CERITA 1 SAHABAT ABADI Aku seorang laki laki usia 14 tahun yang tinggal di kota yang padat akan kendaraan. Banyak sekali gedung-gedung pencakar langit di sekitar rumahku, tingginya seperti menembus luar angkasa. Setiap hari jalanan dipenuhi kendaraan, suaranya keras sekali seperti toa masjid. Tiap hari aku mendengar suara klakson mobil dan motor yang kencang ketika berjalan menuju ke sekolah yang tak jauh bagiku, hanya 2 kilo meter saja. Saat ini aku masih menduduki sekolah dasar pertama dan memiliki banyak sekali teman, dari kelas 7 hingga kelas 9, Namun, hari ini Orang Tuaku mengajakku pindah dikarenakan urusan kerja. Aku yang tadinya tinggal di kota akan suara yang ramai ini ke kota yang kaya akan tembakau, Jember nama Kotanya. Aku yang masih duduk dibangku smp ini harus merasakan yang namanya meninggalkan teman temanku dan pindah kesekolah yang baru. Aku sangat sedih pada awalnya dan kecewa karena kejadian yang mendadak ini. Setelah aku sampai di Kota Jember, suasana disini tidak begitu ramai, tapi ramai Ketika pagi dan sore saja. Pemandangan yang indah dan memiliki alun alun yang cukup bersih. Ketika aku sampai rumah, aku langsung disuruh orangtuaku untuk menyapa anak tetangga. Aku yang sedikit malu berkata padanya “H-h-hai, k-kkenalin aku Aurez.” aku berkata dengan gugup dan malu. “Hai Aurez, kenalin aku Fina salam kenal.” ucapnya sambil tersenyum. Dia adalah seorang Perempuan yang berusia sama sepertiku, 14 tahun. Dan kebetulan kita berada di satu sekolah dan satu kelas yang sama, ini bakalan menarik, pikirku. Esoknya, aku berangkat sekolah sekitar jam 5 pagi. Dan Ketika aku datang kesekolah baruku, aku sedikit takut. Karena bakalan ada banyak sekali siswa dan siswi disekolah ini yang harus aku kenal, Ini akan menjadi perjalanan yang seru, pikirku. Aku sampai ke sekolah, lebih awal dari jam masuk sekolah. Yah…. Sekitar jam enam lah, dan aku pun melihat sekitar sekolah terlebih dahulu sebelum masuk ke kelas. Aku melihat nama sekolah ini Smp Islami AF Namanya, Jika dilihat-lihat sekolah ini bagus sekali, meski lapangannya yang sedikit sempit. Sambil melihat-lihat sekitar, aku berjalan menuju kelasku yang berada di lantai empat. “Tinggi sekali.” ujarku dengan nada yang rendah. Sontak aku pun kaget, ketika ada orang yang melewatiku dan berkata “Halo!” sambil teriak. Aku yang kaget langsung lari terbirit birit menuju ke kelasku, orang itu pasti kebingungan pikirku sambil tersenyum. Setelah sampai kelas aku melihat seorang laki laki yang duduk di depan pojok dekat meja guru, dia hanya diam dan duduk di bangkunya. Jika kulihat, dia seperti sedang menggambar. Tanpa menyapanya, aku pun langsung mengambil tempat duduk di pojok depan dekat pintu keluar. Ini akan mempercepatku untuk keluar dari kelas pikirku didalam hati. Setelah bel masuk berbunyi aku melihat Fani yang membuka pintu sambil berkata “Selamat pagi.” Dengan nada yang sedikit keras dan semangat. Tak kusangka, dia malah memilih tempat duduk disebelah ku dan berkata “Pagi Aurez, apa kamu tidak sabar dengan Pelajaran hari ini?” dengan nada seperti orang yang sedang bertanya dengan raut wajah yang penasaran. “I-i-iya Aku sudah tidak sabar.”
“Ih, gk usah gugup deh. Kita kan sudah kenal dari kemarin.” Sambil tersenyum kepadaku. Setelah itu guruku datang, Pak Yasir Namanya. Kemudian aku disuruh untuk memperkenalkan diriku didepan kelas, dengan rasa yang gugup aku perkenalan diri Sambil mencoba tersenyum “H-h-hai, aku Aurez Pindahan d-d-dari Smp J-karta yang terletak di Jakarta.” Aku juga menceritakan hobiku, tinggal dimana dulu dan sekarang, dan itu memakan waktu kurang lebih 5 menitan. Setelah itu aku disuruh duduk. Setelah Pelajaran selesai aku istirahat dengan fani, dia bercerita tentang eloknya kota jember ini, dia bilang banyak tanaman berasap yg ditanam dikota ini, kenapa tanaman berasap? Karena kebanyakan itu adalah tanaman yang sering digunakan untuk membuat rokok, kata Fani. Kami berbincang cukup lama hingga tak kerasa waktu istirahat selesai, kita pun balik ke kelas. Jam sekolah pun selesai “Huh, capeknya.” ucap Fani sambil mengeluh dan dengan raut wajah yang lemes. “Tapi Fan, sekolah itu seru loh.” “tapi itu kan itu kamu rez.” Fani mengucapkannya sambil dengan nada kesal. “iya iya, maafin aku deh” Aku pun meminta maaf dan berjalan bareng ke arah rumah. Kami sekolah hingga waktu Weekend tiba, sabtu dan minggu. Di hari sabtu aku sedang bersantai di dalam rumah hingga aku mendengar suara ketokan pintu “Assalamualaikum Aurez, Ayo main.” Yang kudengar setelah ketokan selesai dengan nada yang semangat, aku pun membukanya, ternyata dia mengajakku ke ladang tembakau, “Baru pertama kali aku melihat tembakau dari sedekat ini!” Kataku sambil berteriak. “Lebay amat lu jadi orang, suaramu terdengar sampai luar angkasa tuh.” Fani berkata sambil berteriak dan ketawa. Aku pun ikut ketawa, Aku belum mengatakan. Bahwa rumah kita dekat dengan sawah jadi kita main kesini sambil Fani menunjukkan ku lingkungan sekitar. Aku Diajak keliling sawah. “Wih pemandangan nya bagus banget” “woiya dong, jember gitu loh.” “Weh Fan, lihat ada kebakaran” “mana, mana” “itu, tuh Fan” “boh iya, ayok samperin” Kita pun menghampiri lokasi kebakaran, eh Taunya Cuma pembakaran Jerami. “sial Fan, kita kena prank nih” “ih, tau gitu gak usah disamperin kali”
Coba aja itu kebakaran rumah atau kendang, pasti seru jika dilihat dan pastinya pada heboh, pikirku. Kami pun Kembali dengan rasa kecewa, tetapi hari ini adalah hari yang menyenangkan. Tak kusangka aku punya teman seseru dia. Minggu pun tiba, kali ini aku yang mengajak Fani. “Assalamualaikum Fani, main yok” aku berkata sambil mengetok pintu. Kuketok beberapa kali, tidak ada jawaban dari dalam, kupikir dia sedang tidur atau apa. Ternyata kata tetangga, dia melihat Fani dan keluarganya meninggalkan rumahnya tadi pagi. Palingan mereka Cuma pergi untuk bersenang senang dimall atau di Pantai. Keesokan harinya aku bersemangat untuk kesekolah dan menanyakan kemana Fani kemarin, dengan rasa semangat aku pun datang kesekolah pagi sekali. Jam setengah 6 aku sampai disekolah, aku pun langsung kekelas untuk menaruh tasku dan duduk sambil membaca cerpen, Sahabat abadi judulnya. Ceritanya unik, isinya menceritakan seorang pemuda berusia 14 tahun yang pindah kesekolah baru dan memiliki sahabat yang baik dan asik hingga ia ditinggal oleh sahabatnya. Cerita yang sedih. Bel pun berbunyi, namun Fani tak kunjung datang. Mungkin dia masih berlibur dengan keluarganya atau apa. Beberapa hari kemudian, dia tak kunjung datang, disekolah dan dirumah pun dia tetap tidak terlihat. aku tak mendapat kabar darinya dari awal dia pergi. Hingga aku mendapatkan surat bahwa dia pindah kekota lain. Aku pun sedih dan menangis bahwa sahabatku ini meninggalkanku Bagaikan angin yang bertiup. Aku sangat sedih hingga air mata menetes di sekujur mukaku. “mengapa harus begini” Aku berkata sambil menangis. “apakah ini seperti yang diceritakan pada cerpen yang ku baca?” Aku yang bertanya pada diriku sendiri sambil merenungkan kejadian ini Beberapa hari setelah kejadian itu, aku tak masuk kesekolah, aku juga tak keluar dari kamar dan mogok untuk makan dan minum, ya… mungkin Cuma memakan roti yang berada dikamarku dan meminum air yang tersisa dari botol minumku. Orang tuaku menghawatirkan ku dan berkali kali bertanya kepadaku dibalik tembok yang terkunci olehku. Lalu di hari minggu aku memutuskan untuk keluar dari kamar, orang tuaku pun menangis setelah aku keluar kamar dan mengatakan. “mengapa kamu tidak mau keluar mas, mama telah menghawatirkanmu dari kemarin rabu” “iya mas, ada apa denganmu. Ayah juga menghawatirkanmu dari kemarin” Ujar kedua orangtuaku sambil menangis. “Mama tau kalau sahabatmu pindah dari sini tetapi tidak harus begini juga” “iya mama, maafkan mas karena menghawatirkan kalian” Setelah itu aku pun mengirimkan surat kepada Fani bahwa aku akan merindukannya selamanya. Beberapa bulan kemudian, aku yang setiap minggu mengirimkan surat dan mendapatkan surat darinya, aku cukup senang. Meski kita hanya bisa berbicara dan bercerita lewat surat, tetapi ini membuat hubungan kita semakin kuat. Hingga pada hari senin aku bersekolah, Aku melihat seseorang
masuk dari pintu kelas. Ya… dia adalah Fani, seketika aku mengeluarkan air mata dan memeluknya ditengah kelas, untung belum ada siswa lain yang masuk. “Faniiiii, mengapa kamu meninggalkan sahabatmu didunia yang sepi ini” “Eh Aurez, tak kusangka kau menangis dan memelukku” “Iya iyalah nangis, kalo ditinggal oleh sahabat yang baik ini” “kenapa sih kamu tinggalkan aku?” Aku yang bertanya kembali dengan keadaan yang masih menangis. “Jadi, aku diajak orang tuaku untuk menginap kerumah kakek dan nenek. Maaf ya aku gk bilang bilang.” “Lupa mau bilang, padahal kita sudah sering mengirimkan pesan lewat surat.” “Ih, bikin panik aja. Kukira kamu ninggalin aku karena gak baik ke kamu, dan kamu tidak suka dikota ini.” “lah mana mungkin aku ninggalin kamu karena gak baik, kalo kamu itu baik dan asik banget buat aku. Dan aku kan lahir disini, mana mungkin aku tak suka sama kota ini.” Fani berkata sambil tertawa Kita pun cerita-cerita lebih lengkap tentang keseharian kita saat tidak Bersama, sampai murid murid mulai berdatangan satu persatu. Hingga bel masuk pun berbunyi. Kita pun kembali seperti biasa, belajar Bersama, bermain Bersama bahkan berbicara Bersama. Hubungan kami tidak bisa dipisahkan lagi.