Ajaran Panca
Sradha
Sebagai Penguat Keyakinan
Oleh : Luh Putu Novi Ernawati,S.Pd.H
Panca Sradha
01 Keyakinan Dalam 02 Bagian-Bagian
Agama Hindu Panca Sradha
03 Contoh Bagian
Panca Sradha
01
Keyakinan Agama
Hindu
Keyakinan Dalam Agama Hindu
Agama Hindu memiliki keyakinan yang sangat mendasar yang dipegang teguh keyakinannya.
Setiap umat hendaknya meyakini akan kebenaran isi kitab suci, tidak ada keragu-raguan,
menghayati dan serta mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Agama Hindu sendiri
mengenal adanya keyakinan yang disebut Panca Sradha.
Secara Etimologi Panca Sradha berasal dari kata Panca dan Sradha
Panca berarti Lima dan Sradha berarti keyakinan. Jadi Panca Sradha adalah lima keyakinan yang
dimiliki umat Hindu
“Api pengorbanan (persembahan) di nyalakan dengan
keyakinan yang mantap (sradha). Persembahan
dihaturkan dengan hati yang mantap (sradha) yang
memiliki nilai dalam kemakmuran”
— Sloka Rg. Weda
02
Bagian Panca
Sradha
Bagian-Bagian Panca Sradha
Panca Sradha merupakan siklus kehidupan yang kompleks dan saling berhubungan satu dengan
yang lainnya. Bagian-bagian dari Panca Sradha adalah sebagai berikut :
1. Widhi Tattwa atau Widhi Sradha yaitu keyakinan terhadap adanya Sang Hyang Widhi dengan
berbagai manifestasinya
2. Atma Tattwa atau Atma Sradha keyakinan terhadap adanya Atmayang menghidupi semua
makhluk
3. Karma Phala Tattwa atau Karmaphala Sradha keyakinan tentang adanya hokum sebab akibat
4. Punarbhawa Tattwa atau Punarbhawa Sradha yaitu keyakinan terhadap kelahiran kembali
5. Moksa Tattwa atau Molsa Sradha keyakinan terhadap kebebasan yang tertinggi
Perhatikan
Gambar disamping merupakan
siklus dari Panca Sradha
03
Contoh Bagian
Panca Sradha
Widhi Tattwa/Widhi Sradha
Hyang Widhi adalah yang menakdirkan, maha kuasa, dan pencipta semua yang ada. Kita
percaya bahwa beliau ada, meresap di semua tempat dan mengatasi semuanya “ Wyapi
Wyapaka Nirwikara “
Di dalam kitab Brahman Sutra dinyatakan “ Jan Ma Dhyasya Yatah “ artinya Hyang Widhi adalah
asal mula dari semua yang ada di alam semesta ini. Dari pengertian tersebut bahwa Hyang
Widhi adalah asal dari segala yang ada. Kata ini diartikan semua ciptaan, yaitu alam semesta
beserta isinya termasuk Dewa – dewa dan lain – lainnya berasal dan ada di dalam Hyang
Widhi. Tidak ada sesuatu di luar diri beliau. Penciptaan dan peleburan adalah kekuasaan beliau.
Agama Hindu mengajarkan bahwa Hyang Widhi Esa adanya tidak ada duanya. Hal ini
dinyatakan dalam beberapa kitab Weda antara lain :
1. Dalam Chandogya Upanishad dinyatakan : “ Om tat Sat Ekam Ewa Adwityam Brahman “
artinya Hyang Widhi hanya satu tak ada duanya dan maha sempurna
2. Dalam mantram Tri Sandhya tersebut kata – kata :
“ Eko Narayanad na Dwityo Sti Kscit “
artinya hanya satu Hyang Widhi dipanggil Narayana, sama sekali tidak ada duanya.
Atma Tattwa/Atma Sradha
Atma berasal dari Hyang Widhi yang memberikan hidup kepada semua mahluk. Atma atau
Sang Hyang Atma disebut pula Sang Hyang Urip. Manusia, hewan dan tumbuhan adalah
mahluk hidup yang terjadi dari dua unsur yaitu badan dan atma.
Badan adalah kebendaan yang terbentuk dari lima unsur kasar yaitu Panca Maha Butha. Di
dalam badan melekat indria yang jumlahnya sepuluh ( Dasa Indria )
Atma adalah yang menghidupkan mahluk itu sendiri, sering juga disebut badan halus . atma
yang menghidupkan badan manusia disebut “ Jiwatman “
Badan dengan atma ini bagaikan hubungan Kusir dengan Kereta. Kusir adalah atma, dan
kereta adalah badan. Indria yang ada pada badan kita tidak akan ada fungsinya apabila tidak
ada atma. Misalnya, mata tidak dapat digunakan untuk pengelihatan jika tidak dijiwai oleh
atma. Telinga tidak dapat digunakan untuk pendengaran jika tidak dijiwai oleh atma.
Atma Tattwa/Atma Sradha
Atma yang berasal dari Hyang Widhi mempunyai sifat “ Antarjyotih “ ( bersinar tidak ada yang
menyinari, tanpa awal dan tanpa akhir, dan sempurna ). Dalm kitab Bhagadgita disebut sifat –
sifat atma sebagai berikut :
– Achodyhya artinya tak terlukai oleh senjata
– Adahya artinya tak terbakar oleh api
– Akledya artinya tak terkeringkan oleh angin
– Acesyah artinya tak terbasah oleh air
– Nitya artinya abadi, kekal
– Sarwagatah artinya ada dimana – mana
– Sthanu artinya tak berpindah – pindah
– Acala artinya tak bergerak
– Sanatana artinya selalu sama
– Adyakta artinya tak terlahirkan
– Achintya artinya tak terpikirkan
– Awikara artinya tak berjenis kelamin
Atma Tattwa/Atma Sradha
Jelaslah atma itu sifatnya sempurna. Tetapi pertemuan antara atma dengan badan yang
kemudian menimbulkan ciptaan menyebabkan atma dalam keadaan “ Awidhya “. Awidhya
artinya gelap lupa kepada kesadaran . Awidhya muncul karena pengaruh unsur panca maha
butha yang mempunyai sifat duniawi. Sehingga dalam hidup ini atma dalam diri manusia di
dalam keadaan awidhya.
Dalam keadaan seperti ini kita hidup kedunia bertujuan untuk menghilangkan awidhya untuk
meraih kesadaran yang sejati dengan cara melaksanakan Subha karma. Menyadari sifat atma
yang serba sempurna dan penuh kesucian menimbulkan usaha untuk menghilangkan
pengaruh awidhya tadi. Karena apabila manusia meninggal kelak hanya badan yang rusak,
sedangkan atmanya tetap ada kembali akan mengalami kelahiran berulang dengan
membawa “ Karma Wasana “ ( bekas hasil perbuatan ). Oleh karena itu, manusia lahir kedunia
harus berbuat baik atas dasar pengabdian untuk membebaskan Sang Hyang Atma dari ikatan
duniawi. Sesungguhnya jika tidak ada pengaruh duniawi Hyang Widhi dan Atma itu adalah
tunggal adanya ( Brahman Atman Aikyam )
Karma Plaha Tattwa/Karma Phala Sradha
Setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia ini baik atau buruk akan memberikan hasil. Tidak
ada perbuatan sekecil apapun yang luput dari hasil atau pahala, langsung maupun tidak
langsung pahala itu pasti akan datang.
Kita percaya bahwa perbuatan yang baik atau Subha karma membawa hasil yang
menyenangkan atau baik. Sebaliknya perbuatan yang buruk atau Asubha karma akan
membawa hasil yang duka atau tidak baik.
Perbuatan – perbuatan buruk atau Asubha karma menyebabkan Atma jatuh ke Neraka, dimana
ia mengalami segala macam siksaan. Bila hasil perbuatan jahat itu sudah habis terderita, maka
ia akan menjelma kembali ke dunia sebagai binatang atau manusia sengsara ( Neraka Syuta ).
Namun, bila perbuatan – perbuatan yang dilakukan baik maka berbagai kebahagiaan hidup
akan dinikmati di sorga. Dan bila hasil dari perbuatan – perbuatan baik itu sudah habis
dinikmati, kelak menjelma kembali ke dunia sebagai orang yang bahagia dengan mudah ia
mendapatkan pengetahuan yang utama.
Karma Plaha Tattwa/Karma Phala Sradha
Jika dilihat dari sudut waktu, Karma phala dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu :
– Sancita karma phala
Adalah hasil dari perbuatan kita dalam kehidupan terdahulu yang belum habis dinikmati dan
masih merupakan benih yang menentukan kehidupan kita sekarang. Bila karma kita pada
kehidupan yang terdahulu baik, maka kehidupan kita sekarang akan baik pula ( senang,
sejahtera, bahagia ). Sebaliknya bila perbuatan kita terdahulu buruk maka kehidupan kita yang
sekarang inipun akan buruk ( selalu menderita, susah, dan sengsara )
– Prarabda karma phala
Adalah hasil dari perbuatan kita pada kehidupan sekarang ini tanpa ada sisanya, sewaktu
masih hidup telah dapat memetik hasilnya, atas karma yang dibuat sekarang. Sekarang
menanam kebijaksanaan dan kebajikan pada orang lain dan seketika itu atau beberapa waktu
kemudian dalam hidupnya akan menerima pahala, berupa kebahagiaan. Sebaliknya sekarang
berbuat dosa, maka dalm hidup ini dirasakan dan diterima hasilnya berupa penderitaan akibat
dari dosa itu.
Prarabda karma phala dapat diartikan sebagai karma phala cepat.
Karma Plaha Tattwa/Karma Phala Sradha
– Kriyamana karma phala
Adalah pahala dari perbuatan yang tidak dapat dinikmati langsung pada kehidupan saat
berbuat. Tetapi, akibat dari perbuatan pada kehidupan sekarang akan dan di terima pada
kehidupan yang akan datang, setelah orangnya mengalami proses kematian serta pahalanya
pada kelahiran berikutnya. Apabila karma pada kehidupan yang sekarang baik maka pahala
pada kehidupan berikutnya adalah hidup bahagia, dan apabila karma pada kehidupan
sekarang buruk maka pahala yang kelak diterima berupa kesengsaraan.
Tegasnya cepat atau lambat, dalam kehidupan sekarang atau nanti, segala pahala dari
perbuatan itu pasti diterima karena sudah merupakan hukum. Kita tidak dapat menghindari
hasil perbuatan kita itu baik atau buruk. Maka kita selaku manusia yang dilengkapi dengan
bekal kemampuan berpikir, patutlah sadar bahwa penderitaan dapat diatasi dengan memilih
perbuatan baik. Manusia dapat berbuat atau menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan
jalan berbuat baik, demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.
Punarbhawa Tattwa/ Punarbhawa Sradha
Punarbhawa yang artinya lahir kembali ke dunia secara berulang – ulang. Kelahiran kembali ini
terjadi karena adanya atma masih diliputi oleh keinginan dan kemauan yang berhubungan
dengan keduniawian.
Kelahiran dan hidup ini sesungguhnya adalah sengsara, sebagai hukuman yang diakibatkan
oleh perbuatan atau karma di masa kelahiran yang lampau. Jangka pembebasan diri dari
samsara, tergantung pada perbuatan baik kita yang lampau ( atita ) yang akan datang (
nagata ) dan sekarang ( wartamana ).
Pembebasan dari samsara berarti mencapai penyempurnaan atma dan mencapai moksa
yang dapat dicapai di dunia ini juga. Pengalaman kehidupan samsara ini dialami oleh Dewi
Amba dalam cerita Mahabharata yang lahir menjadi Sri Kandi.
Selanjutnya keyakinan adanya Punarbhawa ini akan menimbulkan tindakan sebagai berikut :
– Pitra Yadnya
Yaitu memberikan korban suci terhadap leluhur kita, karena kita percaya leluhur itu masih hidup
di dunia ini yang lebih halus.
– Pelaksanaan dana Punya ( amal saleh ), karena perbuatan ini membawa kebahagiaan
setelah meninggal.
– Berusaha menghindari semua perbuatan buruk karena jika tidak, akan membawa ke
alam neraka atau menglami kehidupan yang lebih buruk lagi.
Moksa Tattwa/Moksa Sradha
Moksa berarti kebebasan. Kamoksan berarti kebebasan yaitu bebas dari pengaruh ikatan
duniawi, bebas dari karma phala, bebas dari samsara, dan lenyap dalam kebahagiaan yang
tiada tara. Karena telah lenyap dan tidak mengalami lagi hukum karma, samsara, maka alam
kamoksam itu telah bebas dari urusan – urusan kehidupan duniawi, tidak mengalami kelahiran
lagi ditandai oleh kebaktian yang suci dan berada pada alam Parama Siwa.
Alm moksa sesungguhnya bisa juga dicapai semasa masih kita hidup di dunia ini, keadaan
bebas di alam kehidupam ini disebut Jiwan Mukti atau moksa semasa masih hidup.
Moksa sering juga diartikan berstunya kembali atma dengan Parama Atma di alam Parama
Siwa. Dialam ini tiada kesengsaraan, yang ada hanya kebahagiaan yang sulit dirasakan dalam
kehidupan di dunia ini ( Sukha tan pawali Duhka ).
Syarat utama untuk mencapai alam moksa ini ialah berbhakti pada dharma, berbhakti dengan
pikiran suci. Kesucian pikiran adalah jalan utama untuk mendapatkan anugrah utama dari
Sang Hyang Widhi Wasa. Hal ini dapat dibandingkan dengan besi yang bersih dari karatan,
maka dengan mudah dapat ditarik oleh magnet. Tetapi besi itu kotor penuh dengan karatan
maka sangat sukar dapat ditarik oleh magnet.
Moksa merupakan tujuan akhir yang harus diraih oleh setiap orang menurut ajaran agama
Hindu. Tujuan tersebut dinyatakan dengan kalimat “ Mokharatam Jagadhita ya ca iti Dharma “.
Moksa sebagai tujuan akhir dapat dicapai melalui empat jalan yang disebut Catur Marga yang
terdiri dari :
– Bhakti Marga ( jalan Bhakti )
– Karma Marga( jalan Perbuatan )
– Jnana Marga( Jalan Ilmu Pengetahuan )
Kesimpulan
Panca sradha adalah lima keyakinan dan
kepercayaan Agama Hindu yang menjadi
dasar kepercayaan dalam menjalani Hidup
Terimakasih
Membaca adalah kunci dari pengetahuan