BESARAN DAN SATUAN SMA KELAS X
Definisi : Aturan penulisan hasil pengukuran dalam notasi ilmiah
Besaran pokok : besaran yang satuannya telah ditetapkan 1. Pindahkan angka desimal sampai hanya tersisa satu
tanpa bergantung satuan besaran lain angka
Mengukur : membandingkan sesuatu dengan sesuatu lain 2. Jika koma dipindahkan ke kiri n (+) dan ke kanan n (-)
3. Nilai n sama dengan banyaknya angka yang dilewati
yang sejenis yang ditetapkan sebagai satuan
Besaran : sesuatu yang dapat diukur dan dinyatakan dalam oleh koma desimal
angka 4. Aturan angka penting
satuan : sesuatu yang dapat digunakan sebagai
1. Semua angka bukan Nol adalah AP
pembanding dalam pengukuran
Kesalahan paralaks : kesalahan membaca alat ukur karena Contoh : 245,41 (5 AP )
kedudukan mata pengamat tidak tepat ( ḻ ) 2. Angka Nol yang terletak di antara angka bukan Nol
Notasi ilmiah : menyingkat penulisan bilangan penting
Manfaat penulisan Notasi ilmiah : adalah AP
- Mudah menyatakan banyaknya angka penting Contoh : 0,101 (3 AP)
- Mudah menyatak besaran yang diukur
- Mudah melaksanakan perhitungan aljabar 3. Angka Nol di kiri dan di kanan koma desimal bukan
Dimensi : untuk menunjukkan cara suatu besaran tertentu
tersusun dari besaran-besaran pokok atau untuk AP
membuktikan kebenaran suatu rumus
Contoh : 0,000120 (3 AP)
1. PENGUKURAN
Jangka Sorong 4. Angka Nol pada deretan akhir bilangan angka yang
Jangka sorong bukan Nol termasuk AP kecuali jika diberi tanda
= +
100 khusus, dalam hal ini AP berakhir pada angka tersebut.
Ketelitian : 0,01 cm Contoh : 0,0700 (3 AP)
245,410 (4 AP)
5. Hasil penjumlahan atau pengurangan bilangan penting
hanya memiliki satu angka yang ditaksir (tidak
bergantung pada jumlah angka penting paling sedikit)
Contoh : 54700 (3 AP)
9540 + (4 AP)
64240 (3 AP)
6. Hasil pembagian atau perkalian memiliki angka penting
sebanyak angka penting paling sedikit
Contoh : 0,2345 (4 AP)
a : skala utama, b : skala nonius 2,1 x (2 AP)
Mikrometer Skrup
0,50 (2 AP)
7. Hasil pembagian atau perkalian antara bilangan penting
dan bilangan eksak, memiliki angka penting sebanyak
Mikrometer Skrup angka pentingnya
Contoh : 20 x 22,2 (3 AP) = 44,4 (3 AP)
= +
100 Contoh : (1,5)3 = 3,373 (2 AP)
Ketelitian : 0,01 mm 8. Hasil kuadrat atau akar akar suatu bilangan hanya boleh
memiliki AP sebanyak AP yang dipangkatkan atau
a : skala utama, b : skala nonius ditarik akarnya
Contoh : √625 = 25,0 (3 AP)
2. PENGUKURAN BERULANG 5. BESARAN, SATUAN DAN DIMENSI
Rata-rata
̅= ̅1 + ̅2 + ̅3 … Besaran Pokok Satuan Dimensi
panjang Meter (m) [L]
Masssa Kilogram (kg) [M]
Simpangan Baku Waktu [T]
Kuat arus listrik Sekon (s) [I]
= 1 √ ∑ ̅ 2 − (∑ ̅ )2 Suhu Ampere (A) [θ]
− 1 Jumlah zat Kelvin (K) [N]
Intensitas cahaya Mole (Mol)
Ketidakpastian Relatif Candela (Cd) [J]
= ∆ ̅ 100%
̅ 6. FAKTOR KONVERSI
3. NOTASI ILMIAH 2. MMuuddaahhApmmiWkeoelnAakyLasAatanNkaannkaoSnrIdMpeeprbBheOistauLrnagnaynFaanR1lgjA0adb-K1ia2uSrkIur CONTOH
Tujuan penulisan ilmiah : untuk menyingkat 3.
penulisan
nano n 10-9
… . 10
mikro µ 10-6
Dengan 1 < a <10 : bilangan penting, n :
Bilangan bulat dan mili m 10-3
10n adalah Orde
tera T 1012
Manfaat penulisan ilmiah
1. Mudah menyatakan banyaknya angka giga G 109
penting mega M 106
kilo k 103
hekto h 102
deka da 101
VEKTOR SMA KELAS X
Definisi 6. Vektor Satuan (Skala)
Besaran vektor : besaran yang memiliki besar dan arah
Lambang vektor : ditulis huruf tebal atau ditulis anak panah Vektor X Y
di atas lambangnya A 4 3
Menggambar vektor : sebuah anak panah, dimana panjang B -3 2
panah “besar vektor” dan arah anak panah “arah vektor” C 0 -2
Σx Σy
Contoh penulisan vektor =
= √ +
B 7. Metode Analisis
A 300
A. RESULTAN VEKTOR y Vektor X Y
1. Vektor searah “ Penjumlahan ” B
A A cos 600 A sin 600
A R 30º 60º xB B cos 300 B sin 300
Σx Σy
+=
B
R=A+B = √ 2 + 2 tan =
2. Vektor berlawanan “ Pengurangan ”
A
R B. PERKALIAN VEKTOR
+= 1. Dot (●)
B ● = + +
R = B-A Sudut antara vektor A dan B
* Vektor A diputar 1800 ●
3. Metode Poligon / Grafis =
| || |
A+ B+ C = R
C 2. Cross (x)
BA Cara “Sarrus”
R=A+B+C
4. Metode jajargenjang = | |
R
= ( − ) + ( − )
+ ( − )
Besar vektor
A | | = √ + +
θα Sudut antara vektor A dan B
| |
B
=
= √ + + . | || |
-
5. Komponen Vektor Sumbu-x
y = cos
Ay
Sumbu-y
A
= sin
θx
Ax tan =
BESARAN DAN SATUAN SMA KELAS X
KONSEP b. Grafik jarak terhadap waktu (s-t)
Gerak : benda dikatakan bergerak jika posisi/
Jarak total :
kedudukannya berubah terhadap suatu acuan
Posisi : letak / kedudukan suatu benda terhadap titik acuan 1 2
= 0+ 0+ 2
tertentu = 2 − 02
Jarak : panjang lintasan yang dilalui suatu benda (skalar) Atau
Perpindahan : mengalami perubahan posisi (vektor) 2
Kelajuan : panjang lintasan yang dilalui benda selama
2. Aplikasi (Kasus)
waktu tertentu
1. Berpapasan (saling bertemu) Mendahului (saling mengejar)
Kecepatan : besar perpindahan yang alami benda selama
v1 v2 v1 v2
waktu tertentu
Percepatan : mengalami perubahan kecepatan s1 s2 s02 s2
Syarat : = +
A. GERAK LURUS PADA LINTASAN HORIZONTAL Syarat : = +
1. Posisi
Perhatikan garis bilangan berikut.
B. GERAK LURUS PADAPLeIrNceTpAatSaAnN : =VE RTIKAL
Posisi atau letak titik a = -5, b = -4,… k = 5; dst. v1. Gerak Vertikal ke bawah (KGeLtiBngBg-idainpercepat1) 2
= + 2
2. Panjang lintasan 0 Kecepatan saat di tanah
Misalkan : mula-mula benda berada di titik a bergerak
menuju titik h kemudian berbalik menuju titik c. = √ 2 0+ 2
= | + | y
(Catt : x = Jarak total yang ditempuh benda ) vt
Percepatan :
3. Perpindahan = −
Misalkan : mula-mula benda berada di titik a bergerak
menuju titik h kemudian berbalik menuju titik c. 2. Gerak vertikal ke atas (GLKBeBtin-dgigpiearnlasmaabtat)
1 2
= − 2
∆ = −
Ketinggian maksimum
(Catt : ∆x = posisi awal – posisi akhir) = +
1
Kelajuan : = 2
= + − 2
4. Gerak lurus beraturan (GLB) (Kse-tc)epatan : ∆
a. Grafik jarak terhadap waktu
= tan = ∆
Percepatan :
3. Aplikasi =
1. Menentukan gedKuentginggian 1
ketinggian
= 2
2
b. Grafik kecepatan terhadap waktu (v-t) Kecepatan saat di tanah
= √2
Jarak total : Ketinggian y1 saat t1
S = luas grafik
S=vt
5. aG.eGrarkafliukrkuescbeeprautbaanhtebrehraadtuarpanw(aAPGkettLarucuBe(Bvp --a tdt)=iapntea:rnce p at) 1 2
2. Dua benda bertumbukan di a1t=as ta n + a1h1 2 1
Ketinggian y2 saat t2
= − 0 1 2
2 − 1 2= − 2 2 2 2
Ketinggian total
= 1 + 2
ALAT ALAT OPTIK SMA Kelas X
1. Mata Persamaan umum = + ′
Bagian-bagian mata = + ′
- Kornea: berfungsi menerima dan meneruskan cahaya yang
masuk pada mata, serta melindungi bagian mata yang sensitif Perbesaran Panjang Mikroskop
di bawahnya. = ′ +
- Pupil: berfungsi agar cahaya dapat masuk ke dalam mata. = ( ) ′ ( + 1)
- Iris: berfungsi mengatur besar kecilnya pupil.
- Aquaeus Humour: berfungsi membiaskan cahaya ke dalam
mata.
- Otot Akomodasi: otot yang menempel pada lensa mata dan - Mata tak berkomodasi
berfungsi untuk mengatur tebal - tipisnya lensa mata.
- Lensa Mata: berfungsi membiaskan cahaya dari benda sobS’ob S’ok = ~ fok
supaya terbentuk bayangan pada retina. fob
- Retina: berfungsi sebagai tempat terbentuknya bayangan. Sok
- Vitreous Humour: berfungsi untuk meneruskan cahaya dari d
lensa ke retina.
- Bintik Kuning: berfungsi sebagai tempat terbentuknya Persamaan umum 111
bayangan yang jelas. 11 1 = + ′
- Bintik Buta: bagian dari retina yang apabila bayangan jatuh = + ′
pada bagian ini, maka bayangan tampak tidak jelas atau
kabur.
- Saraf Mata: befungsi untuk meneruskan rangsangan
bayangan dari retina menuju ke otak
Daya akomodasi mata
- Mata berakomodasi
Persamaan umum Perbes a ra=n ( ) ′ ( ) P=an j′a n g+Mi k r o skop
111
= + ′
Daya akomodasi
100 100 4. Teropong
= − - Mata berakomodasi
- Mata tak berakomodasi Sob = ~ S’ob d
Sok
Persamaan umum fob
111 fok
= + ′
Daya akomodasi
= − 100 S’ok = -sn
2. Lup Persamaan umum
- Mata berakomodasi
Persamaan umum 1 = 1 + 1 1 = 1 + 1
s<f ′ ′
ff 111 Perbesaran Panjang Mikroskop
= + ′ = +
Perbesaran
= =
+ 1
- Mata tak berkomodasi
- Mata tak berkomodasi Persam1aan u1mum1 Sob = ~ S’ob d
fob Sok
s=f = + ′ fok
f Perbesaran
=
S’ok = ~
3. Mikroskop Persamaan umum 111
- Mata berakomodasi 11 1 = + ′
= + ′
S’ok = -sn Perbesaran Panjang Mikroskop
= +
sob S’ob Sok =
fob d
fok
DINAMIKA ROTASI & KESEIMBANGAN BENDA TEGAR SMA KELAS XI
KONSEP DINAMIKA ROTASI KONSEP KESEIMBANGAN BENDA TEGAR
A. Torsi ( ) atau Momen Gaya ( Torque = memutar ) A. Keseimbangan statis T2 Dua cara :
Torsi : ukuran kecenderungan suatu gaya untuk memutar suatu
benda tegar terhadap suatu titik poros tertentu. T1
F ᵝ ᵞα 1. Analisis vektor
r 2. Aturan sinus
Syarat : T3 si n 1 = 2 = 3
F tegak lurus r sin sin
=
B. Titik berat benda
Arah torsi ( Vektor )
(+) : Berlawanan jarum jam
( ̶ ) : Searah jarum jam
B. Momen Inersia (I) benda titik 0 = 1 1 + 2 2
Momen Inersia : kemampuan benda untuk mempertahankan 1 + 2
kecepatan sudut rotasinya
0 = 1 1 + 2 2
1 + 2
W1 W2
Syarat :
rm r tegak lurus Poros C. Titik berat benda berbentuk garis
= ∫
= y +
Selalu (+) : Besaran skalar l2
0 = 11 22
l1
C. Ma. omDeniuIjnuenrgsia Batang = 1 + 2
Poros
L x 0 = 1 1 + 2 2
1 + 2
D. Titik berat benda berbentuk luas
b. Ditengah A2 0 = 1 1 + 2 2
= A1 1 + 2
Poros = 1 1 + 2 2
M
L
0 1 + 2
c. Sumbu sejajar = + E. Titik berat benda berbentuk luas 0 = 1 1 + 2 2
Poros Ipm 1 + 2
M = y
L = 0 = 1 1 + 2 2
d x 1 + 2
D. Hukum II Newton tentang Rotasi F. Jenis – jenis kesetimbangan
α a. Stabil : kedudukan titik beratnya naik jika diberi gaya
RF
E. Hubungan antara gerak translasi dan Rotasi
BESARAN TRANSLASI ROTASI HUBUNGAN
Jarak =
Kecepatan s θ = b. Labil : kedudukan titik beratnya turun jika diberi gaya
Percepatan = ∆ = c. Netral ( indeferen): tidak terjadi kenaikan atau penurunan
Kelembaman = ∆ = 2 titik berat jika diberi gaya
Gaya = .
Energi ∆ ∆ =
Daya = ∆ = ∆
Momentum -
m I -
= = á
1 1
= 2 = 2
2 2
= = ù
= =
F. Momentum sudut (L) Momentum sudut
=
L
Kekakalan momentum sudut
ω =
ELASTISITAS b. Paralel (sejajar)
A. Definisi
Elastisitas adalah kemampuan suatu benda untuk
kembali ke bentuk awalnya segera setelah gaya luar
yang diberikan kepada benda itu dihilangkan.
Karakteristik suatu bahan / benda
1. Gaya
= 1 + 2 + 3
2. Konstanta
= 1 + 2 + 3
3. Perubahan panjang
∆ = ∆ 1 = ∆ 2 = ∆ 3
B. Modulus Elastisitas F. Energi potensial Pegas 1
1
1. Tega n gan
= = 2 . ∆ = 2 . 2
G. Periode Pegas
2. Regangan
= 2 √
∆
= Latihan
3. Modulus Elastis
= =
. ∆
C. Hukum Hooke (pegas)
“Jika gaya tidak melampauhi batas elastis pegas,
pertambahan panjang pegas sebanding dengan gaya
tariknya “
= ∆
D. Hubungan Modulus elastis dengan Hukum
Hooke
=
adalah : merupakan rumus umum tetapan gaya
E. Susunan pegas
a. Seri (bersambung)
1. Gaya
= 1 = 2 = 3
2. Konstanta
1111
= 1 + 2 + 3
3. Perubahan panjang
∆ = ∆ 1 + ∆ 2 + ∆ 3
GELOMBANG MEKANIK
1. 5. Persamaan umum gelombang berjalan
Gelombang mekanik adalah gelombang yang a. simpangan : = sin ( − )
perambatanya memerlukan medium. Contoh
gelombang bunyi b. kecepatan : = = ω cos ( − )
Bunyi dihasilkan dari benda yang bergetar dan
termasuk gelombang longitudinal
Klasifikasi bunyi c. percepatan : = = − 2 sin ( − )
d. kecepatan sudut : = 2 = 2
e. Bilangan gelombang : =
f. sudut fase : = − = 2 ( − )
g. fase : = = −
2
frekuensi : tinggi rendah nada (pitch) 6. Superposisi gelombang
Amplitudo : kuat lemah nada (loudness) a. ujung terikat
1 = sin ( − )
2. Mengukur kecepatan rambat bunyi 2 = sin ( + )
1. kecepatan bunyi di udara = 1 + 2 = 2 sin cos
= 2 sin
b. ujung bebas
= . = 1 = sin ( − )
2 = − sin ( + )
= 1 + 2 = 2 cos sin
= 2 cos
v = 330 m/s ≈ 340 m/s catatan : x diukur dari ujung bebas
2. kecepatan bunyi dalam medium
7. Gelombang stasioner pada gelombang bunyi
zat padat zat cair zat gas
Nada dasar (harmonik I)
= √ = √ = √
3. Sifat Geombang Bunyi dinding
a. pemantulan =
v Nada atas I
pantul
x
b. pembiasan Nada atas II =
c. difraksi =
d. interferensi
4. Efek Doppler
( + ) angin ( - )
pendengar sumber a. Pipa organa terbuka
Vp (+) Vs (+) Nada dasar
Vp (-) Vs (-) Nada atas I
fp : d i t e =rim a ±p± e n g ± a±m a t ( Hz)
frek fs : frekuensi sumber (Hz) =
uens vp : kecepatan pendengar (m/s)
i vs : kecepatan sumber (m/s) =
yang va : kecepatan angin (m/s)