Perkembangan Drama di Indonesia
di antaranya Cikal Bakal Teater Modern,
Drama dan Teater Peranakan Tionghoa,
Teater Zaman Jepang dan
Prakemerdekaan
Kelompok 3 (B) Mata Kuliah Apresiasi dan Kajian Drama Indonesia
Anggota Kelompok
205030050 Luthfi Muhamad Azhar
205030070 Jesica Paskah LBN Tobing
205030079 Nabila Putri Gunawan
1 Daftar Isi 3
Perkembangan 2 Teater Zaman
Teater Modern Jepang dan
Teater Pra
Di Indonesia Peranakan
Tionghoa kemerdekaan
01
Perkembangan
Teater Modern Di
Indonesia
Perkembangan Teater Modern Di Indonesia
Teater modern sebagai budaya serapan dari Barat masuk ke Nusantara
melalui bangsa Eropa, khususnya Belanda, yang pada saat itu menguasai berbagai
sektor kebudayaan masyarakat. Munculnya teater modern ke dalam wilayah budaya
Nusantara tidak sekaligus, tetapi secara bertahap melalui bentuk-bentuk pertunjukan
kelompok teater profesional. Menurut catatan sejarah, bentuk teater Eropa yang
pertama kali ditampilkan terjadi pada saat bangsa Indonesia dikuasai oleh Inggris
pada tahun 1812.
Jakob Sumardjo mengemukakan perkembangan teater di
Indonesia dalam beberapa periode sebagai berikut.
1. Masa Perintisan Teater Modern (1885 – 1925) yang terbagi atas
periode:
1) Teater Bangsawan (1885 – 1902)
2) Teater Stamboel (1891 – 1906)
3) Teater Opera (1906 – 1925)
2. Masa Kebangkitan Teater Modern (1925 – 1941) yang terbagi atas
periode:
1) Teater Miss Riboet Orion (1925)
2) Teater Opera Dardanella (1926 – 1934)
3) Awal Teater Modern Indonesia (1926)
3. Masa Perkembangan Teater Modern (1942 – 1970) yang terdiri atas
periode:
1) Teater Zaman Jepang (1942 – 1945)
2) Teater Tahun 1950-an
3) Teater Tahun 1960-an
4. Masa Pertumbuhan Teater Mutakhir (1970 – 1980-an)
Masa perintisan teater modern yang diawali dengan kemunculan Komidie
Bangsawan memberi makna baru bagi perkembangan teater di Indonesia. Tradisi
Komidie Bangsawan ini kemudian dilanjutkan dengan berdirinya kelompok Komidie
Stamboel yang didirikan oleh ust Mahieu, seorang peranakan Indo-Perancis kelahiran
Surabaya (1860 – 1906). Komidie Stamboel kemudian bubar pada tahun 1906 setelah
ust Mahieu mengundurkan diri ke Bumiayu dan meninggal dunia.
Kebangkitan teater modern Hindia Belanda dimulai dengan munculnya
pembaharuan-pembaharuan dalam segi pementasan dan manajemen pementasan.
Hal ini dimungkinkan karena pemilik-pemilik kelompok teater ini yang semula dari
kalangan rakyat jelata atau saudagar, kini menjadi dari kaum terpelajar.
Di tengah-tengah kejayaan Orion, muncullah kelompok baru di Sidoarjo yang
diberi nama dengan The Malay Opera Dardanella. Kelompok ini didirikan oleh Willy
Klimanoff (nama lain dari A. Piedro), seorang peranakan Rusia Putih kelahiran Penang.
Popularitas Dardanella ternyata kemudian mengalahkan Orion sehingga pada tahun
1934 kelompok Orion ini bubar.
Pada tahun 1935, kelompok Dardanella mengadakan perjalanan keliling Asia
(Tour d’Orient) ke sejumlah negara di Asia. Perjalanan ini kemudian berlanjut ke
Eropa. Nasib kelompok Dardanella ini kemudian tidak berlanjut.
Perkembangan teater Dardanella ini kemudian merangsang tumbuhnya
teater-teater kecil di sejumlah kota di Indonesia. Teater-teater kecil ini merupakan
teater amatir yang dikelola dan dimainkan oleh orang-orang yang hanya sekedar
menyukai teater. Keadaan ini kemudian berkembang terus, bahkan sampai jauh
setelah Indonesia merdeka.
Pertumbuhan teater modern Indonesia ini sesungguhnya makin diperkokoh
pada masa pendudukan Jepang. Pada masa ini para intelektual Indonesia tergabung
dalam kelompok Sandiwara Penggemar Maya yang didirikan pada tahun 1944 oleh
Usmar Ismail, D. Djajakusuma, Rosihan Anwar, dan Dr. Abu Hanifah. Berdirinya
kelompok sandiwara ini menandai bergesernya kelompok teater profesional ke
teater amatir yang kemudian banyak berkembang di Indonesia.
Warna dan gaya pementasan teater-teater profesional yang sekian lama
berkembang di Indonesia, secara tidak sadar telah mempengaruhi pula bentuk-
bentuk pementasan teater tradisional yang tumbuh dan berkembang pada
masyarakat. Dari hasil pengaruh pementasan teater tradisi dan teater modern ini pula
kemudian terlahir bentuk-bentuk baru teater modern yang berakar pada budaya
daerah setempat.
02
Teater Peranakan
Tionghoa
Teater Peranakan Tionghoa
erti yang diungkapkan oleh Nio Joe Lan “Perkembangan sastra
Tionghoa-Peranakan berjalan seiring penerjemahan hasil sastra Tiongkok, jadi
tidak mengherankan apabila ada pengaruhnya meskipun tidak banyak. Kelompok
Tionghoa Peranakan di Indonesia membentuk semacam ‘kantong kultural’
tersendiri dengan masih terikatnya mereka pada tradisi kultur negeri asal dengan
garis ayah. Mereka menjadi seakan hidup di dalam ‘kantong budaya’ mereka
sendiri dan tampak terpisah dari kebudayaan setempat. Pada kenyataannya
interaksi budaya antara orang-orang Tionghoa Peranakan dengan budaya
setempat tetap berjalan.
Pemerintah masa reformasi mengizinkan kembali upacara-upacara ritual
adat dan keagamaan etnis Tionghoa secara terbuka. Hari raya Imlek (tahun baru
Tionghoa) dijadikan sebagai hari libur nasional. Seni pertunjukan Tionghoa
Peranakan mulai marak dipentaskan termasuk pertunjukan teater boneka (wayang)
Potehi yang dulu selama 32 tahun masa Orde Baru bagaikan hidup segan mati tak
akan.
Teater boneka Potehi merupakan salah satu jenis teater boneka (wayang golek)
dari Fujian (Hokkian/). Kata Potehi dalam Bahasa Indonesia berasal dari dialek Fujian
Selatan. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi penjelasan teater boneka Potehi
sebagai ‘Wayang Golek Cina’. Hal ini menunjukkan bahwa teater boneka Potehi
berasal dari Tiongkok.
Tradisi wayang boneka (teater boneka) kayu yang berasal dari daratan Cina
sudah dikenal sejak zaman Dinasti Siong Theng (3000 tahun yang lalu). Diduga teater
boneka Tiongkok ini memiliki pertautan dengan perkembangan teater boneka kayu
yang juga ditemukan di Provinsi Hunan (Yunan), Sichuan, Shanxi, Guangdong, dan
Jingsu. Diduga pula bahwa tradisi boneka kayu memiliki usia yang lebih tua
dibanding perkembangan teater boneka kulit yang sudah dikenal sejak zaman Dinasti
Song (960-1278). Teater boneka tersebut mengalami puncak kejayaan pada zaman
Dinasti Ming (1368-1644) sampai Dinasti Qing (1644-1911).
Teater boneka di Cina dikenal dalam berbagai bentuk. Adapun bentuk-
bentuk teater boneka tersebut adalah teater boneka dari kayu, kulit, Rod Puppet,
atau bertangkai, String Puppet (Marionette) yakni boneka tali, dan Glove Puppet atau
boneka sarung tangan, termasuk di dalam kelompok ini adalah teater boneka Potehi.
Menurut Kamus Cihai (Kamus Besar Bahasa Tionghoa) Wayang Golek Tiongkok
konon bermula pada Zaman Dinasti Han (2006 SM-220 M) dan Dinasti Song (960 M-
1279 M).
Masa pra Orde Baru pertunjukan teater boneka (wayang) Potehi dapat
dengan mudah ditemui di berbagai tempat dan event. Pada Pekan Raya Jakarta,
Perayaan Cap Go Meh dan Pekan Raya Tahunan Jawa (pasar malam sekatenan) di
Yogyakarta sebuah teater kecil didirikan khusus untuk pertunjukan teater boneka
(wayang) Potehi. Pada tahun 1963 di kota Semarang orang mudah menemukan
sebuah rombongan teater boneka (wayang) Potehi yang menampilkan pertunjukan
secara spontan di tempat-tempat erti pasar dan terminal bus yang banyak orang
berkumpul.
Sejak pertunjukan untuk umum dilarang pada zaman Orde Baru, maka teater
boneka Potehi hanya dapat ditonton di lingkungan kelentheng, yakni di halaman
bagian depan. Penonton pendukungnya adalah kaum Tionghoa Peranakan beragama
Tridarma. Teater boneka Potehi atau dikenal sebagai wayang Potehi, pada zaman
reformasi mulai digelar di luar kelentheng. Sejak diberlakukan Kepres tersebut
pertunjukan Potehi bangkit kembali. Pertunjukan mulai digelar di luar kelentheng.
Tahun 1998 dipentaskan untuk sebuah kegiatan Seminar Internasional ATL (Asosiasi
Tradisi Lisan Nusantara) di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Saat itulah Sehu (dalang)
Teater boneka (wayang) Potehi, Thio Tiong Gie menggelar pertunjukan untuk peserta
seminar dan masyarakat umum yang datang menonton. Pertunjukan tersebut
merupakan awal teater boneka Potehi muncul kembali di tengah masyarakat.
03
Teater Zaman Jepang
dan Pra kemerdekaan
Teater Zaman Jepang dan Pra kemerdekaan
Setelah Belanda menyerah kepada sekutu Indonesia dikuasai oleh jepang
perubuhan-perubahan terjadi dibatang tubuh pemerintahan Indonesia, perubahan-
perubahan itu tidak hanya dibidang politik, ekonomi, budaya, tapi juga merambat sampai
ke seni pertunjukan teater. Teater pada zaman Jepang (1942-1945), terbagi tiga fase yaitu
teater profesional, teater amatur, dan taeter propaganda Jepang. Ketiga fase ini sangat
mewarnai perkembangan teater Indonesia pada zaman itu.
Teater Profesional
Teater profesional merupakan lanjutan dari perkembangan teater rakyat kota dari
masa Darnella. Sebut saja Bintang Surabaya misalnya yang dipimpin oleh Fred Young, di
kota Malang juga berkembang dengan pesat teater-teater ini hidup dijalan-jalan,
mengamen keliling kota jawa dan akhirnya menetap dikota jakarta. Mereka juga mewarnai
pementasan dengan Fashion Show yang diperagakan oeh gadis-gadis Indonesia sebagai
selingan sebelum pementasan atau sesudah pementasan.
Teater Amatur
Kelompok teater Amatur di zaman Jepang berbeda ketika pada zaman Kolonial,
kelompok teater ini merupakan studi yang sangat serius mereka pentas secara priodik.
Kelompok pertama hadir adalah Sandiwara Angkatan Muda Mata Hona pimpinan Andjar
Asmara dan Kamadjaja yang beranggotakan siswa-siswa menengah keatas. Namun
pementasan mereka selalu dapat pengawas dan hambatan dari pemerintahan Jepang.
Teater Propaganda
Teater propaganda bertujuan mengusai pikiran rakyat Indonesia supaya bisa
dijinakkan dan mudah untuk dibina tentu saja untuk kepentingan pemerintahan Jepang.
Jepang memasukkan kaum terpelajar Indonesia untuk dijadikan alat, kerna sasaran
propaganda ini adalah rakyat maka Jepang menggunakan audio visual yaitu teater dan film.
Untuk itu dibentuklah Pusat Kebudayaan Rakyat yang dipimpin oleh tokoh-tokoh
masyarakat yang di zaman belanda dahulu. Kaum terpelajar dan kelompok pujangga baru
banyak direkrut menjadi anggota pusat kebudayaan. Naskah-naskah yang akan
dipentaskan diperiksa terlebih dahulu diperiksa oleh pemerintahan Jepang. Kegiatan ini
dibawah komando oleh badan propaganda Jepang.
Zaman ini telah terjadi perubahan dalam
perteateran di Indonesia. Pentingnya kedudukan
naskah lakon dalam teater, semakin berperannya
kaum terpelajar dalam perkembangan berteater,
dan berkembangnya kelompok-kelompok amatur
yang lahir dari kaum terpelajar Indonesia. Terakhir
yang perlu digaris bawahi teater pada zaman
Jepang sangat menentukan terbentuknya tradisi
teater modern Indonesia yang berlangsung di
lingkungan kaum terpelajaran Intelektual.
Kesimpulan
Teater modern sebagai budaya serapan dari Barat masuk
ke Nusantara melalui bangsa Eropa, khususnya Belanda, yang pada
saat itu menguasai berbagai sektor kebudayaan masyarakat.
Munculnya teater modern ke dalam wilayah budaya Nusantara tidak
sekaligus, tetapi secara bertahap melalui bentuk-bentuk
pertunjukan kelompok teater profesional.
Perkembangan sastra Tionghoa-Peranakan berjalan seiring
penerjemahan hasil sastra Tiongkok, jadi tidak mengherankan
apabila ada pengaruhnya meskipun tidak banyak. Orang Tionghoa-
Peranakan di Indonesia sebelum Perang Dunia II sebenarnya hidup
dalam semacam asmose kebudayaan yakni kebudayaan Indonesia
karena mereka hidup di Indonesia, kebudayaan Tiongkok karena
mereka tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan kebudayaan
Tiongkok dan kebudayaan Barat, dalam hal ini Indonesia sedang
dalam penjajahan Belanda. Salah satu teater peranakan Tionghoa
yang popular di Indoneisa yaitu teater boneka Potehi.
Teater pada zaman Jepang (1942-1945), terbagi tiga
fase yaitu teater profesional, teater amatur, dan taeter
propaganda Jepang. Ketiga fase ini sangat mewarnai
perkembangan teater Indonesia pada zaman itu.
SEKIAN
&
TERIMA
KASIH