PENDIDIKAN CALON GURU PENGGERAK
ANGKATAN 4 TAHUN 2021
TUGAS
MODUL 1 BAGIAN 1.1.a.9
KONEKSI ANTAR MATERI
(Kesimpulan Dari Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara)
Oleh :
SRI MAIZURRAHMI HEXA PUTRI, S.Pd.I
NIP. 19860524 200901 2 004
SMP NEGERI 2 PALUPUH, AGAM, SUMATERA BARAT
KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
PENDIDIKAN GURU PENGGERAK
TAHUN 2021
Koneksi antar materi kesimpulan dari refleksi pemikiran Ki Hajar Dewantara
Kita setuju bahwa pendidikan penting dalam kehidupan
manusia. Dengan adanya pendidikan, seseorang dapat
memberikan manfaat bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.
Pendidikan mempunyai kontribusi besar dalam meningkatkan
kualitas bangsa. Dengan pendidikan yang baik, sumber daya
manusia pun akan berkualitas. Kualitas sumber daya manusia
merupakan aset utama dalam membangun suatu bangsa, tidak terkecuali bagi Bangsa
Indonesia.
Guru merupakan tenaga pendidik yang memberikan pengetahuan dan keterampilan
kepada anak didiknya, agar menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas di masa
depan. Oleh karena itu, guru memiliki andil besar guna membangun bangsa melalui
pendidikan.
Membentuk sumber daya manusia yang berkualitas bukanlah perkara yang mudah.
Keberagaman peserta didik dengan karakteristik masing-masing, membuktikan bahwa
setiap individu itu unik. Seorang pendidik harus peka melihat keunikan tersebut, agar anak
dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kodrat yang mereka miliki.
Berbicara tentang kodrat anak, mengingatkan kita akan sosok yang telah
mengaungkan kata tersebut. Ya, Bapak Ki Hajar Dewantara. Setelah saya mempelajari
pemikiran beliau tentang pendidikan melalui Pendidikan Calon Guru Penggerak Ini, saya
menyadari bahwa banyak paradigma yang harus saya ubah dengan memperbaiki mindset
tentang pendidikan.
Pada awalnya saya berpikir bahwa anak didik diibaratkan kepada kertas putih. Dan
tugas pendidiklah yang akan menentukan apa yang hendak dituangkan pada kertas
tersebut. Kini Saya menyadari bahwa anak didik memiliki kodratnya masing-masing. Tugas
pendidik menuntun tumbuh dan hidupnya kekuatan kodrat pada diri anak tersebut agar
mencapai keselamatan dan kebahagiaan, sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat.
Paradigma berikutnya yang seringkali berkembang dalam dunia pendidikan, bahwa
anak didik yang berbeda adalah individu yang bermasalah. Kata individu yang bermasalah
tentulah menjadi kata yang tidak enak untuk didengar, yang seakan-akan efektivitas hidup
kesehariannya tidak sehat dan tidak kondusif. Padahal permasalahan tersebut dipengaruhi
oleh banyak faktor, seperti; lingkungan keluarga, teman atau lingkungan tempat tinggal.
Bahkan pendidik pun bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya. Faktor-faktor tersebut
tentunya menghambat pada kecerdasan budi anak.
Menurut ilmu pendidikan melalui modul 1.1 Guru Penggerak, hubungan antara
dasar dan keadaan itu memiliki 'konvergensi' atau saling mempengaruhi. Untuk itu
pendidik itu seyogyanya memiliki dedikasi yang tinggi atau, yang disebut dengan istilah
'menghamba pada anak'. Istilah 'menghamba pada anak' menjadi rujukan bahwa seorang
pendidik adalah individu pilihan yang bertanggung jawab, sabar dan ikhlas. Mengutamakan
cinta dan kasih sayang adalah kunci utama bagi seorang pendidik dalam membentuk budi
dan memperbaiki tingkah laku anak.
Memaksakan hak peserta didik juga merupakan suatu kesalahan. Sistem pendidikan
yang lebih banyak menitikberatkan atau memberi porsi kepada mata pelajaran-mata
pelajaran tertentu saja, juga seakan-akan memaksa anak didik untuk harus bisa dalam
segala bidang. Bagi anak didik yang memiliki kodrat berbeda seperti bakat kinestetik,
pemaksaan ini dirasa tidak adil dan diskriminatif. Di sekolah anak lebih dititikberatkan
kepada pembekalan materi semata, yang diikat oleh silabus dan kurikulum. Padahal
melalui pendidikan, anak tidak hanya dibekali dengan materi pelajaran dan skill semata,
akan tetapi juga penanaman akan nilai dan etika.
Selain itu, pemberian materi pembelajaran tidak hanya terfokus pada metode
ceramah dan diskusi semata. Melainkan juga mengintegrasikan permainan dalam
pembelajaran. Mengintegrasikan permainan dalam pembelajaran bukanlah kegiatan yang
menyita atau membuang waktu. Sebaliknya, melaksanakan pembelajaran dengan metode
permainan akan menarik perhatian dan kreativitas anak, karena bermain merupakan salah
satu hak anak.
Agar pendidikan dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan Filosofi Pemikiran
Bapak Ki Hajar Dewantara, dapat dilakukan dengan cara:
1. Tidak terjebak pada rutinitas sekolah semata, akan tetapi ikut dalam usaha
mengembangkan diri guna meningkatkan kualifikasi dan kompetensi. Salah satunya
ikut berpartisipasi aktif dalam pendidikan calon guru penggerak ini.
2. Mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, agar kita sebagai
pendidik memiliki wawasan luas dan tidak Ketinggalan informasi.
3. Menjadi teladan bagi peserta didik melalui penampilan, sikap dan tutur kata
4. Menyusun dan melaksanakan strategi dan materi pembelajaran yang aktif, inovatif,
kreatif, efektif, dan menyenangkan, atau yang disebut dengan (Paikem) guna
menggairahkan motivasi belajar pada anak didik.
5. Memberikan kesempatan kepada anak didik agar lebih berani, mandiri dan kreatif
dalam proses pembelajaran agar tidak terjadi lagi komunikasi satu arah.
Agam, 4 November 2021
Penulis,