Fatamorgana
Aku terbiasa menulis di keheningan malam. Ketika suara-suara mulai
redam, ketika semua pasang mata mulai terpejam. Aku mulai menulis bait demi bait
ketika gang-gang mulai lengang saat kesunyian mulai menggenang. Tentunya tidak
sesunyi itu, masih ada beberapa suara yang dapat terdengar. Suara tetesan air di
kamar mandi, dengung kipas angin, dan tentunya suara napasku sendiri. Namun
suara-suara semacam itu tidaklah mengganggu aktivitasku. Aku bukan seorang
penulis, tapi aku suka menyalurkan perasaanku lewat tulisan. Aku hanya seorang
pegawai kantor yang membosankan dengan teman-teman yang..err apa ya?
Hiperaktif mungkin? Ya, kata itu bisa mewakili sikap mereka, ralat bukan mereka
tapi ‘kami’ karena aku juga sama gilanya dengan mereka dulu. Dulu, aku lebih dari
seekor kupu-kupu yang dapat terbang menggumuli udara, yang bebas mencumbui
nekstar nekstar bunga. Tapi saat ini aku tidak lebih dari seekor larva yang
membosankan dan tidak berdaya.
“Adeline makan siang yuk? Masa hari ini kamu gak mau makan siang
bareng lagi?” tanya Saras dengan sedikit rasa jengkel pada setiap katanya. “Tidak,
aku bawa bekal,” jawab Adeline dengan acuh. “Hey Adeline kamu tau? Kamu
nyebelin banget sih, kamu terlalu tertutup tau beberapa bulan ini. Kami tau kamu
sedih Adeline mungkin sedikit trauma sejak orang tuamu meninggal karena
terinfeksi Covid-19 tapi tolong jangan kaya gini, ingat kamu masih punya sahabat
Adeline, kita gak akan pernah ninggalin kamu kok,” ucap Ode. “Saat ini aku lebih
suka sendiri, maaf tapi social distancing harus tetap dijalankan aku tidak mau
kejadian itu terulang lagi,” ujar Adeline yang kemudian segera berlalu dengan kotak
bekal di genggamannya
Aku memilih untuk pergi membawa bekalku dan duduk di tempat favoritku
beberapa bulan belakangan ini. Aku duduk di bawah pohon di pinggir danau yang
berada di taman dekat kantorku. Taman ini sedikit sepi mungkin efek dari pandemi.
Ku buka kotak makan siang ku yang hanya terdapat nasi goreng dengan telur ceplok
seadanya, karena hanya itu yang dapat aku buat pagi ini. Sembari aku makan
pikiranku melayang saat orang tuaku masih hidup.
“Hallo mama! Ada orang di rumah ini? Mama! Ishh Adeline cape tau teriak
teriak, ehh apa mamah pergi sama papa ya? Telpon ah ganggu waktu mama sama
papa berduaan sabi kali yee,” Adeline pun segera merogoh handphone di saku
celananya, dering pertama masih tidak di jawab, dering kedua juga sama tidak ada
sahutan, dering ketiga..“Hallo mama! Ish kok pergi bareng papa ga bilang Adeline
dulu sih!” teriak Adeline saat telepon mulai terhubung, “Adeline ini nenek nak,
orang tua mu sedang dilarikan kerumah sakit, katanya mereka terinfeksi Covid-19,
sebentar lagi ambulance datang ke rumahmu ya jemput kamu, nanti kita sekeluarga
bakal isolasi mandiri di tempat yang udah nenek siapin,”
‘Dua minggu yang membosankanpun telah berlalu, huhh’ bisikku lirih. Aku
mulai memasuki rumah yang dua minggu belakangan ini aku tinggalkan. Sepi, itu
pikirku saat memasuki rumah ini, orang tuaku masih dirumah sakit. Untuk
menghilangkan rasa bosan aku memilih berbaring di sofa yang ada di ruang tengah
rumahku, mengambil remote tv dan mulai menghidupkannya. Beberapa menit telah
berlalu, aku mendengar suara dering telepon segera ku merogoh hp di kantong
celanaku “Hallo Nek ada apa?” sapaku, “Nak ayahmu meninggal…” hanya 3 kata
yang dapat ku dengar telingaku berdengung, pikiranku kosong aku merasa..
entahlah. Kematian papa bukanlah akhir dari kesedihanku saat itu, belum sempat
aku mengikhlaskan kematian papa tak lama setelahnya mama juga pergi
meninggalkanku. Saat itu mama yang masih dalam keadaan sakit mendengar berita
kematian papa yang kemudian membuat kondisinya turun drastis hingga kemudian
pergi menyusul papa. Aku kadang sering merasa ‘apakah mereka pergi tanpa
memikirkanku dulu?’ mereka meninggalkanku begitu saja.
Tanpa sadar air mataku mengalir begitu saja, tangisku tak bisa lagi aku
kendalikan. Aku lelah berpura-pura kuat. Saat ini aku selalu merasa bahwa akulah
penyebab kematian kedua orang tuaku. Aku yang tidak taat prokes saat itu, aku
yang sering keluar rumah hangout bersama temanku, tapi mengapa malah orang
tuaku yang kena imbasnya? Saat itu juga aku memutuskan untuk menutup diri
dengan orang sekitar, bahkan sahabatku sendiri. Tak cukup sampai di situ aku
bahkan pergi dari rumah orang tuaku dan mengontrak rumah baru yang jauh dari
sana supaya nenek dan saudaraku yang lain tidak terkena imbas dari sifat
pembangkangku ini. Hanya satu kejadian itu membuatku kehilangan segalanya,
orang tua, kehangatan keluarga, sahabat, menjauh dari lingkungan, kehilangan
senyum dan kepercayaan diriku. Saat itu juga sayap yang selalu dibanggakan oleh
sang kupu-kupu telah patah dan menghilang.
“Permisi Mbak, butuh tisu? Kalau butuh ini saya bawa tisu,” ucap seorang
laki-laki jangkung yang tidak ku kenal. Aku hanya menatapnya seakan bertanya
‘Siapa kau? Mengapa kau ada disini?’ dia yang sepertinya mengerti arti tatapanku
kemudian segera melanjutkan ucapanya “Hmm namaku Aleez, aku guru baru di
sekolah dasar dekat dengan taman bermain ini. Aku hanya ingin jalan-jalan sekedar
mengenal daerah ini. Lalu aku melihat taman di sini dan memutuskan untuk makan
siang disini,” ujarnya. Aku hanya ber-oh ria menanggapinya lalu menghapus air
mataku dengan tisu yang disodorkannya kepadaku. Dia duduk disampingku
kemudian menatap kedepan kearah danau, kemudian berucap kembali “Btw nama
mbaknya siapa? Kita belum kenalan lho hehe,” ucap Aleez. “Namaku Adeline!”
ucapku spotan. “Namanya cantik deh kayak orangnya, hm di depan taman ini ada
penjual es krim, kamu mau? Aku traktir deh, yuk!” ucap Aleez lalu kemudia segera
menarik tanganku keluar dari area taman ini.
“Pak es krimnya dua ya yang satu rasa vanilla dan…” Alezz menatapku
dengan pandangan yang segera aku mengerti maksudnya. “rasa coklat,” jawabku.
Kami duduk di kursi yang memang ada di dekat sini, aku kembali menatapnya yang
sedang memainkan handphonenya, entah mengapa jika bersama Aleez aku merasa
berbeda, tanpa sadar bibirku tersenyum tipis.
“Kak!” aku terkejut dan segera menatap anak kecil di depanku. “Ada apa
dek?” jawabku. “Kakak orang gila ya? Kok ngomong sendiri terus senyum-senyum
sendiri?” jawab anak kecil tersebut yang kemudian membuatku terheran apa dia
tidak melihat Aleez disni? “Engga dik, kakak sama temennya kakak kok ini dia di-
“ ucapanku terhenti, dimana Aleez? Kemana perginya dia? Dan sekarang aku baru
menyadari aku sedang memegang dua es krim yang satu es krim vanilla pesanannya
dan yang satu es krim coklat pesananku, bukankah es krim ini tadinya ada
ditangannya. Segera ku menghampiri pedagang es krim yang tadi, “Permisi pak,
saya mau bertanya, laki-laki yang tadi bersama saya apakah bapak melihatnya?”
tanyaku kepada pedagang es krim tersebut, aku melihat dia mengernyit bingung
“Hah? Laki-laki? Mbak kan dari tadi emang sendiri” ucapnya yang membuatku
semakin terkejut, jelas-jelas tadi aku bersama Aleez! setelah mengucapkan terima
kasih kepada penjual es krim segera ku langkahkan kakiku menuju kantor karena
memang jam makan siang telah usai.
Sepanjang jam kantor pikiranku tak bisa lepas dari kejadian tadi. ‘Tring’
notifikasi handphoneku berbunyi segera aku melihat room chatku yang ternyata
terdapat nomor tak dikenal mengirim pesam kepadaku, tanpa pikir panjang segera
ku buka pesan tersebut ‘Hallo Adeline ini aku Alezz maaf tadi aku
meninggalkanmu di taman, saveback ya!’ begitulah kira-kira isi pesan tersebut.
Segera ku balas pesannya tersebut ‘Darimana kau mendapatkan nomor teleponku
Aleez?’ kulihat chatku segera menjadi centang biru yang artinya sudah dibacanya,
tak lama setelahnya akupun mendapatkan balasan darinya ‘Tak usah kau pikirkan,
aku mau lanjut mengajar anak-anak ya, nanti aku chat lagi’
Di perjalanan pulang pikiranku tertuju kepada Aleez, aishhh memikirkan
tentang lelaki itu membuatku mengukir senyum tipis. Sampai di rumah segera aku
membersihkan diri dan mengecek handphoneku, apakah Aleez telah membalas
pesanku? Lagi dan lagi aku kembali dibuat bingung, saat membuka handphone
betapa terkejutnya aku mendapati riwayat pesan yang tertuju kepada nomorku
sendiri. Jadi tadi siang aku berbalas pesan dengn diriku sendiri? Tapi aku ingat betul
bahwa aku berbalas pesan dengan Aleez! Terlalu tenggelam dengan pikiranku, aku
tak menyadari bahwa ada seseorang yang mengetuk jendela kamarku. Ternyata itu
adalah Aleez! “Kamu ngapain ke sini? Dan tau darimana kalau aku tinggal di sini?”
ujarku kepadanya tanpa basa-basi. “Ehm aja ahaha,” ujarnya tanpa beban yang
semakin membuatku naik pitam. “Jelaskan siapa dirimu, mengapa kau tiba-tiba
datang di kehidupanku, dan mengapa kau seakan fana!?” tanyaku putus asa
kepadanya, kulihat tatapannya berubah menjadi teduh. “Aku adalah sosok yang
yang akan selalu berusaha menopangmu saat kau merasa putus asa, aku adalah
sosok yang selalu membawa binar kebahagiaan kepadaamu, orang memang akan
selalu menganggapku fana Adeline tapi aku tidak fana bagimu, percaya kepadaku.
Akan ada saatnya aku akan membawamu menuju kebahagiaanmu yang seutuhnya,
maka bertahanlah sebentar lagi,” ucapnya panjang dan lebar.
“Aku percaya kepadamu Aleez, tapi jelaskan bertahan seperti apa yang kau
maksud?” tanyaku kepadanya. “Bertahan, jika perempuan itu datang kepadamu
maka berusahalah kendalikan dia, jangan biarkan dia mengendalikanmu. Dan jika
dia berbicara tentangku maka jangan percaya kepadanya, percaya hanya kepadaku
saja Adeline! Maukah kau berjanji untuk selalu percaya kepadaku Adeline?”
ujarnya kepadaku yang hanya kubalas senyuman tipis dan anggukan kepala.
“Bagus, aku akan datang lagi esok pagi, ingat pesanku kepadamu,” ujarnya yang
kemudian hilang entah kemana. Hal itu semakin membuatku bingung, apakah dia
memang fana?
Aku memutuskan untuk segera menikmati makan malamku, saat aku turun
ke dapur betapa terkejutnya aku melihat seorang wanita yang mirip denganku, ralat
bukan mirip tapi itu memang diriku! Tapi bagaimana bisa? “Ingin bertanya sesuatu
Adeline?” ucapnya yang membuatku terkejut setengah mati. “Siapa kau? Mengapa
kau sangat mirip denganku?!” ujarku setelah berhasil meredakan keterkejutanku.
“Hahaha benar tebakanku, kau pasti bingung siapa aku kan? Aku adalah sisi lain
dari dirimu. Kau bisa berbagi apapun kepadaku, bukan kepada Aleez, laki-laki tak
jelas asal-usulnya seperti itu!” ujarnya kepadaku. “Apakah kau tau tentang Aleez?
Jujur saja aku bingung, siapa dia? Tolong jelaskan kepadaku?” ujarku kepada
diriku. “Dia adalah sosok yang kita ciptakan secara tidak sadar saat kita merasa
sedih! Jangan percaya kepadanya karena dia hanya sebatas fatamorgana,” ujarnya
kepadaku. “Apa kau masih tidak percaya kepadaku? Aku ada karena dia, ingat! Aku
adalah sisi lain dari dirimu yang tumbuh karena keraguanmu kepadanya dan aku
adalah sisi lain dari dirimu yang membenci kehadirannya, tapi kau mengharapkan
kehadirannya. Sekarang aku minta kepadamu, jangan berharap kepadanya dan
benci dia!” ujarnya menggebu-gebu kepadaku.
Aku semakin bimbang, saat aku ingin menjawab ucapannya dia
menghilang. Entahlah aku bingung percaya kepada Aleez atau diriku yang lain.
Aleez bilang bertahan dan jangan sampai kau dikuasai oleh wanita itu, apa wanita
itu adalah sisi lain dari diriku? Tapi diriku bilang Alezz hanya fatamorgana belaka.
Jujur aku bingung, tak mau terlalu larut dalam fikiranku, segera aku mengambil
laptopku diatas nakas dan mengetik sesuatu disana, seperti biasanya aku akan selalu
menulis saat malam tiba. Selesai dengan kegiatanku aku kemudian merebahkan diri
di tempat tidur, berharap semua masalahku akan selesai esok hari.
Setelah membuka mata dan keluar dari alam mimpi aku menyaksikan diriku
membuka pintu kamar, menoleh ke arahku, tersenyum sebentar kemudian segera
berlalu. Kemanakah gerangan diriku pergi? Entahlah. Tiba tiba handphoneku
berdering segera aku meraih handphone yang tergeletak di atas bantal “Hallo?”
sapaku kemudian. Seraya melangkah mendekati jendela kamar dari sini aku juga
menyaksikan diriku memegang handphone.
“Ini adalah perjalanan yang sudah sejak lama aku impikan. Aku ingin pergi
jauh, kemana saja agar aku bisa berpisah dengan semua orang yang sudah terlanjur
mengenalku. Sehingga dengan begitu aku dapat melakukan apapun yang aku
inginkan, bukan hidup dengan penuh tekanan seperti saat ini. Jujur saja beberapa
bulan ini aku merasa palsu, aku lelah berpura-pura. Kini sudah saatnya bagiku
untuk pergi, selamat tinggal…”
Telepon terputus. Aku menyaksikan diriku kembali menoleh ke arahku lalu
kemudian segera berlari dan lenyap di salah satu kelokan. Aku kembali merenung,
apa yang membuat diriku merasa palsu? Hey, beberapa bulan belakangan ini
bahkan kita sama sekali tidak berinteraksi, menutup dan mengisolasi diri. Terlalu
fanatik dengan virus yang beberapa bulan ini merajalela. Apakah diriku merasa
jenuh menjauh dari masyarakat? Atau diriku merasa kesepian dengan dirinya yang
saat ini hanya seorang gadis sebatang kara yang menutup diri? Atau mungkin diriku
merasa lelah dengan masalah yang di hadapinya? Atau bahkan diriku tidak terima
bahwa ‘dia’ hanya sebatas fatamorgana? Ya! mungkin karena semua itu, segera ku
melangkah kearah pintu sembari mengenakan jaket, menuruni tangga dengan
tergesa-gesa. ‘Aku harus bisa mengendalikan sisi lain dari diriku saat ini’ tekadku.
Akhirnya, aku melihat diriku sedang duduk di atas trotoar jalan, ku hampiri
diriku “Heyy, perasaan yang saat ini kau rasakan adalah perasaan yang tidak
beralasan. Kalau kau merasa kesepian maka kembalilah, kembali bersosialisasi
seperti sebelumnya, kalau kau merasa lelah berpura-pura tegar maka menangislah,
dan kalau kau merasa tidak terima bahwa ‘dia’ hanya fatamorgana maka lupakan!
Lakukan apa yang membuatmu bahagia dan lakukanlah apa yang membuatmu
merasa seperti dirimu sendiri, lakukan seperti sebelum virus menyebalkan ini
datang!” ujarku menggebu-gebu
Aku melihat diriku tersenyum tipis “Ya, aku juga merasakan hal yang sama
oleh karena itu aku tidak melanjutkan perjalanan. Tapi..” diriku menghentikan
ucapannya, “Hanya salah satu di antara kita yang boleh melanjutkan kehidupan ini,
dan salah satunya harus dikorbankan untuk kebahagiaan yang satunya lagi dan..
ITU KAU SIALAN!” belum sempat aku mencerna ucapan diriku, kulihat diriku
menerjang bak serigala. Tidak ada waktu untuk menghindar, aku lihat diriku
memegang sebuah pisau yang berayun ke arahku. Dan secara perlahan kurasakan
pisau itu tertanam di dadaku, kututup mataku guna menahan rasa sakit yang
mungkin akan aku rasakan, tapi aku tidak merasakan apapun! Justru yang
kurasakan adalah ringan dan tenang seolah ada batu besar yang diangkat dari
tubuhku. Kuberanikan diri untuk membuka mata dan yang aku lihat adalah tubuhku
yang bersimbah darah tergeletak di trotoar jalan, dengan tangan yang memegang
pisau tertanam di dadaku. Perlahan aku merasa diriku terbang seperti daun yang
pasrah mengikuti kemana angin membawanya. Sayup-sayup ku mendengar suara
lirih seorang pemuda “Apakah aku terlambat Adeline?” apakah itu Aleez?
Entahlah.
Adakah tempat dimana aku bisa menyembuhkan diriku sejenak? Kumasih
saja mencarinya, bertanya kepada hujan, kupeluk udara begitu erat. Ku bertanya
kepada bayang-bayang dan dia menjawab “menjauhlah”-Adeline Kalimat yang
ditemukan di laptop Adeline sebelum tragedi bunuh dirinya.
Social distancing bukanlah tentang berpaling dari dunia. Ini tentang menjauh
beberapa saat sehingga kamu dapat melihat dunia dengan lebih jelas dan
mencintainya lebih dalam. Hidup itu seperti piano, tuts putih melambangkan
kebahagiaan dan hitam sebaliknya. Saat kamu menjalani perjalanan hidup
ingatlah bahwa tuts hitam dan putih menciptakan suatu melodi yang indah. Jangan
pernah untuk selalu menahan tuts hitam mengeluarkan melodinya karena emosi
yang tidak terekspresikan tidak akan pernah mati. Mereka dikubur hidup-hidup dan
akan tampil nanti dengan cara yang lebih buruk.
Enigma
Aku lahir dari sekumpulan doa yang belum sempat terucap dari mulut mayat para
pendosa. Aku tumbuh bersama dengan sederetan harapan yang telah lama usang.
Dan aku yakin, betapa aku akan mati di hadapan kepastian yang muram. Itu
sebabnya aku ingin sekali menjelma angin, menjelma awan, menjelma rembulan,
menjelma apa saja yang bisa membebaskanku dari segala bentuk percakapan.
Namun, aku mengerti betapa aku akan tetap selalu seperti ini. tetap menjadi seorang
manusia yang dungu menerjemahkan waktu, letih mempertanyakan hati dan lelah
merangkai resah. Aku tak lebih dari seekor kupu-kupu yang tak lagi dapat terbang
menggumuli udara, mencumbui nekstar-nekstar bunga, sebab sepasang sayapku
telah berubah menjelma patah.
Di depan jendela ini aku merenung, memutaringatkan kembali pada kisah yang
belum sempat aku tamatkan. Pada mimpi dan harapan yang terkubur, pada senyum
manis yang dulu menghias bibir terganti dengan senyum tawar yang menyesakkan.
Ingatan itu, ingatan yang sialnya selalu menghantui pikiranku.
“Wahhh Ratih, hebat banget bisa juara satu terus.”
“Anak itu!? Anak sialan yang membuat malu warga desa ini.”
“Nak, kalau sudah besar harus seperti Kak Ratih yaa pintar, penurut dan ceria.”
“Hahaha aku ga nyangka banget dia keliatannya berprestasi tapi ga lebih dari
seekor binatang.”
“ARGHH! DIAM! JANGAN BERSUARA LAGI!”
“Ratih, papa kecewa dengan kamu nak.”
“Pergi! Mama bilang pergi dari sini Ratih! Kalau bisa jangan pernah menampakan
wajah sialan itu di depan muka ku!”
“AKU BILANG DIAMM SIALAN!!”
Prangg! suara bantingan gelas terdengar nyaring dalam ruangan di rumah susun itu.
Suara isakan kecil perlahan terdengar dari bibirku
“Hikss bukan salah Ratih Ma, Pa Ratih ga salah,” isakku
Perlahan aku melihat sebuah bayangan melintas di depan jendela kamarku.
Isakanku terhenti, dengan segera aku memeriksa, mendekati jendela kamarku. Dari
balik jendela kamar inilah aku menyaksikan diriku melangkah sendirian dengan
kepala tertunduk. Dalam Lorong gang yang legang diriku berjalan menyusuri
kesunyian. Tetangga-tetanggaku tentu masih mendengkur. Belum ada yang keluar
rumah untuk berangkat kerja, atau menyiram bunga-bunga, atau sekadar menyapu
halaman. Hanya diriku saja yang terlihat melangkah sendirian dalam kelam, dalam
kesunyian yang membuai.
Di sebuah perempatan jalan, diriku berhenti melangkah dan berjongkok untuk
mengikat tali sepatunya yang terlepas. Astaga. Aku baru sadar, pagi ini diriku
mengenakan sepatu! Tumben sekali. Mengenakan sepatu adalah hal yang jarang
dilakukan oleh diriku. Pasti hari ini diriku ingin melakukan perjalanan luar biasa.
Perjalanan ke manakah itu? Nah. Itulah pertanyaan terbesarnya, kemanakah itu?
Aku masih disini, di balik jendela kamar menyaksikan diriku sedang mengikat tali
sepatu. Di saat sedang mengikat tali sepatu itulah aku dapat menyaksikan dengan
amat jelas betapa diriku masih terus tersenyum. Bahagia sekali kelihatannya.
Setelah selesai mengikat tali sepatu aku melihat diriku masih tersenyum lebar,
bahagia sekali dia. Ku melihat diriku mengambil ponsel lalu mengetik sesuatu
disana, aku masih menyaksikannya dari balik jendela using ini. ‘Tring!’ suara
notifikasi ponselku berbunyi, segera ku mengambil ponsel di atas tempat tidur
membaca pesan yang tertulis dari nomor tak dikenal disana.
“Ini adalah sebuah perjalanan yang telah lama aku impikan. Sejak dulu aku ingin
sekali menghilang, melenyap seperti asap. Namun sayangnya aku tidak bisa, sebab
aku menyadari aku adalah seorang manusia yang selalu sadar akan
keberadaannya. Oleh karena itu, hari ini akumemutuskan untuk pergi. Selamat
tinggal…”
Aku menyaksikan diriku menoleh kearahku kemudian tersenyum sebentar.
Membalas senyumnya dan melambaikan tangan ke arahnya. Ahh… bahagia
rasanya ia bisa mengikuti kata hatinya. Aku pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Di dalam kamar mandi aku kemudian berpikir, apakah sebegitu
beratnya hari yang dilalui diriku selama ini? Apakah aku harus mengejarnya?
Ya, berarti aku harus segera mengejarnya. Aku buru-buru berlali menuruni tangga
rumah susun ini, hah.. lega rasanya melihat diriku masih berdiri di bawah salah satu
tiang jalan.
“aku kira kamu sudah pergi, syukurlah. Aku hanya ingin mengatakan, mari kita
lalui ini bersama. Jangan melarikan diri, karena hanya orang pengecut yang
melarikan diri dari masalahnya,” ujarku kepadanya.
Aku lihat diriku tersenyum manis
“ya.. tadi aku sempat berpikir seperti itu. Itu sebabnya aku tidak melakukan
perlajanan. Tapi..” diriku menghentikan ucapannya, mata yang tadi kulihat berwana
cokelat terang kemudian berubah menjadi semerah darah dalam sekejap. “siapa
yang palsu disini? jika bukan aku yang palsu , berarti kamu! Diantara kita tidak
boleh ada yang palsu, agar yang tidak palsu bisa menjalani kehidupan dengan
tenang!”
Diriku menerjang bak serigala, tak ada waktu untukku menghindar. Pukulan telak
mengenai wajahku. Aku terjatuh, dengan segera diriku mengambil pisau entah
darimana asalnya.
“Mati saja kau sialan!”
Aku sempat melihat bagaimana pisau itu diayunkan ke arahku, kemudian
menancap tepat di dada sebelah kiriku. Berkali-kali pisau itu diayunkan keraku.
Setelahnya diriku menyeret tubuhku pulang. Dadaku ngilu, seluruh tubuhku
rasanya mati rasa. Sesampainya didepan rumah, diriku langsung masuk kedalam
rumah, aku ditinggal sendirian diluar, tak lama kemudian diriku datang dengan
tambang ditangannya. Diriku mengikat erat leherku dengan tambang tersebut.
Erat sekali. Sepertinya saat ini aku akan menemui ajalku. Sekilas aku
menyaksikan diriku tersenyum
Setelah itu, semua terlihat gelap
Aku merasa impianku untuk bebas telah tercapai, tubuku rasanya sangat bebas
terbang di udara. Seperti burung, atau mungkin aku telah menjelma menjadi
kapas?
Hari sudah semakin terang, tetanggaku sudah ada yang keluar rumah untuk
berangkat kerja atau sekedar menyapu halaman. Mereka terkejut melihat tubuhku
tergantung dan terayun di pohon besar depan rumah susun yang kuhuni dengan
tali yang mengikat leherku.
Sekelebat ku melihat perawakan seorang pria, dengan mata itu. Mata semerah
darah, percis seperti mata diriku saat membunuhku. Betapa terkejutnya aku
setelah mendengar kata yang terucap dari bibirnya
“Selamat datang dalam dunia impian yang selalu kau angankan, Ratih..”
JENDELA
Musim dingin berlalu setiap harinya, dan kini matahari bersinar dengan isyarat kedatangan musim
semi. Saya percaya Anda baik-baik saja.
Surat Anda yang terakhir, saya baca dengan penuh gembira. Terutama bagian tentang hubungan
antara hamburger dan bubuk pala, saya rasa, ditulis dengan sangat baik: begitu kaya dengan
perasaan alamiah dari kehidupan sehari-hari. Betapa jelas Anda menggambarkan aroma hangat
dari dapur, bunyi ketukan lincah pisau pada papan talenan ketika mengiris bawang!
Ketika saya melanjutkan membaca, surat Anda memenuhi diri saya dengan perasaan semacam
keinginan tak tertahankan untuk pergi ke restoran terdekat dan membeli sebuah hamburger steak
malam itu juga. Kenyataannya, terutama sekali di dekat lingkungan tempat tinggal saya, sebuah
restoran menawarkan delapan varietas berbeda dari hamburger steak ketika saya memesan
makanan itu: Texas-style, Hawaiian-style, Japanese-style, dan sejenisnya. Texas-style memiliki
ukuran besar. Bulat. Tak diragukan lagi hamburger itu akan mengejutkan setiap orang Texas yang
mungkin menemukan restoran ini ketika mereka berada di Tokyo. Hawaiian-style dihiasi dengan
irisan nanas. California-style… saya lupa lagi. Japanese-style dilapisi dengan parutan lobak.
Restoran itu ditata cukup rapi. Pelayannya cantik-cantik, memakai rok yang sangat pendek.
Bukan berarti saya pergi ke tempat itu untuk mengagumi dekorasi interior restoran atau kaki
jenjang para pelayan. Saya ada di sana hanya untuk satu alasan, dan itu adalah makan hamburger
steak—bukan Texas-style atau California-style atau jenis yang lainnya, tetapi yang biasa-biasa
saja, sebuah hamburger steak yang sederhana.
Yang seperti itulah yang saya pesan kepada pelayan. “Maaf,” pelayan itu menjawab, “tapi
hamburger steak jenis seperti ini dan jenis seperti itu yang kami punya di sini. Tidak ada hamburger
steak, seperti yang Anda katakan, yang biasa-biasa saja.”
Saya tidak bisa menyalahkan si pelayan, tentu saja. Dia tidak mengatur menu. Dia tidak memilih
untuk mengenakan seragam yang mempertontonkan sebagian besar pahanya setiap kali ia
membersihkan piring dari atas meja. Saya tersenyum kepadanya dan memesan hamburger steak
Hawaiian-style. Sebagaimana saran si pelayan, saya hanya harus menyisihkan irisan nanas ketika
memakannya.
Dunia aneh macam apa ini! Saya hanya ingin sebuah hamburger steak yang benar-benar biasa, dan
satu-satunya cara yang bisa saya lakukan ketika menginginkan hal itu pada saat ini adalah makan
Hawaiian-style tanpa nanas.
Hamburger steak Anda, saya kira, adalah jenis yang biasa-biasa saja. Berkat surat Anda, apa yang
paling saya inginkan di atas segalanya adalah sebuah hamburger steak yang biasa-biasa saja buatan
Anda send
Sebaliknya, bagian awal surat Anda tentang mesin penjual tiket otomatis dari Perkeretaapian
Nasional menurut saya agak dangkal. Sudut pandang Anda atas masalah itu bagus, sungguh, tetapi
pembaca tidak bisa membayangkan penggambaran itu dengan jelas. Tak perlu bersusah-payah
menjadi pengamat yang mendalam. Menulis, setelah segala hal, adalah suatu tindakan alternatif.
Jumlah keseluruhan nilai dari surat terbaru yang Anda kirimkan ini adalah 70. Gaya menulis Anda
bertambah baik secara perlahan tetapi pasti. Jangan terburu-buru. Tetap pertahankan kerja keras
Anda sepanjang Anda melakukan segala sesuatunya. Saya mengharapkan surat Anda yang
berikutnya. Bukankah menyenangkan, menerima surat Anda ketika musim semi benar-benar telah
tiba?
P.S. Terima kasih atas sekotak kue yang Anda kirimkan. Kue-kue itu sungguh enak. Aturan
Perkumpulan, bagaimanapun, sangat ketat melarang kontak pribadi di luar pertukaran surat. Saya
harus meminta kepada Anda untuk menahan kebaikan Anda di masa mendatang. Namun demikian,
sekali lagi terima kasih.
AKU telah melakukan pekerjaan paruh-waktu ini hampir selama satu tahun. Usiaku dua puluh dua
pada saat itu.
Aku menerima tiga puluh atau lebih surat seperti ini setiap bulan, dengan bayaran dua ribu yen,
aku bekerja untuk sebuah perusahaan kecil aneh di distrik Iidabashi yang menamakan diri
“Perkumpulan Pena.”
“Anda juga bisa menulis dengan menawan,” begitulah iklan perusahaan itu membual. “Anggota”
baru membayar biaya pendaftaran dan iuran bulanan, dengan imbalan mereka bisa menulis surat
empat kali dalam sebulan kepada Perkumpulan Pena. “Master Pena” kami akan menjawab surat
mereka dengan surat yang kami tulis sendiri, seperti yang dikutip di atas, berisi koreksi, komentar,
dan bimbingan untuk perbaikan di masa mendatang. Aku datang untuk wawancara kerja setelah
melihat iklan yang dipasang di ruang bagian kemahasiswaan jurusan Sastra. Pada saat itu, beberapa
kegiatan membuatku harus menunda kelulusanku selama satu tahun, dan orangtuaku mengatakan
bahwa mereka akan mengurangi uang bulananku karenanya. Untuk pertama kalinya dalam
hidupku, aku dihadapkan pada situasi di mana aku harus mencari nafkah sendiri. Selain
wawancara, aku diminta untuk menulis suatu karangan, dan seminggu kemudian aku dipekerjakan.
Selama seminggu kemudian aku mengikuti pelatihan bagaimana melakukan koreksi, menawarkan
bimbingan, dan beberapa keterampilan, tak ada yang benar-benar menyulitkan.
Semua anggota Perkumpulan dibimbing oleh para Master Pena dari lawan jenisnya. Aku memiliki
total dua puluh empat anggota, berusia antara empat belas hingga lima puluh tiga tahun, mayoritas
berusia dua puluh lima hingga tiga puluh lima tahun. Bisa dibilang, sebagian besar mereka lebih
tua dariku. Bulan pertama, aku begitu panik: Para wanita itu ternyata menulis jauh lebih baik
dariku, dan mereka memiliki lebih banyak pengalaman sebagai koresponden. Terlebih, aku hampir
tidak pernah menulis surat yang serius selama hidupku. Aku tidak yakin akan berhasil melewati
semua itu pada bulan pertama. Aku berkeringat dingin terus-menerus, yakin bahwa sebagian besar
anggota yang menjadi tanggung jawabku akan menuntut si Master Pena awam ini—hak istimewa
untuk hal ini sangat ditekankan di dalam aturan Perkumpulan.
Satu bulan pun berlalu, dan tak satu pun anggota melayangkan keluhan tentang tulisanku.
Sebaliknya, jauh dari hal itu. Pemilik perusahaan mengatakan bahwa aku begitu populer. Dua
bulan lagi berlalu, dan bahkan kelihatannya penghasilanku mulai membaik berkat “bimbingan”
yang kulakukan. Ini agak aneh. Wanita-wanita itu memandangku sebagai guru mereka dengan
kepercayaan penuh. Ketika menyadari keadaan ini, hal itu memungkinkanku untuk menulis kritik
kepada mereka dengan usaha yang jauh lebih sedikit serta tidak terlalu merasa cemas karenanya.
Aku tidak menyadarinya saat itu, bahwa wanita-wanita itu kesepian (sebagaimana juga anggota
laki-laki di Perkumpulan). Mereka ingin menulis surat tetapi tak ada seorang pun yang dapat
mereka kirimi surat. Mereka bukan tipe yang mengirim surat penggemar kepada seorang penyiar.
Mereka ingin sesuatu yang lebih pribadi—bahkan jika hal itu harus datang dalam bentuk koreksi
dan kritikan.
Dan begitulah hal itu terjadi, aku menghabiskan sebagian usia awal dua puluhanku seperti ikan
duyung cacat dalam sebuah harem yang panas dipenuhi surat-surat.
Yang luar biasa adalah surat-surat mereka yang bervariasi! Surat yang membosankan, surat yang
menyenangkan, surat yang menyedihkan. Sayangnya, aku tidak boleh menyimpan salah satu dari
surat-surat itu (peraturan mengharuskan kami mengembalikan semua surat kepada perusahaan),
dan semua itu telah cukup lama terjadi hingga aku tidak ingat lagi secara rinci, tetapi aku
mengingat mereka sebagai sesuatu yang memenuhi kehidupanku dengan segala macam aspeknya,
mulai dari pertanyaan-pertanyaan besar hingga hal-hal kecil yang remeh-temeh. Dan pesan yang
mereka kirimkan kepadaku kelihatannya sama—bagiku, seorang mahasiswa perguruan tinggi
berusia dua puluh dua tahun—yang secara aneh terpisah dari kenyataan, tampak pada saat yang
bersamaan sebagai sesuatu yang benar-benar tak berarti. Hal ini juga bukan semata-mata karena
kurangnya pengalaman hidupku sendiri. Sekarang aku menyadari bahwa kenyataan dari hal-ihwal
itu sendiri bukanlah sesuatu yang kau sampaikan kepada orang-orang, melainkan sesuatu yang kau
perbuat bagi mereka. Inilah yang pada gilirannya menjadi bermakna. Aku tidak tahu hal itu akan
berkembang menjadi apa selanjutnya, tentu saja, begitu pula dengan wanita-wanita itu. Pasti hal
inilah salah satu alasan mengapa segala sesuatu di dalam surat mereka secara dua-dimensi terasa
aneh bagiku.
Ketika tiba saatnya bagiku untuk meninggalkan pekerjaan itu, semua anggota yang kubimbing
menyatakan penyesalan mereka. Meski begitu, terus terang, ketika aku mulai merasa bahwa sudah
cukup bagiku melakukan pekerjaan tak berujung menulis surat-surat seperti itu, aku merasa
menyesal juga, dengan caraku sendiri. Aku tahu aku tidak akan pernah lagi memiliki begitu banyak
orang yang membuka diri mereka kepadaku dengan kejujuran yang sederhana seperti itu.
HAMBURGER steak itu. Aku benar-benar memiliki kesempatan untuk mencicipi hamburger
steak buatan wanita yang kepadanyalah surat yang kukutip sebelumnya dituju
Wanita itu berusia tiga puluh dua tahun, tidak memiliki anak, suaminya bekerja di sebuah
perusahaan yang umumnya dianggap sebagai lima-perusahaan-terbesar di negeri ini. Ketika
kukatakan kepadanya di dalam surat terakhirku bahwa aku akan meninggalkan pekerjaanku pada
akhir bulan, ia mengundangku makan siang. “Saya akan menyediakan hamburger steak yang
benar-benar biasa saja untuk Anda,” tulisnya. Meskipun terikat aturan Perkumpulan yang
menjengkelkan, aku memutuskan untuk menerima undangannya itu. Rasa penasaran seorang
pemuda berusia dua puluh dua tahun tak bisa dikesampingkan begitu saja.
Apartemen wanita itu menghadap ke arah jalur rel kereta api Odakyu Line. Ruangannya memiliki
keteraturan yang sangat sesuai untuk pasangan suami-istri tanpa anak. Baik furnitur maupun
perlengkapan pencahayaan ruangan, juga sweater yang dikenakan wanita itu, adalah jenis khusus
yang harganya pasti mahal, tetapi semuanya cukup menarik. Kami memulainya dengan saling
bertukar rasa terkejut—di matanya penampilanku tampak jauh lebih muda, di mataku ia tampak
sebagaimana usianya yang sebenarnya. Ia membayangkan bahwa aku lebih tua dari dirinya.
Perkumpulan tidak pernah memberitahukan usia para Master Pena kepada para anggota.
Setelah mengejutkan satu sama lain, rasa canggung yang biasanya terjadi pada pertemuan pertama
telah hilang. Kami makan hamburger steak dan minum kopi, merasa seperti sepasang penumpang
yang ketinggalan kereta dengan tujuan yang sama. Dan, berbicara tentang kereta api, dari jendela
apartemen lantai tiga itu siapa pun bisa melihat jalur kereta listrik di bawahnya. Cuaca sangat indah
hari itu, dan pada pagar balkon gedung itu menggantung bermacam-macam karpet dan kasur yang
tengah dijemur di bawah sinar matahari. Sesekali terdengar suara alat pemukul bambu menepuk-
nepuk kasur. Aku dapat mendengar kembali suara-suara itu bahkan pada saat ini. Sungguh suatu
perasaan berjarak yang terasa aneh.
Hamburger steaknya sangat sempurna—rasanya sungguh lezat, bagian luarnya dipanggang hingga
berwarna coklat gelap dan renyah, bagian dalamnya begitu lembut, sausnya sangat pas. Meski
sejujurnya tidak bisa dikatakan bahwa aku belum pernah makan sesuatu yang lezat seperti
hamburger itu selama hidupku, sudah pasti hamburger steak buatannya adalah yang terbaik yang
pernah kucicipi setelah sekian lama. Kukatakan itu kepadanya, dan ia senang mendengarnya.
Setelah minum kopi, kami saling menceritakan kisah hidup kami sementara kaset Burt Bacharach
diputar. Karena aku belum benar-benar memiliki sesuatu yang bisa dibilang sebagai kisah hidupku,
wanita itulah yang lebih banyak bercerita. Waktu kuliah ia ingin menjadi seorang penulis, katanya.
Ia bicara soal Françoise Sagan, salah satu penulis favoritnya. Terutama sekali ia sangat menyukai
“Aimez-vous Brahms?” Aku sendiri tidak menyukai Sagan. Setidaknya, aku tidak menemukan
sesuatu yang layak di dalam tulisannya seperti yang dikatakan kebanyakan orang. Tak ada hukum
yang mengharuskan semua orang untuk menulis novel seperti Henry Miller atau Jean Genet.
“Saya tidak bisa menulis, biar bagaimanapun,” katanya.
“Tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai hal itu,” kataku.
“Tidak, saya tahu saya tidak bisa menulis. Andalah orang yang memberi tahu saya tentang itu.”
Wanita itu tersenyum. “Menulis surat kepada Anda, akhirnya saya menyadari hal itu. Saya benar-
benar tidak punya bakat.”
Wajahku bersemu merah. Itu nyaris tak pernah terjadi kepadaku hingga saat ini, tetapi ketika
usiaku masih dua puluh dua tahun aku tersipu sepanjang waktu. “Meski begitu, tulisan Anda
memiliki sesuatu yang menggambarkan bakat itu secara jujur, sungguh.”
Alih-alih menjawab, wanita itu hanya tersenyum sebuah senyum simpul.
“Setidaknya satu surat Anda membuat saya memutuskan pergi keluar untuk membeli hamburger
steak.”
“Anda pastinya sedang sangat lapar saat itu.”
Dan memang, aku sedang sangat lapar saat itu.
Kereta lewat di bawah jendela dengan bunyi bising yang kering.
KETIKA jam menunjukkan hampir pukul lima sore, kukatakan bahwa aku harus pergi. “Anda
tentu harus segera menyiapkan makan malam untuk suami Anda.”
“Dia selalu pulang larut,” katanya, pipinya ditopangkan pada tangannya. “Tidak akan pulang
sebelum tengah malam.”
“Suami Anda pasti orang yang sangat sibuk.”
“Saya kira memang begitu,” katanya, diam sejenak. “Saya pikir pernah suatu kali saya menulis
kepada Anda tentang masalah saya. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa saya bicarakan dengannya.
Perasaan saya mengatakan bahwa ia takkan mengerti. Sering kali, saya merasa bahwa kami sedang
berbicara dengan dua bahasa yang berbeda.”
Aku tidak tahu harus berkata apa kepadanya. Aku tidak mengerti bagaimana seseorang bisa terus
hidup dengan seseorang yang lain yang kepadanya ia tidak mungkin bisa menumpahkan
perasaannya.
“Tapi tidak apa-apa,” katanya lembut, dan ia mengatakannya hingga hal itu terdengar seolah benar-
benar tidak apa-apa. “Terima kasih sudah menulis surat kepada saya selama berbulan-bulan. Saya
sangat menikmati hal itu. Sungguh. Jika bisa kembali menulis surat kepada Anda tentu itu akan
menjadi anugerah bagi saya.”
“Saya juga menikmati surat-surat Anda,” kataku, meski sebenarnya aku hampir tidak bisa
mengingat apa pun yang pernah ia tulis
Untuk beberapa saat, tanpa berbicara, ia melirik jam di dinding. Kelihatannya
wanita itu seperti sedang menguji aliran waktu.
“Apa yang akan Anda lakukan setelah lulus kuliah?” tanyanya.
Aku belum memikirkannya, kataku kepadanya. Aku tidak tahu apa yang harus
kulakukan. Ketika aku mengatakan hal ini, ia kembali tersenyum. “Mungkin
seharusnya Anda melakukan suatu jenis pekerjaan yang berkaitan dengan menulis,”
katanya. “Kritik yang Anda tulis betul-betul indah. Saya menjadikannya sebagai
pegangan untuk memperbaiki tulisan saya di masa mendatang. Saya benar-benar
melakukannya. Saya tidak bermaksud memuji. Sejauh yang saya tahu, Anda
menulis surat itu hanya untuk memenuhi tugas Anda, tetapi surat itu bagi saya
memiliki suatu perasaan yang amat nyata. Saya sudah melaksanakan semua yang
Anda sarankan. Saya mengeluarkan surat-surat Anda setiap kali dan membaca
ulang semuanya.”
“Terima kasih,” ujarku. “Dan terima kasih untuk hamburgernya.”
SEPULUH tahun telah berlalu, tetapi setiap kali aku melewati lingkungan tempat
tinggal wanita itu di sekitar Odakyu, aku memikirkannya dan hamburger steak
panggangnya yang renyah itu. Aku menatap bangunan-bangunan yang berjajar
sepanjang jalur rel kereta dan bertanya kepada diri sendiri yang manakah jendela
tempat tinggalnya. Aku berpikir tentang pemandangan dari jendela itu dan mencoba
untuk mencari tahu di mana letaknya. Tetapi aku tidak pernah bisa mengingatnya.
Barangkali wanita itu tidak tinggal di sana lagi. Tetapi, kalau pun hal itu benar
terjadi, mungkin ia masih mendengarkan kaset Burt Bacharach yang sama di tepi
jendela rumahnya yang lain.
Apakah seharusnya aku tidur dengannya saat itu?
Itulah pertanyaan inti pada bagian ini.
Jawabannya berada di luar diriku. Bahkan sekarang pun, aku tidak tahu. Ada
banyak hal yang tidak kita mengerti, tak peduli berapa pun usia kita, tak peduli
berapa banyak pengalaman hidup yang telah kita tumpuk. Yang bisa kulakukan
hanya menatap dari dalam kereta jendela-jendela pada bangunan-bangunan yang
barangkali satu di antaranya adalah jendela miliknya. Satu dari setiap jendela itu
bisa saja adalah jendelanya, kadang seperti itu kelihatannya bagiku, dan di lain
waktu aku berpikir bahwa tidak satu pun dari jendela-jendela itu adalah jendelanya.
Ada begitu banyak jendela.
HUJAN DAN KENANGAN SEMUNYA
Sore itu perlahan rintik hujan turun menghantam bumi menggenangi
jalanan, membasuh rindu setiap insan yang merindu. Sang mentari yang tak
kunjung memancarkan eksistensinya, tertutup kelabu yang merajalela.
Segerombolan orang berdesakan kesana kemari dengan payung lebar yang
melindungi kepala mereka, berusaha menghindari tetes demi tetes hujan.
Tapi, gadis itu berbeda. Seorang gadis berdiri disana diantara hiruk pikuk
manusia yang berusaha menghindari tetesan hujan. Alih alih berteduh, ia malah
berdiam disana membiarkan seragam sekolahnya basah bersamaan dengan hujan
yang datang kepadanya. Seakan menikmati setiap tetes hujan yang jatuh menerpa
wajahnya, seakan berusaha menyalurkan rindunya lewat tetes hujan menyapanya.
Ya rindu. Gadis itu, gadis dengan seragam sekolah yang melekat pada tubuhnya
dan sebuah buku digenggamannya adalah gadis yang selalu setia menunggu hujan,
menungu rindu yang akan ia salurkan lewat hujan.
Sore itu, perlahan hujan menepi membiarkan matahari memancarkan sinar
hangatnya, perlahan tapi pasti kelabu tergantikan oleh hangatnya cahaya mentari.
Gadis yang kerap dipanggil Aeliana itu duduk disebuah bangku didekatnya,
perlahan ia membuka buku yang dipegangnya sedari tadi. Kata demi kata, bait demi
bait, lembar berganti lembar. Dibawah cahaya senja sore itu perlahan ia baca
kembali buku itu, buku yang ia tulis sendiri, yang berisikan kisahnya dengan
seorang laki - laki, laki - laki yang mampu mengubah pandangannya tentang cinta,
bahkan mampu mengubah hidupnya.
“Hallo, kenalin nama aku Rain Dirgantara, kalian bisa manggil aku Rain,
khusus buat cewek yang dipojok panggil aku sayang aja” ucap seorang laki - laki
di depan kelas itu, tak lupa dengan kedipan mata di akhir kalimatnya. “aacieeee
Aelia, ada yang naksir tuhh” “bahhh Aelia, cowo baru pindahan aja naksir, emang
yaa kalo orang cantik damagenya minta ampun” “yahh saingan baru lagi nih?”
begitulah sorakan para murid dikelas itu.
“Sudah sudah jangan ribut, Rain kamu duduk dibangku kosong samping
Aelia ya, Aelia angkat tangan kamu nak. Untuk pelajarannya Pak Mamat, kebetulan
beliau berhalangan hadir kalian belajar sendiri dulu, ingat jangan ribut ibu ada
dikelas sebelah” ucap sang wali kelas yang disambut sorakan gembira para
muridnya, heyy siapa yang tidak suka jam kosong?
Sementara itu, dibangku pojok. “hey kenalin nama aku Rain, boleh kenalan?” ucap
Rain pada gadis di sebelahnya. “Dah tau, nama aku Aeliana” jawab gadis tersebut.
“hmm, aku panggil Lia aja boleh ga?” tanya Rain. “Terserah” jawab lia sekenanya.
Tanpa Aelia sadari perkenalan tersebut adalah awal dari segalanya termasuk cinta
yang dulu ia rasakan dan rindu tak berarti yang ia tahan saat ini.
“Lia, kamu tau ga? ternyata kita emang jodoh loh” teriak Rain diatas motor
scoopynya. Ya saat ini sepasang kekasih itu sedang berada di tengah jalan dengan
hujan yang menerpa keduanya. “Tau darimana kalo kita jodoh? Sok tau kamu
hahaha” jawab lia, “astaga lia, aminin aja apa susahnya si, doain kita jodoh emang
kamu gamau jodoh sama aku?” ucap Rain. “hahaha iya amin paling serius dehh
moga kita jodoh, jadi?” jawab Lia yang dibalas tatapan bingung Rain lewat kaca
sepionnya. “Jadi apanya? Kamu mau nikah sekarang? plis Lia aku belum punya
uang, nanti ya kalo aku dah mapan” jawab Rain, “ishh bukan itu, yang maksud
kamu jodoh itu tau darimana?” ucap Lia sambil memukul punggung Rain dengan
tidak elitnya. “ashhh ganas banget sii pacar aku, jadi gini, namaku kan Rain, artinya
hujan, sedangkan nama kamu Aeliana yang artinya Matahari” “ya terus,
hubungannya apa?” jawab Lia “lemot banget si, jadi kalo hujan turun terus datang
matahari pasti bakal jadi pelangi kan? Gitu juga dengan hubungan kita, kamu bisa
ngelengkapin hujan yang kelabu ini sama cahaya kamu bahkan sampai pelangi aja
tercipta karena bersatunya Hujan dan Mentari” jawab Rain. Motor scoopy itu
berhenti di depan gerobak bakso “udahh, hujan hujan gini mending makan bakso
dulu yuk, sambil nunggu hujannya reda” ucap Rain yang diangguki gadis itu. “ehh
Rain, liat deh itu ada pelangi cantik banget ya!” ucap gadis itu dengan antusias.
“iyaa, cantik kaya kamu” ucap Rain.
“Dadah ya Rain, hati hati dijalan inget jangan ngebut” ucap gadis itu sambil
melepaskan helmnya, “iyaa, kamu juga jangan kangen sama aku ya” jawab Rain
tak lupa dengan tatapan genitnya. “ishh besok juga ketemu di sekolah, gamungkin
kangen wlee” jawab Lia sambil memeletkan lidahnya. “hahaha lucu banget si pacar
aku, tapi kamu harus inget ya seandainya nanti aku gaada, kamu bisa nitipin rindu
kamu lewat hujan, hujan pasti bakal nyampein ke aku kok, dan nanti kalau semisal
ada pelangi berarti aku udah nerima rindu kamu dan aku juga rindu kamu” ucap
Rain dengan tatapan seriusnya. “iyaa Rain, udah sana pulang dah malem” jawab
Lia, “iyaa good night yaa” perlahan motor scoopy itu mulai meninggalkan
pekarangan rumah Aeliana. Gadis itupun segera masuk kedalam kamarnya dan
bersiap untuk mendatangi alam mimpinya.
Pagi itu disebuah rumah sakit, seorang gadis menatap sekelilingnya dengan
tatapan bingung. Seorang wanita paruh baya masuk kesebuah kamar nomor 103,
sontak saja ia terkejut melihat putrinya yang koma selama 1 bulan lamanya sedang
menatap langit langit kamar dengan tatapan kosongnya. “Astaga, Aeliana! Kamu
sudah bangun nak?” wanita itu perlahan berjalan kearah gadis itu dengan tatapan
harunya, “Kamu tidak apa apa nak? Ada yang sakit? Perlu mama panggilkan
dokter?” pertanyaan beruntun diucapkan oleh wanita itu kepada gadis disebelahnya
yang dijawab gelengan oleh gadis tersebut “gausah Ma, Aelia gapapa kok, Ma kok
kita ada di rumah sakit ya? Emang Aelia sakit apa? Terus mama udah kasi tau Rain
belum kalo Aelia ada di rumah sakit? Takut nanti Rain bakal jemput Aelia kerumah
terus gaada siapa siapa” “Kamu lupa sayang? Sebulan yang lalu kamu ditabrak
mobil sepulang dari rumah teman kamu, terus kamu koma sebulan, mama khawatir
banget sama kamu nak, syukurlah kalau kamu gak apa apa” jawab wanita paruh
baya tersebut, “HAH!?? Koma sebulan? Kok bisa ma? Perasaan Aelia baru kemarin
deh keluar bareng Rain, terus paginya bangun bangun Aelia udah disini aja” jawab
Aeliana terkejut. “Rain? Rain siapa nak? Perasaan kamu gak punya teman yang
Namanya Rain deh, teman kamu kan cuma Saras sama Ana, dan kamu juga anti
banget kan sama laki laki semenjak papa kamu selingkuh?” jawab Laras, mama
Aelia. “Aelia, kita kangen banget sama kamu wehh, lama banget si bangunnya”
ucap seorang gadis yang baru menginjakkan kakinya diruangan tersebut, diikuti
oleh temannya “akhirnya kamu sadar juga Aelia, tadi pas denger kabar kamu udah
siuman kita langsung kesini”.
Saat itu juga Aeliana tersadar, bahwa Rain hanya sebuah mimpinya saat
koma, tapi hingga saat ini ia masih merindukan sosok Rain. Satu satunya laki - laki
yang mampu mendekatinya, satu satunya laki - laki yang mampu mengubah
pandangannya tentang cinta, dan menyadarkannya bahwa tidak semua laki - laki
seberengsek papa. Bilang saja Aeliana gadis bodoh yang bahkan masih merindukan
sosok Rain yang jelas jelas hanya sebuah imajinasi.
Aeliana masih duduk dibangku itu, mengingat kenanngannya dengan Rain,
mengingat kebingungannya saat di rumah sakit, dan mengingat cintanya kepada
lelaki itu. Perlahan ia menutup buku digenggamannya dan menatap langit senja
yang dihiasi pelangi, “Rain, kamu bilang bersatunya Hujan dan Mentari akan
tercipta pelangi yang indah, sangat indah tapi aku terlalu terbuai dengan indahnya
pelangi sampai aku lupa pelangi hanya datang sebentar lalu pergi, seperti kisah kita.
Tapi aku senang sekarang ada pelangi, berarti kamu sudah menerima pesan rinduku
dan kamu pasti lagi kangen sama aku kan? Meskipun kamu hanya fatamorgana tapi
aku tetap akan selalu mengingat dan merindukanmu Rain”
Sementara itu dibelahan dunia lain, tepatnya di Korea Selatan seorang laki
laki keturunan Indonesia bernama Rain Dirgantara terbangun dari komanya,
perlahan matanya terbuka dan bibirnya mengucapkan sesuatu “Aeliana”
Titik Koma
; Pukul dua belas empat puluh lima siang.
Ketika tongkat penopang murid-murid itu melangkah lebar-lebar, Renjana
justru masih berpaku pada kanvas lima belas kali lima belas sentimeternya itu.
Latarnya suram, cat acrylic hitamnya terbuka lebar, menampak sisa-sisa cat yang
berkerak. Renjana melirik, seisi ruangan ini musnah. Manusia-manusia yang
sebelumnya memenuhi bangku-bangku usang itu kini sudah lenyap. Udara hangat
keluar dari hidungnya. Belasan jam sudah ia berkutat dengan kanvasnya.
Renjana bangkit, ia melangkah keluar dari kelas, meninggalkan kanvas dan
segala peralatannya di atas meja. Angin koridor selalu menyejukkan, semua murid
di SMA Negeri 1 Kuta Selatan tahu itu. Sembari menikmati sejuknya angin yang
menerbangkan beberapa helai rambutnya, tiba-tiba terlintas suatu hal dipikiran
Renjana, bahwa dirinya dapat menikmati sejuknya angin di koridor sekolah ini
hanya dalam beberapa bulan lagi, karena dalam hitungan bulan ia akan lulus dan
sudah harus meninggalkan sekolah ini. Meninggalkan semuanya.
Tak memakan waktu yang lama, lelaki jangkung menghampirinya. Semua
orang tahu bagaimana seorang Tambora Maharaja menganggap semua murid
OSAKA adalah kawannya. Dan kali ini, Renjana tentu akan menjadi kawannya
yang lain.
“Kenapa sendirian?” bibir tipis itu bersuara selepas pemiliknya
mensejajarkan tubuhnya di sebelah Renjana.
Renjana mengalihkan kiblatnya, bukan main ia harus berhadapan dengan
Tambora. “Cuma mau nikmatin spot favorit aja.”
“Iya deh. Emang, ya, siswa-siswi disini, tuh, punya spot favoritnya masing-
masing.”
“Dan kemudian kamu harus sadar kalau kita akan jarang nikmatin spot
favorit kita lagi di OSAKA. Hitungan bulan lagi, Tam.” Renjana berucap,
rambutnya masih bermain dengan angin. “Pengen, deh, sebelum lulus aku ninggalin
sesuatu di tempat ini.”
Tambora melirik ke dalam kelas, mendapati peralatan Renjana menjadi
satu-satunya hal yang menarik netranya. “Kanvas itu?”
“Itu adalah satu utusan atas keinginanku sendiri, Tam. Sesuatu yang aku
pengenin untuk ninggalin jejak disini.” Renjana kembali berbalik, memusatkan
netranya pada papan identitas ruangan yang tergantung di atas pintu kelas. XII
MIPA 2.
Tambora tiba-tiba saja melangkah masuk, tentu ia tertarik dengan kanvas
suram itu. “Mau ngelukis apa?”
Renjana kembali merasakan udara hangat melalui kedua lubang hidungnya.
“Titik koma.” ucapnya penuh penekanan.
Tambora tentu tidak paham. Wajahnya memelas meminta penjelasan.
Renjana kembali merebahkan tubuhnya dan meraih kuas catnya, bersiap
melanjutkan utusan atas keinginannya kembali. “Kamu tahu filosofi titik koma?”
Tanyanya seraya menyapu kuasnya dengan cat acrylic emas.
Tambora menggeleng.
“Kelas ini punya sisi humanisnya tersendiri untuk ngebentuk cerita masa-
masa SMA-ku, Tam.” Renjana mulai mengaplikasikan cat emasnya itu ke atas
kanvas suram. Wajahnya fokus, netranya meng-elang tak ingin berkedip. “OSAKA
dan seluruh isinya selalu istimewa. Ya walaupun kadang bikin kesel juga, sih.”
Tambora menaikkan bulan sabitnya, menyetujui penuturan terakhir
Renjana.
“Dan sebentar lagi, empat bulan lagi, semua hal yang sebelumnya selalu
mendekap kita dalam hangat, akan langsung melepas kita hanya dalam satu jabat
tangan perpisahan. OSAKA nggak akan milik kita lagi yang akan berjuang di
rentang masa selanjutnya, Tam.”
Tambora diam, tidak mudah baginya untuk membayangkan apa yang
dimaksud seorang seniman di hadapannya itu. Renjana masih menyapu kuasnya di
atas kanvas, membentuk satu hal yang Tambora sendiripun tak paham.
“Kembali lagi ke keinginanku yang tadi, aku pengen ninggalin jejak di SMA
ini, ninggalin satu hal untuk tempat yang selalu nerima aku di setiap harinya.”
Renjana menghentikan tangannya. “Titik koma, simbol yang pas untuk mereka
yang sedang berjuang. Seperti kita yang akan berjuang selepas meninggalkan
tempat ini.”
Lelaki jangkung itu menegakkan badannya, menangkap benang merah yang
sedari tadi dicarinya.
“Kalau kata Amy Bluel, si Pencetus Projek Titik Koma, “sebuah tanda titik
koma digunakan ketika seorang penulis bisa memilih untuk mengakhiri kalimat,
tapi mereka memilih untuk tidak mengakhirinya”. Kita mungkin bisa memilih
untuk mengakhiri kisah kita di OSAKA, tapi di samping itu kita juga bisa memilih
untuk tidak mengakhirinya. Maka titik koma menjadi satu-satunya sekat yang ada
untuk keduanya.” Renjana kini benar-benar mengakhiri gerakan kuasnya.
Tambora melirik ke arah kanvas suram itu. Sebuah mahakarya dari
rangkaian kalimat si Seniman yang tiada henti itu telah selesai. Renjana tersenyum,
ia lantas menegakkan kanvas suramnya itu dan tersenyum akan hasil lukisannya
sendiri.
Sebuah tanda titik koma berwarna emas telah terajut manis di atas kanvas
suram.
;
sebuah tanda mata bahwa kami tidak ingin mengakhiri semua hal di OSAKA
; renjana maheswari