ARTIKEL REFLEKSI
Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
1. Peristiwa (Facts)
A. Latar Belakang
Indonesia menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat
literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Hal ini
berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA)
yang di rilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada
2019. Seperti yang kita ketahui bahwa kualitas suatu bangsa ditentukan oleh generasi
penerusnya yang cerdas. Karena semakin banyak penduduk suatu wilayah maka
semangat mencari informasi dan ilmu pengetahuan juga harus semakin tinggi agar bisa
bersaing. Budaya suatu bangsa biasanya berjalan seiring dengan budaya literasinya dan
peradaban suatu bangsa dipengaruhi oleh bacaan yang dihasilkan kaum cendekia yang
diabadikan dalam tulisan dan menjadi warisan literasi informasi yang sangat berguna
untuk bekal generasi selanjutnya. Budaya literasi dapat dilakukan di mana saja, baik di
sekolah, masyarakat, maupun keluarga. Salah satu gerakan literasi sekolah melalui
Permen Dikbud No.23 Tahun 2015, tentang Penumbuhan Budi Pekerti dan karakter yang
positif.
Salah satu bagian kegiatan literasi yang sangat dibutuhkan di era rovolusi
industri 4.0 sekarang ini adalah kegiatan literasi digital. Literasi digital dapat diartikan
sebagai suatu kemampuan untuk bisa memahami dan menggunakan informasi dalam
berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas yang diakses melalui piranti
komputer. Literasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media
digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi,
menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas,
cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam
kehidupan sehari-hari. Literasi digital juga merupakan kemampuan menggunakan
teknologi informasi komputer (TIK) untuk mengkomunikasikan konten/informasi dengan
kecakapan kognitif dan teknikal. Digital literasi lebih cenderung pada hal hal yang terkait
dengan keterampilan teknis dan berfokus pada aspek kognitif dan sosial emosional dalam
dunia dan lingkungan digital. Literasi digital merupakan respons terhadap perkembangan
teknologi dalam menggunakan media untuk mendukung masyarakat memiliki
kemampuan membaca serta meningkatkan keinginan masyarakat untuk membaca.
Gerakan literasi digital sejalan dengan visi, misi, program dan tujuan yang telah
di rancang di sekolah kami, yakni :
❖ Visi
Mewujudkan peserta didik yang cerdas berkarakter, peduli lingkungan, unggul dalam
prestasi menuju profil pelajar pancasila.
❖ Misi
Mengembangkan gerakan literasi baca dan digital.
❖ Program
Melaksanakan kegiatan pelatihan bagi peserta didik dalam memanfatkan IT dalam
pembelajaran melalui “Klinik Literasi Digital”
❖ Tujuan
Sebagai media untuk mengembangkan dan menumbuhkan kesadaran
berliterasi bagi peserta didik.
Agar peserta didik mampu memanfaatkan berbagai sarana dan prasarana IT,
yang mendukung proses belajarnya secara bijak dan tepat guna.
Namun karena wabah pandemi covid-19 yang melanda Negara kita sejak Maret
tahun 2020, yang mamaksa segala kegiatan aktivitas kehidupan masyarakat untuk
beradaptasi dengan aturan-aturan dan perubahan yang ada disegala aspek, khususnya di
dunia pendidikan. Proses pembelajaran tatap muka di sekolah dialihkan menjadi
pembelajaran jarak jauh dari rumah yang merupakan salah satu kebijakan pemerintah
melalui Kementerian Pendidikan dan Rebudayaan Riset dan Teknologi yang harus
dilaksanakan oleh setiap guru yang ada di sekolah. Melalui pemanfaatan berbagai jenis
aplikasi yang dapat membantu guru untuk menyajikan dan menyampaikan materi
pembelajaran untuk peserta didiknya. Sehingga menjadi salah satu beban yang cukup
berat bagi guru-guru yang memiliki pengetahuan dan pemahaman IT yang masih kurang,
untuk dapat belajar secara instan agar mampu beradaptasi dengan perubahan-perubahan
yang terjadi begitu cepat. Melalui pelatihan-pelatihan dan workshop secara daring yang
diadakan oleh lembaga-lembaga pendidikan baik formal maupun nonformal, diharapkan
mampu memberikan pencerahan dan pengalaman baru bagi guru-guru tentang
pemanfaatan IT dalam pembelajaran. Namun kenyataan yang terjadi, khususnya di
sekolah saya minat dan partisifasi guru dalam pelatihan dan workshop secara daring ini
kurang mendapat perhatian. Selain itu murid dan orang tua murid sekitar 90% yang
merasa asing dan belum memahami tentang fitur-fitur yang ada dalam aplikasi
pembelajaran tersebut, sehingga mereka berkomunikasi dengan saya kewalahan dalam
mendampingi anaknya belajar secara daring. Untuk mengakomodir semua saran dan
masukan yang masuk, maka saya terinspirasi dari sistem pelayanan di bank dan klinik
kesehatan yang senantiasa mengutamakan pelayanan prima bagi nasabah dan pasien,
sehingga saya menentukan satu program yang saya harapkan mampu menghadirkan
pelayanan prima bagi peserta didik, teman sejawat dan masayarakat berupa “KLINIK
LITERASI DIGITAL”, dengan pertimbangan kebutuhan digitalisasi belajar murid, dan
potensi aset sarana dan prasarana sekolah yang cukup mendukung dan memadai.
B. Alasan Melakukan Aksi.
Sebagai langkah awal saya adalah melakukan komunikasi yang saya lakukan
dengan pimpinan / Kepala Sekolah yaitu saya ingin Kepala Sekolah memberikan
semangat dan motivasi kepada guru-guru yang ada di sekolah kami agar mereka juga
mampu belajar dan memahami segala kegiatan yang berhubungan dengan model,
metode dan strategi pembelajaran pada masa pandemi ini, khususnya pemanfaatan IT
berupa aplikasi dalam kegiatan pembelajaran. Karena ketika mencermati dan
memperhatikan situasi dan kondisi dari kenyataan yang terjadi masih banyak guru-guru
yang kurang semangat lagi belajar, mereka masih senang dan nyaman dengan situasinya
sekarang, dimana proses pembelajaran dilaksanakan sesuai dengan keinginannya tanpa
memperhatikan kebutuhan belajar peserta didiknya, sehingga proses pembelajaran yang
disajikan terhadap peserta didik menjadi kurang bermakna, seakan-akan proses
pembelajaran yang dilakukan hanya untuk mengugurkan kewajibannya. Dalam hal ini
juga, saya juga sangat berharap kepada kepala sekolah untuk memberi kesempatan yang
sama kepada guru-guru untuk mengembangkan potensi yang dimiliki agar lebih
bermanfaat dan bernilai positif bagi peserta didik dan orang-orang yang ada di sekitar
kita.
Kegiatan aksi nyata yang saya lakukan dalam “KLINIK LITERASI DIGITAL”
yang saya programkan diantaranya adalah melayani kebutuhan belajar peserta didik
dengan pembimbingan pemanfaatan fitur aplikasi Whatsaap dan zoom meeting dalam
pembelajaran, memfasilitasi murid untuk mengakses dan mendownload buku-buku
elektronik, sumber belajar dan media belajar yang berhubungan dengan materi yang
mereka pelajari. Selain itu, dalam klinik ini juga sebagai wadah bagi guru-guru/teman
sejawat lainnya untuk belajar dan saling berbagi dalam memahami TIK, mengakses LMS
untuk seri guru belajar secara mandiri. Selain itu, pada klinik ini juga saya melayani orang
tua murid dan masyarakat yang ingin berbagi dan belajar bersama tentang TIK yang bagi
mereka merupakan hal baru khususnya dalam menujang kegiatan belajar anak-anaknya
dari rumah.
C. Hasil Aksi Nyata
Setelah saya melakukan komunikasi dengan kepala sekolah dan sosialisasi
dengan semua warga sekolah khususnya rekan sejawat dalam hal pengambilan
keputusan terhadap tindakan awal yang saya lakukan, ternyata mendapat tanggapan dan
respon yang sangat positif dari kepala sekolah dan teman sejawat. Namun sebelum saya
mengambil keputusan ini, saya tetap memperhatikan dan mempertimbangkan paradigma
dilema etika, nilai-nilai dalam diri yang berpengaruh pada prinsip-prinsip dalam
pengambilan keputusan, dan langkah-langkah pengambilan keputusan yang tepat serta
berdampak pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Yang pada
akhirnya, kepala sekolah memberi semangat, motivasi dan kesempatan kepada guru-guru
untuk senantisa dapat mengembangkan kompetensinya, sehingga potensi-potensi positif
yang ada dala diri setiap guru dapat lebih bermanfaat dan berdaya guna dalam proses
pembelajaran peserta didik.
Dari program “Klinik Literasi Digital” yang telah saya laksanakan menunjukkan
hal yang sangat positif diantaranya adalah murid antusias mengikuti setiap materi
pelajaran baik secara daring maupun luring, bertanya tentang materi yang mereka belum
pahami, dan mengases internet untuk kebutuhan belajar mereka. Selain murid, guru-guru
dan teman sejawat lainnya sudah mulai antusias untuk mengkuti seminar, diklat dan
workshop secara daring yang berhubungan dengan peningkatan kualitas pendidikan.
Dampak lain yang saya rasakan juga dari program yang telah saya laksanakan ini adalah
komunikasi dan keakraban saya dengan orang tua murid yang sebelumnya sangat jarang
berkomunikasi, berubah menjadi lebih akrab dan saling terbuka tentang perilaku belajar
anak ketika berada di rumah, sehingga semangat berliterasi orang tua untuk
mendampingi anaknya belajar meningkat karena pemahaman mereka tentang pentingnya
TIK saat ini. Melalui klinik literasi digital yang saya programkan ini, tidak sedikit orang tua
siswa yang menyadari bahwa tugas dan pekerjaan seorang guru tidak semudah dengan
apa yang mereka bayangkan dan pikirkan, karena orang tua murid ini sering kewalahan
mendampingi anaknya belajar, kemudian mereka berpikir bagaimana dengan guru yang
menghadapi murid yang banyak dengan karakter yang berbeda setiap hari?
2. Perasaan (feelings)
Ketika saya akan mengambil keputusan untuk memprogramkan “Klinik Literasi
Digital” yang saya anggap tepat sesuai dengan aset / potensi / sumber daya yang ada di
sekolah saya. Pada awalnya masih ragu dan pesimis dengan berbagai pertanyaan yang
muncul dari dalam hati saya diantaranya adalah, apakah program yang saya ambil ini
dapat dipahami dan dimengerti oleh semua orang khususnya peserta didik di lingkungan
sekolah saya?, apakah program saya ini dapat direspon oleh kepala sekolah guru-guru
yang ada di sekolah saya?, dan apakah program yang saya ambil ini dapat langsung
bermanfaat langsung dalam meningkatkan proses dan hasil pembelajaran peserta didik
saya?.
Selama melaksanakan proses aksi nyata pada program “Klinik Literasi Digital”
ini, perasaan ragu dan pesimis terus membayangi saya, namun saya tetap berusaha
untuk melaksanakan program ini sesuai dengan apa yang telah rancang sebelumnya.
Berkat dukungan dan kolaborasi dengan pimpinan, teman sejawat dan warga sekolah
lainnya, segala kendala dan hambatan yang saya dapatkan selama pelaksanaan program
dapat kami atasi, sehingga program ini dapat saya laksanakan sesuai dengan durasi
waktu yang telah saya rencanakan sebelumnya. Seiring berjalannya waktu, proses aksi
nyata yang telah saya laksanakan ternyata mampu memberi dampak dan perubahan
besar dalam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa saya. Rekan sejawat saya di
sekolah sudah mulai berani, semangat dan termotivasi untuk mempelajari hal-hal baru
yang berhubungan dengan pembelajaran dengan mamanfaatkan sarana dan prasarana
TIK yang ada di sekolah. Selain itu, orang tua siswa dan masyarakat sekitar sekolah
sangat mengapresiasi program “Klinik Literasi Digital” ini, karena adanya wadah yang bisa
dimanfaatkan untuk belajar dan berbagi tentang hal-hal yang berhubungan IT di era
globalisasi ini.
3. Pembelajaran (findings)
Secara keseluruhan dari hasil program “Klinik Literasi Digital”, pada setiap
tindakan aksi nyata yang saya lakukan menunjukkan perubahan yang cukup baik,
khususnya pada tahap pembelajaran tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin
pembelajaran dalam hal pendayagunaan aset dan sumber daya sekolah untuk
mengelolah program yang berdampak pada siswa. Keberhasilan yang saya rasakan
dalam program klinik literasi digital ini diantaranya adalah mampu meningkatkan
pemahaman dan pengetahuan siswa dalam memanfaatkan teknologi digital dalam
pembelajaran, khususnya di masa pandemi ini secara bijak dan bertanggung jawab.
Selain itu, teman-teman sejawat dan guru-guru yang ada di sekolah serta lingkungan
sekitar sudah mulai terbuka dan tertarik untuk belajar bersama dan saling berbagi secara
kolaborasi dalam usaha meningkatkan mutu dan potensi mereka khususnya dalam
pembelajaran. Selain itu juga, program klinik literasi digital ini juga mampu meningkatkan
minat literasi orang tua siswa dalam pemanfaatan IT dalam mendampingi dan
membimbing anaknya belajar dari rumah khususnya usia sekolah dasar.
Setelah memahami tentang konsep dilema etika yang merupakan suatu proses
pengambilan keputusan benar lawan benar, selain itu saya juga telah mamahami tentang
paradigma dalam pengambilan menentukan suatu program yang berdampak pada murid,
prinsip-prinsip dalam pengambilan keputusan dan 9 langkah dalam menentukan
keputusan serta nilai-nilai yang saling bertentangan dalam pengambilan keputusan
terhadap program tersebut. Namun secara keseluruhan dalam pelaksanaan program
klinik literasi digital ini, kadang saya masih menemui hambatan diantaranya adalah masih
ada siswa yang belum memiliki HP android di rumahnya, koneksi jaringan internet yang
kurang lancar dan kondisi ekonomi keluarga yang menengah ke bawah, sehingga akan
mempengaruhi partisipasi peserta didik dalam pembelajaran.
4. Penerapan ke Depan (future)
Dalam pelaksanaan program “Klinik Literasi Digital” ini merupakan program
baru, namun pada dasarnya kegiatan yang saya programkan ini sudah pernah dilakukan
namun belum berbentuk program yang terstruktur, hanya sebatas dilaksanakan sesuai
kebutuhan dan keinginan sendiri. Untuk itu, demi keberlanjutan program ini, saya sangat
mengharapkan masukan dan saran dari semua pihak yang memiliki perhatian dan tingkat
kegelisahan yang sama untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Selain itu,
saya juga akan senantiasa bersosialisasi dengan guru-guru yang memiliki perasaan dan
kepedulian yang sama dengan saya untuk senantiasa melaksanakan program-program
yang berdampak pada peserta didik melalui pemanfaatan dan pendayagunaan aset /
potensi / sumber daya yang dimiliki baik secara pribadi maupun di lingkungan sekolah
masing-masing.
Dalam setiap pelaksanaan program baik di lembaga formal dan nonformal pasti
memiliki proses dan tahapan-tahapan. Dari proses dan tahapan-tahapan ini kita juga akan
mampu mengevaluasi dan merefleksi dari setiap kegiatan yang telah kita laksanakan, dari
hasil evaluasi dan refleksi ini kita akan mampu merencanakan perbaikan-perbaikan yang
dianggap perlu untuk memaksimalkan kegiatan tersebut pada tahapan selanjutnya. Ilmu
dan pengetahuan-pengetahuan yang kita pelajari dan laksanakan baik lama maupun yang
baru memiliki tingkat kesulitan dan kemudahan yang berbeda-beda. Ilmu dan
pengetahuan yang lama kita tetap terapkan untuk lebih memantapkan, sedangkan ilmu
dan pengetahuan baru yang kita dapat perlu manajemen waktu yang tepat, dilakukan
secara rutin dan berkesinambungan, agar hasil yang kita dapat jauh lebih berguna dan
bermanfaat, bukan hanya untuk untuk diri kita serta peserta didik kita demi terwujudnya
profil pelajar pancasila, namun juga untuk skala masyarakat pada umumnya.