The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Suku Simalungun adalah kelompok etnis Batak yang mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya di Sumatera Utara. Simalungun memiliki sejarah panjang yang diwarnai oleh kerajaan-kerajaan dan interaksi dengan suku Batak lainnya. Suku ini diyakini berasal dari wilayah India Selatan dan India Timur, yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke-5 Masehi. Mereka kemudian menetap di sekitar Danau Toba dan melahirkan marga Damanik sebagai marga asli Simalungun. Selanjutnya, marga Saragih, Sinaga, dan Purba datang dan menyatu, membentuk empat marga besar yang dikenal dengan singkatan SISADAPUR.
Nama "Simalungun" berasal dari bahasa Karo, "Simelungen," yang berarti "daerah sepi" atau "sunyi". Hal ini menggambarkan kondisi wilayah Simalungun pada masa lalu di mana masyarakatnya hidup berjauhan. Sejarah Simalungun mencatat adanya kerajaan-kerajaan seperti Siantar, Panei, Dolog Silou, dan Tanoh Jawa, serta wilayah partuanan seperti Raya, Purba, dan Silimakuta. Kerajaan-kerajaan ini memiliki sistem politik swaparaja sebelum kedatangan Belanda.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ameliaputri061019, 2025-03-03 11:34:56

e-book etnis simalungun

Suku Simalungun adalah kelompok etnis Batak yang mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya di Sumatera Utara. Simalungun memiliki sejarah panjang yang diwarnai oleh kerajaan-kerajaan dan interaksi dengan suku Batak lainnya. Suku ini diyakini berasal dari wilayah India Selatan dan India Timur, yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke-5 Masehi. Mereka kemudian menetap di sekitar Danau Toba dan melahirkan marga Damanik sebagai marga asli Simalungun. Selanjutnya, marga Saragih, Sinaga, dan Purba datang dan menyatu, membentuk empat marga besar yang dikenal dengan singkatan SISADAPUR.
Nama "Simalungun" berasal dari bahasa Karo, "Simelungen," yang berarti "daerah sepi" atau "sunyi". Hal ini menggambarkan kondisi wilayah Simalungun pada masa lalu di mana masyarakatnya hidup berjauhan. Sejarah Simalungun mencatat adanya kerajaan-kerajaan seperti Siantar, Panei, Dolog Silou, dan Tanoh Jawa, serta wilayah partuanan seperti Raya, Purba, dan Silimakuta. Kerajaan-kerajaan ini memiliki sistem politik swaparaja sebelum kedatangan Belanda.

Keywords: Simalungun

1


2 MAKALAH ETNIS SIMALUNGUN Dosen Pengampu : Dr.Lamhot Basani Sihombing, S.Pd., M.Pd DISUSUN OLEH: ETNIS SIMALUNGUN 1. Fanny Junlisty Hulu 2. Gabriela Glorizky Pangaribuan 3. Hernandez Ginting 4. Jhedida Ananta Bremana Tarigan 5. Joy Albert Sitinjak 6. Lorenza Hulu 7. Marshella Octaviani br Sinulingga 8. Otniel Urat Situmorang 9. Rustam Efendi Sibatuara 10.Siti Nur Amelia Putri 11.Stephani Ivana Sitepu MATA KULIAH VOKAL TRADISI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MUSIK FAKULTAS BAHASA DAN SENI UNIVERSITAS NEGERI MEDAN FEBRUARI 2025


3 KATA PENGANTAR Segala puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.Tugas ini disusun atas guna melengkapi tugas mata kuliah Vokal Tradisi. Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Dr.Lamhot Basani Sihombing,S.Pd.,M.Pd. selaku dosen mata kuliah Vokal Tradisi yang memberkikan pengarahannya sehingga tugas rutin ini dapat terselesaikan dengan baik. Kami berharap semoga makalah ini dapat berguna bagi pembaca meskipun terdapat banyak kekurangan di dalamnya. Akhir kata kami mohon maaf sebesar-besarnya kepada pembaca dan pengoreksi jika terdapat kesalahan dalam penulisan, penyusunan maupun kesalahan lain yang tidak berkenan dihati pembaca maupun pengoreksi, karena saat ini kami masih dalam proses belajar. Oleh karena itu kami meminta saran dan kritik demi kemajuan bersama. Medan, Februari 2025 Kelompok 6


4 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR................................................................................................... 3 DAFTAR ISI ................................................................................................................. 4 BAB I PENDAHULUAN.............................................................................................. 5 a. Latar Belakang ..................................................................................................... 5 b. Rumusan Masalah................................................................................................. 5 c. Tujuan ................................................................................................................... 6 BAB II PEMBAHASAN ............................................................................................... 7 1. Sejarah Suku Simalungun ..................................................................................... 7 2. Bahasa Simalungun............................................................................................... 8 3. Vokal Tradisi Simalungun .................................................................................... 9 3.1 Vokal Simalungun........................................................................................... 9 3.2 Teknik Vokal Simalungun .............................................................................. 11 3.3 Fungsi Dan Makna Vokal Simalungun........................................................... 16 4. Jenis Alat Musik Simalungun ............................................................................... 19 5. Tarian Simalungun................................................................................................ 27 6. Pakaian Adat Simalungun..................................................................................... 34 7. Rumah Adat Simalungun...................................................................................... 40 8. Makanan Khas Simalungun .................................................................................. 44 BAB III PROFIL PENYUSUN.................................................................................... 51 BAB IV PENUTUP ....................................................................................................... 54 a. Kesimpulan ........................................................................................................... 54 b. Saran ..................................................................................................................... 54 DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................... 56


5 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Suku Simalungun adalah kelompok etnis Batak yang mendiami wilayah Kabupaten Simalungun dan sekitarnya di Sumatera Utara. Simalungun memiliki sejarah panjang yang diwarnai oleh kerajaan-kerajaan dan interaksi dengan suku Batak lainnya. Suku ini diyakini berasal dari wilayah India Selatan dan India Timur, yang masuk ke Nusantara sekitar abad ke5 Masehi. Mereka kemudian menetap di sekitar Danau Toba dan melahirkan marga Damanik sebagai marga asli Simalungun. Selanjutnya, marga Saragih, Sinaga, dan Purba datang dan menyatu, membentuk empat marga besar yang dikenal dengan singkatan SISADAPUR. Nama "Simalungun" berasal dari bahasa Karo, "Simelungen," yang berarti "daerah sepi" atau "sunyi". Hal ini menggambarkan kondisi wilayah Simalungun pada masa lalu di mana masyarakatnya hidup berjauhan. Sejarah Simalungun mencatat adanya kerajaan-kerajaan seperti Siantar, Panei, Dolog Silou, dan Tanoh Jawa, serta wilayah partuanan seperti Raya, Purba, dan Silimakuta. Kerajaan-kerajaan ini memiliki sistem politik swaparaja sebelum kedatangan Belanda. Bahasa Simalungun memiliki kemiripan dengan bahasa Batak Toba dan Karo karena letaknya yang berada di antara kedua suku tersebut. Aksara tradisional yang digunakan adalah Surat Sisapuluhsiah. Masyarakat Simalungun memiliki adat istiadat yang kaya, tercermin dalam sistem sosial berbentuk pentagon yang dipengaruhi oleh perkawinan eksogami klan. Namun, budaya Simalungun menghadapi tantangan modernisasi dan pengaruh budaya luar. Oleh karena itu, pendokumentasian dan pelestarian budaya Simalungun menjadi sangat penting. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah: 1. Bagaimana sejarah pembentukan dan perkembangan Suku Simalungun dari masa lalu hingga kini? 2. Bagaimana karakteristik dan perkembangan bahasa Simalungun dalam konteks linguistik dan sosial budaya? 3. Apa saja jenis, teknik, fungsi, dan makna vokal tradisi Simalungun dalam berbagai upacara adat dan kehidupan sehari-hari? 4. Apa saja jenis alat musik tradisional Simalungun, bagaimana cara memainkannya, dan apa peranannya dalam seni pertunjukan dan upacara adat? 5. Apa saja jenis tarian tradisional Simalungun, bagaimana gerakan dan maknanya, serta bagaimana peranannya dalam upacara adat dan hiburan? 6. Bagaimana karakteristik pakaian adat Simalungun, apa makna simboliknya, dan bagaimana perkembangannya dari masa lalu hingga kini? 7. Bagaimana arsitektur rumah adat Simalungun, apa fungsi ruangannya, dan apa nilainilai filosofis yang terkandung di dalamnya? 8. Apa saja jenis makanan khas Simalungun, bagaimana cara membuatnya, dan apa makna sosial dan budayanya?


6 C. TUJUAN Tujuan dari pembahasan ini adalah: 1. Menelusuri dan merekonstruksi sejarah pembentukan dan perkembangan Suku Simalungun. 2. Mendeskripsikan karakteristik dan perkembangan bahasa Simalungun. 3. Mengidentifikasi dan menganalisis jenis, teknik, fungsi, dan makna vokal tradisi Simalungun. 4. Menginventarisasi dan mendeskripsikan jenis alat musik tradisional Simalungun serta peranannya. 5. Mengidentifikasi dan menganalisis jenis tarian tradisional Simalungun serta peranannya. 6. Mendeskripsikan karakteristik pakaian adat Simalungun dan makna simboliknya. 7. Menganalisis arsitektur rumah adat Simalungun, fungsi ruangannya, dan nilai-nilai filosofisnya. 8. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan jenis makanan khas Simalungun serta makna sosial dan budayanya.


7 BAB II PEMBAHASAN 1. SEJARAH SUKU SIMALUNGUN Simalungun adalah termasuk salah satu dari lima kelompok etnis batak lainnya yang terdiri dari Toba, Mandailing/Angkola. Simalungun adalah salah satu suku asli yang mendiami sumatera utara, tepatnya di timur Danau Toba. Dalam tradisi asal-usulnya, suku bangsa simalungun diyakini berasal dari wilayah di india selatan dan india Timur yang masuk ke nusantara sekitar abad ke-5 Masehi serta menetap di timur danau toba (Kab. Simalungun sekarang), dan melahirkan marga Damanik yang merupakan marga asli simalungun (cikal bakal simalungun Tua). Dikemudian hari datang marga-marga dari sekitar simalungun seperti: Saragih, Sinaga, dan Purba yang menyatu dengan damanik menjadi empat marga besar di simalungun. Daerah Kabupaten Simalungun terletak antara 02°36'--3°18' Lintang Utara dan 98°32'- -99*35" Bujur Timur, sekitar 369 meter di atas permu-kaan laut. Luas daerah ini adalah 4.386,60 km² atau sekitar 6.12% dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Kabupaten Simalungun terdiri atas 21 daerah kecamatan. 195 desa, dan 12 kelurahan. Secara administratif daerah Kabupaten Simalungun berbatasan dengan Kabupaten Deli Ser-dang di sebelah utara, Kabupaten Karo di sebelah barat, Kabupaten Tapanuli Utara di sebelah selatan, dan Kabupaten Asahan di sebelah timur Secara ringkas, sejarah asal-usul suku bangsa simalungun ini dapat dibagi menjadi dua gelombang, yakni: 1. Gelombang Pertama (Simalungun Proto) Simalungun Proto (Simalungun Tua) diperkirakan datang dari Nagore di India Selatan dan Assam dari India Timur, yang dimana diyakini mereka bermigrasi dari India ke Myanmar selanjutnya ke Siam (Thailand) dan ke Malaka hingga akhirnya ke Sumatera Timur mendirikan kerajaan Nagur (kerajaan Simalungun kuno) dinasti Damanik (marga asli Simalungun). Dalam kisah perjalanan panjang mengemban misi penaklukan wilayah-wilayah sekitarnya, dikatakan mereka dipinpin oleh empat raja besar dari Siam dan India yang bergerak dari Sumatera Timur menuju Langkat dan Aceh, namun pada akhirnya mereka terdesak oleh suku asli setempat (Aru/Haru/Karo) hingga ke daerah pinggiran Danau Toba dan Samosir. 2. Gelombang Kedua (Simalungun Deutero) Pada gelombang kedua ini, atau dengan masuknya marga Saragih, Sinaga, dan Purba, dikatakan Simalungun asli mengalami invasi dari suku sekitar yang memiliki pertalian dengan Simalungun Tua. Jika ditelisik dari tiga marga yang masuk itu, maka berdasarkan aspek ruang dan waktu dapat kita indikasikan mereka datang dari Utara Danau Toba (Karo: Tarigan Purba dan Ginting Saragih yang kemudian juga menjadi Saragih Munthe) dan dari Barat Danau Toba (Pakpak/Dairi: Sinaga). Hal ini juga sangat berkaitan jika kita meninjau apa yang ada di tradisi merga di utara Danau Toba seperti Ginting (Pustaka Ginting: terkhususnya Ginting Munthe yang mendapat konfirmasi dari marga Saragih, Saragih Munthe di Simalungun dan Dalimunte di Labuhan Batu) dan Tarigan (Legenda Danau Toba dan Si Raja Umang Tarigan) yang dimana dalam tradisi


8 dua merga ini menceritakan adanya migrasi dari cabang (sub-) merga mereka ke wilayah Timur (Simalungun) dan sekitar Danau Toba. Dalam Pustaha Parpandanan Na Bolag (kitab Simalungun kuno) dikisahkan Parpandanan Na Bolag (cikal bakal daerah Simalungun) merupakan kerajaan tertua di Sumatera Timur yang wilayahnya bermula dari Jayu (pesisir Selat Malaka) hingga ke Toba. Sebagian sumber lain menyebutkan bahwa wilayahnya meliputi Gayo dan Alas di Aceh hingga perbatasan sungai Rokan di Riau. Namun, kini populasi Simalungun sudah mengalami kemunduran akibat beralih identitas menjadi Melayu (masuk Islam sama halnya dengan Karo). Dan terdesak akibat dearasnya arus migrasi suku-suku disekitar Simalungun (khususnya Toba dan Karo) yang membuat suku bangsa simalungun itu kini hanya menjadi mayoritas di wilayah Simalungun atas saja. 2. BAHASA SIMALUNGUN Bahasa Simalungun dipergunakan sebagai bahasa penghubung sehari-hari di samping bahasa Indonesia di daerah Simalungun. Daerah Simalungun merupakan salah satu daerah kabupaten atau daerah tingkat II di Provinsi Sumatera Utara (periksa Peta). Ibu kota Kabupaten Simalungun adalah Pematang Siantar. Untuk mengetahui kedudukan Kabupaten Simalungun dan Kotamadya Permatang Siantar di tengah-tengah daerah tingkat II lainnya di provinsi Sumatera Utara. Bahasa Simalungun sebenarnya sudah memiliki sistem aksara bahasa Simalungun dan sistem ortografi Batak Latin tersendiri. Yang terakhir ini bersumber dari sistem ortografi yang diterapkan sejak masa pemerintahan kolonial Belanda untuk bahasa-bahasa Batak. Tidak jelas kapan sistem ortografi Batak Latin itu diciptakan. Namun, sejak pesatnya perkembangan pendidikan di dalam bahasa-bahasa daerah dan juga penyebaran agama Nasrani di daerah Tapanuli dan sekitarnya pada masa pemerintah kolonial Belanda. sistem ortografi bahasa Batak diduga mulai diperkenalkan dengan mengacu pada sistem ortografi bahasa Belanda untuk menuliskan bahasa-bahasa Batak. Bahasa Simalungun memiliki 5 fonem vokal, 16 fonem konsonan, dan 1 fonem suprasegmental. Kelima fonem vokal itu adalah /i/, /u/, /Ԑ/, /о/, dan/a/. Keenam belas fonem konsonan bahasa Simalungun ialah /p/, /b/, /t/, /d/, /k/, /g/, /j/, /s/, /h/, /m/, /n/, //. /r/, /1/. termasuk dua semivokal /w/, dan /y/. Satu-satunya fonem suprasegmental di dalam bahasa Simalungun adalah tekanan. Tekanan bersifat fonemis pada kata bersuku dua, khususnya katakata dengan kate-gori verba dan adjektiva. Di dalam bahasa Simalungun ditemukan lima pola suku kata, yaitu V. VK, KV, KVV, dan KVK. Pola ini menunjukkan bahwa bahasa Simalungun memiliki sistem pola kanonik terbuka dan tertutup. Distribusi pola ini bervariasi mulai dari kata yang bersuku dua sampai kata yang bersuku lima. Selain pola suku kata yang demikian, di dalam bahasa Simalungun juga ditemukan empat diftong naik, yaitu /ei/, /ou/, /ui/, dan ai/ Dua diftong yang pertama merupakan diftong yang paling banyak dijumpai di dalam bahasa Simalungun, khususnya pada posisi akhir kata. Setelah pekerjaan pemfoneman bahasa Simalungun dilakukan, kemudian diusulkan sebuah rancangan ortografi yang baru untuk menggantikan sistem ortografi Latin bahasa Simalungun. Penetapan sistem ortografi yang baru ini didasarkan pada prinsip bahwa sistem ortografi suatu ba-hasa sebaiknya bersifat fonemis Pada dasarnya hanya tiga penulisan atau


9 grafem baru yang diusulkan untuk menggantikan sistem yang lama. Ketiga grafem ini melambangkan pemanjangan atau geminasi konsonan yang dijumpai di dalam bahasa Simalungun. Ketiga pemanjangan konso-nan ini secara fonemis dituliskan sebagai /pp/, /tt/, dan /kk/. Selama ini pemanjangan konsonan ini dituliskan secara grafemis di dalam sistem ortografi yang lama masing-masing sebagai <mp>. <nt>, dan <ngk>. Di dalam sistem ortografi yang baru, diusulkan penulisan grafemis yang lebih bersifat fonemis, yaitu <pp><nt>dan <kk>. 3. VOKAL TRADISI SIMALUNGUN 3.1 Vokal Simalungun Bangsa Indonesia terdiri banyak suku yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dan memiliki adat buidaya yang berbeda. Sebagai bangsa yang besar, Indonesia memiliki beraneka ragam bentuk kesenian yang lahir melalui pemikiran-pemikiran dan kebiasaan-kebiasaan serta kondisi lingkungan di mana suku bangsa itu berada. Kehadiran kesenian bukan hanya sebagai hiburan semata namun juga sebagai ungkapan suatu kehidupan yang sangat erat dengan makna dan simbol-simbol dari setiap suku ataupun cerminan dari setiap suku. Dengan demikian kesenian sebagai bagian dari kebudayaan harus mengandung keseluruhan nilai, norma, ilmu pengetahuan serta seluruh struktur sosial, religius ditambahkan segala pernyataan intelektual dan artisik yang menjadi ciri khas dari suatu masyarakat. Sehingga dengan begitu masyarakat dari suku manapun mampu menghasilkan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa dan cipta yang dapat mencerminkan identitas tat nilai budaya zamannya untuk dilestarikan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Salah satu kekayaan kesenian tradisional masyarakat Simalungun adalah musik vokal (nyanyian). Vokal adalah nada-nada yang keluar dari pita suara manusia. Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan bentuk dan kemapuan alat pembentuk suara manusia satu dengan yang lainnya. Batas wilayah nada yang dapat disuarakan oleh seseorang disebut Ambitus Suara. Dalam bermusik vokal akan semakin indahapabila diiringi dengan instrumen. Instrument adalah nada-nada yang keluar dari alat musik yang digunakan. Teknik vokal adalah cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah dan merdu. Sebuah karya musik vokal yang baik tidak dapat dinikmati keindahan dan maknanya oleh pendengar jika dibawakan dengan teknik vokal yang tidak baik. Oleh karena itu diperlukan teknik khusus dalam bernyanyi. Hal perlu diingat adalah bahwa untuk memperoleh produksi vokal yang baik secara terusmenerus, karena peningkatan kemapuan vokal memang tidak dapat dilakukan dalam waktu yang singkat. Masyarakat Simalungun memiliki dua jenis musik yaitu musik instrumental dan nyanyian, adapun beberapa instrumen yang dimiliki suku Simalungun yaitu saligung, ole-ole, sordam, suling, sarune bolon, tulila, arbab, husapi, hodong-hodong, gonrang bolon, garantung, dan ogung. Pada masyarakat Simalungun juga terdapat dua ansambel musik yakni paling besar yaitu yakni ansambel yang paling besar yaitu gonrang sipitupitu dan yang paling kecil adalah gonrang sidua-dua


10 Selain musik instrumen, Simalungun juga memiliki nyanyian yang dikenal sebagai doding, nyanyian Simalungun memiliki ciri khas tersendiri yaitu memiliki inggou (teknik atau cara bernyanyi suku Simalungun). Dimana setiap aktivitas ataupun setiap nyanyian seperti bermain dengan anak, perkawinan, nyanyian waktu bekerja, percintaan dan nyanyian yang berhubungan dengan kegembiraan dan hiburan yang dapat dinyanyikan oleh siapa saja. Salah satu lagu rakyat yang merupakan warisan dari leluhur Simalungun adalah lagu taur-taur yang merupakan salah satu dari beberapa lagu rakyat Simalungun yang sering ditampilkan pada acara pesta besar suku Simalungun atau pada pesta budaya Simalungun yang diadakan oleh masyarakat Simalungun dan para seniman Simalungun, seperti taur-taur, illah, doding-doding, urdo-urdo, tihtah, tangis-tangis, manalunda, orlei dan mandogei. Taur-taur berasal dari kata taur berarti memanggil kemudian diulang menjadi taur-taur yaitu memanggil dengan berulang-ulang namun ada juga pemakaian kata taur yang artinya menyampaikan pesan tujuan dan maksud. Sama halnya dengan lagu taurtaur yang pada awalnya merupakan bentuk komunikasi masyarakat Simalungun untuk menyampaikan suatu pesan. Adapun hal-hal yang bisa diungkapkan berupa perasaan sedih, sayang, rindu, cinta, latar belakang kehidupan, tujuan, maksud, keinginan dan lain sebagainya. Pada umumnya penyajian taur-taur dillakukan secara spontanitas, sehingga kemahiran seseorang dalam mengolah kata-kata (syair) dan pengolahannya dengan melodi merupakan bagian yang terpenting bagi terciptanya taur-taur. Bahasa dan syair adalah hal yang paling menentukan untuk memahami arti dan maksud lagu tersebut. Lagu taur-taur berkembang dari segi syair sedangkan melodinya dapat dikatakan hanyalah perulang-ulangan, sedangkan kemahiran seseorang dalam menyajikan taurtaur lebih cenderung dalam pengalaman seseorang dalam penyajian taur-taur. Biasanya taur-taur disesuaikan dengan perasaan dan tujuan sipenyajinya, sehingga dapat dipastikan taur-tauryang disajikan seseorang akan berbeda dari segi rangkaian syair dengan taur-tauryang disajikan orang lain, bahkan meskipun syair dengan taur-taur yang disajikan dilain waktu. Pada masyarakat Simalungun ada beberapa jenis taur-taur yakni taur-taur Simbandar, taur-taur Sibuat Gulom, taur-taur Balog Ganjang dan taur-taur Ranto Alim. Menurut Jasahdin Saragih (2005) taur-taur Balog Ganjang dinyanyikan oleh seorang tanpa iringan musik sedangkan taur-taur Simbandar dinyanyikan oleh garama dan anak boru dengan iringan sulim. Taur-taur khususnya taur-taur Simbandar merupakan lagu rakyat Simalungun yang paling utama yang paling tua dibandingkan dari lagu rakyat lainnya. Biasanya masyarakat Simalungun menyanyikan lagu taur-taur ini dapat di mana saja, waktu bekerja, di tengah sawah, di sungai dan disegala aktivitas apabila seseorang itu merasa sedih. Selain itu taur-taur ini juga selalu ditampilkan apabila ada pesta besar rakyat Simalungun seperti pesta Rondang Bittang dan acara besar lainnya. Taur-taur Simbandar merupakan adat atau ciri khas Simalungun untuk mengutarakan apa yang akan diungkapkan oleh anak lajang dan gadis, untuk mengutarakan isi hati masing-masing. Dengan masa sekarang taur-taur dikolaborasi melalui gitar, gondrang dan sebagainya yang dimana di katakan seni kolaborasi. Pada


11 zaman dulu taur-taur diiringi dengan alat musik sulim Simalungun. Berhubung Taurtaur Simbandar keberadaan pencipta sampai sekarang belum ditemukan. Oleh karena itu Taur-taur Simbandar banyak di nyanyikan oleh artis-artis simalungun bahkan juga dikalangan masyarakat Simalungun dengan versinya masingmasing, apalagi para muda-mudi ataupun generasi muda. Jika pun ada, lagu taur-taur tersebut sudah mengalami perubahan atau tidak memiliki karakter lagu yang sebagaimana semestinya baik dari segi penampilan, teknik bernyanyi (inggou) yang harus berkaitan, serta kurang kreatifnya sipenyaji dalam mengembangkan syairnya. Kini masyarakat lebih menyanyikan lagu-lagu modern yang mudah dimengerti dan lebih mudah untuk dinyanyikan tanpa memiliki teknik yang sukar dimana masyarakat lebih banyak yang mengetahuinya dan mampu membuat suasana menjadi lebih hidup. 3.2 Teknik Vokal Simalungun Vokal tradisi Simalungun, seperti yang terdapat dalam musik tradisional Batak pada umumnya, memiliki ciri khas yang kaya akan emosi, kekuatan, dan ekspresi. Berikut beberapa deskripsi tentang vokal tradisi Simalungun: ▪ Kekuatan dan Kekhasan Vokal tradisi Simalungun sering kali dikenal karena kekuatan dan kekhasannya. Penyanyi sering menggunakan suara yang kuat, mantap, dan penuh emosi untuk menyampaikan pesan dan ekspresi dalam lagu-lagu tradisional. ▪ Teknik Vokal Berikut adalah beberapa teknik vokal yang sering digunakan dalam vokal tradisi Simalungun: ➢ Glottal Stop (Penghentian Suara Tiba-tiba) Teknik ini melibatkan penghentian suara tiba-tiba yang dihasilkan dengan menutup dan membuka kembali pita suara. Glottal stop sering digunakan untuk menekankan kata-kata atau frasa tertentu dalam lirik lagu tradisional Simalungun. ➢ Vibrato Vibrato adalah getaran periodik dalam nada yang dihasilkan oleh perubahan kecil dalam tekanan udara yang diberikan kepada pita suara. Vibrato sering digunakan untuk menambah dimensi ekspresif pada vokal, menambahkan kekayaan dan keindahan suara. ➢ Teknik Respirasi Teknik pernapasan yang baik sangat penting dalam vokal tradisi Simalungun. Penyanyi harus menguasai teknik pernapasan yang tepat untuk menghasilkan suara yang kuat, stabil, dan bertahan lama. ➢ Kontrol Dinamis Kemampuan untuk mengendalikan volume suara dengan tepat sangat penting dalam vokal tradisi Simalungun. Penyanyi harus mampu menyesuaikan volume suara mereka sesuai dengan kebutuhan musik dan konteks pertunjukan.


12 ➢ Ekspresi Emosional Penyanyi tradisi Simalungun sering mengekspresikan berbagai perasaan melalui suara mereka. Mereka menggunakan teknik vokal untuk menggambarkan emosi seperti kegembiraan, kesedihan, cinta, atau kebanggaan secara autentik dan meyakinkan. ➢ Penggunaan Teknik Tradisional Beberapa teknik vokal tradisional khas Batak, seperti "monga-monga" (bentuk melodi yang digunakan untuk mengiringi upacara adat) dan "ondel-ondel" (suara bergetar yang dihasilkan dengan menggoyangkan suara), juga digunakan dalam vokal tradisi Simalungun. ▪ Skala Nada Musik tradisional Simalungun sering kali menggunakan skala nada yang khas dalam melodi dan vokalnya. Skala nada Batak umumnya memiliki interval-interval yang besar dan melibatkan berbagai perubahan nada yang menarik, menciptakan kualitas suara yang dinamis dan menarik perhatian. ▪ Ekspresi dan Emosi Vokal tradisi Simalungun dipenuhi dengan ekspresi dan emosi yang kuat. Penyanyi sering kali menggunakan vokal mereka untuk mengekspresikan perasaan seperti kegembiraan, kesedihan, cinta, atau kebanggaan, menciptakan pengalaman mendalam bagi pendengar. ▪ Harmonisasi Dalam musik tradisional Simalungun, sering kali terdapat harmonisasi vokal yang kompleks antara penyanyi-penyanyi yang berbeda. Harmoni ini menambah kedalaman dan kekayaan pada musik serta memberikan dimensi sosial dan budaya yang kuat. Salah satu bentuk vokal tradisi ini adalah Taur-Taur Simbandar, yang merupakan warisan lisan berupa nyanyian atau musik vokal yang sangat dihargai dan menjadi kebanggaan bagi masyarakat Simalungun. Teknik vokal dalam Taur-Taur Simbandar meliputi aspek pernafasan, artikulasi, phrasering, dan interpretasi. Penyanyi yang menguasai teknik ini dapat menghasilkan nyanyian yang berkualitas tinggi, terutama dalam menyanyikan Taur-Taur Simbandar. Ciri khas dari lagu-lagu rakyat Simalungun adalah inggou, suatu karakteristik yang harus dipertahankan agar tidak terjadi perubahan yang dapat menghilangkan identitas asli dari lagu tersebut. Teknik vokal tradisi Simalungun memiliki ciri khas yang unik dan kaya, mencerminkan budaya dan sejarah masyarakat Simalungun. Berikut adalah beberapa teknik vokal yang umum ditemukan dalam tradisi Simalungun: • INGGOU: o Ini adalah ciri khas atau keunikan lagu atau nada pada musik Simalungun. o Inggou dianggap sebagai "roh" yang menghidupkan lagu Simalungun.


13 o Teknik ini melibatkan ornamenasi melodi yang khas dan sering dimainkan pada alat musik seperti husapi. • TAUR-TAUR: o Merupakan tradisi nyanyian Simalungun yang memiliki teknik vokal khusus. o Teknik vokal dalam taur-taur mencakup aspek-aspek seperti pernapasan, artikulasi, frasering, dan interpretasi. o Taur-taur Simbandar adalah salah satu contoh dari nyanyian tradisi Simalungun. • TANGIS-TANGIS: o Teknik vokal yang menggunakan suara seperti tangisan, atau seseorang yang meratapi kesedihan. o Suasana dan suara tersebut kemudian ditirukan ke dalam instrumen sulim. • MANGINGGOU: o Teknik yang dilakukan dengan cara meniup sulim. o Teknik ini menghasilkan melodi yang syahdu dan melandai, memberikan efek ketenangan. o Lebih sering dimainkan dengan gaya arpeggio pada gitar. • Menganak-anak: o Teknik vokal yang dilakukan dengan cara tertentu. o Selain teknik-teknik di atas, penting juga untuk mencatat bahwa tradisi lisan o memainkan peran penting dalam pewarisan teknik vokal Simalungun. Banyak teknik vokal yang diajarkan dan dipelajari melalui tradisi lisan dari generasi ke generasi. • TEKNIK TAUR TAUR Taur-taur adalah tradisi nyanyian Simalungun yang memiliki teknik vokal yang khas. Berikut adalah penjelasan lebih detail mengenai teknik vokal taur-taur: Aspek-aspek Teknik Vokal Taur-taur : • Pernapasan: o Teknik pernapasan yang baik sangat penting dalam taur-taur, karena nyanyian ini seringkali memerlukan napas yang panjang dan stabil. o Penyanyi taur-taur harus mampu mengontrol pernapasannya agar dapat menghasilkan suara yang konsisten dan tidak terputus-putus. • Artikulasi: o Artikulasi yang jelas dan tepat sangat penting dalam taur-taur, karena lirik lagu seringkali mengandung kata-kata yang memiliki makna mendalam. o Penyanyi taur-taur harus mampu mengucapkan setiap kata dengan jelas agar pesan lagu dapat tersampaikan dengan baik.


14 • Frasering: o Frasering adalah cara penyanyi membagi kalimat lagu menjadi frase-frasa yang bermakna. o Dalam taur-taur, frasering yang tepat sangat penting untuk menyampaikan emosi dan makna lagu. o Penyanyi taur-taur harus mampu merasakan dan memahami setiap frase lagu agar dapat menyanyikannya dengan penuh penghayatan. • Interpretasi: o Interpretasi adalah cara penyanyi menafsirkan dan menyampaikan makna lagu. o Dalam taur-taur, interpretasi yang baik sangat penting untuk menghidupkan lagu dan menjadikannya terasa relevan bagi pendengar. o Penyanyi taur-taur harus mampu memahami konteks sejarah dan budaya lagu agar dapat menginterpretasikannya dengan tepat. • Inggou: o Inggou merupakan suatu ciri khas atau keunikan dari lagu atau nada pada musik Simalungun. o Inggou adalah gaya atau gaya musik Simalungun. o Inggou juga bisa dikatakan sebagai "roh" yang menghidupkan lagu Simalungun. Selain teknik-teknik di atas, penting juga untuk mencatat bahwa tradisi lisan memainkan peran penting dalam pewarisan teknik vokal Simalungun. Banyak teknik vokal yang diajarkan dan dipelajari melalui tradisi lisan dari generasi ke generasi. ➢ Taur-taur Simbandar: • Taur-taur Simbandar adalah salah satu contoh nyanyian tradisi Simalungun yang sangat terkenal. • Nyanyian ini memiliki teknik vokal yang khas dan seringkali dinyanyikan dalam acaraacara adat. • Untuk melestarikan Taur-taur Simbandar, generasi muda Simalungun diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dalam menyanyikan lagu-lagu Simalungun. ➢ Pewarisan Teknik Vokal: • Tradisi lisan memainkan peran penting dalam pewarisan teknik vokal taur-taur. • Banyak teknik vokal yang diajarkan dan dipelajari melalui tradisi lisan dari generasi ke generasi. • Penting untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi lisan ini agar teknik vokal taurtaur tidak hilang. 1. Inggou: o Inggou sulit untuk dinotasikan secara tepat karena sifatnya yang sangat hias. o Secara umum, inggou melibatkan penggunaan nada-nada sisipan, glissando (pergeseran nada yang mulus), dan vibrato yang khas.


15 o Sebagai contoh sederhana, bayangkan sebuah melodi dengan nada dasar "Do". Inggou dapat melibatkan penambahan nada-nada seperti "Re bemol" atau "Si" di antara nada-nada utama, dengan pergeseran yang halus dan cepat. 2. Taur-taur: o Taur-taur seringkali memiliki melodi yang melankolis dan ritme yang fleksibel. o Notasi taur-taur akan bervariasi tergantung pada lagu dan penyanyi. o Secara umum, melodi taur-taur cenderung bergerak dalam interval-interval kecil dan seringkali menggunakan nada-nada yang panjang untuk menekan emosi. o 3. Tangis-tangis: o Tangis-tangis akan sulit sekali dituliskan ke dalam bukan balok. Karena Tangistangis lebih kepada peniruan suara tangisan. o Tetapi pada saat tangis-tangis ini masuk ke dalam instrumen sulim, maka akan menghasilkan nada-nada yang meliuk-liuk, dan turun naik, seperti orang yang sedang menangis. o


16 4. Manginggou: o Manginggou adalah teknik yang dilakukan dengan meniup sulim. o Teknik ini menghasilkan melodi yang syahdu dan melandai, memberikan efek ketenangan. o Lebih sering dimainkan dengan gaya arpeggio pada gitar. o Arpeggio merupakan memainkan nada-nada dari suatu akord secara berurutan, bukan secara bersamaan. o 3.3 Fungsi dan Makna Vokal Simalungun Penggunaan (uses) nyanyian rakyat Simalungun sering disadan dan diakui oleh orang Simalungun sebagai pewaris budayanya, tetapi fungsi (function) nyanyian rakyat Simalungun itu sendiri terkadang tidak semuanya diketahui oleh orang Simalungun. Adapun penggunaan nyanyian rakyat Simalungun ditemui dalam berbagai kegiatan kehidupan sehari-hari antara alin: 1. Urdo-urdo dan tihtah digunakan untuk menidurkan anak dan bermain anak, 2. Taur-taur Simbandar dan simanggei digunakan untuk penyampaian keluhkesah. 3. Taur-taur sibuat gulom digunakan pada saat mandi di sungai atau di pancuran. 4. Ilah digunakan pada saat terang bulan purnama. 5. Tangis digunakan pada upacara kematian. 6. Tangis-tangis digunakan pada upacara perkawinan. 7. Doding-doding pada acara kegembiraan. 8. Orlei digunakan pada acara mengangkat kayu dari hutan. 9. Lailullah digunakan pada saat menginjak padi. 10.Manalunda/mangmang digunakan pada ritus marbah-bah atau ritus penobatan raja. 11.Mandilo tonduy digunakan pada ritus memanggil roh. 12.Inggou turi-turian digunakan pada ritus marbah-bah.


17 Sebagai fungsi nyanyian rakyat Simalungun diuraikan berdasarkan fungsi nyanyian yang dihubungkan dengan yang dilakukan oleh penyanyi dan pendengar. Adapun fungsinya sevagai berikut: 1. Fungsi Pengungkapan emosional Seorang pemuda menyanyikan taur-taur simbandar di suatu balei berfungsi sebagai pemngungkapan emosional dari si penyanyi itu sendiri. Pengungkapan emosional dilakukannya dengan meniup sulim (suling bambu), tanpa menggunakan kata-kata. Kemudian ia lanjutkan dengan menyanyikan taur-taur simbandar. Dari melodi dan kata-kata yang dituangkan dalam nyanyian taur-taur simbandar, penyanyinya merasa puas, walaupun ia hanya hidup sebatang kara mpa sanak saudara. Demikian pula ia mengungkapkan rasa pedih hidup sebatang kara yang mengharapkan adanya belas kasihan wang untuk mengajaknya makan. Bagi para pendengar yang terhanyut dalam rasa haru, akan tergerak hatinya, untuk mengajak makan di rumahnya. 2. Fungsi Penghayatan Estetis Seorang yang melagukan nyanyian rakyat Simalungun tıdak asal jadi saja, tetapi menampikan nyanyian yang terbaik dan menghayati nilai-nilai estetis melalui melodi-melodi yang dikumandangkan. Seorang penyanyi memilih melodi dan katakata yang baik dengan teknik bernyanyi yang baik pula. Oleh karena itu, jika seseorang mengumandangkan nyanyian yang baik, maka or-ang yang mendengarkannya merasa senang. Sebagai contoh seorang pemuda yang bernyanyi di balei pada malam hari, maka orang yang mendengarkan di tengah kegelapan malam merasa senang dengan alunan melodi dan kata-kata dari nyanyian taur-taur simbandar. Bukan saja anak gadis desa, tetapi penduduk desa yang mendengarkannya merasa senang, bahkan ada yang sampai tak dapat memejamkan matanya. 3. Fungsi hiburan Pada umumnya nyanyian rakyat Simalungun berfungsi sebagai hiburan bagi penyanyi sendiri dan bagi yang mendengarkannya. Seorang yang menyanyi di balei berfungsi sebagai hiburan bagi dirinya sendiri dan bagi orang yang mendengarkannya. Hal ini dapat dijumpai pada malam hari di desa-desa Simalungun, para pemuda selalu bernyanyi secara bergantian. Nyanyian yang dikumandangkan selain berfungsi sebagai hiburan bagi dirinya sendiri, juga berfungsi sebagai hiburan bagi penduduk desa. Penduduk desa merasa erhibur dengan nyanyian-nyanyian yang dikumandangkan. Penduduk desa cukup mendengarkan dari rumahnya tanpa melihat angsung orang yang bernyanyi, tetapi merasa terhibur. 4. Fungsi Komunikasi Sebagaimana dikemukakan Merriam (1964: 223) bahwa lagu vokal dalam hal ini nyanyian rakyat, menyampaikan pesan yang terkandung dalam teksnya. Demikian pula, musik tanpa teks juga mampu memberikan komunikasi. Namun, menurut Merriam bahwa kita sendiri belum tentu tahu apa yang dikomunikasikan oleh musik itu, bagaimana dan kepada siapa. Musik itu sendiri bukan suatu bahasa


18 universal yang dapat dimengerti oleh siapa saja, karena setiap jenis musik lahir dan tumbuh pada suatu masyarakat tertentu dengan kebudayaannya. Namun dalam nyanyian rakyat Simalungun, tentu berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Merriam tersebut, masyarakatnya sendiri tentu tahu apa yang dikomunikasikan oleh nyanyian tersebut, karena sudah merupakan tradisi yang secara turun-temurun dilakukan. Beberapa orang anak gadis yang berada di sungai atau di pancuran melagukan faur-taur sibuat gulom. Mereka secara bergantian mengumandangkan nyanyian, sehingga para pemuda bersabar menunggu untuk mandi. Para pemuda mengetahui bahwa yang ada di pancuran tersebut adalah wanita. Walaupun sebenarnya tidak secara langsung dikomunikasikan oleh wanita tersebut melalui teks nyanyian, kaum lelaki sudah tahu bahwa yang mandi itu adalah wanita dan nyanyian itu juga berfungsi sebagai komunikasi bagi wanita lainnya, sehingga kaum wanita langsung saja datang ke sungai untuk bergabung mandi atau mencuci. Memang tidak secara jelas dari teks nyanyian mengatakan lelaki tidak boleh masuk ke pancuran atau kaum wanita boleh masuk ke pancuran, tetapi sudah menjadi tradisi bagi kaum wanita bernyanyi sebagai komunikasi kepada orang lain. Seandainya kaum wanita tadi tidak bernyanyi, maka kaum lelaki bisa saja langsung masuk ke pancuran untuk mandi. Jika ini terjadi, tentu sudah melanggar normanorma kesusilaaan bagi penduduk setempat. 5. Fungsi Perlambangan Pada umunya, tempo nyanyian rakyat Simalungun adalah lambat, hanya sedikit yang sedang dan agak cepat. Ini merupakanperlambang kesedihan maupun kesunyian. Hal ini terbukti banyaknya nyanyian keluh kesah yang dinyanyikan di ladang, di balei atau di empat sunyi lainnya. Jika seorang ibu mengumandangkan nyanyian tangis, maka nyanyian itu sendiri berfungsi sebagai perlambang adanya kematian. Demikian juga jika terdengar nyanyian manalunda, maka nyanyian ersebut berfungsi sebagai lambang adanya pemujaan atau adanya suatu ritus yang berhubungan dengan keagamaan di desa tersebut. 6. Fungsi Reaksi Jasmani Daya rangsang dari nyanyian ilah membuat penyanyinya ikut menghentakkan kakinya dan bertepuk-tepuk tangan secara berulang-ulang sesuai dengan tempo lagu. Demikian pula ketika menyanyikan lagu lailulah, dengan spontan menghentakkan kakinya menginjak padi. 7. Fungsi yang berkaitan dengan Norma-norma Sosial Dalam teks nyanyian rakyat Simalungun sering memberikan arti agar normanorma sosial dapat terpelihara. Satu contoh dapat dikutip dari lagu tapian dolok mariah: anduhur pinutputan, tading i parsobanan, anggo uhur tinurutan, lang dong marhaingganan, artinya burung perkutut yang gundul, tinggal di tempat pengambilan kayu, kalau pikiran tak terkendali, tak akan kesampaian. Teks tersebut menginginkan agar pikiran manusia harus dapat dikendalikan oleh dirinya sendiri, sebab jika tidak


19 dapat mengendalikan diri, akan terjadi hal-hal yang melanggar norma-norma dalam masyarakat. 8. Fungsi Pengesahan Lembaga Sosial dan Upacara Agama Nyanyian manalunda atau mangmang berfungsi sebagai pensahan suatu ritus yang dilakukan. Misalnya seorang datu (dukun) dalam mengadakan ritus manabari, lebih dulu melagukan manteranya agar ritus yang dilakukan dapat berjalan dengan baik. Jika seseorang datu (dukun) tidak melagukannya, maka ritus manabari tidak akan terlaksana. Demikian juga seorang guru na bolon suatu kerajaan yang melantik seorang raja (patappei sihila). 9. Fungsi Pengintegrasian masyarakat Pemuda-pemudi desa menyanyi bersama melagukan nyanyian ilah menggalang rasa persaudaraan sesama penyanyi. Nyanyian ini mempersatukan mereka sebagai teman yang bersahabat, sehingga tidak ada pertentangan yang merintang dan menimbulkan rasa persaudaraan sesama penyanyi. Begitu juga ketika pesta rondang bittang diadakan di suatu desa, pemuda dari desa lainnya membaurkan diri dengan pemuda yang mengadakan pesta tersebut Mereka bernyanyi bersamasama, sehingga rasa persaudaraan pun muncul, bahkan jika ada jodoh, pemuda pendatang tadi akan mengawini gadis desa tersebut. 4. JENIS ALAT MUSIK SIMALUNGUN 4.1GONRANG Gonrang adalah salah satu jenis alat musik tradisional Simalungun yang termasuk dalam kategori alat musik perkusi. Alat musik ini berbentuk seperti bedug atau gendang panjang dan dimainkan dengan cara dipukul menggunakan tangan atau stik. a. Fungsi Gonrang 1. Pengiring Upacara Adat


20 • Digunakan dalam berbagai acara adat Simalungun seperti perkawinan, kematian, pesta panen, dan penyambutan tamu kehormatan. • Berfungsi sebagai alat komunikasi dalam prosesi adat. 2. Mengiringi Tarian Tor-tor Simalungun • Menjadi pengiring utama dalam tor-tor, tarian khas Simalungun yang memiliki nilai spiritual dan sosial. • Irama Gonrang Panjang menentukan ritme tarian dan suasana acara. 3. Sebagai Media Ritual Keagamaan dan Kepercayaan • Dalam kepercayaan lama masyarakat Simalungun, Gonrang Panjang dipercaya memiliki hubungan dengan dunia spiritual. • Suara Gonrang Panjang dianggap dapat menghubungkan manusia dengan roh leluhur. 4. Membangkitkan Semangat dan Kebersamaan • Permainan Gonrang Panjang sering digunakan dalam acara-acara yang melibatkan banyak orang untuk meningkatkan semangat dan kebersamaan. • Irama yang dihasilkan menggambarkan jiwa gotong royong dan kebersatuan masyarakat Simalungun. b. Makna Gonrang • Simbol Kehormatan: Hanya dimainkan dalam acara penting, menunjukkan status dan kehormatan acara tersebut. • Kekuatan dan Keberanian: Suaranya yang kuat melambangkan semangat juang dan keberanian masyarakat Simalungun. • Kesakralan dan Tradisi: Menjaga nilai-nilai tradisi dan warisan budaya dari generasi ke generasi.


21 4.2SARUNE Sarune adalah alat musik tiup tradisional khas Simalungun yang mirip dengan serunai di daerah lain. Sarune biasanya dimainkan bersama alat musik lainnya dalam ensambel musik tradisional. a. Fungsi Alat Musik Sarune Simalungun 1. Pengiring Upacara Adat • Sarune sering dimainkan dalam acara adat seperti perkawinan, kematian, dan pesta panen. • Suaranya yang khas menambah nuansa sakral dan khidmat dalam setiap prosesi adat. 2. Mengiringi Tarian Tor-tor Simalungun • Sarune berperan sebagai alat musik utama dalam tor-tor Simalungun. • Menghasilkan melodi yang menjadi panduan bagi para penari agar tetap sesuai dengan irama yang dimainkan. 3. Media Ritual Keagamaan dan Komunikasi dengan Leluhur • Dalam kepercayaan lama masyarakat Simalungun, suara Sarune dipercaya dapat menghubungkan manusia dengan arwah leluhur. • Sering dimainkan dalam ritual adat sebagai simbol penghormatan kepada roh nenek moyang. 4. Hiburan dan Pertunjukan Musik Tradisional • Sarune juga digunakan dalam acara hiburan rakyat seperti pentas seni dan festival budaya. • Menghidupkan suasana dalam pertunjukan musik tradisional bersama alat musik lain seperti gonrang, garantung, dan taganing. b. Makna Sarune dalam Budaya Simalungun • Melambangkan keluhuran adat dan budaya: Sarune dianggap sebagai alat musik yang mencerminkan identitas dan warisan budaya masyarakat Simalungun.


22 • Simbol komunikasi dan keterhubungan: Suara Sarune menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan roh leluhur. • Ekspresi seni dan emosi: Melalui nada-nadanya, Sarune dapat menyampaikan berbagai ekspresi, mulai dari kegembiraan hingga kesedihan. 4.3ARBAB Arbab adalah alat musik tradisional Simalungun yang dimainkan dengan cara digesek, mirip dengan rebab dalam budaya lain. Arbab biasanya terbuat dari kayu sebagai badan resonator, tempurung kelapa sebagai penguat suara, dan senar dari serat alami atau kawat. a. Fungsi Arbab dalam Budaya Simalungun 1. Sebagai Pengiring Lagu dan Syair Tradisional Arbab sering dimainkan untuk mengiringi pantun, syair, atau cerita rakyat.Musiknya memberikan nuansa khas yang membuat lantunan syair lebih hidup dan berkesan. 2.Sebagai Alat Hiburan dalam Pertunjukan Rakyat Digunakan dalam acara hiburan malam atau pesta rakyat, baik secara solo maupun dalam kelompok musik tradisional.Menghasilkan nada melodi yang khas dan menyentuh hati pendengar. 3. Pengiring Upacara Adat Kadang dimainkan dalam upacara pernikahan, penyambutan tamu, atau acara adat lainnya.Melodi Arbab menambah suasana khidmat dan sakral dalam prosesi adat. 4. Ekspresi Seni dan Perasaan Arbab digunakan sebagai media ekspresi bagi seniman tradisional untuk menyampaikan cerita, kesedihan, atau kegembiraan.Permainannya sering


23 mencerminkan perasaan hati pemainnya, mirip dengan bagaimana biola digunakan dalam musik modern. b. Makna Arbab dalam Budaya Simalungun 1. Melambangkan kehalusan rasa dan seni dalam kehidupan masyarakat Simalungun. 2. Menjadi simbol kearifan lokal, karena sering digunakan untuk menyampaikan petuah atau nasihat melalui lagu dan pantun. 3. Sebagai warisan budaya, yang menunjukkan kekayaan musik tradisional Simalungun dan perlu dilestarikan. 4.4HUSAPI Husapi adalah alat musik tradisional Simalungun yang termasuk dalam jenis kordofon (alat musik berdawai). Alat musik ini mirip dengan kecapi atau hasapi dari suku Batak lainnya, tetapi memiliki karakteristik khas Simalungun. a. Fungsi Husapi 1.Sebagai Hiburan Husapi sering dimainkan untuk hiburan pribadi atau dalam acara santai masyarakat Simalungun. 2.Pengiring Lagu dan Tarian


24 Digunakan untuk mengiringi nyanyian atau tarian tradisional Simalungun, terutama dalam acara budaya. 3.Sarana Ekspresi Seni Digunakan oleh para seniman untuk menyampaikan cerita, nasihat, atau pesan dalam bentuk lagu. 4.Bagian dari Ritual Adat Dalam beberapa kesempatan, husapi juga dimainkan dalam ritual adat atau acara keagamaan tradisional. b. Makna Husapi 1. Simbol Keharmonisan Dawai husapi yang dipetik menggambarkan keseimbangan dan harmoni dalam kehidupan masyarakat Simalungun. 2. Ekspresi Perasaan Musik yang dihasilkan husapi sering digunakan untuk mengekspresikan perasaan rindu, cinta, atau kebijaksanaan hidup. 3. Identitas Budaya Husapi mencerminkan kekayaan seni dan budaya Simalungun yang unik, membedakannya dari tradisi Batak lainnya. Husapi dimainkan dengan cara dipetik, menghasilkan nada yang lembut dan menenangkan. Biasanya, pemain husapi juga bernyanyi atau bersenandung mengikuti alunan musiknya. 4.5SARUNE BULU


25 Sarune Bulu dimainkan dengan cara ditiup, mirip seperti serunai atau klarinet tradisional, dan menghasilkan nada yang khas. Biasanya, alat musik ini dimainkan bersama dengan taganing, garantung, dan gondang untuk menciptakan musik yang harmonis. a. Fungsi Sarune Bulu 1. Pengiring Musik Gondang Simalungun Sarune Bulu sering dimainkan dalam ensambel musik tradisional Simalungun, khususnya dalam pertunjukan Gondang Simalungun. 2. Upacara Adat dan Keagamaan Digunakan dalam acara adat seperti pernikahan, kematian, dan ritual keagamaan suku Simalungun. 3. Hiburan Masyarakat Selain dalam upacara adat, Sarune Bulu juga dimainkan dalam acara hiburan rakyat untuk mengiringi tarian dan nyanyian tradisional. 4. Sarana Komunikasi Tradisional Dalam beberapa kesempatan, alat musik ini digunakan untuk menyampaikan pesan budaya dan nilai-nilai kearifan lokal. b. Makna Sarune Bulu 1.Simbol Tradisi dan Identitas Budaya Sarune Bulu melambangkan kekayaan seni musik Simalungun dan menjaga warisan budaya leluhur. 2.Lambang Kesakralan dan Kebersamaan Alat musik ini sering dimainkan dalam acara sakral yang menunjukkan persatuan dan kebersamaan dalam masyarakat. 3.Ekspresi Jiwa dan Emosi Melalui nada-nadanya, Sarune Bulu dapat menggambarkan berbagai suasana hati, seperti kegembiraan, kesedihan, atau penghormatan.


26 4.6OGUNG Ogung terbuat dari bahan besi atau kuningan sebagai bossed gong. Alat musik tradisional Simalungun yang terus lestari ini memiliki suara yang nyaring, dan digunakan pada alat musik seperangkat gonrang sidua-dua. Ogung dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul khusus. Biasanya terdiri dari beberapa ukuran yang berbeda, masing-masing menghasilkan nada tertentu untuk menciptakan harmoni dalam musik tradisional Simalungun. a. Fungsi Ogung Simalungun 1.Pengiring Musik Gondang Simalungun Ogung dimainkan dalam ensambel Gondang Simalungun, bersama dengan taganing, garantung, sarune bulu, dan alat musik lainnya. 2.Upacara Adat dan Ritual Keagamaan Ogung memiliki peran penting dalam acara adat seperti pernikahan, kematian, dan ritual kepercayaan suku Simalungun. 3.Sarana Komunikasi Tradisional Dahulu, ogung juga digunakan sebagai alat komunikasi untuk mengumumkan kejadian penting di masyarakat. 4.penjaga Irama Musik Sebagai alat musik ritmis, ogung membantu menjaga tempo dan harmoni dalam pertunjukan musik tradisional. b. Makna Ogung Simalungun 1.Simbol Kehormatan dan Kebesaran budaya Simalungun, ogung sering dikaitkan dengan status sosial dan simbol kebesaran suatu acara.


27 2.Lambang Persatuan Dentuman ogung yang dimainkan dalam ensambel menggambarkan kebersamaan dan keselarasan dalam masyarakat. 3.Nilai Sakral dan Spiritual Dalam konteks ritual adat, suara ogung dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang bisa menghubungkan manusia dengan roh leluhur. 4.7HODONG-HODONG Hodong-hodong berfungsi sebagai alat musik penghibur yang terbuat dari bilah, dan kawat. Merupakan alat musik tradisional Simalungun yang pada dahulu kala memliki fungsi sebagai alat komunuksi para lelaki dengan kekasih mereka. Cara memainkannya adalah dipetik dengan telunjuk sambal dibunyikan dengan diberi tekanan di mulut. 5. TARIAN SIMALUNGUN Di antara tarian tradisional yang populer di etnis Simalungun adalah Tari Tor-Tor. Tarian ini adalah bagian integral dari budaya Simalungun dan sering dipentaskan dalam berbagai upacara adat, perayaan, dan acara budaya lainnya. Berikut adalah beberapa informasi tentang Tari Tor-Tor: • Pengertian:Tari Tor-Tor adalah tarian tradisional Simalungun yang penuh dengan gerakan yang enerjik dan dinamis. Para penari membentuk lingkaran atau formasi


28 tertentu sambil melakukan gerakan-gerakan yang khas, seperti langkah-langkah melompat, gerakan tangan yang terkoordinasi, dan ekspresi wajah yang kuat. • Makna dan Fungsi: Tari Tor-Tor memiliki berbagai makna dan fungsi dalam budaya Simalungun. Selain sebagai hiburan, tarian ini juga memiliki nilai spiritual dan sosial yang penting. Dalam beberapa konteks, Tari Tor-Tor dipentaskan sebagai ungkapan rasa syukur, pemujaan kepada leluhur, atau untuk memohon berkah dan perlindungan. • Musik Pengiring: Tari Tor-Tor selalu diiringi oleh musik tradisional yang khas, termasuk alat musik seperti gondang (gendang), sarune (suling), dan huta-huta (bambu). Ritme dan melodi dari musik pengiring ini membantu menentukan gerakan- gerakan dalam tarian dan menciptakan atmosfer yang membangkitkan semangat. • Kostum: Para penari Tari Tor-Tor sering mengenakan kostum tradisional yang khas, termasuk pakaian warna-warni, hiasan kepala, dan perhiasan tradisional lainnya. Kostum-kostum ini menambah keindahan visual dari penampilan tarian dan juga mencerminkan identitas budaya Simalungun. • Keberlanjutan dan Pelestarian: Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Tari TorTor terus dipertahankan dan dilestarikan oleh masyarakat Simalungun. Melalui upaya pelestarian dan promosi budaya, tarian ini tetap menjadi bagian yang hidup dari warisan budaya Simalungun dan terus diwariskan dari generasi ke generasi. A. Beberapa jenis Tor-tor Simalungun: 1. Tari Tor-Tor Sombah Adalah salah satu tarian tradisional dari suku Simalungun di Sumatera Utara, Indonesia. Tarian ini memiliki makna yang mendalam dan digunakan sebagai bentuk penghormatan kepada tamu, raja, atau kerabat dekat. Berikut adalah beberapa informasi penting mengenai Tari Tor-Tor Sombah: 1. Makna dan Fungsi Tari Tor-Tor Sombah digunakan untuk menyambut tamu istimewa dan menunjukkan rasa hormat. Tarian ini sering kali dipersembahkan dalam upacara adat dan acara penting lainnya. 2. Gerakan Gerakan dalam Tari Tor-Tor Sombah mencerminkan sikap hormat dan keramahtamahan. Gerakan dasar meliputi posisi menyembah dengan tangan terbuka dan


29 kepala menunduk. Gerakan ini dilakukan dengan langkah-langkah yang teratur dan ritmis. 3. Musik Pengiring Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Simalungun yang menggunakan alat musik seperti gonrang, ogung, mingmong, sarunei, dan sitalasayak. Musik ini memberikan irama yang khas dan mendukung gerakan tari. 4. Sejarah dan Perkembangan Tari Tor-Tor Sombah telah ada sejak lama dan terus berkembang seiring waktu. Gerakan tari ini awalnya tidak memiliki pola yang tetap, tetapi kemudian dikreasikan oleh Taralamsyah Saragih sehingga menjadi lebih menarik dan memiliki gerakan yang tetap. Tari Tor-Tor Sombah adalah salah satu warisan budaya yang penting bagi suku Simalungun dan terus dilestarikan hingga saat ini. Tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan gerakan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan tradisi yang mendalam. 2. Tari Tor-Tor Martonun Adalah salah satu tarian tradisional dari suku Simalungun di Sumatera Utara, Indonesia. Tarian ini memiliki makna yang mendalam dan menggambarkan proses pembuatan ulos, kain tradisional Batak. Berikut adalah beberapa informasi penting mengenai Tari Tor-Tor Martonun: 1. Makna dan Fungsi Tari Tor-Tor Martonun menceritakan tentang proses pembuatan ulos dari awal hingga akhir. Tarian ini menggambarkan langkah-langkah mulai dari mengumpulkan kapas, memintal benang, hingga menenun benang menjadi ulos. Tarian ini melambangkan kedisiplinan dan kesabaran dalam melakukan pekerjaan.


30 2. Gerakan Gerakan dalam Tari Tor-Tor Martonun mencerminkan proses pembuatan ulos. Gerakan dasar meliputi gerakan tangan yang menggambarkan memintal benang dan menenun. Gerakan ini dilakukan dengan langkah-langkah yang teratur dan ritmis. 3. Busana Penari dalam Tari Tor-Tor Martonun mengenakan pakaian tradisional Simalungun yang terdiri dari bulang sulapei, suri-suri, dan ulos hatirongga. Busana ini melambangkan keagungan dan kewibawaan perempuan Simalungun dalam melakukan pekerjaan. 4. Musik Pengiring Tarian ini diiringi oleh musik tradisional Simalungun yang menggunakan alat musik seperti gondrang sidua-dua, ogung, serunei, dan mongmongan. Musik ini memberikan irama yang khas dan mendukung gerakan tari. Tari Tor-Tor Martonun adalah salah satu warisan budaya yang penting bagi suku Simalungun dan terus dilestarikan hingga saat ini. Tarian ini tidak hanya menampilkan keindahan gerakan, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan tradisi yang mendalam. 3. Tor-Tor Haroan Bolon Haroan Bolon merupakan karya tari yang terinpirasi dari pesta Rondang Bittang, yaitu Pesta adat masyarakat Simalungun setelah musim panen untuk mengungkapkan rasa syukur atas keberhasilan panen raya dengan menggunakan berbagai tata cara ritual sebelum pesta dimulai. 1. Makna dan Fungsi Tor-Tor Haroan Bolon adalah tarian yang menggambarkan kerja sama dalam masyarakat Simalungun, terutama dalam kegiatan pertanian seperti menanam padi, merawat tanaman, dan panen. Tarian ini sering dipentaskan dalam acara-acara adat sebagai simbol gotong royong dan kebersamaan.


31 2. Gerakan Gerakan dalam tarian ini mencerminkan aktivitas pertanian, seperti menanam bibit, merawat tanaman, dan memanen padi. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan ritmis dan teratur, mencerminkan kerja sama yang harmonis. 4. Tor-Tor Sitalasari Tortor Sitalasari merupakan tarian penyambutan kepada tamu tamu atau pun ungkapan kebahagiaan untuk memulai kegiatan. 1. Makna dan Fungsi Tor-Tor Sitalasari adalah tarian yang menggambarkan keindahan dan keanggunan perempuan Simalungun. Tarian ini sering kali menceritakan tentang perawatan kecantikan yang menggunakan bahan-bahan alami dari alam Simalungun. 2. Gerakan Gerakan dalam tarian ini lembut dan anggun, mencerminkan keindahan dan kelembutan perempuan Simalungun. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan luwes dan mengalir, menciptakan kesan yang elegan. 5. Tor-Tor Usihan Siritak Hotang


32 Tor-tor Sirintak Hotang adalah tarian yang berasal dari etnis Simalungun Sumatera Utara. Sirintak artinya menarik dan Hotang artinya rotan. Sehingga tor-tor Sirintak Hotang berarti tari menarik rotan. Tor-tor Sirintak Hotang merupakan tor-tor usihan atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan tarian menyerupai. 1. Makna dan Fungsi Tor-Tor Usihan Siritak Hotang adalah tarian yang menggambarkan kesulitan yang dialami masyarakat Simalungun dalam mencari rotan di hutan. Rotan merupakan salah satu mata pencaharian penting bagi masyarakat Simalungun pada masa lalu. 2. Gerakan Gerakan dalam tarian ini mencerminkan aktivitas mencari rotan di hutan, seperti berjalan di antara pepohonan dan memotong rotan. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan dinamis dan penuh semangat, mencerminkan perjuangan dan ketekunan. 6. Tor-Tor Usihan Bodat Haudanon Tor-tor Bodat Na Haudanan adalah tarian tradisional Simalungun yang ditampilkan dalam acara pesta Rondang Bintang. 1. Penjelasan • Tor-tor Bodat Na Haudanan adalah salah satu seni pertunjukan dalam pesta Rondang Bintang yang diadakan setahun sekali oleh masyarakat Simalungun. • Tarian ini menggunakan alat musik tradisional seperti gondrang, ogung, mongmong, dan sarunei. • Busana yang digunakan dalam tarian ini adalah baju dan celana warna hitam dan suri-suri.


33 • Tarian ini merupakan salah satu warisan budaya Batak Toba yang memiliki makna mendalam, terutama dalam upacara adat seperti pesta pernikahan. • Tarian ini bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga sarana untuk menyampaikan doa dan harapan. • Tarian ini digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu). 2. Makna dan Fungsi Tarian ini menggambarkan usaha untuk mengusir monyet (bodat) yang merusak tanaman di ladang atau kebun masyarakat Simalungun. Tarian ini dilakukan untuk melindungi hasil panen dan menunjukkan ketekunan dalam menjaga tanaman. 3. Gerakan Gerakan dalam tarian ini mencerminkan aktivitas mengusir monyet dari ladang. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan ritmis dan dinamis, mencerminkan semangat dan keberanian masyarakat dalam menghadapi ancaman terhadap tanaman mereka. 7. Tor-Tor Usihan Makkail 1. Makna dan Fungsi Tarian ini menggambarkan usaha untuk mengusir hama yang merusak tanaman, seperti tikus atau serangga. Tarian ini mencerminkan kepedulian dan ketekunan masyarakat Simalungun dalam menjaga hasil pertanian mereka. 2. Gerakan Gerakan dalam tarian ini mencerminkan aktivitas mengusir hama dari tanaman. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan ritmis dan penuh semangat, mencerminkan usaha keras dalam melindungi hasil panen. 8. Tor-Tor Ilah Mardogei


34 Tor-tor Ilah Mardogei adalah tarian yang menggambarkan rasa suka cita. Tor-tor Ilah Mardogei menceritakan tentang kegiatan masyarakat Simalungun pada saat musim panen. Masyarakat Simalungun melakukan pekerjaan tersebut dilakukan secara bergotong- royong. 1. Makna dan Fungsi Tarian ini adalah salah satu tarian yang menggambarkan rasa syukur dan doa kepada Tuhan atas berkah yang diberikan. Tarian ini biasanya dipentaskan dalam upacara adat atau acara keagamaan. 2. Gerakan Gerakan dalam tarian ini lembut dan anggun, mencerminkan rasa syukur dan penghormatan kepada Tuhan. Gerakan tangan dan kaki dilakukan dengan luwes dan penuh kehormatan, menciptakan suasana yang khidmat dan sakral. 6. PAKAIAN ADAT SIMALUNGUN 1. Hiou Atau Ulos Simalungun merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Selain itu, Simalungun juga merujuk kepada suku bangsa dan bahasa yang mendiami wilayah tersebut. Simalungun yang mempunyai akar kata “lungun” yang artinya “kesepian”. Nama tersebut diberikan karena jumlah penduduknya yang sangat sedikit dan letaknya yang sangat berjauhan satu sama lain. Sebagai salah satu suku, Batak Simalungun mempunyai keunikan budaya dibandingkan suku lain yang ada di wilayah Sumatera Utara Sama halnya dengan etnis atau suku lain,Etnis ini juga menghasilkan karya sebagai bukti eksistensi organisasi masyarakatnya. Hal paling umum dalam hasil suatu cipta karya dari sebuah etnis adalah tekstil tradisionalnya. Tekstil tradisional menciptakan hubungan fisik dengan suatu daerah yang memiliki karakteristik dan ornamen unik, serta memiliki nilai budaya yang signifikan bagi pemiliknya. Keberlanjutan warisan budaya kita tercermin dalam keberadaan tekstil adat yang tetap eksis hingga sekarang hasil dari kegiatan bertenun. Bertenun merupakan kegiatan rutinitas masyarakat Batak. Salah satu contoh daripada hasil tenun adalah kain adat Simalungun yang dikenal sebagai Hiou. Kain Hiou tidak hanya merupakan souvenir khas Simalungun, tetapi juga hadiah lokal yang memiliki pengakuan dalam tradisi lama negara tersebut. Kelangsungan kebijaksanaan lokal tercermin dalam nilai-nilai berbeda yang terkait dengan struktur sosial masyarakat. Budaya Batak Simalungun di Indonesia dikenal dengan kekayaan ritualnya. Dalam segala jenis upacara, warga desa menggunakan kain yang disebut Hiou. Hiou Simalungun memiliki makna ikatan kasih sayang antara individu satu dengan yang lainnya. Pada awalnya, Hiou digunakan untuk menjaga tubuh tetap hangat, namun seiring berjalannya waktu, fungsi kain ini berkembang dan digunakan untuk keperluan lain dalam kehidupan suku Simalungun. Hiou dan kehidupan masyarakat Simalungun saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Setiap lelucon dalam budaya ini memiliki


35 makna tersendiri, dan setiap lelucon memiliki fungsinya sendiri. Praktik penggunaan Hiou sudah ada sejak lama, bahkan sebelum kain Hiou menjadi salah satu simbol tradisional etnis ini, hingga mengukuhkan eksistensinya hingga sekarang. Kain ini tidak hanya berfungsi sebagai pakaian, hiou juga dipakai dalam berbagai ritual adat yang melibatkan berbagai peristiwa kehidupan, termasuk saat kelahiran, kematian, pernikahan, dan momen penting lainnya. Mengenakan Hiou Simalungun menjadi bagian integral dari kehidupan dan identitas masyarakat setempat. Hiou adalah sejenis pakaian seni yang terbuat dari potongan kain khas Batak, memiliki corak dan dimensi tertentu, dan berfungsi sebagai perlindungan bagi tubuh. Hiou mulai dikenal bersamaan dengan masuknya alat tenun ke Indonesia dari Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa sebelum adanya alat tenun, masyarakat Batak belum mengenal Hiou. Akibatnya, tidak terdapat tradisi memberi dan menerima Hiou (manghioui) seperti yang umumnya dilakukan dalam acara adat masyarakat Batak. Nama Hiou Batak merujuk pada ukuran dan besaran Hiou, serta teknik pembuatan dan pengecatan hiasan pada Hiou, seperti Ragi Idup, Ragi Sapot, Ragi Panei, Si Ipput Ni Hirik, yang mirip dengan Ragi Panei, Batu Jaring, Mangiring Hiou Kecil untuk balita, Sitoluntuho Hiou dengan tiga baris, Hatirongga, Tampunei, Tapak Satur, Bulang, yang khusus digunakan oleh ibu-ibu dalam acara adat. Suri-suri hadang-hadangan, Ragi Hotang, Simangkat-angkat, yang serupa dengan Suri-suri yang dikenakan oleh pria beristri dalam acara kematian Saholat. Hiou, sebuah selendang khas Batak yang merupakan simbol dari hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak, serta antarindividu. sebagaimana tercermin dalam filosofi Batak. Meskipun awalnya difungsikan untuk memberikan kehangatan tubuh, kini Hiou memiliki fungsi simbolik yang melibatkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Batak. Hiou merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari masyarakat Batak. Setiap Hiou memiliki signifikansi tersendiri, meliputi karakteristik, situasi, peran, dan keterkaitannya dengan objek atau produk khusus. Istilah "Manghioui" telah menjadi lazim di kalangan masyarakat Batak. Dalam konteks tradisional Batak, ketika memberikan Hiou, tindakan "Manghioui" mencerminkan kasih sayang yang melimpah


36 terhadap si penerima Hiou. Menurut keyakinan masyarakat Batak, jiwa Tondi juga perlu dilindungi untuk memastikan bahwa laki-laki yang memiliki jiwa yang lebih kuat dapat memiliki sifat kejantanan dan kepahlawanan. Umumnya, orang tua memberikan Hiou dan Boru Tondong kepada anak mereka. Dalam praktik manghioui, terdapat aturan yang harus diikuti, yaitu seseorang hanya dapat manghioui mereka yang memiliki ikatan kekerabatan di bawahnya. Sebagai contoh, orang tua dapat manghioui anak mereka, namun anak tidak diperkenankan untuk manghioui orang tua mereka. Nenek moyang suku Batak mendiami wilayah pegunungan, di mana kebiasaan mereka bekerja di lapangan memaksa mereka untuk beradaptasi dengan suhu dingin. Oleh karena itu, ulos diciptakan untuk berfungsi sebagai selimut yang memberikan kehangatan dan melindungi tubuh dari hawa dingin. Menurut leluhur suku Batak, ada tiga sumber panas utama yaitu: matahari, api, dan ulos. Pada awalnya, ulos digunakan sebagai penghangat tubuh yang sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu, ulos ini mendapatkan makna yang signifikan setelah sering dikenakan oleh para tetua adat. Akhirnya, ulos menjadi simbol tradisional bagi suku Batak, menjadi bagian integral dari kehidupan mereka yang sulit untuk dipisahkan. Menurut kepercayaan etnis ini, sinar matahari tidak cukup untuk mengatasi hawa dingin, sehingga ulos menjadi salah satu sumber panas bersama dengan sinar matahari dan api. Seiring berlalunya waktu, ulos tidak lagi hanya berfungsi sebagai pakaian sederhana untuk menjaga tubuh tetap hangat. Lebih dari itu, ulos menjadi simbol dari Hubungan kasih sayang antara orang tua dan anak, serta antara individu satu dengan yang lain sesuai dengan filosofi Batak yang dikenal sebagai "ijuk pengihot ni hodong" dan "ulos penghit ni halong," berarti ijuk yang menghubungkan pelepah dengan batang dan ulos yang menghubungkan cinta antar manusia. Sejalan dengan hukum alam, proses panjang melibatkan ulos Sebelum akhirnya menjadi salah satu lambang tradisional suku Batak seperti yang kita kenal sekarang ini. Berbeda dengan ulos yang dianggap keramat, pada zaman dahulu ulos bahkan digunakan sebagai Selimut atau tempat tidur yang digunakan oleh leluhur suku Batak. Meskipun demikian, Ulos yang digunakan oleh mereka memiliki mutu yang lebih unggul, lebih berat, bersifat lembut, dan menampilkan desain yang sangat seni. Setelah semakin dikenal lebih luas, ulos semakin diminati, tidak lain karena kepraktisannya. Berbeda dengan matahari yang terkadang terik dan terkadang tersembunyi, seperti api yang bisa menimbulkan bencana, ulos dapat dibawa ke berbagai tempat. Seiring berjalannya waktu, ulos menjadi kebutuhan utama, karena dapat digunakan sebagai busana yang cantik dengan pola-pola menarik. Selain itu, makna ulos semakin diperkuat ketika dipakai oleh tetua adat dan kepala desa dalam acara adat resmi. Terutama, adat para leluhur suku Batak yang selalu memilih ulos sebagai hadiah atau pemberian kepada orangorang yang dicintai. Dalam ritus mangulosi, terdapat beberapa aturan yang harus dipatuhi, di antaranya adalah bahwa seseorang hanya diperbolehkan memberikan ulos kepada mereka yang berada di bawahnya. menurut tutur atau silsilah keturunan. Sebagai contoh, orang tua bisa memberikan ulos kepada anak-anak mereka. tetapi anak tidak diperbolehkan memberikan ulos kepada orang tua. Selain itu, jenis ulos yang diberikan harus sesuai dengan norma adat. Hal ini karena setiap variasi ulos memiliki signifikansi tersendiri, termasuk situasi kapan, kepada siapa, dan dalam konteks upacara adat apa


37 ulos tersebut digunakan, sehingga fungsi-fungsinya tidak dapat dipertukarkan. Secara evolusioner, ulos juga diberikan kepada individu yang bukan berasal dari suku Batak. Tindakan memberikan ulos ini bisa diinterpretasikan sebagai ekspresi penghargaan dan cinta kepada orang yang menerima ulos. Sebagai contoh, saat memberikan ulos kepada petinggi negara, ini selalu diiringi oleh doa dan harapan supaya dalam menjalankan tanggung jawabnya, mereka senantiasa diberkahi dengan kehangatan dan kasih sayang dalam memimpin rakyat dan rekan kerja mereka. 1. Fungsi Hiou dalam Aspek Kehidupan Sehari-hari Masyarakat Pada awalnya fungsi hiou hanya digunakan sebagai pakaian untuk menghangatkan badan. Namun, seiring berkembangnya zaman dan peradaban, kain hiou hingga saat ini memiliki fungsi untuk hal lain yang berpengaruh pada aspek kehidupan masyarakat Simalungun. Masing-masing hiou mempunyai makna sendiri yang digunakan atau dipakai sesuai kondisi. Hiou biasanya digunakan untuk ritual kematian, pesta pernikahan, pemberian nama kepada anak atau cucu, pintu masuk rumah baru, dan kehamilan tujuh bulan. Hiou di Simalungun juga berfungsi untuk membedakan suhut bolon (tuan rumah) mana yang menjadi parboru (saudara perempuan dari orang yang mempunyai hubungan). Dengan memakai hiou tertentu seseorang dapat mengetahui bahwa di suatu daerah sedang terjadi musibah. Hiou sendiri dapat dibedakan melalui fungsinya, mulai dari fungsi sosial, fungsi budaya, dan fungsi ekonomi. Setiap jenis hiou digunakan untuk acara-acara tertentu, seperti upacara, ritual, atau sebagai bagian dari pakaian adat. Hiou mempunyai makna dan fungsi simbolis yang besar dan sering digunakan untuk menyampaikan pesan, seperti rasa hormat, kehormatan, atau perlindungan. 2. Fungsi Sosial Dalam aspek masyarakat sosial, hiou digunakan sebagai pakaian adat dan berfungsi sebagai identitas sosial pemakainya. Kain hiou juga dapat berfungsi sebagai penguat relasi sosial di kalangan masyarakat Simalungun. Di sisi lain, hiou juga dapat dijadikan sebagai cinderamata bagi tamu-tamu resi yang datang ke daerah Simalungun dalam rangka kunjungan kerja. 3. Fungsi Budaya Sebagai warisan budaya, tentunya hiou tidak dapat lepas dari fungsi budaya itu sendiri. Dalam masyarakat Simalungun, kain hiou dapat berfungsi sebagai doa, harapan, dan simbol dalam suatu upacara peringatan. Di setiap pemberian dan penerimaan kain tenun hiou dalam berbagai upacara adat terdapat makna budaya dan nilai filosofi Pada umumnya, fungsi budaya hiou tidak lepas dari acara adat baik ketika pernikahan maupun kematian. Ketika pemberkatan pernikahan, terdapat pelaksanaan pemberian kain hiou dari pihak kerabat pemberi anak gadis kepada pihak kerabat penerima anak gadis. Hiou yang diberikan pun terdiri dari berbagai jenis dengan makna yang berbeda. Selain itu, adat pemberian


38 kain hiou juga dilakukan pada saat upacara kematian orang tua. Tentunya pemberian itu diiringi dengan doa dan harapan kepada penerimanya. 4. Fungsi Ekonomi Selain digunakan sebagai busana harian dan busana adat, kain tenun hiou juga memiliki fungsi ekonomi. Jika dikembangkan sebagai ekonomi kreatif, kain tenun juga merupakan industri yang potensial Dilihat lebih jauh, kerajinan tenun dapat memiliki nilai jual yang tinggi apabila ditekuni dengan sungguh-sungguh. Kain tenun yang dijual dapat berupa pakaian, maupun dalam bentuk kerajinan lain seperti dompet, topi, tas, dan lain-lain. mengingat potensi yang ada, eksistensi kain ini akan semakin kukuh apabila kain ini mampu menembus pasar nasional dan internasional. 2. Baju Wanita Baju wanita suku Simalungun disebut dengan “Tumang”. Pakaian ini mempunyai lengan panjang dengan hiasan bordir yang indah dan banyak. Bordiran ini sebagai simbol keindahan alam, budaya, dan mitos suku Simalungun. Baju tumang sering digunakan bersama dengan selendang ulos. 3. Baju Pria Baju pria suku Simalungun disebut dengan kutang. Kutang merupakan baju yang panjang dengan warnanya identik dengan hitam. Baju kutang mempunyai hiasan bordir indah mengelilingi bagian pinggang dan lengannya. Hiasan ini sebagai simbol status sosial seseorang. Penggunaan baju kutang pada pria banyak dipadukan dengan sarung.


39 4. Perhiasan Perhiasan menjadi bagian penting dalam pakaian adat suku Simalungun. Perhiasan digunakan oleh wanita sebagai simbol status sosial, kekayaan, serta keindahan. Biasanya perhiasan yang digunakan adalah kalung, anting-anting, cincin, dan gelang. Suku Simalungun banyak menggunakan perhiasan baik dari emas maupun perak.


40 7. RUMAH ADAT SIMALUNGUN Rumah Adat Simalungun dinamai Rumah Bolon yang memiliki atap berbentuk limas. Rumah ini dapat ditemukan di Simalungun dan Pematang Siantar. Rumah Bolon memiliki arsitektur berupa rumah panggung yang dibangun dari kayu dengan kolong setinggi dua meter. Rumah adat ini memiliki makna filosofis tertentu pada bagian-bagiannya. Rumah Adat Bolon Simalungun yaitu istana peninggalan kerajaan purba. Dibangun pada tahun 1864 oleh raja purba XII Tuan Rahalim, seorang raja yang pernah Berjaya di Simalungun pada pertengahan abad ke-19 di. Rumah Adat Bolon Simalungun berada di desa Pematang Purba kabupaten Simalungun Sumatra Utara. Lokasinya sekitar 200meter dari jalan umum. Rumah Bolon Adat Bolon Simalungun dekelilingi oleh beberapa bangunan disekitarnya seperti rumah pengawal, rumah pembantu, dan rumah-rumah pengikut atau prajurit Raja, pada tahun 1961 Rumah Bolon Purba di tetapkan sebagai objek wisata oleh bupati simalungun yang dikelola Yayasan Museum Simalungun dan disahkan oleh notaris pada 7 juni 1966. Rumah Adat Batak Simalungun memiliki arsitektur yang unik, berbentuk rumahpanggung dan dibangun menggunakanbahan-bahan bangunan yang terdiri dari kayudengan tiang-tiang yang besar dan kokoh.Dindingnya dari papan atau tepas.Lantainya juga dari papan, sedangkan atapnya terbuatdari ijuk atau daun rumbia. Rumah adat ini juga tidak menggunakan paku, tapi diikat kuatdengan menggunakan tali.Rumah Adat BatakSimalungun memiliki kolong yang tingginyasekitar dua meter. Kolong tersebut biasanyadipergunakan untuk memelihara hewan,seperti babi, ayam, dan sebagainya. 7.1 Bagunan Fisik Rumah Bolon Adat Simalungun memiliki bentuk persegi empat, mempunyai model seperti Rumah Panggung, tinggi dari tanah sekitar 1,75 meter.Bentuk Rumah Adat Bolon Simalungun dengan rumah adat yang lainnya pada hakekatnya serupa, namun terdapat beberapa perbedaan.Demikian juga dengan bentuk bangunan pada masa kini yang membangun rumah dengan bentuk tradisional namun dengan bahan material modern seperti penggunaan paku dan seng atau super dex untuk atap. Hal ini disebabkan arsitektur tradisional sudah mulai langka serta kurangnya literatur tentang arsitektur tradisional Simalungun. Adapun bentuk dari bangunan Rumah Adat Bolon Simalungun adalah sebagai berikut:


41 7.2 Bagian-Bagian Bangunan Bangunan adalah wujud Fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat tempat kedudukan baik yang diatas, ataupun dibawah tanah dan air. Bangunan biasanya dikonotasikan dengan rumah, gedung, ataupun segala sarana prasarana dalam kebudayaan atau kehidupan manusia dalam membangun peradabannya.Suatu benda dapat dikatakan sebagai bangunan bila benda tersebut merupakan hasil karya orang dengan tujuan untuk kepentingan tertentu. Benda tersebut tidak dapat dipindahkan kecuali dengan cara membongkar. Adapun bagian-bagian bangunan Rumah Adat Bolon Simalungun adalah Sebagai berikut: • Palas Pondasi daripada rumah yang akan dibangun.Bahan pondasi pada jaman dahulu terbuat dari batu gunung, kayu keras, pakis besar(batang tanggiang). Bentuk dari pondasi ini dipahat berbentuk trapesium untuk bahan batu, sedangkan bahan batang kayu berbentuk silinder. Antara Pondasi dengan galang bangunan dibuat pemisah yang terbuat dari ijuk agar tidak mudah busuk dan rusak. • Halang Galang rumah yang terbuat dari kayu bulat kuat dan keras dibentuk sisinya.Jumlah sisi galang kayu tidak sama disesuaikan dengan besar kayu pada umumnya. Sisinya dibentuk dengan bilangan genap. Pembuatan sisi kayu balok dengan menggunakan alat yang dianamakan Baliung. Galang pertama atau galang paling bawah bangunan dipasng diatas palas atau pondasi batu atau kayu, kemudian galang kedua ditempatkan diatas galang pertama. Pada saat menempatkan galang ini diperhatikan pangkal dari kayu harus menghadap ketimur dan ujungnya menghadap kebarat.


42 • Hulissir Hulissir atau tiang Rumah adat Bolon Simalungun terbuat dari batang kayu yang kuat dan keras. Tiang ini dibentuk bersisi supaya lebih rapi dan pada pangkal atau ujung dibuat pasi atau biasa disebut pen untuk mengikat galang dan pondasi pada tiang. • Dasor Dasor atau lantai Rumah Adat Bolon Simalungun terbuat dari bilahan-bilahan papan yang kuat. Dipasang diatas galang-galang sejajar dengan lebar bangunan. Disususn dengan rapi tanpa menggunakan paku atau perekat lainnya. • Tayub Tayub atau atap Rumah Adat Bolon Simalungun terbuat dari rumbia disusun dengan teknik tradisional agar terlihat rapi. Sebelum pemasangan rumbia dilakukan ijuk dipilah-pilah terlebih dahulu melalui aturan teknik yaitu belahan ijuk sebelah kanan harus dipasang sebelah kanan, jika belahan ijuk sebelah kiri harus dipasang sebelah kiri. Jika pemasangan tidak menuruti teknik maka kerapian atap tidak dapat dimaksimalkan serta kemungkinan besar kebocoran atap akan terjadi.


43 • Andar Andar atau tangga Rumah Adat Bolon Simalungun terbuat dari kayu yang jaman dahulu dikatakan andar rassang untuk raja.Tangga ini berada tepat di pintu rumah karena orang yang masuk ke dalam Rumah Adat Bolon Simalungun harus melalui tangga. • Surambih Surambih atau serambi Rumah Adat Bolon Simalungun ada dua bagian yang dipisahkan oleh tangga masuk kedalam Rumah Adat Bolon Simalungun. Serambi ini berfungsi sebagai tempat istirahat raja disaat lagi bersantai.


44 7.3 Fungsi Dan Makna Rumah adat Simalungun, atau rumah bolon, memiliki makna dan fungsi yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat, kepercayaan, dan kosmologi. ➢ Makna dan fungsi sosial • Simbol identitas masyarakat Simalungun. • Tempat pertemuan keluarga besar. • Tempat tinggal. • Tempat upacara adat. • Melambangkan hubungan dengan Sang Pencipta. • Melambangkan kekuatan dan persatuan keluarga. • Mengajarkan sifat-sifat bermasyarakat seperti tolong-menolong, gotong royong, keramahtamahan, dan sikap taat terhadap norma atau aturan. ➢ Makna dan fungsi kepercayaan • Pada saat kepercayaan animisme masih dianut oleh suku bangsa Simalungun, urung manik berfungsi sebagai tempat roh orang yang menghuni rumah tersebut. • Ornamen-ornamen dalam rumah bolon diyakini mampu melindungi penghuni rumah tersebut dari niat jahat, roh jahat, dan nasib buruk. ➢ Makna dan fungsi kosmologi • Bentuk bangunan rumah bolon berhubungan dengan pandangan kosmologi suku Batak. • Lantai yang dibuat tinggi dari atas permukaan tanah memiliki hubungan dengan religi bahwa manusia mempunyai derajat tinggi dari hewan dan makhluk halus yang berada di dunia bawah. 8. MAKANAN KHAS SIMALUNGUN Simalungun merupakan salah satu daerah yang terdapat di provinsi Sumatera Utara yang mempunyai beberapa jenis kuliner tradisional yang masi ada hingga saat ini. Simalungun mempunyai beberapa kuliner tradisional. Namun, tidak semua kuliner tradisional tersebut merupakan kuliner adat. Dengan kata lain semua kuliner adat pasti merupakan kuliner tradisional. Akan tetapi, kuliner tradisional belum tentu kuliner adat. Berikut beberapa contoh kuliner adat simalungun : 1. Dayok Nabinatur Ayam merupakan hewan yang sangat istimewa dalam masyarakat simalungun. Hal itu disebabkan sebelum adanya jam sebagai penunjuk waktu, ayamlah yang membangunkan orang desa pada pagi hari agar mendapat rezeki. Ayam dijadikan sebagai simbol keteraturan. Oleh sebab itu ayam dijadikan symbol bagi suku simalungun. Dayok Na Binatur berasal dari dua kata, Dayok artinya ayam dan Na Binatur berarti disusun secara teratur. Dayok Na Binatur merupakan makanan yang dibuat dari daging ayam jantan dengan menggunakan resep khusus yang disebut dengan sikkam. Ayam dipilih menjadi makanan tradisional bagi masyarakat Simalungun disebabkan adanya beberapa sifat dan prinsip ayam yang pantas dijadikan contoh bagi kehidupan masyarakat simalungun. Hal yang sangat prinsip bagi masyarakat


45 simalungun ketika zaman raja-raja dahulu masih ada di Simalungun, pemasak Dayok Na Binatur ini haruslah laki-laki. Kaum wanita hanya untuk mempesiapkan bumbubumbunya saja, tetapi seiring perkembangan zaman siapa saja bisa memasak Dayok Na Binatur asal saja mengerti dan paham tentang proses pemasakan dan penyusunannya di dalam piring. 2. Ikan Mas Arsik Ikan Mas Arsik merupakan salah satu makanan tradisional yang ada pada masyarakat simalungun. Bumbu yang dipakai untuk memasak Ikan Mas Arsik ala simalungun adalah sebagian bumbunya sangatlah istimewa disebabkan ada kandungan bahan-bahannya yang khas seperti tuba(andaliman/itir-itir) dan asam cikala. Tuba merupakan bumbu masakan Khas Batak umumnya termasuk batak simalungun. 3. Nitak Merupakan makanan khas Simalungun yang berbahan dasar beras. Nitak dalam kamus bahasa Simalungun-Indonesia adalah tepung beras bercampur kelapa dan gula di tumbuk halus. Nitak di simalungun di beri nama nitak siang-siang/nitak gabur-gabur. Nitak ini disimbolkan sebagai harapan akan datangnya hal-hal yang baik bagi kehidupan dimasa yang akan datang.


46 4. Tinuktuk Tinuktuk juga dikenal sebagai siralada atau sambal ladanya etnik simalungun. Etimologi tinuktuk itu sendiri terdiri dari dua kata yaitu terdiri dari dua kata yaitu terdiri dari dua sisipan –in- yang berarti yang dan Tuktuk yang berarti batu giling. Tinuktuk berarti ramua yang dihaluskan dengan menggunakan batu giling yang digerakkan dengan tangan. Saat ini peroses penghalusannya dengan menggunakan lesung kayu, ada juga yang menggunakan blender tetapi hasil yang didapat kurang citarasanya. Tinuktuk juga merupakan sambal dan juga merupakan salah satu makanan bagi etnik Simalungun yang sejak dulu dikonsumsi. Tinuktuk memiliki rasa yang mengigit disebabkan bahan-bahannya terbuat dari jahe merah, kencur sehingga rasanya pedas dan panas sehingga menambah gairah nafsu makan. 5. Labar Bagi masyarakat Simalungun merupakan bahan makanan yang bahannya terbuat dari umbi-umbian terutama ubi kayu yang dicampur dengan daging. Dagingnya pun harus daging yang mempunyai tulang yang lunak atau garap-garap. Daging yang biasanya digunakan diambil dari pinggung ayam atau tanggurung, daging burung puyuh atau leto. Para nenek moyang dulu bahkan menggunakan daging tupai atau buyut dan daging kalelawar atau lingkaboh. Tetapi karena daging kalelawar dan daging tupai sukar dijumpai dipergunakanlah daging ayam.


47 6. Solur-solur Solur diartikan dengan direndam dengan air mendidih. Sama dengan labar, makanan Solur-solur juga bersahabat dengan para petani yang membuka ladangnya hingga beberapa hari tidak pulang ke kampung dikarenakan jarak dari kampung ke lahan yang akan dibuka sangat jauh. Mereka berdiam membuka perladangan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian maupun perladangan sampai beberapa hari sehingga bekal yang dibawa dari rumah habis. Solur-solur merupakan makanan yang terbuat dari ubi kayu yang dilumuri dengan gula merah. Untuk mencukupi kebutuhan protein mereka yang membuka lahan perladangan tadi mereka mencoba mengolah ubi kayu yang banyak tumbuh disekitar perladangan. Bahan untuk membuat Solur-solur cukup sederhana dan sangat banyak terdapat disekitar perladangan yang akan mereka buka, seperti gula aren yang terbuat dari aren (bagod). 7. Na Ni Randu Na Ni Randu merupakan sayuran dan makanan khas Simalungun yang sudah sangat jarang di jumpai bahkan ditinggalkan oleh masyarakat Simalungun dikarenakan proses dan bahan-bahan pembuatannya sangat banyak. Padahal makanan ini sangat lezat dan menyehatkan serta banyak mengandung vitamin dan protein karena terdapat beragam sayuran yang ada di dalam masakan Na Ni Randu tadi.


48 8. Sibak (buah durian yang terlalu masak diasamkan). Sibak merupakan sambal kuliner simalungun. Sibak adalah makanan yang bahannya sudah difermentasi. Bahan yang sudah difermentasi adalah durian. Bagi sebagian orang, Sibak merupakan makanan yang jarang dijumpai dan banyak juga yang belum mengetahui makanan olahan yang berbahan dasar durian yang difermentasikan ini. Sibak merupakan makanan yang jarang di jumpai dan banyak juga yang belum mengetahui makanan olahan yang berbahan dasar durian yang difermentasikan ini. Sibak merupakan makanan yang biasanya dijadikan sebagai lauk atau sambal saat menyantap nasi. Sibak dapat dimakan secara langsung tetapi hal ini jarang dilakukan karena banyak yang tidak tahan dengan rasa asam dan aroma yang menyengat dari Sibak itu sendiri. Rasa asam dari Sibak itu terjadi karena adanya proses fermentasi pada daging buah durian yang menjadi bahan bakunya. Durian yang dipilih juga harus masak sempurna karena jika menggunakan durian yang belum masak akan mengakibatkan tekstur Sibak menjadi keras. Sedangankan Sibak yang bagus memiliki tekstur yang kental dan sedikit becek. 9. Sasagun Sasagun merupakan makanan tradisional Simalungun. Sasagun menjadi pengganti nasi yang siap dimakan kapan saja dan dimana saja. Di masa lalu, Sasagun juga dijadikan bekal perjalanan wajib bagi orang Batak yang merantau. Maklum untuk merantau ke Jakarta, misalnya dibutuhkan eaktu hingga berharihari. Baik dengan bus maupun kapal laut. Selama dalam perjalanan, Sasagun itulah yang dimakan. Sasagun itu bisa sampai berbulan-bulan umurnya. Kapan lapar bisa langsung dimakan dan tidak perlu diolah lagi. Sasagun juga dijadikan pembekalan oleh para pejuang zaman dahuli


49 jika memasuki hutan selama berhari-hari. Sasagun dijadikan sebagai pengganti nasi yang dimakan cukup hanya dicampur gula pasir atau garam dan biasanya jika dimakan beberapa sendok perut sudah berisi dan bertenaga kembali. 10.Namalum Namalum adalah simbol penghormatan, terutama terhadap orang tua. Namalum umumnya diperoleh dari daging babi dan namalum ini diberikan kepada orang tua. Hal ini melambangkan permohonan doa kepada Tuhan untuk memberikan kesehatan kepada orang tua yang menerima namalum ini. Secara tidak langsung, namalum adalah simbol kesehatan, sehingga diberikan untuk kesehatan, umur panjang dan keturunan. Namalum diambil dari leher babi dan kemudian dipotong setipis mungkin, sesuai dengan lingkaran leher babi, yang dapat dipotong menjadi beberapa bagian sesuai kebutuhan. 11.Dekke Na Sinorbuhon Dulu, sekitar 40/50 tahun yang lalu, ketika sawah-sawah kami di Malungun Atas masih ditanami, orang tua kami biasa membawa pulang ikan ke rumah. Dan ketika kami memiliki banyak makanan, kami memasak banyak ikan. Karena ikannya banyak, agar ikan tidak terbuang percuma karena basi, maka dibuatlah bumbu sorbuk yang bisa digunakan sebagai pengawet, itulah sebabnya disebut dekke sonorbuhon. Jika Anda membumbui ikan dengan sorbuk, ikan akan lebih awet dan tidak mudah busuk. Jadi kami tidak menyianyiakan ikan yang kami dapatkan dari sawah. Ini adalah alternatif, karena di masa lalu tidak ada lemari es atau alat pengawet ikan lainnya.


50 12.Obbut Adalah hidangan tradisional baru. Umumnya, ini sangat membantu para pembuat pesta akhir-akhir ini, baik untuk pesta kecil maupun besar untuk membuat lauk pauk untuk acara pesta. Bahan-bahannya mudah didapat, dan rasanya juga tidak terlalu berbeda dengan rasa daging, sangat lezat. Jadi layak untuk disajikan di pesta. Selain mudah didapat, murah, obut ini melambangkan penghematan dan hemat, serta bebas pestisida karena bahanbahannya masih tradisional. Agar lebih nikmat, kita bisa menambahkan sedikit daging babi jika ada. Obbut sendiri terbuat dari batang pisang, jantung pisang, ubi, kincung dan rempah-rempah.


Click to View FlipBook Version