Koneksi Antar Materi Modul 1.4
Made Suitarni (CGP Angkatan 7)
Tidak terasa pendidikan calon guru penggerak angkatan 7 sudah sampai pada modul
1.4. Dalam modul ini calon guru penggerak dituntun untuk mampu berperan dalam
menciptakan budaya positif di sekolah.
Setelah mempelajari modul 1.4 baik secara mandiri, maupun melalui bimbingan dari
fasilitator dan juga instruktur, saya dapat menyimpulkan peran saya dalam menciptakan
budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep inti pada modul 1.4, adalah sebagai
berikut;
Sebagai calon guru penggerak saya berupaya menerapkan disiplin positif dengan
menanamkan motivasi yang ketiga kepada murid-murid saya. Motivasi yang dimaksud adalah
motivasi untuk menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Ketika murid
saya telah memiliki motivasi ini, artinya mereka telah memiliki motivasi intrinsik yang tidak
akan terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Murid akan tetap berperilaku baik dan
berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang yang menjunjung tinggi
nilai-nilai yang mereka hargai, atau mencapai suatu tujuan mulia.
Dalam memotivasi perilaku murid saya lebih cendrung menggunakan pendekatan
restitusi. Dalam pendekatan ini saya selalu berupaya menanggapi murid dengan mengajak
mereka berefleksi tentang apa yang dapat mereka lakukan untuk memperbaiki kesalahan
mereka sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dan menghargai dirinya. Saya berusaha
untuk menghindarkan diri pada posisi kontrol sebagai penghukum, karena hukuman
menciptakan identitas gagal yang dapat berdampak negatif pada diri murid. Sehingga
hukuman bagi saya hanya akan digunakan sebagai salah satu alternatif terakhir dan bila perlu
tidak digunakan sama sekali.
Saya sadar bahwasanya setiap tindakan yang dilakukan murid pastilah didasari oleh
tujuan. Maka sebagai guru saya harus tahu apa sebenarnya tujuan murid melakukan
kesalahan atau pelanggaran. Bisa karena murid ingin memenuhi kebutuhan bertahan
hidupnya, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan penguasaan, kebutuhan akan kebebasan,
juga kebutuhan akan kesenangan. Saya tidak boleh terburu-buru menjudge murid pada posisi
yang salah, dan menghukum mereka tapi saya perlu mengetahui terlebih dulu kebutuhan
mana yang ingin mereka penuhi.
Setelah mempelajari modul 1.4 saya menjadi paham jika posisi penghukum kurang
efektif diterapkan pada saat ini. Guru bisa memilih posisi kontrol dalam mendisiplinkan murid
selain menghukum, seperti sebagai teman, membuat rasa bersalah, pemantau dan manajer.
Dalam hal ini posisi yang menurut saya paling ideal untuk diterapkan adalah posisi diri sebagai
manajer. Posisi sebagai manajer disini bukan untuk mengatur perilaku murid, tetapi lebih
pada memberikan kesempatan kepada murid untuk mempertanggungjawabkan perilakunya,
mendukung agar murid menemukan solusi atas permasalahannya sendiri sehingga
menjadikan mereka sebagai pribadi yang mandiri, merdeka, bertanggung jawab.
Untuk menciptakan disiplin positif, maka peran saya sebagai manajer adalah dengan
selalu berupaya menyelesaikan permasalahan yang dialami murid melalui pendekatan
segitiga restitusi dengan tahapan menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, dan
menanyakan keyakinan. Untuk dapat menerapkan segitiga restitusi ini sangat diperlukan
adanya keyakinan kelas/sekolah. Keyakinan kelas/sekolah memiliki peran yang sangat
penting sebagai pondasi dan arah tujuan sebuah sekolah/kelas, yang akan menjadi landasan
dalam memecahkan konflik atau permasalahan di dalam sebuah sekolah/kelas.
Mengingat keyakinan kelas ini merupakan hal baru bagi saya sehingga saat ini saya mulai
bergerak untuk mengajak murid untuk bersama-sama membuat keyakinan kelas/sekolah
melalui rancangan aksi nyata.
Adapun keterkaitan antara budaya positif dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi
Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak, serta Visi Guru
Penggerak adalah pada dasarnya budaya positif yang dikembangkan di sekolah akan
membantu dalam pencapaian visi sekolah impian. Guna mewujudkan visi sekolah impian,
peran guru di sekolah sangatlah penting. Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran
yang mendorong tumbuh kembang murid secara holistik, aktif dan proaktif dalam
mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pembelajaran yang berpusat
pada murid, serta menjadi teladan dan agen transpormasi ekosistem pendidikan untuk
mewujudkan profil pelajar Pancasila.
Refleksi pemahaman saya terhadap keseluruhan materi modul 1.4
1. a. Disiplin Positif
Setelah mempelajari materi ini, saya menjadi paham makna disiplin positif dan
penerapannya di lingkungan dan menentukan nilai-nilai kebajikan yang akan diyakini
dan disepakati seluruh warga sekolah, sehingga kelak tercipta sebuah budaya positif.
➢ Disiplin memiliki makna yang sangat kompleks, ada yang menghubungkan kata
disiplin dengan tata tertib, kepatuhan serta kepatuhan pada peraturan. Ada pula
yang menghubungkan disiplin dengan hukuman. Ki Hajar Dewantara menyatakan
bahwa untuk mencapai kemerdekaan atau dalam konteks pendidikan kita saat ini,
untuk menciptakan murid yang merdeka, syarat utamanya adalah harus ada
disiplin yang kuat. Disiplin yang dimaksud adalah disiplin diri, yang memiliki
motivasi internal. Beliau juga berpendapat jika sesorang yang memiliki disiplin diri
berarti mereka bisa bertanggungjawab terhadap apa yang dilakukannya karena
mereka mendasarkan tindakan mereka pada nilai-nilai kebajikan universal.
Sebagai pendidik, tujuan kita adalah menciptakan murid yang memiliki disiplin diri
sehingga mereka bisa berperilaku dengan mengacu pada nilai-nilai kebajikan
universal dan memiliki motivasi intrinsik, bukan ekstrinsik.
b. Teori Kontrol
Setelah mempelajari materi ini saya memahami makna “kontrol” dari paparan teori
kontrol Dr. Wiliam Glaser serta miskonsepsi yang terjadi di kehidupan sehari-hari,
serta memahami perubahan pardigma stimulus respon kepada teori kontrol.
➢ dari paparan teori kontrol Dr. Wiliam Glaser, beberapa miskonsepsi tentang makna
“kontrol” diantaranya Ilusi guru mengontrol murid, ilusi bahwa semua penguatan
positif efektif dan bermanfaat, ilusi bahwa kritik dan membuat orang merasa
bersalah dapat menguatkan karakter, ilusi bahwa orang dewasa memiliki hak untuk
memaksa.
➢ Bagaimana seseorang bisa berubah dari paradigma Stimulus-Respon kepada
pendekatan teori Kontrol
Stimulus Respon Teori Kontrol
Realitas (kebutuhan) kita sama Realitas (kebutuhan) kita berbeda
Semua orang melihat yang sama Setiap orang memiliki gambaran yang
berbeda
Kita mencoba mengubah orang agar Kita berusaha memahami pandangan
berpandangan sama dengan kita orang lain tentang dunia
Perilaku buruk dilihat sebagai suatu Semua perilaku memiliki tujuan
kesalahan
Orang lain bisa mengontrol saya Hanya saya yang bisa mengontrol diri
saya
Saya bisa mengontrol orang lain Saya tidak bisa mengontrol orang lain
Pemaksaan ada pada saat bujukan gagal Kolaborasi dan konsensus menciptakan
pilihan-pilihan baru
Model berpikir Menang /Kalah Model berpikir Menang-Menang
c. Teori Motivasi
Setelah mempelajari materi ini saya memahami terkait teori motivasi
➢ Tokoh Diana Gossen, menyatakan ada tiga motivasi perilaku manusia diantaranya
(1). Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman. Orang yang memiliki
motivasi ini dalam dirinya diliputii oleh pertanyaan apa yang akan terjadi apabila
tidak melakukannya?. (2) Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari
orang lain. Orang dengan motivasi ini akan bertanya, apa yang akan saya dapatkan
apabila melakukannya?. (3) Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan
menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Orang dengan
motivasi ini akan bertanya, akan menjadi orang yang seperti apa apabila saya
melakukannya?. Sebagai calon guru penggerak, kita diharapkan untuk mampu
menanamkan motivasi yang ketiga tersebut kepada murid-murid di sekolah.
Ketika murid kita telah memiliki motivasi tersebut, artinya mereka telah memiliki
motivasi intrinsik yang berdampak jangka panjang, motivasi yang tidak akan
terpengaruh pada adanya hukuman atau hadiah. Mereka akan tetap berperilaku
baik dan berlandaskan nilai-nilai kebajikan karena mereka ingin menjadi orang
yang menjunjung tinggi nilai-nilai yang mereka hargai, atau mencapai suatu
tujuan mulia.
d. Hukuman dan Penghargaan
yang saya pahami bahwa hukuman itu sifatnya tidak terencana atau tiba-tiba. Murid
tidak tahu apa yang akan terjadi, dan tidak dilibatkan. Hukuman bersifat satu arah,
dari pihak guru yang memberikan, dan murid hanya menerima suatu hukuman tanpa
melalui suatu kesepakatan, atau pengarahan dari pihak guru, baik sebelum atau
sesudahnya. Hukuman yang diberikan bisa berupa fisik maupun psikis, murid disakiti
oleh suatu perbuatan atau kata-kata.
Sedangkan penghargaan merupakan sesuatu yang diberikan jika seseorang melakukan
sesuatu.
Alfie Kohn mengemukakan bahwa baik hukuman dan penghargaan, adalah cara-cara
mengontrol perilaku seseorang yang menghancurkan potensi untuk pembelajaran
yang sesungguhnya. Beliau juga menambahkan jika memberikan penghargaan
nilaianya dianggap sama dengan menghukum seseorang.
Hukuman hanya akan melahirkan identitas gagal yang akan berdampak jangka
panjang bagi murid, murid yang sering dihukum akan memendam kesal, benci bahkan
dendam kepada gurunya, yang selanjutnya murid akan berusaha melampiaskan
perasaannya dengan cara-cara yang negatif. Sedangkan Penghargaan dianggap tidak
efektif, merusak hubungan, mengurangi ketepatan, menurunkan kualitas, mematikan
kreativitas, dan bersifat menghukum. Sehingga untuk menciptakan disiplin positif
yang efektif dilakukan dengan sebuah pendekatan yang disebut Restitusi.
e. Posisi Kontrol Guru
yang saya pahami adalah bahwa terdapat lima posisi kontrol untuk menciptakan
disiplin positif yang berpusat pada murid. Lima posisi kontrol tersebut meliputi
1) Penghukum, Seorang penghukum bisa menggunakan hukuman fisik maupun
verbal. Orang-orang yang menjalankan posisi penghukum, senantiasa mengatakan
bahwa sekolah memerlukan sistem atau alat yang dapat lebih menekan murid-
murid lebih dalam lagi.
2) Pembuat merasa bersalah, pada posisi ini biasanya guru akan bersuara lebih
lembut. Pembuat rasa bersalah akan menggunakan keheningan yang membuat
orang lain merasa tidak nyaman, bersalah, atau rendah diri.
3) Teman, uru pada posisi ini tidak akan menyakiti murid, namun akan tetap berupaya
mengontrol murid melalui persuasi. Posisi teman pada guru bisa negatif ataupun
positif. Positif di sini berupa hubungan baik yang terjalin antara guru dan murid.
Guru di posisi teman menggunakan hubungan baik dan humor untuk
mempengaruhi seseorang
4) Pemantau, Memantau berarti mengawasi. Pada saat kita mengawasi, kita
bertanggung jawab atas perilaku orang-orang yang kita awasi. Posisi pemantau
berdasarkan pada peraturan-peraturan dan konsekuensi. Dengan menggunakan
sanksi/konsekuensi, kita dapat memisahkan hubungan pribadi kita dengan murid,
sebagai seseorang yang menjalankan posisi pemantau
5) Manajer, adalah posisi di mana guru berbuat sesuatu bersama dengan murid,
mempersilakan murid mempertanggungjawabkan perilakunya, mendukung murid
agar dapat menemukan solusi atas permasalahannya sendiri.
f. Kebutuhan Dasar Manusia
Setelah mempelajari materi ini saya paham ada lima kebutuhan dasar yang menjadi
motif dari tindakan manusia baik murid maupun guru, dan dampak tidak terpenuhinya
kebutuhan dasar terhadap pelanggaran peraturan dan tindakan yang tidak sesuai
dengan nilai kebajikan.
➢ Kita percaya bahwa murid selalu memiliki ‘tujuan’ dibalik perilaku mereka.
Sehingga dalam menegakkan disiplin positif, guru harusnya mencari tahu terlebih
dahulu alasan murid melakukan tindakan tersebut agar mengetahui kebutuhan
mana dari lima kebutuhan yang sedang berusaha dipenuhi oleh murid.
➢ Ada lima kebutuhan dasar manusia diantaranya
1) Kebutuhan bertahan hidup
2) Kebutuhan kasih sayang dan rasa diterima
3) Kebutuhan akan penguasaan
4) Kebutuhan akan kebebasan
5) Kebutuhan akan kesenangan
g. Keyakinan Kelas
➢ Keyakinan merupakan nilai-nilai kebajikan universal yang disepakati secara tersirat
dan tersurat, lepas dari latar belakang suku, negara, bahasa maupun agama. Pada
dasarnya seseorang akan lebih bergerak dan bersemangat untuk menjalankan
keyakinannya, daripada hanya sekedar mengikuti serangkaian peraturan tertulis
tanpa makna.
➢ Peraturan-peraturan kelas saat ini telah beralih menjadi keyakinan kelas. Perbedaan
antara peraturan dengan keyakinan yang saya pahami adalah jika keyakinan bersifat
lebih abstrak dan senantiasa dibuat dalam bentuk positif
➢ Pembentukan keyakinan kelas/sekolah
a. Keyakinan kelas bersifat lebih “abstrak” daripada peratutan, yang lebih rinci dan
konkret
b. Keyakinan kelas berupa pernyataan-pernyataan universal
c. Pernyataan keyakinan kelas senantiasa dibuat dalam bentuk positif
d. Keyakinan kelas hendaknya tidak terlalu banyak, sehingga mudah diingat dan
dipahami oleh seluruh warga sekolah
e. Keyakinan kelas sebaikna sesuatu yang dapat diterapkan di lingkungan tersebut
f. Semua warga kelas hendaknya ikut berkontribusi dalam pembuatan keyakinan
g. Bersedia meninjau kembali keyakinan kelas dari waktu ke waktu.
h. Segitiga Restitusi
Yang saya pahami adalah restitusi sebagai salah satu cara menanamkan disiplin positif
pada murid sebagai bagian dari budaya positif di sekolah, restitusi dalam membimbing
murid berdisiplin positif agar menjadi murid merdeka.
➢ restitusi dalam membimbing murid berdisiplin positif agar
menjadi murid merdeka adalah melalui segitiga restitusi
➢ Tahapan segitiga restitusi adalah
1) Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity).
Bagian dasar dari segitiga bertujuan untuk mengubah identitas anak dari orang
yang gagal karena melakukan kesalahan menjadi orang yang sukses. Anak yang
melanggar peraturan karena sedang mencari perhatian adalah anak yang
sedang mengalami kegagalan. Dia mencoba untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya namun ada benturan.
2) Validasi Tindakan yang Salah (Validate the Misbehavior)
Setiap tindakan yang dilakukan oleh murid selalu dilandasi dengan adanya
tujuan, yaitu memenuhi kebutuhan dasar. Kalau kita memahami kebutuhan
dasar apa yang mendasari sebuah tindakan, kita akan bisa menemukan cara-
cara paling efektif untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
3) Menanyakan Keyakinan (Seek the Belief)
Pada tahap ini apabila langkah 1 dan 2 telah terpenuhi, maka murid akan siap
untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dia percaya, dan berpindah menjadi
orang yang dia inginkan.
Hal-hal yang menarik untuk saya setelah mempelajari modul ini adalah, saya menjadi paham
bagaimana menciptakan disiplin positif di kelas/sekolah. Hal utama yang bisa saya lakukan
adalah dengan menumbuhkan motivasi intrinsik murid. Jika sebelumnya selalu memberikan
penghargaan berupa poin keaktifan ketika murid menjawab soal, tapi mulai sekarang saya
berupaya menanamkan pemahaman kepada murid agar menumbuhkan motivasi untuk
menjadi yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka
percaya, bukan karena takut hukuman ataupun karena keinginan akan penghargaan.
Sedangkan hal di luar dugaan yang saya rasakan adalah sebenarnya secara tidak langsung saya
telah menerapkan beberapa hal yang telah saya pelajari di materi modul 1.4. seperti misalnya
dalam menghadapi murid yang bersalah, saya telah berupaya mencari tahu terlebih dahulu
yang menjadi alasan mengapa murid melakukan hal salah (kebutuhan dasar manusia). Selain
itu tanpa saya sadari sebenarnya saya pernah/telah menerapkan segitiga restitusi dalam
mendisiplinkan murid di kelas/sekolah, hanya saja tidak mengetahui tentang teori restitusi itu
sebelumnya.
2. Perubahan yang terjadi pada cara berpikir saya dalam menciptakan budaya positif di
kelas maupun sekolah saya setelah mempelajari modul ini adalah
a. Disiplin Positif
Sebelumnya saya cendrung memaknai kata “disiplin” berkaitan dengan hukuman.
Setelah mempelajari modul ini cara pikir saya berubah bahwa berbicara mengenai
disiplin positif tidak harus dengan memberi hukuman, hukuman hanya dijadikan
sebagai alternatif terakhir dan bila perlu tidak digunakan sama sekali. Bahkan saya
berupaya agar murid senantiasa membangun motivasi intrinsiknya.
b. Teori Motivasi, Hukuman dan Penghargaan, Restitusi
Seperti yang telah dijelaskan di atas jika sebelum mempelajarai modul ini, saya
mengkaitkan disiplin lebih pada hukuman sehingga yang terjadi murid termotivasi
karena takut dengan adanya hukuman tersebut. Setelah mempelajari modul ini, saya
berupaya meniadakan hukuman karena hukuman merupakan identitas gagal yang
menimbulkan dampak negatif bagi murid. Saya mulai konsiten menerapkan disiplin
dengan pendekatan restitusi, yang mana ketika murid salah, saya akan menanggapi
dengan mengajak murid berefleksi tentang apa yang mereka dapat lakukan untuk
memperbaiki kesalahan mereka sehingga menjadi pribadi yang lebih baik dan
menghargai dirinya.
c. Keyakinan Kelas
Saya mulai mengajak murid untuk membentuk keyakinan di kelasnya, bukan lagi
memberlakukan peraturan. Sebagai guru saya dapat memainkan peran pendorong
kolaborasi untuk menyusun keyakinan kelas.
d. Kebutuhan dasar manusia
Sebelumnya saya sering kesal dengan murid yang sering melanggar, saya sering
menjudge murid tersebut dengan gelar anak nakal. Setelah mempelajari modul ini, saya
sadar jika tindakan saya tersebut salah. Selanjutnya saya berupaya melakukan
perbaikan dengan memahami kebutuhan dasar murid. Saya mulai menyadari jika
apapun yang dilakukan murid terutama yang sering melanggar tersebut memiliki
tujuan, sehingga saya perlu mencari tahu mengapa meraka melakukan tindakan
tersebut agar mengetahui kebutuhan mana yang sedang berusaha mereka penuhi. Jika
sudah mengetahui kebutuhan mereka saya akan bisa membuat pemecahan atas
masalah tersebut.
e. Lima posisi kontrol
Saat ini saya berupaya mengubah gaya mengajar saya dari posisi kontrol sebagai
penghukum menjadi manajer, karena belajar tentang disiplin positif tidak harus dengan
memberi hukuman. Hukuman hanya akan membuat murid tidak memiliki motivasi
intrinsik dalam berperilaku, mereka hanya akan termotivasi bertindak semata untuk
menghindari sebuah hukuman.
f. Segitiga Restitusi
Setelah mempelajari segitiga restitusi, perubahan yang saya lakukan adalah selalu
menyelesaikan masalah yang dihadapi murid dengan tahapan segitiga restitusi.
3. Pengalaman yang pernah saya alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul
Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah saya adalah
Seperti yang telah saya sampaikan di atas, jika saya sebelumnya sering memposisikan diri
sebagai penghukum agar murid mengikuti segala aturan yang saya buat. Yang terjadi
justru murid menjadi kesal, benci bahkan dendam sama saya. Saya mempunyai
pengalaman, ketika ada salah satu murid yang melanggar, saya memberikan hukuman
secara fisik dan verbal. Yang terjadi murid justru dendam dengan saya dan murid tersebut
berbuat nekat dengan membocorkan ban motor saya, yang mungkin saja sebagai bentuk
pembalasan. Dari kejadian itu saya berupaya melakukan refleksi terhadap diri saya, dan
dari refleksi itu saya merasa jika cara mendisiplinkan murid yang saya terapkan selama
ini kurang tepat. Selanjutnya saya mengubah posisi saya dari penghukum menjadi teman.
Dengan posisi ini memang pemikiran murid berubah dari benci menjadi akrab, namun
disisi lain murid cendrung "bar-bar” terhadap saya, dan itu membuat saya tidak nyaman.
Akhirnya setelah mempelajari modul 1.4, saya mulai mengubah paradigma saya dengan
memposisikan diri sebagai manajer dan mendisiplinkan murid melalui pendekatan
segitiga restitusi.
4. Perasaan saya ketika mengalami hal-hal tersebut di atas adalah saya merasakan
perbedaan sikap pada murid saya, dari sebelumnya mereka terkesan seperti membenci
saya, dan sekarang murid memiliki rasa hormat, kemandirian, serta tanggung jawab.
Murid menjadi enggan dengan sengaja berbuat kesalahan, karena mereka tahu jika
nantinya mereka sendirilah yang harus mencari solusi atas kesalahan yang telah mereka
perbuat.
5. Menurut saya, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal yang
sudah baik adalah saya telah mampu mendeteksi kebutuhan murid yang sering berbuat
salah. Jika ada murid yang bermasalah saya selalu mencari tahu terlebih dahulu alasan
murid melakukan kesalahan, kebutuhan dasar mana yang belum terpenuhi. Contoh riil
yang sudah pernah saya alami adalah ketika ada salah satu murid diperwalian saya
dilaporkan oleh Ibu kantin karena sering “mengutil” makanan. Saya tidak langsung
menjudge murid tersebut salah, tapi yang saya lakukan adalah dengan terlebih dahulu
mencari tahu tujuan murid melakukan hal tersebut. Setelah dilakukan penelusuran
sehingga didapatkan informasi jika murid tersebut melakukan hal tersebut karena
dilandasi oleh kebutuhan bertahan hidup (kebutuhan akan rasa lapar). Murid tersebut
hanya diberi uang jajan yang sangat sedikit oleh orang tuanya.
Yang perlu diperbaiki dari apa yang sudah saya lakukan adalah konsisten dalam
melaksananakan apa yang direncanakan, terkadang jika dalam kondisi bed mood tanpa
disadari saya akan kembali memposisikan diri sebagai penghukum.
6. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi
kontrol, posisi yang paling sering saya pakai adalah posisi penghukum. Perasaan saya
saat memposisikan diri sebagai penghukum adalah saya merasa murid disiplin semata
karena takut dengan hukuman, bukan karena dorongan dalam dirinya.
Setelah mempelajari modul ini, saya mulai mengubah pola pikir saya dari penghukum
menjadi manajer. Bagi saya posisi manajer lebih pada pemberian kemerdekaan,
kemandirian dan tanggung jawab bagi murid. Sehingga murid akan memiliki
pendewasaan diri menemukan solusi atas permasalahannya.
Hukuman hanya akan menciptakan ketidaknyamanan sedangkan guru yang
memposisikan diri sebagai manajer akan melahirkan murid yang merdeka dan mandiri.
7. Sebelum mempelajari modul ini, tanpa disadari saya sering menerapkan segitiga restitusi
dalam mendisiplinkan murid. Melaksanakan tahap menstabilkan identitas, validasi
tindakan salah, hanya yang berbeda adalah pada tahap yang ketiga, saya tidak
menanyakan keyakinan kelas melainkan peraturan kelas karena keyakinan kelas baru
saya ketahui setelah mengikuti PGP.
8. Menurut saya segala konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini sudah sangat
legkap dan jelas dalam proses menciptakan budaya positif, dan menurut saya hal lain
yang bisa ditambahkan adalah penjelasan terkait alasan penggunaan kata “keyakinan”
kelas.