The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Makalah tentang sebagian pembahasan dalam mata kuliah ulumul quran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mkafandi, 2023-08-15 08:29:54

AQSAM AL-QURAN, SUMPAH-SUMPAH DALAM AL-QURAN

Makalah tentang sebagian pembahasan dalam mata kuliah ulumul quran

Keywords: aqsam,alquran,quran,qasam,sumpah,qosam,demi allah,ulumul quran

AQSAM AL-QUR’AN, SUMPAH-SUMPAH DALAM AL-QUR’AN Oleh : Mohammad Kholid Afandi Mahasiswa Prodi PAI Fakultas Agama Islam Universitas Islam Darul Ulum Lamongan Definisi Aqsam al-Qur’an Aqsam al-Qur’an (آن ْ ر ُ ق ْ ام ال سَ ْ ق َ أ (merupakan frasa dari kata aqsam dan Al-Qur’an. Aqsam ام) سَ ْ ق َ أ (adalah bentuk jamak dari qasam (م سَ َ ق (yang berarti “sumpah”1 . Dalam kosakata Arab, selain qasam, untuk makna “sumpah” dijumpai pula kosakata yamin ( ِمي ْ َ ِلف) halif), ي َ dan) ح beberapa kosakata lain. Kamaluddin Ibn al-Himam, seorang ulama’ madzhab Hanafi, menyatakan: ِّ ِكي ِدي ْ و َّ اتل َن َ ْ ع َ م ْ ا ال َ ذ َ ه ُ اء َ م ْ س َ أ َ و ِميُ َ ْ اْل َ ،و ُ ء َ يَل ِ ْ اْل َ و ُ اق َ ِميث ْ ال َ ، و ُ د ْ ه َ ع ْ ال َ و ُ م سَ َ ق ْ ال َ ، و ِلف ُ َ ْ : اْل ٌ ة َّ ِست Nama-nama dari makna taukid (penegasan) ini ada enam, yaitu, al-halif, al-qasam, al-‘ahd, almitsâq, al-îlâ’, dan al-yamîn. 2 Tentang pengertian sumpah, berikut sejumlah definisi dari sejumlah ulama’ di beberapa referensi. (1) Dalam Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, saat menjelaskan istilah aymân, bentuk jamak dari yamîn, terdapat kutipan bahwa penulis kitab Ghayat al-Muntaha, dari kalangan ulama Hanbali, menjelaskan al-yamîn adalah: وٍص صُ ْ َ ٍه َم ْ ج َ و ٍم لَع ََ َّ ظ َ ع ُ م ِ ر ْ ِذك ِ ٍم ب ُكْ ح ُ ِكيد ْ و َ ت yakni menegaskan hukum dengan menyebutkan sesuatu yang diagungkan dengan cara khusus3. 1 Dalam Fathul Khabir, redaksinya adalah Iqsâm al-Qur’an, dengan syakal kasrah pada hamzah. Berasal dari aqsama – yuqsimu – iqsâman () bentuk mashdar dari fi’il madli “aqsama” () yakni “bersumpah”. Lihat Fathul Khabir jilid II/172. 2 Fathul Qadir 3 Mausu’ah VII/245. Dari ungkapan ini disimpulkan bahwa cakupan yamîn hanya tertentu pada qasam, padahal dalam ranah fiqh madzhab Hanbali, ta’liq (penggantungan) enam hal, yakni menggantungkan kekufuran, talak, zhihâr, keharaman, kemerdekaan budak dan kesanggupan melakukan ritual ibadah adalah termasuk dalam kategori yamîn, sebagaimana ditegaskan Syaikh Ibnu Taymiyyah dalam Majmu’ Fatawa-nya. Hanya saja, ini


(2) Imam Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan fî Ulum al-Qur’ân memaparkan bahwa qasam menurut para ulama’ nahwu adalah: َُ ب َ ْ ا اْل َ ِه ب ُ د َّ ك َ ؤ ُ ي ٌ ة َ ل ُجُ ْ Jumlah yang digunakan untuk menegaskan berita.. Maka berdasarkan hal ini, para ulama’ memasukkan dalam kategori qasam, ungkapan firman Allah berikut: َّ ِن إ ُ د َ ه ْ ش َ ي اهللُ َ و َ ون ُ ِذب َ َك َ ل افِِقيَ َ ن ُ م ْ ال Dan Allah bersaksi bahwa sesungguhnya orang-orang munafik pastilah para pembohong Meskipun ungkapan ayat di atas berbentuk khabar (pernyataan), akan tetapi tatkala ditampilkan dalam nuansa penegasan berita, maka ungkapan tersebut pun dikategorikan qasam4. (3) Menurut Faruq Muwasi dalam artikel berjudul “Uslûb al-Qasam” blog Diwân al-‘Arab, qasam adalah: ُجُ ْ َ ل ٌ ة فِ ْ عِل َّ ي ٌ ة َ أ ْ و ْ ِم اس َّ ي ٌ ة َ ؤ ُ ت َّ ك ُ ِد ب َ ه ا ُجُ ْ َ ل ٌ ة َ ِخ َ ب َّ ي ٌ ة ُ م ْ و َ ج َ ب ٌ ة َ أ ْ و َ م ْ نِف َّ ي ٌ ة Jumlah fi’liyyah atau ismiyyah yang dengannya jumlah khabariyah ditegaskan, baik yang bermuatan positif5 Rukun-rukun aqsam al-Qur’an Secara umum, bangunan qasam tersusun dalam dua jumlah (kalimat), yakni jumlah qasam, jawab qasam. Jumlah qasam bisa berupa jumlah fi’liyyah (kalimat dengan susunan fi’il – fâ’il atau susunan kata kerja - pelaku), atau jumlah ismiyyah (kalimat dengan susunan mubtada’ – khabar atau susunan subyek – predikat). hanyalah kaitan teknis dengan fiqh, jika dikaitkan dengan pembahasan ulumul Qur’an, pembahasan tersebut tidak relevan. 4 Al-Burhan 5 Uslub al-Qasam, dalam Diwan al-Arab, Faruq Muwasi


Untuk lebih dapat memahami rukun-rukun atau elemen-elemen pembangun ungkapan qasam, ada baiknya kita ambil sampel sederhana dan standar dari dua buah pernyataan sumpah, seperti berikut: ُ أ ْ ق ِس ُ با ِهلل ِم ِ ا ب َ ن َ ا أ َ م ٍ اتِل َ ق Saya bersumpah demi Allah, aku bukan pembunuh ُ د ْ ه ِْم َ ع ا ِهلل ِ سَ َ ق ُ َ ل ا ً د ْ ي َ ز َّ ن َ م ِّ ِظ َ ع Janji Allah sebagai sumpahku, aku akan memuliakan Zaid Maka dua ungkapan di atas mengandung dua jumlah. Jumlah pertama, disebut jumlah qasam. Jumlah kedua disebut jumlah jawab qasam. Lihat bagan berikut: ٍ اتِل َ ِق ا ب َ ن َ ا أ َ م ُ أ ْ ق ِس ُ با ِهلل ِم ُ َ ل ا ً د ْ ي َ ز َّ ن َ م ِّ ِظ َ ع ُ د ْ ه ِْم َ ع ا ِهلل ِ سَ َ ق Dalam contoh pertama, jumlah qasam berupa jumlah fi’liyyah, yang terdiri dari fi’il qasam beserta fa’il (subyek pelaku), huruf qasam (kata partikel sumpah) dan muqsam bih (yang digunakan untuk bersumpah), yakni lafal yang dilekati huruf qasam6. Sedangkan dalam contoh kedua, jumlah qasam berupa jumlah ismiyyah, yang terdiri dari fi’il qasam beserta fa’il (subyek pelaku), huruf qasam (kata partikel sumpah) dan muqsam bih (yang digunakan untuk bersumpah), yakni lafal yang dilekati huruf qasam Contoh pertama Contoh kedua 6 Mausu’ah VII/252 ُ أ ْ ق ِس م بِـ اهلل ُ Fi’il qasam beserta fa’ilnya Huruf qasam Muqsam bih ُجلة القسم ُجلة جواب القسم ُ د ْ ه ع اهلل َ ِِمْ سَ َ ق Adat alqasam Muqsam bih Khabar Mubtada’


Sedangkan jumlah kedua disebut jumlah jawab qasam, yaitu jumlah muqsam alaih, kalimat yang oleh pengujar sumpah dikehendaki untuk ditegaskan kandungan maknanya, meliputi penetapan (itsbât) maupun peniadaan (nafy 7. 7 Mausu’ah VII/257


Untuk lebih detail memahami elemen-elemen penyusun sumpah, berikut ini paparan untuk masing-masing elemen. 1. Adat qasam (perangkat sumpah) Jika dipandang dari perspektif fiqh, ada banyak ragam adat qasam berikut kontroversi terkait ketentuannya menurut para ulama’ madzhahib arba’ah. Tentunya, ini ada kaitannya dengan konsekwensi hukum apakah sebuah pernyataan bisa disebut sumpah atau tidak, yang jika melanggarnya, akan ada konsekwensi kaffarat. Karena makalah ini terkait aqsam alQur’an, maka pembahasan tidak akan melebar pada sisi fiqhiyyah tersebut. Adat qasam, bisa berupa fi’il, jika jumlah qasam berupa jumlah fi’liyyah; bisa berupa isim jika jumlah qasam berupa jumlah ismiyyah. Jika berupa fi’il, setidaknya, ada dua lafal populer yang digunakan sebagai fi’il qasam, yakni lafal yang musytaq atau berakar kata dari mashdar kata qasam (lebih tepatnya iqsâm) dan halif. Bentuknya bisa berupa fi’il madli atau fi’il mudlari’. Lebih jelasnya bisa dilihat pada table berikut: No. Bentukan mashdar Bentuk fi’il madli dan contoh penerapannya Bentuk fi’il mudlari’ dan contoh penerapannya ام .1 سَ ْ ِق م / إ سَ َ ق َ م سَ ْ ق َ أ تُ ْ م سَ ْ ق َ أ ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب ُ ِسم ْ ق ُ ي ُ أ ِس ْ ق ُ م ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب ِلف .2 َ ح ف َ َ ل َ ح ْ ف َ ل َ ح ُ ت ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب ِلف ُ ْ َ َي ِلف ُ ْ ح َ أ ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب Jika berupa isim, adat qasam dalam jumlah ismiyyah biasanya diposisikan pada mubtada’. Jika adat qasam berupa lafal-lafal terkategorikan sebagai nash sharih atau eksklusif sebagai qasam, maka khabar harus dibuang. Seperti : ا ً د َ ح َ أ تُ ْ َ ََضب ا َ ا ِهلل م ُ ر ْ م َ ع َ ل Sebelum terjadi pembuangan, asal muasalnya adalah ا ً د َ ح َ أ تُ ْ َ ََضب ا َ م ِِمْ سَ َ ا ِهلل ق ُ ر ْ م َ ع َ Frase . ل ا ِهلل lafal ُ ر ْ م َ ع َ ل adalah mubtada’, khabar-nya adalah lafal ْمِِ سَ َ ق yang wajib dibuang. Sedangkan تُ ْ َ ََضب ا َ م ا ً د َ ح َ أ adalah jumlah jawab qasam atau muqsam alaih. Frase ُ ر ْ م َ ع َ ل yang diidlafahkan pada lafal lain (dalam hal ini lafal jalalah) adalah lafal yang eksklusif untuk qasam, tidak


digunakan untuk selain qasam. Karenanya khabar wajib dibuang. Contoh lain yang eksklusif sebagai qasam adalah lafal هلل ِا ِمي ْ ُ َ ا ِهلل dan ي نُ ُ م ْ ي َ . أ


2. Huruf Qasam (kata partikel sumpah) Huruf qasam ada dalam pembahasan kategori sumpah pertama (yakni jumlah qasam berbentuk jumlah fi’liyyah). Ada tiga macam huruf qasam yaitu ba’, wawu dan ta’. Ketiganya merupakan huruf jar. Ada beberapa ketentuan umum penggunaan masing-masing dari tiga huruf qasam tersebut. Berikut ini paparannya, sebagaimana diringkas dari keterangan dalam Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah. No. Huruf qasam Ketentuan Contoh penerapan ابلاء .1 (ba’) - Ba’ adalah asal / induk huruf qasam. - Karenanya, dalam penerapan qasam dengan ba’, boleh menyertakan fi’il qasam, boleh pula membuangnya - Boleh dirangkai dengan muqsam bih berupa isim zhahir, boleh pula berupa isim dlamir. - ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب ُ ِسم ْ ق ُ أ - ُ أ ْ ق ِس ُ ِم ب كَ َ ي َ ا ر ِبِّ ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ل - ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب الواو .2 (wawu) - Fi’il qasam harus dibuang - Hanya bisa dirangkai dengan muqsam bih berupa isim zhahir. - ا ِهلل َ و ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ل - َ و ِ َّ اّل يْ َ ن ْ ف ِ ِسْ ب َ ي ِدهِ َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ل ا َ ذ َ ك - ا َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل ِ ب اتلاء (ta’) - Fi’il qasam harus dibuang - Hanya bisa dirangkai dengan muqsam bih berupa isim zhahir tertentu, yakni lafazh jalâlah (اهلل ,(atau terkadang dirangkai dengan lafazh rabb ( بِّ َ yang) ر diidlafahkan khusus pada ya’ mutakallim atau pada lafal ِة َ ب ْ ع َ ك ْ ال - َ و تا ِهلل َ ََ ل ِك ْ ي َ د َّ ن َ أ صْ َ ن َ ام ُ م ك ْ - َ ت َ ر ِبِّ ْ ال َ ك ْ ع َ بِة ََ ل ْ ف َ ع َ ل َّ ن َ ك َ ذا 3. Muqsam bih (yang digunakan untuk bersumpah) Muqsam bih, adalah sesuatu yang digunakan untuk bersumpah. Untuk mengenalinya, lafal yang ditempeli huruf qasam itulah muqsam bih.. Menurut mayoritas fuqaha, muqsam bih


haruslah al-isim al-mu’azhzham, nama yang dimuliakan, yakni lafal jalalah alias lafal “Allah” (اهلل ,(atau nama-nama Allah lainnya, atau sifat-sifatNya. Terkait, bolehkah bersumpah dengan menyebut nama selain Allah atau sifat-sifatNya, ada sejumlah kontroversi pendapat di antara fuqaha, terkait keabsahannya sebagai sebuah sumpah yang berkonsekwensi hukum, juga terkait hukum taklifi-nya, yakni halal – haramnya. Semisal, bersumpah dengan nama Nabi, bersumpah dengan nama Al-Qur’an, dan lain-lain. Lebih jauh bisa dicek di literatur fiqh. Relevansinya dengan pembahasan aqsam al-Qur’an kali ini adalah bahwa sumpahsumpah yang diungkapkan oleh Allah dalam Al-Quran, ternyata berbeda dengan ketentuan sumpah yang kita ungkapkan. Sekian banyak ungkapan sumpah dalam Al-Qur’an, hanya di tujuh tempat saja Allah bersumpah dengan dzat-Nya, di selebihnya Allah justru bersumpah dengan menyebut nama-nama makhluk-Nya8. Tujuh tempat yang Allah bersumpah dengan nama dzat-Nya sendiri adalah sebagai berikut9: )1( ا َ م السَّ ِّ ب َ ر َ و ف ِء ِض َ ْ ر َْ اْل َ و ُ ه َّ ِان ق َ َ ْل ِم َ ل ْ ث ا َ م ْ م كُ َّ ن َ ا َ ن ْ و ُ ِطق ْ ن َ ت )اّلاريات: 23) Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan (QS. Adz-Dzariyat: 23) )2( ْ ن َ ت ْ س َ ي َ و ِـ ب كَ َ ن ْ و ق َ ح َ ا َ و ُ ه . ْ ل ُ ق ِايْ ْ ِّ ّب َ ر َ و ُ ه َّ ِان ق َ َ ْل . ا َ م َ و ْ م ُ ت ْ ن َ ا َ ن ْ ي ِ ِجز ْ ع ُ ِم ب )يونس: 53) Dan mereka menanyakan kepadamu (Muhammad), “Benarkah (azab yang dijanjikan) itu?” Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab) itu pasti benar dan kamu sekali-kali tidak dapat menghindar. (QS. Yunus: 53) )3( ْ و ُ ر َ ف َ كَ ن ْ ِي َّ اّل َ م َ ع َ ز ا ْ و ُ ث َ ع ْ ب ُّ ي ْ ن َّ ل ْ ن َ ا ا . ْ ل ُ ق ٰ ل َ ب ْ ِّ ّب َ ر َ و َّ ُ ث َ ع ْ ب ُ َ تل َّ م ُ ث َّ ن ُ ؤ َّ ب َ ن ُ َ تل ا َ ِم ب ْ ِمل َ ع ْ م ُ ت . لِكَ ٰ ذ َ و لَع ا ِهلل ٌ ََ ْ ِسي َ ي )اتلغابن: 7) Orang-orang yang kafir mengira, bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad), “Tidak demikian, demi Tuhanku, kamu pasti 8 Zubdatul Itqan 165 9 Zubdatul Itqan 165


dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan.” Dan yang demikian itu mudah bagi Allah (QS. At-Taghabun: 7) )4( َّ ن ِِضَ ْ ح ُ َ َل َّ م ُ ث ِطي َْ ٰ ي َّ الش َ و ْ م ُ ه َّ ن ُش ُ َ ْ ح َ َ َل كَ ِّ ب َ ر َ و َ ف ا ًّ ِجِثي َ م َّ ن َ ه َ ج َ ل ْ و َ ح ْ م ُ ه )مريم: 68) Maka demi Tuhanmu, sungguh, pasti akan Kami kumpulkan mereka bersama setan, kemudian pasti akan Kami datangkan mereka ke sekeliling Jahanam dengan berlutut (QS. Maryam: 68) )5( ِعي َْ َْ ُج َ ا ْ م ُ ه َّ ن َ ل َ ـ ْ س َ ن َ ل كَ ِّ ب َ ر َ و َ ف )اْلجر: 92) Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua )6( ْ ي َ ب َ ر َ ج َ ا ش َ م ْ ِفي َ ك ْ و ُ م ِّ ك َُ َي ى ّٰت َ ح َ ن ْ و ُ ِمن ْ ؤ ُ ي َ ْل كَ ِّ ب َ ر َ و َ َل َ ف َ ْل َّ م ُ ث ْ م ُ ه َ ن ا ً ج َ ر َ ح ْ ِم ِسه ُ ف ْ ن َ ا ِِفْ ا ْ و ُ ِد َ َي ِم ا َّ م ا ً م ْ ِلي ْ س َ ا ت ْ و ُ م ِّ ل سَ ُ ي َ و تَ ْ ي ضَ َ ق )النساء: 65) Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnyan (QS. An-Nisa: 65) )7( َ ن ْ و ُ ِدر ٰ ق َ ا ل َّ ِ ِب ِان ر ٰ غ َ م ْ ال َ ِ ِق و َُش ٰ م ْ ال ِّ ب َ ِر ب ُ ِسم ْ ق ُ ا َ َل َ ف )املعارج: 40) mengatur tempat-tempat terbit dan terbenamnya (matahari, bulan dan bintang), sungguh, Kami pasti mampu (QS. Al-Ma’arij: 40) Selain di tujuh tempat di atas, sumpah-sumpah yang diungkapkan Allah dalam Al-Quran dengan menggunakan nama makhluk-makhlukNya, seperti beberapa contoh berikut10: ِن )1) ْ و ُ ت ْ ي َّ الز َ ِ و ي ْ ِّ اتل َ و )اتلي : 1) Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun (QS. At-Tin: 1) )2( َّ الص َ و ا َّ اف ِت ا ًّ ف َ ص )الصافات: 1) 10 Zubdatul Itqan 165


Demi (rombongan malaikat) yang berbaris bersaf-saf (QS. Ash-Shaffat: 1) )3( َ ح ضُ َ ِس و ْ م َّ الش َ و ا ا َ ه )الشمس: 1) Demi matahari dan sinarnya pada pagi hari (QS. Asy-Syams: 1) ْ ٰش )4) غ َ ا ي َ ِاذ ِ ل ْ َّ اْل َ و )الليل : 1) Demi malam apabila menutupi (cahaya siang) (QS. Al-Lail: 1) )5( ح ٰ ُّ الض َ و )الضح: 1) Demi waktu duha (ketika matahari naik sepenggalah) (QS. Adl-Dluha: 1) )6ِ )س َّ ن ُ ْ اْل ِ ب ُ ِسم ْ ق ُ ا َ َل َ ف )اتلكوير: 15) Aku bersumpah demi bintang-bintang (QS. At-Takwir: 15) Jika muncul sebuah pertanyaan kritis, mengapa Allah bersumpah dengan nama makhlukNya, padahal Allah melarang kita bersumpah dengan selain nama Allah? Ada tiga penjelasan terkait hal ini11 . Pertama, dalam hal ini terdapat pembuangan mudlaf. Ketika diungkapkan ( ِ ي ْ ِّ اتل َ و (maka yang dikehendaki sebenarnya adalah ( َ و ِّ ب َ ِ ر ي ْ ِّ اتل” ,( Demi buah Tin”. Demikian pula diterapkan pada contoh lain. Kedua, sejak dulu orang Arab mengagungkan beberapa hal ini (hal-hal yang digunakan sebagai sumpah dalam Al-Qur’an, buah Tin misalnya), dan bersumpah dengannya, lalu Al-Qur’an turun dengan gaya bahasa yang sesuai dengan apa yang mereka kenali (yakni bersumpah dengan buah Tin misalnya). Ketiga, bahwa dalam bersumpah, dengan apa seseorang bersumpah, bergantung dengan apa yang diagungkan dan dianggap mulia oleh orang yang bersumpah, dan sesuatu yang menjadi sumpah (muqsam bih) derajatnya tentu seatasnya orang yang bersumpah (muqsim). Jika Allah 11 Zubdatul Itqan 165


yang bersumpah, taka da lagi yang seatas Dia. Maka jika Allah bersumpah, terkadang dengan menggunakan namaNya sendiri, terkadang dengan menggunakan nama ciptaan-ciptaanNya, karena ciptaan-ciptaanNya ini pasti menunjukkan Sang Penciptanya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al-Hasan, beliau berkata, “Sesungguhnya Allah bersumpah dengan atas nama apa yang Dia kehendaki dari makhlukNya. Tetapi tidak boleh seseorang bersumpah kecuali atas nama Allah.”12 3. Muqsam alaih atau jumlah jawab qasam Muqsam alaih atau jumlah jawab qasam kandungan makna yang ingin ditegaskan dengan sumpah, bisa berupa ungkapan positif (ijab), atau ungkapan negatif (nafy). Dilihat dari susunan lafalnya, sama seperti jumlah qasam, jumlah jawab qasam juga bisa berupa jumlah fi’liyyah, atau berupa jumlah ismiyyah. Jumlah fi’liyyah bisa diawali dengan fi’il mudlari’, bisa pula diawali dengan fi’il madli. Ada ketentuan umum secara nahwiyyah untuk menyusun jumlah jawab qasam yang berupa jumlah fi’liyyah ini. - Jika berupa fi’il mudlari’, ungkapan positif (îjâb atau itsbât) harus di-taukidi dengan huruf lam sebelum fi’il mudlari’, dan nun taukid setelahnya. ا :Contoh َ ذ َ ك َّ ن َ ل َ ع ْ ف ََ ا ِهلل ل َ و Jika ditemui jawab qasam berupa fi’il mudlari’ mutsbat (positif) yang tidak terdapat lam dan nun taukid, maka jawab qasam tersebut dianggap manfiy (ungkapan negatif) dengan adanya huruf nafy yang dibuang. Contohnya firman Allah: تا ِهلل َ َ ت ْ ف َ ت ُ أ َ ت ْ ذ ُ ك ُ ر ُ ي ْ و ُ س َ ف )يوسف : 85) Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf… (QS. Yusuf : 85) Asalnya adalah َ ْل َ ت ْ ف َ ت ُ أ) huruf nafy dibuang) - Jika berupa fi’il madli, ungkapan positif (îjâb atau itsbât) harus di-taukidi dengan huruf lam berserta lafal ْ د َ . ق 12 Zubdatul Itqan 165


وا ِهلل َ :Contoh َ ل َ ق ْ د َ ف َ ع ْ ل تُ َ ك َ ذا Macam-macam aqsam al-Qur’an Ada beragam macam qasam, termasuk aqsam al-Qur’an, melihat pada masing-masing sisi pandangnya. Bisa dilihat dari sisi pandang jumlah qasam, atau jumlah jawab qasam, atau sisi pandang lain sebagaimana dalam paparan sebelumnya. Sub pembahasan kali ini membahas macam-macam aqsam al-Qur’an dari sisi kandungan makna muqsam alaihnya. Dalam tinjauan bahasa, terlepas sebagai sebuah ungkapan sumpah dalam Al-Qur’an, muqsam alaih atau kandungan makna yang ingin ditegaskan dari sebuah ungkapan sumpah bisa berupa hal-hal berikut: - Kabar berita tentang kejadian yang telah terjadi. Termasuk dalam kategori ini adalah sesuatu yang belum terjadi, tapi pasti akan terjadi, seperti bersumpah bahwa setiap orang akan mati. Baik berupa mutsbat (positif) atau manfy (negatif). - Kesungguhan pengujar sumpah yang akan melakukan perbuatan tertentu atau meninggalkannya. - Kesungguhan pengujar sumpah untuk meminta orang lain melakukan sesuatu atau meninggalkannya. Jika dikaitkan dengan aqsam al-Qur’an, kandungan makna sumpah yang diungkapkan dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut: - Bersumpah untuk menguatkan pokok-pokok keimanan. Contoh: ى الص و ِت َ ى ف ا ًّ ف َ ص . ا ً ر ْ ج َ ِت ز ِجرٰ ى الز َ ف . ا ً ر ْ ِت ِذك ٰ ِلي ى اتل َ ف . ٌ ا ِحد َ و َ ل ْ م َكُ ه ٰ ِال َّ ِان )الصافات: 1) - Bersumpah untuk menguatkan pernyataan tertentu sebagai sebuah kebenaran. Contoh: قِِع ٰ و َ ِم ب ُ ِسم ْ ق ُ ا َ َل َ ف ِم ْ و ُ ج ُّ اَل . ُ ه َّ ِان َ و ٌ م سَ َ ق َ ل ْ و َّ ل َ ن ْ و ُ م َ ل ْ ع َ ت ٌ م ْ ِظي َ ع . ُ ه َّ ِان ٌ ن ٰ ا ْ ر ُ ق َ ل ٌ م ْ ي ِ ر َ ك )الواقعة : 75-77) - Bersumpah untuk menguatkan bahwa kebenaran datangnya utusan Allah. Contoh: ٰس ِم ي . ْ ِكي َ ْ ِن اْل ٰ ا ْ ر ُ ق ْ ال َ و . ِلي َْ َ س ْ ر ُ م ْ ال َ ِمن َ ل كَ َّ ِان . )يس: 1-3) - Bersumpah untuk menguatkan kebenaran balasan, janji dan ancaman. Contoh:


ا ً و ْ ر َ ِت ذ ٰ ي ِ ر ى اّل َ و . ا ً ر ْ ق ِ ِت و ٰ ِمل ٰ ْ اْل َ ف . ا ً ُْس ْ ِت ي ٰ ي ِ ر ٰ ْ اْل َ ف . ا ً ر ْ م َ ِت ا ٰ م سِّ َ ق ُ م ْ ال َ ف . ٌ اِدق صَ َ ل َ ن ْ و ُ د َ ع ْ و ُ ا ت َ م َّ ِان . ا َّ ِان َّ و َ ن ْ ي ِّ دل ٌ اقِع َ و َ ل . )اّلاريات 1-6) - Bersumpah untuk menguatkan keadaan manusia. Contoh: ْ ٰش غ َ ا ي َ ِاذ ِ ل ْ َّ اْل َ و . ى ل َ َ ا َت َ ِاذ ِ ار َ ه َّ اَل َ و . ث ٰ ْ ن ُ ْ اْل َ و َ ر َ ك َّ اّل َ ق َ ل َ ا خ َ م َ و . ى ّٰت َ ش َ ل ْ م َكُ ي ْ ع َ س َّ ِان . )الليل 1-4) Tujuan dan faedah aqsam al-Qur’an Mungkin akan muncul sebuah pertanyaan kritis, apa sebenarnya makna dari sumpahsumpah dalam Al-Qur’an? Karena jika diungkapkan pada orang mukmin, maka orang mukmin pasti akan membenarkan apa yang diungkapkan Allah melalui ayat-ayat Al-Quran dengan semata pengungkapan kalam khabar. Dan jika diungkapkan untuk orang kafir, maka tetap saja, sumpah belum pasti akan menjadikannya percaya. Jawaban yang diajukan terkait ini adalah sebagai berikut: Bahwa Al-Qur’an datang dengan bahasa Arab. Dan, sebagian dari tradisi orang Arab adalah mengungkapkan sesuatu dengan bentuk sumpah jika ingin adanya penegasan dan penguatan. Abul Qasim Al-Qusyairi menjawab, bahwa Allah menuturkan sumpah demi kesempurnaan dan penguatan hujjah. Hal tersebut karena hukum – dalam ranah peradilan – dibuktikan dengan dua hal, adakalanya dengan syahadah (saksi) atau dengan sumpah. Maka Allah menuturkan keduanya dalam Al-Quran. ْ ل ُ ق ِايْ ْ ِّ ّب َ ر َ و ُ ه َّ ِان ق َ َ ْل )يونس: 53) Katakanlah, “Ya, demi Tuhanku, sesungguhnya (azab) itu pasti benar (QS. Yunus: 53) ُ اهللِّ َ ِد ه َ ش ُ ه َّ ن َ ا َ ْل َ ٰ ِال َّ ِاْل َ و ُ ه ُ ة َ ِك ي ٰ ل َ م ْ ال َ و وا ُ ول ُ ا َ و ِم ْ ِعل ْ ال )آل عمران : 18) Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu (QS. Ali Imron: 18)


REFERENSI Syaikh Muhammad Mahgfudh At-Turmusy, Fathul Qadir bi Syarh Miftâh at-Tafsîr (Jakarta: Maktabah At-Turmusy lit Turats) Wizarat al-Awqaf, Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah (Kuwait: Darus Salasil) Abu Abdillah Badruddin Muhammad bin Abdillah bin Bahadir Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah) Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Zubdat al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, (Beirut: Dar al-Kotob al-Ilmiyyah) Faruq Muwasi, Uslub al-Qasam, dalam Diwan al-Arab, https://www.diwanalarab.com/spip.php?page=article&id_article=47551 diakses tanggal 10 Januari 2020. Syabkah Wahat al-Ulum ats-Tsaqafiyyah, http://azhar.forumegypt.net/t8935-topic diakses tanggal 12 Januari 2020.


Click to View FlipBook Version