The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by hisan.belajartik.2020, 2023-09-26 22:14:34

Pembuatan Video Pembelajaran

Pembuatan Video Pembelajaran

HISAN 1 PEMBUATAN VIDEO PEMBELAJARAN A. Latar Belakang Pesatnya perkembangan teknologi digital ikut berperan dalam membuat semakin populernya video. Banyak sekali konten video yang dimanfaatkan oleh semua orang dalam berbagai format dan jalur distribusi. Bisa dikatakan bahwa saat ini video adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan dan budaya setiap lapisan masyarakat. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, saat ini penggunaan media pendidikan, khususnya media video pembelajaran sudah merupakan suatu tuntutan yang mendesak. Hal ini disebabkan sifat pembelajaran yang semakin kompleks. Terdapat berbagai tujuan belajar yang sulit dicapai hanya dengan mengandalkan penjelasan guru. Oleh karena itu, agar pembelajaran dapat mencapai hasil yang maksimal diperlukan adanya pemanfaatan media video pembelejaran. Lahirnya platform penyebaran video berbasis internet seperti YouTube membuat video semakin mudah diakses oleh siapapun dan dari manapun. Jutaan bahkan milyaran penduduk dunia mengakses video tiap harinya. Mereka mengakses video ini dengan berbagai macam tujuan, mulai dari sekadar untuk hiburan sampai keperluan pembelajaran. Seorang guru, di dalam melaksanakan kompetesi pedagogik dituntut untuk memiliki kemampuan secara metodologis dalam hal perancangan dan pelaksanaan pembelajaran. Termasuk di dalamnya penguasaan, pemanfaatan dan penciptaan media pembelajaran yang sesuai. Penggunaan media pembelajaran disadari akan sangat membantu aktivitas pembelajaran, baik di dalam maupun di luar kelas. Namun, tidak bisa dipungkiri, bahwa di dalam implementasinya, tidak banyak guru yang mampu merancang, mencipta atau mempergunakan media pembelajaran secara optimal. B. Media Pembelajaran Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Menurut Djamaran dan Aswan (2010:120), media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan. Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan


HISAN 2 manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkingkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Pendapat lain oleh (Munadi, 2012:8) yang mengemukakan media merupakan segala sesuatu yang dapat menyampaikan dan menyalurkan pesan dari sumber secara terencana sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dan dapat melakukan proses belajar secara efisien dan efektif. Pembelajaran adalah serangkaian aktivitas yang sengaja diciptakan dengan maksud untuk memudahkan terjadinya proses belajar pada siswa. Hal ini sejalan dengan dengan pernyataan Gagne, Briggs & Wager (Winataputra, 2008: 19) menyatakan bahwa pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memfasilitasi proses belajar pada siswa. Definisi lain dikemukakan oleh Trianto (2009: 17) bahwa pembelajaran merupakan usaha sadar dari seorang guru untuk membelajarkan siswanya (mengarahkan interaksi siswa dengan sumber belajar lainnya) dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan. Media pembelajaran mempunyai kedudukan penting untuk mencapai keberhasilan proses pembelajaran. Media pembelajaran dapat memfasilitasi pencapaian tujuan pembelajaran yang spesifik Sejalan dengan Kemp & Dayton (Rusman, 2009: 154) menyatakan bahwa, kontribusi media terhadap proses pembela jaran adalah: (1) penyampaian pesan dapat lebih terstandar; (2) pembelajaran dapat lebih menarik; (3) pembelajaran menjadi lebih interaktif; (4) waktu pelaksanaan pembelajaran dapat diperpendek; (5) kualitas pembelajaran dapat ditingkatkan; (6) proses pembelajaran dapat berlangsung kapan pun dan di mana pun diperlukan; (7) sikap positif peserta didik terhadap materi pembelajaran serta proses pembelajaran dapat ditingkatkan; dan (8) peran guru berubah ke arah yang positif. Media pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam peningkatan kualitas pembelajaran. Hal tersebut di sebabkan karena adanya perkembangan teknologi dalam bidang pendidikan yang menuntun efesiensi dan efektivitas dalam pembelajaran. Untuk mencapai tingkat efesiensi dan efektivitas yang optimal, salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah mengurangi bahkan jika perlu menghilangkan dominasi sistem penyampaian pelajaran yang bersifat verbalistik dengan cara menggunakann media pembelajaran. Fungsi mendasar suatu media pembela jaran adalah sebagai penyampai materi pembelajaran dari sumber belajar ke pembelajar. Rusman (2012:162) menyebutkan rincian fungsi media pembelajaran, yaitu: (1) sebagai alat bantu yang mampu memperjelas, mempermudah, dan mempercepat penyampaian materi pembelajaran; (2) sebagai komponen dari sub sistem pembelajaran; (3) sebagai pengarah pembelajaran; (4) sebagai pembangkit motivasi dan perhatian; (5) meningkatkan hasil pembelajaran; (6)


HISAN 3 mengurangi terjadinya verbalisme; dan (7) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra. Peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian tujuan secara efektif dan efisien. Sehingga dapat dipahami bahwa media adalah alat baku yang dapat dijadikan sebagai acuan atau juga sebagai penyalur pesan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dari pendapat tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa: 1. Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut. 2. Materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar mengajar. 3. Kecermatan dan ketetapan dalam pemilihan media akan menunjang efektivitas kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. C. Video Pembelajaran Video sebenarnya berasal dari bahasa Latin, video-vidi-visum yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan); dapat melihat (K. Prent dkk., Kamus LatinIndonesia, 1969: 926). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 1119) mengartikan video dengan: 1) bagian yang memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi. Senada dengan itu, Peter Salim dalam The Contemporary English-Indonesian Dictionary (1996:2230) memaknainya dengan sesuatu yang berkenaan dengan penerimaan dan pemancaran gambar. Tidak jauh berbeda dengan dua definisi tersebut, Smaldino (2008: 374) mengartikannya dengan “the storage of visuals and their display on television-type screen” (penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi). Penggunaan video pembelajaran akan memberikan pengalaman baru. Menurut Munir (2012: 289), “Video adalah teknologi penangkapan, perekaman, pengolahan, dan penyimpanan, pemindahan, dan perekonstruksian urutan gambar diam dengan menyajikan adegan-adegan dalam gerak secara elektronik”. Video menyediakan sumberdaya yang kaya dan hidup bagi aplikasi multimedia.Video merupakan gambar


HISAN 4 yang bergerak. Jika objek pada animasi adalah buatan, maka objek pada video adalah nyata. Sementara itu menurut Arsyad dalam Rusman dkk (2011:218) Video merupakan serangkaian gambar gerak yang disertai suara yang membentuk suatu kesatuan yang dirangkai menjadi alur, dengan pesan-pesan di dalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita atau disk. Sedangkan menurut Sadiman (2008:74), video merupakan media audio visual yang menampilkan gerak. Dari pengertian yang telah dijabarkan di atas, dapat disimpulkan Video pembelajaran adalah suatu media yang dirancang secara sistematis dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku dan dalam pengembangannya mengaplikasikan prinsipprinsip pembelajaran sehingga program tersebut memungkinkan peserta didik mencemarti materi pelajaran secara lebih mudah dan menarik. D. UNSUR-UNSUR VIDEO PEMBELAJARAN Unsur-unsur video yang diperlukan dalam pembuatan media pembelajaran antara lain: a. Teks Teks terdiri dari unit-unit bahasa dalam penggunaannya. Unit-unit bahasa tersebut adalah merupakan unit gramatikal seperti klausa atau kalimat namun tidak pula didefenisikan berdasarkan ukuran panjang kalimatnya. Teks terkadang pula digambarkan sebagai sejenis kalimat yang super yaitu sebuah unit gramatikal yang lebih panjang dari pada sebuah kalimat yang saling berhubungan satu sama lain. b. Gambar (Image) Gambar dapat meringkas dan menyajikan data kompleks dengan cara yang baru dan lebih berguna. Sering dikatakan bahwa sebuah gambar mampu menyampaikan seribu kata tapi, itu hanya berlaku ketika kita bisa menampilkan gambar yang diinginkan saat kita memerlukannya. Gambar juga bisa berfungsi sebagai ikon, yang bila dipadu dengan teks, menunjukkan berbagai opsi yang bisa dipilih (select) atau gambar bisa muncul full-screen menggantikan teks, tapi tetap memiliki bagian-bagian tertentu yang berfungsi sebagai pemicu yang bila diklik akan menampilkan objek atau event multimedia lain (Suyanto,2003:261).


HISAN 5 c. Suara (Audio) Pengertian suara (audio) menurut Suyanto, 2003:273 adalah sesuatu yang disebabkan perubahan tekanan udara yang menjangkau gendang telinga manusia. Audio terdiri dari beberapa jenis yaitu Waveform Audio, Format DAT, Format MIDI, Audio CD, MP3 d. Animasi Pemakaian animasi dalam komputer telah dimulai dengan ditemukannya software komputer yang dapat digunakan dalam berbagai keperluan seperti melakukan ilustrasi di komputer, serta membuat perubahan antara gaambar satu ke gambar berikutnya sehingga dapat terbentuk satu gabungan yang utuh. E. Kelebihan Video Pembelajaran Ada banyak kelebihan video ketika digunakan sebagai media pembelajaran di antaranya menurut Nugent (2005) dalam Smaldino dkk. (2008: 310), video merupakan media yang cocok untuk pelbagai milliu pembelajaran, seperti kelas, kelompok kecil, bahkan satu siswa seorang diri sekalipun. Hal itu, tidak dapat dilepaskan dari kondisi para siswa saat ini yang tumbuh berkembang dalam dekapan budaya televisi, di mana paling tidak setiap 30 menit menayangkan program yang berbeda. Dari itu, video dengan durasi yang hanya beberapa menit mampu memberikan keluwesan lebih bagi guru dan dapat mengarahkan pembelajaran secara langsung pada kebutuhan siswa. Video juga bisa dimanfaatkan untuk hampir semua topik, tipe pebelajar, dan setiap ranah: kognitif, afektif, psikomotorik, dan interpersonal. Pada ranah kognitif, pebelajar bisa mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu dan rekaman aktual dari peristiwa terkini, karena unsur warna, suara dan gerak di sini mampu membuat karakter berasa lebih hidup. Selain itu menonton video, setelah atau sebelum membaca, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar. Pada ranah afektif, video dapat memperkuat siswa dalam merasakan unsur emosi dan penyikapan dari pembelajaran yang efektif. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari potensi emosional impact yang dimiliki oleh video, di mana ia mampu secara langsung membetot sisi penyikapan personal dan sosial siswa. Membuat mereka tertawa terbahakbahak (atau hanya tersenyum) karena gembira, atau sebaliknya menangis berurai air mata karena sedih. Dan lebih dari itu, menggiring mereka pada penyikapan seperti menolak ketidakadilan, atau sebaliknya pemihakan kepada yang tertindas.


HISAN 6 Pada ranah psikomotorik, video memiliki keunggulan dalam memperlihatkan bagaimana sesuatu bekerja. Misalnya dalam mendemonstrasikan bagaimana tata cara merangkai bunga, membuat origami pada anak-anak TK, atau memasak pada pelajaran tata boga dan lain sebagainya. Semua itu akan terasa lebih simpel, mendetail, dan bisa diulang-ulang. Video pembelajaran yang merekam kegiatan motorik siswa juga memberikan kesempatan pada mereka untuk mengamati dan mengevaluasi kerja praktikum mereka, baik secara pribadi maupun feedback dari teman-temannya. Sedangkan pada ranah meningkatkan kompetensi interpersonal, video memberikan kesempatan pada mereka untuk mendiskusikan apa yang telah mereka saksikan secara berjama’ah. Misalnya tentang resolusi konflik dan hubungan antar sesama, mereka bisa saling mengobservasi dan menganalisis sebelum menyaksikan tayangan video. Selain dari kelebihan di atas, Binus University (2019) menjelaskan bahwa yang menjadi kelebihan video bila digunakan saat belajar, antara lain: 1. Efektif dan Efisien Belajar menggunakan video lebih efektif dalam menjelaskan suatu informasi yang bersifat abstrak dalam waktu yang singkat. Semakin sedikit durasi dari video tersebut, maka pembelajaran dapat lebih bermakna, karena peserta justru bisa lebih mudah memahami dengan video yang singkat namun mencakup seluruh informasi, dibandingkan dengan video durasi panjang yang cenderung memmbosankan. Saat ini produksi video bisa dilakukan sendiri dengan biaya yang terjangkau, anda dapat menggunakan kamera bahkan ponsel anda sendiri serta hasilnya pun dapat digunakan berkali-kali. 2. Pengalaman Belajar yang Baru Belajar menggunakan video akan memberikan pengalaman belajar yang baru bagi peserta. Hal tersebut karena video dapat menghadirkan sentuhan hiburan saat belajar sehingga proses belajar tidak harus selalu menegangkan dan membosankan. Pengalaman baru akan lebih dirasakan lagi bila peserta tersebut disajikan video interaktif. Keterlibatan peserta akan sangat dibutuhkan saat video tersebut dijalankan, sehingga akan tertanam suatu pengalaman baru bagi peserta tersebut. 3. Mudah Dimengerti Video untuk belajar dibuat dengan gambar yang bersifat realistis, didukung dengan desain grafis dan minim teks sehingga memudahkan peserta memahami informasi


HISAN 7 yang disampaikan. Pelajar mengamati gambar yang diperlihatkan, mengasimilasi nilai pengetahuan dan menyerap keterampilan yang disajikan dengan lebih mudah. 4. Mendukung Pembelajaran Aktif Video interaktif memberikan kesempatan bagi pelajar untuk berperan aktif saat belajar. Video interaktif baru bisa berjalan apabila ada respon atau interaksi dari peserta yang menggunakannya. Tentunya dengan aktif memberikan pengalaman langsung yang tentunya akan diingat oleh peserta tersebut. F. Membuat Video Pembelajaran Jika ingin menggunakan media video untuk pembelajaran, akan lebih baik kalau anda dapat memproduksinya sendiri, karena sebagai pengajar, Andalah yang mengerti topik dan ranah kompetensi yang ingin dicapai, sehingga media video sesuai dengan yang diinginkan. Untuk membuat video yang dimanfaatkan dalam pembelajaran, tentunya berbeda dalam pembuatan video untuk keperluan pribadi. Banyak hal harus diperhatikan dalam pembuatan video pembelajaran. Salah satunya adalah aspek-aspek pengajaran (seperti yang dijelaskan Gagne, 1985) yaitu menarik perhatian, menyebutkan tujuan pembelajaran, menstimulasi penarikan kembali prasyarat pembelajaran, menyajikan materi, menyediakan bimbingan pembelajaran, memunculkan kinerja peserta didik, memberikan umpan balik, menilai kinerja, dan meningkatkan retensi dan transfer. Aspek yang dinilai penting dalam pembuatan video pembelajaran di antaranya adalah penyajian materi yang benar, teknik penyampaian yang tepat, dan produksi video dengan kualitas yang optimal. Selain itu durasi video juga mempengaruhi tingkat ketertarikan penonton (Kim, Guo, Seaton, Mitros, Gajos, & Miller, 2014), selain tentu saja aspek konten, bentuk media video, penggunaan warna, musik, ilustrasi, presenter, penggunaan bahasa, dan penugasan melalui video. Selain itu, jenis produksi video yang dibuat dapat dalam bentuk perekaman papan tulis, lapangan, slide, dan studio. Menurut Guo, Kim & Rubin (2014) jenis produksi perekaman lapangan, studio, dan papan tulis sangat efektif digunakan untuk menarik perhatian penonton karena penonton dapat melihat langsung pengajar pada video. Selanjutnya menurut Woolfitt (2015), agar video pembelajaran efektif, perlu memperhatikan beberapa kreteria, yaitu: pertama, video memiliki fungsi tertentu untuk meningkatkan pengalaman pembelajaran. Sehingga, perancang video perlu memperhatikan apa saja fitur yang terdapat dalam video. Kriteria keefektivan yang kedua


HISAN 8 adalah, video dianggap efektif jika dikaitkan dengan tujuan pembelajaran. Kriteria ketiga adalah terdapat efek pembelajaran yang bergantung pada individu (siswa). Sehingga diperlukan strategi untuk belajar secara efektif dan mandiri dari video. Sementara itu menurit Aspriyono (2019) tahapan-tahapan yang perlu dilakukan untuk memulai pembuatan konten video pembelejaran antara lain: 1. Persiapan dan Perencanaan Dalam tahap persiapan dan perencanaan ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu: a. Topik/Materi: untuk materi yang disampaikan dalam Video pembelajaran diusahakan dalam bentuk materi yang ringan (basic). b. Pecah/dibagi materi-materi yang ada menjadi silabus, Contoh konten video pembelajaran tentang Microsoft Excel, kalian bisa membagi menjadi beberapa bagian video dengan durasi yang tidak terlalu Panjang c. Menentukan Delivery Style, yaitu bagaimana cara menyampaikan materi tersebut. Ada beberapa cara menyampaikan materi menjadi sebuah video pembelajaran: 1) Screen Casting yaitu dengan cara merekam layar laptop atau pc, biasanya ini digunakan untuk membuat tutorial software, desain pemrograman komputer dan sebagainya. Cara ini cukup mudah, tinggal siapkan softwarenya, siapkan materinya, dan mulai merekam dengan mic yang bagus sehingga suara yang dihasilkan juga cukup baik. 2) Screen Casting dengan Pen Tables. Ini adalah screen casting yang ditambah dengan menulis di layar menggunakan pen tablet. Biasanya digunakan untuk menyampaikan materi yang berisi rumus-rumus seperti matematika. 3) Screen Casting ditambah Web Cam untuk menampilkan wajah anda di video pembelajaran yang anda buat. Cara ini juga cukup bagus karena audiens akan melihat wajah anda. 4) Free Recording dilakukan dengan merekam kegiatan secara langsung, biasanya untuk mengatasi konten video yang tidak bisa disampaikan dilayar, seperti video praktek kesehatan. 5) Top Recording. Cara ini dilakukan dengan cara menulis di kertas dan di rekam menggunakan kamera. Cara ini juga cukup unik, biasanya digunakan untuk video pembelajaran menggambar, atau bisa juga digunakan untuk belajar rumus-rumus matematika.


HISAN 9 e. Membuat Script atau Storyboard yang ditulis tangan atau bisa juga diketik dalam Microsoft Word atau aplikasi lain. Hal ini penting dilakukan supaya pada saat proses rekaman bisa lancar dan tidak kebanyakan mikir. 2. Kebutuhan Hardware Untuk kebutuhan hardware tentu disesuaikan dengan konten yang akan dibuat dan juga dana yang ada untuk menyediakan hardwarenya. Selain komputer atau laptop, persiapan mini studio untuk tempat rekaman adalah hal penting, dengan beberapa peralatan berikut: Microphone Condenser, Stand Mic, Mouse, Wacom Pen Tablet jika akan menulis di layar dan dibutuhkan kamera jika ingin membuat konten Free Recording atau Top Recording. 3. Kebutuhan Software Untuk jenis software ini disesuaikan dengan delivery style atau bagaimana kita akan menyampaikan materinya. Untuk Screen Casting bisa menggunakan Camtasia, CamStudio atau OBS. Untuk Camtasia sendiri sudah dilengkapi dengan software recorder dan Video Editor, sehingga software ini cukup mudah dan banyak digunakan oleh para pembuat video pembelajaran berbasis Screen Casting. Namun jika membutuhkan Video Editor yang lebih mumpuni, untuk mengedit video hasil rekaman kamera (Free Recording atau Top Recording) maha software yang lumayan ringan dan mudah digunakan ada Wondershare Filmora. Kalau mau yang lebih profesional lagi kalian bisa menggunakan Adobe Premiere. 4. Mulai Pembuatan (Praktik) Jika persiapan telah selesai, selanjutnya adalah praktik pembuatan video melalui beberapa aplikasi antara lain; 1) PowerPoint, 2) merekam layar dengan camtasia maupun. 5. Publish Konten Video Untuk publish konten video yang telah dibuat dilakukan di Youtube. Oleh karena itu anda harus membuat Channel di Youtube untuk dapat mengupload Video Pembelajaran yang telah dibuat tersebut.


HISAN 10 Daftar Pustaka . Aspriyono. 2019. Cara Mudah Membuat Konten Video Pembelajaran. Terdia pada: https://www.hariaspriyono.com/2019/09/cara-mudah-membuat-konten-videopembelajaran-youtube.html. Diakses pada: 20 Juni 2020 Binus. 2019. Mengenal Metode Belajar “Video Based Learning” tersedia pada: https://binus.ac.id/knowledge/2019/10/mengenal-metode-belajar-video-based-learning/ diakses 9 Juni 2020 Gagné, R. M. (1985). The Conditions of Learning. New York, NY: Holt, Rinehart and Winston. Kim, J., Guo, P. J., Seaton, D. T., Mitros, P., Gajos, K. Z., & Miller, R. C. (2014, March). Understanding in-video dropouts and interaction peaks inonline lecture videos. In Proceedings of the first ACM conference on Learning@ scale conference (pp. 31- 40). ACM. Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran, Sebuah Pendekatan Baru, Gaung Persada Press, Ciputat. Munadi, Yudhi. 2012. Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta. Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum (Seri Manajemen Sekolah Bermutu). Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Rusman. (2012). Belajar dan Pembelajaran Berbasis Komputer: Mengembangkan Profesionalisme Guru Abad 21. Bandung: Penerbit Alfabeta. Salim, Peter. 1996. The Contemporary English-Indonesian Distionary. Modern English Press. Jakarta. Setyosari, Punaji & Sihkabuden. 2005. Media Pembelajaran. Penerbit Elang Mas. Malang Smaldino, Sharon E, dkk. 2008. Instructional Technology and Media for Learning. Pearson Merrill Prentice Hall. Ohio. Syaiful Bahri Djamaran dan Aswan Zain, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2010), hlm.120. Tim Penyusun, 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta Trianto. (2009). Mendesain model pembelajaran inovativ-progresif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Waldopo Drs. M.Pd. “Teknik Menulis Naskah Untuk Program Audio Pembelajaran”, Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Komunikasi Pendidikan, Jakarta, 2006. Winataputra, U. S., et al. (2008). Teori belajar dan pembelajaran. Jakarta: Penerbit Universitas Terbuka.


Click to View FlipBook Version