Summary of Program Analysis FOLU Net Sink 2030
Berdasarkan program FOLU Net Sink 2030 sesuai dengan sosialisasi yang diadakan di
UNHAS bahwa adapun 5 bidang topik yaitu peningkatan hutan lestari, peningkatan cadangan
karbon, konservasi, pengelolaan ekosistem gambut dan instrument dan informasi. Beberapa
program termasuk pengelolaan hutan lestari yaitu:
1. Pengendalian kebakaran hutan
2. Perhutanan sosial
3. Multi usaha dan pengelolaan produksi.
- Melalui program pengendalian degradasi hutan seperti program peningkatan usaha
jasa lingkungan Hutan Produksi
- Melalui program sertifikasi PHL
- Pengembangan sistem insentif
4. Pembangunan Hutan Tanaman
- Melalui program pengelolaan Hutan Lestari
- Pengembangan Hutan Tanaman Energi
Beberapa program termasuk peningkatan cadangan karbon terdiri dari beberapa kegiatan:
- Penanaman hutan tanaman lahan mineral,
- Penanaman hutan lahan gambut
- Pengayaan dan rehabilitasi hutan dan lahan
- Penanaman mangrove
- Restorasi ekosistem, RTH, dan ekoriparian
Beberapa program termasuk peningkatan konservasi:
- Perlindungan, pelestarian, pengawetan dan pemanfaatan keanekaragaman hayati
secara berkelanjutan
- Pengelolaan kawasan dan peningkatan populasi spesies
- High conservation value forest dan Kelola fragmentasi habitat
- Kemitraan konservasi
- Intensifikasi jasa lingkungan, taman hutan raya dan KHDTK
Beberapa program termasuk Bidang Pengelolaan Ekosistem Gambut:
- Pembasahan lahan gambut kembali
- Pembangunan infrastruktur pembasahan (pembangunan sekat kanal dan penimbunan
kanal, penampungan air, infrastruktur lain)
Indonesia FOLU Net Sink 1
Summary of Program Analysis FOLU Net Sink 2030
- Pemantauan (instrument menggunakan alat pengukur tinggi muk air yang dipasang
secara representetive
Beberapa program Kegiatan Law Enforesment:
- Program pencegahan (mengidentifikasikan kerawanan hutan, panduan, patrol,
sosialisasi dan penanganan pengaduan)
- Penegakan hukum (pengumpulan bahan keterangan dan yustisi)
- Penyelesaian Sengketa LH (PSLH melalui pengendalian dan diluar pengendalian)
- Penanggulanagn gangguan keamanan hutan, kawasan hutan dan hasil hutan
(pengumpulan data informasi dan operasi pengamanan hutan)
- Peningkatan kegiatan usaha (melalui pengawasan penataan dan perizinan)
- Peningkatan Peran Paralegal (pembentukan dan pembinaan)
- Monitoring pelaksana kegiatan
Adapun pencapaian Indonesia FOLU Net Sink 2030 melalui aksi pengurangan emisi,
mempertahankan serapan, peningkatan serapan dan pengembangan kelembagaan. Berdasarkan
yang berhubungan dengan PHI dengan anak perusahaan yang terletak di Kalimantan Timur
adapun analisa dari IFNS 2030 diantaranya adalah:
1. Rencana kajian FOLU Net Sink 2030 mendorong sektor kehutanan menuju target
pembangunan yang sama yaitu tercapainya tingkata emisi GRK -140 juta ton CO2e pada
tahun 2030
2. Strategi umum dalam upaya FOLU Net Sink 2030 adalah
- Menyusun Rencana Kerja (melalui identifikasi kegiatan dan identifikasi lokasi)
- Sosialisasi rencana (Sosialisasi ke UPT lokasi target FOLU Net Sink dan instansi
lain)
- Pelaksanaan Kegiatan (melalui kegiatan yang mendukung capaian aksi mitigasi dan
menghitung capaian target)
- Monitoring dan evaluasi (melalui monitoring secara berkala dan evaluasi hsil capain
target)
3. Berdasarkan prioritas pengendalian KARHUTLA bahwa terdapat 3 prioritas yaitu:
- Luas kawasan gambut >1 Ha termsuk golongan prioritas 1 pada provinsi Riau,
Kalimantan Tengah, Papua, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, Papua
Barat.
- Luas kawasan gambut <1 Ha termasuk prioritas 2 pada provinsi Jambi, Sumatera
Utara, Aceh, Kalimantan Utara, Kaliamantan Timur, Kalimantan Selatan,
Sumatera Barat, Lampung, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Bengkulu
Indonesia FOLU Net Sink 2
Summary of Program Analysis FOLU Net Sink 2030
- Luas kawasan gambut 0 Ha termasuk prioriatas 3 pada provinsi Jawa Barat,
Banten, Jawa Tengah, Jawa Timu, Bali, NTB, NTT, Sulawesi, Maluku,
Yogyakarta dan Jakarta
4. Perencanaan pendanaan Darkahutla untuk area yang potensi sangat tinggi dan tinggi
seluas 16,39 juta Ha dengan total kebutuhan dana Rp. 174,25 Trilitun atau 10% dari total
APBN Indonesia TA 2021.
5. Anggaran KLHK tahun 2021 sebesar Rp.3.56 triliyun (didalamnya Rp.2.47 triliyun untuk
membangun lingkungan hidup, meningkatkan ketahanan bencana dan perubahan iklim)
6. Alternatif insentif anggaran program kegiatan Darkahutla:
- Semua dana hibah perubahan iklim dimasukan dalam APBN untuk disalurkan
melaluai BPDLH
- Dalam PP 23 Tahun 2021 mekanisme insentif melalui DID (dana intensif derah
untuk darerah yang melakukan konservasi atau penurunan emisi)
- Dalam PP 98 Tahun 2021 semua pendanaan perubahan iklim melalui focal point
Pemerintah KLHK
7. Pengembangan Hutan Tanaman Energi di Indonesia memiliki sumber energi baru
terbarukan seperti biomassa. Sumber biomassa terdiri dari:
- Bahan berligoselulosa : kayu, bambu, rotan, termasuk limbah
- Buah / Biji: nyamplung, jarak, kemiri, sunan, kepuh, malapari, aren
- Wood pellet, arang, kayu bakar, biooil
- Biodiesel, Biethanol
8. Berdasarkan total luas 1-6 khusus daerah Kalimantan memiliki jumlah 744.563 Ha
9. Berdasarkan target lokasi dan luas RHL PCK Non Rotasi pada DAS Per Provinsi bahwa
untuk pulau Kalimantan adalah:
- Kalimantan Barat (Indeks Prioritas Lokasi 3,5,6,7) = 418 Ha, 1.338 Ha, 3.076 Ha
dan 820 Ha
- Kalimantan Selatan (Indeks Prioritas Lokasi 6) = 4.923 Ha
- Kalimantan Tengah (Indeks Prioritas Lokasi 4,5,6,7,8,9) = 513 Ha, 398 Ha, 748 Ha,
1.015 Ha, 332 Ha, dam 333 Ha
- Kalimantan Timur (Indeks Prioritas Lokasi 7 dan 8) = 658 Ha dan 4.262 Ha
10. Penentuan target lokasi kegiatan perhutanan sosial pada non rotasi maupun rotasi adalah
daerah KHKL, PIAPS dan KPHP PIAPS.
Indonesia FOLU Net Sink 3
Summary of Program Analysis FOLU Net Sink 2030
11. Pada provinsi Kalimantan Timur ada beberapa target lokasi kegiatan RHL Non Rotasi
di Kawasan Konservasi yaitu pada tabel berikut:
Kabutapen Unit Kelola Luas (Ha)
Kutai Kertenegara CA Muara Kaman Sedulang 10.970
Tahura Bukit Soeharto 51.591
Kutai Timur CA Muara Kaman Sedulang 37.686
Paser CA Teluk Adang 25.578
CA Teluk Apar 25.340
Tahura Lati Petanggis 3.366
Panjampaser Utara CA Teluk Adang 2.270
Tahura Bukit Soeharto 3.124
12. Berdasarkan lokasi target IFNET 2030 bahwa hasil konservasi pada daerah Kalimantan
Timur memiliki satuan kerja UPT BKSDA Kaltim, BTN Kutai, UPTD Tahura Bukit
Suharto dan UPTD Tahura Lati Petangis
13. Berdasarkan Lokasi Aksi Mitigasi + (Plus) bahwa di Provinsi Kalimantan Timur
memiliki areal bernilai konservasi tinggi sebesar 3.598.988 Ha
14. Luas fungsi ekosistem gambut di Kalimantan Timur ada 2 fungsi lindung sebesar
176,296 Ha dan fungsi budaya 166.054 Ha dengan luas total 342.350 Ha atau sebesar
4.07 % dari luas total Pulau Kalimantan
15. Berdasarkan target luas restorasi gambut di IFLN 2030 bahwa khusus daerah
Kalimantan Timur memiliki target:
- PHPL = 1.364 Ha
- KSDE = 9.351 Ha
- PPKL = 32.757 Ha
- Pemda = 3.978 Ha
16. Perhutanan sosial adalah pengelolaan hutan lestari dengan masyarakat pada hutan
negara / hutan hak / hutan adat yang dikelola dengan sinergi antara ekonomi, ekologi dan
sosial dengan 5 skema (hutan desa, hutan kemasyarakatan, hutan tanaman rakyat,
kemitraan kehutanan dan hutan adat).
Reference:
(2022). Retrieved 08 July 2022, from https://www.youtube.com/watch?v=mlixAiWCBoU
Indonesia FOLU Net Sink 4