The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Rochman Suciawan, 2022-08-29 09:32:18

Tugas KAM Modul 1.4.a.8

Rancangan Aksi Nyata

Keywords: CGP Angkatan 5

1.4.a.8. Koneksi Antar Materi - Modul 1.4

a. Buatlah sebuah kesimpulan mengenai peran Anda dalam menciptakan budaya positif
di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi
perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan
sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu
Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,
serta Visi Guru Penggerak.
Jawab :
Budaya Positif di sekolah tidak dapat berhasil jika dilakukan oleh hanya satu orang
guru, akan tetapi harus ada kolaborasi yang harmonis antara semua elemen – elemen
yang ada di sekolah.
 Manajemen Sekolah
 Visi Sekolah
 Kolaborasi antar stakeholder (KS, Guru, Komite, Walimurid, Murid)
 Pembelajaran

Motivasi perilaku manusia terbagi menjadi :
 Untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman
 Untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain.
 Untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan
nilai-nilai yang mereka percaya.

Lima Posisi Kontrol dapat dilakukan sebagai upaya-upaya dalam membangun
budaya positif di sekolah. Tentunya, untuk mewujudkan hal ini membutuhkan proses
yang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, proses ini juga
membutuhkan keterlibatan semua pemangku kepentingan di sekolah.

Penerapan budaya positif jika dikaitkan dengan nilai lain dalam aktivitas belajar
mengajar sehari – hari yaitu dengan menerapkan pembiasaan positif yang telah
dituangkan dan disepakati bersama melalui kesepakatan kelas dan dijalankan
secara terus menerus. Jika kebiasaan positif ini sudah menjadi budaya, maka nilai dan
karakter positif itu akan melekat pada diri murid.

Kaitan budaya positif dengan modul – modul sebelumnya
 Modul 1.1 Filosofi Pendidikan Ki Hadjar dewantara

a. Pendidikan sebagai penuntun tumbuh/hidupnya sesuai kodrat anak serta
pemberi teladan dalam pertumbuhan karakter baik pada murid

b. Pengembangan nilai – nilai karakter ( budaya positif ) dengan hal – hal
yang menyenangkan

c. Pendidikan yang berpihak pada anak, termasuk juga penerapan budaya
positif yang berpihak pada anak

 Modul 1.2 Nilai dan Peran Guru Penggerak
a. Dengan memiliki nilai –nilai mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif, dan berpihak

pada murid, seorang guru harus mampu mengemban dan memaksimalkan perannya
untuk menjadi pemimpin pembelajaran serta mewujudkan kepemimpinannya pada
murid melalui penerapan budaya positif.

 Modul 1.3 Visi Guru Penggerak
a. Perumusan visi sekolah yang berbudaya positif dapat dilakukan melalui penerapan

Inkuiri Apresiatif (IA) dengan tahapan BAGJA.
b. Visi Sekolah yang berpihak pada murid dengan pengembangan karakter Profil

Pelajar Pancasila dapat mendukung tercapainya budaya positif di sekolah.

b. Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya
Positif ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
a. Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari
di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol, teori motivasi, hukuman dan
penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan
segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?
Jawab :
 Peran guru penggerak dalam menularkan kebiasaan baik kepada guru lain
dalam membangun budaya positif di sekolah dengan memberikan teladan dalam
penerapan disiplin di kelas melalui kesepakatan kelas, selain itu dapat juga dengan cara
memberikan motivasi kepada guru lain dalam membangun budaya positif di lingkungan
sekolah.

 Guru penggerak dapat menumbuhkan budaya positif di kelas sehingga
menjadi budaya positif sekolah dan menjadi visi sekolah melalui :
 Pemberian teladan keberhasilan/berbagi praktik baik penerapan budaya positif di
kelasnya.
 Mengajak berkolaborasi rekan guru dalam penerapan budaya positif melalui
komunitas praktisi di sekolah.
 Menciptakan visi bersama untuk membiasakan budaya positif, sehingga budaya positif
tidak hanya pada cakupan kelas tetapi mencakup seluruh lingkungan sekolah.

c. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya
positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?
Jawab:
Dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah dapat dimulai dari
kebiasaan – kebiasaan kecil yang dilaksanakan secara berkelanjutan dan pemberian
pemahaman yang dapat merubah pola pikir murid bahwa kesepakatan dibuat untuk
membiasakan murid menciptakan budaya positif dimanapun mereka berada.

d. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep- konsep
inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?
Jawab :
Pengalaman saya adalah mewujudkan harapan – harapan murid yang telah lama
terpendam mengenai apa yang murid inginkan diterapkan di lingkungan sekolah.
Dengan adanya kesepakatan kelas murid merasa memiliki wadah untuk menumpahkan
harapan – harapannya.

e. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?
Jawab :
Sangat senang dan sangat bersemangat ternyata aksi nyata saya dapat diterima
positif bahkan dapat mewujudkan harapan – harapan murid selama ini

f. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut,
hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?
Jawab :
Hal yang sudah baik adalah memberi pemahaman mengenai kesepakatan kelas
kepada murid dan menerapkannya dalam keadaan nyata. Yang perlu diperbaiki
adalah saya belum sepenuhnya dapat menyalurkan ide mengenai kesepakatan
kelas ini pada seluruh rekan sejawat di sekolah.

g. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan
5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana
perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini, posisi apa yang Anda
pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya?
Jawab :
Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid saya menempatkan
posisi saya pada posisi kontrol pemantau dan perasaan saya senang karena pada saat itu
posisi pemantau itulah yang menurut saya paling baik. Akan tetapi Setelah mempelajari
modul ini, posisi control manajer yang saya gunakan dan saya merasa lebih baik
menggunakan posisi ini. Karena menurut saya dengan posisi ini kita dapat mengelola
murid dengan lebih baik dengan dia menyadari dengan sendirinya apa yang murid
lakukan dan kita sebagai manajer dapat mengarahkan murid untuk dapat menyelesaikan
permasalahannya sendiri.

h. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi
ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda
praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?
Jawab :
Sebelum mempelajari modul ini saya pernah menerapkan salah satu langkah
dari segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid. Tahap yang saya
praktikkan adalah tahap

Sisi 1. Menstabilkan Identitas (Stabilize the Identity)
Biasanya saya menguatkan hati murid ketika mereka melakukan kesalahan
dengan kata – kata

“ Berbuat salah itu tidak apa – apa ”
“ Tidak ada manusia yang sempurna ”
“ Kita bisa menyelesaikan ini ”
“ Saya juga pernah melakukan kesalahan seperti itu “

Sisi 2. Menstabilkan Identitas ( Stabilize the Misbehavior )
Biasanya saya membesarkan hati anak dengan memberikan pernyataan –
pernyataan positif
“ Kamu pasti bisa berbuat lebih buruk dari pada ini, tapi kamu tidak
melakukannya “
“ Kamu pasti punya alasan kenapa kamu selalu cabut saat pembelajaran “
“ Bisakah saya tahu alasan kamu, kenapa kamu sering terlambat ? ”

Sisi 3. Menanyakan Keyakinan ( Seek the Belief )
Biasanya saya mengajukan pertanyaan kepada murid
“ Kamu mau jadi orang yang seperti apa?”

i. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain
yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya
positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?
Jawab :
Ada, karena banyak hal yang bisa kita pelajai untuk dapat menciptakan budaya
positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah, dan hal – hal itu tidak hanya
bisa kita dapatan dari modul ini akan tetapi banyak hal – hal dari sumber –
sumber lain yang dapat kita Amati, Tiru dan Modifikasi (ATM) sehingga
menambah ide ataupun gagasan kita untuk menciptakan budaya positif di
lingkungan sekolah.

Rancangan Tindakan untuk Aksi Nyata

Judul : Kolaborasi antar siswa dalam menjaga kebersihan di lingkungan sekolah

Nama Peserta : Rochman Suciawan, S.Pd

1. Latar Belakang
Budaya positif adalah keyakinan dan nilai yang disepakati yang menjadi kebiasaan

bersama yang akan dilakukan dalam waktu lama. Menerapkan budaya positif dapat
meningkatkan kesadaran siswa dalam membentuk karakter positif. Budaya positif dapat
dibuat melalui kesepakatan antara guru dan siswa, agar siswa merasa terlibat dan
bertanggungjawab dalam menjalanankan disiplin tersebut. Budaya Positif di Sekolah
memiliki banyak manfaat yang dapat dirasakan oleh guru dan murid, diantaranya:

a. Membangun hubungan kerjasama antara murid, gurudan orag tua
b. Menumbuhkan kesadaran dalam melakukan hal- hal yang baik
c. Murid terbiasa dengan pola hidup teratur
d. Menciptakan kepercayaan diri dan tanggung jawab
e. Membangun karakteristik siswa, mengembangkan kegotongroyongan dan kerjasama

antara guru, murid dan orang tua

f. Menumbuh kembangkan motivasi instrinsik anak
g. Membangun hubungan social yang bagus antar warga sekolah
h. Menumbuhkan rasa aman dan nyaman
i. Menumbuhkan kesadaran dari diri murid terhadap budaya positif

Di era pandemi sepeti sekarang ini, kebersihan lingkungan sekolah merupakan hal yang
sangat urgent karena untuk memastikan anak-anak didik kita tidak tertular penyakit yang
diakibatkan oleh virus corona. Murid-murid juga harus diberikan wawasan untuk menjaga
kebersihan diri baik dirumahnya sendiri maupun lingkungan sekolah agar kondisi fisik dan
mentalnya tetap terjaga dengan baik. Kebersihan lingkungan kelas dan sekolah adalah bagian
dari kesepakatan kelas, dimana hal tersebut adalah budaya positif yang harus dijalankan dan
selalu ditingkatkan.

Aksi nyata-budaya positif yang dilakukan oleh calon guru penggerak adalah Kebersihan
tempat tinggal dan lingkungan sekolah karena proses kegiatan pembelajaran sehingga calon

guru penggerak melakukan aksi nyata yang sudah dilakukan disepakai oleh murid dan guru
beserta seluruh warga sekolah.

2. Tujuan Aksi Nyata
Adapaun tujuan aksi nyata yang dilakukan calon guru penggerak yaitu:

a. Kebersihan lingkungan adalah bagian dari kesepakatan kelas yang wajib dijalankan dan

diterapkan oleh murid dan guru

b. Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab siswa untuk senantiasa melakukan budaya

positip yaitu kebersihan lingkungan

c. Agar murid, guru, dan seluruh warga sekolah mencintai lingkungan yang bersih dan

indah sehingga menimbulkan suasana sekolah yang menyenangkan dan sehat

d. Agar menimbulkan semangat belajar murid dan terbiasa pola hidup bersih

3. Deskripsi Aksi Nyata
Disini saya sebagai Calon guru penggerak( CGP) melihat situasi dan kondisi keadaan

sekolah saat ini masih kondisi pandemi dan jadwal aksi nyata modul 1.4 sehingga
kesepakatan kelas yang dilaksakan, kemudian calon guru penggerak mengambil satu poin
kesepakatan yang dapat dilakukan saat ini adalah kebersihan lingkungan kelas dan sekolah
melalui analisis Inkuiry apresiatif model bagja. Adapun langkah-langkah aksi nyata yang
dilakukan :

a. Meminta izin dengan kepala sekolah
b. Berkomunikasi dengan murid untuk hadir kesekolah berdasarkan jadwal piket kelas dan

melakukan kegiatan kebersihan kelas

c. Bekerjasama dengan seluruh warga sekolah untuk kebersihan lingkungan sekolah

4. Tolok Ukur Keberhasilan

a. Murid selalu menjalankan kesepakatan kelas (piket kelas) setiap minggunya seminggu

1 kali sesuai jadwal yang ditetapkan dan setiap hari jumat melaksanakan jumat bersih
secara bersama yang dilaksanakan olen seluruh warga sekolah.

b. Lingkungan kelas dan lingkungan sekolah terasa nyaman, serta tampak bersih dan rapi
c. Terjalin komunikasi aktif dan efektif antara guru, murid, seluruh warga sekolah

5. Lini Masa Tindakan yang akan Dilakukan

a. Adapun linimasa tindakan yang akan saya lakukan untuk mewujudkan aksi nyata ini

adalah sebagai berikut.

b. Meminta ijin dan dukungan dari kepala sekolah dan teman sejawat Membuat keyakinan

kelas.

c. Mengkoordinir dan mengawasi murid dalam menjalankan poin kesepakatan kelas yaitu

kebersihan kelas

d. · Kegiatan kebersihan di lingkungan sekolah bersama seluruh warga sekolah
e. Pemberian Tugas pada murid mengirimkan pembiasaan kebersihan di rumahsecara

daring

f. Membuat dokumentasi. Menyusun laporan.

6. Dukungan yang Dibutuhkan
Untuk melancarkan pelaksanaan rancangan tindakan untuk aksi nyata yang telah penulis

susun tentunya penulis memerlukan dukungan dari berbagai pihak. Adapun dukungan yang
penulis perlukan yaitu; dukungan dan izin kepala sekolah, kolaborasi denga rekan sejawad,
keterlibatan siswa, dan juga dukungan dari orang tua siswa.


Click to View FlipBook Version