KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING MAKALAH Dosen Pengampu: Naning Yuliani, M.Psi. Nama Kelompok: Ahmad Musyaffa’ A. (20200102118) Aminatus Sholihah (20200102124) Karisma Rohmatul U. (20200102145) Khoirun Nisa’ (20200102147) Lia Ni’matus s. (20200102150) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-AZHAR MENGANTI-GRESIK 2023
i KONSEP DASAR BIMBINGAN DAN KONSELING MAKALAH Diajukan untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling Dosen Pengampu: Naning Yuliani, M.Psi. Nama Kelompok: Ahmad Musyaffa’ A. (20200102118) Aminatus Sholihah (20200102124) Karisma Rohmatul U. (20200102145) Khoirun Nisa’ (20200102147) Lia Ni’matus s. (20200102150) PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AL-AZHAR MENGANTI-GRESIK 2023
ii KATA PENGANTAR Puji syukur pada Allah SWT yang telah memberikan kami kemudahan untuk dapat menyelsaikan tugas Makalah yang berjudul “Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling” ini sesuai dengan waktu yang ditentukan. Tanpa adanya berkat dan Rahmat Allah SWT tidak mungkin rasanya dapat menyelsaikan Makalah ini dengan baik dan tepat pada waktunya. Shalawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW. Yang telah membimbing umatnya menuju arah terang dan gemilang. Adapun penulisan Makalah ini dilakukan untuk Memenuhi tugas mata kuliah “Bimbingan Dan Konseling” Prodi S-1 PAI STAI AL-Azhar Menganti. Lebih lanjut penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung membantu penulis dalam mengerjakan Makalah ini sehingga selesai pada waktunya. Penulisan Makalah ini dilakukan selain untuk memenuhi tugas mata kuliah “Bimbingan Dan Konseling” juga dilakukan untuk memberi tahu kepada pembaca apa itu Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling Dalam kesempatan ini penulis juga memohon maaf apabila ada kekurangan baik dari segi isi maupun penyampaian dari Makalah ini semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk penulisan Makalah kedepannya. Semoga Makalah berjudul “Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling” ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Penulis menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Dengan penuh kerendahan hati, penulis memohon kritik dan saran dari pembaca sekalian untuk penulis agar dapat membuat Makalah ini menjadi lebih baik dari segi isi maupun penyampaian. 08 Februari 2023 Tim Penyusun
iii DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL ................................................................................. i KATA PENGANTAR................................................................................... ii DAFTAR ISI................................................................................................. iii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah............................................................................. 2 C. Tujuan Pembahasan .......................................................................... 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Bimbingan dan Konseling............................................... 3 B. Program Bimbingan dan Konseling .................................................. 4 C. Sejarah Dan Perkembangan Bimbingan Konseling ......................... 7 D. Fungsi dan Tujuan Bimbingan Konseling ........................................ 13 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ....................................................................................... 17 B. Saran.................................................................................................. 18 DAFTAR PUSTAKA
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu indikator suatu bangsa dapat di lihat dari perilaku setiap individu yang ada dalam bagsa itu sendiri. Untuk menciptakan perilaku yang baik pada setiap orang maka dibutuhkan pendidikan yang bekualitaas. Pendidikan yang berkualitas di dukung oleh perkembangan kemampuan itu sendiri. Agar kemampuan yang dimiliki oleh setiap individu dapat berkembang dengan baik maka diperlukan lingkungan yang dapat membantu seseorang ersebut. Salah satunya adalah lingkungan sekolah. Sekolah adalah suatu lembaga yang digunakan untuk belajar dan pembentukan karakter siswa, baik sebagai individu atau anggota masyarakat. Di sekolah guru huga memberikan layanan bimbingan dan konseling dengan tujuan agar dapat membantu peserta didik dalam membentuk dan mengembangkan potensi dan karakter yang dimiliki oleh setiap siswa. Layanan bimbingan dan konseling diberikan pada sekolah bak di SMA (Sekolah Menengah Atas) SMP(Sekolah Menengah pertama) mapun di SD (sekolah dasar).1 Penyuluh memainkan peranan penting dalam sistem pendidikan dan mereka dianggap sebagai psikolog sekolah. Penyuluhan harus mencangkup dan mempunyai sasaran untuk mengembangkan serta memperluas potensi-potensi siswa. Mereka harus memiliki kemampuan hubungan masyarakat hubungan masyarakat yang bagus dan solusi alternative kepada para siswa. Penyuluh melaksanakan perencanaan, menjalankan program, pengawasan dan evaluasi serta melaksanakan tindak lanjut dalam kegiatan penyuluhan. Penyuluhan juga bertanggung jawab dalam menginformasikan jalur-jalur karir kepada para siswa. Penyuluhan bertindak sebagai penyelesaian masalah solver para siswa. Menteri 1 Tika Evi, “Manfaat Bimbingan dan Konseling Bagi Siswa,” JURNAL PENDIDIKAN DAN KONSELING VOL.2, NO.1, (2020): 72-75. https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jpdk/article/view/589
2 Pendidikan telah memberikan kebebasan penuh kepada penyuluhan untuk mengembangkan potensi siswa dan menyediakan bimbingan serta penyuluhan yang efektif. Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik dalam pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar, serta perencanaan dan pengembangan karir. Pelayanan bimbingan dan konseling memfasilitasi pengembangan peserta didik secara individual, kelompok, dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan, potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, serta peluang-peluang yang dimiliki. Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hamba tan serta masalah yang dihadapi peserta didik. Dasar pemikiran penyelenggaraan bimbingan dan konseling di sekolah bukan semata-mata terletak pada ada atau tidak adanya landasan hukum (perundang-undangan) atau ketentuan dari atas, namun yang lebih penting adalah menyangkut upaya memfasilitasi peserta didik yang selanjutnya disebut konseli, agar mampu mengembangkan petensi dirinya atau mencapai tugastugas perkembangannya (menyangkut aspek fisik, emosi, intelektual, sosial dan moral-spiritual).2 B. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian bimbingan dan konseling? 2. Apa saja program bimbingan dan konseling? 3. Bagaimana sejarah dan perkembangan bimbingan dan konseling? 4. Apa tujuan dan fungsi bimbingan dan konseling? C. Tujuan Pembahasan 1. Untuk mengetahui pengertian bimbingan dan konseling. 2. Untuk mengetahui program bimbingan dan konseling. 3. Untuk mengetahui sejarah dan perkembangan bimbingan konseling. 4. Untuk mengetahui tujuan dan fungsi bimbingan konseling. 2 H. Kamaluddin, “Bimbingan Dan Konseling Sekolah,” Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, Vol.17, No.4, (2011): 447. Https://Jurnaldikbud.Kemdikbud.Go.Id/Index.Php/Jpnk/Article/View/40
3 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Bimbingan Konseling Banyak ahli yang menjelaskan tentang istilah dari bimbingan konseling. Istilah tersebut terdiri dari beberapa kata yang menjadi sebuah firasat baru yang mengandung makna baru. Istilah bimbingan merupakan terjemahan dari kata “guidance” (bahasa inggris). Secara etimologis bimbingan berasal dari kata “guide” yang artinya mengarahkan (direct), menunjukkan, mengatur, menyeter.3 Bimbingan adalah suatu proses membantu individu melalui usaha sendiri untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan sosial. Bimbingan merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Artinya aktifitas bimbingan tidak dilaksanakan secara kebetulan, insidental tidak sengaja, berencana, sistematis dan terarah kepada tujuan tertentu. Menurut Deni Febriani, bimbingan dapat diartikan suatu bagian integral dalam keseluruan program pendidikan yang mempunyai fungsi positif, bukan hanya sesuatu kekuatan kolektif. Bimbingan bukan lagi suatu tindakan yang bersifat hanya mengatasi setiap krisis yang dihadapi oleh anak sebagai pribadi segala kebutuhan, minat dan kemampuan yang harus berkembang.4 Istilah bimbingan menurut Elfi Mu’awanah, biasanya diartikan sebagai penyuluan, ternyata tidak hanya dikenal dalam pendidikan, tetapi juga dipakai dibidang pertanian, bidang hukum dan bidang kesehatan. Menurut Syamsu Yunus, bimbingan memiliki makna bahwa bimbingan merupakan serangkaian suatu proses yang berkesinambungan. Bimbingan merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang sistematis dan berencana kepada pencapaian tujuan dan kegiatan ini tidak terjadi seketika atau secara kebetulan. Menurut Hallen A, konseling adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu dengan berhubungan yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya. 3 Samsul Munir, “Bimbingan dan Konseling Islam” (Jakarta: Amzah,2013). 5 4 Deni Febrini, Bimbingan konseling, (Yogyakarta: Teras 2011), 1.
4 Istilah konseling berasal dari kata :counseling” adalah kata dalam bentuk masdar dari “to counsel” secara etimologis berarti “to give aadvince” dan pengertian dalam bahsa indonesia, juga dikenal sebagai istilah penyuluhan. Dengan demikian konseling berarti merupakan salah satu teknik dalam pelayanan bimbingan dimana proses pemberian bantuan itu berlangsung melalui wawancara dalam serangkaian pertemuan langsung dengan tatap muka antara klien dan konselor, maupun hubungan antar keduanya. Konseling merupakan salah satu teknik bimbingan. Melalui metode ini upaya pemberian bantuan diberikan secara individu dan langsung tatap muka (berkomunikasi) antara pembimbing (konselor) dengan klien. Dengan perkataan lain pemberian bantuan yang dilakukan melalui hubungan yang bersifat face to face relationship (hubungan empat mata). Menurut Rogers mengartikan hubungan membantu dimana salah satu pihak(konselor) dengan klien, agar dapat menghadapi persoalan /konflik yang dihadapi dengan lebih baik. Konseling didefiniskan sebagai aplikaasi kesehatan mental prinsip-prinsip psikologis/perkembangan manusia melalui intervensi kognitif, afektif, perilaku, atau sistemik. Bimbingan konseling merupakan proses bantuan untuk peserta didik baik individu /kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal dalam hubungan pribadi ,sosial,belajar, karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung atas dasar norma –norma yang berlaku. B. Program Bimbingan Konseling 1. Program bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan a. Menyediakan kesempatan sebaik-baiknya kepada peserta didik untuk menemukan bakat, minat dan kecakapan dalam dirinya dan memotivasi meraka untuk suka dan selalu meminta nasihat kepada guru b. Menyediakan informasi-informasi yang penting dan relevan dengan kegiatan studi lanjutan yang lebih sesuai dengan bakat minat dan kapasitas masing-masing individua nak didik
5 c. Menyediakan fasilitas belajar anak serta pemberian bantuan dalam hal yang menyangkut kesulitan belajarnya dengan menunjukkan metode yang baik baginya d. Menyediakan kesempatan bagi anak yang baru memasuki jenjang sekolah yang baru untuk dapat terhindar dari masa transisi yang dapat menimbulkan ketidakmampuan menyesuaikan diri. 2. Program bimbingan konseling bidang sikap dan nilai-nilai Bimbingan dan konseling dalam sikap dan nilai-nilai sangat diperlukan. Menyediakan kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan sikap dan nilai sesuai dengan idealis agama yang mendalam sehingga pola dasar hidup yang dapat diharapkan menjadi pengontrol segala aktivitas hidupnya dalam masyarakat. 3. Program bimbingan dan konseling bidang pembinaan pribadi Bimbingan dan konseling dalam bidang pembinaan kepribadian diperlukan bagi anak. Karena bidang ini sering terjadi permasalahan bagi anak. Bidang ini memiliki hubungan yang erat dengan bidang pembinaan sikap dan nilai nilai serta kesehatan mental (jiwa) 4. Program bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan a. Menyediakan kesempatan sebaik-baiknya kepada peserta didik untuk menemukan bakat, minat dan kecakapan dalam dirinya dan memotivasi meraka untuk suka dan selalu meminta nasihat kepada guru b. Menyediakan informasi-informasi yang penting dan relavan dengan kegiatan studi lanjutan yang lebih sesuai dengan bakat,5 minat dan kapasitas masing-masing individu anak didik c. Menyediakan fasilitas belajar anak serta pemberian bantuan dalam hal yang menyangkut kesulitan belajarnya dengan menunjukkan metode yang baik baginya. d. Menyediakan kesempatan bagi anak yang baru memasuki jenjang sekolah 5 Hemlan Elhany, Dakwah Islam Di era Globalisasi Perspektif Bimbingan Penyuluhan Islam, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam, Vol 1 no. 1 Januari-juni 2019,298. http://repository.uinsuska.ac.id/13387/6/6.%20BAB%20I_2018703KI.pdf
6 yang baru untuk dapat terhindar dari masa transisi yang dapat menimbulkan ketidakmampuan menyesuaikan diri. 5. Program bimbingan konseling bidang sikap dan nilai-nilai Bimbingan dan konseling dalam sikap dan nilai-nilai sangat diperlukan. Menyediakan kesempatan bagi anak untuk dapat mengembangkan sikap dan nilai sesuai dengan idealis agama yang mendalam sehingga pola dasar hidup yang dapat diharapkan menjadi pengontrol segala aktivitas hidupnya dalam masyarakat. 6. Program bimbingan dan konseling bidang pembinaan pribadi Bimbingan dan konseling dalam bidang pembinaan kepribadian diperlukan bagi anak. Karena bidang ini sering terjadi permasalahan bagi anak. Bidang ini memiliki hubungan yang erat dengan bidang pembinaan sikap dan nilai nilai serta kesehatan mental (jiwa) 7. Program bimbingan dan konseling dalam bidang jasmani dan ruhani Bimbingan dan konseling dalam bidang jasmani dan rohani antara lain menyediakan kesempatan dan dorongan kepada anak untuk melakukan usaha yang berguna bagi Kesehatan jasmani dan rohaninya serta memberikan motivasi untuk anak 8. Program bimbingan dan konseling dalam bidang jasmani dan ruhani Bimbingan dan konseling dalam bidang jasmani dan rohani antara lain menyediakan kesempatan dan dorongan kepada anak untuk melakukan usaha yang berguna bagi kesehatan jasmani dan rohaninya serta memberikan motivasi untuk anak. 9. Program bimbingan dan konseling dalam bidang pekerjaan Menyediakan informasi tentang memperoleh pekerjaan yang diharapkan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuan masing masing individu anak, serta informasi lapangan kerja yang diharapkan dan juga usaha menolong mereka mendapatkan pekerjaan yang halal, nyaman dan sebagainya.
7 10. Bidang bimbingan sosial Selain problem yang menyangkut dirinya sendiri, individu juga dihadapkan pada problem yang terkait dengan orang lain. Dengan perkataan lain, permasalahan ada yang bersifat pribadi ada yang bersifat sosial. Selaian problem diatas aspek aspek sosial yang memerlukan layanan bimbigan sosial adalah kemampuan individu melakukan sosialisasi dengan lingkungannya, kemampuan individu melakukan adaptasi dan kemampuan individu melakukan hubungan sosial dengan lingkungannya. 11. Bidang bimbingan belajar Pelayanan bimbingan dan konseling dalam bidang pendidikan membantu peserta didik untuk menumbuhkan dan mengamalkan sikap dan kebiasaan belajar yang baik dalam menguasai pengetahuan dan keterampilan sejalan dengan perkembaangan ilmu dan pengetahuan,6 teknologi dan kesenian serta mempersiapkan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi atau untuk terjun ke lapangan pekerjaan tertentu. 12. Bidang bimbingan keluarga Aspek kehidupan berkeluarga yang membutuhkan layanan bimbingan dan konseling, bisa dimasukkan kedalam kelompok masalah yang berkenaan dengan orang lain atau masalah sosial karena keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bago individu. C. Sejarah dan Perkembangan Bimbingan Konseling Berdirinya Bimbingan dan Konseling dimulai dari abad ke 19. Pada mulanya Bimbingan dan Konseling mulai berdiri dan berkembang di Amerika dengan disiplin ilmu yang berbeda- beda. Setelahnya, Bimbingan dan Konseling meluas ke berbagai pelosok bumi dan mulai diterapkan sebagai salah satu program pengembangan manusia yang diterapkan di layanan persekolahan.7 6 Supriatna Mamat. “Bimbingan dan konseling Berbasis Kompetensi Edisi Revisi”, Jakarta: Balai pustaka, 2013. http://www.studocu.com/id/document/universitas-riau/pengajaranmatematika/makalah-bk-tugas-bimbingan-konseling/14120375 7 Hurlock, E.B. 2004. Psikologi perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan. (penerjemah Isti Widayati dan Soedjarwo). Jakarta: Erlangga.
8 1. Sejarah Bimbingan dan Konseling di Amerika. Bimbingan dan Konseling mulai ada pada tahun 1908 di Amerika dengan berdirinya vocational bureau pada tahun 1908 oleh Frank Parsons. Frank Parson dikenal juga sebagai Father of The Guedance Movement in America Education. Frank menekankan bahwa penting bagi setiap individu untuk diberikan pertolongan dari orang lain untuk lebih memahami kekurangan dan kelemahan diri sehingga dapat digunakan untuk proses pengembangan diri lebih baik dan menentukan pekerjaan yang cocok bagi dirinya. Pertama kali istilah bimbingan dikenal pada abad ke- 19 hingga awal abad ke 20 di Boston. Pada awalnya istilah ini dikenal dengan berdirinya biro di bidang profesi dan ketenagakerjaan. Tujuannya yaitu untuk membantu pemuda dalam memilih karir atau pekerjaan sesuai dengan keahlian mereka dan juga melatih para guru untuk memberikan layanan bimbingan di sekolah. Pada masa yang hampir sama, Jasse B Davis juga memulai memberikan layanan pada tahun 1898. Pada tahun 1907 dia mencoba memasukkan program bimbingan ke dalam pensisikan siswa SMA di Detroit. Eli Weaver pada tahun 1905 mendirikan Students Aid Committee of High School di Newyork dan dalam mengembangkan komitenya, dia berada pada suatu kesimpulan. Kesimpulan yang dikemukakannya yaitu bahwa siswa membutuhkan saran dan konsultasi sebelum mereka masuk ke dunia kerja.Pada tahun 1920 para konselor sekolah di Boston dan New York diharapkan mampu membantu siswa dalam memilihkan pekerjaan yang tepat sesuai dengan keahlian masing- masing individunya. Selama itu pula, pada tahun 1920 an sertifikasi untuk konselor sekolah mulai diterapkan.Pada perkembangannya, mula mula bimbingan konseling dikenal sebagai bimbingan untuk pekerjaan atau karir, namun pada perkembangan lebih lanjut merambah pada bidang pendidikan atau Education Guidance yang dirintid Jasse B. Davis. Dimana bimbingan ini dikenal dengan adanya bimbingan dalam segi kepribadian atau Personal Guidance. Bimbingan konseling juga berkembang di bidang- bidang yang lain seperti pengertian, dan praktek
9 bimbingan konseling terhadap ilmu sosial, budaya, kewarganegaraan, keagamaan, dan lain sebagainya. 2. Sejarah Bimbingan dan Konseling di Indonesia. Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Malang tanggal 20 dan 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP yaitu IKIP Padang, IKIP Jakarta, IKIP Bandung, IKIP Yogyakarta, IKIP Semarang, IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP Menado. Melalui proyek ini Bimbingan dan Penyuluhan dikembangkan, juga berhasil disusun Pola Dasar Rencana dan Pengembangan Bimbingan dan Penyuluhan pada PPSP. Lahirnya Kurikulum 1975 untuk Sekolah Menengah Atas didalamnya memuat Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan. Kurikulum 1975 berisi layanan Bimbingan dan Konseling sebagai salah satu dari wilayah layanan dalam sistem persekolahan mulai dari jenjang SD sampai dengan SMA, yaitu pembelajaran yang didampingi layanan Manajemen dan Layanan Bimbingan dan Konseling. Pada tahun 1976, ketentuan yang serupa juga diberlakukan untuk SMK. Dalam kaitan inilah, dengan kerja sama Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Malang, pada tahun 1976 Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan pelatihan dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling untuk guru-guru SMK yang ditunjuk. Tindak lanjutnya memang tidak diketahui perkembangannya, karena para kepala SMK kurang memberikan ruang gerak bagi alumni pelatihan Bimbingan dan Konseling tersebut untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling sekembalinya mereka ke sekolah masing-masing. Dan dengan penetapan jurusan yang telah pasti
10 sejak kelas I SMK, memang agak terbatas ruang gerak yang tersisa, misalnya untuk melaksanakan layanan bimbingan karier. Meskipun ketentuan perundang-undangan belum memberikan ruang gerak, akan tetapi karena didorong oleh keinginan kuat untuk memperkokoh profesi konselor, maka dengan diplopori oleh para pendidik konselor yang bertugas sebagai tenaga akademik di beberapa LPTK, pada tanggal 17 Desember 1975 di Malang didirikanlah Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI), yang menghimpun konselor lulusan Program Sarjana Muda dan Sarjana yang bertugas di sekolah dan para pendidik konselor yang bertugas di LPTK, di samping para konselor yang berlatar belakang bermacam - macam yang secara de facto bertugas sebagai guru pembimbing di lapangan. Ketika ketentuan tentang Akta Mengajar diberlakukan, tidak ada ketentuan tentang ”Akta Konselor”. Oleh karena itu, dicarilah jalan ke luar yang bersifat ad hoc agar konselor lulusan program studi Bimbingan dan Konseling juga bisa diangkat sebagai PNS, yaitu dengan mewajibkan mahasiswa program S-1 Bimbingan dan Konseling untuk mengambil program minor sehingga bisa mengajarkan 1 bidang studi. Dalam hal itu IPBI tetap mengupayakan kegiatan peningkatan profesionalitas anggotanya antara lain dengan menerbitkan Newsletter sebagai wahana komunikasi profesional meskipun tidak mampu terbit secara teratur, di samping mengadakan pertemuan periodik berupa konvensi dan kongres. Untuk jenjang SD, pelayanan bimbingan dan konseling belum terwujud sesuai dengan harapan, dan belum ada konselor yang diangkat di SD, kecuali mungkin di sekolah swasta tertentu, tetapi pelaksanaan bimbingan dilakukan secara inplisit dalam program pendidikan. Untuk jenjang sekolah menengah, posisi konselor diisi seadanya termasuk, ketika SPG di-phase out mulai akhir tahun 1989, sebagian dari guru-guru SPG yang tidak diintegrasikan ke lingkungan LPTK sebagai dosen Program D-II PGSD, juga ditempatkan sebagai guru pembimbing, umumnya di SMA. Di awal tahun 1960, muncul tenaga konselor di SD, yang kemudian pada tahun 1975, berdasarkan hukum publik 94-145, Pemerintah
11 Amerika,menyediakan dana khusus untuk melayani anak-anak penyandang cacat,sehingga banyak daerah yang memasukkan tenaga Konselor di sekolahsekolah terutama tingkat dasar dan menengah.Pengaruh kuat lainnya datang dari organisasi profesi, yaitu: Asosiasi Konseling Amerika (ACA),Asosiasi Konselor Sekolah Amerika (ASCA), dan Asosiasi Pendidikan Konselordan Supervisi (ACES) (Wittmer, 1993). Para anggota organisasi ini berupaya menggerakkan para profesional untuk mengembangkan aturan-aturan seperti program akreditasi dan sertifikasi. Sehingga secara berangsur-angsur konseling sekolah menjadi lebih profesional, dan utuh baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, mulailah ada ruang gerak bagi layanan ahli bimbingan dan konseling dalam sistem persekolahan di Indonesia, sebab salah satu ketentuannya adalah mewajibkan tiap sekolah untuk menyediakan 1 (satu) orang konselor untuk setiap 150 (seratus lima puluh) peserta didik, meskipun hanya terealisasi pada jenjang pendidikan menengah. Sejumlah hal dilakukan sebagai konsolidasi profesi sedhingga Bimbingan dan konseling menjadi profesi yang utuh dan berwibawa antara lain kata penyuluhan menjadi konseling, BK di sekolah hanya dilakukan oleh guru Pembimbing, dan lain sebagainya. Pada tahun 2001 dalam kongres di Lampung Ikatan Pertugas Bimbingan Indonesia (IPBI) berganti nama menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Periode Peristiwa Prawacana dan Perkenalan (1960-1970an) Berpuncak pada dibukanya jurusan Bimbingan dan Penyuluhan pada tahun 1963 di IKIP Bandung sekarang UPI. Sampai pada akhirnya diluluskan sarjana BP dan memperkenalkan perlu adanya layanan BP kepada masyarakat akademik dan pendidik. Pemasyarakatan Diberlakukan kurikulum 1975. Pada tahun ini dibentuk organisasi profesi BP dengan nama IPBI (Ikatan Petugas
12 (1970-1980an) Bimbingan Indonesia). Pada periode ini ditandai juga dengan pemberlakuan kurikulum 1984, layanan BP difokuskan pada bidang bimbingan karir. Pada periode ini muncul beberapa permasalahan seperti (1) berkembangnya pemahaman yang keliru, yang mengidentikkan bimbingan karir (BK) dengan bimbingan penyuluhan (BP), sehingga muncul istilah BK/BP, (2) kerancuan dalam mengimplementasikan SK Menpen No. 26/Menpen/1989 terhadap penyelenggaraan layanan bimbingan di sekolah. Konsolidasi (1980-2000) Pada periode ini IPBI berusaha keras untuk mengubah kebijakan bahwa pelayanan BP itu dapat dilaksanakan oleh semua guru, ditandai oleh (1) diubahnya secara resmi kata penyuluhan menjadi konseling: istilah yang dipakai sekarang adalah bimbingan konseling/BK, (2) pelayanan BK di sekolah hanya dilaksanakan oleh guru pembimbing yang secara khusus ditugasi untuk itu, (3) mulai diselenggarakan penataran (nasional dan daerah) untuk guru-guru pembing, (4) mulai adanya formasi untuk pengangkatan menjadi guru pembimbing, (5) pola pelayanan BK di sekolah “dikemas? Dalam “BK pola 17”, dan (6) dalam bidang kepengawasan sekolah dibentuk kepengawasan bidang BK, (7) dikembangkan sejumlah penaduan pelayanan BK di sekolah yang lebih operasional oleh IPBI. Lepas Landas (2000-Sekarang) Setelah tahun 2001 terdapat beberapa peristiwa yang dapat dijadikan tongkat bagi pengembangan profesi konseling menuju era lepas landas, yaitu : (1) penggantian nama organisasi IPBI menjadi ABKIN (Asosiasi Bimbingan Konseling), (2) lahirnya undang-undang No.
13 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang di dalamnya termuat ketentuan bahwa konselor termasuk salah satu jenis tenaga pendidik (Bab 1 Pasal 1 Ayat 4), (3) kerjasama pengurus besar ABKIN dengan Dikti Depdiknas tentang standarisasi profesi konseling, (4) kerjasama ABKIN dengan Direktorat PLP dalam merumuskan kompetensi guru pembimbing (konselor). D. Tujuan dan Fungsi Bimbingan Konseling 1. Tujuan Bimbingan Konseling Bimbingan konseling dikhususkan untuk membina dan membimbing siswa-siswi yang mempunyai masalah baik itu masalah internal maupun external yang mana BK atau Bimbingan Konseling mencakup hal-hal yang berkenaan dengan pribadi, kemasyarakatan, belajar, dan karier peserta didik. BK sangatlah penting untuk menujang dan memperbaiki sikap tingkah laku dan pribadi peserta didik yang keluar dari alur tata tertib.8 Dalam Permendikbud nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, disebutkan bahwa tujuan umum layanan bimbingan dan konseling adalah membantu peserta didik/ konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Berdasarkan pada tujuan umum tersebut, selanjutnya dirumuskan tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling, yaitu membantu konseli agar mampu: a. Memahami dan menerima diri dan lingkungannya; 8Suriata Siti Rahmi, “Analisis Pemahaman Mahasiswa Terhadap Keterampilan Dasar”, Indonesia Journal of Learning Education and Counseling, Vol. 1 No. 2 (2019), 177–185.
14 b. Merencanakan kegiatan menyelesaian studi, perkembangan karir dan kehidupannya di masa yang akan datang; c. Mengembangkan potensinya seoptimal mungkin; d. Menyesuaikan diri dengan lingkungannya; e. Mengatasi hambatan atau kesulitan yang dihadapi dalam kehidupannya dan f. Mengaktualiasikan dirinya secara pertanggung jawab9 Dapat disimpulkan bahwa tujuan bimbingan dan konseling secara umum seperti yang dirumuskan pada BK di jalur pendidikan formal, juga menjadi tujuan bagi satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaam maupun khusus, yaitu membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Sementara tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling, akan disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap jenis pendidikan yang ada,yaitu pendidikan umum, kejuruan, keagamaan dankhusus. Berdasarkan kebutuhan dari setiap jenis pendidikan tersebut, tidak menutup kemungkinan terdapat tujuan yang sama dan ada tujuan yang berbeda, dipengaruhi oleh karakteristik khas dari masing-masing jenis pendidikan. 2. Fungsi Bimbingan Konseling Menurut Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun 2014 Tentang Bimbingan dan Konseling Pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah Pasal 2 menyebutkan bahwa layanan Bimbingan dan Konseling bagi Konseli pada satuan pendidikan memiliki fungsi sebagai berikut: a. Pemahaman diri dan lingkungan; b. Fasilitasi pertumbuhan dan perkembangan c. Penyesuaian diri dengan diri sendiri dan lingkungan 9Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud RI.
15 d. Penyaluran pilihan pendidikan, pekerjaan, dan karir e. Pencegahan timbulnya masalah f. Perbaikan dan penyembuhan g. Pemeliharaan kondisi pribadi dan situasi yang kondusif untuk perkembangan diri Konseli h. Pengembangan potensi optimal i. Advokasi diri terhadap perlakuan diskriminatif j. Membangun adaptasi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap program dan aktivitas pendidikan sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan.10 Sementara itu, Winkel & Hastuti dalam Kristianto mengemukakan, fungsi pokok pelayanan Bimbingan dan Konseling di sekolah adalah sebagai berikut: a. Fungsi Penyaluran, yaitu fungsi dalam membantusiswa mendapatkanprogram studi yang sesuai baginya dalam rangka kurikulum pengajaran yang disediakan di sekolah, memilih kegiatan ekstrakurikuler yang cocok baginya selama menjadi peserta didik di sekolah yang bersangkutan, menentukan program studi lanjutan yang sesuai baginya setelah tamat, dan merencanakan bidang pekerjaan yang cocok baginya di masa mendatang. Semua ini kerap berarti bahwa siswa kerap dibantu untuk memilih di antara alternatif yang tersedia (decision making). b. Fungsi penyesuaian, yaitu fungsi dalam membantu siswa menemukan cara menempatkan diri secara tepat dalamberbagai keadaan dan situasi yang dihadapi. Misalnya, siswa harus dibantu untuk bergaul secara memuaskan dengan menentukan sikap di tengah‐tengah kehidupan keluarganya keluarganya (adjustment). 10Yuliana D Lestari, “Analisis Perwujudan Fungsi Bimbingan Konseling Pada Peserta Didik Kelas X Sma Negeri 1 Pontianak”, journal Analisa, Vol. 1 No. 2 (2017), 2.
16 c. Fungsi pengadaptasian, yaitu fungsi sebagai nara sumber bagi tenaga‐ tenaga pendidik yang lain di sekolah, khususnya pimpinan sekolah dan staf pengajar, dalam hal mengarahkan rangkaian kegiatan pendidikan dan pengajaran supaya sesuai dengan kebutuhan para siswa. Pelayanan ini tidak langsung diberikan kepada siswa, seperti pada fungsi (1) dan (2), tetapi tenaga bimbingan memberikan informasi dan usulan kepada sesama tenaga pendidik demi keberhasilan program pendidikan sekolah serta terbinanya kesejahteraan para siswa.11 Jadi, dapat disimpulkan bahwa fungsi bimbingan dan konseling yaitu berperan penting dalam membantu peserta didik memahami dan mengerti akan dirinya sendiri serta lingkungannya serta memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh perkembangan yang optimal dan seimbang dalam kepribadian diri seorang peserta didik. 11Kristianto Batuadji, “Hubungan Antara Efektivitas Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan Persepsi Siswa Terhadap Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama”, Jurnal psikologi, Vol. 36 No. 1, 18–34.
17 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Dari uraian diatas, penulis dapat menarik beberapa kesimpulan berikut ini: 1. bimbingan dan konseling disekolah sebagai pelayanan profesional yang bertujuan untuk membantu proses perkembangan pribadi dan mengatasi masalah yang seringkali dihadapi siswa. Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan bersama, semua personel sekolah. Mempunyai peran masing masing dalam melaksanakan program dan bimbingan konseling. 2. bimbingan konseling merupakan salah satuu komponen dalam satuan sistem pendidikan khususnya di sekolah. Guru sebagai salah satu pendukung pelaksanaan layanan bimbingan pendidikan disekolah, dituntut memiliki wawasan yang memadai dan konseling terhhadap konsep konsep dasar bimbingan dan konseling disekolah. 3. Berdirinya Bimbingan dan Konseling dimulai dari abad ke 19. Pada mulanya Bimbingan dan Konseling mulai berdiri dan berkembang di Amerika dengan disiplin ilmu yang berbeda- beda. Setelahnya, Bimbingan dan Konseling meluas ke berbagai pelosok bumi dan mulai diterapkan sebagai salah satu program pengembangan manusia yang diterapkan di layanan persekolahan. Sejarah lahirnya Bimbingan dan Konseling di Indonesia diawali dari dimasukkannya Bimbingan dan Konseling (dulunya Bimbingan dan Penyuluhan) pada setting sekolah. Pemikiran ini diawali sejak tahun 1960. Hal ini merupakan salah satu hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) di Malang tanggal 20 dan 24 Agustus 1960. Perkembangan berikutnya tahun 1964 IKIP Bandung dan IKIP Malang mendirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. Tahun 1971 beridiri Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) pada delapan IKIP. Kurikulum 1975 berisi layanan Bimbingan dan Konseling sebagai salah satu dari wilayah layanan dalam sistem persekolahan mulai dari jenjang SD sampai dengan SMA. Pada tahun
18 1976, ketentuan yang serupa juga diberlakukan untuk SMK. Untuk jenjang SD, pelayanan bimbingan dan konseling belum terwujud sesuai dengan harapan, dan belum ada konselor yang diangkat di SD, kecuali mungkin di sekolah swasta tertentu. Dengan diberlakukannya Kurikulum 1994, mulailah ada ruang gerak bagi layanan ahli bimbingan dan konseling dalam sistem persekolahan di Indonesia. 4. Tujuan bimbingan dan konseling secara umum seperti yang dirumuskan pada BK di jalur pendidikan formal, yang juga menjadi tujuan bagi satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaam maupun khusus, yaitu membantu peserta didik/konseli agar dapat mencapai kematangan dan kemandirian dalam kehidupannya serta menjalankan tugas-tugas perkembangannya yang mencakup aspek pribadi, sosial, belajar, karir secara utuh dan optimal. Sementara tujuan khusus layanan bimbingan dan konseling, akan disesuaikan dengan kebutuhan dari setiap jenis pendidikan yang ada,yaitu pendidikan umum, kejuruan, keagamaan dankhusus. Berdasarkan kebutuhan dari setiap jenis pendidikan tersebut, tidak menutup kemungkinan terdapat tujuan yang sama dan ada tujuan yang berbeda, dipengaruhi oleh karakteristik khas dari masing-masing jenis pendidikan. Sementara itu fungsi dan peran penting bimbingan konseling yaitu membantu peserta didik memahami dan mengerti akan dirinya sendiri serta lingkungannya serta memberikan kemudahan bagi peserta didik untuk memperoleh perkembangan yang optimal dan seimbang dalam kepribadian diri seorang peserta didik. B. Saran Dalam penulisan makalah ini memang hanya sedikit memasukkan pembahasan dalam setiap rumusan masalah karena memang penulis hanya menuliskan hal hal yang perlu diperhatikan tentang hadist. Oleh karena itu, untuk memperbaiki makalah tersebut penulis meminta kritik yang membangun dari pembaca
DAFTAR PUSTAKA Evi, Tika, “Manfaat Bimbingan dan Konseling Bagi Siswa,” Jurnal Pendidikan Dan Konseling Vol.2, No.1, (2020) https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/jpdk/article/view/589 Munir, Samsul, Bimbingan dan Konseling Islam (Jakarta: Amzah, 2013). Febrini, Deni, Bimbingan konseling, (Yogyakarta: Teras 2011). Hemlan Elhany, Dakwah Islam Di era Globalisasi Perspektif Bimbingan Penyuluhan Islam, Jurnal Bimbingan Penyuluhan Islam, Vol 1 no. 1 (2019) http://repository.uin-suska.ac.id/13387/6/6.%20BAB%20I_2018703KI.pdf Supriatna Mamat. “Bimbingan dan konseling Berbasis Kompetensi Edisi Revisi”, Jakarta: Balai pustaka, (2013). http://www.studocu.com/id/document/universitas-riau/pengajaranmatematika/makalah-bk-tugas-bimbingan-konseling/14120375 Suriata Siti Rahmi, “Analisis Pemahaman Mahasiswa Terhadap Keterampilan Dasar”, Indonesia Journal of Learning Education and Counseling, Vol. 1 No. 2 (2019). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Kemendikbud RI. Yuliana D Lestari, “Analisis Perwujudan Fungsi Bimbingan Konseling Pada Peserta Didik Kelas X Sma Negeri 1 Pontianak”, journal Analisa, Vol. 1 No. 2 (2017). Kristianto Batuadji, “Hubungan Antara Efektivitas Fungsi Bimbingan dan Konseling Dengan Persepsi Siswa Terhadap Bimbingan dan Konseling di Sekolah Menengah Pertama”, Jurnal psikologi, Vol. 36 No. 1.