CALISTA SALSABILA (18234070)
BIBLIOGRAFI
BERANOTASI
ARTIKEL
MINANGKABAU
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala nikmat dan
hidayah yang tidak henti-hentinya. Salawat beserta salam semoga
terlimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita
dari jaman kebodohan ke jaman yang penuh ilmu pengetahuan seperti saat
sekarang ini.
Pada kesempatan kali ini penulis membuat bibliografi beranotasi
Minangkabau yang berjumlah 20 buah. Banyaknya koleksi minangkabau
membuat artikel tersebut kadang terlupakan, artikel Minangkabau kadang
juga sulit ditemukan. Untuk itu tujuan penulisan bibliografi beranotasi ini
adalah agar artikel tentang Minangkabau tersebut bisa dilestarikan,
selanjutnya agar koleksi tersebut bisa diketahui penjekasan singkatnya melalui
anotasi yang sudah dijabarkan.
Susuanan penulisan pada laporan ini penulis kelompokkan sesuai
dengan subjek yang sama, sehingga pembaca mudah dalam menemukan
referensi yang dibutuhkan. Harapan penulis, meskipun masi banyak
kekurangan di laporan ini semoga dapat membantu banyak pembaca dalam
menelusuri artikel Minangkabau.
Padang, Juni 2021
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
PETUNJUK PENGGUNAAN........................................................................ iii
BIBLIOGRAFI BERANOTASI ARTIKEL SUMBERNINTERNET
A. Adat Istiadat dan Keagamaan ................................................... 1
B. Arsitektur ..................................................................................... 3
C. Kebudayaan ................................................................................. 4
D. Sastra ............................................................................................ 6
E. Sejarah ......................................................................................... 7
F. Seni ............................................................................................... 9
G. Sosial ............................................................................................ 10
H. Perkawinan .................................................................................. 11
INDEKS PENGARANG................................................................................ 12
INDEKS SUBJEK ......................................................................................... 13
ii
PETUNJUK PENGGUNAAN BIBLIOGRAFI
1
001
Ilahi,Kurnia. “Konversi Agama pada Masyarakat Minangkabau”.
Religio : Jurnal Studi Agama Agama (2018):164-185. 17 Juni 2
2021. http://jurnalfuf .uins
by.ac.id/index.php/religio/article/ view/780
Artikel ini menjelaskan tentang .........................................................
3
............................................................................................................
4 Kata kunci : buku, jurnal, arsip
Keterangan :
1. Nomor Entry
2. Bibliografi (MLA) , baris kedua dijorokkan ke dalam sesuai dengan aturan
MLA
3. Anotasi, terdiri dari penjelasan singkat dari artikel yang dibuat
4. Kata kunci, terdiri dari kata/ istilah penting dari artikel tersebut
iii
ADAT ISTIADAT DAN KEAGAMAAN
001
Azwar, Walhendri, Yulizal Yunus, Muliono Muliono. ”Nagari Minangkabau”.
Jurnal Bina Braja (2018) : 231 - 239. 12 Juni 2021. http://jurnal.kemendagri.
go .id/index.php/jbp/article/view/465
Nagari sebagai lembaga pemerintahan dan adat di Sumatera Barat terbelah antara
kepentingan sistem pemerintahan dan pentingnya menjaga nilai-nilai fundamental
dalam masyarakat. Berbagai peraturan pemerintah tentang desa atau nagari
menimbulkan pertanyaan baru, hilangnya identitas masyarakat dan kearifan lokal
nagari sebagai masyarakat yang otonom dan mandiri. Penelitian ini bertujuan
untuk menggali dan mendeskripsikan sistem pemerintahan nagari, sebagai sistem
sosial masyarakat adat Minangkabau yang memadukan sistem pemerintahan
negara dengan sistem adat lembaga adat setempat. Penelitian dilakukan dengan
metode kualitatif, menggunakan wawancara mendalam dengan tokoh masyarakat
serta beberapa observasi terkait dinamika sosial masyarakatnya selain studi
pustaka. Kajian ini menemukan bahwa Nagari sebagai kesatuan sosial masyarakat
Minangkabau memiliki kearifan lokal yang sakral dari pemikiran masyarakat
yang komprehensif, dan kondisi alam.
Kata kunci: Nagari, Lembaga Adat Adat, Masyarakat Adat, Republik Kecil
002
Ilahi,Kurnia. “Konversi Agama pada Masyarakat Minangkabau”. Religio :
Jurnal Studi Agama Agama (2018):164-185. 17 Juni 2021.
http://jurnalfuf.uinsby.ac.id/index.php/religio/article/view/780
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa konversi agama banyak terjadi di
Sumatera Barat, hal ini ditandai dengan menurunnya jumlah agama Islam dan
meningkatnya pertumbuhan agama Kristen. Terjadinya konversi agama banyak
dipengaruhi oleh beberapa faktor, Faktor-faktor penyebab konversi agama pada
masyarakat suku Minangkabau dari pemeluk Islam menjadi pemeluk Kristen
diantaranya (1) Sumatra Barat dan masyarakat suku Minangkabau menjadi target
utama Kristenisasi Internasional, (2) Pembangunan sarana dan prasarana
pendidikan, unit pelayanan sosial dan kesehatan, (3) Latar belakang pendidikan,
pengalaman, lingkungan sosial dan pergaulan, (4) Status perkawinan dan
hubungan keluarga.
Kata kunci : Konversi, agama, minangkabau
1
003
Bukhari. "Akulturasi Adat dan Agama Islam di Minangkabau." Jurnal
Komunikasi dan Penyiaran Islam (2009): 49-63. 7 Juni 2021.
https://ejournal.uinib.ac.id/jurnal/index.php /almunir/article/view/658
Sebelum datangnya Islam, masyarakat Minangkabau telah memiliki sistem adat
yang berorientasi kepada alam, sehingga paham Hinduisme dan Budhisme
tidaklah begitu berpengaruh. Menyebaran agama Islam dilakukan dengan dua
cara, yaitu ekspansi teritorial dan jalan perdagangan oleh saudagarsaudagar yang
sekaligus berfungsi sebagai juru dakwah. Pihakpihak yang membawa masuk
agama Islam ke Minangkabau seperti “dai” yang berorientasi sufi, lebih
memperhatikan kemurnian hati daripada benar tidaknya tindakan menurut
ketentuan agama. setelah agama Islam semakin kokoh dan mendarah daging
dalam kehidupan masyarakat Minangkabau, maka adat lalu meyakini bahwa
agama Islam lebih tinggi daripadanya, karena agama tersebut datang dari Allah
sedangkan adat adalah ciptaan makhluk-Nya. Sikap keterbukaan masyarakat
Minangkabau terhadap kedatangan agama Islam membawa kepada berbagai efek,
baik positif maupun negatif. setelah Islam datang, budaya adat masyarakat
Minangkabau pada umumnya dapat bersatu dengan ajaran Islam, karena Islam
dikembangan bukan dengan cara konfrontasi, tetapi secara persuasif serta bukan
menentang adat, tetapi menyempurnakan adat.
Kata kunci : adat, minangkabau, islamisasi
004
Harry, Andheska. ‘’Kearifan Lokal Masyarakat Minangkabau Dalam Ungkapan
Kepercayaan Rakyat’’.BASINDO Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia,
dan Pembelajarannya (2018): 22-28. 15 Juni 2021. http://journal2.um.ac.id/i
ndex .php/basindo/article/view/4153
Artikel ini bertujuan untuk memberikan deskripsi tentang bentuk, kategori,
makna dan fungsi dari ungkapan kepercayaan rakyat di masyarakat
Minangkabau.Penggunaan metode deskriptip kualitatif diberlakukan terhadap tiga
informan selaku sumber data yang layak untuk dikaji.Hasilnya adalah kearifan
lokal masyarakat Minangkabau ditemukan struktur, makna dan fungsi yang
merepresentasikan kebudayaan yang diwarisinya.
Kata Kunci: kearifan lokal, ungkapan kepercayaan,masyakarat
2
ARSITEKTUR
005
Sudarman.‘’Lokalitas Ragam Hias Minangkabau (Studi Terhadap Tata Letak
Ragam Hias Mesjid Asasi Padangpanjang)’’. Jurnal Penelitian Sejarah dan
Budaya (2016): 581-600. 15 Juni 2021. https://media.neliti.com/media/publ
ications/317205-lokalitas-ragam-hias-minangkabau-studi-t-5d5ce190.pdf
Penelitian ini dilakukan untuk melihat bentuk dan tata letak ragam hias yang ada
pada bangunan sakral (mesjid Asasi Padangpanjang).Penelitian ini
mempergunakan metode arkeologi Sejarah.Penelitian ini dapat menarik dua
kesimpulan.Pertama, Ragam hias di mesjid Asasi Padang panjang
mempergunakan ragam hias tradisonal Minangkabau yang ada di rumah gadang.
Dan ragam hias yang ada di rumah Gadang mengambil ragam hias tradisional
yang ada pada benda-benda megalitik di menhir-menhir di Limapuluh kota.
Kedua, tataletak ragam hias pada bangunan sakral (mesjid) memiliki pola-pola
tertentu,dan ini berbeda dengan tata letak ragam hias pada bangunan profan
(rumah gadang).
Kata kunci: Mesjid Asasi, Ragam Hias, Tataletak
006
Rahmawati Z, Yulia, Melvi Muchlian . “Eksplorasi Etnomatematika Rumah
Gadang Minangkabau Sumatera Barat”. Jurnal Analisa (2019): 124-136. 12
Juni 2021. https://journal.uinsgd.ac.id/index.php/analisa/article/view/5942
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis eksplorasi
etnomatematika Rumah Gadang Minangkabau Sumatera Barat agar diperoleh
informasi dasar dalam pengembangan ilmu etnomatematika terhadap
pembelajaran matematika bidang geometri khusus pada bentuk dan ukiran rumah
gadang minangkabau.Jenis penelitian ini adalah penelitian eksploratif dengan
menggunakan pendekatan etnografi dengan analisis taksonomi.Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan, terdapat unsur dan konsep matematika yang digunakan
dalam melakukan aktivitas pembuatan rumah gadang minangkabau. Terbukti
adanya bentuk etnomatematika masyarakat minangkabau yang tercermin melalui
berbagai hasil aktivitas matematika yang dimiliki dan berkembang di masyarakat
minangkabau, meliputi: 1) aktivitas membuat rancangan pembangunan rumah
gadang; dan 2) aktivitas membuat pola ukiran pada motif ukiran dinding rumah
gadang.
Kata kunci: Etnomatematika, Rumah Gadang, Geometri, Eksploratif, Etnografi.
3
KEBUDAYAAN
007
Firdaus, Dwi Rini Sovia, et al. "Potret Budaya Lokal Masyarakat Tanjung Raya,
Kabupaten Agam-Sumatera Barat di Era Digital." Jurnal Komunikasi
Pembangunan (2018): 248-265. 7 Juni 2021. https://jurnal.ipb.ac.id/index.
php/jurnalkmp/article/view/26339/17049.
Masyarakat Sumatera Barat yang selama ini memegang teguh tradisi budaya
matrilineal. Minangkabau, akhir-akhir ini sedang mengalami peluruhan budaya..
Di Kecamatan Tanjung Raya, perilaku sebagian besar masyarakat sudah tidak
mencerminkan ciri budaya Minangkabau yang mengacu pada harmonisasi yang
dicontohkan oleh alam dan agama Islam. Keadaan ini memprihatinkan para
pemuka adat karena upaya pewarisan budaya selama ini menjadi sia-sia. Meskipun
Kecamatan Tanjung Raya tengah mengalami peluruhan budaya, terdapat beberapa
unsur yang masih dipertahankan sebagai ciri utama sistem keke-rabatan matrilineal
Minangkabau, yaitu pola menetap uxorilokal4 , harta pusaka tinggi yang masih
menjadi milik bersama, sistem perkawinan eksogami dan tradisi merantau.
Kata kunci: budaya Minangkabau, Hofstede, komunikasi keluarga, komunikasi
pewarisan budaya.
008
Welsa, Henny, Suharti and Latifah. "Budaya Minangkabau dan Implementasi pada
Manajemen Rumah Makan Padang di Yogyakarta." Ekuitas: Jurnal Ekonomi
dan Keuangan (2017): 181-203. 7 Juni 2021. https://www.researchgate.net/
publication/319401151_BUDAYA_MINANGKABAU_DAN_IMPLEMENTASI
_PADA_MANAJEMEN_RUMAH_MAKAN_PADANG_DI_YOGYAKARTA
Budaya Minangkabau mempengaruhi kewirausahaan pemilik usaha tidak
mempengaruhi kemampuan usaha akan tetapi dapat pula meningkat- kan kinerja
usaha, diantaranya yaitu Budaya Minangkabau berpengaruh signifikan terhadap
kewirausahaan, budaya Minangkabau berpengaruh signifikan ter hadap
kemampuan usaha, budaya Minang berpengaruh terhadap peningkatan kemampuan
usaha, Kemampuan usaha disini dalam artian kemampuan mengacu pada
ketrampilan perusahaan dalam mengkoordinasikan sumber daya dan
menempatkannya untuk penggunaan secara produktif, Budaya Minangkabau
berpengaruh signifikan terhadap kinerja usaha.
Kata Kunci: budaya Minangkabau, kewirausahaan, kemampuan usaha dan
kinerja usaha.
4
009
Hengki Armez Hidayat, Wimbrayardi Wimbrayardi, Agung Dwi Putra.”Seni
Tradisi Dan Kreativitas Dalam Kebudayaan Minangkabau”. Jurnal
Pertunjukkan Dan Jurnal Music (2019):65-73. 15 Juni 2021.
http://musikolastika.ppj.unp.ac.id/index.php/musikolastika/article/view/26
Masyarakat Minangkabau menganut falsafah-falsafah sebagai konsepsi yang
implikasikan kedalam kebudayaannya, salah satunya yaitu dengan kehadiran
kesenian. Kesenian dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau hidup dan
berkembang bersama perjalanan waktu serta daya kreativita smasyarakatnya
dinamis. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif dengan melakukan
pengamatan terhadap kesenian, khususnya yang berhubungan dengan tradisi dan
kreativitas dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau dengan menggunakan
pendekatan Hermeneutik dan studi literatur. Penelitian dilakukan dengan
pengamatan mengenai bentuk-bentuk seni tradisi Minangkabau khususnya music
tadisi dan perkembangannya pada masyarakat Minangkabau. Hasil dan pembahasan
dari penelitian ini antara lain mengenai; bentuk-bentuk kesenian tradisi
Minangkabau dan kesenian dalam kebudayaan Minangkabau.
Kata kunci: SeniTradisi, Kreativitas, Kebudayaan, MasyarakatMinangkabau
5
SASTRA
010
Irawati, Diah. “Unsur Budaya Minangkabau Dalam Novel Mencari Cinta Yang
Hilang Karya Aabdulkarim Khiaratullah”. Jurnal DIKSA (2015):53-64. 12
Juni 2021. https://ejournal.unib.ac.id/index.php/jurnaldiksa/article/view/3180/
1626
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan (1) fungsi paman dari pihak ibu bagi
keponakannya (2) larangan perkawinan sesuku (3) fungsi paman dari pihak ibu bagi
orang-orang dalam satu suku termasuk dalam Novel “Mencari cinta yang Hilang”
karya Abdulkarim Khiaratullah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang
menggunakan metode deskriptif yang bersifat analisis isi, yaitu penelitian yang
dilakukan dengan cara menelaah suatu naskah sastra dengan melihat suatu fakta atau
dialog dari tokoh yang bertujuan untuk mengetahui unsur kebudayaan minangkabau
yang ada. termasuk dalam novel. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini
menggunakan teknik dokumentasi dan teknik menulis catatan. Hasil analisis
menunjukkan bahwa, pertama, secara keseluruhan 'paman dari pihak ibu' yang
digambarkan dalam novel ini responsif dan membimbing keponakannya, sesuai
aturan, bahwa 'paman dari pihak ibu' dalam masyarakat Minangkabau sangat
penting bagi kehidupan keponakannya. Hanya 'paman dari pihak ibu' dari Rahima,
Mak Katik yang tidak bekerja dengan benar. Kedua, permasalahan larangan
perkawinan satu suku masih menjadi permasalahan dalam kehidupan masyarakat
Minangkabau, yang tercermin dalam novel yang masih menemukan polemik tentang
larangan perkawinan satu suku, perjanjian adat yang sangat bertentangan dengan
perkawinan satu suku yang dinilai sebagai perkawinan dengan keluarga sendiri, Di
sisi lain berdasarkan agama pernikahan satu suku bukanlah hal yang dilarang.
Ketiga, novel ini juga mencerminkan sosok 'Niniak Mamak' dalam masyarakat
minangkabau, terjadi bentrokan tradisi, dalam novel 'niniak mamak' ini juga
menyelesaikan masalah perkawinan satu suku, yaitu marga Chaniago, pada diskusi
yang dipimpin oleh Datuk Rangkayo Sati sebagai pemimpin masyarakat memiliki
keputusan bahwa perkawinan satu suku antara Fauzi dan Rahima tidak dapat
dilanjutkan
Kata kunci : Budaya Minangkabau, Paman dari Ibu, Paman dari Ibu, Pernikahan
Sesuku, Novel
6
SEJARAH
011
Herwandi.‘’Dari Megalit Borobono ke Tambo Rueh Buku : Penelusuran Awal
Tentang Tulisan Minangkabau’’. Linguistika Kultura (2008): 289-298. 17
Juni 2021. http://jurnalvivid.fib.unand.ac.id/index.php/lingkul/article/view/73
Artikel ini membahas tentang hubungan suatu corak yang terbentang pada sebuah
megalit, di Taeh Bukik, Limapuluah Koto, Sumatera Barat. Megalitdisebut oleh
masyarakat sekitar sebagai Batu Batulih Borobono. Batu terebut dipercaya
memiliki kekuatan sihir. Di megalit tersebut terdapat sebuah bentangan yang
bermotif.Artikel ini mencoba untuk memahami tulisan atau symbol tersebut untuk
mengetahuihubungan antara pola dengan simbol ortografis yangdianggap pernah
digunakan di tanah Minangkabau.
Kata kunci: temuan arkeologi, batu batulih borobono, Tambo, Minangkabau, Kerinci.
012
Anggraini, Vivi, Adi Priyanto. ‘’Peningkatan Kemampuan Pengenalan Sejarah
Budaya Minangkabau Melalui Lagu Kreasi Minangkabau Bagi Anak Usia
Dini’’.Kaganga Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora (
2019):1-7. 15 Juni 2021. https://journal.ipm2kpe.or.id/index.php/KAGANGA
/article/view/703
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses dan hasil pembelajaran
mengenai lagu kreasi minangkabau untuk menstimulasi pengenalan sejarah budaya
minangkabau bagi anak di taman kanak-kanak usia 5-6 tahun. Penelitian ini
menggunakan penelitian action reseach pada kelompok B di TK Nurul Hidayah
Sumatera Barat. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi,
wawancara, catatan lapangan, instrumen pemantau tindakan dan
dokumentasi.Analisis data disajikan secara kuantitatif dan kualitatif.Hasil data
secara kuantitatif menunjukan bahwa kemampuan pengenalan sejarah anak dapat
meningkat setelah dilakukan tindakan melalui lagu kreasi minangkabau.Hal ini
dapat dilihat dari hasil penelitian yang menyebutkan bahwa rata-rata kelas pada pra
tindakan sebesar 54%. Setelah dilakukan tindakan dalam siklus I meningkat rata-
rata kelas menjadi 69,70% dan siklus II meningkat sebesar 82,74%. Dari hasil
penelitian ini maka dapat disimpulkan lagu kreasi minangkabau mampu
meningkatka kemampuan mengenal sejarah sejarah budaya daerah minangkabau.
Kata Kunci :Sejarah Budaya Minangkabau, Lagu Kreasi Minangkabau 7
013
Rahim, Arif. “Kerajaan Minangkabau Sebagai Asal-usul Kesultanan
Jambi”.Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi (2021): 399-412. 15 Juni
2021. http://ji.unbari.ac.id/index.php/ilmiah/article/view/1340
Tulisan ini membahas tentang kerajaan Minangkabau dan keberadaannya sebagai
asal-usul Kesultanan Jambi.Masalah ini dinilai penting karena saat ini banyak
kalangan yang kurang memahami hubungan antar kerajaan pada masa lampau,
yang mana daerah-daerah tersebut dewasa ini termasuk ke dalam wilayah kerajaan-
kerajaan tersebut.Penelitian ini diharapkan dapat memberi penjelasan terhadap
masalah pokok yang diajukan dan seterusnya berkontribusi terhadap
pengembangan ilmu pengetahuan terutama tentang sejarah lokal Jambi dan
Sumatera Barat. Hasil Penelitian menunjukkan daerah Minangkabau merupakan
daerah tua yang telah didiami manusia setidaknya sejak zaman Batu Muda sekitar
2000 tahun SM. Di daerah kabupaten Lima Puluh Kota banyak ditemuan Menhir
yang diperkirakan berasal dari masa tersebut. Daerah Minangkabau merupakan
daerah tempat turunnya Sang Sapurba bergelar Datuk Maharaja Diraja yang dalam
tradisi lisan dianggap sebagai nenek moyang suku Minangkabau dan rumpun
Melayu pada umumnya dan juga sebagai sosok yang menurunkan raja-raja yang
memerintah di Pulau Sumatra, terutama negeri-negeri Melayu. Dalam konteks
hubungan Jambi dan Minangkabau, dapat dikatakan bahwa raja-raja yang
memerintah di kerajaan Jambi adalah keturunan dari Kerajaan Minangkabau. Putri
Selaro Pinang Masak yang dalam legenda kerajaan Jambi dipandang sebagai
pendiri kerajaan Jambi adalah anak dari Ananggawarman yang memerintah di
Pagaruyung pada tahun 1376 – 1417 M. Sebagai negeri tua, Minangkabau
mempunyai sistem adat dan kebudayaan yang yang mempegaruhi daerah
sekitarnya, termasuk daerah Jambi. Sumber Lembaga Adat Melayu Jambi
mengatakan bahwa yang menyusun adat Jambi adalah Datuk Perpatih Nan
Sabatang dari Pagaruyung sedangkan yang berasal dari Bandar Jambi adalah Datuk
Ketemanggungan.
Kata kunci: kerajaan Minangkabau; asal usul; kesultanan Jambi
8
SENI
015
Sukmawati, Noni. "Bagurau Saluang dan Dendang dalam Perspektif Perubahan
Budaya Minangkabau." Forum Ilmu Sosial (2008): 158-170. 7 Juni 2021.
<https://journal.unnes.ac.id/nju/index.php/FIS/article/view/1293>.
Kebiasaan masyarakat Minangkabau untuk berkumpul bersama sambil bercerita
dan bercanda, dengan tema-tema pembicaraan yang saling menyindir, bahka juga
bisa saling mencemooh dalam suasana yang dialogis dan akrab, menyebabkan
masyarakat Minangkabau dikenal sebagai masyarakat yang suka dan pintar
berbicara. Pertunjukan bagurau saluang dan dendang merupakan sebuah
pertunjukkan musical yang dipadukan dengan kekuatan pantun-pantun yang
didendangkan dengan iringan alat music saluang. Telah terjadi perubahan social
dalam masyarakat Minangkabau, perubahannya tergambar didalam
perkembangan yang terjadi didalam pertunjukan bagurau, terutama hubungannya
dengan munculnya perempuan sebagai pelaku utama. Pertunjukan baguarau
saluang dan dendang sebagai baguan yang integral dari kehidupan kebudayaan
Minangkabau, secara langsung dapat diperlihatkan hubungannya dengan
perubahan social pada masyarakat Minangkabau.
Kata Kunci: Wanita, Seni, Perubahan.
016 9
Bahardur, Iswadi. "Kearifan Lokal Budaya Minangkabau dalam Seni
Pertunjukan Tradisional Randai." Jentera: Jurnal Kajian Sastra (2018): 145-
160. 7 Juni 2021. <https://www.researchgate.net/publication/334364999_
KEARIFAN_LOKAL_BUDAYA_MINANGKABAU_DALAM_SENI_PERT
UNJUKKAN_TRADISIONAL_RANDAI>.
Randai menggambarkan kearifan lokal masyarakat Minangkabau, melekat pada
fisik sekaligus batin individu yang membentuk keutuhan masyarakat bernagari.
Nilai-nilai kesenian tradisional dalam randai menjadi representasi norma dan
kebiasaan yang berlaku di masyarakat Minang; kesenian dianggap rancak (bagus,
elok) apabila tidak menyimpang dari norma adat, dan kebiasaan yang berlaku
dalam masyarakat Minangkabau. Unsur dialog dalam randai, misalnya, menjadi
satu unsur yang bermuatan nilai-nilai karakter kerja sama komunikatif dan patut
dipahami dan ditanamkan kepada generasi muda. saat ini seni pertunjukan randai
di Minangkabau masih didominasi oleh eksplorasi dari segi seni hiburan saja.
Kata kunci: budaya, kearifan lokal, Minangkabau, randai, seni tradisi.
SOSIAL
017
Hastuti, Erni, Defi Julianti, Donny Erlangga, Teddy Oswari.‘’Kearifan Lokal
Sosial Budaya Masyarakat Minang Pedagang Rantau di
Jakarta’’.Proceeding PESAT (2013): 1-7. 12 Juni 2021. https://www.neliti.
com/ publications/171347/kearifan-lokal-sosial-budaya-masyarakat-minang-
pedagang-rantau-di-jakarta
Pengidentifikasian kearifan lokal masyarakat Minang dapat dijadikan sebagai
contoh untuk mempertahankan berbagai karakteristik dari masyarakat perantau
khususnya bermata pencarian berdagang.Kearifan lokal masyarakat Minang harus
diperkuat guna penyelesaian permasalahan dalam sistem kemasyarakatan dalam
menghadapi isu global dan sekaligus mempunyai pengaruh yang sangat besar
bagi keberlangsungan masyarakat lokal. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji
dimensi sosial budaya dari kearifan local masyarakat Minang pedagang rantau di
DKI Jakarta, mengetahui jenisjenis kearifan lokal sosial budaya yang dapat
dipertahankan masyarakat minang pedagang rantau di DKI Jakarta dan faktor-
faktor apa saja yang mungkin menggeser atau meningkatkan kearifan lokal sosial
budaya masyarakat minang pedagang rantau dari kebiasaan normatif menjadi
formal.
Kata kunci: sosial, budaya, minang, pedagang, rantau
018
Malik, Rahman. "Ikatan Kekerabatan Etnis Minangkabau dalam Melestarikan
Nilai Budaya Minangkabau di Perantauan sebagai Wujud Warga NKRI."
jurnal Analisa Sosiologi (2016): 17-27. 7 Juni 2021.
https://jurnal.uns.ac.id/jas/article/view/18102.
Nilai-nilai budaya etnis Minangkabau yang ditanamkan dari leluhur mereka (etnis
Minangkabau Surakarta) sejak dahulu atau sejak mereka belum merantau masih
tertanam baik dan dipegang dengan teguh nilai-nilai kesakralannya. Kepercayaan
etnis Minangkabau yang mengajarkan mereka harus berpegang teguh pada nilai-
nilai adat istiadat mereka baik itu di daerah sendiri dan diperantauan sampai saat
ini masih terlihat terjelas pengimplementasian dari nilai-nilai budaya tersebut
terutama dari masyarakat etnis. Seperti merantau, merahasiakan resep makanan
ataupun menggunakan bahasa daerah sehari hari.
Kata Kunci: Ikatan Kekerabat, Minangkabau, Nilai Budaya, Perantauan.
10
PERKAWINAN
019
Arifin, Zainal “Dualitas Praktik Perkawinan Minangkabau” Jurnal Humaniora
(2009): 150-161. 17 Juni 2021. https://journal.ugm.ac.id/jurnal-humaniora
/article/view/963
Tulisan ini bertujuan untuk memahami dualitas perkawinan Minangkabau.
Musyawarah tersebut menunjukkan bahwa proses pengambilan keputusan yang
melangsungkan suatu perkawinan tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma
adat, tetapi juga dipengaruhi oleh !'politik perkawinan' dari gaor dan anggota
kekerabatan yang akan terjalin dalam perpanjangan yang diusulkan. Proses
pengambilan keputusan perkawinan di Minangkabau pada hakikatnya merupakan
sintesa dari adaik, yang memberikan kebebasan budaya tertentu kepada aktor dan
anggota keluarga yang kemudian akan menjadi bagian dari keluarga besar.
Kata kunci: adaik, perkwinan, dualitas, politik perkawinan
020
Asmaniar. "Perkawinan Adat Minangkabau." Binamulia Hukum (2018): 131-140.
7 Juni 2021.https://media.neliti.com/media/publications/275410-perkawinan-
adat-minangkabau-f56c5427.pdf.
Dalam adat budaya Minangkabau, perkawinan merupakan salah satu peristiwa
penting dalam siklus kehidupan dan merupakan masa peralihan yang sangat
berarti dalam membentuk kelompok kecil keluarga baru penerus keturunan. Bagi
lelaki Minang, perkawinan juga menjadi proses untuk masuk lingkungan baru,
yaitu pihak keluarga istrinya. Sementara bagi keluarga pihak istri, menjadi salah
satu proses dalam penambahan anggota di komunitas Rumah Gadang mereka. g
mereka. Dalam prosesi perkawinan adat Minangkabau, biasa disebut baralek,
mempunyai beberapa tahapan yang umum dilakukan. Dimulai dengan maminang
(meminang), manjapuik marapulai (menjemput pengantin pria), sampai
basandiang (bersanding di pelaminan). Setelah maminang dan muncul
kesepakatan manantuan hari (menentukan hari pernikahan), kemudian dilanjutkan
dengan pernikahan secara Islam yang biasa dilakukan di masjid, sebelum kedua
pengantin bersanding di pelaminan.
Kata Kunci: perkawinan, minangkabau, matrilineal, eksogami, endogami.
11
INDEKS PENGARANG
A M
Anggraini, Vivi 7 Malik, Rahman 10
Arifin, Zainal 11 Muliono 1
Asmaniar 11 Muchlian, Melvi 3
Azwar, Walhendri 1 O
B Oswari, Teddy 10
Bahardur, Iswadi 9 P
Bukhari 2 Priyanto, Adi 7
E Putra, Agung Dwi 5
Erlangga, Defi D 10 R
F Rahmawati, Yulia 3
Firdaus 4 Rahim, Arif 8
H S
Hastuti, Erni 10 Sofia D, Rini 4
Harry, Andheska 2 Sudarman 3
Herwandi 7 Suharti 4
Hidayat, Hengki Armez 5 Sukmawati, Noni 9
i W
Ilahi, Kurnia 1 Welsa, Henny 4
Irawati, Diah 6 Wimbrayardi 5
J Y
Julianti, Defi 10 Yunus, Yulizal
L
Latifah 4
12
INDEKS SUBJEK
A
Adat Istiadat dan Keagamaan 1
Arsitektur
K
Kebudayaan
S
Sastra
Sejarah
Seni
Sosial
P
Perkawinan
13