Heni mengatakan kepada Bunda
bahwa Sangga akan benar-benar tidak naik kelas jika
angka merah di rapornya ada tiga. Kali ini Sangga masih
beruntung.
**
4
Sangga lalu ingat dua pekan yang lalu. Ujian
kenaikan kelas dimulai. Biasanya sepulang sekolah
Sangga akan belajar. Sangga akan belajar sendiri atau
kadang belajar kelompok di rumah teman. Namun, waktu
itu Sangga tidak belajar dengan rajin.
Saat siang, Bunda lebih sering di butik. Sangga
akan di rumah bersama Mbok Ismah, asisten rumah
tangga yang bekerja di rumahnya. Bunda adalah seorang
desainer baju. Bunda juga punya butik yang cukup besar
di daerah Thamrin, Jakarta.
Sepulang sekolah, Sangga lebih disibukkan dengan
ponsel cerdasnya. Sangga akan bermain gim sampai sore.
Sangga berhenti bermain gim hanya saat Bunda mulai
mengomel.
Malam harinya, Bunda akan menemani Sangga
belajar. Baru sebentar belajar, Sangga sudah mengantuk.
Akibatnya, saat di sekolah Sangga kesulitan mengerjakan
soal ujian.
**
5
Bunda diam lama sekali. Sangga menunduk. Tak
berani menatap Bunda. Sangga juga tak berani lagi
menatap nilai merah di rapornya.
“Maafkan Sangga, Bun,” ucap Sangga sambil
mengangsurkan ponsel cerdasnya yang sudah mati karena
kehabisan baterai.
***
6
Tantangan Bunda
Sangga sibuk memainkan kedua jari telun-
juknya. Pikirannya masih melayang di gim mobile legends
yang ditinggalkannya. Padahal tadi Sangga hampir saja
mengalahkan musuhnya.
“Sangga….” Suara Bunda memecah lamunan
Sangga. Bunda sedang mengajak Sangga berbicara empat
mata. Sangga dan Bunda kini duduk di sofa ruang tengah.
“Iya, Bun.... Sangga menyesal.” Sangga menatap
Bunda sedetik, lalu menunduk lagi.
“Maafkan Bunda juga yang akhir-akhir ini
makin sibuk di butik ya, Nak. Bunda janji akan lebih
sering menemani Sangga belajar.” Sangga mengangguk
pelan.
“Tapi Bunda ingin memberikan Sangga sesuatu,”
7
imbuh Bunda.
((ILUSTRASI 2)) >> 1 halaman full
8
Kali ini Sangga mengangkat wajahnya dan
menatap wajah Bunda. Sangga punya firasat, sesuatu
yang akan Bunda beri adalah hukuman untuknya.
“Bunda ingin memberikan tantangan untuk
Sangga. Nanti saat Sangga berhasil menyelesaikan
tantangan Bunda, Sangga boleh meminta apapun dari
Bunda.” Bunda mulai mengumumkan tantangan-
nya. Tantangan sekaligus hukuman untuk putra semata
wayangnya.
Mata Sangga melebar kali ini. “Apapun?” ucap
Sangga untuk memperjelas. Bunda mengangguk mantap.
“Tantangannya apa, Bun?”
“Tantangannya adalah Sangga tidak boleh bermain
smartphone selama liburan sekolah ini,” timpal Bunda.
Liburan sekolah Sangga dimulai esok hari
sampai dua pekan ke depan. Sangga senyum-senyum
sendiri. Sangga mulai tergiur dengan hadiah yang di-
janjikan Bunda.
Di dalam hati, Sangga merencanakan akan me-
minta dibelikan sebuah tablet dengan RAM dan kapasi-
tas memori yang lebih besar. Dengan tablet itu, Sangga
9
berharap bisa bermain gim lebih leluasa. Sangga ternyata
belum benar-benar menyesal.
Sekilas Sangga memikirkan gim mobile legends-
nya. Sangga merasa pasti akan merindukan bermain
game online di ponsel cerdasnya. Sangga terlihat sedang
menimbang-nimbang.
“Dan Sangga akan tinggal di rumah salah satu adik
Bunda selama dua pekan saat liburan sekolah,” lanjut
Bunda.
“Tanpa smartphone dan tanpa Bunda?” gumam
Sangga sambil mengerutkan keningnya. Hidup tan-
pa smartphone dan tanpa Bunda pasti tidaklah mudah.
Namun, Sangga merasa tantangan Bunda terlalu gam-
pang untuk ditaklukkan. Sangga merasa harus menerima
tantangan Bunda.
Di sisi lain, Bunda punya rencana yang lebih hebat.
Rencana yang tidak segampang bayangan Sangga.
***
10
Rumah Bulik Hanna
Pagi itu, matahari belum menampakkan diri.
Jarum pendek di jam dinding masih menunjuk angka
lima. Bunda terlihat sibuk menyiapkan bekal di dapur.
Sementara itu, di kamarnya Sangga terlihat sedang sibuk
dengan ranselnya. Dimasukkannya beberapa pakaian
dan barang-barang yang dianggapnya penting. Sesekali
Sangga masih menguap.
Tiga puluh menit sebelumnya, Bunda sudah
membangunkan Sangga. Setelah salat Subuh, Bunda
menyuruh Sangga bersiap-siap. Bunda bilang, mereka
akan berangkat pukul 06.30.
Semalam, Sangga resmi menerima tantangan
Bunda. Pagi harinya Bunda sudah selesai menyiapkan
semuanya.
11
“Kenapa kita berangkat pagi-pagi sih, Bun?” Sangga
duduk di kursi dekat dapur sambil sesekali menguap.
“Perjalanan kita akan memakan waktu 11 jam,
Nak. Bisa juga lebih lama. Kita harus sampai di sana
sebelum langit gelap,” jawab Bunda.
“Semuanya sudah siap, Bun?” Ayah tiba-tiba
muncul dengan setelan jas yang sudah rapi.
“Sudah, Yah. Tinggal menunggu Pak Dirman,”
jawab Bunda sambil tersenyum.
“Ayah akan ke Bandung berapa hari?” sahut
Sangga.
“Tiga hari, Nak. Maafkan Ayah, ya! Tidak bisa
mengantar Sangga dan Bunda. Nanti di sana Sangga
harus jadi anak yang baik, biar bisa memenangkan
tantangan Bunda,” jawab Ayah sambil mengedipkan
matanya.
“Siaap, Pak Dosen!” jawab Sangga bersemangat.
Ayah Sangga adalah seorang dosen arsitektur di
sebuah universitas ternama di Depok. Pagi itu, Ayah
harus berangkat ke Bandung untuk menghadiri sebuah
simposium internasional. Ayah datang sebagai salah satu
pembicara di sana.
12
Pagi itu, Sangga dan Bunda akan diantar Pak
Dirman, sopir keluarga yang memang tidak menginap
di rumah Sangga. Rumah Pak Dirman hanya berjarak
setengah jam dari rumah Sangga.
**
“Bunda, apakah tantangannya sudah benar-benar
dimulai?” tanya Sangga memecah keheningan perjalanan
mereka.
“Sudah, Nak. Terhitung hari ini kan?” jawab Bunda.
“Sangga kangen sama hape Sangga,” ujar Sangga.
Bunda mengelus lembut rambut Sangga sambil tersenyum.
“Ini Bunda bawakan sesuatu buat Sangga.” Bunda
mengangsurkan kotak lego milik Sangga. Lego yang
sudah berbulan-bulan tak dimainkan Sangga.
“Makasih, Bunda,” sahut Sangga sedikit lemas.
Tak lama setelah itu Sangga mulai tertidur.
**
“Apakah masih jauh, Bun?” tanya Sangga. Mereka
baru saja mampir di SPBU untuk mengisi bahan bakar
mobil.
13
“Sudah dekat kok. Sangga lihat itu!” Bunda
menunjuk ke sekeliling. Mobil yang dikemudikan Pak
Dirman mulai bergerak lagi menelusuri jalan.
“Pohon?” tanya Sangga.
“Iya.... Ada pohon, persawahan, dan di sana ada
juga gunung. Artinya, tujuan kita sudah dekat,” jawab
Bunda sambil senyum.
“Tapi, sebenarnya kita mau ke rumah siapa sih,
Bun?”
“Nanti Sangga pasti tahu.” Bunda masih
merahasiakan tempat tujuan mereka. Satu jam kemudian
mobil hitam yang dikemudikan Pak Dirman memasuki
pelataran sebuah rumah.
14
“Ayo, Nak, turun!”
Sangga masih tak berkata-kata, tetapi dia
mengikuti langkah Bunda. Tas ransel miliknya tak lupa
ia gendong di punggungnya.
Dari jarak lima meter, Sangga melihat sosok yang
tak asing lagi. Sangga lalu berjalan cepat mendahului
Bunda.
“Damar...?”
“Iya,” jawab Damar dengan senyum lebar. Kedua
saudara sepupu tersebut langsung berpelukan.
“Wah, tinggi kita sudah hampir sama,” ucap
Sangga. Damar memang satu tahun lebih muda daripada
Sangga.
Damar adalah anak semata wayang dari Bulik
Hanna, adik Bunda. Ayah Damar bernama Paman
Jatmiko. Saat Lebaran, biasanya Damar yang berkunjung
ke rumah Sangga, di Ibu Kota. Seingat Sangga, Bunda
baru dua kali mengajak Sangga berkunjung ke rumah
Bulik Hanna.
Bulik Hanna dan Paman Jatmiko adalah sosok
yang sangat ramah. Sangga ingat, masakan Bulik Hanna
sangat enak. Bahkan bisa mengalahkan masakan Bunda.
16
Bulik Hanna dan keluarganya tinggal di Desa
Payaman, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang.
Udaranya masih segar dan tidak banyak polusi seperti di
Jakarta.
Magelang adalah daerah yang dikelilingi oleh
beberapa gunung. Ada Gunung Merbabu dan Gunung Me-
rapi di sebelah timur. Di bagian barat Magelang terdapat
Gunung Sumbing.
Matahari sudah terbenam satu jam yang lalu. Pak
Dirman, Sangga, dan Bunda diminta Bulik Hanna untuk
segera beristirahat.
“Besok, Kak Sangga aku kenalin sama ayam-
ayamku,” bisik Damar di telinga Sangga.
“Asyik..., besok aku pasti akan bangun lebih pagi,”
sahut Sangga dengan mata berbinar. Sangga memang
terkenal sebagai penyayang binatang. Berkenalan
dengan ayam merupakan hal baru baginya.
**
17
“Kukuruyuk... petok... petok..” Suara ayam jantan
yang berkokok menandai pagi yang datang.
Pukul 05.00 Sangga sudah terjaga. Semalam
Sangga tidak bisa tidur. Nyamuk-nyamuk di rumah Bulik
Hanna terus menyerangnya.
Ternyata Bunda sudah bersiap kembali ke Jakarta,
meninggalkan Sangga di rumah Bulik Hanna.
“Sangga jadi anak yang baik di sini ya, Nak. Dua
minggu lagi Bunda dan Ayah akan menjemput Sangga.
Oke?”
“Iya...,” Sangga lalu memeluk Bunda erat. Sangga
mulai sedikit cemas. Ia akan hidup tanpa smartphone dan
tanpa Bunda.
Petualangan Sangga untuk menjalani tantangan
Bunda pun benar-benar akan dimulai.
***
18
Sangga dan Ayam Kampung
Sangga sedang sibuk mengunyah sarapannya.
Nasi goreng ayam kampung, favorit Sangga. Daging
ayam kampung selalu terasa lebih gurih di lidah. Sambil
makan, sesekali Sangga terlihat menggaruk lengannya.
Bekas gigitan nyamuk semalam masih terasa gatal.
“Masakan Bulik Hanna selalu juara,” ucap Sangga
dengan mulut penuh nasi. Bulik Hanna dan Damar
berpandangan sekilas dan tersenyum melihat tingkah
Sangga.
“Kak Sangga bisa makan ayam sepuasnya di sini,”
ucap Damar bersemangat.
“Asyik…. Oh ya, kapan kita bisa menengok ayam-
ayam itu?” tanya Sangga tak sabar.
19
“Sebentar lagi jadwal sarapan mereka. Memberi
makan ayam-ayam itu adalah salah satu tugasku,” jawab
Damar dengan bangga.
“Selama liburan di sini, Sangga akan membantu
Damar mengurus ayam-ayam itu. Memberi makan,
membersihkan kandang, dan mengumpulkan telur,”
imbuh Bulik Hanna.
“Pasti menyenangkan,” jawab Sangga sambil
tersenyum lebar.
**
Sangga sudah berdiri di depan kandang ayam
dengan ukuran 3 meter kali 5 meter. Matanya berbinar.
Kandang di depannya lebih menyerupai pekarangan yang
dikelilingi pagar bambu yang tidak terlalu tinggi. Di
sisi salah satu pekarangan ada kandang beratap untuk
tempat berteduh ayam saat hujan dan berlindung dari
dingin saat malam tiba.
20
Kata Damar, ada hampir seratus ekor ayam
kampung yang dipeliharanya. Kandang ayam itu
diletakkan di halaman belakang rumah. Berjarak dua
belas meter dari rumah utama.
Di area pekarangan di dalam pagar bambu itu
sengaja ditumbuhkan rumput untuk makanan tambahan
ayam. Beberapa tanaman seperti kunir, kencur, temu
ireng juga ditanam di area kandang sebagai obat alami.
Daun tanaman tersebut bisa juga dimakan ayam. Sesekali
ayam-ayam itu bisa pula memakan cacing yang ada di
dalam tanah.
“Damar, dalam sehari ayam-ayam ini harus
kita beri makan berapa kali?” tanya Sangga sambil
menuangkan pakan ayam ke wadah tempat makan ayam.
Sesekali Sangga juga terlihat menyebarkan pakan
ke tanah sehingga ayam-ayam itu segera bergerombol
menyantapnya.
21
((( ILUSTRASI 4 ))) >> Gambar full 1 halaman
22
“Kita cukup memberi makan mereka pagi dan siang
hari, Kak. Atau bisa juga tiga kali sehari,” jawab Damar.
Sangga manggut-manggut.
Sangga suka tugas barunya. Sangga senang bisa
membantu Bulik Hanna. Dengan begitu, Paman Jatmiko
dan Bulik Hanna bisa dengan tenang menggarap sawah.
Paman Jatmiko dan Bulik Hanna adalah pasangan
petani dan peternak ayam yang sukses. Meskipun masih
muda, Paman Jatmiko dan Bulik Hanna tidak malu
bekerja sebagai petani.
Setiap hari ayam-ayam yang dipelihara Bulik
Hanna pasti ada yang bertelur. Telur ayam kampung
punya banyak manfaat untuk kesehatan tubuh. Para
pedagang maupun penduduk sekitar biasa datang
langsung ke rumah untuk membeli telur atau ayam untuk
lauk di rumah atau dijual lagi di pasar.
**
23
Sangga dan Damar baru saja selesai salat
zuhur di masjid. Sangga lalu menengadahkan mukanya
ke langit. Langit terlihat begitu mendung. Sangga
langsung teringat nasib ayam-ayam mereka.
Sangga segera berlari. Damar pun ikut memandang
langit sekilas dan segera berlari mengikuti Sangga.
“Ayam-ayam kita.... Ayo lari lebih cepat,” ucap
Sangga kepada Damar.
Sesampainya di halaman belakang, dengan sigap
Damar memasukkan ayam-ayamnya ke dalam kandang
beratap. Gerimis mulai turun satu-satu.
Sementara itu, tak satu pun ayam yang berhasil
ditangkap oleh Sangga. Semua ayam-ayam itu kini sudah
aman di dalam kandang, berkat ketangkasan Damar.
“Ternyata menangkap ayam tidak mudah,” ucap
Sangga dengan muka ditekuk. Sangga merasa ayam-
ayam itu belum percaya kepadanya.
24
“Tenang saja, Kak. Besok Damar ajari bagaimana
cara menangkap ayam yang benar,” timpal Damar.
**
Esok harinya, Sangga bangun pagi-pagi sekali.
Sangga sudah tak sabar menaklukkan ayam-ayam itu.
Rencananya Sangga akan mencoba menangkap satu atau
dua ekor ayam sebelum memberi makan ayam-ayam itu.
“Kak Sangga sudah siap?” tanya Damar. Sangga
mengangguk.
Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua dan
ketiga sampai kelima juga gagal. Sangga menangkap
ayam dari arah depan. Ayam yang diincarnya dengan
sigap menghindar. Begitu terus berulang-ulang.
“Tangkap ayam dari salah satu sisi tubuhnya.
Tangkap dari samping, Kak,” teriak Sangga memberi
instruksi.
25
Dengan langkah pasti, Sangga mengubah
posisinya. Sangga bergeser ke samping ayam incarannya.
Sambil sedikit menahan napas, Sangga dengan mantap
berhasil menangkap seekor ayam betina dewasa dari
samping.
“Berhasil...,” teriak Sangga. Detik berikutnya ayam
yang ditangkap Sangga berhasil meloloskan diri. Sangga
justru tertawa lebar. Yang terpenting ia sudah mengetahui
rahasia menangkap ayam. Sangga pun sangat bahagia.
***
26
Lima Sekawan
Siang itu matahari tidak terlalu terik. Sangga
sedang tiduran di kursi bambu depan rumah. Sudah
genap lima hari Sangga tinggal di rumah Bulik Hanna.
Damar tak terlihat batang hidungnya.
Sangga berdiri. Kedua kakinya lalu melangkah ke
halaman belakang. Jadwal makan siang ayam-ayamnya
sudah tiba. Saat memasuki area kandang, sebagian ayam-
ayam itu langsung mendekatinya.
“Kalian pasti sudah lapar ya?” tanya Sangga sambil
mengelus salah satu ayam betina yang ada di dekatnya.
Memberi makan ayam adalah bagian favorit
Sangga. Sangga jadi ingat dengan Bunda. Setiap hari
Bunda menyiapkan makanan terbaik untuknya.
27
Sangga menyesal. Beberapa kali makanan yang
disiapkan Bunda tidak ia makan. Seringnya karena
Sangga asyik bermain smartphone.
Padahal saat ada beberapa ayam yang tidak makan
karena sakit, Sangga sangat sedih. Pasti itu juga yang
dirasakan Bunda.
“Ah, Sangga rindu Bunda,” gumam Sangga.
Tiba-tiba ada suara langkah kaki mendekatinya.
Bahkan ada beberapa bayangan lebih dari satu orang.
Sangga dengan refleks menoleh saat sebuah tangan
memegang bahunya.
“Siapa kamu?” tanya Sangga dengan ekspresi
sedikit terkejut.
“Kamu pasti Sangga kan?” Terlihat tiga anak laki-
laki seumuran Sangga sedang berdiri di depannya.
“Aku Aldi,” seorang anak berwajah bulat
mengangsurkan tangan kanannya, ingin berjabat tangan
dengan Sangga. Sangga lalu menyambut tangan Aldi.
Masih dengan senyum kebingungan.
28
“Yang berbaju biru itu bernama Rafa dan yang
berbaju hijau bernama Budi.” Tanpa diminta Aldi
mengenalkan dua temannya yang lain.
Sangga baru akan membuka mulut, menanyakan
maksud kedatangan mereka, ketika tiba-tiba Damar
datang dengan sedikit berlari. “Kalian sudah di sini
rupanya?”
“Mereka siapa?” bisik Sangga di dekat telinga Da-
mar. Sangga meminta penjelasan.
“Kak Sangga belum berkenalan dengan mereka?
Mereka adalah teman bermain Damar. Dan akan menjadi
teman Kak Sangga juga,” jawab Damar dengan senyum
lebar.
“Aku sudah membawa kelereng terbaikku,” ucap
Rafa sambil mengeluarkan beberapa butir kelereng dari
saku celananya.
“Aku juga,” timpal Budi.
“Kita bermain di halaman depan saja,” ajak Damar.
“Iya, di sana tanahnya lebih datar. Hari ini pasti
aku yang akan menang,” ucap Aldi penuh percaya diri.
29
Sangga hanya diam. Sangga memang pernah
bermain kelereng, tetapi cuma beberapa kali. Sangga
jarang bermain di luar rumah.
“Apakah aku boleh ikut?” tanya Sangga ragu.
“Tentu saja. Kita berlima akan bermain dan melihat
siapa yang terbaik dalam membidik kelereng,” jawab Aldi
sambil merangkulkan lengannya ke pundak Sangga.
**
30
“Bagus, Kak...,” teriak Damar saat melihat Sangga
berhasil membidik kelereng milik Rafa.
31
Permainan gundu atau kelereng biasa dimainkan
oleh tiga sampai lima orang. Tanah berpasir adalah arena
terbaik untuk bermain kelereng.
Awalnya Damar menggambar lingkaran kecil. Lalu
semua anak menaruh sebutir kelereng andalannya di
dalam lingkaran.
Dari jarak satu meter di belakang garis, mereka
melemparkan kelereng lain ke arah lingkaran secara
bergantian. Anak dengan kelereng paling jauh dari
lingkaran berhak bermain lebih dulu.
Baru saja Sangga berhasil membidik dan memukul
kelereng milik Rafa ke luar lingkaran.
“Asyik, aku berhasil,” teriak Sangga.
“Jangan senang dulu. Nanti pasti akan kubalas,”
jawab Rafa tak mau kalah.
Diam-diam, Damar menjadi yang paling jago
menjentik kelereng. Kelereng yang dijentik oleh Damar
bisa melesat cepat dan selalu mengenai sasaran.
Permainan gundu mereka berjalan makin seru.
Sangga terlihat sangat senang mendapatkan teman-teman
baru. Sangga juga makin jago menjentikkan jarinya pada
kelereng.
32
Sejak saat itu, mereka berlima menamakan diri
sebagai Lima Sekawan. Mereka bermain bersama, ke
masjid bersama, dan saat sore tiba mereka berlima akan
mengaji di rumah Kakek Sholeh. Bacaan iqra’ Sangga
juga makin bagus sekarang.
Dari mereka, Sangga menjadi banyak mengenal
permainan tradisional. Sesekali mereka memainkan
permainan gobak sodor, cublak-cublak suweng, betengan,
kasti, atau saat anak-anak cewek banyak yang bergabung
mereka akan bermain jamuran. Permainan favorit Sangga
adalah bermain gundu atau kelereng.
Sangga menemukan sesuatu yang lebih
menyenangkan daripada gim mobile legends-nya.
Berkawan dan bermain di luar rumah ternyata sangat
menyenangkan. Sangga merasa tubuhnya juga makin
sehat.
***
33
Kemenangan Sangga
“Terima kasih, Pak Slamet.” Sangga terlihat
menyerahkan satu kantong plastik telur ayam kampung
kepada lelaki berumur 60-an tahun yang berdiri di depan-
nya. Tak lupa Sangga memberikan senyum terbaik.
Sangga lalu menghitung lembaran uang yang baru
saja dibayar Pak Slamet. Ternyata punya usaha sam-
pingan beternak ayam sangat menguntungkan. Sangga
merasa bahagia saat peliharaan yang dirawatnya meng-
hasilkan dan bermanfaat.
Hampir setiap hari rumah Bulik Hanna ke-
datangan pembeli. Ada yang membeli ayam untuk di-
makan dagingnya dan ada juga yang membeli telur ayam
kampung.
34
Telur ayam kampung biasa digunakan orang-orang
untuk jamu. Biasanya mereka menelan telur ayam kam-
pung mentah secara langsung. Telur ayam kampung
dipercaya dapat menjaga daya tahan tubuh, menguatkan
jantung, dan menjaga stamina.
“Kak Sangga jadi ikut ke sawah?” Damar sudah
menyiapkan rantang makanan dan botol air mineral un-
tuk makan siang orang tuanya.
“Iya dong. Sini yang rantang makanan aku saja
yang bawa,” sahut Sangga cepat.
Mereka lalu naik sepeda menuju sawah tempat Bu-
lik Hanna dan Paman Jatmiko bekerja. Jarak rumah dan
sawah lumayan jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki.
Saat perjalanan menuju sawah, Sangga dan
Damar bergantian menyapa warga yang berpapasan di
jalan. Hal itu tak pernah dilakukan Sangga sebelumnya.
Di perumahan tempat Sangga tinggal di Jakarta, ia bah-
kan hanya mengenal penghuni rumah kanan, kiri, dan
depan rumahnya saja.
35
“Kak Sangga nggak capek? Sini gantian aku yang
di depan,” ucap Damar yang duduk di boncengan sepeda.
“Tenang saja, aku ini kan kakak. Harus kuat mem-
boncengkan adiknya.” Sangga dengan bersemangat justru
menambah kecepatan kayuhan sepedanya.
Bulik Hanna dan Paman Jatmiko sudah ada di gu-
buk. Sebuah rumah berteduh kecil di tengah sawah yang
terbuat dari anyaman bambu. Untuk menuju ke sana,
Sangga dan Damar harus melewati pematang sawah de-
ngan hati-hati.
Sangga pernah terpeleset, saat pertama kali main
ke sawah. Akibatnya, sebagian besar bajunya berlepotan
lumpur.
“Kami datang! Maaf menunggu lama...,” ucap Sang-
ga.
“Tak apa. Tapi Paman sudah sangat lapar ini,” gu-
rau Paman Jatmiko sambil memegang perutnya.
Mereka berempat lalu duduk melingkar dan mulai
menyantap makan siang. Setiap pagi buta, Bulik Hanna
sudah memasak menu sarapan dan makan siang. Jadi,
Damar tinggal menghangatkannya saja.
36
Siang itu menu makan siang mereka adalah sayur
lodeh dan ikan asin. Sayur lodeh adalah sayur berkuah
santan dengan kacang panjang, terong, labu siam, petai,
dan cabai sebagai isian. Tak disangka, Sangga sangat
suka dengan menu sayur lodeh. Nasi di piring Sangga
sampai terlihat menggunung.
Sesekali Sangga melihat satu per satu wajah tiga
orang di depannya. Dia melihat Damar, Bulik Hanna, dan
Paman Jatmiko secara bergantian. Ada perasaan sedih
yang tiba-tiba dirasakan Sangga.
“Ini Nak, tambah lagi ikan asinnya.” Bulik Hanna
mengangsurkan ikan asin di piring keponakannya.
“Terima kasih, Bulik,” jawab Sangga dengan sedi-
kit haru.
Liburan Sangga di rumah Bulik Hanna tinggal dua
hari lagi. Rasanya Sangga ingin lebih lama di rumah Bu-
lik Hanna. Sangga mulai betah tinggal di desa.
Sangga sudah bisa mengatasi gigitan nyamuk de-
ngan losion. Setiap malam ia sudah bisa tidur nyenyak.
Tidak seperti malam-malam awal ia tinggal di desa.
37
Banyak yang akan Sangga rindukan. Kotekan
ayam-ayam kesayangannya, kawan-kawannya di Lima
Sekawan, dan masakan Bulik Hanna.
Sejak tinggal di rumah Bulik Hanna, Sangga tak
pernah lagi menyisakan makanan di piringnya. Sangga
juga memakan segala jenis sayuran yang dimasak Bulik
Hanna. Tinggal di desa membuat Sangga lebih paham
tentang kerja keras para petani, seperti Bulik Hanna dan
Paman Jatmiko.
Tinggal dua hari lagi, Sangga mampu menyele-
saikan tantangan Bunda. Tak sehari pun ia memegang
smartphone selama di desa. Selain mengurus ayam, Sang-
ga lebih banyak bermain di luar rumah. Tak heran jika
kulit Sangga menjadi sedikit cokelat sekarang.
Semalam Sangga menelepon Bunda. Sangga
mengatakan kepada Bunda bahwa dia sudah menyiapkan
satu permintaan sebagai hadiah tantangan Bunda. Satu
permintaan yang harus dikabulkan, sesuai janji Bunda.
***
38
Pengusaha Cilik
“Surat izin?” tanya Bunda memastikan.
“Iya, surat izin menjadi pengusaha. Sangga ingin
menjadi pengusaha ayam kampung,” jawab Sangga
mantap.
“Kata Bunda, Sangga boleh meminta apa pun,”
imbuh Sangga. Sangga menagih janji Bunda soal hadiah
tantangan.
Sangga memang berhasil memenuhi dan
memenangkan tantangan Bunda untuk tidak bermain
smartphone selama dua pekan liburan sekolah. Bunda
lalu berpandangan dengan Ayah. Tak berapa lama Ayah
mengangguk setuju.
Sejak pagi itu, surat izin menjadi pengusaha sudah
berhasil dikantongi Sangga. Sangga lalu memeluk Ayah
dan Bunda erat sekali.
**
39
Dua hari yang lalu, Sangga meminta izin Bulik
Hanna. Izin bahwa Sangga boleh membawa sepasang
ayam, jantan dan betina milik Bulik Hanna. Bulik Hanna
mengiyakan dengan senang hati.
Liburan dua pekan Sangga sudah berakhir. Sangga
harus berpisah dengan Damar, Bulik Hanna, dan Paman
Jatmiko.
“Kapan-kapan Damar pasti akan menjenguk ayam-
ayam itu di Jakarta,” ucap Damar kepada Sangga.
“Tentu, aku jadi tak sabar menunggu Damar
berkunjung ke rumah,” jawab Sangga sambil
merangkulkan lengannya ke pundak Damar. Mereka pun
tersenyum bersama.
Sangga lalu bersiap naik ke mobil. Menyusul Ayah
dan Bunda yang sudah lebih dulu masuk. Lalu Sangga
menoleh saat sebuah suara memanggilnya. Dengan
terengah-engah Aldi, Rafa, dan Budi berlari menuju
Sangga.
40