The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Idi Subandy I. - Tantangan Religiusitas dan Spiritualitas Memasuki Alaf Baru (2021)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by fiskontak, 2021-04-13 01:13:39

Idi Subandy I. - Tantangan Religiusitas dan Spiritualitas Memasuki Alaf Baru (2021)

Idi Subandy I. - Tantangan Religiusitas dan Spiritualitas Memasuki Alaf Baru (2021)

Untaian Tulisan Karya

Idi Subandy Ibrahim

TANTANGAN RELIGIUSITAS
& SPIRITUALITAS

MEMASUKI ALAF BARU

Chaospirituality di Taman Kontemplasi Batin
dan Esai-esai Pilihan

Untaian Tulisan Karya

Idi Subandy Ibrahim

(Peneliti Budaya, Media dan Komunikasi)

“TANTANGAN RELIGIUSITAS & SPIRITUALITAS
MEMASUKI ALAF BARU”

Menyambut Ramadhan 1442 H / 2021

Penerbit
PUSAT KAJIAN BUDAYA DAN PERADABAN ISLAM INDONESIA

2021

TANTANGAN RELIGIUSITAS & SPIRITUALITAS MEMASUKI ALAF BARU
Karya: © Idi Subandy Ibrahim (Tujuh karya terpilih dan satu karya bersama Dr. Yudi Latif)
Hak Cipta dilindungi Undang-undang
All rights reserved
Diterbitkan oleh Pusat Kajian Budaya dan Peradaban Islam Indonesia
Edisi Pertama: Edisi Istimewa, Ramadhan 1442 H/April 2021
MAJELIS: 001-2021-04-13
Desain: Arne
Sumber Tulisan Basmalah: sijai.com

Pusat Kajian Budaya dan Peradaban Islam Indonesia
Surel: [email protected]

TENTANG PENULIS

Dr. Idi Subandy Ibrahim adalah Peneliti Budaya, Media, dan Komunikasi. Mantan aktivis
mahasiswa ini kini merupakan pengajar Program Studi (Prodi) Magister Ilmu Komunikasi (MIK)
Pascasarjana Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung. Idi juga merupakan dosen LB (luar biasa)

Program S3 Agama dan Media – Studi Agama-Agama Pascasarjana Universitas Islam Negeri
(UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dan dosen LB Prodi MIK Pascasarjana FISIP Universitas
Brawijaya (UB) Malang. Sebelumnya ia juga merupakan dosen tamu untuk mata kuliah Arsitektur
dan Gaya Hidup, Prodi Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB) dan mengajar mata kuliah
Penulisan Kreatif di Jurusan Manajemen Komunikasi FIKOM Universitas Islam Bandung (UNISBA)
dan Prodi Desain Komunikasi Visual (DKV) FISS UNPAS Bandung serta di Sekolah Tinggi Ilmu
Komunikasi (STIKOM) Bandung. Sejak menjadi mahasiswa di awal 1990-an, tulisannya tersebar di
berbagai media lokal dan nasional. Minatnya mendalami Kajian Budaya Media dan Budaya
Populer yang bercorak keagamaan, telah membawanya dipercaya selama beberapa tahun
menjadi salah seorang penulis kolom tetap di HU Pikiran Rakyat, Bandung, dan sejak awal 2019,

ia dipercaya menjadi salah seorang penulis kolom Analisis Budaya di HU Kompas, untuk
menanggapi dan memberikan analisis terhadap perkembangan isu-isu sosial budaya dalam
masyarakat Indonesia mutakhir. Bersama para aktivis dan dosen di beberapa kampus di Tanah
Air, ia menggagas berdirinya Pusat Kajian Budaya dan Peradaban Islam Indonesia, dengan tujuan
untuk membangun dan mengembangkan citra Islam yang lebih damai, terbuka, dan inklusif.

DAFTAR ISI

1. Makna Puasa di Tengah Krisis Kebangsaan
2. Krisis Kultural di “Abad Televisi”
3. Jurnalisme Keberagamaan di Tengah Komodifikasi Agama
4. Komunikasi Religius Digital di Dunia Maya:

Peluang dan Tantangan bagi Umat Beriman
5. Dunia Simbolik dan Gaya Hidup dalam Beragama:

Dari Ideologisasi ke Komersialisasi Spiritualitas
6. “Chaospirituality” di Taman Kontemplasi Batin:

Refleksi atas Fenomena Spiritualitas Akhir-Akhir Ini
7. Globalisasi Budaya via Media:

Rimba Kekacauan Nilai dan Kehampaan Spiritualitas?
8. “Kekerasan” Spiritual dalam Masyarakat Pascamodern

MAKNA PUASA DI TENGAH KRISIS KEBANGSAAN

Oleh Idi Subandy Ibrahim

Makalah
Bandung, 21 Juni 2012

MAKNA PUASA DI TENGAH KRISIS KEBANGSAAN

Oleh Idi Subandy Ibrahim

"Maka berlomba-lombalah engkau sekalian dalam berbagai kebaikan."
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 148)

“Kita telah memiliki gedung-gedung lebih menjulang, tetapi watak lebih rendah;
Jalan-tol lebih luas, tetapi sudut pandang sempit.

Kita telah menghabiskan lebih banyak, tetapi memiliki sedikit;
Kita telah membeli lebih banyak, tetapi menikmati sedikit.

Kita telah menaklukkan ruang angkasa, tetapi bukan ruang batin.
Kita telah melakukan hal-hal lebih besar, tetapi bukan hal-hal lebih baik.

Kita telah membersihkan udara, tetapi bukan jiwa yang terpolusi.”
(George Calin)

FAJAR Abad ke-21 baru saja menyingsing. Bagai kokok ayam menyambut mentari
pagi dengan kilau cahaya harapan. Peristiwa demi peristiwa silih berganti di balik
panggung kehidupan lokal, nasional dan global. Tetapi di ambang milenium baru ini
pula, perang, konflik, kekerasan, dan kemiskinan masih menjadi awan kelam
kemanusiaan, persis di pusaran kegelisahan orang-orang yang memuja cinta dan
mendamba perdamaian.
Sementara kebangkitan spirit keagamaan menjadi secercah sinar yang menjanjikan
harapan bagi masa depan kemanusiaan. Di tengah kegersangan dunia materialisme-
sekular yang tak menjanjikan kesejukan batin, orang modern berduyun-duyun mencari
sumber mata air spiritualitas dalam oase agama dan telaga sufisme. Adakalanya muncul
konflik, karena klaim-klaim kesalehan atau kekakuan sikap menyangkut tafsiran
doktrin yang sempit. Tetapi, di tengah dialog-tafsir itu mencuat sinyal bahwa agama

 Pokok-pokok pikiran makalah ini pernah disampaikan dalam sebuah diskusi dengan para aktivis mahasiswa di
Bandung, pada 21 Juni 2012 dan sebagai besar pemikiran ini juga merupakan artikel penulis dengan judul yang
sama, “Makna Puasa di Tengah Krisis Kebangsaan,” dimuat dalam Pikiran Rakyat, edisi Senin, 11 November
2002.

1

dan spiritualitas benar-benar memiliki makna yang elegan dalam drama kehidupan
manusia (pasca-)modern.

Di tengah kelesuan rohani yang mendalam dan krisis moral yang mencekam, orang
berbondong-bondong mencari kembali inti pengertian terdalam dari pengalaman
ketuhanan yang diklaim hanya bisa direguk lewat agama-agama Langit (agama-agama
Ibrahimiyah). Apalagi memasuki abad baru ini, kita hidup dan meniti hari dengan
perubahan yang begitu cepat, sering tak terduga, dan terkadang penuh paradoks tak
jarang berbuah kekecewaan serta tak urung diwarnai konflik persaudaraan dalam rumah
kebangsaan yang cukup mencemaskan.

Kita pun mengarungi hidup dalam sebuah lingkungan budaya yang benar-benar penuh
paradoks. Paradoks itu muncul sebagai pertentangan antara nilai-nilai keyakinan yang
dianut dan tindakan yang dilakukan. Pertentangan yang akhirnya membawa krisis
kebudayaan dan bahkan krisis kemanusiaan. Persis seperti ‘Paradoks Zaman Kita’, yang
digambarkan dengan indah oleh George Calin:

“We have taller buildings, but shorter tempers; wider freeways, but narrow view
points. We spend more, but have less; we buy more, but enjoy it less…We’ve conquered
outer space, but not inner space. We’ve done larger things, but not better things. We’ve
cleaned up the air, but not polluted soul.”

(Kita telah memiliki gedung-gedung lebih menjulang, tetapi watak lebih rendah; jalan-
tol lebih luas, tetapi sudut pandang sempit. Kita telah menghabiskan lebih banyak, tetapi
memiliki sedikit; kita telah membeli lebih banyak, tetapi menikmatinya sedikit… Kita
telah menaklukkan ruang angkasa, tetapi bukan ruang batin. Kita telah melakukan hal-
hal lebih besar, tetapi bukan hal-hal lebih baik. Kita telah membersihkan udara, tetapi
bukan jiwa yang terpolusi).

Kini paradoks demi paradoks kita saksikan di tingkat global, nasional, dan lokal. Di
tingkat global, para futurolog (peramal masa depan) meramalkan krisis besar yang
dialami masyarakat industri, hempasan depresi ekonomi yang melanda dunia, dan para
pencinta perdamaian meratapi nestapa yang dipicu ledakan konflik politik, kekerasan
perang, kemiskinan, kekeringan, dan terorisme. Imbasan krisis global ini juga ikut
memurukkan perekonomian Indonesia ke titik nadir yang berbuah “krismon” (krisis
moneter) dan menghempaskan “rezim Kokonep” (korupsi, kolusi, dan nepotisme).

Sementara itu, di tingkat nasional, ketidakkompakan kita sebagai bangsa benar-benar
menjadi cermin retak bangsa ini. Para elite politik masih terus melantunkan simponi
sikap kekanak-kanakan; saling sindir dan keluh kesah pemimpin dipentaskan di podium
kenegaraan dan dipancarluaskan ke ruang keluarga Indonesia; persaingan kasar yang
dikemas dengan kebebasan merayakan reformasi menjadi legitimasi budaya demokrasi
yang sumir. Wakil rakyat dan birokrat sibuk sendiri dan rakyat jalan sendiri. Saling
lempar tanggung jawab dipertontonkan tanpa rasa bersalah dan pernyataan-pernyataan
yang membingungkan dari kalangan elite politik seakan mendapatkan tempat yang
mulia di berbagai forum publik.

2

Maka, wacana yang berkembang mirip apa yang pernah disebut oleh sejarawan
terkemuka, Profesor Taufik Abdullah, sebagai “spiral kebodohan yang menukik ke
bawah”. Yakni, rangkaian pernyataan bodoh yang dijawab dengan pernyataan bodoh di
media, yang akhirnya melahirkan para “pengamat lipstik” yang menjadi pakar karena
sering tampil di televisi tapi miskin analisis dan dengan wacana yang tumpul.

Kemudian di tingkat regional dan lokal, perilaku brutalisme, vandalisme bahkan
barbarisme sudah sering sulit dipisahkan dari euforia kebebasan yang diselewengkan
dalam tindakan main hakim sendiri dan pemaksaan kehendak. Dalam beberapa hal,
arogansi kekuasaan kini telah beriringan dengan anarki massa. Tampaknya kita masih
harus belajar betapa mahal makna kebebasan dan harga demokrasi.

Kini ketika masyarakat tengah ditimpa gelombang perubahan besar; ketegangan sosial
dan konflik-konflik berbahaya terus mengintai, sekonyong-konyong momen Ramadhan
menyapa kita. Lantas, apa makna Ramadhan dalam sebuah rumah kebangsaan yang
belum sepenuhnya keluar dari himpitan krisis dan dalam ruang kehidupan yang
diwarnai degradasi nilai dan krisis makna yang dalam?

Krisis tersebut, misalnya, bisa kita lihat dari betapa nilai-nilai agama belum juga
memancar dalam perilaku sehari-hari. Yang sering kita saksikan justru adalah
kontradiksi antara perkataan dan perbuatan. Kesenjangan antara kesalehan individual
dan kesalehan sosial. Keyakinan agama akhirnya tidak tampak dalam hal-hal kecil
tetapi mendasar, seperti soal keadilan, kedisiplinan, atau kejujuran. Mungkin itulah
sebabnya banyak koruptor dan manipulator di negeri ini yang berjubah kesalehan.
Walhasil, kekayaan makna agama tidak memancar dalam keindahan akhlak! Agama
seolah tak berdaya dalam menghadapi krisis kebangsaan!?

Dalam sebuah riwayat dikatakan bilamana datang bulan Ramadhan, Rasulullah
kerap berseru, “Selamat datang wahai yang mensucikan.” Para sahabat pun terkejut
lantas bertanya, “Siapakah gerangan yang mensucikan itu, ya Rasulullah?” Rasullah
menjawab, “Yang mensucikan itu ialah bulan Ramadhan, Dia mensucikan kita dari dosa
maksiat.”

Kini ketika “panggilan Ramadhan” datang, ia datang dalam sebuah dunia yang lain.
Sebuah dunia di mana makna “kesucian” terus tergerus oleh pelbagai tindakan manusia
yang semata-mata dilandasi oleh mesin hawa nafsu: kekuasaan yang tak juga berempati
pada Sila Keadilan.

Lantas, sejauhmanakah makna kehadiran “yang mensucikan” (puasa Ramadhan)
dalam “mensucikan kembali” polusi jiwa dan spiritualitas yang tengah menimpa
pelbagai aspek kehidupan dan kebangsaan kita?

Kini panggilan “yang mensucikan” itu menggema di tengah-tengah semilyar lebih
warga Muslim untuk menunaikan perintah Allah seperti yang tertuang dalam QS Al-
Baqarah [2]:187: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang terdahulu, agar kamu menjadi takwa.”

3

Sayyid Mohammad Rasyid Ridha dalam Tafsir Al-Manar menafisrkan ayat ini sebagai
isyarat bahwa faedah dan hikmah tertinggi puasa adalah mempersiapkan jiwa orang
berpuasa mencapai derajat takwa kepada Allah. Menurut seorang pemikir Islam, Fazlur
Rahman, mungkin sekali taqwa adalah istilah tunggal terpenting di dalam Kitab Suci
Al-Qur’an.

Dalam Major Themes of the Qur’an, Fazlur Rahman menjelaskan lebih jauh: “Taqwa
pada tingkatan tertinggi menunjukkan kepribadian manusia yang benar-benar utuh dan
integral; Inilah semacam ‘stabilitas’ yang terjadi setelah semua unsur yang positif
diserap masuk ke dalam diri manusia.”

Demikian pula kalau kita menyelami literatur-literatur klasik mengenai makna puasa
dalam agama-agama besar dunia, kita akan menjumpai penggunaan kata yang sama,
shaum, untuk praktik puasa. Shaum dimaknai sebagai menghentikan tindakan makan
dan minum dan sekaligus ekspresi rasa penyesalan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

Bagi seorang Muslim, ibadah puasa Ramadhan bisa dimaknai pada dua tataran;

Pertama, pada tataran individual, puasa adalah riyadhah, latihan jiwa yang dilandasi
kepasrahan seorang mukmin untuk mencapai derajat muttaqin. Puasa merupakan ibadah
yang dilakukan atas kesadaran dan kehendak bebas dalam meningkatkan ketakwaan.
Hal itu dilakukan semata-mata demi kecintaan pada Sang Pemilik Kasih. Karena itu,
ibadah puasa memberikan perasaan mengharap dan pandangan hidup yang positif di
dunia dan di akhirat dalam diri orang yang yakin dan berserah diri.

Selain itu, puasa juga menanamkan sikap disiplin. Disiplin ini akan menjadi lebih
mudah kalau orang meningkatkan kekuatan kehendak dan mengatur diri kepada sikap
pertengahan (moderat) melalui pengendalian diri. Ketika menjalankan ibadah puasa,
orang mengharuskan dirinya berdisiplin agar dapat meningkatkan kekuatan kehendak.
Manusia bisa belajar mengendalikan tingkah laku dan keinginan kecilnya melalui
disiplin, seperti lewat ibadah ritual atau doa. Ini dilakukan dengan upaya terus menerus
mempraktikkan semua itu, melalui perenungan yang mendalam dan kesadaran terus-
menerus. Kewajiban puasa mendorong tumbuhnya kesadaran dan kewaspadaan, karena
puasa merupakan ibadah yang ketulusannya hanya diketahui oleh Sang Pencipta, Allah
SWT. Dengan begitu kita berjuang untuk membangunkan kembali kapasitas rohani kita
untuk menghidupkan cahaya Ilahi di dalam diri yang tengah ternoda oleh hawa nafsu
manusia.

Menurut Imam Al-Ghazali, ibadah puasa adalah milik Allah karena merupakan alat
untuk memerangi musuh Allah yaitu ego manusia yang bekerja lewat nafsu dan amarah
yang tak semestinya. Dalam Asrar Ash-Shaum (Rahasia Puasa), Imam Al-Ghazali
mengatakan,

“Puasa adalah satu-satunya ibadah yang tak dapat dilihat oleh orang lain melainkan
Allah karena merupakan amalan batiniah yang dilakukan dengan pertahanan dan
kesabaran yang sungguh-sungguh.”

4

Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang
dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS Al-Zumar [39]:10).

Kedua, Pada tataran sosial, nilai-nilai moral dan spiritual yang ditingkatkan di bulan
puasa adalah semangat persaudaraan, keadilan, dan kejujuran. Semangat ini timbul dari
kemampuan mengendalikan hawa nafsu melalui disiplin diri secara tulus. Bukankah
kita juga bisa mendisiplinkan diri melalui kasih sayang, dan seringkali melalui
penderitaan yang harus dijalanilah manusia bisa mempelajari makna kasih sayang dan
empati dengan sesama.

Rasa empati juga membuat hati nurani kita tergerak dan terdorong untuk selalu ingin
berbagi dengan orang lain yang membutuhkan dan kita tidak pernah menunda-nunda
untuk melakukan berbuat baik. Misalnya, untuk membantu harus menunggu dulu
sampai kita merasa mampu. Untuk berbuat baik menunggu sampai kita tua atau setelah
orang yang ingin kita bantu justru tidak memerlukannya lagi.

Di dalam salah satu karya termasyhur yang sering dikutip oleh banyak pendakwa,
Riyadhus Shalihin (Taman Orang-Orang Saleh), Imam Nawawi menyitir Abu Hurairah
r.a., yang berkata:

“Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah SAW, lalu berkata: “Ya Rasulullah,
sedekah manakah yang teragung pahalanya?” Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu jikalau
engkau bersedekah, sedangkan engkau itu masih sehat dan sebenarnya engkau kikir -
merasa sayang mengeluarkan sedekah itu, karena takut menjadi fakir dan engkau amat
mengharap-harapkan untuk menjadi kaya. Tetapi janganlah engkau menunda-nunda
sehingga apabila nyawamu telah sampai di kerongkongan baru berkata: "Untuk si Fulan
itu, yang ini dan untuk si Fulan ini, yang itu, sedangkan orang yang engkau maksudkan
itu telah memiliki apa yang hendak engkau berikan.” (Muttafaq'alaih)

Tidak menunda-nunda berbuat baik, terutama bagi yang mampu, adalah cermin dari
pribadi-pribadi yang terasah sikap empatinya, sehingga dalam kehidupannya selalu
disinari cahaya kasih sayang Ilahi. Melalui kasih sayang, kita menumbuhkan sikap
empati untuk ikut menyatu dengan umat manusia. Nilai-nilai tersebut membuat kita
mampu memahami penderitaan orang lain di dunia, yaitu mereka yang setiap hari
mengalami kekurangan dan penderitaan: kaum du’afa dan mustad’afin.

Dengan pengertian tersebut, kita akan menjadi lebih terdorong untuk membantu sesama
dan menyantuni kaum lemah serta membela mereka yang tak berdaya. Puasa di sini
diberi bobot maknanya: untuk emansipasi atau pembebasan. Pembebasan dari pasungan
“sifat kebinatangan” manusia yang menghambat munculnya “sifat kenabian” atau
bahkan “sifat ketuhanan” di dalam diri manusia.

Puasa dengan demikian menumbuhkan budaya egalitarianisme dalam masyarakat Islam
dan lambat laun menghidupkan spirit Sila Keadilan Pancasila. Dengan demikian, puasa
di bulan Ramadhan atau di hari-hari tertentu, bisa dijadikan sebagai “kesempatan baru”

5

untuk melakukan “perubahan batin”. Sepenggal pengalaman rohani yang mungkin bisa
menyentuh inti terdalam pengertian kita mengenai kehidupan.
Melalui revolusi ruhani dan perubahan batin seperti inilah mungkin jalan kita untuk
mempelajari makna kehidupan yang dilandasi kejujuran, kedermawanan, dan
kerendahan hati. Sebagaimana dikatakan oleh seorang intelektual terkemuka, Seyyed
Hossein Nasr, ketika mengomentari mengapa orang berpuasa,
“Puasa juga memberikan siraman wewangian kepada jiwa manusia yang keharumannya
dapat tercium lama setelah bulan puasa berakhir. Puasa memberikan sumber energi
yang dapat bermanfaat selama satu tahun penuh. Karena itu, bulan suci ini disebut
sebagai bulan yang penuh berkah, mubarak. Bulan ketika berkah Allah mengalir kepada
umat Islam dan menyegarkan kembali sumber-sumber kehidupan dan perbuatan yang
paling dalam.”[]

Bandung, 21 Juni 2012
Idi Subandy Ibrahim

6

KRISIS KULTURAL DI “ABAD TELEVISI”

Oleh
Idi Subandy Ibrahim

Makalah Penulis Dimuat dalam Buku:

“DAKWAH KONTEMPORER:
Pola Alternatif Dakwah Melalui Televisi”

Penerbit
PUSDAI JABAR

1420 H/2000













JURNALISME KEBERAGAMAAN
DI TENGAH KOMODIFIKASI AGAMA

Oleh
Idi Subandy Ibrahim

Pokok-pokok Pemikiran pada
Seminar dalam Rangkaian Hari Ulang Tahun

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ke-23

Bertema
“Jurnalisme Damai, Jurnalisme Keberagamaan”

Hall Lt. 2, Graha Solo Raya, Solo

Solo
Jumat, 24 November 2017

___________________________________________________________

JURNALISME KEBERAGAMAAN
DI TENGAH KOMODIFIKASI AGAMA

Oleh

Idi Subandy Ibrahim
________________________________

Pokok-pokok pemikiran pada Seminar dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen
(AJI) Indonesia ke-23 bertema “Jurnalisme Damai, Jurnalisme Keberagamaan,”
di Hall Lt. 2, Graha Solo Raya, Solo, Jumat, 24 November 2017.

___________________________________________________________

I love you when you bow in seringkali hanya indah dalam bayangan kita.
your mosque, kneel in your Bukankah “atas nama” cinta atau kebaikan
temple, pray in your church. itu pula tak jarang orang bisa saling
For you and I are sons of one menyakiti, memerangi, dan bahkan
religion, and it is the spirit. membunuh satu sama lain? Justru “atas
nama” Sesuatu Yang Agung dan sangat
-- Kahlil Gibran dekat di hati itu?

AGAMA senantiasa meresapi kehidupan kita Anehnya kebangkitan impuls agama
bahkan kala kita tidak menyadarinya. Dalam bahkan masih menyimpan keraguan bagi
suka dan duka, dalam lapang dan sempit, tatanan dunia damai yang diidamkan.
dalam bising dan hening, dalam harap dan “Tatanan dunia baru merupakan ancaman
cemas. Agama menyatu dalam keseharian serius bagi proyek demokrasi egaliter karena
kita bahkan ketika kita tidak meresapi ia memperburuk ketidaksetaraan yang ada
maknanya. Dalam ungkapan-ungkapan dan menghasilkan erosi yang dalam
lantang, dalam getaran-getaran perasaan kebebasan rakyat untuk mencapai
yang mendalam. pemberdayaan diri. Karena tatanan dunia
baru disangkal di mana-mana, ia juga
Sebagai orang beriman, kita mungkin memprovokasi oposisi yang kuat dalam
mengaitkan agama dengan realitas indah dan bentuk fundamentalisme nasional, etnik dan
agung tentang hidup: cinta, kebaikan hati, agama yang - ironisnya - sama-sama
belas kasih, rasa hormat, kebersahajaan, mengancam prospek sebuah penataan
kerendahan-hati, perdamaiaan, persaudaraan, komunikasi dunia yang demokratis egaliter,”
keadilan, toleransi, dan harmoni. Sedangkan ujar Cees J. Hamelink, seorang ilmuwan
kebalikan dari realitas indah dan agung itu komunikasi berpandangan kritis.
adalah pengingkaran, atau paling tidak
pengabaian, dari keyakinan keberagamaan. Lebih jauh lagi, baik John Downing
(2003) maupun Manuel Castells (2010)
Tetapi pandangan agama yang mengingatkan, bahwa kita tidak boleh
serba-ideal dan serba-utopis seperti itu melupakan pentingnya agama di dunia
kontemporer, karena banyak konflik
 “Aku mencintaimu kala kau bersujud di bersenjata berkisar seputar agama, beserta
mesjidmu, berlutut di puramu, berdoa di produksi dan konten media, khalayak, dan
gerejamu. Karena kau dan aku adalah
anak-anak satu agama, dan itulah ruhnya”.

1

efek saling terkait dengan impuls-impuls Meskipun Emerson menekankan peran
religius. agama dalam pembentukan pandangan dunia,
ia mengakui pentingnya posisi seseorang
Agama dan Pandangan Dunia dalam struktur sosial. Orang-orang yang
menggunakan akal, hidup dalam berbagai
Makna agama sudah banyak dibahas. budaya, diterpa realitas berbeda dalam
Dengan agama, manusia meyakini akan kehidupan sehari-hari mereka. Terpaan ini
adanya Kekuatan yang lebih tinggi darinya. membuat pandangan dunia mereka berbeda.
Berbagai cara dilakukan untuk
berkomunikasi dan mencari hubungan Agama, demikian menurut Emerson,
dengan Kekuatan tadi. Semua kegiatan setidaknya memiliki dua dimensi penting:
manusia berkaitan dengan agama religiusitas dan ortodoksi, masing-masing
berdasarkan getaran jiwa yang mengandung bersifat publik dan privat. Religiusitas
emosi keagamaan. Setiap orang pernah mengacu pada kedalaman dan keteguhan
mengalami getaran emosi keagamaan. dalam praktek agama. Ortodoksi merupakan
Getaran emosi inilah yang mendorong orang sejauh mana tingkatan keyakinan seseorang
melakukan tidakan bersifat keagamaan. yang berpusat pada otoritas pedoman,
Emosi keagamaan bisa membuat tindakan misalnya, Kitab Suci.
apapun diliputi nilai sakral atau suci. Tak
hanya laku belas kasih, tapi juga aksi Religiusitas publik menggambarkan
kekerasan pun bisa diresapi emosi aktivitas religius yang dipraktekkan dengan
keagamaan dan diliputi nilai sakral. orang lain. Hal ini bisa terlihat lewat
frekuensi kehadiran ke tempat ibadah dan
Emerson (1996), menekankan partisipasi dalam fungsi-fungsi keanggotaan
pentingnya agama dalam pembentukan keagamaan. Religiusitas privat merupakan
pandangan dunia. Dengan menguraikan apa praktek religius pribadi seseorang dan
yang seharusnya dilakukan dan menciptakan biasanya tak ditampakkan ke publik.
serta memperkuat norma kelompok sosial Misalnya, termasuk frekuensi berdoa dan
melalui interaksi, agama berpengaruh besar membaca Kitab Suci dan iman yang teguh.
pada pandangan dunia seseorang. Agama Dalam dimensi ini, agak aneh kalau kita
tidak hanya membentuk penalaran bagi melihat banyak kalangan yang
tindakan. Agama juga memberikan makna mempertontonkan doa di ruang publik,
pada tindakan itu. Agama menanamkan justru ketika doa lebih sebagai ekspresi
semua itu dengan makna universal, jika religiusitas privat.
tidak transendental.
Sedangkan ortodoksi publik mengacu
Sebagai penentu pandangan dunia, pada berbagi bersama pandangan keyakinan
agama menjadi sumber nilai paling kaya dalam kelompok atau dengan orang lain.
bagi kehidupan seseorang. Bahkan orang Ortodoksi privat adalah keyakinan yang
paling sekuler sekalipun merasakan dipegang yang didasarkan pada otoritas
pengaruh agama. Francis Fukuyama transendental, Tuhan, atau kekuatan
mengatakan (1999), “Agama tetap adikodrati.
merupakan sumber penting aturan-aturan
budaya, bahkan dalam masyarakat yang Namun, Emerson mengingatkan, tidak
tampaknya sekuler.” Mereka yang menolak tepat untuk membatasi pembentukan
keyakinan agama, tak beragama, atau ateis pandangan dunia ke dimensi yang murni
pun masih mengikuti banyak warisan religius. Pandangan dunia juga berasal dari
religius yang mempengaruhi kebudayaan berbagai sumber lainnya. Oleh karena itu,
mereka. persaingan atau perbenturan pandangan
dunia juga tidak melulu berakar pada

2

perbedaan agama. Ia juga bisa berdimensi bahwa realitas media itu nyata ketika
politik, ekonomi, dan budaya. berbicara tentang pengalaman media. Jadi,
bagaimanapun realitas berita itu, ia adalah
Media sebagai Sumber Makna sumber makna bagi khalayak, yang langsung
atau tidak, turut membangun persepsi dan
Agama dan media saling membutuhkan. pandangannya tentang agama.
Komunitas agama memerlukan jurnalis dan
media sebagai sarana untuk menyampaikan Dalam konteks Indonesia, memang ada
pesan-pesan keagamaan agar bisa mencapai proses sekularisasi dan religiusasi dalam dua
khalayak lebih luas. Media membutuhkan dekade terakhir di ruang publik dan privat,
agama dan komunitas agama sebagai sumber tetapi “agama” dan “budaya”
yang akan diseleksi untuk diangkat sebagai kadang-kadang tidak mudah dibedakan
bahan berita dan diolah menjadi berita dalam kehidupan sehari-hari, sehingga
dengan sudut pandang tertentu. Bergantung “realitas” pada umumnya dapat dipandang
jurnalis dan medianya. Sudut pandang ini sebagai “agama”; segala sesuatu yang
akan menentukan realitas mana yang disorot diyakini khalayak tentang diri mereka
dan mana yang diabaikan. Dari sini muncul sendiri, peristiwa, dunia, dan media, tak
pandangan bahwa berita tidaklah netral: lepas dari pandangan dunia mereka yang
berita adalah hasil seleksi jurnalis dan diresapi emosi agama.
konstruksi sosial di ruang media.
Tantangan Komodifikasi
Kenyataan agama yang diberitakan di
media adalah konstruksi realitas Dalam satu dekade terakhir ini media
keberagamaan yang sedang berkembang di dan agama menghadapi tantangan ekonomi
masyarakat dalam konteks ruang dan waktu pasar. Pada satu sisi, suka atau tidak, jurnalis
tertentu. Sebagian komunitas agama bekerja dalam dunia media yang penuh
mungkin akan memandang realitas media itu tekanan persaingan pasar khalayak dan iklan,
sebagai realitas sosial agama. Maka, realitas yang mendorong praktik dan kerja
dominan yang dimediakan itu akan jurnalisme yang digerakkan pasar. Tekanan
mempengaruhi persepsi dan opini publik komodifikasi media ikut mengubah budaya
tentang suatu agama atau komunitas agama. jurnalisme dan logika pemberitaan. Ruang
Sekalipun berita itu mungkin semula tidak berita mau tak mau harus hidup dalam posisi
dimaksudkan untuk itu. tawar dengan ruang iklan. Etos “jurnalisme
perjuangan”, “jurnalisme pembangunan”,
Dengan kata lain, teks media adalah dan kemudian ‘jurnalisme perlawanan”
sarana dimana media bercerita tentang mulai surut, hilang atau bahkan menjadi
realitas keagamaan dan khalayak mitos digeser menjadi “jurnalisme
mempercayainya. Pandangan ini sebagai perdagangan”. Berita-berita menjadi
cara untuk memahami khalayak media dan semakin digerakkan logika pasar. Ketika
teks media keagamaan yang dianggap anggaran berita mengalami efisiensi total,
sebagai dasar kepercayaan dan klaim mereka “nilai berita” harus sepadan dengan “nilai
tentang berbagai isu keagamaan. Apakah itu keuntungan”. Dalam situasi seperti ini berita
dalam hubungan dengan pergaulan, politik, yang menghibur dan personalisasi berita
identitas, pekerjaan, kehidupan, kesenangan, menjadi dominan. Bagaimana berita
kekerasan, atau kedamaian. keagamaan harus bersaing mendapatkan
ruang berita? Apakah khalayak berita
Khalayak mungkin beranggapan bahwa keagamaan menjanjikan pasar iklan?
apa yang membuat pengalaman media itu
nyata adalah representasi dari hal-hal baik Penelitian saya menunjukkan minimnya
atau hal-hal tidak baik pada kesempatan lain. berita keagamaan di media di Indonesia, bila
Khalayak mungkin berpikir apa adanya dibandingkan berita-berita non-keagamaan.

3

Berita keagamaan hanya marak pada saat akhirnya dipasarkan secara total” (hlm. 12).
hari raya-hari raya keagamaan atau Tu berbicara tentang tantangan utama
momentum yang terkait dengan peristiwa bangsa China. Tetapi sebenarnya ini
keagamaan. Sementara ketika berita tantangan semua bangsa.
keagamaan muncul, ia justru sering terkait
atau dikaitkan dengan konflik dan kekerasan Perwujudan paling menyakitkan dari
bernuansa SARA dan belakangan dengan banyak warga yang berpengetahuan luas di
aksi terorisme. Penelitian saya juga lingkungan yang menuhankan materialisme
menunjukkan bahwa sumber berita yang adalah bahwa kemajuan ekonomi dapat
diandalkan dalam liputan keagamaan membebaskan kita dari kemiskinan material,
kebanyakan adalah sumber resmi atau suara namun juga dapat memperbudak kemiskinan
resmi. Dalam hal ini suara dari aparat spiritual kita. “Tanpa ikatan persaudaraan
pemerintah. dan komunitas, kita bisa dengan mudah
digiring ke dunia keterasingan psikologis,
Pada sisi lain, disadari atau tidak, kecemasan status, kecemburuan sosial,
agama pun terus mengalami komodifikasi pemuasan tanpa henti, dan konsumsi yang
dalam berbagai bentuknya. Fenomena ini mencolok,” demikian ujar Majid Tehranian.
bukan khas Indonesia. Ia terjadi
dimana-mana, ketika kebangkitan semangat Agenda Mendesak
keberagamaan sedang menggelora.
Komunitas agama menjadi pasar religius, Komodifikasi memarjinalkan isu-isu
tempat memasarkan segala hal yang yang dianggap tidak menjual dan
mungkin. Tidak hanya artefak kesalehan, mendorong berubahnya kemasan berita.
tetapi segala kegiatan yang berkaitan dengan Keterbatasan anggaran liputan dan
aktivitas keagamaan bisa didikte oleh logika perjuangan untuk ruang berita yang terbatas,
pasar, termasuk pendidikan dan nilai. membuat berita keagamaan marjinal. Selain
Komodifikasi agama bisa mendorong juga terbatas dalam hal kerangka dan
kebangkitan semangat keberagamaan perspektif beritanya. Ini tentu bila
berdampingan dengan semangat konsumtif dibandingkan dengan berita-berita lain,
dan budaya hedonis. meski tak jarang juga berdimensi agama.

Maka, tak heran kalau hari raya dan Jika peristiwa 11 September 2001
momentum keagamaan berubah menjadi dijadikan patokan, ketika teroris menyerang
pesta masyarakat konsumsi yang bernuansa kota New York City dan Washington.
keagamaan. Budaya jurnalisme dan budaya Sumber retorika akademis dan media Barat
keberagamaan yang melulu digerakkan adalah “benturan peradaban” baru, dianggap
pasar mau tak mau akan mendorong tatanan berakar pada “benturan pandangan religius”.
masyarakat dengan “spiritualitas konsumtif” Sejak itu menguat persepsi dan opini umum
ketimbang “spiritualitas produktif”. Dalam tentang adanya perselisihan antara dunia
konteks ini, spiritualitas selebritis akan lebih Muslim dan Barat.
penting daripada spiritualitas orang biasa.
Religiusitas simbolis mengalahkan Kerangka jurnalisme dunia sedikit
spiritualitas substantif. banyak terpengaruh pasca-tragedi itu.
Kerangka berita bergeser dari persepsi
Tu Weiming (2007), seorang pemikir ancaman komunis ke berkembangnya
mengingatkan, tantangan utama saat ini terorisme, radikalisme dan ekstremisme
adalah “merangkul ekonomi pasar tanpa yang bernuansa keagamaan. Kerangka ini
mengubah seluruh negara menjadi berisiko membentuk “binarisme naratif”:
masyarakat pasar. Akan menjadi bencana sebagai pertentangan antaragama yang
jika institusi akademis, media massa, berbahaya. Jelas, jurnalis dan khalayak
organisasi kota dan bahkan keluarga media dalam masyarakat majemuk seperti

4

Indonesia harus lebih memahami nuansa dan Komersialisasi media dan komodifikasi
hubungan agama, budaya, identitas, dan hoax bisa membelokkan arah jurnalisme
politik berlapis yang menentukan arah narasi keberagamaan dari mengarus-utamakan
berita seperti itu. berita keagamaan ke arah berita konflik dan
kekerasan dengan emosi keagamaan.
Selanjutnya, dalam satu dekade terakhir, Padahal, bisa jadi agama bukan akar dari
mungkin tak ada teknologi yang berdampak persoalan yang sebenarnya. Seringkali
lebih besar terhadap berita keagamaan “suara lebih keras” mengatasnamakan
daripada Internet, dalam arti positif atau agama mendapatkan porsi lebih di media
negatif. Dalam arti sebagai tempat untuk (televisi) daripada “suara lebih waras”, yang
menumbuhkan dialog perdamaian dan saling justru menawarkan dialog dan wacana
pengertian atau menyemai benih keagamaan yang empatik.
permusuhan dan saling benci. Pada satu sisi,
hutan rimba Internet telah menebarkan benih Dalam konteks negara dengan
bagi tumbuh-suburnya tanaman liar bernama perbedaan besar dalam identitas agama,
Hoax. Tempat gosip, kabar burung, berita suku, bahasa, dan adat istiadat, media bisa
bohong dan fitnah menjadi mesin memainkan peran krusial dalam membangun
propaganda dalam genggaman. Tetapi, pada harmoni nasional. Media bisa menjadi agen
sisi lain, berbagai komunitas keagamaan di garis depan dalam menghadapi
berlomba membuat situs, weblog, grup kemungkinan disintegrasi dan kekerasan
diskusi di dunia maya sebagai media sosial yang dihadapi masyarakat
alternatif untuk berbagi informasi dan pasca-kolonial seperti Indonesia. Ketika
mempererat perasaan komunitas keyakinan persoalan kemiskinan, kesenjangan dan
bersama. Beberapa di antaranya terbuka ketidakadilan masih mudah ditemui, maka
untuk orang di luar komunitas agamanya. jurnalis harus mampu menangkap kaitan
Internet dengan berbagai media sosial kompleks dan sering tersamar, isu-isu
menjadi alternatif untuk berkomunikasi ekstremisme dan radikalisme --yang
ketika media arus-utama dianggap kurang mungkin bernuansa keagamaan-- sebagai
memuaskan dalam meliput masalah bagian tak terpisahkan dari keseluruhan
keagamaan. Aktivis dan komunitas budaya dominan dan sistem sosial politik
keagamaan yang makin melek teknologi dan yang mungkin ikut melahirkan dan
dipermudah oleh akses Internet yang makin mengeksplotasinya.
murah dan gawai yang makin terjangkau
telah tampil menjadi “jurnalis warga Dengan menyadari peran krusial
keagamaan”, sehingga bisa bersaing dengan sebagai agen dan saksi perubahan yang
“jurnalis media arus-utama”. terjadi di masyarakat, jelas ada kebutuhan
mendesak bagi jurnalis untuk lebih
“Persaingan” itu seyogianya memperhatikan isu-isu keagamaan.
mendorong jurnalis media arus-utama untuk Beberapa hal bisa diagendakan dalam jangka
mengembangkan berita-berita keagamaan menengah dan pendek.
yang lebih kreatif. Misalnya, dengan
mengembangkan kerangka berita keagamaan Pertama, beberapa jurnalis mulai perlu
yang bisa mempengaruhi bagaimana mempersiapkan diri untuk mendalami, jika
khalayak memandang isu-isu keagamaan tidak mengkhususkan diri, dalam liputan
secara empatik. Untuk membuka wawasan agama, atau menjadi “jurnalis/reporter
keagamaan khalayak, jurnalis perlu keagamaan”.
mendalami inti permasalahan dan
mendudukkan masalah pada konteksnya Kedua, liputan agama perlu dikaitkan
ketimbang menonjolkan citra radikalisme dengan dimensi berita politik dan kerukunan
atau kekerasan. lokal dan nasional, tidak diperlakukan
sebagai yang terisolasi.

5

Ketiga, jurnalis perlu meninggalkan jurnalisme ke garis depan dalam menulis
asumsi mereka bahwa agama melulu bersifat sesuatu yang bisa menyuarakan arti penting
esoteris dan marjinal dalam menghadapi membangun rasa hormat terhadap keyakinan
peran sentralnya dalam bidang sosial, politik atau pandangan (keagamaan) yang berbeda
dan ekonomi. dari segala haluan.

Keempat, jurnalis harus menyadari Dengan cara demikian, kita ikut
bahwa tujuan mereka bukanlah untuk membangun sebuah masyarakat yang tidak
melegitimasi klaim atau keyakinan hanya bisa belajar tentang perbedaan, tetapi
keagamaan tertentu terhadap orang lain. juga yang bisa hidup bersama dengan
Sebaliknya, untuk membuat peran dan perbedaan. Inilah mungkin gema dari
fungsi agama dapat dipahami oleh khalayak kata-kata penyair Kahlil Gibran di atas.
mereka yang beragam. Terima kasih.

Kelima, jurnalis harus mengembangkan Wallahu’alam bi al-Shawwab.
liputan yang mampu membuka visi dan
pendekatan untuk mendorong cara dan aksi Bandung, 23 November 2017
nir-kekerasan sebagai sarana perjuangan
yang paling layak. Ia harus menjangkarkan Idi Subandy Ibrahim*
liputannya pada sumber-sumber (individu
atau kelompok terpercaya dan independen) _______________________
yang juga telah secara aktif terlibat dalam * Idi Subandy Ibrahim adalah Pengkaji Media
upaya untuk mendukung kerukunan, dan Budaya Populer; Sebagai aktivis mahasiswa
toleransi dan rekonsiliasi di masyarakat pada awal era 1990-an, ia pernah aktif di Salman
majemuk. ITB dan Unpad, Bandung. Kini adalah pengajar
di Pascasarjana Universitas Pasundan, Bandung;
Keenam, jurnalis harus semakin Ia juga menjadi Pengajar Luar Biasa di Prodi
meningkatkan kepekaannya bahwa setiap Desain Komunikasi Visual (DKV) FISS Unpas,
unsur wacana berita atau bahasa jurnalistik, Bandung; dan di Fikom Universitas Islam
dari headline, struktur paragraf lead, hingga Bandung; serta Pengajar Luar Biasa di Program
pilihan diksi kata dalam berita dan frame Doktor Kajian Agama dan Media, Universitas
foto peristiwa serta caption-nya, semua itu Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
adalah hal yang amat penting dalam
membangun persepsi dan opini khalayak Karya buku yang ditulis, antara lain:
komunitas keagamaan yang dituju. 1. Media dan Citra Muslim (2005)
2. Ecstasy Gaya Hidup (1999)
Akhirnya, praktik jurnalisme 3. Kecerdasan Komunikasi (2007)
4. Budaya Populer sebagai Komunikasi (2009)
keberagamaan harus mampu menciptakan 5. Kritik Budaya Komunikasi (2011)
6. Komunikasi yang Mengubah Dunia: Revolusi
kesadaran khalayak akan keniscayaan dari Aksara hingga Media Sosial (2017), dll.

perbedaan agama dan budaya di dalam Karya buku yang diterjemahkan:
1. Pram Post-colonially
masyarakat seperti Indonesia. Dengan 2. Fashion as Communication
3. Critical Communication Studies
kesadaran ini, tugas jurnalis bukanlah untuk 4. Cultural and Communication Studies
5. The Society of the Spactacle
menghilangkan kekerasan dan hoax. Karena

hal itu bukan hanya tugas jurnalis. Tetapi

paling tidak bisa ikut membuat dunia

6
















































Click to View FlipBook Version