The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Modul IPA terpadu elektronik merupakan modul yang berisi megenai materi terpadu yang terdiri dari zat pengawet, suhu dan kalor serta kandungan zat gizi pada ikan asin yang disajikan dalam bentuk elektronik berupa flipbook

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by riskotul hasanah, 2021-06-23 22:11:38

Modul IPA Terpadu Elektronik

Modul IPA terpadu elektronik merupakan modul yang berisi megenai materi terpadu yang terdiri dari zat pengawet, suhu dan kalor serta kandungan zat gizi pada ikan asin yang disajikan dalam bentuk elektronik berupa flipbook

KATA PENGANTAR

Segala puji penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
segala rahmat dan karunianya, sehingga penulis dapat menyelesaikan “Modul Ipa
Terpadu Elektronik Berbasis Etnosains” untuk SMP dan MTS ini sesuai rencana. Modul
ini merupakan wujud partisipasi penulis dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Sehingga penulis menggunakan e-modul untuk mempermudah siswa dalam memahami
pembelajaran dan dapat dijadikan sebagai bahan ajar yang dapat digunakan kapanpun dan
dimanapun.

Modul ini memuat uraian tentang teknik pembuatan ikan asin yang kemudian
dihubungkan dengan ilmu pengetahuan alam yaitu pada materi zat pengawet, Suhu dan
kalor dan kandungan zat gizi makanan. Dalam penyusunan modul ini, penulis berusaha
semaksimal mungkin untuk menggunakan bahasa yang sederhana dan melibatkan
lingkungan sekitar siswa agar mudah dimengerti dan dipahami oleh siswa. Modul
pembelajaran ini berisi tentang definisi ikan asin, teknik pembuatan ikan asin,
Pengawetan ikan asin melalui penggaraman, zat pengawet pada ikan asin, pengeringan
ikan asin yang melibatkan materi suhu dan kalor, serta kandungan zat gizi pada ikan asin.
Penulis mengembangkan modul ini dengan tujuan untuk membantu dan menambah
wawasan siswa melalui uraian materi yang disertai dengan gambar animasi serta video
yang dapat menarik minat siswa. Penulis sangat berharap modul ini dapat membantu
siswa dalam memahami materi pada pembelajaran. Penulis juga senantiasa berharap
saran pembaca guna penyempurnaan pada edisi mendatang. Terimakasih.

Bangkalan, 25 April 2021

Penulis

DAFTAR ISI i
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ........................................................................................... iii
DAFTAR GAMBAR............................................................................... iv
DAFTAR TABEL ................................................................................... v
TUJUAN INSTRUKSIONAL................................................................. vi
PETA KONSEP....................................................................................... 1
Zat Pengawet ........................................................................................... 2
Suhu dan Kalor ........................................................................................ 4
Ikan Asin.................................................................................................. 6
Pembuatan Ikan Asin ............................................................................... 9
14
A. Teknik Pengawetan Melalui Penggaraman Kering ...................... 17
B. Teknik Pengawetan Melalui Pengeringan Tradisional ................. 19
Kandungan Ikan Asin .............................................................................. 22
Integrasi Pembuatan Ikan Asin................................................................ 23
Kesimpulan .............................................................................................. 25
Evaluasi Diri ............................................................................................ 27
Daftar Pustaka..........................................................................................
Kunci Jawaban.........................................................................................

DAFTAR GAMBAR 2
Gambar 1.1 Macam-macam skala termometer ........................................ 2
Gambar 1.2 Mekanisme perpindahan kalor radiasi ................................. 11

Gambar 1.3 Garam sebagai zat pengawet alami ......................................

DAFTAR TABEL 1
Tabel 1.1 Contoh zar pengawet sintesis .................................................... 2
Tabel 1.2 Rumus kalor perubahan suhu dan kalor perubahan wujud ....... 12
Tabel 1.3 Prosedur penggaraman ikan asin............................................... 15
Tabel 1.4 Prosedur pengeringan ikan asin................................................. 18
Tabel 1.5 Integrasu pengawetan ikan asin.................................................

TUJUAN INSTRUKSIONAL

Tujuan modul IPA terpadu elektonik berbasis etnosainsyaitu:
1. Siswa diharapkan dapat memahami materi IPA melalui penerapan secara langsung

pada lingkungan sekitar yaitu pada pembuatan ikan asin.
2. Siswa diharapkan mampu memahami keterkaitan antara materi IPA dengan proses

pembuatan ikan asin.
3. Setipa siswa yang selesai mempelajari modul IPA terpadu elektronik berbasis

etnosains, diharapkan memahami proses pembuatam ikan asin melalui pengawetan
dengan cara penggaraman dan pengeringan.

PETA KONSEP

Ikan Asin

Pembuatan Ikan Asin Kndungan Ikan
Asin

Penggaraman Pengeringan
Zat Pengawet Suhu dan Kalor

Zat Zat Suhu Kalor
Pengawet Pengawet

Alami Buatan

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar Materi

1. Menghargai dan Kelas VII 1. Suhu dan Kalor

menghayati ajaran agama 3.4 Menganalisis konsep 2. Zat Pengawet

yang dianutnya. suhu, pemuaian, kalor,

2. Menunjukkan perilaku perpindahan kalor, dan 3. Kandungan Ikan
dalam Asin
jujur, disiplin, tanggung penerepannya

jawab, peduli (toleransi, kehidupan sehari-hari

gotong royong), santun, termasuk mekanisme

percaya diri, dalam menjaga kestabilan suhu

berinteraksi secara efektif tubuh pada manusia dan

dengan lingkungan sosial hewan.

dan alam dalam jangkauan

pergaulan dan

keberadaannya. Kelas VIII

3. Memahami dan 3.5 Menganalisis sistem
pencernaan pada manusia
menerapkan pengetahuan dan memahami gangguan
yang berhubungan dengan
(factual, konseptual dan sistem pencernaan, serta
upaya menjaga Kesehatan
procedural) berdasarkan sistem pencernaan.

rasa ingin tahunya tentang 3.6 Menjelaskan berbagai
zat aditif dalam makanan
ilmu pengetahuan, dan minuman, zat aditif,
serta dampaknya terhadap
teknologi, seni, budaya kesehatan.

terkait fenomena dan

kejadian tampak mata.

4. Mengolah, menyaji dan

menalar dalam ranah

konkret (menggunakan,

mengurai, merangkai,

memodifikasi dan

membuat) dan ranah

abstrak (menulis,

membaca, menghitung,

menggambar dan

mengarang) sesuai dengan

yang dipelajari di sekolah

dan sumber lain yang

sama dalam sudut

pandang/teori.

Zat Pengawet Sintetis

Zat pengawet sintetis adalah zat pengawet yang dibuat oleh industri. Zat
pengawet buatan dapat berbahaya bagi Kesehatan. Contoh zat pengawet
sintetis pada makanan dapat dilihat pada Tabel 1.1

Tabel 1.1 Contoh zar pengawet sintesis

Zat Pengawet Fungsi
Cuka Pengawetan akar
Natrium dan Kalium Propinat Pengawetan roti dan kue kering

Zat Pengawet Alami

Zat pengawet alami adalah zat pengawet yang ditambahkan pada
makanan yang dihasilkan oleh bahan alam. Contoh zat pengawet alami
yang sering digunakan yaitu garam dan gula. Zat pengawet alami relatif
aman jika dibandingkan dengan zat sintetis/ pengawet buatan. Pengawet
alami dapat dilakukan dengan cara penggaraman, penyaringan dan
pendinginan (Yanestria, dkk, 2020). Penggaraman bertujuan untuk
mengikat kadar air pada maknaan sehingga pertumbuhan mikroorganisme
yang tidak dikehendaki dapat dihambar. Garam dapat berfungsi sebagai
bahan pengawet yang dapat meningkatkan tekanan osmosis yang
menyebabkan terjadinya plasmolysis pada sel mikroba (Talakua &
Rumengan, 2020). Tekanan osmosis adalah perpindahan molekul pelarut
(air) melalui membrane semipermeable dari konsentrasi rendah ke
konsentrasi tinggi (Gusmalawati & Mayasari, 2017).

SUHU DAN KALOR

A. Suhu
Proses pengeringan ikan asin berkaitan dengan materi IPA yaitu suhu dan kalor. Suhu
merupakan derajat atau tingkat panas suatu benda. Alat yang diguankan untuk
mengukur suhu yaitu termometer. Termometer terdiri dari celcius, reamur, fahreinhet,
dan kelvin. Skala pada termometer dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Gambar 1.1 macam-macam skala termometer (Sudarmin, 2019).

B. Kalor

Kalor adalah salah satu bentuk energi. Energi kalor dapat dibedakan menjadi dua,

yaitu perubahan suhu dan perubahan wujud. Energi kalor dapat mengakibatkan

perubahan suhu dan perubahan wujud suatu bahan. Rumus kalor perubahan suhu dan

kalor perubahan wujud dapat dilihat pada tabel 1.2.

Tabel 1.2 Rumus kalor perubahan suhu dan kalor perubahan wujud

Kalor Perubahan Suhu Kalor Perubahan Wujud

Q = m. c. T Q = m. L

Keterangan: Keterangan:
Q = Kalor (J) Q = Kalor (J)
m = Massa (Kg) m = massa (Kg)
c = Kalor Jenis (J/KgºC) L = Kalor Laten (J/ Kg)
T = Suhu (ºC)

C. Perpindahan Kalor
Perpindahan kalor adalah berpindahnya energi kalor dari satu daerah kedaerah

lainnya sebagai akibat dari perbedaan suhu antara daerah-daerah tersebut. Perpindahan
Kalor terdiri dari 3 jenis yaitu konduksi, konveksi dan radiasi. Konduksi adalah proses
perpindahan panas dari daerah suhu lebih tinggi ke suhu lebih rendah di dalam suatu
medium (padat, cair, dan gas) yang saling bersinggungan secara langsung. Konveksi
adalah proses perpindahan panas yang dihasilkan dari gabungan konduksi panas,
penyimpanan energi dan gerakan mencampur. Radiasi merupakan perpindahan panas
dari suhu lebih tinggi ke suhu lebih rendah tanpa melalui perantara. Perpindahan kalor
radiasi memperhatikan perpindahan energi panas melalui medium yang tembus cahaya
atau melalui ruang. Mekanisme perpindahan kalor secara radiasi dapat dilihat pada
gambar. Pengeringan ikan asin dengan bantuan matahari termasuk perpindahan kalor
radiasi dimana panas yang dihasilkan berasal dari sinar matahari ke ikan asin yang
memiliki suhu lebih rendah, sehingga kadar air pada ikan asin akan menguap dan ikan
asin dapat lebih awet serta mencegah pertumbuhan mikroba. Mekanisme perpindahan
kalor radiasi dapat dilihat pada gambar 1.3.

Gambar 1.2 Mekanisme perpindahan kalor radiasi (Iskandar, 2014).

IKAN ASIN

IKAN ASIN
Ikan merupakan bahan pangan yang mudah rusak dan sulit untuk
mempertahankan kesegarannya (Imamah, dkk, 2021). Ikan merupakan bahan
pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ikan banyak disukai karena
memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh diantaranya yaitu ikan
memiliki kandungan protein dan lemak yang lebih rendah dari hewan lainnya.
Namun, ikan mengalami pembusukan yang cepat karena terdapat bak teri dan
enzim jika dibiarkan tanpa adanya proses pengawetan (Hatta, dkk, 2019). Ikan
asin merupakan bahan pangan yang sudah lama dikenal oleh masyarakat. Ikan
asin termasuk produk yang diminati masyarakat Indonesia, dalam skala nasional
ikan asin nerupakan salah satu produk perikanan yang memiliki kedudukan
penting. Hampir 65% produk perikanan masih diawetkan dengan proses
penggaraman, sehingga ikan asin termasuk dalam 9 bahan pangan yang pokok dan
penting bagi masyarakat (Oheo, dkk, 2020)
Pengolahan ikan asin perlu dilestarikan. Proses pengolahan ikan asin melalui
tahapan pengawetan. Pengawetan alami lebih aman dilakukan dari pada
pengawetan sintesis. Pengawetan alami dapat dilakukan dengan cara pengeringan,
penggaraman, penyaringan dan pendinginan, tetapi pada saat melakukan
pengawetan ikan asin dilakukan melalui tahap penggaraman dan pengeringan.

AYO BELAJAR!



Teknik Pembuatan Ikan Asin

Ikan akan mengalami pembusukan apabila dibiarkan terlalu lama
di udara terbuka, Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menambah
lama penyimpanan ikan yaitu dengan mengolah ikan tersebut menjadi
ikan asin (Hatta, dkk, 2019). Pembuatan ikan asin dilakukan dengan
proses pengawetan ikan asin. Pengawetan ikan asin terdiri dari 2 tahap
yaitu pengawetan ikan asin melalui penggaraman dan pengawetan ikan
asin melalui pengeringan. Pengawetan ikan asin melalui penggaraman
dilakukan dengan penggaraman kering sedangkan pengawetan ikan asin
melalui pengeringan dilakukan dengan pengeringan alami/ tradisional
yang memanfaatkan sinar matahari untuk melakukan penguapan kadar air
pada ikan asin.

FAKTOR-FAKTOR PEMBUATAN IKAN ASIN

Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan ikan asin:
a) Ketebalan Daging Ikan: Semakin tebal daging ikan maka proses pembuatan

ikan asin semakin lama.
b) Jenis Ikan: Ikan yang mengandung minyak lebih banyak, maka proses

pembuatan ikan asin semakin lama
c) Suhu Udara: Semakin tinggi suhu udara maka proses pembuatan ikan asin

semakin cepat.
d) Kelembaban udara: Semakin lembab udara maka proses pembuatan ikan

asin semakin lama.





A. Penggaraman
Proses pembuatan ikan asin dapat dilakukan secara kimiawi melalui penggaraman dan

fisika melalui pengeringan. Penggaraman yaitu bentuk pengawetan kuno yang dilakukan secara
turun menurun (Feri, dkk, 2017). Penggaraman merupakan pengolahan yang dilakukan dengan
menambahkan garam pada produk dalam jumlah tertentu yang biasanya dilanjutkan dengan
proses pengeringan (Kresnasari, 2021). Pembuatan ikan asin dilakukan melalui penggaraman
karena hamper 65% produk perikanan diawetkan dengan garam. Penggaraman bertujuan untuk
mengikat air sehingga pertumbuhan mikroorganisme yang tidak dikehendaki dapat dihambat
Penggarman dilakukan dengan penggaraman kering yaitu menambahkan garam pada daging
ikan asin secara langsung. Garam yang digunakan yaitu garam dapur karena lebih murah dan
mudah ditemukan. Proses penggaraman dikatakan selesai apabila terjadi perubahan secara fisik
pada daging ikan yaitu daging ikan menjadi kaku dan keras. Penggaraman dilakukan selama 8-9
jam. Konsentrasi dan waktu penggaraman sangat berpengaruh terhadap cita rasa ikan asin
(Sirait, 2019)
B. Zat Pengawet
Zat pengawet adalah zat yang sengaja ditambahkan pada makanan/ minuman agar makanan/
minuman lebih awet dan tahan lama. Fungsi zat pengawet yaitu sebagai berikut:
1. Supaya makanan/ minuman tetap segar
2. Bau pada makanan/ minuman tidak berubah
3. Rasa pada makanan/ minuman tidak berubah
4. Terlindungi dari bakteri / Jamur.
Zat pengawet dibedakan menjadi 2 yaitu zat pengawet sintetis dan zat pengawet alami.

C. Metode Penggaraman
Penggaraman dilakukan menggunakan metode kering (dry salting). Penggaraman kering
dilakukan dengan menambahkan garam kristal ke daging ikan. Garam yang digunakan
adalah garam murni/ kristal yang mengandung NaCl tinggi (>90%). Selama proses
penggaraman berlangsung terjadi penembusan garam kedalam tubuh ikan dan tubuh ikan
akan mengeluarkan cairan karena adanya perbedaan konsentrasi akan melarutkan kristal
garam (Feri, dkk, 2017). Garam menyebabkan air yang terkandung dalam tubuh ikan
tertarik keluar. Garam memiliki sifat yang dapat menarik air dari system ke lingkungan
(Maulid & Abrian, 2020). Garam berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri pada
ikan (Nurcahyani, dkk, 2020). Garam dapat bertindak sebagi bahan pengawet karena
memiliki kemampuan dalam menghambat pertumbuhan bakteri penyebab pembusukan
dalam tubuh ikan sehingga ikan akan lebih awet (Noprianti, dkk, 2019). Contoh garam
dapat dilihat pada Gambar 1.3.

Gambar 1.3 Garam sebagai zat pengawet alami (Umam, 2019)

PROSEDUR PENGGARAMAN IKAN ASIN

Tabel 1.3 Prosedur penggaraman Ikan Asin

NO. PROSEDUR PENGGARAMAN IKAN DOKUMENTASI

ASIN

1. Mencuci bersih ikan yang akan diolah

menjadi ikan asin.

2. Membelah ikan hingga melebar tetapi tidak
sampai putus

3. Melakukan penggaraman dengan

menaburkan garam pada ikan yang sudah

dibelah, diusahakan perut ikan menghadap

kebawah.

4. Mendiamkan ikan selama 8-9 jam

LATIHAN SOAL I

1. Berikut ini merupakan macam-macam pengawetan alami yang dapat dilakukan,
kecuali…
a. Perebusan
b. Penggaraman
c. Pengeringan
d. Pendinginan

2. Fungsi garam dalam proses pengawetan ikan asin diantaranya yaitu…..
a. Memberikan rasa asin
b. Mengikat air pada ikan
c. Mengeraskan ikan
d. Menambah aroma pada ikan

3. Zat pengawet yang tidak boleh ditambahkan pada makanan karena merupakan zat
pengawet non pangan adalah………..
a. Cuka
b. Natrium propionate
c. Formalin
d. Kalsium propionate

4. Pengawetan ikan asin melalui proses penggaraman dapat menyebabkan terjadinya
plasmolysis pada sel mikroba yang disebabkan oleh………
a. Difusi
b. Pertukaran kadar air
c. Perpindahan partikel
d. Osmosis

5. Proses penggaraman yang dilakukan dengan menambahkan garam kristal ke
daging ikan disebut…..
a. Penggaraman kering
b. Penggaraman basah
c. Penggaraman campuran
d. Penggaraman terbuka



A. Pengeringan
Pengeringan merupakan suatu cara yang digunakan dalam teknologi pangan untuk

memperpanjang masa simpan dengan cara menguapkan sebagian besar kadar air hingga
mencapai batas kadar air tertentu dengan menggunakan energi panas, sehingga
menghambat kerusakan maknanan akibat aktivitas mikroba (Hatta, dkk, 2019).
Pengeringan dilakukan melalui bantuan sinar matahari yang dapat meyebabkan ikan asin
menjadi kering. Proses pengeringan dilakukan hingga ikan asin kering secara merata agar
pengawetan lebih maksimal dan mencegah pertumbuhan jamur atau mikroorganisme.
Proses pengeringan biasanya dilakukan selama 1-2 hari. Pengeringan dilakukan secara
merata pada kedua sisi ikan asin. Pengeringan ikan merupakan kegiatan lanjutan dari
pembuatan ikan asin setelah proses penggaraman.

B. Metode Pengeringan
Metode pengeringan yang sering digunakan untuk pengiringan ikan asin yaitu

metode tradisonal. Metode tradisonal dilakukan dengan cara alami yaitu memanfaatkan
sinar matahari secara langsung (Yuliati, dkk, 2020). Metode pengeringan tradisional
hanya dilakukan dengan menggunakan panas matahari untuk mengurangi kadar air pada
tubuh ikan sebanyak mungkin sehingga kegiatan bakteri dapat terhambat ataupun
mematikan bakteri tersebut. Pengeringan tradisional dilakukan dengan menggunakan rak
yang drancang khusus untuk meletakkan ikan asin supaya terkena sinar matahari secara
langsung (Hatta, dkk, 2019). Kelebihan pengeringan tradisional yaitu memerlukan biaya
yang cukup murah. Kekurangan pengeringan tradisional yaitu waktu pengeringan
ketergantungan dengan kondisi cuaca dan waktu pengeringan cukup lama. Proses
pengeringan tradisional menggunakan panas matahari dengan lama pengeringan sekitar 1-
2 hari.

PROSEDUR PENGERINGAN IKAN ASIN

Tabel 1.4 Prosedur prngeringan ikan asin

No PROSEDUR PENGERINGAN IKAN DOKUMENTASI

ASIN

1. Membilas garam yang terdapat di ikan asin.

2. Menjemur ikan asin selama 1-2 hari.

3. Setelah ikan kering secara merata maka
proses pengawetan ikan asin selesai.

SEMANGAT !

KANDUNGAN IKAN ASIN

Ikan asin baik dikonsumsi karena mengandung beberapa zat gizi. Kandungan gizi yang
terkandung pada ikan asin yaitu protein (Ermawati, dkk, 2017). Protein berperan penting pada
fungsi biologis dan struktur sel. Protein terdiri dari beberapa unsur seperti hidrogen, karbon,
nitrogen, oksigen, dan sulfur. Protein terbentuk dari asam amino yang dikaitkan dengan ikatan
peptida (Lestari, 2020). Ikan asin merupakan makanan yang disukai oleh masyarakat. Selain mudah
mendapatkannya, ikan asin memiliki kandungan protein yang tinggi yaitu sebesar 42% dalam 100
gram. Selain mengandung protein ikan asin mengandung lemak sebesar 1,50% (Rais & Nurahim,
2020)

Protein merupakan suatu zat yang penting bagi tubuh. Fungsi protein dalam tubuh sebagai
bahan bakar dalam tubuh, juga berfungsi sebagai pembangun dan pengatur dalam tubuh. Protein
merupakan sumber asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki
oleh lemak dan karbohidrat (Natsir & Latifah, 2018). Pengeringan ikan asin berpengaruh terhadap
kadar protein yang terkandung dalam ikan asin. Semakin lama waktu pengeringan dan semakin
tinggi suhu pengeringan maka kadar protein yang terkandung dalam ikan akan semakin tinggi. Hal
tersebut disebabkan karena semakin berkurangnya kadar air pada ikan asin sehingga dengan
berkurangnya kadar air tersebut. Kadar protein yang terkandung semakin tinggi (Sirait, 2019)

Lemak merupakan suatu zat gizi sebagai penyumbang kalori tebesar dalam makanan, yaitu
1gram lemak akan menghasilkan 9 kalori. Makanan yang mengandung lemak akan memberikan
sumbangan energi yang lebih besar karena makanan berlemak mengandung dua kali lebih banyak
kalori dibandingkan dengan protein (Rahman, dkk, 2021). Menurut Sirait (2019) mengemukakan
bahwa kadar lemak dipengaruhi oleh lama pengeringan dan tinggi rendahnya suhu pengeringan.
Semakin lama waktu pengeringan dan semakin tinggu suhu pada saat pengeringan maka kadar
lemak yang terrkandung pada ikan asin semakin tinggi. Namun kadar lemak pada ikan asin
berbanding terbalik dengan kadar air. Semakin tinggi kadar air pada ikan asin maka kadar lemak
yang terkandung pada ikan asin semakin sedikit.

LATIHAN SOAL II

1. Proses pengawetan dengan cara menguapkan Sebagian kadar air hingga mencapai
batas kadar air tertentu dengan menggunakan energi panas disebut…….
a. Pengeringan
b. Pendinginan
c. Pengemasan
d. Perendaman

2. Pengeringan yang dilakukan secara sederhana dengan memanfatkan sinar
matahari untuk mengurangi kadar aur sehingga kegiatan bakteri dapat terhambat
bahkan mematikan bakteri disebut………
a. Pengeringan modern
b. Pengeringan tradisional
c. Pengeringan gabungan
d. Pengeringan asap

3. Perhatikan jenis perpindahan kalor berikut!
1) Konduksi
2) Konveksi
3) Radiasi
4) Difusi
Jenis perpindahan panas yang digunakan dalam pengeringan tradisional pada
pembuatan ikan asin adalah…..
a. (1)
b. (2)
c. (3)
d. (4)

4. Ikan asin baik dikonsumsi karena mengandung beberapa zat gizi, kandungan zat
gisi yang terkandung pada ikan asin yaitu……
a. Karbohidrat
b. Glukosa
c. Vitamin C
d. Protein

5. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan ikan asin sehingga
menghasilkan ikan asin yang berkualitas kecuali………..
a. Jenis ikan
b. Suhu udara
c. Kelembapan udara
d. Kandungan protein

INTEGRASI

PEMBUATAN IKAN ASIN

(Indigenous Knowledge) dengan
(Scientific Knowledge)

Tabel 1.5 Integrasi Pengawetan Ikan Asin

NO. Topik Indigenous Knowledge Scientific Knowledge Keterangan

( Pengetahuan Asli ( Pengetahuan Ilmiah)

Masyarakat)

1. Bahan yang Ikan segar Kesegaran ikan merupakan (Mandeno &

digunakan dalam mempengaruhi kualitas salah satu faktor dalam Palawe. 2017)

proses pengawetan ikan asin serta garam penetrasi garam ke dalam
ikan asin yaitu ikan tubuh ikan (keberhasilan
segar dan garam. digunakan untuk penggaraman). Garam selain
berfungsi memberikan rasa
memberikan rasa asin pada ikan juga berfungsi

pada ikan.

sebagai pengawet alami

untuk mencegah tumbuhnya

bakteri/ mikroorganisme

yang dapat merusak kualitas

ikan.

2. Pemilihan bahan Ikan yang banyak Semakin tinggi kadar (Wijaya, 2019)

yaitu ikan yang mengandung minyak lemak yang terdapat di dan (Mandeno

mengandung sedikit proses pengeringan akan dalam tubuh ikan semakin & Palawe.

minyak. Garam yang semakin lama ketika di lambat proses penetrasi 2017)

digunakan yaitu jemur serta garam murni garam ke dalam tubuh ikan

garam murni (kristal). mempengaruhi rasa pada dan semakin lama proses

ikan. Rasanya lebih pengeringan sehingga

enak. proses pembuatan ikan

asin semakin lama.

Penggunaan garam murni

(kristal) dengan kandungan

NaCl cukup tinggi (95%)

akan menghasilkan mutu

ikan asin yang baik.

INTEGRASI

PEMBUATAN IKAN ASIN

(Indigenous Knowledge) dengan
(Scientific Knowledge)

NO. Topik Indigenous Knowledge Scientific Knowledge Keterangan

(Pengetahuan Asli (Pengetahuan Ilmiah)

Masyarakat)

3. Prosedur pengawetan Penggaraman berfungsi Penggaraman selain (Indrastuti, dkk,

ikan asin melalui untuk memberikan rasa dapat mempengaruhi rasa 2019)

proses penggaraman pada ikan asin. pada ikan asin juga

dan pengeringan. Sedangkan pengeringan mempengaruhi pada

dilakukan dengan cara pengurangan kadar air

penjemuran pada ikan sehingga

menggunakan bantuan mencegah tumbuhnya

sinar matahari sehingga bakteri.

ikan menjadi lebih awet. Proses pengeringan akan

menyebabkan ikan

menyusut dan mengalami

perubahan warna, tekstur,

dan mencegah

pertumbuhan

mikroorganisme yang

tidak diinginkan

4. Lama penggaraman Setelah ditambahkan Kadar air ikan asin (Ningrum, dkk,

garam pada ikan maka cenderung turun dengan 2019)

didiamkan selama 8-9 meningkatnya lama

jam untuk membuat ikan penggaraman. Semakin

lebih kaku. lama daging ikan

direndam dalam larutan

garam maka air yang

keluar dari bahan

semakin banyak.

INTEGRASI

PEMBUATAN IKAN ASIN

(Indigenous Knowledge) dengan
(Scientific Knowledge)

NO. Topik Indigenous Knowledge Scientific Knowledge Keterangan

(Pengetahuan Asli (Pengetahuan Ilmiah)

Masyarakat)

5. Lama pengeringan Pengeringan ikan Lama pengeringan (Indrastuti. Dkk,

dilakukan dengan cara berpengaruh terhadap 2019)

penjemuran selama 1-2 kualitas ikan asin. Proses

hari hingga ikan kering pengeringan yang kurang

secara merata baik, akan menyebabkan

ikan mudah ditumbuhi

jamur/ mikroorganisme

yang tidak diinginkan

baik pada ikan asin

berukuran kecil, sedang

maupun besar.

6. Takaran garam yang Takaran garam Takaran garam selain (Ningrum, dkk,

digunakan yaitu mempengaruhi tingkat berpengaruh terhadap rasa 2019)

sebanyak 10-35 % keasinan pada ikan asin ikan asin juga berpengaruh
dari berat ikan yang terhadap kadar air pada saat
digunakan. proses penggaraman ikan
asin. Takaran garam

sebesar 27 % dinyatakan

optimal dalam proses

penggaraman ikan asin

karena semakin banyak

garam yang digunakan

maka molekul air ynag

ditarik keluar dari tubuh

ikan semakin banyak.

1. Ikan merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat
tetapi ikan bersifat mudah rusak dan sulit untuk mempertahankan
kesegarannya, sehingga ikan perlu diolah untuk menghambat
pertumbuhan mikroba, salah satunya dengan dijadikan ikan asin.

2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan ikan asin yaitu
ketebalan daging ikan, jenis ikan, suhu udara, dan kelembapan udara.

3. Teknik pembuatan ikan asin terdiri dari 2 tahap yaitu teknik
pengawetan melalui penggaraman ikan asin dan pengawetan melalui
pengeringan ikan asin

4. Penggaraman merupakan pengolahan yang dilakukan dengan
menambahkan garam pada produk dalam jumlah tertentu yang
biasanya dilanjutkan dengan proses pengeringan.

5. Metode penggaraman ikan asin dilakukan menggunakan metode
penggaraman kering (dry salting).

6. Pengeringan merupakan suatu cara yang digunakan dalam teknologi
pangan untuk memperpanjang masa simpan dengan cara menguapkan
sebagian besar kadar air hingga mencapai batas kadar air tertentu
dengan menggunakan energi panas sehingga menghambat kerusakan
bahan akibat aktivitas mikroba.

7. Metode pengeringan ikan asin dilakukan mengguankan metode
pengeringan tradisional.

8. Kandungan zat gizi ikan asin yaitu protein dan lemak yang berguna
bagi tubuh.

EVALUASI DIRI

1. Kandungan zat gizi yang tedapat pada ikan dibandingkan hewan lainnya
adalah……
a. Protein dan lemak
b. Karbohidrat
c. Mineral
d. Vitamin C

2. Pengawetan yang ditambahkan pada bahan maknan/ minuman yang dihasilkan
dari bahan alam disebut dengan……..
a. Zat pengawet sintetis
b. Zat pengawet alami
c. Zat pengawet campuran
d. Zat pengawet buatan

3. Pengawetan ikan asin melalui proses penggaraman dapat menyebabkan
terjadinya plasmolysis pada sel mikroba yang disebabkan oleh tekanan………
a. Difusi
b. Pertukaran kadar air
c. Osmosis
d. Perpindahan partikel

4. Proses penggaraman yang dilakukan dengan menambahkan garam kristal pada
daging ikan secara langsung kemudian dilanjutkan dengan perendaman ikan
dengan garam sehingga terjadinya proses tekanan osmosis disebut…..
a. Penggaraman basah
b. Penggaraman campuran
c. Penggaraman terbuka
d. Penggaraman kering

5. Ikan terdapat beberapa jenis, diantaranya terdapat ikan tuna yang mengandung
banyak lemak/ minyak. Ikan tuna jika dijadikan ikan asin maka proses
pembuatan ikan asin akan semakin……..
a. Lama
b. Standart
c. Cepat
d. Medium

EVALUASI DIRI

6. Perpindahan kalor secara radiasi pada pembuatan ikan asin terjadi pada
pengeringan yang dilakukan menggunakan bantuan sinar matahari dengan alat-alat
sederhana, hal tersebut termasuk dalam pengeringan…….
a. Tradisional
b. Modern
c. Gabungan
d. Asap

7. Intan pada siang hari ini akan melakukan pengeringan ikan asin dengan
memanfaatkan sinar matahari. Suhu pada siang ini yaitu 45ºC sehingga ikan asin
akan kering. Pada suhu yang sama ubahlah menjadi skala Fahrenheit……
a. 215 ºF
b. 113 ºF
c. 115 ºF
d. 213 ºF

8. Perhatikan jenis perpindahan kalor berikut!
1) Konduksi
2) Radiasi
3) Konveksi
4) Difusi
Jenis perpindahan panas yang digunakan dalam pengeringan tradisional pada
pembuatan ikan asin adalah…..
a. (1)
b. (2)
c. (3)
d. (4)

9. Berikut ini faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan ikan asin sehingga
menghasilkan ikan asin yang berkualitas kecuali………..
a. Jenis ikan
b. Suhu udara
c. Kandungan Protein
d. Kelembapan udara

10. Kalor yang dibutuhkan untuk menaikkan suhu 1,5 kg ikan asin (kalor jenis 400
J/KgºC) dari suhu 32ºC menjadi 35 ºC adalah…..
a. 1,6 KJ
b. 2,8 KJ
c. 2,6 KJ
d. 1,8 KJ

DAFTAR PUSTAKA

Ernawati, A., dkk. (2017). Efektivitas Perendaman Air Hangat dan Air Garam

terhadap Penurunan Kadar Formalin Ikan Teri Asin di Tingkat Pedagang Pasar
Kota Semarang. Jurnal Kesehatan Masyarakat, 5(4), 613–621.

Feri., dkk. (2017). Profil Protein Daging Ikan Bandeng (Chanos chanos)

Mengguankan SDS-PAGE Sebelum dan Sesudah Penggaraman. Prosiding

Seminar National & Internasional, 1(1), 146-150.

Gusmalawati, D., & Mayasari, E. (2017). Karakteristik Fisikokimiawi Sari Buah

Tapus (Curculigo Latifolia Dryand) dengan Metode Ekstraksi Osmosis. Jurnal

Ilmiah Teknosains, 3(2), 77-81.

Hatta, M., dkk. (2019). Sistem Pengeringan Ikan dengan Metode Hybrid. Jurnal

Polimesin, 17(1), 9-18.

Imamah, P. N., dkk. (2021). Analisis Cemaran Bakteri Escherichia coli pada Daging

Ikan Pelagis Kecil (Studi Kasus) Di Perairan Laut Utara dan Selatan Kabupaten

Sampang. Jurvenil, 2(1), 17-24.

Indrastuti, N. A., dkk. (2019). Profil Pengolahan Ikan Asin Wilayah Pengolahan

Hasil Peikanan Tradisional (PHPT) Muara Angke. Jurnal Pengolahan Hasil

Perikanan (JPHPI). 22 (2), 218-228.

Iskandar, S. (2014). Perpindahan Panas:Teori, Soal dan Penyelesaian. Yogyakarta:

deepublish. Retrieved from

https://books.google.co.id/books?id=mm_DCQAAQBAJ&printsec=frontcover

&dq=perpindahan+panas&hl=jv&sa=X&ved=2ahUKEwj-8oH-

su_vAhWafH0KHfadCF8Q6wEwAHoECAEQAQ#v=onepage&q=perpindaha

n panas&f=false

Kresnasari, D. (2021). Pengaruh Pengawetan dengan Metode Penggaraman dan

Pembekuan terhadap Kualitas Ikan Bandeng. Scientific Timeline, 1(1), 001-008.

Lestari, M. F. (2020). Edukasi Zat Aditif pada Jajanan Sekolah dari Prespektif

Kesehatan. Pangan dan Kesehatan. 3, 330-335.

Mandeno, J.A., & Palawe, J.F.P. (2017). Karakteristik Mutu Organoleptik Ikan

Layang (Decapterus Sp) Asin pada Konsentrasi Garam Berbeda. Jurnal Ilmiah

Tindalung. 3(2), 78-82.

Maulid, D, Y., & Abrian, S. (2020). Kandungan Garam dan Komposisi Proksimat
Ikan Asin Jambal Roti (Arius thallassinus) dari Pangandaran. Marlin, 1(1), 1–6.

Natsir, N. A., & Latifa, S. (2016). Analisis Kandungan Proterin Total Ikan Kakap

Merah dan Ikan Kerapu Bebek. Jurnal Biology Education, 7(1), 49-55.

Ningrum, R., dkk. (2019). Pengaruh Konsentrasi dan Lama Waktu Penggaraman

terhadap Mutu Ikan Terbang (Hirundichthys Oxchepalus). 5(2), 26-35.

Noprianti, A., dkk. (2019). Analisis Cemaran Mikroba dan Formalin Terhadap Ikan

Selar (Selaroides sp) Asin di Beberapa Pasar Tradisional di Kota Makassar.
Jurnal Pendidikan Teknologi Pertania, 5(2), 1–13.

Nopriyanti, dkk. (2017). Pengembangan Modul Elektronik Berbasis Animasi pada

Mata Kuliah Media Pembelajaran di Program Studi Pendidikan Teknik Mesin.
Jurnal Pendidikan Teknik Mesin, 17(2), 93–102.

Oheo, D. D., dkk. (2020). Analysis of Formaldehyde Preservatives in Salted Fish
from Traditional Markets in Kendari City. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 1(2),
76-81.

Rahman, M. M., dkk. (2021). Hubungan Asupan Lemak terhadap Presentase Lemak
Tubuh Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako Angkatan 2019.
Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 7(1), 21-29.

Rais., & N. (2020). Jemuran Ikan Asin Otomatis Berbasis Internet of Things Untuk
Daerah Pesisir Pantai Pantura. Smart Comp :Jurnalnya Orang Pintar Komputer,
9(1), 22–25.

Sirait, J. (2019). Pengeringan dan Mutu Ikan Kering. Jurnal Riset Teknologi Industri,
13 (2), 303-313.

Sudarmin. (2019). Cara Mudah Belajar Fisika Materi Suhu dan Kalor Melalui
Metode Demonstrasi. Jakarta: PT Cipta Gadhing Artha. Retrieved from
https://books.google.co.id/books?id=QAUhEAAAQBAJ&pg=PA37&dq=suhu+
dan+kalor&hl=jv&sa=X&ved=2ahUKEwiFk9z_r-
_vAhW5H7cAHZjNAnkQ6AEwAHoECAAQAg#v=onepage&q=suhu dan
kalor&f=false

Talakua, C., & Rumengan, Y. (2020). Pengaruh Konsentrasi Garam dan Lama
Fermentasi terhadap Kadar Protein Bakasang Laor. Jurnal Pendidikan Biologi,
7(2), 25-31.

Umam, F. (2019). Pemurnian Garam dengan Metode Rekristalisasi di Desa Bunder
Pamekasan untuk Mencapai SNI Garam Dapur. Jurnal Ilmiah Pangabdhi, 5(1),
24–27.

Usman, N., dkk. (2019). Ethno-Science Based Module Development on Material
Substance and its Characteristics to Improve Learning Achievement Of Junior
High School Students. International Journal of Innovation in Science and
Mathematics. 7 (3), 148-157.

Wijaya, H. (2019). Pemanfaatan Teknologi Informasi dalam Pengembangan
Pemasaran Ikan Asin dimDesa Umbul Tanjung Kecamatan Cinangka. Jurnal
ABDIKARYA. 1(1), 31-38.

Yanestria, S, M., dkk. (2020). Ekstrak Daun Salam (Eugenia polyantha, Weight)
sebagai Pengawet Alami pada Ikan Bandeng (Chanos chanos). Jurnal Ilmu
Perikanan, 11(2), 127-134.

Yuliati, S., dkk. (2020). Rancang Bangun Tray Dryer Sistem Hybrid (Surya-Heater)
untuk Pengeringan Ikan Asin. Jurnal Kinetika, 11(02), 10–18.

Latihan Soal I
1. a. Perebusan
2. b. Mengikat air pada ikan asin
3. c. Formalin
4. d. Osmosis
5. a. Penggaraman kering

Latihan Soal II

1. a. Pengeringan
2. b. Pengeringan tradisional
3. c. (3)
4. d. Proterin
5. d. Kandungan protein

Evaluasi Diri

1. a. Protein dan lemak 8. b. (2)

2. b. Zat pengawet alami 9. c. Kandungan protein

3. c. Osmosis 10. b. 1,8 KJ

4. d. Penggaraman kering Diketahui:

5. a. Lama m = 1,5 kg

6. a. Tradisional c = 400 J/KgºC

7. b. 113 ºF T = 35 ºC - 32ºC = 3 ºC

Diketahui: Ditanya: Q……..?

t = 45ºC Penyelesaian:
Ditanya: ºF……..? Q = m. c. T
Penyelesaian: Q = 1,5 kg. 400 J/KgºC. 3 ºC

45ºC = (45 x ) + 32 = ( 81 + 32 ) = 1.800 J = 1,8 KJ
= 113 ºF


Click to View FlipBook Version