The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by ernavie, 2021-07-28 09:52:28

Bahan Bacaan Punarbhawa

Bahan Bacaan Punarbhawa

Punarbhawa

By
Luh Putu Novi Ernawati, S.Pd.H
Guru Agama Hindu
SD Negeri 26 Dangin Puri

PENGERTIAN SURGA CYUTA DAN NERAKA CYUTA

Agama Hindu, mengajarkan setelah kematian akan ada alam lain
(neraka, surga, dan moksa). Keadaan alam setelah kematian hampir
sama dengan keadaan alam dunia. Kelahiran manusia ke dunia juga
berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh bekas perbuatannya
(karma wasana), ada yang lahir dalamkeadaancacat,sempurna,kaya,
miskin, cantik, tidak cantik, tampan, dan tidak tampan serta yang lain.
Perbuatan itulah yang menyebabkan manusia dilahirkan dari surga atau
neraka.

PENGERTIAN SURGA CYUTA

Surga Çyuta adalah seseorang yang terlahir dari surga. Orang tersebut
terlahir dari surga, karena dalam hidupnya selalu menjalankan
dharma. Dharma mengajarkan kita untuk menghargai sesama
makhluk, berbuat kebajikan, suka menolong, welas asih, dan selalu
mendekatkan diri ke hadapan Sang Hyang Widhi. Jika sudah menaati
dharma, maka orang tersebut ditempatkan di Surga Loka.

PENGERTIAN NERAKA CYUTA

Neraka Çyuta adalah seseorang yang terlahir dari neraka. Orang
tersebut terlahir dari neraka karena dalam kehidupan
masalampaunya selalu melakukan perilaku buruk (adharma). Mereka
suka berbohong, durhaka kepada kedua orang tua, suka mencuri,
malas, mencontek, korupsi, berlaku kasar serta segala perbuatan yang
merugikan orang lain, dan tidak dibenarkan oleh agama.

Atas perbuatannya yang buruk itu, maka mereka akan dimasukkan
ke neraka loka. Setelah menikmati hasil perbuatannya di neraka,
mereka akan menjelma kembali ke mayapada atau bhumi. Kelahiran
manusia dari neraka loka disebut dengan Neraka Cyuta, (Duwijo dan
Susila, 2014: 2).

CIRI-CIRI KELAHIRAN SURGA CYUTA

1. KELAHIRAN SURGA
Seseorang yang terlahir dari surga disebut Surga Çyuta. Orang tersebut
terlahir dari surga, karena dalam hidupnya selalu menjalankan dharma.
Dharma mengajarkan kita untuk menghargai sesama makhluk, berbuat
kebajikan, suka menolong, welas asih, dan selalu mendekatkan diri
kehadapan Sang Hyang Widhi. Jika sudah menaati dharma, maka orang
tersebut ditempatkan di Surga Loka. Adapun ciri-ciri orang yang terlahir
dari Surga adalah sebagai berikut. Menurut Slokantara, manusia yang
dilahirkan dari Surga Çyuta memiliki ciri- ciri, seperti tak gentar, suci hati,

1

bijaksana, dermawan atau murah hati, mempelajari sastra, tenang,
lemah lembut, berbudi luhur, tidak iri hati, tidak sombong, dan penyabar.

2. KELAHIRAN NEKARA

Seseorang yang terlahir dari neraka disebut Neraka Çyuta. Orang
tersebut terlahir dari neraka karena dalam kehidupan masa lampaunya
selalu melakukan perilaku buruk, atau perilaku tidak terpuji adharma.
Mereka suka berbohong, durhaka kepada kedua orang tua, suka mencuri,
malas, mencontek, korupsi, berlaku kasar, serta segala perbuatan yang
tidak baik, dan merugikan orang lain, dan tidak dibenarkan oleh agama.
Atas perbuatannya yang buruk itu, maka mereka akan dimasukkan ke
neraka loka. Setelah menikmati hasil perbuatannya di neraka, mereka
akan menjelma kembali ke mayapada atau bhumi. Kelahiran manusia
dari neraka loka disebut dengan Neraka Cyuta. Ciri-ciri orang yang
terlahir dari neraka adalah sebagai berikut: Menurut Slokantara,
manusia yang dilahirkan dari Neraka Çyuta memiliki ciri-ciri, seperti bisu,
sumbing, tuli, sakit ayan, gila, lepra, lumpuh, dan buta

PUNARBHAVA SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KUALITAS HIDUP

Dalam kehidupan di dunia ini selalu ada dua hal yang saling berbeda
Rwa Bhinneda ada yang cantik, ada yang buruk rupa, ada yang kaya
ada juga yang miskin, ada yang hidupnya bahagia ada yang hidupnya
tidak bahagia, ada yang terlahir sempurna ada yang kurang
sempurna isiknya atau cacat tubuh dan lain lain. Perbedaan ini
disebabkan oleh perbuatankarma masa lalunya. Setiap perbuatan
yang dilakukan atas dorongan indria dan kenafsuan adalah perbuatan
buruk yang disebut Asubha Karma. Perbuatan tersebut akan
mendatangkan dosa yang menyebabkan orang tersebut kelak akan
terlahir dalam kehidupan yang lebih rendah. Seringkali kita temui ada
orang yang terlahir cacat tubuhnya, seperti tidak punya tangan,
matanya buta, tidak mempunyai kaki. Betapa kurang beruntungnya
orang tersebut. Itu semua disebabkan akibat buah perbuatan masa
lalunya yang menimbulkan bekas perbuatan Karma Wasana pada
atma. Nantinya karma wasana itulah yang akan menentukan hidup
kita di masa yang akan datang. Dengan demikian tingkat kelahiran
manusia berbeda-beda sesuai dengan jenis subha dan asubha
karmanya. Atma yang lahir ke dunia ini membawa karma wasana
bekas perbuatan masing-masing yang mengakibatkan kelahiran
berulang-ulang dan membawa akibat suka dan duka. Bila belenggu
karma wasana ini telah habis, maka atma akan dapat bersatu dengan
asalnya, yaitu Brahman dan tidak lahir kembali yang disebut Moksa.
Kelahiran yang berulang-ulang merupakan kesempatan baik bagi
kita untuk meningkatkan kualitas hidup kita untuk membebaskan

2

atma dari belenggu kesengsaraan, karena kelahiran dan hidup kita di
dunia ini adalah suatu penderitaan sebagai hukuman akibat karma
kita di masa yang lampau. Kesempatan kita menjelma saat ini adalah
kesempatan untuk melakukan perbuatan baik atau buruk, sedangkan
di alam sana sorganeraka adalah tempat untuk menerima hasil
perbuatan kita. Orang yang selalu berbuat baik, kelak ia akan lahir
menjadi orang yang berguna, berkedudukan tinggi, dan berderajat
mulia. Tentang keutamaan terlahir sebagai manusia kitab
Sarasamuscaya sloka 2-8 menegaskan, sebagai berikut: “Diantara
semua makhluk hidup, hanya yang dilahirkan sebagai manusia sajalah,
yang dapat melaksanakan perbuatan baik ataupun buruk, leburlah
ke dalam perbuatan baik, segala perbuatan yang buruk itu,
demikianlah gunanya pahalanya menjadi manusia”. SS.2 Kelas IV SD 6
“Oleh karena itu, janganlah sekali-kali bersedih hati; sekalipun
hidupmu tidak makmur; dilahirkan menjadi manusia itu, hendaklah
menjadikan kamu berbesar hati, sebab amat sukar untuk dapat
dilahirkan menjadi manusia, meskipun kelahiran hina sekalipun”. SS.3
“Menjelma menjadi manusia itu adalah sungguh-sungguh utama;
sebabnya demikian, karena ia dapat menolong dirinya dari keadaan
sengsara lahir dan mati berulang-ulang dengan jalan berbuat baik;
demikianlah keuntungannya dapat menjelma menjadi manusia.” SS.4
“Adalah orang yang tidak mau melakukan perbuatan baik, orang
semacam itu dianggap sebagai penyakit yang menjadi obat neraka-
loka; apabila ia meninggal dunia, maka ia dianggap sebagai orang
sakit yang pergi ke suatu tempat di mana tidak ada obat-obatan,
kenyataannya ia selalu tidak dapat memperoleh kesenangan dalam
segala perbuatannya.” SS.5 “Kesimpulannya, pergunakanlah dengan
sebaik-baiknya kesempatan menjelma sebagai manusia ini,
kesempatan yang sungguh sulit diperoleh, yang merupakan tangga
untuk pergi ke sorga; segala sesuatu yang menyebabkan agar tidak
jatuh lagi, itulah hendaknya dilakukan.” SS.6 Demikian keuntungan
terlahir sebagai manusia yang ditegaskan dalam kitab suci tersebut, ini
merupakan kesempatan yang baik untuk selalu berbuat baik agar
hidup kita semakin baik. Diantara kalian, adakah yang ingin menjadi
orang yang berguna dan hidup bahagia nanti? Berjanjilah dalam
hatimu “Saya akan selalu berbuat baik agar hidup saya lebih baik
kelak”. Ingatlah selalu beberapa hal di bawah ini 1. Selalu taat dan
bhakti kepada kedua orang tuamu yang telah melahirkan, merawat,
mendidik, dan membesarkanmu. 2. Selalu melaksanakan sembahyang
sebagai kewajiban hidup 3. Sesuatu yang baik itu adalah sesuatu yang
dibenarkan dalam ajaran agama. 4. Belajar dengan rajin, dan
mentaati semua peraturan yang berlaku 5. Kebaikan yang dilakukan
hendaknya dilandasi dengan dharma. 6. Sikap toleran dan tenggang
rasa 7. Berbuat baik adalah kewajiban kita semua. 7 Pendidikan
Agama Hindu dan Budi Pekerti

3

PENGERTIAN PUNARBHAWA
PUNARBHAWA ATAU REINKARNASI MENURUT HINDU

Dalam bahasa Sansekerta reinkarnasi disebut
sebagai Punarbhawa. Kata tersebut berasal dari bahasa
Sansekerta, yaitu Punar artinya “lagi”, sedangkan Bhawa artinya
“menjelma”. Maka dengan demikian Punarbhawa memiliki arti

kelahiran kembali yang berulang-ulang . Punarbhawa
atau Samsara adalah bagian keempat dari Panca Sradha sebagai
dasar keyakinan Umat Hindu . Pengertian sederhananya adalah,
bahwa pada saat seseorang meninggal dunia maka jiwatman (roh)
akan melepaskan badan jasmaninya (stula sarira), menuju sorga
atau neraka. Untuk meningkatkan kualitas jiwatman maka

setelah waktu tertentu jiwatman kembali kedunia melalui proses

kelahiran dengan menggunakan badan jasmani yang baru. Proses

jiwatman meninggalkan jasmani dalam Agama Hindu
disebut stula sarira kemudian lahir kembali menggunakan jasmani

yang baru, inilah yang disebut dengan Punarbhawa

Kelahiran kembali dalam ajaran agama Hindu merupakan
sesuatu hal yang ditunggu karena berhubungan dengan
karmaphala yang kita perbuat di kehidupan masa lalu dan
Jiwatman yang masih dipengaruhi oleh kenikmatan, dan kematian

akan diikuti oleh kelahiran. Akan tetapi Kelahiran kembali juga
harus dihindari karena merupakan penghambat dari tujuan
agama Hindu yaitu moksa yang merupakan kelepasan atau
kebebasan atma (roh) dari ikatan duniawi dan lepas juga dari
putaran Reinkarnasiatau Punarbawa kehidupan, selanjutnya atma
(roh) tersebut akan Kembali bersatu dengan Brahman (Tuhan
Yang Maha Esa) yang kekal dan abadi.

4

Kelahiran kembali memiliki hubungan yang erat dengan ajaran Tri
Rna yaitu tiga hutang yang harus dibayar sehubungan dengan
keberadaan kita. Pertama yaitu Dewa Rna merupakan hutang
yang harus dibayar kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
menyebabkan kita ada di dunia ini. Rna yang kedua yaitu hutang
yang harus dibayar manusia kepada leluhur termasuk orang tua
kita, karena jasa para Leluhur dan orang Tua kita yang
sehubungan dengan kelahiran kita serta perhatiannya semasa
hidup. Rna yang ketiga yaitu Hutang yang harus dibayar kepada
para Rsi, pendeta, dan para guru lainya atas bimbingannya selama
ini dan mendidik manusia untuk belajar kebenaran. Ketiga hutang
tersebut harus dibayar dengan perbuatan-perbuatan yang baik
pada kehidupan sekarang ini. Contohnya perbutan sederhana
yang harus dilakukan untuk membayar hutang tersebut yaitu
yang pertama hutang kepada Tuhan, dilakukan dengan cara rajin
sembahyang dan saling menghormati, saling menyayangi sesama
mahluk ciptaan Tuhan. Hutang kepada para leluhur yaitu dengan
jalan menghormati dan selalu mengingat leluhur kita dimanapun
kita berada dan apapun yang kita kerjakan serta dengan
menghormati dan menyayangi kedua orang tua kita. Hutang yang
ketiga yaitu hutang kepada para Rsi atau para guru dengan cara
menghormati dan melaksanakan ajaran-ajaran serta tugas-tugas
yang mereka berikan dengan baik dan penuh rasa tanggung
jawab.

Beberapa fakta di dunia bahwa manusia mampu mengingat
secara sadar kehidupannya sebelum kelahirannya saat ini.
Menurut buku “Reinkarnasi, hidup tidakk pernah mati” oleh
Anadas Ra (2007 : 43) Di Delhi, seorang gadis kecil bernama Shanti
Dewi memberi gambaran yang jelas mengenai kehidupannya di
masa lampau. Ia sanggup mengenali suami dan anaknya pada
kelahiran sebelumnya, ketika ia tinggal di Mathura. Ia
menunjukkan di mana uangnya disimpan dan sebuah sumur tua
yang sekarang sudah tertutup. Semua pernyataannya dibenarkan
dan didukung oleh sejumlah saksi. Cameron Macaula, seorang anak
yang mampu menceritakan kehidupan masa lampaunya. Harian
Inggris The Sun telah memuat di internet berita tentang seorang
anak lelaki yang bisa mengingat masa lampaunya. Anak lelaki
berusia 6 tahun yang bernama Cameron Macaulay, ia selalu
membicarakan bahwa ia mempunyai ibu dan keluarga serta
menyukai menggambar rumahnya sendiri, sebuah rumah putih
yang terletak di tepi pantai. Semuanya itu tidak lagi berkaitan
dengan kehidupannya kini. Tempat yang diceritakannya, dia
sendiri tidak pernah tahu, dan terletak di pulau Bara berjarak 160
mil dari kediamannya sekarang ini. Menurut Norma, ibunya
Cameron Macaulay sekarang, semenjak kecil Cameron sudah mulai

5

bisa bicara, ia sudah lantas mengkisahkan kehidupan masa
kanak-kanaknya sewaktu berada di pulau Bara. Ia mengkisahkan
orang tua masa lampaunya dan bagaimana ayahnya meninggal,
juga kakak perempuan maupun kakak laki-lakinya. Ia juga
bilang ibu yang ia sebut-sebut ialah ibu masa
lampaunya. Cameron sekeluarga pada bulan Februari 2006 pergi
ke pulau Bara. Sewaktu pesawat itu benar-benar mendarat,
segalanya persis dengan yang diceritakan oleh Cameron. Pihak
penginapan memberitahu Norma, pernah ada bernama Robertson
menempati rumah putih di tepi pantai. Para orang dewasa pun
memahami Cameron bukan sedang mengarang cerita, mereka
telah mendapatkan jawaban yang mereka cari. Akan tetapi yang
jelas, memori terhadap kehidupan masa lampau seiring dengan
bertambahnya usia si empunya cerita akan semakin memudar.
Kisah Cameron telah dibuatkan film dokumenter yang berjudul
“Anak Lelaki Ini Pernah Hidup Di Masa Lampau”oleh TV 5 Inggris.

Manusia umumnya memiliki berbagai sifat yang dapat muncul
seiring berkembangnya waktu, salah satunya manusia selalu
penasaran terhadap hal tertentu yang dianggapnya menarik.
Dikenalnya konsep punarbhawa atau reinkarnasi menjadikan
manusia penasaran untuk mengetahui kehidupan mereka di masa
lampau. Sama halnya dengan masa depan, umumnya setiap
menjelang pergantian tahun masyarakat disibukkan dengan
meramal kehidupan mereka yang akan datang. Keinginan
seseorang untuk mengetahui kehidupan masa lampaunya menjadi
kunci utama untuk mengetahui karma-karma yang harus mereka
jalankan di kehidupan sekarang. Dapat dibayangkan apabila
setiap manusia mampu mengingat kehidupan sebelumnya,
menceritakannya satu kehidupan ke kehidupan lainnya yang
kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan yang pasti memiliki
satu benang merah yang menyebabkan mereka harus menjalani
reinkarnasi.

Dapat disimpulkan bahwa keyakinan dengan adanya
Punarbhawa ini maka orang harus sadar, bahwa bagaimana
kelahirannya tergantung dari karma wasananya. Kalau ia
membawa karma yang baik, lahirlah ia menjadi orang
berbahagia, berbadan sehat dan berhasil cita-citanya. Sebaliknya
bila orang membawa karma yang buruk, ia akan lahir menjadi
orang yang menderita. Oleh karena itu kelahiran kembali ini
adalah kesempatan untuk memperbaiki diri untuk meningkat ke
taraf yang lebih tinggi.

6


Click to View FlipBook Version