The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by rifkysatriakamill, 2022-10-14 07:50:08

RIFKYSATRIAUPW2-3

RIFKYSATRIAUPW2-3

Keywords: RIFKY SATRIA KAMILL

KATA PENGANTAR

Allhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah
SWT yang telah memberikan rahmat sehingga kami
dapat menyelesaikan Cerita Pendek yang berjudul
Remaja Persahabatan.

Terima kasih juga saya ucapkan kepada Bu
Poppy yang telah membantu kami baik secara
moral maupun materi. Terima kasih juga saya
ucapkan kepada teman-teman seperjuangan saya
yang telah mendukung kami sehingga kami bisa
menyelesaikan tugas ini tepat waktu.

Kami menyadari, bahwa Cerita Pendek yang
kami buat ini masih jauh dari kata sempurna baik
dari penyusunan, bahasa, maupun penulisannya.
Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik
dan saran agar penulis menjadi lebih baik lagi di
masa mendatang.

Bekasi, 02 Oktober 2022

Rifky Satria Kamill

REMAJA PERSAHABATAN ii

MOTTO

“Manusia seringkali salah dalam memilih
jalan, tapi Allah SWT tidak akan pernah salah
menitipkan ujian. Kalau ingin langkahnya lebih
tentram, maka terlebih dahulu membangun
fondasinya.”

REMAJA PERSAHABATAN iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................ii
MOTTO...........................................................iii
DAFTAR ISI....................................................iv

BAB 1...........................................1
AWALNYA....................................1
BAB 2...........................................6
MEREKA......................................6
BAB 3...........................................10
PERISTIWA.................................10
BAB 4..........................................15
SEPERTI BIASA.........................15
PENUTUP...................................21
BIOGRAFI DIRI...........................22

REMAJA PERSAHABATAN iv

BAB 1
AWALNYA

PROLOG

Persahabatan Satria dan Dika ini berawal
dari SD pada saat kelas 5. Pada saat itu kita selalu
main bareng dan belajar bersama. Tidak terasa 1
tahun telah berlalu dan sudah menaiki kelas 6
dimana sudah memasuki tahap belajar dengan
sungguh-sungguh.

Selama menduduki kelas 6 Satri dan Dika
belajar dengan sungguh-sungguh, dan akhirnya tiba
saatnya untuk Ujian Sekolah yang dimana
menentukan nasib mereka untuk lulus atau tidak.
Dan setelah Ujian Sekolah di umumkan lulus atau
tidak. Satria dan Dika deg-deg an karena takut tidak
lulus, dan mereka berdua pun dinyatakan lulus oleh
sekolahnya, mereka berdua pun senang dan
gembira.

Dan inilah cerita ku pada masa SMP.

1

"Dika tunggu!" sahut Satria yang sedang
berjalan dibelakang. Andika Pratama - biasa
dipanggil Dika - sudah berlari bahagia di depan
Satria.

"Ayo Satria! Kita jangan sampe telat di hari pertama
sekolah." Teriaknya.

"Siapa coba yang senang hari pertama sekolah."
Gumam Satria.

Iya, hari ini merupakan hari pertama mereka
masuk SMP. Setelah enam tahun belajar di SD
akhirnya mereka naik menjadi kelas 1 SMP. Jam
sudah menunjukkan pukul 07:20 sedangkan
sekolah mulai jam 07:30.

Saat mencari tahu kelasnya ternyata mereka
berdua berada di kelas yang sama,yaitu kelas 7-B.
Bel berbunyi, Dika dan Satria segera ke tempat
duduk mereka. Saat itu juga wali kelas mereka
datang untuk menyambut para siswa-siswi nya.

"Selamat pagi semua, nama saya Pak Anto,
wali kelas kalian di tahun ini." Katanya sambil
tersenyum. "Untuk hari ini saya minta untuk
semuanya memperkenalkan diri di depan kelas.
Kalau ada yg mau menyebutkan cita-cita dan hobi
boleh. Dimulai dari absen satu ya."

Untuk satu jam pertama semua siswa/siswi
memperkenalkan diri mereka. Dika maju diurutan
ke 7. Ia maju ke depan dan memperkenalkannya.

REMAJA PERSAHABATAN 2

"Nama saya Andika Pratama, biasa di panggil Dika.
Saya cita-cita ingin menjadi arsitek, dan hobi saya
adalah bermain bola dan membaca buku."

Beberapa siswa/siswi sudah maju lagi, dan
diurutan ke 28, Satria Maju. "Perkenalkan nama
saya Satria Putra Pratama, bisa dipanggil Satria.
Cita-cita saya menjadi pengusaha. Hobi saya
bermain bola dan membaca buku." Satria senyum
lalu balik ke tempat duduknya. Tanpa Satria sadari,
ada dua pasang mata yang melihati dia dengan
seksama.

Dua siswa sehabis Satria maju, Pak Anto
meminta mereka untuk voting pengurus kelas
semester ini. Dengan langsung Rizal mengajukan
dirinya sebagai ketua kelas. " Saya mengajukan
diri!" katanya, "Sebagai anaknya kepala sekolah ini
saya akan bertanggung jawab." Banyak terdengar
bisikan-bisikan dari siswa/siswi kelas 7-B, tetapi
setelah dibicarakan lagi, akhirnya Rizal menjadi
ketua kelas.

Sekolah pun berakhir pada sore hari. Satria
dan Dika pun segera membereskan buku mereka.
Seperti hari sekolah biasanya, mereka akan pergi ke
perpustakaan deket rumah mereka untuk membaca
dan meminjam buku. Mereka pergi kesana dengan
berjalan kaki karena jaraknya tidak jauh dengan
sekolah mereka.

"Satria, kamu nanti mau minjem buku apa?" Tanya

REMAJA PERSAHABATAN 3

Dika sambil mengecek hp nya

Satria menoleh ke temennya, "Hmm.. palingan buku
tentang arsitektur yang waktu itu." katanya, "Kalau
kamu?"

"Perasaan kamu tuh minjem bukunya tentang
arsitektur terus deh." Satria hanya bisa tersenyum.
"Aku sih buku novel 'Inginku' yang itu lohh." Kata
dika sambil nyengir.

Satria tertawa. "Kamu tuh ya..."

Sebelum Satria menyelesaikan perkataannya, Rizal
tiba-tiba datang dari samping sekolah. Sebelahnya
terdapat temannya, Fikri. Saat Rizal melihat mereka,
dia langsung menyapanya.

"Eh, Dika kan? sama Satria." Kata Rizal.

Mereka berdua mengangguk. "Kenapa Rizal?" tanya
Dika. Sedangkan Satria Berdiri dibelakang Dika.

"Gapapa. Cuma mau minta tolong Satria aja nih."
Kata Rizal sambil mencari sesuatu di tasnya. "Nah,
ini dia." Rizal mengeluarkan buku tulis
matematikanya. "Satria, lu kan mau jadi arsitek,
kalo gitu harus jago matematika dong. Nih kerjain
pr gua sama Fikri ya."

"Kan lu tadi di puji-puji terus sama Pak Toni gara-
gara pinter matematika. Sekalian kerjain pr kita."
Sahut Fikri

REMAJA PERSAHABATAN 4

Dengan lemas Satria mengambil buku Rizal dan
Fikri. Mereka berdua senyum dan pergi ke arah
parkiran sekolah. Dika memandang temannya yang
membawa dua buku tulis itu.

"Kok kamu mau sih digunain sama mereka. Pr, ya
pr mereka. Bukan hak mu buat ngerjain." Sahut Dika
dengan suara agak marah.

"Ehm.. gapapa kok. Cuma kali ini aja, janji deh."
Satria tersenyum. "Ayo ke perpustakaan, nanti
sampai sana tutup loh." Dika ngangguk dan
mengikuti temannya itu.

REMAJA PERSAHABATAN 5

BAB 2
MEREKA

Esok harinya Rizal dan Fikri meminta balik
buku tulis matematikanya kepada Satria. Dia
langsung mengasihnya dengan semua jawabannya
terisi. Saat Dika datang, Satria sudah sibuk dengan
buku dipinjamnya kemarin.

"Hai Sat. Pagi-pagi udah baca buku aja nih."
Katanya sambil meletak tasnya di meja sebelah
Satria."

"Hehe... abisnya enggak ada kerjaan lagi." Satria
sambil tersenyum sambil meletakan bukunya di
meja. “Oh ya, dari tadi ada yang merhatiin tuh.”

Didekat pintu ada Lia, Sinta, dan Ratna. Dan
ternyata Ratna sedang melihati Dika. Saat dika
menatapnya, dia langsung mengalihkan
perhatiannya. Ratna memang menjadi idola
seangkatan ini, bahkan banyak kakak kelas yang
menyukainya. Dia merupakan orang yang cukup
cantik,pintar,jago olahraga dan lain-lainnya.
Sayangnya dia tidak mudah membuka perasaannya
kepada siswa lain.

Dika menoleh ke Satria yang sedang tertawa geli.
"Ratna? maksudmu dia?" Tanyanya.

REMAJA PERSAHABATAN 6

"Siapa lagi selain dia. " Kata Satria, " Dia kan idola
satu sekolah. Kalo dia suka kamu, bisa bikin semua
cowo cemburu loh."

"Oh..." Dika melihat Satria dengan sinis, "Jadi kamu
suka sama dia?"

Satria tampak kaget. "Enggak... Bukan itu
maksudku!" Sahut Satria dengan muka yang malu.

Dika tertawa geli, "Santai saja kali sat. Kamu
berdua cocok kok. Udah sama-sama pinter
matematika, absennya deketan." Satria Hanya bisa
mengumpatkan mukanya di kedua telapak
tangannya. Sementara Dika hanya bisa ketawa
terbahak-bahak.Dan tanpa mereka sadari, ada yang
mendengar percakapan mereka dari ujung kelas.

Berpindah ke esok hari...

Satria berlari secepatnya agak tidak telat
masuk sekolah. Aduh, dua menit lagi bel bunyi.
Yang penting ga mau telat! Batinnya di dalam hati.
Pas saat bel berbunyi Satria masuk kelasnya dan
duduk di samping Dika yang sedang membaca
bukunya. Saat Satria datang, Dika langsung
meletakkan bukunya di dalam tasnya.

"Satria, kok kamu telat lagi sih? Jangan-
jangan kamu ngerjain pr nya Rizal sama Fikri lagi."
Kata Dika sambil melihat ke tempat duduk Rizal
dan Fikri. Mereka sedang ngobrol jadi mereka tidak
tahu kalo Dika sedang memerhatikan mereka.

REMAJA PERSAHABATAN 7

Satria mengangkat alisnya, "Enggak, aku tadi
malem sibuk ngerjain pr fisika sama geografi ku."

Dika cuma bisa melihat temannya itu. Dia
tahu kalo Satria itu bohong, tapi apa boleh buat.
Saat Pak Anto masuk ke kelas buat briefing
sebentar, tiba-tiba dibelakang mereka ada yang
ngomong.

"Eh Satria, pr gue sama Fikri uda belum?" Tanya
Rizal yang tiba-tiba pindah tempat duduk ke
belakang mereka.

"H-hah? pr yang mana?" Tanya Satria sambil ngelirik
ke temannya.

"Dih, jangan- jangan lu belum ngerjain lagi."

"Wah, kalo belum ngerjain,bahaya lu." sahut Fikri.

"O-oh, yang itu..." Satria mengeluarkan empat buku
tulis. Dika langsung menduga itu buku tulis fisika
dan geografi Rizal dan Fikri. "Yang ini maksudnya?"

Rizal langsung mengambil bukunya, Fikri juga
begitu, " Untung lu bawa deh Sat. Kalo enggak gua
yang bakal dimarahin sama gurunya." Kata Rizal.

"Iya, nanti kalo ad apr lagi, kerjain lagi ya" sahut Fikri
yang sedang memasuki bukunya ke dalam tas.

"Iya..." kata Satria dengan suara kecil.

Rizal dan Dika sudah kelihatan puas, tetapi

REMAJA PERSAHABATAN 8

dika belum. "Eh Rizal, Fikri. Lu berdua jangan
seenak jidat dong minta orang ngerjain pr lu berdua.
Mentang-mentang anaknya kepala sekolah."

Muka Rizal langsung memerah, "Lu bilang apa
barusan?" Suara dia membuat kelas hening.

Pak Anto yang tadi lagi ngomong di depan kelas
menjadi diam. "Ada apa Rizal?".

Rizal yang tadinya marah sekarang senyum dan
duduk manis di tempat duduknya. "Gapapa kok pak.
Tadi cuma lagi ngomong bareng Satria sama Dika,
hehe."

Pak Anto hanya mengangguk dan pas bel bunyi,
Pak Anto keluar kelas dan mulai belajar dengan
tenang.

REMAJA PERSAHABATAN 9

BAB 3
PERISTIWA

Hari, minggu, bulan telah berlalu. Seminggu
lagi waktunya telah tiba untuk UTS. Dika dan Satria
segera memasuki lab biologi karena hari ini ada
praktek.
"Untuk praktek hari ini,bikin kelompok masing-
masing yaitu dua orang." Bilang Bu Elih di depan lab.

Semuanya langsung mencari pasangan
masing-masing. Dika dan Satria sih pasti bersama.
Praktek berjalan lancar dari awal sampe akhir.
Mereka menyelesaikan lembar jawabannya tepat
waktu. Mereka langsung menyerahkan lembar
jawabannya ke Bu Elih. Setelah mendapat lembar
jawaban terakhir, Bu Elih langsung keluar kelas dan
akhirnya jam pulang sekolah.
"Dika, nanti jadi belajar bareng gak?" Tanya Satria
yang sedang beresin tas.
"Jadi kok, aku uda bilang kok kalo mau belajar
bareng." Sahutnya.

REMAJA PERSAHABATAN 10

Sebelum mereka keluar lab, Rizal memanggil
Satria dari dalam lab. "Satria, sini dulu dong. Lu kan
janji mau ngerjain skripsi fisika gue."

Satria langsung menghadap ke Rizal dan bilang,
"Iya kok, tapi gua lagi ngerjain punya gua dulu."

"Lah, kok punya lu dulu?" Tanya Rizal dengan muka
kesal. "Seharusnya punya gue dulu lah, nanti gue
dimarahin kalo belum selesai."

Satria hanya bisa diam dan memandang Rizal. Dika
memandang temannya itu. Dan dia pun langsung
membelanya.

"Rizal, lu tau kan Satria tuh punya hak buat ngerjain
tugasnya dulu. Dia juga gak punya hak buat ngerjain
tugas sama pr lu." Dika berkata dengan nada kesal.

Rizal yang tadinya sedang duduk di kursi langsung
nyamperin Dika. "Eh, lu juga ga punya hak buat ikut
campur masalah ini." Katanya sambil memasang
muka marah.

"Gue punya hak buat ngebela temen gue dari orang
kaya lu," kata Dika. " Yaudah, gue mau pulang.
Satria ga usah ngerjain tugas fisika lu." Lalu Dika
menarik Satria keluar lab.

"Enak aja lu." Rizal langsung narik bajunya Dika dan
mendorongnya ke arah belakang. Dika terpleset
dan kepalanya terbentur meja.

Awalnya Dika tidak apa-apa. Tetapi lama

REMAJA PERSAHABATAN 11

kelamaan nafas dia jadi tidak teratur dan
penglihatan dia menjadi burem. Sesaat dia melihat
Satria berlari kearahnya, Rizal hanya melihatnya
dengan shock, dan Fikri yang sepertinya lagi nyari
bantuan. Lalu matanya menutup sendiri.

Saat Dika membuka kembali, Ratna dan Pak Anto
sudah berada di situ. Dan kali ini, dunia terasa gelap
di pandangannya Dika.

Jam sudah menunjuk pukul 5 sore. Matahari
sudah mulai turun dan bulan sudah mulai naik.
Satria duduk di sebelah teman dekatnya itu. Sudah
dua jam dan Dika belum bangun. Saat orang tuanya
Dika mengetahui perisitwa itu, mereka segera
mendatangi rumah sakit. Waktu Dika masih
setengah sadar, Fikri mencari orang buat minta
tolong.

Dan untungnya Ratna sedang ngomong
dengan pak Anto di dekat lab IPA, jadi mereka
langsung menolongnya. Ratna menyarankan agar
Dika segera dibawa ke rumah sakit terdekat.
Sedangkan Rizal disuruh pak Anto untuk bertemu
dengan bapaknya di ruang Kepala Sekolah dan
ditemani oleh Fikri. Satria meminta kepada pak
Anto untuk ikut ngantar Dika ke rumah sakit, dan
dua jam kemudian, Dika masih belum sadar.

"Ayolah Dika..." Katanya sambil memandang
sahabatnya yang terlihat lemas.

REMAJA PERSAHABATAN 12

Terdengar suara ketukan pintu. Mungkin itu orang
tuanya Dika batinnya. Tetapi saat Satria melihat
orang yg masuk, ternyata itu Ratna.

"Satria," Sahutnya. "Belum pulang? udah jam segini
loh."

Satria melihat Ratna dengan seksama. "Belom. Lu
sendiri kenapa belum pulang?" Tanyanya.

"Barusan sih mau pulang, tapi mampir dulu,
mumpung belum dijemput." Ia berjalan ke depan
Satria. "Masih belum bangun juga ya..."

Satria tidak bisa menjawab, jadi dia hanya
mengangguk. Suasana kamar menjadi hening
seketika. Ratna memandang Dika dengan penuh
perhatian, dan Satria hanya bisa menundukkan
kepala. Ratna lalu melihat jam nya yang sekarang
sudah menunjukkan pukul 17:25 sore. Ia segera
pamit ke Satria dan mengasih tahunya kalau dia
harus tetap sekolah besok. Satria mengangguk
setuju dan Ratna pergi meninggalkan mereka
berdua.

"S-satria...?" Sahut suara lembut yang Satria
mengenal dengan baik.

Satria membuka matanya, ternyata ia
ketiduran di sebelah teman baiknya. Dia membuka
matanya dan melihat sahabatnya yang menatapnya
sambil duduk dan memberi senyuman hangat yang
sangat Satria kenal.

REMAJA PERSAHABATAN 13

"Dika...! kamu udah bangun!" kata Satria
dengan nada bahagia. Ia lalu memeluk sahabatnya
dengan erat. Dan tidak diduga, air mata mereka
mengalir deras.

REMAJA PERSAHABATAN 14

BAB 4

SEPERTI BIASA

Pagi hari yang cerah. Suasana kelas seperti
biasa, ada yang ngobrol, bermain, dan ada yang
mengerjakan tugas. Satria duduk di mejanya,
ditemani oleh buku yang kemarin dipinjamnya. Tiba
-tiba semua orang yang di dalam kelas berjalan je
arah pintu kelas.

"Dika...!" kata salah satu dari mereka.

Satria pun sadar. Baru kemarin malam Dika
dibolehkan pulang sama dokternya. Dan hari ini dia
pertama masuk sekolah setelah kejadian beberapa
minggu yang lalu. Satria bergegas ke pintu dan
melihat keadaan temennya. Dika sendiri disitu
dengan senyuman manisnya. Dika terlihat seperti
biasa, tidak lemas dan pucat kaya pas dirumah
sakit.

"Dika, eng... boleh ngomong sebentar?"
Terdengar suara dari belakang. Semuanya diam
dan memandang yang memanggil itu. Ternyata
Rizal. Akhir-akhir ini Rizal emang tidak terlalu
berisik, dan udah gak pernah minta Satria ngerjain

REMAJA PERSAHABATAN 15

pr nya. Waktu itu aja dia bilang kalo gak usah
ngerjain skripsinya. Semua percakapan terhenti
sebentar, "Oke, mau ngomong apa?" tanya Dika.

"Uh, itu... ." Rizal memandang ke lantai dan berkata
dengan suara kecil.

"Gue mau minta maaf, tentang waktu itu. Gue gak
pernah bisa tidur nyenyak lagi, soalnya selalu
kepikiran gitu. Sampe sekarang aja gua masih
merasa bersalah, terus gua selalu mikir lu bakal
maafin gua gak ya.. ."

Semuanya memandang Rizal dengan seksama.
Ada yang berbisik-bisik, ada juga yang heran
terhadap perilaku Rizal. Satria melirik antara teman
baiknya dan ketua kelasnya.

Dika hanya diam disitu, dan tiba-tiba senyum. "Gak
usah negatif Zal. Gue udah maafin lu dari dulu."

Rizal langsung melihat ke arah Dika dengan muka
tak percaya. Suasana kelas tiba-tiba sepi.
Semuanya memerhatikan mereka berdua.

"S-serius lu maafin gua dik?" Tanya Rizal sekali lagi.

"Iya, serius kok. Itu juga salah gue sih, marahin lo
kayak gitu," Kata Dika.

"Dah, sekarang jangan mellow-mellow gini dong.
Nanti malah ditanyain gurunya."

Semuanya langsung setuju dan balik ke

REMAJA PERSAHABATAN 16

tempat duduk masing-masing, termasuk Satria. Dia
duduk dan memperhatikan temannya ngobrol di
depan kelas dengan Rizal. Sebuah pemandangan
yang akhirnya terwujud.

Dibelakang kelas terdengar suara rusuh
cewek-cewek. Biasanya sih emang rusuh, tapi kali
ini sedikit beda. Cewek-cewek kelas lagi pada
mendorong dan menyemangati Ratna. Entah
mengapa, Ratna terlihat gugup. Satria sudah mulai
menduga kalau Ratna sedang naksir seseorang,
tapi dia enggak tahu siapa. Bel berbunyi dan
setelah ngobrol sama Rizal, Dika menempati
tempat duduknya di sebelah Satria.

"Hai, Satria! Aku selama gak masuk ketinggalan apa
aja nih?" Tanyanya sambil menaruh tas

"Kan aku uda ngasih tau pas jenguk kamu. Masa
udah lupa lagi?"

"Ya kan, aku ga ngerti banyak. Jadi, ajarin dong,
hehe."

"Hmm.. Yaudah deh. Nanti ya pulang sekolah."

"Oke, makasih Satria." Jawab Dika dengan bahagia.

Dua hari setelah Dika kembali sekolah telah
berlalu. Sekarang kelas mulai hidup kembali seperti
biasanya. Bedanya Rizal dan Fikri sekarang
berteman sama Satria dan Dika. Bel pelajaran
selesai pun berbunyi, sore hari ini Satria berjanji

REMAJA PERSAHABATAN 17

sama Dika untuk mengajarkan beberapa pelajaran
dirumah. Yang Dika tidak tahu itu kalo Satria
berjanji sama orang lain juga.

"Eh Satria, kamu mau ngajarin apa nih?" tanya Dika
yang sedang sibuk masukin buku ke dalam tas.

"Liat nanti aja, kan kamu ketinggalan banyak Dik."
Sahut Satria yang sedang menunggu di depan pintu.

Di ujung kelas masih ada beberapa cewek
yang belum pulang, salah satunya Ratna. Satria
mengode Ratna untuk cepetan, tapi dia terlihat
grogi. Saat Dika nyamperin Satria di depan pintu,
teman-temannya Ratna menyemangatinya dan
mendoronginya.

"Eh Dika, mau pulang ya? Turun bareng yuk,
sekalian ngomong sesuatu." kata Ratna sambil
menarik lengan temannya, Nita.

"Oh, oke deh. Ayo jalan." Kata Dika dan berjalan ke
arah tangga turun, lalu diikuti Ratna, baru diikuti lagi
dengan Satria,Nita dan teman-teman Ratna lainnya.

Satria yang berjalan di belakang Dika
senyum-senyum sendiri. Sedangkan Nita yang
berjalan di sebelahnya, diam saja dan mengalihkan
perhatiannya. Saat udah sampe di gerbang depan,
Ratna memberhentikan Dika. Dika bingung kenapa,
Satria dan Nita juga menjauhinya.

"Jadi gini dik. Gue suka sama lu dari pertama

REMAJA PERSAHABATAN 18

kali lu masuk sekolah ini. Bagi gue lu tuh orangnya
ceria banget." Kata Ratna lalu dia menarik nafas
panjang dan melihat ke arah teman-temannya yang
ngasih support.

"Mau gak jadi pacar gue?" Tanyanya kepada Dika.

Dika tampak kaget, dia selama sekali tidak
menyangka ini. "Eh, seriusan lu?"

"Iya, serius." Jawab Ratna.

"Sebelum gw jawab. Kenapa gue, dari semua anak
cowo di sekolah ini yang banyak banget, kenapa
harus gue?" Tanyanya untuk memastikan.

"Ya karena lu tuh ceria banget orangnya, gak kayak
Rizal yang dulu, baik pula. Apalagi pas lu ngebela
Satria." Jawab Ratna. "Jadi... mau gak?" Tanyanya
lagi.

Dika masih terlihat shock. Tetapi walaupun itu,
"Iya..." katanya dengan suara yang kecil.

Karena gak kedengeran sama Ratna, dia
mengulangi pertanyaannya. "Mau gak?"

"Iya..." Kata Dika dengan suara yang kencengan
dikit dan sambil mengangguk kepala.

Ratna langsung merayakan diterimanya
dengan mengode ke teman-temannya kalo di
terima. Dika langsung berjalan ke arah Satria.
Sementara temen-temennya Ratna berlari ke dia

REMAJA PERSAHABATAN 19

dan menyorakkannya.
"Hehehe, gimana Dik?" Tanya Satria. "Surprise gak?"
Dika menatap temannya dengan muka ceria dan
malu sekaligus. "Iya.." Kata Dika. "Emang kamu tau
kalo Ratna tuh mau..?"
"Tau lah. Orang kemarin dia ngasih tau aku pas
pulang sekolah." Jawab Satria dengan muka dan
nada ceria.
"Demi apa sih Sat," Dika masih shock, tetapi senang.
"Yauda nanti aku ceritain di perjalanan ke rumah
ku." Kata Satria.
"Makanya ayo, mau denger ceritanya gak? kamu
pasti seneng banget denger cerita ini."
"Sip, ayo-ayo." Jawab Dika.

Satria lalu menyeritakan semuanya ke Dika
di perjalanan kerumah. Sebagian besar cerita Dika
senang dan senyum-senyum sendiri. Tapi wajar lah,
habisnya, Dika habis ditembak cewek impian satu
angkatannya.

REMAJA PERSAHABATAN 20

PENUTUP

Dengan selesainya dari tugas cerpen ini yang
dapat saya tulis mengenai cerita yang berjudul
“Remaja Persahabatan”. Didalam cerpen ini
memiliki banyak unsur yang membangunnya
seperti tokoh, latar, peristiwa, konflik dan lainnya.
Setelah menyelesaikan cerpen ini, yang bisa saya
ambil kesimpulannya adalah kita bisa mengetahui
makna atau pesan dari cerita tersebut dan bisa
dijadikan teladan untuk pembaca.

REMAJA PERSAHABATAN 21

BIOGRAFI DIRI

Penulis bernama Rifky Satria Kamill. Penulis lahir
pada tanggal 1 Juli 2007. Penulis tinggal di Villa
Jatirasa Jl. Sempati RT 10/11 no 24 kelurahan
Jatirasa kecamatan Jatiasih. Penulis tinggal
bersama keluarganya. Penulis pertama kali masuk
sekolah pada tahun 2012 di Sekolah Dasar (SD)
melanjutkan sekolah (SMP) negeri 192 Jakarta
Timur Kecamatan Cipayung. Kemudian lulus pada
tahun 2022 dan setelah itu penulis melanjutkan
Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 66.
Penulis sekarang berada di semester 1.

REMAJA PERSAHABATAN 22


Click to View FlipBook Version