E BOOK JENIS BATIK
BERDASARKAN SEJARAH,
MOTIF SERTA PROSES
PEMBUATAN
.
.
.
.
.
.
.
.
.
NAMA: NAZWA NUR AZIZAH NABILLAH
KELAS: 10 IPA 4
1
KATA PENGANTAR
Ucapan puji-puji dan syukur semata-mata hanyalah milik Allah SWT.
Hanya kepada-Nya lah kami memuji dan hanya kepada-Nya lah kami
bersyukur, kami meminta ampunan dan kami meminta pertolongan.
Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan
nabi gung kita, yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah
menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita semua, yang
merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama
Islam yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling
besar bagi seluruh alam semesta.
Dengan hormat serta pertolongan-Nya, puji syukur, pada akhirnya
kami dapat menyelesaikan makalah kami dengan judul “Sejarah
Perkembangan Islam di Indonesia” dengan lancar. Kami pun
menyadari dengan sepenuh hati bahwa tetap terdapat kekurangan
pada makalah kami ini.
Oleh sebab itu, kami sangat menantikan kritik dan saran yang
membangun dari setiap pembaca untuk materi evaluasi kami
mengenai penulisan makalah berikutnya. Kami juga berharap hal
tersebut mampu dijadikan cambuk untuk kami supaya kami lebih
mengutamakan kualitas makalah di masa yang selanjutnya.
Bontang, 28 September 2021
2
DAFTAR ISI
Judul…………………………………………………………………………1
Kata Pengantar…………………………………………………………2
Daftar isi…………………………………………………………………..3
Batik Berdasarkan sejarah………………………………………..4
Batik Berdasarkan motif……………………………………………8
Batik Berdasarkan proses pembuatan………………………19
Kesimpulan……………………………………………………………….25
Daftar Pustaka………………………………………………………….26
3
BERDASARKAN SEJARAH BATIK TERDIRI DARI:
Berdasarkan sejarah munculnya motif batik, maka dibagi kedalam dua jenis
batik yaitu batik keraton dan batik pesisir.
1. Batik keraton
Pada awalnya batik hanya dibuat dan dikenakan di lingkungan keraton, sehingga setiap motif
memiliki filosofi atau makna tertentu. Batik keraton yaitu jenis batik yang dikembangkan dan
digunakan di
lingkungan keraton. Motif dan penggunaannya diatur dengan norma- norma keraton. Setiap
corak menunjukkan status pemakainya.
Corak motif keraton disebut motif larangan, karena pada awalnya motif-motif tertentu
dilarang dikenakan masyarakat umum, kecuali oleh kerabat keraton. Dalam tradisi
masyarakat keraton (jawa) membatik dianggap sebagai kegiatan pengabdian kepada raja.
Motif batik keraton disebut dengan motif larangan karena hanya boleh dipakai orang orang
keraton, Batik larangan Keraton disebut juga Awisan Dalem, adalah motif-motif batik yang
penggunaannya terikat dengan aturan-aturan tertentu di Keraton Yogyakarta dan tidak
semua orang boleh memakainya.
Salah satu hal yang melatarbelakangi adanya batik larangan di Yogyakarta adalah adanya
Keyakinan akan kekuatan spiritual dan makna filsafat yang terkandung dalam motif kain batik.
Motif pada batik dipercaya mampu menciptakan suasana yang religius serta
memancarkan aura magis sesuai dengan makna yang dikandungnya. Oleh karena itu
beberapa motif, terutama yang memiliki nilai falsafah tinggi, dinyatakan sebagai batik
larangan.
Adapun yang termasuk batik larangan di Keraton Yogyakarta antara lain Parang Rusak Barong,
Parang Rusak Gendreh, Parang Klithik, Semen Gedhe Sawat Gurdha, Semen Gedhe Sawat Lar,
Udan Liris, Rujak Senthe, Parang-parangan, Cemukiran, Kawung, dan Huk.
Setiap Sultan yang sedang bertahta memiliki kewenangan untuk menetapkan motif batik
tertentu ke dalam batik larangan. Parang Rusak adalah motif pertama yang dicanangkan
sebagai pola larangan di Kesultanan Yogyakarta oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada
1785. Saat pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono VII, batik larangan
ditekankan pada motif huk dan kawung. berikut beberapa motif larangan
1. Motif larangan keraton Yogyakarta dan Surakarta
A. Sawat
4
yaitu motif berbentuk sayap-sayap besar menggambarkan burung garuda sebagai
kendaraan Dewa Wisnu yang melambangkan kekuasaan atau raja
B. Parang
yaitu motif yang berbentuk huruf S yang menyambung dan berulang ulang dan
memiliki alur diagonal 45° , motif ini melambangkan menangkal kebatilan, kekuatan,
kecepatan, keperkasaan, dan kesucian.
C. Cemukiran
berbentuk motif lotus yang melambangkan kekuasaan. Motif ini sejajar lurus dan
disusun secara diagonal yang melambangkan kesuburan
2. Batik Pesisir
Batik pesisiran yaitu batik yang berkembang di luar keraton.
Pertumbuhan di pesisir Jawa bagian Timur dimulai sejak masa pra-Islam
yaitu sekitar abad ke-15 M dan 16 M. Orientasi pengembangan seni
batik pesisiran juga dipengaruhi oleh budaya keraton yang saat itu
menjadi pusat pemerintahan. Dalam sejarah batik pesisiran seperti
Pekalongan, Tegal, Indramayu, Cirebon, Karawang, Ciamis, Tasikmalaya,
dan garut, secara keseluruhan pola batiknya mengambil pola hias pada
keraton Cirebon. Pilihan warna yang mencolok dari batik pesisiran
tampaknya dipengaruhi warna keramik pada masa dinasti Ming yang
hanya diproduksi pada abad ke- 17 M sampai abad ke- 18 M.
Pada masa zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi
dua kelompok besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Batik
vorstenlanden adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta yang
dikenal dengan batik keraton, sedangkan batik pesisir adalah semua batik
yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta atau
diluar keraton.
Istilah batik "pesisir" muncul karena perkembangan batik ini berada di
daerah pesisir utara pulau jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem,
Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir lebih
bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, hal ini karenakan pengaruh
5
budaya luar yang begitu kuat.
Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan sebagai barang
dagangan. Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat
mempengaruhi bentuk ragam hias batik-nya terutama pada saat
masuknya agama Islam pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi
alternatif dalam motif batik pesisir dikarenakan adanya larangan
dikalangan ulama Islam dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.
Perkembangan batik pesisir mengalami kemajuan sekitar abad ke-19,
hal ini terjadi karena adanya kemunduran produksi tekstil dari India
yang menjadi salah satu produsen kain terbesar di pulau jawa hal ini
mengakibatkan banyak konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir terjadi pada masa pengusaha Indo-
Belanda berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan
nama "Batik Belanda". Selain pengusaha dari belanda pengusaha
Tionghoa juga ikut dalam usaha pengembangan batik pesisir.
Ciri khas batik pesisir terlihat dari motif-motif yang menjadi simbol
akulturasi budaya Indonesia pesisir, Tiongkok dan Belanda. Maka tidak
heran jika batik pesisir lebih menerapkan motif-motif seperti burung
hong, naga, kereta kuda, kapal, kupu-kupu, burung merak dan pipit.
Juga motif-motif dengan ciri khas lingkungan yang sangat kuat.
Biasanya batik pesisir memiliki pilihan warna dan motif yang cenderung
tidak kaku.
Batik pesisir juga selalu digambar secara tidak naturalis. Hal ini
disebabkan oleh larangan Islam untuk menggambar sesuatu dengan gaya
naturalis. Nah, untuk penggunaannya sendiri, batik pesisir tidaklah sulit
seperti batik Jogja maupun Solo yang disesuaikan dengan pangkat dalam
keraton. Batik pesisir bisa digunakan oleh siapa saja karena bersifat
komersil.
Batik pesisir terbagi menjadi delapan model yaitu:
1. Batik pesisir tradisional merah biru
2. Batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya Tionghoa
dan indo Eropa
3. Batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda
4. Batik yang mencerminkan kekuasaan kolonial
5. Batik hasil modifikasi pengusaha Tionghoayang ditujukan untuk
kebutuhan kalangan Tionghoa
6. Kain panjang
7. Batik hasil pengembangan dari model batik merah biru
8. Kain adat
Berdasarkan motifnya batik pesisir terdiri dari:
a. Batik India atau Batik Sembagi
6
adalah wastra batik yang menerapkan ragam hias wastra dari India
yaitu kain Patola dan Chintz atau Sembagi. Jenis batik ini mulai
dibuat oleh pedagang Arab dan Cina pada awal ke-19 di kawasan
pantai utara Pulau Jawa terutama Cirebon dan Lasem.
Kain Patola dan Chintz yang membawa unsur budaya India
mempengaruhi ragam hias batik. Batik yang menggunakan ragam
hias dari kain Sembagi disebut batik Sembagi dan yang menampilkan
tiruan pola tenun Patola disebut batik Jlamprang atau batik Nitik.
b. Batik Belanda
Batik belanda adalah jenis batik yang tumbuh dan berkembang
antara tahun 1840-1940. Pada mulanya batik ini hanya dibuat
untuk masyarakat Belanda dan Indo-Belanda yang pada umumnya
berbentuk sarung. Para pemakainya semula terbatas
pada kalangan
sendiri kemudian menyebar ke lingkungan orang
Tionghoa dan para
bangsawan Jawa.
c. Batik Tionghoa
Batik tionghoa tercipta dari asimilasi budaya asli Indonesia dengan budaya Cina. Salah satu
jenis batik peranakan Cina adalah Tokwi.
Batik seperti ini hanya ada dan berasal dari Indonesia, tidak ada di
negara lain. Batik jenis ini berkembang pesat di daerah lasem, batik
Lasem terletak pada coraknya yang merupakan gabungan pengaruh
budaya Tionghoa, budaya lokal masyarakat pesisir utara Jawa Tengah
serta budaya Keraton Solo dan Yogyakarta. Sejarah Batik Lasem
ditengarai berkaitan dengan sejarah kedatangan Laksamana Cheng
Ho di Jawa pada tahun 1413. Dalam catatan di Babad Lasem (1479
M) menyebutkan, anak buah kapal Dhang Puhawang Tzeng Ho dari
cina, Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di kawasan
Bonang dan mulai membatik. Secara umum Batik Lasem hanya
mempunyai dua motif utama yaitu motif Tionghoa dan non Tionghoa.
Motif Tionghoa seperti motif Burung Hong (Lok Can), Naga, Kilin,
Ayam Hutan dan sebagainya. Sedang non Tionghoa, bermotif Sekar
Jagad, Kendoro Kendiri, Grinsing, Kricak/ Watu Pecah, Pasiran dan
lainnya.
7
d. Batik Djawa Hokokai
Masa pendudukan Jepang yang hanya tiga tahun di Indonesia (1942-
1945), tapi memberi pengaruh terhadap batik di Indonesia, yang
disebut batik jawa hokokai. Batik jawa hokokai berciri adanya
tambahan warna kuning yang sebelumnya tidak pernah ada di batik
Nusantara, dan motif bunga sakura. Batik jawa hokokai diciptakan
para pengusaha China untuk menyesuaikan diri dengan pemerintahan
Jepang. Nama motif ini diambil dari organisasi propaganda Jepang,
Jawa Hokokai, untuk menciptakan kemakmuran di Asia. Batik Jawa
Hokokai dibuat dalam bentuk batik pagi-sore sebagai akibat
kelangkaan bahan batik pada Perang Dunia II dan sampai sekarang
terus bertahan dalam bentuk itu.
B. Berdasarkan motifnya
Batik memiliki banyak ragam motif hal ini terjadi seiring dengan kemajuan
jaman dan juga ciri khas dari daerah dimana batik tersebut berkembang.
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi terciptanya motif batik yaitu:
1. letak geografis
misalnya di daerah pesisir akan menghasilkan batik dengan motif yang
berhubungan dengan laut, begitu pula dengan yang tinggal di
pegunungan akan terinspirasi oleh alam sekitarnya.
2. sifat dan tata penghidupan daerah
3. kepercayaan dan adat di suatu daerah
4. keadaan alam sekitar termasuk flora dan fauna.
Dalam proses pembutan motif batik, ternyata ada yang disebut isen atau
ornamen pengisi. Ornamen ini melengkapi motif utama sebagai hiasan atau
yang mempercantik motif batik. Ornamen utama adalah ornamen yg
mpunyai arti. Contoh; meru, pohon, burung, ular dan api, sedangkan
Ornamen pengisi bidang hanya sbg pengisi bidang, tdk mempunyai arti.
Contoh: bunga, daun. Isen dapat diterjemahkan sebagai “isian“, gambar-
8
gambar yang berfungsi untuk mengisi ornamen pokok dalam batik.
Berikut beberapa motif batik yang berkembang di nusantara
1. Batik motif kelasik
Batik kelasik adalah batik dengan motif kuno, motif ini berkembang saat
jaman keraton. Motif batik ini biasanya memiliki makna dan filosofi
tertentu.
Berikut beberapa contoh motif kelasik :
a. Dasar motif lereng atau liris
motif ini memiliki bentuk dasar garis-garis miring sejajar
b. Motif ceplok
motif ini berbentuk barisan bunga atau lingkaran yang sejajar dan
sama. Batik ceplok atau ceplokan merupakan jenis batik yang
memiliki pola atau motif dengan bentuk dasar geometri, seperti
persegi, oval maupun bintang yang disusun melingkar sehingga
menyerupai sekuntum bunga dengan pola simetris. Bentuk tersebut
terinspirasi dari buah kawung atau buah aren yang dibelah empat.
Variasi dalam batik ceplok sangat kaya, bentuk utama geometris bisa
diisi atau dalam istilah batik disebut isen-isen dengan motif batik
lainya seperti kawung, parang klithik, truntum atau hiasan isen-isen
lainnya seperti bunga dan gerdo atau garuda.
Motif batik ceplok ini menggambarkan suratan takdir dan
keteraturan kehidupan, bawah dalam kehidupan di dunia sudah ada
aturan dan garisnya. Sehingga dharapkan sipemakai batik ini dapat
menjalani hidup secara teratur. Pada zaman dulu, batik ceplok
digunakan oleh aparat pemerintahan. Dengan menggunakan motif
batik ini diharapan para aparat pemerintahan akan bertugas dengan
benar dan jujur.
9
c. Motif isen cecek sawut
Motif isen cecek sawut yaitu motif yang terdiri atas titik dan garis
pendek. Cecek berarti titik, sedangkan sawut berarti serabut atau
garis-garis berjajar. Motif ini hanya ada di Indonesia sehingga
dianggap sebagai motif khusus Indonesia. Motif Isen atau Pola Mengisi
merupakan karakteristik yang sangat Indonesia, khususnya Jawa.
Motif isen terdiri dari ornamen utama dan ornamen pengisi yang
berupa titik-titik, garis-garis, gabungan titik dan garis yang berfungsi
untuk ornamen-ornamen dari motif atau pengisi bidang diantara
ornamen-ornamen tersebut. Motif isen ada bermacam-macam dan
sekarang masih berkembang, seperti cecek, cecek pitu, sisik melik,
cecek sawut, cecek sawu daun, sisik gringsing, galaran, rambutan,
sirapan, cacah gori, dan sebagainya.
d. Motif tritik (titik-titik)
Motif ini berbentuk titik-titik yang berukuran besar. Motif ini
berkembang sampai sekarang.
e. Motif kawung
motif kawung mempunyai bentuk menyerupai buah aren yang
dipotong melintang maka nampak empat biji aren. Selain itu ada juga
yang menyebutkan Batik kawung terinspirasi dari bulatan
menyerupai buah kawung yang dibelah menjadi dua dan ditata secara
apik hingga bergaya geometris. Dilansir dari beberapa sumber, motif
batik kawung juga kerap diartikan sebagai gambar bunga teratai
dengan empat lembar mahkota bunga yang mekar.
Makna batik kawung sangat dalam, yakni kemurnian, kesempurnaan,
dan kesucian. Jika dikaitkan dengan kata suwung yang berarti kosong,
maka motif batik kawung dapat ditafsirkan sebagai pengendalian diri
10
yang sempurna atas hasrat duniawi. Ada beberapa jenis batik kawung
yaitu berdasarkan ukurannya dan berdasarkan desainnya.
f. Motif sidomukti
motif yang berbentuk dasar segi empat dan diberi isen garuda, sayap/
lar, atau motif lain. Sidomukti merupakan salah satu motif batik khas
solo. Pada zaman dahulu, motif Sidomukti hanya boleh dikenakan oleh
pengantin keraton yang akan melangsungkan pernikahan. Makna
yang dimiliki batik Sidomukti adalah adanya harapan agar kedua
pengantin dapat memperoleh kesejahteraan dan kemuliaan dalam
mengarungi bahtera rumah tangga. Berikut beberapa motif
sidomukti.
g. Motif semen atau gunung
Motif semen adalah motif yang berbentuk dasar gunung. Motif ini
hiasannya dilengkapi dengan motif meru, garuda, pohon, dan candi.
Motif-motif ini adalah motif batik khusus Indonesia.
Semen berasal dari kata semi yang artinya tumbuh, sehingga
diartikan “kehidupan yang semi” (kehidupan yang berkembang atau
makmur).
Ornamen motif semen terdiri dari 3 bagian. Pertama adalah
ornamen yang berhubungan dengan daratan, seperti tumbuh-
tumbuhan atau binatang berkaki empat. Kedua adalah ornament
yang berhubungan dengan udara, seperti garuda, burung dan megabmendung. Sedangkan
yang ketiga adalah ornamen yang berhubungan
dengan laut atau air, seperti ular, ikan dan katak. Ada hubungannya dengan paham Triloka
atau Tribawana. Paham tersebut adalah ajaran tentang adanya tiga dunia; dunia tengah
tempat manusia hidup, dunia atas tempat para dewa dan para suci,
serta dunia bawah tempat orang yang jalan hidupnya tidak
benar/dipenuhi angkara murka.
Ragam motif Semen
1. Semen Gurdo, digunakan untuk pesta. Makna yang terkandung
yakni agar si pemakai mendapatkan berkah dan terlihat
berwibawa.
11
2. Semen Romo, Motif Semen Rama (dibaca Semen Romo) sendiri
seringkali dihubungkan dengan cerita Ramayana yang sarat
dengan ajaran Hastha Brata atau ajaran keutamaan melalui
delapan jalan. Ajaran ini adalah wejangan keutamaan dari
Ramawijaya kepada Wibisana ketika dinobatkan menjadi raja
Alengka. Jadi “Semen Romo” mengandung ajaran sifat-sifat
utama yang harus dimiliki oleh seorang raja atau pemimpin
rakyat. Nasihat tersebut termaktub di dalam asta brata (delapan
keutamaan bagi seorang pemimpin)
3. Semen Mentul, digunakan untuk pakaian sehari-hari. Orang yang
menggunakan motif ini umumnya tidak memiliki keinginan yang
pasti.
4. Semen Rante, rante berarti rantai yang melambangkan ikatan.
Jadi motif ini memiliki arti ikatan cinta yang terus tumbuh
bersemi antara kedua mempelai.
5. Semen Kuncoro, digunakan kegiatan sehari-hari di kraton.
Mengandung makna bahwa sang pemakai akan memancarkan
kebahagiaan.
6. Semen Kakrasana, motif berasal dari Surakarta. Dibuat ketika
Paku Buwono IX, setelah abad ke 19, menggambarkan keteguhan
hati, berjiwa kumawulo (merakyat). Bisa digunakan oleh
masyarakat umum.
7. Semen Naga Raja, dibuat ketika Paku Buwono IV, akhir abad ke
18, sebagai lambang ketentraman dalam menjalankan
pemerintahan, memberikan perlindungan kepada rakyat atas
dasar cinta kasih.. Digunakan oleh abdi dalem keraton setingkat
bupati ke atas.
8. Semen Kingkin, bermakna menunjukkan suasana prihatin dalam
kehidupan, dan permohonan supaya diberi jalan yang terang.
Khusus untuk orang yang sudah berkeluarga, bukan lajang.
9. Semen Kipas, berarti memberikan kesegaran. Motif ini termasuk
motif yang muda (batik gagrak anyar). Dipakai untuk siapa saja
dalam suasana apa saja.
10. Semen Kukila, bermakna agar manusia dalam bertutur kata
hendaknya tidak membuat sakit hati orang lain, seharusnya dapat
menyenangkan orang lain. Dipakai untuk siapa saja dalam suasana
apa saja.
11. Semen Sida-Raja, bermakna harapan terlaksananya cita-
cita yang tinggi. Biasanya digunakan oleh Bupati keatas, atau
masyarakat pada saat upacara resmi.
12. Semen Remeng, bermakna mengingatkan bahwa dalam
kehidupan ini selalu ada dua hal yang berpasangan, misalnya ada
masa senang dan masa susah, baik dan buruk, dan sebagainya.
Bisa digunakan oleh masyarakat umum.
13. Semen Candra, dibuat ketika Paku Buwono IX, pertengahan
abad ke 19, berisi petunjuk bahwa seorang yang mempunyai
kedudukan tinggi harus memberikan pengayoman kepada yang
12
berada dibawahnya, menunjukkan sikap kumawulo (merakyat) dan
tidak kumawasa (sok berkuasa). Bisa digunakan oleh masyarakat
umum.
14. Semen Gendhong, dibuat ketika Paku Buwono IX, akhir abad
ke 19, berarti menjunjung tinggi derajat keluarganya. Bisa
digunakan oleh masyarakat umum. Pola motif ini terdiri dari
sembilan motif utama. Posisi pohon hayat di samping kanan-kiri
atas sepanjang motif-motif garuda. Di samping kanan-kiri bawah
terdapat motif binatang berkaki empat, di bawah pohon hayat
terdapat motif garuda, dan di bawahnya terdapat empat pasang
motif ayam. Di atas pohon hayat terdapat motif meru, kemudian
di samping kanan-kiri atas terdapat motif baito, di atas meru
juga terdapat motif sepasang burung dan sepasang motif ikan.
Secara keseluruhan motif pohon hayat di atasnya motif meru
dikelilingi oleh motif binatang darat, air, dan udara seolah
menjaga keberadaan pohon hayat.
2. Batik pekalongan
Batik pekalongan tergolong dalam batik pesisiran meskipun
ada juga
batik keraton namun sampai saat ini batik pekalongan lebih terkenal
dengan batik pesisirnya. Pola hias batik pekalongan hampir sama dengan
batik cirebon yaitu mendapat pengaruh dari bentuk ragam hias taman
Sunyaragi dan Keraton Pakungwati. Bentuk taman Sunyaragi
digambarkan tanah wadas meniru keadaan di negara Cina. Demikian
pula bentuk mega mendung dan kontur ombak-ombak laut.
Batik pekalongan kuno beragam hias
Sigobarong dan banyak nama-
nama batik Cirebon lainnya yang
mendapat pengaruh kuat dari
peninggalan ragam hias bermotif seni
Cina.
Dalam pilihan warna, telah mendapat
pengaruh warna dari keramik biru
dan putih. Meskipun ada warna-warna
yang mencolok di luar biru dan
putih, tetapi sejarah warna batik Cirebon dimulai dengan dua warna biru
dan putih. ragam hias yang digunakan batik pekalongan kebanyakan
diambil dari bangunan Taman Sunyaragi dan Keraton. Batik Pekalongan
lebih banyak dipengaruhi oleh pola ragam hias dari keramik Cina yang
menghiasi bangunan keraton Kasepuhan dan Makam Raja-Raja Cirebon
di gunung jati.
Teknik pewarnaannya sudah menggunakan teknik colet untuk
mendapatkan hasil warna yang diinginkan Pada awalnya pekalongan
merupakan daerah kekuasaan cirebon kemudian beralih menjadi daerah
13
kekuasan mataram, hal ini menyebabkan masyarakat Pekalongan merasa
diperlakukan sebagai daerah jajahan
Pada periode ini juga mulai diberlakukan aturan pemakaian batik di
mana masyarakat biasa dilarang memakai maupun memproduksi batik
bermotif larangan (Awisaning Ratu/ Larangan Dalem). Namun perajin di
desa-desa masih membuat batik tradisi lama berpola kawung gringsing
atau tumpal. Namun pembuatan batik ini tidak mempengaruhi
pengembangan batik asli, seperti jlamprang atau batik campuran gaya
Cina.
Diskriminasi pemakaian busana ini melahirkan kebencian kaum pedagang
muslim dan Tionghoa kepada kaum priyayi penguasa. Sikap perlawanan
masyarakat Pekalongan terhadap kekuasaan Mataram ini mempengaruhi
munculnya corak-corak batik Pekalongan. Motif baru tersebut adalah
merak ngigel. motif merak ngigel digambarkan dengan simbol burung
merak yang sedang menari sehingga memberikan makna sifat-sifat
masyarakat Pekalongan yang tidak mau ditindas dan mandiri.
Ciri motif batik pekalongan
1. Pada beberapa motif batik Pekalongan yang klasik (tua) tergolong
motif semen. Motif ini hampir sama dengan motif-motif klasik
semen dari daerah Jawa Tengah, seperti Solo dan Yogyakarta
yang terdapat ornamen bentuk tumbuhan dan garuda atau sawat.
Perbedaannya pada kain klasik ini hampir tidak ada cecek. Semua
pengisian motif berupa garis-garis.
2. Warna soga kain dengan motif dari tumbuhan.
Pada kain batik klasik Pekalongan ini motifnya terdapat
persamaan dengan kain batik klasik daerah Solo dan Yogyakarta.
3. Motif asli Pekalongan adalah motif jlamprang yaitu suatu motif
semacam nitik yang tergolong geometris. Mungkin motif ini adalah
corak yang dikembangkan oleh pembatik keturunan arab karena
pada umumnya orang arab yang beragama Islam tidak mau
menggunakan ornamen bentuk benda hidup, misalnya binatang
atau burung. Mereka lebih suka ragam hias yang berbentuk
geometris. Namun Dr. Kusnin Asa berpendapat bahwa motif
jlamprang merupakan pengaruh kebudayaan Hindu Siwa.
4. Beberapa corak kain yang diproduksi di Pekalongan mempunyai
corak atau gaya Cina seperti adanya ornamen Liong berupa naga
14
besar berkaki dan burung Phoenix, yaitu sejenis burung yang pada
bulu kepala, sayap, dan ekor berjumbai serta bergelombang
5. Kain batik yang dikembangkan atau diproduksi oleh pengusaha
batik keturunan Cina , gambar-gambarnya pada motif berupa
bentuk-bentuk riil (nyata) dan banyak menggunakan cecek-cecek
(titik-titik) serta cecek sawut (titik dan garis). Isen-isen pada
ornamen penuh dengan cecek.
6. Sifat umum dari penduduk daerah pantai menyukai warna-warna
yang cerah, seperti warna merah, kuning, hijau, biru, violet, dan
oranye.
7. Motif batik pekalongan selalu berubah, banyak motif baru yang
diciptakan, terutama oleh pengerajin batik cap
8. saat ini batik Pekalongan mempunyai corak khusus, yaitu bermotif
bentuk tumbuhan realistis dan jlamprang dengan warna-warna
yang cerah.
9. Dilihat dari segi pewarnaan Pekalongan mempunyai keunggulan
dari daerah lain.
3. Batik monokromatik
Batik monocrom merupakan salah satu batik modern atau sering disebut
batik kreasi baru. Batik modern adalah batik yang diproses dengan
teknik baru dan tidak menggunakan warna yang biasa di gunakan untuk
pewarna batik tradisional seperti warna merah, sogan, biru dan hitam.
Batik modern menggunakan warna eksperimen (warna percobaan).
Ragam hias yang digunakan juga tidak mengandung makna tertentu.
batik monochrome merupakan penerapan teknik batik dan pewarnaan
dengan satu jenis warna pada kain.
Monokromatik berasal dari kata mono dan chrom. Mono artinya satu
atau tunggal, chrom artinya warna. Jadi monokromatik berarti memiliki
warna tunggal atau satu warna. Batik monokromatik hanya mempunyai
satu jenis warna.
Contoh batik monokromatik adalah batik kelengan dan batik putihan.
Batik monokromatik menggunakan dua atau lebih warna yang sejenis.
Misalnya biru dan biru tua, hijau muda dan hijau tua, merah muda dan
15
merah tua.
Ada 2 jenis batik monokromatik yaitu :
1. Batik dengan warna putih pada bagian motif dan warna pada bagian
luar motif.
2. Batik tua dan muda yang sejenis, yaitu batik dengan warna muda
pada bagian motif dan warna tua pada bagian luar motif.
4. Batik simbut
Batik simbut adalah batik kuno yang ditemukan di daerah Banten. Motif
Simbut berasal dari suku Badui pedalaman di Sunda yang kental dengan
peradaban lama. Menurut sejarah pembuatan batik simbut ini tidak
menggunakan lilin malam. Sebagai perintangnya digunakan bubur ketan.
Kemungkinan saat batik simbut ditemukan belum dikenal lilin malam.
Teknik ini mempunyai kelemahan karena perintang tidak bisa menembus
kain mori. Selain itu warna masih bisa merembes ke kain yang dilapisi
perintang. Pada percobaan perintangan sederhana dengan menggunakan
bahan bubur kanji kental atau pasta semen. Seiring dengan berjalannya
waktu, para penduduk badui yang menerima modernitas
mengembangkan batik ini di daerah pesisir Banten. Sehngga batik motif
Simbut dikenal juga dengan batik Banten.
5. Batik jumputan
16
Sejarah batik ini berasal dari Tiongkok. Karena zaman dahulu
perdagangan melalui lautan sudah lumayan maju. Banyak pedagang dari
satu wilayah menjelajah lautan untuk menyinggahi wilayah lain dan
mengadopsi budayannya, termasuk batik.
Salah satu kelompok saudagar yang dianggap berjasa membawa teknik
Batik Jumputan ke Nusantara ialah para pedagang dari India.
Perkenalan Batik Jumputan ini menggunakan misi perdagangan. Di
Indonesia, teknik tersebut disambut gembira. Salah satu penyebabnya,
hasil batiknya beragam dengan rangkaian warna-warna yang bagus.
Karena disebarkan oleh saudagar India, maka batik ini diterima dengan
baik di banyak daerah. Diantaranya Sumatra, khususnya Palembang, di
Kalimantan Selatan, Jawa dan Bali.
Di Jawa, daerah yang mengembangkan Batik Jumputan ialah Solo,
Yogyakarta dan Pekalongan. Meski akarnya sama, dari Tiongkok, namun
dalam perkambangannya dipengaruhi kondisi daerahnya masing-masing.
Dan itu sangat berpengaruh pada motifnya.
Pada pembuatan
batik jumputan teknik yang digunakan ada 2 macam yaitu dengan
mencelupkan kain pada pewarna dan dengan cara menguaskan kain
pewarna pada kain.
1. Pewarnaan dengan teknik celupan
menjumput kain/ mengambil kain lalu diisi biji-bijian sesuai motif
yang akan diciptakan. Kemudian kain diikat lalu dicelupkan ke dalam
bahan pewarna. Sangat sederhana memang pembuatannya, namun
hasilnya tak kalah dengan jenis batik yang lain.
2. Pewarnaan dengan teknik kuasan
Teknik ini menggunakan tali-tali sebagai penolak warna. Bagian-
bagian kain dijumput dan diikat dengan kuat menggunakan karet
gelang atau tali rafia. Setelah itu kain diwarnai dengan cara
dikuaskan. Jadi teknik ini tidak menggunakan celupan. Hal ini
dilakukan untuk menghindari zat warna terlalu banyak dan
merembes ke bagian ikatan. Setelah dikuas warna, tali-tali dibuka
dan kain dijemur. Motif yang dihasilkan adalah pada bagian kain yang
dijumput tidak terkena warna sehingga menyisakan warna kain.
Batas antara warna dengan bagian kain yang dijumput berbentuk
gelombang abstrak.
Kain jumputan lebih cocok dibuat dengan bahan kain yang tipis, seperti
sutera, atau sutra buatan, Kain jumputan sering disebut pula dengan
kain pelangi.
Teknik jumputan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Siapkan kain tipis dengan bahan dari katun
2. Buatlah ikatan-ikatan dibeberapa bagian kain dengan karet gelang
atau tali rafia dengan ikatan yang kuat.
17
3. Setelah seluruh ikatan (jumputan) selesai kain diberi warna dengan
kuas, untuk pekerjaan ini tidak dicelup agar hasilnya lebih baik. Agar
terlihat bervariasi bagian ujung ikatan dapat diolesi dengan warna
yang berbeda.
4. Setelah pewarnaan selesai kain ditiriskan sambil ikatan-
ikatannya
dilepaskan.
5. Kain dijemur di tempat yang pana
6. Batik formika
Batik formika merupakan contoh batik modern yang pembuatannya
dengan cara menempelkan warna pada kain. Motif yang dihasilkan
adalah motif abstrak. Teknik ini digunakan dalam tekstil di
daerah
Pekalongan pada tahun 1973.
Alat dan bahan yang diperlukan antara lain sebagai berikut :
1. Bak yang memiliki permukaan luas
2. Cat minyak (cat kayu) dengan berbagai warna
3. Terpentin (minyak pengencer cat)
4. Air bersih
5. Kain mori
Berikut Proses pembuatan batik formika
Siapkan selembar kain mori putih sesuai ukuran yang dibutuhkan
Isi bak dengan air sampai penuh (2 cm dibawah mulut bak)
Encerkan cat minyak dengan terpentin. Pilih cat yang memiliki warna
cerah dengan kualitas yang baik.
Ciprat-cipratkan cat secara acak ke permukaan air dalam bak.
Untuk membantu penyebaran warna digunakan kipas angin.
Bentangkan dan tempelkan permukaan kain yang akan diberi warna ke
atas permukaan cat dalam bak.
18
7. Batik lukis
Batik Lukis termasuk batik kreasi baru. Batik lukis tidak menggunakan
motif tradisional, dan motif kreasi sendiri. motif yang digunakan
biasanya motif sederhana. Batik lukis disebut juga dengan batik painting,
proses pembuatannya langsung diatas kain yang menghasilkan tampilan
yang lebih cerah dan warna yang beraneka ragam. Pembuatan batik ini
biasanya dilakukan langsung diatas kain tanpa menggunakan sketsa atau
coretan terlebih dahulu. Pada pembuatan batik ini seringkali
pencantingan dan pewarnaan dilakukan beriringan untuk mendapatkan
hasil lukisan yang diinginkan. Untuk mendapatkan warna atau efek yang
diinginkan pengrajin tidak hanya menggunakna kuas tetapi juga
menggunakan kapas, spons ataupun potongan kain. Hal yang terpenting
dalam pembuatan batik lukis ini adalah perpaduan dari pengerjaan
pembatikan dan pewarnaan yang tergantung dari citarasa pembuatnya.
Teknik Batik Lukis
Berikut adalah cara atau langkah pembuatan Batik Lukis :
Siapkan selembar kain mori. Buatlah gambar pola pada kain tersebut
sesuai kreasimu sendiri,
Tebali pola dengan cairan lilin malam yang telah dipanaskan. Gunakan
ukuran canting yang sesuai pola. Kalian bisa menggunakan canting biasa
(tradisional) boleh pula menggunakan kuas untuk mendapatkan karakter
yang pas.
Berilah warna dengan menggunakan teknik celup atau coletan setelah
lilin pada kain mori mengering.
Setelah pewarnaan selesai keringkan dengan cara diangin-anginkan.
Keroklah lilin pada kain mori dengan pisau tumpul agar mori tidak
rusak. pada proses ini tentu hasilnya belum benar-benar bersih lilinnya,
maka lakukan dengan cara di seterika agar benar-benar bersih.
C. Berdasarkan teknik pembuatannya
Berdasarkan teknik atau cara pembuatannya terdapat 5 jenis cara atau
teknik pembuatan batik yaitu batik tulis, batik cap, batik cap kombinasi
tulis, celup ikat dan batik printing. Dari masing-masing teknik tersebut
mempunyai tingkat kesulitan yang berbeda dan menghasilkan batik yang
berbeda pula. Berikut akan dibahas masing-masing teknik pembuatan batik
1. Batik canting tulis
Teknik pembuatan batik yang paling tua adalah batik tulis dimana proses
pembuatan batik masih menggunakan alat canting tradisional yang diisi
dengan lilin panas sebelum kemudian digoreskan di atas kain membentuk
ragam pola batik yang indah. Setelah semua pola yang diinginkan telah
tertutupi lilin, barulah kain kemudian diwarnai dan lilin di-”lorot” atau
19
dilepaskan dari kain dan terbentuklah gambar motif batik yang indah.
Batik tulis merupakan jenis batik spesial dan mahal dibanding batik yang
lain, karena didalam pembuatan batik ini sangat diperlukan keahlian
serta pengalaman, ketelitian, kesabaran, dan juga waktu yang lama
untuk menyelesaikan sebuah batik tulis.
Proses pembuatan batik tulis yang masih sangat tradisional ini membuat
pengerjaan batik tulis dapat memakan waktu yang sangat lama. Untuk
Setelam membaca motif batik carilah informasi melalui internet
ataupun buku mengenai perbedaan mendasar dari masing
masing motif (batik kelasik, pekalongan, monokromatik, simbut, jumputan, formika dan
batik lukis) sebuah batik tulis paling cepat dapat diselesaikan selama dua minggu oleh
seorang pembatik, itupun dikarenakan cuaca yang cerah dan desain
motif yang biasa dan juga tidak terlalu rumit. Namun, dibalik proses
panjang inilah batik tulis memiliki nilai seni yang sangat tinggi. Jadi,
jangan heran jika batik tulis kerap dijual dengan harga yang cukup
mahal dan fantastis.
Teknik membatik yang satu ini butuh jiwa seniman dan ketelitian tinggi
untuk membuatnya. Karena cara pembuatannya yang sangat sulit, perlu
sangat teliti, dan dikerjakan secara manual, karena itulah harga batik
canting sangat mahal.
Berikut Cara membatik dengan Teknik tulis:
Pola Digambar pada permukaan kain Setelah itu kain dicelupkan
kedalam larutan pewarna. Nah bagian yang tertutupi lilin/malam inilah
yang akan membentuk pola. Membatik dengan teknik ini memiliki
Kelebihan dan kekurangan yaitu:
a. Kelebihan Teknik Batik Tulis adalah:
1. Motifnya dapat timbul dikedua sisi kain.
2. Hasil batik lebih natural dan rapi.
3. Teknik Tulis ini dilakukan secara manual dengan menggunakan
tangan.
4. Unik dan bernilai seni tinggi.
b. Kekurangan Teknik Batik Tulis adalah:
1. Proses pembuatannya lama
2. Harganya relative lebih mahal
20
2. Batik cap
Pada awal abad ke-20, mulai dikenal teknik pembuatan batik lainnya,
yakni dengan menggunakan cap. Batik yang dibuat dengan teknik ini
dikenal juga dengan nama batik cap. Masih sama-sama menggunakan
lilin “malam”, perbedaan teknik batik cap dan tulis adalah
pengaplikasian lilin yang tidak menggunakan canting, melainkan cap
yang terbuat dari tembaga dengan ukuran sekitar 20×20 cm. Secara
sederhana, proses pembuatan batik ini seperti menggunakan stempel.
Dengan teknik pembuatan batik ini, proses pengerjaan batik menjadi
jauh lebih cepat. Teknik batik cap merupakan teknik membatik yang
dilakukan dengan menggunakan alat canting cap. Canting cap tersebut
akan dicelupkan pada cairan malam kemudian dicapkan di atas kain
mori, Cap akan meninggalkan motif yang dikenal dengan klise .
Berikut cara membatik dengan Teknik tulis:
Kain diletakkan di media seperti meja/alas yang teah disediakan. Cap
motif kemudian ditekankan pada permukaan kain tersebut. Ukuran plat
biasanya kecil sehingga pola pada plat biasanya berulang dan proses
pengecapan dilakukan dengan menyambung gambar gambar pola
sehingga media penuh dengan gambar yang diinginkan
Cara pembuatan batik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan
seperti berikut ini:
1. Kelebihan Teknik Batik Cap adalah:
a. Bentuk rapi karena dengan bantuan alat
b. Proses pembuatan yang cepat
c. Dapat di produksi dalam jumlah banyak
d. Harga batik Terjangkau
2. Kekurangan Teknik Batik Cap adalah
a. Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
b. Motif banyak yang sama
3. Batik cap kombinasi tulis
Pada batik kombinasi metode pembuatannya tentu mengadopsi dari
kedua teknik tulis dan cap. Teknik cap digunakan sebagai motif utama
sedangkan teknik tulis untuk melengkapi runga jeda antar motif cap satu
dengan yang lain. Motif untuk mengisi bagian yang kosong tersebut (isen-
21
isen) dapat berupa titik-titik (cecek), bunga atau motif lainnya.
Selanjutnya teknik pewarnaan serta peluruhan malam sama seperti pada
teknik pembuatan batik lainnya.
Kelebihan dan kekurangan yaitu:
a. Kelebihan Teknik Batik cap kombinasi Tulis adalah:
1. Hasil batik natural dan rapi.
2. Dapat di produksi dalam jumlah banyak
3. Motif lebih detail
4. Unik dan bernilai seni tinggi.
b. Kekurangan Teknik Batik cap kombinasi Tulis adalah:
1. Umumnya hanya satu sisi motifnya yang timbul
2. Motif banyak yang sama
3. Waktu yang digunakan lebih lama daripada batik cap
4. Batik celup ikat
Jika teknik canting tulis merupakan sebuah teknik membatik yang sangat
sulit, maka teknik ikat celup merupakan teknik membatik yang sangat
mudah. Teknik ikat merupakan salah satu Teknik batik yang cukup unik
karena proses pembuatannya yang berbeda, Teknik ini tidak
menggunakan canting ataupun cap tapi menggunakan karet/tali raffia
dan kelereng. Pembuatan motif pada kain batik dengan teknik ikat celup
dilakukan dengan mengikat sebagian kain kemudian dicelupkan ke dalam
cairan pewarna. Setelahnya ikatan dibuka, kemudian kain yang terikat
bisa menghasilkan corak tertentu sesuai lipatan ikatannya karena kain
yang terikat tidak akan terkena cairan pewarna.
Teknik membatik ikat celup ini juga dikenal dengan istilah menjumput.
Hasilnya disebut sebagai batik teknik jumputan. Siapa pun bisa belajar
teknik membatik yang satu ini karena bahan, alat dan caranya sangat
mudah di coba.
22
Dalam teknik ini juga memiliki Kelebihan dan kekurangan yaitu:
1. Kelebihan Teknik Batik Celup adalah:
a. Bentuk Unik/abstrakdan natural
b. Proses pembuatan yang cepat
2. Kekurangan Teknik Batik Celup adalah Motif tidak bisa disesuaikan
5. Batik ptinting
Teknik pembuatan batik yang lebih modern adalah batik printing,
terdapat dua proses pembuatan batik printing yaitu secara manual dan
digital atau dilakukan oleh mesin. Kain batik yang dihasilkan dengan
teknik printing ini bisa memiliki motif lebih detail dan juga rapi namun
dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan batik-batik yang
dibuat dengan teknik serta metode pembuatan yang lebih tradisional.
Meski telah berkembang menjadi jauh lebih modern, teknik serta metode
pembuatan batik tradisional di Indonesia masih terus dipertahankan
karena keeratannya pada adat dan budaya yang ada di Indonesia.
dalam pembuatan batik ini menggunakan alat sablon manual dan ada
yang menggunakan mesin printing. Proses pewarnaannya sendiri hanya
diwarnai pada satu bagian sisi kain batik saja. Sehingga proses
produksinya akan sangat efisien. Proses membatik dengan printing juga
sangat cepat karena itu batik printing biasanya digunakan oleh
perusahaan, harga batik printing juga jauh lebih murah dibandingkan
batik tulis yang memang butuh ketelitian dan kreativitas seni tinggi
untuk membuatnya. Waktu pembuatan batik dengan metode printing
juga sangat cepat. mesin printing menjadi sebuah alat membatik
modern.
Berikut Kelebihan dan kekurangan membatik dengan
Teknik Printing
1. Kelebihan Teknik Batik Printing adalah:
a. Harganya murah
b. Cocok digunakan pakaian sehari hari
c. Bisa digunakan oleh siapa saja
2. Kekurangan Teknik Batik Printing adalah
a. Motif sangat umum digunakan
b. Kualitas batiknya biasa dan tidak istimewa
c. Sedikit menghilangkan nilai seni dan tradisional
6. Teknik Colet atau lukis
23
Teknik pembuatan batik dengan teknik colet merupakan teknik
membatik yang sangat akrab disapa sebagai teknik lukis. Melalui teknik
colet, pembatik harus mengoleskan pewarna kain dengan menggunakan
kuas kemudian dilukiskan motif di atas kain mori.
Teknik yang satu ini butuh jiwa seni yang tinggi dalam pembuatannya
karena orang yang membuat harus jeli. tahapannya harus tepat
dilakukan agar warnanya dapat menyatu dan tidak ada kesan senjang.
Dalam pembuatan batik colet, semakin bagus motif batik colet maka
harganya juga akan semakin tinggi. Hanya saja memang membuat batik
colet yang sangat bagus motifnya bukan hal yang mudah.
Berikut Kelebihan dan kekurangan membatik dengan Teknik lukis
1. Kelebihan Teknik Batik Lukis adalah:
a. Bentuk dan motif lebih beragam.
b. Bisa dibuat sesuai keinginan pembuatnya.
c. Lebih Unik dan bernilai seni tinggi.
2. Kekurangan Teknik Batik Lukis adalah
a. Proses pembuatannya lama
b. Harganya juga tergolong mahal
24
KESIMPULAN
1. Berdasarkan sejarah batik terdiri dari batik keraton dan
pesisir
2. Berdasarkan motif batik terdiri dari, motif kelasik,terdiri dari
motif ceplok, motif isen, motif tritik, motif kawung, motif
sidomukti, motif sidomulyo, motif semen/ gunung. Batik
pekalongan, batik monokromatik, batik simbut, batik
jumputan, batik formika, batik lukis.
3. Berdasarkan proses pembuatan, terdiri dari canting tulis,
batik cap, cap kombinasi tulis, celup ikat, batik printing,
Teknik colet/ lukis.
25
Daftar Pustaka
https://www.google.com/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fw
ww.semarangpos.com%2Ffiles%2F2020%2F07%2F13semenr
ama.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.semarangpos.co
m%2Fbegini-makna-corak-batik-semen-rama-bagi-
masyarakat-jawa-
1044446&tbnid=w_p6jWZez78RlM&vet=1&docid=dTpKUTnf
DbYKAM&w=600&h=400&hl=in-ID&source=sh%2Fx%2Fim
https://images.app.goo.gl/P18vBoHkdYU83Uuo9
https://images.app.goo.gl/TsWMbDTGaH38HbEq6
https://www.museumbatik.com/artikel/2015/05/11/Makna-
Filosofi-dan-Cerita-di-Balik-Berbagai-Motif-batik---seri-
Semen.html
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Batik_Sawat_Pengantin#:~:te
xt=Batik%20Sawat%20Pengantin%20adalah%20salah,dipakai
%20oleh%20keluarga%20keraton%20cirebon.&text=Kata%20
sawat%20berarti%20Sayap%20atau,Sawat%20berasal%20kat
a%20%22Sahwat%22.
https://m.dekoruma.com/artikel/120415/filosofi-motif-batik-
kawung
26