The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fani.aprilya07, 2022-09-06 10:59:47

LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah

LK. 1.2 Eksplorasi Penyebab Masalah

No. Masalah yang telah Hasil eksplorasi penyebab masalah Analisis eksplorasi penyebab masalah
diidentifikasi

1 Minat dan motivasi belajar 1. Menurut Dalyono (2012: 55) berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan

peserta didik masih rendah disebabkan beberapa faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar yaitu bahwa penyebab minat dan motivasi belajar peserta

berasal dari dalam diri orang yang belajar (internal) meliputi kesehatan, intelegensi didik rendah adalah :
dan bakat, minat dan motivasi, dan cara belajar serta ada pula dari luar dirinya 1. Guru belum mampu berperan sebagai
(eksternal) meliputi lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat, dan lingkungan motivator untuk meningkatkan kegairahan
sekitar. Satu diantara faktor yang berasal dari dalam diri siswa yang belajar dan pengembangan kegiatan belajar siswa
dan hanya berfokus pada pemberian materi

adalah minat dan motivasi. saja

Dalyono. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. 2. Kurangnya perhatian dan dorongan dari

orang tua karena sibuk bekerja

2. Menurut Ermelinda (2017) Kegagalan dalam belajar tidak hanya disebabkan oleh

pihak siswa atau faktor dari dalam, tetapi bisa dari juga faktor instrumen yaitu guru
yang tidak berhasil menumbuhkan motivasi belajar siswa sehingga minat belajar

siswa menurun dan semangat belajar menjadi semakin berkurang.

Ermelinda, Benge (2017). Hubungan Antara Minat Dan Motivasi Belajar Dengan Hasil Belajar Ipa Pada
Siswa Sd. Journal of Education Technology. Vol 1 (4)

3. Minat dan motivasi belajar siswa rendah pun juga dapat disebabkan oleh faktor dari

luar. Sebagaimana berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Haster (2019:52)

mengatakan bahwa motivasi belajar untuk kelas peminatan (X MIPA) MAN 2

Bengkulu menunjukkan bahwa motivasi belajar terbesar siswa adalah terletak

pada motivasi ekstrinsik yakni indikator adanya dorongan dari orang tua. Namun,

karena rata-rata orang tua sibuk bekerja sehingga pada saat dirumah anak kurang

mendapatkan perhatian.

Haster, Roihat dan Sumpono. (2019). Studi Komparasi Motivasi Belajar Kimia Siswa Kelas X Program

Peminatan dan Lintas Minat di MAN 2 Kota Bengkulu. Jurnal Pendidikan Dan Ilmu Kimia, 3(1):57-64

2 Miskonsepsi materi belajar 1. Salirawati, (2012) menemukan bahwa terdapat enam materi pokok yang menurut Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan

pada materi hidrolisis garam guru-guru kimia SMA di DIY peserta didik banyak mengalami miskonsepsi, yaitu: bahwa penyebab terjadinya miskonsepsi pada

(1) Tatanama senyawa anorganik dan organik sederhana serta persamaan reaksinya peserta didik khususnya materi hidrolisis garam

(2) kesetimbangan kimia, (3) ikatan kimia, (4) struktur atom, (5) hukum-hukum dasar adalah :

kimia, dan (6) hidrolisis garam. Konsep dalam ilmu kimia yang seringkali menjadikan 1. Informasi atau data yang peserta didik

peserta didik mengalami miskonsepsi yaitu konsep larutan penyangga. Materi larutan peroleh dari guru saat proses pembelajaran

penyangga merupakan salah satu materi kimia yang banyak mengandung konsep yang tidak ditangkap secara utuh.

kompleks.

Salirawati, D. Dan Wiyarsi, A.. 2012. Pengembangan Instrumen Pendeteksi Miskonsepsi Materi Ikatan 2. Cara mengajar guru yang lebih
Kimia untuk Peserta Didik. Jurnal Kependidikan. Vol 4 (2) :118-129. memfokuskan pada penyelesaian masalah
perhitungan pada materi hidrolisis garam
2. Salah satu miskonsepsi pada hidrolisis garam adalah siswa beranggapan hidrolisis
merupakan proses pelarutan garam di dalam air. Konsep yang benar adalah
hidrolisis merupakan reaksi antara kation atau anion garam, atau keduanya dengan
air (Chang, 2008: 689).

Chang, R. 2010. Chemistry 10th Edition. New York: McGraw Hill.

3. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Damayanti, dkk (2021: 2732) penyebab
miskonsepsi yang paling mungkin terjadi pada dari diri peserta didik oleh reasoning
tidak lengkap/ salah. Reasoning tidak lengkap/ salah disebabkan oleh informasi atau
data yang peserta didik peroleh dari guru saat proses pembelajaran tidak ditangkap
secara utuh, namun hanya ditangkap setengah-setengah sehingga peserta didik keliru
dalam menarik kesimpulan.

Damayanti, dkk. (2021). Nalisis Miskonsepsi Peserta Didik Pada Materi Hidrolisis Garam Dalam
Pembelajaran Dengan Model Guided Inquiry. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia. Vol 15(1): 2731-2744

4. Menurut Orgill & Shuterland (dalam Maratusholihah, dkk (2017) Faktor lain yang
daapat memicu timbulnya miskonsepsi adalah cara mengajar guru yang lebih
memfokuskan pada penyelesaian masalah perhitungan pada materi hidrolisis garam

Maratusholihah, dkk .(2017). Analisis Miskonsepsi Siswa Sma Pada Materi Hidrolisis Garam Dan Larutan
Penyangga. Jurnal Pendidikan: Teori, penelitian dan Pengembangan, Vol 2 (7)

3 Keterampilan berpikir kritis 1. Menurut Penelitian Tsania (2019) pada umumnya dalam pembelajaran berpikir kritis Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan

masih rendah. Khususnya kurang dapat berkembang yang dapat disebabkan oleh pembelajaran di sekolah yang bahwa penyebab keterampilan berpikir kritis

pada materi stiokiometri kurang aktif mengarahkan siswa untuk menemukan sendiri pengetahuan serta kurang peserta didik rendah adalah :

melatih kemampuan berpikir kritis. 1. Penyebabnya siswa tidak terbiasa berpikir

Tsania, Laksmiwati, dan Siahan, (2019). Pengaruh Model Pembelajaran Think Talk Write Terhadap kritis untuk memecahkan masalah dan
Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Materi Pokok Stoikiometri Kelas X MIA MAN 2 Mataram. Prosiding kurang mandiri dalam belajar sehingga
Seminar Nasional FKIP Universitas Mataram berdampak pada nilai yang kurang baik.

2. Menurut Ennis (2009) dalam Heny (2012) indikator kemampuan berpikir kritis dibagi 2. Guru menyampaikan materi dengan
menjadi lima kelompok, yaitu: (1) memberikan penjelasan sederhana; (2) membangun menggunakan diskusi dan ceramah. Siswa
keterampilan dasar; (3) membuat inferensi; (4) membuat penjelasan lebih lanjut; (5) cenderung mendengarkan penjelasan guru
mengatur strategi dan taktik. dan akhirnya siswa pasif.

Ennis, R.H. 2011. The Nature of Critical Thinking: An Outline of Critical Thinking. 3. Guru jarang memberikan contoh

permasalahan untuk meningkatkan

keterampilan berpikir peserta didik

3. Menurut Penelitian Rohmah dan Nasruddin (2015:219) Salah satu materi kimia
yang sulit untuk dipahami dan membutuhkan budaya berpikir adalah
stoikiometri. Materi tersebut membutuhkan pemahaman lebih karena didalamnya
terdapat konsep-konsep abstrak dan juga banyak hitungan, sehingga untuk
menyelesaikannya diperlukan produk ilmiah (fakta, prinsip, teori, dan hukum).

Rohmah dan Nasruddin. (2015). Implementasi Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Heads
Together (Nht) Untuk Melatihkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Stoikiometri Di Sman
3 Lamongan. UNESA Journal of Chemical Education, Vol 4 (2)

4 Model pembelajaran yang 1. Ruseffendi (2006 : 145) mengemukakan bahwa “Dalam melaksanakan tugasnya Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan

diterapkan belum efektif guru, diharapkan memilih suatu model yang tepat yang dapat diterapkan pada bahwa penyebab model pembelajaran belum efektif
siswanya sehingga dapat menciptakan situasi belajar efektif dan efisien”. Tetapi pada adalah :

kenyataannya di lapangan, model, atau metode pembelajaran matematika yang 1. Model pembelajaran yang diterapkan masih

diterapkan saat ini umumnya menggunakan pembelajaran biasa atau konvensional konvensional

yang lebih berfokus pada guru. 2. Kurangnya pemahaman guru mengenai

Ruseffendi, E.T. (2006). Pengantar Kepada Membantu Guru dalam Pengajaran Matematika untuk model-model pembelajaran
Meningkatkan dan Mengembangkan Kompetensinya CBSA. Bandung: Tarsito 3. Guru belum menguasai karakteristik model-

2. Hal ini sesuai pendapat yang dikemukakan oleh Astuti (dalam Agustin, 2010:3) model pembelajaran
“bahwa selama ini pembelajaran kurang, melibatkan aktivitas siswa secara optimal

dalam pembelajaran dan metode pembelajaran biasa atau konvensional”. Pada

pembelajaran ini guru hanya mentransfer pengetahuan pada diri siswa tanpa

menggali

Agustin, D. (2010). Perbandingan Prestasi Belajar Matematika Siswa Antara yang Mendapatkan

Pembelajaran Kooperatif Tipe Snowball Throwing dengan Pembelajaran Konvensional. Skripsi pada

Jurusan Pendidikan Matematika. STKIP Garut: Tidak Diterbitkan

3. Menurut penelitian Yusriana (2019) Hambatan bagi guru dalam menerapkan
model pembelajaran inovatif yang bervariasi seperti kurangnya pemahaman
mengenai model-model pembelajaran inovatif serta kurang menguasai berbagai
karakteristik model pembelajaran inovatif. Sehingga diharapkan para guru dapat
mempelajari berbagai model pembelajaran.

Yusriana, Bain, dan Suryadi (2019). Hambatan Guru Dalam Menerapkan Model Pembelajaran Inovatif
Pada Mata Pelajaran Sejarah di SMP Negeri 3 Magelang. Jurnal Penelitian dan Inovasi Pendidikan
Sejarah, Vol 8 (1)

5 Tidak adanya kegiatan 1. Pentingnya sarana dan prasarana untuk menunjang proses pendidikan, diatur oleh Berdasarkan kajian literatur dapat disimpulkan

praktikum disekolah Undang-Undang Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan bahwa penyebab tidak adanya kegiatan praktikum
Nasional “Setiap satuan pendidikan formal dan non formal menyediakan sarana dan disekolah adalah :

prasarana yang memenuhi yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan 1. Laboratorium disekolah belum memadai
pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial,
emosional, dan kewajiban peserta didik ” ( Undang-Undang RI Tahun 2003). 2. Guru kurang memiliki kreatifitas dalam
mencari alternatif bahan dan alat lain
2. Dalam pembelajaran kimia sangat memerlukan kegiatan penunjang berupa yang dapat digunakan agar praktkum
praktikum maupun eksperimen di laboratorium. Hal ini dikarenakan metode tetap dapat dilaksanakan
praktikum adalah salah satu bentuk pendekatan keterampilan proses. Namun
demikian tidak semua SMA memiliki laboratorium yang memadai, untuk
melaksanakan praktikum yang berkaitan dengan materi pokok yang diajarkan di
kelas diperlukan seperangkat alat dan bahan yang kadang-kadang sulit dipenuhi oleh
sekolah. Oleh karena itu, dipandang perlu untuk menggunakan alat dan
bahan kimia yang mudah dirangkai dari bahan-bahan sederhana dan mudah
didapatkan dalam praktikum kimia tanpa mengurangi tujuan praktikum
itu sendiri (Zidny dkk, 2017)

Zidny, dkk. 2017. Uji Kelayakan Kit Praktikum Pengujian Kepolaran Senyawa Dari Material Sederhana.
Jurnal Riset Pendidikan Kimia, Vol 7(1)


Click to View FlipBook Version