The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Indah Amaliyah, 2025-12-09 22:26:09

Tokoh keperawatan Najwa Fauzia Rahma

Tokoh keperawatan tugas etika

BIOGRAFI TOKOH-TOKOH KEPERAWATANMata Kuliah: Etika KeperawatanNama Dosen: Ns.Lina Rahmawati, M.KepNama Penyusun:Najwa Fauzia RahmaTingkat 1PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATANSEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN AKSARI INDRAMAYU2025


TOKOH-TOKOH KEPERAWATAN DI DUNIA1.Florence NightingaleFlorence Nightingale (12 Mei 1820 – 13 Agustus 1910) adalah pelopor perawat modern,penulis dan ahli statistik.[1] Ia dikenal dengan nama Bidadari Berlampu (bahasa Inggris The Lady With The Lamp) atas jasanya yang tanpa kenal takut mengumpulkan korban perang pada perang Krimea, di semenanjung Krimea, Rusia.Florence Nightingale menghidupkan kembali konsep penjagaan kebersihan rumah sakit dan kiat-kiat juru rawat. Ia memberikan penekanan kepada pemerhatian teliti terhadap keperluan pasien dan penyusunan laporan mendetail menggunakan statistik sebagai argumentasi perubahan ke arah yang lebih baik pada bidang keperawatan di hadapan pemerintahan Inggris.Nightingale mulai menekuni keperawatan—meskipun ditentang oleh ibu dan saudara perempuannya, yang menginginkan Florence untuk menjalani peran yang lebih dapat diterima sebagai istri dan ibu, sebagaimana kebiasaan bagi perempuan di kelasnya. Namun, ia gigih, mengatakan bahwa ia merasa terpanggil oleh Tuhan untuk profesi ini.Dalam perjalanannya, ia mengunjungi sebuah komunitas religius Lutheran di Jerman, tempat seorang pendeta dan diaken wanita (cikal bakal perawat modern) merawat orang sakit. Ia menerima pelatihan medis di institut tersebut dan kemudian menulis bahwa pengalaman tersebut menjadi dasar bagi kemajuannya.Nightingale menjadi terkenal selama Perang Krimea. Ia dan 38 perawat sukarelawan pergi ke rumah sakit militer di Scutari, tetapi justru mendapati kondisi yang sangat buruk di antara para tentara Inggris. Lebih banyak korban luka yang meninggal akibat tifus, kolera, dan disentri daripada akibat luka-luka mereka. Nightingale menerapkan program sanitasi dan higiene yang radikal—terutama mencuci tangan dengan sabun dan air, yang sebelumnya bukan praktik umum.


2. Dorothea Elizabeth OremDorothea Elizabeth Orem (15 Juli 1914 – 22 Juni 2007) adalah salah satu ahli teori keperawatan terkemuka Amerika yang mengembangkan Teori Keperawatan Defisit Perawatan Diri , yang juga dikenal sebagai Model Keperawatan Orem .Teorinya mendefinisikan Keperawatan sebagai “Tindakan membantu orang lain dalam penyediaan dan pengelolaan perawatan diri untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi manusia pada tingkat efektivitas di rumah.” Ini berfokus pada kemampuan setiap individu untuk melakukan perawatan diri , yang didefinisikan sebagai “praktik kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan individu atas nama mereka sendiri dalam mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraan.”Ayahnya adalah seorang pekerja konstruksi, dan ibunya adalah seorang ibu rumah tangga. Ia adalah anak bungsu dari dua bersaudara.Pada awal tahun 1930-an, ia memperoleh diploma keperawatannya dari Sekolah Keperawatan Rumah Sakit Providence di Washington, DC. Ia menyelesaikan gelar Sarjana Sains dalam Keperawatan pada tahun 1939 dan gelar Magister Sains dalam Keperawatan pada tahun 1945, keduanya dari Universitas Katolik Amerika di Washington, DC.


3. Betty NeumanBetty Neuman (11 September 1924 – 28 Mei 2022) adalah seorang ahli teori keperawatan yang mengembangkan Model Sistem Neuman, sebuah kerangka kerja konseptual yang banyak digunakan dan menyajikan pandangan holistik tentang pasien. Ia mendedikasikan bertahun-tahun untuk menyempurnakan model sistem ini, yang memandang pasien sebagai sistem terbuka yang berinteraksi dengan stresor di lingkungan mereka. Neuman memanfaatkan teori dari berbagai disiplin ilmu dan menerapkan keahlian klinis serta pengajarannya untukmengembangkan Model Sistem Neuman, yang telah diadopsi dalam kurikulum dan praktik keperawatan di seluruh dunia.Ia tumbuh besar di pertanian, sebuah pola asuh yang mendorong hasratnya untuk membantu orang yang membutuhkan. Ketertarikannya pada keperawatan dimulai sejak kecil; ia membantu merawat ayahnya yang sakit, sebuah pengalaman yang menumbuhkan rasa welas asih dan mengarahkannya menuju karier di bidang kesehatan.Ayah Neuman, seorang petani, meninggal dunia pada usia 36 tahun. Ibunya, seorang bidan otodidak , sering bepergian untuk merawat orang lain, yang memengaruhi dedikasi Neuman dalam keperawatan. Betty adalah anak tengah dari dua saudara laki-laki. Betty Neuman menikah dan memiliki seorang putri pada tahun 1959. Selain keperawatan, ia juga sempat bekerja sebagai model fesyen dan belajar menerbangkan pesawat, yang mencerminkan jiwa petualang dan keserbagunaannya.


4. Sister Calista RoySuster Callista Roy, CSJ (14 Oktober 1939) adalah seorang biarawati, ahli teori keperawatan, profesor, dan penulis Amerika. Ia dikenal karena menciptakan model adaptasi keperawatan . Ia adalah seorang profesor keperawatan di Boston College sebelum pensiun pada tahun 2017. Roy dinobatkan sebagai Legenda Hidup tahun 2007 oleh American Academy of Nursing . Callista Roy adalah seorang ahli teori keperawatan terkemuka yang dikenal karena mengembangkan Model Adaptasi Roy, yang secara fundamental mengubah profesi keperawatan dengan mendefinisikan ulang peran perawat dalam perawatan pasien. Lahir pada tahun 1939, Roy dipengaruhi oleh didikan Katoliknya yang taat dan pekerjaan ibunya sebagai perawat, yang menanamkan dalam dirinya rasa welas asih dan pengabdian yang mendalam. Setelah meraih gelar sarjana keperawatan dari Mount St. Mary’s College, ia melanjutkan studi lanjutan di bidang keperawatan anak dan sosiologi di UCLA, dengan keyakinan bahwa memahami interaksi sosial sangat penting bagi keperawatan.


5. Mary BreckenridgeBreckenridge (17 februari 1881-16 mei 1965) adalah pelopor dalam membangun sistem kebidanan dan keperawatan di pedesaan Kentucky timur. Ia menjadi perawat terdaftar setelah menempuh pendidikan di Sekolah Keperawatan Rumah Sakit St. Luke di New York City. Ia kemudian bekerja di Washington, DC, sebagai perawat pengawas selama epidemi influenza tahun 1918. Setelah belajar bahasa Prancis di sekolah asrama Swiss di masa mudanya, Breckenridge menjadi sukarelawan untuk bertugas di Prancis, mengorganisir upaya bantuan bagi anak-anak dan ibu hamil yang terdampak bencana pasca Perang Dunia I. Pada tahun 1921, ia kembali ke AS dan melanjutkan pendidikan kesehatan masyarakat agar dapat melayani keluarga miskin di Kentucky timur dengan lebih baik. Di sana, ia bertemu dengan bidan yang terlatih secara informal, tetapi ia ingin mendapatkan pelatihannya sendiri di bidang tersebut. Karena tidak ada program kebidanan di Amerika Serikat, ia melanjutkan studi di Inggris dan memperoleh sertifikasi. Breckenridge mengunjungi beberapa pos perawat yang sudah mapan di Dataran Tinggi Skotlandia, yang menginspirasinya untuk memulai jaringan perawat serupa sekembalinya ke Kentucky pada tahun 1925. Ia mendirikan Komite Kentucky untuk Ibu dan Bayi, yang kemudian menjadi Layanan Perawat Perbatasan (FNS) pada tahun 1928. Bersama bidan-bidan lain dari London, Breckenridge menjelajahi wilayah tersebut dengan menunggang kuda, menyediakan layanan kesehatan umum, perawatan pra dan pascanatal, serta layanan persalinan. Dengan menggunakan model pemberian layanan kebidanan, Breckenridge menunjukkan bahwa tenaga kesehatan terlatih dapat menurunkan angka kematian bayi dan ibu. Pada saat kematiannya di tahun 1965, FNS—yang terus ia pimpin—telah membantu persalinan lebih dari 14.500 bayi dengan hanya 11 kematian ibu.


TOKOH-TOKOH KEPERAWATAN DI INDONESIA6. Budi Anna KeliatProf. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc,(5 april 1952) merupakan professor ketiga Indonesia dalam kepakaran Ilmu Keperawatan Jiwa. Kemampuan menemukan Model Praktik Keperawatan Profesional Jiwa (MPKP Jiwa), serta Community Mental Health Nursing (CMHN). Bukanlah sesuatu yang lahir tanpa sebab akibat, tentu pengalaman masa kecil ketika SD, SMP hingga SMA sangat berperan dalam hal ini.Potret dan karya Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc, bisa kita temukan pada mahasiswa keperawatan maupun praktisi, sebab tercatat hingga tahun 2018 sebanyak 37 buah. Jurnal nasional 39, jurnal internasional 39, peneliti 21 buah serta HAKI 68.Artikel ini agak berbeda sebab mengupas kehidupan masa lalu ketika ia masih kecil, oleh karena menemukan ide pemikiran Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp., M.App.Sc tentang Ilmu Keperawatan Jiwa, sesuatu yang sangat mudah. Sebab dunia digital maupun cetak telah menyuguhkan berbagai karya miliknya.Maka dengan bangga kami mempersembahkan sebuah tulisan inspiratif, Fondasi luhur sang guru besar dengan Motto Usor-usor.


7. Nyai Ageng SerangNyai Ageng Serang (1752 – 1838) (Tokoh tradisional, pejuang & perawat rakyat)Pendidikan: Pendidikan tradisional Jawa, belajar agama dan pengobatan tradisional.Kontribusi:Selain dikenal sebagai pejuang melawan Belanda bersama Pangeran Diponegoro, ia juga dikenal sebagai tokoh perempuan yang merawat para prajurit yang sakit/luka dengan ramuan tradisional.Menjadi simbol perempuan Jawa yang peduli pada kesehatan rakyat dan prajurit.Teori / Gagasan:Pemikiran kesehatan berbasis pengobatan tradisional dan kearifan lokal.Konsep keperawatan berbasis komunitas dan spiritual.


8. Dewi IrawatiTanggal lahir: 1 Juni 1952Kongres Ke IX, Palembang 2015Pada masa kongres Palembang, tekanan “politik” semakin meningkat. Dengan banyaknya professor keperawatan, membuat semangat profesi sebelumnya berkobar untuk memperjuangkan undang-undang keperawatan.Pada saat kongres tersebut, secara kepantasan akademik Dewi Irawati masih sangat mampu untuk melanjutkan periode kepemimpinan. Dengan beberapa pertimbangan. Terutama pertimbangan sebagai dosen Universitas Indonesia.Akan tetapi, sekaligus hal itu menjadi kelemahan. Oleh karena berdirinya banyak kampus keperawatan tanah air, mengakibatkan persaingan antara klan universitas. Tidak bisa di hindari pada arena kongres.


9. Maria Ulfa SantosoMaria Ulfah Santoso (18 agustus 1911 – 15 april 1988)Pendidikan: Sekolah di BataviaSarjana Hukum di Universitas Leiden, Belanda (1933), perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar itu.Kontribusi:Sebelum jadi Menteri Sosial RI, ia aktif di pelayanan kesehatan masyarakat, terutama ibu dan anak.Mendorong kebijakan perlindungan kesehatan perempuan dan anak.Membina organisasi perempuan untuk mendirikan balai kesehatan rakyat.Teori / Gagasan:Mengaitkan pelayanan kesehatan dengan hak perempuan dan anak, menjadi dasar perkembangan keperawatan komunitas.


10. Nyai Ahmad DahlanNyai Ahmad Dahlan (1872 – 31 mei 1946)Pendidikan: Pendidikan tradisional pesantren, belajar agama Islam, tidak mengikuti sekolah Belanda.Kontribusi:Mendirikan ’Aisyiyah (organisasi perempuan Muhammadiyah) tahun 1917 yang aktif dalam pendidikan dan pelayanan kesehatan masyarakat.Menggerakkan kaum perempuan untuk menjadi relawan kesehatan dan pengasuh anak yatim.Memberikan pelayanan sosial dan keperawatan sederhana kepada masyarakat miskin di Yogyakarta.Teori / Gagasan:“Perempuan harus ikut berperan dalam pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.”Menekankan caring (kepedulian) dan pelayanan kesehatan berbasis iman dan amal.


Click to View FlipBook Version