Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
4. Tindak Lanjut
Setelah dilakukan penilaian Kinerja, dokumen
penilaian kinerja ditandatangani oleh pejabat penilai
Kinerja. Dokumen penilaian kinerja paling kurang memuat:
a. nilai Kinerja pegawai;
b. predikat Kinerja pegawai;
c. permasalahan Kinerja pegawai; dan
d. rekomendasi
Dokumen penilaian kinerja yang telah ditandatangani
disampaikan secara langsung oleh pejabat penilai Kinerja
kepada pegawai yang dinilai paling lambat 14 (empat belas)
hari sejak ditandatangani. Pegawai yang dinilai dan telah
menerima hasil penilaian kinerja wajib menandatangani
serta mengembalikan kepada pejabat penilai Kinerja paling
lambat 14 (empat belas) hari sejak tanggal diterimanya
dokumen penilaian kinerja. Apabila PNS yang dinilai
dan/atau Pejabat Penilai Kinerja PNS tidak menandatangani
dokumen penilaian kinerja setelah melewati batas waktu 14
(empat belas) hari, maka dokumen penilaian kinerja
diajukan oleh pengelola kinerja kepada atasan dari pejabat
penilai Kinerja untuk ditetapkan dan ditandatangani oleh
atasan dari Pejabat Penilai Kinerja PNS dalam waktu paling
lama 7 (tujuh) hari kerja.
Pegawai yang menyatakan keberatan atas hasil
penilaian Kinerja, maka pegawai yang bersangkutan dapat
mengajukan keberatan disertai alasan-alasannya kepada
atasan dari pejabat penilai Kinerja secara berjenjang paling
lama 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya dokumen
penilaian Kinerja. Atasan dari pejabat penilai Kinerja
melakukan pemeriksaan dengan seksama atas pengajuan
keberatan hasil penilaian Kinerja yang disampaikan
kepadanya. Pemeriksaan terhadap hasil penilaian Kinerja
dilakukan dengan meminta penjelasan kepada pejabat
penilai Kinerja dan pegawai yang bersangkutan. Atasan dari
220
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
pejabat penilai Kinerja dapat menetapkan keputusan atas
pengajuan keberatan yang sifatnya menguatkan atau
mengubah hasil penilaian Kinerja. Keputusan tersebut
harus ditetapkan oleh atasan dari pejabat penilai Kinerja
paling lama 7 hari kerja sejak pengajuan keberatan diterima,
dalam hal atasan dari pejabat penilai Kinerja pada
keputusannya mengubah hasil penilaian Kinerja, maka
atasan dari pejabat penilai Kinerja menyusun rekomendasi
yang baru dalam dokumen penilaian Kinerja.
Dokumen penilaian kinerja PNS dilaporkan secara
berjenjang oleh pejabat penilai Kinerja kepada Tim Penilai
Kinerja PNS dan Pejabat yang Berwenang (PyB) paling
lambat pada akhir bulan Februari tahun berikutnya.
Dokumen penilaian Kinerja digunakan sebagai acuan
oleh PyB dalam:
a. mengidentifikasi dan merencanakan kebutuhan
pendidikan dan/atau pelatihan;
b. mengembangkan kompetensi;
c. pemberian tunjangan;
d. pertimbangan mutasi, dan promosi;
e. memberikan penghargaan dan pengenaan sanksi
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan; dan/atau
f. menindaklanjuti permaslaahan yang ditentukan
dalam penilaian SKP dan Perilaku Kerja.
Penghargaan yang dapat diberikan atas hasil penilaian
kinerja adalah prioritas untuk diikutsertakan dalam
program kelompok rencana suksesi serta prioritas untuk
pengembangan kompetensi. Selain itu, Pejabat Pembina
Kepegawaian dapat memberikan penghargaan lain sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pemberian penghargaan atas hasil penilaian Kinerja
dilakukan berdasarkan pertimbangan Tim Penilai Kinerja
221
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
PNS sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dokumen penilaian Kinerja dapat digunakan sebagai dasar
pembayaran tunjangan Kinerja. Pembayaran tunjangan
Kinerja mengikuti ketentuan dalam peraturan pemerintah
yang mengatur gaji, tunjangan , dan fasilitas.
Pemberian sanksi atas hasil penilaian Kinerja
dilakukan berdasarkan pertimbangan Tim Penilai Kinerja
PNS sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
KONDISI YANG DIHARAPKAN
Era Revolusi Industri 4.0 membawa perkembangan
meningkatnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas dari
organisasi pemerintah serta responsif yang cepat dan
tepat. efektifitas pelaksanaan tugas pokok dan
fungsi organisasi, mengutamakan adaptif terhadap
perubahan yang sedemikian cepat untuk menjawab
fenomena tomorrow is today.
Pada era Revolusi Industri 4.0 daya adaktif lah yang
menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dan mencapai
visi dan misi organisasi. Pada sektor bisnis misalnya yang
dilakukan Tokopedia, Buka Lapak, telah memberikan
sumbangsih turunnya omset mall. Berkaca dari hal ini sudah
sepatutnya organisasi pemerintah segera
berbenah, sehingga mampu bersaing di era Revolusi
Industri 4.0 agar tetap survive dalam menjalankan tugas
pokok dan fungsinya.
Transformasi organisasi pemerintah tersebut tidak
hanya downsizing dan prosedural semata, selain itu
harus lebih fundamental pada pola kerja, budaya
organisasi dan nilai-nilai strategis yang dikembangkan.
Organisasi pemerintah memainkan peran strategis dalam
peningkatan daya saing bangsa, di dalam pendekatan
institusional, sisi administrasi negara dari eksekutif sampai
kepada kebijakan administrasi.
222
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Oleh karenanya transformasi ini harus terencana dan
terukur, untuk menjawab problem statement yang menjadi
ciri kelemahan organisasi pemerintah agar dapat
meningkatkan responsivitas, transparansi, membangun
sistem dan mekanisme yang accessible dan memungkinkan
adanya checks and balances.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan,
budaya kerja, proses kerja kekuatan kerja, dan struktur
organisasi yang harus dikembangkan sehingga adaktif
terhadap perubahan dan dapat meningkatkan kecepatan
birokrasi untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Revolusi Industri 4.0 memberikan peluang besar
untuk mengefektifkan fungsi dan peran organisasi
pemerintah dalam menjalankan tusinya, perkembangan IT
yang cepat dapat menjadi peluang dalam percepatan
penerapan e-governance, sebagai digitalisasi data dan
informasi seperti e-budgeting, e-project planning, system
delivery, penatausahaan, e-controlling, e-
reporting hingga e-monev serta apllikasi custom lainnya.
Pemanfaatan IT dalam berbagai organisasi
pemerintah sangat diperlukan dalam membangun
mental self-driving, self-power, kreativitas dan inovasi.
Di sisi SDM tidak cukup hanya pintar karena hal
tersebut akan dikalahkan oleh mesin. Solusi yang tepat
adalah dengan membangun kerjasama yang
mengedepankan kolaborasi dan sinergi bukan kompetisi,
disamping itu diperlukan adanya kesepahaman dalam pola
pikir dan cara bertindak dalam menghadapi era digitalisasi
teknologi di semua lini.
Pemanfaatan fenomena Internet of Things (IoT), big
data, otomasi, robotika, komputasi awan, hingga inteligensi
artifisial (Artificial Intelligence) perlu terus dikembangkan.
Perubahan pola pikir bekerja sendiri, memiliki, menguasai
sebagai mindset-nya birokratik, dengan dalih mitigasi risiko
223
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
atau compliance, perlu ditransformasi untuk dapat
bekerjasama bukan sama-sama bekerja, efesiensi
resources sangat dibutuhkan tanpa mengurangi KPI dari
masing-masing K/L.
Kolaborasi dilakukan untuk saling melengkapi
kekurangan dan mengantisipasi perubahan yang
berlangsung cepat. Setiap unit kerja dalam internal
organisasi pemerintah dan K/L yang berbeda dapat
berkonstribusi dalam updating dan
pemanfaatannya, sehingga pengendalian dan output serta
outcome organisasi pemerintah dapat terintegrasi dengan
mengedepankan sinergitas antar K/L dalam satu platform
mengedepankan efesiensi dan kecepatan.
Pemantauan dan pelaporan program pembangunan
dengan objek dan spasial yang sama oleh berbagai K/L yang
berbeda-beda sangat tidak efesien dan menghabiskan
sumber daya, integrasi data melalui sharing economy ini
akan sangat bermanfaat untuk menekan efesiensi dan
integrasi output pelaporan dan membantu
pencapaian outcome.
Akselerasi transformasi organisasi pemerintah ini
merupakan jawaban terhadap tuntutan akuntabilitas dan
transparansi publik yang semakin tinggi, sekaligus
menjawab berbagai tantangan yang dihadapi dalam
perjalanan pembangunan nasional.
Optimisme pada berbagai level kepemimpinan di
pemerintahan harus terus dilaksanakan, agar dapat
memberikan masukan dalam akselerasi transformasi
organisasi pemerintah pada organisasi kerjanya masing-
masing, sebagai prasyarat perbaikan tata kelola
pemerintahan guna mendukung pencapaian strategi
pembangunan nasional 2020-2024 dan menjadikan
transformasi organisasi pemerintah sebagai salah satu pilar
menuju Indonesia World Class Government pada tahun 2025.
224
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Era industry 4.0 menghadapkan kita kepada
tantangan untuk dapat mengintegrasikan teknologi
kedalam setiap kebutuhan dalam organisasi, sistem yang
ada harus dapat meningkatkan kompetensi SDM,
pengelolaan yang tepat akan menentukan dalam
pencapaian tujuan organisasi. Oleh karenanya kinerja
organisasi didukung selain oleh sistem juga oleh faktor
seberapa besar talenta SDM yang dimiliki. Keterkaitan
Sistem Manajemen Kinerja dengan Manajemen Talenta
yang diharapkan dapat mencapai tujuan organisasi.
Sebagaimana konsep berikut yang diterapkan pada
Lembaga Administrasi Negara.
Gambar 6. Sinkronisasi Sistem Manajemen Talenta dengan
Manajemen Kinerja
Sumber: Tim Penulis
TAWARAN SOLUSI
Solusi yang ditawarkan untuk mengoptimalkan
Implementasi Manajemen Kinerja ASN di era industry 4.0
adalah:
1. Penggunaan Sistem Informasi Kinerja berbasis
Teknologi yang terintegrasi mulai dari Perencanaan
Kinerja sampai dengan Tindak lanjut yang dikaitkan
dengan Sistem Manajemen Talenta;
225
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
2. Perubahan budaya kerja organisasi dan individu
dalam organisasi harus dilaksanakan secara
menyeluruh dan bersamaan;
3. Penerapan Coaching, Mentoring dan Konseling harus
selalu dilakukan di sepanjang tahun secara periodik
minimal per triwulan;
4. Penilaian Kinerja harus terkait dengan pemberian
rewards dan funishment; dan
5. Sistem Manajemen Kinerja dilaksanakan dengan
komitmen dan konsisten oleh seluruh individu dalam
organisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Kompas. (2019). Menpan RB Sebut Wacana ASN Kerja di
Rumah Tak Perlu Dibahas Dulu.
https://nasional.kompas.com/read/2019/08/21/164646
21/menpan-rbsebut-wacana-asn-kerja-di-rumah-tak-
perlu-dibahas-dulu?page=all.
Lemhanas.
http://www.lemhannas.go.id/index.php/berita/berita-
utama/944-sosialisasi-strategi-tetap-produktif-asn-
unggul-pasca-pandemi.
Queensland Goverment. (2020). Flexible work and COVID-
19. https://www.forgov.qld.gov.au/flexible-work-and-
covid-19.
sigmaweb. (2020). Summary report Reopening public
services after the coronavirus (COVID-19) pandemic 10
June 2020. http://www.sigmaweb.org/events/sigma-
webinar-reopening-publicservices-coronavirus-crisis-
10-june-2020.htm.
Simamora, T. V., Mustika, M. D., & Sjabadhyni, B. (2019).
Effects of Flexible Work Arrangements on Ethical
Decision Making: Job Satisfaction as a Mediator.
226
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN: 113.
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Jurnal Psikologi TALENTA, 4(2),
https://doi.org/10.26858/talenta.v4i2.8486.
227
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Strategi Pengembangan Kompetensi Bahasa
Inggris dalam Membangun World Class
Bureaucracy
Sinta Dame Simanjuntak1, Anastasia Sastrikirana2
Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia
[email protected], [email protected]
Ringkasan
Dalam upaya membangun World Class Bureaucracy (Birokrasi Berkelas
Dunia) yang merupakan penetapan dari tujuan Smart ASN 2024,
pengembangan kompetensi bahasa Asing bagi ASN merupakan salah
satu unsur penting dan urgen. Perubahan yang begitu cepat di segala
bidang khususnya Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di era
Industri 4.0 yang serba digital, juga menuntut ASN untuk mampu
beradaptasi dengan perubahan perubahan yang terjadi dan mampu
mengembangkan diri sebagai ASN berkelas dunia. Untuk itu dibutuhkan
strategi pengembangan kompetensi teknis bahasa Inggris dengan
pendekatan kebijakan pembelajaran bahasa yang menarik dan
difasilitasi oleh instansi masing masing. Tulisan ini ditujukan untuk
memberikan wawasan dan motivasi bagi para ASN untuk
mengembangkan kompetensi kebahasaannya, terutama bahasa
Inggris, yang merupakan bahasa lingua franca global, dan mendorong
para pengambil keputusan untuk membuat kebijakan dan memfasilitasi
pengembangan bahasa Inggris di lingkungan kerjanya.
Kata Kunci: Strategi, Kompetensi teknis, bahasa Inggris, World Class
Bureaucracy
KOMPETENSI BERBAHASA SEBAGAI SALAH SATU
TANTANGAN BIROKRASI BERKELAS DUNIA
“Your comfort zone is a place where you keep yourself in a
self-illusion and nothing can grow there but your
potentiality can grow only when you can think and grow
out of that zone.”
― Rashedur Ryan Rahman
228
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Kebijakan reformasi birokrasi Indonesia telah
disusun dalam bentuk Grand Design Reformasi Birokrasi
tahun 2010 – 2025, yang diatur dalam Peraturan Presiden
Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2010. Visi besar dalam
kebijakan reformasi birokrasi tersebut adalah
“Terwujudnya Pemerintahan Berkelas Dunia” dan
Indonesia telah melewati tahapan pada roadmap reformasi
birokrasi 2015-2019 yang berfokus pada terwujudnya
birokrasi yang bersih dan akuntabel, birokrasi yang efektif
dan efisien, serta birokrasi yang memiliki pelayanan publik
yang berkualitas. Terwujudkah? Well, Perlu kajian dan
evaluasi yang lebih holistik terhadap keberhasilan
pemerintah dalam mewujudkan birokrasi yang bersih dan
akuntabel, efektif dan efisien, serta pelayanan publik yang
berkualitas. Namun, secara makro dapat dilihat berbagai
kemajuan kemajuan dalam penerapan program program
pemerintah yang transparan dan akuntabel yang bisa
dipantau masyarakat secara langsung melalui aplikasi e-
government, penyelenggaraan pelayanan publik yang
mengarah kepada efektivitas dan efisiensi melalui layanan
layanan satu pintu, kemudahan perizinan, hadirnya mal
pelayanan publik, dan manajemen ASN yang lebih
akuntabel dengan sistem merit, dengan adanya Undang
Undang ASN Nomor 5 Tahun 2014 yang menetapkan
pengelolaan ASN untuk menghasilkan pegawai yang
profesional, memiliki nilai nilai dasar, etika profesi, bebas
dari intervensi politik, bersih dari praktik korupsi, kolusi dan
nepotisme.
Presiden Joko Widodo dalam pidatonya setelah
terpilih kedua kalinya sebagai Presiden Republik Indonesia,
Presiden Jokowi (2019) menyampaikan Visi Indonesia 2019-
2024 dengan menekankan pada pembangunan Indonesia
229
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
yang adaptif, produktif, inovatif dan kompetitif dengan
menyatakan:
“Oleh sebab itu, kita harus mencari sebuah
model baru, cara baru, nilai-nilai baru dalam
mencari solusi dari setiap masalah dengan
inovasi-inovasi. Dan kita semuanya harus mau
dan akan kita paksa untuk mau. Kita harus
meninggalkan cara-cara lama, pola-pola lama,
baik dalam mengelola organisasi, baik dalam
mengelola lembaga, maupun dalam mengelola
pemerintahan. Yang sudah tidak efektif, kita
buat menjadi efektif! Yang sudah tidak efisien,
kita buat menjadi efisien! …Kita harus menuju
pada sebuah negara yang lebih produktif, yang
memiliki daya saing, yang memiliki fleksibilitas
yang tinggi dalam menghadapi perubahan-
perubahan itu. Oleh sebab itu, kita menyiapkan
tahapan-tahapan besar.”
Tahapan tahapan besar apa yang ditetapkan?
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi (PANRB) telah mencanangkan konsep
SMART ASN (2019 - 2024) dalam mewujudkan
Pemerintahan Berkelas Dunia melalui pembentukan ASN
yang memiliki Integritas, Nasionalisme, Wawasan Global, IT
dan penguasaan Bahasa asing, Hospitality (Pelayanan),
Networking (Jejaring) dan Entrepreneurship
(kewirausahaan). Nilai nilai Birokrasi berkelas dunia seperti
transparansi, pelayanan cepat dan murah, berwawasan luas
tapi tidak meninggalkan nilai nilai kebangsaan dan bangga
menjadi bagian dari bangsa Indonesia, mampu berbahasa
asing dan memiliki jejaring kerja yang luas, tetapi tetap
memiliki jiwa pelayanan dan kewirausahaan. Jadi, salah satu
tantangan yang sangat krusial dalam mewujudkan SMART
230
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
ASN ini adalah kompetensi berbahasa asing, khususnya
bahasa Inggris sebagai bahasa lingua franca global.
Kebutuhan Berbahasa Inggris ASN di Era Digital
Untuk dapat memahami kebutuhan bahasa Inggris di
era digital, ada beberapa aspek yang saling terkait yang
harus dipahami. Aspek pertama adalah bagaimana era
digital mempengaruhi pembelajaran bahasa Inggris. Aspek
kedua adalah definisi kompetensi bahasa Inggris karena
penguasaan bahasa Inggris lebih dari sekedar penguasaan
linguistik. Aspek ketiga adalah data - data mengenai ASN
yang harus menguasai bahasa Inggris. Poin ketiga ini juga
akan dikaitkan global competitiveness index dan global
entrepreneurship index dan bagaimana kaitannya dengan
Smart ASN yang menjadi mandat bagi seluruh ASN.
Era digital ditandai dengan penggunaan berbagai
macam bentuk teknologi untuk menunjang berbagai aspek
kehidupan. Salah satu aspek yang tak luput dari
perkembangan pesat teknologi adalah pembelajaran
Bahasa Inggris. Setiawan (2017) menyatakan bahwa era
digital terlahir dengan kemunculan jaringan internet
khususnya teknologi informasi komputer. Teknologi ini
didukung dengan adanya search engine yang memudahkan
pencarian informasi tentang segala bidang ilmu
pengetahuan, dimana informasi tersebut, baik berupa buku
maupun jurnal ditulis dalam khususnya Bahasa Inggris yang
masih merupakan bahasa dengan jumlah penutur sangat
banyak. Menurut British Council (2013), bahasa Inggris
merupakan “bahasa yang masih mendominasi sebagai
bahasa internasional pada abad ke-21 ini dengan jumlah
penutur sebanyak 1,75 miliar orang di dunia.” Hal ini
menunjukkan bahwa bahasa Inggris merupakan kunci
untuk dapat memahami perkembangan ilmu pengetahuan
serta isu-isu terkini serta kunci untuk berkomunikasi dengan
231
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
berbagai pihak. British Council (2013) juga menyatakan
bahwa “bahasa Inggris dan perkembangan internet
merupakan dua hal yang saling mendukung.” Fakta ini
secara eksplisit menyatakan pentingnya penguasaan
bahasa Inggris.
Tingginya kebutuhan bahasa Inggris bagi ASN dapat
dilihat dari minat para peserta Pelatihan Kepemimpinan
Nasional (PKN) II dan I untuk mengikuti pembelajaran
bahasa Inggris agar lulus seleksi tes bahasa Inggris
termasuk juga calon peserta Pelatihan Kepemimpinan
Pengawas (PKP) dan Pelatihan Kepemimpinan
Administrator (PKA). Hal ini juga terlihat dari tingginya
minat peserta dari instansi lain seperti Mahkamah Agung
yang mengirimkan para hakim untuk belajar bahasa Inggris.
Badan Narkotika Nasional (BNN) juga mengirimkan
penyuluh - penyuluhnya supaya dapat memberikan
penyuluhan narkoba di level internasional. Kemudian
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) juga mengirimkan peserta
dari Sekretaris Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI.
Perkembangan teknologi yang ada sekarang ini
secara masif mengubah cara belajar di abad ke-21 ini. Peter
(2009) seperti yang dikutip dalam Priyatmojo (2018)
menyatakan bahwa “pembelajaran Bahasa Inggris telah
berubah dalam arti pengajar tidak lagi memiliki peran
sebagai sumber utama pembelajaran melainkan sebagai
fasilitator.” Hal ini menegaskan bahwa peserta bukan objek
pembelajaran tetapi sebagai subjek pembelajaran. Mereka
bukan lagi peserta yang bergantung kepada pengajar tetapi
mereka adalah pembelajar mandiri. Jadi untuk dapat
menguasai bahasa Inggris, mereka dapat mengakses
informasi dari manapun di luar dari apa yang telah
disampaikan oleh pengajar. Pandemi yang terjadi di awal
tahun 2020 menyebabkan adanya pembatasan jarak.
Tetapi, meskipun ada pembatasan jarak, kesempatan
232
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
belajar berubah menjadi sebaliknya, yaitu bertambah luas
dan variatif. Hal ini disebabkan karena banyak lembaga dan
instansi yang mengadakan seminar dan pelatihan bertaraf
internasional yang dilaksanakan secara daring tanpa
dibatasi oleh ruang dan waktu dan hal ini semakin
mendorong kebutuhan ASN untuk mampu berbahasa
Inggris.
Competence atau kompetensi dalam konteks
kebahasaan dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang
sistem suatu bahasa. Kompetensi ini dibedakan dengan
performance dimana performance ini merujuk pada
kemampuan untuk memproduksi kalimat baik itu secara
tulis maupun lisan dengan benar berdasarkan pengetahuan
tentang sistem bahasa tersebut yang melingkupi empat
jenis kompetensi sebagai kompetensi dasar bahasa Inggris.
Teori ini kemudian mengalami pengembangan dan
penyempurnaan selama beberapa kali sampai ditetapkan
empat jenis kompetensi sebagai kompetensi dasar bahasa
Inggris yaitu grammatical, sociolinguistic, discourse, and
strategic competences. (Canale and Swain: 1980)
Kemampuan pertama, gramatikal, merupakan kemampuan
untuk memahami sistem bahasa Inggris yang mencakup
kosakata, pengucapan, pengejaan dan pembentukan
struktur kalimat supaya dapat memproduksi kalimat dalam
bahasa Inggris yang akurat. Kemampuan kedua yaitu
sosiolinguistik merupakan kemampuan menggunakan
kemampuan menggunakan bahasa secara tepat dengan
melihat situasi atau konteks sosial. Hal ini terkait dengan
kepantasan dalam berbahasa. Selanjutnya kemampuan
ketiga yaitu kemampuan diskursus merupakan kemampuan
penutur bahasa untuk memproduksi teks atau kalimat atau
ucapan secara kohesif dan koheren supaya keterkaitan ide
- ide dan keseluruhan teks dapat dipahami. Yang terakhir,
yaitu kemampuan strategis yaitu kemampuan penutur
233
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
bahasa untuk menggunakan bahasa lisan atau bahasa non-
lisan supaya komunikasi tetap berjalan meskipun ada
hambatan seperti kurangnya penguasaan kosakata.
Keempat kompetensi ini yang harus dipelajari dengan serius
oleh ASN untuk mampu mencapai tujuan komunikasi yang
diharapkan misalnya untuk kebutuhan seleksi beasiswa,
untuk presentasi, atau bernegosiasi dengan orang lain.
Berdasarkan data yang diungkapkan dalam Grand
Design Pembangunan ASN 2020-2024 pada tahun 2018 total
jumlah ASN di Indonesia sebanyak 4.351.490. Dari jumlah
total ini terdapat 932.462 orang (21,4%) yang bekerja di
pemerintah pusat dan 3.419.028 orang (78,6%) yang bekerja
di pemerintah daerah. Karena ASN memiliki peran vital,
maka diharapkan semua ASN baik di pemerintah pusat
maupun pemerintah daerah memiliki kompetensi bahasa
Inggris yang tinggi untuk dapat melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tuntutan World Class Bureaucracy. Perlu
diperhatikan bahwa rendahnya kompetensi bahasa Inggris
dapat mempengaruhi pencapaian butir - butir lain dalam
Smart ASN, contohnya networking. Maka dari itu,
kompetensi bahasa Inggris yang tinggi harus dimiliki oleh
setiap ASN baik itu pejabat struktural Jabatan Pimpinan
Tinggi, Jabatan Pengawas, Pejabat Fungsional, maupun staf
karena setiap ASN harus siap melakukan tugas yang sesuai
dengan tusinya dan berhubungan dengan kemampuan
bahasa Inggris. Sebagai contoh, para Jabatan Pimpinan
Tinggi (JPT) mampu memberikan presentasi di tingkat
internasional dan para stafnya mampu memfasilitasi acara
berskala internasional dan memberikan pelayanan berkelas
dunia. Tidak terbatas pada hal ini saja, kompetensi bahasa
Inggris juga berguna untuk menghindari situasi yang sering/
bisa terjadi dimana terdapat ASN yang sebenarnya memiliki
jabatan strategis dan mendapatkan banyak kesempatan
untuk mengikuti dialog, seminar, atau konferensi
234
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
internasional namun kurang mampu memaksimalkan
kesempatan karena kendala bahasa. Jika kesempatan
berskala internasional ini terhalang karena rendahnya
kompetensi bahasa Inggris berarti hal ini menghilangkan
kesempatan para ASN untuk belajar dari negara-negara lain
dalam mengelola negara atau menyelesaikan suatu isu
demi kemajuan negara sendiri.
SMART ASN: ASN Aktif dan Kompetitif di Kancah
Internasional Melalui Penguasaan Bahasa Inggris
Kondisi yang diharapkan adalah kondisi dimana
seluruh ASN yang tersebar di Indonesia memiliki
kompetensi Bahasa Inggris yang tinggi karena tahap ini
adalah tahap pendukung butir - butir lain yang tertuang
dalam Smart ASN, seperti hospitality, networking, dan
penguasaan teknologi informasi sehingga semuanya dapat
dicapai. Banyak peluang yang tersedia bagi ASN seperti
kesempatan belajar di luar negeri melalui program
beasiswa. Lembaga - lembaga yang menyediakan beasiswa
di antaranya LPDP, Chevening, AMINEF, dan Australia
Award. Kesempatan menempuh pendidikan di jenjang yang
lebih tinggi melalui beasiswa yang ditawarkan oleh
berbagai lembaga tersebut perlu dimanfaatkan dengan
baik. Bahasa Inggris merupakan bahasa yang digunakan
dalam pengajaran dan penelitian dan menjadi bahasa
penghubung antar akademisi (British Council, 2013).
Memiliki kompetensi bahasa Inggris yang tinggi
memungkin ASN untuk memahami teks - teks akademik,
menulis karya ilmiah, dan mempresentasikan suatu topik
dalam bahasa Inggris sesuai bidang yang digeluti selama
belajar di negara tujuan. Setelah belajar dari negara tujuan,
ASN akan mendapatkan pengetahuan dan keterampilan
baru yang dapat diterapkan di instansi di negara asal.
Contoh konkret tentang kesempatan belajar di luar negeri
235
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
adalah cerita rekan ASN dari Puslatbang PKASN yang
menuangkan ceritanya di situs resmi Puslatbang PKASN
(https://bandung.lan.go.id/index.php?r=post/read&id=374.
Pratiwi (2016) menceritakan bahwa ia mendapatkan
kesempatan belajar di Belanda dalam program pelatihan
Facilitating multi-stakeholder processes and social learning di
Center for Development Innovation (CDI) Universitas
Wageningen, Belanda selama tiga minggu. Ia menyebutkan
bahwa Belanda menerapkan metode pengajaran egaliter.
Lingkungan pengajaran seperti itu terbukti memberikan
stimulus baik bagi munculnya inovasi - inovasi karena tidak
ada rasa sungkan antara peserta dan pengajar ketika
menyampaikan pendapat. Pratiwi (2016) lebih lanjut
menyatakan bahwa selama program tersebut berlangsung
ia diminta untuk menulis tentang kasus inovasi pelayanan
publik yang sedang dihadapi yang diikuti dengan FGD untuk
pemecahan masalah atas kasus yang dihadapi. Kemudian ia
juga mendapatkan kesempatan sebagai fasilitator untuk
kasus pertanian di Belanda dimana ia beserta tim
memberikan rekomendasi yang harus dipresentasikan
secara langsung kepada semua stakeholder yang
diantaranya adalah Badan Manajemen Air dan Badan
Auditor Lingkungan. Dari informasi ini dapat dilihat bahwa
bagaimana dalam waktu yang relatif singkat, banyak ilmu
yang dapat diserap. Kompetensi bahasa Inggris yang
dimiliki oleh peserta serta bantuan dari pengajar
profesional dan metode pengajaran di Belanda yang sangat
baik pasti kedepannya berkontribusi besar terhadap
kemajuan instansi dan juga negara.
Hal tersebut juga berlaku saat ASN mengikuti seminar
atau konferensi internasional. Meskipun seminar atau
konferensi pada umumnya dilaksanakan dalam waktu yang
lebih singkat tetapi ilmu yang didapatkan dari sini juga
sangat bermanfaat. English First (2020) menyatakan “Di
236
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
segala bidang, para profesional perlu mengikuti best
practice dalam lingkup internasional. Begitu juga bagi
perusahaan, dengan kecakapan bahasa Inggris yang
semakin baik, memungkinkan untuk menjangkau berbagai
talenta dan ahli yang beberapa tahun lalu mungkin tidak
terjangkau.” Melalui kompetensi bahasa Inggris yang
tinggi, komunikasi secara lisan maupun tulisan saat
bertukar pikiran akan jauh lebih mudah karena ASN yang
bertugas dapat menyerap informasi dari negara - negara
lain yang lebih maju dan sukses menjalankan best practice.
Hasil dari seminar dan konferensi internasional tersebutlah
yang harus diadaptasi dan diimplementasikan demi
kemajuan instansi dan negara supaya pelayanan di dalam
negeri pun dapat meningkat. Tidak hanya sampai pada
tahap bertukar pikiran saja tetapi secara bersamaan
networking, juga harus dilaksanakan saat menghadiri
seminar dan konferensi internasional tersebut berlangsung
karena banyak pihak pemangku kepentingan dari negara
lain yang hadir. Ini sangat diperlukan supaya kerjasama
terjalin dan dijalankan secara kontinyu karena jaman
berubah semakin cepat, kondisi akan terus berubah, dan
pengetahuan akan terus berkembang. Pada era global ini
seorang ASN harus berwawasan luas dan tidak boleh hanya
melihat instansinya sebagai bagian terpisah dari dunia.
Lebih lanjut English First (2020) menyatakan bahwa:
“Salah satu karakteristik utama
masyarakat global adalah saling terhubung
antara satu dengan yang lainnya melalui
jaringan koneksi -- rasa penasaran, perluasan
koneksi dan keinginan untuk berbagi
merupakan hal yang tidak lagi dapat dibatasi --
dan tentunya berbicara bahasa Inggris sendiri
penting untuk ‘memperluas koneksi’.”
237
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Harapan bagi ASN saat ini dan di masa - masa yang
akan datang adalah mereka terus menimba ilmu, aktif
mencari peluang beasiswa dan konferensi internasional
supaya partisipasi Indonesia dapat dilihat dan diakui oleh
seluruh dunia dan Indonesia dapat maju karena ilmu-ilmu
yang mereka terapkan dapat memperbaiki dan
meningkatkan layanan publik. Kondisi seperti ini selaras
dengan yang ditegaskan oleh Menteri Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.
Beliau menegaskan, “Peningkatan kualitas pelayanan
publik adalah indikator keberhasilan reformasi birokrasi,
karena segala bentuk aktivitas penyelenggaraan negara
bermuara pada pelayan.” (Humas MENPANRB, 2021).
Selanjutnya, terdapat butir lain dalam Smart ASN yang
sama pentingnya dengan hospitality dan networking yaitu
penguasaan teknologi informasi. Foyewa (2015)
menyebutkan, “Asosiasi Ilmuwan Dunia belum secara resmi
menyatakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi ilmu
pengetahuan tetapi segala aktivitas dalam ilmu
pengetahuan dan teknologi dilakukan dengan
menggunakan bahasa Inggris.” Seluruh ASN diharapkan
menguasai teknologi informasi yang juga dimulai dengan
tahap penguasaan bahasa Inggris terlebih dahulu.
Pengembang perangkat teknologi selalu memberikan buku
manual tentang cara pengoperasian perangkat dalam
bahasa Inggris. Berbagai macam aplikasi yang dapat
diunduh secara gratis juga memberikan petunjuk dalam
bahasa Inggris untuk proses instalasinya. Dengan
penguasaan bahasa Inggris, ASN secara langsung juga
terbantu untuk memahami bagaimana suatu perangkat
teknologi dapat bekerja, dan hal ini akan sangat membantu
ASN tersebut dalam menyelesaikan pekerjaan dan
menjangkau pihak - pihak lain serta meningkatkan
238
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
pelayanan publik dengan pemanfaatan teknologi informasi
tersebut.
Manfaat Penguasaan Bahasa Inggris: Lesson Learned dari
program Managing Global Governance Bach V 2009,
Jerman.
“Experience is the best teacher, and the worst experiences
teach the best lessons.”
Pada umumnya beasiswa luar negeri yang banyak
ditawarkan pada ASN Indonesia mempersyaratkan
kompetensi berbahasa Inggris yang tinggi, yang sering
diukur dengan nilai TOEFL maupun IELTS, dan diikuti
wawancara dalam bahasa Inggris. Penulis memiliki
beberapa pengalam beasiswa training di luar negeri, dan
salah satu yang paling berkesan adalah belajar di Jerman.
Begitu banyak yang bisa dilakukan dan diperoleh oleh
seorang ASN dengan penguasaan bahasa Inggris yang baik,
dan yang paling berharga diantaranya adalah perolehan
beasiswa keluar negeri, baik dalam bentuk pendidikan
formal, pelatihan, workshop ataupun conference, dll. Pada
tahun 2009, Penulis menerima beasiswa program pelatihan
Managing Global Governance Batch 5 (MGG 5) selama 26
minggu (Januari -July 2009) ke Jerman. Program ini
disponsori oleh Germany’s Ministry for Economic Co-
operation and Development (BMZ), dan diselenggarakan
secara kolaboratif antara InWEnt and DIE (sekarang dilebur
ke dalam Deutsche Gesellschaft fur Internationale
Zusammenarbeit), dan dilengkapi dengan 2 minggu
pelatihan International Futures oleh the Federal Foreign
Office di Berlin.
Ada 3 pengalaman menarik dan berharga yang penulis
ingin bagi disini. Yang pertama adalah uniknya proses
239
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
seleksi melalui pengisian formulir aplikasi, yang kedua
adalah pengalaman belajar yang luar biasa menarik dengan
metode pembelajaran yang sangat interaktif dan inklusif,
dan yang ketiga adalah lesson learnt atau pengalaman
belajar yang sangat bermanfaat yang bisa dirasakan dan
diterapkan dalam peningkatan kinerja.
Yang pertama adalah proses seleksi awal dengan
mengisi application form sebanyak 12 halaman. Hal ini
merupakan tantangan tersendiri, sebab beberapa
pertanyaan yang harus diisi berupa essay yang
merefleksikan sejauh mana pengetahuan tentang
Managing Global Governance maupun kemampuan
berbahasa Inggris pelamar. Beasiswa ini ditujukan pada
Young Professional dengan usia maksimum 35 tahun,
berasal dari 7 negara yang (pada saat itu) dianggap
perkembangannya mendekati negara maju yaitu China,
India, Indonesia, Mesir, Afrika Selatan, Brazil dan Meksiko.
Yang menarik adalah, penulis saat melamar telah berusia 42
tahun pada saat mengirimkan lamaran, dan memohon
Inwent mendanai perjalanan pulang pergi Jakarta Bonn
Jakarta, sebab pada formulir tertera bahwa yang
membiayai perjalanan ke Jerman adalah institusi pengirim.
Lesson Learnt-nya disini adalah, kemampuan berbahasa
Inggris disini tidak cukup hanya dengan nilai TOEFL atau
IELTS yang tinggi, tetapi kemampuan meyakinkan pihak
sponsor bahwa keikutsertaan penulis dalam program ini
akan sangat bermanfaat bagi Indonesia terutama institusi
tempat penulis bekerja. Dan akhirnya penulis, dengan usia
yang lumayan jauh dari persyaratan, diterima dan dibantu
dengan travel expense PP oleh pihak sponsor ke Jerman.
Yang Kedua dan tak kalah menarik adalah, proses
pembelajaran dimulai 2 bulan sebelum peserta berangkat
ke Jerman melalui pembelajaran e-learning. Dalam proses
ini, peserta diberi Preparatory Modules sebagai bahan
240
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
diskusi dan kolaborasi antar peserta. Jadi peserta sudah
saling mengenal dan berkolaborasi melalui platform e
learning tersebut, yang dinamai Global Campus 21. Metode
pembelajaran yang diterapkan juga sangat variatif dan
menarik, dimana peserta diberi banyak kesempatan untuk
berdiskusi, berkolaborasi dan presentasi dengan
menemukan sendiri topik topik yang dibahas melalui
discovery learning.
Di Jerman, peserta diberi kesempatan untuk belajar
bahasa Jerman selama 4 minggu (opsional), meski seluruh
proses pembelajaran dan komunikasi dilakukan dengan
menggunakan bahasa Inggris. Proses pembelajaran disusun
sedemikian rupa sehingga seluruh waktu terasa begitu
berharga. Seluruh peserta dibekali dengan leadership
training,Visitasi ke PBB di Geneva - Swiss, dan European
Union di Brussels - Belgia, untuk mempelajari bagaimana
organisasi organisasi besar ini melakukan kegiatannya
dalam berkomunikasi, negosiasi dan kolaborasi dalam
pengaturan regulasi dunia. Peserta juga dibekali dengan
Diplomat Training (program pelatihan ini dinamai
International Future) yang dilaksanakan selama 2 minggu di
Berlin, dengan melibatkan langsung beberapa diplomat
Eropa sebagai peserta, dan diselenggarakan langsung oleh
German Federal Foreign Office. Peserta berlatih menjadi
‘diplomat’ negaranya masing masing dan berdiskusi,
negosiasi bahkan berkolaborasi untuk memberikan solusi
pada permasalahan permasalahan global. Hampir seluruh
topik yang dibahas (Country Presentation, Global
Governance, German Development Policy, Climate Change,
Peace and Security, Global ecosystems and natural resources,
International development system and perspectives of
multilateral/ triangular cooperation, Global dimension of
knowledge production and new technologies, Poverty
Reduction, etc) melibatkan narasumber berkelas dunia, dan
241
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
banyak diskusi dilakukan dengan mendatangi/mengunjungi
lokus yang relevan. Misalnya, ketika bicara tentang Clean
Energy, peserta dibawa ke perusahaan Listrik Jerman yang
banyak memanfaatkan tenaga surya.
Program pembelajaran yang paling menarik dan
menantang adalah, ketika peserta diberi kesempatan untuk
melakukan Research and Practice Phase melalui program
Internship (magang) selama 2 bulan pada organisasi -
organisasi besar yang sesuai dengan minat dan pengalaman
belajar yang ingin diperoleh, dengan memberi kebebasan
memilih sendiri organisasi dan negara yang akan dituju dan
melakukan komunikasi langsung (tentu saja negara yang
berada dalam Uni Eropa), dan kesempatan untuk
melakukan benchmarking atau visitasi ke 2 atau 3 negara
lainnya secara mandiri. Program MGG 5 ini diakhiri dengan
presentasi masing2 peserta tentang hasil belajar yang
diperoleh selama Research and Practice Phase.
Lesson Learnt, atau hikmah yang dipetik oleh penulis
dari seluruh proses pembelajaran pada MGG 5 ini
merupakan pengalaman yang sangat berharga belajar
bersama sama dengan kolega dari 7 negara yang berbeda,
di tempat yang berbeda-beda dengan para narasumber
yang berkelas internasional. Pengalaman ini meningkatkan
rasa percaya diri, toleransi, disiplin, kemampuan
berkolaborasi, dan empati terhadap permasalahan
permasalahan dunia. Metode pembelajaran yang dialami
selama belajar di Jerman juga menjadi pengalaman yang
sangat menginspirasi bagi penulis untuk menerapkan hal
yang sama dalam mengajar. Semuanya ini berawal dari
kemampuan berbahasa Inggris. Pengalaman ini dibagi
untuk memberikan inspirasi dan motivasi bagi para ASN
untuk selalu meningkatkan kemampuan berbahasanya, dan
melihat peluang peluang besar dari kemampuan itu.
242
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
STRATEGI PENGEMBANGAN KEMAMPUAN BAHASA
INGGRIS
Di samping melakukan tugas pelayanannya sehari -
hari, ASN harus meluangkan waktu untuk meningkatkan
kemampuan bahasa Inggrisnya. Kesempatan untuk belajar
sebaiknya difasilitasi melalui beberapa strategi. Tulisan ini
menawarkan tiga strategi yang sangat relevan untuk
mendorong terwujudnya ASN berkelas dunia melalui
pembuatan kebijakan, perancangan MOOC, dan
pemanfaatan media sosial.
1. Membuat Kebijakan Penyelenggaraan Pembelajaran
Bahasa Secara Gratis
Dalam mendukung pengembangan kompetensi
teknis bahasa Inggris ASN sebagai tuntutan World
Class Bureaucracy pemerintah melalui lembaga -
lembaga pelatihan perlu menyediakan atau
menyelenggarakan pelatihan - pelatihan bahasa
berbayar maupun gratis bagi ASN. Sebagai contoh
program Balai Social Care yang merupakan program
Balai Pelatihan Bahasa LAN yang dilaksanakan sejak
tahun 2014. Sesuai dengan Peraturan Lembaga
Administrasi Negara Nomor 11 Tahun 2020 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Balai Pelatihan Bahasa
diberikan mandat untuk melaksanakan pelatihan
bahasa. Balai Social Care merupakan program
pelatihan Bahasa Inggris gratis bagi para stakeholders
untuk meningkatkan kompetensi bahasa Inggris
sesuai kebutuhan. Program – program BSC yang
sudah diselenggarakan antara lain Public Speaking,
English for Presentation Skills, dan TOEFL. Mengingat
kebutuhan setiap ASN berbeda, maka kedepannya
perlu dilaksanakan pemetaan ulang sebagai dasar
untuk merancang program BSC lain yang sesuai
dengan kebutuhan ASN.
243
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Balai Pelatihan Bahasa LAN bukan satu - satunya
instansi pemerintah untuk belajar bahasa Inggris.
Beberapa lembaga / kementerian lain yang juga
memiliki pusat bahasa seperti Kementerian
Pertahanan dan Kementerian Pendidikan
Kebudayaan. Untuk memfasilitasi kebutuhan
4.351.490 ASN yang tersebar di seluruh Indonesia,
maka lembaga / kementerian yang sudah aktif
menyelenggarakan pelatihan bahasa sejauh ini
diharapkan supaya kedepannya selalu
menyelenggarakan program - program pelatihan
bahasa berkualitas. Sementara itu lembaga /
kementerian yang juga memiliki pusat bahasa tetapi
tidak aktif, diharapkan untuk mengaktifkan kembali
pusat bahasanya untuk membantu mendukung
pengembangan kompetensi bahasa Inggris ASN dan
ini perlu didukung kebijakan dari instansi /
kementerian masing - masing.
2. Merancang MOOC Sesuai Kebutuhan ASN
MOOC adalah singkatan dari Massive Open
Online Course yang pertama kali dirancang oleh
Stephen Downes dan George Siemens pada tahun
2008. MOOC, dalam penelitian oleh Razali et al. (2019)
adalah alat pembelajaran online yang
mengintegrasikan jejaring sosial, ketersediaan
fasilitasi ahli pada bidang yang dipelajari, dan
ketersediaan berbagai macam sumber - sumber
pembelajaran daring yang dapat diakses secara gratis.
Contoh platform MOOC adalah Edx dan Coursera. Edx
menyediakan ribuan kursus gratis dan juga berbayar
dari berbagai bidang, contohnya bidang komunikasi,
bahasa, makanan dan nutrisi, biologi, dan masih
banyak lagi. Fasilitator merupakan para ahli dari
244
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
universitas - universitas dunia seperti Berkeley,
Harvard, dan Adelaide. Kemudian, Coursera, dalam
situs resminya menyatakan bahwa mereka telah
berkolaborasi dengan dua ratus lebih universitas dan
perusahaan terkemuka dunia dan merancang lebih
dari 5.100 lebih kursus. Dua platform MOOC besar ini
tentunya dapat menjadi contoh perancangan MOOC
yang dikembangkan untuk ASN. Lebih lanjut dalam
studinya, Razali et al. (2019) menyebutkan bahwa
MOOC berkaitan erat dengan sistem daring sehingga
setiap orang dari berbagai belahan manapun di dunia
dapat mengikuti kursus selama terhubung dengan
jaringan internet.
Belajar dari apa yang telah dilaksanakan oleh
Edx dan Coursera, MOOC yang secara khusus dibuat
untuk memenuhi kebutuhan belajar bahasa Inggris
ASN perlu dikembangkan supaya ASN di seluruh
Indonesia memiliki kesempatan untuk belajar dan
memiliki kemudahan dalam mengakses materi -
materi bahasa Inggris. Tentunya pengembangan
MOOC ini harus sesuai dengan kebutuhan ASN yang
tersebar di seluruh Indonesia. Survey mengenai
pemetaan kebutuhan bahasa Inggris ASN perlu
dilaksanakan terlebih dahulu supaya gambaran
kebutuhan ASN dapat dipahami dengan jelas sebelum
mengembangkan MOOC. ASN, yang tergolong
sebagai pembelajar orang dewasa sebagaimana
diungkapkan oleh Malone (2014) yang dikutip dalam
Mali (2017), berbeda dengan pembelajar lain dalam
hal “mereka memiliki tanggung jawab lain selain
belajar yaitu tanggung jawab menjalankan pekerjaan
dan tanggung jawab mengurus keluarga.” Tantangan
lain bagi pembelajar orang dewasa diungkapkan oleh
Zhao (2004: p.10) yang dikutip dalam Mali (2017)
245
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
bahwa “Orang dewasa yang belajar bahasa memiliki
kemungkinan yang lebih kecil untuk mencapai
penguasaan bahasa seperti penutur asli.” Maka dari
itu, MOOC harus dirancang sedemikian rupa dengan
mempertimbangkan kebutuhan dan tantangan -
tantangan ini supaya ASN yang termasuk dalam
kategori pembelajar orang dewasa dapat belajar
secara efektif dan meningkatkan kemampuannya
secara signifikan meskipun mereka memiliki tanggung
jawab lain.
Dalam pelaksanaannya, strategi microlearning
dapat diterapkan. Hug (2005) sebagaimana dikutip
Alqurashi (2017) menyatakan, “Microlearning juga
disebut sebagai bite-sized learning karena
menggunakan potongan - potongan kecil dari suatu
unit atau aktivitas.” Alqurashi (2017) juga
menyebutkan bahwa “microlearning menggunakan
seri konten dan aktivitas singkat yang membentuk
sebuah kursus singkat.” Microlearning ini merupakan
strategi yang baik untuk diterapkan kepada
pembelajar orang dewasa karena sesuai dengan
karakteristik mereka yang memiliki berbagai
tanggung jawab dalam kehidupan sehari - hari dan
juga seperti yang lebih lanjut disebutkan oleh
Alqurashi (2017) bahwa “microlearning memang
dirancang bagi otak manusia yang terbatas dengan
memperhatikan rentang waktu perhatian (attention
span) untuk menghindari beban kognitif yang
berlebihan.” Walaupun singkat tetapi hendaknya
aspek lain pun juga diperhatikan seperti pemilihan
dan kualitas materi dan aktivitas pembelajaran karena
singkat tidak akan berarti apapun apabila materi tidak
sesuai kebutuhan dan tidak sesuai level pembelajar.
246
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
3. Memanfaatkan Media sosial
Media sosial bukan lagi merupakan hal yang
asing di era digital ini. Jutaan orang di seluruh dunia
menggunakan media sosial setiap harinya. Hudson
(2017: p.59) sebagaimana dikutip oleh Handayani et al.
(2020) menyatakan, “Sosial media adalah situs dan
aplikasi yang memampukan penggunanya untuk
membagikan suatu konten secara real-time.” Social
media merupakan sarana yang baik untuk belajar
bahasa Inggris karena pengguna yang ingin belajar
bahasa Inggris dapat dengan mudah mencari dan
menemukan akun - akun dari para profesional yang
berkecimpung di dunia pembelajaran bahasa Inggris.
Para profesional tersebut juga secara rutin
membagikan konten - konten bahasa Inggris yang
dibutuhkan oleh pengikut mereka di akun sosial
media. Berbagai macam infografis, podcast, dan video
singkat yang memuat konten bahasa Inggris dapat
ditemukan dengan sekali klik di sosial media seperti
Instagram dan Youtube. Karena sifatnya yang real -
time tadi, pengguna dari seluruh penjuru dunia yang
mengikuti akun para profesional tersebut juga
dengan mudah melihat mana konten terbaru dan
mana konten yang sudah diunggah pada hari, minggu,
bulan, atau tahun sebelumnya. Hal ini semakin
dimudahkan dengan adanya fitur ‘save’ pada
instagram dan ‘download’ pada Youtube sehingga
konten - konten penting yang pengguna butuhkan
dapat tersimpan pada akun Instagram dan Youtube
pribadi pengguna.
Media sosial sangat baik untuk pembelajaran
mandiri dan dapat mendukung pengembangan
kompetensi bahasa Inggris ASN. Para ASN, sebagai
pembelajar orang dewasa, memahami kemampuan
247
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
bahasa Inggris yang mana yang masih perlu
ditingkatkan karena sebagaimana disebutkan oleh
Harmer (2007) dalam Mali (2017) bahwa “pembelajar
orang dewasa paham mengapa mereka belajar dan
apa yang ingin mereka capai.” Jika ASN merasa bahwa
productive skills yaitu speaking dan writing masih
kurang, mereka dapat secara independen mencari
informasi dan belajar secara rutin dari akun - akun
fasilitator bahasa Inggris profesional. Jika
kemampuan sosiolinguistik masih kurang, maka ASN
yang bersangkutan dapat fokus mencari informasi
mengenai ekspresi atau kosakata apa yang tepat
digunakan di situasi formal dan ekspresi atau
kosakata apa yang tepat digunakan sebagai bahasa
pergaulan sehari - hari.
KESIMPULAN
Grand Design Reformasi Birokrasi untuk tahun 2020 -
2025 menetapkan World Class Bureaucracy dan SMART
ASN. Butir - butir SMART ASN yaitu memiliki integritas,
nasionalisme, wawasan global, IT dan penguasaan bahasa
asing, hospitality, dan pelayanan, networking (jejaring), dan
entrepreneurship atau kewirausahaan. Penguasaan bahasa
asing terutama bahasa Inggris menjadi poin penting dalam
pengembangan kompetensi ASN sebagai respon atas
tuntutan World Class Bureaucracy. Dengan menguasai
bahasa Inggris, ASN juga mampu melakukan networking
dan penguasaan IT yang umumnya menggunakan bahasa
Inggris sekaligus mampu aktif dan kompetitif di kancah
internasional. Tulisan ini telah memaparkan strategi
pengembangan kompetensi bahasa Inggris melalui tiga
pendekatan, yang pertama melalui pembuatan kebijakan
penyelenggaraan pembelajaran bahasa Inggris secara
gratis, yang kedua perancangan MOOC, yang ketiga
248
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
pemanfaatan media sosial. Begitu pun ada banyak cara
yang bisa ditemukan oleh para ASN untuk
mengembangakan kompetensi bahasa Inggrisnya tetapi
yang paling penting adalah kemauan dan tindakan. Waktu
berjalan begitu cepat. Tahun 2024 sudah di depan mata.
Maka dari itu, seluruh Kementerian dan Lembaga harus
segera bergerak cepat dengan mendorong dan
menyediakan sarana untuk pembelajaran kebahasaan
khususnya bahasa Inggris yang merupakan salah satu unsur
penting dalam mencapai birokrasi berkelas dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Alqurashi, E. (2017). Microlearning: A Pedagogical Approach
for Technology Integration.
https://www.researchgate.net/publication/319715909
_Microlearning_A_Pedagogical_Approach_For_Tech
nology_Integration.
British Council. (2013). The English Effect.
https://www.britishcouncil.org/sites/default/files/eng
lish-effect-report-v2.pdf.
Education First. (2020). EF EPI: Indeks Kecakapan Bahasa
Inggris EF Peringkat 100 Negara dan Wilayah menurut
Kecakapan Berbahasa Inggris.
https://www.ef.co.id/epi/.
Hamijaya, N.A. (2018). SMART ASN 2019-2024: Tujuan dan
Impian yang ‘SMART’. Jurnal Pendayagunaan
Aparatur Negara https://kita.menpan.go.id/wp-
content/uploads/2019/11/Jurnal_Tahun_2018.pdf.
Foyewa, R. A. (2015). English: The International Language of
Science and Technology. International Journal of
English Language and Linguistics Research, Volume 3
(5). 34-41.
249
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
https://www.eajournals.org/wp-content/uploads/English-
The-International-Language-of-Science-and-
Technology.pdf.
Handayani, R.D., Syafei, M., & Utari, A.R.P. (2020). The Use
of Social Media for Learning English. PROMINENT
Journal, Volume 3 (2). 313 - 321.
https://jurnal.umk.ac.id/index.php/Pro/article/view/5381.
Humas BPKP Pusat. (2018, 28 Maret). Menuju Birokrasi
Berkelas Dunia, CPNS Ikuti Presidential Lecture
http://www.bpkp.go.id/berita/read/19685/0/Menuju-
Birokrasi-Berkelas-Dunia-CPNS-Ikuti-Presidential-
Lecture.bpkp.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi. (2018). Grand Design
Pembangunan ASN 2020 -2024.
https://www.menpan.go.id/site/download/file/6019-
5-grand-design-pembangunan-asn-2020-2024.
Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi. (2021). Menteri Tjahjo Dorong
Kementerian / Lembaga Fokus Tingkatkan Layanan
Publik. https://menpan.go.id/site/berita-
terkini/menteri-tjahjo-dorong-kementerian-lembaga-
fokus-tingkatkan-pelayanan-publik.
Mali, Y.C.G (2017). Adult Learners’ Experiences in Learning
English: A Case Study of Two University Students in
Indonesia. IJOLTL. https://ijotl-
tl.soloclcs.org/index.php/ijoltl/article/view/280.
Pratiwi. (2016). Yang Berbeda dari Diklat di Belanda.
https://bandung.lan.go.id/index.php?r=post/read&id=
374.
Priyatmojo, A.S. (2018). Learning English in the Digital Era.
https://www.researchgate.net/publication/34046047
7_LEARNING_ENGLISH_IN_THE_DIGITAL_ERA.
250
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Razali, M.A., Hashim, H. & Yunus, M. Md. (2019). Beyond ESL
Classroom: The Use of MOOC in Enhancing ESL
Reading Skills. Journal of Physics: Conference Series
https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1742-
6596/1424/1/012032.
Republik Indonesia, Peraturan Menteri PAN RB nomor 11
Tahun 2015 tentang Roadmap Reformasi Birokrasi
2015-2019.
Republik Indonesia, Undang Undang ASN Nomor 5 Tahun
2014 tentang Aparatur Sipil Negara.
Setiawan, Wawan. (2017). Era Digital dan Tantangannya.
Seminar Nasional Pendidikan 2017.
http://eprints.ummi.ac.id/151/2/1.%20Era%20Digital%20
dan%20Tantangannya.pdf
251
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Konsep Pengembangan Kompetensi Teknis Bagi
ASN dalam Rangka Merespon Era Industri 4.0
Sarinah Dewi
Pusbangkom TSK ASN, Lembaga Administrasi Negara
Republik Indonesia
[email protected]/[email protected]
Ringkasan
Revolusi Industri 4.0 menuntut hadirnya pemanfaatan teknologi
informasi sebagai salah satu wahana dalam pengembangan
kompetensi Aparatur Sipil Negara (ASN). Hadirnya Peraturan Lembaga
Administrasi Negara Nomor 8 Tahun 2018 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi Pegawai Negeri Sipil
Melalui E-Learning, menjadi tonggak dalam penyelenggaraan
pengembangan kompetensi berbasis e-learning dengan memanfaatkan
teknologi informasi berupa Learning Management System (LMS). Salah
satu konsep pengembangan kompetensi teknis bagi ASN dalam
merespon Era Industri 4.0 adalah penyelenggaraan pengembangan
kompetensi blended learning. Dalam mengukur tingkat efektivitas
konsep pengembangan kompetensi teknis melalui blended learning
dapat dilakukan melalui tiga evaluasi, yakni : (1) Evaluasi Reaksi
(Reaction Evaluating), untuk mengukur tingkat kepuasan peserta; (2)
Evaluasi Belajar (Learning Evaluating), untuk mengukur efektivitas
pengembangan kompetensi terhadap pencapaian tujuan pembelajaran
atau hasil belajar; (3) Evaluasi Tingkah Laku (Behavior Evaluating),
untuk mengukur efektivitas pengembangan kompetensi terhadap
perubahan perilaku alumni pelatihan sesuai kompetensi yang dibangun.
Kata Kunci: Blended Learning, aparatur sipil negara, pengembangan
kompetensi, revolusi industri 4.0.
PENDAHULUAN
Sumber daya manusia aparatur harus memiliki
kompetensi dan profesionalitas yang tinggi karena
merupakan aset bangsa dan Negara dalam melaksanakan
pembangunan nasional di berbagai sektor. Untuk
menciptakan sumber daya manusia aparatur yang memiliki
252
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
kompetensi tersebut diperlukan peningkatan mutu
profesionalisme dan pengembangan wawasan Pegawai
Negeri Sipil. Upaya yang telah ditempuh oleh Pemerintah
dalam peningkatan mutu profesionalisme dan
pengembangan wawasan Pegawai Negeri Sipil adalah
melalui penyelenggaraan program pengembangan
kompetensi diantaranya melalui program pelatihan.
Pelatihan merupakan suatu proses pembelajaran dalam
organisasi yang mengarah pada perubahan sikap dan
perilaku pegawai dalam memenuhi harapan kualifikasi kerja
dan tuntutan perkembangan organisasi baik internal
maupun eksternal. Pelatihan yang efektif berpotensi sangat
besar untuk meningkatkan kompetensi pegawai agar
mereka mampu memberikan kontribusi nyata dalam
meningkatkan kinerja organisasi.
Pelatihan merupakan salah satu cara ampuh dalam
memperoleh aparatur pemerintah yang profesional.
Pelatihan merupakan proses yang terencana dan sistematis
juga berdampak jangka panjang dalam membekali
kompetensi bagi aparatur pemerintah dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya. Harapannya, aparatur yang
profesional akan mampu berkinerja tinggi sehingga visi
lembaga dimana mereka mengabdi bisa tercapai.
Pencapaian visi tentu akan berdampak pula pada efektivitas
pembangunan yang dijalankan pemerintah saat ini. Dengan
demikian Pengembangan Kompetensi (Pelatihan)
merupakan suatu rangkaian kegiatan pendidikan yang
mengutamakan perubahan pengetahuan, keterampilan
dan peningkatan sikap seseorang pegawai dalam
melaksanakan tugasnya dalam rangka pencapaian tujuan
organisasi yang efektif dan efisien.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang
Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Peraturan Pemerintah
Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri
253
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Sipil (PNS) menjadi dasar bagi ASN untuk meningkatkan 3
(tiga) kompetensi, yaitu Kompetensi Manajerial,
Kompetensi teknis dan Kompetensi Sosial Kultural. Bahkan
PNS memiliki hak untuk mengembangkan kompetensi
minimal 20 jam pelajaran setiap tahunnya.
Dalam Pidato Presiden Terpilih pada 14 Juli 2019
bertempat di SICC Sentul Jawa Barat tentang “Visi
Indonesia” disampaikan bahwa “Kita akan memberikan
prioritas kepada pembangunan sumber daya manusia.
Pembangunan SDM menjadi kunci Indonesia ke depan.
Pemerintah akan mengidentifikasi, akan memfasilitasi,
serta memberikan dukungan pendidikan dan
pengembangan diri bagi talenta-talenta Indonesia. Kita
akan mengelola talenta-talenta yang hebat, yang bisa
membawa negara ini bersaing secara global”. Dalam
rangka mendukung terwujudnya Visi Indonesia yang
dicanangkan oleh Presiden terpilih tersebut, maka
dibutuhkan program-program pengembangan kompetensi
yang didukung oleh penyelenggara - penyelenggara
Pelatihan yang Profesional.
Selain itu, revolusi Industri 4.0 menuntut hadirnya
pemanfaatan teknologi informasi sebagai salah satu
wahana dalam pengembangan kompetensi Aparatur Sipil
Negara (ASN). Sehubungan dengan hal tersebut di atas,
Lembaga Administrasi Negara menetapkan Peraturan
Lembaga Administrasi Negara Nomor 8 Tahun 2018 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi
Pegawai Negeri Sipil Melalui E-Learning. Metode
pembelajaran e learning diperkenalkan pertama kalinya
oleh Universitas Illinois dan diimplementasikan di Indonesia
sejak tahun 1980-an oleh Universitas Terbuka pada tahun
1984 (Paulina P., 2017).
Beberapa penelitian e learning salah satunya
menggunakan Learning Management System (LMS) yaitu
254
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
aplikasi atau software yang digunakan dalam program
pembelajaran e-learning dan isi pelatihannya mampu
mendukung portabilitas dan standar, mengkonsolidasi
pelatihan yang berbasis website, mampu mengumpulkan
dan menyampaikan konten pembelajaran dengan cepat,
dan personalisasi isi yang memungkinkan penggunaan
kembali pembelajaran tersebut (Bersin et al., 2009). Selain
itu hasil penelitian tentang Metodologi pembelajaran e-
learning memberikan banyak keuntungan, seperti lebih
efisien, efektif, lebih mudah, murah, dan menampung
banyak peserta. (Eviyanto, 2019, Subandriyo, 2019,
Uluwiyah, 2017 dan 2019). Oleh karena pentingnya
penggunaan metode pembelajaran e-learning, maka Pusat
Pengembangan Kompetensi Teknis dan Sosial Kultural ASN
LAN melaksanakan Pelatihan Teknis berbasis e-learning
dengan pemanfaatan Learning Management System (LMS),
yang memadukan pelatihan e-learning dengan pelatihan
klasikal yang dikemas dalam blended learning.
Blended learning adalah metode pembelajaran yang
merupakan campuran antara metode pembelajaran tatap
muka di kelas dan pembelajaran secara on line baik
diadakan secara independen maupun kolaborasi dengan
menggunakan sarana prasarana teknologi informasi dan
komunikasi (Lalima & Kiran, 2017). Ada beberapa penelitian
tentang metode pembelajaran blended learning yang
menyatakan bahwa kelebihan Blended Learning adalah
pembelajaran terjadi secara mandiri dan konvensional,
meningkatkan aksesibilitas dan dapat dilakukan tidak
terikat waktu. Dengan adanya Blended Learning maka
peserta belajar semakin mudah dalam mengakses materi
pembelajaran via sistem online training, seperti self directed
dimana peserta belajar secara mandiri, on demand proses
belajar dapat dilakukan kapanpun dan aktif mencari sumber
belajar (Henderson, 2003, Widyantini, 2019). Selain itu
255
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
manfaat dari penerapan blended learning adalah
kesempatan untuk mendesain ulang secara mendasar
pendekatan untuk pengajaran dan pembelajaran sehingga
institusi pendidikan tinggi dapat mengambil manfaat dari
peningkatan efektivitas, kepercayaan, dan efisiensi
(Garryson & Vougan, 2008) dan memperluas jangkauan
pembelajaran, kemudahan implementasi, efisiensi biaya,
hasil yang optimal, menyesuaikan berbagai kebutuhan
pembelajar, dan meningkatkan daya tarik pembelajaran
(Munir, 2017; Rohimah dan Budi, 2019). Dalam tulisan ini kita
akan melihat bagaimana pemanfaatan blended learning
untuk Pengembangan Kompetensi Teknis bagi Aparatur
Sipil Negara.
Dalam penyelenggaraan Pengembangan Kompetensi
Teknis dengan mempergunakan metode blended learning
ini, beberapa permasalahan sering muncul pada saat
pembelajaran online/ e-learning, diantaranya keterbatasan
sarana prasarana yang mendukung berjalannya
pembelajaran e-learning. Sarana prasarana tersebut
diantaranya adalah jaringan internet yang sering kali
mengalami gangguan sehingga menjadi hambatan besar
dalam berjalannya pembelajaran e-learning baik yang
bersifat mandiri maupun synchronous. Pada saat
berjalannya live chat atau synchronous, baik Widyaiswara
pengampu mata pelatihan maupun peserta mengalami
kesulitan dalam menyamakan persepsi, diantaranya
keterbatasan fitur serta ruang dan waktu. Pada saat
penguatan kompetensi yang bersifat teknis dan atau tujuan
pembelajaran yang menyentuh ranah afektif dan
psikomotorik, melalui e-learning sangat sulit dilakukan.
Peserta mengalami kesulitan dalam memahami berbagai
kompetensi teknis selaku penyelenggara pengembangan
kompetensi jika tanpa interaksi langsung melalui tatap
muka di kelas. Disisi lain, melalui penyelenggaraan
256
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
pengembangan kompetensi teknis berbasis Blended
Learning ini, alokasi waktu tatap muka melalui Distance
Learning untuk penguatan materi sangat terbatas.
Beberapa materi dalam pengembangan kompetensi
teknis memiliki tujuan pembelajaran yang tidak hanya
menyentuh ranah kognitif saja, tetapi ranah afektif dan
psikomotorik. Dalam pencapaian tujuan pembelajaran
dalam ranah kognitif, metode pembelajaran e-learning
cukup efektif untuk diterapkan. Sementara itu, dalam
pencapaian tujuan pembelajaran yang menyentuh ranah
afektif dan psikomotorik, melalui metode pembelajaran e-
learning sulit untuk diwujudkan secara efektif.
Oleh karena itu dalam tulisan ini sasaran yang ingin
dicapai adalah untuk mengetahui konsep pengembangan
kompetensi teknis yang efektif dalam pencapaian tujuan
pembelajaran, baik pada ranah cognitive, afektif dan
psikomotorik. Implementasi kebijakan penyelenggaraan
pengembangan kompetensi teknis melalui blended learning
dengan instrumen evaluasi 4 level Kirkpatrick, khususnya
level 1 dan 2 dengan tujuan untuk mengeksplorasi
implementasi kebijakan penyelenggaraan pengembangan
kompetensi teknis kepada peserta dari berbagai instansi
yang dilaksanakan secara blended learning oleh Pusat
Pengembangan Kompetensi Teknis dan Sosial Kultural
Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara.
KONDISI SAAT INI
Salah satu pengembangan kompetensi teknis yang
diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Kompetensi
Teknis dan Sosial Kultural Aparatur Sipil Negara Lembaga
Administrasi Negara (Pusbangkom TSK ASN LAN) adalah
Penyelenggaraan Pelatihan Teknis bagi Penyelenggara
Pelatihan (TOC). Pada Evaluasi yang dilaksanakan untuk
penyelenggaraan TOC pada Pusbangkom TSK ASN yang
257
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
diselenggarakan dengan metode blended learning, dengan
memadukan antara pembelajaran mandiri (asynchronous),
pembelajaran dengan live chat (synchronous) dan
pembelajaran jarak jauh (distance learning). Pada saat
pembelajaran mandiri (asynchronous), peserta mengunduh
materi yang disajikan dalam Learning Management System
(LMS) ASN Unggul. Materi berupa modul, bahan tayang
dan video pembelajaran.
Pembelajaran dilanjutkan dengan live chat
(synchronous), untuk memperdalam materi pembelajaran
dan penguatan terhadap hal-hal yang kurang jelas dari
materi yang diunggah dalam LMS ASN Unggul yang telah
dipelajari dalam pembelajaran mandiri. Live chat ini selain
membahas materi inti juga terkait materi pelengkap dan
tantangan yang dihadapi selaku penyelenggara pelatihan
dalam era revolusi industry 4.0 ini.
Pembelajaran tatap muka dilakukan dengan tatap
muka pembelajaran jarak jauh (distance learning) dengan
mempergunakan Zoom Cloud Meeting. Agenda yang
diberikan dalam tatap muka melalui distance learning ini
terdiri dari :
a. Pembimbingan Penguatan Mata Pelatihan
Penguatan atas penerapan delapan materi inti dalam
TOC.
b. Studi Lapangan
Melaksanakan Studi Lapangan secara virtual. Untuk
melihat praktek terbaik penyelenggaraan pelatihan
dan penerapan delapan materi inti TOC.
c. Pembimbingan Penyusunan Bahan Uji Kompetensi
Pembimbingan terhadap peserta dalam
mempersiapkan bahan uji kompetensi atas
penerapan delapan materi inti TOC.
d. Uji Kompetensi
258
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Untuk mengukur tingkat keberhasilan peserta dalam
menerapkan/ mengimplementasikan delapan materi
inti TOC. Dan ini merupakan salah satu instrumen
untuk mengukur tingkat keberhasilan
penyelenggaraan pelatihan (level 2 Kirkpatrick: Hasil
Belajar).
Suasana tatap muka secara distance learning dapat
kami sampaikan pada gambar di bawah ini:
Gambar 1. Suasanan Pembelajaran Tatap Muka secara
Distance Learning
Sumber: Dokumentasi Penulis
Berdasarkan penyelenggaraan tersebut, diperoleh
hasil evaluasi pelatihan yang menunjukan bahwa secara
umum pelatihan berjalan sesuai rencana dan dapat
memenuhi tingkat kepuasan peserta terhadap
penyelenggaraan pelatihan. Hal ini merupakan bagian dari
level 1 model evaluasi Kirkpatrick (Reaction Evaluating),
dimana mengevaluasi terhadap reaksi peserta
pembelajaran berarti mengukur tingkat kepuasan peserta.
259
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Salah satunya dapat dilihat dari hasil evaluasi
Penyelenggaraan Nonklasikal (e-learning), pada Grafik 1. di
bawah ini:
91,00
90,80 90,88 90,12 90,62 90,08
90,60 90,12 89,85
90,40
90,20 89,88
90,00
89,80
89,60
89,40
89,20
1234567
Grafik 1. Rata-Rata Nilai Hasil Evaluasi Penyelenggaraan E-
Learning
Sumber: Penulis
Keterangan sumbu horizontal:
1. Pedoman penggunaan web e-learning informatif dan
mudah dipahami;
2. Website e-learning mudah diakses;
3. Kemudahan fitur (materi, synchronous dan evaluasi)
yang tersedia;
4. Sistematika penyajian materi;
5. Tampilan tayangan;
6. Kemanfaatan proses pembelajaran synchronous; dan
7. Tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Dengan demikian, jika melihat hasil penilaian peserta
terhadap penyelenggaraan e-learning baik berupa belajar
mandiri (Asynchronous) dan live chat (Synchronous) dapat
260
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
disimpulkan bahwa konsep penyelenggaraan e-learning
baik berupa belajar mandiri (Asynchronous) dan live chat
(Synchronous) telah memenuhi harapan peserta. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa konsep penyelenggaraan
e-learning baik berupa belajar mandiri (Asynchronous) dan
live chat (Synchronous) sudah efektif. Hal ini terlihat
terhadap penilaian pada kategori memuaskan dan sangat
memuaskan.
Selain evaluasi penyelenggaraan nonklasikal (e-
learning) baik mandiri online (Asynchronous) maupun
Synchronous/ Live Chat, evaluasi penyelenggaraan untuk
mengukur tingkat kepuasan peserta juga dilakukan pada
penyelenggaraan klasikal/ tatap muka melalui distance
learning, dengan hasil evaluasi pada Grafik 2. di bawah ini:
93,00
92,50
92,00 92,19 92,33 92,41 92,37
91,50 91,81 91,81
91,44
91,00 91,15
90,50 90,81 90,59
90,00
89,50
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Grafik 2. Nilai Rata-Rata Hasil Evaluasi Penyelenggaraan
Klasikal/ Tatap Muka (Distance Learning)
Sumber: Penulis
261
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Keterangan sumbu horizontal:
1. Persyaratan administratif sesuai ketentuan;
2. Kecepatan atau responsivitas penyelenggara dalam
memberikan layanan;
3. Keramahan penyelenggara;
4. Kemudahan untuk dihubungi;
5. Kemudahan mengakses jadwal;
6. Kedisiplinan penerapan jadwal pelatihan;
7. Kecukupan waktu tutorial dan praktek;
8. Efektivitas pembimbingan dengan distance learning;
9. Efektivitas pelaksanaan studi lapangan dengan
distance learning; dan
10. Efektivitas uji kompetensi dengan distance learning.
Hasil penilaian peserta terhadap 10 (sepuluh)
indikator dalam evaluasi penyelenggaraan tatap muka
(distance learning), semua dalam kategori “sangat
memuaskan”. Hal ini menunjukkan bahwa berdasarkan
evaluasi Kirkpatrick level 1 pada (Reaction Evaluating), yaitu
mengevaluasi terhadap reaksi peserta pembelajaran berarti
mengukur kepuasan peserta, berada pada level “sangat
memuaskan.”
Dengan demikian, jika melihat hasil penilaian peserta
terhadap konsep penyelenggaraan tatap muka melalui
distance learning telah memenuhi harapan peserta. Hal ini
terlihat terhadap penilaian pada kategori sangat
memuaskan. Dapat dikatakan juga bahwa konsep
pembelajaran distance learning efektif dalam peningkatan
kompetensi/ profesionalitas peserta TOC.
Di samping melihat/ mengukur tingkat kepuasan
peserta melalui level 1 Kirkpatrick, yang lebih dikenal
dengan “Evaluation of Reaction”, untuk melihat tingkat
efektivitas penyelenggaraan TOC berbasis blended
learning, evaluasi juga dilakukan melalui level 2 Kirkpatrick,
262
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
atau lebih dikenal dengan “Evaluasi Hasil Belajar”. Hal ini
terlihat dari data hasil pre test dan post test yang
dilaksanakan sebelum dan setelah pembelajaran pelatihan
TOC berlangsung (Grafik 3) yang menunjukan bahwa ada
peningkatan rata -rata nilai akhir pre test yaitu 5,83 dan nilai
post test yaitu 8,30. Dengan demikian ada kenaikan rerata
sebesar 2,47. Artinya bahwa secara umum
penyelenggaraan TOC berhasil meningkatkan pengetahuan
dan keterampilan peserta TOC sebesar 2,47. Hal ini
diakibatkan kesadaran peserta untuk belajar setelah pre
test dilakukan dengan cara mempelajari dengan baik bahan
tayang, bahan ajar, dan video serta tugas-tugas yang ada
dalam Learning Management System (LMS) ASN Unggul
sehingga pada waktu post test nilainya lebih baik.
Grafik 3. Perbandingan Nilai Rata-Rata Pre Test dan Post
Test Peserta TOC
5,83
8,30
Pre Test
Post Test
Sumber: Penulis
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konsep
pelatihan TOC berbasis blended learning dapat mencapai
tujuan pembelajaran, yaitu peserta dapat menerapkan
263
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
materi inti TOC dalam penyelenggaraan pelatihan. Hal
tersebut ditunjukkan dengan adanya hasil penilaian uji
kompetensi yang menempati nilai rata–rata di atas 80
(skala 0-100), yang berarti pada kategori memuaskan.
Adanya peserta yang memperoleh nilai uji kompetensi di
bawah rata-rata, bukan dikarenakan pembelajaran yang
tidak efektif, namun dikarenakan yang bersangkutan
sedang kurang sehat, sehingga tidak dapat mengikuti
pembelajaran dengan baik. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa Konsep Pembelajaran TOC berbasis
Blended Learning, efektif dalam pencapaian tujuan
pembelajaran atau efektif dalam pencapaian hasil belajar
yang telah ditetapkan.
PERMASALAHAN DAN REKOMENDASI
PENYELENGGARAAN PENGEMBANGAN KOMPETENSI
BERBASIS BLENDED LEARNING BERDASARKAN HASIL
DISKUSI TERPUMPUN
Pada hasil diskusi terpumpun yang dilakukan oleh
Widyaiswara dan manajemen di lingkungan Pusat
Pengembangan Kompetensi Teknis dan Sosial Kultural
Aparatur Sipil Negara Lembaga Administrasi Negara
diperoleh hasil risalah sebagai berikut:
Tabel 1. Hasil Diskusi Terpumpun
Keterangan/
No Permasalahan Rekomendasi Penjelasan
tambahan
(reasoning)
1. Durasi Untuk ● Dengan
synchronous mengoptimalk durasi hanya
yang terlalu an efektivitas 45 menit per
pendek pembelajaran 30 peserta
sehingga perlu maka praktis
264
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Keterangan/
No Permasalahan Rekomendasi Penjelasan
tambahan
(reasoning)
proses ditambah per peserta
pembelajaran durasi hanya
tidak optimal synchronous mendapatkan
(45 menit menjadi 45 slot waktu
untuk 30 menit untuk sekitar 1
peserta) 10 peserta menit dan
durasi per
orang
tersebut
tidak cukup
untuk
interaksi
pembelajaran
yang efektif.
● Pengawalan
efektivitas
proses
pembelajaran
menjadi main
reasoning
perlunya
penambahan
2. Peserta Perlu durasi waktu.
● Contoh
cenderung ditunjang penerapanny
tidak penugasan a di pusbin
membaca per materi widyaiswara
bahan diklat serta ● Dengan
pembelajaran penilaiannya adanya
assignments
265
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Keterangan/
No Permasalahan Rekomendasi Penjelasan
tambahan
(reasoning)
sehingga maka peserta
peserta lebih mau tidak
terkondisikan mau
untuk terdorong
membaca baca dan
bahan lebih terlibat
dalam proses
pembelajaran
sehingga
diharapkan
dapat lebih
meningkatka
n kompetensi
peserta.
● Implikasinya
perlu
penambahan
menu
assignment
and grading
yang secara
teknis
memungkink
an untuk
dilakukan
secara
mandiri
● Perlu
rekomposisi
266
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Keterangan/
No Permasalahan Rekomendasi Penjelasan
tambahan
(reasoning)
pengukuran
penilaian
● Membaca
adalah salah
satu gerbang
keberhasilan
proses
pembelajaran
yang harus
dikawal oleh
penyelenggar
a dan
3. Penilaian Penilaian widyaiswara.
● Komposisi
kompetensi di merupakan
penilaian
akhir kurang agregasi dari perlu
disepakati
optimal penilaian antara
penilaian per
karena kurang permateri materi dan
penilaian
terukur, (melalui akhir
● Model
kurang assignment) penilaian
yang
menjadi dan penilaian diusulkan
tidak
feedback akhir.
pencapaian
proses
pembelajaran
dan kurang
mengawal melanggar
efektivitas pedoman
pembelajaran yang ada
267
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
Keterangan/
No Permasalahan Rekomendasi Penjelasan
tambahan
(reasoning)
pada setiap karena dalam
materi . pedoman
penilaian
Kurang yang
memenuhi diharapkan
prinsip: what adalah
can not be penilaian
measured can kompetensi
not be sedangkan
managed. model yang
diusulkan
merupakan
operasionalis
asi dari
penilaian
kompetensi
tersebut agar
lebih optimal
dalam proses
pembelajaran
● Prinsip:
penilaian
kompetensi
untuk belajar
dan bukan
belajar untuk
penilaian
kompetensi.
4. Evaluasi akhir Untuk -
penyelenggar mendorong
268
Antologi Pengembangan Kompetensi ASN:
Teori, Kebijakan, dan Praktik
No Permasalahan Rekomendasi Keterangan/
Penjelasan
tambahan
(reasoning)
aan kurang dan lebih
optimal dilihat menjamin
dari akurasi keterbukaan
dan kejujuran dan kejujuran
peserta. peserta maka
Seakan diusulkan
peserta untuk adanya
kurang pernyataan
terbuka dalam tertulis yang
memberikan menghimbau
feedback peserta agar
sebagaimana memberikan
tercermin penilaian
dalam skor evaluatif
feedback yang secara
selalu bagus, terbuka dan
sekitar 80- menjamin
90a, padahal bahwa
komentar penilaian
peserta juga peserta
relatif banyak. terhadap
penyelenggar
a tidak
mempengaru
hi nilai
kelulusan.
Sumber: Penulis
269