The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E-BOOK Materi Sistem Koloid Kelas XI SMA

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by desak.kurnia, 2022-12-19 07:06:59

E-BOOK SISTEM KOLOID

E-BOOK Materi Sistem Koloid Kelas XI SMA

Keywords: Bahan Ajar

E-BOOK PEMBELAJARAN KIMIA

SISTEM
KOLOID

Untuk Kelas XI SMA

Desak Made Kurnia Widyasari Putri Aditya
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Kimia
Universitas Pendidikan Ganesha
2022

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa
karena atas karunia Nya, pengembangan bahan ajar elektronik ini
dapat diselesaikan dengan tepat waktu menggunakan aplikasi
flipbook maker sesuai dengan perencanaan. Pengembangan bahan
ajar elektronik ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Media Pembelajaran.

Adapun dalam penyusunan e-book ini, penulis mendapatkan
banyak bimbingan oleh berbagai pihak salah satunya adalah Dosen
Pengampu Mata Kuliah yaitu Bapak Prof. Dr. I Wayan Redhana,
M.Si dan Bapak I Nyoman Selamat, S.Si., M.Si. Ucapan terima
kasih yang setinggi-tingginya penulis haturkan atas petunjuk dan
masukan yang membantu terselesaikannya bahan ajar ini.

E-book ini dibuat agar dapat mengantarkan pembelajaran
sistem koloid kepada peserta didik. Sistem koloid adalah materi
yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari yang faktanya
dapat langsung diamati oleh peserta didik. Oleh karena itu,
diharapkan pemahaman peserta didik terhadap materi koloid lebih
meningkat seiring dengan peningkatan hasil belajar.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam
penyusunan e-book ini karena keterbatasan pengetahuan yang
dimiliki, untuk itu penulis sangat berharap masukan dari pembaca.
Saran dan kritik sangat dibutuhkan demi perbaikan e-book ini.

Singaraja, 16 Desember 2022











Penulis

1

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL....................................................... 00
KATA PENGANTAR....................................................... 01
DAFTAR ISI..................................................................... 02
GLOSARIUM................................................................... 03
PETA KONSEP................................................................ 04
BAB I. PENDAHULUAN

A. Identitas Modul........................................................ 05
B. Kompetensi Dasar.................................................... 05
C. Deskripsi Singkat Materi........................................... 05
D. Petunjuk Penggunaan e-book................................... 06
BAB II. KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Definisi Sistem Koloid.............................................. 08
B. Jenis-Jenis Sistem Koloid.......................................... 11
C. Sifat-Sifat Koloid..................................................... 21
D. Pembuatan Koloid................................................... 22
DAFTAR PUSTAKA......................................................... 27

2

GLOSARIUM

Adsorpsi: Proses penyerapan yang terjadi pada permukaan.
Aerosol: Koloid yang fase terdispersinya berupa cairan atau padatan
dan medium pendispersinya merupakan gas.
Buih: Koloid yang fase terdispersinya merupakan gas.
Dialisis: Penghilangan muatan koloid dengan cara memasukkan
koloid ke dalam membran semi permiabel, kemudian dimasukkan ke
dalam aliran zat cair.
Efek Tyndal: Hamburan cahaya oleh partikel-partikel koloid yang
mengakibatkan tampaknya berkas sinar yang melewati sistem koloid.
Emulsi: Koloid yang fase terdispersinya merupakan zat cair.
Fase Terdispersi: Fase zat yang didispersikan ke dalam medium
pendispersi.
Gel: Koloid yang fase terdispersinya mengadsorpsi medium pendispersi
sehingga terbentuk koloid yang agak padat atau setengah kaku (antara
padat dan cair).
Koagulasi: Penggumpalan partikel koloid.
Koloid Liofob: Koloid yang fase terdispersinya berinteraksi lemah
atau tidak ada interaksi dengan medium pendispersinya.
Koloid Pelindung: Koloid yang dapat menstabilkan sistem koloid
lain.
Koloid: Bentuk campuran yang keadaannya yang terletak antara
larutan dan suspensi.
Medium Pendispersi: Medium yang digunakan untuk
mendispersikan zat.
Sol: Sistem koloid yang fase terdispersi padat
Suspensi: Campuran kasar (campuran heterogen) yang komponen-
komponen penyusunnya masih dapat dibedakan dan dapat dipisahkan
dengan penyaring biasa.

3

PETA KONSEP

SISTEM KOLOID PENGERTIAN BUIH
SISTEM KOLOID AEROSOL
EMULSI
JENIS-JENIS
KOLOID SOL

KOLOID SIFAT-SIFAT GERAK BROWN
KOLOID ELEKTROFORESIS

ADSORPSI
KOAGULASI

KOLOID
PELINDUNG

DIALISIS
LIOFOIL & LIOFOB

PEMBUATAN KONDENSASI
KOLOID DISPERSI

4

BAB I PENDAHULUAN

A. Identitas Modul
Mata Pelajaran: Kimia
Kelas : XI Alokasi Waktu: 4 JP (4x 45 menit)
Judul e-book : Sistem Koloid

B. Kompetensi Dasar
3.14 Mengelompokkan berbagai tipe sistem koloid, dan menjelaskan

kegunaan koloid dalam kehidupan berdasarkan sifat-sifatnya.
3.15 Membuat makanan atau produk lain yang berupa koloid atau

melibatkan prinsip koloid.

C. Deskripsi Singkat Materi

(Gambar 1. Orang mengecat tembokanimasi - Bing images )

Warna-warna di dalam cat berasal dari warna pigmen yang sebenarnya tidak
larut dalam air ataupun medium pelarut lainnya. Tetapi pernah kalian berpikir
mengapa cat terlihat seperti campuran yang homogen seperti larutan garam?.
Mengapa bukan seperti campuran heterogen layaknya campuran pasir dengan
air?. Hal ini dapat terjadi karena cat merupakan sistem koloid dengan pigmen
terdispersi dalam air atau medium lainnya.

Koloid merupakan campuran heterogen dua zat atau lebih di mana partikel-
partikel zat berukuran antara 1 hingga 1000 nm terdispersi yang tersebar merata
dalam media zat lain. Zat yang terdispersi sebagai partikel tersebut disebut fase
terdispersi, sedangkan zat yang menjadi medium mendispersikan partikel disebut
medium pendispersi. Secara makroskopis, koloid terlihat seperti larutan,
terbentuk campuran homogen dari zat terlarut dan pelarut. Namun secara
mikroskopis, terlihat seperti suspensi, yakni campuran heterogen pada masing-
masing komponen campuran cenderung saling memisah.

5

DAg. aPreet-ubnojoukkiPniendagpgautBndiaAgaunBnEakI-abnPoosEekcNaraDmAakHsimUalLdUanAdaNpat mencapai

kompetensi yang diharapkan, maka lakukanlah langkah-langkah berikut ini:
1.Pelajari dan pahami peta konsep yang disajikan di halaman awal e-book ini
2.Pelajari dan pahami kompetensi dasar dan tujuan yang ingin dicapai melalui
modul
3.Pelajari e-book secara berurutan dan berdiskusi dengan pembimbing/guru agar
memperoleh pemahaman yang utuh.
4.Ikuti semua tahapan yang ada pada e-book.

6

BAB II KEGIATAN PENDAHULUAN

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan pembelajaran ini diharapkan peserta didik dapat:
1. Menjelaskan pengertian koloid, suspensi, dan larutan.
2. Mengelompokkan jenis-jenis koloid.
3. Menjelaskan sifat-sifat koloid.
4. Menjelaskan cara pembuatan koloid.
5. Menjelaskan pemanfaatan atau penerapan sifat koloid dalam kehidupan sehari-
hari berdasarkan sifat-sifatnya.

B. Fenomena

Minuman bersoda memang menjadi incaran setiap orang
untuk melepas dahaga di tengah teriknya panas matahari, hal
ini karena rasanya yang nikmat dan menyegarkan. Pada saat
membuka kemasan minuman tersebut, selalu muncul buih
dan terdengar suara desis yang khas. Mengapa hal tersebut
bisa terjadi?, Buih dan suara desis yang terjadi berasal dari
pelepasan gas karbon dioksida (CO2) yang terkandung
dalam minuman bersoda tersebut.

(Gambar 2. Minuman Bersoda)

Gas karbon dioksida yang terkandung di dalam minuman bersoda dapat
menimbulkan sensasi yang unik ketika diminum dan juga membuat minuman ini
memiliki ciri khas berupa gelembung-gelembung gas yang sering terlihat
menempel pada dinding wadahnya. Dalam proses pembuatan minuman bersoda,
adanya tekanan tinggi dalam setiap kemasannya menyebabkan gas karbon
dioksida terjebak dan bercampur dalam cairan. Maka dari itu, minuman ini
tergolong ke dalam contoh koloid jenis buih, dimana gas karbon dioksida sebagai
zat terdispersi bercampur dengan medium pendispersi berupa cairan.

7

C. Uraian Materi

Definisi Sistem Koloid
Tidak hanya fenomena di atas, tetapi masih banyak lagi zat atau benda yang ada
di sekitar kita termasuk ke dalam jenis koloid. Namun, apa sebenarnya koloid itu?

(a) sirup (b) susu (c) kopi

Coba kalian perhatikan gambar yang berada di atas ini, kalian pasti pernah
mengonsumsinya bukan? Gambar (a) adalah air sirup bunga telang yang sangat
terkenal akan khasiatnya bagi tubuh. Air sirup bunga telang terbuat dari
campuran sari bunga telang yang ditambahkan dengan air. Kemudian, setelah
dicampurkan, apakah kalian dapat membedakan mana yang air dan mana yang
merupakan sari bunga telang? Tentunya tidak dapat dibedakan karena mereka
sudah saling menyatu. Sehingga, campuran seperti air sirup bunga telang ini
disebut dengan larutan, karena pada air sirup bunga telang campurannya bersifat
homogen sehingga tidak dapat di bedakan lagi komponen-komponen
penyusunnya.

Nah, bagaimana dengan gambar (b) yaitu susu? dengan minum susu secara
rutin, kebutuhan kalsium akan senantiasa terpenuhhi sehingga pertumbuhan anak
pun menjadi lebih optimal. Jika kita lihat secara langsung menggunakan mata,
maka susu dapat terlihat seperti larutan bukan? Karena seolah-olah saling
menyatu. Namun, jika dilihat secara teliti ternyata susu merupakan campuran
heterogen, yaitu campuran antara air dengan bubuk suhu. Campuran yang
sifatnya diantara campuran homogen dan campuran heterogen seperti susu ini
dikenal dengan istilah koloid.

Berikutnya, gambar (c) yaitu kopi? lalu tahukan kalian apa yang akan terjadi
ketika keduanya dicampurkan? Ketika keduanya dicampurkan akan terlihat masih
ada endapan kopi di bawah gelas. Maka, hal ini menunjukkan bahwa kopi tidak
dapat menyatu atau merupakan campuran yang heterogen. Sehingga, campuran
seperti ini disebut dengan suspensi.

8

Pada koloid tidak lagi terdiri dari zat terlarut dan pelarut, tetapi
dikenal dengan istilah fase terdispersi dan medium pendispersi. Fase
terdispersi merupakan zat yang didispersikan atau zat yang tersebar
merata pada medium pendispersinya. Jadi istilah koloid ini
diperkenalkan pertama kali oleh Thomas Graham pada tahun 1861
berdasarkan pengamatannya terhadap gelatin. Berdasarkan contoh di
atas maka dapat disimpulkan koloid adalah salah satu campuran yang
ukuran partikelnya berbeda dengan jenis campuran lainnya, yaitu
larutan dan suspensi. Larutan merupakan campuran homogen yang
mengandung partikel-partikel zat terlarut (solut) berdiameter < 1 nm
seperti atom, ion, dan molekul. Suspensi adalah suatu campuran yang
terdiri dari partikel-partikel padatan tersuspensi dalam medium cair.
Partikel-partikel suspensi berdiameter lebih besar dari 100 nm.
Sedangkan istilah koloid diartikan sebagai sistem yang tidak dapat
melewati membran yang tipis dengan pori yang sangat kecil. Koloid
adalah campuran heterogen dengan ukuran partikel solut dan sifat-sifat
yang berada pada kisaran antara larutan sejati dengan suspensi. Ukuran
partikel koloid berkisar antara 1-100 nm.

(Gambar 6. Penemu Sistem Koloid)

9

Perbedaan Larutan, Koloid, dan Suspensi

NO. Sifat larutan Sejati Sistem Koloid Suspensi

1. Bentuk Homogen Heterogen Heterogen
campuran

2. Bentuk dispersi Mokuler Padatan halus Padatan kasar

3. Penampilan fisis Jernih Keruh jernih Keruh

4. Ukuran Partikel < 1 nm 1 s/d 100 nm >100 nm

5. Fasa Satu fasa Dua fasa Tiga fasa

6. Pengamatan Partikel terdispersi Partikel terdispersi Partikel terdispersi
mikroskop tidak dapat diamati hanya dapat diamati dapat diamati
dengan mikroskop dengan mikroskop langsung dengan
ultra mata telanjang

7. Kestabilan & jika Stabil Relatif stabil Tidak Stabil
didiamkan Tidak mengendap Sukar mengendap Mudah mengendap

Tidak dapat disaring Tidak dapat disaring

dengan kertas dengan kertas saring
8. Cara pemisahan saring maupun
tetapi dapat disaring Dapat disaring

membran dengan membran

semipermeabel semipermeabel

Partikel-partikel Partikel-partikel
tidak menunjukkan
9. Efek Tyndall Tidak terjadi menghamburkan Efek Tyndall
hamburan cahaya cahaya (Efek

Tyndall)

10. Contoh Larutan gula & Air sabun, mentega, Pasir dalam air&
Larutan garam susu Kopi dalam air
Santan, puding

10

Jenis-Jenis Koloid

NO. Fase Fase pendispersi Nama Koloid Contoh
terdispersi
Asap rokok, debu di
1. Padat Gas Aerosol padat udara

2. Padat Cair Sol cair Sol emas, sol
belerang cat, tinta,
3. Padat Padat Sol padat
4. Cair Gas Aerosol padat lem cair
5. Cair Cair
6. Cair Padat Emulsi cair Gelas berwarna,
7. Gas Cair Emulsi padat intan hitam
8. Gas Padat
Buih cair Awan, kabut
Buih padat
Susu, santan,
minyak ikan, es
krim, mayones

Jeli, mentega, selai,
mutiara, opal

Buih sabun, pasta
gigi, krim kocok

Karet busa, batu
apung, styrrofoam

Sifat-Sifat Koloid
Pada dasarnya sifat koloid dapat digolongkan berdasarkan sifat optik dan
sifat listriknya. Yang tergolong sifat optik, yaitu efek Tyndall dan gerak
Brown. Sedangkan sifat listrik meliputi elektroforesis, adsorpsi, koagulasi,
koloid pelindung, dan dialisis.

11

1. Efek Tyndall

Pertama kali, Efek Tyndall
ditemukan oleh John Tyndall
(1820-1893), seorang fisikawan
Inggris dengan mengamati
seberkas cahaya putih yang
dilewatkan pada sistem koloid. Efek
penghamburan cahaya yang
disebabkan oleh partikel-partikel
koloid disebut sebagai Efek
Tyndall.

(Gambar 7. Penemu Efek Tyndall)

Efek Tyndall terjadi karena partikel koloid berupa ion atau molekul
dengan ukuran besar mampu menghamburkan cahaya yang
diterimanya ke segala arah, walaupun partikel koloidnya tidak tampak.
Tetapi efek Tyndall tidak terjadi pada larutan sejati karena ukuran
partikel zat terlarutnya lebih kecil sehingga tidak dapat
menghamburkan cahaya

(Gambar 8. Efek Tyndall pada koloid)

Apabila seberkas cahaya seperti lampu senter, dilewatkan pada 3
gelas yang masing-masing berisi suatu koloid, suspensi dan larutan,
maka jika dilihat secara tegak lurus dari arah datangnya cahaya, akan
jelas terlihat bahwa cahaya yang melewati suspensi dan koloid
mengalami peristiwa penghamburan dan pemantulan.

12

Sedangkan berkas cahaya yang melewati larutan tidak akan mengalami
peristiwa penghamburan dan pemantulan (berkas cahaya diteruskan).
Untuk lebih memahaminya, coba simak video mengenai Efek Tyndall
melalui link dibawah ini:
https://www.youtube.com/watch?v=0ZxJWn2PpeE&t=1s

Tahukah kalian? ternyata dalam kehidupan sehari-hari, kita sering
mengamati efek Tyndall ini, contohnya yaitu:

(Gambar 9. Warna merah jingga di langit sore hari) (Gambar 10. Berkas cahaya matahari pada
celah pepohonan)

a. Terjadinya warna merah dan jingga di langit pada pagi atau sore
hari dan terjadinya warna biru di langit pada siang hari.
b. Sorot lampu mobil atau sepeda motor di saat udara berkabut
tampak lebih jelas.
c. Sorot lampu proyektor di gedung bioskop akan tampak jelas saat
ada asap rokok. Hal ini mengakibatkan gambar film di layar menjadi
kabur.

2. Gerak Brown

Gerak Brown merupakan gerak acak
atau gerak zig-zag yang dilakukan oleh
partikel-partikel koloid. Pertama kali
disampaikan oleh Robert Brown (1827),
seorang ahli biologi dari Inggris. Beliau
mengamati pergerakan tepung sari yang
terus-menerus di dalam air melalui
mikroskop ultra.

(Gambar 11. Penemu Gerak Brown)

13

Gerakan ini dapat terjadi karena disebabkan oleh adanya tumbukan
antara partikel-partikel pendispersi terhadap partikel-partikel zat
terdispersi, sehingga partikel-partikel zat terdispersi akan terlontar.
Lontaran tersebut mengakibatkan partikel terdispersi menumbuk
partikel terdispersi yang lain dan akibatnya partikel yang tertumbuk
akan terlontar juga. Peristiwa tersebut akan terus berulang dan hal itu
dapat terjadi karena ukuran partikel terdispersi yang relatif lebih besar
dibandingkan dengan ukuran partikel pendispersinya.

(Gambar 12. Pergerakan partikel koloid secara acak)

Pada suspensi tidak terjadi gerak Brown karena ukuran partikel cukup
besar, sehingga tumbukan yang dialaminya setimbang. Partikel zat
terlarut juga mengalami gerak Brown, tetapi tidak dapat diamati.
Makin tinggi suhu makin cepat gerak Brown karena energi kinetik
molekul medium meningkat, sehingga menghasilkan tumbukan yang
lebih kuat. Gerak Brown merupakan salah satu faktor yang
menstabilkan koloid. Oleh karena bergerak terus-menerus, maka
partikel koloid dapat mengimbangi gaya gravitasi, sehingga tidak
mengalami sedimentasi. Untuk lebih memahaminya, coba simak video
mengenai Gerak Brown melalui link dibawah ini:
https://www.youtube.com/watch?v=crPqLCoKvJ8

14

3. Elektroforesis

Elektroforesis adalah peristiwa

pergerakan partikel koloid karena

pengaruh medan listrik. Partikel koloid

adalah partikel yang memiliki muatan.

Adanya medan listrik mengakibatkan

partikel-partikel koloid bergerak ke

elektroda yang mempunya muatan

berlawanan dengan muatan listrik

partikel koloid. Pergerakan partikel

koloid dapat diamati

(Gambar 13. Peristiwa elektroforesis pada koloid)

Elektroforesis adalah peristiwa pergerakan partikel koloid karena
pengaruh medan listrik. Partikel koloid adalah partikel yang memiliki
muatan. Adanya medan listrik mengakibatkan partikel-partikel koloid
bergerak ke elektroda yang mempunya muatan berlawanan dengan
muatan listrik partikel koloid. Pergerakan partikel koloid dapat diamati
menggunakan alat sel elektroforesis. Peristiwa elektroforesis
dimanfaatkan oleh pihak kepolisian untuk mengidentifikasi jenazah
korban pembunuhan atau jenazah yang tidak dikenal melalui tes DNA.
Untuk lebih memahaminya, coba simak video Elektroforesis mengenai
melalui link dibawah ini:
https://www.youtube.com/watch?v=pjMMSZ0yp3I

4. Adsorpsi

(Gambar 14. Adsorpsi Koloid)

15

Adsorpsi merupakan peristiwa penyerapan partikel atau ion atau
senyawa lain pada permukaan partikel koloid yang disebabkan oleh
luasnya permukaan partikel. Adsorpsi terjadi karena adanya gaya tarik
yang tidak seimbang pada partikel zat yang berada pada permukaan
adsorben. Pada sistem koloid, partikel-partikel fase terdispersi tersebar
merata dalam medium pendispersi sebagai molekul-molekul yang
sangat halus. Setiap partikel koloid mempunyai permukaan yang
berbatasan dengan mediumnya. Permukaan partikel koloid ini
mempunyai kemampuan adsorpsi yang sangat besar. Adsorpsi
mengakibatkan partikel koloid menjadi bermuatan sejenis. Oleh karena
itu, partikel-partikel koloid saling berjauhan sehingga tidak terjadi
penggumpalan. Hal inilah yang membuat koloid menjadi stabil. Untuk
lebih memahaminya, coba simak video mengenai Adsorpsi melalui link
dibawah ini https://www.youtube.com/watch?v=5mTxiQk9WBE

Contoh:
Sol Fe(OH)3 (netral) dalam air akan mengadsorpsi ion positif
(kation), sehingga menjadi bermuatan positif. Sedangkan sol As2S3
(netral) akan mengadsorpsi ion negatif (anion), sehingga menjadi
bermuatan negatif. Sifat adsorpsi koloid dimanfaatkan dalam kehidupan
sehari-hari untuk proses-proses berikut:
A. Proses pemisahan mineral logam dari bijihnya pada industri logam.
B. Penjernihan air tebu pada proses pembuatan gula pasir
menggunakan tanah diatom dan arang tulang.
C. Proses penyembuhan sakit perut karena bakteri patogen
menggunakan norit atau serbuk karbon.
D. Penjernihan air dengan tawas pada proses pengolahan air Minum

5. Koagulasi

Koagulasi disebut juga dengan istilah penggumpalan merupakan
peristiwa pengendapan partikel-partkel koloid sehingga fase terdispersi
terpisah dari medium pendispersinya. Koagulasi terjadi karena
hilangnya kestabilan untuk mempertahankan partikel-partikel koloid
agar tetap tersebar di dalam medium pendispersinya. Hilangnya
kestabilan koloid ini disebabkan karena adanya penetralan muatan
ataupun pelucutan muatan partikel koloid yang mengakibatkan

16

terjadinya penggabungan partikel-partikel koloid menjadi suatu
kelompok/agregat yang lebih besar.

Penggabungan ini terjadi karena adanya gaya kohesi antar partikel
koloid. Jika ukuran agregat partikel koloid sudah mencapai ukuran
partikel suspensi, maka terjadilah koagulasi. Contoh proses-proses yang
memanfaatkan sifat koagulasi dari koloid:

(Gambar 15. Penyadapan getah karet) (Gambar 16. Proses terbentuknya
delta di muara sungai)

A. Pengolahan karet dari bahan mentahnya (lateks) dengan koagulan
berupa asam format.
B. Proses penjernihan air dengan menambahkan tawas.
C. Tawas aluminium sulfat (mengandung ion Al3+) dapat digunakan
untuk menggumpalkan lumpur koloid atau sol tanah liat dalam air
(yang bermuatan negatif.
D. Proses terbentuknya delta di muara sungai.
E. Terjadi karena koloid tanah liat dalam air sungai mengalami
koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air laut.
F. Asap atau debu pabrik dapat digumpalkan dengan alat koagulasi
listrik (pesawat Cottrel).
G. Proses yang dilakukan oleh ion Al3+atau Fe3+ pada penetralan
partikel albuminoid yang terdapat dalam darah, mengakibatkan
terjadinya koagulasi sehingga dapat menutupi luka.

17

6. Dialisis
Dialisis merupakan proses pemurnian koloid dengan membersihkan

atau menghilangkan ion-ion pengganggu menggunakan suatu
kantong yang terbuat dari selaput semipermeabel. Caranya, sistem
koloid dimasukkan ke dalam kantong semipermeabel, dan diletakkan
dalam air. Selaput semipermeabel ini hanya dapat dilalui oleh ion-ion,
sedang partikel koloid tidak dapat melaluinya, dengan demikian akan
diperoleh koloid yang mumi. Ion-ion yang keluar melalui selaput
semipermeabel ini kemudian larut dalam air. Dalam proses dialisis
hilangnya ion-ion dari sistem koloid dapat dipercepat dengan
menggunakan air yang mengalir. Peristiwa dialisis ini diaplikasikan
dalam proses cuci darah bagi penderita gagal ginjal adapun proses ini
dikenal dengan nama hemodialisis.

Untuk lebih memahaminya, coba
simak video mengenai Adsorpsi
melalui link dibawah ini
https://www.youtube.com/watch?
v=L_hqMPYZLrc

(Gambar 9. Hemodialisis)

7. Koloid Pelindung
Koloid pelindung ialah koloid yang mempunyai sifat dapat

melindungi koloid lain dari proses koagulasi sehingga menjadi koloid
yang stabil. Koloid pelindung bekerja dengan cara membentuk lapisan
di sekeliling partikel koloid lain. lapisan ini memiliki fungsi untuk
memberikan perlindungan muatan koloid agar partikel koloid tidak
menggumpal atau terpisah dari mediumnya.

18

(Gambar 17. Margarin)

Contohnya:
A. Lesitin, merupakan koloid pelindung yang menstabilkan butiran-
butiran halus air di dalam margarin.
B. Gelatin, adalah koloid pelindung yang berfungsi untuk mencegah
terbentuknya kristal es dalam es krim.
C. Minyak silikon, digunakan untuk melindungi zat campuran zat
warna dan oksida logam dalam cat.
D. Kasein dalam susu mampu melindungi lemak atau minyak dalam
medium cair. Koloid pelindung dalam emulsi disebut emulgator.

8. Liofil dan Liofob

Koloid yang medium pendispersinya cair, dibedakan atas koloid
liofil dan koloid liofob.
A. Koloid liofil adalah suatu koloid yang fase terdispersinya dapat
menarik medium pendispersi yang berupa cairan akibat adanya gaya
Van der Waals / ikatan hidrogen. Sol liofil yang setengah padat disebut
gel. Jika medium pendispersinya berupa air, maka disebut koloid
hidrofil. Koloid hidrofil mempunyai gugus ionik atau gugus polar di
permukaannya, sehingga mempunyai interaksi yang baik dengan air.
Butir-butir koloid liofil/hidrofil dapat mengadsorpsi molekul
mediumnya sehingga membentuk suatu selubung (solvatasi/hidratasi).
Akibatnya butir-butir koloid terhindar dari agregasi/pengelompokan.

19

Sol hidrofil tidak menggumpal pada saat penambahan sedikit elektrolit.
Zat terdispersinya dapat dipisahkan melalui proses pengendapan atau
penguapan.
B. Koloid liofob adalah suatu koloid yang fase terdispersinya tidak
dapat mengikat atau menarik medium pendispersinya. Jika medium
pendispersinya berupa air, maka disebut koloid hidrofob. Koloid ini
biasanya berasal dari senyawa anorganik. Koloid hidrofob bersifat
irreversibel, artinya tidak dapat kembali ke keadaan semula. Misalnya:
sol emas. Jika medium pendispersinya diambil, sol emas membentuk
emas padat. Setelah emas padat terbentuk, tidak dapat berubah menjadi
sol emas kembali, meskipun ditambah dengan medium pendispersinya.

20

Tabel 1. Perbedaan sifat koloid hidrofil dan koloid hidrofob

NO. SOL HIDROFIL SOL HIDROFOB
Koloid yang mengadsorbsi mediumnya Koloid yang tidak mengadsorpsi mediumnya
1.


2. Dapat dibuat dengan konsentrasi yang relatif besar Hanya stabil pada konsentrai kecil

3. Tidak mudah digumpalkan dengan penambahan Mudah menggumpal pada penambahan elektrolit
elektrolit

4. Viskositas lebih besar daripada mediumnya Viskositas hampir sama dengan mediumnya

5. Bersifat reversible Bersifat ireversibel
6 Efek Tyndall lemah Efek Tyndall lebih jelas
7. Stabil
8. Terdiri atas zat organik Kurang stabil
9. Kekentalannya tinggi Terdiri atas zat organik
10. Efek gerak brown lemah Kekentalannya rendah
11. Dapat dibuat gel Efek gerak brown lebih jelas
12. Umumnya dibuat dengan cara dispersi Hanya beberapa yang dapat dibuat gel
Hanya dapat dibuat dengan cara kondensasi

13. Partikel terdispersi mengadsorpsi molekul Partikel terdispersi mengadsorpsi ion

14. Contoh : sabun, agar-agar, kanji, deterjen, gelatin Contoh : sol belerang, sol logam, sol AgCl

21

> Pembuatan Koloid
Jika kita atau sebuah industri akan memproduksi suatu produk

berbentuk koloid, bahan bakunya adalah larutan (partikel berukuran
kecil) atau suspensi (partikel berukuran besar). Didasarkan pada bahan
bakunya, pembuatan koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
sebagai berikut.

1. Kondensasi
Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil (larutan)
menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas reaksi
kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dan reaksi
substitusi.

Kimia
A. Reaksi Redoks, adalah reaksi yang disertai perubahan bilangan
oksidasi
Contoh:
-Pembuatan sol belerang dari reaksi redoks antara gas H2S dengan
larutan SO2. Persamaan reaksinya: 2H2S (g) + SO2 (aq) →2 H2O (l) +
3 S(s)
-Pembuatan sol emas dari larutan AuCl 3 dengan larutan encer
formalin (HCHO). Persamaan reaksinya:
2 AuCl 3(aq) + 3 HCHO(aq) + 3H2O(l) → 2 Au (s) + 6HCl(aq) + 3
HCOOH(aq)

B. Reaksi Hidrolisis, yaitu reaksi yang terjadi antara suatu spesi
dengan air
Contoh: Pada pembuatan sol Fe(OH)3 dari hidrolisis FeCl3 . Apabila
ke dalam air mendidih ditambahkan larutan FeCl3 maka akan
terbentuk sol Fe(OH)3 . Persamaan reaksinya adalah:
FeCl 3 (aq) + 3 H2O (l) → Fe(OH) 3 (s) + 3 HCl ( aq)
C. Reaksi Substitusi, yaitu reaksi penggantian pasangan
Contoh: Pada pembuatan sol belerang
Na2S2O3 (aq) + 2 HCl (aq) → S (s) + 2NaCl (aq) +H2SO4 (aq)

22

Fisika
Secara fisika terdapat cara pembuatan partikel koloid dengan
mengkondensasikan partikel, melalui:

A. Penggantian Pelarut: contohnya yaitu pada pembuatan gel
kalsium asetat. Kalsium asetat sukar larut dalam alkohol, tetapi mudah
larut dalam air. Oleh karena itu, gel kalsium asetat dibuat dengan cara
melarutkan kalsium asetat dalam air sehingga membentuk larutan
jenuh. Selanjutnya larutan jenuh tersebut ditambahkan ke dalam
alkohol hingga terbentuk gel.

B. Pengembunan Uap: contohnya sol raksa (Hg) yang dibuat
dengan cara menguapkan raksa. Setelah itu, uap raksa dialirkan melalui
air dingin hingga akhirnya diperoleh sol raksa.

2. Dispersi
Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar

(suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik,
peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.

A. Proses Mekanik
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui

penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan
pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh
partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian
didispersikan ke dalam medium (pendispersinya). Contoh: pembuatan
sol belerang dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama
dengan zat inert (seperti gula pasir) kemudian mencampurkan serbuk
halus dengan air

B. Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan

zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar) menjadi
partikel koloid. Contoh: Nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin,
endapan NiS dipeptisasi oleh H2S dan endapan Al(OH)3 oleh AlCl3.

C. Cara Busur Bredig
Cara ini digunakan untuk membuat sol-sol logam (koloid

logam). Logam yang akan dijadikan koloid digunakan sebagai
elektrode yang dicelupkan ke dalam medium pendispersi. Kemudian.

23

dialiri arus listrik yang cukup kuat sehingga terjadi loncatan bunga api
listrik. Suhu tinggi akibat adanya loncatan bunga api listrik
mengakibatkan atom-atom logam akan terlempar ke dalam medium
pendispersi (air), lalu atom-atom tersebut akan mengalami kondensasi
sehingga membentuk suatu koloid logam. Jadi, cara busur Bredig
adalah gabungan antara cara dispersi dan kondensasi. Contohnya pada
pembuatan sol platina dalam sol emas.

D. Cara Homogenisasi
Cara homogenisasi adalah suatu cara yang digunakan untuk

membuat suatu zat menjadi homogen dan berukuran partikel koloid.
Cara ini banyak dipakai untuk membuat koloid jenis emulsi.
Contohnya: Pada pembuatan susu, dimana ukuran partikel lemak pada
susu diperkecil hingga berukuran partikel koloid. Caranya dengan
melewatkan zat tersebut melalui lubang berpori bertekanan tinggi. Jika
partikel lemak dengan ukuran partikel koloid sudah terbentuk, zat
tersebut kemudian didispersikan ke dalam medium pendispersinya.

E. Cara Dispersi dalam Gas
Pada prinsipnya, cara ini dilakukan dengan menyemprotkan

cairan melalui atomizer. Menggunakan sprayer pada pembuatan koloid
tipe aerosol, misalnya obat asma semprot, hair spray dan parfum.

> Penggunaan Koloid Dalam Kehidupan Sehari – Hari
Sistem koloid banyak digunakan dalam kehidupan manusia, terutama
dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik
koloid yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat
yang tidak dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil
untuk produksi dalam skala besar.

24

(Gambar 18. Aplikasi Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari)

NO. JENIS INDUSTRI CONTOH APLIKASI
1. Industri makanan Pembuatan keju, mentega, susu, saus salad
Bahan kosmetika berbentuk aerosol,
2. Industri kosmetika dan misalnya parfum dan deodorant spray, hair
perawatan tubuh spray, dan penghilang bau mulut yang
3. disemprotkan
4. Industri cat Bahan kosmetika yang berbentuk sol,
5. Industri kebutuhan rumah misalnya cairan untuk masker, dan cat kuku.
6. Bahan kosmetika berbentuk emulsi,
tangga misalnya susu pembersih muka dan kulit
Industri pertanian Bahan kosmetika berbentuk gel, misalnya
Industri farmasi minyak rambut (jelly)
Bahan kosmetika berbentuk sol padat,
misalnya lipstik, pensil alis
Bahan kosmetika berbentuk buih, misalnya
sabun kecantikan



Cat
Sabun, detergen
Peptisida dan insektida
Minyak ikan, pensilin untuk suntikan

25

Selain kegunaan di atas sistem koloid juga bermanfaat dalam:
1. Pemutihan Gula

Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan
melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui
sistem koloid tanah diatom atau karbon. Partikel koloid akan
mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut
mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna
putih.
2. Penggumpalan Darah

Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan
negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan
pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+.
lon-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat
netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah
dilakukan.
3. Penjernihan Air

Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikel-
partikel koloid tanah liat, lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang
bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk
diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid
tersebut dapat dipisahkan. Hal itu dilakukan dengan cara
menambahkan tawas (Al2S04)3. Ion A13+ yang terdapat pada tawas
tersebut akan terhidrolisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang
bermuatan positif melalui reaksi: A13+ + 3H2O→ Al(OH)3 + 3H+ .
Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari
partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur.
Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga
mengendap karena pengaruh gravitasi.

26

DAFTAR PUSTAKA

Permana, Irvan. 2009. Memahami Kimia 2: SMA/MA Untuk Kelas XI,
Semester 1 dan 2
Program Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Rachmawati, 2004, Kimia SMA Kelas XI, Jakarta. Erlangga.
Sudarmo, Unggul, dkk. 2013. KIMIA SMA XI Sekolah Menengah
Atas. Jakarta. Penerbit Erlangga.
Sulami, Emi, dkk. 2009. Buku Panduan Pendidik Kimia Untuk SMA &
MA Kelas XI. Klaten. Intan Pariwara.
Suryana, Yayan dan Agus Setiabudi. 2009. Mudah dan Aktif Belajar
Kimia untuk Kelas XI Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah
Program Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan
Departemen Pendidikan Nasional.
Sutresna, Sri Rahayu x. 2013. KIMIA SMA XI Sekolah Menengah Atas.
Jakarta. Bumi Aksara.
Thahjadarmawan, Elizabeth. 2013. Gagas Kimia Jilid 2. Yogyakarta.
Jakarta.
Utami, Budi. dkk. 2009. Kimia 2: Untuk SMA/MA Kelas XI Program
Ilmu Alam. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan
Nasional.
Arnelli, & Astusi, Y. (2019). Kimia Koloid dan Permukaan.
Yogyakarta: Deepublish Publisher.
Premono, S., Wardani, A., & Hidayati, N. (2009). SMA/MA Kelas XI
Kimia. Jakarta: Pusat perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional.
Sdarmo, U., & Mitayani, N. (2014). Kimia untuk SMA/ MA Kelas XI
Peminatan Matematika dan Ilmu-ilmu Alam. Surakarta: Erlangga.
Sunarya, Y., & Setiabudi, A. (2009). Mudah dan Akrif Belajar Kimia
Untuk Kelas XI 2 Sekolah Menengah Atas/ Madrasah Aliyah Program
Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Depaetemen Pendidikan Nasional.

27


Click to View FlipBook Version