The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by mutinisetiawati, 2022-10-01 01:24:37

STOP BULLYING, MATERI LAYANAN BK

STOP BULLYING, MATERI LAYANAN BK

STOP BULLYING

MATERI LAYANAN BIMIBINGAN DAN KONSELING
KELAS VII

Disusun Oleh:
Sri Ichwani Widiyati

Dinas Pendidikan
SMP Negeri 2 Pakem

2022

STOP BULLYING
Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada
pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang
umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan
psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl) berupa stress (yang
muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah
makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Apalagi Bully
biasanya berlangsung dalam waktu yang lama (tahunan) sehingga sangat mungkin
mempengaruhi korban secara psikis. Sebenarnya selain perasaan-perasaan di atas,
seorang korban Bully juga merasa marah dan kesal dengan kejadian yang menimpa
mereka. Ada juga perasaan marah, malu dan kecewa pada diri sendiri karena
“membiarkan” kejadian tersebut mereka alami. Namun mereka tak kuasa
“menyelesaikan” hal tersebut, termasuk tidak berani untuk melaporkan pelaku pada
orang dewasa karena takut dicap penakut, tukang ngadu, atau bahkan disalahkan.

Sumber :News.detik.com

A. LATAR BELAKANG TERJADINYA BULLYING
1. Bullying yang terjadi di sekolah merupakan bentuk kekerasan yang berupa
penindasan yang dilakukan terhadap teman sebaya yang dianggap lemah.
2. Kejadian bullying di dunia terjadi setiap tujuh menit sekali.
3. Mayoritas tindakan bullying terjadi di dalam dan di sekitar sekolah.
4. Luka emosional akibat bullying dapat bertahan sepanjang waktu.
5. Anak yang menjadi korban bullying terkadang memilih bunuh diri sebagai
satu-satunya jalan keluar.

6. Anak yang diberi label sebagai pelaku bullying memerlukan dukungan lebih
dari orang dewasa, agen pemerintah, lembaga rehabilitasi, dan pelayanan
kesehatan mental.

7. Anak yang teridentifikasi sebagai pelaku bullying tercatat 24.60 % sebagai
pelaku kriminal di masa dewasanya.

8. Unicef mencatat lebih dari 50% anak sekolah menjadi korban bullying

B. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA BULLYING DI SEKOLAH
1. Faktor Psikologis
Hiperaktif, konsentrasi terhadap masalah, agresivitas,inisiasi awal perilaku
kekerasan, bentuk perilaku antisosiallain.
2. Faktor keluarga
Kriminalitas parental, penganiayaan terhadap anak, praktek manajemen
keluarga yang kurang baik, keterlibatan parental yang kurang, perpisahan
anak dan orang tua.
3. Faktor sekolah
Kegagalan akademik, komitmen yang rendah terhadap sekolah, bolos, drop
out.
4. Faktor teman sebaya
Kelompok sebaya yang terlibat kenakalan remaja,gangster.
5. Faktor masyarakat dan lingkungan tetangga
Kemiskinan, lingkungan yang sarat kriminalitas.
6. Kekerasan di media
Tayangan televisi yang menampilkan adegan kekerasan, film action dengan
perkelahian, acara berita kriminal.

C. CIRI-CIRI BULLYING

Bullying yang banyak dilakukan di sekolah umumnya mempunyai tiga
karakteristik sebagai berikut:

1. Ada perilaku agresi yang menyenangkan pelaku untuk menyakiti korbannya.
2. Tindakan itu dilakukan secara tidak seimbang sehingga menimbulkan

perasaan tertekan pada korban.
3. Perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang.

D. CIRI-CIRI PELAKU BULLYING
1. Cenderung hiperaktif, irnpulsif, overaktif, dan distruptive.
2. Memiliki temperamen yang sulit dikendalikan dan masalah pada atensi/
konsentrasi.
3. Pada umumnya juga agresif terhadap guru, orang tua, saudara, dan orang
lain.
4. Gampang terprovokasi oleh situasi yang mengundang agresi.
5. Memiliki pemikiran bahwa agresi adalah sesuatu yang positif.
6. Pada anak laki-laki, cenderung memiliki fisik yang lebih kuat daripada teman
sebayanya.
7. Pada anak perempuan, cenderung memiliki fisik yang lebih lemah daripada
teman sebayanya.
8. Anak yang mengalami masalah dalam keluarga sehingga ingin mendapat
pengakuan di luar rumah.
9. Anak yang terlalu dimanja oleh orang tuanya.
10. Berteman dengan anak-anak yang juga memiliki kecenderungan agresif.
11. Kurang memiliki empati terhadap korbannya dan tidak menunjukkan
penyesalan atas perbuataannya.
12. Biasanya adalah anak yang paling insecure, tidak disukai oleh teman-
temannya, dan paling buruk prestasinya disekolah hingga sering terancarn
drop out.
13. Cenderung sulit menyesuaikan diri terhadap berbagai perubahan dalam
hidup.
14. Keinginan untuk mendominasi teman sebaya.
15. Keinginan untuk menang dan memegang kendali.

E. CIRI-CIRI KORBAN BULLYING

Sumber :lustrasi bullying. Tempo/Indra Fauzi

Anak yang seringkali meniadi korban bullying biasanya mengarah pada
kondisi anak yang lain dari yang lain baik secara fisik maupun non fisik yaitu:
1. Anak yang cenderung sulit bersosialisasi yang sering disebut dengan

"culun".
2. Anak yang fisiknya berbeda dengan yan lain (terlalu kurus, terlalu gemuk,

dan mempunyai ciri fisik yang menonjol misalnya kupingnya caplang,
berbibir tebal, dll).
3. Anak yang cenderung berbeda dengan yang lain misalnya berasal dari
keluarga yang sangat kaya, sangat sukses, sangat miskin, sangat terpuruk,
dll

F. BENTUK-BENTUK BULLYING
1. Kontak fisik langsung
Meminta dengan paksa apa yang bukan miliknya, memukul, menampar,
mendorong, menggigit, menarik rambut, menendang, mengunci
seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar,juga termasuk memeras
dan merusak barang-barang yang dimiliki orang lain, pelecehan seksual
atau segala bentuk kekerasan yangmenggunakan fisik.
2. Kontak verbal langsung
Mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi
panggilan nama (name-calling), sarkasme,merendahkan (put-downs),
mencela/ mengejek, mengintimidasi memaki, menyebarkan gosip, fitnah
atau penggunaan kata yang tidak baik untuk menyakiti orang lain,

menghina, menyindir, meneriaki dengan kasar, memanggil dengan
julukan, kecacatan dan ketidakmampuan, dll
3. Perilaku non-verbal langsung
Melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka
yang merendahkan, mengejek, atau mengancam; biasanya disertai oleh
bullying fisik atau verbal.
4. Perilaku non-verbal tidak langsung
Mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan sehingga menjadi
retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan,mengirimkan surat kaleng.
5. Cyber Bullying
Segala bentuk tindakan yang dapat menyakiti orang lain dengan sarana
media elektronik (rekaman video intimidasi, pencemaran nama baik lewat
media sosial, dll

G. LOKASI BULLYING
1. Terjadi pada situasi dimana pengawasan yang kurang dari orang dewasa,
seperti di kamar mandi sekolah, jalan masuk kelas, tempat bermain.
2. Lebih sering terjadi di tempat bermain daripada di kelas.
3. Tempat bermain yang biasanya tidak diawasi oleh guru atau orang
dewasa, juga sulit dideteksi karena tingginya aktivitas bermain anak anak
di lapangan dan sering dikira sebagai salah satu bentuk permainan anak

H. DAMPAK BULLYING
1. Pada Korban Bullying
Bullying berakibat negatif pada korbannya. Dalam bentuk-bentuk sebagai
berikut :
a. Mengalami kesakitan fisik dan psikologis;
b. Kepercayaan diri yang merosot;
c. Malu;
d. Trauma;
e. Merasa sendiri;
f. Serba salah;
g. Takut sekolah (school phobia);
h. Korban mengasingkan diri dari sekolah;

i. Menderita ketakutan sosial;
j. Mempunyai kecenderungan ingin bunuh diri

2. Pada Saksi Bullying
a. Mengalami perasaan yang tidak menyenangkan dan mengalami
tekanan psikologis yang berat.
b. Merasa terancam dan ketakutan akan menjadi korban selanjutnya.
c. Dapat mengalami penurunan prestasi di kelas karena perhatian masih
terfokus pada bagaimana menghindari menjadi target bullying dari
pada tugas akademik.

3. Pada Pelaku Bullying
Bullying juga berdampak negatif pada pelaku, yaitu sebagai berikut:
a. Pelaku bullying akan belajar bahwa tidak ada resiko apapun bagi
mereka bila mereka melakukan kekerasan, agresi maupun
mengancam anak lain.
b. Ketika dewasa, pelaku memiliki potensi lebih besar untuk menjadi
pelaku kriminal dan akan bermasalah dalam fungsi sosialnya

I. PENCEGAHAN BULLYING
1. Membuat kebijakan anti Bullying.
2. Penataan lingkungan keluarga dan sekolah.
3. Penataan kurikulum sekolah.
4. Pembentukan kelompok kreativitas anak.
5. Tidak melestarikan tradisi yang mendukung bullying.
6. Jangan menganggap remeh kasus bullying.
7. Ajari anak untuk melindungi dirinya.
8. Membina hubungan baik antara guru dan orangtua murid.
9. Memperbanyak melakukan kegiatan bersama-sama untuk seluruh anak.

J. APA YANG HARUS DILAKUKAN
1. Korban
a. Tetap percaya diri dan hadapi tindakan bullying dengan berani.

b. Simpan semua bukti bullying untuk menjadi bahan laporan kepada
orang terdekat, guru, orang tua, ataupun langsung kepada polisi
(khususnya cyber crime).

c. Berbicara dan laporkan jika dirasakan bully yang dilakukan sudah
keterlaluan dan tidak dapat ditoler;ir lagi.

d. Berbaurlah dengan teman-teman yang membuat percaya diri dan
berpikir positif.

e. Tetap berpikir positif, bahwa tidak ada yang salah dengan diri kita,
selama kita tidak merugikan orang lain.

f. Tetaplah jadi diri sendiri dan lawan rasa takut dengan percaya diri.

2. Saksi
a. Jangan diam.
b. Cobalah untuk melerai dan mendamaikan.
c. Dukunglah korban bullying agar dapat mengembalikan kepercayaan
dirinya dan bertindak positif.
d. Bicaralah dengan orang terdekat pelaku agar turut mengingatkan
pelaku untuk tidak melakukan bullying.
e. Laporkan kepada pihak yang menjadi penegak hukum di lingkungan
sekolah seperti
Kepala Sekolah dan guru.
f. Laporkan melalui akun media sosial yang berwenang untuk bullying
yang terjadi melalui dunia maya.


Click to View FlipBook Version