The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tinnadewifitriana733, 2022-07-09 10:46:25

Studi Kasus Kelompok 3 Fix

Studi Kasus Kelompok 3 Fix

Fasil : Imran Tululi

Modul 3.1 Ruang
Kolaborasi

STUDI KASUS
Presented By Kelompok 3

Janganlah berjuang untuk menjadi
orang yang sukses, namun

berjuanglah untuk menjadi orang
yang bermanfaat’

albert einstein

WE ARE Sandi N.C. Aditya

CGP ANGKATAN 4 KOTA BANDUNG

Asep Nandar

SDN 079 Kopo Pajagalan SDN 265 Bandungkulon
Feny Febryani Z. Tinna Dewi F.

SDN 079 Kopo Pajagalan SDN 147 Citarip Barat

Studi Kasus

Teguh adalah salah satu murid kelas V SD. Teguh adalah murid yang rajin dalam mengikuti kegiatan
pembelajaran di sekolah. Dia selalu hadir tepat waktu dan selalu mengikuti belajar dengan semangat.
Namun, menjelang kenaikan kelas ternyata teguh memiliki 3 nilai mata pelajaran kurang dari KKM, yaitu
IPA, B. Indonesia, dan Matematika. Menjelang pembagian rapor, orang tua Teguh dipanggil oleh ibu guru
wali kelas. Ibu guru wali kelas memperlihatkan hasil belajar Teguh selama semester 2 dan menyampaikan ke
orang tua Teguh bahwa ketiga nilai mata pelajaran Teguh tersebut di bawah KKM. Menurut aturan sekolah,
jika nilai mata pelajaran Matematika, B.Indonesia dan IPA di bawah KKM tidak diperkenankan naik kelas.
Orang tua Teguh tidak terima anaknya tidak naik kelas, karena anaknya sangat rajin dan selalu semangat
berangkat ke sekolah. Orang tua Teguh meminta nilai Teguh dirubah agar memenuhi KKM agar bisa naik
kelas. Sebagai Guru hal itu sangatlah tidak mungkin. Orang Tua Teguh juga berjanji akan berkomitmen

membimbing anaknya belajar dirumah agar kedepannya tidak terulang hal yang sama dan akan
mengikutkan Teguh untuk mengikuti kegiatan belajar tambahan. Selain itu orang tua teguh juga khawatir

pada psikologis anaknya jika anaknya tidak naik kelas sedangkan teman-temannya naik kelas. Karena
bujukan orangtua Teguh dan komitmen yang dibuat juga khawatir akan perkembangan psikologis Teguh,
sebagai Guru merasa kasihan dan akan mengusahakan agar Teguh bisa naik ke kelas VI. Apa yang akan Anda

lakukan? Apakah Anda akan tetap menaikkan Teguh ke kelas VI?

DILEMA ETIKA

Yang menjadi dilema etika adalah wali kelas.
Dilema 1 benar jika anak tersebut tidak naik
kelas, karena belum memenuhi nilai KKM pada

3 mata pelajaran.
Dilema 2, guru merasa kasihan jika nanti tidak
dinaikkan akan berdampak pada psikologis anak

tersebut.

Paradigma

Rasa Keadilan lawan rasa Kasihan
(Justice vs Mercy)

paradigma yang sesuai dengan kasus ini adalah Rasa keadilan
lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Guru dihadapkan pada

aturan bahwa 3 nilai mata pelajaran di bawah KKM, murid
tersebut tidak akan naik kelas. Namun pilihan yang diambil
memberikan pengecualian kepada Teguh karena kemurahan

hati dan kasih sayang wali kelas.

Prinsip

Berpikir Berbasis Rasa Peduli
(Care-Based Thinking)

prinsip yang sesuai dengan kasus ini adalah
Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based
Thinking). Meskipun sebenarnya melanggar
peraturan, tetapi wali kelas masih
memperhatikan masa depan murid, tampak
dalam kasus ini Teguh rajin dan semangat
berangkat ke sekolah.

Hal Yang Menarik

Dimana dalam kasus ini ditempatkan pad dilema antara
aturan dengan rasa lasihan dan peduli pada murid.
Yang mengharuskan kita mengambil keputusan yang

terbaik untuk semua pihak dengan menggunakan segala
pemikiran dan pengujian dalam menentukan satu
keputusan.

Pengambilan dan
Pengujian Keputusan

1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan, nilai kebenaran
tentang fakta bahwa murid yang tidak dapat naik kelas adalah nilai
yang kurang dari KKM. Nilai moralnya adalah guru merasa kasihan

pada anak, karena akan berdampak pada psikis anak.



2. Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini, wali kelas,
murid yang tidak memenuhi nilai KKM, orang tua murid yang
bersangkutan, dan kepala sekolah.




3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan situasi ini. Murid
kelas V SD yang belum memenuhi standar KKM di tiga mata

pelajaran, murid tersebut sangat rajin berangkat ke sekolah, dan
guru merasa kasihan pada murid tersebut.

4. Pengujian benar atau salah:
a. Uji Legal: tidak ada pelanggaran hukum dalam kasus tersebut.
b. Uji Regulasi/Standar Profesional: tidak ada pelanggaran kode

etik guru dalam kasus tersebut.
c. Uji intuisi: Ada, karena keputusan yang diambil bertentangan
dengan peraturan sekolah, namun masih mempertimbangkan rasa
peduli, dampak yang akan terjadi pada murid apabila tidak naik kelas,

dan murid tersebut mempunyai semangat belajar yang bagus.

d. Uji Publikasi: Merasa tidak nyaman, karena jika kasus itu dipublikasikan
khawatir akan menimbulkan permasalahan baru yang tidak dikehendaki semua
pihak. Sebagai dasar jika kita melihat prinsip pendidikan KHD, sebagai guru kita

harus berfokus pada pembelajaran yang berpihak pada murid, di mana
pembelajaran tersebut menggali potensi yang ada pada diri murid, agar
mencapai kebahagiaan dan keselamatan dalam hidup. Jika murid tidak bisa
mencapai nilai KKM dalam 3 mata pelajaran yang disebutkan dalam kasus di
atas, mungkin saja murid memiliki kelebihan pada mata pelajara yang lain.
Kemudian jika guru menggunakan pembelajaran beriferensasai sebetulnya guru

dapat memberikan materi sesuai dengan kebutuhan murid.
e. Uji Panutan/Idola: keputusan yang diambil oleh idola saya (kepala sekolah)
tentunya akan sama dengan keputusan yang saya ambil, yaitu berpikir dengan

berbasis rasa peduli.

5. Pengujian Paradigma Benar lawan Benar. Benar jika anak tersebut
tidak naik kelas, karena belum memenuhi nilai KKM pada 3 mata

pelajaran. Benar juga guru merasa kasihan jika nanti tidak dinaikkan akan
berdampak pada psikologis anak tersebut.

6. Melakukan Prinsip Resolusi. Menyelesaikan dengan berpikir berbasis
rasa peduli (Care Based Thinking).

7. Investigasi Opsi Trilema. Sebaiknya Guru menjadikan ini sebagai
pembelajaran dengan cara tidak menghukum dengan memberikan
pendekatan yang tepat kepada anak dan orangtua agar berkomitmen
untuk mengikuti kegiatan tambahan belajar dengan bimbingan guru selama

masa liburan sekolah untuk mengejar ketertinggalan.

8. Buat Keputusan, keputusan yang diambil adalah
menaikkan murid tersebut.

9. Lihat lagi Keputusan dan Refleksikan, keputusan untuk menaikkan
murid dengan nilai di bawah KKM merupakan sebuah dilema bagi
seorang guru. Di satu sisi karena murid tersebut belum mencapai

KKM, tetapi di sisi lain takut berdampak pada psikologis murid, dan
yang paling dikhawatirkan adalah murid tersebut tidak mau sekolah.

Thank you!


Click to View FlipBook Version