Tanggungan Harus Ditanggung Petang menjelang pagi, wanita berparas elok rupawan berusaha bangun dari ranjang yang telah ia tiduri semalaman. Menatap langit-langit putih bersih dan membayangkan akan ada yang datang kepadanya untuk menjemput dan memboncengnya pergi dari rumah menuju kesekolah. “Aura, bangun sudah mau jam tujuh kamu masih bermalas-malasan seperti itu” tegur seorang ibu yang mukanya amat kesal. “ahhhhh, mami kenapa sih nganggu Aura aja. Iya aku pasti bangun” balasnya sambil menendang perlahan selimut yang ada pada kedua kakinya. Bergegas lari ke kamar mandi dan mengambil semua peralatan mandi miliknya. Mandi selesai dilanjutkan dengan berdandan elok dan cantik di depan cermin kamarnya. “Tuiiing”, tibatiba ada notifikasi dari handphone kesayangannya, Aura tidak menghiraukan notifikasi tersebut dan terus melanjutkan dandan yang menurutnya adalah hal yang amat menyenangkan bagi dirinya. “tuiiing,tuiiing,tuiiing” terdengar sangat ramai seperti orang seperti berteriak kepadanya. Muka Aura langsung suram dan kesal karena diganggu pada saat dandan. Langsung ia mengambil handphone miliknya dan melihat siapa yang mengirim pesan. “Aaaaaaaaa Juno, waduh gimana ini, duh aku harus gimana ya” seketika dari Aura yang kesal menjadi Aura yang kebingungan namun juga kegirangan. Ternyata yang mengirimi pesan adalah Juno teman satu angkatan dengan Aura yang sejak lama menjadi idola hatinya dan teman-teman satu sekolahnya. “apa aku cuma mimpi ya, aaaa sakitt” ia mencubit tangannya sendiri sembari memastikan apakah itu hanya mimpi belaka ataukah kenyataan. Isi pesan yang dikirim Juno adalah memberitahukan pada Aura kalau ia akan lewat depan rumah Aura dan sekalian mengajak Aura untuk berangkat bersama. “aduhh, aku pokoknya harus tampil lebih cantik hari ini, eh tapi kan aku udah dari lahir cantik ya” sambil memoles bibirnya dengan serum pencerah bibir. “Aura, di depan ada cowok naik sepedah ninja itu siapa?” Tanya ibu sambil bergegas menuju ke kamar Aura untuk mengantarkan bekal makanan serta uang saku. “loh, udah dateng bu? Kok cepet banget sih, duh aku udah cantik belum sih bu?” Tanya Aura kepada ibunya. “udah cantik lah, kan ibunya juga cantik” ucap ibu sambil tertawa kecil. “sudah ya bu Aura berangkat dulu ya”, ucap Aura pada ibu. “Aura nanti langsung pulang ya kita akan berkunjung ke makam
ayah, jangan samaapi lupa” tegas ibu pada Aura. Ia langsung berlari menuju motor Juno sambil ia menyapa Juno. Perjalanan menuju sekolah amat membuat senang hati Aura, karena lelaki idaman nya selama ini bisa sedekat ini dengannya. Setelah sampai disekolah dan turun dari motor ninja milik Juno Aura pun pamit untuk menuju kelasnya dan berterima kasih pada Juno, “makasih banyak ya Juno karena udah nebengin aku sampek ke sekolah hehehe” ucap Aura sambil membuat senyum tersipu pada Juno, “Iya sama-sama Aura, nanti pulang sekolah kita bertemu lagi di sini ya” jawab Juno pada Aura. Lalu mereka berpisah satu sama lain dan masuk pada kelas masing-masing. “teeeeeettttttttttttt” bel pulang sekolah berbunyi nyaring, pertanda sekolah sudah usai dan waktunya untuk pulang. “aduh aku harus cepet-cepet keluar kelas nih agar si Juno nggak nunggu aku kelamaan” ucap Aura sambil memasukkan buku dan alat tulis miliknya kedalam tas. Saat menuju ke parkiran ternyata Juno yang lebih duluan datang ke tempatnya. “yahh maaf ya kamu jadi nunggu aku, aku kelamaan ya Jun” Tanya Aura sambil menunjukkan muka yang sangat menyesal karena membuat Juno menunggu. “haduhh, nggak apa-apa lah Aura eamng kelas ku tadi pulangnya lebih duluan dari kelas yang lainnya” kata Juno sambil memberikan senyum paling manis. “oh iya, nggak langsung pulang ya Aura, kita ngopi dulu kan belum malem juga, bisa kan ya” ajak Juno pada Aura. Aura bingung harus ngopi bersama Juno yang mana adalah idamannya sejak lama dan lelaki idolanya, atau di sisi lain dia sudah ada tanggung jawab untuk pergi bersama ibu ke makam ayahnya. Disitu Aura hanya diam sambil memandangi wajah Juno yang sangat manis melebihi coklat almond kesukaannya. “hey, kok malah nglamun sih Aura, aku tanya ke kamu loh ini, apa kamu nggak suka kalau keluar sama aku” tanya Juno lagi pada Aura. “gini Juno aku bukan bermaksud menolak tawaran untuk ngopi bersama, tapi ibu tadi sudah pesan kepadaku agar setelah pulang sekolah langsung pulang, karena aku akan berkunjung ke makam ayahku” jawab Aura pada Juno dengan nada merasa sedih karena sudah menolak tawaran dari Juno. “kalau ada alas an yang jelas tidak apa-apa kita tunda lain hari saja untuk ngopi bersamanya”. Akhirnya Juno mengantar Aura pulang dengan menggunakan motor ninja miliknya, setelah menempuh perjalanan dari sekolah hingga kerumah, akhirnya sampailah Juno dan Aura. Sebelum pulang Juno berpamitan pada ibu Aura terlebih dahulu. “bu saya pamit pulang dulu ya” sambil berjabat tangan dengan ibu Aura, “iya, hat-hati ya nak, terimakasih karena sudah memberikan tumpangan pada Aura” sambil tersenyum pada Juno. Akhirnya Juno pulang, Aura dan ibu masuk kerumah. “ibu pikir kamu bakal lupa dengan pesan ibu, soalnya kamu tadi seperti tidak mendengarkan pesan ibu dan langsung berangkat” ucap ibu. “aku diam-diam gini ya tanggung jawab sama pesan ibu ya, nggak mungkin aku tidak mendengarkan pesan dari ibuku yang paling cantik ini” ucap Aura sambil meledek ibunya.
Mendung Mendukung Mendung semakin kelabu. Klakson bersahut-sahutan, aku berdiri kedinginan di depan salah satu ruko di Jalan Ciwulan. Sore ini, aku pulang selepas dari kampus dan harus menemui ayah dan ibu. Sebut saja namaku Tia, seorang mahasiswi semester tiga di salah satu kampus ternama yang ada di Semarang, orang menyebut diriku berasal dari keluarga yang 50 persen beruntung dan 50 persennya lagi kurang beruntung. Dikatakan beruntung karena ayah dan ibu menjadi pengusaha yang sukses di kota ku, dan dikatakan kurang beruntung karena aku hanya dibesarkan dari materi bukan dari kasih sayang. Ya, benar, orang tua ku berpisah ketika aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Pada saat itu aku sangat bingung dengan keadaan kelurgaku, karena ayah dan ibu sudah tidak satu atap lagi. Setiap aku bertanya pada ibu mengapa ayah tidak pulang atau tidak bisa berkumpul bersama jawabannya hanyalah sebuah amarah yang aku dapat. Terkadang aku hanya sendirian di rumah karena ayah dan ibu sibuk dengan urusan masing-masing. Saat itu aku kebingungan apa yang harus aku lakukan dengan situasi yang aku jalani saat ini. Kepribadianku sangatlah berbeda antara saat ini dan saat pertama kali aku mengetahui jikalau keluargaku hancur lebur. Tepat saat aku duduk di Sekolah Menengah Pertama kelas delapan pada saat itu, aku menjadi seseorang yang tak tahu arah. Aku terjun dalam pergaulan yang sangat bebas, keseharianku kuisi dengan membolos, merokok sampai membully teman kelasku. Aku tidak bisa menalar akal sehat ku saat itu. Hampir setiap minggu nya aku adalah murid kesayangan ibu dan bapak bimbingan konseling. Saat itu mungkin pihak sekolah tidak bisa toleransi dengan kelakuanku, akhirnya orang tua ku diundang untuk bertemu bapak dan ibu bimbingan konseling sekolah. Saat itu yang datang hanya ibu saja, ayahku tidak bisa datang untuk bertemu dengan alas an masih ada pekerjaan yang menumpuk. Setelah ibu keluar dari ruang bimbingan konseling aku langsung ditarik untuk pulang. Sontak aku langsung terkejut mengapa ibu sekarang kasar kepada ku. “kamu anak yang kurang tau adab apa gimana sih, mau ditaruh mana muka ibu ini” kata ibu sambil terus menarik tanganku menuju mobil. “emang kenapa sih” jawabku sambil cemberut memperhatikan wajah ibuku saat itu. “percuma kamu ibu sekolahkan di sekolah mahal tapi kelakuanmu seperti itu, mau jadi apa kamu, kamu perempuan tapi kelakuannya tidak baik” ibu terus mengomel sambil menyetir mobil menuju pulang kerumah. Di perjalanan pulang aku hanya bisa diam dan terus menguatkan diri. Setibanya dirumah ibu terus mengomel tiada henti, aku langsung masuk kamar dan mendobrak gagang pintu kamarku. Aku hanya bisa menangis sendirian memikirkan apa yang dikatan oleh ibuku tadi. Tak lama ayah pun datang kerumah dan ibu langsung menceritakan semuanya yang telah terjadi pada saat di sekolah “anakmu itu tidak tau adab, di sekolah dia banyak sekali catatan sanksi, aku malu dengan kelakuan anakmu itu” cerita ibu kepada ayah
sambil terus mengomel. Tak banyak bicara ayah langsung menemuiku “nak kenapa kok bisa seperti ini, kamu bukan seperti yang ayah kenal dulu, ayo cerita pada ayah apa yang terjadi” tanya ayah lembut kepadaku. Aku merasa sudah tidak kuat lagi menahan semuanya aku berteriak dan berkata kepada ayah dan ibuku “kalian begitu egois, kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan anak kalian ini, kalian lebih focus pada pekerjaan masing-masing, ditambah sekarang kalian sudah berpisah, aku sepertii manusia yang tidak punya kebahagiaan, aku meluapkan semua yang aku rasakan di kepribadianku yang sekarang, kalian hanya bisa mengomeliku tanpa kalian berkaca terlebih dahulu apakah semua yang kalian lakukan sudah sangat benar” saat itu rasanya seperti diterjang angin rebut aku mengeluarkan isi hati yang aku pendam sendirian, aku menangis sejadi-jadinya, ibu yang tadinya mengomeliku terus langsung terdiam mendengar semua yag aku rasakan. Ayah saat itu juga langsung memeluk dan berkata lirih padaku “ nak, maafkan ayah dan ibu ya, kami memang sangat egois dan tidak pernah memperhatikan apakah kamu nyaman atau tidak dengan situasi keluarga kita seperti ini. “maafkan ibu juga yak arena selalu menyalahkan semuanya padamu nak, kami berjanji akan selalu ada untukmu dan selalu mendukungmu meskipu ayah dan ibu tidak bersama lagi” tambah ibu sambil memelukku. Setelah kejadian itu, ayah dan ibu memutuskan setiap minggunya kami bertemu bersama dan menghabiskan waktu bersama agar aku bisa terus berkomunikasi dan ada yang mendukung sekolahku meskipun ayah dan ibu tidak bisa kembali seperti dulu lagi. “Mbak permisi, saya mau buka ruko saya, tolong jangan di tengah jalan ya mbak” tegur orang yang ada di depanku. Oh, maaf pak, tadi saya sedang melamun ya sampai nggak tau kalau ruko nya buka” jawabku sambil bergegas meninggalkan ruko tersebut. Ternyata tadi aku sedang memikirkan masa lalu yang nampaknya seperti laying-layang kadang melambung kadang juga bisa turun. Mendung sore kali ini memang mendukung ku untuk memikirkan masa lalu yang menjadikanku seorang yang harus tangguh dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Belajar Diajar Orang biasa menyebutku Ike, aku lahir di sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Aku terlahir dari keluarga sederhana dengan 2 saudara yang aku punya. Saat ini aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas yang terkenal di kecamatan tempat aku tinggal. Aku duduk dikelas XII yang mana akan lulus tahun ini, aku dipercaya oleh wali kelas beserta teman sekelasku untuk menjadi ketua kelas meskipun aku sempat menolak namun tetap saja aku dipilih. Aku sering menjadi peserta didik kepercayaan bapak dan ibu guru, tak banyak juga teman yang iri pada kepadaku karena aku selalu dipercaya oleh bapak dan ibu guru. Namun semua itu tidak terlalu aku pikirkan karena memang itu sudah menjadi tanggung jawabku, saat pengumuman juara kelas aku sering mendapat juara 3 dan 2, hal tersebut menambah rasa iri teman-temanku, ada yang mengira aku mencari muka pada bapak dan ibu guru ada pula yang mengira itu bukan nilai asliku. “pasti semua nilai ini hasil perolehan mencari muka pada bapak ibu guru” tuduh salah satu teman sekelasku yang tidak menyukaiku. Namun semua tuduhan dan hinaan itu tidak menyurutkan semua mimpi yang aku punya. Meski aku berasal dari keluarga yang sederhama, aku memiliki mimpi yang besar untuk kehidupanku. Aku ingin melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu menempuh pendidikan di perguruan tinggi negeri ternama yang ada dikota besar. Mimpi besarku didukug penuh oleh kedua orang tua ku yang mana mereka sangat sayang terhadapku. Sejak aku duduk di Taman Kanak-kanak aku memiliki mimpi menjadi seorang guru yang cerdas serta menyayangi anakanak, meskipun kenyataan yang ada bahwa untuk kesejahteraan seorang guru masih dipandang sebelah mata oleh orang diluar sana. Namun, aku sedikit kekurangan dalam bidang mata pelajaran matematika yang mana mata pelajaran yang sangat tidak disenangi oleh sebagian besar peserta didik. Dibalik kekurangan itu aku memberanikan diri untuk mengikuti bimbingan belajar yang mana diajar oleh salah satu guru yang ada di sekolahku. Aku selalu belajar semua mata pelajaran yang akan diujikan sebagai syarat aku lulus dari SMA. Suatu hari ujian akhir pun tiba, hari pertama aku sangat gugup dimana aku harus mengerjakan soal tidak lagi di atas secarik kertas melainkan pada layar besar komputer milik sekolah. Sesekali aku berdoa agar diberikan kemudahan dalam menjawab soal yang sudah ada pada layar. Dan, semua ujian pun selesai aku dinyatakan lulus dengan hasil yang menurutku
memuaskan. Setelah semua kegiatan sekolah selesai, aku melanjutkan untuk konsultasi mengenai perguruan tinggi lanjutan bersama teman-temanku. Aku mencari informasi sebanyak mungkin mengenai semua peguruan tinggi yang ada di Jawa Timur, aku diberikan kesempatan untuk mendaftar dengan jalur SNMPTN dimana aku hanya menyetorkan nilai yang aku raih dari kelas sepuluh hingga kelas dua belas saja, kukira mendaftar ke perguruan tinggi hanyalah mendaftar lalu bisa masuk, ternyata semua dugaan ku salah. Aku harus mengurus berkas yang tidak hanya satu melainkan banyak berkas yang harus aku urus, tidak hanya berkas saja, aku juga membutuhkan kesabaran penuh untuk menunggu server pendaftaran yang terkadang error tidak bisa digunakan karena bukan hanya aku yang mendaftar melainkan semua peserta didik yang ingin melanjutkan impiannya seluruh Indonesia. Terkadang aku harus pergi ke warkop untuk menyambungkan jaringan ke laptop milikku, aku ditemani oleh ibu terkadang pula bapak yang juga menemaniku, aku mulai datang ke warkop tetangga desaku dari jam Sembilan pagi hingga jam dua belas malam hanya untuk menunggu sebuah server. Terkadang orang yang sedang bermotoran melihatku heran dan aneh karena aku dan ibuku saja perempuan yang berada di warkop itu, tiga hari lamanya aku menunggu server dan akhirnya kartu pesertaku dapat diunggah sebagai bukti bahwa aku daftar pada perguruan tinggi tersebut. Selang setelah aku mendapat kartu pendaftaran, pengumuman hasilpun keluar dan tidak disangka ternyata aku gagal di pendaftaran perguruan tinggi SNMPTN, tangispun pecah aku merasa sebagai anak yang paling bodoh karena tidak lolos SNMPTN, bapak dan ibu terus memberiku semangat agar aku daftar dengan menggunakan jalur yang lainnya. Akhirnya, aku daftar dengan jalur tes UTBK dimana aku harus datang ke perguruan tinggi negeri dan mengikuti tes sebelum aku mendaftar pada perguruan tinggi impian. Untuk pertama kalinya, dimana aku pada saat dirumah tidak pernah keluar rumah jauh dari orang tua dituntut untuk pergi mengikuti tes seorang diri tidak dengan siapa-siapa, sebelum berangkat tes aku sudah dihantui dengan pikiran “apakah aku bisa sendiri”. Namun, bapak dan ibu tetap mempercayaiku untuk bisa berangkat tes seorang diri ke kota orang. Aku menjalani tes dan akhirnya aku pulang dan menunggu hasil nilai tes yang sudah aku jalani. Dan lagi-lagi akupun ditolak dengan kampus impianku. Dua hari aku merenung aku kurang belajar ataukah aku memang tidak diperbolehkan untuk menjadi orang sukses, aku patah semangat dan berpikir kerja adalah pilihan terbaik bagiku saat itu. Orang tua ku tetap mendukungku untuk terus mendaftar pada jalur penentuan yaitu jalur mandiri. Aku ciut dan berpikir aku tidak ingin menjadi beban untuk orang tua ku, yang mana
biaya kuliah menggunakan jalur mandiri sangatlah mahal. Aku menolak permintaan kedua orangtuaku. Namun mereka tetap menyuruhku untuk tidak patah semangat dan terus maju dalam pendaftaran jalur mandiri, akhirnya aku daftar dan memiliki pandangan bahwa apabila aku tetap ditolak aku tidak ingin kuliah. Ya, memang benar dugaan yang selama ini menghantuiku, aku tidak bisa masuk ke perguruan tinggi idamanku untuk yang ketiga kalinya. Saat itu seketika aku langsung down dan tidak bisa berpikir lagi dengan semua harapan yang telah aku rancang dari aku SMA, hari-hariku hanya bisa diam dan murung,aku sudah muak aku langsung meminta izin kepada bapak dan ibu untuk bekerja saja, namun bapak dan ibu tidak setuju dengan keputusan yang akan aku ambil. Kakakku juga berusaha untuk mencarikanku perguruan tinggi yang berbasis pendidikan meskipun swasta, kakakku diam-diam juga sudah mendaftarkanku pada salah satu perguruan tinggi swasta yang dipilihnya, aku tidak peduli dengan apa yang dilakukan kakakku, aku hanya meng iyakan apa yang sudah ia siapkan untukku. Sampai akhirnya aku dinyatakan sebagai mahasiswa pada salah satu perguruan tinggi swasta yang ada di kota tetangga. Tak lama setelah menjalani perkuliahan ada beberapa hal positif yang menghampiriku, mulai dari aku di tawari untuk menjadi salah satu guru agama yang ada di TK, aku ditawari sebagai tentor yang ada di salah satu bimbingan belajar milik temanku yang sudah sukses. Ternyata benar kata orang, semakin kita belajar semakin pula kita akan diajar oleh keajaiban misteri kehidupan.
Pikulan Diri Bulan mulai menampakkan dirinya, jangkrik juga ingin ikut andil untuk meramaikan, aku hanya duduk termenung sambil sesekali menatap bintang nan gemerlap dimalam ini. “tumben malam ini tidak mendung seperti biasanya” gumamku dalam hati. Bocah desa sesekali berlarian sambil bermain kucing-kucingan, mereka tambah riang tanpa ada beban pikiran, tertawa tanpa ada rasa cemas berpikir bahwa aka nada kesedihan apa dibalik ini semua. Tak lama tukang ronde juga ikut serta meramaikan jalan desa depan rumah sambil memikul dagangannya. Ya inilah hidup kadang dibawah kadang juga makin kebawah. “Anton, ayo masuk dasar kamu ya malah enak-enak duduk melihat bocah bermain. Jatahmu hari ini memijat kaki paman”, teriak pamanku sambil menunjukkan muka geram padaku. Aku adalah Anton anak pasangan suami istri yang baru saja meninggal karena tertabrak mobil, saat ini aku hidup bukan lagi dengan ayah dan ibu melainkan dengan paman dan keluarganya. Aku terpaksa ikut tinggal bersama paman karena ayah dan ibu meninggal beberapa saat setelah mobil menabrak sepedah motor kami dan hanya aku yang dapat diselamatkan, aku berfikir semua terjadi karena ulahku, mengapa aku harus merengek kepada ayah dan ibu untuk mengajak jalan-jalan naik motor bersama waktu itu, semua ini akibat ulahku yang begitu manja kepada ayah dan ibu. Setelah semua terjadi aku merasa dalam diriku terdapat pikulan yang membuat aku merasa sangat memaksakan kehendak kebahagianku, aku menyembunyikan rasa kalut pada diriku yang tiap harinya mencoba menghibur dan menyenangkan banyak orang. “Anton untuk bulan ini kamu tidak dapat mengikuti ujian ya, kamu sudah menunggak uang pembayaran sekolah selama 4 bulan terakhir. Kamu harus segera memberitahukan ini kepada paman dan bibi mu, sayang sekali kamu kalau tidak ikut ujian” ucap guru kelas yang mengajarku. “iya ibu saya akan memberitahukan semua informasi dari ibu guru kepada paman dan bibi saya” jawabku kepada ibu guru. Seketika aku merasa beban yang belum aku tuntaskan ditimpa lagi beban yang kedua kalinya, aku memikirkan cara agar dapat memberitahukan informasi ini kepada paman dan bibiku. Paman dan bibi saat ini memiliki 3 orang anak yang masih sekolah, ekonomi merasa dapat dikatakan tidak diatas rata-rata, yang mana paman hanya sebagai kuli bangunan dan bibi hanya seorang ibu rumah tangga.
Semenjak kedatanganku masuk kedalam keluarga mereka, aku merasa menjadi beban bagi kehidupan mereka, tiap hari aku harus mengalah dengan ketiga anak mereka soal makanan ataupun soal biaya sekolah. Terkadang aku juga diperlakukan seperti budak tanpa upah yang hanya disuruh tanpa memikirkan batin dan perasaanku. Sebenarnya aku tidak ingin menjadi beban dalam keluarga paman dan bibi. Namun, hanya mereka sausara yang kupunya. Semua asset milik ayah dan ibu seperti rumah sudah digadaikan oleh paman dan bibi ku dengan alas an untuk biaya hidupku menumpang kepadanya. Aku ingin lari namun aku sudah mencelupkan diriku pada sebuah titik tumpu beban hidup yang sebenanya, aku hanya dapat berdoa pada ilahi agar paman dan bibi diberi sebuah kasih pada diriku yang tidak punya ayah dan ibu. Tak pernah lupa meskipun aku hanya seorang anak yang tidak begitu khusyu dalam agama,aku selalu mendoakan paman dan bibi agar diberikan kelapangan hati, kesehatan mutlak, serta diberikan semua berkah agar tidak selalu bersikap acuh dan sepele kepadaku. Aku juga tidak menginginkan kejadian kehilangan ayah dan ibu, bukan hanya paman dan bibi saja yang mempunyai beban hidup berat melainkan akupun yang tiap hari memiliki beban hidup untuk melanjutkan kehidupan selanjutnya. Waktu ujian kurang dua hari lagi, aku tidak ada keinginan untuk menambah beban hati kepada paman dan bibi. Aku hanya sedikit terdiam kadang pula hanya termenung. Di sekolah pun aku juga lebih memilih untuk tidak beristirahat layaknya teman ku yang bisa istirahat dengan tenang dan bisa menikmati bekal ataupun jajan di katin sekolah. Istirahat kujadikan waktu untuk sholat mushola sekolah, aku banyak berserah kepada sang pencipta, banyak minta ketabahan serta rasa ikhlas, terkadang secara tidak sadar aku menangis merasa tidak kuat dengan cobaan ini. “Anton, mengapa kamu menangis” tanya seseorang yang ada di belakangku yang mana itu adalah bapak wakil kepala sekolah secara tidak sengaja sholat bersamaku. “Aaaanu, saya hanya sedikit memiliki beban yang membuat saya rapuh pak” jawabku sambil mengusap air mataku. “ayo ceritakan pada bapak apa yang sedang kamu rasakan, siapa tahu bapak bisa membantumu” ucap bapak guru sambil mengusap pundakku lirih”. Akhirnya aku memberanikan diri untuk bercerita pada bapak guru semua kejadian yang aku alami, dan menceritakan akar masalah dari semua beban yang aku pikul. “jadi itu selama ini yang kamu alami, apakah kamu mau bapak beri beasiswa asalkan kamu terus rajin sholat dan rajin belajar?” tanya bapak guru kepadaku. “saya sangat mau dan berterimakasih pak, apabila bapak mau memberikan saya beasiswa tersebut”
jawabku sambil memberikan senyumku paling sumringah kepada bapak guru. “baik kalau begitu kamu ikut bapak ke ruang kepala sekolah, bapak akan beri kamu beasiswa hari ini juga dan kamu tetap bisa mengikuti ujian besok lusa”. Setelah mendengar hal menyenangkan tersebut aku langsung merasa beban ku sedikit terlempar dari diriku, aku sangat senang serta merasa ini semua adalah jawaban doa dari sang pencipta yang amat sayang kepada ku. Setelah kejadian tersebut, aku makin rajin untuk meluapkan isi hatiku dengan sholat serta tidak lupa aku juga belajar. Semua pikulan diri memang mempunyai waktu penting untuk luruh dan luluh dari dalam diri ku. _TAMAT_