Sejarah
indonesia
PERLAWANAN DI BALI & PERANG BANJAR
Nama kelompok :
1. Artha Lazuardy (04)
2. Febrian Derik Kurniawan (11)
3. Firdausy Putri Maharani (12)
4. Nadirah Citra Sya'afiyah (29)
Perlawanan Puputan Margarana adalah
di bali sebuah peristiwa sejarah
perjuangan rakyat Indonesia
dalam mempertahankan
kemerdekaan yang terjadi di Desa
Marga, Kecamatan Margarana,
Tabanan, Bali.
Perang Puputan Margarana
terjadi pada tanggal 20
November 1946 antara pasukan
Indonesia melawan
Belanda.Istilah perang puputan
artinya adalah berperang sampai
pada titik darah penghabisan.
Penyebab perlawanan
di bali (perang puputan)
Perang Puputan Margarana di Bali disebabkan oleh hasil Perjanjian
Linggarjati antara Belanda dan Indonesia.
Dalam Perjanjian Linggarjati, salah satu isinya menyebutkan bahwa
pengakuan Belanda secara de facto atas eksistensi Negara Republik
Indonesia hanya meliputi Sumatera, Jawa, dan Madura.
Setelah Perjanjian Linggarjati disepakati, maka pasukan Belanda harus
meninggalkan daerah de facto itu paling lambat 1 Januari 1946.
Itu artinya, Perjanjian Linggarjati tidak memasukan Bali
sebagai bagian dari Republik Indonesia yang membuat
rakyat Bali kecewa dan kemudian memicu perlawanan.
Selain akibat dari Perjanjian Linggarjati, Perang Puputan
Margarana juga dipicu oleh penolakan Letkol I Gusti
Ngurah Rai yang saat itu menjadi Kepala Divisi Sunda
Kecil terhadap Belanda untuk mendirikan Negara
Indonesia Timur (NIT).
Kedatangan pasukan Belanda di Bali dengan tujuan ingin
menyatukan Bali dengan wilayah Negara Indonesia Timur
(NIT) lainnya turut menjadi alasan munculnya perlawanan.
Pasca Perjanjian Linggarjati ditandatangani kedua belah Kronologi
pihak pada tanggal 25 Maret 1947, Belanda memulai perang
usahanya untuk mendirikan Negara Indonesia Timur (NIT). puputan
I gusti Ngurah Rai kemudian berangkat ke Yogyakarta
yang kemudian menunjuknya sebagai Komandan Resimen
Sunda Kecil dengan pangkat Letnan Kolonel. Letkol I
Gusti Ngurah Rai yang berangkat ke Yogyakarta untuk
melakukan konsultasi dengan markas besar TRI menolak
untuk bekerja sama membentuk NIT.
Diketahui selepas proklamasi kemerdekaan, Letkol I Gusti
Ngurah Rai dan rekan-rekannya membentuk Tentara
Keamanan Rakyat (TKR) Sunda Kecil dimana I Gusti
Ngurah Rai menjadi komandannya. Dibawah I Gusti
Ngurah Rai, TKR Sunda Kecil memiliki kekuatan 13,5
kompi yang tersebar di seluruh kota di Bali dan dikenal
dengan sebutan Ciung Wanara.s I gusti Ngurah Rai
bersama pasukannya kemudian bertekad melakukan
perlawanan terhadap Belanda.
Pada 18 November 1946, markas pertahanan atau militer Kronologi
Belanda di Tabanan, Bali diserang secara habis-habisan. perang
puputan
Hal ini membuat Belanda murka dan mengerahkan seluruh
kekuatannya untuk mengepung Bali, khususnya Tabanan.
Belanda mengirimkan pasukan 'Gajah Merah', 'Anjing
Hitam', 'Singa', 'Polisi Negara', 'Polisi Perintis dan tiga
pesawat pemburu miliknya.
Pasukan yang dikirim Belanda tersebut mulai melakukan
serangan pada 20 November 1946 pukul 05.30 WITA,
dengan menembaki area pasukan warga Bali.
Kekuatan persenjataan yang dimiliki pasukan tersebut
tergolong minim, sehingga mereka belum bisa melakukan
aksi serangan balasan kepada pasukan Belanda.
Sekitar pukul 09.00 WITA, pasukan Belanda yang kira-kira Kronologi
berjumlah 20 orang mulai mendekat dari arah barat laut, perang
dan Beberapa saat kemudian terdengarlah suara tembakan. puputan
Sebanyak 17 orang pasukan Belanda ditembak mati oleh
pasukan Ciung Wanara yang dipimpin oleh I Gusti Ngurah
Rai.
Setelah mengetahui jika pasukannya mati, Belanda
melakukan aksi serangan dari berbagai arah. Namun,
upayanya ini beberapa kali mengalami kegagalan karena
pasukan Ciung Wanara berhasil melakukan aksi serangan
balik.
Tidak hanya itu, Belanda juga sempat menghentikan aksi
serangannya selama satu jam.
Beberapa saat kemudian, Belanda kembali menyerang
dengan mengirimkan banyak pasukan serta pesawat
terbang pengintai, kira-kira pukul 11.30 WITA.
Serangan ini kembali berhasil dihentikan oleh Kronologi
pasukan Ciung Wanara. Akhirnya Belanda dan perang
pasukannya mundur sejauh 500 meter ke puputan
belakang untuk menghindari pertempuran.
Kesempatan ini digunakan oleh I Gusti Ngurah
Rai dan pasukannya untuk meloloskan diri dari
kepungan musuh. Dalam perjalannya meloloskan
diri, tiba-tiba Belanda mengirimkan pesawat
terbang untuk memburu I Gusti Ngurah Rai
bersama pasukannya.
Untuk terakhir kalinya I Gusti Ngurah Rai
menyerukan "Puputan!', yang berarti habis-
habisan. I Gusti Ngurah Rai bersama pasukannya
bertempur melawan Belanda hingga titik darah
penghabisan.
Dampak perlawanan di bali
Akibat kekalahan pasukan I
Gusti Ngurah Rai pada Puputan
Margarana, Belanda semakin
mudah dalam meaksanakan
tugasnya untuk mendirikan
Negara Indonesia Timur (NIT).
Dalam peristiwa heroik itu, I Gusti Ngurah Rai dan 69 anggota pasukannya gugur akibat
serangan tentara Belanda. Sedangkan di kubu lawan, sekitar 400 orang tewas dalam
peperangan itu.
Namun rakyat tidak berhenti berjuang karena usaha Belanda kembali gagal setelah
Indonesia kembali menjadi negara kesatuan pada 1950.
Dampak perlawanan di bali
Hal ini karena pada 8 Maret 1950
pemerintah RIS dengan persetujuan DPR
dan Senat RIS mengeluarkan Undang-
undang Darurat No. 11 Tahun 1950
tentang Tata Cara Perubahan Susunan
Kenegaraan RIS.
Dengan undang-undang tersebut, maka negara-negara bagian atau daerah otonom seperti Jawa Timur,
Jawa Tengah dan Madura bergabung dengan RI di Yogayakarta.
Setelah itu semakin banyak negara-negara bagian atau daerah yang bergabung dengan RI, maka sejak 22
April 1950, negara RIS hanya tinggal tiga yaitu Republik Indonesia, Negara Sumatera Timur dan Negara
Indonesia Timur.
Semenjak itu setiap tanggal 20 November, masyarakat Bali akan memperingati Hari Puputan Margarana
dan mengenang jasa-jasa pahlawan yang telah gugur membela bangsa dan negaranya.
Perang banjar
Apa itu Perang Banjar atau Perang Banjar-Barito adalah
perang sebuah peristiwa sejarah di mana rakyat Kalimantan
Banjar? khususnya Kesultanan Banjar berperang melawan
para penjajah Belanda.
Perang Banjar terjadi di wilayah Kesultanan Banjar,
Kalimantan Selatan pada tahun 1859 hingga 1905.
Dari pihak rakyat, Perang Banjar melibatkan keturunan
Kesultanan Banjar yang didukung kekuatan dari rakyat
yang berasal dari berbagai daerah di batang banyu di
sepanjang aliran Sungai Barito.
Tokoh yang terlibat dalam Perang Banjar ini antara
lain Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah II.
Penyebab
perang banjar
Kedatangan Belanda yang ikut campur dalam urusan Kesultanan Banjar
menimbulkan banyak permasalahan.
Kondisi ini kemudian memuncak dengan adanya perlawanan dari
Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah II dalam Perang Banjar.
Apabila dirangkum, maka penyebab terjadinya Perang Banjar antara
lain:
Rakyat menjadi Munculnya konflik Sikap sewenang-wenang
sasaran eksploitasi perebutan tahta dari Tamjidillah yang
dari Belanda dan Kesultanan Banjar akibat ditunjuk Belanda sebagai
Kesultanan Banjar intervensi Belanda Sultan Banjar
Kronologi
perang banjar
Sebagai penerus kerajaan Daha yang sebelumnya bercorak Hindu, pengaruh Islam masuk
ke Kesultanan Banjar pada sekitar akhir abad 15 berkat peran dari Kerajaan
Demak.Kesultanan Banjar memiliki wilayah kekuasaan di sekitar Kalimantan Selatan dan
sebagian Kalimantan Tengah.
Dalam buku Islamisasi dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia (2012) karya
Daliman, disebutkan bahwa pelabuhan-pelabuhan dagang Kesultanan Banjar pada abad 15
M selalu ramai dengan kapal-kapal dagang internasional. Kesultanan Banjar juga memiliki
hasil sumber daya alam seperti emas, intan, lada, rotan dan damar yang melimpah.
Hal inilah yang kemudian mendorong Belanda untuk mulai merencanakan strategi agar
dapat menguasai Kesultanan Banjar.
Kronologi
perang banjar
Setelah itu, Belanda mulai dengan strategi melakukan campur tangan di beberapa wilayah
Kesultanan Banjar dan memadamkan sengketa-sengketa yang ada.
Sebagai imbalan, Belanda mendapatkan hak khusus untuk mencampuri urusan dalam negeri
Kesultanan Banjar.
Kondisi tersebut berlangsung lama hingga akhirnya perlawanan rakyat Banjar dimulai saat
Belanda mengangkat Pangeran Tamjidillah II sebagai Sultan Banjar pada tahun 1859.
Padahal, waktu itu sosok yang seharusnya naik tahta menjadi Sultan Banjar adalah Pangeran
Hidayatullah II.
Namanya juga tertulis dalam surat wasiat yang ditulis oleh Sultan Adam agar menjadi
penerus takhta.
Pada tanggal 28 April 1859, Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah II kemudian
memimpin perlawanan terhadap Belanda.
Kronologi
perang banjar
Pangeran Antasari memimpin penyerangan terhadap benteng Belanda dan tambang batu
bara di wilayah Pengaron.
Dalam serangan tersebut tentara Belanda dapat dilumpuhkan dan pasukan Pangeran
Antasari dapat menguasai tambang batu bara di Pengaron.
Setelah itu, muncul beberapa pertempuran di tempat lain seperti Pertempuran Benteng
Tabanio di Agustus 1859, Pertempuran Benteng Gunung Lawak pada September 1859,
Pertempuran Munggu Tayur pada Desember 1859, dan Pertempuran Amawang pada Maret
1860.
Belanda kemudian meminta Pangeran Hidayatullah II untuk keluar dari persembunyiannya.
Pangeran Hidayatullah II yang keluar dari persembunyiannya untuk menyelamatkan
keluarganya justru ditangkap Belanda dan diasingkan menuju ke Cianjur.
Kronologi
perang banjar
Hal itu tak membuat menghentikan Pangeran Antasari perlawanan. Ia terus melakukan
perlawanan di daerah-daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Pangeran Antasari juga mendirikan tujuh unit benteng di Teweh untuk memperkuat
pertahanan rakyat.
Perang Banjar mulai meredup ketika Pangeran Antasari mulai melemah karena terserang
penyakit paru-paru dan cacar.
Perjuangannya terus dilakukan hingga Pangeran Antasari wafat pada 11 Oktober 1862.
Gusti Mat Seman, Gusti Acil, Gusti Muhammad Arsyad, dan Antung Durrahman
melanjutkan perjuangan di Perang Banjar hingga titik darah penghabisan.
Perang Banjar berakhir pada tahun 1905 dengan kemenangan berada di pihak Belanda yang
berhasil menghapus Kesultanan Banjar.
Dampak perang banjar
Dampak Perang Banjar adalah terjadi
penyatuan gerakan rakyat di bawah pimpinan
Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayatullah
II. Meski sudah melakukan perlawanan denga
gigih dan pantang menyerah, pada akhirnya
Belanda bisa mengatasi keadaan.
Akibat kemenangan Belanda pada perang
tersebut, Kesultanan Banjar kemudian
dihapuskan. Keputusan ini diambil Belanda
demi menghindari konflik lebih lanjut dan
menghindari meletusnya perlawanan rakyat
Kalimantan Selatan
Dampak perang banjar
Belanda juga menghapuskan pemerintahan-
pemerintahan bawahan dari Kesultanan Banjar
sehingga tidak ada penerus kerajaan.
Pihak belanda kemudian menerapkan aturan-
aturan baru di bawah Residentie Zuider en
Ooster Afdeelingvan Borneo (Keresidenan
Bagian Selatan dan Timur Pulau Borneo).
Berbagai sumber daya di Kalimantan kemudian
dikuasai dan dimonopoli oleh Belanda yang
mengakibatkan rakyat menderita. Eksploitasi besar-
besaran kemudian terjadi karena Belanda mengambil
sumber daya alam secara paksa berupa rempah-
rempah, perkebunan, dan tambang batu bara.
Terima kasih