DOSEN PENGAMPU MAIMUNAH PERMATA HATI HASIBUAN, M.Si DISUSUN OLEH KELOMPOK 3 MEGAWATI (207200033) UMI HIDAYATI (207200042) UFE RIANTO (207200046) Tahun 2023
A. Latar Belakang Maleo Senkawor atau lebih dikenal dengan nama Burung Maleo adalah salah satu jenis burung endemik langka dari Sulawesi. Populasi burung bernama ilmiah Macrocephalon maleo ini menurun dan terancam mengalami kepunahan jika tidak dijaga kelestariannya.Jika dilihat sekilar, penampakan maleo mirip seperti ayam dengan jambul atau benjolan bulat di atas kepala. Meski nama burung identik dengan kemampuan terbang, namun maleo lebih sering berjalan kaki dibanding dengan terbang Ciri / Morfologi Telah dijelaskan secara singkat jika wujud maleo sekilas mirip ayam dengan jambul bulat di bagian atas kepala. Secala lebih rinci, berikut adalah ciri dan karakteristik fisik maleo, bulu luar maleo berwarna hitam, sedangkan bulu bagian dalam berwarna merah muda keputihan, kulit pada area mata berwarna kuning, paruh berwarna jingga dan kulit kaki berwarna abu-abu ukuran tubuh maleo jantan lebih besar daripada ukuran tubuh maleo betina pada bagian atas kepala terdapat jambul keras yang mirip benjolan berwarna hitam. Jambul burung maleo berfungsi sebagai alat pengukur suhu lubang atau liang yang digunakan untuk mengerai telur maleo hingga menetas. Populasi burung Maleo Senkawor atau Macrocephalon Maleo di Sulawesi Barat (Sulbar) terancam punah. Aktivitas pariwisata dan pembukaan lahan sawit dituding menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi satwa endemik Sulawesi tersebut. "Banyak faktor, salah satunya di Mamuju habitatnya berubah jadi ruang wisata, sementara di Mamuju Tengah karena berubah jadi lahan sawit," ujar tim jaga Maleo, Nur Mubarak kepada detikcom, Sabtu (7/8/22).
Mubarak mengaku, kini ia dan beberapa rekannya telah melakukan edukasi ke warga soal ancaman kepunahan burung tersebut. Mereka juga ikut melakukan sosialisasi dan edukasi ke warga untuk menjaga habitatnya. "Faktor lain juga karena masih ada warga mengonsumsi telur Maleo. Bahkan masih dijadikan campuran olahan kue, jadi biasa kalau kita tahu ada warga yang dapat kita beli itu telur," terangnya. Timnya saat ini telah mendirikan penangkaran untuk telur maleo di Desa Tapandullu, Kecamatan Simboro, Mamuju sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian Maleo. Peran 1. Kekayaan hayati indonesia maleo merupakan kekayaan hayati Indonesia yang menjadi kebanggan sekaligus warisan bagi anak cucu sehingga harus dilestarikan seperti hewan-hewan lain yang juga terancam punah diantaranya manfaat orangutan, manfaat anoa bagi manusia, dan manfaat burung jalak bali. 2. Bagian dari ritual adat Indonesia kaya akan manfaat adat istiadat yang patut dijaga. Salah satunya ritual adat molabot tumpe yang berasal dari Sulawesi Tengah. Ritual adat ini telah ada sejak zaman dahulu dan melibatkan penggunaan telur burung maleo dimana telur maleo dalam jumlah ratusan dibawa dari daerah Batui ke Pulau Peling. Setelah itu disambung dengan ritual monsawe dimana sebagian telur dimakan oleh masyarakat dan sebagian lagi dijadikan obat. Namun mengingat populasi burung maleo yang semakin terancam punah ritual adat ini mendapat protes atau keberatan dari lembaga yang peduli dengan kelangsungan habitat burung maleo. 3. Sumber penghasilan bagi masyarakat Manfaat burung maleo lainnya adalah sebagai sumber tambahan penghasilan bagi masyarakat sekitar. Bagaimana bisa? Masyarakat yang sebelumnya memburu burung maleo kini dapat mengambil pekerjaan untuk menjaga kawasan atau daerah yang khusus diperuntukkan bagi maleo dari gangguan baik manusia atau hewan
lain yang mengintai dan mengancam keberadaannya. Dengan ini warga bisa mendapat tambahan penghasilan. Dari segi budaya Berbicara Maleo tidaklah lepas dari adat istiadat yang mengikat di dalamnya, Adat Malabot Tumpe, sebuah upacara adat yang dilaksanakan oleh masyarakat Kota Banggai (Kabupaten Banggai Kepulauan) dan masyarakat Kecamatan Batui (Kabupaten Banggai) yang menggunakan telur maleo sebagai bagian utama dari acara ini. Pentingnya Burung Maleo Burung maleo adalah spesies burung langka yang endemik di Sulawesi, Indonesia. Mereka memainkan peran penting dalam kelestarian lingkungan, budaya, sosial, dan ekonomi, seperti yang dijelaskan di bawah ini: Kelestarian Lingkungan a. Penyebaran biji: Burung maleo memiliki peran penting dalam penyebaran bijibijian. Burung ini cenderung menguburkan telur-telurnya di sarang-sarang yang menggunakan panas bumi untuk mengerami. Ketika telur menetas, burung muda yang baru lahir menggali keluar dari sarang dan membantu melonggarkan tanah di sekitarnya. Dalam proses ini, mereka menguburkan biji-bijian yang terkandung dalam tanah, membantu penyebaran benih dan pertumbuhan tanaman di hutan Sulawesi. b. Pemangsa hama: Burung maleo juga berperan sebagai pemangsa hama. Mereka memakan berbagai serangga, termasuk kumbang dan larva yang dapat merusak tanaman. Dengan mengendalikan populasi hama, burung maleo membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan pertanian. Budaya a. Warisan budaya: Burung maleo memiliki nilai budaya yang tinggi di masyarakat Sulawesi. Masyarakat setempat menganggap burung maleo sebagai simbol keberanian, kekuatan, dan keindahan. Mereka sering diabadikan dalam seni, cerita rakyat, tarian tradisional, dan upacara adat. Burung maleo menjadi bagian penting dari identitas budaya suku-suku di Sulawesi.
b. Pariwisata budaya: Keberadaan burung maleo juga dapat mendukung pariwisata budaya di daerah tersebut. Para wisatawan tertarik untuk melihat burung maleo dalam habitat aslinya dan mengalami budaya lokal yang terkait dengan burung ini. Dengan demikian, pariwisata berbasis burung maleo dapat memberikan penghasilan tambahan kepada komunitas lokal dan mendorong pelestarian lingkungan. Sosial a. Kesadaran lingkungan: Keberadaan burung maleo dan upaya untuk melindungi mereka dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya konservasi dan pelestarian lingkungan. Dalam prosesnya, masyarakat dapat mengembangkan sikap peduli terhadap alam dan bertindak untuk menjaga ekosistem yang lebih luas. b. Pendidikan dan penelitian: Studi tentang burung maleo dapat menjadi sumber pengetahuan dan pendidikan yang berharga. Melalui penelitian ilmiah, para ahli dapat mempelajari perilaku, ekologi, dan keberlanjutan spesies ini. Pendidikan tentang burung maleo dapat dilakukan melalui program-program penyuluhan, museum, dan pusat penelitian, yang membantu meningkatkan pemahaman dan apresiasi masyarakat terhadap keanekaragaman hayati lokal. Segi Ekonomi Burung Maleo Burung maleo (Macrocephalon maleo) adalah spesies burung endemik yang hanya ditemukan di Sulawesi, Indonesia. Ekonomi burung maleo melibatkan beberapa aspek, terutama dalam konteks pelestarian dan pariwisata. Pariwisata: Maleo memiliki daya tarik pariwisata yang signifikan. Burung ini dikenal karena keunikan perilaku bertelurnya yang menyimpan telur di pasir vulkanik yang panas. Banyak pengunjung dan wisatawan tertarik untuk melihat proses penetasan telur dan mengamati burung-burung maleo di habitat alami mereka. Dalam hal ini, pariwisata berkaitan dengan pendapatan dari biaya tiket masuk, pemandu wisata, akomodasi, dan berbagai layanan terkait lainnya. Konservasi dan penelitian: Kehadiran burung maleo juga memberikan manfaat ekonomi melalui upaya konservasi dan penelitian yang dilakukan untuk melindungi spesies ini. Organisasi, institusi penelitian, dan pemerintah sering berinvestasi dalam program penelitian dan upaya pelestarian untuk mempelajari
dan menjaga populasi burung maleo. Ini mencakup kegiatan seperti pemantauan, pemulihan habitat, perlindungan sarang, dan pendidikan masyarakat. Programprogram ini menciptakan lapangan kerja dan peluang ekonomi bagi para ahli konservasi, ilmuwan, peneliti, dan pendukung lainnya. Produk wisata dan kerajinan: Burung maleo juga berkontribusi pada industri kerajinan dan produk wisata di daerah sekitarnya. Beberapa pengrajin lokal memanfaatkan cangkang telur burung maleo yang kosong untuk membuat kerajinan tangan seperti perhiasan, dekorasi, atau suvenir. Pariwisata dan kerajinan tangan ini menciptakan sumber pendapatan bagi masyarakat setempat yang terlibat dalam produksi dan penjualan produk-produk tersebut. B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian kepunahan? 2. Bagaimana kehidupan Maleo di alam? 3. Apa saja fator yang mempengaruhi penyusutan populasi maleo di alam? 4. Apakah upaya konservasi yang dilakukan pemerintah untuk menanggulangi kepunahan burung maleo? C. Tujuan 1. Mengetahui factor penyebab penyusutan populasi maleo 2. Menjelaskan upaya penyelamatan yang telah dilakukan pemerintah untuk populasi burung maleo 3. Memgetahui kemajuan upaya konservasi burung maleo oleh pemerintah
PEMBAHASAN A. PENGERTIAN KEPUNAHAN Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah spesies atau sekelompok takson. Waktu kepunahan sebuah spesies ditandai dengan matinya individu terakhir spesies tersebut, walaupun kemampuan untuk berkembangbiak tidak ada lagi sebelumnya.Tetapi dikarenakan wilayah sebaran sebuah spesies atau takson yang bisa sangat luas, sehingga sangat sulit untuk menentukan waktu kepunahan. Kesulitan ini dapat berujung kepada suatu fenomena yang dinamakan takson Lazarus, dimana sebuah spesies dianggap telah punah tetapi muncul kembali. Melalui proses evolusi, spesies yang baru muncul dari suatu mekanisme spesies dimana jenis makhluk hidup baru muncul dan berkembang biak secara lancar bila mereka mempunyai ecology niche. Spesies akan punah bila mereka tidak bisa bertahan bila ada perubahan pada ekologi mereka ataupun bila persaingan semakin ketat dengan makhluk lain yang lebih kuat. Umumnya, suatu spesies akan punah dalam waktu 10 juta tahun, dihitung dari permulaan kemunculannya. Beberapa spesies, biasanya juga disebut fosil hidup, telah bertahan dan tidak banyak berubah selama seratus juta tahun. Salah satu contoh fosil hidup adalah buaya. Sebelum manusia memenuhi muka bumi, laju kepunahan makhluk hidup cukup rendah, walaupun beberapa kepunahan massal telah terjadi sebelum itu. Sejak kira-kira 100.000 tahun yang lalu, seiring dengan laju opulasi manusia yang semakin tinggi, laju kepunahan makhluk hidup dengan sangat cepat.
B. KEHIDUPAN MALEO DI ALAM Maleo memiliki klasifikasi ilmiah, Kerajaan : Vertebrata Filum : Chordata Kelas : Aves (Burung) Ordo :Galliformes; Famili : Megapodiidae; Genus : Macrocephalon; Spesies : Macrocephalon Maleo nama binomial; Macrocephalon maleo. Maleo merupakan salah sejenis burung gosong dengan ciri-ciri fisik memiliki bulu yang didominasi warna hitam di sekujur tubuhnya, terdapat kulit kuning yang mengelilingi mata, iris mata maleo berwarna merah kecokelatan terdapat jambul keras yang serupa tanduk berwarna hitam di atas kepalanya, berparuh jingga dan mempunyai bulu berwarna merah muda agak keputihan di sisi bawah kepalanya dan sepasang kaki berwarna abu-abu. Secara fisik, Maleo jantan dan betina tidak memiliki perbedaan berarti, namun hanya perbedaan ukuran saja, dimana si betina lebih kecil dan warna hitamnya lebih gelap daripada si jantan. Maleo memiliki banyak keunikan, diantaranya Maleo memiliki tonjolan (tanduk atau jambul keras berwarna hitam) dikepala. Pada saat masih anak dan remaja, tonjolan di kepala ini belum muncul, namun pada saat menginjak dewasa tonjolan ini pun mulai tampak. Diduga tonjolan ini dipakai untuk mendeteksi panas bumi yang sesuai untuk menetaskan telurnya (Meskipun hal ini masih memerlukan pembuktian secara ilmiah). Meskipun memiliki sayap dengan bulu yang cukup panjang, namun lebih
senang jalan kaki dari pada terbang. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir. Maleo memiliki ukuran telur yang besar, mencapai 5 kali lebih besar dari telur ayam. Beratnya antara 240 hingga 270 gram. per butirnya. Telur burung endemik ini dikubur sedalam sekitar 50 cm dalam pasir di dekat sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Telur yang ditimbun itu kemudian ditinggalkan begitu saja dan tak pernah diurus lagi. Suhu atau temperatur tanah yang diperlukan untuk menetaskan telur maleo berkisar antara 32-35 derajat celsius. Lama pengeraman di pasir pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYUSUTAN POPULASI MALEO DI ALAM. Beberapa faktor yang mempengaruhi penyusutan populasi maleo di alam, adalah : 1. Factor alam 2. Habitatnya yang Khusus Habitatnya yang khusus yaitu di daerah pantai berpasir panas atau di pegunungan dengan sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu menjadi salah satu pendorong punahnya unggas ini. Hanya di daerah dengan kondisi geothermal tertentu itulah maleo dapat menetaskan telurnya. 3. Tingkat Kematian Anak Maleo yang Tinggi Anak maleo yang telah berhasil menetas harus berjuang sendiri keluar dari dalam tanah sedalam kurang lebih 50cm (bahkan ada yang mencapai 1 m) tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai
permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Ini pun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “ditengah jalan”, bisa disebabkan karena faktor kepadatan tanah yang terlalu solid. Terdapat beberapa anak maleo yang sudah mencapai permukaan, namun karena badannya terlalu lama terperangkap di tanah akibat kehabisan energi, atau bisa juga karena dimakan predator (Biawak, Babi Hutan). Tidak hanya itu, semut-semut di permukaan tanah pun membahayakan kehidupan anak Maleo, karena semut-semut akan mengerumuni kepala Maleo yang masih beraroma amis khas plasenta telurnya, yang mengakibatkan kematian Maleo kecil tidak dapat dihindarkan lagi. Anak yang baru saja mencapai permukaan tanah sudah memiliki kemampuan untuk terbang dan mencari makan sendiri (tanpa asuhan sang induk). 4. Satwa Anti-Poligami Dan yang paling khusus dari satwa endemik ini, Maleo adalah monogami spesies (anti poligami) yang dipercaya setia pada pasangannya. Sepanjang hidupnya, ia hanya mempunyai satu pasangan. Jika si pejantan telah ditinggal mati pasangan maupun sebaliknya, ia enggan mencari pasangan baru untuk menghasilkan keturunan baru. Walaupun terlihat remeh, namun tingkah laku ini secara tidak langsung mempengaruhi tingkat populasi Maleo di habitatnya. Kenyataan tersebut yang menjadikan Maleo masuk dalam daftar kelompok hewan yang terancam punah dan harus dilndungi. 5. Kurangnya Penerapan Terhadap Peraturan Pemerintah Maleo merupakan burung unik, endemic, dan langka, telah dikuatkan dalam Lampiran Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 menjadi satwa yang harus dilindungi. Oleh karena itu, muncullah berbagai suaka
alam yang melindungi burung maleo. Antara lain : Cagar Alam Panua, Taman Nasional Lore Lindu, dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone. Dan telah diatur dalam Pasal 19 UU No. 5 tahun 1990 tentang pelanggaran perubahan terhadap keutuhan suaka alam. Namun masih ditemukan kasus alih fungsi 14000 hektar hutan konservasi di Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) Gorontalo menjadi hutan produksi. Alih fungi TNBNW merupakan salah satu dari tempat konservasi burung maleo , dikhawatirkan membuat burung Maleo di lokasi tersebut tidak dapat bertahan hidup. Belum lagi aksi penebangan hutan yang dialakukan oleh perusahaan perkebunan sawit, pemegang Izin Pemanfaatan Kayu/IPK dan Hak Penguasaan Hutan (kini Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Kayu/IUPHK) , serta pembukaan areal perkebunan kakao yang dilakukan oleh masyarakat setempat.Kurangnya penerapan tehadap Pasal 19 UU No. 5 Tahun 1990 inilah salah satu penyebab penyusutan populasi maleo. Kekurangan penerapan tersebut juga terlihat dalam pelanggaran pasal 21 (2) huruf e UU No. 5 Tahun 1990 yaitu ketika telur Maleo dipamerkan di stan Dinas Pertanian Provinsi Maluku sebagai produk aneka olahan peternakan. D. UPAYA-UPAYA KONSERVASI YANG DILAKUKAN PAMERINTAH UNTUK MENAGGULANGI KEPUNAHAN MALEO Untuk perlindungan secara hokum, pemerintah menggunakan UU No. 5 Tahun 1990 dan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Selain perlindungan secara hokum tersebut, pemerintah memberlakukan dua cara konservasi untuk mencegah laju kepunahan populasi Maleo, yaitu secara in situ maupun eks situ.
Konservasi In situ atau biasa disebut perlindunga habitat, dilakukan dengan cara melindungi hewan dengan memberikan perhatian khusus pada habitat alaminya di alam mengenai ketersediaan pangan yang cukup bagi maleo, selain itu bisa juga dilakukan dengan melindungi maleo dari predator, yaitu dengan cara sebelum menetas, telur maleo yang semula di dalam tanah pinggir pantai dipindahkan ke tempat konservasi yang relative lebih aman dari jangkauan predator. Umumnya upaya konservasi in situ dilakukan bersamaan dengan upaya konservasi eks situ. Konservasi eks situ ini baisa dilakukan dengan membuat back up hewan, yaitu dengan cara merepopulasi atau merintroduksi agar hewan yang dilindungi tidak cepat punah. Upaya konservasi eks situ diterapkan pada maleo dilakukan dengan cara membesarkan atau mempercepat tingkat reproduksi maleo melalui pemberian pakan dan vitamin stimulant (perangsang). Sehingga tingkat reproduksi yang tinggi ini diharapkan dapat mengembalikan kelestarian populasi maleo di alam.Tidak semua pemerintah daerah kurang kesadaran terhadap kelestarian maleo. Sebut saja di Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah. Kerjasama pemerintah, polisi hutan, dan warga setempat terbukti dapat menjadikan Taman Nasional ini memiliki habitat maleo terbesar di Indonesia. Saat ini Lore Lindu memiliki kurang lebih 500 ekor burung maleo. Taman Nasional ini merupakan penggabungan dari beberapa kewasan lindung meliputi, Suaka Margasatwa Lore Kalamata, Hutan Wisata dan Hutan Lindung Danau Lindu, dan Suaka Margasatwa Lore Lindu.Penggabungan tersebut berdasarkan Deklarasi Penggabungan Kawasan Lindung sebagai Taman Nasional pada saat kongres Taman Nasional Sedunia di Denpasar Bali tahun 1982, yang di Undangkan melalui SK Mentan No. 736/Mentan/x/1982, yang dijadikan dasar untuk melakukan tiga batas
definitive, hingga temu gelang dan telah dikukuhkan Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui keputusan No. 464/KPTS-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas pengukuhan 217,991,18 hektar. Pengukuhan ini menunjukkan usaha pemerintah dalam melestarikan populasi maleo. Kegiatan penangkaran ini merupakan bagian dari pengelolaan secara ekssitu atau di luar habitat agar menyelamatkan sumber daya genetic dan populasi maleo.
PENUTUP A. Kesimpulan Kepunahan dalam biologi berarti hilangnya keberadaan dari sebuah spesies atau sekelompok takson.Tetapi dikarenakan wilayah sebaran sebuah spesies atau takson yang bisa sangat luas, sehingga sangat sulit untuk menentukan waktu kepunahan.Spesies akan punah bila mereka tidak bisa bertahan bila ada perubahan pada ekologi mereka ataupun bila persaingan semakin ketat dengan makhluk lain yang lebih kuat.Umumnya, suatu spesies akan punah dalam waktu 10 juta tahun, dihitung dari permulaan kemunculannya.Salah satu contoh fosil hidup adalah buaya.Maleo nama binomial; Macrocephalon maleo. Maleo merupakan salah sejenis burung gosong dengan ciri-ciri fisik memiliki bulu yang didominasi warna hitam di sekujur tubuhnya, terdapat kulit kuning yang mengelilingi mata, iris mata maleo berwarna merah kecokelatan terdapat jambul keras yang serupa tanduk berwarna hitam di atas kepalanya, berparuh jingga dan mempunyai bulu berwarna merah muda agak keputihan di sisi bawah kepalanya dan sepasang kaki berwarna abuabu.Pada saat masih anak dan remaja, tonjolan di kepala ini belum muncul, namun pada saat menginjak dewasa tonjolan ini pun mulai tampak.Telur burung endemik ini dikubur sedalam sekitar 50 cm dalam pasir di dekat sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu.Lama pengeraman di pasir pun membutuhkan waktu sekitar 62-85 hari. faktor yang mempengaruhi penyusutan populasi maleo di alam, adalah : • Factor alam • Habitatnya yang Khusus • Tingkat Kematian Anak Maleo yang Tinggi
• Satwa Anti-Poligami • Perburuan Ilegal terhadap Maelo ataupun Telurnya • Kurangnya Penerapan Terhadap Peraturan Pemerintah Untuk perlindungan secara hokum, pemerintah menggunakan UU No.Sebut saja di Taman Nasional Lore Lindu di Sulawesi Tengah.736/Mentan/x/1982, yang dijadikan dasar untuk melakukan tiga batas definitive, hingga temu gelang dan telah dikukuhkan Menteri Kehutanan dan Perkebunan melalui keputusan No.464/KPTS-II/1999 tanggal 23 Juni 1999 dengan luas pengukuhan 217,991,18 hektar.Kegiatan penangkaran ini merupakan bagian dari pengelolaan secara eks-situ atau di luar habitat agar menyelamatkan sumber daya genetic dan populasi maleo. B. Saran dan solusi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah harus melakukan koordinasi dalam upaya pelestarian serta menjaga kelangsungan hidup populasi Maleo, dengan cara harus lebih bertindak proaktif dalam pelestarian serta pengawasan populasi burung maleo.Pemerintah Daerah setempat harus memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga populasi serta pelestarian maleo dalam rangka keseimbangan ekosistem dan mencegah dari bahaya kepunahan serta ancaman terhadap pelanggarannya.Pemerintah Daerah harus bekerjasama dengan organisasiorganisasi lingkungan setempat untuk bersama-sama melakukan upaya monitoring terhadap kegiatan yang dapat mempengaruhi serta mengancam keberlangsungan hidup maleo.Menggalakkan upaya konservasi baik insitumaupun eks-situ melaluipenangkaran dengan harus tetap memperhatikan kondisi populasi serta habitat maleo.Menambah penjagaan atau keamanan yang ketat untuk tempat penangkaran maleo agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Pemerintah setempat harus
memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat agar tidak menjadikan maleo serta telurnya menjadi mata pencaharian mereka.
DAFTAR PUSTAKA Addin. A. (1992). Karakteristik mikro habitat tempat bertelur burung maleo (Macrocephalon maleo) SAL Muller 1846) pada habitat alami dalam upaya penangkaran di Snaka Margasatwa Buton Sulawesi Tenggara Utara Skripsi Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor Nurhalim. (2013). Karakteristik Habitat dan Tingkah laku Bertelur Burung Maleo (makrosefalonmaleo sal Muller 1846) di Bick Hutan Pampaca Taman Nasional Rawa Aopa Watumohal. Skripsi, Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Halu Oleo, Kendari, Yuliani, N. (2008). Burung Maleo (Macrocephalon maleo) Salah Satu Satwa Endemik Sulawesi yang Terancam Punah. Jurnal Nusa Sylva Vol 8:24-30 http://www.slideshare.net/mobile/muces/makalah-maleo http://alamendah.org/2009/10/12/burung-maleo-si-langka-anti-poligami/