The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Asep Kusnandar, 2023-09-17 23:12:35

Dilema Etika_Kelompok 2

Dilema Etika_Kelompok 2

Dilema Etika Rapat Kenaikan Kelas Kelompok 2


1. Neneng Indrayati 2. Dede Trispiawati 3. Heru Hermawan 4. Asep Kusnandar Kelompok 2


Studi Kasus


Kasus Di akhir tahun ajaran pada saat rapat kenaikan kelas, ditemukan data nilai beberapa siswa yang memiliki nilai kehadiran kurang dari 75% dan nilai capaian kognitif dibawah KKM, serta nilai apekif kurang baik, yang mana data nilai tersebut masih di bawah nilai standar satuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam kesempatan yang sama kepala sekolah memberikan arahan kepada dewan guru untuk memberikan nilai yang baik kepada semua siswa, sehingga seluruh siswa dapat naik kelas. Tentunya hal tersebut menjadi sebuah dilema, karena jika ada siswa tidak naik kelas, maka siswa tersebut akan merasa malu dan yang lebih dikhawatirkan akhirnya mereka memilih putus sekolah. Jika hal itu terjadi maka sekolah akan mendapat teguran, mengingat pemerintah telah mencanangkan program wajib belajar 12 tahun.


Analisis Kasus


Paradigma Dilema Etika a. Rasa Keadilan melawan rasa kasihan : Dewan guru ingin memberikan nilai sesuai capaian atau prestasi siswa secara adil, namun kepala sekolah menginginkan nilai capaian siswa di atas standar agar bisa mempertahankan prestise sekolah serta merasa kasihan pada beberapa siswa yang mempunyai nilai capaian rendah, karena jika nilainya rendah akan menurunkan prestise sekolah.


Paradigma Dilema Etika b. Jangka pendek melawan jangka panjang : Untuk jangka pendek akan berdampak pada motivasi belajar beberapa siswa, karena beranggapan bahwa meskipun mereka tidak melakukan pembelajaran dengan baik, tapi mendapatkan peluang yang sama dengan siswa lainnya bisa naik ke kelas berikutnya, serta untuk jangka panjang akan berdampak pada sikap dan pola pikir beberapa siswa tersebut untuk merubah kebiasaan perilaku buruknya.


Paradigma Dilema Etika c. Jangka pendek melawan jangka panjang : Untuk jangka pendek prestise sekolah tetap terjaga karena tidak ada data siswa yang putus sekolah, akan tetapi untuk dampak kedepannya sekolah tidak mampu menerapkan rencana program unggulan di bidang akademik yang mampu mempertahankan prestasi maupun prestise sekolah.


Prinsip Dilema Etika 1. Prinsip yang diambil adalah berpikir berbasis rasa peduli Karena kekhawatiran putus sekolah. 2. Prinsip yang diambil adalah berpikir berbasis hasil akhir, karena prestasi dan prestise sekolah.


9 Langkah pengambilan dan pengujian keputusan 1. Nilai-nilai yang saling bertentangan dalam kasus tersebut yaitu keadilan, kejujuran, integritas, dan kasih sayang. 2. Yang terlibat dalam kasus tersebut yaitu : Kepala Sekolah, Dewan Guru, Murid, Wali Kelas, Guru BK, dan Wakasek Kesiswaan. 3. Fakta-fakta yang relevan dalam kasus tersebut : Batas kehadiran dibawah 75%, nilai akademik dibawah KKM, nilai apektif dan psikomotorik kurang baik, arahan kepala sekolah kepada dewan guru untuk memberi nilai baik pada beberapa siswa yang nilainya kurang baik tersebut.


4. Pengujian Benar/Salah a. Uji Legal : Pelanggaran hukum terhadap PP no. 4 tahun 2022 tentang Standar Nasional Pendidikan. Pelanggaran kode etik guru Indonesia no. 1, 2, dan 3. b. Uji Regulasi : Melanggar prinsip-prinsip standar penilaian dan kode etik profesi. c. Uji Intuisi : Tindakan yang diambil dewan guru dalam memberi nilai kepada beberapa siswa tersebut bersifat manipulatif dan fiktif. d. Uji Publikasi : Jika keputusan tersebut dipubilkasikan akan menimbulkan rasa tidak nyaman karena itu merupakan konsumsi internal.


5. Pengujian benar lawan benar Keadilan lawan rasa kasihan, dan Jangka pendek lawan jangka panjang.


6. Melakukan prinsip resolusi Berpikir berbasis rasa peduli dan berpikir berbasis hasil akhir.


Melakukan restitusi dan memberi pembelajaran tambahan pada beberapa siswa yang nilainya dibawah standar. 7. Investigasi Opsi Trilema


Melakukan restitusi dan memberi pembelajaran tambahan pada beberapa siswa yang nilainya dibawah standar. 8. Buat Keputusan


Melakukan restitusi, melalui restitusi kita dapat mengetahui penyebab menurunnya prestasi beberapa siswa, dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. Memberi pembelajaran tambahan, guru terlatih dalam membuat strategi pembelajaran yang memenuhi kebutuhan belajar siswa. 9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan


Hal menarik Yang menarik dalam kasus ini adalah bagaimana keputusan yang diambil harus mempertimbangkan berbagai faktor yang saling berlawanan. Di satu sisi, adanya tekanan untuk mengikuti peraturan pemerintah yang mewajibkan belajar tuntas 12 tahun tanpa adanya siswa putus sekolah. Di lain sisi, kami menyadari akan pentingnya asesmen/penilaian yang adil dan kualitas pendidikan yang harus dijaga. Konflik antara kewajiban moral terhadap standar penilaian dan tanggung jawab terhadap kebijakan pemerintah menciptakan dilema etika yang rumit. hal tersebut menggambarkan betapa sulitnya membuat keputusan dalam situasi di mana beberapa nilai saling berlawanan.


Hal tak terduga Hal yang tak terduga dalam situasi ini yaitu bagaimana tuntutan pemerintah untuk mengurangi tingkat putus sekolah bisa berlawanan dengan prinsip penilaian yang adil dan mutu pendidikan. Sebelumnya, mungkin tak terduga bahwa pemerintah akan menerapkan kebijakan yang memaksa sekolah untuk memajukan siswa yang faktanya tidak mencapai standar penilaian. Hal ini menggambarkan bahwa di dunia pendidikan, terkadang kebijakan luar biasa dapat memunculkan dilema etika yang rumit bagi semua pihak yang terlibat.


Hal menarik dan tak terduga Melakukan restitusi, melalui restitusi kita dapat mengetahui penyebab menurunnya prestasi beberapa siswa, dan menemukan solusi untuk masalah tersebut. Memberi pembelajaran tambahan, guru terlatih dalam membuat strategi pembelajaran yang memenuhi kebutuhan belajar siswa.


Tanggapan dan masukan dari Kelompok lain : 1. Pak Seolehudin : Saya memiliki pandangan berbeda terkait pilihan paradigma yang diambil yaitu saya cenderung lebih memilih pada paradigma Jangka pendek lawan jangka panjang, alasannya saya meilih fokus jangka pendek dan jangka panjang, tentunya terkait dampak terhadap motivasi belajar siswa. dan kemudian untuk analisis prinsip dilema etikanya juga saya cenderung lebih fokus pada satu prinsip menurut saya yaitu berbasis rasa peduli, karena yang diangkat adalah bagaimana siswa tersebut tidak mampu dalam segi kognitif dan dibantu oleh kita sebagai pendidik supaya naik kelas.


Respon kelompok Penyaji : ● Bu Neneng Indrayati : Kami memilih 2 paradigma dan prinsip. Pertama ada paradigma rasa keadilan lawan rasa kasihan, alasannya kami melihat dari sudut pandang kepala sekolah dan murid, jadi kepala sekolah berpikir jika beberapa siswa tersebut tidak naik kelas dikhawatirkan mereka akan lebih memilih putus sekolah ketimbang tinggal kelas atau pindah ke sekolah lain dan langkah ini merupakan langkah yang sering diambil oleh kebanyakan siswa di daerah kami. Dan untuk yang kedua yaitu jangka pendek lawan jangka panjang, kami mengambil dari sudut pandang semua pihak yang terlibat, karena nantinya pengambilan keputusan ini akan berimbas pada prestasi dan perstise sekolah, dan itu merupakan sebuah dilema yang tentunya sampai saat ini menjadi PR bersama di sekolah. karena disisi lain kita ingin memberikan yang ter baik bagi seluruh siswa, disisi lain kita pun ingin bekerja sesuai dengan aturan dan regulasi yang berlaku.


Tanggapan dan masukan dari Kelompok lain : 2. Bu Indang Rahayu : Mengenai data kehadiran yang muncul terdapat siswa yang kehadirannya kurang dari 70%. Apakah ini menandakan adanya kelengahan/pola penanganan yang kurang baik dari pihak sekolah selama waktu pembelajaran berlangsung di 2 semester tersebut?


Respon kelompok Penyaji : ● Pak Heru Hermawan : Mengenai hal ini berdasar pengalaman saya yang temukan, hal tersebut bukan semata-mata kelengahan pihak sekolah melainkan ada beberapa faktor yang memengaruhinya seperti karakteristik dan pola pikir yang berbeda terkait pemahaman tentang aturan formal suatu lembaga. ● Bu Dede Trispiawati (sebagai penguatan argumen pak Heru) : Saya pun pernah mengalami hal tersebut, selain faktor lingkungan juga dipengaruhi oleh faktor sosio kultural masyarakat, contoh yang saya temukan di daerah tempat saya tugas dulu ada sekelompok masyarakat masih memiliki paradigma tradisi yang kuat yaitu bagi anak perempuan sekolah itu tidak perlu tinggi-tinggi toh pada akhirnya meraka hanya akan fokus pada mengurursi rumah tangga saja. Hal ini pula yang menjadi dilema bagi kami, sementara sekolah sendiri sudah menetapkan aturan dan tata tertib yang jelas dengan tujuan untuk memotivasi agar seluruh siswa dapat belajar dengan baik .


Respon kelompok Penyaji : ● Asep Kusnandar : Terkait temuan data kehadiran yang kurang dari 75% tentunya ini bukan berdasarkan pada hitungan ketidakhadiran secara penuh dalam satu hari, namun data ini merupakan akumulasi berdasarkan masukan beberapa guru mata pelajaran mengingat di tingkat menengah polanya menggunakan jam mata pelajaran.


Tanggapan dan masukan dari Kelompok lain : 3. Pak Hamdi : Pandangan saya terkait dengan prinsip berdasarkan rasa keadilan terhadap kasus ini, pada praktiknya diharapkan bisa memberi perlakuan yang sama kepada seluruh siswa, baik bagi beberapa siswa dengan nilai rendah juga pada siswa lainnya yang sudah mencapai ataupun melampaui batas minimal standar penilaian.


Penguatan dari Fasilitator : Fasilitator : Jika kita fokuskan kedalam tiga azaz dalam pengambilan sebuah keputusan, pastinya bukan terletak pada masalah benar atau salah, tetapi bagaimana pengambilan keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin pembelajaran tersebut harus didasarkan pada tiga unsur/aspek utama, yaitu : 1. Nilai-nilai kebajikan universal; 2. Berpihak kepada murid, dan 3. Kebijaksanaan.


Penguatan dari Pengajar Praktik : 1. Bu Sari Nursanti : Ketika seorang pemimpin dihadapkan pada sebuah dilema dalam mengambil sikap untuk mengambil keputusan, tentu harus melakukan beberapa pertimbangan yang bijak misalkan dengan menilai dan mendapatkan data sebuah kinerja, faktor-faktor yang berpengaruh, skala prioritas dan lainnya. 2. Bu Rima Nurkomala : Dalam pengambilan keputusan bagi seorang pemimpin, tentunya akan dipengaruhi oleh beberapa faktor internal serta eksternal, dan pada praktiknya kita harus memiliki pola pikir yang fleksibel dan bijak dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, meskipun disisi lain ada aturan atau regulasi yang telah ditetapkan sebagai acuan kita dalam menentukan sikap/keputusan.


Terima Kasih Salam dan Bahagia


Click to View FlipBook Version