KATA PENGANTAR Bismillahirrahmaanirrahiimm Assalamualaikum wr.wb Tiada kata berhenti untuk mengucap syukur kepada Allah SWT. Yang melimpah di seluruh alam, serta menjunjung tinggi kepada Nabi kita yaitu Nabi Muhammad SAW. Serta para sahabat, kerabat dan keluarganya. Dimana atas karunia-NYA kami dapat menyelesaikan penulisan buku Antologi Cerpen karya Siswa-Siswi 9C. Kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan proses penulisan buku Antologi Cerpen ini. Kami meminta maaf apabila ada kekurangan atau berupa salah pengetikannya dan semacamnya dalam buku Anatalogi Cerpen ini. Kami hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan, Dan kami ucapkan banyak banyak terimakasih kepada bapa/ibu guru yang telah membimbing kami dalam proses pembuatan buku antalogi cerpen ini, Serta juga memberikan kami saran untuk membuat karya karya buku Antologi Cerpen ini. Antalogi cerpen ini berdasarkan imajinasi kita, yang kemudian kita tuangkan dalam bentuk cerita pendek. Antalogi Cerpen ini, Kami buat sedemikian rupa., Untuk membangkitkan minat dan bakat para pembaca untuk membaca dan menulis. Semoga Antalogi Cerpen ini bermanfaat dan memotivasi sesorang untuk mengembangkan keminatan mereka untuk berliterasi. Sekian, Terimakasih atas Perhatiannya. Cilegon 11 Agustus 2023
DAFTAR ISI Hal Sayap Pelindung Glenta ……………………………………………………….. 3 Shafa Mardhatillah Cultural Diversity Youth ................................................................ 9 Marissa Pariwara Serpihan Pedang ............................................................................ 14 Belva Cantika Putri Hertanto Koin Harapan ................................................................................ 20 Lulu Putri Mascantika Zaldad Sahabatku Dulu ............................................................................ 26 Azzalea Nasywa Roda Kehidupan ........................................................................... 32 Ayunda Zahra Aura Rifda Menembus Langit Jepang .............................................................. 37 Naurah Zalfaa Mutiara Biodata Penulis ………………………………………………………………….. 42
3 SAYAP PELINDUNG GLENTHA Shafa Mardhatillah Hangat lembut cahaya matahari menembus jendela kamar kecilku, berkicau kencang bunyinya alarm pagi hariku. Bergegas aku segera mengambil air wudhu untuk Shalat shubuh dan bersiap untuk berangkat sekolah. Tak sempat sarapan dan juga lupa membawa bekal air minum. Memang anak yang sangat ceroboh. Aku berangkat sekolah diantar dan dijemput oleh Ojek Online langgananku. “Tumben siang Neng, biasanya matahari belum muncul juga sudah minta berangkat,” sambil memberikan helm kepadaku. “Aku kesiangan, Om. Gara-gara begadang ngerjain tugas,” jawabku dengan jiwa setengah tertinggal dikamar. Tidak ada waktu untuk membuka smartphone ku, karena aku telat bangun untuk ke sekolah. Sedangkan smartphone dilarang dibawa ke sekolah ku. Di tengah perjalanan, aku baru ingat bahwa aku lupa membawa selendang Tari untuk ujian Tariku yang dilaksanakan hari ini juga. Sedikit panik, namun aku mencoba tenang dan memikirkan cara agar aku tetap membawa selendang walau selendang ku tertinggal di rumah. Yap! Hai. Perkenalkan, Namaku Glenca atau biasa dipanggil Glen. Aku seorang siswi yang duduk di bangku kelas XI. Aku orang yang sangat ceroboh juga pelupa, tetapi aku suka sekali mencoba hal baru yang menarik. Tari merupakan hobiku, sejak kecil aku selalu mengikuti perlombaan Tari dan selalu juara. Aku menyukai seni karena menurutku seni itu tidak membosankan, dan hasilnya selalu tidak bisa di deskripsikan dengan kata kata. Sebab seni terlalu indah dari sekedar kata. Sesampainya aku di sekolah, gerbang disekolah 5 menit lagi akan ditutup. Hampir saja aku terlambat datang ke sekolah. Aku bergegas menuju ruang kelasku. Saat aku memasuki kelas, temantemanku sedang berkumpul di salah satu meja temanku. Aku pun langsung menaruh tas dan barangbarang di meja punyaku. Aku menghampiri teman-temanku yang sedang berkumpul dan bertanya. “Ada apa ini, pagi-pagi udah rame.” “Ini kita lagi bahas pesan Bu Sinta tadi pagi, kira-kira siapa yaa yang kepilih,” jawab Cantika, salah satu temanku. Aku pun bingung dengan percakapan mereka, aku tidak tahu info apa yang diberikan Bu Sinta, karena tidak sempat membuka smartphone ku tadi pagi. “Memang ada info apa? Aku tadi pagi ga sempet buka hp soalnya,” tanyaku kepada temanteman.
4 Zahra menjawab “Jadi gini Glen. Katanya hari ini bakal ada pengumuman siapa yang bakal wakilin sekolah kita untuk lomba Tari kreasi Nasional. Makanya itu Bu Sinta minta kita buat bawa selendang kan, soalnya kaya sekalian mau seleksi gitu deh.” Mendengar hal itu seketika aku panik, takut, dan bingung. Aku tidak membawa selendang, sedangkan hari ini ada ujian juga seleksi buat perwakilan lomba Tari. Aku pun keluar kelas dan duduk di koridor depan kelas sejenak untuk menenangkan pikiranku. Tiba-tiba ada orang memanggil namaku. “Glen, kok ngelamun sih? Masih pagi juga. Ini tadi mama kamu nitipin ini ke aku. Ketemu di bawah sama mama,” ternyata itu adalah Kak Atha. Kak Atha adalah kakak kelasku disekolah sekaligus teman terbaikku. Ia merupakan sosok orang yang sangat dewasa jika dibandingkan dengan teman yang seumuran dengannya. Pendiam adalah salah satu karakter yang paling melekat pada diri Kak Atha. Jalan yang sangat tegap, Berbadan ideal dan tinggi, Hitam manis, Rambut sedikit Ikal, dan sifat yang amat sangat cuek nan dingin seperti Es, itulah Kak Atha. “Eeh Makasi banyak yaa kak. Hehe iya tadi kepikiran aja, hari ini ada ujian dan seleksi tari tapi aku malah lupa bawa selendang. Sekali lagi makasi banyak ya kak,” jawabku dengan penuh rasa lega dan senang. “Makanya malamnya itu di siapin semua biar ngga ada yang ketinggalan. Oh iya, kata kamu ada seleksi Tari? Seleksi untuk apa emang?” tanya kak Atha sambil duduk di sampingku. “Kalau ngga salah, seleksi perwakilan dari sekolah kita buat lomba Tari Kreasi Nasional,” jawabku sambil membenarkan tali sepatuku. Sambil melihat selendang di tangan ku, Kak Atha pun berkata “Oh begitu. Ya sudah, semangat yaa Glen! Bakat Tari kamu bagus dan hebat banget lho, semoga kepilih ya. Kalau begitu Saya ke kelas duluan ya, sudah mau bel masuk juga.” “Oke kak! Siap. Doa’in saja yang terbaik hehe nanti aku kabarin deh,” mengakhiri pembicaraanku dengan Kak Atha. *** Bel masuk berbunyi dan aku bergegas masuk ke kelas untuk memulai pelajaran. Pelajaran pertama diawali dengan mata pelajaran Seni Budaya, salah satu mata pelajaran Favoritku. Selesai pembelajaran seni budaya, disela waktu pergantian jam, Bu Sinta memanggil ku ke depan. “Glen. Ibu denger katanya kamu jago nari ya. Glen mau jadi perwakilan sekolah untuk lomba Tari Kreasi? Kalau Glen mau, jam istirahat Glen ke ruang seni ya untuk seleksi. Jangan lupa dibawa selendang nya ya,” terlihat bu Sinta tersenyum hangat kepadaku dan keluar dari kelas. Tentu ini adalah kesempatan emas untuk ku, aku pun menerima tawaran Bu Sinta untuk mengikuti seleksi lomba Tari Kreasi. Setelah jam pelajaran jam ketiga selesai, waktu istirahat pun tiba. Aku bersiap menuju ruang seni untuk seleksi. Setelah selesai seleksi, aku diumumkan bahwa aku terpilih sebagai salah satu
5 perwakilan sekolah lomba Tari. Aku sangat senang sekali, dan bertekad untuk memenangkan perlombaaan. *** Hari demi hari, minggu demi minggu. Ternyata aku sudah berlatih untuk lomba Tari kurang lebih selama 2 minggu. Meskipun tergolong cukup sebentar, namun rasanya sudah sangat lelah. “Haduh ka, aku cape banget hari ini. Mau nyerah saja deh rasanya, badan aku semuanya pegelpegel kak,” ucapku, mengeluh pada ka Atha. “Glen, jangan kaya begitu. Ayo semangat! Pasti bisa kok, kalau cape jangan dipaksain ya, istirahat dulu baru dilanjut.” Mendengar jawaban kak Atha, energi untuk berlatihku seketika penuh dan aku menjadi bersemangat untuk berlatih Tari. Aku menari dengan tema tarian Baduy. Menurutku, tema Baduy masih jarang digunakan sebagai tarian Tari Kreasi. Oleh karena itu, aku sangat ingin masyarakat lebih mengenal suku Baduy lewat tarian yang aku tampilkan ketika lomba nanti. Dalam tarian tersebut, aku menggambarkan bagaimana aktivitas sehari hari suku baduy yaitu menanam padi. Selain itu, suku Baduy juga masih sangat lengket akan adat istiadat-nya. Salah satunya yaitu ritual setelah menanam padi, supaya hasil panen mereka diberi kesuburan dan keberkahan oleh Tuhan. Ayam berkokok sampai matahari tertidur, aku tetap terus berlatih demi mencapai keberhasilan. Hingga sampai pada waktu di mana hari terakhir untuk aku berlatih. Ka Atha selalu ada untukku dan selalu menjadi salah satu sosok penyemangatku setiap saat. Tiba pada harinya, hari yang sangat aku takutkan sekaligus aku tunggu-tunggu. Saat aku menampilkan tarianku, aku sudah sangat merasa yakin bahwa aku sudah menampilkan yang terbaik. Namun, takdir berkata lain untukku. Aku belum bisa mendapatkan juara pada kesempatan itu. Aku benar-benar merasa kecewa pada diriku sendiri, aku sangat malu. Kak Atha tersenyum manis di barisan paling belakang, menatapku dengan mata yang berkacakaca. “Gapapa, bukan berarti kamu ga bagus. Kamu sudah bagus banget dan keren. Mungkin ada yang lebih bagus atau sesuai dengan selera jurinya. Semangat yaa, nanti saya beliin es krim supaya ga sedih.” Kata-kata Kak Atha membuatku tenang dan tersenyum, memang sosok kaka kelas yang sangat berarti bagiku. “Makasih banyak ya kak! Kamu memang selalu jadi moodbooster aku kalau aku sedih,” Ucapku dengan pipi memerah. “Iya, sama-sama. Nanti kita belajar Tari bareng-bareng ya Glen, kita harus buat masyarakat mengenal lebih dalam tentang suku Baduy. Semangat dong!” Sambil menjulurkan tangan mengepal ke arahku dan sedikit tawa manis darinya. ***
6 Mentari pagi kembali memberikan senyuman hangatnya kepadaku. Aku bangun pada pukul 08.15 WIB, dengan senyuman matahari yang sangat cerah, secerah masa depanku. Aku membuka hp-ku dan melihat pesan masuk dari Kak Atha. “Glen, sudah bangun belum?” Kak atha mengirim pesan itu pukul 06.10 WIB, tentu aku masih tertidur pulas dengan selimut hangat kesayanganku. “Sorry kak baru bales, aku baru bangun. Ada apa kak?” jawabku dengan rasa penasaran. Tidak biasanya Kak Atha mengirim pesan pada pagi hari dengan menanyakan hal itu kepadaku yang membuatku sangat penasaran. Sesaat kemudian Kak Atha membalas pesanku dengan cepat. “Ini, saya nemu poster lomba untuk pameran Seni di Alun-Alun Cilegon. Kita bisa menampilkan video Tari Baduy yang kamu pakai buat lomba, dan selendang yang kamu buat sendiri. Juga kita cari fakta unik tentang Baduy. Ada hadiah yang lumayan nih. Bagaimana? Setuju ga?” Aku sangat tertarik dengan tawaran Kak Atha. Setelah berpikir panjang, kami memutuskan untuk mengikuti pameran tersebut. Keesokan harinya, aku dan Kak Atha bertemu di rumahku untuk memikirkan konsep pameran nanti. “Bagaimana kalau kita pakai selendang Baduy kamu? kita bentuk kaya sayap burung Garuda. Kan salah satu bentuk cinta kita terhadap tanah air,” ucap Kak Atha dengan mata membulat. “Wah... Boleh itu kak, ide yang bagus. Tumben kamu mau nyumbangin ide,” dengan nada bercandaku sedikit tertawa. *** Aku dan kak Atha mempersiapkan secara matang untuk pameran ini dan memberi nama pameran kami “SAYAP PELINDUNG INDONESIA” kami tidak berharap akan menang, yang kami harapkan hanya masyarakat dapat mengenal suku dan budaya Baduy yang sudah hampir jarang orang ketahui lewat pameran Seni tersebut. Tak terasa, seminggu lagi pameran seni akan dimulai. Masalah mulai berdatangan, mulai dari banyak sekali orang yang mengejek dan merendahkan kami karena pada awal aku sempat gagal. “Sudah gagal mah gagal saja kali. Sok-sok an mau bikin masyarakat tahu tentang baduy lewat Project kamu.” Namun, ejekan dan rendahan tersebut membuatku semakin semangat untuk membuktikan kepada mereka bahwa aku bisa. 15 April telah tiba, saaatnya memulai pameran kami. Dalam pameran kami, Aku memamerkan selendang buatanku. Dengan motif batik khas Baduy, Corak yang mirip dengan tugu baja Cilegon, dan motif bunga kecil sebagai lambang Rawa Arum. Tak menyangka, ternyata selendangku disukai banyak orang, juga stand pameran kami begitu ramai dipenuhi para pecinta seni untuk melihat hasil pameran kami.
7 Tiba setelah 3 hari pameran seni dimulai. Akhirnya pengumuman pameran seni akan di umumkan pada malam hari yaitu malam minggu. Kami menunggu di barisan tengah dengan perasaan yang gelisah. “Alhamdulillah ya pameran sudah selesai, Baduy semakin dikenal masyarakat. Usaha kita berhasil Glen, kita hebat,” ucap kak Atha berusaha menenangkanku karena sebentar lagi akan diumumkan pameran terbaik. Suasana semakin ramai dan pengumuman sudah dimulai. Diawali dengan pengumuman pemenang Pensi dan tiba pada pemenang pameran. “Juara pertama pameran ter-Favorit, ter-keren & terbaik dimenangkan oleh.... PAMERAN SAYAP PELINDUNG INDONESIA!” mendengar kalimat itu, aku sangat senang dan meneteskan air mata. Akhirnya aku berhasil. Aku dan Kak Atha berhasil! Penantianku selama ini terwujud. “GLEN KITAA MENANG GLEN. KITAAAA MENAAANGGG! Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih,” teriakan Kak Atha yang sangat amat bahagia diiringi tepukan gembira orang-orang. “ALHAMDULILLAH KAK! Ini semua hasil dari usaha dan kerja keras kita. Aku bangga dan bersyukur punya teman sebaik, sesabar dan sehebat kamu,” ucapku dengan rasa bangga dan terharu. *** Akhirnya Baduy pun menjadi di kenal masyarakat. Tujuan awal aku dan Kak Atha terwujud. Banyak sekali orang yang ingin tahu dan mencari tentang Baduy dan sekarang sudah ada wisata untuk berkunjung ke suku Baduy. “Glen. Kalau kamu sedih, ingat! Ada aku yang selalu support kamu disini. Dengan dibuatnya sayap dari selendang buatan kamu, anggap saja itu salah satu bentuk kesuksesan dari hasil persahabatan kita. Saat nanti dunia kamu mulai pudar & kamu ngerasa sendiri, Saya akan menjadi sayap-sayap pelindungmu seperti sayap ini, Glen,” Dengan tersenyum hangat kepadaku dan mengusap sayap pameran kami. “Iya kak. Terima kasih banyak ya, untuk semua yang kamu kasih ke aku. Ngga ada kata yang bisa ungkapin rasa terima kasih aku buat Kak Atha.” Sedikit memerah pipiku mengucapkan kalimat itu. *** Zaman sekarang kita harus tetap menjaga dan mempertahankan keberagaman yang ada di sekitar kita maupun keberagaman seluruh Indonesia. Jika kita tidak menjaga keberagaman ini, akan habis ditelan oleh zaman. Mulai saat ini aku percaya. Bahwa, segala kesuksesan berawal dari kegagalan. Semakin kamu banyak mencoba, semakin banyak peluang kamu untuk sukses. Dengan diiringi niat, usaha & doa, kesuksesan mengikuti d belakangmu. Dari cerita persahabatan Glenca dan Atha. dapat kita simpulkan bahwa, Semua orang butuh support system dan tempat cerita untuk berpulang. Rumah bukan hanya berbentuk sebuah bangunan, namun bisa berupa sebuah jiwa yang dapat menjadi sayap pelindungmu.
8
9 CULTURAL DIVERSITY YOUTH Marissa Pariwara 9C Dia Askara, seorang lelaki yang sangat teramat jatuh cinta akan Keberagaman dan Budaya Nusantara. Saking jatuh cintanya Askara dengan Keberagaman dan Budaya Nusantara, ia bercitacita ingin membuat event bersama teman temannya tentang Keberagaman dan Budaya Nusantara, tepatnya di Yogyakarta. Ya, Yogyakarta karna disini lah ia dilahirkan, di kota yang memiliki salah satu dari tujuh keajaiban dunia ( Candi Borobudur ). *** Terlihat matahari yang mulai tenggelam, burung-burung yang mulai berterbangan kembali mencari sarangnya, pasang ombak yang semakin menaik, dan terdengar deruan ombak yang menerjang pesisir pantai. Di situ lah Askara, di pesisir pantai seorang diri sedang melamun. Entah apa yang dipikirnya, tak lama teman-teman Askara tiba menemui Askara. “Eh, kamu kenapa melamun mulu sih Ska??” tanya Bagas, “Gapapa, aku kepikiran aja sama masyarakat yang ga sadar kalo Keberagaman dan Budaya Nusantara ini udah mulai luntur, padahal Keberagaman dan Budaya Nusantara ini sangat berperan sekali dalam kehidupan sehari-hari,” jawab Askara. “Sama Ska aku juga mikir gitu,” timbal Monica. “Aku punya cita-cita tau, aku pengen banget bikin event tentang Keberagaman dan Budaya Indonesia. Gimana kalo kita adain tuh event ??” ucap Askara kepada teman-temannya. “Tapi gimana coba kita bikinnya? dananya dari mana coba?” timbal Adrian, “Gatau deh,” jawab Agnia. “Eh gimana kalo kita tampil aja gitu di pinggiran Jalan Braga??” usul Hana, “Kan lumayan kalo ada yang ngasih saweran, hahaha,” timbal Hana lagi “Bwolehhhhh,” jawab Monica. “Cabut lah, udah malem,” ucap Bagas. “Iya aku juga mau cabut, gimana kalau besok kita bahas aja di alun-alun,” ucap Askara. “Oke,” ucap teman-teman Askara serempak. Lalu Askara bersama teman-temannya pulang ke rumah masing-masing karena langit sudah mulai gelap dan bulan mulai menyinari kota tersebut. ***
10 Di malam hari, Askara kembali memikirkan rencananya tentang event itu. Ia berencana akan mengadakan event keberagaman tentang tarian dari berbagai daerah, makanan dari berbagai daerah, serta alat musik dari berbagai daerah. Keesokan harinya, pada hari Selasa di sore hari Askara dan teman-temannya pun berkumpul di alun-alun. “Guys, jadi gini kita kan rencananya mau bikin event, gue punya usulan nanti di event itu rencananya gue mau adain tarian daerah, makanan khas daerah, alat musik khas daerah, menurut kamu pada gimana?” ucap Askara. “Setujuuu,” jawab semua temannya serentak. “Oke, sekarang kita diskusi gimana caranya kita ngumpulin dana nya,” ucap Askara. “Jadi gini kan si Agnia sama Adrian kan pinter nari, lo berdua nari tuh, si Bagas main alat musik, sedangkan gue masak makanan daerah,” ucap Hana. “Gas kamu bisa main alat musik kan?” tanya Hana. “Bisa beberapa,” jawab Bagas. “Lo berdua bisa Nari kan?” tanya Hana pada Agnia dan Adrian. “bisaa,” jawab Adrian dan Agnia bersamaan. “Terus gue sama Monica ngapain?” tanya Askara. “Mon lo kan anak tiktok abiezz, nah lo bantu promosiin aja di akun tiktok lo, gimana?” ucap Hana. “SIAPPP,” jawab Monica. “Nah kalo Askara jadi MC aja gimana?” ucap Hana. “Jadi MC? Boleh juga,” jawab Askara. “Oke fix gitu ya,” ujar Hana. “Jadi kapan kita mulainya?” tanya Bagas. “Hari Rabu sorenya aja, dari siang sampai malam,” ujar Monica. “Boleh juga tuh,” jawab Askara. *** Pada Rabu siangnya mereka sudah Bersiap untuk memulai penampilan mereka. “Eh ini udah beres semua kan?” tanya Askara. “Udah kok tenang,” jawab Monica. “Btw di akun tiktok gue pada komen mau datang ramein penampilan kita hehe,” ujar Monica kembali. “Haha, bagus deh kalo mau pada datang,” jawab Hana. “check sound dulu kali ska,” ucap Bagas. “Oke kita check sound ya,” jawab Askara. Saat sudah beres semuanya mereka memulai dengan pembukaan dan menyampaikan tujuan mereka kepada penonton yang sudah hadir menonton, ingin mengumpulkan dana untuk membuat event keberagaman dan budaya Indonesia. Pernyataan tersebut di tanggapi rasa bangga oleh para penonton karna mereka para anak muda yang masih ingat dengan keberagaman negaranya dan berusaha untuk melestarikannya. “Saya
11 Askara, sebagai MC. Berikut penampilan dari teman saya Bagas yang akan bermain alat musik tradisional, sembari diiringi tarian yang di tampilkan oleh Agnia dan Adrian,” ucap Askara. Bagas, Agnia dan Adrian memulai penampilannya dangan Tarian Merak yang diiringi alat musik Gamelan Sunda (berasal dari jawa barat), dilanjut penampilan Tari Gelombang yang diiringi alat musik talempong (berasal dari Minangkabau, Sumatra barat), lalu Tarian Lenso yang diiringi alat musik Ukulele (berasal dari Maluku). Sesudah menampilkan seluruh Alat musik dan Tarian tradisional mereka menyudahi penampilannya dan mereka membereskan semua barang mereka karna saat ini hari sudah gelap dan bulan pun telah menyinari langit dengan terang benderang. Sesudah semuanya selesai dibereskan mereka kembali kerumah masing–masing. Sinar mentari mulai masuk ke dalam kamar Askara, Sang empu yang di sinari oleh Mentari pun menggeliat lalu perlahan membuka matanya. Terdengar suara notifikasi dari hp Askara, ternyata itu berasal dari Group Chat Askara Bersama teman–temannya. Mereka sedang berdiskusi mengenai jadwal pengumpulan dana esok hari, yaitu dengan menjual makanan khas daerah di acara car free day esok hari. Askara beranjak dari tempat tidurnya lalu ia bersiap untuk menemui teman–temannya di Café, setelah tiba di Café. “Eh maaf gue telat,” ucap Askara setibanya ia di Café. “Santai aja kali, kaya sama siapa aja,” jawab Andrian. “Eh, ini jadinya besok mau jual makanan apa aja?” tanya Monica. “Rencananya sih aku mau bikin Rendang, Empek-empek, Lumpia goreng, Risol mayo, Gudeg, terus minumnya Cendol aja deh,” jawab Hana. “Oke kita sekarang otw beli bahan bahannya ya,” ucap Bagas. Lalu mereka berangkat untuk membeli bahan untuk membuat makanan serta minuman yang akan mereka jual esok hari. Setelah selesai membeli bahan-bahan mereka pergi menuju rumah Hana, sesampainya di rumah Hana mereka mulai mengolah bahan-bahan yang sudah mereka beli. “Eh ini gue ngapain Han,” tanya Askara. “Kamu peras santan aja tuh sama Bagas, terus lo Andrian lo kupas bawang,” ujar Hana. “Mon kamu potongin daging ya, terus lo Agnes giling cabe ya,” ucap Hana kembali. Sedangkan Askara ia membantu Hana membuat Empek-empek, mereka semua sibuk dengan kegiatan masing-
12 masing. Tak terasa hari sudah gelap mereka pun pulang untuk beristirahat untuk menjalani kegiatan keesokan harinya. *** Saat ini mereka sudah siap dengan dagangannya, banyak orang yang mampir di tenda mereka, walaupun hanya sekedar bertanya bahkan membeli. Tak jarang orang yang mampir di tenda mereka itu mendapatkan informasi dari akun tiktok Monica. “omg ka Monicaa, aku kesini karna ngiler mau nyobain jualan ka Monica sama temen-temennya,” ucap salah satu pengunjung tenda mereka. “Ih kalian kreatif banget, masih muda tapi bisa seperti ini,” ucap pengunjung lain. Dan masih banyak lagi pujian dari pengunjung Car Free Day hari itu. Tak terasa dagangan mereka habis tak tersisa. Seminggu kemudian mereka berhasil mendapatkan dana untuk membuat event Keberagaman dan Budaya Nusantara mereka Bersama UMKM sekitar. Beberapa hari setelahnya mereka mulai Latihan mempersiapkan penampilan mereka. Setelah berminggu-minggu latihan, sekarang telah tiba hari untuk mereka memulai event tersebut. Banyak orang yang datang menghadiri event tersebut. *** Tidak sia-sia perjuangan mereka membuat event tersebut mulai dari berangan-angan membuat event Bersama teman-teman, tampil di pinggir jalan, berjualan di, dan tiba lah di saat ini. Saat yang paling di tunggu-tunggu mulainya event Keberagaman dan Budaya Nusantara, yang diikuti serta oleh UMKM sekitar. Karena ketangguhan, pantang menyerah dan kekompakkan mereka bersama, berhasil meraih apa yang mereka inginkan. Sekarang yang mereka harapkan adalah, semoga masyarakat yang ikut menghadiri dan memeriahkan event tersebut bisa terinspirasi untuk tetap selalu melestarikan Keberagaman dan Budaya Nusantara INDONESIA. “ manusia memang tidak sempurna tapi, bukan berarti kamu enggan untuk berusaha ”
13
14 SERPIHAN PEDANG Belva cantika P. H Para burung berkicauan, ayam berkokok dengan suaranya yang begitu lantang, matahari memamerkan keindahan sinarnya. Aku pun mulai terbangun dari ranjangku karena cahaya matahari yang menyilaukan, pertanda aku harus memulai hari baru. Dengan rasa terpaksa, aku bangkit dari ranjangku, aku mencoba untuk membuka mataku. Kaki malasku menyeret keluar kamar, mataku masih terasa sangat berat. Aku mencoba untuk melawan rasa malasku. “Bu, Alora pergi sekolah dulu ya,” ucapku tersenyum sambil menyalimi tangan harum Ibu. “Iya, Nak, Semangat belajarnya ya anakku, hati-hati di jalan,” jawab Ibu sambil mengusap pucuk kepalaku dengan lembut. Aku hanya tinggal berdua dengan Ibu, kami tinggal di sebuah pedesaan yang jauh dari kota. Tempat yang kami tinggali masih benar-benar asri. Suasana desa yang dipenuhi dengan sawah, air yang masih murni dari pegunungan, membuat kami benar-benar nyaman menempatinya. *** “Dor! Ngapain sih sendirian aja,” kejut Ashana, entah darimana manusia itu tiba tiba muncul di hadapanku. “Ih apaan sih kamu! Tiba tiba ngagetin gitu, liat nih catatan aku jadi kecoret gara gara kamu!” kesalku karena Ashana mengejutkanku. “Hehe maaf ya, Alora. Eh by the way kamu tau gak sih nanti di desa kita bakal ngadain acara pertunjukkan kebudayaan loh,” seru Ashana. “Masa sih?! Kapan acaranya bakal diadain? Kayaknya bakal seru banget deh,” ucapku dengan antusias. “Hmm… kurang tau deh aku, katanya sih baru rencana.” Bisa dibilang Alora ini pecinta keanekaragaman yang ada di Indonesia, termasuk seni bela diri. Mungkin karena Ayahnya adalah seorang guru pencak silat di desa kala itu. Karena itulah Alora jadi tertarik untuk mempelajari seni bela diri, yaitu pencak silat. Sedari kecil, Alora sudah diajarkan oleh ayahnya mengenai pencak silat. Katanya, jika nanti Alora sudah tumbuh semakin dewasa dia akan selalu tetap ingat dengan ilmu seni bela diri, dan
15 juga jika orang-orang perlahan mulai melupakan keberagaman yang ada di Indonesia, Alora lah yang akan menjadi salah satu orang yang kembali melestarikan kebudayaan Indonesia. Namun, Alora sendiri terkadang tidak percaya diri dengan bakatnya sendiri, karena ia berpikir bahwa pencak silat tidak akan cocok jika dilakukan oleh perempuan. Padahal kenyataannya, akan sangat keren jika perempuan berani mempelajari seni bela diri. Nares berlari memasuki ruang kelas, “Eh, kalian tau gak sih malam ini bakal ada pertunjukkan kebudayaan di desa kita loh.”Oh, ternyata capek-capek lari cuma mau ngasih tahu kayak gini toh. “Yah, telat banget. Kita udah bahas daritadi kali,” jawab Ashana dengan muka meledeknya itu. “Serius pertunjukkannya bakal diadain malam ini?” saking semangatnya, aku reflek memukul meja sehingga semua orang yang berada di kelas menengok ke arahku. “Iya, ayahku kan panitia acaranya,” jelas Nares. “Asik! Nanti kita nonton bareng-bareng ya.” “Ayo!” ucap Ashana dan Nares serentak. *** Langit menunjukkan warna gelapnya, angin malam yang sejuk mulai berhembusan. Suasana malam yang ramai memenuhi balai desa, semua orang pada malam itu sangat menikmati pertunjukkan kebudayaan yang sedang berlangsung. Mulai dari pertunjukkan wayang kulit, tari tradisional, alat musik tradisional, dan yang paling ditunggu-tunggu oleh Alora adalah pertunjukkan bela diri, yaitu pencak silat. Mata Alora mulai berbinar menyaksikan acara pada malam itu, Alora menarik senyuman manis dibibirnya, dia benar-benar menikmati acara pertunjukkan kebudayaan itu. Biasanya, setiap tahun di desaku rutin mengadakan pertunjukkan kebudayaan, guna supaya orang-orang tidak akan mengasingkan seni yang ada di Indonesia. Alora benar-benar takjub dengan pencak silat. Jika ia diberi pilihan antara menghabiskan waktunya untuk mempelajari pencak silat atau menghabiskan waktunya untuk bermain, jelas Alora akan memilih menghabiskan waktunya untuk mempelajari pencak silat. Jujur saja, Alora sendiri lebih tertarik untuk mempelajari keberagaman seni yang ada di Indonesia daripada menghabiskan banyak sekali waktu untuk terus-terusan bermain. *** And there’s a place that I’ve dreamed of Where I can free my mind
16 I hear the sounds of the season And lose all sense of time. Alunan suara musik berjudul Coastline menemani sunyinya ruang, Bandung yang sedang mengalami musim hujan membuat seorang gadis menggulung tubuhnya di dalam balutan selimut tebal. Tok Tok Tok! Suara ketukan pintu membuat Alora mematikan musik yang sedang diputar. “Nak, Ibu boleh masuk kamar ngga ya?” tanya Ibu dari balik pintu. “Iya Bu, Masuk aja! Pintunya ngga aku kunci kok,” teriakku dari dalam kamar. Dengan segera Ibu masuk ke dalam kamarku, lalu duduk di tepian ranjang, aku membenarkan posisiku menjadi duduk. “Alora, kamu ingat kan pesan dari ayah?” “Iya, Bu. Aku ingat.” “Jadi gini, tadi Pak RT sempat ngajak Ibu ngobrol, katanya di desa kita lagi butuh orang untuk mengikuti lomba pencak silat antar Kabupaten, kira kira kalau kamu yang ditunjuk untuk jadi perwakilan, kamu bersedia ngga? Ini kesempatan kamu untuk wujudin keinginan ayah.” Ibu tersenyum, tangan hangatnya mengelus jemari-jemariku. Aku tampak berpikir sejenak, “Hmm… gimana ya bu, aku sebenernya agak ragu.” “Ragu kenapa, Sayang? Ragu karena omongan orang-orang di luar sana?” Aku mengangguk pelan. “Nak, kamu gak perlu peduliin kata-kata orang di luar sana, mereka cuma mau buat kamu jatuh saja. Toh, niat kamu juga baik kan untuk melestarikan kembali budaya yang ada di Indonesia. Ada Ibu yang bakal selalu dukung kamu disini, Ayah pasti bakal bangga kalo kamu mau mencoba.” “Iya, Bu. Aku coba ya,” jawabku mencoba untuk meyakini diriku sendiri. Ibu tersenyum lalu mendekapku kedalam pelukannya, “Hebatnya anak Ibu.” 3 tahun lalu, Ayah menitip pesan padaku, “Nak Alora, kamu mau kan bikin Ayah bangga? Nanti kalau Alora sudah besar, jangan lupain ilmu yang sudah pernah Ayah ajarkan ya. Kalau bisa nanti kamu tunjukkan ke semua orang bahwa kamu bisa melakukan seperti apa yang Ayah lakukan,” tangan lemahnya mulai mengusap rambutku. “Pasti, Yah! Pasti Alora bakal buat Ayah bangga,” jawabku dengan penuh keyakinan.
17 Ayah terserang penyakit AIDS, yang mengharuskan Ayah dilarikan ke rumah sakit. Itu pesan terakhir dari Ayah untukku sebelum Ayah meninggalkan aku dan Ibu, untuk selamanya. Dulu, aku sempat mengikuti lomba pencak silat antar sekolah, namun gagal. Mungkin karena saat itu persiapanku belum cukup matang, saat itu juga orang-orang mulai mengejekku karena aku gagal untuk mengharumkan nama sekolah, dan juga nama diriku sendiri. “Liat deh Alora udah tau cupu, masih aja sok-sok an mau ikut lomba pencak silat.” “Haha iya, pede banget deh dia ikut begituan.” Cibiran orang-orang saat itu membuatku benar-benar merasa terjatuh, merasa bahwa aku tidak akan bisa mendapatkan juara di bidang yang aku sukai. Namun, kali ini aku akan bangkit dengan semangat baru, aku akan menunjukkan kepada orangorang bahwa aku pasti bisa. Aku akan membuat Ayah, Ibu, dan aku bangga. *** Waktu perlombaan masih sekitar 2 bulan, yang artinya aku masih punya banyak cukup waktu untuk terus berlatih. Kini, aku berguru dengan teman Ayah. Waktu demi waktu aku lewati, tenaga demi tenaga aku habisi, sampai pada akhirnya waktu perlombaan pun akan segera dimulai. Aku telah tiba di area perlombaan. Aku tidak sendiri, orang-orang yang benar-benar mendukungku dari awal, menemani perjuanganku dari awal mereka akan menyaksikan aku berlomba. Ashana, Nares, Ibu, dan juga Ayah yang menemaniku dari jauh, mereka benar-benar menemaniku. Ternyata tidak semudah yang aku kira, awal melihat lawannya saja nyaliku hampir menciut. Tetapi aku yakin, pasti perjuanganku selama ini akan segera terbayarkan. Sekarang adalah giliranku, sekarang aku mengenakan baju hitamku kembali, dan kembali berdiri diatas matras berwarna hijau. Aku berhadap-hadapan dengan lawanku, bertatapan dengan lawanku, sekarang waktunya aku menunjukkan bahwa aku dapat mewujudkan mimpiku. Babak demi babak sudah aku lewati, aku merasa bahwa aku melakukannya dengan jauh lebih baik. Sekarang, aku hanya perlu menunggu pengumuman perebutan antara juara 1, juara 2, dan juara 3. *** Hari semakin petang, langit berubah menjadi warna oranye, sekarang tibalah di penghujung acara, pengumuman juara pun dimulai. Seketika badanku panas-dingin.
18 Pembawa acara menaikki tangga panggung, berdiri diantara banyaknya orang, kertas dan mic sudah siap dikedua tangannya, “Baik, karena hari semakin sore, langsung saja kita pengumuman juara.” Aku menggenggam tangan Ashana, dan Ibu kuat-kuat, berharap kali ini akulah yang menjadi pemenangnya. “Juara ketiga diraih oleh… Arsenio Bagas!” “Juara kedua diraih oleh… Pradana Raditya!” Genggaman tanganku mulai melemas, harapanku sudah hancur karena aku berpikir bahwa aku tidak akan mendapatkan juara. Pembawa acara terlihat memberi jeda “Dan juara pertama diraih oleh….. Alora Abinaya!” Semua orang terlihat bertepuk tangan kearahku, air mata mulai membasahi kedua pipiku, aku menarik Ibu kedalam dekapanku. “Selamat ya, Nak, Ibu bangga banget sama kamu, pasti ayah juga ngerasain hal yang sama kayak ibu.” “Ayah, lihat. Kali ini aku berhasil,” ucap Alora dalam hatinya, andai ayah melihat perjuangannya kali ini, melihatnya berhasil kali ini. Ia sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang selalu mendukung setiap perjalanan Alora. Ia juga berterima kasih kepada dirinya sendiri karena pada akhirnya Alora tidak pernah berhenti untuk mencoba. Pada akhirnya, yang namanya perjuangan tidak akan sia-sia, aku berhasil menunjukkan kepada semua orang bahwa aku bisa melakukannya, aku berhasil membuat Ayah dan Ibu bangga, aku berhasil mewujudkan keinginan Ayah. Dan inilah Perjuanganku.
19
20 KOIN HARAPAN LULU PUTRI MASCANTIKA Z Tengah malam hari, lampu rumah sudah mati. Jalanan komplek pun sudah sangat amat sepi. Aku pun merenung kesepian, aku sangat rindu kepada nenek ku yang sangat jauh dengan ku saat ini. Ingin sekali rasanya untuk bertemu dengannya, namun ekonomi keluarga ku sangat tidak mendukung yang mengharuskan aku untuk tidak bisa menemuinya 3 tahun belakangan ini. *** Matahari yang mulai menyinari setengah isi bumi, dengan cahayanya yang menusuk mataku melalui celah celah jendela kamar ku. Suara berderingnya yang berasal dari hp ku yang membuat ku terbangun dari mimpi indah ku. Selang beberapa menit setelah aku membuka mata aku baru ingat kalau aku punya janji dengan sahabat ku. Secara tiba tiba bunda ku memanggil ku dari bawah depan pintu rumah ku. “Nesaa… Ini ada Anggi dibawah cepet turun,” teriak bunda. Aku yang mendengar suara bunda pun langsung bergegas untuk turun dan menjumpai anggi, aku turun melalui tangga dengan cepat karna ini sudah terlambat dengan perjanjian jam yang kita sepakati kemarin malam. “EHHH….. Anggiiiiii hehehe,” ledeknya karna dia tau Anggi akan kesal dengannya. “Berisik lo, udah buruan siap siap katanya mau jalan pagi,” jawab Anggi. “SIAPP BOSHH, tunggu bentar yaa hehehe,” jawab Nesa. Nesa dan Anggi sudah berteman sejak mereka SD sampai dengan SMA kelas 3 sekarang. Jadi Anggi sudah tau sekali karakter Nesa seperti apa dan sebaliknya pun gitu Nesa pun tau karakter Anggi seperti apa. Mereka seperti lem yang sudah mereka tidak bisa lagi dipisahkan. Setelah Nesa selesai bersiap siap, mereka pun langsung pergi untuk jalan pagi bersama. “Yuu gi udah nii gue, gak lama kan hehehe,” ucap Nesa. “Iyaa gak lama cuma setengah jam aja yakan,” kesal Anggi. “Hehehe, yaudah bentar ya gue pamit ke bunda dulu,” jelas Nesa. Anggi pun meng iyakan apa kata Nesa dan dia menunggu Nesa untuk pamit kepada bundanya. “Bun.. Aku pergi dulu ya sama Anggi mau jalan jalan didepan saja,” ucap Anggi kepada bundanya. “Iyaa kaa…. Hati hati ya,” jawab bunda.
21 “Okee bun, Assalamualaikum..” “Waalaikumsalam kak,” jawab bunda. Nesa dan Anggi pun pergi meninggalan rumah sederhana berwarna coklat itu dan jalan menuju komplek yang ada didepan rumah Nesa. Kebetulan Nesa tinggal dipertengahan kota Bandung, jalanan yang sangat basah karna terguyur hujan kemarin malam udara yang seketika menjadi sejuk dan tercium aroma tanah. Aku senang sekali jika jalan kaki pagi pagi seperti ini rasanya seperti hati dan pikiran ku tenang perlahan lahan dan ditemani oleh Anggi, dia sudah seperti teman seperjuangan ku. *** Setelah berjalan jalan mengelilingi kota bandung selama 1 jam, aku dan Anggi sangat lapar sekali lalu kita melihat dipinggir jalan terdapat gerobak berwarna biru yang menjual bubur ayam lalu aku dan Anggi menghampiri penjual bubur itu untuk makan. “Mang mau buburnya 2 ya campur pedes, makan sini mang,” jelas Nesa kepada tukang bubur itu. “Siap neng, sebentar saya buatkan dulu” jawab tukang bubur. Nesa dan Anggi pun mengambil tempat duduk yang berada dibelakang gerobak bubur itu. “Sini aja gi.” “Iya,” jawab Anggi. Setelah mereka menunggu sekitar 2 menit bubur itu pun datang. “Ini ya neng bubur nya.” “Oh iyaa mang, makasih,” jawab Nesa. Disela-sela ketika mereka sedang memakan bubur itu, Nesa masih memikirkan bagaimana caranya untuk bertemu nenek nya yang sangat jauh dengan rumahnya yang sekarang. Dia memikirkan nya dengan keadaan melamun sambal mengaduk aduk buburnya sampai sampai Anggi yang ingin mengobrol dengan nya sama sekali tidak di respon. “Nes.” “Nesss.” “Woii NESAAAA,” Anggi pun memanggil Nesa dengan suara yang cukup besar. “Hih apasi lo berisik banget teriak teriak.” jawab Nesa. “Ya lagian lo gajelas banget diem mulu dipanggilin, lo kenapa sih cerita sama gue nes gausah ada yang disembunyiin kaya siapa aja lo mah, lo kenapaa?” Tanya Anggi “Gue kangen nenek gue gi,” jawab Nesa.
22 “Oalaa, yaudah lo samperin aja mau gue temenin?” “Tapi kan lo tau gi keadaan ekonomi keluarga gue gimana, gacukup gi ongkos nya buat gue kesana, ayah gue juga yang bilang nya pergi buat kerja dibandung tapi pas bunda sama gue nyusul kesini cuma buat nemuin dia, dia kemana gi?? Dia malah pergi ninggalin gue sama bunda dan sekarang bunda gue single parents,” jawab Nesa. “Iyaa Ness.. gue paham, tapi lo jangan mikir lo sendirian lo masi punya gue kalau lo lupa nes, kita cari solusinya bareng bareng ya,” jelas Anggi. “Makasih gi.” Anggi pun menghampiri Nesa dan langsung memeluk nya karna dia tau kalau sahabat nya ini bukan sekali dua kali kesusahan hanya untuk bertemu nenek nya saja, Anggi sangat khawatir dengan kondisi mental Nesa. Dia pun ikut memikirkan solusi untuk masalah ekonomi ini, dia tidak bisa membantu Nesa dikarnakan ekonomi dia juga yang sangat pas untuk makan dan minum keluarga nya, adik adik Anggi sangat lah banyak dan orang tua nya hanya mempunyai ruko kecil kecilan. Setelah merenung untuk memikirkan apa yang harus dilalukan ia langsung memberi tau Nesa. “AHAAA, gue tau harus bagaimana,” ucap Anggi. “Gimanaa?” “Lo lupa kalau kita masih punya tabungan?” jawab Anggi. “Tapikan tabungan itu buat masadepan kita nanti gi, gue gamau make uang itu gi,” jawab Nesa. “Nes, uang itu bisa dicari nes, tapi kalau buat ketemu sama nenek lo itu harus secepatnya karna umur itu gaada yang tau nes, umur nenek lo udah ga semuda kita nes, jadi kita pake uang ini ya,” jelas Anggi. Nesa yang mendengar nya pun mengeluarkan air mata yang sangat deras dan berbicara sesuatu kepada Anggi. “Gi.. gue makasih banyak sama lo, lo udah mau relain tabungan kita yang seharusnya buat kepentingan bersama malah ini buat kepentingan gue doang, maaf ya gi gue nyusahin lo,” jawab Nesa. “Apasih nes, gapapa loh yang penting lo bahagia gue juga bahagia, inget nes kita tuh udah temenan 12 tahun lo udah gue anggep kaya keluarga gue sendiri nes, jangan mikir lo sendirian atau ga enak sama gue ya,” jawab Anggi. “Gi makasih banyak banyak gi, I love you,” Nesa pun langsung memeluk Anggi dengan pelukan hangat nya itu. Persahabatan mereka menang sangat hangat sekali, memang ada yang tidak iri dengan persahabatan mereka ini? Persahabatan yang sangat diimpikan banyak orang persahabatan yang
23 satu sama lainnya mendukung tidak ada pertengkaran karna hal sepele, dan tidak ada keegoisan diantara sifat mereka. “Udah ayo pulang lo kemasin barang barang lo besok kita berangkat,” jelas Anggi “Yaudah ayo, bentar gue bayar dulu,” jawab Anggi. *** Pagi yang saat ini selalu Nesa tunggu tunggu akhirnya datang, dengan senyum manis nya yang sudah merekat dalam bibirnya, dari semalam ia selalu membayangkan wajah nenek yang sangat ia rindukan itu dia benar benar merindukannya. Nesa pun berpamitan kepada bunda nya karna Anggi sudah menunggu didepan rumahnya. “Bun Nesa pergi dulu ya, bunda baik baik disini ya,” ucap Nesa sambil memeluk bundanya. “Iya sayang kamu juga baik baik ya dirumah nenek, salamin ke nenek dari bunda ya sayang,” jawab bunda sambil mengelus kepala anak nya. “Iya bun pasti aku salamin, maaf ya bun aku ga ngajak bunda buat kerumah nenek karna emang uang nya gacukup buat pulang pergi kita bertiga,” Nesa pun melepas pelukannya. “Iya gapapa nak, yang penting kamu ketemu nenek aja mamah udah senang banget,”jawab bunda. “Yaudah ya bun Nesa berangkat dulu ya, Assalamualaikum..” “Waalaikumsalam..” *** Setelah perjalanan naik kereta selama 6 jam akhirnya mereka tiba didesa ciwarna, mereka langsung menghampiri rumah nenek Nesa. Sesampainya mereka disana nenek Nesa sedang berdiam diri didepan rumah nya sambal melamun ketika Nesa datang dan melihat nenek nya ia langsung teriak memanggil nenek nya. “NENEKKKKKK,” panggil Nesa. “EH NESAAAA,” nenek langsung menghampiri Nesa dan memeluk nya. “Nenek kangen banget sama kamu Nesa,” ucap nenek. “Nesa juga kangen banget sama nenek.” “Yaudah ayo masuk ajak temen kamu juga,” jawab nenek. “ayo gi masuk.”
24 Nesa sangat senang sekali akhirnya yang ia impi impikan untuk bertemu neneknya pun terwujud, dia sangat berterimakasih sekali kepada Anggi yang sudah ada saat dia susah maupun senang yang sudah mau merelakan hasil yang harus nya dipakai untuk bersama tapi hanya dipakai untuk kepentingan Nesa saja. Nesa sangat bersyukur kepada Allah yang sudah mempertemukan anggi dengannya. Siapa yang tidak iri dengan pertemanan yang sangat harmonis ini?, memang ada yang tidak mau mempunyai lingkaran pertemanan sehangat ini?, Jikalau Nesa tidak baik juga kepada anggi, anggi tidak akan rela untuk merelakan tabungan bersama itu. Mereka sama sama diuntungkan satu sama lain mereka anak yang baik mau berusaha dan rajin menabung dan tidak pernah mengeluh. Pertemanan mereka ini sangat layak dan patut untuk ditiru. -im very proud of you….-
25
26 SAHABATKU DULU Azzalea Nasywa 9C Terangnya sang surya telah memasuki arah jendela kamarku. “Nak ayo bangun.” sang ayah yang teriak kepadaku dari arah mobil, aku yang terkaget mendengar teriakan ayah segera bersiap menuju kamar mandi. Setelah itu aku dan ayah segera bergegas pergi ke Yogyakarta. Sesampainya di sana pada malam hari, aku pun pergi ke salah satu acara festival adat daerah. Di sana aku berkenalan dengan banyak orang salah satunya Liona, banyaknya pertunjukan adat daerah dan makanan makanannya membuatku merasa tersadar dengan banyaknya keberagaman yang ada di Indonesia ini. Saat itu aku sedang mengobrol dengan Liona. “Kenapa ya, kadang sebagian teman-temanku selalu menjelekkan adat daerah lain? Padahal kan semuanya bagus!!” ucapku. “Aku juga gak tau kenapa orang-orang pada membandingkan, APALAGI SI CELINE TUH,” ucap Liona. “Memang dia kenapa??” kata aku. “Dia sangat tidak suka adat daerah sini, pokoknya dia sudah kaya orang rantau, intinya gue bakalan bikin dia suka lagi sama adat budaya nya,” ucap Liona dengan nada tegasnya. “Owalah aku pikir kenapa Na, ya udah Aku bantu juga ya,” jawabku. Kemudian, setelah acara itu selesai. Aku segera pulang dan memasuki kamar, sesampainya di dalam kamar isi kepala ku terus menerus bertanya tanya “Celine? Siapa dia?” Harusnya tadi saat di festival, aku menanyakannya kepada Liona. Ketika tidur aku selalu memikirkan saat di festival tadi, memang apa salahnya jika aku suka semua adat daerah? Toh bukannya malah bagus ya. Akhirnya aku tertidur dan terbangun pada keesokan harinya. *** Aku bermain bersama Liona pada pagi hari sampai siang sehingga sekujur badanku dipenuhi keringat, kita memutari kota Yogyakarta sehabis makan gudeg. Sekiranya udah beres kita melanjutkan dengan kegiatan olahraga di pagi ini sembari mengobrol dengan Liona “Hey Liona, Celine itu siapa si? aku lupa bertanya kemaren,” ucap aku.
27 “Ooh celine, dia itu teman masa kecilku, tetapi semenjak nya ada masalah antara kita, dia memutuskan untuk pergi merantau ke luar kota dan semenjak dia yang balik lagi kesini entah kenapa aku merasa dia jadi suka membedakan daerah daerah lain? Apakah mungkin itu pengaruh teman temannya, aku tidak tau. Padahal kita dulu sangat suka pergi ke festival-festival adat daerah pada malam hari,” ucap Liona. “Ah begitu rupanya, berarti misiku kali ini bakalan membantumu berbaikan kepada Celine dan membuat dia menyukai kembali semua adat daerah yang ada di Indonesia ini,” ujar aku. *** Sehabis berolahraga aku pergi ke tempat acara yang akan kudatangi nanti malam, sesampainya di sana aku menyadari kalo aku melihat Celine dan aku berkata kepada Liona. “Eh itu Celine bukan sih? Yang tadi aku tanya,” ucap aku yang terdiam sejenak. “OH IYA ITU CELINE TEMAN KECILKU YANG KUCERITAKAN KEPADAMU,” ucap Liona dengan muka yang sedikit kusut. Pikiranku bertanya kenapa dia ada disini? Bukannya dia katanya tidak suka kepada adat-adat daerah sini ya. Liona yang menyadari bahwa aku sedang melongo kebingungan lalu bertanya. “Woy kamu kenapa? Kalo diem aja nanti lalat masuk mulut loh,” ucap Liona. “Eh gapapa ko tadi aku cuma lagi bingung aja.” “Oh yaudah aku kira kamu kenapa, kalo ada yang ingin kamu tanyain ke aku, tanya aja yaa.” “Oke deh.” Karna Liona adalah salah satu panitia acara tersebut jadi kita pisah sejenak soalnya dia lagi ikut menyiapi acara itu juga, sembari menunggu Liona aku memutari festival dan melihat lihat di sana, tetapi yang aku bingungkan sedang apa Celine ada di belakang panggung? Waduh apakah dia bakalan ngerusakin acaranya? Aku yang berpikiran tidak enak segera menegur Celine. “Hey Celine sedang apa kamu di sini? Bukannya katamu kamu tidak suka jika datang ke tempat seperti ini,” ucap aku. “Eh, aku di sini kan Cuma buat muter-muter aja kok, lagian apa salahnya jika aku melihat lihat persiapan di sini juga? Kan tidak ada yang melarang toh,” ucap Celine. “Tapi kan ini baru persiapan Cel? Pertunjukannya nanti malem, lagi pula kamu kan gaada urusannya di sini jika dateng pas persiapan,” ucapku dengan nada kesal.
28 “Hmm yaudah aku juga bakalan pulang kok ini,” ucap Celine sembari lari menuju arah rumahnya. Setelah Celine pulang dilanjut dengan Liona yang menghampiriku dengan menepok bahuku “Ayo pulang?” tanya Liona. “Eh Liona, rupanya kau sudah beres. Ayo pulang,” mereka pun segera menuju rumah. *** Sesampainya mereka dirumah pada sore hari, aku pun segera berpisah sama Liona dan berkata. “Na nanti malem jemput aku ya, sekalian mau ikut ke festival yang tadi itu lohh.” “Ooh okee, nanti aku kabarin kamu ya pas mau jemput,” jawab Liona. Ketika aku berada di rumah, keadaan sudah sore hari, aku pun membersihkan diri dan menunggu Liona menjemput aku. Senja pun tiba, karna keadaan yang rada begitu mendung Liona pun berinisiatif untuk segera menjemput aku dan pergi ke acara nya. *** Di acara pertunjukan aku dan Liona duduk bersebelahan sambil menikmati makanan yang kita beli. “Eh diliat liat keren juga itu Celine ikut nonton kesini,” ucap aku. “Setidaknya hebat juga ya dia udah mau mulai mengeksplor hal-hal lain lagi kan?” ucap Liona. “Hampir saja kemaren aku berpikiran buruk kepada dia.” “Memang ada apa?” tanya Liona. “Itu tadi siang masa Celine pas persiapan dia kebelakang panggung, kan aku mikirnya dia punya niat buruk disini,” jawab aku. Karna kebetulan kita sedang disana kita segera menghampiri Celine, karna memang niat kita ingin berbaikan dengan Celine bukan? “Woy cel sini gabung kita,” teriak Liona. Celine yang merasa bingung pun segera menjawab pertanyaan itu, “Huh gabung kalian? Aku sebenernya pengen sih tapi nanti ya.”
29 Liona yang mendengar jawaban Celine pun kebingungan, “Celine itu sebenernya kenapa sih? Gajelas banget duh,” tanya Liona. “Mungkin dia berpikir kita aneh kali, karna tiba-tiba mengajak dia gabung sama kita?” ucap Aku. “Aduh Celine itu gimana ya, bingung juga deskripsi in nya,” tanya Liona dengan muka yang sulit dijelaskan juga. Setelah adat daerah lain sudah ditampilkan pertunjukkan terakhir ialah wayang, ya kalian ga salah dengar. Wayang akan ditampilkan dan Celine menontonnya. Aku dan Liona berpikir “Hmm, diliat liat muka Celine masih aja tidak suka ya.” Kemudian kita menghampiri Celine “Woy, itu muka kusut amat, senyum bisa kali,” ucap Liona. “Dih apaansi?” jawab Celine dengan kesal. “Weh, santai aja kali cel.” Dan kita pun akhirnya balik lagi ke tempat di mana kita duduk, Liona pun berpikiran kalo Celine bakalan aneh-aneh ke dia? “Hmm kumat lagi ini kayanya sifat buruknya.” “Heh gaboleh berpikiran kaya begitu, itu sama aja kaya kamu menuduh dia,” jawab aku. “Iya-iya, aku kan cuma bilang aja.” Tiba-tiba Celine berteriak “WOYY GANTII YANG LAINN DONG, BOSEN BANGET AKU NONTON WAYANG.” Aku dan Liona yang mendengar hal itu bingung dan pastinya kaget dong? Kemudian kita berinisiatif mendatangi Celine dan memberi teguran lagi kepada dia. “Woy cel, ga lucu lah. Gausah teriak-teriak begitu,” ucap Liona. “Apasih na? Serah aku dong kan aku pengen yang lain acaranya dari pada wayang?” jawab Celine. “Ya, itu mah hak kamu sih, aku ga masalah. Tapi inikan bukan acara kamu cel? Udahlah gausah ngerecokin acara orang. Kamu tinggal duduk santai sambil liat pertunjukan wayang apa susahnya sih?” tanya Liona. “Orang aku nya gamau? Kenapa kamu maksa sih aku harus nonton wayang?” jawab Celine dengan muka mengejek. “Ah gatau lah bodoamat, tapi aku bilangin ya kamu jangan ngerecokin acara orang dong cel, saling menghargai aja lah sesama orang Indonesia gini.
30 *** Acara pun selesai pada jam 11.00 malam kita langsung mendatangi Celine lagi, karna tadi kan ada sedikit kerusuhan ya. “Cel, aku sama Liona minta maaf ya,” ucap aku. Dengan muka yang sedikit mengkerut, Liona pun berkata maaf “Ya cel aku juga minta maaf.” “Iya-iya aku maafin tapi aku juga minta maaf ya karna tadi mungkin sedikit ga sopan di acaranya Liona. Aku mungkin sedikit berubah ya Na, oiya aku juga minta maaf sama masalah kita yang tahun tahun lalu itu, Aku ngerasa kalo aku memang lagi kurang baik dan gatau kenapa,” jawab Celine dengan muka sedih. Liona pun yang kaget berkata “Ini kamu beneran minta maaf ga sih cel?” “Serius deh na aku minta maaf ya.” Liona pun terkaget kaget, pernyataan yang selama ini ia tunggu tunggu akhirnya terucap pada mulut Celine. “BERARTI KITA SEKARANG UDAH BAIKAN YA CEL??” ucap Liona dengan muka girangnya. “Iya na kita sekarang baikan kok, ga bagus juga setelah dipikir-pikir kalo kita masih terus saling berantem satu sama lain,” jawab Celine. “OKE, POKOKNYA KITA GABOLEH MUSUHAN LAGI YA?” ucap Liona. “SIAPP LIONA.” Aku yang mendengar ucapan itu pun sedikit terharu karna memang Celine ada niat langsung untuk meminta maaf kepada Liona, Setelah terjadinya hal itu, kemudian mereka berdua pun berpelukan untuk merayakan hal yang sedikit menyedihkan itu.
31
32 RODA KEHIDUPAN AYUNDA ZAHRA AURA RIFDA Mewah dan mengkilat mobil itu berhenti di depan gerbang sekolah. Saat itu seseorang turun dari kendaraan tersebut. Ia adalah Syana, seorang gadis remaja yang sangat hidup berkecukupan. Orang tuanya adalah seorang pengusaha sukses yang ada di kota Bogor, sehingga Syana bisa bersekolah di sekolah yang mewah. Oh iya! Syana adalah anak pertama dari 2 bersaudara, adiknya bernama Keandra. Ia duduk di kelas 2 SMP sedangkan Syana ia duduk di kelas 3 SMA. Syana berjalan menuju kelas, Dia mengincring-ngincringkan benda yang ada di tangannya. Suaranya berisik sekali, Sehingga membuat orang disekitarnya tertuju pada Syana yang sedang berjalan ke kelasnya tersebut. *SESAMPAINYA DI KELAS* “Wih Syana, gelang lo baru lagi ya?” tanya Diva, teman sebangkunya. “Iya dong, Ini mahal banget ga ada yang boleh megang gelang ini selain gue,” jawab Syana dengan sombongnya. Iya! Dia baru saja membeli gelang seharga jutaan rupiah. Mengapa ya? ia tidak membeli barang yang bermanfaat saja dari pada gelang tersebut? Syana memang begitu, jadi tidak heran banyak yang tidak mau berteman dengannya karena sifat sombongnya itu. “Memangnya lo ga nabung buat masa depan lo?” tanya Diva. “Yaelah, orangtua kita kan kaya Div, buat apa kita nabung?” “Syan, kehidupan itu berputar seperti roda. Belum tentu kita sampai tua masih hidup dengan berkecukupan yang lebih,” jawab Diva. “Ceramah mulu lo setiap hari, bosen gue.” Syana-Syana, kamu hanya mementingkan saat ini, Bukan untuk masa depan. *Bel sekolah mulai berbunyi, pertanda pulang sekolah* Syana dijemput oleh om Basyar, Ia adalah sopir pribadi untuk keluarga Syana. Om Basyar pasti sangat bahagia sekali bekerja di rumah Syana. Gaji ia pasti besar sekali walaupun hanya seorang supir pribadi. *** Tak terasa matahari sudah terbenam ke barat, keluarga Syana pun shalat bersama dan setelah itu dilanjut dengan makan malam bersama. “Bunda Bunda, lihat deh Syana beli gelang baru seharga jutaan loh,” Syana memamerkan sebuah gelangnya kepada keluarganya.
33 “Iya bagus ya, tapi Syana kamu harus hemat ya,” jawab sang bunda. “Kenapa sih Bun, ga disekolah ga di rumah perasaan aku disuruh hemat melulu,” jawab Syana dengan rasa kesalnya. “Syana, kita belum tahu untuk kedepannya bagaimana. Jadi kamu harus tetap menabung dan hemat ya,” jawab bunda. “Kita kan kaya bun, buat apa harus menabung dan hemat? Sudah lah aku mau ke kamar saja.” “Syana.” Syana sangat kesal. Dia merasa bahwa setiap harinya dia disuruh menabung dan hemat buat masa depannya. Ia selalu berfikir bahwa masa depan dia akan kaya, padahal itu belum tentu. *** Matahari mulai bangun dari tidurnya, hari mulai pagi. Saatnya Syana dan Keandra bergegas untuk pergi ke sekolah. Sesampainya di sekolah Syana memulai aksinya dengan memamerkan sepatu barunya. Ya! Dia baru saja membeli barang mewah lagi. Padahal, dirumahnya sudah banyak sepatu yang ia beli. Syana masih saja keras kepala, ia sudah disuruh menghemat uang yang dikasih oleh Bundanya tapi malah uang itu digunakan dengan membeli barang yang mewah. Sepulang sekolah Syana pergi bermain ke mall bersama teman-temannya. Dia menghabiskan banyak uang untuk jalan-jalan di mall. Tidak lama kemudian ia di telfon oleh Ayahnya. *TELFON* “Assalamualaikum, Syana.” “Waalaikumsalam, iya Ayah ada apa telfon?” “Syana lagi dimana nak?” “Lagi di Mall yah, ngabisin uang sisa beli sepatu baru.” “Syana, Ayah tau ini berat buat kamu. Kita harus pindah ke rumah nenek yang ada di pedesaan.” “Lah, kenapa yah?” “Perusahaan ayah mengalami penurunan drastis, kita harus pindah ke rumah nenek.” “Ayah bohong ya? Syana gamau tinggal di pedesaan, Ayah.” “Syana pulang dulu ya, kita berbincang dirumah saja.” Tidak menyangka, perusahaan Ayah Syana mengalami penurunan drastis. Syana pulang kerumah dengan perasaan marah. Mengapa ini bisa terjadi? Dia kan tinggal di Pedesaan, tepat dirumah neneknya. Rumah nenek Syana berada di dataran tinggi, disana banyak sekali hewan yang dapat berkeliaran. Bagaimana ya ketika syana tinggal di rumah yang ada dipedesaan?
34 Kertas tertempel di pagar rumah syana, itu adalah kertas yang bertuliskan “Rumah ini akan kami sita.” Syana masuk rumah lalu berbincang kepada keluarganya. Selesai berbincang bersama keluarganya, Syana dan adiknya yaitu Keandra diperintahkan oleh orangtuanya untuk segera memebereskan baju bajunya dan diletakkan di koper, karena hari ini juga mereka akan pindah ke pedesaan . Syana dan keluarganya menaiki bis yang sempit untuk menuju ke pedesaan. Syana tidak betah, rasanya ingin menaiki mobilnya. Tapi mau gimana lagi? Mobilnya sudah disita. Sesampainya di pedesaan ia harus melewati jalanan yang becek untuk menuju rumah neneknya, Syana sangat jijik sekali dengan jalanan yang seperti ini. “Ih jalanannya kenapa begini sih, jijik banget.” “Udahlah kak, kenapa harus jijian sih?” tanya Keandra. “Udah udah.” Ketika sudah sampai di rumah neneknya, Syana dan keluarganya segera menaruh barangnya ke kamar tidur. “Ih jijik banget sih kenapa harus ada sawah nya di sini.” Syana masih terus ngedumel dengan sendirinya, dia bertanya kepada dirinya sendiri. Kenapa harus begini? *** Pagi, siang, sore, dan malam. Keluarga Syana melewati hari harinya yang tidak biasa, mereka harus menerima apa yang terjadi sekarang. Teman sebangku Syana, Diva. Kebingungan, kenapa teman sebangkunya tidak masuk sekolah? Yang biasanya pagi pagi sudah menunjukkan aksinya sekarang sudah tidak ada aksi itu lagi. Diva segera menelfon Syana, Ia ingin tahu bagaimana keadaan Syana sekarang. “Halloo, Syana lo kenapa hari ini ga masuk sekolah?” “Div, perusahaan Ayah gue mengalami penurunan drastis. Gue harus pindah ke rumah nenek gue yang ada di pedesaan. Div, gue ga nyaman disini. Kenapa sih Div gue harus begini?” “Syana, lo harus ngerti dengan keaadan orangtua lo yang sekarang. Gue yakin, suatu saat lo pasti bisa nerima semua nyaa. Semangat terus yaa.” “Makasih ya Div, gue nyesel gue dulu pernah pamer ke lo dan teman teman lainnya. Sekarang gue yang kena batunya.” “Gapapa kok, lo harus semangat. Kapan-kapan gue main kesana ya.” “Boleh banget, ditunggu yaa.” Diva memberi semangat kepada Syana, Syana kamu pasti bisa melewatinya. ***
35 Saudara Syana yang berada di pedesaan bernama Dier mengajak Syana dan adiknya ke sebuah tempat, ya! Tempat itu adalah Sawah. Syana awalnya tidak mau untuk berkunjung ke Sawah, Tapi ia berubah pikiran. Dia ingin tahu apa itu Sawah. *SESAMPAINYA DI SAWAH* “Dier, Ini yang namanya Sawah?” “Iya Syana, kamu tau gak? Disini itu kita jadi bisa lihat keindahan alam yang ada di pedesaan.” “Wahh ternyata udaranya sejuk sekali, Beda dengan diperkotaan banyak polusi udara.” “Kalau gitu ayo kita bantu petani yang ada di sana.” “Bantu?” tanya Syana. “Iya bantu, kita bantu memetikkan sayuran dan buah buahannya yang sudah siap dipetik.” “ Oh, Okee.” “ Kean, Kamu bantu juga ya.” “ Siap ka Dier.” Merekapun membantu petani yang akan memetik sayuran dan buah buahan yang sudah di panen. Setelah itu, Mereka pun membantu petani tersebut untuk menjualkan sayuran dan buah buahan yang sudah dipetik tadi. Mereka tidak hanya bertiga saja, teman teman Dier yang lainnya pun ikut membantu. Saat menjual sayuran dan buah buahan, syana jadi tersadar. Gimana susahnya mencari uang untuk masa depan. Ia jadi ingat apa kata Diva, Seharusnya ia dari dulu hemat dan menabung. Karena sesusah itu mencari uang lagi. Syana jadi merasa lebih senang tinggal di pedesaan, Dia merasa lebih banyak teman dari pada saat ia tinggal di perkotaan. Kehidupan itu berputar, kadang ada masanya kita dibawah ada masanya juga kita diatas. Jalani hidup dengan sebaik mungkin. Sungguh, Roda Kehidupan itu nyata.
36
37 MENEMBUS LANGIT JEPANG Naurah Zalfaa Mutiara Alana menyadari bahwa kuliah di Fakultas Ilmu Budaya menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. Ia tak suka menulis jurnal, menganalisis peristiwa, dan mengembangkan pola pikir seperti budayawan sehingga ia menjadi kewalahan. Terlebih lagi ia memasuki program studi sastra dan Budaya jepang. Ia harus belajar Bahasa baru yang menurutnya di masa depan ia tak membutuhkan Bahasa tersebut. Akhirnya ia bertekad untuk menghabiskan dua semester saja berada di parodi tersebut dan akan pindah di semester berikutnya. “Gue mau pindah prodi pokoknya! Mumpung masih semester dua,” ujar Alana kepada Lina selaku teman selama mahasiswa barunya. “Ngga betah ya? Tapi bulan depan kita ada study tour ke Jepang, loh Alana.” “Demi apa? Nggak apa-apa deh, aku ikut bagian itu, kan sekalian jalan-jalan.” “Yeuu dasar, tapi liat noh tugasnya,” Lina memperlihatkan laptopnya. “Tulislah sebuah cerpen yang mengandung unsur budaya Jepang selama study exchange,” Lina melanjutkan kalimat dengan membacakan tugasnya. “Ya Tuhan!!!” geram Alana. *** Satu bulan berlalu dan tibalah di hari keberangkatan. Alana benar-benar berniat cuma liburan. Ia membawa koper yang isinya baju dibandingkan buku-buku. Ia hanya mempersiapkan note kecil dan satu pulpen. Lina yang melihat kelakuan Alana pun geleng-geleng kepala. 30 orang mahasiswa dan 2 orang dosen tiba pukul 4 di Bandara Tokyo Haneda lalu melanjutkan perjalanan domestik ke Nagasaki. Di hari pertama sampai Nagasaki malam hari. Rombongan pun langsung tertidur sehingga siap melaksanakan tour ke Museum Bom Atom Nagasaki. Alana sekamar dengan Lina dan empat mahasiswa putri lainnya menggunakan kasur lipat. Awalnya Alana tidak terbiasa, tapi karena di Jepang sering menggunakan kasur lipat. Alana bertanya “Mengapa orang- orang jepang sebagian menggunakan kasur lipat?” “Alasan mereka menggunakan kasur lipat karna dapat menyisakan banyak ruang, harga nya juga lebih murah, mudah untuk orang menginap serta bagus untuk kesehatan,” jawab Lina. “Oh seperti itu, pantas saja banyak orang jepang yang menggunakan kasur lipat untuk mereka tidur,” ujar Alana.
38 “Yaudah sebaik nya sekarang kita tidur karna besok kita akan melakukan aktivitas selanjutnya di pagi hari, selamat tidur Alana!” ucap Lina. “Selamat tidur juga Lina,” jawab Alana. Akhirnya Alana dan Lina pun tidur. *** Pagi-pagi sekali pihak tour yang merupakan asli orang Jepang, sudah membangunkan rombongan. Alana juga langsung dibangunkan oleh Lina yang sudah mandi dan hampir siap. Segera Alana pun mempersiapkan diri karena takut tertinggal. Alana melihat proses tour ini sangat disiplin dan anti ngaret. Suatu hal yang jarang ditemui di Indonesia.Rasa takjub Alana pun bertambah ketika melihat isi museum yang sangat memukau tapi entah mengapa sangat menyakitkan. Mungkin karena tempat tersebut menggambarkan perjuangan Jepang yang dibom pada tahun 1945 oleh Amerika. “Konichiwa minna-san. Inilah baju prajurit kami yang jadi saksi bisu pengeboman HiroshimaNagasaki. Setiap tahunnya, kami selalu memperingati hal tersebut. Namun, peristiwa menyakitkan itu tak membuat Jepang patah semangat. Kami terus berinovasi, sehingga bisa pulih,” ujar tour guide yang bisa bahasa Indonesia. Baru tour satu hari saja, Alana merasa bisa melihat budaya Jepang yang sangat patut dicontoh. Misalnya seperti sangat menghargai waktu dan terus berinovasi. Ia menyadari bahwa budaya tersebut dimiliki oleh setiap warganya, sehingga tak heran Jepang bisa menjadi salah satu negara maju. Akhirnya setelah tiga hari di Jepang, mereka pun kembali ke Indonesia. Di pesawat, Alana pun mengikrarkan sesuatu. “Lin, aku nggak jadi pindah prodi deh dan aku udah tau mau nulis cerpen yang mengandung unsur budaya Jepang seperti apa!” tegas Alana. “Yeayy syukur kalo gitu. Kamu harus dibawa ke Jepang dulu ya biar sadar!” ejek Lina. Mereka pun tertawa cekikikan di dalam pesawat, membuat orang lain memperhatikan dua sahabat tersebut. *** Sesampainya mereka di bandara soekarno hatta, mereka pun melanjutkan obrolan nya. “Lin gimana kalo kita besok pergi ke museum Bom atom Nagasaki?” tanya Alana. “Boleh ayo aja aku mah,“ jawab Lina dengan santai.
39 Alana dan Lina pun menunggu gocar yang telah di pesan nya sejak tadi, Akhirnya gocar itu pun datang dan mengantarkan mereka ke kosan Alana, seiringnya berjalan waktu, akhirnya mereka pun sampai di kostan nya Alana. Mereka langsung beristirahat karna menghabiskan waktu berjam jam di pesawat. *** Sinar matahari yang menembus jendela kamarnya yang artinya pagi hari telah tiba. Alana menyipitkan matanya sinar matahari yang tepat di depan mukanya, Alana segera membangunkan Lina. “LINAAA LINAAA!!! BANGUNNN” teriak Alana. “Apasih Alana ini tu masih pagi ada apa!” jawab Lina dengan mata yang masih mengantuk. “Katanya mau ke museum Bom atom Nagasaki.” “Oh iya.” Akhirnya Alana pun bergegas mandi dan siap siap. Setelah semua nya siap, mereka pun menuju ke museum Bom atom Nagasaki. Sesampainya di museum mereka pun mebeli tiket masuk. Saat mereka di dalam mereka pun menonton peristiwa terjadi nya pengeboman Hirosima – Nagasaki, setelah menonton peristiwa tersebut mereka pun terdiam karna membayangkan betapa seram nya kejadian yang ada di Nagasaki. “Eh kamu liat kan kejadian itu serem banget ga si?” ujar Alana. “Iya serem banget, pasti orang orang yang mengalami kejadian di hari itu juga merasa trauma” jawab Lina dengan ke kagetan nya. “Bener banget, aku yang ngebayangin nya aja udah takut gimana mereka” jawab Alana. “Ya pasti takut banget dong lan, tapi yaudah lah ya udah lama juga kejadian nya.” “iya si bener” Matahari mulai terbenam mereka pun segera pulang menuju kostan nya Alana. *** Sesampainya di kostan Alana tiba tiba mereka dapat info kalau mereka di tugaskan untuk menjelaskan dan mempresentasikan tentang budaya budaya dan sejarah yang berada di jepang.
40 “Lan kamu udah liat kan info yang tadi di sampaikan??” tanya Lina. “HAH?! Info apaa??“ “Itu loh kita di suruh menjelaskan dan mempresentasikan tentang budaya dan sejarah yang berada di Jepang.” “SUMPAH? Yaudah kalo gitu kita harus mempersiapkan materi dari sekarang!” Akhirnya Alana dan Lina pun mempersiap materi yang akan mereka presentasikan. *** Hari presentasi sudah tiba. Para dosen pun sudah datang, sedang melihat hasil kerja mahasiswa mahasiswi lainnya. Alana sangat tegang dan merasa terbebani. Alana takut berenti di tengah jalan atau biasanya di sebut ‘Demam panggung’. Sejak tadi, Alana menyimak cara presentasi dari teman-temannya dan bertanya tanya terhadap dirinya sendiri seperti. “Kok mereka bisa presentasi selancar itu, yaa...” “Aku bisa ngga ya kayak mereka?” Alana pesimis terhadap materi yang akan ia bawakan, karena ia merasa bahwa materi yang di bawakan teman temannya sangatlah bagus dan menarik. Tetapi karna ada Lina yang selalu ada di samping Alana, Lina pun mencoba menenangkannya dan menepuk pundaknya. “Kamu pasti bisa lan percaya deh sama aku!” Tetapi Alana masih saja bersikap pesimis. Sampai akhirnya dimana giliran Alana pun tiba untuk mempresentasikan materi yang ia bawakan, seiringnya waktu berjalan Alana pun berhasil membawakan presentasi dengan baik dan lancar. “Tuhkan gue bilang juga apa kamu tu pasti bisa lan!” ujar Lina dengan kekeh. “HAHAHA iya, makasi ya lin kamu selau ada di samping aku dan selau yakinin aku,” jawab Alana dengan perasaan senang dan terharu. Dimana presentasi dan materi itu dinilai dan Alana mendapatkan nilai yang bagus. Dan aku punya satu pesan dari cerita di atas, setiap negara kan memiliki budaya nya masing masing maka dari itu kita sebagai pendatang ke negara mereka harus menghargai dan menaati budaya budaya yang sudah tertanam di negara tersebut.
41
42 BIODATA PENULIS SHAFA MARDHATILLAH, Hai! Namaku Shafa Mardhatillah. Kamu bisa panggil aku Shafa. Aku lahir di Cilegon pada tanggal 19 Juni 2009. Aku suka banget Memasak dan Menari, suka sama dia juga hehe. Motto hidup aku “Jangan memaksakan segala sesuatu. Sabar, ikhlas dan jalani sampai takdir bertemu denganmu”. Kalau mau kenalan kamu bisa hubungin aku lewat ig yaa @shfmgln_. Jangan lupa follow yaa >o<. MARISSA PARIWARA, Haloo Nama aku Marissa Pariwara, Biasa dipanggil Sasa. Aku lahir di Jawi-Jawi tanggal 28 Maret 2009. Aku suka banget ngegambar, olahraga, baca cerita Sama nonton film. Motto hidup aku itu “Fokus pada proses bukan fokus pada hasil, karena kalau kamu berusaha dalam proses pasti kamu Akan berhasil”. Ig @jjaygvntsa_ BELVA CANTIKA PUTRI HERTANTO, Hai semuanyaa! Kenalin Nama aku Belva Cantika Putri H, biasa dipanggil Belva atau senyaman kalian juga boleh. Aku lahir di Cilegon, 3 Agustus 2008. Aku paling suka yang namanya olahraga, apalagi basket. Motto hidup aku itu “Kalau kalian gagal hari ini, bukan artinya kalian gagal selamanya. Kalian cuman belum berhasil, bukannya ga berhasil. Maka dari itu kamu harus mencobanya di lain waktu”. Ayo kenalan lebih dekat Sama aku! @bbellvaa.c LULU PUTRI MASCANTIKA ZALDAD, Hai guys!! Aku Lulu Putri Mascantika, biasa dipanggil lulu. Oiyaaa aku lahir di Cilegon 18 September 2009 aslii Cilegon bangett nihh hehehee. Aku suka olahraga dan aku juga suka berorganisasi disekolah bisa dibilang aku gambang banget buat kenal Sama orang. Btw motto hidup aku “Tetap menunggu dan berusahalah agar mendapatkan hasil yang bahagia dan sempurna”. Udah kaya judul lagu aja ya “SEMPURNA” HAHAHA. Mau kenalan?? Ke ig aku aja yaaa @lluuvv._ AZZALEA NASYWA, Halo! Nama aku Azzalea Nasywa, biasa dipanggil Alea. Lahir di Serang, 24 Desember 2009. Paling suka Sama Olahraga, Apapun itu pengen dicoba rasanyaa. Motto hidupku “Jangan menyerah sebelum mencoba semuanya guys”. Ayuu mutualan ig Sama aku!! @aleayw_ AYUNDA ZAHRA AURA RIFDA, Haloo! Nama aku Ayunda Zahra Aura Rifda, biasa dipanggil Rara. Aku lahir di Pati tanggal 05 Agutus 2009. Suka banget Sama yang namanya olahraga badminton, yaa walaupun jarang main sihh. Punyaa motto hidup yaitu “Selalu kuat dan selalu tersenyum apapun kondisi kamu”. Kalau mau kenalann, cuss mampir aja @ayndrazhr NAURAH ZALFAA MUTIARA, Haii! Namaku Naurah Zalfaa Mutiara, Biasa dipanggil Naurah. Aku suka banget nonton film kalau ada waktu renggang. Motto hidup saya yaitu “Janganlah menyerah sebelum keingananmu tercapai”. Skuyy mutual ig @naurah.zlfaa
43
44