Setiap warga Nahdliyin, mula-mula dituntut
jujur kepada diri sendiri, kemudian kepada
orang lain. Dalam mu’amalah dan bertransaksi
harus memegangi sifat al-shidqu ini sehingga
lawan dan kawan kerjanya tidak khawatir
tertipu. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah
saat menjalankan bisnis Sayyidatina Khadijah.
Dari sikap itu beliau memperoleh sukses besar.
Padahal itu memang menjadi perilaku
Rasulullah sepanjang hayatnya.
Warga NU sebagai pengikut Kanjeng Nabi
Muhammad harus mengikuti jejaknya. Bila
melupakan dan meninggalkannya, pasti akan
merugi dan menderita kegagalan. Sikap al-
Shidqu itu terbukti juga bagian penting dari
kunci sukses bagi kegiatan perekonomian
modern saat ini.
2. Al-Amanah wa al-Wafa’ bi al-‘Ahdi
Dapat dipercaya memegang tanggung
jawab dan memenuhi janji. Amanah juga satu
sifat Rasul. Merupakan hal penting bagi
kehidupan seseorang dalam pergaulan
memenuhi kebutuhan hidup. Sebelum diangkat
sebagai Rasul, Nabi Muhammad mendapat gelar
al-Amin dari masyarakat karena diakui sebagai
51
orang yang dapat diserahi tanggung jawab. Satu
di antara syarat warga NU agar sukses dalam
kehidupan harus terpercaya dan menepati janji
serta disiplin memenuhi agenda.
Bila orang suka khianat dan ingkar janji,
pasti tidak dipercaya oleh kawan kerja dan
relasi. Pelanggan akan memutus hubungan, dan
kawan kerja akan menjauh. Al-Amanah dan al-
Wafa bi al-‘Ahdi memang merupakan bagian
penting bagi keberhasilan perekonomian. Dan
itulah sikap para profesional modern yang
berhasil pada masa kini.
3. Al-‘Adalah
Berarti bersikap adil, proporsional,
obyektif, dan mengutamakan kebenaran. Setiap
warga Nahdliyin harus memegangi kebenaran
obyektif dalam pergaulan untuk
mengembangkan kehidupan. Orang yang
bersikap adil meski kepada diri sendiri akan
dipandang orang lain sebagai tempat berlindung
dan tidak menjadi ancaman. Warga Nahdliyin
yang bisa menjadi pengayom bagi
masyarakatnya sekaligus memudahkan dan
membuka jalan kehidupannya. Sikap adil juga
merupakan ciri utama penganut Sunni-
52
Nahdliyin dalam kehidupan bermasyarakat. Dan
bila ini benar-benar mampu menjadi karakter
Nahdliyin, berarti juga wujud dari prinsip risalah
kenabian rahmatan li al-‘alamin, yang berarti
bukan hanya manfaat bagi diri sendiri atau
golongan, tapi penebar kasih saying buat semua
orang. Ini penting bagi sukses seseorang dalam
mengarungi kehidupan.
4. Al-Ta’awun
Artinya tolong-menolong, atau saling
menolong di antara sesama kehidupan. Ini
sesuai dengan jatidiri manusia sebagai makhluk
sosial, yang dia tidak bisa hidup tanpa
kerjasama dengan makhluk lain: sesama
manuisa, dengan binatang, maupun alam
sekitar. Setiap warga Nahdliyin harus menyadari
posisinya di tengah sesama makhluk, harus bisa
menempatkan diri, bersedia menolong dan
butuh pertolongan. Dalam agama Islam, tolong-
menolong merupakan prinsip bermu’amalah.
Karena itu, dalam jual-beli misalnya, kedua
belah pihak harus mendapat keuntungan, tidak
boleh ada satu pihak yang dirugikan. Sebab
prinsipnya ta’awun: pembeli menginginkan
barang, sedang penjual menginginkan uang. Bila
setiap bentuk mu’amalah menyadari prinsip ini,
53
mu’amalah akan terus berkembang dan lestari.
Jalan perekonomian pasti akan terus lancar
bahkan berkembang. Bila prinsip ta’awun
ditinggalkan, satu pihak akan menghentikan
hubungan dan mu’amalah akan mengalami
kendala.
5. Al-Istiqamah
Istiqamah adalah sikap mantap, tegak,
konsisten, tidak goyah oleh godaan yang
menyebabkan menyimpang dari aturan hukum
dan perundangan. Di dalam Al-Quran dijanjikan
kepada orang yang beriman dan istiqamah,
akan memperoleh kecerahan hidup, terhindar
dari ketakutan dan kesusahan, dan ujungnya
mendapatkan kebahagiaan. Untuk
mendapatkan sukses hidup warga Nahdliyin
juga harus memegangi sifat konsisten ini, tahan
godaan dan tidak tergiur untuk melakukan
penyimpangan yang hanya menjanjikan
kebahagiaan sesaat dan kesengsaraan jangka
panjang. Sikap konsisten akan membuat
kehidupan tenang yang bisa menumbuhkan
inspirasi, inisiatif, dan kreasi mengatasi segala
halangan dan kesulitan. Istiqamah
menghindarkan dari kesulitan hidup dan atau
mengalami jalan buntu. Istiqamah berarti
54
berpegang teguh pada prinsip-prinsip keyakinan
dan merutinkan amaliyah sesuai keyakinan
tersebut.
B. MASLAHATUL UMMAH
1. Penguatan Ekonomi
Dalam kilasan sejarahnya, Nahdlatul Ulama
awalnya terbentuk dari para pedagang muslim
yang berkeinginan untuk menjadi masyarakat
yang mandiri. Maka sebelum NU berdiri, telah
berdiri terlebih dahulu Nahdlah al-Tujjar.
Nahdlah al-Tujjar ini tidak lain adalah cikal bakal
NU. Keinginan ini tidak terlepas dari nilai-nilai
agama Islam yang memerintah setiap umatnya
agar dapat membantu sesama umat manusia.
Kaum Nahdliyin hampir mayoritas berasal dari
kalangan masyarakat agraris. Kini masyarakat
Nahdliyin harus berhadapan dengan
perkembangan dunia industri yang sangat
pesat. Otomatis, keahlian dan kemandirian
masyarakat Nahdliyin di sektor agraria harus
siap dan akrab dengan industrialisasi,
modernisasi, komersialisasi, dan manajerialisasi
produk-produk agraria.
55
Dengan terjadinya perubahan itu, NU
setidaknya memerlukan sebuah penguasaan
baru dalam masalah ekonomi. Perubahan ini
bukan dimaksudkan untuk mengubah pola
hidup masyarakat, melainkan meningkatkan
kemampuan dan keahlian masyarakat NU di
berbagai bidang seperti pertanian, perkebunan,
nelayan, dan sektor usaha kecil menengah
lainnya guna meningkatkan nilai tambah
beberapa sektor yang sesuai dengan standar
usaha yang berlaku saat ini.
Sementara itu, kalangan Nahdliyin yang
berada di perkotaan menjalin komunikasi dan
relasi dengan perusahaan dan birokrasi guna
membuka peluang pangsa pasar bagi warga NU
yang hidup di pedesaan yang menggantungkan
hidupnya dari sektor usaha kerakyatan.
Dengan pola hubungan dua arah ini, yakni
pelaku usaha dan perusahaan dengan warga
Nahdliyin di perkotaan, pelaku usaha NU tidak
saja dapat memperoleh peningkatan ekonomi
semat, tetapi juga dapat membuka kesempatan
kepada warga NU untuk belajar dan
mengembangkan hasil-hasil produksinya
menjadi produk-produk unggul dan
meningkatkan keahlian pelaku-pelaku usaha NU
56
dalam mengelola sektor usaha kerakyatan,
termasuk informasi di seputar jenis usaha apa
yang saat ini dicari oleh perusahaan. Dengan
demikian, pelaku-pelaku usaha NU tidak saja
akan mampu meningkatkan pendapatan, tapi
juga akan mengetahui perkembangan di seputar
usaha.
2. Pendidikan
a. Pendidikan Pengajaran Formal
Sebagai sebuah organisasi kemasyarakatan
yang turut serta mencerdaskan bangsa,
Nahdlatul Ulama sangat memiliki perhatian
besar terhadap dunia pendidikan. Pondok
pesantren yang semula tradisional diformat
membentuk kelas berjenjang yang lambat laun
menjadi madrasah. Madrasah dan pondok
pesantren merupakan kontribusi nyata warga
NU terhadap tegak dan kemajuan bangsa ini.
Karena itu, di tengah perubahan orientasi hidup
masyarakat, pendidikan tidak saja berfungsi
sebagai bekal bagi warga NU untuk bisa
membaca dan menulis. Akan tetapi lembaga-
lembaga pendidikan NU harus bisa bersaing
dengan lembaga pendidikan di luar NU.
Kemajuan teknologi dan era industrialisasi tidak
saja mensyaratkan warga NU bisa membaca dan
57
menulis, melainkan juga memahami dan
menguasai ilmu pengetahuan yang terus
berkembang pesat nyaris tanpa batas.
Dengan semakin berkembangnya teknologi
informasi, model pendidikan di pesantren tidak
semata-mata bersifat diniyyah (mengajarkan
materi keagamaan) saja, tetapi juga duniawi.
Karena dengan penguasaan ilmu pengetahuan,
teknologi dan informasi, maka kualitas keilmuan
yang diberikan oleh lembaga-lembaga NU juga
bisa disejajarkan dengan lembaga pendidikan di
luar NU. Disadari atau tidak, pemanfaatan,
pengembangan, dan penguasaan teknologi
menjadi syarat untuk bisa bersaing di masa
globalisasi. Sehingga, dunia pendidikan NU
harus pula tanggap dengan perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, dan informasi dengan
cara membenahi kemampuan pengelola
lembaga pendidikan, guru, dan murid serta
sarana pembelajaran terhadap teknologi
informasi, serta perkembangan ilmu
pengetahuan mutakhir.
b. Pengajaran Lingkungan
Sejak dulu hingga kini, Nahdlatul Ulama
memahami bahwa pendidikan dan sekolah
58
merupakan sebuah kewajiban, namun
pendidikan itu tidak terbatas oleh waktu dan
tempat. Bagi NU, pendidikan harus berlangsung
sejak dari buaian ibu hingga ke liang lahat.
Artinya, pendidikan tidak semata-mata
dilakukan di sekolah, namun juga di masyarakat.
Baik buruknya seseorang juga dipengaruhi dan
mempengaruhi lingkungan sekitarnya. Karena
itu, peran ulama menjadi sangat penting bagi
pendidikan di luar sekolah. Ulama tidak saja
mendidik santri agar menjadi generasi penerus
bangsa yang berguna, tapi juga ngayomi lan
ngayemi masyarakat umum. Untuk itu,
pengajaran dan pendidikan tentang dampak
lingkungan juga menjadi perhatian NU. Sebab,
hal ini mengandung konsekuensi bagi NU untuk
senantiasa memberikan keteladanan atau
uswah kepada masyarakat luas.
3. Pelayanan Sosial
Salah satu motivasi kelahiran Nahdlatul
Ulama adalah karena kesadaran buruknya
pelayanan masayarakat, terutama rakyat kecil
tempat mayoritas warga NU berada. Kemiskinan
yang terus menjadi beban negeri ini,
kebanyakan adalah dialami warga NU, buruknya
gizi dan kesehatan mayoritas diderita warga NU,
59
rendahnya tingkat pendidikan hampir
seluruhnya juga disandang warga NU. Itu
kenyataan yang harus diakui.
Namun bahkan dari kesadaran itu
Nahdlatul Ulama harus memprioritaskan
program dan usahanya dalam bidang
pengentasan kemiskinan, perbaikan kesehatan,
dan perbaikan tingkat pendidikan. Seberapapun
kemampuan, tiap warga NU harus berusaha
menjadi pelayan bagi pengentasan penderitaan
masyarakat. Mereka yang berkemampuan harus
berusaha sekuatnya untuk mengangkat
saudara-saudaranya yang terus terjerat
kemiskinan, kekurangan gizi dan kesehatan, dan
rendahnya tingkat pendidikan.
Orang yang berkemampuan itu –di
kalangan NU– saat ini sesungguhnya makin
banyak. Dan kesadaran untuk itu juga mulai
tumbuh. Terbukti sekarang di lingkungan NU
sudah makin banyak lembaga-lembaga
pendidikan yang cukup berkelas, panti asuhan
bagi yatim dan yang terlantar, rumah-rumah
sakit atau balai kesehatan, dan lembaga-
lembaga perekonomian dan koperasi yang
berusaha mengangkat derajat hidup warga NU.
Itu semua patut dihargai, tapi itu masih jauh
60
dari kebutuhan. Karena itu kesadaran untuk
terus memperbaiki pelayanan sosial harus terus
ditumbuhkan dan diupayakan.
61
BAB VIII
KEBANGSAAN
Sejak sebelum lahirnya, Indonesia
merupakan negara plural yang didiami
penduduk dengan beraneka ragam suku, adat
istiadat, bahasa daerah, dan menganut berbagai
agama, yang tinggal di lebih 17 ribu pulau,
memanjang dari barat hingga timur hampir
seperdelapan lingkar bumi. Jam’iyyah Nahdlatul
Ulama merupakan salah satu komunitas yang
hidup di situ, dan sejak mula menyadari dan
memahami bahwa keberadaannya merupakan
bagian tidak terpisahkan dari keanekaragaman
itu. Karena itu, NU terus mengikuti dan ikut
menentukan denyut serta arah bangsa ini
berjalan. Karena itu, segala permasalahan yang
menimpa bangsa Indonesia juga ikut menjadi
keprihatinan NU. Ibarat satu tubuh, bila salah
satu bagian menderita, maka seluruhnya ikut
merasakan.
Dalam kaitan ini, Nahdlatul Ulama
mendasari dengan empat semangat: 1) Ruh at-
Tadayun, yaitu semangat beragama yang
dipahami, didalami, dan diamalkan; 2) Ruh al-
62
Wathaniyah, yakni semangat cinta tanah air; 3)
Ruh at-Ta’addudiyah, yaitu semangat
menghormati perbedaan; dan 4) Ruhul
Insaniyah, berarti semangat kemanusiaan.
Keempat semangat NU itu selalu melekat dan
terlibat dalam proses perkembangan Indonesia.
Ruhut Tadayun menunjukkan bahwa NU
mendorong warganya untuk senantiasa
meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama.
Bagi NU, Islam adalah agama yang ramah dan
damai. Dengan nilai-nilai keindonesiaan yang
terkandung dalam Islam, NU menjadi barometer
kegiatan beragama yang moderat (tawasuth).
Dengan semakin banyaknya konflik kekerasan
yang disinggungkan dengan agama, NU harus
lebih intensif terus mengembangkan sikap
tawasuth ini ke masyarakat, tanpa pandang
perbedaan agama dan keyakinan meraka. Pada
individu Nahdliyin harus tertanam kesadaran
(ghirah) Islamiyah (kepekaan membela
eksistensi Islam) dan tetap menghormati orang
lain yang memeluk agama yang berbeda.
Keterlibatan NU dalam pergerakan
kebangsaan dan perjuangan kemerdekaan
Indonesia, NU telah secara aktif menerapkan
semangat cinta tanah air atau ruhul
63
wathaniyah. Bahkan, ketika sebagian umat
muslim mengajukan Syari’at Islam sebagai
ideologi negara dengan memasukkan tujuh kata
dalam Pancasila yang berbunyi “dengan
kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi
pemeluknya”, NU rela menghilangkannya demi
persatuan bangsa tanpa harus mengorbankan
aqidah. Ini gambaran jelas betapa NU sangat
konsisten dengan perjuangan para pahlawan
yang berasal dari berbagai macam latar
belakang agama dan etnis yang ikut berjuang
memerdekakan bangsa Indonesia dari
penjajahan. Dengan demikian, sudah menjadi
keyakinan warga Nahdliyin bahwa Pancasila
merupakan wujud upaya umat Islam Indonesia
dalam mengamalkan agamanya.
Dengan melihat semanagt cinta tanah air
atau ruhul wathaniyah tersebut, NU sejak awal
menyadari bahwa keanekaragaman bangsa ini
harus dipertahankan. Bagi NU, keanekaragaman
bangsa Indonesia bukanlah penghalang dan
kekurangan, melainkan kekayaan dan peluang,
sehingga warga Nahdliyin menganggap perlu
agar seluruh warganya selalu menjunjung tinggi
untuk menghormati keanekaragaman itu. Di
dalam Islam sendiri terdapat berbagai aliran dan
64
mazhab yang berbeda-beda. Begitu pula halnya
dengan perbedaan etnis dan ras serta bahasa
yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Perbedaan di mata NU bukan untuk
dipertandingkan dan diadu mana yang terbaik
dan mana yang terburuk. Perbedaan itu,
sebaliknya, ditempatkan sebagai modal bangsa
Indonesia menjadi bangsa yang besar. Di sini
dapat dilihat, betapa konflik etnis dan aliran
keagamaan dan keyakinan tidak pernah
menjadikan NU patah arang. Justru dengan
konflik-konflik itu NU selalu mendorong semua
pihak agar menghormati perbedaan yang ada,
karena bangsa ini memang bangsa yang
multicultural, bangsa yang kaya akan
keanekaragaman agama, etnis, ras, dan bahasa.
Semangat ini biasa disebut dengan ruh at-
ta’addudiyah (semangat menghormati
perbedaan).
Ruhul Insaniyah adalah semangat yang
mendorong setiap warga negara Indonesia
untuk menghormati setiap hak manusia. Meski
NU merupakan organisasi kemasyarakatan
terbesar di Indonesia bahkan di dunia, namun
kebesaran itu tidak menjadikan NU melihat
organisasi masyarakat dan agama yang kecil
65
dengan sebelah mata. Kebesaran ini, bagi NU
karena adanya pengakuan hak dan derajat yang
sama kepada semua warga negara, yang secara
tidak langsung ikut mempengaruhi pandangan
orang tentang penghargaan NU terhadap nilai-
nilai kemanusiaan, yang pada akhirnya orang-
orang yang sebelumnya tidak menjadi warga NU
kemudian beralih menjadi warga Nahdliyin.
Keempat semangat inilah yang menjadi
kunci NU kemudian menjadi sebuah organisasi
kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia dan
dunia. Dengan demikian, sebuah kemunduran
jika NU melupakan empat semangat ini.
BAB IX
KHATIMAH
Yang dipaparkan dalam buku ini adalah sebuah
penjabaran secara singkat dari sikap
keberagamaan dan kemasyarakatan Aswaja,
66
yaitu tawassuth dan I’tidal (tengah-tengah),
tasamuh (toleran), tawazzun (keseimbangan),
dan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak
kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran).
Tawassuth dan I’tidal adalah sebuah sikap
keberagamaan yang tidal terjebak pada titik-
titik ekstrem. Sikap yang mampu menjumput
setiap kebaikan dari berbagai kelompok.
Kemampuan untuk mengapresiasi kebaikan dan
kebenaran dari berbagai kelompok
memungkinkan pengikut Aswaja untuk tetap
berada di tengah-tengah.
Tasamuh adalah sebuah sikap
keberagamaan dan kemasyarakatan yang
menerima kehidupan sebagai sesuatu yang
beragam. Keragaman hidup menuntut sebuah
sikap yang sanggup untuk menerima perbedaan
pendapat dan menghadapinya secara toleran.
Toleransi yang tetap diimbangi oleh keteguhan
sikap dan pendirian.
Tawazun artinya seimbang. Keseimbangan
adalah sebuah sikap keberagamaan dan
kemasyarakatan yang bersedia
memperhitungkan berbagai sudut pandang dan
kemudian mengambil posisi yang seimbang dan
67
proporsional. Sebagaimana sikap tawassuth,
tawazun juga menghendaki sebuah sikap
keberagamaan yang tidak terjebak pada titik-
titik ekstrem, misalnya kelompok keagamaan
yang terlalu terpaku kepada masa lalu sehingga
umat Islam sekarang hendak ditarik ke belakang
mentah-mentah sehingga bersikap negatif
terhadap setiap ikhtiar kemajuan. Atau
sebaliknya, kelompok keagamaan yang
menafikan seluruh kearifan masa lalu sehingga
tercerabut dari akar sejarahnya. Aswaja
menghendaki sebuah sikap tengah-tengah agar
tidak terjebak ke dalam ekstremitas.
Amar ma’ruf nahi munkar atau mangajak
kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran
adalah sebuah konsekuensi dari keyakinan kita
terhadap kebenaran Islam ala Ahlus sunnah wal
Jama’ah. Saat ini banyak kelompok Islam yang
sikap keberagamaannya tidak menunjukkan
moderasi ala Aswaja tapi mengaku-aku Aswaja.
Amar ma’ruf nahi munkar ditujukan pada siapa
saja, muslim maupun non-muslim, yang
melakukan kemungkaran dengan menebar
perilaku destruktif, menyebarkan rasa
permusuhan, kebencian dan perasaan tidak
68
aman, serta menghancurkan keharmonisan
hidup di tengah-tengah masyarakat.
Jka kita memeras kembali keempat nilai
ideal tersebut, maka kita akan menemukan satu
kata, yaitu moderat yang berarti seimbang,
proporsional, dan toleran. Sikap keberagamaan
dan kemasyarakatan yang moderat ini
melandasi seluruh ajaran Aswaja sejak dulu.
Oleh karena itu, maka perbedaan sikap antara
kalangan muslim keras atau ekstrem yang saat
ini sedang marak dengan sikap moderat kaum
sunni tidak hanya terjadi saat ini, tapi sudah ada
sejak dulu.
Asy’ariyah dan Maturidiyah yang dianggap
sebagai ajaran tauhid Sunni tidak lain adalah
sebuah ikhtiar mencari jalan tengah (moderat)
antara ekstremitas Jabariyah dan
Qadariyah/Mu’tazilah. Asy’ariyah dan
Maturidiyah juga muncul sebagai respon atas
sikap keberagamaan Mu’tazilah yang
menganggap semua musuh-musuhnya sesat
sehingga semua umat Islam harus mengikuti
ajaran Mu’tazilah. Arogansi Mu’tazilah ini
dilakukan dengan menggunakan kekuatan
politik negara yang bersifat represif. Kalau saat
ini ada kelompok muslim yang menganggap di
69
luar kelompoknya adalah sesat dan hendak
memaksakan pendapatnya dengan
menggunakan kekuasaan negara (biasanya
dengan cara mengislamkan negara), maka
sungguh nyata bahwa mereka bukanlah kaum
sunni.
Semangat moderasi juga kita temukan
dalam empat ulama pendiri mazhab fiqih Sunni
(Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali). Mereka
adalah ulama yang berjuang (ijtihad) untuk
merumuskan hukum Islam dengan mencari
keseimbangan antara dalil nash dan ra’yu
(rasio). Hal ini terlihat semakin jelas dalam
pribadi Imam Syafi’i, di mana dia sangat
membela hadis shahih, tapi sekaligus juga
menganjurkan qiyas (analogi) secara rasional
serta merumuskan kaidah-kaidah fiqih yang
bersifat logis dan rasional.
Semangat moderasi juga ditemukan dalam
tasawuf Sunni. Al-Ghazali adalah salah satu
ulama Sunni besar yang berusaha dengan keras
menyelaraskan antara syari’at dengan hakikat.
Bagi al-Ghazali, syari’at atau fiqih tanpa ada
muatan tasawufnya menjadikan ibadah kering
tanpa ruh, sementara tasawuf yang
mengabaikan syari’at bisa terjebak dalam
70
kesesatan. Karena itu, maka ada adagium yang
sangat terkenal dalam masalah ini, yaitu “man
tafaqqaha wala tashawwafa faqad tafassaq,
wa man tashawwafa wala tafaqqaha faqad
tazandaq” (orang yang mengikuti fiqih dengan
mengabaikan tasawuf bisa terperosok dalam
kefasikan, dan orang yang mengikuti tasawuf
dengan mengabaikan fiqih bisa terperosok
dalam kezindiqan).
Sikap moderat yang diteladankan ulama
Sunni itu tetap dilanjutkan oleh Walisongo
dalam menyebarkan Islam di nusantara.
Sepanjang sejarah dakwah Walisongo, kita
menemukan sebuah upaya untuk mencari jalan
tengah antara ajaran Islam sebagaimana yang
tertera dalam nash dengan kondisi riil yang ada
di tengah-tengah masyarakat. Sikap moderat
Walisongo tidak hanya berhasil dalam
menyebarkan Islam, tapi juga mampu
menghadirkan Islam yang toleran dan damai,
bukan Islam yang garang dan menghancurkan
(destruktif).
71
72