The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by perpus smansaku, 2023-08-28 22:35:24

maryamah karpov.pdf ( PDFDrive )

maryamah karpov.pdf ( PDFDrive )

Keywords: maryamah karpov

kayu Karimata. Di pantai aku melihat gunungan buah kelapa, tandan-tandan pisang, dan berkarung-karung ubi yang mulai membusuk karena pelaut Mempawah tak berani meneruskan pelayaran ke Sunda Kelapa, Belawan, Teluk Bayur, atau Bagan Siapi-api. Mereka bertahan di Karimata karena kata mereka musim barat akan datang lebih cepat. Informasi itu membuatku gugup. Perahu-perahu nelayan Karimata sendiri diangkat dengan takal, dan dijerang dengan bara api, untuk direparasi, untuk didempul, diganti sumpalan kulit kayu putihnya, dan dicat kembali. Musim barat selama tiga atau empat bulan umumnya dimanfaatkan nelayan untuk memperbaiki perahu, menjalin lubang-lubang pukat yang koyak karena dipakai sepanjang tahun, atau mencari balok-balok baru untuk membangun bagan. Musim barat bukanlah saatnya melaut. Selaku kapitan, aku tentu bertanggung jawab pada kelangsungan nyawa kru perahuku. Kuingatkan pada mereka tentang bahaya angin barat dan arus selatan. Pulau Belitong ada di selatan Karimata. Barang siapa tak sanggup melanjutkan pelayaran ke Batuan kupersilakan pulang menumpang nelayan yang akan berlayar ke Belitong. Akan amat mudah pelayaran pulang karena akan didorong angin barat dan dihanyutkan arus selatan. Ke Batuan akan sebaliknya. Akan menyongsong angin dan arus, dan kian hari gelombang kian tinggi. Mahar, tak gentai, karena aku tahu justru yang ia cari dalam hidupnya adalah petualangan-petualangan sinting dan ia kecanduan berada dalam situasi nyawanya di ujung tanduk. Kalimut tampak takut, tapi ia tak kan pulang karena telah sesumbar dengan sukunya bahwa ia akan mencapai Singapura. Chung Fa, jelas sekali tak berani ke Batuan karena ancaman badai. Ia sama sekali tak terbiasa dengan perahu. Ia adalah tukang gulung sepul dinamo. Tapi ia, sambil menggosok-gosok tiang layar dengan sikat sepatu, mengatakan akan tetap ikut. Sekali lagi kuingatkan Chung Fa akan bahaya besar pelayaran berikutnya. Tidak hanya karam, tapi dari seseorang bernama Tambok, yang tak jelas siapa. Namun, Chung Fa berkeras. Ia seperti tak punya pilihan lain. Kutanyakan berkali-kali apa alasannya nekat begitu, ia tak menjawab. "Apa kau diusir istrimu, Fa?" Dia menggeleng. "Mertuamu?" Ia menggeleng lagi. "Melarikan diri dari utang?" Ia mendelik. Artinya, sama sekali bukan. "Kau mau ke Singapura, Kawan? Seperti Kalimut?" "Bukan, Kapitan." Waktu aku mengucapkan Singapura, wajah Chung Fa sedih. Aku berhenti menginterogerasinya karena matanya berkaca-kaca. Ada sesuatu yang misterius tentang Chung Fa Aku tak paham mengapa wajahnya redup mendengar Singapura. Lelaki Khek yang polos itu menyembunyikan tujuannya ke Batuan. Ia rela mengambil risiko maut untuk tujuan yang hanya ia yang tahu. Kepada nelayan Karimata kami ceritakan bahwa tujuan kami Batuan. Mereka serta-merta menyebut nama Tuk Bayan Tula dan satu nama lain yang membuatku terkejut. Nama itu, Dayang Kaw, disebut salah seorang dari mereka dengan sikap hormat. Telingaku berdiri dan bulu kudukku merinding. Dari sebuah kitab lama, yang tak jelas nyata atau khayalan tentang kaum lanun, aku pernah menemukan nama Dayang Kaw. Dialah ketua tertinggi kaum lanun. Pada masanya dulu ia bahu-membahu dengan Hang Jebat memerangi kumpeni. Dia amat ditakuti dan dia adalah seorang perempuan. Tapi peristiwa itu berlangsung ratusan tahun silam. Bagaimana mungkin Dayang Kaw masih hidup? Kenyataan ini meyakinkanku bahwa ekspedisi ke Batuan tak kan sekadar perjalanan berbahaya menghadapi badai dan bajak laut Selat Malaka demi mencari A Ling, tapi di negeri laut dan kepulauan ini, akan pula aku bertemu hal-hal baru yang misterius dan mencengangkan. Sungguh kuat pengaruh Tuk dan Dayang Kaw sebab setelah mengatakan hal itu, satu per satu nelayan Karimata menyingkir. Tak ada yang mau berpanjang kisah soal Tuk, Dayang, dan Batuan. Seorang dari mereka mengatakan bahwa Tuk tinggal di balik bukit kapur di tepian utara Karimata. Mahar terpaku mendengar nama Tuk. Sejak awal aku memang telah menyadari bahwa ketiga penumpang perahuku memiliki tujuan bcrbeda. Kalimut ingin menjadi pendatang haram ke Singapura. Mahar hanya tertarik akan pertemuan dengan Tuk Bayan Tula, ia balikan tak peduli sama sekali pada Batuan. Ia tak sabar ingin melihat lagi Tuk. Perjumpaan terakhir mereka adalah ketika kami kelas tiga SMP dulu. Sebuah pertemuan vang mengesankan di Pulau Lanun. Aku benekad mencari A Ling, dan tujuan Chung Fa, masih misteri. Aku ingin segera menjumpai Tuk sore ini agar duduk perkara ke Batuan menjadi jelas, agar kami dapat segera bertolak ke Batuan. Tapi Mahar memaksa agar menunggu tengah malam keesokan harinya. Persis purnama raya ke tujuh belas, katanya. Tentu karena ia ingin menciptakan sebuah suasana mistik yang dramatis pada pertemuan pentingnya dengan tokoh siluman itu. Maryamah Karpov 199 Maryamah Karpov 200


Mozaik 60 Nai S E O R A N G nelayan Karimata yang amat tua, Puniai namanya, mempersilakan kami naik ke rumah panggungnya dan memberi kami air bersih. Kami menghabiskan malam di rumah itu. Dini hari, bulan purnama keenam belas kelam menjelang subuh. Tak ada suara kecuali desis angin yang menelisik daun-daun kelapa. Aku ingin mengambil wudu. Aku melangkah menuju dapur rumah Mugae dan tcrperanjat tak kepalang ketika membuka pintu dapur. Di sudut yang gelap aku melihat perca bergerak-gerak. Lalu, aku memekik ketakutan karena perca-perca itu bangkit. Satu wajah tengkorak perempuan yang seram menyeringai tepat di depanku. Dalam pantulan lampu minyak matanya hanya seperti lingkaranlingkaran hitam. Pipinya cekung tak berdaging, rambutnya sangat panjang, kusut dan masai, warnanya kelabu, tak terpelihara. Baunya seperti bau arang kayu pelawan. Ia seperti kelaparan. Kupastikan ia seorang perempuan muda. tapi tampak tua renta. Seisi rumah terbangun mendengar pekikanku tadi. “Namanya Nai." ujar Puniai dengan berat "Dia anakku. Tak pernah dia tidur, selalu mendengus selalu minta makan. Dia sudah empat tahun sakit, dibuat Tambok." Tambok. Sekali lagi kudengar nama itu, dan setiap kudengar namanya pasti berhubungan dengan sesuatu yang menyakitkan, kekejaman, kejahatan. Nai amat menyedihkan. Ia sangat kurus bak tulang terbunekus kulit saja. Sinar matanya jelas menandakan ia tengah menanggung beban yang berat. Panggulnya menonjol. Dan ganjil sekali, tubuhnya melengkung, bukan bongkok ke depan, melainkan condong ke belakang. Ia seperti ditarik ke belakang dengan seutas tali yang ditambatkan di lehernya, ia seperti dijambak. Urat-urat wajahnya bertimbulan karena ia melawan beban berat yang membebani punggungnya. Sepanjang waktu deritanya menahan jambakan itu tergambar jelas pada wajahnya. Ia menahan dan mengumpulkan tenaga. Napasnya mendengus dengan kelelahan. Gigimya gemeretak. Rahangnya keras dan menonjol karena berperang melawan sesuatu yang tak tampak, sesuatu yang magis. Nai juga terkejut dan sangat malu karena tiba-tiba aku secara tak sengaja melihatnya di dapur. Kami memandangnya penuh rasa kasihan, kecuali Mahar. Ia menatap Nai dengan nanar, bukan Nai, tapi seseorang atau mungkin sesosok makhluk, dibelakang perempuan itu. Makhluk yang hanya bisa dilihat oleh Mahar, tak kasat oleh kami. Pagi menjelang, dan kembali aku menyaksikan pemandangan yang menakjubkan ketika melihat Nai makan. Puniai menyajikan dua ekor ikan pari bakar yang besar dan sebakul nasi. Tanpa basa-basi, Nai menyerbu makanan itu bak singa yang telah seminggu tak makan. Makanan yang banyak itu habis dalam waktu amat singkat. Puniai kembali menyajikan sebakul nasi dan Nai melahapnya dengan nafsu yang sama seperti tadi. Aku tak habis mengerti, bagaimana perempuan sekurus belalang sembah ini makan begitu banyak, tak bisa kenyang seperti hiu, ke manakah perginya semua makanan yang dilahapnya? Sejak subuh tadi ketika kami menemukan Nai, Mahar tak sedetik pun berpaling menatap perempuan itu. Wajah Mahar penuh kebencian. "Isap raga," bisik Mahar padaku. "Ini ilmu jahat isap raga." Aku tak terlalu acuh. Karena aku tahu, sangat susah memegang bicara Mahar. Sebagian hanya bualan sok tahu saja. Mahar mengeluarkan secarik kain hitam dari karung kecampangnya. “Kau ingin melihatnya, Boi?" “Melihat apa?" "Lihatlah, tutuplah mattunu dengan kain ini." Tak masuk akal. Aku disuruh melihat, tapi mataku akan ditutupnya dengan sehelai bandana hitam. Lagi pula aku tak perlu melihat apa pun. Semuanya jelas di depanku. Wanita sakit jiwa yang kurus kering, tapi makan seperti sumo. Namun, Mahar mendesak dan aku ingin menyenangkan hatinya. Mahar menyuruhku menunduk. Ia lalu membalut mataku dengan kain hitam. Mahar menyuruhku mengangkat wajah, seketika aku menjerit dan terjajar ke belakang. Aku ketakutan lebih daripada ketika melihat Nai subuh tadi. Cepat- cepat kubuka ikatan bandana yang menutup mataku dan kulemparkan. Tubuhku dingin karena nyaliku lumpuh. Melalui kain hitam yang menutup mataku. aku melihat sesuatu yang mengerikan, yaitu sesosok hitam manusia, tapi berbulubulu seperti kera. Perutnya buncit dua matanya menyala. Ia telanjang, bertaring, dan ia lekat di punggung Nai. Posisinya seperti manusia memanjat tiang pada ornamen kayu sebuah suku Asmat di Papua. Tangan makhluk itu mencekik leher Nai. Kedua telapak kakinya menekan punggungnya seperti orang memanjat kelapa. Makhluk itu menggelayuti Nai. "Semua yang dimakan Nai masuk ke perut iblis itu," tukas Mahar. Aku gemertar. Mahar berdiri dan mengambil dahan-dahan beluntas dari karung kecampangnya. Tanpa basa-basi, di depan semua orang, ia menghantam Maryamah Karpov 201 Maryamah Karpov 202


punggung Nai yang sedang makan.perempuan itu tersedak dan menjerit kesakitan. Nasi terhambur dan mulutnya. Mahar tak peduli. Berkali-kali ia mencambuk punggung Nai sambil merapal mantra-mantra, Nai berguling- guling, meraung-raung kesakitan. Sungguh pilu melihatnya, tapi Puniai dan kami tahu Mahar sedang mcngobati Nai. Kami diam saja. Nai menggelepar- gelepar, lalu terbaring mendengus-dengus. Keringatnya bercucuran. Pelanpelan wajah Nai yang tegang karena menahan beban yang telah menggelayut di punggungnya selama empat tahun mulai mengendur. Dengusnya kian lama kian reda, kemudian ia tertidur. Kami menyaksikan Nai tidur pulas. Puniai gcmbira melihat perubahan pada anaknya. Mungkin bertahun-tahun ia tak pernah melihat Nai terlelap seperti itu. Puniai yang telah lama ditinggal mati istrinya, mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Mahar dengan air mata berlinang-linang. Aku terpana memandang Mahar seperti aku tak pernah mengenalnya. Sungguh tak dapat lagi Mahar dianggap sebelah mata. Begitu jauh ia telah terlibat dalam ilmu hitam, sehingga ia bisa, untuk kali pertamanya dalam hidupku, membuatku mampu melihat hantu. Cerita Puniai, Nai mulai sakit ketika menolak pinangan seorang lelaki Batuan bernama Tambok. Dan Puniailah akhirnya aku tahu hikayat Tambok. Sungguh menakutkan lelaki itu. Aku meraih kain hitam yang tadi kucampakkan, kukenakan lagi. Aneh, dari kain hitam yang tebal itu aku dapat melihat Nai, tapi iblis bermata merah itu tak lagi tampak. Mahar mercnggut kain hitam dari wajahku dengan ekspresi jangan simbarangan! Ini bukan barang mainan! Lalu dengan gayanya yaag khas, ia berlalu. Kupandangi ia dari bolakan. Aku tak percaya pada peyembuhan magis dan aku tak pernah mau berdekatan dengan syirik. Aku selalu mendidik diriku berpandangan logis. Namun, aku baru saja melihat iblis melalui kain hitam yang mistis itu dan aku masih percaya pada mataku sendiri. Aku melihat iblis! Dengan cara ilmiah seperti apa aku dapat menjelaskan semua itu? Ini ilmu baru yang tak kudapat di bangku sekolah manapun. Mozaik 61 Pirates Of Caribbean L A M B AT laun aku mengerti bahwa aku mampu membuat perahu, mampu melakukan pelayaran yang tak terbayangkan siapa pun sebelumnya, adalah karena aku trial, dengan tekun mcmpelajari sains perahu tradisional, dasar-dasar navigasi, sedikit ilmu astronomi, dan karcna setiap waktu aku seclalu memelihara mentalitas saintifik. Bukan karena keahlian turunan bakat atau pengalaman. Bulir-bulir ilmu yang kutemukan menumpuk bak arsenal, bak gudang peluru, untuk memerangi segala hal bidang yang awalnya tampak seperti tak mungkin. Penjelajah dalam ilmu-ilmu yang baru itu seperti petualangan yang tak kalah menarik dari pelayaran ini sendiri dan yang mempesona dari keseluruhan studi itu adalah studiku tentang bajak laut. Sejak mengetahui bahwa cepat atan lambat, dalam pelayaran ke Bantuan, aku akan berhadapan dengan perompak Selat Malaka aku berusaha mempelajari mereka. Informasi kukumpulkan dan sana sini. Makin dalam aku mengenal mereka dan buku-buku sejarah. cerita nelayan tua di warung-warung kopi, cerita heroik para marinir, kisah dnlam novel-novel roman dari legenda dan dongeng antah-berantah hikayat bajak laut membawaku pada satu dunia baru yang tak pernah kukenal sebelumnya. Dunia penuh misteri mara bahaya sekaligus pesona tak berujung. Sebagai orang Melayu kepulauan, sejak telingaku bias mendengar rasanya aku telah mendengar kisah tentang kaum lanun. Di surau-surau, di pasar-pasar, dalam kenduri, dalam sandiwara radio, di bangku-bangku pegadaian, di kantor pos, sambil antre beras di gudang Meskapai Timah, sambil merokok sambil minum kopi, sambil memancing, dari pensiunan angkatan laut, dari pegawai syah bandar, dari nelayan, rasanya selalu kudengar orang mengisahkan bajak laut Selat Malaka. Kuingat dulu, di masjid, di sekolah, kami sering main sandiwara pertempuran sengit lanun melawan kumpeni. Kembali ke masa waktu perahuku tengah kukerjakan. Sempat aku dilena buku-buku tua hikayat lanun. Salah satu buku itu berjudul Moestika Senunandjoeng, amboi, tak jemu-jemu aku membacanya. Tak lunas-lunas pula terawang pikiranku tentang kaum yang unik ini. Banyak kisah menggambarkan mereka merampok kapal-kapal juragan hasil bumi yang kaya dan tamak, lalu membagikan hasil rompakan itu kcpada orang-orang Melayu pulau yang miskin. Apakah mereka pcnjahat? Atau justru pahlawan? Robin Hoodkah mereka? Pertempuran sengit lain dalam dadaku mempertanyakan pilihanMaryamah Karpov 203 Maryamah Karpov 204


pilihan itu, membuat kisah bajak laut Selat Malaka, selalu menjadi hal yang romantik bagiku. Karena, nun jauh dalam kalbuku, aku ingin menganggap orang-orang itu pahlawan. Terima atau tidak, bajak laut adalah bagian dari budaya kami, roh mitologi masyarakat kami. Meski hanya sangat sedikit orang Melayu pernah melihat mereka, tapi berabad-abad bajak laut hidup dalam pantun dan petuah tetua kami. Karena itu, hanya kamilah, orang Melayu yang punya kata khusus untuk perompak dan bajak laut, yakni lanun. Lanun hidup dalam perumpamaan, metafora, dan ketakutan kami, dalam gelora jiwa untuk berlayar, menaklukkan, dan mengelana samudra. Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan dan terbuang. Untuk mereka yang memilih hidup keras, membenci daratan, gentayangan serupa hantu penasaran. Lanun hidup dalam ajaran kebijakan kami tentang kebaikan dan keburukan. Waktu aku kecil, yang paling kami, anak-anak Melayu, takuti adalah segerombalan orang yang disebut orang tua kami penebok. Ada kalanya bumi seakan bara sehingga kaki kami lak pernah berhenti melangkah, bermain jauh dari rumah. Cukup sekali saja orangtua menyebut nama itu yang diucapkan secara dramatis dengan cara dibisikkan di telinga kami akan mengerut di ketiak ayah-ayah kami. Dengan cara apa pun biasanya sulit mencegah kami menyusuri pinggiran laut. Namun, dengan ditakuti bahwa penebok akan menculik memasukkan anak kecil ke dalam karung lalu melarikannya dengan perahu, kami bahkan tak berani keluar ruimah seharian. Demikian kuat sugesti penebok. Pada masaku anak-anak kecil yang mendengarnya bisa gemetar. Lalu aku takjub, dalam lembar-lembar tua Moestika Semenandjoeng, dilengkapi bukti yang sulit diragukan, kudapati laporan beberapa kejadian pada masa lampau tentang kaum lanun yang buang sauh di tengah. Mereka mendekati pulau dengan sampan-sampan kecil, untuk menculik anak-anak perempuan guna dijadikan istri Penebok, tak lain tak bukan adalah lanun Selat Malaka. Sayangnya masa sekarang tak ada lagi orangtua Melayu yang menceritakan pada anak-anaknya tentang hikayat penebok seperti semua hal yang indah di negeri ini, hikayat tua pmbok pun, terancam punah. ********** Lembar-lembar Moestika Semenandjoeng membuaiku. Kutamatkan dalam semalam, lalu aku beranjak pada buku-buku lain, masih soal para bajak laut, lantaran telah jatuh hatiku untuk mempelajari riwayat pendekar samudra itu. Dari sebuah buku berjudul Emperors of the Sea, kudapati kisah yang menarik. Rupanya kapal-kapal dagang yang membawa tekstil bubuk mesiu, keramik, dan sutra dari Nangjin dan Shanghai untuk diangkut ke Eropa, terpaksa harus turun mengarungi Samudra Pasifik, berputar di bawah perairan Indonesia, lalu tembus ke Samudra Hindia. Kapal-kapal itu melewati Teluk Aden—antara Yemen dan Jibouti menyusuri Laut Merah, Alexandria, Jerusalem, untuk sampai pada tujuan akhirnya di selatan Eropa, yakni Turki atau Yunani. Pelayaran yang tak terbilang jauhnya itu, makan tempo berbulan-bulan, terpaksa ditempuh lantaran Selat Bering—jalur yang lebih dekat menuju Eropa melalui Rusia—telah dikuasai berpuluh armada bajak laut. Eropa, bagi pedagang China Timur mestinya lebih dekat dengan bergerak ke atas melalui Shakalin, Laut Bering, Laut Barents, lalu Skandinavia di barat Eropa. Pada masa itu jika para pedagang pantai timur China ingin memasuki Rusia, hanya berani berlayar di celah antara Pusan dan Hiroshima. Dengan begitu, mercka melindungi arak-arakan kapalnya di antara daratan Jepang dan Korea. Mcreka tak kan berlayar lebih jauh dari Shakalin. Dengan meramu berbagai bacaan, aku bcrhipotesis, barangkali ada satu masa di mana kaum bajak laut menguasai setiap selat dalam jalur-jalur perdagangan besar dan bandar-bandar yang ramai, seantero bumi. Bandar-bandar yang makmur, nyaris tak pernah aman dari para perompak. Pada laut-laut sempit, Mediterania misalnya, yang diapit Eropa dan Afrika, perompak mengangkangi jalur emas mulai dari Pulau Sardinia sampai ke pantai-pantai Cyprus. Aku telah mengumpulkan ratusan cerita tentang bajak lain dan wilayahwilayah kuasa mereka mulai dari lanun tak ternama di Teluk Santa Catalina di wilayah Pantai California, lanun Laut Tasman di Australia, perompak Teluk Bothnia Skandinavia, perompak Portugis dan Spanyol yang menguasai Selat Gibraltar, sampai kisah perompak Laut Arab yang sepertinya hanya merupakan bagian dari Dongeng 1001 Malam. Orang-orang Balkan pun pernah punya hikayat perompak di Laut Adriatik. Orang India menjadi perompak di Selat Bengali. Lelaki-lelaki ganas Wales dan Irlandia amat terkenal hikayat bajak lautnya. Mereka beroperasi di Kanal Saint George. Wilayah ini adalah bagian dari Irish Sea. Sepak terjang mereka sampai ke Selat Dover. Perompak Turki dilaporkan menjarah di kedua sisi daratannya, yaitu di Maryamah Karpov 205 Maryamah Karpov 206


Laut Aegean dan Laut Hitam. Ada pula lanun yang beroperasi kecil-kecilan seperti bajing-bajing loncat di anak-anak Sungai Mekong. Mereka menjarah hasil-hasil bumi di perahu-perahu penduduk lokal. Bajak laut yang paling brutal pernah berjaya di perairan yang disebut scbagai Outer Hebridges di Skotlandia. Manusia-manusia barbar itu tidak hanya merompak, tapi membunuh. Mereka menyalakan api sebagai mercusuar palsu untuk menyesatkan kapal sehingga terjebak di karang-karang Semenanjung Kyle Lochaish. Mereka menyalib awak kapal, bahkan yang tak melawan dan membakarnya hidup-hidup. Nanti, dari seluruh studiku tentang bajak laut, aku memahami bahwa ada perbedaan besar antara lanun dan pembunuh. Dari sekian hikayat tentang perompak tak ada yang lebih legendaris daripada bajak laut Kepulauan Kiribia dan bajak laut Selat Malaka. Bajak laut Karibia, yang kondang disebut Pirates of Caribbean, menguasai wilayah yang amat luas mulai dari Teluk Meksiko sampai ke Panama. Mereka sulit ditaklukkan sebab amat susah dikejar. Mereka sembunyi di begitu banyak celah pulau-pulau terpencil yang membentang dari Granada, Costa Rica, sampai ke Puerto Rico. Kckuasaan mereka meliputi perairan puluhan negara, termasuk Jamaika, Haiti, Dominika, sampai ke Kepulauan Bahamas. Bahkan sering dilaporkan mereka beroperasi di pantai-pantai Miami. Mereka tak hanya menjarah kapal dagang, tapi berperang melawan angkatan laut Inggris yang terkenal. Perompak Karibia mampu mengusir kolonial bersenjata kanon modern. Mereka adalah ikon dalam dunia bajak laut. Nama mereka mampu menggetarkan jiwa pelaut pembcrani sckalipun. Namun pendapatku, dari studiku tentu saja kaum lanun Selat Malaka jauh lebih hebat ketimbang Pirates of Caribbean. ********** Perompak di berbagai selat. bandar, dan perairan di muka bumi ini. tak pernah lagi dilaporkan aktivitasnya. Perompak Mediterania tak muncul-muncul lagi. amblas ke dasar laut sejak dibasmi tentara laut Alexander The Great. Perompak barbar di Outer Hebridges Skotlandia, bergelimpangan di tengah laut dihabisi pelaut-pelaut Viking Skandinavia. Bajak laut Selat Dover musnah karena diperangi bersama oleh angkatan laut Inggris dan Prancis. Perompak Wales saling bunuh dengan perompak Irlandia. Lanun Portugis berseteru dengan lanun Spanyol saling memusnahkan. Sejak itu. Selat Gibraltar aman dari bajak laut. Karena nafsu serakah perompak Selat Bering saling bunuh sesama mereka sendiri. Semuanya raib. Perompak Teluk Santa Catalina di Pantai California, Laut Tasman. Teluk Bothnia, dan perompak Balkan di Laut Adriatik. serta perompak di mana pun, umumnya musnah digasak tentara maritim kolonial atau angkatan laut negerinya sendiri. Mereka kalah pula akan kapal dagang vang lebih canggih, bersenjata, dan lebih cepat. Sementara perompak Laut Arab dalam cerita seribu satu malam tetap hidup dan berjaya, sebagai dongeng. Kemusnahan juga melanda Pirates of Caribbean yang legendaris. Mereka menjadi terkenal seantero jagat karena mengalahkan armada Inggris dan Spanyol. Mereka justru musnah diperangi Henry Morgan yang juga bajak laut. Kejadian ini terjadi pada abad kedelapan belas, tiga ratus silam. Namun, tengoklah perompak Selat Malaka. Mereka tetap hidup, sampai hari ini, tetap berjaya, sampai hari ini. Bahkan minggu lalu aku masih membaca di koran tentang ditangkapnya beberapa orang perompak Selat Malaka. Perahu mereka digiring polisi air ke kantor polisi di Pulau Penyengat. Perompak Selat Malaka telah ada jauh sebelum Alexander Agung membasmi para perompak Mediterania. Jauh sebelum pelaul Viking menenggelamkan lanun Skotlandia. Nama mereka disinggung-singgung dalam kisah kerajaan Sriwijaya. Nama mereka telah disebut-sebut swjak ekspedisi Sumpah Palapa Gajah Mada. Mereka terlibat dalam sepak terjang Hang Tuah, Hang Jebat, dan Hang Lekir, dan perang melawan kumpeni. Jika ada kerajaan yang masih mampu bertakhta sampai saat ini, jika ada organized crime tertua dalam scjarah manusia—jauh lebih tua dari-pada cosa nostra atau mafia klasik Sisilia, dan jika ada penjahat yang paling rapi, paling sistematis, serta paling mampu bertahan dari generasi ke generasi maka semua itu pastilah lanun Selat Malaka. Ratusan bahkan ribuan tahun lanun Selat Malaka telah diserang armada Majapahit, tentara Tiougkok dari dinasti ke dinasti, tentara Sriwijaya, pengawal armada Cheng Ho, kumpeni, marinir Indonesia, Singapura, Inggris, dan tentara Diraja Malaysia tapi sampai hari ini layar-layar perahu bajak laut Selat malaka masih berkibar garang. Beribu tahun, tak seorang pun dapat membasmi mereka. Mereka adalah legenda hidup orang Melayu pulau. Merekalah penebok. Kejahatan mereka selalu saja terlaporkan paling tidak sebulan sekali oleh patroli laut, kantor syah bandar, bahkan koran-koran. Sampai hari ini, otoritas pelayaran selalu mengingatknn markonis kapal yang melintasi Selat Malaka agar waspada akan bahaya lanun. ********* Maryamah Karpov 207 Maryamah Karpov 208


Namun. dalam hikayat lama, tampak ada perbedaan besar antara lanun zaman dulu dan sekarang. Dulu mereka bahu-membahu dengan pribumi dan kerajaan- kerajaan di Sumatra untuk mengusir kompeni. Mereka merompak sebagi pajak melayari Selat Malaka yang mereka anggap milik leluhur. Siapa pun yang melintas harus membayar. Mereka merompak untuk makan dan berlaku semacam Robin Hood bagi penduduk pesisir yang miskin. Para nelayan bahkan bersahabat dengan mereka karena mereka melindungi wilayah tangkap ikan dari serbuan nelayannelayan negeri jiran. Para lanun klasik dulu bukanlah pembunuh. Mereka adalah keluargakeluarga kecil yang saling bertalian darah dan mereka menganggap dirinya pewaris Selat Malaka. Jika orang bisa melakukan hal serupa di daratan, mengapa tak bisa melakukannya di lautan? Demikian pendirian mereka. Selat Malaka adalah ulayah, kerajaan bagi mereka. Berbagai cerita menakjubkan beredar tentang kaum lanun klasik itu. Mereka dikabarkan lahir, hidup dan mati di laut. Jenazah mereka dilemparkan ke kawanan ikan hiu. Mereka mengumpankan ari-ari bayi mereka pada burung elang gugok. Agama mereka agama pagan. Mereka menyembah petir dan gelombang. Banyak diantara mereka yang tak pernah menginjak daratan seumur hidup karenn yakin bahwa jika menginjak daratan, kesaktian mereka akan sirna. Tabiat lanun kuno itu amat berbeda dengan Lanun Selat Malaka sekarang. Lanun sekarang adalah jagal di laut. Mereka bukan keluarga, melainkan kumpulan para renegade. Orang-orang terbuang, bromocorah, dan buronan. Jika merompak kapal, tak ada yang tersisa, bahkan nyawa amblas. Kapal kosong ditarik ke darat untuk dijual. Yang melawan pasti jadi mayat. Kian hari mereka kian ganas. Tak hanya merompak, tapi menyelundupkan timah dan manusia ke negeri-negeri jiran. Mereka memungut pajak sekehendak hati dari orang-orang pulau yang ingin jadi pelintas batas memasuki Singapura atau Malaysia. Jika tak mufakat, nyawa melayang. Jenazah-jenazah yang dihanyutkan ombak sampai ke perairan Belitong sehingga akhirnya membawaku pada pelayaran ini, pastilah korban lanun Selat Malaka. Perompak-perompak itu mengenakan upeti yang mencekik leher dan bersekongkol dengan kapal-kapal yang menyelundupkan pasir kuarsa dan kayu balakan liar dari Bangka, Belitong, dan Riau kepulauan ke negeri jiran. Senjata mereka mulai dari senjata tajam sampai meriam lantakan, bom ikan, pistol rakitan. dan senapan Ml6. Tokoh yang paling ditakuti, gembong mereka bernama Tambok. Anak buahnya ratusan, armadajiya puluhan perahu cepat. Siang, mereka menyamar sebagai nelayan, malam menjadi garong. Tambok tak diketahui asal imusalnya. Dia penguasa Kepulauan Batuan dan dialah yang menenung Nai karena sakit hari ditampik. Dibiarkannya gadis remaja itu mati pelan-pelan. Tambok seperti pembenci kehidupan. Konon ia mengutuki diri telah dilahirkan. Ilmu hitamnya sangat tinggi konon setinggi Tuk Bayan Tula. Ia tak mempan peluru dan tak putus ditampas. Sentikan jemarinya dapat mengarak awan. Di muka bumi ini hanya ia dan Tuk Bayan Tula yang dapat meneluh orang di seberang samudra, hanya mereka yang punya ilmu hitam yang tak mampu ditawar lautan. Sementara itu, keluarga-keluarga lanun tulen dikabarkan telah lenyap. Keluarga terakhir ditangkapi pada 1959, dijebloskan ke penjara Karimun. Dua belas orang jumlahnya, anak-beranak. Sekarang tak tahu rimbanya. Ketua klan terakhir ini adalah seorang. Setelah tahun 1959 sering ditemukan mayat-mayat berkepala terdampar di pesisir Anambas, Lingga, dan singkep. Karma, sejak itulah Tambok berkuasa. Di tangan Tambok, Selat Malaka menjadi neraka. Namun, bukanlah baru kemarin nelayan Karimata menyebut nama Dayang Kaw? Apakah ada yang selamat dari turunan lanun asli itu? Apakah mereka telah bergabung dengan Tuk Bayan Tula? Maryamah Karpov 209 Maryamah Karpov 210


Mozaik 62 Dayang Kaw……… SEJAK magrib Mahar hilir mudik, gelisah menunggu tengah malam. Ta tak sabar ingin berjumpa dengan Tuk. Dan, aku gugup. Nelayan yang menyebut nama Dayang Kaw kemarin memberiku firasat bahwa kali ini, setelah menunggu dan mempelajarinya bertahun-tahun, untuk kali pertamanya aku akan berjumpa dengan Lanun asli secara langsung. Aku tak bisa meramalkan apa yang akan tcrjadi nanti. Bisa saja kami datang pada mereka hanya untuk mengantarkan nyawa. Itu tak penting, karana dalam segala kemungkinan yang serbasamar dan risiko yang tak bisa dikalkulasi, di situlah tersimpan salah satu daya tarik ekspedisi ini. Nama Dayang Kaw berdengung-dengung dalam kepalaku. Tak bisa dipungkiri. itu adalah nama Melayu zaman lawas. Nama-nama semacam itu, masih dapat dijumpai di beberapa tempat terpencil di Pulau Belitong. Misalnya Gedibok, Sa'arai, atau Gelatin. Sungguh aku ingin melihat wajah perempuan yang pernah sangat ditakuti di laut ini. Seperti apa gerangan rupama? Pukul sebelas malam kami mubu mendaki bukit kapur yang pucat menyeramkan karena tampias cahaya rembulan. Rombongan kami persis orang-orang kontet yang mencari cincin bertuah agar dunia ini tidak kiamat. Chung Fa dan Kalimut tak banyak bicara sejak berangkat karena takut. Nama Tuk telah melahap mentah-mentah nyali mereka. Mereka tak paham apa pun soal lanun Selat Malaka, dan aku tak bercerita bahwa dengan berlayar ke Batuan sebenarnya seperti memasukkan kepala ke dalam kerongkongan singa. Aku terfokus pada Dayang Kaw dan Tuk yang punya hubungan dengan Tambok. Tuk adalah sumber informasi yang tahu soal mayat-mayat yang terlempar ke perairan Belitong Timur tempo hari. Dari sinilah aku akan menyusun siasat mencari A ling. Dari puncak bukit kami melihat satu-satunya bangunan di tengah hamparan ilalang. Tampak biasa saja pondok beratap rumbia itu, tapi jelas ia berdiri di situ lewat perhitungan yang matang. Pondok dicat hitam sehingga tersamarkan dengan batu-batu granit dibelakangnya. Aksesnya ke puncak karang sangat dekat sehingga mudah melarikan diri ke jurang untuk terjun ke laut atau mengambil posisi unggul untuk menyerang. Jarak dengan pangkalan perahu juga sangat dekat sehingga mudah melarikan diri. Pangkalan itu sendiri menjorok di antara perdu apit-apit yang sengaja dibiarkan rindang. Sehingga tiga atau empat perahu bobot tiga ton tak kan dari sudut mana pun. Maka pondok itu adalah sebuah tempat pengintaian, penyamaran, penyerangan, sekaligus bagian dari sebuah mekanisme pertahanan. Sinar lampu minyak menembus dinding kulit kayu pondok. Terdengar sayup suara orang berbicara dari dalamnya, diselingi debur ombak. ******** Kami menuruni bukit. Beberapa ekor anjing berhamburan, menyalak-nyalak menyongsong kami. Pintu pondok terbuka, lalu keluarlah beberapa lelaki. Kami mengucapkan salam, mereka tak menjawab. Pria-pria itu, lima orang jumlahnya, tirus-tirus dingin wajahnya. Tak tampak Tuk Bayan Tula. Mereka berdiri tegak dengan sikap waspada. Parang mereka terhunus, dan tampak jelas mereka sedang mengantisipasi serangan. Chung Fa dan Kalimut ingin kabur, tapi Malaar menenangkan mereka. Aku tahu, satu sikap mengancam dan kami akan membuat malam buta yang senyap ini bersimbah darah. Mayat-mayat bisa bergelimpangan di bawah sendu sinar rembulan ketujuh belas. Salah satu cara bersikap tidak mengancam itu telah dikuasai Mahar. Ia memberi isyarat padaku, Chung Fa, dan Kalimut agar berjalan berbaris, bukan bejajar, dan meletakkan kedua tangan di dada. Mahar selalu tahu hal-hal semacam ini. Orang-orang asing di depan kami, terlihat amat berpengalaman dan tahu betul bahaya. Mereka dengan saksama mengamati kedua tangan kami. Tak surut curiga dalam pandang mereka. Posisi mereka adalah formasi serangan yang terlatih untuk saling mendukung satu sann lain. Secara naluriah mereka telah membagi korbannya masing-masing. Kalimut yang bertubuh paling besar nyawanya seakan telah ditawar oleh dim di antara lima lelaki itu. Kami berdiri dengan kaku dalam satu jarak yang menenangkan dengan mereka. Mahar memberi isyarat lagi agar kanu menurunkan ke tanah barang- barang bawaan kami termasuk bungkusan keramatnya. Lalu Mahar memberi isyarat agar kami maju mendekat. Formasi kelima lelaki itu tetap ketat bergeming. Mahar paling depan, aku di belakangnya. Kian dekat dengan pria-pria itu, jantungku kian kencang berdetak. Aku yakin mereka adalah orang-orang yang telah lama ingin kutemui. merekalah lanun asli Selat Malaka. Sebab, cahaya lampu minyak yang terlempar melalui pintu pondok yang terbuka menerangi sundang dan terampang yang terselip di pinggang kiri-kanan mereka. Itulah senjata-senjata purba orang Melayu pulau. Dua dari kelima pria itu menutupi wajahnya. Selebihnya, menampakkan mata yang gelap seperti mata orang Parsi. Alis mereka seperti orang Gujarat. Maryamah Karpov 211 Maryamah Karpov 212


Raut wajah mereka menyerupai raut lelaki Pasai, dan bentuk mata pedang mereka mirip mata orang Tiongkok. Garis wajah semacam iru persis ungkapan Albert Buffon, atropolog yang kali pertama secara ilmiah mengidentifikasi ras Malay. Di antara salak gaduh anjing yang bcrusaha menyerang aku mengamati kelima pria itu dengan teliti. Aku waswas sekaligus kagum. Bagiku, ini adalah discovery yang luar biasa. Tingkatnya seperti menemukan sekeluarga spesies yang telah dinyatakan punah. Jika benar orang-orang semacam ini yang ditemukan Buffon, maka keluarga lanun di depanku ini adalah pewaris langsung darah leluhur seluruh orang Melayu, nenek moyangku sendiri. Dengan kata lain, secara hipotesis dapat kukatakan bahwa ayah-ibuku dan aku sendiri, boleh jadi sesungguhnya turunan kaum lanun Selat Malaka. Kami tetap pada posisi yang mengesankan tidak akan menyerang dan mereka tetap diam dalam posisi siap diserang. Hening dan tegang. Jika mereka menyerang, kami pasti binasa. Sebab, tak ada di antara kami yang memiliki keahlian bela diri. Kami hanyalah manusia nekat, dan kami anti kekerasan. Mahar memang punya ilmu-ilmu aneh untuk melindungi diri, tapi hanya ia sendiri yang percaya pada khasiatnya. Chung Fa bahkan tak tega membunuh lalat. Kalimut punya sedikit lagak yang ia pelajari dari novel Djago Ternbak Tiada Bmiama, itu pun hanya cara koboi berjalan. Tensi baru kendur ketika seseorang dari dalam pondok menepuk-nepuk dinding lelak kayu meranti untuk meredakan salak anjing. Orang itu lalu keluar dari pondok. Sosoknya menaungi ambang pintu, hitam dan berkilau-kilau. Wajahnya telah terbenam lama dalam kepalaku. Tak kan kulupa wajah itu. Dialah sang dukun siluman Tuk Bayan Tula. Mahar menghempaskan tubuh di atas lututnya berampuh di depan junjungannya dengan sikap bahkan rela lehernya dipancung. Tuk Bayan Tula turun dari pondok panggung. Ia melangkah pelan mendekati kami. Anjing-anjing kampung hitam yang tadi ganas melingkar- lingkar di kakinya. Tuk tampak tua dan wajahnya tak lagi segarang seperti kutemui belasan tahun lalu di Pulau Lanun. Hal-hal mustahil kadang kala mampu ditakluk ilmu: ilmiah maupun musyrik. Namun, kesaktian sang waktu tak tertekuk apa pun, siapa pun. Waktu bertindak sepasti ganjaran Tuhan. Bahkan. dukun langit Tuk Bayan Tula, lindap diisap waktu. Pakaian Tuk, kain yang dililit-lilitkan semacam jubah biksu. tongkat kayu renggadaian berhulu kepala ular tanah belang berbisa maut—pinang barik—masih seperti dulu. Matanya tetap hitam berkilat serupa mata burung bayan. Dalam hematku, bukanlah itu mata manusia, tapi tak lain mata iblis. Meski makin renta, aura seramnya tak kisut. Hawa dirinya selaku sekutu hantu, tak pula luntur. Juga seperti dulu, tanpa harus mendengar taklimat kami, beliau telah mafhum bahwa kami menyambanginya demi berunding soal pelayaran kami ke Batuan. Sementara ini, kehadiran Tuk telah meredakan suasana tegang berbau darah. Salah seorang dari kelima pria tadi lalu mengatakan sesuatu pada kami dengan bahasa yang tak biasa kami pakai tapi kami pahami. Bahasa itu adalah Melayu orang pesisir pelosok di Belitung. Satu dua patah kasa sama sekali asing bagi kami. Aku senang tak terbilang waktu Tuk mcngenalkan kelima orang tadi sebagai cucu cicit Dayang Kaw. Berarti benar, masih ada yang selamat dari keluar asli lanun tulen itu. Begitu lama aku telah mempelajari mereka. Betapa berarti bagiku pertemuan ini. Sesudah penjelasan itu, kedua dari lima pria itu mambuka sarung yang menutup wajahnya, dan kami terperanjat karena mereka adalah perempuan muda belasan tahun yang elok parasnya. Mereka mirip. Mungkin mereka saudara-saudara sekandung atau sepupu-sepupu yang sangat dekat. Yang lelaki amat tampan wajahnya. Tak dinyana jika mereka adalah para perompak yang ditakuti. Semua gambaran tentang para bajak laut: wajah sangar, rambut panjang, gigi perak, pedang, ikat kepala hitam bergambar tengkorak, baju panjang seperti jubah kedodoran, meriam, burung betet, peti harta karun, pistol antik, kalung, gelang, dan giwang akan sirna di depan orang-orang ini. Mereka adalah orang-orang yang halus, tapi kelihatan amat teguh wataknya. Tuk mengatakan bahwa perundingan harus dilakukan di atas perahu sebab Dayang Kaw lak mau menginjak daratan. Dadaku didesaki pertanyaan: bukankah perempuan itu telah mati ratusan tahun silam? ********* Kami digiring ke pangkalan yang ditutupi gulma apit-apit, lalu meloncat satu per satu ke atas perahu. Kedua perempuan tadi mengenalkan diri sebagai Maura dan Bagua. Bangua mempersilakan kami duduk digeladak atas. Maura masuk ke geladak bawah dan kembali bersama seorang perempuan lain yang langsung duduk bersila di depan kami. Mulanya kami saling diam. Kalimut memandangi Tuk karena takut sikaligus takjub Chung Fa mengawasi tiga lelaki pengawal Dayang Kaw, cemas kami salah bersikap dan bicara tak kena di hati mereka, lalu memarang kami di atas perahu ini. Aku menatap Dayang Kaw dan terpesona akan sejarah keluarganya, atas pilihan keras hidupnya. Dan Mahar, sejak Maura melepas penutup wajahnya tadi, tak lepas-lepas menatap perempuan paras elok itu. Maryamah Karpov 213 aryamah Karpov 214


Tuk mengatakan perempuan itu adalah Dayang Kaw, dan aku segera paham bahaya nama Dayang Kaw diturunkan terus pada anak-anak perempuan tertua keluarga lanun itu. Maka. perempuan di depan kami inilah pemimpin mereka sekarang. Kutaksir Dayang Kaw berusia tak lebih dari dua puluh dua tahun. Tak ada penerangan selain purnama raya ketujuh belas, tapi tak dapat disamarkan bahwa ia sangat elok seperti Maura dan Bagua. Hanya saja ia lebih dingin dan sorot matanya sangat kuat. Dayang Kaw dan adik-adiknya tersenyum mendengar kami ingin berlayar ke Batuan. “Pulanglah, perahu akan ditiup angin ke barat," nasihat perempuan muda itu. Selagi masih ada waktu. Tabok, tak lagi punya hati." Taki kami meneguhkan sila, pertanda kami tak kan pulang. Mahar, matanya, masih terpaku pada Maura. Dengan kata yang kupilih hati-hati, aku bertanya pada Tukdan Dayang Kaw tentang jenazah yang hanyut sampai ke Pantai Belitong tempo hari. Aku juga mengatakan terus terang bahwa tujuan kami ke Batuan untuk mencari seorang perempuan Hokian bernama A Ling. Ku perlihatkan foto A Ling waktu ia kelas dua SMP dulu. Tuk dan keluarga Dayang Kaw mengaku tak mengenal wajah pada foto itu. "Mereka itu pendatang haram. Tambok mengharamkan mereka, dua perahu, di Tanjung Jabung." Jawaban Tuk membuatku merasa kian dekat dcngan A Ling sekaligus kian jauh, kian putus harapan. Kusampaikan bahwa dua perahu itu berasal dari pulauku dan kami ingin mencari sisa-sisa rombongan pelintas batas itu ke Batuan. "Tak bersisa, mungkin ada satu dua yang selamat, jika terdampar kembali ke Batuan, aku tak tahu." Aku gamang. Tuk tak peduli pada rencana kami dan sama sekali tak bersimpati pada jenazah-jenazah itu. Keluarga Dayang Kaw tampak scakan menggantungkan tindakan mereka pada pertimbangan Tuk. Kami minta bantuan Tuk dan Dayang Kaw untuk menghubungkan kami dengan Tambok dan membawa kami ke Batuan. Tak ada lagi siapa pun kecuali Dayang Kaw dan Tuk yang masih disegani Tambok. Mendengar permohonan kami, Tuk diam membisu. Mahar mulai beraksi mengambil hatinya. Ia membuka satu bungkusan kainnya. "Aku membawa pekeras untuk Datuk," bujuk Mahar bersemangat karenn ia sangat senang bisa membawa oleh-oleh untuk dukun junjunganya itu. Ia mengeluarkan benda-benda aneh properti perklenikan: kenyenan dan dupa- dupa. Tuk memalingkan wajah tanda tak sudi. Tinnkat mistiknya sudah tak setingkat lagi dengan perkara remeh-temen seperti kemenyan dan kawankawan. Benda-benda itu adalah properti dukun-dukun pemula yang amatir. Tak mempan dengan rayuan pertama, Mahar kembali mengeluarkan pernak-pernik yang lebih aneh, yaitu tanduk menjangan gunung, uban kucing pohon, telur pertama penyu yang baru kali pertama kawin, dan kuku lutung putih yang masih perawan. Para peminat dunia gelap selalu terobsesi untuk memiliki benda-benda yang menurut mereka amat makul khasiatnya itu. Luar biasa, petualangan Mahar bersama Societeit de Limpai turun-naik gunung menyusuri lembah dan padang, telah mempertemukan mereka dengan benda- benda aneh bin ajaib. Namun, dengan satu gerakan angkuh Tuk menyibakan stagen yang melilit pinggangnya. Kulihat badiknya berhulu tanduk menjangan gunung. Maksudnya benda-benda itu, dia telah lama punya. Dia tak butuh. Tuk menyentik tongkat berhulu ular pinang barik yang telah dikeraskan. Kawan, dalam dunia dukun Melayu, pinang barik lebih makul ketimbang tanduk menjangan gunung. Chung Fa mendekat ingin mengelap kepala ular pinang birik itu. Tuk menepisnya dengan jengkel. Mahar tak kalah kasiat. Ia tersenyum penuh rahasia. Tentu kali ini ia punya barang yang sangat special. Ia mengeluarkan kantung kecil kain hitam dari pinggang kirinya. Senyumnya manis waktu ia mengeluarkan batu kecil dari kantong kain hitam itu. "Buntat, Datuk!" tawarnya bangga. O, buntat! Kami terbelalak melihatnya. Istimewa bukan buatan. Dari mana gerangan Mahar mendapat benda superkeramat itu? Bahkan Dayang Kaw mendongak untuk melihat buntat yang mungkin kerap ia dengar kesaktiannya, tapi baru kali ini dilihatnya. Keluarga itu saling berbisik kagum. Mahar mengerling pada Maura, satu detik aku melihat kilatan di dalam mata lelaki eksentrik itu. Sesuatu yang tak pernah kulihat sebelumnya sejak kami berteman jauh sebelum kami dikhitan. Sukakah ia pada Maura? Aku tak tahu. Yang kutahu Mahar belum pernah jatuh cinta, yang kutahu tiba-tiba ia menjadi begitu gembira, dan kutahu persis, ia ingin membuat perempuan lanun itu terkesan. Semua ini jadi makin menarik! Buntat adalah masterpiece dunia jampi-jampian. Rupanya macam batu dan ia diambil dari perut raja kelabang. Raja kelabang amat langka, ialah raksasa kelabang. Saking besarnya, warnanya berubah dari merah jadi ungu Maryamah Karpov 215 Maryamah Karpov 216


kehijau-hijauan. Jika menggigit Jangankan manusia, kerbau pun almarhum. Buntat amat langka. Dalam seratus tahun belum tentu sebiji ditemukan. Khasiatnya, oleh orang-orang seperti Tuk dan Mahar, diyakini dapat menawar tenung mana pun. Jika disentuhkan sedikit saja pada perempuan yang ditaksir maka perempuan itu menjadi seperti kebamakan makan jengkol, mabuk, tak bisa lagi menghitung sampai sepuluh, akan ikut ke mana saja diajak, ke dalam sumur sekalipun. Demi melihat buntat itu, dengan tangkas Tuk membuka serbannya, meletakkannva di lantai palka, dan menggelarnya. Astaga! Di atas lembar serban berkilauan dua butir buntat yang tampak jauh lebih tua daripada buntat Mahar. Mahar terkesima melihatnva. Ia seakan tak percaya pada matanya sendiri. Mahar kalah lagi dari Tuk, tapi ia kembali tersenyum sebab ia masih memiliki benda andalan lain. Ia merogohkan tangannya ke dalam bajunya. Pasti ini benda yang sangat penting sebab Mahar telah menjahit saku khusus untuk menyimpan benda keramat ini di bagian dalam baju. Mahar mengambil secarik kain yang terlipat-lipat dari saku itu. Kain itu berwarna merah bertuliskan kombinasi aksara Tionghoa dan Arab. Tak tahu gerangan artinya. Mahar membuka hipatan pelan-pelan. Kami terbelalak melihat benda yang disembunyikan dalam lipatan itu: jenazah seekor cecak! Kami merubung Mahar. Apa yang istimewa dari bangkai cecak yang telah kering itu? Kami bertanya-tanya. Setelah diamati lebih dekat lewat terang cahaya bulan, rupanya memang istimewa, sebab cecak itu sangat aneh, ekornya bercabang dua. Sungguh langka binatang itu. Aku pernah membaca hikayat lama orang Melayu yang berkisah bahwa cecak dengan ekor bercabang dua menandakan seumur hidupnya tak pernah kalah bertarung sesamanya atau melawan pemangsanya sehingga ia tak pernah perlu memutuskan ekornya sendiri untuk mengelabui musuh. Karena itu, ekornya lama-lama bercabang. Para dukun sesat percaya, barang siapa berhasil menangkap dan mcmiliki cecak berekor cabang, maka ia tak kan kalah berkelahi melawan siapa pun, tak kan bisa dibunuh musuh. Kami sungguh takjub. Berkali-kali kami meyakinkan diri apakah cecak itu palsu atau hanya buatan Mahar dari tanah kelitang. Namun, cecak itu benarbenar asli. BaU busuknya sangat khas bangkai. Dari mana Mahar menemukan cecak berekor cabang itu? Mahar selalu penuh kejutan, dan setiap kejutan darinya menunjukkan bahwa ia memang bertekad sepenuh jiwa untuk menjadi dukun sakti. Bukan dukun amatir tapi dukun langit siluman paling sakti mandraguna. Jangan-jangan ia ingin lebih sakti daripada Tambok dan Tuk Bayan Tula. Sebab, benda-benda aneh ini tak mungkin dapat ditemukan oleh orang yang setengah-setengah saja. Mahar kembali mengerling bangga pada Maura. Perempuan cantik itu tersipu. Kami legang menunggu reaksi Tuk. Tentu ia sangat tertarik pada pada cecak ekor cabang ini. Dukun mana yang tak kan tertarik dengan makhluk sangat langka itu. Tapi ia malah tersenyum makin remeh, seakan ia punya benda yang jauh lebih sakti dibanding cecak ekor cabang. Bcnda apakah gerangan? Lalu Tuk, dengan tenang mengluarkan sesuatu dari karung kecampangnya. Ia menggenggamnya. Waktu ia membuka genggamannya, kami terlonjak kaget dan napas kami macet melihat benda di telapak tangannya: tokek berekor cabang. Mahar mengucek-ucek matanya melihat bangkai tokek kering berekor cabang dua di tangan Tuk. Dalam pertempuran memamerkan benda-benda mistik terbukti Mahar tertinggal jauh dibanding koleksi gaib Tuk. Kami mafhum sekarang mengapa Tuk menjadi dukun kondang yang amat disegani, sampai dianggap setengah siluman. Tuk memalingkan wajah tanda tak tertarik dengan tawaran kami. Ini gawat sebab bisa berarti ia tak mau mempertemukan kami dengan Tambok, dan putuslah harapan untuk dapat menemukan A Ling. Mahar menarik napas panjang. Ia tampak putus asa karena hanya tinggal punya dua harapan lagi. Ia mengeluarkan lagi satu bungkusan hitam kecil dari pinggangnya. Ia membukanya. Benda ini tak kami pahami. Hanya sebentuk ranting. "Dari sarang burung terakub, Tuk." Kali ini napasku benar-benar tercekat. Dulu, ketika aku kecil sering kudengar cerita yang mengerikan tentang orang-orang Melayu kuno yang tinggal di lereng-lereng gunung. Jika menemukan sarang burung terakub, dengan kejam mereka mematahkan kaki anak-anak burung langka itu. Burung terakub lalu menyembuhkan kaki-kaki anaknya yang patah dengan membawa semacam ranting yang kulitnya akan dipatuki anak-anaknya. Sampai sekarang tak diketahui berasal dari pohon apa ranting itu. Orang-orang kejam tadi mendatangi lagi sarang burung terakub untuk mengambil ranting misterius itu. Konon jika diseduh dengan air panas, seduhan ranting itu mampu menyembuhkan penyakit apapun. Sungguh luar biasa. Dari mana Mahar mendapat ranting ajaib itu? Namun malang, sekali lagi Tuk tak tertarik. Ia mengeluarkan sebatang tongkat yang disebut orang Belitong sebagai simpor laki, kayu yang juga sangat langka dan dipercayai dapat menangkal gangguan hantu. Maryamah Karpov 217 Maryamah Karpov 218


Akhirnya, Mahar hanya tinggal punya satu harapan, yaitu bungkusan yang selalu dibawanya ke mana-mana, yang selalu dipeluknya setiap perahu kami akan karam dihantam badai. Benda keramat inilah pinangan pamungkasnya pada Tuk Bayan Tula. Benda yang tak boleh disentuh siapa pun. Benda itu dibungkusnya dengan kain seukuran taplak meja bertulisan hurufhuruf Arab gundul seperti sebaris mantra selayaknya orang menyimpan benda pusaka. Tentu sangat berkhasiat benda itu. Tak tahu dari gua mana Mahar menemukannya. Mungkin dari sebuah pulau terpencil. Mahar pclan-pelan membuka ikatan bungkus. Kami tak boleh gagal kali ini. Tuk dengan sikap congkak masih memalingkan wajah. Seringainya merendahkan sekaligus menantang Mahar. Apa lagi yang kau punya, dukun anak bawang? Begitu mungkin maksudnya. Kemenyan, dupa, tanduk menjangan gunung, uban kucing pohon, kuku lutung putih perawan, buntat kelabang. Dan cecak ekor cabang yang susah payah didapat Mahar dari pertapaan di gua-gua yang dalam dan gelap, dari puasa empat puluh hare, dari tumbal dan kelana belasan tahun seantero alam, tak Satu pun mempan bagi Tuk. Semua menatap lekat gerakan jemari Mahar membuka berlapis-lapis kain menutup bungkusan terakhirnya. Aku, Chung Fa, dan Kalimut berdebar- debar. Terbuka sedikit, dan aku melihat tangkai logam menyembul, lalu tampak bidang seperti kaca. Benda gaib apakah ini? Sungguh aneh. Mahar sekonyongkonyong menyibakkan seluruh bungkus kain menutup seperti pesulap menyingkap kandang harimau. Semuanya terbuka dan aku terperanjat tak kepalang melihat benda keramat itu. Benda itu adalah televisi hitam putih Sanyo portable bekas yang pasti dibeli Mahar di pasar loak di Tanjung Pinang. Chung Fa dan Kalimut terkikik sementara mulutku ternganga, tapi pada saat bersamaan keluarga Dayang Kaw merubung dan terkagum-kagum. Tuk Bayan Tula mendelik. Ia menggeser posisi duduknya untuk menghadapi televisi kecil yang butut itu. Ia jelas ingin tahu. Mahar merespons reaksi itu dengan cepat. Ia serta-merta mengeluarkan dua buah batu baterai Eveready kucing hitam dari sakunya, memasukkannya ke dalam rongga belakang televisi yang tak bertutup lagi, lalu memutar tombol On. Tentu saja televise itu tak dapat menangkap siaran mana pun tapi Tuk Bayang Tula dan keluarga Dayang Kaw, termasuk Maura yang sejak tadi tersipu-sipu malu memandangi Mahar, merangsek maju dan terkesiap melihat jutaan semut berbuih-buih di layar kaca dengan suara seperti sekawanan madu angina diasapi. Mereka kian terpesona waktu Mahar menarik antenna dan memainkannya naik-turun sehingga gemuang lebah madu timbul-tenggelam. Tuk menyentuh-nyentuh layar dengan ragu. Ia seperti ingin tau apa yang terjadi di dalam kotak televisi. Ingin tahu darimana suara dan gambar semut itu berasal. Listrik statis dari layar yang menyengat tangannya membuatnya kian berminat. Ia tersenyum riang. Aku tahu kami telah berhasil mengambil hati Tuk lewat televisi jinjing rongsokan itu. Kami meninggalkan perahu untuk pulang ke rumah Puniai. Dari puncak bukit. kami melihat dukun siluman Tuk Bayan Tula dan sekeluarga Dayang Kaw, simpai terakhir keluarga lanun tulen Selat Malaka, asyik menonton televsi. Acaranya sejuta semut berkelap-kelip. SenyumSiapa yang menabur senyum Dialah yang akan menuai cinta Maryamah Karpov 219 Maryamah Karpov 220


Mozaik 63 Mahar dan Maura MESKI aku tahu Tuk Bayan Tula dan keluarga Dayang Kaw bersedia membantu kami di Batuan bukan semata-mata karena televisi butut itu. Mereka sendiri punya kepentingan lain, tapi kuanggap Mahar telah membuat, perundingan berakhir dengan satu solusi yang elegan. Aku menatap Mahar dan ia tersenyum. Seporti sering kukatakan kepadamu, Kawan, ia selalu tak bisa diramalkan. Dalam perspektif yang khusus, sesungguhnya ia juga adalah seorang genius. Genius persis Lintang. Tiba kembali di rumai Puniai, kami melihat nelayan tua itu tengah menunggui Nai yang telah tidur dua hari dua malam. Wajahnya gembira. Ia seperti baru menemukan putrinya yang telah hilang empat bulan. Nai pun tertidur pulas membayar utang tidur selama empat tahun. Chung Fa mengangkat sauh. Dari kejauhan tampak seorang perempuan berlari-lari keeil menuju dermaga kayu. Baju jubahnya melayang-layang. Aku tahu siapa itu. Dia Maura. Mahar menatapku, tajam dan gugup. “Turunlah," kataku. Mahar gelisah, ia ragu dan ia malu. Perahu perlahan menjauh. "Pasang naik, cepatlah." Mahar seperti berusaha keras melawan dirinya sendiri. Pantai masih dangkal setinggi lutut. “Har, kulihat matamu semalam." Ia hilir mudik, menoleh ke laut, menoleh ke Maura, bergantian. Ia ingin aku mengucapkan lagi kalimat yang membuatnya berani menghampiri Maura. "Cinta, Har, datang sekali saja." Kusemangati terus dia. Ia kian resah. Lelaki dewasa ini, tak pernah mengenal asmara. Tak pernah membuka hatinya untuk siapa pun. Jika ia memang ada hati pada Maura maka perempuan itu akan jadi perempuannya mula-mula. Jika ia jatuh cinta maka Maura akan jadi cinta pertamanya. Perahu kian jauh diterjang riak ombak. “Pasang sepinggang," desakku lagi. Tiba-tiba Mahar mengambil sesuatu dari tasnya dan terjun. Kami bersorak-sorai melihatnya melintas laut setinggi dada menuju dermaga. Ia naik ke darmaga, mendekati Maura dan menyerahkan sepasang tanduk menjangan gunung. Aku memandangi kedua orang itu dari jauh. Sungguh romantis, seorang dukun muda jatuh hati pada seorang putri lanun. Mahar seperti sedang mengucapkan janji akan kembali lagi ke Karimata. Lalu, ia terjun lagi ke laut, merigarungi pantai dangkal menuju perahu. Layar dinaikkan. Sore itu, kami bertolak ke Batuan. ********** Aku memutar kemudi ke arah matahari terbenam. Piring landasan kompas berayun lima belas derajat, sejumlah itu pula aku harus membalik arah haluan agar menemukan posisi Batuan. Delapan ratus mil laut menuju Batuan. Tak kan berhenti siang dan malam. Perahu Tuk dan keluarga Dayang Kaw, karena satu keperluan di Lingga, akan mengambil jalur memutar ke Batuan melalui Singkep. Sore belum usai, bahkan Pulau Karimata masih kelihatan hijau belum biru, artinya belum jauh, tiba-tiba permukaan laut menghitam mengerikan. Aku tahu apa yang terjadi, ini semacam angin puting beliung, tapi terjadi di bawah air karena dahsyatnya pertemuan Laut Jawa dan Laut China Selatan. Pertemuan itu terjadi tepat di Selat Karimata. Dasar laut bcrpusar mengangkat lumpur bawah laut sehingga laut berwarna hitam. Jika pusaran itu naik sedikit saja maka apa pun yang ada di atasnya, jangankan perahu, balikan tongkang pasir, dapat terpelanting tanpa daya lalu jatuh kembali ke permukaan laut menjadi remeh-remah. Karena alasan itu, pada musim-musim tertentu Selat ini dihindari oleh pelaut berpengalaman. Namun, kami bukanlah temasuk dalam pelaut yang berpengalaman itu. Aku mematikan mesin, membiarkan perahu berputar-putar tak tentu arah dan berdoa agar segera terlepas dari pusaran ini. Hampir setengah jam perahu kami meliuk-liuk scperti gasing, lalu sebuah ombak yang besar melemparkan kami ke utara. Perahu terlonjak hebat, tapi terlepas dari pusaran maut itu. Malam menjelang. Rasi-rasi berangsur buram sebab dilindungi awan, lalu gemerlap gemintang terhapus, barat daya pekat diikat gelap. Aku terkejut oleh entakan yang tetap. Kulihat ke buritan. Daun kemudi terantuk-antuk karena perahu bergoyang. Laut yang sejak kemarin tenang pelan-pelan bergolak. Rembulan pucat lalu langit mendadak jatuh, rendah dan kelam. Gelombang mulai menggelinjang. Sekali petir menyambar dan aku gemetar karena dari cahayanya aku melihat gumpalan awan hitam menakutkan mendekati perahu. Bukankah seharusnya tiga hari lagi? Lalu, langit bergemuruh menakutkan. Musim barat, tiba lebih cepat daripada yang kuperkirakan. Mahar menurunkan layar karena dalam sekejap angin berbalik. Angin Maryamah Karpov 221 Maryamah Karpov 222


itu dalam waktu yang amat singkat berubahmenjadi topan yang sekarang justru menolak perahu kami menuju ke timur ke arah kami datang, ke Pulau Karimata. Kalimut menghidupkan mesin, tapi perahu tak dapat bergerak maju karena topan amat kencang apalagi perahu kami sangat linggar karena didesain untuk kecepatan. Perahu kubelokkan ke selatan agar mengikuti irama gelombang. Devisi dari jalur semula itu lebih dari empat puluh lima derajat, maka secara matematis, akibat tindakan itu, kami baru akan mencapai Batuan paling cepat dalam waktu enam hari. Tak tampak pulau apa pun untuk berlindung. Hujan turun, setiap kali petir menjilat laut, aku ngeri melihat gelombang tinggi yang meluap-luap dan pecah menjadi buih berlimpah-limpah. Tak pernah kulihat musim barat mengganas pada tanggal-tanggal mudanya. Situasi amat mencemaskan. Badai mengepung, kami basah kuyup karena hujan yang menghunjam tubuh seperti anak-anak panah. Kami mengalungkan pelampung. Chung Fa yang selalu tersenyum menguap senyumnya, dan mukanya pias ketakutan. Berkali-kali ia bergumam dalam bahasa yang tak kupahami, tapi sering terdengar ia menyebut nama anaknya, Shiet Lu. Aku mematikan mesin dan membiarkan perahu larat dibawa gelombang karena ombak tak bisa lagi dilawan. Kadang kala perahu berputar seperti gasing. Lcpas kendali. Kami berkali-kali harus menimba air yang masuk ke dalam geladak. Kami terancam karam. Keadaan kami amat menyedihkan karena terus-menerus mabuk. Sampai tak ada lagi yang bisa dimuntahkan selain cairan bening yang pahit. Aku tak dapat memperkirakan posisiku karena setiap malam gelap, bintang tak terbaca. Pedomanku hanya kompas dan sama sekali tak dapat kuketahui berada di mana kami dalam jarak antar, Karimata dan Batuan. Akibat terjangan ombak, tiga telebut di haluan belakang patah. Kami membakar jerigen dan menyumbat kubangnya dengan plastic cair. Perahu berada dalam keadaan genting. Aku teringat akan perkataan ibuku bahwa aku tak pernah mengerti bahaya sebelum mengalaminya sendiri. Kalimat itu bergaung-gaung dalam kepalaku. Namun, aku tak mungkin kembali karena aku telah bersumpah untuk menemukan A Ling. Aku berdoa sepanjang malam, dalam gempita gemuruh kilat dan petir, dalam badai yang bersiut-siut mengaduk laut. Aku ingin bertemu dengannya, meski hanya bertemu dengan orang lain yang tahu kisahnya di Batuan. Aku harus bertemu dengan A Ling. Aku tak punya pilihan lain. Senja, pelayaran hari kelima, setelah sepanjang siang dihantam gelombang tiba-tiba laut tenang. Tenang sekali seperti danau. Laut diam, diam membisu. Semula kami heran dengan perubahan drastis ini, tapi tiba-tiba aku sadar. Aku berteriak-teriak agar Mahar, Chung Fa, dan Kalimut mengikatkan diri ke tiang layar. Tak lama kemudian, kami melihat benda hitam yang besar bergulung menderu-deru seperti ribuan helikopter di sisi barat daya. Gelombang yang sangat tinggi menyongsong di depan kami. Kami gemetar ketakutan. Tak ada yang dapat dilakukan selain pasrah. Mahar tafakur memejamkan mata, Chung Fa dan Kalimut menjerit-jerit panik. Seisi laut bergetar dan perahu kami gemeletar. Gelombang raksasa itu kian dekat tapi tiba-tiba kami mendengar deburan yang sangat dasyat. Kami lolos dari maut sebab setengah mil di depan kami gelombang itu pecah. Ekor gelombang yang masih besar menghantam perahu dan membuatnya tepelanting berputar-putar sampai hampir tertelungkup. Debutan air yang besar bersimbah ke atas perahu, kami semua basah kuyup. Hantaman yang keras itu membingkas ikatan tubuh Chung Fa. Ia terjajar, tangga layar merobek bajunya. Aku terbelalak melihat rajah kupu-kupu hitam di lengannya. Terbongkarlah rahasia Chung Fa ke Batuan. Rajah itu sama dengan rajah jenazah yang terdampar di dermaga tempo hari. *********** Enam hari enam malam pelayaran telah meluluhlantahkan kami. Tak ada tandatanda daratan. Perahu berkali-kali akan karam. Malam hari ketujuh aku terkejut mendengar suara keciap. Aku melongok dan lubang palka dan seekor burung camar bertengger di tali utama layer. Kami melonjak girang. Burung adalah pertanda daratan. Kami waswas menunggu halimun lidap. Aku mengeluarkan teropong. Samar di depanku daratan, hitam, seperti terapung-apung. Kulihat peta laut lama kiriman seorang sahabat yang mendapat kopian peta VOC itu dari sebuah perpustakaan sekolah militer di Breda, Belanda. Inilah peta terbaik yang pernah kudapat tentang Selat Malaka dan aku merasa pasti, dalam rentan lima mil laut di depanku, samara dilindungi gelombang besar dan karang centang perenang itu, tak lain gugusan sebelas pulau yang disebut Kepulauan Batuan. Sungguh sempurna pulau ini untuk berlindung atau melarikan diri. Jaga sebagai loncatan untuk menyelundupkan apa pun ke Singapura. Jika laut pasaug, tak ada yang menduga bahaya batu karang tajam yang mengelilinginya. Jika surut, karang-karang itu berubah menjadi semacam benteng. Hanya mereka yang amat berpengalaman dan hafal lika-liku Pantai Batuan yang dapat lolos dari jebakan karang. Mesin dimatikan. Kami mendayung mengitari pulau. Senyap tapi siapa pun dapat merasakan ancaman yang diembuskan pulau itu. Maryamah Karpov 223 Maryamah Karpov 224


Pulau itu lekat mengawasi siapa pun yang mendekat. Pulau itu seakan hidup, seolah berjiwa, karena di sana orang saling bunuh selama berabad-abad. Mendengarkan saran Dayang Kaw, kami tak mendekati Pulau Batuan jika masih gelap. Menunggu fajar, Chung Fa dengan mata basah, menceritakan padaku bahwa A Ling adalah saudaranya. Lalu, aku tahu bahwa A Ling adalah orang Ho Pho, bukan orang Hokian seperti kuduga selama ini. Ternyata hubungan darah A Ling dengan sepupunya, A Kiong, hanya karena salah satu saudara jauhnya menikahi saudara A Kiong. Chung Fa ingin mencari saudara- saudaranya yang berusaha menyeberang ke Selat Singapura, dan mungkin masih ada yang selamat. Ia merahasiakan semuanya sejak mula karena cemas tak kuajak berlayar. Fajar tiba. Kami mendekati pangkalan. Tak ada siapa-siapa, tapi dari bayangan lampu minyak di rumah-rumah panggung di pesisir kami tahu di dalamnya orang-orang berjingkat-jingkat mengintai. Perahu merapat ke pangkalan dan aku terkejut melihat perahy Dayang Kaw telah pula sandar. Mereka pasti berlayar ke Teluk Kuantan, berlindung dari badai dengan melipir pulau demi pulau. Dari Kuantan mereka dengan mudah turun ke Batuan tanpa melawan angin barat. Pengalaman memang mengalahkan seealanya. Terang tanah, kami turun dari perahu. Beberapa lelaki menyongsong kami. Wajah mereka sangar, matanya liar. Tato penjara di sekujur tubuh. Merekalah lanun Selat Malaka yang terkenal kejam itu. Pertama hanya belasan orang, lalu bergabung yang lain, tak kurang dan tiga puluh begundal. Kami seperti sekeluarga pelanduk dalam kepungan kawanan dubuk, serigala. Tak ada yang bicara, tapi seringai mereka mengancam. Bromocorah mi jelas orangorang terbuang dari berbagai daerah. Hal itu dapat dikenali dari beragam senjata mereka. Beberapa dan mereka menyarungkan mandau, berarti orang Kalimantan. Yang lain bersenjata sundang, terampang, trisula, golok, tombak, celurit, rencong, gobang, badik, parang, dan senapan rakitan. Mereka berkumpul karena satu kesamaan: serakah dan haus darah. Mereka menegakkan hukun di gugus Pulau Batuan berdasarkan senjata paling tajam, nyali, terbesar, dan ilmu hitam. Meski sama-sama lanun, bertemu dengan orang-orang ini amat berbeda kesannya dengan bertemu Keluarga Dayang Kaw. Mereka merangsek dan bermaksud menyerang kami jika tak melihat Tuk Bayan Tula dan Dayang Kaw sekeluarga turun dari perahu. Dari pintu salah satu rumah panggung, keluar seorang lelaki setengah baya berambut putih dan berwajah dingin. Ia berjalan pelan. Caranya berjalan, tatap matanya, gerak-geriknyu jelas ia tak takut pada apa pun dan nyata ia seorang pembunuh. Dialah Tambok. Seorang pria dengan rencong di pinggangnya berbisik pada Tambok. Mereka berbicara: Tambok, Tuk, Dayang Kaw, dan lelaki rencong itu. Ternyata perundingan sesama kaum lanun tak makan banyak waktu. Tuk dan keluarga Dayang Kaw kembali ke perahu, angkat sauh, berlalu. Lelaki pembisik tadi mendekati kami. "Serahkan apa yang telah kalian siapkan, cari apa yang ingin kalian cari, jangan lebih dari tiga hari." Hal ini telah kuantisipasi. Aku menyerahkan segepok uang hasil tabungan bersusah payah dari mendulang timah dan berae. Mereka masih belum puas. Mereka menyita beras, gula, bahkan jam tanganku. Dari kejauhan kulihat Dayang Kaw berdiri di haluan. Ia menunjukkan tiga jarinya. Aku mafhum maksudnya agar kami tak melanggar perjanjian tiga hari dengan Tambok. Karena jika melanggar mufakat, maut akibnya. Perahunya menjauh. Aku ingin meneriakkan terima kasih, tapi pasti ia tak mendengar. Maryamah Karpov 225 Maryamah Karpov 226


Mozaik 64 Kisah Sebelas Pulau KAMI bergegas ke perahu memulai pencarian. Sebelas pulau kecil dalam gugus itu jaraknya berjauhan dan akan makin sulit ditempuh pada musim barat ini. Dua perahu anak buah Tambok lekat mengawasi kami. Lima jam diperlukan untuk mencapai pulau, pertama. Merapat disana aku menemukan kenyataan yang mengejutkan tentang para pelintas batas ini. Jumlahnya ratusan dari berbagai tempat sebagian besar orang Melayu dan orang Tionghoa dari Teluk Kuantan dan Singkawang. Banyak yang telah bertahun-tahun menunggu kesempatan untuk menyeberangi Selat Singapura. Mereka terjebak di Kepulauan Batuan dalam kuasa Tambok. Mereka dijadikan manusia dagangan dan dipaksa bekerja menjemur ikan, menjalin pukat, atau membuat perahu. Mereka tak dapat melarikan diri karena Batuan tak ubahnya Nusa Kambangan yang dikurung oleh samudra ganas, kawanan ikan hiu, dan karang-karang tajam. Selain itu, setiap pulau dijaga ketat oleh puluhan anak buah Tambok. Keadaan mereka sangat menyedihkan, tak ubahnya budak. Mereka tinggal di bedeng-bedeng panjang yang dipagari kawat berduri. Kami masuk ke bedeng untuk bertanya. Chung Fa memperlihatkan rajah di lengannya untuk mengetahui apakah ada di antara mereka yang pernah melihat rajah itu, semuanya menggeleng. Aku mempelihatkan pada setiap orang foto A ling. Keadaan foto ini tidak banyak membantuku karena hanya wajah A Ling waktu kecil, hitam putih, dan buram. Tak seorang pun mengenalinya. Tanpa istirahat, kami beranjak ke pulau kedua. Makin dalam ke barat daya. Sampai di sana hampir tengah malam. Kami bertanya dengan teliti pada setiap orang. Kembali aku kecewa. Tak seorang pun mengenal A Ling dan rajah Chung Fa. Malam larut. Pencarian hari pertama hanya dapat menggapai dua pulau, dan sia-sia. Hari berikutnya, dini hari benar, kami berangkat ke pulau ketiga. Pulau ini jauh dan kami kembali dihantam badai yang menyebabkan tiang layar hampir patah. Keadaan penghuni pulau ini lebih parah dari dua pulau sebelumnya. Sebagian besar penghuninya perempuan Khek Singkawang dan Anambas. Anak buah Tambok memberi mereka nasi di atas tampah, mereka menyerbunya seperti hewan. Kami pun ikut makan dari tampah itu karena beras kami telah disita Tambok. Di pulau ini aku mengetahui kuatnya sindikat perompak Selat Malaka. Anak buah Tambok ternyata berjumlah ratusan. Seluruh gugus Pulau Batuan berada dalam kuasa mereka. Pulau-pulau itu pada satu masa lalu pernah dikuasai keluarga Dayang Kaw. Tak ada kesan-kesan heroik di pulau-pulau ini seperti ditinggalkan oleh Dayang Kaw atau Hang Tuah, yang ada hanya penindasan, tempat menyimpan harta rompakan, dan manusia-manusia yang diperdagangkan. Di pulau ketiga juga tak ada yang mengenal wajah dari foto yang kuperlihatkan, tak juga rajah kupu-kupu. Namun, ada seorang pria yang bercerita tentang dua perahu yang mencoba lari dari Batuan untuk menyeberangi Selat Singapura beberapa bulan lalu. Katanya perahu itu karam, semua penumpangnya tewas. Mereka tak tahu kalau sebenarnya perahu itu diserang Tambok dan sengaja dikaramkan. Berarti cerita Tuk Bayan Tula tak dusta dan semuanya kian jelas bagiku. Sangat besar kemungkinan kcluarga kupu-kupu hitam termasuk A Ling berada dalam dua perahu itu. Kenyataan bahwa kemungkinan A Ling telah tewas membuatku bergetar. Kami ingin mengorek keterangan lebih lanjut dari orang itu, tapi ia takut berpanjang cerita. Sampai ke pulau kelima kami masih tak menemukan A Ling. Begitu banyak perempuan Tionghoa muda digugusan Pulau Batuan, tapi tak ada A Ling dan tak seorang pun mengenalnya. Aku mulai dihinggapi perasaan putus asa. Kami berangkat dengan tangan hampa ke perahu berikutnya. Disana kami mendapat informasi mengejutkan bahwa seseorang mungkin mengenal A Ling. Tapi, orang itu berada di pulau sebelah pulau ini. Kami segera berangkat. Seorang lelaki tua memberi tahu bahwa memang ada wanita benama A Ling di bedengnya. Jantungku berdegup kencang. Aku berlari-lari kecil menuju bedeng. Tak dapat kusambarkan perasaanku. Lelah tak kurasakan lagi karena aku yakin kali ini akan menemukan A Ling. Aku memang menemukannya, tapi ia bukan A Ling yang kucari. Empat pulau kami jelajahi sampai larut malam, hasilnya nihil. Tak nungkin lagi melanjutkan perjalanan. Dua hari hilang percuma. Tinggal satu hari tersisa. A Ling masih tak ketahuan rimbanya. Maryamah Karpov 227 Maryamah Karpov 228


Mozaik 65 Pulau Kuburan MESKI tubuhku remuk redam, tak dapat kupejamkan mata. Malam ini langit terang dan aku memandangi bintang gemintang. Tinggal sehari lagi kesempatan yang diberikah Tambok. Dalam sehari itu tak mungkin aku dapat menjelajahi seluruh sisa Pulau Batuan. Angin barat makin kencang mengadang perahu. Sepanjang malam aku berdoaagar dipertemukan dengan A Ling. Aku ingin mendengar berita tentangnya, berita buruk sekalipun. Aku telah mencarinya selama belasan tahun, rasanya aku telah mencarinya seumur hidupku. Aku telah mencarinya sampai ke Selatan Prancis, sampai ke Taiga Siberia di pelosok Rusia sana, sampai ke pedalaman Zaire di tengah-tengah Benua Afrika. Aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku harus berjumpa denganya. Aku merindukannya sampai aku tak dapat bernafas. Jika ia mati di Selat Singapura, paling tidak di Batuan aku ingin berjumpa dengan orang yang tahu persis kejadian itu, biar aku tenang pulang. Berbulan-bulan aku membuat perahu dengan tanganku sendiri. Berminggu aku terombang-ambing samudra yang ganas berurusan dengan orang-orang yang kasar, bertaruh nyawa demi pencarian ini, tak seberkas pun titik terang. Mungkinkah aku telah menjumpainya di antara orang-orang yang telah kutemui di pulau-pulau ini, tapi ia tak lagi mengenaliku, atau aku tak lagi mengenalinya? Karena kali terakhir melihatnya, waktu ia duduk di sampingku di atas komidi putar, belasan tahun lalu, ketika kami masih kelas dua SMP. Esoknya kami segera berlayar ke sisa-sisa pulau yang jaraknya amat jauh. Perahu terseok-seok melawan badai. Layar telah robek, tiang layar miring, dan linggi perahu bergeser karena desakan ombak. Menjelang sore kami baru sampai. Bersusah payah menggapai pulau asing ini hanya untuk mendapati pulau yang kosong. Malam itu anak buah Tambok mengingatkan bahwa besok pagi kami harus pergi dan mengancam kami agar jangan buka mulut pada aparat soal aktivitas mereka di pulau-pulau Batuan. Mereka juga mengatakan percuma mencari kedua pulau terakhir karena tak ada apa-apa di sana selain orang-orang sakit dan kuburan. Malam itu diam-diam kami berunding di dalam bedeng. Chung Fad an Kalimut takut pada ancaman anak buah Tambok, tapi aku dan Mahar berkeras tak mau pulang. Aku ingin menyelesaikan apa yang telah kumulai. “Kita pulang saja, berbahaya” "Tinggal dua pulau lagi, Fa, tinggal dua pulau lagi!" "Bagaimana kalau tetap nihil?" "Kita menyeberang ke Singapura!" Mahar menaikkan sarungnya sampai hidung. Aku paham maksudnya. Kami menyelinap keluar bedeng. Diam-diam kami menaikkan layar untuk berangkat ke pulau berikutnya. Dini hari perahu merapat. Kami melintasi padang ilalang yang diselang-seling gundukan tanah. Itulah kuburan dengan tanda dahan-dahan pohon dan batubatu yang digeletakkan sekenanya. Tanda nyawa tak berharaga di Batuan. Di balik padang kuburan itu kami melihat bedeng yang reot. Gelap. Kami mengetuk pintu bedeng. Terdengar seseorang bangun di dalam dan ia menyalakan lampu minyak. Ia adalah seorang perempuan Tionghoa tua yang renta. Seluruh rambutnya putih. Ia mengatakan bahwa ia merawat orang- orang sakit di bedeng itu. Ia sendiri penduduk asli pulau itu. Kami memberitahukan maksud kedatangan kami. Aku memperlihatkan foto A Ling. Ia tak mengenalnya. Lalu, kami tanyakan tentang rajah kupu-kupu hitam. Jawabannya mengejutkan. Katanya, ia pernah melihat paling tidak ada lima orang memiliki rajah seperti itu di lengannya. Tiga lelaki dan dua perempuan. Ia berkisah bahwa orang-orang berajah kupu-kupu itu menyeberang ke Singapura, tapi perahu mereka karam. Dua jenazah lelaki bertanda seperti itu dan belasan jenazah lainnya dikuburkan di pulai ini. Nasib ketiga orang lainnya tak diketahui. Chung Fa tersedu sedan. Ibu tua itu lain mempersilakan kami melihat orang-orang yang ada dalam bedeng, kalau ada yang kami kenal. Aku menerima lampu minyak darinya. Pelan-pelan aku menghampiri mereka satu per satu. Orang-orang sakit ini tidur di atas dipan yang saling berjauhan. Mereka berwajah Melayu dan Tionghoa. Tak satu pun kukenali. Namun, di dipan paling ujung aku terkejut melihat seseorang yang tidur membelakangiku. Tubuhnya tinggi dan kurus. Ia beipakaian panjang berlapis- lapis. Aku terkesiap melihat tangannya yang terjuntai di sisi dipan. Firasat yang aneh menyelinap dalam hatiku. Kudekatkan lampu minyak untuk melihat tangan itu dan jantungku berdetak. Rasanya aku mengenal jari-jemarinya. Aku berusaha meyakinkan diri. Dulu pernah kukenal paras-paras kuku itu. Tak mungkin kulupa. Siapakah perempuan ini? Mungkinkah ini A Ling? Apakah aku telah menemukannya? Aku mengamatinya baik-baik. Seribu kata ingin meledak, tapi mulutku kelu. Tanganku ingin menggapainya, tapi sendi-sendiku mati. Ia terbangun, berbalik. dan aku terempas di atas lututku. Ia terpana menatapku, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berusaha bangkit, tapi terlalu lemah. Air mata mengumpul di pelupuknya. Aku bergetar, seluruh tubuhku bergetar waktu ia menyebut namaku. “Ikal…..,” katanya “Ikal…..” Maryamah Karpov 229 Maryamah Karpov 230


Mozaik 66 P u l a n g DINI hari kelam, bulan pucat. Kami bergegas meninggalkan Pulau Kuburan karena kami tahu perahu-perahu Tambok pasti sedang mengejar. Karena masih sakit, A Ling harus dibopong melintasi padang ilalang. Kami berlari-lari kecil. Mendekati pangkalan terdengar suara mesin motor tempel menderu-deru. Kami mengucapkan perpisahan yang menyedihkan dengan Kalimut. Ia berkeras ingin menyeberang ke Singapura. Berkali-kali aku membujuknya agar ia ikut pulang karena Batuan ternyata jauh lebih berbnhaya daripada yang pernah kubayangkan. Kalimut trlah berketetapan hati. "Pulanglah kalian," katanya. "Kehormatan naik perahu denganmu, Kapitan,” ucapnya lirih sambil memelukku dan Chung Fa. Pipi lelaki perkasa itu basah. "Kehormatan jadi kawanmu, Kalimut." Ia mendorong perahu. “Doakan aku, Kapitan, doakan aku.” Perahu menjauh. Kalimut melambai-lambai. "Selamat jalan, Kapitan!” Saniar suaranya masih terdengar di antara deru kencang angin. Sementara perahu-perahu anak buah Tambok makin dekat. Lalu kudengar letupan-letupan senapan. Mereka menembaki perahu kami dengan senapan rakitan. Mahar menaikkan layar dan aku memutar haluan. Tujuan kami adalah timur dan angin barat serta-merta mendorong kami. Perahu-perahu lanun itu mengambil jalur memotong untuk mengepung kami. Kami diuntungkan oleh perahu yang lebih cepat karena desain lintang dulu. Perahu Tambok yang melaju di sisi kanan mulai tertinggal. Makin lama jaraknya makin jauh. Mahar mengambil parachute signl. Kembang api semboyan bahaya itu ditembakkan oleh Mahar ke perahu-perahu Tambok. Dahsyat seperti tembakan roket menembus layar-layar mereka. “Itu untuk Nai! Rasakan!" teriak Mahar. Pelayaran pulang berlangsung dengan amat mudah. Perahu didorong angin. Kami bahkan tak perlu menghidupkan mesin. A Ling tertidur di lantai geledak. Aku lekat memandangnya. Ia telah menjadi perempuan dewasa. Wajahnya tak banyak berubah. Betapa mengagumkan perempuan Ho Pho ini. Ia menuruni semangat leluhurnya sebagai perantau yang gagah berani. Jauh sebelum masa perantau-perantau Tiongkok lainnya. Mereka pelarian dinasti Han Orang-orang Ho Pho telah merambah Sclat Malaka sejak beratus-ratus tahun lampau. Senja hari berikutnya kami duduk bersandar di tiang layar. Kami saling menceritakan kisah nasib. Aku mengeluarkan buku yang dulu dihadiahkannya padaku, novel Seandainya Mereka Bisa Bicara. Ia tersenyum. "Apakah kau telah menemukan Edensor Ikal?" Aku diam saja. Aku juga tidak menceritakan bahwa aku telah mencarinya sampai ke Siberia, sampai ke Afrika. A Ling berkisah tentang kerasnya Batuan dan berkali-kali ia gagal menyeberangi Selat Singapura. "Tak ada harapan di sana, tapi aku tahu," ucapnya pelan. "Aku tahu, kita pasti bertemu lagi." Aku membisu. Kami memandangi laut dalam senyap. Bergabunglah seribu pujangga melantunkan rima-rima cinta. Bersatulah surya dan awan- gemawan melukis megahnya angkasa. Bersekutulah angin empat musim mengarak halimun Selat Malaka, tak satu pun, tak satu pun dapat menggambarkan indahnya perasaanku. *********** Hari Keempat pelayaran, menjelang sore perahu Mimpi-mimpi Lintang memasuki leher muara Sungai Linggang. Kami terkejut mendengar orang-orang berteriak dan bantaran muara. "Kapitan! Kapitan!" seni mereka bersahut-sahutan. "Kapitan pulang!” Rupanya nelayan-nelayan yang kami temui di karang lampu telah mengabarkan bahwa kami pulang dari Batuan dan membawa anak gadis Tionghoa itu. Dermaga ramai seperti kami berangkat dulu. Perahu merapat. Lintang berseru sambil melambai-lambaikan tangannya. "Galilei, Admiral Hook! Selamat datang!" Rahasia Kuberi tahu satu rahasia padamu, Kawan Buah paling manis dari berani bermimpi Adalah kejadian-kejadian menakjubkan Dalam perjalanan menggapainya Maryamah Karpov 231 Maryamah Karpov 232


Mozaik 67 K a m b u h BERITA BURUK Sang maestro hok lo pan, Lao Mi, didapati anaknya tak bangun-bangun dari kursi goyang. Ia telah dingin. Di kursi goyang rotan tua itulah, Lao Mi mengembuskan napasnya yang terakhir. Seisi kampung tersentak. Khek yang paling sengak sekaligus paling disayangi itu meninggal tanpa pernah terdengar menderita sakit. Majelis masjid berunding cepat dan memutuskan satu tindakan yang menggambarkan betapa orang Melayu memang sering menyebalkan, tapi mereka berjiwa sangat toleran. Kematian Lao Mi dikabarkan bertalu-talu melalui menara masjid seantro kampong di Munawir Berita Buruk. Suasana begitu menyedihkan karena Munawir yang telah sepuluh tahun terakhir mengumumkan kematian, tak dapat menahan dirinya. Tak pernah ia luruh seperti ini. Ia mengabarkan wafatnya Lao Mi, seteru abadinya karena mereka senang sekali bertengkar sambil tersedu sedan. Orang kampung melepaskan apa pun yang sedang dikerjakan, menunda semua rencana, dan berbondong-bondong ke rumah Lao Mi yang sederhana. Tak pernah aku melihat orang melayat sebanyak itu. Ratusan warga Tionghoa, Melayu, Sawang dan orang-orang bersarung bermuram durja dan berlinangan air mata melepas kepergian Lao Mi. Pun aku, sukar menahan air mataku. Betapa menyayat hati. Tak ada lagi pembuat kue hok lo pan legendaris itu. Ialah yang terakhir. Anak-anaknya tak tertarik menjual kue loyang kuno ciptaan orang Khek itu. Mereka lebih suka berdagang kain atau membuka toko sepeda. Bersama dengan terkuburnya Lao Mi, terkubur pula resep pusaka hok lo pan sepanjang empat generasi, tak kurang dari dua ratus Jima puluh tahun. ********* Ekspedisi ke Batuan telah menjadi semacam waktu yang terpinjam dari hidupku. Setelah kembali pulang, aku harus membayar semuanya, termasuk penyakit gigi yang terlupakan lantaran seluruh perhatianku disita pelayaran itu. Kelebihan gigi paling belakang sekarang tumbuh jadi sebatang gigi dewasa nan gagah perwira. Kelebihan itu tak hanya melukai gusi, tapi telah pula mengundang infeksi. Sungguh menyiksa sepanjang malam. Usai magrip, anjing kampung melolong bersahut-sahutanseperti melihat drakula, sekonyong-konyong Ketua Karmun terkengkeng di ambang pintu. Ia kembali mengimbau, membujuk, mengajak, menggertak, sampai mengancam, agar aku mengunjungi klinik Dokter Diaz demi mengakhiri masa jahiliah perdukunan gigi di kampung. Tapi, seperti dulu, aku tak pernah dapat ditaklukkan. Trauma rumah sakit yang kualami waktu aku dikhitan dulu melekat padaku laksana tokek di pohon pinang. Ia mendekatiku dengan gaya menghiba. "Adinda Ikal yang bijak," rayunya lembut sekah. "Akhirnya ...." "Klinik kita itu terpaksa ditutup sebab tak ada pasien yang mau datang. Pekerjaan Dokter Diaz hanya menyuluh dan berkebun. Menyuluh pun tak ada yang mau mendengarnya. Sayang seribu sayang. Dokter cantik yang cerdas itu harus tersia-siakan nasibnya. Betapa tak adilnya dunia ini. Hancur hatiku dibuatnya. Tidakkah kaulihat klinik gigi itu sekarang? Oh, merana, Ikal, sungguh merana!" Mata Ketua Karmun berkaca-kaca. Nada bicaranya mirip aktor telenovela Meksiko. Tak biasanya, gaya duduknya sangat santun, persis wanita memakai rok mini tapi berusaha menjaga aurat sekuat tenaga. Aku ingin bersimpati pada klinik itu, tapi apa dayaku. "Terbayangkankah olehmu, Boi?!" teatrikal. "Sewindu aku berjuang agar kampung ini dapat dokter," dramatis. "Sekarang, akan ku kemanakan mukaku ini? Ku kemannkan?!" "Sabarlah Ketua Karmun, seatu hari nanti pasti akan ada pasien, tapi pasien itu bukan aku." “Apa katamu?! Tak berperasaan! Zamm Hang Tuah dulu lelaki sepertimu itu dikebiri! Dijadikan orang kasim! Sungguh tak berperasaan!” ********* Dan, sekali lagi. Bukan Ketua Karmun namanya jika menyerah begitu saja. Ia berkeras memperjuangkan apa yang dianggapnya benar. Tiga hari setelah aku dihardiknva tak berperasaan, ia datang lagi. Aku sempat pangling. Ketua berbaju rompi wol kotak-kotak dan melilitkan scarf di leher. Sungguh ganteng. Ia jelas telah mandi dengan bersih dan memakai Tancho hijau. Bau karbit yang selalu tercium darinya—selain jadi kepala kampung. Ketua buka usaha las karbit—sirna. Ia tampak amat terpelajar. Dan astaga, dia, yang matanya setahuku baik-baik saja. berkacamata! Kacamata bening bulat yang sangat intelek model Habibie. Rupanya kali ini Ketua tampil selaku ilmuwan. Maryamah Karpov 233 Maryamah Karpov 234


Sejak masuk tadi. Ketua Karmun telah berbeda. Ketukannya di pintu halus sekali. Harus dibukakan baru ia masuk. Biasanya diputarnya sendiri gagang pintu, lalu menghambur tergesa-gesa. Sebagaimana orang terpelajar umumnya, langkahnya pelan dan banyak berdeham. Ketua duduk dengan seperti orang terpelajar pada umumnya acuh tak acuh. Aku lewat dibelakangnya untuk menyeduh kopi, sempat kulirik ia dari belakang, lewat kacamatanya tak tampak pendar apa pun. Berarti yang dipakai Knua adalah kacamata netral saja. Ketua telah dihinggapi sakit gila nomor tiga puluh delapan: membiarkan diri ditipu kacamata. Ketua berlongkat dan menenteng tas kulit cokelat bulukan seperti sering dipakai juru pembukuan Maskapai Timah. Ia menjejer empat buah pulpen yang terkesan mahal di atas meja. Aku tahu, tak satu pun jalan tintanya sebab pulpenpulpen itu adalah hadiah santiaji P4 dari gubernur—dan sangat dibanggakan Ketua—bertahun silam. Dari dalam tasnya ia mengeluarkan buku Himpunan Pengetahuan Umum. Pasti punya anak si Mahdar yang duduk di kelas dua SMP. Lalu tanpa banyak cincong, Ketua mengeluarkan buku tebal lainnya. Setiap mengeluarkan buku tebal, ia mengangkat alisnya. Seperti ingin mengatakan padaku: ah yang satu ini juga telah habis kubaca. Ia tersenyum sendiri, mengelus sampul buku lain. "Hmm, buku yang menarik, tapi ada beberapa teori yang kurasa harus diperiksa lagi." Tak kurang dari tujuh buku tebal ditumpuk Ketua di atas meja. Kulirik judul-judul buku itu. Ada buku tentang tata cara memerah sapi, buku kemajuau keluarga berencana di Kabupaten Belitong tak tahu tahun kapan, buku risalah shalat lengkap, buku manual pemeliharaan vespa 70 yang juga tak tahu dipulung Ketua dari mana, dan buku wajibnya selain Al-Qur’an, yakni buku Tiga Serampai Tata Usaha dan Pengendalian Kantor karya Hartono Muntasis, B.Sc. Waktu bicara, Ketua juga terdengar aneh. Kata-katanya asing dan persis kelakuan orang pintar, satu suku kata di belakang dilenguhkan. misalnya: sistmiiiiik. Lima huruf i berdcret itu diayun dengan cara naik sedikit diawal, melengkung ke hawah di bagian tengah, dan naik lagi di ujung. Sungguh mengesankan. "Nah, Ikal, tentu engkau kenal Archimedes, Galileo Galilei. Columbus, Marie Curie. Faraday; dan Gandhi, serta Rusulullah Muhammad, bukan?” Dari caranya menyebut nama-nama besar tadi, jelas Ketua baru tadi sore mengetahuinya lewat buku Himpunan Pengetahuan Umum anaknya itu. "Mereka adalah para pelopor! Dan para pelopor hidup seperti martir, mereka berkorban demi kemaslahatan umat." Ia memandangku remeh, tapi penuh nuansa wawasan luas dari balik kacamata palsunya. “Archimedes, Boi, ia dituduh gila, lalu dipenggal kepalanya oleh kopral balok satu Romawi. Galileo dipaksa membaca tujuh mazmur pertobatan lantaran menentang bapak tua Anstoteles. Muhammad dilempari batu. Colum- bus terbirit-birit dipanah orang Indian, Mary Currie megap-megap kena radiasi, Faraday senewen keracunan merkuri. Gandhi ke penjara seperti ke jamban saja!" Semangat Ketua Karmun berapi-api. “Namun, merekalah para pemburu!Merekalah pahlawan!Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil risiko untuk mencoba hal-hal yang baru!” Hebat betul kata-kata mutiara Ketua. "Kamu bisa seperti mereka, Kal! Jika kau ke klinik gigi itu, kau akan jadi pelopor pengobatan modern di kampung ini, kau bisa jadi pahlawan!" Pahlawan? Archimedes pahlawan fisika, Galileo pahlawan astronomi, Marie Curie pahlawan radiasi, Candhi pahlawan hak asasi, dan aku pahlawan gust! Terima kasih .... Sesungguhnya aku terkesan dengan ceramah Ketua kali ini. Ia pun menangkap sinyal positif dariku, wajahnya cerah. "Bayangkan, Boi, apa yang terjadi jika tak ada Faraday, jika tak ada Muhammad Sang Penerang, kita akan hidup dalam kegelapan. Bagaimana? Akankah kau ke klinik itu?" Aku menggeleng sambil meringis menahan sakit gigi. Ketua berdiri tegak, lalu membanting kacamata kodiannya. Ia dongkol bukan buatan. Dari Habibie ia langsung berubah jadi kelasi geladak kapal. "Archimedes, Gandhi, Faraday harus menyabung nyawa untuk jadi pahlawan! Sementara kau! Bisa jadi pahlawan hanya dengan membuka tekak busukmu itu! Kau dan Tancap, cocoklah dibual sekandang, sekali tiga uang!" Maryamah Karpov 235 Maryamah Karpov 236


Mozaik 68 Sama dengan Hukum Menambah Istri BERITA Ketua Karmun sedang memaksaku agar ke klinik gigi menyebar. Telinga orang-orang Ho Pho berdiri. “Ikal dating lagi, ada taruhan baru!” bisik-bisik sesame mereka. Kampung tenang-tenang menghanyutkan dan keadaan itu membuat kelompok etnik yang unit itu bosan. Bagi Ho Pho, hidup tanpa taruhan mirip sepeda tanpa kliningan dan segeralah aku jadi favorit mereka sebab segala hal tentangku, menurut mereka, selalu bisa dipertaruhkan. Suatu ketika secara dramatis seorang Ho Pho tua pernah berkisah didepan majelis bahwa, konon dahulu kala tetua paling dihormati suku mereka pernah bermimpi bahwa suatu hari nanti, ke atas muka bumi akan dilahirkan seorang lelaki istimewa yang akan selalu membuat orang Ho Pho bahagia karena lelaki itu akan selalu membuat orang Ho Pho bertaruh Pak tua itu haqqul yakin lelaki dimaksud adalah aku. Merebaklah taruhan-taruhan aneh di pasar ikan, dan sibuk tak terkiralah Syamsiar Bond sang administrator taruhan. Dua buku register besarnya sudah habis untuk taruhan masa yang lalu. Dengan bangga, ia memamerkan buku register yang baru dibelinya dengan lembar-lembar berkolom tujuh berjudul masing-masing: nama petaruh, bertaruh melawan siapa, bentuk taruhan, tanda tangan tanda mufakat bertanggal (tak boleh sekadar paraf), nama para saksi, dan tanda tangan saksi bertanggal, juga tak boleh hama paraf. Syamsiar menegakkan aturan yang ketat sebab tak jarang, terutama orang Melayu berusaha mangkir dari kewajibannya jika kalah. Bukan karena mereka lupa seperti sering terjadi pada Mahmuddin Pelupa, melainkan karena licik. Sementara Syamsiar cukup bahagia dengan tiga keadaan: taruhan makin meramaikan Warung Kopi Usah Kau Kenang Lagi miliknya, ongkos pendaftaran lima ratus perak per peserta, dan komisi dua persen dari pemenang taruhan uang. Beragam taruhan digelar. Sempat terjadi pertengkaran kecil gara-gara Mahmuddin Pelupa memaksa bertaruh melawan Mustajab Charle, Martin Smith. “Taruhanmu waktu itu pun, belum Pak Cik bayar, sekarang mau bertaruh lagi? Tak sudi awak!” Semua orang tak kan lupa mufakat mereka tempo hari bahwa jika aku berhasil membuat perahu, Mahmuddin berjanji akan membayari kopi Mustajad selama seminggu. Mahmuddin, dengan wajah anak ingusan tanpa dosa, menyalak. "Jab aku ini memang miskin, tapi perlu kautahu ya, aku ini wali amanah. Mana pernah aku cedera janji. Periksa lagi, Pasti bukan aku yang bertaruh begitu rupa denganmu!" Mustajab serta-merta meraih buku register lama Syamsiar. "Lihat ini, terang betul tanda tangan Pak Cik." Mahmuddin melongokkan mukanya ke kolom tanda tangan. Dengan syahdu ia menggelenggelengkan kepalanya, lantas menatap tajam pada Syamsiar. "Siar, kuingatkan padamu, pemalsuan tanda tangan sama hukumnya seperti menambah istri tanpa izin istri tua. Keduanya termasuk delik pidana! Tak kurang dan lima tahun kurungan ganjarannya!" “Manalah masuk akal Pak Cik ni?Pak Cik sendiri yang teken di sini.” Syamsiar tak sangsi. “Iya, itu pasti tekanan Pak Cik, aku kenal betul.” Nur Gundala Putra Petir menyambut. Ia jengkel benar karena waktu bertaruh apakah aku bisa mengangkat papan lambung perahu lanun dari dasar Sungai Linggang dulu, Mahmuddin kalah tapi menolak menyerahkan sepedanya pada Nur. Mahmuddin berkeras bahwa ia tak pernah bertaruh melawan Nur. Mahmuddin Pelupa kini tekepung, tapi ia kukuh tak mengaku. Ia malah menuduh Syamsiar Bond, Mustajab Charles Martin Smith, dan Nur Gundala Putra Petir telah bersekongkol melawan orang miskin. Masalah terbesar pada Mahmuddin adalah ia sama sekali menolak mengakui dan menerima, bahwa dirinya pelupa. Baginya, orang lainlah yang selalu lupa. Kawan, ini bentuk sakit gila nomor sembilan. Akibat kejadian itu Syamsiar menambahkan dua kolom pada bukti registernya yaitu kolom nama para saksi, dan kolom tanda tangan saksi bertanggal. Hal ini meyakinkan Munawir Berita Buruk untuk berani bertaruh melawan Mahmuddin. Sejak kematian Lao Mi, Munawir kehilangan selera mengabarkan orang wafat. Mahmuddin menantangnya benaruh: jika aku berani ke klinik gigi Dokter Diaz, ia siap menggantikan tugas Munawir selama sebulan. Jika aku tak berani, Munawir harus memberinya uang. Munawir yang memang ingin cuti dulu, menangkap tantangan itu. Namun, ia menuntut paling tidak empat saksi menandatangani buku register. Mahmuddin dipersilakan memilih saksinya sendiri sebab ia sudah tak percaya pada Syamsiar Bond Mustajab Charles Martin Smith, dan Nur Gundah Putra Petir. Orang-orang itu dianggapnya khianat. Saksi-saksi piilihannya adalah Rustam Simpan Pinjam Muas Petang 30, Satam Minyak, dan Mursyidin 363. Tak cukup sampai di situ , Maryamah Karpov 237 Maryamah Karpov 238


Munawir memanggil Karim Kodak untuk memotret Mahmuddin dan saksi- saksinya sambil mengangkat buku register, untuk bukti nyata kelak jika Mahmuddin bekelit. Ketika dipotret, Mahmuddin tersenyum lebar. Mozaik 69 Tertawa Enam Tahun MALAM itu Ketua Karmun tak datang. Aneh. Seseorang yang tak diinginkan tapi selalu datang, seseorang yang selalu ditampik tapi terus hadir, lambat laun menjadi seseorang yang diharapkan, dirindukan boleh jadi. Beginilah tenaga dahsyat kebiasaan. Kebiasaan bak hujan, perlahan tapi menundukkan. Mungkin Ketua Karmun telah menyerah hamper setahun membujuknya agar ke klinik gigi Dokter Diaz, dan aku tetap menolak. Mungkin ia muak denganku dan berusaha mencari pasien lain. Tapi, malam ini aku kedatangan tamu istimewa : A Ngong. Ia menyandarkan sepedanya di tangga rumah panggung kami dan menaiki tangga sambil melirik kiri-kanan. Lelaki Ho Pho itu tak ubahnya maling. Setelah yakin tak ada yang melihatnya, ia berjingkat-jingkat ke dalam rumah. Aku terpana melihat A Ngong. Sungguh menyedihkan keadaannya. Jalannya terpincang-pincang, bahunya bengkak. Di lengan, leher, dan wajahnya centang perenang goresan gulma lais yang tajam. Itu akibat ia diuber paling tidak enam ekor buaya betina muara karena mendekati sarang mereka. Semua itu harus ia tanggung lantaran kalah bertaruh dengan A Tong soal apakah aku dapat membawa A Ling pulang dari Batuan. A Ngong memperlihatkan alisnya yang belum lagi tumbuh rata karena kalah bertaruh soal papan lambung perahu di dasar Sungai Linggang dulu. Lantas A Ngong mengisahkan kesusahannya memakai helm siang dan malam selama empat hari, walaupun sedang mandi atau tidur dengan istrinya. Ia terpaksa menelan tiga butir bola pingpong waktu, lagi-lagi kalah, bertaruh dengan A Tong soal aku mampu membuat perahu. Gara-gara itu ia menderita Sembelit seminggu. Bola-bola pingpong itu baru bisa dikeluarkan dari sistem pencernaannya setelah istrinya memaksanya menenggak setengah gelas minyak jelantah. “Ngai menderita, Kal, menderita sekali!" Aku ingin tertawa, tapi tak tega. Di sisi lain aku kagum pada keteguhan orang Ho Pho menjunjung tinggi janji. Inilah bagian paling mengesankan dari mereka. “Ngai benci sama A Tong, Boi. Ngai muak kalah taruhan. Ampat kali Ngai kalah terus. Ngai terlalu meragukan kemampuanmu, maafkan Ngai, Boi.” Kali ini aku terkikik, tapi A Ngong tctap serius. Ia Mengatakan warga Ho Pho akan menertawakannya selamu enam tahun gara-gara ia kalah empat Maryamah Karpov 239 Maryamah Karpov 240


taruhan. Aku ingin beri padanya, lalu kusampaikan apa yang bisa kubantu. "Nah, Ikal, maksud kedatangan ngai adalah soal sakit itu, apakah kau akan ke klinik gigi atau tidak? Sebab Ngai akan bertaruh lagi soal ini melawan A Tong, taruhan yang paling hebat!" Wajah A Ngong menyala menyebut taruhan yang hebat itu. Seakan taruhan itu jika dimenangkannya akan mengembalikan martabatnya dan sekaligus menghapus tawa enam tahun itu. Ini taruhan pamungkas dan pasti sangat sinting. Aku ingin tahu. "Ngong, taruhan apa gerangan?" A Ngong mendekatiku. Bcnar saja, mereka sudah tidak waras. "Siapa yang kalah, ia harus menyambut dengan tangan kosong buah duren yang jatuh dari pohonnya.” Edan! Bagaimana dia sampai terpikir pada ide taruhan segila itu? ANgong girang melihatku terkejut. Ia bangga. "Itu ide ngai Kal!" ia terkekeh. Tubuhnya yang tambun menggigil-gigil. "Sebrntar lagi musim duren, taruhan di kebun duren Taikong Hamim.” Aku menggeleng-gelengkan kepala karena aku tahu betapa tingginya pohon-pohon diren di kebun Taikong. A Ngong tambah girang. “Jadi, apa maksudmu kesini?” Ia diam sejenak, lalu berbisik seperti orang mengajak berkhianat. “Apakah kau akan ke klinik itu. Kal? Beri tahu sejujurnva.” Seketika aku paham. Ini adalah rencana tengik. Dalam ilmu politik kantor apa yang sedang kami rundingkan termasuk persekongkolan insider trading, yakni pihak tertentu meraup keuntungan berdagang dengan memanfaatkan informasi dan orang dalam. Kutatap A Ngong tajam-tajam, ia menunduk dan tampak bersalah. Aku ingin mendampratnya sebab informasi yang mungkin kuberikan tak adil bagi A Tong. Namun, lihatlah A Ngong. Lihatlah tubuh gendutnya itu, lihatlah sandal jepitnya, lihatlah kaus singlet 777-nya, lihatlah hidupnya yang miskin dan matanya yang lucu. Bayangkan ia pontang-panting diuber buaya bunting, bayangkan ia minum minyak jelantah untuk mengeluarkan tiga biji bola pingpong. Ia telah babak belur dibuat A Tong. Orang-orang mengatakan A Ngong, tukang tahu, selalu kalah taruhan Nasib sial tercetak seperti peta di keningnya. Aku ingin membantunya, tapi itu berarti menelikung A Tong. A Ngong tetap menunduk sambil menggaruk-garuk bekas sayatan gulma dibahunya. Ia pasrah. Ah, Ngong, kau membuatku berada dalam situasi rumit. Akhirnya, aku melihat situasiku dari sudut yang berbeda, yaitu aku jujur soal klinik itu, kujawab bahwa, meskipun Ketua Karmun menyeretku, aku tetap tak mau ke klinik itu, tak mungkin, apa pun yang terjadi. Seperti sikap Tancap bin Seliman dulu, meski Ketua mencabut nyawaku, tak sudi aku berurusan dengan rumah sakit. Aku sangat traumatis. Biarlah klinik itu tutup, biarlah Dokter Diaz pulang lagi ke Jakarta. Kusampaikan pada A Ngong, itulah kejujuran yang hakiki dariku. Perkara ia akan menggunakan info itu untuk taruhan bukanlah urusanku. Dialah yang akan menanggung dosanya. Kawan, beginilah cara orang bodoh tipis iman berpikir. "Terima kasih, Ikal," katanya sembari mau menyembahku. Ia senang tak kepalang. "Kali ini A Tong akan menyambut buah duren!" A Ngong memegang daun telingaku. Begitu cara orang Ho Pho menghormati orang dan mengikrar janji. Ia meninggalkan rumahku sambil celingukan, mengendap-endap, tak ubahnya maling. ********** Baru saja beberapa menit A Ngong pergi, ada pula yang mengetuk pintu. "Ketua Karmun!" Aku terkejut. Pikirku ia tak kan bertandang malam ini. Dan aku terperanjat bukan buatan sebab Ketua datang bersama Mahar dan, seseorang yang membuatku seperti disiram air es: A Ling! Sekonyong-konyong aku salah tingkah. Aku mohon diri scbentar untuk alasan yang kurang jelas, bergegas menuju kamar, bersisir. Aku kembali dengan degup jantung yang tak dapat kuredakan. Satu hal yang selalu menimpaku soal A Ling adalah: setiap kali melihatnya, aku selalu merasa melihatnya untuk kali pertama. Ini adalah kejutan yang sangat menyenangkan. Seumur-umur sejak kecil dulu tak pernah aku berjumpa A Ling tanpa perjanjian lebih dulu. Karena bapaknya, A Miauw, sangat galak dan karena harus mencuri-curi waktu antara aku izin pada orangtua untuk mengaji dan ia sembahyang di kelenteng. Tibatiba sekarang ia berada di rumah ibuku, juga untuk kali pertamanya. Perempuan Ho Pho itu tersenyum kecil padaku. Napasku macet. Dulu waktu remaja ia seperti Michelle Yeoh, kini dewasa, ia dua kali lebih cantik. Tinggi semampai, mengenakan pakaian favoritnya. chong kiun biru muda yang rapat sampai mata kaki. Kancingnya di leher, bentuknya seperti paku. Maryamah Karpov 241 Maryamah Karpov 242


Rambutnya yang telah dipotong tak terlalu panjang lagi tapi juga tak terlalu pendek. Diikat tinggi-tinggi dan dikunci dengan tiga konde bambu hitam berkilat-kilat. Ia duduk miring. Paras-paras kuku, yang ia tumpangkan di atas lutut, seindah mutiara raja brana, menyambar seluruh perhatianku. Melihatnya, tak seorang pun menyangka perempuan halus anggun ini memiliki tekad sekeras besi, nyali seliat tembaga. Tak kan ada yang menyangka ia pernah melintasi Selat Malaka sampai ke Batuan. Tak surut mengadu nyawa menyeberangi Selat Singapura di atas perahu kecil berdesakan. Tak getar berhadapan dengan bajak laut paling ganas. A Ling tak berkata apa pun, hanya tersenyum-senyum. Apa gerangan maksud kedatangannya? Ketua Karmun dan Mahar duduk berseberangan dengan A Ling .Berarti kedua pria Melayu itu berada di kiri-kananku. Ketua Karmun tersenyum penuh arti pada Mahar, dan mulai berpidato. Kali ini ia mengambil gaya politisi. "Sebagaimana kita telah ketahui bersama, Saudara-Saudari, bahwasanya ...." Ia jeda untuk menarik napas. Pastilah karena ia akan menyampaikan sesuatu yang menyangkut hajat hidup orang banyak. "Klinik gigi kita itu sudah tutup. Sebabnya tak lain karena Dokter Diaz tak kunjung mendapat pasien." Ia jeda lagi. "Mengingat pentingnya klinik itu ...." Nada suara Ketua menekankan betapa pentingnya klinik, sambil melirik Mahar dan A Ling. Jantungku berdetak, aku mencium gelagat tak beres. "Maka kita memerlukan kerelaan dari seorang pemuda desa yang berjiwa besar untuk menjadi pasien Dokter Diaz." Mereka saling pandang. Detik itu aku paham siasat lihai Ketua Karmun dan Mahar. Mereka memanfaatkan A Ling mentah-mentah untuk menggiringku ke klinik gigi itu. Mereka tahu, aku tak kan berkutik di depan perempuan Ho Pho itu. Kurang ajar bctul! "Setujukah kau dengan pendapatku itu, Nona Njoo Xian Ling?" Suara Ketua berat dan bijak. A Ling menjawab lembut, tapi pasti. "Tentu, Ketua Karmun.” Keringat dingin bercucuran di punggungku. “Nah, kebetulan sekali, pemuda desa yang rela berkorban, bijak, cerdas, tangkas dan malangnya sedang menderita sakit gigi busuk yang sangat menjijikkan, tak lain adalah saudara kita, Ikal.” "Bertahun-tahun mengenal keluarga ini, aku sangat paham. bahwasanya saudara kita. Ikal, dengan senang hati berkorban demi kemajuan kampungnya." Aku berusaha menenangkan tubuhku yang menggigil. Bau karbol menusuk hidungku, membuatku mual. Warna putih berkelebat, sirene meraung, dan benda-benda tajam berkilauan dimasukkan seseorang ke dalam mulutku. Aku melihat ke bawah di antara selangkangku seperti tergenang darah. Itulah situasi yang dulu kualami ketika dikhitan secara tidak sukses oleh para perawat magang. Tak mungkin. Tak mungkin aku mau ke klinik. Apa pun taruhannya. Aku trauma berat. Meski mereka bertiga menyeretku dengan rantai, merajamku sepanjang jalan seperti jalan Yesus di Jerusalem, aku tetap tak mau ke klinik. Namun kudengar suara itu, satu suara lembut selendang sutra, sejuk menyelinap. “Mau kan kau ke klinik itu, Ikal?" Aku mencari-cari asal suara itu. O, rupanya dimulut seekor burung sekretaris yang telah menjelma menjadi seorang putrid. Ia tersenyum padaku, dan tiba-tiba kudengar sorang lain menjawab dengan mantap, "Oh, A Ling, tentu saja aku aku bersedia, tak ada masalah sama sekali!" Aku melihat ke kiri-kanan, ke belakang berkeliling. Siapakah yang menjawab begitu? lak ada siapa-siapa dekatku, Astaga! Aku baru sadar, seseorang telah menyita mulutku dan menggunakannya untuk mengatakan sesuatu mewakiliku, tanpa persetujuanku! Selanjutnya aku terpana melihat Ketua Karmun melonjak-lonjak seperti ia baru saja mendapat izin dari istrinya untuk kawin lagi, sementara Mahar berteriak girang. Ketua mendekatiku yang masih terpaku. "Sampai jumpa besok di klinik gigi, Boi! Bintang kejora!" ******** Aku terbelalak memandangi langit-langit kamar. Aku seperti orang yang tak sengaja menelan jarum. Tengkukku bergidik sepanjang malam membayangkan ngeri yang akan kualami esok di klinik gigi. Aku tak tahu bagaimana mengatasi traumaku. Dalam masyarakat modern, seharusnya orang sepertiku diterapi dulu bertahun-tahun baru dihadapkan lagi secara langsung pada situasi yang dulu pernah membuatnya trauma. Setiap kucoba memejamkan mata, rasanya darah meluap-luap dalam kamar itu dan rasa ngilu merayap dari gigi sampai ke ubunubuaku. Bagaimana tadi aku bisa menjawab dengan begitu tolol? Maryamah Karpov 243 Maryamah Karpov 244


Aku menyumpahi diriku sendiri mengapa tak pernah bisa mengatakan tidak pada A Ling. Aku padanya, layaknya ayahku padaku. Tak pernah, tak pernah meski hanya sekali. Ayah mengatakan tidak padaku. Berbulan-bulan Ketua Karmun membujuk, mengimingi, bahkan mengancamku agar aku ke klinik aku tak pernah takluk. Berapa jam dan berkali-kali ia menceramahiku soal pentingnya, dan strategisnya bagi masyarakat kami, jika aku ke klinik tak pernah aku berkenan. Namun dengan A Ling, hanya dari satu pertemuan tak lebih dari sepuluh menit, semuanya berubah drastis. Sungguh tak tertanggungkan daya bius perempuan itu padaku. Meski jengkel, aku kagum juga dengan taktik ini. Tentu Mahar yang telah memberi ide pada Ketua. Mahar pasti paham: seseorang yang menjadi sumber kekuatan terbesar adalah pula sumber kelemahan terbesar. Aku menerawang membayangkan nasib sialku esok. Cinta, kadang kala memang amat menyusahkan. Namun, tiba-tiba aku terperanjat karena teringat akan sesuatu: A Ngong! Aku melompat dari dipan, melompat lagi dari tangga rumah panggung. dan melompat lagi ke atas sadel sepeda. Aku mengayuh sepeda sekuat tenaga, lintang pukang menuju pasar ikan. Aku ngebut lupa diri. Lewat sedikit tengah malam aku sampai dan langsung berbelok menuju rumah A Ngong di belakang pasar ikan. Namun, semuanya terlambat. Aku tiba pas saat A Ngong dan A Tong saling memegang daun telinga, berarti mereka telah mufakat. Setelah memegang daun telinga A Tong, kulihat dari jauh A Ngong terbahak-bahak. Mereka tak melihatku di remang bias lampu toko-toko kelontong Sungguh sial lelaki Ho Pho gendut yang sedang tertawa itu. Tak terbayangkan nanti ia harus menyambuti buah durian yang jatuh dari pohonnya. Untuk itu, pasti ia akan ditertawakan, tidak hanya enam tahun, tapi seumur hidupnya. Mozaik 70 Ruang Pucat Jilid 2 NAH , Kawan, begitulah riwayatnya bagaimana aku bisa terjebak dalam ruang pucat ini, seperti tempo hari pernah kuceritakan di mula kisah ini. Dan jika tak sensasional, tentu bukan pula Ketua karmun namanya. Ia mengatakan bahwa peristiwa kedatanganku ke klinik adalah peristiwa terbesar yang pernah dialami kampung Melayu udik ini sejak kedatangan seorang penyanyi dangdut ibu kota dua puluh tahun silam. Gengsinya yang rontok berantakan gara-gara klinik gigi itu berhasil ia tegakkan kembali. Tak tanggung-tanggung, enam puluh tempt duduk telah dipasang di keparangan klinik. Orang-orang penting dari suku Sawang-lima kepala suku yang masih hidup-orang-orang bersarung, melayu, Tionghua semua variasi suku dan dukun semua urusan diundang. Perwakilan dari instansi pemerintah, sekolah-sekolah, dan madrasah juga akan hadir. Juru potret didatangkan khusus dari Tanjong Fandan. Tiga orang sekaligus, termasuk Karim Kodak, fotografer setempat. Koresponden sebuah koran lokal di Pangkal Pinang dipanggil dan diberi fasilitas istimewa oleh Ketua. yaitu menginap di masjid. Mahmud Corong, penyiar kondang radio dangdut AM Suara Pengejawantahan yang amat populer di kampung diminta Ketua untuk melakukan semacam siaran langsung dari klinik Dokter Diaz. Dua puluh tempat duduk paling depan adalah untuk VVIP(Very Very Important Person), orang-orang amat penting, dan duduklah di sana, dengan anggun, pendulang timah Tancap bin Seliman, yang berkali-kali pula menolak ke klinik. Subuh tadi Ketua Karmun secara pribadi menjemputnya. Didudukkannya Tancap di sadel belakang sepeda Sim Kine-nya. lalu didudukkannya lagi di kursi VVIP yang terhormat. Tak ada, Kawan: di gedung- gedung DPR, di kantor-kantor cabinet, di kantor-kantor dinas, apalagi di kantor- kantor partai politik, pemimpin seperti ini. Carilah olehmu, tak kan ada. Di samping Tancap, pahlawan acara ini – Mahar – tak henti-henti tersenyum simpul sejak tiba tadi. Mukanya bersih berseri, tanpa sebersitpun beban. Riang dan bercahaya. Tentulah karena dia senang tak kepalang membanyangkan penderitaanku nanti. A Tong, juga terus-terusan mengulum senyum kemenangan. Bajunya rapi kemeja lengan panjang yang dimasukkan ke dalam. Abu-abu sejuk warnanya. Dalam soal pakaian, orang Tionghoa selalu lebih rapi daripada orang Melayu. Mereka bisa membedakan pakaian ke kelenteng, ke gereja, ke acara ulang tahun, atau ke kantor, dengan pakaian untuk memetik kangkung atau untuk mengangon babi. Orang Melayu udik Maryamah Karpov 245 Maryamah Karpov 246


sering bingung dalam hal ini. Tak jarang mereka ke masjid dengan pakaian mau ke bengkel las. Sementara kulihat nun di sana, di pojok pekarangan, A Ngong meremas-remas daun beluntas. Wajahnya seperti orang yang tak diajak Nabi Nuh naik ke bahteranya. Di samping Mahar, duduklah dukun gigi A Put. Ia tak kurang gembiranya dari Dokter Diaz waktu mendengar aku bersedia ke klinik. Ia sebenarnya telah lama ingin menutup praktiknya. Di kiri-kanan A Put, masih di lokasi VVIP, adalah para pelanggan tetap A Put. Di bagian belakang: para tetua, mereka yang masih setengah hati menerima wanita asing dari Jakarta yang bukan muhrim memasukkan tangan ke mulut seorang lelaki. Akhirnya, berjejer orang-orang muda berpakaian pelajar. Mereka telah dipilih dengan teliti oleh Ketua Karmun dan sekolah dan madrasah. Mereka adalah anak-anak yang bercita-cita menjadi dokter gigi, perawat, dan bidan. Hadir pula Eksyen dan puluhan anggota komplotannya rapi bukan untuk menyemangatiku atau untuk menyaksikan pengobatan gigi modern untuk kali pertamanya, seperti yang lain. Tujuan mereka jelas, ingin melihatku menderita dan gagal. Tapi rupanya tempat duduk masih kurang sehingga banyak Warga yang berdiri di halaman klinik, menggelar tikar di depan klinik, dan berdesakan melongok-longokkan kepalanya. Daun-daun jendela klinik sampai dicopot engselnya dan pintu dibuka lebar-lebar agar khalayak dapat melihat sepak terjang Dokter Diaz waktu menggarapku nanti. Tepuk tangan meriah menyambut Dokter Diaz. Ia memakai jubah dokter yang masih sangat baru. Stetoskop ia kalungkan. Sungguh terpelajar penampilannya. Wajah yang bulat ditudungi poni itu tersenyum simpul karena setelah menunggu setahun, akhirnya ia dapat seorang pasien. Jubahnya putih bersih, disetrika sangat rapi, dan .... Dokter Diaz tak langsung masuk ke klinik, tapi mengambil posisi yang elegan di samping Ketua Karmun yang akan berpidato sedikit. "Saudara-Saudara. Dokter diaz ini adalah seorang pelajar yang bermutu tinggi di bidang gigi sehingga dia sangat ahli. Tak perlu diragukan kemampuannya, sama sekali tak perlu! Kalian dengar itu!" Pengunjung yang tadinya agak ragu sekarang mulai pasti. “Dan disebabkan daripada keahliannya itu, pemerintah telah mengeluarkan surat yang syah yang memberikan hak untuk memasukkan tangannya ke dalam mulut-mulut kalian! Mengerti?” Hadirin mengangguk-angguk takzim. "Nah, Saudara," Ketua memegang megafon sambil hilir mudik. "Tokoh selanjutnya .... "Juga tak kurang istimewa. Kalian selalu menganggapnya si keriting tukang bikin onar di kampung? Periksa kembali syak wasangka itu! Karena itu kekacauan pendapat yang dapat mengarah pada fitnah nan keji! Tidak adil, tidak adil sama sekali!" Pengunjung paham bahwa yang dimaksud Ketua adalah aku. "Aku sendiri sangat menyesal telah menganggapnya manusia tak berguna selama ini!" Tepuk tangan membahana. Sementara aku makin gemetar di ruang tunggu. Apalagi seorang perawat masuk dan menyuruhku membuka pakaian untuk diganti dengan pakaian seperti baju monyet dengan tali-temali. *********** Dokter Gigi Diaz menerimaku di kliniknya bak keluarga mempelai wanita menerima rombongan mempelai pria dari seberang pulau, dan telah datang pada musim bada, bulan Desember. Tangan terbekap di dadanya serupa dirigen sekolah siap memberi aba-aba empat per empat lagu Indonesia Raya. Matanya penuh pancaran selamat datang di haribaan klinik giginya yang sederhana. Belum apa-apa, aku sudah demam panggung melihat kelengkapan klinik. Peralatan yang ada hanya kaca mulut, pinset, lampu, sonde untuk memeriksa lubang gigi, dan ember. Botol-botol rendah dan gendut anriseptik berjejer di para-para dinding. Tak tahu sejak kapan ada di situ. Sejumlah benda mengerikan berbentuk ragum-semacam cakar elang, pisau stenlis kecil yang diletakkan dalam sebuah neirbeken tampak tajam berkilat-kilat. Aku berdebar. Aku tahu sebagaimana pernah kulihat pada brosur klinik gigi modern di Jakarta, seharusnya ember itu tak ada di situ, dan lampu untuk menengok ke dalam mulut juga bukan lampu meja untuk belajar itu. Pada brosur itu sang dokter gigi berdiri gagah dalam ruangan berisi vasvas bunga yang semuanya sedang bersemi. Ia memegang alat pengisap sterilisator elektrik yang canggih. Di sampingnya duduk seorang pasien putri kecil yang tersenyum seperti piknik saja ke klinik gigi. Ayah-ibunya juga tersenyum. Bahkan, sapi-sapi yang ada di gambar almanak di dinding klinik juga tersenyum. Tak diragukan, cita-cita anak kecil itu pasti ingin jadi dokter. Lampunya halogen berkekuatan seratus watt tapi tidak panas, mahal, dan memiliki sendi putar 360 derajat. Tak kelihatan ada benda-benda tajam dan botol-botol obat yang menakutkan. Bocah kecil itu dibaringkan di atas sebuah Maryamah Karpov 247 Maryamah Karpov 248


dental chair yang sandarannya bisa dinaikturunkan dan terhubung melalui bersulur-sulur kabel menuju sebuah komputer, berbagai panel dan ektektor digital. Sementara aku di klinik ini, dibaringkan diatas sebuah branker karatan yang rodanya sudah macet dan dulu dipaki untuk mengangkut orang yang terdesak ingin beranak. Disampingku teronggok ember. Di dinding depanku ada poster ajakan keluarga berencana: usia ideal menikah, lelaki 25 tahun, perempuan 20 tahun. Wajah lelaki dalam poster itu seperti tak sabar ingin segera membuat anak, dan wajah calon istrinya seperti tertekan batinnya. Dokter Diaz membuka koper berodanya dan mengeluarkan beberapa kitab tebal. Kulirik. Satu judul buku membuatku bergidik: Anaphylactk Shock. Aku pernah tahu, buku itu soal pingsan karena berbagai sebab. Ah, seharusnya Dokter Diaz sedikit bijaksana sehingga judulnya tak terlihat olehku. Pingsan karena berbagai sebab benar-benar membuatku putus asa! Dokter Diaz mendekatiku. la tersenyum lagi dan bersabda, "Ok, Bujang, mari kita mulai." Penonton serempak bertepuk tangan mendengar kata-kata Dokter Diaz. Mereka tak sabar melihat dokter perempuan dari Jakarta itu beraksi. Dokter Diaz memegang sonde dan kaca mulut. Ia memintaku membuka mulut. Ia menyelidiki isi mulutku dengan kaca. Ketua Karmun berseru, "Nah, lihat itu, Saudara-Saudara, bukankah hebat?” Penonton kagum mengangguk-angguk melihat kaca kecil persegi empat yang sinarnya terbias di wajah kuli mereka yang kumal. Mereka tak pernah melihat A Put menggunakan alat-alat semacam itu. Namun, tak demikian dengan Dokter Diaz. Setelah mengamati gigiku, seyum yang tadi dikulumnya tertelan. Ia menjadi agak pucat. Aku cemas. “Impacted…..” Lenguh Dokter Diaz dengan nada yang sengaja ia keraskan sedikir dan bernada amat akademis. Hal ini telah diatur oleh Ketua Karmun agar Dokter Diaz, selain beraksi, juga memberi penjelasan sebanyak mungkin pada penonton. Agar penonton terkesan. Agar penonton menganggap Doker Diaz tahu betul apa yang sedang ia hadapi. Agar penonton yakin akan pengobatan gigi modern dan tak berobat pada dukun gigi A Put lagi. Untuk itulah mengapa mereka beramai-ramai diundang Ketua Karmun ke klinik. "Impacted pada molar ketiga. Gerahamnya tak tumbuh sempurna." Dokter Diaz mendekatkan lampu belajar itu dengan saksama dan mematut-matut posisi kaca. Suaranya yang tadi telah tertekan, sekarang terjepit. Aku gugup. "Akar geraham bungsunya mungkin tersangkut di bawah akar gigi sebelahnya. Sudah sangat terlambat. Sekarang telah terjadi operculitis." Ketua Karmun, kembali berseru, "Kalian dengar itu? Hebat bukan buatan si Ikal ini!" Penonton bertepuk tangan. Namun, Ketua mendekati Dokter Diaz dan berbisik. "Kira-kira maksudnya apa, Bu dokter?"' “Gusi yang menutupi molar ketiga, geraham paling belakang itu, menghalangi infeksi, peradangannya sudah parah, geraham itu harus dicabut. “Jadi, Dokter?” Dokter Diaz mcngucapkan sesuatu yang seakan tak ingin ia ucapkan. Tercium beban dalam keseluruhan kalimatnya. "Tak ada pilihan lain, odontektomi...." Odontektomi? Aku merinding takut. Tak pernah kudengar kata itu sebelumnya, tapi dari rangkaian suku katanya firasatku mengatakan sesuatu yang menyakitkan akan menimpaku. "Artinya, Bu Dokter?" "Odontektomi, operasi gigi." "Operasi gigi?! Bintang kejora!" Ketua Karmun melonjak. "Operasi gigi, Saudara-Saudara. Pahlawan kita ini akan mengalami operasi gigi! Hebat betul!" Penonton bersorak-sorai. Aku terperanjat. Keringatku bercucuran, dingin. Sungguh mengerikan: operasi gigi. Dokter Diaz pun tampak ciut. Sekarang aku paham mengapa sejak melihat gigiku dengan kaca persegi itu kalimatnya penuh bcban. Aku adalah pasien pertamanya dan ia langsung hams melakukan operasi gigi. Barangkali ini bukan perkara lumrah bagi dokter gigi baru. Mungkin pula selama ini ia hanya beraksi di bawah pengawasan ketat seniornya, sebagai Siswa magang, mengerjakan tugs remeh-remeh membersihkan karang atau memasang kawat gigi. Tapi kini di dunia nyata, berbekal peralatan ini, ia langsung menghadapi kasus pertama berisiko ting. Ia tampak sangsi nervous. Ia memang dokter yang pintar tapi ia belum berpengalaman. Ia pasti tak pernah melakukan odontoktomi sebelumnya. Aku dan Dokter Diaz saling pandang. Secara telepatik kami menimbang situasi yang sama, yaitu: aku adalah seorang lelaki dewasa. Geraham molar ketiga itu juga telah tumbuh sebagai sebuah gigi dewasa karena paling tidak telah sepuluh bulan tertancap di tempat yang tak seharusnya itu. Dan geraham itu sehat walafiat, lebih sehat dari diriku, lebih sehat dari pikiranku sendiri, Maryamah Karpov 249 Maryamah Karpov 250


yang infeksi hanya gusinva. Akar geraham itu pasti telah menjalar ke sana kemari. Panjangnya mungkin 3 cm dan sebagian besar tertanam dalam. Barangkai telah terpatri pada tulang rahangku. Meskipun infeksi, tapi gusi sekelilingnya masih menggenggam molar ketiga itu dengan kuat sekuat cakar elang mencekal leher kelinci. Lalu Dokter Diaz sendiri, tak lebih dari gadis mungil 153 cm, beratnya tak lebih dari 45 kg dengan tangan sehalus tangan marmut dan berambut poni. Aku yakin, haqqul yakin, diperlukan satu sikap agresif, kasar, kalap dan tenaga yang besar untuk memaksa molar ketiga itu agar tercabut. Sifat-sifat semacam itu, tak secuil pun tampak pada Dokter Diaz. Secara umum kesimpulan : tak perlu harus masuk fakultas kedokteran gigi untuk menakar situasi ini, bahwa dalam ruang gerak yang amat sempit di belakang mulut sana, kekuatan geraham sehat itu tertanam, peralatan manual ala kadarnya dan tenaga mungil Dokter Diaz, akan terjadi kesulitan tak terbayangkan mencabut geraham itu. Doktcr Diaz seerli ingin mengurungkan odontektomi, tapi bak bahtera, sauh telah diangkat layar telah terkembang, tak mungkin ia surut Lagi pula ia mengemban misi yang lebih penting daripada sekadar operasi gigi ini, yaitu meyakinkan masyarakat. Jika ia mundur, akan jadi antiklimaks usaha susah payahnya bersama Ketua Karmun selama setahun penuh membujuk orang ke klinik gigi. Maka sekarang situasinya jelas: penonton ingin meyakinkan mereka sendiri, Dokter Diaz ingin membuktikan dirinya. Ketua Karmun ingin menjaga reputasinya, dan aku akanjadi tumbal. *************** Dokter Diaz membasuh tangannya dcngan antiseptik dan memasukkan sarung tangan plastik. Ia menjejer benda-benda kecil yang tajam di atas sehelai handuk. Mulanya ia berdiri dalam jarak yang cukup sopan dariku. Lain, ia melangkah maju. Inilah momen yang kutakutkan selama belasan tahun. Tubuhku menggigil melihat Dokter Diaz menjentik-jentikkan jarinya pada tabung kristal janim suntik berisi 3 cc pehacain untuk membiusku. Aku gemetar. Perlahan tapi pasti aku mulai ditelan bulat-bulat oleh traumaku. Aku berusaha mengalihkan ketegangan dengan memandangi poster keluarga berencana. Gagal. Dokter Diaz kembali menyuruhku membuka mulut, meletakkan spatula di atas lidahku. Aku memejamkan mata, sesuatu menyengat gusiku, pahit, dadaku berdegup. Sejurus kemudian aku merasa tak berkepala. Aku meraba telingaku dan hanya menyentuh angin. Aku menoleh sekeliling, tapi serasa melihat melalui kepala orang lain. Aku mencubit telingaku yang sakit jemariku. Sungguh ajaib perkembangan ilmu anastesi dewasa ini. Lalu, dengan sebilah perabot aneh ia menyiangi lapisan daging yang membungkus permukaan gigi agar benda semacam cakar elang dapat menangkap gigiku. Kemudian tang ini, tanpa permisi memasuki mulutku. Mulanya Dokter Diaz menggoyang-goyang gigiku. Semua gerakan ia lakukan dengan elegan, penuh kelembutan, dan terpelajar. Secara intens Dokter Diaz menggoyang gigiku dan mulai berusaha mencabutnya dengan cakar elang itu, tapi usahanya yang elegan itu tak mengalami kemajuan. Gigiku tak sedikit pun mengacuhkannya. Maka ia meningkatkan tenaganya. Ia mencoba berkali-kali menarik gigi itu. Hasilnya nihil. Ia terus mencoba dan terus gagal. Ia mulai kewalahan. Molar ketiga itu ternyata sangat kukuh dan diam membatu seperti menhir kena kutuk. Dokter Diaz mengubah posisinya. Ia bergeser ke sebelah kepalaku. Posisi ini memungkinkannya untuk mengerahkan segenap kekuatannya. Kembali ia mengungkit-ungkit, sampai bercucran keringatnya. Sang gigi bergeming. Diam saja di situ. Lalu, untuk kali kedua belasnya, Dokter Diaz kembali mencoba mencabut gigiku. Ia menggenggam erat-erat tang gigi. Urat-urat berwarna biru meruap dipunggung tangannya yang mulus. Titik-titik keringat sebesar biji jagung bertimbulan di dahinya, yang licin. Napasnya tersengal. Matanya yang tadi lembut kini menyala-nyala. Senyumnya yang menyimpul-nyimpul tak ada lagi. Pipinya merah seperti buah hamlam. Ia menarik napas panjang dan menahan napas ketika mencabut gigiku sekuat tenaganya. Terdengar bunyi ngik dari kerongkongannya. Namun sial, seperti kebanyakan sifat anak bungsu, geraham bungsuku ini ternyata manja dan keras kepala bukan main. Ia sama sekali menolak beranjak dari cangkang gusiku yang telah meradang. Para penonton yang mencium situasi tak beres menghambur ke jendela klinik meninggalkan bangku-bangku panjang mereka. Kepala mereka berebutan melongok-longok ke dalam. Mahmud Corong yang melakukan siaran langsung berbisik-bisik penuh ketegangan melaporkan situasi genting yang terjadi di klinik pada seluruh pendengar radio dangdut AM Suara Pengejawantahan. Tancap bin Seliman berkali-kali menggumamkan asma-asma Allah. Wajahnya seakan mengatakan, "Untung saja, aku tak berurusan dengan semua ini! Rasakan olehmu, Ikal, apa kataku dulu!" Dokter Diaz terus berusaha mengungkit-ungkit gigiku, dan terus sia-sia. Ia frustrasi. Matanya yang semula lembut, lain ragu, lalu menguatkan diri. sekarang berubah menjadi merah. Hadirin yang berebutan menonton mulai Maryamah Karpov 251 Maryamah Karpov 252


berkomentar. Biasalah Melayu. Mereka jelas meragukan kemampuan Dokter Diaz. Situasi ini membuat Dokter Diaz berada dalam situasi menjengkelkan. Beberapa pennonton mencoba menyemangati Dokter dan orang-orang ini membuat Dokter Diaz makin jengkel. Ketua Kurmun pucat pasi. Bukan karena cemas pada kondisiku. melainkan khawatir kalau-kalau Dokter Diaz tak bisa menyelesaikan masalah gigiku dan aku terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit besar di Tanjong Pandan. Itu tak boleh terjadi. Ini berarti misinya bersama Dokter Diaz gagal total. Itu akan menghancurkan reputasi mereka berdua. Sementara itu. Dokter Diaz sadar betul ia sedang mempertaruhkan reputasinya. Setiap kali upayanya mencabut gigiku gagal, berarti satu tingkat wibawanya melorot. Maka ia menolak menyerah. Ia menarik napas lagi dan mencoba menarik gigiku dengan tenaganya yang mulai tandas. Kasihan aku melihatnya. Ia mendesah lirih kelelahan. Ia berdengik-dengik. Di sudut matanya kulihat titik-titik bening air mata putus asa. Selama hampir satu jam Dokter Diaz mengerahkan segenap tenaganya, masih sia-sia. Semuanya belum apa-apa sebab ketika Dokter Diaz menyentak tang gigi itu. untuk kali kedua puluh enamnya. dan kembali gagal, aku merasa sepercik asin darah dalam mulutku. Dan drama yang sesungguhnya dimulai. Aku dapat merasakan asin. berarti pembiusanku khatam. Ternyata aku tak cukup sensitif untuk menahan daya bius 3 cc pehacain sampai lebih dari sejam. Kejadian di Rumah Sakit Manggar waktu aku dikhitan dulu terulang kembali. Seperti pembalasan Tuhan yang hakiki, trauma itu pun kembali. Tubuhku mengigil hebat karena kekuatan. Darah seakan memancar dari selangkangku. Mati rasa dalam mulutku mulai lindap diusir rasa sakit yang tak tertahankan. Dokter Diaz tahu aku tak lagi merasakan daya bius. Ia menyuntikkan lagi 3 cc pehacain tapi aneh, tak berpengaruh sama sekali padaku. Ia tak kan sembarangan membiusku lagi, bisa fatal akibatnya. Maka tak ada pilihan lain baginya selain melanjutkan aksinya, menyelesaikan apa yang telah dimulainya. Aku berteriak-teriak karena ngilu yang sangat. Dokter Diaz tak peduli. Ia untuk puluhan kali yang tak terhitung, kembali berusaha mencabut gigiku, dan lagi-lagi, gagal. Aku mengaduh, Dokter Diaz hilang akal. Ia frustrasi karena tak dapat menaklukkan gigiku. Ia jengkel karena orang-orang kampung mulai meragukannya. Ia marah karena beberapa orang menyemangatinya, dan ia naik pitam karena aku tak berhenti mengaduh. Ia mencoba lagi dan aku meronta sejadi-jadinya. Aku mau kabur! Tak ada satu pun perawat di situ, Dokter Diaz memerintahkan pada penonton untuk menenangkanku, dan terjadilah kejahatan seperti pernah kuceritakan padamu tempo hari, Kawan. "Pegangi dia! Pegangi kuat-kuat!" Lenganku direngkuh dua lelaki kasar. Aku terbelalak kesakitan, menggelinjang-gelinjang. “Kamu!Ya, kamu, masuk!Tangkap kakinya! Seorang pria sangar menghambur. Ia memeluk kakiku. Kukais-kaiskan tumit untuk menerjang. Seorang pria lain, tanpa diperintah, meloncat. Ia menindihkan tubuh gempalnya diatas lututku, liat berminyak-minyak. Aku tak berkutik. Ngilu memuncak diubun-ubun. Dokter Diaz mencoba lagi, tetap tak berhasil. Aku kesakitan dan kelelahan. Aku sudah tak sanggup. Ingin sekali aku melompat bangkit, menyumpahi orang-orang ini. Sinar lampu yang bergoyang-goyang menjilati wajah putus asa setiap orang dalam ruangan pengap yang telah kacau-balau. Dokter Diaz mcmasukkan lagi spatula ke dalam mulutku untuk menekan lidahku. Rasa sakit yang amat sangat menimbulkan gerakan refleks yang tak diduganya sama sekali. "Krrak!!" Aku menggigit spatula kayu itu. Patah tiga tanpa ampun. Emosi Dokter Diaz mendidih. "Diam! Diam kataku!!" Ia tak bisa lagi menguasai diri. Ia mendekatiku seperti ingin menggagahiku. Ia menarik napas panjang dan mencengkeram kuat-kuat tang cakar elang, kali ini dengan kedua tangannya. Lalu dengan kedua tangan yang halus itu ia melakukan gerakan mencabut. Ia kerahkan seluruh tenaga, harga diri, dan wibawanya. Ia berdengik seperti orang mengangkat barbel 200 kilo. Alisnya bertemu. Kuncirnya berdiri. Para juru potret menghambur masuk, tak bisa dihalangi. Mereka menjepret sana sini tak henti-henti, mengabadikan peristiwa yang paling seru dalam klinik. Mahmud Corong tak lagi berbisikbisik tapi berteriak-teriak melaporkan situasi pada para pendengar radio dangdut AM Suara Pengejawantahan. Para penonton berdesakan di jendela dan ingin masuk. Sementara gerakan Dokter Diaz yang semula lembut, elegan, dan intelek ketika menggoyang dan mencabut gigiku, kini berubah mcnjadi gerakan kuli bangunan meneongkel tutup septic tank. Wajahnya yang ayu berubah menjadi wajah Suzanna Sundcl Bolong. Aku raerasa seperti sedang mengunyah segenggam pasir. Setup kali Dokter memaksa mencabut gigiku, rasanya sepotong kawat ditusukkan ke dalam mataku, menembus kepakku, dan keluar melalui telingaku. Dokter Diaz bersimbah peluh. Matanya terhunjam ke dalam mataku. Maryamah Karpov 253 Maryamah Karpov 254


Kesannya, "Jangan sangka aku akan menyerah,Boi" Ia mencoba lagi, dengan kedua tangannya, lalu terdengar suara kreekh .... Aku megap-megap dengan mata melotot serupa ikan terlempar dari akuarium. Aku tak dapat merasakan kakiku. Geraham itu pelan-pelan meninggalkan ragaku dan kesadaran pelan-pelan meninggalkan otakku. Samar-samar, di antara gemuruh tepuk tangan yang membahana, kudengar seseorang berteriak. Suaranya panjang, bergelombang-gelombang. "Bintang kejora...!" Lalu, aku semaput. Gelap ******** Ketika pingsan, aku tak sadar. Ahm bodoh sekali. Maksudku ketika pingsan, aku tahu bahwa aku sedang pingsan. Bodoh lagi. Ketika pingsan, pandangan mataku seperti menangkap sebuah danau: luas, diam dan dingin. Di satu sisi, sebagian indraku berfungai tapi di sisi lain, sesuatu yang asing menguasaiku. Aku hilang dalam gelap. Aku mencari-cari cahaya. Akhirnya, cahaya itu datang. Mulanya seperti rintik-rintik air hujan di atas danau tadi, lalu flash flash flash berulang-ulang disertai tawa berderai-derai. Aku kembali ke dunia fana. Yang pertama kulihat adalah sekelompok manusia bergaya di depan kamera yang menembakkan cahaya flash tadi. Mereka berpose penuh sukacita di depan brankar reyot tempatku terbaring. Tak seorang pun memedulikanku, malah tak ada yang peduli apakah aku, yang baru saja menjadi pahlawan gusi ini, tampak atau tidak oleh kamera. Ketua Karmun menjepit sebilah gigi dengan jarinya dan menyodorkannya ke dekat kamera. Dipamerkannya gerahamku itu seperti iklan puyer. Lalu, mereka berfoto lagi beramai-ramai sambil memandangi geraham itu, dengan penuh takzim. Aku yang meregang nyawa, hanya mereka jadikan latar belakang. Dokter Diaz mendekatiku. Ia membuka maskernya yang basah oleh keringat. Ia tersenyum. Senyum itu, Kawan, khas senyu kaum tabib. Itulah senyum dokter dan juga dukun, setelah sukses membereskan sebuah kasus. Terlebih, dilihat dari aspek mana pun, mengingat kondisi yang amat terbatar, odontektomi itu telah berhasil gilang-gemilang. Meski Dokter Diaz harus babak belur mengerahkan segenap tenaganya, tapi lihatlah ia sekarang. Lihatlah ia berdiri di situ berbinar-binar diwawancarai secara on Air oleh Mahmud Corong, seluruh tubuhnya, dari ujung rambut sampai ke ujung-ujung jari-jemari kakinya terbungkus kepompong kebanggaan. Kebanggaan atas profesi yang hebat: membebaskan umat manusia dari derita borok gigi. Momen ini mengejawantahkan penghormatan abadiku pada profesi dokter gigi. Sebab, ke mana pun kita berkelana di atas muka bumi ini, kita tak kan pernah menemui profesi dengan tiga kombinasi kualifikasi sekaligus seperti yang dimiliki seorang dokter gigi, yaitu kecerdasan otak, kecantikan wajah, dan tenaga kuli. Maryamah Karpov 255 Maryamah Karpov 256


Mozaik 71 Empat Puluh Enam Tahun AJAIB, kejadian di klinik gigi itu membuat seisi kampong jadi bersemangat. Semuanya serba menggairahkan. Hati setiap orang menjadi seeerah langit biru. Sehari setelah operasi gigi yang hebat itu. Doker Diaz dengan wajah berseri-seri, pagi-pagi sekali langsung menerima pasien keduanya. Maka pagi itu, pecah sudah mitos gaib peri tempayan khas Hokian dari tabib gigi A Put. Yang berarti pada Ketua Karmun telah berhasil membebaskau kampung kami dari zaman jahiliah perdukunan gigi. Ah, memang menyebalkan lelaki itu. Tembaga pendiriannya dan batu kepalanya, tapi ia adalah pemimpin berjiwa mulia tiada banding. Adapun lelaki satu itu, yang tergopoh-gopoh datang ke klinik gigi Dokter Diaz dan mencatatkan dirinya dalam sejarah klinik sebagai pasien kedua, dandanannya seperti seorang biduan akan naik panggung. Ia disambut seorang perawat yang bohai dan berdiri di ambang pintu dengan senyum terbaiknya. Karena kesuksesan operasi gerahamku, perawat yang semula diperbantukan di Puskesmas ditarik kembali ke klinik gigi. Perawat memperalakan lelaki itu masuk dengan gaya pramugari menawan permen. Dan ia diminta menulis namanya pada urutan kedua setelah nama lelaki ikal yang malang kemarin. Ia menyingsingkan lengan bajunya yang ketat dan menulis dengan mantap namanya: Hazbullah Zaitiin bin Yakub Zamzam. Kawan, ia tak lain tak bukan, adalah Bang Zaitun. Pada kolom pekerjaan diukir dengan sepenuh jiwa, profesi agungnya, Pemimpin Orkes Melayu Bumbu Tiga. Ya, sebagai bagian dari kegairahan kampung yang baru. Bang Zaitun meninggalkan profesinya sebagai sopir Bus Dendang Gembira Suka-Suka, lagi pula bus itu makin sering batuk dan jika ingin mogok, sesuka hatinya saja. Ia membentuk kembali formasi baru orkesnya, yang ia namai Orkes Melayu Bumbu Tiga, lantaran pemain gitarnya hanya bisa membawakan nada C, F, dan G. Aku menemani Bang Zaitun ke klinik. Sangkaku pasti kunjungannya ke klinik berhubungan dengan dua bilah gigi palsu enam putih yang dibanggakannya mati-matian itu. Gigi-gigi palsu akan segera menjadi legenda kampong. Atau mungkin, karena waktu memasang gigi palsu itu ia mencabuti dua gigi taringnya yang sehat, sekarang mulai timbul masalah. Tapi ternyata, perkaranya berbeda. Bagi pemain orkes seperti Abang, Boi ...,» katanya bijak. "Bayaran, nomor tiga. Penonton, nomor dua. Nada, nomor empat. Tapi penampilan, adalah nomor satu." Bang Zaitun mengeluarkan sisir yang sangat besar dari saku belakangnya dan merapikan jambulnya. Aku terpesona. Sayang seribu sayang. Pada masa mutakhir ini, semakin jarang kulihat pria Melayu mengantongi sisir di saku belakang celana. Selain kisah lanun penebuk, bahasa Sawang yang indah, acara berebut duit koin saat selamatan bayi, kebiasaan pria mengantongi sisir di saku belakang, tampaknya akan segera punah pula dari daratan Melayu. "Karena itulah, Boi...," bijak nian. "Abang ke sini bermaksud memasang kawat gigi! Pernah Abang lihat orang Jakarta memakainya, elok bukan buatan!" Tapi, bukankah usia Bang Zaitun sudah hampir lima puluh? Aku tak mau melukai hatinya. Bang Zaitun berdiri penuh gairah. "Dapatkah kau bayangkan, Boi?! Kawat itu berkombinasi dengan dua gigi omas putihku! Pasti aduhai, Boi!" Nah sekarang aku pahan. Bang Zaitun sama sekali tak mengerti bahwa kawat gigi bukanlah hiasan. Kawat gigi dipakai orang untuk membentuk formasi gigi dan ada batasan usia untuk keperluan ini. Seni, itulah satu kata untuk Bang Zaitun. Doter Diaz dengan senang hati menerima Bang Zaitun dan member penjelasan soal kawat gigi. Dan, ia tak ingin mengecewakan Bang Zaitun. Maka ia memberikan servis pembersihan karang-karang gigi Bang Zaitun. Diperlukan waktu hamper satu jam. Usai perawatan yang amat elegan itu, Bang Zaitun berlalu dengan tak berhenti tertawa hi... hi... hi.... Beliau menyampikan pada Dokter Diaz bahwa Bu Dokter akan selalu mendapat tempat duduk paling depan saban kali ada pertunjukan Orkes Melayu Bumbu Tiga. Hari berikutnva. Tak kalah istimewa. datanglah Tancap bin Seliman. Pada hari itu sendiri tak kurang dari empat pasien lain datang. Seminggu setelah aku ke klinik itu, A Put menutup praktik dukun giginya yang telah berumur hampir empat puluh enam tahun. Penutupan ditandai dengan upacara membakar uang-uang palsu dari kertas. Para pasien lamanya saling berpelukan. Jumiadi Setengah Tiang berlinang-linang matanya. Sementara itu, aku berpikir keras bagaimana minta maaf pada A Ngong. Akhirnya. kutemukan caranya. Pertama, kusampaikan pesan pada istrinya bahwa nanti malam aku akan berkunjung ke rumahnya. Maryamah Karpov 257 Maryamah Karpov 258


Waktu aku tiba, A Ngong telah menungguku. Ia duduk di bangku dan di belakang meja, di ruang tamu sekaligus ruang makan, dan sekaligus dapur keluarga Ho Pho miskin itu. Ia tak tersenyum sama sekali, tak mempersilahkan ku masuk. Wajahnya cemberut. Tubuhnya yang tambun makin tambun karena bengkak dan baret-baret disana sini akibat menyambut buah duren. Sialnya malam itu membayar janji dengan A Tong, angin ribut, sehingga banyak sekali buah duren yang harus disambuti A Ngong. Orang-ang Ho Pho yang jadi saksi taruhan itu konon tertawa sampai berguling-guling. Dengan perasaan tak enak, aku masuk saja dan lansung duduk di depan A Ngong yang gendut bergeming seperti patung Ganesha. "Ngong, maafkan aku." Ia diam saja. Alisnya saling menukik, mukanya kian masam. Kujelaskan bahwa ada satu keadaan force majeure, alias sebab kahar, alias suatu keadaan yang di luar batas kemampuanku untuk mengatasinya, yaitu rayuan A Ling, sehingga aku terpaksa ke klinik gigi. Dan bahwa, hal itu terjadi setelah aku menyampaikan informasi padanya, malah aku berusaha memberi tahunya kemudian, tapi terlambat. A Ngong masih muntab. Aku bangkit menuju dapur, menghidupkan api, dan menjerang air. A Ngong mengikuti gerak gerikku masih jengkel. Air mendidih, kukeluarkan bungkusan kecil dari tasku. Kuambil cangkir, kuseduh kopi. Kuhidangkan di depannya. "Spesial untukmu, Ngong” Ragu-ragu mulanya ia, tapi melirik-lirik bungkusan kopiku dan mendengus-dengus, Masih malu juga, tapi berusaha mengendus aroma kopi yang berasap dari cangkirnya. Ia tahu, kopiku adalah kopi asli dari gunung. Perlu waktu tak kurang dari seminggu aku mengosengnya, menggilingnya, mengosengnya lagi, lalu menggilingnya lagi, menambahi racikan cengkeh, kayu manis, sedikit ketumbar dan daun salam agar mendapatkan kopi nan isrimewa. A Ngong paham. aku berusaha keras untuk itu, tanda aku berusaha keras minta maaf. Tak sanggup menanggung godaan kopi, ia menjulurkan tangannya ke telinga cangkir, mengangkatnya, dan menghirup kopi dengan syahdu. Lalu. ia tersenyum. Ia bangkit dan memegang daun telingaku. Perseteruan kami, berakhir dengan damai. Berbeda dengn kisah Mahmuddin Pelupa. Jelas-jelas ia kalah taruhan karena aku bersedia ke klinik, tapi seperti biasa, mati-matian ia berkelit dari tuntutan. Namun, ia tak berkutik waktu Munawir Benta Buruk memperlihatkan fotonya, yang nyengir sambil mengangkat buku register taruhan di antara empat saksi, jepretan Karim Kodak tempo hari. "Aduh, maaf Kawan, kali ini kalian benar, akulah yang lupa." Setahuku, baru kali ini Mahmuddin mengaku bahwa ia lupa. Maka berdasarkan perjanjian dengan Munawir Berita Buruk, tugas mengumumkan orang meninggal dilungsurkan sementara pada Mahmuddin. Munawir mau cuti dulu untuk momperbaiki mood-nya yang mendung karena kepergian seteru sekaligus sahabat karib Leo Mi. Sepasti miskinnya negeri ini, kematian tak terbendung. Belum lama mengemban amanah dari Munawir, Muktamar bin Mustofa Karmun wafat. Dalam usia relatif muda: empat puluh lima tahun. Malang nian retak takdir Muktamar sang juru tebang. Jika ada pohon kemiri atau sempret yang rapuh dekat rumah, atau kelapa yang kian condong mengamcam dapur, Muktamar dipanggil warga. Pekerjaan itu berisiko tinggi dan memerlukan keahlian luar biasa. Jika salah tebang, pohon bisa menghantam rumah atau membahayakan jiwa. Jasa Muktamar sering dimanfaatkan Meskapai Listrik atau Meskapai Timah untuk membereskan dahan-dahan liar yang mengganggu kawat-kawat listrik mcreka di pinggir jalan. Muktamar naik pohon menyandang parang dan melilitkan tali di pinggangnya. Lihai bukan main. Kecepatan panjatnya sepiawai beruk, keahlian gelantungnya sehebat lutung. Tapi, barangkali nasib Muktamar memang melingkar di pokok-pokok pohon. Pagi tadi, pulang buang air di hutan, ia wafat akibat sebatang pohon jambu bol tua tumbang dan menghantamnya. Ia wafat di tempat. Jambu bol itu bukan pohon yang sedang ditebangnya. Yang berwenang mengurusi administrasi orang meninggal di masjid tak lain Taikong Hamim, salah seorang dari tiga petinggi trias politika kedaulatan masjid yang amat berkuasa, selain Modin Mahligai dan Mandor Djuasin. Taikonglah yang bertanggiuig jawab memverifikasi informasi sebelum diudarakan, dan Taikong mafhum betul bahwa Mahmuddin itu parah pelupanya. "Din, kuulangi lagi, namanya Muktamar bin Mustafa Karmun. Usianya empat puluh lima tahun. Musabah wafatnya tak perlulah diumumkan, tak pernah masjid mengumumkan soal itu. Tanamkan itu kuat-kuat dalam kepalamu, Din. Jangan kau lupa. Gawat kita nanti. Kalimat itu telah diulangi Taikong dengan cermat sebanyak lima kali. “Mana mungkin aku lupa. Kong, ini perkara terang yang sederhana. Aku tak pernah lupa, kalianlah yang sering lupa." Sebenarnya Taikong ingin mengulanginya lagi, dan sejatinya ia Maryamah Karpov 259 Maryamah Karpov 260


bermaksud mengulanginya paling tidak tujuh kali. Sebab, ada kepercayaan kuno orang Melayu, jika seorang anak dibilangi tiga kali dan masih saja melakukan hal yan dilarang maka si anak disebut nakal. Dan jika dibilangi tujuh kali masih saja nakal maka si anak disebut gila. Karena Mahmuddin adalah manusia waras, Taikong akan merasa puas meski saat mengumumkan nanti Mahmuddin keliru sebab ia telah mengingatkan Mahmuddin seperti mengingatkan orang gila. Tak ada lagi yang bisa dilakukannya lebih dari itu. Namun, Mahmuddin menunjukkan wajah jengkel dan tak terima diingatkan terus seperti anak kecil. '"Kong, aku bisa melakukannya jauh lebih baik daripada Munawir. Awak ni orang pintar, lebih pintar daripada Munawir." Mahmuddin tamat SD Munawir Berita Buruk tak pernah sekolah. Apa susahnya, mengumumkan saja. Pekerjaan ini terlalu gampang untuk orang berijasah." “Yakinkah kau, Din? Kalau salah, nanti aku tak mau ditalahkan, berbusa-busa sudah mulutku mengajarimu." Suara Mahmuddin tinggi. "Haqqul yakin Kong. Tangan mencincang bahu memikul, jika nanti salah, akulah yan kan menanggung salah, bukan Taikong!" Melihat Mahmuddin jengkel, Taikong senang. Hanya orang itu ia bisa meyakinkan dirinya bahwa Mahmuddin ingat. Taikong berlalu. Belum jauh, sebab kliningan sepedanya masih terdengar waktu Mahmuddin naik mimbar. "Percobaan ... percobaan ... satu dua ... satu dua .... "Percobaan mik ... satu dua ...." Lalu, menggelegarlah suaranya seantero kampung melalui pengeras- pengeras suara TOA ke empat penjuru angin di puncak menara masjid. "Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuuuhhh ............. "Innalillahi Wainnailaihi Rojiuuuuuuuunnnn ...." Jika mendengar dua kalimat itu dari corong masjid, biasanya seisi kampung terpaku menyimak. Senyap. Lantaran dalam kampung yang kecil, orang saling bertalian darah atau paling tidak saling kenal. Maka berita wafat menjadi sangat penting. Apa pun yang sedang dikerjakan dilepaskan. Yang berkendara naik motor berhenti- mematikan mesin. Mobil umum pun berhenti dulu-mematikan mesin. Semua yang berbunyi keras dimatikan, misalnya mesin bubut, mesin parut, atau alat pemutar VCD di kaki lima. Orang-orang di rumah mengecilkan suara radio. Para guru, pegawai kantor desa, pegawai kantor KUA keluar dari ruangan menuju halaman untuk mendengar Pengumuman duka. Pengunjung warung kopi melakukan gencatan tengkar politik mereka sebentar dan menunduk seperti orang mengheningkan cipta. Dan rupanya, Mahmuddin memang sangat cocok menggantikan Mimawir sebab suaranya jauh lebih nyaring dan lantang. "Saudara-saudaraaaaaa Membahana bak sangkakala hari kiamat. "Telah meninggal dunniaaaaaa .... "Ketuaaa Karmuuuuunnnnnn .... "Dalam usia lima pnluh empat tahuuuunnn .... “Karena ditimpa pohon jambu booooolll ...." Sontak, seisi kampung tersentak. Ketua Karmun, kepala kampung yang amat kami sayangi meninggal secara tragis ditimpa pohon jambu bol. Orang- orang Sawang histeris. Orang-orang bersarung menangis. Orang-orang Tionghoa pemilik mesin-mesin parut menutup mulutnya, terperanjat tak percaya. Ibu-ibu guru terduduk lemas di halaman-halaman sekolah. Mereka meratap-ratap memanggil nama Ketua Karmun. Sampai ada yang pingsan. Pasien yang sedang antre di bangku Puskesmas memukuli kepala mereka sendiri, ada yang meraung-raung. Para pegawai kantor desa tertegun tak dapat berkata-kata. Air mata mereka berlinang-linang. Taikong Hamim yang tengah bersepeda tanpa sadar menikung, lalu tertungging ke dalam parit. Ratusan orang di warung-warung kopi menghambur keluar demi mendengar berita yang menyengat itu. Mereka seakan tak percaya. “Mana mungkin!” teriak Mastahaq Davidson "Baru tadi pagi Ketua minum kopi denganku!" Lalu, ratusan orang meraih sepedanya dan berbondong-bondong ke masjid. Sampai di masjid, Mahmuddin dengan wajah amat berduka, tapi sangat tenang sedang mengunci pintu masjid. Orang banyak bergegas menyongsongnya. "Din, apa betul Ketua Karmun meninggal?!" Mahmuddin menunduk pilu. "Itulah yang terjadi, Kawan." "Tapi tadi pagi Ketua masih segar bugar." Mahmuddin menjawab santai, tanpa rasa bersalah. "Kelahiran, nafkah, jodoh, dan kematian adalah rahasia Ilahi. Kuasa mutlak Tuhan. Schat walafiat sekarang sejam lagi bisa mati tertungging." Orang-orang jengkel. Maryamah Karpov 261 Maryamah Karpov 262


"Mana mungkin, Din! Kau pasti salah!" Apalagi pada saat bersamaan, tibalah Saderi Karbon dari kantor desa yang mengatakan bahwa bos Ketua Karmun tengah asyik membaca novel Kho Ping Ho seri Sitting Emas Naga Siluman. Orang-orang tambah muntab. "Nah, Din! Dengar itu, kau keliru!" Mahmuddin masih kalem saja. "Kawan, aku hanya mengemban amanah daripada Badan Kemakmuran Masjid untuk mengumumkan kabar duka. Bukan aku yang mengurusi administrasi. Bukan aku yang mencabut nyawa orang. Taikong menyuruhku mengumumkan begitu, ya kuumumkan persis kehendaknya. Kalau kalian ingin mnnyalahkan, salahkan saja malaikat maut dan Taikong Hamim sana." Puisi Dan tiba-tiba hari-hariku berubah menjadi puisi Semilir dipagi hari Meriang jika siang Pecah, serupa ombak-ombak pasang kalau malam Mozaik 72 P U I S I YANG paling bahagia dari yang terbahagia tentu saja aku. Saban sore aku berkunjung ke kawasan pasar ikan, ke rumah Chung Fa, untuk mcngunjungi A Ling. Setiap melihat wajahnya, waktu seakan surut, tertarik ke belakang. Aku kembali menjadi remaja belasan tahun. Hidup dan cinta terdefinisikan ulang pada pengertiannya yang paling mula-mula: sederhana, indah tak terperi, gugup. Cinta rupanya dapat menisbat waklu, hingga tak berarti. Jika aku mengunjunginya sore-sore, hanya azan magrib yang dapat menarikku dari bangku panjang, di bawah pohon kersen, di depan beranda rumah Chung Fa. Berlama-lama aku berbincang dengan A Ling, dan tiba-tiba, bahkan soal ember bocor; menjadi sangat penting. Kukayuh sepedaku meninggalkannya pulang, tapi selalu kuulangi momen ajaib itu, yakni, aku menoleh ke belakang dan ia masih berdiri di situ, tersenyum padaku. Setelah itu, waktu kembali menunjukku sifatnya yang anibigu. Ketika aku dekat-dekat A ling, ia singkat dan bersahabat. Ketika aku jauh dari perempuan itu, dalam gelap yang larat hingga dalu, sang waktu menyiksaku dengan rindu. Ia memuai menjadi panjang, berujung satu titik cahaya yang tak kuasa kugapai-gapai sepanjang malam. Cahaya itu: senyum A ling tadi sore. Perasaan senang menusuk-nusukku dari berbagai penjuru. Aku dapat merasa sangat senang hanya lantaran melihat peneng sebuah sepeda, tak tahu sepeda siapa, yang tahunnva sama dengan tahun peneng sepeda A Ling. Pelajaran moral nomor sembilan belas dari dua kejadian di atas: cinta, bisa saja berbanding terbalik dengan waktu, tapi pasti berbanding lurus dengan gila. Yang paling mengesankan adalah mencatut uang belanja ibu, lalu membeli kupon atensi @Rp500,00 di radio dangdut AM Suara Pengejawantahan. Saking banyak yang minta diputarkan lagu, radio itu memasang harga Rp500,00 per lagu. Kuponnya pun harus dipesan paling tidak tiga hari sebelumnya. Aku selalu mengirim lagu lama nan aduhai Bunga Seroja untuk seseorang yang telah punya nama udara Putri Tiongkok. "Tembang inih ...," kata Mahmud Corong dengan gaya khasnya. "Dipersembahkan dengan segenap jiwah pada Putri Tiongkok nun di pasar ikan. Terlampir salam manis deg-degan dari pendengar setia kamih sepanjang masah . .. Pendekhar Ikal, bukan begituh, Pendekhar Ikal?" Oh, syahdu sekali. Hatiku mengembang. Bunga Seroja mengalir pelan. Maryamah Karpov 263 Maryamah Karpov 264


Aku serta-merta menyita kursi malas Ayah, duduk di situ bergoyang-goyang seirama lagu. Kubayangkan A Ling, mendengarkan kiriman laguku untuknya. Apakah ia tersenyum? Apakah ia, yang sedang menyiangi genjer mungkin, berdiri sebentar untuk mendekati radio? Apakah mengatakan pada dirinya sendiri betapa ia merindukanku? Semua pikiran itu adalah cara yang amat memesona untuk melewatkan hari, dan segera kupahami racun terindah dari cinta adalah imajinasi, tak lain imajinasi. ********** Hari berganti-ganti. Ramadhan pun tiba. Orang-orang tua yang mengerutkan keningnya melihat tingkah polah anak-anak muda Melayu yang pulang dari rantau untuk merayakan Lebaran segera menegakkan disiplin yang keras .u»cii anak-anak itu kembali ke jalan yang benar. Adalah ide ibuku agar tarawih sebelas rakaat dinaikkan menjadi dua puluh tiga rakaat. Mendekati rakaat kedua puluh, pemuda-pemuda yang imannya makin tipis digores kota besar, termasuk aku tentu saja, mulai berkeluh kesah. Kepala pening sebab kebanyakan rukuk dan sujud, Makin menderita lantaran Taikong Hamim tak pernah membaca ayat-ayat pendek, Yang paling membuatku gelisah, setiap pukul Sembilan malam aku berjanji berjumpa dengan A Lin di pekarangan kelenteng. Masalahnya, Ibu sendiri yang memerintahkanku agar berdiri di saf lelaki paling belakang sehingga ia dapat mengawasiku dengan ketat. Berhari-hari aku tak berkurik, terkunci di masjid, tarawih dua puluh tiga rakaat. Kuminta pendapat Mahar dan ia memberikan ide yang sangat brilian. Kami membelikan Harun sahabat lama Laskar Pelangi sarung dan pakaian yang sama persis dengan sarung dan baju takwaku. Harun senang tak kepalang. Menjelang tiga rakaat witir terakhir, Harun menggantikan posisiku. Mata ibu yang tak awas karena usia tak menduga siasat ini. Aku kabur lewat jendela, menunda witirku dan melesat lintang pukang naik sepeda menuju kelenteng. Hanya untuk menemui A Ling beberapa menit saja. Love will find away, kata para lirikus, aku setuju tanpa syarat. Sabtu sore, bak sejoli camar, aku dan A Ling bersampan dari bawah jembatan Linggang sampai ke muara. Malamnya kami mengunjungi pasar malam: tong setan dan komidi putar dari Indramayu di Padang Bulan. Kami membeli belasan karcis agar tak turun dari beranda ajaib itu. Minggu siang kami bersepeda Aku memboncengkannya menerabas sabana dan gulma-gulma, hanya kami berdua dalam lautan irama alam. Melalui tanjakan Bukit Selumar ia bertanya “Haruskah aku turun, Ikal?" Akupun menjawab, “Tidak perlu, A Ling, tidak perlu sama sekali” Nah Kawan tanjakan Bukit Selumar ini bukan sembarang. Jalanan ini bak naik gunung saja. Sebenarnya aku lelah sekali, sampai pening kepalaku Tapi, stang sepeda kurengkuh kuat-kuat, tubuh kurundukkan dan kutumpukkan ke kanan jika aku mengayuh pedal kanan dan sebaliknya ke kiri jika mengayuh pedal kiri. Bergoyang-goyang, seperti pendayung kayak. A Ling membunceng di termpat duduk belakang sepeda dan berkali-kali menanyakan apakah aku masih kuat. Aku pun tak tahu, bagaimana aku bisa sekuat itu. Sampai di Pasar Manggar, keringatku bercucuran. Ia memandangku sambil tersenyum dan mengucapkan sesuatu yang membuat dunia ini rasanya berputar dan matahari berpijar-pijar. "Curi aku dari pamanku,” katanya. Maryamah Karpov 265 Maryamah Karpov 266


Mozaik 73 Komedi Putar LAMA bergaul dengan orang-orang Ho Pho, aku sodikit banyak paham metafor mereka. Jika seorang perempuan Ho Pho meminta seorang lelaki mencuri dirinya dari keluarganya, itu artinya ia bersedia dipinang. Langsung kusampaikan pada Chung Fa. Ia senang, Katanya, ia tak kan menghalangiku. Sepanjang malam tak dapat kupicingkan mata untuk tidur Karena untuk kali pertamanya dalam hidupku, aku disergap oleh satu kata sakti mendraguna yang tak terbilang banyaknya mengubah hidup orang di muka bumi. Dadaku berubah menjadi kaleng, dan kata itu menjelma menjadi tawon yang terjebak berdengung-dengung dalam kaleng itu. Kata nan sakti itu adalah: menikah. Terlalu cepatkah ini? Tidak bukankah aku telah mencintai perempuan Ho Pho itu seumur hidupku? Terlalu besarkah rencana ini schingga aku tak mampu menanganinya? Tapi aku telah mengalami demikian banyak hal besar dalam hidupku, tak pernah aku sampai tak bisa menggambarkan perasaanku seperti sekarang. Ketika ia hilang tak tahu rimbanya, aku juga telah mencarinya seakan seumur hidupku. Kata menikah benar-benar membuatku gugup. Karena terlalu besar cinta, demikian besar, sehingga sulit kupercaya kata ajaib itu akhirnya menghampiriku. Aku dilanda perasaan senang yang tak terjelaskan. Khayalan-khayalan fantastik tentang menikah dan rumah tangga menyerbuku. Aku telah jadi orang yang berbeda. Sungguh dahsyat akibat dari ide menikah ini. Di dalam kepalaku sekarang ada gambar-gambar misalnya foto keluarga, beranda rumah, perempuan hamil, suara anak kecil, cangkir teh, orang sedang menyiram bunga, aneh, lucu, tapi indah. Aku menatap mata A Ling dalam-dalam. Ia melihatku dengan cara bahwa ia tahu aku tak mungkin kehilangan dirinya, dan ia tahu, bahwa dalam matanya itu, aku telah menemukan diriku sendiri, seorang lain yang pula telah kucari-cari sepanjang hidupku. Sekarang aku sampai pada satu titik pemahaman bahwa dari seluruh lika-liku hidupku, untuk perempuan inilah aku telah dilahirkan. Jarak antara kedua matanya adalah bentangan titik zenit dan nadir ekpedisi hidupku. Di dalam kedua mata itu, petualanganku menempuh benua demi benua, menyeberangi samudra, arungi packing, dan melawan angin, telah mencapai Tujuannya. Aku jatuh cinta, sungguh jatuh cinta. Kini tak, hal lain yang kuinginkan selain mencari nafkah dekat-dekat rumah saja, lalu segera pulang untuk perempuan ini, seseorang yang aku ingin memakai namaku di belakang namanya, seseorang yang ingin kulihat kali terakhir jika aku berangkat tidur dan kulihat kali pertama jika aku bangun. ************ Seperti Seperti puisi yang kautuliskan Seperti nyanyi yang kaulantunkan Seperti senyum yang kausunggingkan Seperti pandang yang kerlingkan Seperti cinta yang kauberikan Aku tak pernah, tak pernah merasa cukup ************ BERHARI-hari baru dapat kuendapkan letupun perasaan yang melambungkan itu. Aku kemudian menjumpai kerabat-kcrabat terdekat Semuanya sepakat dan mengatakan bahwa aku akan sebahagia sepupu jauhku Arai sekarang. "Sudah tiba waktumu, Bujang, menetaplah, mcncari nafkah, berkeluarga, mulia sekali," ujar bibiku yang terharu sampai berurai-urai air matanya. Seminggu setelah A Ling mengatakan agar aku mencurinya dari pamannya, malam itu, kami berjanji berjumpa di pasar malam untuk naik komidi putar. Malam itu pula aku akan menyampaikan rencanaku pada ayahku. Aku berjanji untuk menyampaikan kabar gembira pada A Ling nanti jika kami bertemu di pasar malam. Usai magrib yang senyap, Ayah duduk di kursi malasnya. Sepi. Aku menghampirinya. Ia bangkit dari kursinya. Hanya kami berdua di ruangan yang diterangi cahaya lampu minyak. Dengan hati-hati kusampaikan pada Ayah bahwa aku sudah berbicara dengan keluarga perempuan Ho Pho itu. Dengan amat ccrmat pula kumohon agar Ayah sudi mengizinkanku meminangnya. Kami berdiri mematung dalam jarak beberapa depa. Tiba-tiha senyap menyergap ruangan dan tubuhku dingin melihat Ayah rnemandangku Maryamah Karpov 267 Maryamah Karpov 268


penuh kesedihan. Ayah bergetar-getar. Ia seperti tak mampu menanggungkan perasaanma. Air matanya mengalir pelan. Napasku tercekat dan aku seolah akan runtuh karena dari pantulan cahaya lampu minyak aku melihat wajah ayahku. Matanya kosong, wajahnya pias, aku tahu, aku tahu makna wajah Ayah, bahwa ia mengatakan tidak. Aku terkesiap Ayah yang tak pernah mengatakan tidak untuk apa pun yang kuminta. Ayah, yang mau memetikkan buah delima di bulan untukku, telah mengatakan tidak, untuk sesuatu yang paling kuinginkan melebihi apa pun. Ayah mengepalkan tangannya erat-erat untuk menguatkan dirinya. Air matanya mengalir deras sampai berjatuhan ke lantai. Tak pernah seumur hidupku melihatnya menangis. Aku tak mampu berkata-kata. Ruh seperti tercabut dari jasadku. Aku terkulai. ************ AKU membawa apa pun yang dapat kubawa dalam sebuah karung kecampang. Lapangan Padang Bulan telah kosong ketika aku tiba. Pasar malam telah redup, komidi tak lagi berputar, lampu-lampunya telah dimatikan. Yang terdengar hanya suit angin. Di tengah hamparan ilalang, A Ling berdiri sendirian menungguku. Kami hanya diam, tapi A Ling tahu apa yang telah terjadi. Ia terpaku lalu luruh. Ia bersimpuh dan memeluk lututnya. Matanya semerah saga. Ia sesenggukan sambil meremas ilalang tajam. Seakan tak ia rasakan darah mencucur di telapaknya. Ia menarik putus kalungnya, menggulung lengan bajunya dan memperlihatkan rajah kupu-kupu hitam di bawah sinar bulan. Kukatakan padanya bahwa aku tak kan menyerah pada apa pun untuknya dan akan ada lagi perahu berangkat ke Batuan. Kukatakan padanya, aku akan mencurinya dari pamannya dan melarikannya. Aku akan membawanya naik perahu itu dan kami akan melintasi Selat Singapura. Perlahan awan kelabu di langit turun menjadi titik gerimis. Butirnya yang lembut serupa tabir putih menyelimuti tubuh kami. ******** TAMAT ******** Maryamah Karpov 269


Click to View FlipBook Version