JURNAL REFLEKSI JURNAL REFLEKSI Pembelajaran Sosial Emosional Modul 2.2 Dwimingguan
Yuliyanti, S.Pd CGP Angkatan 8 SMAN 1 Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang Yuliyanti, S.Pd CGP Angkatan 8 SMAN 1 Banjar Agung Kabupaten Tulang Bawang "Mengetahui tidak cukup, kita harus menerapkan. Kemauan saja tidak cukup, kita harus melakukan" (Bruce Lee) PROFIL
INTRODUCTION Jurnal refleksi merupakan tulisan tentang dialog atau pengalaman pada diri sendiri dalam memaknai sebuah momen. Jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi oleh seluruh Calon Guru Penggerak. Pada kesempatan ini, saya sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 8 akan menuliskan jurnal refleksi selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak terkait Modul 2.1 tentang PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI untuk mewujudkan Peserta didik yang merdeka, bahagia terpenuhinya kebutuhan murid. Saya menulis jurnal ini dengan menggunakan metode 4F. Jurnal refleksi merupakan tulisan tentang dialog atau pengalaman pada diri sendiri dalam memaknai sebuah momen. Jurnal refleksi dwi mingguan merupakan salah satu tugas yang harus dipenuhi oleh seluruh Calon Guru Penggerak. Pada kesempatan ini, saya sebagai Calon Guru Penggerak Angkatan 8 akan menuliskan jurnal refleksi selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak terkait Modul 2.1 tentang PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI untuk mewujudkan Peserta didik yang merdeka, bahagia terpenuhinya kebutuhan murid. Saya menulis jurnal ini dengan menggunakan metode 4F. APA ITU MODEL 4F ??? 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr.Roger Greenaway 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, yaitu : FACTS (Peristiwa), FEELINGS (Perasaan), FINDINGS (Pembelajaran) FUTURE (Penerapan). 4F merupakan model refleksi yang dikembangkan oleh Dr.Roger Greenaway 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P, yaitu : FACTS (Peristiwa), FEELINGS (Perasaan), FINDINGS (Pembelajaran) FUTURE (Penerapan). FACTS (Peristiwa) Pengalaman, hal baik apa saja, hambatan atau kesulitan serta solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut FACTS (Peristiwa) Pengalaman, hal baik apa saja, hambatan atau kesulitan serta solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut FEELINGS (Perasaan) Perasaan yang muncul saat pembelajaran dan apa saja yang dirasakan saat melakukan aksi nyata FEELINGS (Perasaan) Perasaan yang muncul saat pembelajaran dan apa saja yang dirasakan saat melakukan aksi nyata FINDINGS (Pembelajaran) Pelajaran dan hal baru yang didapatkan selama proses pembelajaran FINDINGS (Pembelajaran) Pelajaran dan hal baru yang didapatkan selama proses pembelajaran FUTURE (Penerapan) Penerapan / tindakan yang akan dilakukan setelah belajar dari suatu peristiwa FUTURE (Penerapan) Penerapan / tindakan yang akan dilakukan setelah belajar dari suatu peristiwa
FACTS (PERISTIWA) Dalam modul 2.2 ini saya mempelajari Pembelajaran Soaial Emosional (PSE) dengan kegiatan : Dalam modul 2.2 ini saya mempelajari Pembelajaran Soaial Emosional (PSE) dengan kegiatan : PEMAHAMAN Mulai dari diri Eksplorasi Konsep Ruang Kolaborasi Mulai dari diri Eksplorasi Konsep Ruang Kolaborasi Demonstrasi Kontekstual Elaborasi Koneksi Antar Materi Aksi Nyata Pendampingan Individu Lokakarya 3 Demonstrasi Kontekstual Elaborasi Koneksi Antar Materi Aksi Nyata Pendampingan Individu Lokakarya 3 Setelah mempelajari modul ini, saya memahami bahwa pembelajaran sosial emosional (PSE) adalah pembelajaran ynag dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Setelah mempelajari modul ini, saya memahami bahwa pembelajaran sosial emosional (PSE) adalah pembelajaran ynag dilaksanakan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. HAL BARU YANG SAYA TAHU TENTANG DIRI SAYA Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Melaksanakan proses pembelajaran yang sebelumnya tanpa memperhatikan kompetensi sosial emosional murid membuat proses pembelajaran tidak memerhatikan keadaaan dan kecedasan sosial emosional murid. Melaksanakan proses pembelajaran yang sebelumnya tanpa memperhatikan kompetensi sosial emosional murid membuat proses pembelajaran tidak memerhatikan keadaaan dan kecedasan sosial emosional murid.
FEELINGS (PERASAAN) Saya sangat tertarik dengan materi pada modul ini yakni Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) karena saya akan banyak membutuhkan praktek pengelolaan kelas terhadap sosial emosional murid dalam proses pembelajaran baik untuk diri sendiri maupun murid untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga selain dapat menciptakan kompetensi akademik juga kesejahteraan psikologis (well-being). Saya sangat tertarik dengan materi pada modul ini yakni Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) karena saya akan banyak membutuhkan praktek pengelolaan kelas terhadap sosial emosional murid dalam proses pembelajaran baik untuk diri sendiri maupun murid untuk menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan menyenangkan sehingga selain dapat menciptakan kompetensi akademik juga kesejahteraan psikologis (well-being). FINDINGS (PEMBELAJARAN) Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan pembelajaran kolaboratif seluruh komunitas sekolah untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan pembelajaran kolaboratif seluruh komunitas sekolah untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional. Memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri) Menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri) Merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial) Membangun dan mempertahankan hubungan ynag positif (keterampilan relasi) Membuat keputusan yang bertanggung jawab (Pengambilan keputusan yang betanggung jawab) PSE memiliki 5 kompetensi sosial emosional yang bertujuan untuk : 1. 2. 3. 4. 5. Memahami, menghayati dan mengelola emosi (kesadaran diri) Menetapkan dan mencapai tujuan positif (manajemen diri) Merasakan dan menunjukan empati kepada orang lain (kesadaran sosial) Membangun dan mempertahankan hubungan ynag positif (keterampilan relasi) Membuat keputusan yang bertanggung jawab (Pengambilan keputusan yang betanggung jawab) PSE memiliki 5 kompetensi sosial emosional yang bertujuan untuk : 1. 2. 3. 4. 5. PSE dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan penuh (mindfulness) untuk mewujudkan kesejahteraan psikologis (well-being) yang di adaptasi dari piramida K-For-Katanese (dalam Hawkins 2017) sebagai dasar penguatan Kompetensi Sosial Emosional. PSE dapat dikembangkan dengan menggunakan pendekatan penuh (mindfulness) untuk mewujudkan kesejahteraan psikologis (well-being) yang di adaptasi dari piramida K-For-Katanese (dalam Hawkins 2017) sebagai dasar penguatan Kompetensi Sosial Emosional.
Pengajaran Eksplisit Integrasi dalam praktik mengajar dan kurikulum akademik Penciptaan Iklim kelas dan budaya sekolah Penguatan KSE pada pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan di sekolah dapat diberikan melalui 4 indikator, yakni : 1. 2. 3. 4. Pengajaran Eksplisit Integrasi dalam praktik mengajar dan kurikulum akademik Penciptaan Iklim kelas dan budaya sekolah Penguatan KSE pada pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah. Implementasi pembelajaran sosial emosional di kelas dan di sekolah dapat diberikan melalui 4 indikator, yakni : 1. 2. 3. 4.
FUTURE (PENERAPAN) Menerapkan KSE dimulai dari sendiri kemudian murid baik dalam kehidupan sehari - hari, kegiatan proses pembelajaran dikelas maupun dalam lingkungan sekolah. Selain itu, berbagi praktik baik dan berkolaborasi dengan rekan sejawat. Menerapkan teknik STOP pada kegiatan pembelajaran yang merupakan teknik menyadari dn melatih pengaturan nafas yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan tanpa penggunaan alat. Setelah mempelajari modul ini, saya akan : Menerapkan KSE dimulai dari sendiri kemudian murid baik dalam kehidupan sehari - hari, kegiatan proses pembelajaran dikelas maupun dalam lingkungan sekolah. Selain itu, berbagi praktik baik dan berkolaborasi dengan rekan sejawat. Menerapkan teknik STOP pada kegiatan pembelajaran yang merupakan teknik menyadari dn melatih pengaturan nafas yang dapat dilakukan kapan saja, dimana saja dan tanpa penggunaan alat. Setelah mempelajari modul ini, saya akan : Salam Sehat dan Bahagia Terima Kasih
Created by Youlz