The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by pipitsrimulyani31, 2021-10-20 00:30:08

Amphibi

Amphibi

Keywords: Amphibi

ZOOLOGI
VERTEBRATA

AMPHIBI

BIOLOGI C

DISUSUN OLEH Pipit Sri Mulyani 195040095
Melanie Putri 205040094
Galih Nurdiansya 195040041
Zahra Putriyulia 195040058
Muhqmmad Sawin 195050071

AMPHIBI HALAMAN 01

PETA KONSEP

AMPHIBI HALAMAN 02

PENGERTIAN DAN CIRI
UMUM AMPHIBI

Amphibi berasal dari dua kata yaitu, “Amphi” yang berarti dua dan “Bios”
yang berartihidup. Karena itu amphibi dapat diartokan sebagaihewan yang
memilikidua bentuk kehidupanyaitu di darat dan di air. Amphibimerupakan

kelompok tAeMrkePcHilIBpaIda golongan hewan vertebrata, yang memiliki jumlah

hanya 3000 spesies. Seperti ikan dan reptilia, amfibi adalah hewan berdarah
dingin. Ini berarti amfibi tidak dapat mengatur suhu badannya sendiri.Untuk
itu, amfibi memerlukan matahariuntuk menghangatkan badan. Awalnya amfibi
mengawali hidup di perairan dan melakukan pernapasan menggunakan
insang. Seiring denganpertumbuhannya paru-paru dan kakinya berkembang
dan amfibi pun dapat berjalan di atas daratan. Hewan amphibi memiliki
beberapa macam/ jenis , yaitu terdapat Ordo Urodela, apoda dan anura.

CIRI CIRI UMUM
AMPHIBI

1.Penutup pada tubuhnya berupa kulit yang berlendir
2.Hewan berdarah dingin (poikiloterm)
3.Hewan berkaki empat (tatrapoda), dengan alat gerak berupa dua pasang
kaki. Kakinya berselaput, kaki pada amphibiberfungsi untuk melompatdan
juga berenang
4.Jantung pada amphibi terdiri dari tiga ruang,yaitu dua serambi dan satu
bilik.
5.Alat pernafasan pada ampibi saat masih larva (kecebong) alat pernafasannya
berupa insang. Dan setelah dewasa hewan amphibi bernafas menggunakan
paru- paru dan juga kulit.
6.Mata pada amphibi mempunyaiselaput tambahan yang disebut dengan
membrane niktitans, membrane tersebut berfungsi membantu hewan amphibi
saat menyelam.
7.Hewan amphibi berkembang biak dengan cara bertelur, melaluipembuahan
eksternal, yakni betina melepaskan telurnya dan kemudian dibuahi oleh
jantan di luar tubuh induknya.

AMPHIBI HALAMAN 03

KLASIFIKASI AMPHIBI

Adapun kedudukan amphibia dalam system klasifikasi yaitu sebagai berikut:

Kerajaan : Animalia

Filum AMPH: ICBhIordata

Subfilum : Vertebrata

Superkelas : Tetrapoda

Kelas : Amphibia

Amphibia terdiri dari 4 ordo yaitu Apoda (Caecilia), Urodela (Salamander),

dan Anura ( katak dan kodok), Proanura (telah punah).

Ordo Urodela

Ordo Urodela disebut juga caudata dalah kelompok amphibiyang memiliki
ciri khas yaitu memiliki ekor. Urodela atau caudata berasal dari kata “Cauda”
yang artinya ekor. Tubuh ordo ini terdapatbagian kepala, badan, ekor, dan
anggota gerak. Anggita dari ordo ini memiliki ukuran yang bervariasi dan
panjang ekornya hampir sama da nada yang lebih panjang dari
panjangtubuhnya. Beberaoa spesiesurodela memiliki insang,sementara
beberapa spesies lainnya bernapas dengan paru-paru.

AMPHIBI HALAMAN 04

Karakteristik
Dan Habitat Urodela

Ordo Urodela memiliki karakteristik yaitu, memiliki bentuk tubuh yang
memanjang, memiliki anggota gerak dan ekor. Beberapa spesies urodela

memiliki insang dan ada juga yang bernafas menggunakan paru-paru.
Padabagian mata terdapat mata yang kevil da nada beberapa jenis yang
matanya mengalamu reduksi. Fase larva pada Ordo Urodela hampir sama
dengan fase dewasa. Urodela hidup di darat akan tetapi tidak dapat lepas
dari air. Urodela memlikianggota sekitar 350 spesies, yang tersebar di
belahan bumi utara sepertiAmerika Utara, AmerikaTenga, Asia Tengah (China,
Jepang)dan Eropa.

Ciri Umum
Urodela

Salamander merupakan kelompok Amphibia yang berekor. Mereka secara
umum dicirikan seperti kadal. Semua anggota dari family ini memiliki ekor
yang panjang, tidak memiliki timpanum, tubuh silinder yang memanjang serta
kepala yang berbeda. Sebagian besar memiliki tungkai yang berkembang
dengan baik, biasanya pendek tergantung pada ukuran tubuh. Tengkoraknya
mereduksi dikarenakan adanya beberapa bagian yang menghilang. Sebagian
besar anggotanya memiliki fertilisasi internal meski tak satu pun anggota
dari family ini yang memiliki organ kopulasi. Fertilisasi internal terjadi ketika
jantan mendepositkan spermatopora yang kemudian akan diterima oleh
betina melalui bibir kloakanya. Salamander memiliki tubuh yang memanjang
dan memiliki ekor. Sebagian besar Salamander memiliki empat kaki, meskipun
tungkai pada beberapa spesies. Dan pada saat larva dan dewasaurodela
merupakan hewan karnivora. Serta anggota Ordo Urodelahidup di darat akan
tetapi tidak dapatlepas dari air.

AMPHIBI HALAMAN 05

Klasifikasi Ordo
Urodela

Urodela atau caudata terdiriatas tiga sub ordo yaitu Sirenidea,
Cryptobranhidae, dan salamandroidae. Ordo jenis ini tidak terdapat di
Indonesia. Urodela memliki anggota sekitar 350 spesies, yang tersebar di
belahan bumi utara sepertiAmerika Utara, Amerika Tenga, Asia Tengah
(China, Jepang)dan Eropa.

1. Sub ordo Sirenidea

Berikut merupakan ciri-ciri sub ordo sirenidea
a. Hanya dalam satu malam, ratusan hingga ribua salamander dapat membuat
jalan ke kolam untuk kawin.
b. Betina biasanya menjaga sekitar 100 telur yang melekat pada tanaman
c. Telur berbentuk bulat, jelas, rumpun jeli seperti yang biasanya 2,5-4inci
(6,3-10 cm) lama
d. Hewan dewasa hanya tinggal di dalam air selama beberapa hari, maka telur
menetas dalam 1 sampai 2 bulan.
e. Pelapisan Jelly mencegah telur salamander dari kekeringan, namun
menghambat difusi oksigen (diperlukan untuk perkembangan embrio).
Contoh Spesies

Genus : Siren
Spesies : Siren lacertian

AMPHIBI HALAMAN 06

2. Sub ordo Cryptobranhidae
a. Famili Cryptobranchidae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Cyptobranhidae :
Ukuran tubuh mencapai hingga 1,44 meter ( 4,7 kaki), makanannya ikan dan
udang-udangan, dan telah dikenal hidup selama lebih dari 50 tahun di
penangkaran. Salamender raksasa Cina (Daviadianus andrias) panjangnya
dapat mencapai 1,8 meter.
Contoh Spesies

Genus : Andrias
Spesies : Andrias japonicus

b. Famili Hynobiidae

Contoh hewannya yaitu Salamendrella Keyserling

3. Sub ordo Salamandroidea

a. Famili Proteidea

Famili ini memiliki ciri-ciri yaitu, bersifat
nocturnal, bentu tubuhnya memanjang,
dan kurangnya pigmentasi kulit. Contoh
hewannya yaitu Proteus anguinus

AMPHIBI HALAMAN 07

b. Famili Amphiumidae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Amphiumidae : kurangnya
bersifat nocturnal, bentu tubuhnya memanjang, dan
pigmentasi kulit. Contoh hewannya yaitu Amphiuma means

c. Famili Salamandridae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Salamdridae :
memiliki pola warna-warni yang cerah dan kontras, memiliki4 anggota
gerak, ukuran panjangnya berbeda beda dari 7cm sampai 30cm. contoh
jenis salamander adalah Chioglossa lucitanica.

d. Famili Dicampetontidae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Dicampetontidae :
berukuran tubuh sampai 30cm, dan banyak ditemukan di bagian barat
seperti amerika serikat, Barat, Selatan,British Columbia, ukurannyamirip
dengan salamander, habitat hewan ini dapat di darat maupun di perairan.
Contohhewan jenis ini adalah Dicamptodon tenebrosus.

AMPHIBI HALAMAN 08

e. Famili Plethodontidae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Plethodontidae :
warnanya bervariasi dari kuning sampai ungu, memiliki tiga garis hitam
yang sangat jelas dan dapat menunjukan panjang hewan. Contoh hewan
ini adalah Eurycea guttolineata.

f. Famili Ambystomatidae

Berikut merupakan ciri-ciri famili Ambystomatidae :
memiliki 3 pasang insang eksternal di belakang kepala mereka dan di atas
celah insang. Larva memiliki ekor sirip yang memanjang dari belakang
kepala ke ekor. Kakinya tumbuh stelah menetas, dengan 4 jari pada
lengan dan dan 5 jari pada hindleges. Memilikisepasang mata yang lebar.
Selama metamorfosis, insang larva menghilang, seperti halnya sirip.
Ekor, kulit, dan anggota badan menjadi lebih tebal, dan mengembangkan
kelopak mata. paru-paru sepenuhnya dikembangkan, memungkinkan
untuk keadaan yang terestria. Contoh hewannya : Dicamptodon
aterrimus. (Klasifikasi Dicamptodon aterrimus

AMPHIBI HALAMAN 09

Ordo Apoda

Sesilia, Gymnophiona atau Apoda adalah ordo amfibia yang bertubuh
serupa cacing besar atau ular. Hewan ini amat langka. Selain karena
hanya ditemukan di daerah hutan-hutan yang masih baik, sesilia hidup di
dalam tanah yang gembur, di dekat sungai atau rawa-rawa; sehingga
jarang sekali didapatioleh manusia.

Karakteristik
dan Habitat Apoda

Bangsa Apoda merupakan Amfibi tidak bertungkai. Bentuk tubuh panjang
dan tidak memiliki extremitas, sehingga sekilas Nampak seperti ular.
Amfibi ini terdiri dari segmen tubuh yang membedakan dengan ular yang
mempunyai sisik, badan berbentuk silinder, mulut membulat, jarak antar
mata mudahdibedakan, tentakel berukurankecil dan berada di depan atau
di bawah mata. Warna tubuh coklat gelap atau biru gelap, bagian sisi
tubuh berwarnakuning terang (Mistar, 2003)
Hewan ini merupakan salah satu jenis Amfibi yang paling langka, karena
sulit ditemukan habitatnya. Sesilia merupakan amfibi yang hidup didalam
tanh.

Ciri Umum Apoda

Ordo ini mempunyai anggota yang ciri umumnya adalah tidak mempunyai
kaki sehingga disebut Apoda. Tubuh menyerupai cacing (gilig),
bersegmen, tidak bertungkai, dan ekor mereduksi. Hewan ini mempunyai
kulit yang kompak, mata tereduksi, tertutup oleh kulit atau tulang, retina
pada beberapa spesies berfungsi sebagai fotoreseptor. Di bagian anterior
terdapat tentakel yang fungsinya sebagai organ sensory. Kelompok ini
menunjukkan bentuk dalam daur hidupnya. Pada fase larva hidup dalam
air dan bernafas dengan insang. Pada fase dewasa insang mengalami
reduksi, dan biasanya ditemukan di dalam tanah atau di lingkungan
akuatik. Fertilisasi pada Caecilia terjadi secara internal.

AMPHIBI HALAMAN 10

Klasifikasi
Ordo Apoda

Ordo Caecilia terbagi menjadi 5 famili yaitu Rhinatrematidae,
Ichtyopiidae, Uraeotyphilidae, Scolecomorphiidae, dan Caecilidae. Famili
Caecilidae mempunyai 3 subfamili yaitu Dermophinae, Caecilinae dan
Typhlonectinae. Famili yang ada di Indonesia adalah Ichtyopiidae

Famili Caecilidae mempunyai 3 subfamili yaitu Dermophinae, Caecilinae
dan Typhlonectinae. Famili yang ada di Indonesia adalah Ichtyopiidae.
A n g g oKtaarakf atemriilsitiki n i m e m p u n y a i c i r i - c i r i t u b u h y a n g b e r s i s i k , e k o r n y a
p e nddaenkH, ambiattaat Arpeol adtai f b e r k e m b a n g . R e p r o d u k s i d e n g a n o v i p a r o u s . L a r v a
berenang bebas di air dengan tiga pasang insang yang bercabang yang
segera hilang walaupun membutuhkan waktu yang lama di air sebelum
metamorphosis. Anggota famili ini yang ditemukan di Indonesia adalah
Ichtyophis sp., yaitu di Provinsi DIY.

AMPHIBI HALAMAN 11

Ordo Anura

anura mempunyai arti tidak memiliki ekor. Seperti namanya, anggota ordo
ini mempunyai ciri umum tidak mempunyai ekor, kepala bersatu dengan
badan, tidak mempunyai leher dan tungkai berkembang baik. Tungkai
belakang lebih besar daripada tungkai depan. Hal ini mendukung
pergerakannya yaitu dengan melompat. Pada beberapa famili terdapat
selaput diantara jari- jarinya.

Membrana tympanum terletak di permukaan kulit dengan ukuran yang
cukup besar dan terletak di belakang mata. Kelopak mata dapat
digerakkan. Mata berukuran besar dan berkembang dengan baik.
Fertilisasi secara eksternal dan prosesnya dilakukan di perairan yang
teang dan dangkal

Habitat Anura

Ordo Anura memiliki wlayah penyebaran yang luas seperti pada semua
habitat daratan dan air tawar, pemukiman penduduk, pepohonan, daerah
sepanjang aliran sungai atau air yang mengalir, serta pada hutan primer
dan sekunder (Stuarte dkk., 2008: 2). Penyebaran ordo ini yang
teridentifikasi .encapai kurang lebih 4.100 jenis katak dan kodok.
Penyebaran Ordo Anura (katak) terdapat di seluruh Indonesia dari
Sumatera, Kalimantan, Jawa sampai Papua, mlahnya mencapai sekitar 450
jenis (Iskandar, 1998: 29-30).

Klasifikasi Anura

Ordo Anura (katak) terbagi menjadi 5 Famili yang terdapat di Indonesia
yaitu Bufonidae, Megophryidae, Ranidae, Microhylidae dan Rachoporidae

AMPHIBI HALAMAN 12

a. Famili Bufonidae

Famili ini sering disebut kodok sejati. Ciri-ciri umumnya yaitu kulit kasar
dan berbintil, terdapat kelenjar paratoid di belakang tympanum dan
terdapat pematang di kepala. Mempunyai tipe gelang bahu arciferal.
Secara diapophisis melebar, Bufo mempunyai mulut yang lebar akan
tetapi tidak memiliki gigi. Tungkai belakang lebih panjang dari pada
tungkai depan dan jari-jari tidak mempunyai selaput. Fertilisasi
berlangsung secara eksternal. Famili ini terdiri dari 18 genera dan kurang
lebih 300 spesies. Beberapa contoh famili Bufo yang ada di Indonesia
antara lain: Bufo asper, Bufo biporcatus, Bufo melanosticus dan
Leptophryne borbonica

Bufo asper (kodok sungai)
b. Famili Megophrydae

Ciri khas yang paling menonjol adalah terdapatnya bangunan seperti
tanduk di atas matanya, yang merupakan modifikasi dari kelopak
matanya. Pada umumnya famili ini berukuran tubuh kecil. Tungkai
relatif pendek sehingga pergerakannya lambat dan kurang lincah. Gelang
bahu bertipe firmisternal. Hidup di hutan dataran tinggi. Pada fase
berudu terdapat alat mulut seperti mangkuk untuk mencari makan di
permukaan air. Adapun contoh spesies anggota famili ini adalah
Megophrys dan Leptobranchium hasselti.

Megophrys (katak bertanduk)

AMPHIBI HALAMAN 13

c. Famili Ranidae

Famili ini sering disebut juga katak sejati. Bentuk tubuhnya reatif
ramping. Tungkai relatif panjang dan diantara jari-jarinya terdapat
selaput untuk membantu berenang. Kulitnya halus, licin dan ada
beberapa yang berbintil. Gelang bahu bertipe firmisternal. Pada kepala
tidak ada pematang seperti pada Bufo. Mulutnya lebar danterdapat gigi
seperti parut di bagian maxillanya. Sacral diapophysis gilig. Fertilisasi
secara eksternal dan bersifat ovipar. Famili ini terdiri dari 36 genus.
Adapun contoh spesiesnya adalah: Ranachalconota, Rana hosii, Rana
erythraea, Rana nicobariensis, Fejervarya cancrivora,Fejervarya
limnocharis, Limnonectes kuhli, Occidozyga sumatrana.

Rana hosii (kokang racun)

d. Famili Microhylidae

Famili ini memiliki anggota yang berukuran kecil, sekitar 8-100 mm.
Kaki relatif panjang dibandingkan dengan tubuhnya. Terdapat gigi pada
maxilla dan mandibulanya, tapi beberapa genus tidak mempunyai gigi.
Karena anggota famili ini diurnal, maka pupilnya memanjang secara
horizontal. Gelang bahunya firmisternal. Contoh spesiesnya adalah:
Microhyla achatina.

Microhyla achatina (katak persil)

AMPHIBI HALAMAN 14

e. Famili Rachoporidae

Famili ini sering ditemukan di areal sawah. Beberapa jenis mempunyai
kulit yang kasar, tapi kebanyakan halus juga berbintil. Tipe gelang bahu
firmisternal. Pada maksila terdapat gigi seperti parut. Terdapat pula gigi
palatum. Sacral diapophysis gilig. Berkembang biak dengan ovipar dan
fertilisasi secara ekstern.

Rachoporus sp. (katak terbang)

AMPHIBI HALAMAN 15

SISTEM ORGAN AMPHIBI

Sistem Pencernaan

AMPHIBI

Alat pencernaan amphibi diawali oleh cavum oris dan diakhiri oleh anus. Pada
beberapa bagian dari tractus digestoria mempunyai struktur dan ukuruan
yang berbeda. Mangsa yang berupa hewan kecil yang ditangkap untuk
dimakan akan dibasahi oleh air liur. Katak tidak begitu banyak mempunyai
kelenjar ludah. Dari cavum oris makanan akan melalui pharynx, oesophagues
yang menghasilkan sekresi alkalis (basis) dan mendorong makanan masuk
dalam fentriculus yang berfungsi sebagai gudang percernaan. Bagain muka
frentriculus yang besar disebut cardiarc, sedag bagian posterior mengecil
dan berakhir dengan pyloris. Kontraksi dinding otot ventriculus meremas
makanan jadi hancur dan dicampur dengan sekresi ventriculus yang
mengandung enzim atau verment, yang merupakan katalisator. Tiap – tiap
enzim merubah sekelompok zat makanan manjadi ikatan – ikatan yang lebih
sederhana. Enzim yanbg dihasilkan oleh ventriculus dan intestinum terdiri
atas : pepsin, tripsin, erepsin untuk protein, lipase untuk lemak. Disamping
itu ventriculus menghasilkan asam klorida untuk mengasam kan bahan
makanan. Gerakan yang menyebabkan bahan makanan berjalan dalam saluran
disebut gerak peristalis. Beberapa penyerapan zat makanan terjadi di
ventriculus tetapi terutama terjadi di intestinum. Makanan masuk ke dalam
intertinum dari ventriculus melalui klep pyloris.Kelenjar pencernaan yang
besar adalah hepardan pancreaticum yang memberikan sekresinya pada
intestinum kecuali itu intestinum menghasilkan sekresi sendiri. Hepar yang
besar terdiri atas beberapa lobus dan bilus atau zat empedu yang dihasilkan
akan ditampung sementara dalam fesica felea, yang kemudian akan
dituangkan dalam intestinum melalui ductus cystcus dahulu kemudian
melalui duktus cholydocus yang merupakan saluran gabungan dengan saluran
yang dari pankreas. Fungsi bilus untuk mengilmusikan zat lemat. Bahan
makanan yang merupakan sisa di dalam intestinum mjor menjadi feces dan
selanjutnya dikeluarkan melalui anus.

AMPHIBI HALAMAN 16

System pencernaan amphibian meliputi Di dalam mulut terdapat gerigi kecil
di sepanjang rahang atas, dan ada gigi vomerin pada langit-langit mulut.
Lidah berotot dan bfurfate (cabang dua) pada ujungnya, dan bertaut pada
bagian anterior mulut. Saluran pencernaan mulai dari esophagus (berdinding
lurus dan besar) langsung bersatu dengan lambung. Lambung memanjang dan
berkelok ke samping kiri dan berotot. Usus terdiri dari intestinum (kecil,
panjang, berkelok-kelok), rectum yang langsung bersatu dengan cloaca. Hati
dan pancreas mempunyai saluran-saluran menuju ke duodenum, kandung
empedu, lambung intestinum. Pada potongan melintang intestinum terdiri
dari empat lapisan, yaitu: peritoneum, lapisan otot, submukosa dan mukosa.

Sistem Respirasi

Sistem respirasi amphibi terdiri atas paru-paru (pulmo) dan cutan (kulit),
serta lapisan rongga kulit. Alat-alat ini mempunyai permukaan yang basah
(lapisan epithelium yang banyak mengandung pembuluh darah). Oksigen yang
berasal dari udara larut dalam cairan permukaan respirasi dengan jalan difusi
masuk ke pembuluh darah. Dalam proses ini hemoglobin memegang peranan
dalam oksidasi yang selanjutnya akan dibawa ke jaringan-jaringan tubuh yang
memerlukan. Sebagian besar karbondioksida diangkut oleh plasma darah dari
jaringan ke alat respirasi. Struktur paru-paru amphibi masih sederhana.
Paru-paru katak terdiri atas dua sakus yang elastis yang berisi lipatan yang
membentuk kamar-kamar kecil yang disebut alviola, yang masing-masing
diliputi oleh pembuluh- pembuluh kapiler. Masing-masing sakus paru-paru
dihubungkan dengan saluran bronchi yang pendek, kemudian kedua bronchi
bersatu menuju larynx (kotak suara) dengan lubangnya yang disebut glottis.
Oksigen yang masuk lewat kulit akan melewati vena kulit (vena kutanea)
kemudian dibawa ke jantung untuk diedarkan ke seluruh tubuh. Sebaliknya
karbon dioksida dari jaringan akan di bawa ke jantung, dari jantung dipompa
ke kulit dan paru-paru lewat arteri kulit paru-paru (arteri pulmo kutanea).
Dengan demikian pertukaran oksigen dan karbon dioksida dapat terjadi di
kulit. Selain bernapas dengan selaput rongga mulut dan kulit, katak bernapas
juga dengan paru-paru walaupun paru-parunya belum sebaik paru- paru
mamalia. Katak mempunyai sepasang paru-paru yang berbentuk gelembung
tempat bermuaranya kapiler darah. Permukaan paru-paru diperbesar oleh
adanya bentuk- bentuk seperti kantung sehingga gas pernapasan dapat
berdifusi. Paru-paru dengan rongga mulut dihubungkan oleh bronkus yang
pendek. Dalam paru- paru terjadi mekanisme inspirasi dan ekspirasi yang
keduanya terjadi saat mulut tertutup. Fase inspirasi adalah saat udara (kaya
oksigen) yang masuk lewat selaput rongga mulut dan kulit berdifusi.

AMPHIBI HALAMAN 17

Sistem Reproduksi

Saluran reproduksi pada amphibi terdiri dari Tubulus ginjal akan menjadi
duktus aferen dan membawa spermatozoa dari testis menuju duktus
mesonefrus. Di dekat kloaka, duktus mesonefrus pada beberapa spesies akan
membesar membentuk vasikula seminalis (penyimpan sperma sementara).
Vesikula seminalis akan membesar hanya saat musim kawin saja. Vasa aferen
merupakan saluran-saluran halus yang meninggalkan testis, berjalan ke
medial menuju ke bagian kranial ginjal. Duktus wolf keluar dari dorsolateral
ginjal, ia berjalan di sebelah lateral ginjal. Kloaka kadang-kadang masih jelas
dijumpai.
Pada urodela lebih panjang daripada salientia yang berbentuk oval sampai
bulat dan lebih kompak. Pada caecilian, strukturnya panjang seperti
rangkaian manik-manik. Pada salamander testis terlihat lebih pendek dengan
permukaan yang tidak rata. Badan lemak terlihat pada gonad jantan. Organa
genitalia femina (organ kelamin betina). Pada betina, ovarium berjumlah
sepasang, pada sebelah kranialnya dijumpai jaringan lemak berwarna kuning
(korpus adiposum). Baik ovarium maupun korpus adiposum berasal dari plica
gametalis, masing-masing gonalis, dan pars progonalis. Ovarium
digantungkan oleh mesovarium.
Saluran reproduksi betina berupa oviduk yang merupakan saluran berkelok-
kelok. Oviduk dimulai dengan bangunan yang mirip corong (infun dibulum)
dengan lubangnya yang disebut oskum abdominal. Oviduk di sebelah kaudal
mengadakan pelebaran yang disebut dutus mesonefrus. Dan akhirnya
bermuara di kloaka.

AMPHIBI HALAMAN 18

Sistem Ekskresi

Sistem ekskresi pada amphibi terdiri dari paru-paru, kulit dan ginjal. Paru-
paru dan kulit berperan dalam proses pernapasan. Paru-paru katak berjumlah
sepasang berbentuk kantong berdinding tipis yang berfungsi mengeluarkan
CO2 dan memiliki tiga lobus.Kulit katak mampu mengeluarkan lender untuk
menjaga permukaan kulitnya agar tetap lembab. Dan ginjal berfungsi untuk
menyaring dan mengeluarkan urine. Sistem ekskresi pada amphibi berfungsi
untuk regulasi kadar air tubuh. Ginjal pada katak adalah sepasang ginjal yang
memiliki tipe mesonefros. Namun, setelah dewasa, mesonefros akan
berkembang menjadi ginjal opistonefros.
Katak jantan memiliki saluran ginjal dan saluran kelamin yang bersatu dan
berakhir di kloaka. Namun, hal tersebut tidak terjadi pada katak betina. Ginjal
pada katak sama halnya pada ikan, juga menjadi salah satu organ yang sangat
berperan dalam pengaturan kadar air dalam tubuhnya. Walaupun begitu alat
lainnya bermuara pada satu saluran dan lubang pengeluaran yaitu kloaka.
Kulit amphibi yang tipis dapat menyebabkan amphibi kekurangan cairan jika
terlalu lama beradi darat. Begitu pula jika katak berada terlalu lama dalam air
tawar. Air dengan sangat mudah masuk secara osmosis ke dalam jaringan
tubuh melalui kulitnya.
Katak dapat mengatur laju filtrasi dengan bantuan hormon, sesuai dengan
kondisi air di sekitarnya. Ketika berada dalam air dengan jangka waktu yang
lama, katak mengeluarkan urine dalam volume yang besar. Namun, kandung
kemih katak dapat dengan mudah terisi air. Air tersebut dapat diserap oleh
dinding kandung kemihnya sebagai cadangan air ketika katak berada di darat
untuk waktu yang lama.

AMPHIBI HALAMAN 19

Sistem Sirkulasi

Jantung amphibi terbagi menjadi tiga ruang yaitu dua atrium dan satu
ventrikel (yang tidak terbagi). Atrium berada di sebelah anterior dan
berdinding tipis, sedangkan ventrikel terletak di sebelah posterior,
berdinding tebal , dan berbentuk conus. Di sebelah dorsal jantung terdapat
sinus venosus yang berbentuk segitiga dan berdinding tipis. Sinus venosus
tersebut berhubungan dengan atrium kanan melalui suatu lubang di tengah-
tengah bentukan segitiga itu. Antara atrium kiri dan kanan terdapat septum
interatrale. Kedua atrium berhubungan dengan ventrikel melalui ostium
atrioventriculare.
Pembuluh darah yang keluar dari dinding ventral jantung adalah truncus
arterious. Pada pangkal truncus arterious tersebut terdapat tiga buah klep
semilunares. Truncus arterious bercabang dua, di sebelah sebelah kiri dan
kanan. Selanjutnya masing-masing bercabang tiga, yaitu: (1) arteria carotis
communis, (2) arcus aorta, dan (3) arteria pulmocutanea, menuju ke paru-
paru dan kulit.
Arteria carotis communis berjalan ke cranial bercabang menjadi dua: kiri dan
kanan. Masing-masing cabang ini bercabang lagi menjadi arteria carotis
interna dan eksterna. Arcus aorta berjalan ke caudal, bercabang menjadi dua,
kiri dan kanan terus melengkung ke arah dorsal rongga tubuh. Kemudian
melanjutkan ke arah dorsal rongga tubuh, kemudian melanjutkan ke arah
medio-caudal, selanjutnya bersatu dan berjalan terus ke caudal sepanjang
columna vertebralis menjadi aorta dorsalis. Cabang-cabang dari aorta
dorsalis, di antaranya adalah : (1) arteria coeliacomesentrica yang menuju ke
ventriculus, intestinum, hepar, vesica fellea, dan lien, (2) arteria urogenitalis
yang menuju ke ren, kelenjar kelamin dan corpus adiposum, (3) arteria
lumbalis yang menuju ke dinding lateral lumbal, (4) arteria hemorhoidalis
yang menuju ke rectum, (5) arteria iliaca communis, menuju ke extremitas
posterior.
Vena yang masuk ke dalam jantung melalui sinus venosus ada tiga buah: (1)
vena cava superior dexter, (2) vena cava superior sinister, (3) vena cava
inferior. Ketiga vena ini mengalirkan darah venosus ke dalam atrium kanan.
Adapun vena yang masuk ke atrium kiri adalah vena pulmonalis dexter dan
sinister yang datang dari paru-paru membawa darah arterial.

AMPHIBI HALAMAN 20

Sistem Sirkulasi

Pda Rana dijumpai sistem porta yang serupa dengan ikan yaitu sistem porta
hepatica dan renalis. Sistem porta hepatica mengumpulkan darah dari
saluran pencernaan makanan (ventriculus dan intestinum), limpa dan
pankreas. Dari hepar ke luar vena hepatica membentuk persatuan dengan
vena abdominalis yang mengumpulkan darah dari extremitas posterior, vasica
urinaria dan dinding badan bagian ventral. Sistem porta renalis
mengumpulkan darah dari extremitas posterior dan dinding tubuh bagian
posterior. Sebelum bermuara ke dalam vena cava inferior, vena renalis di
dalam ren membentuk anyaman kapiler. Darah yang berasal dari extremitas
posterior sebagian mengalir ke dalam ren melalui sistem porta renalis
kemudian dari situ melalui vena renalis masuk ke dalam vena cava inferior.
Sebagian yang lain melalui vena abdominalis, mengalir ke dalam hepar,
kemudian dari situ melalui vena hepatica masuk ke dalam vena cava inferior.

Sebagian besar amfibi mempunyai problem untuk mengisi jantung yang
menerima darah oksi paru-paru dan darah deoksi yang tidak mengandung
oksigen dari tubuh. Untuk mencegah banyaknya percampuran dua jenis darah
tersebut, amfibi telah mengembangkan ke arah sistem sirkulasi transisional.
Jantung mempunyai sekat interatrial, kantong ventrikular, dan pembagian
konus arteriosus dalam pembuluh sistemik dan pembuluh pulmonari. Darah
dari tubuh masuk ke atrium kanan dari sinus venosus kemudian masuk ke sisi
kanan ventrikel, dan dari sini dipompa ke paru-paru. Darah yang
mengandung oksigen dari paru-paru masuk ke atrium kiri lewat vena
pulmonalis kemudian menuju sisi kiri ventrikel untuk selanjutnya dipompa
menuju ke seluruh tubuh. Beberapa penegecualian terjadi pada salamander
yang tidak mempunyai paru-paru, dimana celah interatrial tidak lengkap dan
vena pulmonalis tidak ada

AMPHIBI HALAMAN 21

Sistem Syaraf dan
sistem indera

Sistem saraf pada amfibi terdiri atas sistem saraf sentral dan sistem saraf
periforium. Sistem saraf sentral terdiri dari: encephalon (otak) dan medulla
spinalis. Enchephalon terdapat pada kotak otak (cranium). Pada sebelah
dorsal akan tampak dua lobus olfactorium menuju saccus nasalis, dua
haemisperium cerebri atau cerebrum kanan kiri yang berbentuk ooid yang
dihubungkan dengan comisure anterior, sedangkan bagian anteriornya
bergabung dengan dienchepalon medialis. Dibagian belakang ini terdapat dua
bulatan lobus opticus yang ditumpuk otak tengah tengah (mesenchepalon)
sebelah bawahnya merupakan cerebreum (otak kecil). Dibelakang terdapat
bagian terbuka sebelah atas yakni medulla oblongata yang berhubungan
dengan medulla spinalis dan berakhir disebelah felium terminale.

Perubahan yang terjadi pada hewan merupakan rangsangan bagi organon
sensoris atau receptor tubuh. Organon sensoris mempunyai bungan dengan
nervi sensori yang membawa rangsangan ke pusat (lobus pada otak). Tiap-
tiap rangsangan akan merangsang organo sensoris tertentu. Organon visus
akan menerima rangsangan yang berupa gelombang sinar, sedangkan
reseptor kulit menerima rangsangan yang berupa sentuhan. Pada lingua
terdapat papil-papil yang berupa tonjolan yang berisi reseptor perasa yang
peka terhadap zat-zat kimia yang larut dalam air. Saccus nasalis yang
mengandung receptor yang peka terhadap rangsangan yang berupa gas.
Telinga yang berisi organon auditorius dan alat kesetimbangan tubuh. Lensa
mata tetap dan tidak berubah kecembungannya untuk jarak pandangan yang
relative jauh. Kelopak mata kurang bagus bagi yang di air tetapi berkembang
bagus pada spesies yang di darat. Kelopak bagian bawah biasanya lebih
mudah bergerak daripada bagian atas karena kornea amphibi darat menjadi
kering akibat evaporasi, sehingga perlu dibasahi dengan cairan yang
dihasilkan oleh kelenjar harderian. Parietal dan pinael body berfungsi sebagai
fotoreseptor, sensitive terhadap gelombang panjang dan intensitas cahaya,
berperan dalam termoregulasi dan orientasi arah. Untuk alat pendengaran,
salamander dan golongannya tidak mempunyai pendengaran tengah,
sedangkan katak dan kodok mempunyai pendengaran tengah dan gendang
telinga.


Click to View FlipBook Version