The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-book ini berisi bagaimana peranan Roh Kudus dalam ibadah yang dilakukan oleh orang beriman

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ritnisepniterlaia, 2022-02-08 22:27:58

Makalah “Liturgi: Pekerjaan Roh Kudus dalam Ibadah”

E-book ini berisi bagaimana peranan Roh Kudus dalam ibadah yang dilakukan oleh orang beriman

Keywords: #teologi #liturgi

Oleh:
Ritni Sepniter Laia

Daftar Isi

Bab I Pendahuluan ...................................................................................................................

A.Latar Belakang ...................................................................................................................

B.Rumusan Masalah ...................................................................................................................

Bab II Pembahasan/Isi ...........................................................................................................................

A.Siapakah Roh Kudus .................................................................................................................................

B.Arti Ibadah..................................................................................................................................................

C.Peranan Roh Kudus dalam Pujian dan Penyembahan ..........................................................................

D.Peranan Roh Kudus dalam Menumbuhkan Kerohanian ......................................................................

E.Peranan Roh Kudus dalam Doa ...............................................................................................................

Bab III Kesimpulan ................................................................................................

i

Bab I Pendahuluan

A.Latar Belakang

Ibadah merupakan persekutuan orang yang beriman kepada Tuhan. Dalam ibadah hal-hal
yang diberikan untuk Tuhan adalah memanjatkan doa, memberikan pujian dan penyembahan,
bermazmur baginya, dan masih banyak hal-hal yang dilakukan untuk memuji dan memuliakan
Tuhan. Denominasi dari gereja manapun pasti melakukan hal-hal ini karena tujuan dari ibada itu
sendiri adalah untuk persekutuan dengan Tuhan serta untuk kemuliaanNya. Setiap gereja
memiliki caranya sendiri dalam ibadah ini ada yang menggunakan berbagai alat musik
digerejanya, ada juga yang memakai alat musik, bahkan ada juga yang tidak menggunakan alat
musik, ada juga yang tidak bertepuk tangan dalam ibadah digereja. Ini bukan berarti gereja yang
tidak memakai musik yang banyak tidak benar-benar memuji Tuhan, begitu juga sebaliknya.
Kita harus memahami bahwa dalam beribadah kepada Tuhan itu bukan lagi sikap atau hal-hal
yang tradisi, akan tetapi harus dengan Roh dan kebenaran, seperti yang tertulis dalam Yohanes
4:24 “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan
kebenaran.”

Oleh karena itu, dalam makalah ini saya akan membahas tentang ibadah yang dipimpin
oleh Roh Kudus. Sebab ibadah yang benar-benar itu adalah ibadah yang dikerjakan oleh Roh
Kudus, karena tanpa Roh Kudus ibadah yang dilaksanakan akan kacau dan tujuannya pun tidak
jelas atau bahkan bukan ibadah untuk Tuhan tetapi berpusat pada diri sendiri.

B.Rumusan Masalah

1.Pengertian Roh Kudus?

2.Makna Ibadah dalam kehidupan kekristenan?

3.Peranan Roh Kudus dalam Ibadah dan pertumbuhan kerohanian?

4.Apa artinya menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran?

5.Peranan Roh Kudus dalam Doa?

1

Bab II Pembahasan

A.Siapakah Roh Kudus

Sebelumnya kita perlu memahami siapakah Roh Kudus itu? Roh Kudus merupakan suatu
pribadi yang termasuk dalam Allah Tritunggal, Ia adalah pribadi Allah. Roh Kudus bukan suatu
kuasa yang tidak memiliki kepribadian, dan bukan hanya suatu gerekan, melainkan Roh Kudus
adalah satu pribadi yang pasti. Alkitab membuktikan bahwa Roh Kudus adalah pribadi, seperti
yang tertulis dalam Yohanes 14:16 “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan
kepadamu seorang penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” Untuk
itulah kita bisa melihat Roh Kudus adalah pribadi yang menggantikan Yesus didunia ini. Tuhan
Yesus telah mengatakan bahwa Roh Kudus sebagai satu pribadi akan mengajarkan segala
perkara kepada kita serta bersaksi tentang Yesus Kristus. Kita patut menganggap Roh Kudus
sebagai satu Pribadi sama seperti kita memikirkan Tuhan Yesus adalah satu Pribadi.1

B.Arti Ibadah

Dalam Perjanjian Lama, kata ibadah menggunakan kata sher’et (perasaan hormat dan
kesetiaan dalam pengabdian kepada majikan) dan Abh’ad (ketaatan kerja seorang hamba).
Sedangkan dalam Perjanjian Baru, kata ibadah menggunakan kata Latreia yang berarti
pelayanan. Dari ketiga istilah ini, maka arti kata ibadah dalam Alkitab dapat diartikan sebagai
setiap pelayanan yang dilakukan oleh seorang abdi untuk tuannya yang dilakukan dalam
ketaatan, kesetiaan dan dengan perasaan hormat. Seluruh kehidupan seorang abdi adalah milik
sang tuan sehingga berdasarkan uraian ini dapat disimpulkan bahwa ibadah dalam konteks
Alkitab adalah mempersembahkan seluruh kehidupan sebagai pengabdian kepada Tuhan.2

Makna ibadah yang pertama berbicara mengenai pengalaman perjumpaan dengan Allah.
Persekutuan pertemuan, perjumpaan secara sadar dengan Allah melalui AnakNya. Yesus Kristus
sangat menggentarkan hati, dan mampu mengubahkan seseorang dari dalam. Mengalami
kehadiran Allah dalam ibadah, memahami betapa besar kasih Allah, semakin mengenal siapakah
Allah, merupakan saat-saat yang sangat berarti. Ibadah bukan hanya mendengarkan pengkhotbah
atau menyanyikan lagu-lagu rohani, tetapi suatu pengalaman perjumpaan dengan Kristus.

1 J. Wesley Brill, Dasar Yang Teguh. Bandung: Kalam Hidup, 2015. Hal 221-222
2 https://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4027/3/T1_852008602_BAB%20II.pdf

2

Pengalaman perjumpaan dengan Kristus yang adalah pernyataan kasih Allah, pembuat mujizat,
perlu direktualisasikan dan ditekankan kembali dalam ibadah.

Makna ibadah kedua adalah mengembalikan kelayakan kepada Allah. Manusia beribadah
bukan sekedar karena kebutuhan manusia itu sendiri, melainkan karena Allah pantas, menerima
pemujaan dari manusia. Sepanjang sejarah umat Kristen, hanya ada satu yang pantas di puja dan
disembah ialah Yesus. Orang-orang mempunyai kebutuhan untuk memuja sesuatu, baik suku
yang paling primitive maupun orang-orang kota yang paling modern. Dalam dirinya ada sesuatu
yang berbisik “ Aku ingin tahu semua yang tak kuketahui, pasti ada sesuatu yang lebih besar
daripada diriku”. 3

Ibadah adalah suatu dialog merupakan makna ketiga dari ibadah. Segler mengatakan
bahwa di dalam ibadah manusia mengalami Allah dalam sebuah dialog yang sadar. Allah
berinisiatif menyatakan wahyu atau FirmanNya, dan manusia merespon melalui ibadah. Ibadah
adalah menghadap Allah, ibadah bukan hanya ritual rutin yang harus dilakukan, tetapi juga
respon yang keluar dari dalam hati yaitu berbicara, mendengarkan, dan menanggapi Allah.4

3 file:///C:/Users/RITNI/Downloads/tugas%20MP1.pdf
4 Debora Nugrahenny Chirytymoti, “Teologi Ibadah dan Kualitas Penyelenggaraan Ibadah”, Lingua: Jurnal Teologi
Pendidikan Agama Kristen 15, no.1

3

C.Peranan Roh Kudus dalam Pujian dan Penyembahan

Di dalam tata ibadah umat Kristen pujian dan penyembahan mengambil bagian yang
sangat besar. Tidak dapat dibayangkan jika dalam suatu ibadah tanpa ada pujian dan
penyembahan kepada Tuhan, ibadah itu mungkin tidak ada esensi ibadahnya sama sekali. Dalam
ibadah umat Kristen pujian dan penyembahan merupakan bagian dari liturgi ibadah yang sangat
penting, selain doa, persembahan dan firman Tuhan. Pujian dan penyembahan merupakan
ekspresi hati yang meluap dengan syukur untuk mengagungkan nama Tuhan yang dinyatakan
melalui music, lagu, mazmur, dan lain-lain. Bagi sebagian besar umat Kristen kata pujian dan
penyembahan bukanlah istilah yang asing. Istilah tesebut di ambil dari kata dalam bahasa Inggris
Praise and Worship. Bob Sorge menyatakan bahwa pujian dan penyembahan adalah kegiatan
bersama yang saling menunjang dan seringkali tampak mirip bila diekspresikan keluar, namun
sebenarnya mereka bukanlah satu dan sama. Masing-masing mempunyai wujud dan tujuan
sendiri.5

Bagi kalangan mainstream dan Injili arti penyembahan bukan hanya dalam liturgi gereja,
tetapi pada seluruh aspek. Penyembahan yang benar adalah hidup yang benar sesuai Firman
Tuhan. Kalau pun penyembahan diartikan dala liturgi ibadah maka penyembahan itu juga bukan
praktik penyembahan dikalangan pietis. Makna seperti ini diantaranya disimpulkan oleh John
MacArthur: “Penyembahan bukanlah masalah berada ditempat yang benar, pada waktu yang
tepat. Penyembahan bukanlah kegiatan lahiriah yang menuntut terciptanya suasana tertentu.
Penyembahan terjadi di dalam hati dalam Roh. Sifat dasar penyembahan adalah memberikan
penyembahan kepada Allah dari bagian diri kita yang paling dalam, baik dalam pujian dan
penyembahan maupun dalam doa kita, harus selalu berdasarkan kebenaran-Nya yang
dinyatakan.”6

Injil Yohanes 4:23-24 mengatakan bahwa kita harus menyembah Allah dalam Roh
kebenaran. Apakah yang dimaksud menyembah dalam roh? Kata roh dalam ayat 24 mengacu
kepada roh manusia, pribadi yang lebih dalam. Penyembahan haruslah mengalir dari dalam ke
luar.7 Penyembahan yang sejati menurut Alkitab adalah menyembah Allah yang benar di dalam

5 Bob Sorge, Mengungkapkan Segi-segi Pujian dan Penyembahan. Yogyakarta: Yayasan Andi, 1991. Hal 135
6 John MacArthur, Prioritas Utama dalam Penyembahan. Bandung: Kalam Hidup, 2001. Hal 151
7 Ibid, hal 151

4

roh yang diperbaharui oleh Roh Kudus dan hidup sesuai dengan kebenaran Allah yaitu mengenal
pribadi Yesus.

Dalam ayat ini secara utuh pembicaraan Yesus dengan perempuan Samaria adalah
tentang ibadah yang benar kepada Allah. Ibadah itu berasal dari kata menyembah, dan konsep
teologis penyemahan dalam arti yang luas sebenarnya berkaitan dengan keberadaan orang
percaya dihadapan Allah. Tuhan Yesus mengehendaki kita sadar bahwa penyembahan
merupakan proses respons atau tanggapan roh kita. Penyembahan tidak hanya melibatkan
gerekan tubuh yang dapat dilihat. Penyembahan harus keluar dari roh kita bagian terdalam
manusia. Penyembahan tidak bergantung pada hal-hal luar yang tampak atau dapat dilihat,
seperti musik, tepuk tangan, dan lain-lain. Dengan atau tanpa hal-hal luar itu, kita dapat
menyembah Allah Bapa dalam roh, Yesus yang menegaskan kepada perempuan Samaria di ayat
ini. Ini berarti penyembahan itu merujuk kepada tempat menyembah, tetapi dengan hati yang
menyembah.8

D.Peranan Roh Kudus dalam Menumbuhkan Kerohanian

Dalam ibadah yang dilaksanakan untuk Tuhan pastinya memiliki tujuan agar jemaat atau
umat Tuhan bertumbuh dalam kerohanian di dalam Yesus Kristus, dalam hal ini dibutuhkan
kedewasaan kerohanian dalam pertumbuhannya. Jika kedewasaan merupakan sisi kunci di dalam
kerohanian, maka Roh Kudus harus memainkan peranan dalam menumbuhkannya. Jika
kerohanian dihubungkan dengan kedewasaan, berarti ada tingkatan kerohanian karena ada tahap-
tahap kedewasaan. Paulus dengan jelas mengharapkan orang-orang percaya di Korintus untuk
mencapai tingkat kedewasaan dimana mereka dapat disebut rohani. Jadi, kerohanian merupakan
kedewasaan, namun dewasa dalam hubungan dengan Allah.9

Orang yang telah dewasa secara rohani juga akan mampu mematikan kedagingannya dan
sukar untuk jatuh ke dalam dosa, karena ia telah dipenuhi oleh Roh Kudus yang memapukannya
dalam mengendalikan dirinya, sehingga kehidupannya hanya melakukan ibadahnya yang sejati
untuk Tuhan. Menjadi seorang Kristen bukan berarti orang itu langsung dipenuhi oleh Roh

8 https://media.neliti.com/media/publications/137655-kajian-teologis-tentang-penyembahan-berd-ab91279f.pdf
9 Dr. Charles C. Ryrie, Teologi Dasar 2. Yogyakarta: ANDI, 1991. Hal 159-160

5

Kudus, tetapi perlu yang namanya membuka hati untuk menyambut masuknya Roh Kudus dalam
hidup kita.

Adapun karakteristik orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus, yaitu

1.Sifat seperti Kristus (Galatia 5:22-23)

Dimana yang menjadi teladan bagi orang itu adalah Yesus Kristus, sehingga dalam
hidupnya ada buah Roh Kudus yang tampak dari kehidupannya sehari-hari dan ini merupakan
ibadah yang dilakukan yang tampak dari luar dan dapat diteladani oleh orang lain. Karena ketika
Roh Kudus menguasai kehidupan seseorang, maka buah-buah-Nya akan dihasilkan dalam hidup
itu. Dan tentu saja penjelasan tentang Roh Kudus itu adalah menjadi seperti Kristus. Tindakan
buah-buah Roh ini tidak hanya terdiri dari satu macam saja, misalnya kasih bukan hanya terdiri
dari kelembutan, namun juga kekerasan. Ketika Kristus berhubungan dengan anak-anak, Dia
menunjukkan kelembutan. Ketika Dia mengusir penukar uang, Dia menunjukkan kekerasan.
Namun, tindakan tersebut menunjukkan kasih. Sukacita bukan hanya ditunjukkan dalam
kebahagiaan, namun juga dalam kesukaran (1 Petrus 1:6).

2.Keterlibatan Penginjilan

Sudah tentu orang yang dipenuhi Roh Kudus adalah orang yang memiliki kerinduan
untuk melayani dalam memberitakan Injil, dan Roh Kuduslah yang memberikannya spirit untuk
penginjilan. Ibadah tidak pernah meninggalkan kepedulian dengan sesama agar memperoleh
keselamatan yang dari pada Yesus Kristus, ibadah orang yang dipenuhi oleh Roh Kudus adalah
memberitakan Injil dalam menyelamatkan jiwa-jiwa dimana ia mau menyerahkan kehidupannya
dalam kepentingan pemberitaan Injil. Kepenuhan Roh Kudus yang terjadi pada hari pentakosta
(Kisah Para Rasul 2:4) menghasilkan pertobatan 3000 orang (ayat 41).

3.Pujian, Penyembahan, Ucapan Syukur, Ketundukan (Efesus 5:19-21)

Ini merupakan bukti seseorang dipenuhi oleh Roh Kudus menurut Rasul Paulus. Dimana
pujian diungkapkan secara terbuka dengan berkata-kata seorang kepada yang lain dalam
mazmur, kidung puji-pujian, dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan membuat melodi dalam hati
merupakan bukti dari sikap penyembahan yang keluar dari dalam hati. Pengucapan syukur harus
dipandang seinklusif mungkin. Ketundukan dalam hubungan suami istri, orangtua dan anak, tuan

6

dan hamba merupakan ibadah seperti dalam keluarga istri harus taat dan setia kepada suami yang
adalah kepada keluarga dan anak kepada orangtua harus menghormati. Sehingga inilah
kehidupan yang dipenuhi Roh Kudus.

Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana agar kita dipenuhi oleh Roh Kudus dalam
ibadah kita kepada Tuhan? Dalam Alkitab tidak ada contoh tentang doa meminta kepenuhan Roh
Kudus, akan tetapi kita dipenuhi Roh Kudus jika kita mau membukan hati dan menyerahkan
segenap kehidupan kita kepada Tuhan. Dimana ketika kita beribadah kita mengizinkan Roh
Kudus untuk melakukan apa saja yang Dia kehendaki dan disini kita mematikan kedagingan
kita.10

E.Peranan Roh Kudus dalam Doa

Doa itu merupakan penghubung antara manusia dengan Tuhan. Dalam berdoa yang
paling terpenting adalah menyiapkan diri untuk berdoa, dengan mengarahkan niat dan
perhatiannya pada doa, dan dalam hal ini Roh Kudus harus berperan dalam doa kita.11 Begitu
juga dalam ibadah, doa sangat diperlukan baik sebelum maupun sesudah ibadah kita meminta
agar Roh Kudus yang mengarahkan ibadah kita itu kepada Tuhan, karena sebagai orang yang
berimana doa dalam ibadah tidak akan terjadi seturut kehendak Bapa kalau bukan Roh Kudus
yang bekerja.

Dalam doa bukan kata-kata yang indah yang Tuhan inginkan, tetapi kandungan isi dalam
doa kita itu apakah untuk kemuliaan Tuhan atau bukan. Agar tidak salah dalam mengucapkan
doa kepada Tuhan maka setiap orang membutuhkan Roh Kudus yang membimbingnya dalam
dosa persekutuannya dengan Tuhan. Oleh karena itu, Roh Kuduslah yang membimbing dan
mengarahkan doa-doa kita “Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab
kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada
Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan” (Roma 8:26). Untuk itulah Roh Kudus
dikirim untuk meneruskan pelayanan Kristus “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan
diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan
akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26), artinya

10 Ibid hal 162-164
11 Yohanes Cavin, Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013. Hal 187-188

7

oleh pekerjaan Roh Kuduslah dalam kehidupan doa kita maka kita meminta kepada Bapa apa
yang menjadi kehendak-Nya bukan lagi kehendak kita.12

Tanpa Roh Kudus banyak orang terlibat dalam doa yang egois yang hanya mengeluh,
meminta pertolongan, dan lain-lain, dalam doanya tidak ada lagi kandungan atau isi doa
pengucapan syukur, meminta pengampunan dosa, memuji dan memuliakan Tuhan yang dimana
ini adalah hal yang terpenting dalam doa. Tetapi, hal ini banyak dilupakan oleh orang-orang
Kristen sekarang ini, fokus doa bukan lagi untuk Tuhan tetapi untuk keluhan dan persoalan diri
sendiri. Hal ini tidak akan terjadi jika kita dibimbing dan dipimpin oleh Roh Kudus dalam doa
kita.

Dalam doa perlu yang namanya persekutuan dengan Tuhan dan hal ini akan terlaksana
dengan baik dan benar melalui Roh Kudus. Karena tanpa prsekutuan maka doa yang kita
ucapkan tidak timbul dari iman. Jika Roh Kudus tidak menolong kita untuk bersekutu dengan
Allah, maka doa kita akan menjadi seperti doa orang-orang Farisi yang sepenuhnya tidak
mengandung kehidupan. Sehingga dalam kitab Yudas pun tertulis “Akan tetapi saudara-saudara
yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah
dalam Roh Kudus” (Yudas 1:20) yang berarti bahwa kita harus berdoa dengan tuntunan Roh
Kudus karena melalui itu juga kita dibangun didalam iman kita kepada Yesus Kristus.13

Sebagai orang yang hidup dalam dan oleh Roh, Paulus memahami doa terutama sebagai
dorongan khusus dari Roh Kudus yang mengarahkan dia untuk bersyukur bagi orang banyak dan
memohon dalam Roh, bahkan kalau ia tidak mengetahui tentang apa yang khususnya harus
didoakan. Apapun artinya kehidupan dalam Roh bagi Paulus, itu adalah kehidupan yang
dibaktikan untuk berdoa, disertai dengan sukacita dan ucapan syukur.14 Doa dalam Roh tidak
mengajukan berbagai permintaan kepada Allah, melainkan dengan rendah hati menantikan dan
mendengarkan Allah dan mempercayai Allah Roh Kudus yang bersyafaat bagi kita agar sesuai
dengan kehendak dan perkenanan Allah sendiri. Karena berdoa dalam Roh berarti mengijinkan
Roh Allah sendiri yang melahirkan doa yang sesuai dengan kehendak dan jalan-jalanNya, bukan

12 John F. Walvoord, Yesus Kristus Tuhan Kita. Surabaya: YAKIN, 1969. Hal 198
13 Paul Yonggi Cho, Roh Kudus, Adimitra Saya. Jakarta: Immanuel, 2000. Hal 21
14 Gordon D. Fee, Paulus, Roh Kudus dan Umat Allah. Malang: Gandum Mas, 2004. Hal 199-200

8

sebaliknya. Inilah hal perlu kita tekankan dalam diri kita bahwa doa bukan apa maunya kita,
melainkan apa yang menjadi kehendak Tuhan dalam hidup kita.

Untuk itu berdoa yang tepat yang memang dipimpin oleh Roh Kudus ialah
• Saat berdoa kita benar-benar menyadari kekurangan kita, dan kita meminta kepada Tuhan

dengan sungguh-sungguh bahwa kita membutuhkan campur tangan Tuhan atas hidup
kita.
• Doa tidak bercampur dengan pikiran akan kekayaan, martabat, atau dalam arti harus
menanggalkan segala kepercayaan pada dirinya sendiri.
• Dalam doa harus diawali dan dipersiapkan dengan permohonan ampun kepada Tuhan
dengan tulus dan rendah hati.
• Dalam doa harus disertakan dengan rasa sujud dan dikuasai oleh rasa rendah hati yang
sungguh-sungguh.
• Berdoa dengan iman, karena untuk apa berdoa jikalau sebelumnya tidak memiliki iman
kepada Yesus yang adalah Allah yang kita percaya dan kita yakini bahwa Dialah satu-
satunya Juruselamat kita.

9

Bab III Kesimpulan
Untuk itu, kita harus memahami bahwa pentingnya peranan Roh Kudus dalam ibadah yang
kita laksanakan kepada Tuhan. Sebab ibadah kita tidak tergantung pada musik, sorak-sorai, tepuk
tangan ata apapun itu hal-hal yang kelihatan, akan tetapi ibadah yang kita laksanakan haruslah
melalui Roh Kudus yang memimpin kita. Kenapa harus Roh Kudus? Karena Roh Kudus
merupakan pribadi Allah yang bersama-sama dengan kita sebagai penolong bagi kita. Doa,
pujian dan penyembahan kita tidak mungkin benar-benar terlaksana untuk kalau bukan Roh
Kudus yang bekerja atas kita.
Dalam hal ini jikalau kita menginginkan ibadah yang dipimpin oleh Roh Kudus baiknya kita
membuka hati kita dan membiarkan Ro Kudus menjamah hati kita. Dalam hal ini kita perlu
melepas/menanggalkan segala macam kedagingan yang ada dalam diri kita dan memfokus diri
kita kepada Tuhan dan hanya kepada Tuhan jangan sampai hati dan pikiran kita terusik atau
dikuasai oleh hal-hal yang duniawi. Karena Roh Kudus dan kedagingan merupakan sesuatu yang
berlawanan, bagaimana kita akan dikuasai oleh Roh Allah jika hidup kita saat menghadap Tuhan
dikuasai oleh kedagingan. Untuk itu, Roh Kudus yang akan mengantar kita ke dalam doa, pujian
dan penyembahan atau ibadah yang sesungguhnya kepada Tuhan karena Dialah Roh Penolong,
Penghibur yang diutus oleh Allah untuk memperlengkapi dan menolong kita apalagi dalam
bersekutu kepadaNya. Oleh pekerjaan Roh Kudus jugalah iman kita semakin bertumbuh didalam
Tuhan.

10

Daftar Pustaka

1. Brill, J. Wesley. Dasar Yang Teguh. Bandung: Kalam Hidup, 2015
2. Ryrie, Dr. Charles C. Teologi Dasar 2. Yogyakarta: ANDI, 1991
3. Cavin, Yohanes. Institutio. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2013
4. Walvoord, John F. Yesus Kristus Tuhan Kita. Surabaya: YAKIN, 1969
5. Cho, Paul Yonggi. Roh Kudus, Admitra Saya. Jakarta: Immanuel, 2000
6. Fee, Gordon D. Paulus, Roh Kudus dan Umat Allah. Malang: Gandum Mas, 2004
7. file:///C:/Users/RITNI/Downloads/tugas%20MP1.pdf
8. Chirytymoti, Debora Nugrahenny. “Teologi Ibadah dan Kualitas Penyelenggaraan

Ibadah”, Lingua: Jurnal Teologi Pendidikan Agama Kristen 15, no.1
9. MacArthur, John. Prioritas Utama dalam Penyembahan. Bandung: Kalam Hidup, 2001
10. https://media.neliti.com/media/publications/137655-kajian-teologis-tentang-

penyembahan-berd-ab91279f.pdf
11. Sorge, Bob. Mengungkapkan Segi-segi Pujian dan Penyembahan. Yogyakarta: Andi,

1991
12. https://repository.uksw.edu/bitstream/123456789/4027/3/T1_852008602_BAB%20II.pdf


Click to View FlipBook Version