The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by S.Ch Ari Widiastuti, 2024-03-02 12:57:29

Materi Ajar ADMINISTRASI FARMASI

Penyimpanan Obat di Apotek

Keywords: Penyimpanan obat

MATERI AJAR Perbekalan Farmasi Kelas : XI SMK Kesehatan Pelita Bangsa APOTEK K-24 ACADEMY SMK FASE F (KELAS XI)


1 Materi Ajar ADMINISTRASI FARMASI Apotek adalah suatu tempat tertentu untuk melaksankaan pekerjaan kefarmasian dan penyaluran obat kepada masyarakat. Tugas dan fungsi apotek : 1.Tempat pengabdian profesi seorang apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan 2.Sarana farmasi untuk melaksanakan peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran dan penyerahan obat atau bahan obat 3.Sarana penyeluran perbekalan farmasi dalam menyebarkan obat-obatan yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata Pengelolaan apotek Pengelolaan apaotek adalah segala upaya dan kegiatan yang dilakukan oleh seorang apoteker pengelola apotek (APA) dalam rangka tugas dan fungsi apotek yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan penilaian. Pengelolaan apotek meliputi:Bidang pelayanan kefarmasian Bidang material Bidang administrasi dan keuangan Bidang ketenagakerjaan Bidang lain yang berkaiatan dengan tugas dan fungsi apotek Pelayanan apotek Apotek wajib melayani resep dokter, dokter gigi dan dokter hewan Pelayanan resep sepenuhnya tanggung jawab APA serta sesuai dengan tanggung jawab dan keahlian profesinya yang dilandasi kepentingan masyarakatApoteker tidak boleh mengganti obat generik yang tertulis dalam resep dengan obat patenBila pasien tidak mampu menebus obat yang tertulis dalam resep, apoteker wajib berkonsultasi dengan dokter untuk memilihkan obat yang lebih tepat dan terjangkau. Apoteker wajib memberikan informasi yang berkaitan dengan penggunaan obat secara aman, tepat, rasional, atau atas permintaan masyarakat Apotek dilarang meyalurkan barang dan/atau menjual jasa yang tidak ada hubungannya dengan fungsi pelayanan kesehatanYang berhak meracik resep adalah apoteker dan asisten apoteker di bawah pengawasan apotekernyaApotek dapat ditutup pada hari libur resmi atau hari libur keagamaan setelah mendapat persetujuan dari dinas kesehatan setempat atau pejabat lain yang berwenang Pengadaan dan penyimpanan obat Pengadaan dan penyimpanan obat di apotek harus memenuhi ketentuan-ketentuan berikut Obat-obat dan perbekalan farmasi yang diperoleh apotek harus bersumber dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi (PBF), apotek lain atau alat distribusi lain yang sah. Obat tersebut harus memenuhi ketentuan daftar obat wajib apotek (DOWA). Surat pesanan obat dan perbekalan farmasi lainnya harus ditandatangani oleh apoteker dengan mencantumkan nama dan No Surat Izin Kerja (SIK). Bila berhalangan, APA dapat diwkili oleh apoteker pendamping atau apoteker pengganti. Obat dan bahan obat harus disimpan dalam wadah yang cocok serta memenuhi ketentuan pembungkusan dan penandaan yang sesuai dengan Farmakope edisi terbaru atau yang telah ditetapkan oleh Badan POM Penerimaan, penyimpanan, serta penyaluran obat dan perbekalan kesehatan di bidang farmasi harus diatur dengan administrasi Penyusunan Stok Perbekalan Farmasi Perbekalan farmasi disusun menurut bentuk sediaan dan alfabetis. Untuk memudahkan pengendalian stok maka dilakukan langkah-


2 langkah berikut: Gunakan prinsip FEFO (First Expired First Out) dan FIFO (First In First Out) dalam penyusunan perbekalan farmasi yaitu perbekalan farmasi yang masa kadaluwarsanya lebih awal atau yang dietrima lebih awal harus digunakan lebih awal sebab umumnya perbekalan farmasi yang datang lebih awal biasanya juga diproduksi lebih awal dan umumnya relatif lebih tua dan masa kadaluwarsanya lebih awal. Susun perbekalan farmasi dalam kemasan besar di atas pallet secara rapi dan teratur.Gunakan lemari khusus untuk penyimpanan narkotika. Simpan perbekalan farmasi yang dapat dipengaruhi oleh temperatur , udara, cahaya dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai. Simpan perbekalan farmasi dalam rak dan berikan nomor kode, pisahkan perbekalan farmasi dalam dengan perbekalan farmasi perbekalan farmasi untuk penggunaan luar.Cantumkan nama masing-masing perbekalan farmasi pada rak dengan rapi. Apabila persediaan perbekalan farmasi cukup banyak, maka biarkan perbekalan farmasi tetap dalam boks masing-masing. Perbekalan farmasi yang mempunyai batas waktu penggunaan perlu dilakukan rotasi stok agar perbekalan farmasi tersebut tidak selalu berada di belakang sehingga dapat dimanfaatkan sebelum masa kadaluwarsa habis. Item perbekalan farmasi yang sama ditempatkan pada satu lokasi walaupun dari sumber anggaran yang berbeda. Penyimpanan FIFO/FEFO FIFO (First-In-First-Out) dan FEFO (FirstExpired-First-Out) adalah dua metode manajemen stok yang sering digunakan, terutama dalam industri farmasi dan penyimpanan obat. Kedua metode ini membantu memastikan bahwa obat-obatan disimpan dan diambil sesuai dengan prinsip tertentu untuk meminimalkan pemborosan dan risiko penggunaan obat yang kedaluwarsa. Berikut adalah penjelasan singkat tentang keduanya: FIFO (First-In-First-Out): Prinsip: Obat-obatan yang masuk pertama kali ke dalam stok atau penyimpanan akan diambil atau digunakan pertama kali. Tujuan: Mencegah obat-obatan menjadi kadaluwarsa dan meminimalkan pemborosan. Mengutamakan penggunaan obat yang sudah lama berada di stok. Contoh Penerapan: Jika Anda memiliki beberapa batch obat dengan tanggal kedaluwarsa yang berbeda, obat dari batch yang pertama kali masuk akan diambil terlebih dahulu. 1. FEFO (First-Expired-First-Out): Prinsip: Obat-obatan yang memiliki tanggal kedaluwarsa paling awal akan diambil atau digunakan pertama kali. Tujuan: Memastikan bahwa obat yang mendekati atau telah melewati tanggal kedaluwarsa tidak digunakan, mengurangi risiko penggunaan obat yang tidak efektif atau bahkan berbahaya. Contoh Penerapan: Jika Anda memiliki beberapa batch obat dengan tanggal kedaluwarsa yang berbeda, obat dari batch yang memiliki tanggal kedaluwarsa paling awal akan diambil terlebih dahulu. Penerapan FIFO dan FEFO sangat penting dalam penyimpanan obat untuk menjaga keamanan dan efektivitasnya. Hal ini juga membantu organisasi atau apotek menjalankan praktik manajemen stok yang efisien. Dalam kasus obat, kesalahan dalam manajemen stok dapat memiliki konsekuensi serius terhadap pasien dan dapat melanggar peraturan keamanan dan kesehatan yang berlaku.


3 Penyimpanna Obat berdasarkan Farmakologis Penyimpanan obat berdasarkan farmakologi adalah pendekatan yang mempertimbangkan karakteristik kimiawi dan fisik obat untuk menjaga kestabilan dan efektivitasnya. Beberapa faktor farmakologis yang dapat mempengaruhi penyimpanan obat termasuk suhu, kelembaban, cahaya, dan pH. Berikut adalah beberapa pertimbangan umum: 1. Suhu: Pengaruh Farmakologis: Suhu penyimpanan dapat mempengaruhi stabilitas kimia obat. Beberapa obat lebih stabil pada suhu dingin, sementara yang lain mungkin menjadi tidak stabil atau terurai pada suhu yang tinggi. Contoh: Obat yang peka terhadap panas mungkin perlu disimpan dalam lemari pendingin. 2. Kelembaban: Pengaruh Farmakologis: Kelembaban dapat mempengaruhi stabilitas fisik dan kimia obat. Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan degradasi obat tertentu. Contoh: Obat-obatan yang larut dalam air atau cenderung mengalami reaksi kimia dengan kelembaban mungkin memerlukan penyimpanan khusus. 3. Cahaya: Pengaruh Farmakologis: Beberapa obat dapat menjadi tidak stabil atau terurai jika terpapar cahaya langsung. Contoh: Obat yang dikemas dalam wadah transparan atau sensitif terhadap cahaya mungkin perlu disimpan dalam wadah yang tidak tembus cahaya. 4. pH (Ketidakstabilan Kimia): Pengaruh Farmakologis: Beberapa obat dapat mengalami perubahan pH yang dapat mempengaruhi stabilitas dan efektivitasnya. Contoh: Obat-obatan yang memiliki pH spesifik atau yang mudah terdegradasi oleh perubahan pH mungkin memerlukan penyimpanan dengan pH yang terkontrol. 5. Interaksi Obat: Pengaruh Farmakologis: Beberapa obat dapat berinteraksi satu sama lain jika disimpan bersamaan, mengakibatkan perubahan dalam sifat farmakologisnya. Contoh: Obat-obatan yang cenderung berinteraksi mungkin perlu disimpan terpisah untuk mencegah reaksi yang tidak diinginkan. Penyimpanan berdasarkan jenis dan bentuk obat 1. Obat Cair: Suhu: Beberapa obat cair disimpan pada suhu yang lebih rendah atau di lemari pendingin untuk menjaga kestabilan dan mencegah degradasi. Penyimpanan Tertutup: Botol obat cair harus rapat tertutup untuk mencegah penguapan atau kontaminasi. Tablet dan Kapsul: Suhu dan Kelembaban: Umumnya disimpan pada suhu ruangan dan di tempat yang kering. Kelembaban yang tinggi dapat menyebabkan tablet atau kapsul menjadi lembab atau meleleh. Penyimpanan Terpisah: Beberapa tablet atau kapsul mungkin memiliki persyaratan penyimpanan terpisah untuk menghindari reaksi yang tidak diinginkan antarobat. 2. Obat Topikal (Salep, Krim, Gel): Suhu dan Kelembaban: Seringkali disimpan pada suhu ruangan. Beberapa salep atau krim mungkin memerlukan penyimpanan di lemari pendingin. Penyimpanan Khusus: Pastikan untuk menjaga kebersihan dan menghindari kontaminasi saat menggunakan produk topikal. 3. Injeksi: Suhu: Banyak obat injeksi harus disimpan pada suhu khusus dan dapat memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin. Kemasan Tertutup: Peralatan untuk injeksi harus disimpan dalam kemasan tertutup


4 untuk mencegah kontaminasi. 4. Supositoria dan Tablet Vaginal: Suhu Tubuh: Biasanya disimpan pada suhu tubuh. Supositoria dapat menjadi lembek atau meleleh jika disimpan pada suhu yang tinggi. 5. Obat Gas dan Aerosol: Tekanan: Obat dalam bentuk gas atau aerosol harus disimpan pada tekanan yang tepat untuk memastikan dosis yang benar saat penggunaan. Hindari Panas dan Api: Produk aerosol harus dihindari dari suhu tinggi atau paparan langsung terhadap api. Suhu Penyimpnan obat Suhu penyimpanan obat dapat bervariasi tergantung pada jenis dan karakteristik kimiawi dari masing-masing obat. Berikut adalah beberapa kategori umum suhu penyimpanan obat: 1. Suhu Ruangan (15-25 derajat Celsius atau sekitar 59-77 derajat Fahrenheit): Banyak obat oral, tablet, kapsul, dan beberapa obat topikal dapat disimpan pada suhu ruangan.Kelembaban harus dijaga pada tingkat yang dapat diterima.Lemari Pendingin (2-8 derajat Celsius atau sekitar 36-46 derajat Fahrenheit): Beberapa obat cair, insulin, vaksin, dan beberapa obat injeksi memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin. Pastikan obat cair tidak membeku, dan hindari perubahan suhu yang cepat. Suhu Tubuh (sekitar 37 derajat Celsius atau 98.6 derajat Fahrenheit):Supositoria dan obat-obatan rektal sering disimpan pada suhu tubuh agar tetap padat. Suhu Khusus (tergantung pada obat tertentu): Beberapa obat, seperti beberapa antibiotik atau obat biologis, mungkin memerlukan suhu penyimpanan yang lebih rendah atau lebih tinggi dari suhu ruangan. Obat-obatan yang peka terhadap suhu dapat memiliki persyaratan khusus untuk mempertahankan stabilitas dan efektivitasnya. Tekanan dan Atmosfer Khusus (untuk obat gas atau aerosol): Obat-obatan dalam bentuk gas atau aerosol perlu disimpan pada tekanan dan dalam atmosfer tertentu untuk mempertahankan kestabilan. Persyaratan ruang penyimpanan obat sangat penting untuk memastikan bahwa obat tetap aman, efektif, dan sesuai dengan standar regulasi. Beberapa persyaratan umum untuk ruang penyimpanan obat termasuk: 1. Suhu: Sesuaikan suhu penyimpanan dengan persyaratan obat tertentu. Suhu ruangan (15- 25 derajat Celsius) umumnya sesuai untuk sebagian besar obat. Namun, beberapa obat mungkin memerlukan penyimpanan dalam lemari pendingin atau suhu yang lebih tinggi atau rendah. 2. Kelembaban: Jaga kelembaban pada tingkat yang dapat diterima. Kelembaban yang tinggi dapat merusak obat tertentu, terutama yang rentan terhadap degradasi akibat kelembaban. 3. Penyimpanan Terpisah: Obat-obatan yang memiliki persyaratan penyimpanan khusus, seperti suhu dingin atau kelembaban rendah, sebaiknya disimpan terpisah dari obat lainnya. Ini dapat mencegah interaksi obat dan memastikan kondisi penyimpanan yang optimal. 4. Penyimpanan dalam Wadah Khusus: Beberapa obat mungkin memerlukan penyimpanan dalam wadah tertentu untuk melindungi dari cahaya langsung atau penguapan. Pastikan obat disimpan dalam kemasan aslinya atau kemasan yang disarankan oleh produsen. 5. Kebersihan dan Higienis: Pastikan ruangan penyimpanan obat bersih dan higienis. Hindari kontaminasi lintas obat dan pertahankan kebersihan umum untuk mencegah risiko kontaminasi silang.


5 6. Sistem Monitoring: Pasang sistem monitoring suhu dan kelembaban di ruangan penyimpanan untuk memantau kondisi penyimpanan secara realtime. Ini dapat membantu mendeteksi perubahan suhu atau kelembaban yang tidak diinginkan. 7. Penyimpanan Obat Berbahaya: jika ada obat-obatan berbahaya atau beracun, pastikan penyimpanan dan penanganannya sesuai dengan peraturan dan pedoman keselamatan yang berlaku. 8. Akses Terbatas: Batasi akses ke ruangan penyimpanan obat hanya kepada personel yang berkompeten dan berwenang. Hal ini dapat membantu mencegah kesalahan dalam manajemen obat. 9. Pemantauan Kedaluwarsa: Rutin periksa tanggal kedaluwarsa obat dan hapus obat yang telah kedaluwarsa. Sertakan sistem manajemen stok untuk memastikan obat tetap segar. 10. Ventilasi yang Baik: Pastikan ventilasi ruang penyimpanan memadai untuk menghindari akumulasi uap atau gas yang dapat merusak obat. Tata Cara Penyimpanan Obat 1. Baca Petunjuk dan Label: Selalu baca dengan seksama petunjuk penyimpanan yang disediakan oleh produsen di label obat atau dalam informasi paket. Petunjuk ini memberikan informasi khusus tentang suhu, kelembaban, cahaya, dan persyaratan penyimpanan lainnya. 2. Lemari Penyimpanan: Tentukan lokasi penyimpanan yang sesuai, seperti lemari obat atau area penyimpanan yang terpisah. Pastikan ruangan tersebut memenuhi persyaratan suhu dan kelembaban yang sesuai. 3. Penyimpanan Terpisah: Pisahkan obat-obatan yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus, seperti suhu dingin atau kelembaban rendah, dari obatobatan lainnya untuk mencegah interaksi atau degradasi. 4. Temperatur dan Kelembaban: Sesuaikan suhu penyimpanan dengan persyaratan obat tertentu. Pastikan ruang penyimpanan tidak terlalu panas, terlalu dingin, atau terlalu lembab. Hindari penyimpanan obat di tempat yang dapat terkena langsung sinar matahari atau dekat dengan sumber panas. 5. Kemasan Asli: Simpan obat dalam kemasan asli atau wadah yang disediakan oleh produsen. Jangan memindahkan obat ke wadah lain kecuali jika disarankan oleh petunjuk atau apoteker. 6. Pemeriksaan Kedaluwarsa: Periksa secara berkala tanggal kedaluwarsa obat. Hapus dan gantilah obat yang telah melewati tanggal kedaluwarsa. 7. Penyimpanan Injeksi: Simpan obat injeksi sesuai dengan persyaratan suhu dan kebersihan. Pastikan jarum dan alat suntik steril dan tidak terkontaminasi. 8. Kebersihan: Pastikan ruangan penyimpanan obat bersih dan higienis. Hindari kontaminasi dan lindungi obat dari debu atau partikel lainnya. 9. Akses Terbatas: Batasi akses ke ruangan penyimpanan obat hanya kepada personel yang berwenang untuk mencegah pengambilan atau penggunaan yang tidak sah. 10. Pemantauan Sistem: Pasang sistem pemantauan suhu dan kelembaban di ruangan penyimpanan untuk memastikan kondisi optimal dan mendeteksi perubahan yang tidak diinginkan. 11. Pelatihan dan Pendidikan: Berikan pelatihan kepada staf atau anggota keluarga yang merawat obat untuk memastikan pemahaman yang benar tentang tata cara penyimpanan dan penggunaan obat.


6 12. Penanganan Obat Berbahaya: Jika ada obat-obatan berbahaya atau beracun, pastikan penyimpanan dan penanganannya sesuai dengan peraturan dan pedoman keselamatan yang berlaku. Pemusnahan obat Pemusnahan obat dan perbekalan farmasi karena rusak, dilarang atau kadaluarsa dilakukan dengan cara dibakar, ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Badan POM. Pemusnahan tersebut harus dilaporkan oleh APA kepada Dinkes setempat dengan mencantumkan Nama dan alamat apotek Nama APA Perincian obat dan perbekalan kesehatan yang dimusnahkan Rencana tanggal dan tempat pemusnahan Cara pemusnahan Sebagai bahan pengayaan, tautan berikut ini dapat digunakan untuk mengakses pedoman pengelolaan perbekalan farmasi : youtube : https://www.youtube.com/watch?v=GbfG3T _mcUs Daftar Pustaka : 1. Buku Pelayanan Farmasi Administrasi Farmasi , Kelas XI, Penerbit EGC 2. Administrasi Farmasi , Kelas XI, Penerbit APMFI press 3. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009. 4. Pedoman Pelayanan Apoteker. 5. Buku Pedoman Praktik Kerja Apoteker. Materi pelatihan dari otoritas kesehatan setempat.


7


Click to View FlipBook Version