The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Diagnosis kerusakan dan perbaikan kerusakanya.

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by is.ashar34, 2021-05-07 22:44:14

Sistem Pengapian Konvensional

Diagnosis kerusakan dan perbaikan kerusakanya.

Keywords: Sistem Pengapian

SISTEM PENGAPIAN
KONVENSIONAL

Disusun Oleh: Ashar Imam Setiawan, S.Pd

PEMELIHARAAN KELISTRIKAN
KENDARAAN RINGAN

KELAS XII TKRO SEMESTER GASAL

i

VERIFIKASI MODUL

Pada hari ini Sabtu, tanggal 01 bulan Mei tahun 2021 Modul Mata Pelajaran Pemeliharaan
Keistrikan Kendaraan Ringan Kompetensi Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Otomotif
Sekolah SMKN 34 Jakarta telah diverifikasi oleh Ketua Jurusan/Ketua Program Keahlian
Teknik Kendaraan Ringan Otomotif

Ketua Jurusan/ Ketua Program Keahlian Bekasi, Mei 2021
Penulis

Ida Mardiyana, S.Pd Ashar Imam Setiawan, S.Pd

ii

PRAKATA
Alhamdulillah, segala puji saya panjatkan kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa.

Yang telah memberikan petunjuk dan hidayahNya sehingga saya mampu meyelesaikan tugas
penyusunan Modul Sistem Pengapian Konvensionalsebagai pemenuhan tugas Pendidikan
Profesi Guru (PPG) Tahun 2021 ini.

Dalam modul ini berisikan materi yang berhubungan dengan KD Menerapkan cara
perawatan sistem pengapian konvensioanal dan KD Merawat secara berkala sistem pengapian
konvensional. Pembahasan dimulai dengan menjelaskan tujuan yang hendak dicapai dan
disertai dengan soal yang mengukur tingkat penguasaan materi setiap topik. Dengan demikian
pengguna modul ini secara mandiri dapat mengukur tingkat ketuntasan yang dicapainya.
Modul ini semoga bermanfaat untuk diri saya pribadi, siswa di lingkungan tempat saya
mengajar, maupun orang lain sebagai bahan tambahan bacaan.

Penulis menyadari seutuhnya modul ini masih jauh dari kesempurnaan, penulis berharap
modul ini bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya. Kritik dan saran selalu terbuka lebar,
demi kearah yang lebih baik lagi. Akhirnya kepada Alloh SWT, Tuhan YME jualah penulis
memohon semoga semua ini menjadi amal ibadah bagi penulis dan bermanfaat bagi pembaca.

Bekasi, Mei 2021
Penulis

iii

DAFTAR ISI
Verifikasi Modul ............................................................................................ii
Prakata ...........................................................................................................iii
Daftar isi .........................................................................................................iv
Peta Kedudukan Modul ................................................................................v
I. Pendahuluan ..............................................................................................1
A. Deskripsi ...................................................................................................1
B. Prasyarat ...................................................................................................1
C. Petunjuk Penggunaan Modul.....................................................................1
D. Tujuan Akhir ............................................................................................2
E. Kompetensi Inti dan Kompetensi dasar....................................................2
II. Pembelajaran ............................................................................................4
A. Kegiatan Pembelajaran 1 ..........................................................................4

1. Tujuan..................................................................................................4
2. Uraian Materi .....................................................................................4
3. Rangkuman .........................................................................................12
4. Tugas ..................................................................................................13
5. Tes Formatif .......................................................................................13
B. Kegiatan Pembelajaran 2 ..........................................................................14
1. Tujuan .................................................................................................14
2. Uraian Materi .....................................................................................14
3. Rangkuman .........................................................................................26
4. Tugas ..................................................................................................26
5. Tes Formatif .......................................................................................26
III. Daftar Pustaka ........................................................................................27

iv

PETA KEDUDUKAN MODUL

KELAS SEMESTER MODUL

Pemeliharaan Pemeliharaan

Pemeliharaan Mesin Sasis dan Kelistrikan

2 Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan
Kendaraan Ringan 4
44

XII Pemeliharaan Pemeliharaan
XI
X Pemeliharaan Mesin Sasis dan Kelistrikan

1 Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan
Kendaraan Ringan 3
33

Pemeliharaan Pemeliharaan

Pemeliharaan Mesin Sasis dan Kelistrikan

2 Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan
Kendaraan Ringan 2
22

Pemeliharaan Pemeliharaan

Pemeliharaan Mesin Sasis dan Kelistrikan

1 Pemindah Tenaga Kendaraan Ringan
Kendaraan Ringan 1
11

Teknologi Dasar Pekerjaan Dasar Teknik Listrik

2 Otomotif 2 Teknik Otomotif Dasar Otomotif

22

Teknologi Dasar Pekerjaan Dasar Teknik Listrik

1 Otomotif Teknik Otomotif Dasar Otomotif

11

v

I. PENDAHULUAN

A. Deskripsi
Modul Sistem Pengapian Konvensional ini membahas tentang cara perawatan sistem
pengapian konvensional. Tujuan dari modul ini agar siswa memiliki pengetahuan untuk
menerapkan dan cara merawat secara berkala sistem pengapian konvensional.
Pada modul sistem pengapian konvensional ini berisikan materi yang harus dikuasai
sebagai bahan menambah pengetahuan materi tentang perawatan sistem pengapian. Dalam
materi ini mencakup pemahaman fungsi, komponen, fungsi komponen dan cara merawat
sistem pengapian konvensional.

B. Prasyarat
Sebelum memulai modul ini, anda harus sudah menyelesaikan modul-modul yang harus
dipelajari lebih awal sebelumnya.

C. Petunjuk Penggunaan Modul bagi Peserta Didik
1. Petunjuk Bagi Siswa
a. Baca dan pahami dengan seksama uraian-uraian materi yang ada pada masing-
masing kegiatan belajar. Bila ada materi yang kurang jelas, siswa dapat bertanya pada
guru pengampu kegiatan belajar.
b. Kerjakan setiap tugas dan ulangan untuk mengetahui seberapa besar pemahaman
yang telah dimiliki terhadap materi-materi yang dibahas dalam setiap kegiatan
belajar.
c. Untuk kegiatan belajar yang terdiri dari teori dan praktik, perhatikanlah hal-hal
berikut ini :
• Penting untuk memperhatikan keselamatan kerja yang berlaku saat praktik.
• Pahami setiap prosedur praktik dengan benar.
• Sebelum melaksanakan praktik, siapkan peralatan dan bahan yang dibutuhkan.
• Perhatikan penggunaan alat sesuai dengan fungsinya.
• Sebelum praktik harus meminta ijin terlebih dahulu kepada guru terlebih dahulu.
• Setelah melakukan praktik bersihkan peralatan dan area praktik, kembalikan alat
dan bahan ke tempat semula.

6

2. Petunjuk Bagi Guru
a. Membantu siswa dalam merencanakan proses belajar
b. Membimbing siswa melalui tugas-tugas latihan yang dijelaskan dalam tahap belajar
c. Membantu siswa dalam memahami konsep dan menjawab pertanyaan siswa
mengenai proses belajar siswa.
d. Membantu siswa untuk menentukan dan mengakses sumber tambahan lain yang
diperlukan untuk belajar.
e. Mengorganisasikan kegiatan belajar kelompok
f. Merencanakan seorang ahli dari tempat kerja (DU/ DI) untuk membantu jika
diperlukan.

D. Tujuan Akhir
1. Ranah Pengetahuan
Setelah membaca dan mempelajari modul bahan ajar ini siswa dapat:
• Menerapkan (C3) pemahaman prinsip kerja dalam proses pemeriksaan kondisi
komponen sistem pengapian konvensional.
• Mendeteksi (C4) kondisi faktual pada sistem pengapian konvensional untuk
mencegah gangguan yang sering timbul pada sistem pengapian konvensional.
• Menguraikan (C4) kondisi sistem pengapian konvensional berdasarkan
gangguan yang sering terjadi pada sistem pengapian konvensional.

2. RanahKeterampilan

• Mengatasi(P4) kerusakan sistem pengapian konvensional

• Melengkapi(P3) hasil perbaikan sistem pengapian konvensional

E. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar

Mata Pelajaran : Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan

Kelas : XI

Kompetensi Inti Kompetensi Dasar

KI-3 Memahami, menerapkan, menganalisis, dan 3.15 Mendiagnosis kerusakan

mengevaluasi tentang pengetahuan faktual, sistem pengapian

konseptual, operasional dasar, dan metakognitif konvensional

sesuai dengan bidang dan lingkup Teknik

7

KI-4 Kendaraan Ringan Otomotif pada tingkat teknis, 4.15 Memperbaiki
spesifik, detil, dan kompleks, berkenaan dengan sistem pengapian
ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan konvensional
humaniora dalam konteks pengembangan potensi
diri sebagai bagian dari keluarga, sekolah, dunia
kerja, warga masyarakat nasional, regional, dan
internasional.
Melaksanakan tugas spesifik dengan
menggunakan alat, informasi, dan prosedur kerja
yang lazim dilakukan serta memecahkan masalah
sesuai dengan lingkup Teknik Kendaraan Ringan
Otomotif
Menampilkan kinerja di bawah bimbingan dengan
mutu dan kuantitas yang terukur sesuai dengan
standar kompetensi kerja.
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah,
dan menyaji secara efektif, kreatif, produktif,
kritis, mandiri, kolaboratif, komunikatif, dan
solutif dalam ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah,
serta mampu melaksanakan tugas spesifik di
bawah pengawasan langsung.
Menunjukkan keterampilan mempersepsi,
kesiapan, meniru, membiasakan, gerak mahir,
menjadikan gerak alami dalam ranah konkret
terkait dengan pengembangan dari yang
dipelajarinya di sekolah, serta mampu
melaksanakan tugas spesifik di bawah
pengawasan langsung.

8

II. PEMBELAJARAN
A. Kegiatan Belajar 1

Pengertian Sistem Pengapian Konvensional
1. Tujuan Pembelajaran

a. Menentukan(C3) cara pemeriksaan kerusakan sistem pengapian konvensional.
b. Mendeteksi(C4) gangguan kerusakan komponen sistem pengapian konvensional
c. Menguraikan(C4) langkah perbaikan kerusakan komponen sistem pengapian

konvensional.
2. Uraian Materi

2.1 Prinsip Kerja Pengapian Konvensional

Syarat – syarat sistem pengapian dalam silinder :
1. Tekanan kompresi yang tinggi
2. Saat pengapian yang tepat dan bunga api yang kuat
3. Campuran bahan bakar dan udara yang baik
Sistem pengapian konvensional merupakan sistem pengapian yang metode
pembangkitan pulsa sebagai pemicu secara mekanis menggunakan platina (contact
breaker). Pemasangan platina secara seri antara koil pengapian dengan massa.
Pengajuan saat pengapian dilakukan secara mekanis yaitu vacuum advancer dan

9

centrifugal advancer. Distribusi tegangan tinggi yang dihasilkan koil pengapian ke
busi dilakukan secara mekanis menggunakan distributor.
Komponen sistem pengapian konvensional dapat kita pilah menjadi 2 yaitu kelompok
komponen menghasilkan percikan api busi dan komponen mengatur saat pengapian
yang tepat sesuai putaran dan beban. Pada kelompok menghasilkan percikan api
terdapat 2 bagian yaitu komponen primer dan komponen sekunder.

Komponen rangkaian tegangan rendah (primer),
yaitu komponen yang dialiri arus terdiri tegangan rendah, komponen ini terdiri dari:
a. Baterai berfungsi sebagai sumber energi listrik
b. Kunci kontak untuk memutus dan menghubungkan listrik pada rangkaian atau

menghidupkan dan mematikan sistem
c. Primer koil untuk menghasilkan kemagnetan pada inti koil,
d. Platina (contact point) berfungsi untuk menghubungkan dan memutuskan aliran

listrik pada primer koil, saat berhubungan inti koil menjadi magnet, saat putus
terjadi tegangan induksi
e. Kondensor berfungsi untuk menyerap tegangan induksi primer koil, sehingga
percikan
b. pada kontak platina kecil, platina lebih awet, induksi tegangan tinggi kuat.
a. Kabel berfungsi sebagai penghantar aliran listrik pada komponen sistem
pengapian

Komponen rangkaian tegangan tinggi (skunder)
yaitu komponen yang dialiri arus tegangan tinggi, komponen ini terdiri dari :

a. Sekunder koil berfungsi untuk menghasilkan tegangan induksi yang sangat tinggi
(15.000 – 30.000 Volt) saat platina mulai membuka

b. Kabel tegangan tinggi berfungsi untuk mengalirkan arus listrik tegangan tinggi
dari koil pengapian menuju distributor atau busi

c. Distributor berfungsi untuk mendistribusikan arus listrik tegangan tinggi dari koil
pengapian menuju busi sesuai derangan urutan pengapiannya (Firing Order / FO)

d. Busi berfungsi untuk menghasilkan percikan api untuk memulai proses
pembakaran campuran bahan bakar dengan udara di ruang bakar, pada saat dialiri
arus listrik tegangan tinggi.

10

2.2 Fungsi Sistem Pengapian
Motor bakar merupakan motor yang menghasilkan tenaga melalui proses pembakaran
campuran udara dan bahan bakar di dalam silinder (ruang bakar).
Pada mesin bensin, pada akhir langkah kompresi dibutuhkan percikan bunga api untuk
membakar campuran udara dan bahan bakar yang telah dikompresi tadi. Sehingga akan
terjadi langkah usaha yang menghasilkan tenaga untuk menggerakkan mobil.
Sistem pengapian konvensional memiliki beberapa fungsi utama yaitu :
1. Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk

membakar campuran udara dan bahan bakar.
2. Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem

pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan
tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).
2.3 Komponen dan Fungsi Komponen Sistem Pengapian Konvensional
1. Baterai

Menyediakan arus listrik voltase rendah (biasanya 12V) untuk ignition coil.

2. Ignition Coil
Menaikkan voltase yang diterima dari baterai menjadi voltase tinggi yang
diperlukan untuk pengapian.

11

3. Distributor
a. Cam (nok)
Pembuka breaker point (platina) pada sudut crankshaft yang tepat untuk
masing-masing cylinder.
b. Breaker point (platina)
Memutuskan arus listrik yang mengalir melalui kumparan primer dari
ignition coil untuk menghasilkan arus listrik tegangan tinggi pada kumparan
sekunder dengan jalan (cara) induksi elektromagnet (electromagnetic
induction).

c. Capasitor/Condenser
Menyerap loncatan bunga api yang terjadi antara breaker point (pada
platina) pada saat membuka dengan tujuan untuk menaikkan tegangan coil
sekunder.

12

d. Centrifugal Governor Advancer
Memajukan saat pengapian sesuai dengan putaran mesin.

e. Vacuum Advancer
Memajukan saat pengapian sesuai dengan beban mesin (vakum intake
manifold).

f. Rotor
Membagikan arus listrik tegangan tinggi yang dihasiIkan oleh ignition coil
ke tiap-tiap busi.

g. Distributor Cap
Membagikan arus listrik tegangan tinggi dari rotor ke kabel tegangan tinggi
untuk masing-masing cylinder.

4. Kabel Tegangan Tinggi (High Tension Cord)
Mengalirkan arus listrik tegangan tinggi dari ignition coil Ke busi.

5. Busi
Mengeluarkan arus listrik tegangan tinggi menjadi loncatan bunga api melalui
elektroda-nya.
13

2.4 Diagnosa Masalah Sistem Pengapin Konvensional
Agar dapat bekerja, mesin harus memiliki kompresi yang baik dan terjadwal. Silinder
mesin harus mendapat campuran udara-bahan baker yang mudah terbakar. Selain itu,
juaga diperlukan percikan yang cukup panas untuk membakar campuran dan meloncati
celah busi. Jika ada yang tidak terpenuhi, mesin tidak akan menyala atau bekerja dengan
baik.
Sistem pengapian otomotif memiliki konstruksi yang berbeda-beda, tetapi dasar
kerjanya hampir sama. Semua sistem pengapian memiliki sebuah rangkaian primer yang
menimbulkan percikan pada rangkaian skunder. Percikan ini harus dikirimkan ke busi
yang tepat pada waktu yang tepat pula.

1. Hilangnya energi pada sikuit
Sirkuit tegangan rendah = Sirkuit primer
Baterai – Kunci Kontak – Primer Koil – Kontak Pemutus – Kondensor –
Massa
Sirkuit tegangan tinggi = Sirkuit Sekunder
Sekunder Koil – Distributor – Busi – Massa

2. Kontak Pemutus dan Sudut Dwel

Besar sudut Dwell dan kemampuan pengapia
Kemampuan pengapian ditentukan oleh kuat arus primer. Untuk mencapai arus
primer maksimum, diperlukan waktu pemutusan kontak pemutus yang cukup.

14

3. Kondensor
Kondenser ini berfungsi untuk mengurangi seminimal mungkin loncatan api
yang terjadi di antara titik-titik kontak platina dan untuk mempercepat
pemutusan arus dalam koil primer dengan maksud meninggikan tegangan
induksi di dalam koil sekunder. Pengaruh kondensor :
Pada sirkuit primer
Pada saat kontak pemutus mulai membuka. Ada loncatan bunga api diantara
kontak pemutus
Artinya :
• Arus tidak terputus dengan segera
• Kontak pemutus menjadi cepat aus (terbakar).

15

Pada sirkuit sekunder
Bunga api pada busi lemah
• Mengapa bunga api pada busi lemah?

Karena arus primer tidak terputus dengan segera, medan magnit pada koil
tidak jatuh dengan cepat (Tegangan induksi rendah).
4. Busi
Permukaan muka busi menunjukkan kondisi operasi mesin dan busi.
Normal
Isolator berwarna kuning atau coklat muda Puncak isolator bersih, permukaan
rumah isolator kotor berwarna coklat muda atau abu – abu,
• Kondisi kerja mesin baik
• Pemakaian busi dengan nilai panas yang tepat

Terbakar
Elektrode terbakar, pada permukaan kaki isolator ada partikel-partikel kecil
mengkilat yang menempel Isolator berwarna putih atau kuning. Penyebab :
• Nilai oktan bensin terlalu rendah
• Campuran terlalu kurus
• Knoking ( detonasi )
• Saat pengapian terlalu awal
• Tipe busi yang terlalu panas

Berkerak karena oli
Kaki isolator dan elektroda sangat kotor. Warna kotoran coklat. Penyebab :
• Cincin torak aus
• Penghantar katup aus
• Pengisapan oli melalui sistem ventilasi karter

Berkerak karbon / jelaga
Kaki isolator, elektroda-elektroda, rumah busi berkerak jelaga. Penyebab :
• Campuran terlalu kaya
• Tipe busi yang terlalu dingin

16

Isolator retak.
Penyebab :
• Jatuh
• Kelemahan bahan
• Bunga api dapat meloncat dari isolator langsung ke massa

Celah elektroda busi dan tegangan pengapian
Celah elektroda busi mempengaruhi kebutuhan tegangan pengapian
• Celah elektroda besar: tegangan pengapian besar
• Celah elektroda kecil: tegangan pengapian kecil

5. Saat pengapian
Saat pengapian adalah saat busi meloncatkan bunga api untuk mulai
pembakaran, saat pengapian diukur dalam derajat poros engkol sebelum atau
sesudah TMA .
a. Saat pengapian yang tepat
Agar tekanan pembakaran maksimum dekat sesudah TMA saat pengapian
harus ditempatkan sebelum TMA.
b. Saat pengapian terlalu awal
Mengakibatkan detonasi / knoking, daya motor berkurang, motor menjadi
panas dan menimbulkan kerusakan ( pada torak, bantalan dan busi ).
c. Saat pengapian tepat
Menghasilkan langkah usaha yang ekonomis, daya motor maksimum.
d. Saat pengapian terlalu lambat
Menghasilkan langkah usaha yang kurang ekonomis / tekanan pembakaran
maksimum jauh sesudah TMA, daya motor berkurang, boros bahan bakar.

17

3. Rangkuman
1) Sistem pengapian konvensional memiliki fungsi utama yaitu :
• Menyediakan loncatan bunga api pada busi dalam waktu yang tepat untuk
membakar campuran udara dan bahan bakar.
• Agar terjadi loncatan bunga api, maka tegangan harus tinggi. Sehingga sistem
pengapian juga berfungsi untuk menaikkan tegangan baterai menjadi tegangan
tinggi pada coil melalui hubung singkat arus primer oleh breaker point (platina).
2) Komponen-komponen sistem pengapian konvensional adalah :
• Baterai
• Kunci kontak
• Koil pengapian
• Kontak pemutus
• Distributor
• Busi
3) Sirkuit tegangan rendah = Sirkuit primer
• Baterai – Kunci Kontak – Primer Koil – Kontak Pemutus – Kondensator – Massa
4) Sirkuit tegangan tinggi = Sirkuit Sekunder
• Sekunder Koil – Distributor – Busi – Massa

4. Tugas
Agar lebih menguasai materi kegiatan 1, silahkan kerjakan tugas berikut ini:

1. Akibat yang ditimbulkan pada busi jika kondensator pada sistem pengapian
konvensional tidak berfungsi / rusak adalah …

2. Ketika seorang mekanik menyetel celah platina terlalu besar, maka dampak yang
ditimbulkan pada koil adalah ...

3. Jika dilihat pada permukaan busi berwarna putih kekuning-kuningan, ini dapat
diakibatkan oleh …

4. Pada saat melakukan penggantian kabel busi harus memperhatikan besarnya
tahanan kabel busi, tahanan maksimum yang diperbolehkan adalah sebesar ...

5. Apakah yang dimaksud dengan saat pengapian, jelaskan!

5. Tes Formatif

18

B. Kegiatan Belajar 2
Memeriksa sistem pengapian konvensional
1. Tujuan Pembelajaran
a. Mengatasi kerusakan sistem pengapian konvensional sesuai dengan SOP
dengan cermat.
b. Melengkapi hasil perbaikan sistem pengapian konvensional sesuai dengan SOP
dengan cermat.

2. Uraian Materi
2.1 Memeriksa kelainan pada komponen dan rangkaian sistem pengapian
Pemeriksaan meliputi hal-hal berikut:
a. Memeriksa jumlah elektrolit baterai (kurang atau tidak), Memeriksa sambungan
terminal baterai (kotor atau tidak), Memeriksa kondisi kabel baterai dari
kemungkinan putus atau terbakar. Memeriksa tegangan baterai.
b. Memeriksa koil pengapian dari kemungkinan terminalnya kotor, kabel kendor,
putus, terbakar atau bodi retak.
c. Memeriksa distributor dari kemungkinan retak, kotor, terminal aus dan
pemasangan kurang baik.
d. Memeriksa kabel busi dari kemungkinan atau pemasangan kurang tepat.
e. Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah busi
f. Memeriksa konektor/ sambungan yang kendur atau terlepas

Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
a. Lepas kabel tegangan tinggi yang menempel dibusi, catat urutan kabel yang

dilepas agar urutan pengapian tidak salah, karena kabel busi harus dipasang sesuai
dengan urutan pengapian atau firing order (FO) yang benar.
b. Lepas busi satu persatu, periksa bagaimana warna dan deposit karbon pada rongga
busi, kondisi elektroda dan masukkan busi pada nampan yang berisi bensin.

19

c. Bersihkan rongga busi menggunakan sikat dan bersihkan elektroda busi dengan
amplas. Perhatian: Jangan membersihkan kotoran pada rongga busi dengan benda
keras, seperti obeng kecil atau kawat karena dikhawatirkann isolator porselin
menjadi retak sehingga busi mati.

d. Setel celah elektroda busi sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan kendaraan.
e. Pasang kembali busi pada silinder. Pemasangan yang benar adalah memutar busi

dengan tenaga ringan, setelah ulir habis mengencangkan 1/4 putaran dengan kunci
busi.
Saat kita melakukan pengujian busi di luar silinder, kita dapat menyimpulkan busi
masih baik, namun terdapat kemungkinan saat di dalam silinder busi mati karena
busi bekerja pada tekanan lebih tinggi, sehingga kesimpulan kita salah.

2.2 Memeriksa dan membersihkan kabel tegangan tinggi
Lepas kabel tegangan tinggi, bersihkan ujung kabel dari kemungkinan ada karat
menggunakan amplas.
Periksa tahanan kabel menggunakan ohm meter (multi meter bagian ohm, posisi
selektor pada 1xK), tahanan kabel harus kurang dari 25 kilo ohm.

Hal yang harus diperhatikan:
Jangan menekuk atau menarik kabel berlebihan sebab dapat merusak kabel
tegangan tinggi.

20

2.3 Memeriksa, membersihkan rotor dan tutup distributor
a. Lepas tutup distributor dengan melepas kait penguncinya.
b. Periksa tutup distributor dari kemungkinan retak, karat/kotor pada terminal

tegangan tinggi.
c. Bersihkan terminal tegangan tinggi dengan amplas.
d. Lepas rotor, bersihkan karat/deposit pada ujung rotor menggunakan amplas.
e. Memeriksa nok, centrifugal advancer dan vacum advancer
f. Periksa permukaan poros nok dari kemungkinan aus, keausan secara visual dapat

dilihat dari banyaknya goresan pada nok. Lumasi poros menggunakan grease.
g. Periksa kerja centrifugal advancer dengan cara: Pasang kembali rotor yang telah

dibersihkan, putar rotor searah putaran rotor saat mesin hidup. Lepas rotor maka
rotor harus segera kembali. Kekocakkan rotor saat diputar tidak boleh berlebihan.
h. Periksa vacuum advancer dengan cara: lepas slang vacum, hubungkan ke pompa
vacum, lakukan pemompaan, amati dudukan platina (breaker plate) harus bergerak.
Bila tidak mempunyai pompa vacum dapat dengan cara dihisap dengan kuat.

2.4 Memeriksa koil Pengapian
Langkah-langkah dalam memeriksa koil pengapian yaitu:

a. Atur selektor multi meter kearah X1ohm, kalibrasi ohm meter dengan cara
menghubungkan kedua colok ukur, setel penunjukan jarum tepat pada 0 ohm, bila
penyetelan tidak tercapai periksa/ganti baterai multi meter.

b. Periksa tahanan resistor dengan menghubungkan colok ukur pada kedua resistor.
Nilai tahanan resistor seharusnya 1,3-1,5 ohm. Pada koil pengapian jenis internal
resistor, pengukuran resistor dengan menghubungkan colok ukur pada terminal (B)
dan terminal(+).

21

c. Periksa tahanan primer koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal
(+) dengan terminal (-) koil. Nilai tahanan seharusnya 1,3-1,6 ohm.

d. Atur selektor pada posisi 1XK, kalibrasi ohm meter dengan cara menghubungkan
kedua colok ukur, setel penunjukan tepat pada 0 ohm. Periksa tahanan sekunder
koil dengan menghubungkan colok ukur antara terminal (+) dengan terminal
tinggi koil. Nilai tahanan 10-15 kilo ohm.

e. Periksa kebocoran atau hubungan singkat dengan cara menghubungkan (+) koil
dengan bodi. Tahanan harus menunjukan tak hingga.

2.5 Memeriksa, membersihkan dan menyetel celah platina/menyetel sudut dwell
Menyetel celah platina dan sudut dwell merupakan pekerjaan yang sama.
Perbedaan antara menyetel sudut dwell dengan menyetel celah platina adalah:
Menyetel sudut dwell menggunakan alat dwell tester untuk mengukur lama platina
22

menutup. Pengukuran dilakukan dengan alat ukur elektrik, hasil pengukuran lebih
akurat tapi harga alat mahal. Menyetel celah platina menggunakan alat feeler gauge,
untuk mengukur celah platina sebagai indikator lama atau sudut platina membuka.
Hasil pengukuran kurang akurat, tetapi harga alat 1/1000 dari harga alat dwell
tester. Bila celah platina besar maka sudut dwell kecil, dan sebaliknya bila celah
platina kecil maka sudut dwell menjadi besar.
Langkah-langkah dalam penyetelan celah platina yaitu sebagai berikut:
a. Putar puli poros engkol sampai rubbing block pada puncak nok atau platina

membuka maksimal.
b. Periksa kondisi permukaan platina dari kemungkinan aus, terbakar, kontak yang

tidak tepat. Bila terjadi keausan platina, lepas platina dengan melepas sekerup
pengikatnya.
c. Amplas permukaan platina sampai keausan hilang, periksa ketepatan kontak
permukaannya. Membersihkan platina juga dapat dilakukan langsung tanpa harus
melepas dari dudukannya, namun dengan cara ini hasilnya sering menyebabkan
permukaan kontak tidak tepat atau adanya serpihan amplas tertinggal
dipermukaan kontak sehingga saat platina menutup tidak ada aliran listrik akibat
terganjal oleh serpihan amplas.

d. Pasang kembali platina, geser penyetelan platina sampai platina membuka 0,40-
0,50 mm, kencangkan sekerup pengikat namun platina masih dapat digeser.

e. Setel celah platina dengan cara menyisipkan feeler gauge ukuran 0,40-0,50 mm,
bila feeler tidak dapat masuk berarti celah terlalu kecil, dan sebaliknya. Letakan
obeng (-) pada tempat penyetelan putar obeng searah jarum jam untuk
memperbesar celah dan sebaliknya. Kencangkan sekerup pengikat agar celah
tidak berubah.

23

Beberapa kendaraan menggunakan celah rubbing block sebagai spesifikasi
menyetel celah platina. Cara penyetelan kedua model tersebut sama, namun bila
spesifikasi kendaraan menentukan celah rubbing block kita setel celah platina
hasilnya dapat berbeda, untuk itu ikuti petunjuk yang diberikan produsen
kendaraan.
Kelebihan penyetelan celah pada rubbing block adalah permukaan kontak
platina tidak kotor oleh minyak pada feeler gauge, adanya minyak pada
permukaan kontak menyebabkan oksidasi pada permukaan kontak lebih cepat
sehingga usia platina lebih pendek.

Cara menyetel sudut dwell dengan dwell tester yaitu:
a. Pasang dwell tester sesuai petunjuk alat, untuk model 2 kabel maka kabel merah

dihubungkan terminal distributor atau (-) koil pengapian, kabel hitam
dihubungkan ke massa.

b. Hidupkan mesin, lihat besar sudut dwell yang ditunjukan oleh alat ukur. Pada
mesin 4 silinder spesifikasi sudut dwell sebesar 52+2 derajat.

c. Bila sudut dwell terlalu besar, berarti celah platina terlalu sempit. Matikan mesin,
buka tutup distributor, kendorkan mur pengikat platina, setel sudut dwell dengan
menggeser dudukan platina kearah celah platina yang lebih besar.

d. Pasang kembali tutup distributor, hidupkan mesin, periksa apakah hasil
penyetelan sudut dwell telah tepat. Ulangi bila hasil penyetelan belum tepat.

24

2.6 Pemeriksaan rangkaian primer
25

2.6 Pemeriksaan rangkaian skunder (tegangan tinggi)

3. Rangkuman
4. Tugas

LKPD
5. Tes Formatif

26

III. DAFTAR PUSTAKA
Amato. H. 2017. Modul Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan. Jakarta: Kemdikbud

Dirjen GTK.
Amirono. 2013. Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan. Jakarta: Kemdikbud.
Anonim. 2019. Sistem Pengapian Konvensional.

https://www.bisaotomotif.com/sistem-pengapian-konvensional/. Diakses 04 Mei 2021.
Anonim. 2019. Diagnosis Sistem Pengapian Konvensional.

http://suparyani.blogspot.com/2019/05/diagnosissistem-pengapian-a.html. Diakses 04
Mei 2021.
Juan. 2018. Cara Pemeriksaan Kabel Busi.
https://www.teknik-otomotif.com/2018/03/cara-pemeriksaan-kabel-busi.html. Diakses
04 Mei 2021.
Team Toyota Technical Service. 1981. Pedoman Reparasi Mesin Seri K. Jakarta: PT. Toyota –
Astra Motor.
Team Toyota Technical Service. 2011. New Step 1 Training Manual. Jakarta: PT. Toyota –
Astra Motor.

27


Click to View FlipBook Version