BOOK
v
KONSEP PENDIDIK DAN
PESERTA DIDIK DALAM
PENDIDIKAN AGAMA
ISLAM
KONSEP PENDIDIK DAN
PESERTA DIDIK DALAM
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Disusun untuk memenuhi mata kulaih Media dan Teknologi pemebelajaran PAI
Dosen Pengampu: Dr. Mohammad Djamil M Nur, M.Pd.I.
Oleh Tirta Juliani (1911010091)
Semester 5
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN (FTIK)
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) DATOKARAMA PALU
2021
1
KATA PENGANTAR
بسن هللا الرحهن الرحيم
Alhamdulillah Puji Syukur atas kehadirat Allahﷻ. yang telah melimpahkan
Rahmat, Hidayah dan Inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan
Buku dengan judul “Konsep Pendidik dan Peserta didik dalam Pendidikan Agama Islam .
Salawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw beserta
para sahabat dan keluarganya.
Namun tidak lepas dari semua itu, penulis menyadari bahwa masih terdapat
kekurangan baik dari segi penyusunan Bahasa dan aspek lainnya. Oleh karena itu,
dengan lapang dada penulis membuka selebar-lebarnya pintu bagi para pembaca yang
ingin memberi saran maupun kritik demi memperbaiki. Semoga dari Buku ini dapat
diambil manfaatnya dan dapat menginspirasi serta dapat menjadi bahan belajar untuk
para pembaca .
2
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ……………………………………….................. 2
DAFTAR ISI ………………………………………………………...... 3
A. Pendidik dalam Perspektif Pendidikan Islam .............................. 4
1. Konsep Pendidik .............................................................................. 4
2. Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam ................................... 6
3. Karakteristik dan Kompotensi Pendidik Dalam pendidikan
Islam........................................................................................................ 7
B. Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam........................................ 11
1. Makna Peserta Didik ...................................................................... 11
2. Tugas dan Kewajiban Peserta Didik .............................................. 14
3. Sifat-Sifat Ideal Peserta Didik ...................................................... 14
PENUTUP ............................................................................................ 16
DAFTAR PUSTAKA …………………………………….................. 17
3
A. Pendidik dalam Perspektif Pendidikan Islam
1. Konsep Pendidik
Dalam konteks pendidikan Islam "pendidik" sering disebut dengan
"murabbi, Mu'alim, mu'addib". Ketiga terma tersebut mempunyai penggunaan
tersendiri menurut peristilahan yang dipakai dalam "Pendidikan dalam konteks
Islam".
Pendidik adalah salah satu unsur penting dari proses kependidikan. Di
pundak pendidik terletak tanggung jawab yang amat besar dalam upaya
mengantarkan peserta didik ke arah tujuan pendidikan yang di cita-citakan.
Hal ini disebabkan pendidikan merupakan cultural transition yang bersifat
dinamis ke arah suatu perubahan secara kontinu, sebagai sarana vital bagi
membangun kebudavaan dan peradaban umat manusia. Dalam hal ini, pendidik
bertanggung jawab memenuhi kebutuhan peserta didik, baik spritual, intelektual,
moral, estetika maupun kebutuhan fisik peserta didik.
Secara umum, pendidik adalah orang yang memiliki tanggung jawab
untuk mendidik.1 Sementara secara khusus pendidik dalam perspektif pendidikan
Islam adalah orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta
didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik
potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan nilai-nilai ajaran
Islam.2
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat dipahami bahwa pendidik
dalam perspektif pendidikan Islam ialah orang yang bertanggung jawab
terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar
mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas
kemanusiannya baik sebagai khalifah fi al-ardh dan„abd sesuai dengan ajaran
Islam. Oleh karena itu pendidik dalam konteks ini bukan hanya terbatas pada
orang-orang yang bertugas di sekolah, tetapi semua orang yang terlibat dalam
proses pendidikan anak mulai sejak alam kandungan hingga ia dewasa, bahkan
sampai meninggal dunia.
1 Ahmad D. Marimba, Pengertian Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : al-Ma’rif,1989),
h.37.
2 Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam, (Bandung Remaja Rosdakarya,
1992), h. 74.
4
Islam mengajarkan bahwa pendidik pertama dan utama adalah orang tua
sendiri yang bertanggung jawab terhadap perkembangan anak kandungnya
(peserta didik). Firman Allah Swt :
Terjemahnya
“Hai Orang-orang yang berirnan,keluargainu dan api neraka..." (Q.S.
66:6)
Mengingat keterbatasan orang tua dalam memberikan pendidikan di
rumah karena harus mencari nafkah untuk memenuhi seluruh kebutuhan
keluarga maka orang tua kemudian menyerahkananaknya kepada pendidik di
sekolah (murrabi,mu‟alim atau mu‟adib) untuk mendidik. Para pendidik.
merupakan orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan jasmani dan
rohani anak.
Dalam terminologi pendidikan modern, para pendidik ini disebut orang
yang memberikan pelajaran kepada anak didik dengan memegang satu disiplin
ilmu tertentu di sekolah. Selain itu, semua orang yang terlibat dalam proses
pendewasaan anak melalui pengembangan jasmani dan rohaninya selain orang
tua dan guru di sekolah, dalam konsep Islam adalah pendidik.Demikian pula
dalam pandangan Islam, pendidik mempunvai kedudukan tinggi sebagaimana
yang dilukiskan dalam hadis nabi Saw, bahwa "Tinta seorang ilmuan (ulama)
lebih berharga dari pada darah para Syuhada". Bahkan Islam menempatkan
pendidik setingkat dengan derajat seorang Rasul. Syauki bersyair :
. كاد املعلم أن يكون رسوال# قم للمعلم وفه التبجيل
"Berdiri dan homatilah guru dan berilah penghargaan, seorang guru itu
hampir saja menupakan seorang rasul".3
3 Muhammad Athiyah Al-Abrasy, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta : Bulan
Bintang, 1987), h.135.
5
2. Tugas Pendidik Dalam Pendidikan Islam
Dalam Islam, tugas seorang pendidik di pandang sebagai sesuatu
yang sangat mulai. Posisi ini menyebabkan mengapa Islam menempatkan
orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan lebih tinggi
derajatnya bila di bandingkan dengan manusia lainnya. (Q.S. al-
Mujaladah/58:11).
Hujjatul Islam Imam al-Gazali mengemukakan bahwa tugas utama
pendidik adalah, menyempurnakan, membersihkan, menyucikan, serta
membawakan hati manusia untuk bertaqarrub kepada Allah Swt. Hal
tersebut karena pendidikan adalah upaya untuk mendekatkan diri kepada
Allah. Berkenaan dengan konsep ini, an-Nahlawi menyimpulkan bahwa
selain bertugas mengalihkan berbagai pengetahuan dan keterampilan
kepada peserta didik, tugas utama yang perlu di lakukan pendidik adalah
tazkiyah an-nafs, yaitu mengembangkan, membersihkan, mengangkat
jiwa peserta didik kepada Khaliqnya, menjauhkan dari kejahatan, dan
menjaganya agar tetap berada fithrah-Nya yang hanif.4
Secara umum, tugas pendidik adalah mendidik. Dalam
operasionalisasinya, mendidik merupakan rangkaian proses mengajar,
memberikan dorongan, memuji, menghukum, memberi contoh,
membiasakan, dan lain sebagainya. Batasan ini bukan hanya sekedar
mengajar sebagaimana pendapat kebanyakan orang. Di samping itu,
pendidik juga bertugas sebagai motivator dan fasilitator dalam proses
belajar mengajar, sehingga seluruh potensi peserta didik dapat
teraktualisasi secara baik dan dinamis.Menurut Ahmad D. Marimba, tugas
pendidik dalam pendidikan Islam adalah membimbing dan mengenal
kebutuhan atau kesanggupan peserta didik, menciptakan situasi yang
kondusif bagi berlangsungnya proses kependidikan, menambah dan
mengembangkan pengetahuan yang dimiliki guna ditransfor-masikan
4 Abd. Rahman an-Nahlawi, Prinsip-Pronsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung :
CV. Diponegoro, 1992), h. 239.
6
kepada peserta didik, serta senantiasa membuka diri terhadap seluruh
kelemahan atau kekurangannya. 5Sementara dalam batasan lain, tugas
pendidik dapat dijabarkan dalam beberapa pokok pikiran, yaitu:
a. Sebagai pengajar (instruksional) yang bertugas merencanakan
program yang di susun, dan akhirnya dengan pelaksanaan penilaian
setelah program tersebut dilaksanakan.
b. Sebagai pendidik (educator) yang mengarahkan peserta didik pada
tingkat kedasaan kepribadian sempurna (insan kamil), seiring dengan
tujuan penciptaan-Nya
c. Sebagai pemimpin (managerial) yang memimpin, mengendalikan diri
(baik diri sendiri, peserta didik, maupun masyarakat), upaya
pengarahan, pengawasan, pengorganisasian, pengontrolan, dan
partisipasi atas program yang di lakukan.
Berdasarkan uraian-uraian di atas. maka dapat disimpulkan bahwa
tugas pendidik dalam Islam ialah mendidik muridnya, dengan cara
mengajar dan dengan cara-cara lainnya, menuju tercapainva
perkembangan maksimal sesuai dengan nilai-nilai Islam.
3. Karakteristik dan Kompotensi-Kompotensi Pendidik Dalam
Pendidikan Islam.
Dalam pendidikan Islam, seorang pendidik hendaknya memiliki
karakteristik yang dapat membedakannya dari yang lain. Dengan
karakteristiknya, menjadi ciri dan sifat sekaligus sebagai syarat yang akan
menyatu dalam seluruh totalitas kepribadiannya. Totalitas tersebut
kemudian akan teraktualisasi melalui seluruh perkataan dan perbuatannya.
Dalam hal ini an-Nahlawi membagi karakteristik pendidik muslim kepada
beberapa bentuk yaitu :
a. Mempunyai watak dan sifat rabbaniyah yang terwujud dalam
tujuan, tingkah laku, dan pola pikirnya.
b. Bersifat ikhlas, melaksanakan tugasnya sebagai pendidik semata-mata
5 Ahmad D. Marimba, Op. Cit., h. 39.
7
untuk mencari keridhaan Allah dan menegakkan kebenaran.
c. Bersifat sabar dalam mengajarkan berbagai pengetahuan kepada
pesertadidik.
d. Jujur dalam menyampaikan apa yang diketahuinya
e. Senantiasa membekali diri dengan ilmu, kesediaan diri
untuk terus mendalami dan mengkajinya lebih lanjut.
f. Mampu menggunakan metode mengajar secara bervariasi, sesuai
denganprinsip-pnnsip penggunaan metode pendidikan.
g. Mampu mengelola kelas dan peserta didik, tegas dalam bertindak
danprofessional.
h. Mengetahui kehidupan psikis peserta didik.
i. Tanggap terhadap berbagai kondisi dan perkembangan dunia yang
dapatmempengaruhi jiwa, keyakinan atau pola berfikir peserta didik.
j. Berlaku adil terhadap peserta didiknya.6
Sementara dalam kriteria yang sama, al-Abrasy memberikan
batasantentang karakteristik itu adalah :
a. Seorang pendidik hendaknya memiliki sifat :zuhud, yaitu
melaksanakan tugasnya bukan semata-mata karena materi, akan tetapi
lebih dari itu adalah karena mencari keridhaan Allah Swt.
b. Seorang pendidik hendaknya bersih fisiknya dari segala macam
kotoran dan bersi jiwanya dari segala macam tercela.
c. Seorang pendidik hendaknya ikhlas dan tidak ria dalam melaksanakan
tugasnya.
d. Seorang pendidik hendaknya bersikap pemaaf dan memaafkan
kesalahan orang lain (terutama terhadap peserta didiknya), sabar dan
sanggup menahan amarah, senantiasa membuka diri dan menjaga
kehormatannya.
e. Seorang pendidik hendaknya mampu mencintai peserta didiknya
sebagaimana is mencintai anaknya sendiri.
6 Abd. Rahman an-Nahlawiy, op. cit., h. 239-246
8
f. Seorang pendidik hendaknya mengetahui karakter peserta didiknya,
seperti ; pembawaan, kebiasaan, perasaan, dan berbagai potensi yang
dimilikinya.
g. Seorang pendidik hendaknya menguasai pelajaran yang diajarkannya
denganbaik dan professional.7
Dari batasan kriteria karakteristik di atas, terlihat jelas bahwa
menjadi seorang pendidik tidaklah mudah. Ia menghendaki persyaratan
tertentu yang perlu dipenuhi sebelum profesi tersebut diketahuinya.
Dari uraian ini pula, dapat dipahami bahwa pendidikan Islam yang
profesional harus memiliki kompetensi - kompetisi sebagai berikut :
a. Penguasaan materi al-Islam, yang komprehensif serta wawasan dan
bahan pengayaan, terutama pada bidang-bidang yang menjadi tugasnya.
b. Penguasaan strategi (mencakup pendekatan, metode dan teknik)
pendidikan Islam, termasuk kemampuan evaluasinya. Penguasaan ilmu
dan wawasan kependidikan.
c. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil penelitian
pendidikan pada umumnya guna keperluan pengembangan
pendidikan Islam.
d. Memiliki kepekaan terhadap informasi secara Iangsung atau tidak
langsung yang mendukung kepentingan tugasnya.
Jika dianalisa Iebih jauh lagi, dari beberapa uraian ditas dapat di
pahami bahwa ada beberapa kemampuan dan perilaku yang perlu
dimiliki oleh pendidik, yang merupakan profil pendidik Islam yang
diharapkan agar dalam menjalankan tugas-tugas kependidikannya dapat
berhasil secara optimal. Profil tersebut pada intinya terkait dengan aspek
personal dan profesional dari pendidik. Aspek personal ini diharapkan
dapat memancar dalam dimensi sosialnya, dalam hubungan guru dengan
peserta didiknya, teman sejawat dan lingkungan masyarakatnya karena
tugas mengajar dan mendidik adalah tugas kemanusiaan. Dan aspek
7 Muhammad Athiyah al-Abrasy, op.cit., h. 137-141
9
profesional menyangkut pesan profesi pendidik, dalam arti ia memiliki
kualifikasi profesional sebagai seorang pendidik Islam (muslin).
Atas dasar itulah maka asumsi yang melandasi keberhasilan
pendidikan Islam dapat diformulasikan sebagai berikut :
"Penduduk muslim akan berhasil menjalankan tugas kependidikan
bilamana dia memiliki kompetesi personal-religius dan kompetensi
profesinal religius"
Kata religius selaku dikaitkan dengan masing-masing kompetensi
tersebut yang menunjukkan adanya komitmen pendidik kepada ajaran
Islam sebagai kriteria utama sehingga segala masalah prilaku
kependidikannya di hadapi, dipertimbangkan dipecahkan, dan didudukkan
dalam perspektif Islam.Kemampuan dasar (kompetensi) yang pertama bagi
pendidik adalah menyangkut kepribadian agamis, artinya pada dirinya
melekat nilai-nilai lebih yang hendak ditrans-internalisasikan kepada
peserta didiknya. Misalnya nilai keikhlasan, kejujuran, keadilan,
musyawarah, kebersihan, keindahan, kedisiplinan, ketertiban, dan
sebagainya. Nilai tersebut perlu dimiliki pendidik sehingga akan terjadi
tras-internalisasi (pemindahan penghayatan nilai-nilai) antara pendidik
dan anak didik baik langsung maupun tidak langsung, atau setidaktidaknya
terjadi interaksi edukatif antara keduanya.
Kemampuan dasar ini menyangkut kemampuan untuk menjalankan
tugasnya secara profesional, dalam arti mampu membuat keputusan
keahlian atas beragamnya kasus serta mampu mempertanggung
jawabkan berdasarkan teori dan wawasan keahliannya dalam perspektif
Islam. Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan pendidikan
dewasa ini, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat
eksternal serta identifikasi profil/karakteristik dari kompetensi
pendidik di atas, maka pendidik Islam dapat mengembangkan strategi
penyelenggaran pendidikan Islam guna mengantisipasi berbagai
tantangan tersebut dengan cara-cara sebagai berikut :
10
1. Mengoptimalkan fungsi pendidikan Islam di rumah, sekolah dan
masyarakat.
2. memanfaatkan pendidikan agama Islam sebagai program pendidikan.
3. mengembangkan profesionalisme dalam pengelolaan pendidikan Islam
di lembaga-lembaga pendidikan (Islam).
4. melaksanakan dan memanfaatkan dan hasil penelitian.8
Sebagai implikasinya terhadap tuntutan pendidik tersebut, para
pendidikperlu meningkatkan studi lanjut, mengikuti kegiatan-kegiatan
diskusi, seminar, pelatihan dan sebagainya yang mendukung
pengembangan profesionalismenya.
B. Peserta Didik Dalam Pendidikan Islam
1. Makna Peserta Didik
Peserta didik adalah anak yang sedang tumbuh dan berkembang,
baik secara fisik maupun psikologis untuk mencapai tujuan pendidikannya
melalui lembaga pendidikan.9 Peserta didik merupakan subyek dan obyek.
Oleh karenanya, aktivitas kependidikan tidak akan terlaksana tanpa
keterlibatan peserta didik di dalamnya.
Dalam paradigma pendidikan Islam, peserta didik merupakan orang
yang belum dewasa dan memiliki sejumlah potensi (kemampuan) dasar
yang masih perlu dikembangkan. Di sini, peserta didik merupakan
makhluk Allah yang memiliki fitrah jasmani maupun rohani yang belum
mencapai taraf kematangan baik bentuk, ukuran, maupun perimbangan
pada bagian-bagian lainnya. Dan segi rohaniah, ia memiliki bakat,
memiliki kehendak, perasaan, dan pikiran yang dinamis dan perlu
dikembangkan.10
8 Muhaemin Paradigma Pendidikan Islam, (Cet. I; Bandung: Remaja Rosda Karya,
2001), h.
100.
9 Muhaemin, Paradigma Pendidikan Islam, (Cet. I ; Bandung : Trigenda Karya,
1993), h.
177.
10 Ahmad D. Marimba, op.cit., h 32
11
Melalui paradigma di atas menjelaskan bahwa peserta didik
merupakan subjek dan obyek pendidikan yang memerlukan bimbingan
potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan.
Potensi suatu kemampuan dasar yang dimilikinya tidak akan tumbuh
dan berkembangsecara optimal tanpa bimbingan pendidik.
Oleh karena itu, dalam proses pendidikan (proses belajar
mengajar), seorang pendidik harus sedapat mungkin memahami hakekat
anak didiknya sebagai obyek pendidikan. Kesalahpahaman dalam
memahami hakekat anak didik menjadikan kegagalan total. Untuk itu
terlebih dahulu diperjelas beberapa deskripsi tentang hakekat peserta
didik dan implikasinya terhadap pendidikan Islam, yaitu :
a. Peserta didik bukan merupakan miniatur orang dewasa, akan tetapi
miliki dunianya sendiri. Hal ini sangat penting untuk dipahami agar
perlakuanterhadap mereka dalam proses kependidikan tidak disamakan
dengan pendidikan orang dewasa, baik dalam aspek metode mengajar,
materi yang akan diajarkan, sumber bahan yang digunakan, dan lain
sebagainya.
b. Peserta didik adalah yang memiliki diferensiasi priodesasi
perkembangan dan pertumbuhan. Pemahaman ini cukup penting untuk
diketahui agar aktivitas kependidikan Islam disesuaikan dengan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang pada umumnya dilalui
oleh setiap peserta didik. Hal ini sangat beralasan, karena kadar
kemampuan peserta didik ditentukan oleh faktor usia dan periode
perkembangan atau pertumbuhan potensi yang dimilikinya.
c. Peserta didik adalah manusia yang memiliki kebutuhan, baik yang
menyangkut kebutuhan jasmani maupun rohani yang harus di penuhi.
Di antara kebutuhan tersebut adalah, kebutuhan biologis, kasih sayang,
rasa aman, harga diri realisasi diri, dan lain sebagainya.
Kesemuanya itu penting dipahami oleh pendidik agar tugas-tugas
kependidikannya dapat berjalan secara baik dan lancar.
d. Peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan
12
individual (diferensiasi individual), baik yang disebabkan oleh faktor
pembawaan maupun lingkungan di mana ia berada. Pemahaman
tentang differensiasi individual peserta didik sangat penting untuk
dipahami oleh seorang pendidik.
e. Peserta didik merupakan resultan dari dua unsur utama, yaitu jasmani
dan rohani. Unsur jasmani memiliki daya fisik yang menghendaki
latihan dan pembicaraan yang di lakukan melalui proses pendidikan.
Sementara unsur rohaniah memiliki dua daya, yaitu daya akal dan daya
rasa. Untuk mempertajam daya akal, maka proses pendidikan
hendaknya diarahkan untuk mengasah daya intelektualitasnya
melalui ilmu-ilmu rasional. Adapun untuk mempertajam daya rasa
dapat di lakukan melaluipendidikan akhlak dan ibadah. Konsep ini
bermakna bahwa suatu proses pendidikan Islam hendaknya di lakukan
dengan memandang peserta didik secara utuh. Dalam dataran praktis,
pendidikan Islam tidak hanya mengutamakan pendidikan salah satu aspek
saja, melainkan kedua aspek secara integral dan harmonis.
f. Peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi (fitrah) yang dapat
dikembangkan dan berkembang secara dinamis. Di sini tugas
pendidik adalah membantu mengembangkan dan mengarahkan
perkembangan tersebut sesuai dengan tujuan pendidikan yang
diinginkan, tanpa melepaskan tugas kemanusiannya, baik secara
vertikal maupun horizontal.11
11 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Hostoris Teortis dan
Praktis, (Cet. I;Jakarta: Ciputat Press, 2002), h 49-50.
13
2. Tugas dan Kewajiban Peserta Didik
Agar pelaksanaan proses pendidikan Islam dapat tercapai tujuan yang
dinginkan, maka setiap peserta didik hendaknya senantiasa menyadari
tugas dan kewajibannya. Menurut Asma Hasan Fahmi, di antara tugas dan
kewajiban yang perlu dipenuhi peserta didik adalah :
a. Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan batinya sebelum
menunut ilmu. Hal ini disebabkan karena belajar adalah ibadah
dan tidak sah ibadah kecuali dengan hati bersih.
b. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi ruh dengan
berbagai sifat keutamaan.
c. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di
berbagai tempat.
d. Setiap peserta didik wajib menghormati peserta didiknya.
e. Peserta didik hendaknya belajar secara sungguh-sungguh dan tabah
dalam belajar.12
3. Sifat-Sifat Ideal Peserta Didik
Dalam upaya mencapai tujuan pendidikan Islam, peserta didik
hendaknya memiliki dan menanamkan sifat-sifat yang baik, dalam diri
dan kepribadiannya. Di antara sifat-sifat ideal yang perlu dimiliki peserta
didik misalnya kemauan atau pantang menyerah, memiliki motivasi
tinggi, sabar, tabah, tidak mudah putus asa, dan lain sebagainya.
Berkenaan dengan sifat ideal di atas, Imam al-Gazali, sebagaimana
di kutip Fatahyah Hasan Sulaeman, 13merumuskan sifat-sifat yang
patut dan harus dimiliki peserta didik kepada 10 macam sifat, yaitu :
12 Asma Hasan Fahmi, Sejarah dan Filsafat pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 19:9), h
174-175.
13 Fathiyah Hasan Sulaeman, Pandangan Ibn Khaldum Tentang Ilmu dan Pendidikan,H.M.D.
Dahlan (Peny), Bandung : CV. Diponegoro, 1987), h. 24.
14
a. Belajar dengan niat ibadah dalam rangka taqarrub ila Allah.
Konsekwensi dari setiap ini, peserta didik akan senantiasa mensucikan
diri dengan akhlakul-karimah dalam kehidup-an sehari-harinya, serta
berupaya meninggalkan watak dan akhlak tercela.
b. Mengurangi kecenderungan pada kehidupan duniawi kehidupan
dibanding ukhrawi. Sifat yang ideal adalah menjadikan kedua
dimensi kehidupan (dunia-akhirat sebagai alat yang integral
untuk melaksanakan amanat-Nya, baik secara vertikal maupun
horizontal.
c. Bersikap tawadhu (rendah hati)
d. Menjaga pikiran dari berbagai pertentangan yang timbul dari berbagai
aliran. Dengan pendekatan ini, peserta didik akan melihat berbagai
pertentangan dan perbedaan pendapat sebagai sebuah dinamika yang
bermanfaat untuk menumbuhkan secara intelektual, bukan sarana saling
menuding dan menganggap diri paling benar.
e. Mempelajari ilmu-ilmu yang; terpuji, baik umum maupun agama.
f. Belajar secara bertahap atau terjenjang dengan memulai pelajaran yang
mudah (konkrit) menuju pelajaran yang sulit (abstrak); atau dari ilmu
yang fardhu 'ain menuju ilmu yang fardhu kifayah.
g. Mempelajari suatu ilmu sampai tuntas untuk kemudian beralih pada
ilmu yang lainnya. Dengan cara ini, peserta didik akan memiliki
spesifikasi ilmu pengetahuan secara rnendalam.
h. Memahami nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.
i. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.
j. Mengenal nilai-nilil pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu
pengetahuan yang bermanfaat, membahagiakan, mensejahterakan,
serta memberi keselamatan hidup dunia dan akhirat, baik untuk dirinya
maupun manusia pada umumnya.
15
PENUTUP
Pendidik (Guru) merupakan salah satu hal terpenting dalam proses
pendidikan. Tugas guru sebagai pendidik merupakan hal yang sangat mulia di sisi
Allah SWT dan mendapatkan penghargaan yang tinggi. Tapi penghargaan yang
tinggi tersebut diberikan kepada guru yang bekerja secara tulus dan ikhlas dalam
mengajar peserta didiknya, atau bisa disebut juga guru tersebut bekerja
secaraprofessional.
Guru bukan hanya mengajarkan materi saja kepada anak didiknya. Tapi
juga membimbing mereka menjadi murid yang mempunyai akhlak mulia. Serta
guru juga menjadi motivator bagi peserta didiknya. Motivasi sangat diperlukan
sebagai respon terhadap tugas dan tanggung jawab guru sebagai pendidik,
pengajar dan pelatih dalam mencapai tujuan pendidikan.
Proses pendidikan dalam kehidupan manusia tidak terlepas dari peran
pendidik dan peserta didik itu sendiri. Berhasil atau gagalnya pendidikan
diantaranya ditentukan oleh kedua komponen tersebut. Mulai dari kemapanan
ilmu pengetahuan pendidik, sampai kemampuan pendidik dalam menguasai objek
pendidikan, berbagai syarat yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik, motivasi
belajar peserta didik, kepribadian anak didik dan tentu saja pengetahuan awal
yang dikuasai oleh peserta didik. Agar hasil yang direncanakan tercapai
semaksimal mungkin. Disinilah pentingnya pengetahuan tentang subjek
pendidikan.
Pendidik dalam perspektif pendidikan Islam ialah orang yang bertanggung
jawab terhadap upaya perkembangan jasmani dan rohani peserta didik agar
mencapai tingkat kedewasaan sehingga ia mampu menunaikan tugas-tugas
kemanusiaannya sesuai dengan nilai ajaran Islam. Oleh karena itu, pendidik dalam
konteks ini bukan hanya terbatas pada orang-orang yang bertugas di Sekolah
tetapi semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan anak mulai sejak dalam
kandungan hingga ia dewasa, bahkan sampai meninggal dunia sama halnya
dengan peserta didik tak bisa di lepas tanggungjawabnya dalam pendidikan islam.
16
DAFTAR PUSTAKA
Athiyah Al-Abrasy, Muhammad, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam. Jakarta : Bulan
Bintang, 1987.
Hasan Fahmi, Asma, Sejarah dan Filsafat pendidikan Islam. Jakarta: Bulan Bintang,
19:9.
Hasan Sulaeman, Fathiyah, Pandangan Ibn Khaldum Tentang Ilmu dan
Pendidikan,H.M.D. Dahlan. Bandung : CV. Diponegoro, 1987.
Marimba D, Ahmad,. Pengertian Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : al-Ma’rif,1989.
Muhaemin Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya, 2001.
.
Nizar, Samsul, Filsafat Pendidikan Islam : Pendekatan Hostoris Teortis dan Praktis.
Jakarta: Ciputat Press, 2002.
Rahman an-Nahlawi, Abd. Prinsip-Pronsip dan Metode Pendidikan Islam. Bandung :
CV. Diponegoro, 1992.
Tafsir, Ahmad, Ilmu Pendidikan Dalam Prespektif Islam. Bandung Remaja
Rosdakarya,1992.
17
18