GAMBAR BERSERTA KAPSYEN ATAU KETERANGAN UNTUK GAMBAR
Kulit Depan
1
PUTRA JAYA, KARYA PASCA MERDEKA
Kita himpunkan segala kebijaksanaan
untuk menolak ralat, kebatilan dan hipokrasi
demi langit yang membiru dengan damai
tanpa sesekali diluka calarkan duri sengketa
dan tanah indah yang dicanaikan oleh mesra
mengalirlah keruh prejudis ke laut nasib
tapislah kenangan indah yang harum
diadunkan bersama ramuan persefahaman
demi, perjalanan ke destinasi yang jauh
dengan bermulanya titik sejarah
dijilid bersama lembar pemikiran
memecut tanpa melihat percikan dugaan
kerana itu hanyalah persoalan yang rapuh
lalu kita perlu bangunkan wilayah kecil
ini tangan tulus dengan kudrat hakikat
sesekali menepis panah luar yang curiga
sesekali memadamkan diksi liar yang retorik
kita harus terus mengejar sebelum dikejar
siang untuk memunggah segala rahsia
malam untuk mengupas karun zaman.
Kita akan terus menghimpunkan kebenaran
bagai bersilangnya keris pusaka amanah Prang Besar
ini wajah baharu dengan potret adikarya
teguh bersama rukun kepercayaan
dilindungi oleh segala doa
oleh segala usaha
tanpa sia-sia.
Bahagialah, wilayah
yang memimpin maju dalam tenang hasrat.
Dalam jauh yang semakin dekat.
Ikhlas dari kami, oh, PUTRAJAYA.
- Muhammad Syazwi b.Haji Sholihin-
2
GAMBAR BERSERTA KAPSYEN ATAU KETERANGAN UNTUK GAMBAR
Suasana Malam di Putrajaya
3
LANGIT PUTRAJAYA
Melewati batas sejarah
di bawah langit kemakmuran Putrajaya
mendamparkan minda ke wilayah fatamorgana
kemajuan sepantas halilintar membelah bumi
kemakmuran melimpah melingkupi pertiwi
keharmonian dirasai setiap generasi.
Megah berdiri Perdana Putra
tempat nakhoda mengemudi bahtera
mengibarkan layar jalinan citra budaya
sumpah setia utuh terpahat di jiwa warga
bertongkat adat berpaksi Rukun Negara
mengatur haluan demi sejahtera wangsa.
Lima jambatan penghubung laluan sutera
Seri Bestari gerbang kemasyhuran estetika
Seri Wawasan berlayar membawa kemakmuran
Seri Saujana arca bitara anak watan cendekia
Seri Gemilang aspirasi negarawan tercinta
Jambatan Putra penyatu pembesar dan rakyat jelata.
Tersergam indah Masjid Putra
tiang muhibah terpasak kukuh di tasik toleransi
teguh menegak syiar beragama setiap adiwangsa
menunjangi peradaban manusia dari masa ke masa
beriringan memancar seni budaya tamadun dunia
berpaut pada visi dan misi yang nyata.
Warna alam melatari saujana mata
segenap penjuru berselimutkan kehijauan
Taman Botani, Saujana Hijau dan Rimba Alam
umpama syurga dunia buat flora dan fauna
cengal, meranti,resak dan keruing kekal terjaga
empangan dan tasik terlihat asli meski binaan manusia
memanifestasi kemajuan dalam kotak bijaksana.
Putrajaya
kuntuman cinta mekar di sukma
subur mengharum daulat perkasa
nadi penggerak kelangsungan nusa
harus warga hamparkan segulung setia
harus warga selimutkan dengan sutera cinta
semoga terpahat warisan tamadun adiwangsa.
-Muhammad Azri b.Store Pipe-
4
GAMBAR BERSERTA KAPSYEN ATAU KETERANGAN UNTUK GAMBAR
Jambatan Seri Wawasan
5
MAHKOTA JAGATRAYA
Inilah gerbang negara
Monumen bangsa
Identiti wajah nusa
Merentas benua
Putrajaya tatkala kau dilahirkan
Usah kau tanya berapa banyak yang telah dikorbankan
Perasaan Bendahara yang terhiris oleh celaan
Atau kata keji dan sindiran
Atau duka Paduka Raja yang menyimpan impian
Namun lara oleh tujahan hujah yang menunjam
Melimpahkan kedukaan paling dalam
Sengsara mematahkan julai harapan
Lalu lembaran Sulalatus Salatin kembali kubuka
Dan kubacakan di hadapan tangga istana
Tentang catatan dahulu kala dari kitab tua
Tentang Tuah dan Lima Bersaudara
Tentang Tun Perak yang tangkas bijaksana
Menakluk dengan helah tak bersenjata
Menaakul dengan lincah tak bersengketa
Bagaimana akhirnya Majapahit hilang kuasa
Dan Melaka melebarkan sayap jajahannya
Mari kita perkasakan langkah laksana perwira
Tiada yang tak dapat dikota
Selagi hasrat menyala
Tiada yang tak dapat kau laksana
Selagi cintamu bugar berbunga
Putrajaya melihatmu tumpah airmataku terpaku
Negaraku kecil namun jiwanya padu
Negaraku kecil namun suaranya satu
Sungguh Putrajaya kau kejora di malam purnama
Diasak gelora dunia kini kau menjadi pemuka
Dalam likuan sejarah kau unggul sebagai mercu tanda
Dalam laluan berceranggah kau mapan menjulang takhta
Dan dalam gegak gempita sesakpintas putaran masa
Kau kekal mengerdip di jagatraya.
- Rohana bt. Karno-
6
GAMBAR BERSERTA KAPSYEN ATAU KETERANGAN UNTUK GAMBAR
Pejabat Perdana Menteri
7
MENEMUKAN CINTA
Di tasik, kutemukan cinta membusa dan meriak
bayangan terpencar setiap kocakan, dalam deru cruise
keindahan menyeberangi mata, sementelah cahaya
yang berbaring di kubah Masjid Putra, membiaskan senja
yang tidak pernah berganjak, warga mendodoikan malam
tetapi Putrajaya tidak pernah tertidur
Di jambatan, kutemukan cinta bertenggek
di antara gemilap warna, satu mengepakkan pesona
para wisata, lainnya terbang ke daerah nurani
merdu mengicaukan inspirasi;
“Ini kota peradaban, bandar dalam taman
modenisasi menjulang, kehijauan tidak hilang
ini kota lestari, bandar raya pintar
pembangunan merecup, harum manusiawi tidak pudar,”
Di Putrajaya, cinta yang kau temukan
adalah sosok muafakat, keluhuran yang berjalan
di sela perpaduan
-Nasiruddin b. Hassan-
8
GAMBAR BERSERTA KAPSYEN ATAU KETERANGAN UNTUK GAMBAR
Bot di Tasik Putrajaya
9
PUTRAJAYA
Namamu bertebar harum di langit zaman
keharuman dihidu segala rumput dan salju
kewangian diciumi sang teknologi etnis seni
mata kembara terlihat estetika dunia di sini
lidah kembara tak terucap perihal kecantikan
menyaksi cruise harmoni menghiasi tasik kota
melintasi masjid terapung azan tengah dilaung
menyelinap suara itu terselit di bonnet sarjana
bumbung PICC lambang ketinggian ilmu warga.
Putrajaya
Berjalan-jalan di kota taman, menyedut udara nyaman
terasa minda selesa, ketenangan bermaharaja lela
jejaki dataran terbentang, ada makna tersembunyi
lanskap hutan; kelat paya, bandar raya berseni
neon lampu menerangi malam bak kunang-kunang
indah mengerdip saujana memandang
kota cinta Putrajaya aslinya bergelar Perang Besar.
Putrajaya
Kota peradaban ini lokasi singgah sipenggembara
kota pintar ini terpacak sana-sini wisma kemodenan
menjulang wau kemegahan di langit kehebatan
kota pentadbiran, kota setia sebuah watan.
- Zabidin b. Ismail -
10