pandang dan perspektif analisis yang khas. Antropologi adalah salah satunya.
Profesor I Gede A. B. Wiranata, dalam buku Antropologi Budaya (2011), menjelaskan
Antropologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari manusia sebagai
makhluk masyarakat. Maka itu, perhatian Antropologi ditujukan pada sifat khusus
badani, cara produksi, tradisi, dan nilai-nilai yang membuat pergaulan hidup satu
masyarakat berbeda dari yang lainnya (Hlm. 3-4).
Adapun yang membedakan Antropologi dengan disiplin ilmu lain yang juga
membahas tentang manusia, adalah fokus kajiannya. Antropologi, secara khusus,
mengkaji manusia dari sudut keanekawarnaannya, baik dari segi warna fisik (tubuh),
perilaku, maupun cara berpikirnya. Bahkan, masih mengutip penjelasan Wiranata di
bukunya, Antropologi memandang persoalan manusia sebagai makhluk biologis dan
makhluk sosial secara holistik dan integral (menyeluruh), alias tidak secara terpisah.
Baca juga: Fungsi Sosialisasi dalam Keluarga untuk Pembentukan Kepribadian Ruang
lingkup kajian Antropologi juga sangat luas: terbentang dari ekonomi masyarakat,
agama dan keyakinan, politik dan pemerintahan, fisik manusia, kesehatan,
perkembangan teknologi dan masih banyak lainnya. Meskipun begitu, disiplin ini
setidaknya dibedakan dalam 2 sub-kajian. Pertama ialah Antropologi Fisik yang
mempelajari manusia dari sudut keanekawarnaan tubuhnya, sehingga kerap juga
disebut Antropo-biologi.
Antropologi fisik terbagi lagi menjadi paleoantropologi dan antropologi
ragawi. Adapun yang kedua adalah Antropologi Budaya yang mempelajari manusia
dari sudut pandang keberagaman perilaku serta cara berpikirnya. Antropologi
budaya juga terbagi lagi menjadi prehistori, etnolinguistik, dan etnologi. Selama ini,
sebagian nama-nama antropolog yang karyanya telah dibaca secara luas di Indonesia
adalah Clifford Geertz, Malinowski, Radcliffe-Brown, Marvin Harris, Levi-Strauss,
Koentjaraningrat, Masri Singarimbun dan lain sebagainya.
Konsep-konsep Dasar dalam Antropologi Ilmu antropologi, memandang
manusia sebagai sesuatu yang kompleks. Maka, Antropologi melihat manusia dari
banyak aspek, mencakup fisik, emosi, sosial, hingga kebudayaan. Dilansir dari modul
Pengantar Antropologi terbitan UT, Antropologi sering disebut pula sebagai ilmu
tentang manusia, dan kebudayaan. Selain itu, ada sejumlah konsep dasar dalam
95
Antropologi yang perlu dipahami bagi mereka yang mulai menekuni studi ini.
Konsep-konsep dasar dalam Antropologi sebagaimana dikutip dari modul Konsep
Dasar Antropologi terbitan UPI, adalah sebagai berikut.
1. Kebudayaan Dalam bahasa latin, kebudayaan disebut dengan cultura yang
berarti: berkembang dan tumbuh. Kebudayaan mengacu pada kumpulan
pengetahuan yang secara sosial diwariskan dari satu generasi, ke generasi
berikutnya.
2. Evolusi Evolusi merupakan sebuah transformasi yang berlangsung secara
bertahap.
3. Cultur area (daerah budaya) Suatu daerah budaya merupakan, daerah
geografis yang memiliki sejumlah ciri-ciri budaya, dan kompleksitas lain yang
dimilikinya.
4. Enkulturasi Enkulturasi merupakan sebuah sikap memahami proses
kebudayaan sendiri, maupun kebudayaan orang lain.
5. Difusi Difusi merupakan proses penyebaran unsur-unsur secara meluas,
sehingga melewati batas tempat di mana kebudayaan itu muncul.
6. Akulturasi Akulturasi merupakan proses ataupun saling mempengaruhi dari
satu kebudayaan asing yang berbeda sifatnya. Lambat laun unsur-unsur
kebudayaan yang ada, diakomodasikan ke kebudayaan itu sendiri. Akan
tetapi, masih memegang unsur kebudayaan aslinya.
7. Etnosentrisme Etnosentrisme berarti penilaian terhadap kebudayaan lain atas
dasar nilai, dan standar budaya sendiri. Pemahaman seperti ini, dapat
menghambat komunikasi antar-budaya.
8. Tradisi Tradisi merupakan pola perilaku yang dilakukan berulang kali oleh
sekelompok orang. Lama kelamaan pola perilaku tersebut, menjadi sebuah
tradisi.
9. Ras dan etnik Ras merupakan sekelompok orang yang memiliki beberapa
kesamaan berdasarkan aspek fisik yang disebabkan karena adanya faktor
keturunan.
10. Stereotip Menurut Fred E. Jandt, dalam bukunya yang berjudul Intercultural
Communication: An Introduction bahwa stereotip merupakan salah satu
96
penghambat terjadinya komunikasi antarbudaya. Stereotip adalah persepsi
terhadap seseorang berdasarkan kelompok mana orang itu dikategorikan atau
berdasarkan keyakinan tertentu
11. Kekerabatan Menurut Malinowski, keluarga atau kekerabatan merupakan
suatu institusi domestik yang bergantung pada afeksi. Selain itu, konsep
kekerabatan juga ingin menegaskan bahwa tujuan dari keluarga adalah
membesarkan anak.
12. Magis Menurut antropolog J.G Frazer, dalam karyanya yang berjudul Golden
Bough, magis berarti penerapan yang salah dalam dunia materiil. Dunia
materiil ini mendukung adanya pemikiran terkait dunia yang semu.
13. Tabu Dalam ilmu antropologi, tabu berarti terlarang. Dalam hal ini, contoh
tabu adalah bersentuhan dengan kepala suku.
Perkawinan Secara umum, konsep perkawinan mengacu pada konsep
formal pemaduan hubungan 2 individu yang berbeda jenis dan dilakukan secara
seremonial-simbolis, serta semakin dikaraterisasi oleh adanya kesederajatan,
kerukunan, dan kebersamaan dalam hidup berpasangan. Di sebagian besar tradisi,
perkawinan juga dimaknai sebagai proses institusi sosial dan wahana untuk
mengembangkan keturunan.
97
BAB VIII
RUANG LINGKUP DAN KONSEP ESENSIAL POLITIK
A. Pengertian Ilmu Politik
Ilmu politik merupakan ilmu yang mempelajari suatu segi khusus dari
kehidupan masyarakat yang menyangkut soal kekuasaan. Secara umum ilmu politik
ialah ilmu yang mengkaji tentang hubungan kekuasaan, baik sesama warga Negara,
antar warga Negara dan Negara, maupun hubungan sesama Negara. Yang menjadi
pusat kajiannya adalah upaya untuk memperoleh kekuasaan, usaha
mempertahankan kekuasaan, penggunaan kekuasaan tersebut dan juga bagaimana
menghambat penggunaan kekuasaan. Ilmu politik mempelajari beberapa aspek,
seperti :
a. Ilmu politik dilihat dari aspek kenegaran adalah ilmu yang memperlajari
Negara, tujuan Negara, dan lembaga-lembaga Negara serta hubungan Negara
dengan warga dan negaranya dan hubungan antar Negara.
b. Ilmu politik dilihat dari aspek kekuasaan adalah ilmu yang mempelajari ilmu
kekuasaan dalam masyarakat, yaitu sifat, hakikat, dasar, proses, ruang lingkup
dan hasil dari kekuasaan itu.
c. Ilmu politik dilihat dari aspek kelakuan politik yaitu ilmu yang mempelajari
kelakuan politik dalam sistem politik yang meliputi budaya politik, kekuasaan,
kepentingan dan kebijakan.
B. Konsep-konsep Dan Generalisasi Dalam Ilmu Politik
Konsep-konsep pokok yang dipelajari dalam ilmu politik :
a. Negara adalah suatu organisasi dalam suatu wilayah yang mempunyai
kekuasaan tertinggi yang sah dan ditaati oleh rakyatnya.
b. Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk
mempengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan
keinginan dari pelakunya.
98
c. Pengambilan keputusan adalah membuat pilihan diantara beberapa
alternative sedangkan istilah pngambilan keputusan menunjukkan pada
proses yang terjadi sampai keputusan itu tercapai.
d. Kebijakan umum adalah kumpulan keputusan yang diambil oleh seseorang
pelaku atau kelompok politik dalam usaha memilih tujuan-tujuan dan cara-
cara untuk mencapai tujuan-tujuan itu.
e. Pembagian adalah pembagian dan penjatahan dari nilai-nilai dalam
masyarakat, yang ditekankan bahwa pembagian selalu tidak merata sehingga
timbul konflik.
Konsep-konsep Dalam Ilmu Politik
Diatas telah diuraikan lima konsep esensial yang sekaligus merupakan unsur pokok
dalam pengertian ilmu politik. Berikut ini diuraian lagi berberapa konsep esensial
lainnya :
Politik
Negara
Kekuasaan
Pembuat keputusan (Decision Making)
Kebijaksanaan umum
Distribusi dan Alokasi
Kelompok Interest
Sosialisasi Politik
Kultur Politik
Generalisasi Dalam Ilmu Politik
Berikut ini berberapa contoh generalisasi yang berkenaan dengan politik sebagaimana
ditulis oleh Banks dan Clegg, Jr. (1977:344) :
1. Didalam setap masyarakat dan lembaga, peraturan dan hukum tumbuh untuk
mengendalikan tingkah laku para individu warganya; para individu biasanya
mengalami salah satu jenis hukum apabila penguasa berhasil menangkap
mereka karena melanggar hukum.
2. Para penguasa cenderung menolak setiap perubahan yang dirasakan akan
mengurangi kekusaan dan pengaruh mereka.
99
3. Konflik timbul dalam suatu system politik apabila para individu atau
kelompok mempunyai tujuan yang bersaing dan mengartikan hokum secara
berlainan tiap-tiap masyarakat. Sedangkan ilmu politik lebih memusatkan
pada kekuasaan dan kebijakan dengan memahami struktur sosial pada
masyarakat.
C. Sifat-sifat Ilmu Politik
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa ilmu politik adalah bermacam
macam kegiatan dalam sistem suatu negara, yakni pengambilan kebijakan -
kebijakan untuk melaksanakan tujuan-tujuan tertentu. Idealnya, politik selalu
menyangkut tujuan-tujuan dari seluruh masyarakat, dan bukan tujuan pribadi
seseorang.
Mengenai sifat dari ilmu politik, dapatlah kita fahami dari beberapa
defenisi tentang ilmu politik. Roger F. Soltau dalam Introduction to Politics
berpendapat bahwa: “Ilmu politik mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan
lembaga-lembaga yang akan melaksanakan tujuan-tujuan itu; hubungan antara
negara dengan warga negaranya serta dengan negara-negara lainnya”.
Prof. Mr. Moh. Yamin mengemukakan bahwa: “Ilmu politik memusatkan
tinjauannya kepada masalah kekuasaan dan bagaimana jalannya tenaga
kekuasaan dalam masyarakat dan susunan negara, ilmu politik dengan
sendirinya membahas dan mempersoalkan pembinaan negara dan masyarakat
atau kekuasaan”.
Pada dasarnya ilmu politik paling erat kaitannya dengan ilmu negara.
Yakni sama-sama mengupas dan menyelidiki hal-hal mengenai negara. Namun
berbeda sifatnya, yakni ilmu negara menyelidiki dan mengajarkan teori-teori
tentang asal mula negara, tujuan dan tugas negara, pemerintahan, dan sebagainya.
Sedangkan ilmu politik menyelidiki dan menguraikan hidup negara itu, sikap dan
tindak tanduknya dalam kehidupan warganya serta dalam pergaulan antar
negara.
100
Dengan kata lain, ilmu politik bersifat membahas proses-proses yang
berlangsung dalam suatu negara, seperti kekuasaan dan susunan masyarakat.
Sedangkan ilmu negara membahas tentang teori-teori terbentuknya negara dan
struktur negara atau bentuk pemerintahan negara tersebut.
Mengenai ilmu politik tersebut, M. Hutauruk, SH dalam bukunya Garis
Besar Ilmu Politik Pelita Keempat, berpendapat bahwa: ilmu politik menyelidiki
dan mempelajari proses-proses dalam pemerintahan dan masyarakat yang
berintikan aktivitas, kompetisi dan kerjasama dalam memupuk dan menggunakan
kekuasaan.
Dari beberapa defenisi tersebut maka dapat dirumuskan sifat ilmu politik
tersebut :
1. menentukan prinsip-prinsip yang dijadikan patokan dan yang diindahkan
dalam menjalankan pemerintahan.
2. mempelajari tingkah laku pemerintah sehingga dapat mengemukakan mana
yang baik, mana yang salah dan menganjurkan perbaikan-perbaikan secara
tegas dan terang.
3. mempelajari tingkah laku politik warga negara itu, baik secara pribadi
maupun sebagai kelompok.
4. mengamat-amati dan menelaah rencana-rencna sosial, kemakmuran,
kerjasama internasional, dan sebagainya.
Sistem politik bersifat terbuka, yakni terbuka untuk pengaruh dari luar
sebagai akibat dari interaksi dengan sistem-sistem lain. Maksudnya politik tersebut
dapat berinteraksi dan berubah dengan lingkungannya. Faktor lingkungan yang
mempengaruhi contohnya tuntutan serta aspirasi masyarakat dan juga dukungan
masyarakat.
D. Tujuan dan Fungsi Ilmu Politik
1. Perspektif Intelektual
Tujuan poltik adalah untuk tindakan politik. Agar dapat bertindak dengan
baik secaea politik, orang perlu mempelajari asas dan seni poltik dan nilai-
101
nilai yang dianggap penting, Jadi, perspektif intelektual dalam politik
adalah perspektif yang mempergunakan diri sendiri sebagai titik tolak.
Sebab perspektif itu bertolak dan dibangun berdasarkan apa yang dianggap
salah oleh individu itu, dan individu tersebut yang memperbaikinya.
2. Perspektif Politik
Bahwa pandangan intelektual mengenai politk tidak banyak berbeda dengan
pandangan politisi. Jika politisi bersifat segera, sedangkan intelektual dapat
menjadi politisi jika ia mampu memasukkan masalah politik dalam
pelayanan suatu kepentingan atau tujuan. Jika tujuan pertama politisi adalah
memperoleh kekuasaan, maka tujuan yang kedua adalah mempertahankan
kekuasaan.
3. Perspektif Ilmu Politik
Dalam hal ini, poltik dipandang sebagai ilmu. Ia menilai dari sisi intelektual
dengan pertimbangan kritis serta memiliki kriteria yang sistematis. Pendirian
ini memandang pada kebutuhab kedepan, untuk meramalkan akibat
tindakan politik maupun kebijaksanaan para politisi. Para politisi
memandang politik sebagai pusat kekuasaan publik, kaum intelektual
memandang politik sebagai perluasan pusat moral dari diri. Dengan demikian,
politik sebagai ilmu menaruh perhatian pada dalil-dalil, keabsahan, percobaan,
hukum, dan keragaman.
E. Teori-Teori Ilmu Politik
Terdapat tiga penteorian dalam ilmu politik, yaitu:
1. Teori Politik Empiris
Digunakan untuk mengacu kepada bagian-bagian teoritis ilmu politik.
2. Teori Politik Formal
Merupakan teori politik yang kadang-kadang dirasakan tumpang
tindihnya dengan teori sosial maupun teori publik. Tidak ada aturan
keputusan yang secara simultan dapat memenuhi sejumlah kondisi yang
sangat masuk akal.
102
3. Teori Politik Normatif
Merupakan teori poltik yang paling dekat dengan enterprise tradisional.
Sejauh ia berkenaan dengan kebijakan politik. Tujuannya adalah
meletakkan prinsip-prinsip otoritas, kebebasan dan keadilan.
Kemudian, mengkhususkan pada tatanan sosial, untuk memenuhi
prinsip-prinsip tersebut. Tugas teori politik menurut pandangan ini
adalah :
1) Menjelajah apa makna kebebasan dan kemudian menerapkannya
pada masalah-masalah praktis.
2) Untuk menemukan landasan tujuan dalam mendukung prinsip-
prinsip politik yang mendasar.
F. Bidang Kajian Ilmu Politik
a. Teori ilmu politik yang meliputi teori poltik dan sejarah perkembangan ide-
ide politik.
b. Lembaga-lembaga politik yang meliputi UUD, pemerintahan nasional,
pemerintahan daerah dan lokal, fungsi ekonomi dan social dari pemerintah
dan perbandingan lembaga-lembaga politik.
c. Partai Politik, organisasi kemasyarakatan, pendapat umum, partisipasi
warga negara dalm pemerintahan dan administrasi.
d. Hubungan Internasional yamg meliputi poltik internasional, organisasi dan
administrasi internasional dan hukum internasional.
G. Perilaku Politik
Perilaku politik atau (Inggris: Politic Behaviour)adalah perilaku yang
dilakukan oleh insan/individu atau kelompok guna memenuhi hak dan
kewajibannya sebagai insan politik.Seorang individu/kelompok diwajibkan oleh
negara untuk melakukan hak dan kewajibannya guna melakukan perilaku politik
adapun yang dimaksud dengan perilaku politik contohnya adalah:
Melakukan pemilihan untuk memilih wakil rakyat / pemimpin
Mengikuti dan berhak menjadi insan politik yang mengikuti suatu partai
103
politik atau parpol , mengikuti ormas atau organisasi masyarakat atau lsm
lembaga swadaya masyarakat
Ikut serta dalam pesta politik
Ikut mengkritik atau menurunkan para pelaku politik yang berotoritas
Berhak untuk menjadi pimpinan politik
Berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan
politik guna melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik
oleh undang-undang dasar dan perundangan hukum yang berlaku
H. Ruang Lingkup Ilmu Politik
Ruang lingkup ilmu politik menurut pemahaman kami adalah batasan
batasannya dengan ilmu-ilmu sosial lainnya. Maka dapat dipahami dengan
menguraikan hubungan ilmu politik dengan ilmu-ilmu tersebut.
1. Hubungan ilmu politik dengan ilmu sosiologi
Semua ilmu sosial pada dasarnya mempelajari kelakuan manusia serta
cara-cara manusia hidup serta bekerja sama. Ilmu politik berhubungan erat
sekali dengan ilmu sosiologi, karena ilmu sosiologi mempelajari latar belakang,
susunan dan pola kehidupan sosial dari berbagai golongan dan kelompok
dalam masyarakat yang nantinya akan mempengaruhi keputusan
kebijaksanaan dalam ilmu politik. Baik ilmu sosiologi maupun ilmu politik
mempelajari negara.
Namun bagi ilmu politik negara merupakan obyek penelitian pokok,
sedangkan dalam sosiologi negara hanya merupakan salah satu dari banyak
asosiasi dan lembaga pengendalian masyarakat.
2. Hubungan ilmu politik dengan ilmu antropologi
Antropologi mempelajari pengertian-pengertian dan teori-teori tentang
kedudukan serta peranan satuan-satuan sosial budaya yang lebih kecil dan
sederhana dalam masyarakat, khususnya dalam menunjukkan perbedaan
struktur sosial serta pola-pola kebudayaan yang berbeda-beda pada tiap-tiap
masyarakat. Sedangkan ilmu politik lebih memusatkan pada kekuasaan dan
kebijakan dengan memahami struktur sosial pada masyarakat.
104
3. Hubungan ilmu politik dengan ilmu ekonomi
Politik juga berhubungan erat dengan ilmu ekonomi, dimana prinsip
yang tercakup dalam ilmu ekonomi akan diadopsi oleh ilmu politik yakni
pengambilan kebijakan dalam sistem politik yakni bertujuan untuk
kemakmuran ekonomi dalam pembangunan suatu masyarakat.
Seorang sarjana politik misalnya, dapat meminta bantuan sarjana
ekonomi tentang syarat-syarat ekonomis yang harus dipenuhi guna
memperoleh tujuan-tujuan politis tertentu, khususnya yang menyangkut
pembinaan kehidupan demokrasi.
4. Hubungan ilmu politik dengan ilmu psikologi
Psikologi sosial adalah pengkhususan psikologi yang mempelajari
hubungan timbal balik antara manusia dan masyarakat, khususnya faktor-
faktor yang mendorong manusia untuk berperan dalam ikatan kelompok ataui
golongan. Psikologi sosial mengamati kegiatan manusia dari segi-segi ekstern
(lingkungan sosial, fisik, peristiwa-peristiwa, gerakan-gerakan massa) maupun
dari segi intern (kesehatan fisik perorangan, semangat, dan emosi).
Dengan demikian psikologi sosial mempengaruhi suatu hasil keputusan
dalam kebijaksanaan politik dan kenegaraan dengan memperhatikan sikap dan
tindakan-tindakan sosial masyarakat yang melahirkan tuntutan-tuntutan
terhadap kebijakan politik suatu pemerintahan.
105
BAB IX
KETERKAITAN ANTAR KONSEP DASAR ILMU SOSIAL
A. Pengertian Ilmu Pengetahuan Sosial
Menurut Sapriya (2017,p.19-20), IPS merupakan mata pelajaran di tingkat
SD/MI dan menengah,atau salah satu program studi di perguruan tinggi yang identik
dengan istilah Social Studies dalam kurikulum persekolahan di negara lain seperti
Amerika Serikat. Pengertian IPS di tingkat persekolahan, mempunya perbedaan
makna,di sesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan peserta didik,khususnya
antara Ips untuk sekolah dasar dengan Ips untuk Sekolah menengah.Pengertian Ips
di persekolahan tersebut ada yang berarti nama mata pelajaran yang berdiri
sendiri,gabungan(integrated) dari sejumlah mata pelajaran atau disiplin ilmu,dan ada
yang berarti program pengajaran.
Menurut Sapriya (2017,p.20-23), Dalam struktur disiplin ilmu,baik ilmu ilmu
sosial maupun ilmu pendidikan,belum ada di temukan nama pendidikan ips sebagai
sub disiplin ilmu.Namun demikian,peran ilmu sosial tetap menjadi konten utama
untuk pendidikan ips.
Menurut Astawa,Ilmusosial adalah ilmu yang mempelajari manusia di
masyarakat dan mempelajari manusia sebagai anggota masyarakat. Ada beberapa
Ilmu sosial yang juga menjadi sumber IPS :
1. Konsep Dasar Sosiologi
Konsep dasar yang berkaitan dengan sosiologi,yang dimana sosiologi
didefenisikan sebagai ilmu secara ilmiah terhadap lingkungan sosial.
Objek studi sosiologi antara lain :
a. Sekumpulan manusia yang hidup bersama dalam waktu yang lama
b. Merupakan satu kesatuan
106
c. Mempunyai sistem hidup bersama yang melahirkan budaya,norma dan nilai
yang berlaku
Tujuan sosiologi adalah untuk memperoleh pengetahuan yang mendalam tentang
masyarakat.
2. Konsep Dasar Antropologi
Konsep dasar yang membahas tentang manusia untuk memperoleh
pemahaman tentang manusia dengan mempelajari aneka warna maupun fisik
masyarakat dan kebudayaannya. Objek studi antropologi adalah manusia dalam
masyarakat,kebudayaan,suku bangsa,dan perilakunya.
Tujuan Antropologi yaitu :
a. Mendiskripsikan tata arah kehidupan kelompok manusia pada setiap periode
dan karakter fisik manusia.
b. Memahami manusia sebagai kelompoktertentu secara keseluruhan.
c. Menemukan Prinsip umum tentang gaya hidup manusia.
3. Konsep Dasar Ilmu Ekonomi
Konsep dasar yang berkaitan dengan kebutuhan perekonomian manusia dan
upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan manusia guna untuk mencapai
kemakmuran. Objek kajian ilmu ekonomi yaitu keseluruhan kegiatan perekonomian
manusia.
Manfaat mempelajari Ekonomi yaitu :
a. Membantu cara berfikir yang tepat dalam pengambilan keputusan.
b. Membantu memahami masyarakat.
c. Membantu pemahaman terhadap masalah globalisasi.
d. Membangun Masyarakat yang Demokrasi.
4. Konsep Dasar Geografi
Konsep dasar yang berkaitan dengan gejala maupun proses kehidupan di bumi
yang menyangkut gejala dan proses alamnya, yang melibatkan kehidupan
tumbuhan,binatang dan manusia untuk menjadi penghuni bumi. Objek studi geografi
ada 2, Yang Pertama Objek material, Yang Kedua Objek formal.
107
5. Konsep Dasar Sejarah
Konsep dasar sejarah yang menjadi kajian sejarah yang memua kehidupan
manusia dimasa lalu,sekarang dan masa yang akan dating.
6. Konsep Dasar Ilmu Politik
Konsep dasar politik yang akan membahas mengenai teori dan praktek politik
serta gambaran dan analisis sistem politik,Yang berkenaan dengan kekuasaan,sumber
kekuasaan,konflik,dan pengambilan keputusan
7. Konsep Dasar Psikologi Sosial
Konsep dasar Psikologi sosial berkenaan dengan proses mental dan
pengaruhnya terhadap perilaku yakni gejala dan kejiwaan manusia.
B. Hubungan IPS dengan Ilmu-ilmu Sosial
Ilmu-ilmu sosial merupakan dasar dari IPS. Akan tetapi, tidak semua ilmu-
ilmu sosial secara otomatis dapat menjadi bahan atau pokok bahasan dalam IPS.
Tingkat usia, jenjang pendidikan, dan perkembangan pengetahuan siswa sangat
menentukan materi-materi ilmu-ilmu sosial mana yang tepat menjadi bahan atau
pokok bahasan dalam IPS.
Di Indonesia IPS menjadi salah satu mata pelajaran dalam pembaharuan
kurikulum SD, SMP, SMA sejak 1975 dan masih berlangsung hingga sekarang. Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) ini sangat penting diajarkan kepada peserta didik, sebab
setiap individu ialah makhluk sosial yang hidup bermasyarakat. Agar setiap individu
menjadi warga negara yang baik maka ia perlu mendapatkan pengetahuan yang
benar tentang konsep dan kaidahkaidah sosial, menentukan sikap sesuai dengan
pengetahuan tersebut dan memiliki keterampilan untuk berpartisipasi dalam
kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Disiplin ilmu-ilmu sosial yang dikembangkan dalam social studies di
Indonesia meliputi ilmu ekonomi, sejarah, geografi, sosiologi, politik, hukum dan
pendidikan kewarganegaraan. Disiplin ilmu sosial yang dikembangkan dalam social
studies di Amerika Serikat lebih beragam bila dibandingkan dengan tradisi
pengembangan IPS di Indonesia. Disiplin ilmu sosial yang dikembangkan dalam
108
social studies di Amerika Serikat meliputi antropologi, arkeologi, ekonomi, geografi,
sejarah, hukum, filsafat, ilmu politik, psikologi, religi dan sosiologi.
Kontribusi ilmu-ilmu sosial dalam pengembangan pendidikan IPS dalam
kurikulum sekolah tidak diragukan lagi sebagaimana pentingnya teori dalam
pengembangan ilmu-ilmu sosial. Namun, perlu ada klarifikasi tentang teori,
khususnya teori ilmu sosial dalam konteks PIPS. Bank mengakui bahwa sebenarnya
banyak ahli yang menyarankan agar para pengembang kurikulum melakukan
identifikasi terhadap teori-teori ilmu sosial yang dapat membantu para siswa dalam
mengambil keputusan dan belajar konsep dan generalisasi.
IPS ialah bidang studi yang merupakan paduan (fusi) dari sejumlah mata
pelajaran sosial dan IPS juga dikatakan sebagai suatu sarana mata pelajaran yang
menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial oleh karena itu ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti:
a. Ilmu-ilmu sosial manakah yang dapat dipadukan, dan mempunyai keterkaitan
dalam proses pembelajaran
b. Bagaimana cara memadukannya, sebab tidak semua materi ilmu sosial dapat
dipadukan
c. Bagian-bagian apa sajakah yang perlu bagi pembelajaran IPS
Secara konseptual hubungan antara IPS dengan ilmu-ilmu sosial dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Disiplin ilmu-ilmu sosial dijadikan kerangka utama berfikir dalam
mengembangkan kurikulum.
b. Bahan untuk IPS dikembangkan terlebih dahulu, serta memilih dan memilah
disiplin-disiplin ilmu sosial kemudian diidentifikasikan konsep-konsep dasar
yang perlu diketahui peserta didik. Konsepkonsep dasar ini dipilih dan
disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dalam kurikulum IPS. Konsep
dasar yang dipilih dijadikan pokok bahasan dalam kurikulum. Dengan kata
lain, ilmu-ilmu sosial secara langsung memberikan bahan pembelajaran untuk
kurikulum IPS. Oleh karena itu, topik-topik yang akan diajarkan dalam
kurikulum IPS ialah hasil dan inventarisasi konsep dasar dari disiplin ilmu-
109
ilmu sosial. Tidak salah jika dikatakan bahwa IPS ialah gabungan ilmu-ilmu
sosial yang diajarkan di sekolah.
Berbicara mengenai konsep dasar menurut James G. Womeck konsep IPS ialah
suatu kata atau ungkapan yang berhubungan dengan sesuatu yang menonjol, sifat
yang melekat, pemahaman dan penggunaan konsep yang tepat bergantung pada
penguasaan sifat yang melekat tadi, pengertian umum kata yang bersangkutan,
konsep memiliki pengertian denotatif dan juga pengertian konotatif.
Struktur merupakan konsep pedagogies dan perlu diajarkan melalui IPS. Agar
murid dapat secepatnya menghayati ide-ide atau pokok pikiran dari ilmu yang
dimaksud. Dengan mengetahui dan menguasai pengetahuan tentang ilmu-ilmu
sosial, bahasan dan topik-topik IPS baik berupa konsep, prinsip, generalisasi, teori
maupun fakta-fakta yang bersumber dari masyarakat dapat dibahas lebih mendalam.
Mata pelajaran yang dapat dijadikan sumber pada pengajaran IPS yaitu
geografi, sejarah, ekonomi, antropologi, politik dan sosiologi. Guru pengajar IPS
harus dapat memanfaatkan materi-materi pada pelajaran tadi. Guru harus menaruh
perhatian yang penuh kepada apa yang diuraikan dan disajikan pada mata pelajaran
yang termasuk ilmu sosial. Jika guru telah menaruh minat yang besar terhadap materi
yang diajarkan, maka peserta didik akan menaruh minat yang besar. Oleh sebab itu,
buku-buku ilmu sosial harus diminati dan dijadikan sumber pengajaran oleh guru
dan murid.
1) Hubungan IPS dan Geografi
IPS mengambil materi dari geografi yang terkait dengan bumi, garis lintang,
garis bujur, arah, jarak, lokasi ruang, kondisi ruang serta lingkungan, sumber daya
alam serta interaksi antar bangsa dan manusia dengan lingkungan.
2) Hubungan IPS dan Ekonomi
IPS mengambil materi ekonomi terkait dengan usaha manusia untuk mencapai
kemakmuran dan gejala-gejala serta hubungan yang timbul dari usaha tersebut.
3) Hubungan IPS dan Ilmu Politik
IPS mengambil ilmu politik yang membahas usaha manusia
mengorganisasikan kekuasaan dalam mengatur manusia serta menyelenggarakan
kepentingan rakyat dan bangsa.
110
4) Hubungan IPS dan Ilmu Sejarah
IPS mengambil materi ilmu sejarah yang terkait dengan cara hidup manusia
dilihat dari kurun waktu masa lalu.
5) Hubungan IPS dan Antropologi
IPS mengambil materi antropologi yang terkait dengan kajian hasil budidaya
manusia dalam menjaga eksistensinya dan usaha meningkatkan kehidupan baik
aspek lahiriyah maupun batiniyah.
6. Hubungan IPS dan Sosiologi
IPS mengambil materi sosiologi yang mempelajari masyarakat secara umum
dan hubungan antar individu serta masyarakat tersebut.
7. Hubungan IPS dan Psikologi Sosial
IPS mengambil materi psikologi sosial terkait dengan mempelajari perilaku
individu, kelompok, dan masyarakat yang dipengaruhi oleh situasi sosial,
pengetahuan, pemikiran, tanggapan, dan psikulasi.
8. Hubungan IPS dan Ilmu Hukum
IPS mengambil materi ilmu hukum yang berkaitan dengan peraturanperaturan
tingkah laku dalam masyarakat yang ditetapkan oleh pemerintah. Hubungan antara
IPS dengan ilmu-ilmu social saling berkaitan. Keduanya berhubungan dengan
kebutuhan dasar manusia, kemudian kebutuhan dasar tersebut dapat dicapai dengan
kegiatan dasar manusia. Kegiatan dasar menusia meliputi produksi dan konsumsi,
pemeliharaan dan perlindungan, konsumsi dan transport, estetika, pemerintahan dan
organisasi, dan pendidikan dan rekreasi. Keseluruhannya membentuk ilmu-ilmu
social. Dalam ilmu-ilmu social, terurai disiplin ilmu yang meliputi, antropologi,
ekonomi, geografi, sejarah, ilmu politik, psikologi social dan hukum. Dan di
dalamnya terdapat fakta, konsep, generalisasi yang dikembangkan membentuk Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS). Jadi IPS merupakan penjabaran dari ilmu-ilmu social yang
didalamnya terdapat fakta, konsep dan generalisasi.
111
C. Karakteristik Ilmu-Ilmu Sosial
Ada beberapa karakteristik ilmu ilmu sosial,diantaranya :
1. Berbagai batang tubuh disiplin ilmu ilmu sosial yang di organisasikan secara
sistematis dan ilmiah.
2. Batang tubuh disiplin itu berisikan sejumlah teori dan generalisasi yang handal
dan kuat serta dapat di uji tingkat kebenarannya.
3. Batang tubuh disiplin ilmu ilmu sosial disebut juga struktur disiplin ilmu atau
fundamentai ide.
4. Teori dan generalisasi dalam strukstur di sebut pula pengetahuan yang di capai
lewat pendekatan konseptual dan syntactis yaitu lewat proses
bertanya,berhipotesis,pengumpulan data (observasi dan eksperimen)
D. Perbedaan IPS dan Ilmu-ilmu Sosial
Menurut Sumaatmadja (1986: 22), terdapat perbedaan yang esensial antara
ilmu-ilmu sosial (social sciences) dengan ilmu pengetahuan social (social studies).
Menurut Norman MazKenzie ilmu-ilmu sosial (social sciences) dapat diartikan
sebagai semua bidang ilmu pengetahuan mengenai manusia dalam konteks sosialnya
atau sebagai anggota masyarakat.
Sedangkan The committee on the social of the national education on
asociation’s and reorganisation of secondary education in 1916 menjelaskan bahwa
ilmu pengetahuan sosial (social studies) ialah mata pelajaran yang menggunakan
bahan ilmu-ilmu sosial untuk mempelajari hubungan manusia dalam masyarakat dan
manusia sebagai anggota masyarakat. Menurut Setiawan (2015: 4), pendidikan IPS
ialah suatu program studi dan bukan disiplin ilmu tersendiri, sehingga tidak akan
ditemukan baik dalam nomenklatur filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu social (social
sciences), maupun dalam ilmu Pendidikan.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu-ilmu sosial berbeda
dengan ilmu pengetahuan sosial, beberapa perbedaan tersebut yaitu :
a. Aspek kehidupan manusia yang menjadi objek studi ilmu-ilmu sosial terpisah,
misalnya sosiologi objek studinya interaksi sosial, antropologi objek studinya
kebudayaan, ekonomi objek studinya kebutuhan manusia, geografi objek
112
studinya ruang atau interelasi manusia dengan faktor alam pada ruang, ilmu
politik objek studinya kekuasaan, sejarah objek studiya waktu atau riwayat
masa lampau, psikologi sosial objek studinya proses mental manusia sebagai
makhluk sosial. Sedangkan, IPS bukan disiplin ilmu mandiri seperti ilmu-ilmu
sosial lainnya. IPS juga mengkaji manusia dalam konteks sosialnya, namun, IPS
mengkaji aspek kehidupan sosial manusia sebagai satu kebulatan atau
unidimensional.
b. Ilmu-ilmu sosial (social sciences) lebih dipusatkan pada pengkajian ilmu
murni. Kerangka kerja ilmu-ilmu sosial lebih diarahkan kepada
pengembangan teori dan prinsip ilmiahnya. Setiap disiplin ilmu-ilmu sosial
(sosiologi, antropologi, sejarah, geografi, ilmu politik, ekonomi, dan lain-lain)
berusaha untuk mengembangkan kajiannya sesuai dengan alur keilmuannya.
Oleh sebab itu, ilmu-ilmu sosial tidak menekankan aspek pendidikan, namun
ilmu-ilmu sosial dirumuskan sebagai disiplin akademik mengenai manusia
dan konteks sosialnya yakni berusaha mengetahui apa dan menjelaskan
mengapa (to describe and to explain). Sedangkan ilmu pengetahuan sosial
(social studies) lebih menekankan pada aspek pendidikannya. Oleh sebab itu,
IPS disebut juga Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS). Materi IPS
diambil dari ilmu-ilmu sosial untuk kepentingan pendidikan dan pengajaran.
Menurut Somantri (2001: 198), ilmu yang disajikan dalam pendidikan IPS
merupakan Synthetic antara ilmu-ilmu sosial dengan ilmu pendidikan untuk tujuan
pendidikan. Ilmu yang dikembangkan dalam pendidikan IPS merupakan hasil
seleksi, adaptasi. dan modifikasi dari hubungan antar disiplin ilmu pendidikan dan
ilmu-ilmu sosial yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis
untuk tujuan pendidikan.
Mengenai karakteristik pendidikan IPS sebagai syhthetic discipline dijelaskan
oleh Numan Somantri disebabkan pendidikan IPS bukan hanya harus mampu
mensintesiskan konsep-konsep yang relevan antara ilmu-ilmu pendidikan dan ilmu-
ilmu sosial, melainkan juga tujuan pendidikan dan pembangunan serta masalah-
masalah sosial dalam hidup bermasyarakatpun akan menjadi pertimbangan bahan
pendidikan IPS.
113
Berdasarkan kurikulum 2013 IPS untuk Pendidikan Dasar (SD) IPS disajikan
secara tematik, untuk tingkat SMP IPS disajikan secara terpadu, sedangkan untuk
tingkat SMA IPS diberikan sebagai mata pelajaran yang terpisah yag terdiri dari
Sejarah, Geografi, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi.
114
DAFTAR PUSTAKA
Ahmadi, Abu. (1991). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.
Ahmadi, Abu. (1975). Pengantar Sosiologi. Solo: Ramadhani.
Algifari. (2003) Ekonomi Mikro Teori dan Kasus, Yogyakarta. STIE YKPN
Astawa, Ida Bagus Made. (2017). Pengantar Ilmu Sosial. Depok: Rajagrafindo.
Barr, Robert., James L. Barth dan Samuel Shermis. (1978). Konsep Dasar Studi Sosial.
Bandung: Persada.
Bambang Setyo Pambudi, (2012) Manajemen Distribusi, Prodi Manajemen FE
Trunojoyo, bahan ajar. Madura
Budiardjo, Miriam. (2004). Dasar-dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama,
C.S.T.
Boediono, (2013). Ekonomi mikro. Yogyakarta: FAKEBIS.
Depdiknas. (2003). Standar Kompetensi Mata Pelajaran Pengetahuan Sosial Sekolah
Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah. Jakarta : Depdiknas.
Fatimah, Siti. (2015). Pembelajaran IPS. Padang: UNP.
Hartomo dan Arnicum Aziz. (1990). Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Kansil. (2007). Ilmu Negara. Jakarta: PT. Pradnya Paramita,
Mangkunegara, AA Anwar Prabu. (2009). Perilaku Konsumen. Jakarta : Refika
Aditama.
Nopirin. (2013). Ekonomi Moneter. Yogyakarta: FAKEBIS. UGM
Sadono sukirno, (2002) Pengantar teori mikro ekonomi, Grafino Persada Jakarta
Sakti. Setiawan, Deny. (2017). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Medan: Larispa
Indonesia.
Sapriya. (2008). Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial. Bandung: Laboratorium PKn UPI.
-----------. (2017). Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Setiawan, Deny. (2017). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu. Medan: Akasha
Sinar Baru. Cheppy HC. tt. (2015). Strategi Ilmu Pengetahuan Sosial. Surabaya: Karya
Anda.
Soemitro, Rochmat. (1991). Pengantar Ekonomi. Bandung: PT ERESCO
Soetopo, Hendyat. (2010). Perilaku Organisasi. Bandung. PT Remaja Rosdakarya
Offset.
115
Somad Rismi dan Donni Juni Priansa. (2015). Manajemen Komunikasi. Bandung :
Alfabeta.
Sukarsih dan Sarwin. (2008). Ekonomi Mikro. Purwokerto: Unsoed.
Sumaatmadja, Nursid. (1986). Pengantar Studi Sosial. Bandung: Alumni.
Somantri, Numan. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung:
Rosdakarya.
Sunyoto, Danang. (2012). Konsep Dasar Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen.
Yogyakarta: CAPS.
Supardan, Dadang. (2009). Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendektan Struktural.
Jakarta: Bumi Aksara.
Supardi. (2011). Dasar-dasar Ilmu Sosial. Ombak: Yogyakarta.
Torang, Syamsir. (2013). Organisasi & Manajemen. Bandung: Alfabeta.
Umar, Husein. (2002) Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen, PT Sun, Jakarta.
116
KONSEP DASAR IPS
Buku ini berjudul “Konsep Dasar IPS”, sebagai pegangan bagi Mahasiswa dalam
mempelajari dan memahami Konsep Dasar IPS. Adapun materi yang dibahas
dalam buku ini telah disesuaikan dengan garis-garis besar Konsep Dasar IPS.
Buku ini diharapkan dapat membantu para mahasiswa dalam memahami
materi-materi yang terdapat dalam pembelajaran Konsep Dasar IPS.
Buku bahan ajar ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai referensi, baik bagi
Mahasiswa dan Dosen. Namun demikian buku ini bukan satu-satunya referensi
yang dipergunakan dalam pembelajaran Konsep dasar IPS. Dalam penyusunan
buku ini, kami menyadari masih banyak kekurangan baik materi serta teknis
penyusunannya. Oleh karrena itu setiap penggunaan buku ini baik dosen,
mahasiswa maupun pihak lain yang terkait diharapkan dapat memberikan
balikan yang akan dimanfaatkan sebagai bahan perbaikan dan penyempurnaan
buku ini.