Belajar dari Semut
Pepatah “ada gula ada semut” agaknya kurang tepat saat ini. Kenapa demikian? Karena
saya melihat semut tetap hadir dimana-mana dengan aktif meski ada gula atau tidak. Di
atas meja, di lantai, bahkan semut masuk ke dalam dispenser yang isinya hanya air mineral.
Mungkin anda pernah juga merasa kesal dengan keberadaan semut di mana-mana, dan
mungkin anda juga pernah membunuh semut-semut itu saking kesalnya. Semut memang
binatang yang sangat kecil dan tidak sebanding dengan kita, tetapi ada begitu banyak hal
positif yang dapat kita pelajari lewat perilaku dan kebiasaan semut.
• Kebiasaan dan perilaku apa saja yang bisa kita petik dari seekor semut?
Amsal 30:25
“semut, bangsa yang tidak kuat, tetapi yang menyediakan makanannya di musim
panas”
• Hal ini mengingatkan kita supaya :
1. Semut tidak pernah putus asa
Cobalah bentangkan tangan anda untuk menutup jalan yang tengah
dilalui seekor semut. Semut itu tidak akan berhenti atau mundur, ia
akan terus berjalan ke segala arah untuk mencari rute lain. Tidak
jarang, semut itu akan dengan santainya menaiki tangan kita untuk
bisa melewati rintangan dan kembali melanjutkan perjalanannya. Kita
bisa belajar dari seekor semut kecil ini untuk urusan kegigihan dan
pantang menyerah. Ketika anda menemui jalan buntu, mengalami
kegagalan, ketika anda merasa seolah-olah masalah anda tidak punya
solusi, janganlah putus asa. Semut saja pantang menyerah, apalagi kita
yang punya Yesus yang luar biasa dalam hidup kita. Tuhan berkali-kali
mengingatkan kita agar kita jangan takut, jangan ragu, khawatir atau
bimbang dalam menjalani hidup yang tengah didera badai.
2. Semut itu rajinnya luar biasa
Anda pernah melihat semut sedang tidur-tiduran
beristirahat dengan santai? Itu akan menjadi suatu
pemandangan yang sangat jarang, karena hampir
setiap kali kita melihat semut dalam keadaan aktif,
berjalan dan bekerja mengangkut makanan. Semut
selalu rajin, kerja sudah menjadi bagian penting dari
hidup mereka.
3. Semut itu kuat
Tidak jarang kita melihat semut sanggup mengangkat
beban yang jauh lebih besar dari tubuhnya. Sebaliknya kita
manusia, mungkin mengangkat beban sedikit saja sudah
langsung mengeluh dan bersungut-sungut. Begitu pula
ketika kita tengah mengalami beban masalah, tidak boleh
kita merasa patah semangat dan menyerah seketika.
4. Semut itu saling tolong menolong dan berjiwa sosial
Apa yang dilakukan semut ketika makanan yang hendak diangkut
terlalu berat? Mereka akan mengangkatnya bersama-sama. Sudahkah
kita memiliki kepedulian dan mau membantu meringankan beban
saudara-saudara kita? Atau kita masih berpangku tangan dan pura-pura
tidak melihat mereka yang tengah menangis meminta pertolongan? No
man is an island (tidak ada manusia yang sanggup hidup sendiri).
Karena manusia adalah mahluk sosial yang butuh untuk bekerja sama,
saling dukung saling tolong menolong.
5. Semut cepat melihat peluang
Betapa cepatnya semut hadir ketika dia mengetahui ada peluang
untuk mendapatkan makanan. Semut akan segera hadir di tempat-
tempat yang menguntungkan baginya. Semut tidak akan melewatkan
kesempatan emas ketika ada sesuatu yang bisa dia peroleh. Kita
harus belajar seperti semut yang tidak pernah menyia-nyiakan
kesempatan. Ada banyak orang yang mundur ketika melihat bahwa
kesempatan yang terbentang itu membutuhkan pengorbanan, dan
akibatnya mereka akan melewatkan peluang dan kehilangan
kesempatan. Ingatlah bahwa kesempatan pun merupakan sebuah
berkat dari Tuhan.
Semut memang binatang yang kecil dan lemah, namun kaya
akan kebiasaan dan perilaku positif yang bisa kita jadikan
pedoman untuk memperbaiki pola kebiasaan hidup kita.
Terlebih ada Yesus dalam diri kita dengan segala kasihNya.
Mari kita belajar dari semut dan terus mengembangkan
kebiasaan dan pola hidup positif dan benar.
TUHAN MEMBERKATI
Sovia Anggraini Setiono,S.Sos, M.Si