“ARTIKEL”
PEMBLAJARAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pembelajaran Bahasa Dan Sastra.
Dosen Pembimbing : Sahrul Umami M.Pd
Disusun Oleh :
Semester V Kelas Malam Tambun
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM BANI SALEH BEKASI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGMI)
2021
i
1
KATA PENGANTAR
Alhamdulilah dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen yang
kemudian dilanjutkan dengan menyusun artikel dengan tema yang telah ditentukan. Kami sebagai
penulis menyadari bahwa dalam penulisan artikel ini masih jauh dari kata sempurna, baik dari sisi
materi maupun penulisannya. Kami dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima berbagai
masukan maupun saran yang besifat membangun yang diharapkan bergunan bagi seluruh pembaca.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL……………………………………………………………….i
2
KATA PENGANTAR……………………………………………………………...ii
DAFTAR ISI……………………………………………………………………....iii
PEMBAHASAN……………………………………………………………………1
1. Manfaat Bermain Peran (Pementasan Drama) Dalam Pembentukan
Karakter Siswa SD………………………………………………………...4
2. Mengembangkan Kecerdasan Lingusitik Melaui Metode Bercerita……..19
3. Peningkatan Minat Anak Usia Dini Dalam Pertunjukan…………………29
4. Penerapan Nilai Kemanusiaan Dalam Pembentukan Karakter Siswa
Melalui Sastra…………………………………………………………….37
5. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui metode
Picture And Picture Pada Siswa Kelas 1…………………………….…...47
6. Pengaruh Globalisasi Terhadap Gaya Bahasa Dikalangan Generasi
Milenila ………………………………………………………………….57
7. Keterampilan Menulis Naskah Pidato Dan Aplikatif Pada Audio
Visual…………………………………………………………………….67
3
PEMBAHASAN
1. Manfaat Bermain Peran (Pementasan Drama) Dalam Pembentukan Karakter Siswa SD
Manfaat Bermain Peran (Pementasan Drama) Dalam Pembentukan
Karakter Siswa SD
Devi Amellia, Rianti Kumbara,Riski Septiana Devi
Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh
PENDAHULUAN
Karakter merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia
terutama dalam tindakan berperilaku. Pembentukan karakter sendiri dapat diberikan
melalui pendidikan. Sesuai deng an UU No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional pada Pasal 3, yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalarn rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional
bertujuan untuk berkembangnya potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
LATAR BELAKANG
Berdasarkan UU tersebut jelaslah bahwa pendidikan nasional memiliki tujuan untuk
mengembangkan potensi siswa SD menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan yang Maha Esa, berakhlak mulia, berjiwa sosial, santun terhadap sesama,
dan memiliki ilmu yang memadai. Namun, semua itu belum terwujud dalam kehidupan
sehari-hari. Hal ini dapat kita lihat maraknya berita di media televisi maupun di media
cetak, pemimpin daerah dan tokoh masyarakat yang terjerat narkoba. Banyak upaya
yang dapat dilakukan untuk mewujudkan pendidikan berkarakter tersebut salah satunya
melalui proses pembelajaran di sekolah. Pada dasarnya semua mata pelajaran dapat
dimanfaatkan untuk pembentukan karakter siswa. Tetapi yang sering kita dengar bahwa
pendidikan karakter diidentikkan dengan Unit Bela Negara (UBN) saja, padahal banyak
alternatif lain untuk mewujudkan pembentukan karakter tersebut, salah satunya mata
pelajaraan Bahasa Indonesia materi drama melalui metode bermain peran kelas IV.
4
Dalam bermain peran (pementasan drama) dibutuhkan pemahaman dan penghayatan
terhadap tokoh dalam
naskah drama tersebut. Dengan berperannya siswa dalam drama tersebut, secara tidak
sadar mereka dapat memperkaya pengalaman psikologi manusia melalui karakter tokoh
dalam drama sekaligus meningkatkan mutu pembelajaran. Untuk itu, dapat dikatakan
juga secara tidak langsung siswa pun mengajak penonton untuk terhanyut dalam
karakter yang mereka mainkan sehingga dengan mudah pendidikan karakter yang
dicita-citakan oleh pemerintah akan dapat terwujud.
MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah bagaimanakah menerapkan bermain peran (pementasan drama) sebagai
pembentukan karakter siswa SD.
SOLUSI MASALAH DI LAPANGAN
Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode bermain peran (pementasan drama)
untuk meningkatkan hasil belajar dan menambah antusiasme siswa. Strategi
pembelajaran bermain peran (pementasan drama) adalah suatu cara penguasaan bahan-
bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih
dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Tujuan yang
diharapkan dengan strategi role playing antara lain agar siswa dapat menghayati dan
menghargai perasaan orang lain, dapat belajar bertanggung jawab, dapat mengambil
keputusan dalam situasi kelompok secara spontan, dapat berpikir dan memecahkan
suatu masalah (Nana Sudjana, 2009: 22).
ALASAN MEMILIH JUDUL
Siswa mana yang tidak suka bermain? Setiap siswa menganggap tak ada yang lebih
menyenangkan dari pada bermain. Salah satu permainan yang disukai siswa dan
mungkin pernah juga kita alami saat kecil dulu, adalah bermain peran atau bermain
pura-pura. Saat bermain peran siswa seakan masuk ke dalam dunianya sendiri, yang
penuh keajaiban, dan petualangan seperti yang dialami oleh karakter favoritnya di TV.
5
dan tak jarang kita, para orang tua diajak masuk ke dalamnya. Jika siswa/anak
mengajak bermain peran, jangan buru-buru merasa malas dan menolaknya. Sebab
menurut beberapa ahli, bermain peran bukanlah permainan tanpa makna, namun justru
penting bagi perkembangan emosional, mental intelektual bahkan fisik anak. Nah
dibawah ini ada beberapa manfaat dari bermain peran yang perlu kita ketahui, yaitu
membangun kepercayaan diri, mengembangakan kemampuan bahasa, meningkatkan
kreativitas dan akal, membuka kesempatan untuk memecahkan masalah, membangun
kemampuan sosial dan empati, memberi mereka pandangan positif. Oleh karena itu kita
ingin mengmabil judul ini agar kita tahu bahwa pembentukan karakter siswa dapat
diperoleh dari hal yang menyenangkan yaitu bermain peran (pementasan drama).
TUJUAN MELAKUKAN PENULISAN DENGAN JUDUL TERSEBUT
Untuk memberikan edukasi ke masyarakat umum pentingnya pembentukan karakter
untuk sisiwa dari seni bermain peran (pementasan drama). Siswa dapat berpartisipasi
mempunyai kesempatan untuk memajukan kemapuannya dalam bekerja sama. Siswa
bebes mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh. Permainan merupakan
penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
Guru dapat mengevaluasi pemahaman setiap siswa melalui pengamatan pada waktu
melakukan permainan. Permaianan merupakan pengalaman belajar yang
menyenangkan bagi anak.
PEMBAHASAN
HAKEKAT DRAMA / BERMAIN PERAN
Drama menupakan jenis karya sastra yang berbeda dengan genre sastra lainnya, seperti
puisi dan prosa. Dalam memahami drama jauh berbeda jika kita memahami sebuah
puisi karena drama berbentuk tindakan langsung dan berbentuk dialog-dialog.
Memahami puisi, pembaca membutuhkan daya imajinasi yang tinggi dalam
mengapresiasinya karena puisi merupakan karya satra yang kaya akan makna. Di sisi
lain, saat pembaca memahami prosa atau cerita fiksi (cerpen atau novel), pembaca
dihadapkan dengan cerita imaiinatif yang dideskripsikan pengarang lewat sebuah
cerita. Lain halnya dengan drama, drama tidak terhenti pada sebuah naskah karena
naskah tersebut akan lebih bermakna jika diperankan melalui interpretasi, ekspresi, dan
gerak yang sesuai dan mudah dipahami di atas panggung sehingga orang yang
menyaksikan pertunjukan tersebut akan lebih mudah memahami ceritanya. Namun
6
demikian, drama memang memiliki tujuan untuk dipentaskan tentang bukan berarti
naskah drama yang tidak dipentaskan tidak dapat dipahami. Naskah drama tersebut
masih dapat dipahami dan dimengerti oleh penikmat sastra berdasarkan isi cerita dalam
naskah tersebut. Pada dasarnya memerankan drama sama halnya memerankan perilaku
orang lain atau melakukan tindakan yang tergambar dalam naskah drama tersebut. Hal
ini sejalan dengan pendapat Haryawan (1988:1) menyatakan bahwa kata drama berasal
dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan
sebagainya. Dengan demikian drama dapat diartikan sebagai perbuatan tindakan.
Dalam arti Iuas drama adalah suatu karya sastra yang dipertujukkan atau dipentaskan
dengan ekspresi dan penghayatan yang tepat. Menurut Ferdinand Brunetiere dan
Balthazar Vehagen (dikutip Hasanuddin, 2009:2), drama adalah kesenian yang
melukiskan sifat dan sikap manusia dan harus melahirkan kehendak manusia dengan
action dan perilaku. Adapun pengertian drama menurut Moulton adalah hidup yang
dilukiskan dengan gerak, drama adalah menyaksikan secara lanasung. Dapat
disimpulkan bahwa drama adalah sebuah karya sastra yang berbentuk dialog dan
memiliki tujuan untuk dipentaskan atau diperankan.
KAREKTERISTIK DRAMA
Drama merupakan sebuah genre sastra yang tidak terlepas dari unsur-unsur pembangun
dalam sebuah karya sastra. Seperti yang kita kenal unsur karya sastra terdapat unsur
dalam (intrinsik) dan unsur luar (ekstrinsik) Begitu juga halnya drama, juga memiliki
unsur pembangun drama tersebut. Unsur pembangun drama tersebut juga dikenal
dengan nama unsur intrinsik. Menurut Damono (1983:114) ada tiga unsur yang menjadi
satu kesatuan drama dapat dipertunjukkan, yaitu unsur naskah, unsur pementasan, dan
unsur penonton. Jika salah satu unsur tersebut tidak ada, maka drama tidak dapat
menjadi sebuah pertunjukan. Jika dibandingkan dengan genre sastra puisi dan prosa,
drama memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari kedua genre tersebut. Berikut
kekhususan karakteristik drama menurut Hasanuddin (2009:11- 15). 1. Drama, karena
karakteristiknya, penggambaran unsur-unsur yang membangunnya dari segi genre
sastra terasa lebih lugas, lebih tajam, dan lebih detil, terutama unsur penokohan dan
perwatakan. Hal ini pulalah yang menyebabkan penerjemahan teks drama ke dalam
unsur visualisasi terasa lebih intens. Perhatikan unsur ujaran, gerak, dan pelaku para
tokoh, jauh lebih hidup, dan berkarakter tegas dibanding dengan ujaran, gerak, dan
perilaku tokoh dalam genre fiksi. 2. Pengarang tidak dapat secara leluasa
7
mengembangkan kemampuan imaiinasinya di dalam drama. Artinya jika pengarang
ingin melukiskan suatu kehidupan di alam tertentu yang secara konverssional belum
dapat diterima logika umum amatlah sulit. 3. Dalam dimensi sebagai seni pertunjukan,
drama dapat memberikan pengaruh emosional yang lebih besar dan terarah kepada
penikmat (audiens) jika dibandingkan dengan genre sastra lainnya. Kesan yang
ditinggalkan pun Iebih lama dibanding genre sastra lain. 4. Keterkaitan dimensi sastra
dengan dimensi seni pertunjukan mengharuskan para aktor dan pemain
“menghidupkan” tokoh-tokoh yang digambarkan pengarangnva lewat apa yang
diucapkan tokoh-tokoh tersebut dalam bentuk dialog-dialog. 5. Unsur panggung
memang membatasi pengarang drama dalam menuangkan imaiinasinya. Namun
demikian, panggung juga memberi kesempatan sepenuhnya kepada pengarang untuk
dapat mempergunakannya supaya menarik dan memusatkan perhatian penikmat dan
penonton pada suatu situasi tertentu, yaitu situasi panggung. 6. Bentuk yang khusus dari
drama adalah keseluruhan peristiwa yang disampaikan melalui dialog. 7. Konflik
kemanusiaan syarat mutlak. Bentuk dialoglah yang menuntut adanya konflik tersebut
di dalam drama. 8. Meskipun drama tidak dapat dianggap sebagai genre sastra murni
sebagaimana genre fiksi dan puisi, tetapi drama merupakan suatu karya sastra yang
berkarakteristik tersendiri. 9. Sutradara, aktor, dan pendukung pementasan harus arif
menafsirkan dan berusaha setuntas mungkin untuk memvisualisasikan tuntutan teks
drama.
HAKEKAT PENDIDIKAN KARAKTER
Berbicara tentang karakter, terlintas dalam benak kita tentang kepribadian seseorang
yang terlihat menonjol pada diri seseorang. Orang dikatakan berkarakter, jika orang
tersebut memiliki kepribadian yang menonjol. Namun karakter yang dimaksudkan
dalam pendidikan berkarakter adalah manusia yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha
Esa, berakhlak mulia, berbudi luhur, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta bertanggung
jawab. Pembentukan karakter ini telah digaungkan sejak tahun 2003, seperti yang telah
dikemukakan pada latar belakang bahwa pendidikan karakter telah ditetapkan pada UU
no.20 tahun 2003. Hal ini juga ditagaskan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono,
pada peringatan Dharma Shanti Hari Nyepi 2010 menyatakan, “Pembangunan karakter
(charakter building) amat penting. Kita ingin membangun manusia Indonesia yang
berakhlak, berbudi pekerti, dan mulia. Bangsa kita ingin pula memiliki peradaban yang
unggul dan mulia. Peradaban demikian dapat kita capai apabila masyarakat kita juga
8
merupakan masyarakat yang baik (good society). Dan, masyarakat idaman seperti ini
dapat kita wujudkan mahasiswa Indonesia merupakan manusia yang berakhlak baik,
manusia yang bermoral, dan beretika baik, serta manusia yang bertutur dan berprilaku
baik pula” (Kemendiknas, 2011:10). Pembentukan karakter peserta didik, tentunya
sangat dipengaruhi oleh lingungan di mana mahasiswa tinggal dan di mana mahasiswa
menimba ilmu. Pada dasarnya perkembangan karakter siswa merupakan implementasi
pengalaman yang pemah dilihat, dirasakan, dan dialami. Dengan demikian, untuk
mewujudkan masyarakat idaman, yaitu manusia yang berkarakter, tentunya dibutuhkan
peran dari berbagai pihak khususnya di lingkungan sekolah dan keluarga. Hal tersebut
didukung dengan pendapat Kemendiknas (2011-12), karakter sangat erat kaitannya
dengan lingkungan di mana seseorang atau sekelompok orang tersebut tinggal.
Karakter dibentuk sejak mahasiswa lahir dan berkembang seiringnya waktu. Proses
perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang disebut
sebagai faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture), di mana orang yang
bersangkutan tumbuh dan berkembang. Dalam perkembangan karakter seseorang
didukung oleh faktor genetik dan faktor lingkungan. Sedangkan yang menjadi wilayah
operasi pendidikan karakter pada mahasiswa adalah faktor lingkungan. Lingkungan
tempat tingal mahasiswa memiliki pengaruh yang sangat besar. Seorang mahasiswa
yang memiliki etika yang baik, tutur kata yang sopan, prilaku yang sesuai dengan norma
agama dan norma masyarakat, maka hal tersebut merupakan implementasi dari hasil
pendidikan yang dilakukan baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Pendidikan
karakter di sekolah, dapat dilakukan oleh guru dan siswa baik di dalam kelas, maupun
di luar jam belajar. Jika pendidikan karakter tersebut dilakukan di kelas, maka upaya
yang dapat dilakukan adalah mempertimbangkan segala konsep pembelajaran yang
tepat bagi peserta didik. Konsep pembelajaran yang dimaksud adalah metode
pembelajaran yang dipakai, media; buku panduan, alat evaluasi, hingga pementasan
yang disampaikan harus mendukung tujuan pendidikan karakter tersebut.
Perkembangan karakter mahasiswaini disarankan dapat memanfaatkan ilmu
pengetahuannya secara mandiri, mengaplikasikan nilai-nilai karakter positif yang
didapat sehingga tercermin pada perilakunya sehari-hari.
Pengertian Pendidikan Karekter Menurut Para Ahli
9
Menurut T. Ramli
pengertian pendidikan karakter ini merupakan suatu pendidikan yang mengedepankan
esensi serta makna terhadap moral dan juga akhlak sehingga hal tersebut akan mampu
untuk membentuk pribadi peserta didik yang baik.
2. Menurut Thomas Lickona
Pengertian dari pendidikan karakter ini adalah suatu usaha yang disengaja untuk
bisa/dapat membantu seseorang itu sehingga ia akan dapat memperhatikan, memahami,
serta juga melakukan nilai-nilai etika yang inti.
3. Menurut John W. Santrock
Character education ini merupakan pendidikan yang dilakukan dengan pendekatan
langsung kepada peserta didik untuk dapat menanamkan nilai moral serta juga memberi
kan pelajaran kepada murid mengenai pengetahuan moral di dalam upaya mencegah
perilaku yang yang dilarang.
4. Menurut Elkind
Pengertian pendidikan karakter ini merupakan suatu metode pendidikan yang dilakukan
oleh tenaga pendidik untuk dapat mempengaruhi karakter murid. Dalam hal ini terlihat
bahwa guru itu bukan hanya mengajarkan materi pelajaran namun tetapi juga mampu
untuk menjadi seorang teladan
Fungsi Pendidikan Karekter
Secara umum fungsi pendidikan ini ialah untuk membentuk karakter seorang peserta
didik sehingga peserta didik tersebut menjadi pribadi yang bermoral, bertoleran,
tangguh, berakhlak mulia, serta berperilaku baik.
Adapun beberapa fungsi dari pendidikan karakter diantaranya ialah sebagai berikut;
1. Untuk mengembangkan potensi dasar di dalam diri manusia sehingga akan
menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, serta berperilaku baik.
2. Untuk membangun serta memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur.
3. Untuk membangun dan juga meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif
di dalam hubungan internasional.
10
Character education ini seharusnya dilakukan sejak dini, yakni sejak masa kanak-
kanak. Pendidikan ini dapat dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, serta
lingkungan, dan juga memanfaatkan berbagai media belajar
Tujuan Pendidikan Karakter
Pada dasarnya tujuan utama dari pendidikan karakter ini ialah untuk dapat membangun
bangsa yang tangguh, yang mana masyarakatnya itu berakhlak mulia, bertoleransi,
bermoral, serta bergotong-royong.
Untuk dapat mencapai tujuan yang ingin dicapai tersebut maka di dalam diri individu
tersebut juga harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari
Agama, Budaya dan Pancasila. Dibawah ini merupakan nilai-nilai pembentuk karakter
diantaranya :
1. Kejujuran
2. Sikap toleransi
3. Disiplin
4. Sikap demokratis
5. Rasa ingin tahu
6. Semangat kebangsaan
7. Cinta tanah air
8. Menghargai prestasi
9. Kerja keras
10.Kreatif
11. Kemandirian
12.Sikap bersahabat
13.Cinta damai
14.Rasa tanggungjawab
15. Religius
16.Gemar membaca
17. Perduli terhadap lingkungan
18.Perduli sosial
11
Pentingnya Pendidikan karakter
Seperti kita ketahui bahwa proses globalisasi secara terus-menerus tersebut akan
berdampak pada perubahan karakter masyarakat Indonesia. Kurangnya pendidikan
karakter tersebut akan memunculkan krisis moral yang tentu hal tersebut berakibat pada
perilaku negatif di masyarakat, misalnya seperti pergaulan bebas, pencurian, kekerasan
terhadap anak, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan lainnya.
Menurut Thomas Lickona, setidaknya terdapat tujuh alasan mengapa character
education ini harus diberikan kepada warga negara sejak dini, yakni ;
1. Ini merupakan cara paling baik untuk dapat memastikan para murid itu memiliki
kepribadian serta karakter yang baik dalam hidupnya.
2. Pendidikan ini bisa/dapat membantu meningkatkan prestasi akademik anak
didik.
3. Sebagian anak itu tidak bisa membentuk karakter yang kuat untuk dirinya di
tempat lain.
4. Dapat membentuk individu yang menghargai serta juga menghormati orang lain
serta dapat hidup di dalam masyarakat yang majemuk.
5. Sebagai upaya dalam mengatasi akar masalah moral-sosial, seperti
ketidakjujuran, ketidaksopanan, kekerasan, etos kerja rendah, dan lain-lain.
6. Merupakan cara terbaik untuk dapat membentuk perilaku individu itu sebelum
masuk ke dunia kerja/ usaha.
7. Sebagai cara untuk dapat mengajarkan nilai-nilai budaya yang merupakan
bagian dari kerja suatu peradaban.
PEMENTASAN DRAMA DALAM PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
Pada pembelajaran di kelas, siswa terkadang merasa bosan terhadap materi yang
disampaikan oleh guru di kelas. Sebenarnya siswa mengharapkan proses pembelajaran
yang menyenangkan sehingga dalam proses pembelajaran siswa tidak akan merasa
cepat bosan. Salah satu cara menarik perhatian siswa dalam pembelajaran di kelas dan
sekaligus dapat mendekatkan siswa dalam pembentukan karakter siswa adalah dengan
memperkenalkan pementasan drama yang merupakan genre sastra. Drama juga dapat
dijadikan sarana penyampaian pesan-pesan moral yang positif dengan cara yang
menyenangkan. Bahkan orang yang menikmati sebuah pertunjukan drama tidak
12
menyadari secara langsung atas pesan-pesan yang didapatnya. Drama sebagai seni
pertunjukan, dapat membangkitkan emosional penikmatnya. Hal ini dapat dikatakan
bahwa drama adalah sebuah karya seni pertunjukan. Sebuah karya seni yang baik, dapat
dipastikan memiliki pesan positif yang ingin disampaikan. Menurut Suriasumantri
(1984:107), sebuah karya seni yang baik biasanya mempunyai pesan yang ingin
disampaikan kepada kita semua, apakah itu bersifat moral, estetik, gagasan pemikiran,
atau politik. Karena pesan itu berupa ‘imbauan’ yang bisa mempengaruhi sikap dan
prilaku manusia, maka seni sungguh-sungguh memegang peranan penting dalam
pendidikan moral dan budi pekerti sebuah bangsa. Memainkan sebuah peran dalam
naskah drama memiliki syarat syarat estetika, seperti penghayatan atas tokoh dalam
naskah, kesesuaikan kostum yang mencerminkan watak tokoh, gerak dan laku di
panggung, dan sebagainya. Bermain peran sama halnya dengan acting. Acting (peran)
berasal dari kata “to act” yang berarti “beraksi”. Akting dalam konteks ini adalah
perpaduan antara atraksi fisikal (kebertubuhan), intelektual (analisis karakter dan
naskah) dan spiritual (transformasi jiwa). Usaha seorang aktor dalam melakoni seni
akting adalah mengembangkan kemampuan berekspresi, menganalisis naskah, dan
mentransformasi diri ke dalam karakter yang ia mainkan. Dengan menempa
kemampuan ketiganya aktor akan bisa membuka diri dan menyerap kekayaan
pengalaman hidup dari si tokoh sesuai dengan konsep penulis naskah dan sutradara
(Saptaria, 2006:3). Bermain drama dapat menumbuhkan kepribadian yang baik bagi
perkembangan karakter siswa. Dengan pementasan drama ini pula siswa dididik untuk
mengembangkan pribadi yang sesuai dengan tuntutan dalam diri pribadi seseorang,
yaitu pribadi yang bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, pribadi mandiri, dan pribadi
yang peduli terhadap sesama. Drama dapat membangkitkan emosional siswa dalam
memerankan tokoh dalam naskah drama tersebut. Oleh sebab itu, guru sebagai
pembimbing dalam memerankan drama tersebut akan lebih mudah memasukkan nilai-
nilai positif dalam diri siswa. Pementasan drama memiliki efek yang signifikan dalam
pembentukan karakter siswa. Hal ini didukung oleh pendapat (Saleh, 1967:213) yang
mengatakan bahwa dalam pementasan drama (teater), ternyata baik pemain
(aktor/aktris) maupun penonton (pemirsa, audiens) sama-sama mendapatkan
keuntungan. Pemain atau aktor/aktris yang bermain drama adalah orang-orang yang
memperoleh kesempatan besar untuk menemukan dirinya. Berperan dalam drama
membutuhkan segala aspek kecerdasan, baik kecerdasan intelektual; emosional,
spiritual; maupun kinestetik, Selanjutnya penulis mencoba untuk memaparkan peran
13
aspek kecerdasan tersebut dalam drama. Kecerdasan intelektual, pada tingkat
kecerdasan intelektual ini siswa dituntut mampu memahami unsur-unsur dalam naskah
drama yang akan dipentaskan. Siswa berusaha untuk menginterpretasikan perwatakan
dan mampu memerankan tokoh yang dipilih sesuai kehendak penulis skenario dan
sutradara. Kecerdasan emosional, seperti yang telah diketahui bahwa seni drama
merupakan seni yang kolektif, yang membutuhkan kecerdasan emosional dari orang-
orang yang terlibat dalam naskah tersebut. Hal ini tidak semata pemain saja, melainkan
semua crew harus mampu menjaga kesetiaan, kekompakan, dan kepedulian antar
sesama. Pada kecerdasan emosional inilah, yang memiliki peran penting dalam
meningkatkan perkembangan karakter positif dari tiap peserta didiknya jika disikapi
dengan positif pula. Kecerdasan spiritual, pada kecerdasan spiritual dalam kaitannya
dengan berdrama dapat menumbuhkan karakter positif terhadap ketakwaannya kepada
Tuhan. Dalam hal ini, seperti yang diketahui bahwa drama dapat menceritakan berbagai
masalah yang diangkat dari lingkungan masyarakat sekitar tidak terkecuali masalah
tentang ketuhanan. Kepekaan siswa digugah untuk memahami naskah yang berkaitan
dengan Tuhan. Kecerdasan kinestetik, dalam bermain drama siswa dituntut untuk dapat
memerankan perannya sesuai dengan naskah yang akan diperankan. Kemampuan
mahasiswa dalam mengolah gerak tubuh, blocking panggung; olah mimik/ekspresi
merupakan aplikasi kecerdasan kinestetik peserta didik. Nilai-nilai yang akan
disampaikan dalam drama pada setiap proses pembelajaran di kelas maupun pada
kegiatan ekstrakurikuler diharapkan memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan
karakter siswa. Pemahaman terhadap segala aspek kecerdasan di atas, dapat menggali
potensi yang ada dalam diri siswa untuk meningkatkan kepedulian siswa terhadap
karakter bangsa yang diharapkan dalam UU sisdiknas nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3,
yang menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan
dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya
potensi siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga
negara yang demokratis serta bertanggung jawab Pementasan drama dapat memberikan
kontribusi terhadap siswa dalam kehidupannya sehari-hari. Hal ini seiring dengan
pendapat (Dewantara, 1962:310) bahwa pembelajaran drama juga cukup memberikan
kontribusi kepada proses pembelajaran yang lain dalam pengetahuan dan kepandaian,
misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa, kesusastraan; bercakap dengan
14
irama, menghilangkan tabiat malu, menggembirakan karena drama (sandiwara) bersifat
permainan, memberikan beberapa pengertian baru, berlatih gerak irama, menyanyi,
menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan, dan tenaga, mengajarkan adat sopan
santun, dan seterusnya. Jelaslah bahwa pementasan drama di sekolah dapat membantu
guru dan siswa dalam mewujudkan tujuan pendidikan karakter. Dengan pemahaman
yang lugas terhadap naskah drama yang akan diperankan, mahasiswi dengan mudah
mengaplikasikan segala yang diharapkan oleh pendidikan karaker, seperti bertakwa
kepada Tuhan yang Maha Esa, mandiri, cerdas, berilmu, dan berjiwa sosial.
Drama Sebagai Perkembangan Pendidikan Karakter Siswa Di Sekolah
Drama pada hakekatnya adalah life presented in action (Moulton melalui Harymawan,
1993: 1). yaitu sebuah kehidupan yang disajikan melalui tindakan atau akting seorang
tokoh. Drama tertulis (lakon) adalah salah satu bentuk sastra yang sengaja ditulis atau
dibuat khusus untuk dipanggungkan (Oemarjati, 1971: 12). Dalam sebuah naskah
drama yang terpilih, dan biasanya mengenai suatu kehidupan atau peristiwa yang
sedang terjadi pada saat itu kemudian dipentaskan oleh tokoh-tokoh pilihan dan dilihat
oleh banyaknya penonton. drama merupakan sebuah karya seni yang terdapat
pendidikan karakter di dalamnya, pendidikan karakter merupakan sebuah penerapan
nilai-nilai karakter pada pelajar di sekolah yang meliputi pengetahuan, kesadaran, dan
perilaku terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
sekitar.
Dalam sebuah sekolah, nilai yang akan didapatkan oleh pelajar, bukan hanya tingginya
nilai kognitif atau syarat nilai kelulusan formal, melainkan dibutuhkannya nilai-nilai
kehidupan yang berfungsi sebagai pemecah masalah sehari-hari. Pemerolehan nilai
kehidupan yang dapat disebut sebagai pendidikan karakter ini, umumnya terdapat
dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dapat diikuti oleh semua pelajar di sekolah. Drama
merupakan sebuah pelajaran yang terdapat dalam mata pelajaran seni budaya, dan
ekstrakurikuler drama di sekolah-sekolah tertentu. Biasanya, dalam ekstrakurikuler
tersebut pelajar dapat mempelajari bagaimana persiapan mengenai pementasan,
mendalami karakter tokoh, mempelajari naskah drama, melatih fisik, mental, dan
pemecahan masalah lainnya. Di sebuah sekolah, pementasan drama dilakukan ketika
15
adanya pentas seni atau suatu lomba, sehingga pembelajaran drama ini biasanya tidak
bersifat wajib.
Pentingnya pembelajaran drama di sekolah merupakan sebuah karya seni siswa yang
dapat membuat mereka menjadi pribadi yang kreatif. Drama di sekolah sangat penting
untuk menyalurkan minat dan bakat siswa agar tidak hanya belajar mengenai teori-teori
saja, dalam mempelajari sesuatu tentunya harus digunakan dalam kehidupan sehari-hari
supaya pembelajaran tersebut dapat bermanfaat. Dalam sekolah menengah, terdapat
tiga pokok pembahasan drama. Tiga pokok itu ialah pengertian drama, pemilihan drama
untuk pembelajaran, dan apresiasi pembelajaran drama (Rahmanto: 1). Untuk lebih
memahami sebuah pembelajaran tentunya hal tersebut harus dipraktikkan. Drama
bukan hanya dipelajari, akan tetapi juga harus dipraktikkan dengan sebuah pementasan.
Di Indonesia, pementasan drama sering dilakukan oleh komunitas Teater untuk lomba,
maupun pementasan rutin. Namun, di sekolah-sekolah sangat jarang terdapat
pementasan drama karena kurangnya sarana dan prasarana, padahal kegiatan drama ini
penting baginya untuk menyalurkan bakat siswa. Untuk melatih kepercayaan diri,
meningkatkan kemampuan, dan memperoleh pendidikan karakter tepatnya dalam
sebuah pementasan. Pengajaran drama bagaimana pun muaranya ialah agar siswa
memperoleh pengetahuan dan pengalaman sastra ungkap Rusyana (dalam Aminuddin,
1990:223). Pembelajaran drama dalam sekolah sangat jarang diadakan karena bukan
merupakan sebuah pelajaran yang asal jadi, ini merupakan sebuah pelajaran yang
memerlukan sebuah latihan yang jangka waktunya lama karena perlu adanya bakat dan
keahlian. Naskah yang akan dipentaskan harus dipelajari dan dipraktikkan dengan
latihan di luar jam pelajaran. Namun, disamping hal proses pembelajaran drama ini
menghasilkan sebuah pendidikan karakter yang akan dicapai.
Dalam hal tersebut dapat diketahui pentingnya drama dalam perkembangan pendidikan
karakter siswa. Melalui drama atau kesenian yang terdapat pesan moral didalamnya
dengan disampaikan melalui kesenangan, suka, senang, dan bahagia. Kegiatan drama
ini dapat membentuk karakter social tokoh yang diperankan, dalam naskah drama yang
ditunjukkan melalui dialog antar tokoh dapat membuat siswa yang memerankannya
mempelajari isi tersebut dan diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam sebuah
drama pastinya terdapat sebuah konflik, dengan begitu secara tidak sadar ketika
mempelajarinya, siswa dapat merasakan dan memecahkan sebuah konflik tersebut.
16
Dengan diadakannya pementasan dengan berbagai sifat tokoh yang berbeda, secara
tidak langsung siswa dapat mempelajari tentang perilaku orang lain dan perilaku dirinya
sendiri, dengan begitu ia akan mempunyai sifat yang saling menghargai. Pembelajaran
drama juga cukup memberikan kontribusi kepada proses pembelajaran yang lain dalam
pengetahuan dan kepandaian, misalnya dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa,
kesusasteraan, bercakap dengan irama, menghilangkan tabiat malu, menggembirakan
karena drama (sandiwara) bersifat permainan, memberikan beberapa pengertian baru,
berlatih gerak irama, menyanyi, menyesuaikan kata dengan pikiran, rasa, kemauan, dan
tenaga, mengajarkan adat sopan santun, dan seterusnya (Dewantara, 1962: 310).
Dengan diadakannya pelajaran drama atau ekstrakurikuler drama di sekolah, dapat
mengurangi kegiatan negatif karena waktu luang yang dimiliki siswa dapat dipakai
untuk kegiatan latihan yang tentunya lebih bermanfaat. Pentingnya pembelajaran drama
di sekolah, sangat mempengaruhi perkembangan Pendidikan karakter bagi setiap siswa,
meliputi minat, bakat, dan kesenangan setiap individu untuk menyalurkannya dalam
kegiatan drama tersebut. Secara tidak sadar, hubungan siswa setelah mempelajari
drama akan membentuk nilai-nilai positif yang didapatkan melalui drama
PENUTUP
KESIMPULAN
Pendidikan karakter telah didengung-dengungkan oleh pemerintah Indonesia sejak
tahun 2003. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam mewujudkan pendidikan
karakter tersebut. Pendidikan karakter tidak saja dilakukan di lingkungan formal saja,
melainkan di lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki peran yang sama
pentingnya. Pada dasarnya karakter pada mahasiswa didapat dari faktor genetik dan
faktor lingkungan. Namun yang menjadi pusat pendidikan karakter yang dimaksud oleh
pemerintah adalah karakter yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan didikan
keluarga. Drama merupakan karya sastra/seni yang diperankan. Dengan drama, nilai-
nilai atau pesan-pesan positif dalam naskah drama tersebut dapat dengan mudah
disampaikan pada khalayak ramai. Bagi mahasiswa yang ikut bermain atau
menyaksikan pertunjukan sebuah drama, secara langsung maupun tidak langsung dapat
menyelami perwatakan tokoh tiap pemain sehingga dapat memberikan efek positif bagi
mahasiswa. Manfaat yang besar dapat dipetik dari pementasan sebuah drama. Selain
mahasiswa dapat mengaplikasikan teori yang dicapainya di kelas, mahasiswa juga
dapat menambah pengalaman, menambah wawasan tentang berbagai permasalahan
17
yang ada dalam masyarakat, menyelami berbagai watak/karakter orang yang tercermin
dalam tokoh, hingga megajarkan mahasiswa dalam bersosialisasi. Drama juga termasuk
salah satu karya seni yang kaya nilai-nilai, seperti nilai estetika, nilai didaktis, nilai
religius, dan masih banyak nilai lainnya. Namun kesemuanya itu, tidak terlepas dari
ajaran-ajaran moral yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Sebuah seni drama
dikatakan bernilai, jika jauh dari pelanggaran norma adat dan agama, seperti pornografi
dan pornoaksi.
DAFTAR PUSTAKA
Harymawan, RMA. 1988. Dramaturgi. Bandung: Rosda Karya. Hasanuddin WS. 2009.
Drama Karya dalam Dua Dimensi. Bandung: Angkasa. Kementerian Pendidikan
Nasional 2011 Pendidikan Karakter pada Pendidikan Jasmani. Olahraga, dan
Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jendral Pendidikan Dasar. Saleh, Mbiyo. 1967.
Sandiwara dalam Pendidikan. Jakarta: Gunung Agung. Saptaria, Rikrik El. 2006.
Panduan Praktis Akting untuk Film dan Teater (Acting Handbook). Bandung: Rekayasa
Sains. Suriasumantri. 1984. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Sinar
Harapan. Depdiknas. 2003. Undang-Undang No.20 tahun 2003, Sistem Pendidikan
Nasional. www.depdiknas.go.id.
Nur Aulia Hafid. 2017. Pendidikan Karakter Peserta Didik Melalui Seni Drama.
https://lpmpsulsel.kemdikbud.go.id/artikel/pendidikan-karakter-peserta-didik-melalui-
seni-drama. Diakses pada 03 Desember 2020.
Muhammad. 2018. Pembelajaran Drama Pada Teater Sekolah SMA NEGERI 10
FAJAR HARAPAN BANDA ACEH. Master Bahasa Vol. 6 No. 1. Diunduh pada 03
Desember 2020.
Sumaryadi. Seni Drama dan Pendidikan Karakter.
http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/drama-karakter%20(EDIT).pdf. Diakses pada
03 Desember 2020
18
2. Mengembangkan Kecerdasan Lingustik Melalui Metode Bercerita
MENGEMBANGKAN KECERDASAN LINGUSTIK
MELALUI METODE BERCERITA
Cristy Dwi Prihatini, Nur Apisa Aprilia, Hifni Atin Kamelia
Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Sekolah Tinggi Islam Bani Saleh
PENDAHULUAN
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan
berbicara. Dalam hal tersebut anak yang memiliki kecerdasan linguistik akan dapat
mengolah kata – kata dan memilihnya secara tepat. Jasmine (2007: 16- 17) menyatakan
bahwa terdapat berbagai level kecerdasanberbahasa pada setiap orang yang berbeda.
Kecerdasan linguistic juga dapat diartikan sebagai kecerdasan verbal. Dapat diartikan
bahwa kecerdasan linguistik memiliki tingkatan yang dapat dilihat dari cara seseorang
mengolah sebuah kata dalam berkomunikasi maupun memahami apa yang dikatakan
oleh lawan komunikasinya. Dengan metode bercerita anak akan dapat mendapatkan hal
yang baru dari mendengarkan cerita yang sedang diceritakan. Selain itu cerita juga
dapat menstimulus anak untuk memiliki keberanian dalam mengungkapkan pendapat
atau tanggapan tentang isi cerita tersebut.
Leung dalam Hidajati (2009) menyebutkan bahwasannya keterlambatan
perkembangan pada awal kemampuan berbahasa dapat mempengaruhi berbagai fungsi
dalam kehidupan sehari hari. Perkembangan kemampuan berbahasa juga akan
mempengaruhi kehidupan personal sosial, juga akan menimbulkan kesulitan belajar,
bahkan kemampuan untuk menyelesaikan permasalahan pekerjaan. Saat ini angka
untuk keterlambatan bicara anak masih tergolong tinggi. Judarwanto (2009)
Keterlambatan bicara pada anak semakin hari tumbuh semakin pesat. Prevalensi
keterlambatan bicara pada anak mencapai angka 5-10%. Hal ini menjadi alasan
19
mengapa memberikan anak stimulasi pada kecerdasan verbal linguistiknya terbilang
sangat penting.
Solusinya adalah dengan melakukan pendekatan yang lebih masif untuk
mencegah terjadinya gangguan atau hambatan tersebut. Judarwanto (2011) membagi
factor yang berpengaruh pada perkembangan bahasa anak menjadi faktor internal yaitu
kognisi, prematuritas, persepsi dan faktor eksternal yakni lingkungan, pola asuh, dan
ekonomi. Soetjiningsih (2003: 29 dan 62) menyatakan pentingnya pemberian stimulasi
pada masa-masa kritis anak terhadap perkembangannya. Stimulasi diberikan untuk
merangsang perkembangan anak secara lebih optimal. Perkembangan bahsa anak
penting sekali untuk diberikan stimulasi secara verbal. Hal ini sejalan dengan data dari
Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2005), stimulasi verbal yang dapat
dilakukan orang tua untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasa anak
diantaranya adalah dengan bernyanyi dan menceritakan sajak-sajak kepada anak,
menonton televisi, banyak berbicara kepada anak dalam kalimatkalimat pendek.
Sesuai dengan teori dalam Silberg (2004: 113) menyebutkan bahwasannya
pembelajaran bahasa pada anak akan lebih mudah jika menggunkan kalimat yang
pendek – pendek. Metode bercerita merupakan metode yang tepat untuk
mengembangkan kecerdasan verbal linguistik, metode bercerita juga dapat menambah
pengalaman dari cerita yang telah didengar oleh anak. Misalnya menceritakan
pengalaman orang tua pada saat waktu kecil, ataupun bisa juga bercerita tentang fabel,
dongeng, mitos, dan legenda. Orang tua hendaknya mampu mengemas cerita secara
menarik agar anak lebih tertarik dan dapat dijadikan pengalaman yang unik. Hal ini
sejalan dengan penelitian Marlina yang berjudul “Meningkatkan Kemampuan Bahasa
Melalui Metode Bercerita Dengan Media Audio Visual di Kelompok B1 RA Perwanida
02 Slawi” hasil dari penelitian memberikan informasi bahwa terjadi peningkatan
keterampilan berbicara anak dengan menggunakan metode cerita sebesar 85%. Hasil
peningkatan dari kondisi awal ke siklus II mencapai 35%. Peningkatan tersebut menjadi
bukti bahwa pentingnya menerapkan metode cerita dalam meningkatkan kemampuan
berbahasa sejak dini.
Alasan lain mengapa memilih metode bercerita untuk mengembangkan
kecerdasan lingustik bertujuan untuk menganalisis peran orang tua dengan
menggunakan metode bercerita apakah sudah tepat dalam mengembangkan kecerdasan
20
linguistik. Karena jika orang tua tidak berperan aktif dalam mengembangkan
kecerdasan linguistik maka anak tidak akan terampil dalam berbicara dan
berkomunikasi dengan orang lain. Padahal kemampuan berbahasa sangat dibutuhkan
oleh manusia untuk bersosialisasi dengan orang lain. Karena manusia adalah makhluk
sosial dan selalu butuh kepada orang lain untuk menyampaikan keinginan dan
menyampaikan pendapatnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
PEMBAHASAAN
Kecerdasan berbahasa tidak diperoleh secara otomatis tanpausaha-usaha untuk
mendapatkannya.Walaupun hampir semua orang memiliki bagian tubuh yang lengkap
untuk berbicara seperti mulut, lidah, gigi dll. Keterampilan berbahasa diperoleh dari
pengalaman-pengalaman seseorang didalam hidupnya terhadap lingkungan
disekitarnya, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Semakin besar
pengaruh yang diberikan lingkungannya semakin besar pula kontribusinya bagi
peningkatan keterampilan si anak dalam berbahasa. Sebaliknya lingkungan tidak
memberikan kontribusi positif bagi perkembangan bahasanya, bila lingkungan tidak
aktif untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh anak.
Goor Luis Brouwer (2004: 74) menyatakan pengalaman anak, Bahasa yang
digunakan sehari-hari, di mana pembelajaran terjadi sangat memengaruhi akuisisi
bahasa.Pengaruh orang tua terhadap kecerdasan berbahasa anak tidak diragukan lagi.
Namun, masih banyak orang mengira bahwa keterampilan bahasa anak akan
berkembang dengan sendirinya sesuai dengan perkembangan jasmani dan pertambahan
usia anak. Oleh sebab itu tidak banyak orang tua yang berusaha menstimulus dan
mengembangkan kemampuan berbahasa. Akibatnya tidak banyak anak yang terampil
berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain. Kemampuan berbahasa sangat
dibutuhkan oleh manusia untuk bersosialisasi dengan orang lain. Manusia adalah
makhluk sosial dan selalu butuh kepada orang lain untuk menyampaikan keinginan dan
menyampaikan pendapatnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu
kecerdasan berbahasa sangat penting bagi kehidupan manusia.
Metode bercerita memiliki kemiripan dengan metode ceramah ataupun
dongeng. Mengapa demikian karena pencerita sama sama memberikan informasi atau
21
penjelasan secara lisan kepada subjek sebagai penerima cerita. Menurut Wiyani dan
Barnawi (2016: 126) bercerita atau mendongeng merupakan kegiatan yang dilakukan
sejak zaman dahulu atau dapat dikatakan warisan dari nenek moyang. Pada zaman
dahulu bercerita atau mendongeng menjadi tradisi sebagai salah satu cara menidurkan
anak-anaknya. Karena cerita yang disampaikan kepada anak akan memberikan
informasi tentang kehidupan sehari-hari yang nantinya dapat diterapkan pada
kehidupan anak. Melalui tokoh-tokoh yang ada di dalam cerita dapat dijadikan salah
satu cara untuk menanamkan nilai-nilai moral dengan bahasa yang menarik agar anak
lebih maksimal dalam memahami isi cerita tersebut. Namun kini bercerita merupakan
metode yang saat ini sudah mulai dilupakan.Hal ini disebabkan karena materi yang
harus disampaikan terlalu padat dan kurangnya penguasaan orang tua dalam bercerita.
Depertemen pendidikan nasional (2004: 12) menyatakan, bahwa Metode
bercerita adalah cara bertutur kata penyampaian cerita atau memberikan penjelasan
kepada anak secara lisan, dalam upaya mengenalkan ataupun memberikan keterangan
hal baru pada anak. Metode bercerita banyak diminati anak – anak. Penerapan metode
bercerita diharapkan dapat meningkatan kecerdasaan lingustik anak-anak serta bantuan
dari berbagai pihak termasuk lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal
agar semakin menumbuhkan potensi dalam proses pertumbuhkan anak – anak. Yang
perlu diperhatikan ketika menerapkan metode bercerita adalah harus menyesuaikan dan
memilah dengan perkembangan anak baik dari segi bahasa, media yang digunakan
maupun langkah-langkah pada saat pelaksanaannya agar lebih efektif.
Cerita anak ataupun mendongeng erat kaitannya dengan intonasi atau
bahasa.Pendongeng atau pembaca cerita hendaknyamampu menirukan suara tokoh
seperti binatang dan manusia, anak kecil, ataupun orang yang sudah berumur tua. Oleh
sebab itu, dapat dikatakan bahwa cerita merupakan media belajar bahasa yang memiliki
banyak kosakata bagi anak. Selain itu, cerita juga dapat mendorong imajinasi anak
menjadi lebih tinggi, sehingga anak dapat menjadi lebih kreatif dalam menyikapi cerita
tersebut.Sebagaimana disebutkan sebelumnya, bahwa otak tidak dapat membedakan
aturan yang nyata dan yang imajinatif. Oleh karena itu, ketika anak dibacakan cerita,
seakan-akan mereka mengalami peristiwa sebagaimana setting dalam cerita tersebut
(Suyadi 2014: 207). Imajinasi yang muncul pada anak berkaitan dengan lingkungan
disekitar atau peristiwa yang dilihat dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini sama dengan
apa yang dinyatakan oleh Yulianti (2010: 37) metode bercerita salah satu pemberian
pengalaman belajar untuk anak karena mengandung pesan maupun informasi.
22
Membacakan cerita kepada anak secara lisan dengan cara membaca langsung
ataupun menggunakan alat peraga dapat mengembangkan daya imajinasinya. Cerita
adalah metode yang dapat dipahami dengan mudah oleh anak usia dini yang belum bisa
membaca sekalipun sekaligus mendorong anak agar lebih menyukai aktivitas
membaca. Melalui cerita atau dongeng anak dapat memetakan suatu pengalaman dan
melihat gambaran yang sudah diceritakan dan terbentuk di dalam kepala melalui
imajinasi. Sanchez dkk (2009) dalam jurnal Ahyani (2010: 26) menyatakan, bahwa
metode cerita atau dongeng memiliki kekuatan utama untuk menghubungkan
rangsangan lewat gambaran karakter. Hal ini berarti metode bercerita mampu
menguatkan imajinasi, mendorong dan meningkatkan rasa empati dan pemahaman,
menguatkan nilai dan etika, serta merangsang berpikir kreatif.
Metode bercerita membantu perkembangan anak secara komprehensif melalui
implikasi dari perkembangan bahasanya. Perkembangan bahasa ini menjadi modal
yang paling utama untuk mencapai perkembangan kecerdasan lainnya pada anak.
Berikut adalah beberapa perkembangan lain yang dinyatakan oleh Bachri (2005: 10)
yaitu memiliki kemampuan dan keterampilan dalam mendengarkan dengan baik,
berbicara dengan runtut, berinteraksi atau bersosialisasi, berekspresi, melakukan
imajinasi, dan berpikir atau berlogika dengan baik.
Bawono (2012) menyatakan dongeng merupakan tradisi lisan yang sejak dulu
sudah ada dan diwariskan oleh para pendahulu. Melalui dongeng-dongeng tersebut,
banyak muatan yang terkandung didalamnya. Dari cerita maupun tokoh yang ada di
dalam dongeng banyak manfaat yang bisa dipetik. Kenyataan di lapangan menunjukkan
bahwa saat ini mendongeng atau membacakan cerita untuk anak-anak sudah mulai
digeser oleh aktivitas lain. Hal ini sejalan yang dikemukakan oleh Bawono (2006)
bahwa jika orang tua sudah tidak memiliki waktu lagi untuk mendongeng, maka orang
tua akan cenderung menyuguhkan beragam acara televisi, menyediakan komputer
(untuk main games atau akses internet), VCD/DVD player, atau bahkan playstation jika
dibandingkan dengan mendongeng kepada anak. Padahal pada umumnya anak sangat
menyukaidongeng yang diceritakan oleh orang tua. Bahkan banyak diantaranya yang
ingin diceritakan dengan cerita-cerita yang itu-itu saja. Seolah-olah tidak ada kata bosan
di benaknya. Baik itu ceritacerita lokal semacam Danau toba, Si Kancil, Malin
Kundang, maupun cerita-cerita dongeng dari mancanegara seperti Aladdin atau Putri
Salju. Maka tidak terlalu mengherankan apabila hamper sebagian besar orang dewasa
memiliki kenangan akan dongeng pada masa kanak-kanaknya (Bawono, 2012).
23
Ariyani dalam Kartono (1985) dongeng yang disampaikan secara langsung akan
lebih mempererat hubungan batin antara orang tua dan anak-anak. Yulianingsih (2016)
juga menyatakan bahwa penting memberikan informasi dan pemahaman kembali
kepada kaum orangtua akan pentingnya kegiatan literasi untuk anak di rumah, termasuk
mendongeng, misalnya saja yang paling sederhana, mendongeng sebelum anak tidur
malam atau mendongeng di selasela waktu luang keluarga. Secara tidak langsung
mendongeng atau bercerita merupakan suatu kesempatan baik untuk mengajarkan
sesuatu kepada anak-anak. Cerita dongeng akan membuat anak mengerti hal-hal yang
baik dan buruk. Artinya adalah hal-hal mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak
boleh dilakukan.Melalui cerita dongeng, anak dapat mempelajari, memahami dan
menghayati segala bentuk nilai-nilai, norma-norma, kaidah-kaidah dalam kehidupan
bermasyarakat. Nilai-nilai, dan norma-norma misalnyaseperti: keberanian, kejujuran,
kebahagiaan, kelicikan, kejahatan, kebodohan, dan sebagainya.
Monica Hotma Elya (2019) dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh
Metode Bercerita dan Gaya Belajar terhadap Kemampuan Berbicara Anak usia dini”
menghasilkan kesimpulan yaitu terdapat pengaruh interaksi antara metode bercerita dan
gaya belajar terhadap kemampuan berbicara anak. Artinya untuk meningkatkan
kemampuan berbicara anak maka penerapan metode bercerita harus disesuaikan
dengangaya belajar anak. Anak dengan gaya belajar auditory yang diajarkan
menggunakan metode bercerita dengan boneka tangan kemampuan berbicaranya lebih
tinggi daripada anak yang diajarkan menggunakan metode bercerita dengan media
power point. Artinya untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, anak yang
gayabelajarnya auditory lebih tepat digunakan metode bercerita dengan boneka tangan.
Kemudian anak dengan gayabelajar visual yang diajarkan menggunakan metode
bercerita dengan boneka tangan kemampuan berbicaranya lebih rendah daripada anak
yang diajarkan menggunakan metode bercerita dengan media power point. Itu berarti
untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, anak yang gaya belajarnya visual
lebih tepat digunakan metode bercerita dengan media power point. Selanjutnya anak
yang diajarkan menggunakan metode bercerita dengan media boneka tangan, yang
memiliki gaya belajar auditory kemampuan berbicaranya lebih tinggi daripada anak
yang memiliki gaya belajar visual. Artinya untuk meningkatkan kemampuan berbicara
anak, anak yang memiliki gaya belajar auditory, lebih tepat digunakan metode bercerita
dengan media boneka tangan. Selanjutnya anak yang diajarkan menggunakan metode
bercerita dengan media power point, yang memiliki gaya belajar visual kemampuan
24
berbicaranya lebih tinggi daripada anak yang memiliki gaya belajar auditory. Artinya
untuk meningkatkan kemampuan berbicara anak, anak yang memiliki gaya belajar
visual lebih tepat digunakan metode bercerita dengan media power point. Berdasarkan
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode bercerita dan gayabelajar berpengaruh
terhadap kemampuan berbicara anak. Oleh karena itu, untuk meningkatkan
kemampuan berbicara anak, penggunaan metode bercerita dan gaya belajar yang
dimiliki anak sangat membantu.
Metode bercerita tidak hanya dilakukan dengan mendongeng saja, akan tetapi
bisa juga dilakukan dengan media seperti menggunakan power point atau boneka
tangan, dan sudah terbukti keefektifannya melalui penelitian diatas untuk
meningkatkan kemampuan berbicara. Kemampuan berbicara termasuk aspek penting
dalam kecerdasan verbal linguistik. Orang tua bisa memilih bercerita menggunakan
media boneka tangan atau media power point, akan tetapi yang lebih mudah dilakukan
oleh orang tua adalah menggunakan media boneka tangan karena lebih mudah untuk
digunakan dan bisa dengan membuat kerajinan boneka tangan sendiri.
Penelitian yang dilakukan oleh Anita Rosalina dkk berjudul “Peranan Orangtua
dalam Dongeng Sebelum Tidur Untuk Optimalisasi Kemampuan Berkomunikasi Anak
Usia Dini”menyatakan bahwa hasil dari penelitiannya adalah pemberian dongeng
sebelum tidur yang dilakukan secara rutin dan tepat oleh orang tua kepada anaknya
yang berusia dini akan dapat mengoptimalkan kemampuan komunikasi anak.
Pemberian dongeng juga harus diberikan secara tepat, dalam arti harus diperhatikan
kapan waktu dongeng tersebut diberikan, durasi waktu pemberian dongeng, bentuk
komunikasi yang digunakan saat pemberiandongeng, serta jenis dongeng yang
diberikan kepada anak.
Penelitian ini juga melihat hasil dari subjek setelah diberidongeng secara rutin
yaitu pada awalnya penguasaan kosa kata subjek tergolong baik, namun setelah kurang
lebih 2 minggu diberikan dongeng sebelum tidur secara rutin oleh orang tua,
penguasaan kosa kata subjek semakin meningkat tajam. Penguasaan kosa kata ini
ditandai dengan munculnya banyak kosa kata baru yang dikuasai oleh subjek. Pada
jangka waktu kurang lebih 2 minggu setelah pemberian rutin dongeng sebelum tidur
tersebut kemampuan verbal reseptif subjek pun berkembang semakin pemberian
dongeng secara teratur saat ini subjek mampu lebih jauh memahami instruksi yang
diberikan. Subjek juga dapat jauh lebih memahami perasaan atau pikiran yang ingin ia
utarakan, bahkan subjek terkadang membetulkan sendiri ucapannya yang sesekali.
25
Pengucapan atau fonologi yang dimiliki subjek dalam mengucapkan kata atau kalimat
juga tampak jauh lebih jelas. Kemampuan subjek dalam menyusun kalimat jauh lebih
sempurna. Setelah rutin diberikan dongeng sebelum tidur, subjek telah mampu
merangkai dua hingga empat kalimat secara utuh. Subjek juga mampu untuk melakukan
komunikasi dengan berbagai pilihan kata. Subjek memiliki kemampuan menyusun kata
dalam mengutarakan kemauannya, termasuk kemampuan menyusun kata ketika
berpendapat atau berkomentar terhadap sesuatu yang membuatnya tertarik, pemilihan
kata dan penggunaan kata dalam berkomunikasi dengan orangtua atau orang yang lebih
tua.
Hasil penelitian diatas pemberian salah satu aspek metode cerita yaitu
mendongeng oleh orang tua dapat mengembangkan kecerdasan verbal linguistik. Hal
ini sesuai dengan indicator kecerdasan verbal linguistik yang dikembangkan oleh
peneliti yaitu;
1. Anak akan sangat senang jika berkomunikasi dengan orang lain, baik
dengan teman sebaya maupun orang dewasa. Dalam indikator ini subjek
pada penelitian diatas mampu untuk melakukan komunikasi dengan
berbagai kata-kata.
2. Anak memiliki lebih banyak kosa kata daripada anak-anak pada seusianya
dan ditunjukkan saat anak berbicara dan bercerita. Indikator ini subjek
mendapatkan banyak kosa kata baru.
3. Senang bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang didapat dalam
kegiatan sehari-hari. Dalam indikator ini subjek mampu memahami
perasaan dan pikiran yang ingin dikatakan.
4. Anak suka memperhatikan cerita dari pendidik ataupun orang tua dan dapat
menceritakan kembali dengan Bahasa mereka sendiri. dalam indikator ini
subjek dapat menyusun kata ketika berpendapat atau komentar terhadap hal
yang membuat subjektertarik.
5. Mudah dalam mengucapkan kata-kata. Dalam indikator ini subjek mampu
untuk memilih kata jika berkomunikasi denganorang yang lebih tua.
Penjelasan di atas dapat diketahui bahwa pakar pendidikan anak dan penelitian
sepakat tentang metode cerita sebagai media pembelajaran dalam mengembangan
kecerdasan verbal linguistic yang tepat. Karena lebih mudah dilakukan. Dan sesuai
dengan indikator yang dikembangkan oleh peneliti. Oleh karena itu hendaknya orang
26
tua sangat berperan dalam mengembangkan kecerdasan verbal linguistik anak usia dini,
karena orang tua adalah pendidik yang pertama dan utama terutama bagi anak.
PENUTUP
Hasil pembahasan penelitian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa peran
orang tua sangat penting dalam mengembangkan kecerdasan verbal linguistik, karena
orang tua memiliki lebih banyak waktu dengan anak. Salah satu metode yang tepat
dalam mengembangkan kecerdasan verbal linguistik dan sudah dibuktikan oleh pakar
pendidikan dan penelitian terhadap anak usia dini adalah metode bercerita. Bercerita
yang disampaikan oleh orang tua kepada anak secara langsung dapat mempererat
hubungan batin anak karena orang tua merupakan pendidik yang pertama dan utama
sehingga anak akan lebih nyaman jika bersama dengan orang tuanya. Melalui bercerita
anak juga akan mendapatkan kosakata baru serta akan menambahkan pengalaman
belajar kepada anak. Hal ini sudah dibuktikan melalui indikator-indikator kecerdasan
verbal linguistic yang sudah ditetapkan
27
DAFTAR PUSTAKA
Anggraeni, Peppy Forestry. 2017. Penyelenggaraan Program Sekolah
Perempuan Pada LSM KPS2K (Kelompok Perempuan dan
Sumber-Sumber Kehidupan) dalam Meningkatkan Kemandirian
Ibu Muda di Desa Kesamben Kulon Kecamatan Wringinanom
Kabupaten Gresik. Skripsi. Universitas Negeri Surabaya
Bachri, Bachtiar S. (2005). Pengembangan Kegiatan Bercerita
di Taman Kanak-kanak, Teknik dan Prosedurnya.
Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional
Direktoral Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat
Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan
Ketenagakerjaan Perguruan Tinggi.
Bawono, Y. (2012). Membentuk Karakter Anak yang
Andal dan Berbudi Pekerti Melalui
Intensitas Pemberian Dongeng Sejak Dini.
Prosiding Seminar Nasional. Yogyakarta: Universitas
Sarjana Wiyata Taman Siswa.
Bawono, Y. (2006). Keajaiban Dongeng. Majalah Psikologi
Plus. Vol. I. No. 01
Elya, Monica Hotma, (2020). Pengaruh Metode Bercerita dan
Gaya Belajar terhadap Kemampuan BerbicaraAnak usia dini. Jurnal Obsesi
Kamarastra, Zeryu dan I Ketut Atmaja J.A. Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas
Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya,
[email protected], [email protected].
28
3. Peningkatan Minat Anak Usia Dini Dalam Bermain Seni Pertunjukan.
Peningkatan Minat Anak Usia Dini Dalam Bermain Seni
Pertunjukan
Lita Listiana, Mutia Muyasaroh, Santi
Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh
PENDAHULUAN
Anak usia dini merupakan anak yang berada dalam rentang usia 0 sampai dengan 8
tahun. Pada hakekatnya taman kanak-kanak adalah tempat anak-anak bermain sambil
belajar atau belajar sambil bermain. Program Pendidikan Prasekolah bukan usaha
percepatan untuk menguasai pelajaran (Depdikbud, 2005:2). Atas dasar konsep
bermain sambil belajar atau belajar sambil bermain dengan berbagai alat bantu belajar
serta metode belajar yang sesuai dengan kebutuhan, minat, kemampuan serta tingkat
perkembangan anak. Seni merupakan salah satu dari sub domain perkembangan
kognitif. Ekspresi artistik adalah suatu komponen penting dalam perkembangan
kepribadian dan pengalaman anak. Melalui seni, anak-anak memiliki kesempatan untuk
mengembangkan fantasi serta kreativitas dengan berbagai cara dan juga mereka akan
belajar bagaimana cara mengekspresikan diri, minat, kemampuan, serta ketrampilan
mereka.
LATAR BELAKANG
Teater berasal dari berbagai bahasa di dunia. Terdapat “theatre” dalam bahasa Inggris
atau “teatron” dalam bahasa Yunani yang memiliki makna sebagai tempat untuk
menonton. Dahulunya teater merupakan tempat menonton sebuah pertunjukan seperti drama
dengan penataan panggung berdasarkan cerita yang ditampilkan. Awalnya, teater di Indonesia
berfungsi sebagai bentuk pemujaan. Seiring berjalannya waktu, fungsi tersebut berubah dengan
teknologi terintegrasi. Negara Indonesia sangat kaya dengan tradisi dan banyak sekali etnik
memiliki kebiasaan dalam berbagai kehidupan sehari-hari. Karena itulah pembentukan teater
di indonesia sangat beragam, beberapa contoh teater tradisonal di Indonesia di antaranya adalah
drama gong, lenong, ludruk, wayang wong, wayang kulit, ketoprak, ubrug, arja, randai, dan
lainnya. Teater sudah banyak berkembang saat ini banyak dari kita menyajikan teater transisi
yang disebut juga sebagai teater modern. Teater transisi dilatarbelakangi oleh pengaruh budaya
lain sehingga memberi sentuhan warna yang berbeda. Unsur teater transisi terdiri atas teknik
teater barat yang mana pada masa itu dilakoni oleh orang Belanda pada tahun 1805. Kegiatan
29
bermain peran sebagai pilihan judul artikel kami guna mengembangkan minat dan bakat anak-
anak dalam seni peran/teater. Sehingga anak-anak tertarik dengan kegiatan tersebut dan
memiliki antusias yang besar untuk mempelajari seni bermain peran.
MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka masalah ini akan
dibahas adalah bagaimana meningkatkan kemampuan anak usia dini dalam bermain
peran pertunjukan teater?
TUJUAN
Tujuan kami untuk mengembangkan minat dan bakat anak-anak dalam seni
peran/teater. Sehingga anak-anak tertarik dengan kegiatan tersebut dan memiliki
antusias yang besar untuk mempelajari seni bermain peran. Dengan menyajikan cerita
tradisional dan juga yang sudah di ubah menjadi modern, serta untuk melestarikan
budaya di dalam dan juga ke luar negeri melalui seni peran dan juga untuk
mempertunjukkan drama mengenai kehidupan masa modern pada masa kini atau
sekarang.
PEMBAHASAN
HAKEKAT SENI PERTUNJUKAN
Masa pada anak usia dini merupakan masa pendidikan jasmani dan panca indra. Pada
masa ini anak juga menyukai aktivitas-aktivitas yang bersifat jasmaniah. Ekspresi dan
aktualisasi diri merupakan salah satu kebutuhan psikologis yang penting bagi anak
taman kanak-kanak. Aspek tersebut dapat difasilitasi melalui kesenian, karena setiap
anak sesungguhnya mempunyai bakat kreatif yang dibawa sejak lahir meskipun
kualitasnya berbeda-beda antara anak yang satu dengan yang lain. Seni pertunjukan
adalah suatu konsep atau bentuk seni yang diciptakan oleh seorang seniman dan
dipentaskan di hadapan penonton di sebuah panggung oleh seorang atau sekelompok
orang yang di dukung oleh media intrinsik dan ekstrinsik. Seni perunjukan ini
mencangkup beberapa jenis seni diantaranya : seni musik, seni drama, seni film, dan
seni tari. Namun dalam kegiatan seni perlu kita garis bawahi bahwa seni untuk anak-
anak dan orang dewasa pasti berbeda, karena karakter fisik dan mentalnya pun juga
berbeda. Hal ini guru harus lebih menunjukan semangat dan kreatifitas kepada anak-
anak untuk melakukan seni pertunjukan. Dalam seni pertunjukan kita dapat mengenal
seni teater, mengenai teater sebagai media pendidikan di sekolah yang akan penulis
uraikan sebagai tujuan dari tulisan ini. Pertama, penelitian menunjukkan bagaimana
keterkaitan teater dengan dunia pendidikan. Kedua, mengungkapkan ten-tang proses
30
komunikasi seni teater se bagai media komunikasi pendidikan. Ketiga, menganalisis
bagaimana nilai seni teater sebagai media pendidikan di sekolah bagi para pelakunya.
teater sebagai media komunikasi pendidikan menunjukkan bahwa prinsip dasar per-
tunjukan teater adalah komunikasi sim-bolik. Teater merupakan lingkungan sim-bolik
(Kuntowijoyo, 1987: 66) yang merepresentasikan makna dan nilai dalam kehidupan
sehari-hari seperti kata, bahasa, mite, nyanyian, seni, upacara, tingkah laku, benda-
benda, konsep-konsep dan sebagainya (Mursito, 1997). Pentingnya teater dalam ranah
pendidikan, kiranya dapat mengambil intisari dari sebuah tulisan tentang Contemporary
Theatre in Education (Wooster, 2007:2) menyatakan bahwa posisi teater dalam
pendidikan yang dikembangkan sebagai hibrida dari arus informasi teatrikal dan
pendidikan baru harus diciptakan melalui pendekatan anak-anak untuk belajar dalam
konteks teatrikal. Kekhasan teater dalam pendidikan adalah pembelajaran yang
berpusat pada anak, penggunaan permainan, dan belajar sambil berbuat. Hal demikian,
dapat dilihat dari ekspresi anak-anak ketika ia menjadi bagian dari proses berteater.
Para guru dan siswa yang terlibat dalam proses teater lebih membaca komunikasi seni
teater sebagai peningkatan kualitas hubungan antara peserta yang terlibat. Penekanan
adanya makna dan nilai pada suatu pesan berteater, dari proses hingga pertunjukan
menunjukkan nilai-nilai seni yang membuat sebuah relasi, yaitu relasi nilai-nilai. Teater
sebagai media komunikasi terdapat dua nilai, yaitu nilai kualitas dan nilai ideal. Dapat
disimpulkan melalui pertunjukan teater demikian, para siswa dirangsang kreativitasnya
untuk mengekspresikan diri melalui aturan-aturan main pertunjukan. Ada kebanggaan
siswa dapat ditonton kerabat dan keluarganya, sekaligus menjadi pembuktian diri
tampil dengan penuh percaya diri di hadapan publik. Sebagai media komunikasi, teater
yang ditampilkan para siswa menjadi bagian dari cara berkomunikasi secara verbal
maupun non verbal.
MENGENAL TEATER MUSIKAL 2.5 DIMENSI
Banyaknya budaya asing yang masuk ke indonesia membuat budaya lokal terancam,
dan diperlukan pelestarian budaya melalui cara yang kekinian sehingga dapat diterima
anak usia dini. Di sinilah peran sekolah, guru dan orangtua memegang peran penting
dalam mengembangkan minat anak dalam seni peran. Menolak budaya asing adalah hal
yang mustahil, namun menguatkan budaya sendiri dengan inovasi dan teknologi dapat
menjadi solusi. Salah satu contoh negara yang berhasil menyebarkan kebudayaan lokal
melalui cara yang kekinian adalah Jepang melalui “Musical 2.5D”. Musikal 2.5
Dimensi “Musical 2.5D” merupakan salah satu bentuk hiburan panggung yang berasal
dari Jepang yang cukup menghasilkan popularitas hingga ke seluruh dunia. Yang
membuat seni peran mereka berbeda karena musikal ini didasarkan pada komik Jepang,
anime atau video game dan berusaha untuk menggambarkan dunia cerita asalnya
dengan seksama diatas panggung yang biasa kita kenal sebagai Aksi Langsung (Live
31
Action). Sejak istilah “Musikal 2.5 Dimensi” diciptakan di Jepang, produksi drama
panggung bedasarkan manga, anime dan video game telah banyak dipentaskan. Pada
tahun 2015, manga One Piece didaptasi menjadi drama kabuki yang merupakan seni
teater tradisional. Hal ini merupakan suatu gebrakan baru karena One
Piece merupakan serial manga pertama yang diadaptasi menjadi drama kabuki.
Perpaduan antara Kabuki yang tradisional dengan cerita One Piece yang modern
membuat anak usia dini dapat menikmati kesenian kabuki yang biasanya kurang
diminati oleh anak muda. Pada awalnya, penonton yang sebagian besar terdiri dari
wanita muda diketahui secara bercanda menyebut petunjukan tersebut sebagai
“panggung musikal dengan pria tampan”. Namun, seiring berjalannya waktu,
pertunjukan musikal 2.5D menjadi semakin halus dan akhirnya memiliki penggemar
yang berdedikasi. Berdasarkan perkataan seseorang dari bagian hubungan masyarakat
untuk Asosiasi Musikal 2.5 Dimensi Jepang (Japan 2.5D Musical Association),
menurutnya “Setelah 10 tahun lamanya, Musikal 2.5 dimensi akhinya mulai diakui
sebagai petunjukan musikal yang layak” Kesuksesan aktor musikal yang tekenal,
menginspirasi banyak aktor muda yang bercita-cita untuk mengikuti audisi pada bidang
ini, karena bidang musikal ini telah dipandang sebagai pintu gerbang menuju
kesuksesan dalam industri teater musikal. Musikal 2.5-D telah menarik banyak
perhatian baik dari fans lokal maupun fans internasional, Sejak serial dari Shonen
Jump Prince of Tennis dibuat drama panggungnya 17 tahun yang lalu. Di luar negeri,
popularitas musikal 2.5D sedang meningkat pesat. Pada tahun 2018, untuk pertama kalinya,
panggung teater musikal Touken Ranbu dipentaskan di Prancis, dan mendapatkan banyak
pujian. Teater musikal yang diadaptasi dari online yang cukup populer di jepang. Pada tahun
2019, Panggung musikal dari manga asli Bishojo Senshi Sailor Moon melakukan tur di Ameika
Serikat, tiket petunjukan musikal tersebut terjual habis satu demi satu. Tidak seperti manga,
anime, game dan sejenisnya, musikal 2.5-D dilisensikan di dalam negeri Jepang dan
sulit untuk disalin, meminimalkan kekhawatiran akan adanya versi bajakan dari
musikal tersebut. Gebrakan yang seperti ini yang dibutuhkan di indonesia seni
tradisional diubah menjadi modern untuk menambah minat anak usia dini. Di indonesia
lenong merupakan seni tradisional yang digabungkan dengan seni modern yang cukup
menarik minat anak usia dini walaupun pamor dari lenong sudah mulai menurun
dikalangan anak usia dini.
32
MENGENAL SENI TEATER TRADISIONAL INDONESIA YANG TERKENAL DI
DUNIA
Lenong juga merupakan seni teater tradisional yang sudah mendunia, lenong adalah
teater tradisional asal Jakarta yang dibawakan dalam dialek Betawi. Dalam
pertunjukannya, Lenong diiringi dengan musik gambang kromon yang terdiri dari
gambang, kromong, gong, kendang, suling, dan kecrekan. Tema cerita yang
ditampilkan biasanya kehidupan sehari-hari yang mengandung pesan moral.
Pertunjukan Lenong dimainkan di atas panggung yang berlatarkan tema cerita yang
akan ditampilkan. Pemain Lenong yang laki-laki disebut Panjak, sedangkan yang
perempuan disebut Ronggeng. Jumlah pemain dalam pertunjukan Lenong tidak
terbatas, tergantung peran yang dibutuhkan. Lalu ada sebuah seni pertunjukan drama
tradisional yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah dan berkembang di Yogyakarta
yang juga cukup terkenal di dunia yaitu adalah Ketoprak. Pada awal kemunculannya,
ketoprak diiringin dengan lesung (tempat menumbuk padi) yang dipukul secara
berirama sebagai iringannya. Lambat laun, pertunjukan ketoprak diiringi dengan
gamelan jawa. Tema ceita yang diambil bisasanya dari kehidupan para petani, cerita-
cerita legenda, dan kisah-kisah fiksi yang disajikan dalam bahasa Jawa. Jika masyarakat
Jawa Tengah memiliki ketoprak sebagai seni pertunjukaannya, masyarakat Jawa Timur
pun memiliki seni pertunjukaan yang serupa bernama Ludruk. Dalam pertunjukkanya,
Ludruk menampilkan cerita tentang kehidupan sehari-hari yang deselingi denga
lawakan dan diiringi dengan gamelan sebagai musiknya. Ludruk memiliki daya tarik
tersendiri karena disampaikan dengan bahsa yang lugas sehingga mudah dimengerti
oleh orang. Biasanya Ludruk diawali dengan Tari Remo. Mungkin masih terdengar
asing oleh kita, ini merupakan seni pertunjukan teater tradisional yang berasal dari
Kalimantan Selatan yaitu Mamanda. Alur ceritanya gampang disesuaikan dengan
keadaan sehingga cocok untuk ditampilkan dalam berbagai perayaan seperti pesta
perkawinan, panen, maupun hari-hari besar lainnya. Ada masa kerajaan Banjar,
kesenian Mamanda sangat populer. Tradisi cerita dalam Mamanda, selalu
menghadirkan tokoh tetap seperti sultan, panglima perang, perdana menteri,
permaisuri, puteri raja, pangeran, pengawal kerajaan, jin, perampok, dan orang
kampung. Nuansa cerita seputar kerajaan inilah yang menjadi ciri khas dari
Mamanda.Kadang-kadang mamanda juga diselingi dengan lagu-lagu keroncong, atau
irama melayu dari penyanyi dan grup orkes yang menyertai pementasannya.
33
MENYEBARKAN SENI TEATER TRADISIONAL UNTUK LEBIH DIKENAL
ANAK USIA DINI
Lemahnya peran pemuda dalam menjaga dan melestarikan seni dan budaya karena
trend gaya hidup yang banyak budaya modern yang kebarat-baratan. Karena itulah anak
usia dini kurang mengenal budaya dari negeri sendiri apalagi bisa ikut mempelajari dan
melestarikannya. Ada peribahasa yang berbunyi, Tak Kenal Maka Tak Sayang yang
berarti penting untuk lebih dulu mengenal sebelum menyayangi sesuatu. Hal tersebut
juga bisa diterapkan untuk memperkenalkan seni teater tradisional pada anak usia dini.
Upaya pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui berbagai pertunjukkan
secara regular. Hal utama yang juga harus dilakukan adalah pemberian apresiasi dan
pemahaman bahwa teater tradisional tiap-tiap daerah memiliki keunikan yang berbeda-
beda. Membuat seni teater tradisional dengan sentuhan modern bisa membuat cerita
yang monoton lebih menarik. Dengan pemilihan tema yang sedang trend di kalangan
anak muda, plot cerita yang sederhana lalu berkembang secara bertahap menjadi
kompleks, klimaks, sampai penyelesaian. Seperti musikal 2.5D yang sudah kita bahas
diatas, demi menarik minat anak usia dini dibuatlah seni teater modern dengan
mengadaptasi bedasarkan manga, anime dan video game. Nyatanya seni bermain peran
menjadi populer lagi di kalangan anak usia dini dan banyak dari kesuksesan aktor
musikal yang tekenal menginspirasi banyak aktor muda yang bercita-cita untuk
mengikuti audisi pada teater musikal, karena seni teater musikal ini telah dipandang
sebagai pintu gerbang menuju kesuksesan.
MANFAAT YANG DIDAPAT ANAK BELAJAR DARI SENI BERMAIN PERAN
Saat bermain peran, anak-anak seakan masuk ke dalam dunianya sendiri, yang penuh
keajaiban, dan petualangan seperti yang dialami oleh karakter favoritnya di TV. Dan
tak jarang kita, para orang tua, diajak ikut masuk ke dalamnya. Bermain peran bukanlah
permainan tanpa makna, namun justru penting bagi perkembangan emosional, mental,
intelektual, bahkan fisik anak. Di bawah ini ada beberapa manfaat dari bermain peran
yang perlu diketahui:
1. Membangun kepercayaan diri
Dengan berpura-pura menjadi apapun yang anak inginkan, misalnya putri atau
superhero, dapat membuat anak dapat “merasakan” sensasi menjadi karakter-karakter
tadi sehingga dapat meningkatkan kepercayaan dirinya.
34
2. Mengembangkan kemampuan bahasa
Saat bermain peran, anak pastinya akan berbicara seperti karakter atau orang yang
diperankannya. Hal ini dapat memperluas kosakata anak dan melatihnya berpidato.
Sering mengulangi dialog yang biasa ia dengar dari sebuah adegan dapat membuat anak
lebih percaya diri dalam berkomunikasi dan mengekspresikan diri.
3. Meningkatkan kreativitas dan akal
Saat bermain peran, kreativitas anak akan terbawa keluar, sehingga anak menjadi
banyak akal saat mencoba membangun dunia impiannya. Misalnya, kardus-kardus
dibuat menjadi istana, bayangan-bayangan dari jari-jarinya yang bermain menjadi
bentuk hewan, dan sebagainya.
4. Membuka kesempatan untuk memecahkan masalah
Pada situasi tertentu saat bermain peran, pikiran anak akan terlatih untuk menemukan
solusi jika ada masalah terjadi. Misalnya, ketika boneka bayinya ditidurkan, anak akan
menyadari bahwa bayi butuh selimut untuk tetap hangat. Denga memecahkan msalah
saat bermain dapat membantu membangun kepercayaan diri anak saat nantinya harus
mengatasi masalah di kehidupan nyata.
5. Membangun kemampuan sosial dan empati
Dalam bermain peran, anak sedang menempatkan dirinya dalam pengalaman menjadi
orang lain. Menghidupkan kembali sebuah adegan bisa membantu dia menghargai
perasaan orang lain sehingga dapat membantunya mengembangkan empati. Selain itu,
karena bermain peran lebih menyenangkan dilakukan bersama teman, anak dapat
belajar berkomunikasi, bergiliran, dan berbagi peralatan atau mainan bersama
temannya.
6. Memberi mereka pandangan positif
Anak-anak memiliki imajinasi yang tidak terbatas. Bermain peran dapat membantu
anak bermimpi dan berusaha mencapai mimpi dan cita-citanya.
35
PENUTUP
KESIMPULAN
Anak usia dini perlu mengenal kesenian dan kebudayaan Indonesia yang sangat banyak
ragamnya. Dengan mengenal, akan lebih mudah untuk tertarik dan mempelajarinya.
Selanjutnya akan muncul rasa ikut memiliki dan pada akhirnya tumbuh rasa mencintai
seni dan budaya sendiri. Begitu juga dengan ketertarikan terhadap seni peran, kita bisa
membuat seni teater tradisional dengan sentuhan modern bisa membuat cerita yang
monoton lebih menarik. Dengan pemilihan tema yang sedang trend di kalangan anak-
anak zaman sekarang mungkin dengan cara mengikuti trend mereka bisa mendalami
dan menikmati seni peran.
DAFTAR PUSTAKA
Jaeni. (2012). “ Komunikasi Estetik dalam Seni Pertunjukan Teater Rakyat Sandiwara
Cirebon”. Jurnal Seni Budaya PANGGUNG. Vol. 22 no 2. 2012, p. 160. Bandung:
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STSI Bandung.
http://jurnalaspikom.org
Prusdianto (2016). “Pendidikan Seni Teater; Sekolah, Teater Dan Pendidiknya”,Tanra,
Jurnal desain komunikasi visual Fakultas Seni dan Desain, Universitas Negeri Makasar.
volume 3, nomor 3 – p. 27- 35. http://jurnalaspikom.org
https://nasional.okezone.com/read/2020/02/06/337/2164354/deretan-seni-
pertunjukan-tradisional-indonesia-ada-yang-sudah-mendunia
https://tambahpinter.com/perkembangan-teater-indonesia/
https://www.parenting.co.id/balita/manfaat+anak+bermain+peran
https://www.japantimes.co.jp/culture/2015/03/31/stage/tenimyu-2-5-d-shows-net-2-
million-tickets-sold/
https://unseenjapan.com/2d-musical/
https://www.americantheatre.org/2019/04/22/anime-magnetism/
36
4. Penarapan Nilai Kemanusiaan Dalam Pembentukan Karakter Siswa Melalui Sastra.
Penerapan Nilai Kemanusiaan Dalam Pembentukan Karakter
Siswa Melalui Sastra
Mutiara Deswita, Kusmiyati, Sarah
Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh : Jl. Setiadarma II Tambun Selatan. Telp
(021) 8812119
Abstract. This study aims to determine and compare character education in literature.
The method used in this study is a qualitative research method with data collection
techniques through literature studies conducted by reviewing the literature using
existing theories as reinforcement and can produce new theories regarding the
application of human values in shaping student character through literature. This
research shows that literature can create student character, not only in the academic
field.
Keywords : The human value of character building students through literature.
Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pendidikan
karaker dalam bidang sastra. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur
yang dilakukan dengan mengkaji literatur menggunakan teori yang sudah ada sebagai
penguat serta dapat menghasilkan teori baru mengenai penerapan nilai kemanusiaan
dalam pembentukan karakter siswa melalui sastra. Penelitian ini menunjukkan bahwa
dalam sastra bisa menciptakan karakter siswa, buka hanya dalam bidang akademik saja.
Kata Kunci : Nilai kemanusiaan pembentukan karakter siswa melalui sastra.
PENDAHULUAN
Sastra memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan karakter. Hal ini
disebabkan, karena karya sastra pada dasarnya membicarakan berbagai nilai-nilai
kehidupan yang berkaitan langsung dengan pembentukkan karakter siswa. Sastra dalam
pendidikan berperan untuk mengembangkan bahasa, aspek kognitif, afektif,
psikomotorik, kepribadian, dan pribadi sosial siswa. Sastra sebagai media pembelajaran
dapat dimanfaatkan secara reseptif dan ekspresif dalam pembentukan karakter.
Pemanfaatan secara reseptif dimaksud yaitu karya sastra sebagai media pembentukan
karakter dilakukan dengan pemilihan bahan ajar dan pengelolaan proses pembelajaran.
37
Adapun pemanfaatan secara ekspresif dimaksud yaitu karya sastra sebagai media
pembentukan karakter dengan cara mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran,
ide, gagasan, dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis berupa novel
dan cerpen, dan bermain drama, teater atau film. Oleh karena itu, siswa yang telah
memahami sastra dapat mengalami pembentukan karakter menjadi lebih baik.
Pembentukan karakter siswa sangat penting karena keadaan dalam kehidupan
bermasyarakat saat ini sangat memprihatinkan. Hal tersebut seperti adanya perkelahian,
pembunuhan, kesenjangan sosial, ketidakadilan, perampokan, korupsi, pelecehan
seksual, penipuan, dan fitnah terjadi di manamana. Hal itu juga dapat diketahui lewat
berbagai media cetak atau elektronik, seperti surat kabar, televisi, dan internet. Bahkan,
tidak jarang kondisi seperti itu dapat disaksikan secara langsung di tengah masyarakat.
Keprihatinan terhadap kondisi masyarakat yang demikian itu, dapat menumbuhkan
semangat untuk mengkaji sebab dan mencari pemecahannya. Berbagai kegiatan
penelitian dan seminar telah mengkaji masalah itu berkali-kali dan juga
diselenggarakan oleh berbagai instansi, baik pemerintah maupun swasta.
Kesimpulannya tetap memiliki persepsi yang sama yaitu pentingnya menggalakkan
pendidikan karakter dalam membentuk karakter setiap siswa yang ada di Indonesia.
Pendapat masyarakat terhadap pendidikan karakter pun berbeda-beda. Di kalangan
guru muncul pendapat tentang perlunya pendidikan budi pekerti, sedangkan para ulama
berpendapat dengan perlunya penguatan pendidikan agama sejak dini. Mereka yang
berada di bidang politik mengusulkan revitalisasi pendidikan Pancasila. Dalam hal ini,
Kemendiknas telah merespon berbagai pendapat itu dengan membentuk Tim
Pengembang Pendidikan Karakter (Haryadi, 2011: 1).
METODE PENELITIAN
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan metode penelitian kualitatif
yang bersifat deskriptif, mengacu pada data, menggunakan analisis, dan menggunakan
teori yang sudah ada sebagian penguat serta dapat menghasilkan teori baru. Adapun
teknik pengumpulan data kualitatif pada penelitian ini yaitu melalui studi literatur yang
dilakukan dengan mengkaji literatur mengenai penerapan nilai kemanusiaan dalam
pembentukan karakter siswa melalui sastra.
38
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pendidikan Karakter
Karakter dapat diartikan sebagai tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu
dilakukan atau kebiasaan. Menurut Suyanto (2009) mendefinisikan ”karakter sebagai
cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara”.
Karakter juga sebagai sesuatu yang berkaitan dengan kebiasaan hidup individu yang
bersifat menetap dan cenderung positif (Pritchard dalam Haryadi, 2011: 1). Karakter
sebagai akhlak dapat bersifat positif atau negatif. Dalam pandangan agama terdapat
akhlakul karimah (ahlak yang mulia) dan akhlakul madmumah (akhlak tercela). Dalam
akhlakul karimah tercakup 22 sifat terpuji, yaitu (1) sederhana, (2) rendah hati, (3) giat
bekerja, (4) jujur, (5) memenuhi janji, (6) terpercaya, (7) konsisten/istiqomah, (8)
berkemauan keras, (9) suka berterima kasih, (10) satria, (11) tabah, (12) lemah lembut,
(13) ramah dan simpatik, (14) malu, (15) bersaudara, (16) belas kasih, (17) suka
menolong, (18) menjaga kehormatan, (19) menjauhi syubhat, (20) pasrah kepada Allah,
(21) berkorban untuk orang lain. Sementara itu, lawan dari sifat-sifat terpuni itu
termasuk akhlakul madmumah, seperti boros, sombong, malas. Menurut Zulhan (2010:
2-5) karakter ada dua yaitu karakter positif baik (sehat) dan karakter buruk (tidak sehat).
Tergolong karakter sehat yaitu (1) afiliasi tinggi: mudah menerima orang lain sebagai
sahabat, toleran, mudah berkerja sama, (2) power tinggi: cenderung menguasai teman-
temannya dalam arti positif (pemimpin); (3) achieve: selalu termotivasi untuk
berprestasi (4) asserte: lugas, tegas, tidak banyak bicara, dan (5) adventure: suka
petualangan, suka mencoba hal baru. Sementara itu, karakter kurang sehat yaitu (1)
nakal: suka membuat ulah, memancing kemarahan, (2) tidak teratur, tidak teliti, tidak
cermat, meskipun kadang tidak disadari, (3) provokator: cenderung membuat ulah,
mencari garagara, ingin mencari perhatian, (4) penguasa: cenderung menguasai
temanteman, mengintimidasi, dan (5) pembangkang: bangga kalau berbeda dengan
orang lain, tidak ingin melakukan hal yang sama dengan orang lain, cenderung
membangkang. Pusat Kurikulum Kementerian Pendidikan Nasional (2011:10) juga
telah merumuskan materi pendidikan karakter yang mencakup aspek-aspek sebagai
berikut: (1) religius, (2) jujur, (3) toleran, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) kreatif, (7)
mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah
air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat atau komunikatif, (14) cinta damai, (15)
39
gemar membaca, (16) peduli lingkungan, dan (17) peduli sosial, tanggung jawab.
Sementara itu, Suyanto (2009) berpendapat ada sembilan pilar karakter yang berasal
dari nilai-nilai luhur universal, yaitu (1) cinta kepada Tuhan dan segenap ciptaannya,
(2) kemandirian dan tanggung jawab, (3) kejujuran, amanah, diplomatis, (3) hormat dan
santun, (5) dermawan, suka menolong dan gotong royong, (6) percaya diri dan pekerja
keras (7) kepemimpinan dan keadilan, (8) baik dan rendah hati, dan (9) toleransi,
kedamaian, dan kesatuan.
Sastra dan Pendidikan Karakter
Bahasa Indonesia berperan penting untuk membetuk karakter dan kepribadian
Indonesia melalui penggunaannya Bahasa Indonesia seperti keterampilan berbicara,
menyimak, membaca, dan menulis dengan menggunakan Bahasa Indonesia yang benar.
Semakin intensif penggunaan bahasa, semakin teliti, dan benar pilihan bahasa yang
digunakan diyakini semakin tinggi karakter dan kepribadian orang yang
menggunakannya. Kepribadian masyarakat Indonesia banyak diilhami oleh Sastra
Indonesia sebagai sumber inspirasi bagi terwujudnya bangsa, bahasa, dan tanah air
Indonesia. Oleh karena itu, membaca sastra Indonesia hingga melek sastra diyakini
dapat memperkuat identitas dan kepribadian Indonesia (Solin, 2011: 1) Berbicara sastra
dan pendidikan karakter merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Menurut
penulis merupakan kata majemuk, yakni antara sastra dan pendidikan karakter itu
menyatu. Mengapa? Karena sastra membicarakan berbagai nilai-nilai yang terkait
dengan hidup dan kehidupan manusia di bumi yang sekarang dipijak maupun bumi
yang kelak akan dipijak. Bahkan hal-hal yang tidak dibahas dalam disiplin ilmu lain,
dikupas di dalam sastra. Menurut Mangunwijaya (1992: 7) menyatakan di samping
penelitian yang bersifat ilmiah untuk memahami dan menolong manusia serta
masyarakat, dunia sastra masih tetap memegang peran vital dalam bidang yang sama.
Khususnya dalam dimensi-dimensi yang begitu dalam seperti nilai religiusnya manusia,
yang menentukan sikap kita terhadap diri sendiri, hasil karya sastra mengisi apa yang
tidak mungkin diisi oleh ilmu pengetahuan dan ikhtiarikhtiar kemanusiaan lainnya.
Khususnya dalam pembahasan nilai religius manusia yang lazimnya hanya dapat
dikomunikasikan melalui bahasa lambang dan persentuhan cita rasa serta sarana sastra
yang sangat bermanfaat. Terkait peran sastra dalam pembelajaran bagi siswa, yang
diungkapkan oleh Tarigan (1995: 10) menyatakan bahwa sastra sangat berperan dalam
pendidikan anak, yaitu dalam (1) perkembangan bahasa, (2) perkembangan kognitif,
40
(3) perkembangan kepribadian, dan (4) perkembangan sosial. Dalam perkembangan
bahasa, para siswa secara langsung maupun tidak langsung setelah membaca atau
menyimak karya sastra, kosakata mereka bertambah dan memiliki karakter yang lebih
baik lagi. Hal ini dapat meningkatkan keterampilan berbahasa siswa dalam berinteraksi
sehari-hari. Pengalaman yang diperoleh melalui membaca karya sastra dapat
memotivasi serta menunjang perkembangan kognitif atau penalaran siswa. Dengan
begitu kepribadian siswa akan jelas pada saat mereka mencoba memeroleh kemampuan
untuk mengekspresikan emosi, empatinya terhadap orang lain, dan mengembangkan
perasaannya mengenai harga diri dan jati dirinya. Dengan demikian, siswa dapat hidup
bermasyarakat dengan baik dan memiliki budi pekerti yang baik pula. Sastra secara
etimologis berasal dari kata ”sas” dan ”tra”. Akar kata sasberarti mendidik, mengajar,
memberikan instruksi, sedangkan akhiran –tra menunjuk pada alat. Jadi, sastra secara
etimologis berarti alat untuk mendidik, alat untuk mengajar, dan alat untuk memberi
petunjuk. Oleh karena itu, sastra pada masa lampau bersifat edukatif (mendidik).
Banyak hal yang dapat diperoleh dari sastra. Menurut Tjokrowinoto (dalam Haryadi,
1994) memperkenalkan istilah ”pancaguna” untuk menjelaskan manfaat sastra lama,
yaitu (1) mempertebal pendidikan agama dan budi pekerti, (2) meningkatkan rasa cinta
tanah air, (3) memahami pengorbanan pahlawan bangsa, (4) menambah pengetahuan
sejarah, dan (5) mawan diri dan menghibur. Sedangkan Haryadi (1994) mengemukakan
bahwa sembilan manfaat yang dapat diambil dari sastra lama, yaitu (1) dapat perperan
sebagai hiburan dan media pendidikan, (2) isinya dapat menumbuhkan kecintaan,
kebanggaan berbangsa dan hormat pada leluhur, (3) isinya dapat memperluas wawasan
tentang kepercayaan, adatistiadat, dan peradaban bangsa, (4) pergelarannya dapat
menumbuhkan rasa persatuan dan kesatuan, (5) proses penciptaannya menumbuhkan
jiwa kreatif, responsif, dan dinamis, (6) sumber inspirasi bagi penciptaan bentuk seni
yang lain, (7) proses penciptaannya merupakan contoh tentang cara kerja yang tekun,
profesional, dan rendah hati, (8) pergelarannya memberikan teladan kerja sama yang
kompak dan harmonis, dan (9) pengaruh asing yang ada di dalamnya memberi
gambaran tentang tata pergaulan dan pandangan hidup yang luas. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa sastra sangat relevan dengan pendidikan karakter. Karya sastra
sarat dengan nilainilai pendidikan akhlak seperti dikehendaki dalam pendidikan
karakter. Cerita rakyat ”Bawang Putih Bawang Merah” mengandung nilai pendidikan
tentang kemanusiaan. Cerita binatang ”Pelanduk Jenaka” mengandung pendidikan
41
tentang harga diri, sikap kritis, dan protes sosial. Sementara itu, bentuk puisi seperti
pepatah, pantun, dan bidal penuh dengan nilai pendidikan.
Sastra Sebagai Media Pembentukan Karakter
Karya sastra dapat berfungsi sebagai media katarsis (pembersih diri). Aristoteles
seorang filsuf dan ahli sastra menyatakan salah satu fungsi sastra adalah sebagai media
katarsis atau pembersih jiwa bagi penulis maupun pembacanya. Bagi pembaca, setelah
membaca karya sastra perasaan dan pikiran terasa terbuka, karena telah mendapatkan
hiburan dan ilmu (tontonan dan tuntunan) (Kanzunuddin, 2012: 202). Begitu juga bagi
penulis, setelah menghasilkan karya sastra, jiwa saya mengalami pembersihan, lapang,
terbuka, karena saya telah berhasil mengekspresikan semua yang menjadi beban dalam
perasaan dan pikiran saya. Sastra sebagai media katarsis dalam pembelajaran sastra
dapat dimanfaatkan secara reseptif (bersifat menerima) dan ekspresif (kemampuan
mengungkapkan) dalam pendidikan karakter. Pemanfaatan secara reseptif karya sastra
sebagai media pendidikan karakter dilakukan dengan dua langkah yaitu (1) pemilihan
bahan ajar, dan (2) pengelolaan proses pembelajaran. Karya sastra yang dipilih sebagai
bahan ajar adalah karya sastra yang berkualitas, yakni karya sastra yang baik secara
estetis dan etis. Maksudnya, karya sastra yang baik dalam konstruksi struktur sastranya
dan mengandung nilai-nilai yang dapat membimbing siswa menjadi manusia yang baik
(Kanzunuddin, 2012: 202). Langkah berikutnya adalah pengelolaan proses
pembelajaran. Dalam pengelolaan proses pembelajaran, guru harus mengarahkan siswa
dalam proses membaca karya sastra. Guru harus mengarahkan siswa untuk dapat
menemukan nilai-nilai positif dari karya sastra yang mereka baca. Guru tidak boleh
membebaskan siswa untuk menemukan dan menyimpulkan sendiri nilai-nilai yang ada
dalam karya sastra. Selanjutnya, guru membimbing siswa untuk dapat mengaplikasikan
nilai-nilai positif yang telah diperoleh dari karya sastra dalam kehidupan sehari-hari.
Adapun pemanfaatan secara ekspresif karya sastra sebagai media pendidikan karakter
dapat ditempuh melalui jalan mengelola emosi, perasaan, semangat, pemikiran, ide,
gagasan dan pandangan siswa ke dalam bentuk kreativitas menulis karya sastra dan
bermain drama, teater, atau film. Siswa dibimbing mengelola emosi, perasaan,
pendapat, ide, gagasan, dan pandangan untuk diinternalisasi dalam diri kemudian
dituangkan ke dalam karya sastra yang akan mereka hasilkan berupa puisi, pantun,
drama, novel, dan cerpen. Perasaan emosi, ketidakpuasan terhadap suatu sistem yang
berlaku, rasa marah yang ingin berdemontrasi, dan sejenisnya terhadap sesuatu hal
42
dapat diaktualisasikan dalam karya sastra, seperti puisi, drama, maupun prosa. Tentu
saja dipilih media yang sesuai dan tepat untuk mengaktualisasikan “gejolak jiwa” siswa
(bisa puisi, drama, cerpen, atau novel). Sastra dapat dilihat dari berbagai aspek. Dari
aspek isi, jelas bahwa karya sastra sebagai karya imajinatif tidak lepas dari realitas.
Karya sastra merupakan cermin zaman. Berbagai hal yang terjadi pada suatu waktu,
baik positif maupun negatif yang direspon oleh pengarang. Dalam proses
penciptaannya, pengarang melihat bagaimana fenomena-fenomena yang terjadi di
masyarakat itu secara kritis, kemudian mereka mengungkapkannya dalam bentuk yang
imajinatif. Fungsi sastra adalah dulce et utile, artinya indah dan bermanfaat. Dari aspek
gubahan, sastra disusun dalam bentuk, yang apik dan menarik sehingga membuat orang
senang membaca, mendengar, melihat, dan menikmatinya. Sementara itu, dari aspek isi
ternyata karya sastra sangat bermanfaat. Di dalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan
moral yang berguna untuk menanamkan pendidikan karakter (Haryadi: 2011: 4).
Pembelajaran sastra diarahkan pada tumbuhnya sikap apresiatif terhadap karya sastra,
yaitu sikap menghargai karya sastra. Dalam pembelajaran sastra ditanamkan tentang
pengetahuan karya sastra (kognitif), ditumbuhkan kecintaan terhadap karya sastra
(afektif), dan dilatih keterampilan menghasilkan karya sastra (psikomotor). Kegiatan
apresiatif sastra dilakukan melalui kegiatan (1) reseptif seperti membaca dan
mendengarkan karya sastra, menonton pementasan karya sastra, (2) produktif, seperti
mengarang, bercerita, dan mementaskan karya sastra, (3) dokumentatif, misalnya
mengumpulkan puisi, cerpen, dan membuat kliping tentang infomasi kegiatan sastra.
Pada kegiatan apresiasi sastra pikiran, perasaan, dan kemampuan motorik dilatih dan
dikembangkan. Melalui kegiatan semacam itu pikiran menjadi kritis, perasaan menjadi
peka dan halus, memampuan motorik terlatih. Semua itu merupakan modal dasar yang
sangat berarti dalam pengembangan pendidikan karakter. Ketika seseorang membaca,
mendengarkan, dan menonton, pikiran dan perasaan mereka diasah. Mereka harus
memahami karya sastra secara kritis dan komprehensif, menangkap tema dan amanat
yang terdapat di dalamnya, dan memanfaatkannya. Bersamaan dengan kerja pikiran itu,
kepekaan perasaan diasah sehingga akan mengarah pada tokoh protagonis dengan
karakternya yang baik dan menolak tokoh antagonis yang berkarakter jahat. Sedangkan
ketika seseorang menciptakan karya sastra, pikiran kritisnya dikembangkan,
imajinasinya dituntun ke arah yang positif sebab dia sadar karya sastra harus indah dan
bermanfaat. Penulis akan menuangkan imajinasinya sesuai dengan kaidah genre sastra
yang dipilihnya. Ia akan memilih diksi, menyusun dalam bentuk kalimat, menggunakan
43
gaya bahasa yang tepat, dan sebagainya. Sementara itu, pada benak pengarang terbersit
keinginan untuk menyampaikan amanat, menanamkan nilai-nilai moral, baik melalui
karakter tokoh, perilaku tokoh, ataupun dialog. Dalam penulisan karya sastra
orisinalitas sangat diutamakan. Pengarang berusaha akan berusaha menghindari
penjiplakan. Dengan demikian, nilai-nilai kejujuran sangat dihargai dalam setiap karya
sastra yang dihasilkan. Dokumentasi sebagai bagian dari kegiatan apresiasi sastra dan
sangat besar sumbangannya terhadap pendidikan karakter. Tidak semua siswa ternyata
mampu dan mau mendokumentasikan karyanya dan mengkliping karya orang lain.
Pembuatan dokumentasi dan kliping memerlukan ketekunan dan kecermatan. Mereka
harus banyak membaca, kemudian memilih bacaan yang pantas didokumentaikan dan
dikliping. Pembuat dokumentasi dan kliping pada umumnya adalah manusiamanusia
yang berpikir masa depan.
Tema Karya Sastra Dalam Pembentukan Karakter
Produk sastra yang berupa puisi, cerpen, drama, maupun novel mengungkap
berbagai tema yang berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia. Tema-tema
produk sastra dapat dikelompok-kelompokkan untuk dijadikan media pendidikan
karakter (secara reseptif), kemudian dibuat simulasi (metode latihan yang
memperagakan sesuatu dalam bentuk tiruan yang mirip dengan keadaan yang
sesungguhnya) di dalam kelas atau di luar kelas (bisa di halaman kelas, di auditorium,
atau ruang pertemuan). Hal ini akan menarik bagi siswa dalam kaitannya dengan
penanaman nilai-nilai karakter. Dengan model tersebut, siswa dilatih untuk
mengimplementasikan nilai-nilai karakter yang diperoleh dari karya sastra. Apabila
simulasi tersebut sering dipraktikkan, maka nilai-nilai karakter yang berasal dari karya
sastra akan tertanam di dalam alam bawah sadar siswa. Nilai-nilai karakter yang
tertanam di alam bawah sadar bisa menjadi kekuatan nilai rujukan dalam berperilaku
sehari-hari yang lebih baik. Adapun pada sisi lain, siswa bisa diajak mereproduksi karya
sastra yang telah dibaca. Dalam hal ini, guru bisa memilihkan karya sastra yang
mengandung nilai-nilai karakter positif berupa puisi, cerpen, drama, dan novel,
kemudian siswa disuruh membaca. Setelah membaca, siswa disuruh untuk mengubah
(mereproduksi) menjadi bentuk karya sastra yang lain. Misalnya, bentuk cerpen dan
novel diubah menjadi drama, puisi diubah menjadi cerpen. Dalam konteks
mereproduksi karya sastra tersebut, guru harus menjelaskan bahwa penekanannya
berada pada tema. Melalui karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema, siswa
44
dapat diajak untuk mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya
sendiri. Setelah siswa mengenali dan memahami kualitas tingkatan karakternya, maka
guru harus membimbing atau mengarahkan kualitas tingkatan karakter siswa tersebut
ke arah yang lebih baik, yakni mengajak siswa untuk “berdialog dengan tokoh-tokoh
dalam karya sastra yang memiliki kualitas tingkatan karakter pada tataran “watak”.
Dengan demikian, pembentukan karakter siswa terinternalisasi dalam diri siswa dan
diaktualisasikan dalam perilaku seharihari mereka.
KESIMPULAN
Berdasarkan unsur-unsur yang telah dikaji, dapat disimpulkan hal-hal sebagai
berikut: Pertama sastra sangat berperan dalam pendidikan karakter peserta didik
(manusia), yaitu dalam perkembangan bahasa, perkembangan kognitif, perkembangan
kepribadian, dan perkembangan sosial, Kedua sastra sebagai media katarsis dalam
pembelajaran sastra dapat dimanfaatkan secara reseptif (menerima) dan ekspresif
(kemampuan mengungkapkan) dalam pendidikan karakter untuk membentuk karakter
siswa, Ketiga karya sastra yang mengetengahkan berbagai tema dapat dijadikan media
siswa untuk mengenali dan memahami kualitas tingkatan watak atau karakternya
sendiri, dan Keempat karya sastra yang mengisahkan dan melukiskan berbagai tipe
karakter tokoh, dapat dijadikan media pendidikan karakter bagi siswa, yakni
memberikan teladan kualitas tingkatan watak atau kepribadian tokoh yang harus ditiru.
Sastra secara etimologis berarti alat untuk mendidik, sehingga bersifat didaktis. Hal ini
sesuai dengan fungsi sastra yaitu dulce et ulite (nikmat dan bermanfaat).
Kebermanfaatannya diketahui karena sastra di dalamnya terkandung amanat yaitu nilai
moral yang bersesuaian dengan pendidikan karakter. Banyak karya sastra lama dan
modern yang mengandung pendidikan karakter, seperti kemanusiaan, harga diri, kritis,
kerja keras, hemat. Peran sastra dalam pembentukan karakter bangsa tidak hanya
didasarkan pada nilai yang terkandung di dalamnya. Pembelajaran sastra yang bersifat
apresiatif pun sarat dengan pendidikan karakter. Kegiatan membaca, mendengarkan,
dan menonton karya sastra pada hakikatnya menanamkan karakter tekun, berpikir
kritis, dan berwawasan luas. Pada saat yang bersamaan dikembangkan kepekaan
perasaan sehingga pembaca cenderung cinta kepada kebaikan dan membela kebenaran.
Pada kegiatan menulis karya sastra, dikembangkan karakter yang tekun, cermat, taat,
dan kejujuran. Sementara itu, pada kegiatan dokumentatif dikembangkan karakter yang
penuh dengan ketelitian, dan berpikir ke depan (visioner). Pada masa lampau cerita
45
yang dituturkan orang tua atau guru, dan pepatah yang ditempel di dinding sekolah
mampu menjadi media pendidikan moral. Mengingat akan hal itu, kita berharap sastra
dan pengajaran apresiasi sastra, baik di sekolah maupun di masyarakat saat ini dapat
perperan dalam pembentukan karakter siswa di Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Wulandari, Ririn Ayu. "Sastra dalam pembentukan karakter siswa." EDUKASI
KULTURA: JURNAL BAHASA, SASTRA DAN BUDAYA 1.2 (2015).
46
5. Peningkatan Kemampuan Membaca Permulaan Melaui Metode Picture And Picture Pada
Siswa Kelas 1.
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN
MELALUI METODE PICTURE AND PICTURE PADA SISWA
KELAS 1
Faritsa Maudinah , Novia Kurniawati . Wiwik Sudartik
Sekolah Tinggi Agama Islam Bani Saleh
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pada era globalisasi seperti sekarang ini telah terjadi kemajuan yang
sangat pesat pada bidang teknologi informasi dan komunikasi. Kemajuan
tersebut menuntut dukungan keterampilan membaca. Keterampilan membaca
merupakan aspek yang sangat penting terutama bagi siswa yang sedang belajar
pada permulaan (pendidik dasar). Proses kegiatan belajar itu tidak dapat
dipisahkan dari kegiatan membaca. Siswa dapat membuka wawasan baru yang
luas melalui kegiatan membaca. Apalagi dimasa sekarang ini sebagian besar
informasi tersebut disampaikan dalam bentuk tulisan. Siswa yang gemar
membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang semakin
meningkatkan kecerdasannya sehingga mereka mampu menjawab tantangan di
masa depan. Seseorang dapat membuka wawasan baru yang luas melalui
kegiatan membaca. Berbagai informasi dapat diperoleh dari kegiatan membaca
seperti pada buku, media cetak, maupun media elektronik. Di Indonesia
sekarang ini minat baca masih rendah, namun pada masa yang akan datang tidak
kecil kemungkinan kebiasaan gemar membaca akan berkembang pesat seperti
yang terdapat pada negara-nagara maju. Sebagai sebuah ketarampilan, bahasa
sangat ampuh dicapai melalui latihan. Semakin sering berlatih berbahasa
semakin besar peluang untuk terampil berbahasa. Keterampilan membaca
merupakan salah satu kunci keberhasilan siswa dalam meraih kemajuan. Siswa
yang memiliki keterampilan membaca yang memadai akan lebih mudah
menggali informasi dari berbagai sumber tertulis. Maka dari itu keterampilan
dan kemauan membaca hendaknya ditekankan sejak jenjang pendidikan dasar
yaitu saat anak masih berada di sekolah dasar. Upaya pengembangan dan
47
peningkatan keterampilan membaca dilakukan melalui pembelajaran di
sekolah-sekolah dasar sebagai pengalaman pertama. Keterampilan membaca
permulaan akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut.
Sebagai keterampilan yang mendasar maka keterampilan membaca permulaan
harus benar- benar diperhatikan oleh guru. Guru harus melibatkan siswa untuk
melakukan kegiatan agar kelas selalu dalam suasana yang kondusif dan
menyenangkan.
Membaca permulaan yang di laksanakan di kelas awal bertujuan agar
siswa dapat membaca kata-kata dan kalimat sederhana dengan lancar dan tepat.
Siswa dapat berperan langsung dalam situasi belajar, guru sebagai perancang,
motivator, pengamat dan pengembang di pihak lain murid didorong untuk
memberikan respon individual serta secara aktif melaksanakan berbagai
kegiatan sehingga dapat memberikan pengalaman dan penghayatan secara
langsung. Penyebab kesulitan belajar siswa bersumber dari dalam diri siswa itu
sendiri dan juga dari luar diri siswa, misalnya cara penyajian materi pelajaran
atau suasana pembelajaran. Dalam hal ini salah satu kesulitan belajar dari luar
diri siswa adalah bentuk atau model pembelajaran yang disajikah oleh guru
kurang menyenangkan. Model pembejaran kooperatif Picture and Picture
merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang
menggunakan gambar dan dipasangkan/diurutkan menjadi urutan logis. Model
pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses
pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi faktor utama dalam proses
pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran dimulai guru sudah
menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam
bentuk karton dalam ukuran besar. Oleh karena itu, peneliti berkeyakinan
bahwa model pembelajaran kooperatif picture and picture dengan menggunakan
media kartu kata ini akan berhasil meningkatkan penguasaan kosa kata dan
dapat meningkatkan kemampuan membaca. Berdasarkan hasil observasi
peneliti mendapatkan informasi bahwa masih banyak siswa kelas I yang belum
tuntas pada materi membaca permulaan pelajaran Bahasa Indonesia. Masih
terdapat siswa yang kemampuan membacanya kurang lancar. Meskipun mereka
sudah mengenal semua huruf tetapi masih belum dapat merangkainya menjadi
suku kata dan kata. Pada saat membaca siswa hanya melafalkan huruf pada kata
yang dibacanya satu per satu. Pelafalan dan intonasi dalam membaca belum
48
tepat. Misalnya siswa mengalami kesulitan dalam membaca kata sederhana,
seperti kata bu-ku/ di baca /be-u-ka-u/, kata /lu-pa/ dibaca /le-u-pa/ dan lain
sebagainya. Pada umumnya guru tidak menggunakan model atau cara-cara
mengawali pembelajaran namun langsung menulis di papan tulis kemudian
meminta siswa untuk membaca serta model yang diterapkan dalam
pembelajaran keterampilan membaca masih belum tepat dan efektif. Selain itu
minat membaca siswa dan juga bimbingan dari guru dan keluarga masih kurang
memberi motivasi kepada siswa. Model pembelajaran yang digunakan guru
masih secara konvensional. Pada awal pembelajaran membaca siswa masih
semangat mengikuti pembelajaran, namun sesudah 30 menit siswa sudah tidak
memperhatikan guru, berbicara dengan temannya, dan ada juga yang berlarian
di dalam maupun di luar kelas. Demikian juga media pembelajaran untuk
membaca permulaan yang digunakan kurang bervariasi dan tepat.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang
muncul adalah ”Bagaimana Peningkatan kemampuan membaca permulaan
melalui metode picture and picture pada siswa kelas 1”. Tujuan diadakan
penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa Kelas I
dengan menerapkan metode pembelajaran picture and picture.
49
PEMBAHASAN
Hakekat Membaca
Membaca merupakan suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta
memahami arti atau makna yang terkandung didalam bahan tulis. Hodgson
(1960:43-44) dalam H.G Tarigan (2015: 7) “Membaca adalah suatu proses yang
menuntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan akan terlihat
dalam suatu pandangan sekilas dan makna kata-kata secara individual akan
dapat diketahui”. Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta
dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak
disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahan tulis. H.G Tarigan
(2008: 7) dalam http://eprints.uny.ac.id mendefinisikan pengertian “membaca
adalah sebagai suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca
untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media
kata-kata atau bahasa tulis”. Kalau hal ini tidak terpenuhi, pesan yang tersurat
dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami, dan proses membaca itu
tidak terlaksana dengan baik.
Membaca pun dapat diartikan sebagai suatu metode yang kita
pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita sendiri atau dengan orang lain
yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambang-
lambang tertulis. Soedarso (2002: 14) dalam http://eprints.uny.ac.id “membaca
didefinisikan secara singkat sebagai interaksi pembaca terhadap pesan tulis”.
Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang sifatnya
reseptif (perbuatan yang dilakukan berdasarkan kerjasama). Dengan membaca
seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan
serta mendapatkan pengalaman-pengalaman baru. Puji santosa (2009: 6.3)
dalam http://eprints.uny.ac.id
“membaca merupakan kegiatan memahami bahasa tulis. Pesan dari
sebuah teks atau barang cetak lainnya dapat diterima apabila pembaca
dapat membacanya dengan tepat, akan tetapi terkadang pembaca juga
salah dalam menerima pesan dari teks atau barang cetak manakala
pembaca salah dalam membacanya”.
Semua yang diperoleh melalui bacaan itu akan memungkinkan
seseorang untuk mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya dan
50