Oleh :
Agus Mustofa Koir
Syah Haka Wildan Fikri
Nur Ikhsan Amirullah
Bayu Hermawan
خلاصة الأسماء المرفوعات
(Ringkasan Isim-isim yang Marfu’)
الفاعل
(subjek)
Fail artinya mengerjakan suatu perbuatan. Yaitu isim marfu’ yang terletak setelah fi’il ma’lum
dan menunjukan pelaku suatu perbuatan. Contoh :
قَاَل الّنَِ يب
َح َضَر المَُدِِّر ُس
Pembagian Fa’il
1. ; ظاهرcontoh Fa’il yang terdiri dari isim zhahir : قَا َل محمد
2. ; ضميرcontoh Fa’il yang terdiri dari isim dhamir : َسأَلْ ُت – َجلَ ْس ُت
Catatan :
1. Fail harus marfu’
2. Fail harus senantiasa di dahului oleh fiil ma’lum, baik madhi atau mudhari’
3. Fail juga terkadang bersambung dengan kalimat lain, contoh :
َساَلَِن ِبْلَْم ِس ِف ال يسْوِق َر ُجل
4. Jika failnya muannats maka fi’ilnya juga muannats
5. Jika failnya mutsanna atau jama’ maka fiil tetap dalam keadaan mufrad
6. Fail juga bisa diletakkan setelah Maful Bih contoh :
َساََل الّنَِ َّب َر ُجل
نائب الفاعل
(pengganti subjek)
Naib Fail artinya pengganti Fail. Yaitu isim marfu’ yang terletak setelah fi’il majhul dan
menunjukan kepada orang yang dikenai suatu perbuatan (objek penderita). Contoh:
ُضِر َب الْ َكْل ُب
Pembagian naib Fa’il
1. ; ظاهرcontoh naib Fa’il yang terdiri dari isim zhahir : ُُسئِ َل اْلُ ْستَاذ
2. ; ضميرcontoh naib Fa’il yang terdiri dari isim dhamir : أِمْر ُت
Catatan :
1. Naib Fail harus marfu’
2. Naib fail harus didahului oleh fiil majhul
3. Naib fail itu berasal dari maful bih, tetapi karena failnya tidak ada maka ia
menggantikan tempat fail.
4. Jika naib failnya mutsanna atau jama’ maka fiil tetap dalam keadaan mufrad
5. Jika naib failnya muannats maka fi’ilnya juga diberi tanda muannats.
المبتدأ والخبر
(Mubtada’, Khabar)
Mubtada dan khabar adalah dua isim yang membentuk susunan jumlah ismiyyah, mubtada
adalah isim yang diterangkan (subjek), sedangkan Kahbar adalah isim yang menerangkan
(predikat). Contoh:
الْعِْل ُم ََنفِع
اْلُ ْستَاذُ َمِريض
مُحَ َّمد ُمْبتَ ِسم
Dan hukum isim yang dimulai pada awal kalimat tersebut ( )المبتدأadalah Marfu’ (dibaca akhir
katanya dengan harakah dhamma), kecuali apabila isim tersebut didahului oleh huruf
Jarr tambahan atau yang menyerupainya maka hukumnya secara Lafadznya
adalah Majrur namun kedudukannya dalam kalimat tetaplah Marfu’.
Contohnya firman Allah SWT:
ُ" َوَما ِم ْن إِلَه إََِّل اَّلَلTidak ada Tuhan selain Allah"
kata Ilah pada ayat tersebut secara lafadza adalah majrur (dibaca jar dengan kasroh) namun
kedudukannya tetaplah Rafa’ dan sebagai mubtada.
Dan Mubtada terbagi menjadi dua, yaitu:
Mubtada Sharih/Mubtada yang jelas ( )مبتدأ صريحyang mencakup semua isim dhahir (kata
benda yang nampak) contoh:
"َزيْد قَائِمZaid berdiri"
dan juga terdiri dari isim dhamir (kata ganti), contohnya:
" ُهَو ُُْمتَِهدDia bersungguh-sungguh"
" أَنْ َت ُُمْلِصKamu ikhlas"
Mubtada Muawwal ( )مؤولdari An ( )أنdan fi’ilnya, maksudnya adalah mubtada yang terdiri
dari فعل+ أ ْنmaka jadilah masdar muawwal atau fi'il (kata kerja) yang mempunyai
kedudukan seperti isim (kata benda), nah karena fi'il berawalan أنini sudah mempunyai
kedudukan seperti isim maka dia berhak menjadi mubtada yang mana syarat utamanya
mubtada adalah harus berupa isim (kata benda), contoh mubtada muawwal sebagaimana
firman Allah SWT: "Dan berpuasa lebih baik bagimu”
َوأَ ْن تَ ُصْوُمْوا َخْير لَ ُك ْم
كان و أخواتها
kaana wa akhwatuha adalah salah satu kumpulan fi'il yang termasuk amil nawasikh, atau amil
yang merusak tatanan hukum mubtada dan khobar. Berikut ini adalah Kaana dan saudara-
saudaranya:
َكا َن
َِب َت
ظَ َّل
أَ ْض َحى
أَ ْصبَ َح
أَْم َسى
َصاَر
لَْي َس
ما َزاَل
َما بَِرَح
ما فًتِ َئ
َما انَْف َك
َما َداَم
Fungsi kaana adalah "تَْرفَ ُع اَِل ْس َم َوتَْن ِص ُب الْ َخَبmerofa'kan isim (kaana) dan menasabkan
khobar (kaana)". Perhatikan contoh berikut:
Sebelum kemasukan َكا َن
مُحَ َّمد َكِرْي
contoh di atas adalah susunan mubtada dan khobar, mubtada: مُحَ َّمد, khobar: َك ِرْي
Setelah kemasukan َكا َن
َكا َن مُحَ َّمد َكِرْيًا
Setelah kemasukan َكا َن, maka ada perubahan istilah. Mubtada " "مُحَ َّمدberubah menjadi isim
kaana, dan khobar menjadi khobar kaana. kita kembali pada tugas kaana wa akhwatuha
bahwa kaana dan saudaranya bertugas untuk merofa'kan isim (kaana) yaitu " "مُحَ َّمدtanda
rofa'nya adalah dhommah, dan menashobkan khobar kaana yaitu " " َك ِرْيًاtanda nashobnya
adalah fathah.
Contoh lain:
Sebelum kemasukan َكا َن
اَّلَلُ َغُفْور َرِحْيم
contoh di atas adalah susunan mubtada dan khobar, mubtada: ُاَّلَل, khobar: َغُفْور َرِحْيم
Setelah kemasukan َكا َن
ًَوَكا َن اَّلَلُ َغُفْوراً َرِحيْما
maka ada perubahan istilah. Mubtada berubah menjadi isim kaana, dan khobar menjadi
khobar kaana.
ان وأخواتها
Inna wa akhwatuha (Inna dan saudara-saudaranya) ialah sekelompok huruf (kata depan)
yang biasanya berada sebelum isim. Jika sebuah jumlah ismiyah (kalimat yang tersusun dari
mubtada’ dan khabar) didahului oleh Inna atau saudara-saudaranya, maka akan
mengakibatkan mubtada’ menjadi manshub dan dinamakan isim Inna, dan khabar tetap
marfu dan dinamakan khabar Inna. Seperti:
اَّلَلُ ََِسيع َعلِْيم
Lafad ُ اَّلَلmenjadi Mubtada' [dibaca rofa'], sedangkan lafad ََِسيعmenjadi khobarnya [dibaca
rofa']. Tapi setelah kemasukan اِ َّن:
اِ َّن اَّلَلُ ََِسيع َعلِْيم
Lafad َ اَّلَلberubah menjadi isim إِ َّنdan dibaca Nashob dengan fathah, sedangkan
Kata ََِسيعtetap dibaca rofa' dengan tanda dhommah karena sebagai khabar Inna.
Maka Inna wa wakhwatuha mempunyai fungsi:
تَْن ِص ُب اَِْل ْسَم َوتَْرفَ ُع الْ َخَب
Menasabkan isim inna dan merofa’kan khabar inna.