i PEDOMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) PUSKESMAS KENDALKEREP TAHUN 2021
ii LEMBAR PENGESAHAN PEDOMAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PUSKESMAS KENDALKEREP Mengetahui, Koordinator K3 Mochamad Firmansyah, A.Md.K.L NIP.199005182020121003 Penanggung Jawab Administrasi dan Manajemen Kepala Puskesmas Kendalkerep dr. A.A.I. Ngurah Kunti Putri NIP 19730612 200501 2 009
iii KATA PENGANTAR Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT, Pedoman Keselamtan dan Kesehatan Kerja (K3) Puskesmas Kendalkerep dapat kami selesaikan sebagai dasar acuan pelaksanaan kegiatan K3 di Puskesmas Kendalkerep. Disadari bahwa masih ada kekurangan – kekurangan yang ditemui dalam pedoman ini, untuk itu sangat diharapkan saran – saran, masukan dan kritik yang bermanfaat/ membangun demi kelengkapan dan kesempurnaan pedoman ini. Akhirnya diucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi – tingginya kepada semua pihak yang telah bekerja keras sejak penyusunan draf, uji coba sampai ditetapkannya standar ini. Malang, 04 Oktober 2021 Penyunting
iv DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................ ii KATA PENGANTAR..................................................................................................... iIi DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv BAB I PEDAHULUAN................................................................................................1 A. Latar Belakang .. ..................................................................................................... 1 B. Tujuan ..................................................................................................................... 1 C. Sasaran.................................................................................................................... 1 D. Ruang Lingkup........................................................................................................ 1 E. Dasar Hukum..... ..................................................................................................... 2 F. Pengertian ......... ............................................................................................. ....... 2 BAB II STANDAR KETENAGAAN .............................................................................. 4 A. Kualifikasi SDM ....................................................................................................... 4 B. Strktur Organisasi................................................................................................... 5 C. Uraian Tugas ..... ..................................................................................................... 6 D. Distribusi Ketenagaan ............................................................................................ 8 BAB III STANDART FASILITAS........................................................................... ........ 9 A. Denah ...................................................................................................................... 9 B. Standar Fasilitas ................................................................................................... 11 BAB IV TATA LAKSANA STANDAR K3 ................................................................... 13 A. Pengenalan Potensi bahaya...................................................................................13 B. Penerapan Kewaspadaaan Standart .................................................................... 32 C.Penerapan Prinsip Ergonomi................................................................................. 39 D. Pemeriksaan Kesehatan Berkala.......................................................................... 44 E. Pemberian Imunisasi ............................................................................................. 44 F. Pembudayaan PHBS .............................................................................................. 44 G. Pengelolaan Sarana dan Prasarana dari Aspek K3 ............................................ 45 F. Pengelolaan Peralatan Medis dari Aspek K3 ....................................................... 49 G. Kesiapsiagaan Menghadapi Kondisi Darurat atau Bencana.............................. 50 F. Pengelolaan B3 dan Limbah B3 ............................................................................ 49 B. Pengelolaan Limbah Domestik ............................................................................. 53 BAB V KEAMANAN PASIEN, PENGUNJUNG DAN PETUGAS................................ 55 A. Pengertian ...............................................................................................................55 B. Persyaratan Teknis ................................................................................................ 55 BAB VI PENGUMPULAN DAN PELAPORAN DATA ................................................. 57 A. Laporan Keselamatan dan Kesehatan Kerja ........................................................57 B. Audit Internal SMK3............................................................................................... 57
v BAB VII PENGENDALIAN MUTU ............................................................................... 58 A. Pengendalian Mutu Kegiatan K3 ...........................................................................58 B. Monitoring Indikator Mutu Audit K3 ..................................................................... 58 BAB VIII PENUTUP ..................................................................................................... 59
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Puskesmas) sebagai institusi pelayanan Kesehatan merupakan salah satu tempat kerja yang memiliki potensi bahaya sehingga berisiko keselamatan dan Kesehatan kerja baik pada SDM Puskesmas, pasien, pendamping pasien, pengunjung maupun masyarakat disekitar Puskesmas. Dalam memberikan pelayanan Kesehatan yang bermutu diperlukan Puskesmas yang sehat, aman dan nyaman serta didukung sarana, prasarana dan sumber daya manusia yang memadai. Dalam pelaksanaanya yang disusun di dalam buku pedoman ini adalah pedoman tentang keselamatan kerja dan kesehatan kerja, yang selanjutnya disingkat dengan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Upaya keselamatan kerja merupakan upaya meminimalkan pencegahan terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) melalui upaya promotif, prefentif, penyerasian antara beban kerja, kapasitas kerja dan lingkungan sehingga setiap pekerja dapat bekerja selamat dan sehat, tanpa membahayakan dirinya sendiri maupun masyarakat atau orang lain disekelilingnya dan tercapai produktivitas kerja yang optimal. Upaya tersebut dilaksanakan secara menyeluruh untuk meningkatkan derajat kesehatan dan produktifitas pekerja Puskesmas. Oleh karena itu pedoman K3 ini dibuat sebagai salah satu proses komitmen menajemen guna memperlancar dalam pelayanan kesehatan dan meningkatkan kerjasama saling pengertian dan partisipsif efektif antara pihak manajemen dengan karyawan untuk Bersama – sama melaksananakan tugas dan kewajiban di bidang K3 di Puskesmas Kendalkerep. B. Tujuan Pedoman K3 ini disusun untuk memberikan kejelasan pelaksanaan dan kegiatan yang berkaitan dengan bidang K3 di Puskesmas Kendalkerep sehingga dapat terlaksana secara optimal, efektif, efisien dan berkesinambungan. C. Sasaran Dengan adanya buku pedoman ini diharapkan semua petugas di UPT Puskesmas Kendalkerep baik petugas medis maupun non medis mampu melaksanakan program K3 sesuai standar yang telah ditetapkan. D. Ruang Lingkup Buku pedoman pelaksanaan program K3 ini hanya digunakan terbatas di lingkungan UPT Puskesmas Kendalkerep, dengan kegiatannya meliputi:
2 1. Melakukan identifikasi bahaya dan pengendalian risiko K3 di Puskesmas 2. Melakukan penerapan kewaspadaan standar 3. Melakukan pemeriksaan Kesehatan berkala 4. Melakukan penerapan prinsip ergonomi 5. Melakukan pemberian imunisasi 6. Melakukan pembudayaan perilaku hidup bersih dan sehat di Puskesmas 7. Melakukan pengelolaan sarana dan prasarana Puskesmas dari aspek keselamatan dan kesehatan kerja 8. Melakukan pengelolaan peralatan medis dari aspek keselamatan dan Kesehatan kerja 9. Melakukan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat atau bencana, termasuk kebakaran 10. Melakukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun 11. Melakukan pengelolaan limbah domestic E. Dasar Hukum Dasar pertimbangan disusunnya Pedoman K3 di Puskesmas Kendalkerep Kota Malang mengacu pada peraturan perundang – undangan, sebagai berikut : 1. Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja 2. Undang – Undang N0.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan 3. Undang – Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. 4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manjemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja 5. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2019 tentang Penyakit Akibat Kerja 6. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 48 Tahun 2016 tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran 7. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 52 Tahun 2018 tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan 8. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 43 Tahun 2019 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat 9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2022 Tentang Pelayanan Kesehatan Penyakit Akibat Kerja F. Pengertian 1. Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya disebut Puskesmas adalah suatu alat dan/atau tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik promotif, preventif, kuratif, maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat.
3 2. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya disebut K3 di Puskesmas adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi sumber daya manusia fasilitas pelayanan kesehatan, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun masyarakat di sekitar lingkungan Fasilitas Pelayanan Kesehatan agar sehat, selamat, dan bebas dari gangguan kesehatan dan pengaruh buruk yang diakibatkan dari pekerjaan, lingkungan, dan aktivitas kerja. 3. Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya disebut SMK3 di Puskesmas adalah bagian dari sistem manajemen Fasilitas Pelayanan Kesehatan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan aktivitas proses kerja di Fasilitas Pelayanan Kesehatan guna terciptanya lingkungan kerja yang sehat, selamat, aman dan nyaman. 4. Sumber Daya Manusia Fasilitas Pelayanan Kesehatan yang selanjutnya disebut SDM Puskesmas adalah semua tenaga yang bekerja di Puskesmas baik tenaga kesehatan dan tenaga non kesehatan. 5. Upaya kesehatan adalah upaya penyerasian antara kapasitas kerja, beban kerja dan lingkungan kerja agar setiapkerja karyawan dapat bekerja secara sehat tanpa membahayakan diri sendiri maupunmasyarakat disekelilingnya. 6. Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan alat kerja, bahan dan proses pengolahannya, tempatkerja dan lingkungannya serta caracara melakukan pekerjaan. 7. Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan, karena peristiwa tersebut tidak terdapatunsur kesengajaan, lebih-lebih dalam bentuk perencanaan dan tidak diharapkan karena peristiwa kecelakaan disertai kerugian material maupun penderitaan dari yang paling ringansampai kepada yang paling berat. 8. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang ditimbulkan dari suatu pekerjaan yang mengandung paparan / kontaminasi pada fasilitas penunjang pekerjaan.
4 BAB II STANDAR KETENAGAAN A. Kualifikasi Sumber Daya Manusia Dalam melaksanakan pelayanan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di UPT Puskesmas Kendalkerep dipimpin oleh Ketua Tim K3, Sekretaris dan Anggota Tim K3 disesuaikan dengan kualifikasi dan beban kerja yang ada pada unit masing – masing, meliputi tenaga Sanitasi Lingkungan, Perawat, Petugas Adm. Tabel 2.1 Tim K3 Puskesmas Kendalkerep KEDUDUKAN DALAM TIM NAMA KUALIFIKASI PENDIDIKAN SUDAH/BELUM MENGIKUTI PELATIHAN K3 KETUA Mochamad Firmansyah, A.Md.K.L D3 Kesehatan Lingkungan Belum ANGGOTA 1. One Erwin Junaedi, A.Md. Kep D3 Keperawatan Belum 2. Aryo Yudho Wicaksono, A.Md.Kep D3 Keperawatan Belum 3. Veronica Indriyati, A.Md.K.L D3 Kesehatan Lingkungan Sudah 4. Atim surahman SMA Belum Jumlah 5 orang
5 B. Struktur Organisasi Sesuai dengan Surat Surat Keputusan Kepala Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama Nomor :188.451/405/35.73.301.014/2021 bentuk Tim Keselamatan dan Kesehatan Kerja Puskesmas Kendalkerep yang bertanggung jawab langsung kepada Kepala Puskesmas Kendalkerep. Adapun struktur organisasi Tim K3 Puskesmas Kendalkerep adalah sebagai berikut : STRUKTUR ORGANISASI TIM K3 PUSKESESMAS KENDALKEREP KEPALA PUSKESMAS dr. A.A.I NGURAH KUNTI PUTRI Ketua MOCHAMAD FIRMANSYAH, A.Md.K.L Koordinator bidang Kesehatan dan keselamatan kerja ONE ERWIN JUNAEDI, A.Md. Kep Koordinator bidang Kebakaran dan kewaspaspadaan bencana ARYO YUDHO WICAKSONO, A.Md.Kep Koordinator bidang Penyehatan lingkungan VERONICA INDRIYATI, A.Md.K.L Anggota ATIM SURAHMAD
6 C. Uraian Tugas TIM K3 Puskesmas Kendalkerep 1. Ketua Tim K3 : - Mengkoordinasi kegiatan K3 Puskesmas Kendalkerep - Memimpin rapat/ pertemuan Tim K3 - Menyususn rencana kerja/program kerja Tim K3 - Mengevaluasi hasil kegiatan K3 - Melaporkan hasil kegiAtan K3 ke Kepala Puskesmas - Memantau pelaksanaan kegiatan K3 di Puskesmas Kendalkerep - Memberikan saran dan pertimbangan kepada Kepala Puskesmas mengenai pelaksanaan K3 di Puskesmas Kendalkerep − Melaksankan kegiatan administrasi Tim K3 − Mengumpulkan prosedur kerja dari tiap unit kerja yang terkait − Membantu memantau pelaksanaan K3 di Puskesmas Kendalkerep 2. Koordinator Tim K3 Bidang Keselamatan dan Kesehatan Kerja - Mengikuti rapat Tim K3 - Melakukan koordinasi dengan anggotanya untuk melaksanakan upaya kesehatan kerja promotif. preventif, kuratif, rehabilitative diseluruh unit kerja Puskesmas Kendalkerep - Melaksanakan penyuluhan K3 mengenai keselamatan dan kesehatan kerja kepada karyawan Puskesmas Kendalkerep - Membimbing dan mengarahkan karyawan diseluruh unit kerja agar bekerja sesuai prosedur - Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri dan pengaman di seluruh unit kerja - Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada Ketua Tim K3 secara berkala atau pun incidental - Mematau pelaksanaan kegiatan K3 di seluruh unit Puskesmas Kendalkerep - Membuat analisa situasi sarana dan prasarana Puskesmas Kendalkerep dan program kerja bidang keselamatan dan kesehatan kerja - Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan dan kesehatan kerja 3. Koordinator Tim K3 Bidang Kebakaran dan Kewaspadaan Bencana - Mengikuti rapat Tim K3 - Melakukan penyuluhan K3 mengenai kebakaran dan kewaspadaan bencana - Membimbing dan mengarahkan karyawan Puskesmas Kendalkerepagar bekerja sesuai prosedur
7 - Mengusulkan kelengkapan alat penanggulangan kebakaran dan evakuasi di Puskesmas Kendalkereop - Membuat analisis situasi program kerja bidang kebakaran dan kewaspadaan bencana - Melaporkan hasil kegiatan K3 kepada Ketua K3 - Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengenai kebakaran dan kewaspadaan bencana - Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan keselamatan kerja bidang kebakaran dan kewaspadaan bencana 4. Koordinator Tim K3 Bidang Penyehatan Lingkungan Puskesmas - Mengikuti rapat tim K3 - Melaksankan penyuluhan K3 mengenai kesehatan lingkungan - Membimbing dan mengarahkan karyawan Puskesmas Kendalkerep agar bekerja sesuai dengan prosedur - Mengusulkan kelengkapan alat pelindung diri dan pengaman - Menjamin jadwal pemeriksaan kesehatan lingkungan secara berkala ataupun incidental - Memantau pelaksanaan kegiatan K3 mengenai kesehatan lingkungan mulai dari penyediaan air bersih, pengelolaan sampah, pengelolaan limbah, pengelolaan B3, pengendalian serangga dan binatang pengganggu, lingkungan fisik puskesmas, pengelolaan laudry serta seluruh aspek kebersihan di puskesmas. - Memberikan saran dan pertimbangan mengenai pelaksanaan upaya penyehatan lingkungan Puskesmas Kendalkerep
8 D. Distribusi Ketenagaan Tim K3 berjumlah 5 orang sesuai dengan struktur organisasinya. Tim K3 terdiri dari Ketua, Sekretaris dan Anggota Tim yang terdiri dari masing-masing unit terkait yang berhubungan langsung dengan kegiatan K3. Tabel 2.2 Kegaitan K3 di Puskesmas Kendalkerep NO. KEGIATAN PENANGGUNG JAWAB DAN PELAKSANAAN WAKTU KETERANGAN 1 Identifikasi potensi bahaya dan pengendalian resiko K3 TIM K3 Maret 2 Sosialisasi hasil identifikasi potensi bahaya dan pengendalian risiko K3 TIM K3 Juli Pada saat RTM 3 Pemeriksaan Kesehatan Karyawan secara berkala PTM, TB Min 1x dalam 1 tahun 4 Safety Patrol Tim K3 Semester 5 Audit SMK3 Tim K3 Jan – Des 2022 6 Membuat dokumen PCRA Tim K3, Tim PPI Jika ada renovasi puskesmas 7 Sosialisasi budaya PHBS di tempat kerja (CTPS dan Etika Batuk) Tim K3. Tim KP Jan – des 2022 8 Kesiapsiagaan menghadapi kondusi darurat atau bencana termasuk kebakaran (emergency response plan ) TIM K3, MFK Desember 9 Pengelolaan bahan berbahaya dan beracun dan limbah bahan berbahaya dan beracun TIM K3, UNIT SANITASI Jan dan Jul Pelaksanaan unit sanitasi 10 Pengukuran Lingkungan Kerja Tim K3 dan Unit Sanitasi Januari dan Juli 11 Assesment dan evaluasi K3 Puskesmas Kendalkerep Tim K3 Juni dan desember Tim K3 12 Monitoring Pajanan/ kecelakaan Kerja Tim K3, PPI Jan - Des
9 BAB III STANDART FASILITAS A. Denah Gambar 3.1 Denah Rawat Jalan Gambar 3.2 Denah Ruang Atas
10 Gambar 3.3 Denah Rawat Inap Apar Titik Kumpul Jalur Evakuasi Ruang Infeksius TPS B3
11 B. Standar Fasilitas Tabel 3.1Jenis peralatan Alat Pelindung Diri No Jenis Peralatan STANDAR Jumlah yang ada 1 APD Sesuai Kebutuhan 1. Masker 2. Sarung tangan - Steril - Non Steril - Rumah tangga - N95 Google Perisai Kap penutup kepala Apron Sandal tertutup/sepatu booth 2 Spill Kit Laborat, Rajal, Ranap, PONED Sign warning “Awas Lantai Licin” 1 1 Box casing 1 1 Appron plastik 1 1 Sarung tangan 1 1 Underpad 1 1 Hair cap 1 1 Kantong plastik medis 1 1 Kantong plastic berlogo 1 1 Chlorin 1 1 Air sabun 1 1 Spidol non permanen 1 1
12 Botol spray 2 2 Google /Kaca mata 1 1 Masker 1 1 Sapu & serok 1 1 Gunting 1 1 Sepatu Booth 1 1 3 Safety Box Sesuai kebutuhan 4 Apar Rawat Inap, Rawat Jalan, Lantai Atas, Farmasi, TPS B3 5 4 5 Safety Helmet ( 4 warna) Rawat Jalan dan Rawat Inap, Lantai 2 12 12 6 Rambu – rambu keselamatan Sesuai kebutuhan 7 TPS B3 1 1 8 IPAL 1 1
13 BAB IV TATA LAKSANA STANDAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA A. Pengenalan Potensi Bahaya dan Pengendalian Risiko K3 1. Pengenalan Potensi Bahaya Pengenalan potensi bahaya adalah suatu upaya mengenali atau mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat berdampak pada SDM Puskesmas, pasien, pendamping pasien, pengunjung, maupun masyarakat di sekitar lingkungan fasilitas pelayanan kesehatan. Pengenalan potensi bahaya bertujuan agar SDM Puskesmas dapat melakukan pengendalian risiko dengan benar sehingga terhindar dari berbagai masalah kesehatan yang diakibatkan pekerjaannya yakni penyakit akibat kerja dan kecelakaan akibat kerja. Berikut adalah contoh potensi bahaya yang ada di suatu Puskesmas:
1 Tabel 4.1 Identifikasi Bahaya Potens No Ruang Bahaya Potensial Fisik Biologi Kimia Psikososial 1 Ruang Pendaftara n/ rekam medis • Suhu/ kelembab an • Radiasi sinar komputer • Virus • Bakteri • Vektor dan binatang pembawa penyakit • Jamur • Debu • Bahan pembersi h ruangan • Hubungan petugas dengan klien • Beban kerja berlebih 2 Poli Umum • Suhu/ kelembab an • Radiasi sinar komputer • Virus • Bakteri • Jamur • Vektor dan binatang pembawa penyakit • Debu • Bahan desinfekt an • Antisepti c • Pekerjaan monoton • Hubungan dengan pasien • Hubungan antara rekan kerja dan pimpinan 3 Dst
4 sial di Puskesmas Berdasarkan Ruangan Efek gangguan Kesehatan yang mungkin Bahaya kecelakaan kerja Pencegahan Ergonomi a • Duduk terlalu lama >2 jam tanpa bergerak • Ruang kerja sempit • Posisi kerja tidak natural • Penempatan alat kerja termasuk computer tidak ergonomis • Infeksi virus/ bakteri • Dermatitis, iritasi mata • Musculoskelet al • Stress kerja • Terpeleset, terjatuh, tersandung, tersetrum, tertimpabaran g, ancaman benda tajam • Exhaust • Pemberian sekat / pemisah dari adanya paparan / droplet secara langsung • Peregangan disetiap 2 jam sekali • Pemberian alat pendingin/ ventilasi alami n n • Posisi monoton >2 jam • Tata letak ruang • Penularan infeksi TB, Hepatitis B, C, HIV, infeksibakteri, cacar air, influenza, Covid • Musculoskelet al • Terpeleset, terjatuh, tersandung, tersetrum • Pemakaian APD (masker, handscoon, gaon kerja, faceshield) • Bertindak sesuai dengan sop • Pemberian sekat / pemisah dr bahan yang bisa mencegah adanya paparan / droplet secara langsung • Peregangan disetiap 2 jam sekali
15 2. Penilaian Risiko Risiko harus dilakukan analisis dan evaluasi risiko untuk mengetahui mana yang risiko tinggi, sedang dan rendah. Hasil penilaian dilakukan intervensi atau pengendalian. Intervensi terhadap risiko mempertimbangkan pada kategori risiko yang tinggi. Untuk mengetahui kategori risiko tinggi, sedang, atau rendah secara teori dilakukan dengan rumus: Analisa risiko dapat dilakukan dengan metode kualitatif dengan melihat efek bahaya potensial (efek) dan kemungkinan terjadinya (probabilitas). Efek paparan dapat dikategorikan menjadi ringan, sedang, berat (Tabel 4 ). Probabilitas dapat dibedakan menjadi hampir tidak mungkin, mungkin, dan sangat mungkin (Tabel 5). Untuk mengetahui kategori risiko sesuai rumus di atas dapat dilihat pada Tabel 6. Secara sederhana risiko tinggi dapat dilihat dan diketahui dari seberapa sering (frekuensi) paparan tersebut kepada SDM Puskesmas dan durasi (lama) paparan pada SDM Puskesmas. Contoh yang termasuk kategori risiko tinggi di Puskesmas adalah tertusuk jarum suntik dan bahaya faktor biologi seperti bakteri, virus, jamur. Ruang risiko tinggi pada Puskesmas terjadi pada karyawan di ruang poli umum, UGD, dan poli gigi. Risiko = Efek x Probabilitas
16 Tabel 4.2 Kategori Dampak/Konsekuensi
17 Tabel 4.3. Kategori Kemungkinan/Probabilitas Tabel 4.4 Matriks Risiko Setelah dilakukan penilaian risiko, perlu dilakukan pengendalian risiko berdasarkan skala prioritas tingkat risiko sebagaimana tertera pada tabel berikut.
18 Tabel 4.5 Skala Tingkat Risiko
1 No Ruang/Poli Jumlah Petugas Aktifitas Pekerjaan Bahaya Jenis Detail 1 Rekam medis 3 Penyimpanan dan pengambilan Map RM Kimia Kontak dengan debu Ga per Ergonomi Terjatuh atau terpeleset Ter Registrasi pasien Ergonomi Bekerja dengan komputer Nye dan Biologi Diskusi dengan pasien, penyerahan form isian Ter bak ata Psikososial Diskusi dengan pasien, antrian, penyerahan form isian Ke pas me kom pas 2 Farmasi 2 Register/ inventaris/ Stock Obat Ergonomi Mengangkut obat - obatan dalam Nye dan oto
9 Risiko Penilaian Risiko Pengendalian Bahaya Probability Keparahan Kategori angguan rnafasan Mungkin Sedang Sedang Penggunaan APD (Masker) rjatuh Mungkin Berat Tinggi Meningkatkan kehati - hatian eri pinggang n leher Mungkin Sedang Sedang Peregangan 2 jam sekali rkontaminasi kteri au virus Mungkin Sedang Sedang Penggunaan APD berupa Scoret,Masker, sekat/ pembatas puasan sien enurun/ mplain dari sien Mungkin Ringan Rendah Informasi/komunikasi yang jelas eri pinggang n gangguna ot Sangat mungkin Sedang Tinggi Menggunakan Troli
2 Tabel 4.6 Identifikasi, Penilaian dan Penge jumlah banyak Ergonomi Bekerja dengan komputer Nye leh lela Penjelasan/ KIE obat kepada pasien Ergonomi Penjelasan tetang pemakaian obat Ten ker Psikososial Penjelasan kepada pasien Ke pas Peracikan Obat Biologi Terhirup obat Ba ses Ergonomi Proses penggerusan, kerja berulang Ra da len
0 endalian Berdasarakan Aktifitas eri pinggang, er dan mata ah Mungkin Sedang Sedang Peregangan 2 jam sekali nggorokan ring dan sakit Mungkin Sedang Sedang Penambahan mic khusus farmasi puasan sien menurun Mungkin Ringan Rendah Informasi/komunikasi yang jelas atuk dan sak napas. Mungkin Sedang Sedang Penggunaan APD berupa Masker asa pegal n kram di ngan Mungkin Sedang Sedang Peregangan 2 jam sekali
21 Berikut terlampir contoh kategori risiko K3 di Puskesmas berdasarkan ruang yang harus dilakukan pengendalian risiko, namun penggunaannya harus di sesuaikan dengan penilaian dan analisis risiko yang ada di ruang Puskesmas setempat. Tabel 4.7Penilaian Risiko Berdasarkan Priorotas Masalah No. Proses/Kegi atan Jenis Bahaya Ranking Rencana Tindak Lanjut 1. Peracikan obat Batuk dan sesak napas. II Pemeriksaan kesehatan karyawan berkala. Kekerasan verbal dan fisik. IV Pengelolaan antrian pasien farmasi Rasa pegal dan kram di lengan I Pemeriksaan kesehatan karyawan berkala. 2. Penyimpana n obat Tertimpa rak obat. III Penggantian rak obat yang kuat. 3. Pelayanan administrasi ruang obat Kekerasan verbal dan fisik. III Pemasangan CCTV di depan ruang farmasi. 3. Pengendalian Risiko Pengendalian risiko keselamatan dan kesehatan kerja adalah suatu upaya pengendalian potensi bahaya yang ditemukan di tempat kerja. Pengendalian risiko perlu dilakukan sesudah menentukan prioritas risiko. Metode pengendalian dapat diterapkan berdasarkan hierarki dan lokasi pengendalian. Hierarki pengendalian merupakan upaya pengendalian mulai dari efektivitas yang paling tinggi hingga rendah, sebagai berikut:
22 Gambar 4.1. Hierarki Pengendalian Risiko K3 dari NIOSH (National Institute For Occupational Safety and Health) Berikut penjelasan dari hierarki pengendalian: a. Eliminasi Eliminasi merupakan langkah pengendalian yang menjadi pilihan pertama untuk mengendalikan pajanan karena menghilangkan bahaya dari tempat kerja. Namun, beberapa bahaya sulit untuk benar-benar dihilangkan dari tempat kerja. b. Substitusi Subtitusi merupakan upaya penggantian bahan, alat atau cara kerja dengan alternatif lain dengan tingkat bahaya yang lebih rendah sehingga dapat menekan kemungkinan terjadinya dampak yang serius. Contohnya: 1) Mengganti tensi air raksa dengan tensi digital 2) Mengganti kompresor tingkat kebisingan tinggi dengan tipe yang kebisingan rendah (tipe silent kompresor) c. Pengendalian Teknik Pengendalian Teknik merupakan pengendalian rekayasa desain alat dan/atau tempat kerja. Pengendalian risiko ini memberikan perlindungan terhadap pekerja termasuk tempat kerjanya. Untuk mengurangi risiko penularan penyakit infeksi harus dilakukan penyekatan menggunakan kaca antara petugas loket dengan pengunjung/pasien. Contoh pengendalian teknik yaitu: untuk meredam suara pada ruang dengan tingkat bising yang tinggi seperti: 1) Pada poli gigi khususnya menggunakan unit dental dan kompresor
23 2) Pada ruang genset d. Pengendalian Administrasi Pengendalian administrasi berfungsi untuk membatasi pajanan pada pekerja. Pengendalian administrasi diimplementasikan bersamaan dengan pengendalian yang lain sebagai pendukung. Contoh pengendalian administrasi diantaranya: 1) Pelatihan/sosialisasi/penyuluhanpadaSDM Puskesmas 2) Penyusunan prosedur kerja bagi SDM Puskesmas 3) Pengaturan terkait pemeliharaan alat 4) Pengaturan shift kerja e. Alat Pelindung Diri Penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) dalam mengendalikan risiko keselamatan dan kesehatan kerja merupakan hal yang sangat penting, khususnya terkait bahaya biologi dengan risiko yang paling tinggi terjadi, sehingga penggunaan APD menjadi satu prosedur utama di dalam proses asuhan pelayanan kesehatan. APD adalah suatu alat yang mempunyai kemampuan untuk melindungi seseorang yang fungsinya mengisolasi sebagian atau seluruh tubuh sumber daya manusia dari potensi bahaya di Puskesmas. Alat pelindung diri tidak mengurangi pajanan dari sumbernya, hanya saja mengurangi jumlah pajanan yang masuk ke tubuh. APD bersifat eksklusif (hanya melindungi individu) dan spesifik (setiap alat memiliki spesifikasi bahaya yang dapat dikendalikan). Implementasi APD seharusnya menjadi komplementer dari upaya pengendalian di atasnya dan/atau apabila pengendalian di atasnya belum cukup efektif. Jenis-jenis APD yang dapat tersedia di Puskesmas sesuai dengan kebutuhan sebagai berikut: 1) Penutup kepala (shower cap) 2) Kacamata Khusus (safety goggle) 3) Pelindung wajah (face shield) 4) Masker 5) Sarung Tangan (hand schoon/sarung tangan karet) 6) Jas Lab dan Apron (apron/jas lab) 7) Pelindung kaki (safety shoes dan sepatu boots) 8) Coverall
24 Contoh penggunaan APD dan lokasi penggunaannya dapat melihat tabel berikut: Tabel 4.8. APD dan Lokasi Pemakaian No APD Lokasi Pemakaian APD 1. Penutup kepala Laboratorium, ruangsterilisasi, ruang tindakan, ruang KIA, dapur 2. Kacamata khusus Laboratorium, ruang tindakan dokter gigi, ruang sterilisasi, ruang insersi IUD, pertolongan persalinan , ruang pembuatan kacamata 3. Pelindung wajah Laboratorium, ruan gtindakan dokter gigi, ruang persalinan 4. Masker Ruang persalinan, ruang tindakan untuk kasus infeksi, balai pengobatan, ruang tindakan dokter gigi, balai pengobata n, laboratorium, loket, ruang rekam medik, ruang farmasi, dapur, cleaning service, ruang pembuatan kacamata, unit transfusi darah 5. Apron Ruang sterilisasi, ruang persalinan, radiologi, ruang tindakan dokter gigi, ruang tindakan untuk kasus infeksi
25 6. Sarung tangan Ruang tindakan, ruang KIA, ruang tindakan dokter gigi, ruang sterilisasi ,laboratorium, dapur, cleaning service, optik, ruang farmasi, unit tansfusi darah
26 No APD Lokasi Pemakaian APD 7. Sepatu boot Tempat pembuangan limbah,ruang laundry, pertolongan persalinan 8. Jas lab Ruang farmasi, laboratorium 9. Coverall Ruang observasi khusus dalam pelayana nkekarantinaan kesehatan Untuk faktor risiko biologi yang sangat infeksius dan bahan kimia, dapat menggunakan bentuk APD secara lengkap atau merujuk pada juknis terkait. Berikut penjelasan masing-masing APD beserta contoh gambar APD: a) Penutup Kepala (shower cap) Alat penutup kepala adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi kepala dari jatuhnya mikroorganisme yang ada dirambut dan kulit kepala petugas terhadap alat- alat/daerah steril dan juga sebaliknya untuk melindungi kepala/rambut petugas dari percikan bahan–bahan dari pasien. Gambar 4.2. Penutup Kepala b) Penutup Teling (ear muff atau ear plug) Penggunan APD penutup telinga di Puskesmas dalam proses pemberian asuhan pelayanan kesehatan jarang digunakan. Penggunaan lebih sering jika ada sumber bising di atas Nilai Ambang Batas (85 dba) seperti di unit ganset, proses pembangunan, dan lainnya.
27 Gambar 4.3 Penutup Telinga c) Kacamata Khusus (safety goggle) Kacamata khusus (safety google) adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi mata dari paparan bahan kimia berbahaya, percikan darah dan cairan tubuh, uap panas, sinar UV dan pecahan kaca (scrub). Gambar 4.4. Kacamata Khusus d) Pelindung wajah (face shield) Alat pelindung wajah adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi wajah dari terpapar cairan tubuh, darah, dan percikan bahan-bahan kimia.
28 Gambar 4.5. Pelindung WajahMasker Masker atau alat pelindung pernafasan adalah alat yang berfungsi untuk melindungi pernafasan dari mikrobakterium dan virus yang ada di udara, dan zatzat kimia yang digunakan. Bagi SDM Puskesmas yang menggunakan respirator harus dilatih untuk menggunakan dan memelihara respirator khusus secara tepat. SDM Puskesmas harus tahu keterbatasan dan pengujian kecocokan respirator secara tepat, minimal masker dengan tipe N95 atau masker yang dapat memproteksi SDM dari paparan risiko biologi maupun kimia. Gambar 4.6. Masker dan respirator e) Sarung Tangan (hand schoon/sarung tangan bahan karet, kain) Sarung tangan adalah alat yang berfungsi untuk melindungi tangan dari darah dan cairan tubuh, zatzat kimia yang digunakan, dan limbah yang ada.
29 Gambar 8. Sarung tangan
30 f) Pelindung Kaki (sepatu boots, safety shoes) Alat pelindung kaki adalah alat yang berfungsi untuk melindungi kaki dari darah, cairan tubuh, zatzat kimia yang digunakan, benturan benda keras dan tajam, serta limbah yang ada. SDM Puskesmas yang berdiri dalam jangka waktu lama ketika bekerja, perlu sepatu yang dilengkapi bantalan untuk menyokong kaki. SDM Puskesmas yang bekerja dan berhadapan dengan pekerjaan dengan risiko cidera akibat dari kejatuhan benda keras yang mengenai jari kaki disarankan memakai sepatu dengan ujung yang keras. Gambar 4.7 Alas kaki g) Jas Lab dan Apron Jas lab dan apron adalah alat yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari darah dan cairan tubuh, zat-zat kimia yang digunakan, dan limbah yang ada. Gambar 4.8 Apron
31 h) Coverall Coverall adalah alat yang berfungsi untuk melindungi seluruh tubuh dari kepala sampai kaki dari penularan melalui percikan darah ataupun cairan tubuh sangat infeksius yang masuk melalui mucous membrane atau luka. Penyediaan APD ini diutamakan pada Puskesmas yang melakukan pelayanan dengan kasus karantina atau Puskesmas dengan pandemic wabah, radiasi dan paparan bahan kimia yang sangat toksik Gambar 4.9 Coverall
32 B. Penerapan Kewaspadaan Standart 1. Hand Hygiene/Kebersihan Tangan Selain air mengalir ada 2 jenis bahan pencuci tangan yang dibutuhkan, yaitu: sabun atau deterjen dan larutan antiseptic Indikasi Kebersihan Tangan Berdasarkan pedoman WHO (2009), direkomendasikan 5 saat penting wajib menjalankan kebePuskesmasihan tangan di ruang perawatan, diperkenaikan sebagai “Five moments for hand hygiene”. Lima saat penting wajib menjalankan higiene tangan (WHO): Lima saat penting wajib menjalankan higiene tangan (WHO) : 1. sebelum kontak pasien 2. sebelum melakukan prosedur tindakan/aseptik 3. seteiah kontak cairan tubuh 4. setelah kontak pasien 5. setelah menyentuh lingkungan sekitar pasien Prosedur menjaga kebersihan tangan dengan formula berbasis alkohol: a. Tuangkan secukupnya handrub berbasis alkohol untuk dapat mengisi 1 cekungan telapak tangan (lebih kurang 1 sendok teh/3cc) b. Gosokkan larutan dengan teliti dan benar pada kedua belah tangan, khususnya di antara jari-jemari, di bawah kuku, sesuai 6 langkah cuci tangan, hingga kering dalam waktu 20-30 detik Prosedur mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir:
33 Gambar 4.10Cara Kebersihan Tangan dengan Sabundan Air ( WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care : 2009 ) Prosedur kebersihan tangan dengan larutanberbahan dasar alkohol
34 Gambar 4.11Cara Kebersihan Tangan dengan Antiseptik berbasis Alkohol ( WHO Guidelines on Hand Hygiene in Health Care : 2009 ) Sumber : Pedoman WHO, 2009 2. Alat pelindung diri (APD): sarung tangan, masker, gogle/kacamata pelindung, face shield (pelindung wajah), gaun, topi, pelindung kaki 3. Pengendalian Lingkungan a. Kebersihan Ruang di lingkungan puskesmas merupakan tindakan pembersihan secara seksama yang dilakukan teratur meliputi : b. Pembersihan dilaksanakan terhadap barang yang sering tersentuh tangan, misalnya: tepi tempat tidur dengan bed rails, tiang infus, tombol telpon, gagang pintu, permukaan meja kerja, anak kunci, dll.
35 c. Pengepelan lantai meliputi seluruh permukaan dengan disinfektan standar PUSKESMAS setiap hari mimimal 2 kali/hari d. Pembersihan sekat/ gordyn pembatas antar pasien dilakukan minimal setiap 3 bulan (bahan gordyn dipilih yang mudah dibersihkan dan tidak bergelombang) e. Pembersihan kamar mandi/ WC/ wastafel dilakukan setiap hari atau sewaktu-waktu diperlukan dengan disinfektan sesuai standar. f. Bongkaran pada ruang rawat dilakukan setiap 1 (satu) bulan atau sesuai dengan kondisi hunian ruangan. Prinsip Pembersihan lingkungan: 1) Dilaksanakan sesuai standar zonasi ruangan di Puskesmas 2) Mengusap seluruh permukaan Lingkungan dengan disinfektan standar Puskesmas 3) Untuk mencegah aerosolisasi kuman patogen penyebab infeksi pada saluran napas, hindari penggunaan sapu ijuk dan yang sejenis, tapi gunakan cara basah (kain basah) dan mop (untuk pembersihan kering/lantai), bila dimungkinkan mop terbuat dari microfiber. 4) Tidak dianjurkan menggunakan karpet di ruang perawatan dan menempatkan bunga segar, tanaman pot, bunga plastik di ruang perawatan. Pembersihan permukaan dapat dipakai klorin 0,05%, atau H2O2 0,5-1,4%, bila ada cairan tubuh menggunakan klorin 0,5%. 4. Pengelolaan Limbah Dan Benda Tajam Limbah medis secara garis besar dapat dibedakan berdasarkan pada kondisi fisiknya yaitu limbah padat dan limbah cair. Limbah padat atau sampah yang dihasilkan dari aktivitas dalam Puskesmas menurut PP no 85 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun, termasuk kategori limbah infeksius. a. Limbah Padat Medis Dalam pengelolaan sampah Puskesmas di UPT Puskesmas Kendalkerep sampah secara garis besar dibedakan menjadi Sampah Medis dan Sampah Non Medis/ Domestik. 1) Sampah Medis Menurut Depkes RI, limbah klinis berupa berbagai jenis buangan yang dihasilkan di Puskesmas dan unit-unit pelayanan kesehatan seperti pelayanan medis, perawatan gigi, farmasi atau sejenis serta limbah yang dihasilkan Puskesmas pada saat dilakukan perawatan, pengobatan. Wadah tempat penampungan sementara limbah infeksius berlambang biohazard. Wadah limbah di ruangan: a) Harus tertutup b) Mudah dibuka dengan menggunakan pedal kaki
36 c) Bersih dan dicuci setiap hari d) Terbuat dari bahan yang kuat, ringan dan tidak berkarat e) Ikat kantong plastik limbah jika sudah terisi ¾ penuh Untuk membedakan dengan Sampah Umum/ Domestik, maka Sampah Medis dimasukkan ke dalam tong sampah yang didalamnya telah dilengkapi plastik kresek warna kuning, dan ini telah disediakan Puskesmas Kendalkerep. Selanjutnya dikirim ke insenerator/ Mitra Kerja untuk dilakukan proses pembakaran.
37 2) Sampah Non-Medis Sampah non-medis adalah timbunan limbah padat pada Puskesmas yang tidak termasuk dalam golongan sampah medis. Sampah nonmedis biasanya berupa sampah domestik seperti timbunan sampah lain pada umumnya (sampah umum/ domestik). Dalam pelaksanaannya, sesuai dengan kesepakatan bersama di UPT Puskesmas Kendalkerep untuk Sampah Umum / Domestik dibedakan menjadi 2 besar, yaitu: a) Sampah Umum Basah/ Sampah Organik, terdiri dari sisa makanan, dll. b) Sampah Umum Kering/ Sampah Anorganik, terdiri dari kertas, plastik, dll. Untuk membedakan dengan Sampah Medis, maka Sampah Umum/ Domestik dimasukkan ke dalam tong sampah dengan plastik kresek warna hitam sesuai tulisan sampah basah atau sampah kering, dan ini telah disediakan Puskesmas Kendalkerep. Pengolahan Limbah • Limbah infeksius dimusnahkan dengan insenerator/ Mitra Kerja. • Limbah non-infeksius dibawa ke tempat pembuangan akhir (TPA). • Limbah benda tajam dimusnahkan dengan insenerator. • Limbah feces, urin, darah dibuang ke tempat pembuangan (IPAL/ Septic tank) 3) Penanganan Limbah Benda Tajam/ Pecahan Kaca a) Jangan menekuk atau mematahkan benda tajam. b) Jangan meletakkan limbah benda tajam sembarang tempat. c) Segera buang limbah benda tajam ke wadah yang tersedia tahan tusuk dan tahan air dan tidak bisa dibuka lagi. d) Selalu buang sendiri oleh si pemakai. e) Tidak menyarungkan kembali jarum suntik habis pakai (recapping). f) Wadah benda tajam diletakkan dekat lokasi tindakan. g) Bila menangani limbah pecahan kaca gunakan sarung tangan rumah tangga. Wadah Penampung Limbah Benda Tajam a) Tahan bocor dan tahan tusukan b) Harus mempunyai pegangan yang dapat dijinjing dengan satu tangan c) Mempunyai penutup yang tidak dapat dibuka lagi d) Bentuknya dirancang agar dapat digunakan dengan satu tangan e) Ditutup dan diganti setelah 2/3 bagian terisi dengan limbah f) Ditangani bersama limbah medis
38 Gambar 4.12. Safety box Gambar 4.13Alur Tata Kelola Limbah b. Limbah Cair Medis 1) Sumber Limbah Secara umum limbah Cair Medis dari suatu kegiatan Puskesmas dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu air limbah medis yang besifat infeksius dan air limbah domestik yang besifat non-infeksius. Sumber – sumber air limbah dari kegiatan operasional Puskesmas antara lain: a) Air Limbah dari kamar mandi dan cuci. b) Air Limbah Laundry c) Air Limbah laboratorium 2) Pengolahan Limbah Cair Tujuan pengolahan air limbah:
39 a) Menghilangkan bahan tesuspensi dan terapung dalam air limbah b) Penghilangan atau pengurangan bahan organik biodegradable, (mengurangi kandungan BOD sekaligus COD) c) Penghilangan kandungan nutrien (N & P removal) d) Menghilangkan atau mengeliminasi mikroorganisme patogen e) Menghilangkan kandungan bahan – bahan anorganik. 3) Pengolahan limbah Puskesmas Kendalkerep dilakukan Pengolahan secara individual (On-site treatment) menggunakan IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah) dan “Septik Tank” untuk dark water. 4) Penanganan Tumpahan Darah a) Pasang tanda peringatan; b) Siapkan spill kit; c) Gunakan APD sesuai kebutuhan: sarung tangan RT, masker, pelindung kaki (bila tumpahan banyak gunakan juga celemek/ apron); d) Lokalisir tumpahan dan tutup tumpahan menggunakan bahan yang menyerap (Underpad). Selanjutnya bahan dicakup menggunakan penjepit dan langsung dimasukkan dalam kantong plastik kuning (limbah infeksius); e) Tuangkan bekas tumpahan dengan khlorin 0,5% f) Serap dengan underpad g) Tuangkan bekas tumpahan dengan air sabun, Serap dengan underpad h) Masukkan mop/ lap basah ke dalam larutan air disinfektan i) Ikat plastik kuning, masukkan ke dalam tempat sampah medis j) APD dilepas, dikelola sesuai standar k) Petugas mencuci tangan pasca penanganan tumpahan selesai C. Penerapan Prinsip Ergonomi Tujuan penerapan ergonomi adalah agar SDM Puskesmas dapat bekerja secara aman, nyaman, sehat, efektif, efisien dan produktif. SDM Puskesmas berpotensi mengalami cedera dari bahaya ergonomi pada saat penanganan (handling), mengangkat, mendorong, dan memindahkan atau merubah posisi, duduk tidak ergonomis, posisi berdiri lama, posisi statis, gerakan berulang dan posisi yang tidak ergonomi. Risiko ergonomi di Puskesmas terkait erat dengan reposisi pasien dari tempat tidur ke tempat tidur lain, dari kursi ke tempat tidur, dari lantai ke tempat tidur, transportasi pasien, termasuk membersihkan dan memandikan pasien, pemberian asuhan pelayanan dan tindakan medis seperti tindakan operasi, pelayanan kesehatan gigi, pelayanan kebidanan dan lain lain. Penerapan prinsip ergonomi merupakan upaya penyesuaian pekerjaan dengan manusia, serta
40 bagaimana merancang tugas, pekerjaan, peralatan kerja, informasi, serta fasilitas di lingkungan kerja. Ruang lingkup yang harus dilaksanakan sesuai persyaratan ergonomi di Puskesmasmeliputi: 1. Penanganan Beban Manual (Manual Handling) Standar berat objek yang boleh diangkat secara manual tergantung dari letak obyek berada, dengan rincian sebagai berikut: Gambar 4.14 Beban manual Penanganan beban manual di Fasyakes sebagian besar terkait dengan kegiatan memindahkan pasien (mengangkat, mendorong dan memindahkan), contoh kegiatan memindahkan pasien di tempat tidur sesuai dengan prosedur sebagai berikut: a. Sesuaikan tinggi tempat tidur dengan pinggang b. Pastikan tempat tidur/brankar terkunci c. Badan tidakmelintir sebagian dalammenolong, putar badan secara keseluruhan d. Tekuk kaki untuk penyesuaian bukan membungkukkan punggung (tulang punggung posisi netral) e. Ukur kemampuan untuk menolong, upayakan ada penolong atau bantuan. 2. Postur Kerja Postur kerja dalam memberikan asuhan pelayanan di Puskesmas merupakan salah satu faktor risiko ergonomi yang menyebabkan gangguan kesehatan jika tidak melakukan proses kerja yang ergonomi.
41 Postur kerja dalam keadaan duduk harus memperhatikan beberapa hal berikut agar dapat bekerja dengan nyaman: a. Pada saat duduk, posisikan siku sama tinggi dengan meja kerja, lengan bawah horizontal dan lengan atas menggantung bebas. b. Atur tinggi kursi sehingga kaki Anda bisa diletakkan di atas lantai dengan posisi datar. Jika diperlukan gunakan footrest terutama bagi SDM yang bertubuh mungil. c. Sesuaikan sandaran kursi sehingga punggung bawah Anda ditopang dengan baik. d. Atur meja kerja supaya mendapatkan pencahayaan yang sesuai. Hal ini untuk menghindari silau, pantulan cahaya dan kurangnya pencahayaan dengan Nilai Ambang Batas peruntukan pekerjaan yang dilakukan. e. Pastikan ada ruang yang cukup di bawah meja untuk pergerakan kaki. f. Hindari tekanan berlebihan dari ujung tempat duduk pada bagian belakang kaki dan lutut. g. Letakkan semua dokumen dan alat yang diperlukan dalam jangkauan Anda. Penyangga dokumen (document holder), alat dan bahan dapat digunakan untuk menghindari pergerakan mata dan leher yang janggal. Postur kerja dalam keadaan posisi duduk tersebut selengkapnya dapat mengacu kepada peraturan perundang- undangan yang mengatur mengenai standar keselamatan dan kesehatan kerja perkantoran. Postur kerja dalam keadaan berdiri harus memperhatikan beberapa hal berikut: a. Postur berdiri yang baik adalah posisi tegak garis lurus pada sisi tubuh mulai dari telinga bahu pinggul dan mata kaki. b. Posisi berdiri sebiknya berat badan bertumpu secara seimbang dua kaki c. Postur berdiri sebaiknya tidak dilakukan dalam jangka waktu yang lama (+<1 jam atau <4 jam sehari) untuk menghindari kerja otot yang statik, jika prostur kerja dilakukan berdiri sebaiknya sedinamis mungkin. d. Jaga punggung dalam posisi netral. e. Jika pekerjaan berdiri dilakukan dalam jangka waktu lama, maka perlu ada foot step (pijakan kaki) untuk mengistirahatkan salah satu kaki secara bergantian. f. Perlu disediakan tempat duduk untuk istirahat sejenak
42 Berdasarkan uraian tersebut di atas, secara khusus contoh postur kerja yang ergonomi bagi bidan atau tenaga kesehatan penolong persalinan yaitu: 1) Posisi penolong berdiri dengan fisiologi 2) Kaki rata dengan lantai 3) Gunakan sepatu tahan slip 4) Atur posisi berdiri dekat dengan proses kelahiran 5) Jika harus menunduk harus kurang 20o dan dengan kaki menekuk dari pinggan sampai lutut bukan punggung. 6) Pada proses mengeluarkan bayi atau jahit/hetching menggunakan bangku untuk footstep 7) Guna bangku khusus/tangga untuk menggapai benda dan alat kerja yang lebih tinggi. 8) Minta bantuan asisten jika berat bayi atau benda diangkat melebihi standar 9) Lakukan olahraga seperti senam, berenang, joging secara teratur untuk meningkatkan dan mempertahankan kekuatan fisik. 3. Cara Kerja Dengan Gerakan Berulang Gerakan berulang yaitu: a. Pekerjaan manual handling dilakukan jika >12x per menit dengan beban < 5 kg, contoh: petugas kebersihan. b. Pekerjaan yang dilakukan dengan menggunakan pergelangan tangan dan jari >20x permenit, contoh: petugas administrasi, petugas farmasi, dokter gigi, perawat. Untuk mengurangi gerakan berulang merancang kembali cara dan prosedur kerja yang lebih efektif, meningkatkan waktu jeda antara aktifitas pengulangan atau mengganti dengan pekerjaan yang lain. 4. Shift Kerja Shift kerja harus memperhatikan durasi kerja yang sesuai dengan peraturan yaitu 40 jam per minggu, sehingga shift kerja yang disarankan sebaiknya yang 3 shift dengan masing-masing shift 8 jam kerja selama 5 hari kerja per minggu atau sesuai peraturan yang ada. 5. Durasi Kerja Durasi kerja untuk setiap karyawan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan antara lain: a. 7 (tujuh) jam 1 (hari) dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 6 (enam) hari kerja dalam 1 (satu) minggu atau 8 (delapan) jam 1 (hari) dan 40 (empat puluh) jam 1 (satu) minggu untuk 5 (lima) hari kerja dalam 1 (satu) minggu. b. Jika terdapat kerja lembur harus mendapat persetujuan sumber daya