The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Berwarna Kegiatan Pembelajaran Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus Lembar_20240325_163435_0000

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Amira Riza, 2024-03-25 11:12:35

Kelompok 1 9C _ProklamasiKemerdekaan

Berwarna Kegiatan Pembelajaran Hari Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus Lembar_20240325_163435_0000

Proklamasi kemerdekaan Kelompok 1 Nama Anggota Kelompok: 1. Amira Riza Arisanti (02) 2. Deynala Apta Kintamani (09) 3. Herin Dwi Cipta Sari (15) 4. Ra Sabda Diva Bella F. (28)


a. persiapan kemerdekaan Indonesia Pada tahun 1944, di sejumlah medan pertempuran, Jepang menderita kekalahan telak. Apalagi setelah kota-kota di Indonesia mulai mendapat serangan Sekutu, seperti kota Ambon, Makassar, dan Manado. Bahkan, pada akhir 1944, tentara Sekutu sudah berhasil mendarat di Balikpapan. Keberhasilan Sekutu ini pukulan telak bagi Jepang. Berbagai ancaman terhadap Jepang dari luar negeri semakin tajam. Ini mengakibatkan terganggunya stabilitas politik, yang ditandai dengan jatuhnya pemerintahan kabinet Tojo. Pada tanggal 17 Juli 1944, Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo mengundurkan diri, ia digantikan Kuniaki Koiso. Menyadari mulai terdesaknya para tentara Jepang di medan tempur, Perdana Menteri Kuniaki Koiso berupaya memperbaiki martabat Jepang di mata negara-negara jajahan. Karena itu pada tanggal 7 September 1944, di depan sidang parlemen Jepang (Teikiko Ginkai), ia memberikan janji kemerdekaan kepada sejumlah negara, termasuk Indonesia. Untuk membuktikan janjinya, Jepang memperbolehkan pengibaran bendera merah putih di kantor-kantor dan instansi dengan syarat berdampingan dengan bendera Jepang Hinomaru.


a. persiapan kemerdekaan Indonesia 1. Pembentukan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) Menindaklanjuti janji perdana menteri Jepang, pada tanggal 1 Maret 1945 Panglima Tentara Jepang di Jawa, Kumakici Harada mengumumkan pembentukan Dokuritsu Junbi Cosakai atau Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Anggota badan ini berjumlah 67 orang, terdiri atas 60 tokoh-tokoh pergerakan dan 7 orang Jepang. Terpilih ketua Rajiman Wedyodiningrat, dibantu Ketua Muda R.P. Suroso dan seorang Jepang Icibangase (Syucokan Cirebon). BPUPKI dalam sidangnya berhasil merumuskan dasar negara Indonesia yang akan segera didirikan. Undang-undang dasar yang dibuat, akan dipakai sebagai sumber dari segala sumber hukum penyelenggaraan pemerintahan.


a. persiapan kemerdekaan Indonesia a) Sidang Pertama BPUPKI (29 Mei - 1 Juni 1945) Pada sidang pertama dibahas masalah azas dan dasar negara Indonesia merdeka. Pada sidang ini disepakati bahwa dasar negara Indonesia harus berasal dari nilai-nilai yang berakar kuat dan menjadi pikiran rakyat yang tumbuh subur di seluruh lapisan masyarakat. Selama sidang ada tiga tokoh yang menyampaikan pemikirannya, yaitu Mr. Muhammad Yamin, Ir. Soekarno, dan Prof. Dr. Mr. Supomo. Gagasan mengenai rumusan lima sila dasar yang dikemukakan Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945 dikenal dengan istilah Pancasila lalu dikenang dengan ditetapkannya tanggal 1 Juni sebagai hari lahir Pancasila. Sebelum mengakhiri sidang tahap pertama, dibentuk tim yang terdiri atas sembilan orang yang dinamakan Tim Sembilan. Yang beranggotakan Ir. Soekarno merangkap sebagai ketua, Drs. Mohammad Hatta, A. A. Maramis, Abikusno Tjokrosuyoso, Abdulkahar Muzakir, H. Agus Salim, Mr. Achmad Subarjo, KH. Wachid Hasyim, dan Mr. Muhammad Yamin. Tugas Tim Sembilan adalah merumuskan rancangan pembukaan Undang-Undang Dasar (UUD) dan selesai pada 22 Juni 1945 serta menghasilkan rumusan yang dinamakan Piagam Jakarta (Jakarta Carter).


a. persiapan kemerdekaan Indonesia Piagam Jakarta ini berisi lima azas yang akan dijadikan dasar falsafah bangsa, yaitu: 1) Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya. 2) Dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. 3) Persatuan Indonesia. 4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan. 5) (Serta dengan mewujudkan suatu) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Setelah mengalami perubahan, Piagam Jakarta dijadikan sebagai Pembukaan UUD 1945.


a. persiapan kemerdekaan Indonesia a) Sidang Kedua BPUPKI (10 Juli - 17 Juli 1945) Dalam sidang kedua, anggota BPUPKI bertambah menjadi 69 orang termasuk pimpinan sidang. Sidang kedua membahas rencana Undang-Undang Dasar (UUD). Dalam sidang ini juga dibicarakan mengenai bentuk negara. Wacana yang muncul adalah bentuk republik atau kerajaan. Mayoritas peserta sidang setuju dengan bentuk republik dengan 64 peserta yang hadir. Untuk mempercepat kerja, BPUPKI membentuk panitia kecil, yang beranggotakan 19 orang. Dengan nama Panitia Perancang UUD yang diketuai oleh Ir. Soekarno. Panitia ini menyepakati Piagam Jakarta dijadikan sebagai inti pembukaan UUD. Untuk merumuskan batang tubuh UUD, Panitia Perancang UUD membentuk panitia lebih kecil yang diketuai Prof. Dr. Supomo dan beranggotakan tujuh orang, yaitu Mr. Wongsonegoro, Mr. Achmad Subarjo, A. A. Maramis, Mr. R. P. Singgih, H. Agus Salim, dan Dr. Sukiman.


a. persiapan kemerdekaan Indonesia Pada 14 Juli 1945, Panitia Perancang UUD yang diketuai Soekarno melaporkan hasil kerja panitia, yaitu: 1. Pernyataan Indonesia Merdeka. 2. Pembukaan Undang-Undang Dasar. 3. Batang Tubuh UUD. Dengan demikian, Panitia Perancang UUD telah selesai melaksanakan tugasnya. Pada 16 Juli 1945, BPUPKI menerima dengan bulat Naskah Undang-Undang Dasar yang dibentuk oleh Panitia Perancang UUD. Setelah menyelesaikan tugas-tugasnya, BPUPKI menyerahkan seluruh hasil kerjanya kepada Saiko Shikikan (panglima tertinggi tentara) di Jawa. Menurut garis komando, Saiko Shikikan di Jawa di bawah Saiko Shikikan Nanpo Gun (panglima militer tertinggi untuk daerah selatan) yang bermarkas di Saigon, Vietnam. BPUPKI yang telah menyelesaikan tugasnya kemudian dibubarkan. Selanjutnya, pada 7 Agustus 1945, Jenderal Terauchi menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) atau Dokuritzu Zunbi Inkai sebagai ganti BPUPKI.


a. persiapan kemerdekaan Indonesia 2) Pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) Pada 7 Agustus 1945 BPUPKI dibubarkan karena dianggap telah menyelesaikan tugasnya, yaitu menyusun rancangan UndangUndang Dasar bagi negara Indonesia. Selanjutnya dibentuklah Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Ketua PPKI adalah Ir. Soekarno dan wakilnya Drs. Mohammad Hatta, Mr. Achmad Subardjo diangkat sebagai penasihat. Pada awal pembentukannya, jumlah anggota PPKI terdiri atas 21 orang, kemudian ditambah, menjadi 27 orang. Tugas utama PPKI adalah mempersiapkan segala sesuatu berkaitan dengan keperluan pergantian kekuasaan dari pihak Jepang kepada bangsa Indonesia. Secara simbolik, PPKI dilantik oleh Jendral Terauchi, pada tanggal 9 Agustus 1945 dengan memanggil tiga tokoh nasional yakni Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wiedyodiningrat dipanggil ke Saigon/Dalat, Vietnam untuk menerima informasi tentang kemerdekaan Indonesia. Informasi tersebut, yaitu pelaksanaan kemerdekaan dapat dilakukan dengan segera dan wilayah Indonesia adalah seluruh wilayah bekas jajahan Hindia Belanda.


B. Peristiwa Rengasdengklok Penyerahan Jepang kepada Sekutu menyebabkan reaksi yang berbeda di antara para tokoh pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia. Para anggota PPKI atau Golongan Tua, seperti Soekarno dan Hatta tetap menginginkan proklamasi dilakukan sesuai mekanisme PPKI. Tetapi, Golongan Muda seperti Tan Malaka dan Sukarni menginginkan proklamasi kemerdekaan dilaksanakan sesegera mungkin.


B. Peristiwa Rengasdengklok Ini lah beberapa pertentanngan pendapat antara golongan tua dan golongan muda inilah yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa rengasdengklok 1) Golongan Tua Mereka yang dicap sebagai golongan tua adalah para anggota PPKI yang diwakili oleh Soekarno dan Hatta. Mereka adalah kelompok konservatif yang menghendaki pelaksanaan proklamasi harus melalui PPKI sesuai dengan prosedur maklumat Jepang pada 24 Agustus 1945. Alasan mereka adalah meskipun Jepang telah kalah, kekuatan militernya di Indonesia harus diperhitungkan demi menjaga hal-hal yang tidak dinginkan. 2) Golongan Muda Menanggapi sikap konservatif golongan tua, golongan muda yang diwakili oleh para anggota PETA dan mahasiswa merasa kecewa. Mereka tidak setuju terhadap sikap golongan tua dan menganggap bahwa PPKI adalah bentukan Jepang. Oleh karena itu, mereka menolak jika proklamasi dilaksanakan melalui PPKI. Sutan Syahrir termasuk tokoh pertama yang mendesak Soekarno dan Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia.


B. Peristiwa Rengasdengklok Perbedaan sikap ini mendorong para pemuda kembali berunding pada pukul 24.00 menjelang 16 Agustus 1945. Rapat itu dihadiri oleh Sukarni, Chaerul Saleh, Yusuf Kunto, dr.Muwardi, Syudanco Singgih, dan dr. Sucipto. Hasil perundingan itu menyepakati untuk membawa Soekarno-Hatta ke luar kota dengan tujuan menjauhkan mereka dari pengaruh Jepang. Selanjutnya, Pada 16 Agustus 1945 pukul 04.30, Soekarno-Hatta dibawa para pemuda Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat. Sesampainya di Rengasdengklok, Soekarno-Hatta dan rombongannya disambut baik oleh pasukan Peta pimpinan Syudanco Subeno. Niat para pemuda untuk mendesak SoekarnoHatta tidak terlaksana. Kedua tokoh golongan tua tersebut mash mempunyai wibawa yang cukup besar. Soekarno-Hatta tetap pada pendiriannya untuk tidak melaksanakan proklamasi kemerdekaan sebelum ada pernyataan resmi dari pihak Jepang tentang menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Selain itu, kemerdekaan tetap harus dimusyawarahkan dulu dalam sidang PPKI.


B. Peristiwa Rengasdengklok Di tengah suasana tersebut, Mr. Achmad Soebardjo datang beserta sekretaris pribadinya, Sudiro pada pukul 17.30 WIB. Ahmad Soebardjo memberitahukan kebenaran menyerahnya Jepang kepada Sekutu. Mendengar berita itu, Soekarno-Hatta akhirnya bersedia memproklamasikan kemerdekaan RI di Jakarta. Mr. Achmad Soebardjo memberikan jaminan dengan nyawanya sendiri bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan esok hari selambat-lambatnya pukul 12.00 WIB. Dengan jaminan yang meyakinkan tersebut, Syudanco Subeno bersedia melepaskan Soekarno-Hatta.


C. perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia Pada malam hari, 16 Agustus 1945, pukul 20.00 WIB, Soekarno-Hatta beserta rombongan berangkat menuju Jakarta. Mereka tiba di Jakarta pada pukul 23.00, lalu menuju rumah kediaman Laksamana Maeda. Tempat ini dianggap aman dari ancaman militer Jepang, karena Laksamana Maeda adalah Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut di daerah kekuasaan Angkatan Darat. Di kediaman Laksaman inilah rumusan teks proklamasi disusun. Ir. Soekarno menuliskan konsep proklamasi kemerdekaan Indonesia yang akan dibacakan esok harinya. Moh. Hatta dan Mr. Achmad Soebardjo menyumbangkan pikirannya secara lisan. Kalimat pertama dari teks proklamasi merupakan saran Ahmad Subardjo sedangkan kalimat terakhir merupakan sumbangan dari Muh. Hatta. Kalimat pertama berisi pernyataan kehendak Bangsa Indonesia untuk merdeka, dan kalimat kedua berisi pernyataan mengenai pemindahan kekuasaan. Pada pukul 04.00 WIB, Soekarno membacakan hasil rumusan tersebut. Akhirnya, seluruh tokoh yang hadir pada saat itu menyetujui secara bulat konsep proklamasi tersebut. Permasalahan muncul mengenai siapa yang harus menandatangani teks proklamasi tersebut. Hatta mengusulkan agar teks proklamasi itu ditandatangani oleh seluruh yang hadir sebagai wakil bangsa Indonesia.


C. perumusan teks proklamasi kemerdekaan Indonesia Sukarni dari golongan muda mengajukan usul bahwa teks proklamasi tidak perlu ditandatangani. oleh semua yang hadir, tetapi cukup oleh Soekarno dan Hatta saja atas nama bangsa Indonesia.) Sukarni juga mengusulkan agar Soekarno yang membacakan teks proklamasi tersebut. Usulan dari Sukarni dterima, kemudian Soekarno meminta kepada Sayuti Melik untuk mengetik naskah) proklamasi dengan beberapa perubahan yang telah disetujui. Ada tiga perubahan yang terdapat pada naskah hasil ketikan Sayuti Melik, yaitu: 1) Kata "tempoh" diganti menjadi "tempo". 2) Kata "wakil-wakil bangsa Indonesia" diganti menjadi "Atas nama bangsa Indonesia". 3) Penulisan tanggal yang tertera "Djakarta, 17-8-05" menjadi "Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen '05". Selanjutnya, Sukarni mengusulkan agar pembacaan proklamasi dilakukan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Usulan itu diterima. Pertemuan kemudian bubar setelah penentuan waktu upacara pembacaan proklamasi kemerdekaan yaitu tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB.D


D. PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17 Agustus 1945 Proklamasi adalah momentum penting bagi bangsa Indonesia. Kemerdekaan bangsa Indonesia merupakan langkah awal untuk menata diri agar diakui keberadaannya oleh dunia internasional. Sejak pagi tanggal 17 Agustus 1945, persiapan upacara pembacaan proklamasi kemerdekaan di- lakukan di Jalan Pegangsaan Timur No. 56. Halaman rumah Soekarno sudah dipadati oleh massa menjelang pembacaan teks proklamasi. Dr. Muwardi memerintahkan kepada Latief Hendraningrat untuk menjaga keamanan pelaksanaan upacara. Latif dalam melaksanakan pengamanan dibantu oleh Arifin Abdurrahman untuk mengantisipasi gangguan tentara Jepang. Tepat pukul 10.00 WIB, upacara proklamasi kemerdekaan Indonesia dimulai. Setelah pidato dan pembacaan proklamasi selesai, kemudian dilakukan pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat dan S. Suhud. Rakyat yang hadir serempak menyanyikan lagu kebangsaan. Indonesia Raya. Upacara proklamasi ditutup oleh sambutan Wali Kota Jakarta, Suwiryo dan


E. sambutan rakyat terhadap proklamasi kemerdekaan Puncak perjuangan bangsa dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah adalah dengan diproklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Sebagian besar rakyat Indonesia dapat dengan cepat menanggapi hakikat dari makna proklamasi itu. Namun demikian ada juga yang menanggapi kemerdekaan itu adalah bebas dari segalagalanya, sehingga mereka berusaha melawan kekuatan yang selama ini membelenggunya. Sikap inilah yang pada gilirannya memunculkan perlawanan-perlawanan baik terhadap tentara Jepang maupun kepada penguasa pribumi yang pada Zaman kolonial Belanda maupun Jepang berpihak kepada penjajah. 1) Rapat Raksasa di Lapangan Ikada Para pemuda yang dipelopori oleh Komite van Aksi Menteng 31 merencanakan untuk mengerahkan massa dalam suatu rapat raksasa di Lapangan Ikada Jakarta pada tanggal 19 September 1945. Tujuannya adalah agar para pemimpin Republik Indonesia dapat berbicara di hadapan massa rakyat. Rencana itu dilaksanakan dengan dua cara, yaitu: persiapan pengerahan massa, me nyampaikan rencana itu kepada presiden. Para pemuda dari berbagai kelompok melancarkan aksi coratcoret melukiskan sem- boyan kemerdekaan, misalnya Sekali Merdeka Tetap Merdeka, Merdeka atau Mati. Para pemuda inilah yang menjadi pelopor Rapat Raksasa di Ikada. Para pemuda tersebut antara lain datang dari Tangerang, Bekasi, Bogor, dan Cibinong.


E. sambutan rakyat terhadap proklamasi kemerdekaan Karena semangat kemerdekaan yang membara di dalam hati rakyat, mereka tidak meng hiraukan teriknya matahari dan penjagaan ketat oleh tentara Jepang yang siap siaga dengan) tank-tank berlapis baja. Pasukan Jepang memeriksa semua orang yang masuk ke lapangan. tempat digunakan rapat raksasa tersebut. Pada waktu Bung Karno dan Bung Hatta datang, mereka meneriakkan yel-yel "Hidup Bung Karno dan Bung Hatta, Merdeka, Merdeka. Lapangan Ikada telah dipenuhi manusia pada waktu Soekarno dan Moh. Hatta serta para menteri tiba. Soekarno berpidato singkat. Inti dari pidato Soekarno tersebut ada tiga hal: a) Meminta dukungan dan kepercayaan terhadap pemerintah Republik Indonesia. b) Menuntut rakyat untuk mematuhi kebijakan-kebijakan pemerintah dengan disiplin. c) Memerintahkan rakyat untuk bubar meninggalkan lapangan dengan tenang. Semua yang hadir meninggalkan Lapangan Ikada dengan tertib. Mereka semua me matuhi pemerintah dengan tulus. Rapat raksasa yang berlangsung 19 September 1945 ini merupakan perwujudan awal kewibawaan pemerintah Republik Indonesia kepada rakyatnya. Walaupun rapat raksasa tersebut hanya berlangsung beberapa menit saja, namun telah berhasil mempertemukan pemerintah dan rakyat, yang baru sebulan merdeka.


E. sambutan rakyat terhadap proklamasi kemerdekaan 2) Tanggapan di Berbagai Daerah terhadap Proklamasi Berita proklamasi segera menyebar ke berbagai daerah di Indonesia. Pekik merdeka mewarnai salam masyarakat Indonesia di setiap gang, pasar, lembaga pendidikan, dan ber-bagai tempat umum lainnya. Rasa syukur atas kemerdekaan dilakukan dengan berbagai cara. Doa syukur berkumandang di tempat-tempat ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Rasa syukur terhadap kemerdekaan bukan hanya diucapkan dengan lisan, tetapi juga dibuktikan dengan perbuatan. Semangat kemerdekaan telah membakar keberanian rakyat Indonesia di berbagai daerah


Click to View FlipBook Version